• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Hasil Penelitian

4. Wawancara Dinas Sosial Tenagakerja dan Transmigras

Berdasarkah hasil penelitian penulis di kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang serta Wawancara dengan Bapak Drs. Nurdin, selaku Kepala Bagian Pengawasan TKI, maka dapat di ketahui bahwa Upaya Perlindungan Hukum yang di lakuakan oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Trasmigrasi Kabupaten Semarang sebagai Instansi Pemerintah yang bertanggung jawab di Bidang ketenaga kerjaan dalam melindungi hak – hak Buruh Migran Perempuan adalah sebagai berikut,

“Kami melakukan upaya perlindungan terhadap Buruh Migran Perempuan di Kabupaten Semarang berpedoman dengan isi ketentuan undang – undang nomor 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja indonesia di luar negeri yang bertujuan untuk memberdayakan dan memdaya gunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi menjamin dan melingdungi calon Buruh Migran Perempuan mulai dari penyuluhan, pra penempatan, masa penempatan, dan purna penempatan.61

1) Perlindungan yang dilakukan oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi berkoordinasi dengan PPTKIS yang telah memiliki ijin Rekrutmen pada tahap utama adalah melakukan Penyuluhan dan Rekrutmen mengenai prosedur tata cara pendaftaran sebagai Pekerja Buruh Migran yang Legal kepada lingkup masyarakat di Kabupaten Semarang, dengan agenda 4x penyuluhan dalam 12 bulan di Balai Desa Kelurahan, atau di Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, penyuluhan tersebut berupa informasi mengenai :

a. Persyaratan calon TKI

b. Waktu, tempat dan syarat pendaftaran c. Tata cara dan prosedur perekrutan

d. Lowongan, jenis dan uraian pekerjaan yang tersedia e. Lokasi dan lingkungan kerja

f. kelengkapan dokumen penempatan TKI

g. Kondisi dan syarat-syarat kerja yang meliputi gaji, waktu kerja, waktu istirahat/cuti, lembur, jaminan perlindungan, dan fasilitas lain yang diperoleh

h. Peraturan perundang-undangan, sosial budaya, situasi, dan kondisi negara tujuan penempatan

i. Biaya-biaya yang dibebankan kepada calon TKI dalam hal biaya tersebut tidak ditanggung oleh PPTKIS atau pengguna dan mekanisme pembayarannya

j. Hak – hak dan kewajiban calon TKI

“Penyuluhan bertujuan untuk mencari dan mendaftar masyarakat yang berminat bekerja sebagai buruh migran secara langsung serta memberikan pemahaman pola pikir masyarakat desa yang masih awam akan informasi agar tidak berfikir hanya secara materialistik saja mengenai bekerja di luar negeri dengan gaji yang besar, melainkan agar masyarakat juga mengetahui hak dan kewajiban maupun resiko dan kondisi buruh migran di negara tujuanya. adapun manfaat yang lain memberikan informasi kepada masyarakat mengenai rekrutmen yang benar dan legal sesuai prosedur, supaya masyarakat tau bahwa memakai jasa sponsor/ calo itu merupakan tindakan

yang melanggar hukum serta rawan terhadap penipuan, dan pemerasan.”62

Rekrutmen Menurut Ambar TS (2009:168) ; “Rekrutmen adalah proses mencari, menemukan, menarik para pelamar untuk menjadi pegawai pada dan oleh organisasi tertentu”.

Selanjutnya Ambar mendefinisikan rekrutmen sebagai rangkain aktifitas mencari dan memikat pelamar kerja dengan motivasi, kemampuan, keahlian, dan pengetahuan yang diperlukan guna menutupi kekurangan yang diidentifikasi dalam perencanaan kepegawaian. Ambar TS juga menulis pendapat Bernadin & Russel, bahwa rekrutmen merupakan proses penemuan dan penarikan para pelamar yang tertarik dan memiliki kualifikasi terhadap lowongan yang dibutuhkan.

2) Melakukan Wawancara minat, bakat dan ketrampilan calon Buruh Migran

“Dalam melakukan wawancara minat, bakat dan ketrampilan Calon Buruh Migran dan seleksi Administrasi, Calon Buruh Migran harus datang sendiri ke kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, tidak dapat di wakilkan oleh orang lain, dalam seleksi ini kita akan mengetahui alasan tujuan Calon Buruh Migran memiliki keinginan bekerja keluar Negeri, jika ada alasan karena pelarian permasalah rumah tangga atau ada tekanan/ paksaan dari pihak lain untuk bekerja ke Luar Negeri maka pegawai Dinas tidak akan melakukan validasi dan membatalkan pengajuan pendaftaran tersebut.”

62 ibid

3) Seleksi Administrasi Calon Buruh Migran yang telah terdaftar, seleksi tersebut berupa pemeriksaan Dokumen jati diri;

a. Punya kartu tanda penduduk (KTP)

b. Berusia 18 tahun kecuali negara tujuan menentukan lebih dari 18 tahun

c. Surat keterangan sehat dari dokter

d. Ada surat ijin suami/istri/orang tua yang diketahui oleh Kepala Desa atau Lurah

4) Melakukan pengawasan secara langsung dalam proses Penanda Tanganan Perjanjian Penempatan yang di buat oleh PPTKIS dan di tanda tangani oleh Buruh Migran Perempuan agar tercipta kesepakatan yang seimbang , isi perjanjian tersebut seperti yang di cantumkan dalam Pasal (52) ayat (2) Undang – undang No 39 Tahun 2004, sekurang – kuranya memuat :

a. Nama dan alamat pelaksana penempatan TKI swasta;

b. Nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, dan alamat calon TKI;

c. Nama dan alamat calon Pengguna;

d. Hak dan kewajiban para pihak dalam rangka penempatan TKI di luar negeri yang harus sesuai dengan kesepakatan dan syarat-syarat yang ditentukan oleh calon Pengguna tercantum dalam perjanjian kerjasama penempatan;

e. Jabatan dan jenis pekerjaan calon TKI sesuai permintaan pengguna f. Jaminan pelaksana penempatan TKI swasta kepada calon TKI dalam hal ini Pengguna tidak memenuhi kewajibannya kepada TKI sesuai perjanjian kerja;

g. Waktu keberangkatan calon TKI;

h. Hanya penempatan yang barus ditanggung oleh calon TKI dan cara pembayarannya;

i. Tanggungjawab pengurusan penyelesaian musibah;

j. Akibat atas terjadinya pelanggaran perjanjian penempatan TKI oleh salah satu pihak, dan

k. Tanda tangan para pihak dalam perjanjian penempatan TKI.

5) Melakukan Monitoring tempat penampungan Buruh Migran yang telah di sediakan oleh PPTKIS untuk memeriksa kelayakan fasilitas yang telah disediakan, serta tempat penampungan tersebut harus memiliki fasilitas sesuai standar yang di tentukan sesuai dengan Peraturan Menteri tenaga kerja dan transmigrasi No 7 Tahun 2005, yaitu ;

a. Ruang tidur untuk setiap orang minimal 7 meter kubik.

b. Satu kamar tidur maksimal dihuni oleh 8 orang, dilengkapi dengan tempat tidur tunggal, kasur, bantal dan sprei, tempat pakaian/barang calon TKI, ventilasi, kipas angin, dan lampu penerangancukup.

c. Lantai dan dinding tempat penampungan calon TKI harus bersih dan tidak lembab.

d. Lokasi tempat penampungan jauh dari sumber pencemaran yang mengganggu kesehatan fisik dan mental.

e. Pagar halaman tidak tertutup rapat dan dijaga selama 24 jam oleh Satpam.

f. Lokasi tempat penampungan dekat dengan jalan raya dan mudah dijangkau.

g. Di halaman depan dipasang papan nama berukuran 100 x 200 Cm setinggi 300 Cm dan diberi penerangan yang cukup.

h. Menyediakan fasilitas ;

a) Ruang administrasi untuk mengerjakan pekerjaan kantor. b) Penitipan barang berharga calon TKI.

c) Papan display/daftar penghuni tempat penampungan. d) Ruang istirahat dengan TV/Radio.

e) Ruang untuk penerima tamu.

f) Ruang makan yang sehat dan bersih.

g) Ruang dapur yang bersih dan layak pakai. h) Ruang ibadah.

i) Air bersih untuk minum, cuci, dan mandi. j) Kamar mandi dan WC yang bersih dan tertutup. k) Ruang cuci dan menjemur pakaian yang cukup. l) Penerangan ruangan dan halaman yang cukup. m) Alat pemadam kebakaran ringan (APAR).

n) Sarana telekomunikasi berupa telpon permanen yang dapat diakses oleh calon TKI.

p) Ruang klinik.

“Sewaktu – waktu kami bisa saja melakukan survei berkeliling ke PPTKIS di wilayah kabupaten semarang hal ini kami lakukan bertujuan agar apa yang menjadi hak – hak buruh migran perempuan bisa terpenuhi, dan ketika di tempat penampungan mereka merasa aman, nyaman, serta memastikan tidak ada tindakan diskriminasi antar buruh migran, dengan terpenuhinya fasilitas tempat penampungan yang memadai sesuai standart maka di harapkan dalam proses pendidikan dan pelatihan kerja pun akan berjalan dengan baik karena suasana lingkungan itu sangat berpengaruh besar terhadap keberhasilan PPTKIS dalam melakukan pendidikan dan pelatihan kerja”

6) Melakukan Perlindungan Preventif63

Perlindungan ini dilakukan dengan cara pihak Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi terlibat secara langsung untuk melakukan pengawasan serta memberikan tambahan pembekalan dan pengetahuan praktek maupun teori di tempat ballai pendidikan dan pelatihan kerja Buruh Migran Perempuan yang di laksanakan oleh PPTKIS serta melakukan uji kemampuan para peserta.

Namun ketika di singgung mengenai Sertifikasi Uji Kompetensi Kerja untuk Buruh Migran Perempuan di sektor informal, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi baru akan merencanakan program ini tahun depan, jadi sampai sekarang Sertifikasi Uji Kompetensi Kerja untuk Buruh Migran Perempuan di Kabupaten Semarang belum ada.

63 Wawancara dengan Pak Agus Pegawai Dinaas Bagian Pengawasan Buruh Migran, 18

Pada dasarnya Pelatihan Kerja adalah mengutamakan praktek dari pada teori. Dalam hal ini PT. Alwihdah Jaya Sentosa disamping pelatihan utama yang di prioritaskan adalah Bahasa Asing Negara tujuan, juga mengadakan praktek kerja PLRT paktek – praktek tersebut adalah praktek pekerjaan rumah tangga yang disesuaikan negara tujuan yaitu meliputi praktek menjahit, merawat manula, merawat bayi, memasak, teknis penggunan alat dapur yang mungkin belum pernah mereka gunakan dan lain sebagainya sehingga mereka memiliki skill/keterampilan kerja yang cukup. Dalam praktek tersebut setiap materi disampaikan oleh instruktur (guru) yang akan mengajari setiap calon buruh migran dalam sebuah ruangan semacam kelas yang juga telah di sediakan sarana dan prasarana yang mendukungnya. Ungkap Ibu Endang SL selaku Kepala Cabang PT.Alwihdah Jaya Sentosa.64

Secara umum pelaksanaan pelatihan kerja bertujuan untuk membekali skill/keterampilan kerja, membentuk moral yang baik dan meningkatkan pengetahuan calon tenaga kerja. Hal ini sesuai dengan tujuan pelatihan kerja sebagaimana disebutkan dalam Undang – Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenaga Kerjaan. Dimana Pelatihan Kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktifitas, dan kesejahteraan tenaga kerja. Setiap tenaga kerja berhak untuk mendapatkan

64 Wawan cara dengan Ibu Endang SL Kepala Cabang PPTKIS PT. Alwihdah Jaya Sentosa Bawen,

dan meningkatkan kompetensi kerja tersebut melalui pelatihan kerja sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuanya.

Adapun dalam Standar Kualifikasi Ketrampilan (SKK) tersebut sebagai acuan yang harus di terapkan oleh PPTKIS terhadap Calon Buruh Migran yang mengikuti program pembelajaran dan pelatihan kerja ketika di tempat penampungan, calon Buruh Migran Perempuan harus memiliki dan menguasai pengetahuan dan ketrampilan kerja sebagai berikut :

Tabel 0.3

Standar Kualifikasi Ketrampilan (SKK) Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT)

No Indeks Pengetahuan dan Ketrampilan yang Dipersyaratkan

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Pembersihan ruangan dan perlengkapan Penataan perlengkapan ruangan

Penggunaan peralatan dapur, makan dan minum Perawatan peralatan dapur, makan dan minum Penyiapan bahan makanan

Pengolahan masakan keluarga

Penghidangan makanan dan minuman Pencucian pakaian

10 11 12 13 14 15 16 Perawatan pakaian Pengasuhan bayi Perawatan bayi

Pengasuhan anak pra sekolah Perawatan anak usia pra sekolah Penggunaan telepon

Bahasa asing sesuai negara tujuan

Sumber : PT. Alwihdah Jaya Sentosa Bawen

7) Berpartisipasi dalam pembinaan dan penyuluhan terhadap calon Buruh Migran Perempuan dalam program Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP), Sebelum diberangkatkan Calon Buruh Migran Perempuan terlebih dahulu diberikan pembekalan akhir pemberangkatan yang di selenggarakan oleh Lembaga yang bersangkutan dengan melibatkan instansi – instansi yang berkaitan dengan kegiatan penempatan tenaga kerja ke luar negeri, seperti Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, BP3TKI, BNP2TKI, Departemen Agama, Departemen Kehakiman, Departemen Luar Negeri dan lainya.

Dalam PAP tersebut para Buruh Migran Perempuan memperoleh Pembinaan, Penyuluhan tentang hal – hal yang berkaitan dengan pekerjaanya, Mulai dari mental kerohanian, Kepribadian, Sosial budaya, Peraturan perundang – undangan Negara tujuan, Tata cara pemberangkatan dan kepulangan, Kelengkapan dokumen, Tatacara

pengiriman serta pnyimpanan uang, Isi perjanjian penempatan, Serta hak dan Kewajiban TKI/PPTKIS. PAP tersebut bertujuan agar Calon Buruh Migran yang siap berangkat memahami prosedur penempatan dan memiliki pengetahuan seputar pekerjaan dan lingkungannya serta mampu menyelesaikan suatu masalah yang dihadapinya ketika mereka sudah bekerja nanti.

Selain pembinaan dan penyuluhan dalam program PAP Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Semarang juga berpartisipasi dalam pengawasan pembuatan e-KTKLN untuk Buruh Migran Perempuan dan pengawasan penandatanganan Perjanjian Kerja Penempatan yang telah di siapkan oleh PPTKIS, Memberikan penjelasan sebelum penandatanganan kepada Buruh Migran Perempuan akan isi perjanjian, maupun hak dan kewajiban para pihak, perjanjian tersebut sekurang – kurangnya berisi :

a. Nama dan alamat pengguna b. Nama dan alamat TKI

c. Jabatan dan jenis pekerjaan TKI d. Hak dan kewajiban para pihak

e. Kondisi dan syarat kerja yang meliputi jam kerja, upah, dan tata cara pembayaran, baik cuti dan waktu istirahat, fasilitas dan jaminan sosial dan

8) Melakuan pendataan dan cek kelengkapan berkas Dokumen akhir sebelum pemberangkatan.

Sebelum pemberangkatan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Trasmigrasi juga melakukan cek ulang pendataan lengkap dan pemberkasan berkaitan dengan data Buruh Migran Perempuan dan data Majikan di Negara tujuan sebelum keberangkatan. Apabila berkas tersebut masih terdapat kekurangan, Buruh Migran tetap tidak bisa diberangkatkan. Maka dari itu Buruh Migran Perempuan harus memiliki Dokumen lengkap yang meliputi ;

a. Kartu Tanda Penduduk, Ijazah pendidikan terakhir, akte kelahiran atau surat keterangan kenallahir

b. Surat keterangan status perkawinan bagi yang telah menikah melampirkan copy buku nikah

c. Surat keterangan izin suami atau istri, izin orang tua, atau izin wali

d. Sertifikat kompetensi kerja

e. Surat keterangan sehat berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan kesehatan dan psikologi

f. Paspor yang diterbitkan oleh Kantor Imigrasi setempat

g. Visa kerja

h. Perjanjian penempatan kerja

i. Perjanjian kerja, dan

j. e-KTKLN.

Melakukan pelayanan pemantauan kepulangan Buruh Migran Perempuan di Bandara Ahmad Yanni Semarang. dalam hal ini Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi melakukan Cek Dokumen pendataan Buruh Migran yang meliputi: Negara dimana Buruh Migran bekerja, Nama dan alamat majikan, PPTKIS pengirim, cek Paspor, Tanggal keberangkatan dan kepulangan, Nama serta Alamat lengkap Buruh Migran dan Sebab-sebab kepulangan .

10) Perlindungan yang bersifat Represif

Perlindungan disini lebih banyak pada sanksi PPTKIS yang melanggar aturan, bisa dikenakan sanksi administratif berupa denda, pemulangan TKI dengan biaya sendiri, penundaan/pembatalan pemberangkatan CTKI, hingga pada pencabutan izin usaha perusahaan dan pemidanaan. Hal ini dapat dilihat dari keseriusan Pemerintah Kabupaten Semarang dalam melindungi Buruh Migran Perempuan, yang telah menutup dan mencabut izin 3 kantor PPTKIS karena melakukan perekrutan Buruh Migran dengan izin SIP telah kedaluarsa yang beroprasi di lingkup wilayang Kabupaten Semarang, selain itu pemilik kantor PPTKIS juga terancam melakukan tindak pidana perdagangan manusia melanggar ketentuan pasal (546) KUHPidana, dengan ancaman 15 tahun penjara.

Pemberian sanksi seperti ini merupakan wujud penegakan hukum yang diharapkan mampu memberikan efek jera bagi perusahaan lainnya sehingga kesalahan serupa tidak terulang lagi.

Dokumen terkait