• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mari kita kembalikan lagi semangat Sumpah Pemuda di antara kita sebelum anak cucu kita berkata dengan lafal dan aksen asing,”Maaf, saya tidak bicara bahasa Indonesia “.

WAWASAN KEINDAHAN SASTRA DAN RESPONSI ANAK

Sastra anak adalah sastra yang diperuntukkan anak. Di mana segala sesuatu disesuaikan dengan kebutuhan pemahaman estetika dan ekstra estetika anak. Sesuai dengan perkembangannya anak akan mencoba mengeksplorasi dan mengekspresikan keindahan dari yang diadapatkan. Sastra anak dapat diperkenalkan dengan melalui bahasa yang sederhana dan dengan melagukan syair-syairnya. Bentuk puisi yang dilagukan memudahkan anak mengenal keindahan bahasa sastra melalui alitersi, asonansi, serta persajakan atau paduan- poaduan bunyi yang ritmis. Sedangkan sastra prosa dapat diperkenalkan melalui tradisi lisan yang biasanya orang tua bercerita pada anak sebelum tidur. Siapa dan berapa usia pengarang sastra anak tidak menjadi pertimbangan. Yang paling penting sastra anak adalah sastra yang mengutamakan isi dan esensinya untuk anak. Sastra anak dapat membawa pikiran-pikiran anak dalam world vision. Dunia yang tidak sama dengan kenyataan, yaitu dunia kreativitas. Kemenarikan dalam prosa lebih ditekankan pada figure tokoh dan alur cerita. Tokoh-tokoh Hero, pahlawan, orang-orang yang berjasa dalam kebaikan atau tokoh-tokoh penolong menjadi figure pembawa suritauladan bagi anak. Tokoh-tokoh tersebut biasanya melekat di pikiran anak. Dalam sastra anak yang sederhana mungkin tidak banyak disajikan konflik.

Sastra sangat berkaitan erat dengan keterampilan berbahasa. Ketrampilan awal yang dimiliki oleh anak dalam kondisi normal (tidak cacat fisik) adalah menyimak. Hasil menyimak akan diekspresikan melalui gerak motorik, proses belajar berbicara dan proses belajar menulis. Lingkungan yang dilihat, diraba, dicecap, dicium, dan didengar merupakan stimulan bagi proses belajar berbicara. Ketika anak sudah dapat berbicara lancar dia akan berusaha mengungkapkan apa yang diindera dengan kata-kata. Melalui proses berpikir anak akan berusaha untuk berpikir, berimajinasi, membayangkan membayangkan apakah hal itu masuk akal atau tidak. Seperti yang sering diimajinasikan anak-anak; “seandainya aku jadi malaikat kecil, seandainya aku jadi burung, seandainya aku jadi kupu-kupu” yang itu semua biasanyan diungkapkan pada anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki lebih cenderung ungkapan yang bersifat maskulin dan konkret, “kalau akau jadi presiden, kalau aku jadi astronot, kalau aku jadi pilot, dan sebagainya”.

Sastra memang sudah diperkenalkan pada anak sejak usia dini. Keindahan yang didengar melalui nyanyian Nina Bobo yang dilantunkan orang tuanya memberikan

5 sentuhan keindahan suara yang diekspresikan melalui senyuman, kenyamanan, dan ketenangan. Maka, tak ayal lagi dengan mudah bayi akan tidur nyenyak. Responsi semacam ini bersifat nonverbal yang berorientasi pada gerak (motor – oriented).

Ketika anak sudah mulai belajar berbicara maka sastra akan lebih mudah untuk diperkenalkan. Melalui nyanyian anak, ia akan berusaha untuk menirukan dan mengekspresikan memalui mimik wajahnya yang diiringi dengan gerak motoriknya. Misalnya lagu sederhana “pok ame-ame”. Lagu yang memang mengajak anak untuk belajar dan bermain bersama-sama. Ekspresi melalui mimik wajah gerak motorik merupakan apresasi terhadap bentuk-bentuk sastra yang sederhana, yang biasanya ditembangkan atau dilagukan oleh orang tuanya. Menirukan adalah bentuk produk yang baru mampu dilakukan oleh anak seusianya. Pada anak usia bicara ini terdapat response verbal, dimana anak sudah mulai menirukan bahkan memberikan pendapat dengan bahasa dan logika yang sederhana dan sesuai dengan perkembangan kognitifnya. Nilai edukasi di balik lagu tersebut adalah mengajarkan pada anak untuk selalu bermain bersama, makan dan minum yang bergizi untuk pertumbuhan badan.

Ketika anak sudah dapat berbicara tetapi belum dapat dapat membaca, ia akan mengekspresikan apresiasinya dengan kata-kata. Misalnya bagaimana tanggapannya ketika orang lain bercerita atau ketika ia melihat gambar berantai seperti komik. Dia akan mengapresiasi dan hasilnya diwujudkan dalam bentuk lisan. Ketika ia menghadapi sebuah gambar ia akan membaca gambar tersebut sesuai dengan apa yang diimajinasikan. membaca. Oleh karena itu, hasil ekspresi imajinasi melalui lisan ini mungkin akan berbeda satu anak dengan yang lain. Inilah bukti bahwa anak mempunyai daya apresiasi yang berbeda terhadap gambar yang dilihat. Response itu bersifat verbal. Lagu-lagu anak yang puitis dapat digolongkan pula sebagai sastra anak. Misalnya, Desaku, Kebunku, Pelangi, Bintang Kecil, Balonku, Satu-satu, dan sebagainya menunjukkan adanya bahasa yang ritmis yang terletak pada paduan bunyi pada akhir baris maupun pada setiap suku katanya. Di situlah keindahan sastra dapat dinikmati oleh anak. Puisi yang dilagukan akan lebih mudah untuk dipahami anak. Di daerah Jawa terdapat lagu-lagu dolanan yang diperuntukkan anak-anak dengan bernyanyi sambil bermain. Misalnya. Cublak-cublak suweng, uri-uri, sluku-sluku bathok, jamuran, dan lain sebagainya merupakan lagu dolanan yang mempunyai nilai adiluhung. Keadiluhungan itu terletak pada gaya penyajiannyanya yang ritmis dan nilai yang terkandung di dalam lagu tersebut. Menyimak lagu-lagu dolanan pada anak-anak Jawa menunjukkan bahwa mereka mengutamakan kebersamaan, kerukunan, dan bukan masyarakat yang individu

6 karena setiap permainan yang diiringi lagu dolanan tersebut dimainkan oleh beberapa anak. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat komunal.

Gambar merupakan sarana sastra bagi anak baik dalam media kertas, TV, maupun media elektronik yang lain. Penyampaian lisan dari anak menjadi sangat penting dalam melatih ketrampilan menyimak dan berbicara. Seperti yang ditemui dalam layar kaca dalam sebuah media TV dalam beberapa sinetron yang melibatkan anak sebagai pemainnya. Bagaimana anak dapat membaca naskah/scenario? Dialog yang mereka lakukan adalah karena mereka dituntun untuk menirukan sang sutradara. Jadi sebenarnya potensi anak sebagai produsen sastra sangat tinggi. Allanis dalamDoo Bee Doo, Baim dalamCerita SMA, adalah anak-anak yang masih jauh di bawah umur (sekitar 2 tahunan) yang tentu saja tidak dapat membaca apalagi menulis tetapi mereka sudah dapat bermain sinetron. Mereka sudah menjadi pelaku seni yang menghasilkan berbagai kesukaan. Seorang actor ataupun aktris harus dapat menafsirkan teks sehingga ada keharmonisan antara acting dan dialog yang membuat sinetron atau drama itu menjadi lebih menarik. Walaupun mungkin menemui berbagai kendala.

Pada anak usia pendidikan dasar yang sudah mengenal huruf dan dapat membaca sudah dapat dimulai tradisi literasi. Mereka akan lebih bisa mengekspresikan apa yang dipikirkan, apa yang sudah menjadi pengalamannya, dan apa yang akan dilakukannya. Ketika ketrampilan menulis sudah dikenalnya, ia akan berkembang menjadi seorang produsen sastra sekaligus kritikus. Pada tingkatan ini, anak sudah dapat melakukan response verbal/lisan mapun tulis. Response dalam tingkatan rendah berupa perasaan-perasaan nyaman dan senang, kemudian pada tingkat kedua berupa sikap, tingkah laku dan gerak-gerik motorik serta mimic wajah yang bersifat nonverbal. Tingkat ketiga, response dapat bersifat ketiga- tiganya, dan pada tingkatan ke empat responsi lebih bersifat tulis. Responsi pada tingkat tinggi, dalam taraf kematangan berpikir, responsi dapat berupa pernyataan-pernyataan atau statemen-statemen yang kritis dengan bahasa yang sistematis dan lebih kompleks. Responsi tersebut dapat dikatakan sebagai krtitik sastra.