Coaching belakangan ini menjadi pembicaraan yang hangat dalam dunia kediklatan. Pentingnya coaching dalam kediklatan
menuntut adanya pemahaman yang baik tentang coaching, terutama bagi widyaiswara yang mendapatkan amanah sebagai coach. Hal tersebut yang menjadi salah satu alasan perlunya dibahas apa sebenarnya coaching, manfaat coaching, ketrampilan dan kompetensi coaching, serta etika dalam coaching. Beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari tulisan
adalah masih kurangnya pengertian dan pemahaman widyaiswara terkait coaching. Pengalaman adalah guru yang terbaik, demikian halnya dengan coaching akan menjadi lebih mahir dan profesional ketika banyak praktek, mengikuti berbagai pelatihan tentang coaching dan berdiskusi/bertukar pikiran sesama coach. Rekomendasi yang bisa penulis sampaikan pada kajian ini adalah: Perlu adanya penyamaan persepsi widyaiswara tentang perannya sebagai coach. Perlu adanya peningkatan ketrampilan sebagai coach melalui pendidikan dan pelatihan coaching. Perlu adanya pemahaman dan kesadaran diri untuk membimbing coachee dalam hal kepercayaan diri dan pemberdayaan sehingga timbul keberanian untuk melakukan tindakan-tindakan baru sehingga bisa mencapai hasil yang dinginkan.
Kata Kunci: Coach, Coaching, Coachee, Kediklatan
Abstrak
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Akhir-akhir ini coaching merupakan pembicaraan yang hangat dalam dunia kediklatan. Coaching semakin dilirik dan diminati sebagai salah satu metode pembimbingan dalam menyelesaikan tugas kediklatan. Tugas kediklatan tersebut sementara ini lebih banyak digunakan pada pendidikan dan pelatihan (diklat) administrasi seperti diklat kepemimpinan, diklat prajabatan, diklat revolusi mental dan beberapa diklat lainnya.
Awalnya masih terasa asing mendengar istilah coaching dalam kediklatan karena biasanya coach sering kita dengar dan jumpai pada dunia olahraga seperti coach sepakbola,
coach memanah dan sebagainya. Namun karena semakin
sering digunakan dan dipraktekkan sehingga coaching menjadi sangat familiar di dunia kediklatan terutama bagi widyaiswara dan peserta diklat.
Ketertarikan terhadap coaching mulai muncul ketika awal 2016 mengikuti Training Of Trainer (TOT) Kewidyaiswaraan (Coaching Diklat Kepemimpinan) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Tenaga Administrasi Jakarta.
Sebelumnya pada saat Training of Facilitator (TOF) Diklat Kepemimpinan di Makasar sudah diperkenalkan juga dengan coaching, walaupun belum secara mendalam karena pada dasarnya coaching merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Kurikulum dalam Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Nomor 20 Tahun 2015.
Coaching merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
beberapa diklat yang memerlukan metode coaching sehingga tentu saja pemahaman, keterampilan dan kompetensi sebagai coach harus senantiasa ditingkatkan.
Coach yang professional bisa dicapai dengan upaya-upaya
untuk terus menambah wawasan dan pengetahuan yang harus senantiasa tertanam dalam diri seorang coach. Fenomena yang terjadi pada hampir semua Balai Diklat Keagamaan bahwa peran sebagai coach dilekatkan pada widyaiswara. Menjadi hal yang wajar ketika widyaiswara merangkap sebagai coach harus memahami dan mengetahui posisinya pada saat mana dia sebagai widyaiswara/trainer dan pada saat mana dia berperan sebagai coach. Sejalan dengan pemikiran di atas maka akan dilakukan kajian dengan judul: Coaching dalam Pendidikan dan Pelatihan (Pengertian, Manfaat, Ketrampilan, dan Etika dalam Coaching).
KOLOM
2. Identifikasi Masalah
Proses coaching yang sudah dilakukan widyaiswara Kementerian Agama sebagian menjalankan fungsinya sebagai coach layaknya sebagai counsultant yaitu sampai pada tahap memberitahukan apa yang harus dilakukan oleh peserta/coachee. Padahal yang sebenarnya harus dilakukan seorang coach adalah memfasilitasi peserta melalui pertanyaan-pertanyaan, memberikan feedback sehingga peserta/coachee mampu tumbuh dan berkembang, mampu mengaktualisasikan ide dan pemikirannya sendiri tanpa ada ketergantungan dengan orang lain.
Coach memegang peran yang besar pada kediklatan dalam
menghasilkan produk kediklatan seperti proyek perubahan dan program kegiatan lainnya. Mengingat hampir semua yang menjadi coach adalah widyaiswara sehingga dituntut adanya pemahaman yang baik tentang coaching. Mengingat begitu pentingnya pemahaman tentang coach pada pelaksanaan kediklatan maka penulis tertarik untuk mengupas apa sebenarnya coaching, manfaat coaching, ketrampilan dan kompetensi coaching serta etika dalam
coaching.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka perumusan masalah dalam kajian ini adalah: “Apakah yang dimaksud dengan coaching, manfaat, ketrampilan dan kompetensi serta etika dalam coaching?”
4. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini yaitu menyampaikan informasi tentang apa sebenarnya coaching, manfaat coaching, ketrampilan dan kompetensi coaching serta etika coaching dalam Pendidikan dan Pelatihan. Informasi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi coach dalam mengetahui dan memahami seluk beluk
coaching serta bisa menerapkan dan mempraktekkan
metode coaching sehingga bisa menciptakan hasil diklat yang maksimal.
B. Apakah Coaching itu?
Pertama kali mendengar istilah coaching adalah pada saat mengikuti Training of Facilitator Diklat Kepemimpinan di Makasar. Sebagian orang tentunya tidak asing dengan istilah tersebut terutama yang menyukai dunia olahraga karena
coach banyak dipakai dalam dunia olahraga. Kesempatan
untuk memperdalam ilmu tentang coaching penulis dapatkan ketika mengikuti TOT Kewidyaiswaraan (Coaching Diklat Kepemimpinan) di Pusdiklat Tenaga Administrasi.
Bersyukur sekali bisa menjadi bagian dari peserta TOT tersebut karena memang pengetahuan tentang coaching harus dipahami untuk melakukan praktek sebagai coach di kediklatan.
Coaching sendiri sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala,
akan tetapi bagi orang yang mengetahui pendekatan yang terbaru dalam pengembangan sumber daya manusia,
coaching merupakan suatu ilmu dan profesi baru.
Coaching menjadi salah satu bidang profesi yang
berkembang pesat. Mula-mula sekitar tahun 1960-an
coaching muncul dalam bidang olahraga kemudian pada
tahun 1970-an dan 1980-an beralih ke dunia bisnis. Selanjutnya pada tahun 1990-an coaching semakin popular sebagai sumber daya yang bermanfaat secara luas dalam rangka pengembangan pribadi seseorang.
Vidovic dan Stanic (2013) dalam buku A Little Something
About Coaching How to be on Informal Terms With Coaching
Cahpter 1, disebutkan bahwa “Coaching is a process in which
the coach assumes that each client possesses the capacity to reach and achieve their goals. Coaching is not counseling. A cosch does not advise, but rather moves clients into making their ownr educated decisions and finding the most effective ways achieving goals through contact with their own resources, values and beliefs”. Yaitu bahwa coaching
adalah proses di mana pelatih berasumsi bahwa setiap klien memiliki kapasitas untuk mencapai tujuan mereka. Seorang
coach tidak menyarankan, melainkan membuat keputusan
sendiri dan menemukan cara yang paling efektif mencapai tujuan melalui kontak dengan sumber daya mereka sendiri.
Coaching menurut Whitmore dalam Asmoko (2015) adalah
kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih pada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya.
Kok (2015) dalam bukunya Coching Genius menyebutkan bahwa coaching merupakan komunikasi yang menjembatani dan membangun iklim saling percaya dengan memperhatikan unsur-unsur ikatan emosionalnya. Coaching yang sukses selalu melibatkan unsur-unsur dukungan pribadi, tantangan individual, dan bantuan teknis yang disatukan oleh ikatan emosional. Secara teoritis, coaching adalah proses pengarahan yang dilakukan atasan/senior untuk melatih dan memberikan orientasi kepada bawahannya tentang realitas di tempat kerja dan membantu mengatasi hambatan dalam mencapai prestasi kerja yang optimal.
Menurut Richarson (2004) dalam bukunya The Life Coach menyebutkan bahwa coach tidak mengikutsertakan agenda pribadinya ke dalam percakapan dan tidak terikat dengan hasilnya. Coach percaya pada kemampuan klien/coachee untuk meraih apapun yang diinginkan dengan melatih diri sendiri dan mempercayai diri sendiri.
KOLOM
C. Manfaat melakukan coaching
Proses coaching lebih banyak pada mengarahkan untuk melatih dan memberikan semangat/motivasi dan orientasi kepada peserta/coachee tentang kenyataan yang terjadi di tempat kerja atau kondisi organisasi dan membantu dalam menghadapi hambatan untuk mencapai prestasi. Coaching diharapkan bisa membantu peserta/coachee sehingga mereka mampu dalam hal:
a. Peningkatan rasa percaya diri. Pada saat coachee berhasil membangun rasa percaya diri bahwa dia mampu memunculkan ide-ide perubahan dan mampu melaksanakannya maka seorang coach dikatakan telah berhasil melakukan coaching;
a. Berkreasi. Dalam proses coaching seorang coach harus bisa menggiring coachee sehingga bisa memikirkan dan memunculkan alternatif pemecahan yang sebelumnya tidak pernah terlintas dibenaknya;
a. Menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Hal ini penting untuk bisa dimiliki oleh coachee, coach yang berhasil akan bisa membentuk coachee menjadi figur pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri, bisa memanage stakeholder sehingga melakukan ide-ide dan program yang sudh dibuat;
a. Mengoptimalkan performanya sendiri. Karena yakin dengan kemampuannya maka coachee akan senantiasa meningkatkan potensi yang dimilikinya untuk mensukseskan program-program yang sudah disusun; a. Menyadari apa yang melandasi ucapan dan tindakannya.
Coach harus bisa membuat coachee memiliki integritas
dan meyakinkan coachee bahwa dengan integritas yang tinggi program-program bisa dilaksanakan dengan baik; a. Menghasilkan tindakan dan ucapan yang berbobot.
Coachee akan memiliki kemampuan sebagai leader
dalam menggerakkan timnya.
Menurut Passmore (2010) bahwa manfaat yang umumnya diperoleh dari coaching adalah dapat meningkatkan kinerja individu dan organisasi, keseimbangan yang lebih baik antara pekerjaan dengan kehidupan, motivasi yang lebih tinggi, pemahaman diri yang lebih baik, pengambilan keputusan yang lebih baik dan peningkatan pelaksanaan manajemen perubahan. Coaching ketika diaplikasikan dengan tepat maka akan menghasilkan situasi yang sama-sama menguntungkan bagi semua pihak (stakeholders). Manfaat hasil coaching baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dapat diidentifikasikan pada tingkat individu, kelompok ataupun organisasi. Keuntungan tersebut bisa dibedakan dalam setiap tingkatannya.
Dalam kenyataannya coaching tidaklah mudah untuk dilaksanakan, hal ini disebabkan antara lain adanya budaya menghakimi/memarahi, budaya membiarkan, budaya mengerjakan sendiri, budaya mengharapkan hasil yang instan, dan budaya organisasi birokrasi. Coach yang baik harus bisa mengarahkan coachee sehingga budaya-budaya tersebut di atas tidak terjadi.
D. Keterampilan dan Kompetensi Coaching
Apakah keterampilan dan kompetensi coaching telah anda miliki?. Pertanyaan tersebut yang harusnya membuat lebih semangat bagi seorang coach untuk melakukan praktek
coaching. Adanya motivasi atau dorongan untuk selalu
mempelajari teknik-teknik yang harus dimiliki oleh seorang
coach.
Ada beberapa teknik dasar dalam coaching yang harus dikuasai oleh seorang coach. Teknik dasar tersebut adalah teknik mendengarkan, mengajukan pertanyaan, mengklarifikasi dan memberikan umpan balik (feed
back). Berdasarkan pengalaman penulis bahwa selama
melakukan proses coaching tidak selalu dilakukan dengan tatap muka akan tetapi bisa digantikan dengan metode lain seperti melalui telepon, email, dan WhatsApp. Penulis sendiri menjalani proses coaching dengan peserta diklat kepemimpinan pola baru lebih banyak melalui telepon dan WhatsApp terutama pada saat mereka sedang off campus. Idealnya proses coaching dilakukan dengan tatap muka langsung karena antara coach dan coachee bisa saling berhadapan secara langsung, bisa saling menyelami dan memahami. Sejauh mana sebaiknya coach memahami masalah yang dihadapi oleh coachee? Haruskah coach mengetahui pengetahuan manajemen atau bidang-bidang tertentu lainnya?
Diklat coaching yang pernah diikuti oleh penulis menjelaskan bahwa seorang coach tidak harus memiliki pengetahuan yang tinggi akan content permasalahan yang dihadapi
coachee akan tetapi lebih ditekankan pada kemampuan coach dalam mempraktekkan teknik-teknik coaching. Nah,
keterampilan tentang coaching bisa didapatkan karena memang sudah merupakan bakat alami, bisa juga melalui pembelajaran dan pelatihan atau bisa dari pengalaman, dan bahkan kombinasi dari kesemuanya.
Dalam proses coaching, coach berperan seperti cermin, merefleksikan kembali apa yang dipikirkan oleh coachee, berupa perkataan dan ide-ide, sehingga coachee dapat melihat gagasannya secara lebih jernih dan dapat menjalankan gagasannya tersebut secara lebih baik. Coach percaya bahwa coachee memiliki semua pengetahuan yang dia butuhkan dan coach berperan membantu coachee untuk menyadari kemampuannya dan menemukannya.
KOLOM
E. Bagaimana Menjadi Coach yang Baik?
Pekerjaan coach adalah membuat orang lain berubah. Tidak ada yang lebih memuaskan bagi coach ketika melihat
coachee yang ditemuinya memperoleh kemajuan dan
menemukan jalan keluar serta ide-ide yang membantunya mencapai kesuksesan. Dalam rangka mencapai kesuksesan tersebut maka seorang coach yang baik harus dibekali dengan kualitas dan kemampuan dalam berempati, kualitas perspektif atau pandangan, fokus yang jelas, intuisi, obyektif dan kekuatan untuk memberi tantangan kepada coachee. Kualitas-kualitas tersebut bisa didapat oleh coach dengan dimilikinya keterampilan dalam mendengarkan, mengajukan pertanyaan dan mengklarifikasikan sesuai tujuan, strategi dan tindakan.
Menjadi coach yang baik bisa dimulai dengan active
listening, mendengarkan apa yang menjadi permasalahan,
keluh kesah dari peserta/coachee dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot yang akhirnya bisa memprovokasi pemikiran kreatif dan menggali potensi peserta/coachee semaksimal mungkin.
Dalam melaksanakan perannya coach juga membutuhkan mitra dalam hal ini adalah mentor, counselor ataupun
counsultant. Dalam hal ini coach berperan memfasilitasi coachee yang dibinanya, menjadi sadar dengan bagaimana
berpikir yang berfokus pada solusi dengan menyadari apa yang sedang dialaminya saat ini dan mengajak orang yang sedang dibinanya untuk menyadari sendiri apa yang dibutuhkan dan mencari tahu bagaimana cara untuk mewujudkannya.
Dalam buku Coaching Genius dijelaskan tentang prinsip-prinsip coaching, yaitu: 1) Bertanya; bukan memerintah, mengarahkan atau mempengaruhi, 2) Mengajukan pertanyaan terbuka yang dapat memicu pemikiran kreatif, 3) Tidak bertendensi untuk menginduksi coachee mengambil kesimpulan tertentu, 4) Tidak memberikan saran atau usul tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan coachee, 5) Tidak mengarahkan coachee berdasarkan pengalaman atau persepsi coach, 6) Tidak menilai atau menghakimi.
Sementara itu Mujahid (2012) dalam tulisannya yang berjudul 8 prinsip dalam coaching menjelaskan prinsip
coaching menurut Managing Director dari Performance
Coach Training, Coach Carol Wilson, yaitu:
1. Awareness (Kesadaran). Proses coaching menghasilkan kesadaran karena coach melakukan untuk mendapatkan kesadaran baru dan wawasan, mengidentifikasi tujuan dan mengambil tindakan yang menantang;
2. Responsibility (Tanggung Jawab). Coach menciptakan solusi dari coachee sendiri daripada diberitahu apa yang harus dilakukan oleh coachee;
3. Self Belief (Percaya Diri). Dengan memberikan ruang untuk berlatih, belajar, meregangkan diri dan memberi pengakuan atas prestasi;
4. Blame free (Tidak Menyalahkan). Kesalahan dijadikan sebagai pengalaman belajar;
5. Solution Focus (Fokus pada Solusi). Apabila coachee berfokus pada solusi maka masalah yang muncul lebih kecil dan lebih banyak energi untuk menghadapinya; 6. Challenge (Tantangan). Terkadang perlu untuk
menetapkan tujuan dan sasaran lebih tinggi dari yang seharusnya diperlukan, supaya coachee dapat dengan mudah mencapai sasaran yang diperlukannya;
7. Action. Coachee mendapat wawasan baru yang pada gilirannya menyebabkan keinginan untuk mengambil tindakan dan perubahan;
8. Trust (Kepercayaan). Tanpa kepercayaan, proses
coaching tidak akan berlangsung.
Berdasarkan prinsip-prinsip yang sudah disebutkan sebelumnya, maka tugas dan peran coach adalah mengantar
coachee dalam menghadapi kenyataan yang ada sekarang
menuju pada kenyataan yang diinginkan. Tentu saja setelah melewati rintangan yang menghambat kemajuannya dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Coaching berperan dalam membantu seseorang mencapai
tujuan dalam kehidupannya. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memegang prinsip bahwa coachee itu kreatif, penuh sumber daya dan merupakan manusia yang berpotensi.
F. Etika dalam Coaching
Mengapa perlu membicarakan masalah etika dalam
coaching?. Perlu dipahami bahwa etika merupakan esensi
dan pondasi dari coaching yang baik selain itu orang yang bertindak sebagai coach professional harus taat pada standar tanggung jawab tertinggi dan dapat dipercaya untuk melindungi kepentingan-kepentingan coachee. Kualitas coach yang baik akan didapat dengan semakin seringnya berlatih dan mengikuti pelatihan-pelatihan. Namun sebaik apapun pelatihan yang diikuti dan seberapa banyak gelar yang didapat jika kita tidak beretika maka akan berpotensi merugikan coachee. Sebaliknya jika coach bertindak secara beretika dan sesuai dengan kualitas diri maka bisa jadi pelatihan atau sertifikasi yang belum kita miliki akan menjadi milik kita.
Dalam praktek etika tentu saja nilai-nilai atau prinsip-prinsip memiliki peran yang penting dalam pembuatan keputusan.
KOLOM
Nilai-nilai didasarkan pada sistem nilai tentang apa yang diinginkan daripada apa yang dianggap benar dan salah. Dalam hal ini etika yang didasarkan pada sistem nilai sangat relatif, akan tetapi nilai-nilai sangat berpengaruh pada saat pembuatan keputusan yang berhubungan dengan etika. Sementara prinsip-prinsip membentuk perilaku individual dan memungkinkan kita bertindak dengan integritas. Dalam pelaksanaannya prinsip didasarkan pada sebagian nilai-nilai dan prinsip bisa saja berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.
Sebaiknya etika harus dikaitkan dengan profesionalisme yang berhubungan dengan etika dan perilaku etis. Bisa kita lihat bahwa standar pribadi yang tinggi cenderung membawa perilaku yang etis dan professional. Namun kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa perilaku yang tidak professional adalah perilaku yang tidak etis. Etika cara kita menentukan apa yang benar dan salah akan menjadi pedoman dalam melakukan hal yang benar.
Dalam pelaksanaannya untuk berperilaku etis seseorang harus bisa membedakan antara tindakan yang baik dan tindakan yang buruk. Ketika seseorang sudah bisa membedakan yang baik dan yang buruk maka itulah yang menentukan apakah seseorang bermoral atau tidak. Bagaimana kita sebagai coach dan teladan bagi masyarakat dapat terus mengembangkan etika kita? Fenomena yang terjadi bahwa tidak selalu orang yang bisa membedakan antara benar dan salah akan secara otomatis melakukan hal yang benar, dan menahan diri melakukan yang salah. Penyebab etika dalam diri hanya akan tercapai melalui praktek etika baru yang disebarkan dan bersungguh-sungguh dengan mengamati aturan-aturan tertentu sebagai dasar pembuatan keputusan kita.
Lantas dapatkah kita benar-benar menjadi beretika?. Pada dasarnya kita memiliki kemampuan, pengetahuan dan perangkat yang diperlukan untuk menjadi orang yang beretika dan bahwa kekuatan memilih benar dan salah, baik dan buruk, ada dalam jangkauan kita semua. Justru pertanyaan yang lebih sulit untuk dijawab adalah dapatkah kita menjadi bermoral? Satu-satunya cara menjadi bermoral adalah dengan memasukkan kualitas dari jiwa kita, dari hati kita ke dalam suatu tindakan.
Dari berbagai pembahasan tentang coaching di atas bisa dilihat bahwa keberhasilan coaching tidak sekedar tergantung pada kualitas cara penyampaiannya, akan tetapi kreativitas dalam seni mengembangkan hubungan, mendengarkan, memberikan pertanyaan dan memberikan umpan balik dapat menyumbangkan kontribusi yang cukup besar dalam membantu keberhasilan coaching.
Mendiskusikan tentang tantangan-tantangan organisasi dan membantu menyelesaikan atau mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Penting untuk bisa menciptakan hubungan yang baik antara
coach dan coachee, tidak ada istilah atasan atau bawahan.
Hal ini supaya coachee lebih merasa nyaman untuk menceritakan dan coach yang baik harus bisa sebagai pendengar yang baik sehingga tercipta hubungan yang baik untuk mendapatkan solusi yang terbaik pula.
G. Penutup
1. Simpulan
Coaching menjadi salah satu bidang profesi yang
berkembang pesat dan bermanfaat secara luas untuk pengembangan pribadi seseorang. Coaching sendiri merupakan kegiatan memfasilitasi melalui bertanya, memberikan feedback/umpan balik dan berperan sebagai seorang ahli dalam proses tentang bagaimana seseorang mengolah cara berpikirnya sehingga mampu menghasilkan performa yang efektif dan mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, mampu menyesuaikan dengan kondisi sekarang untuk terus berkembang dan tumbuh, mampu mengaktualisasikan ide dan pemikirannya tanpa tergantung pada orang lain. Manfaat coaching bagi coachee antara lain adalah: meningkatkan rasa percaya diri, berkreasi, menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri, mengoptimalkan performanya sendiri, menyadari apa yang melandasi ucapan dan tindakannya, dan menghasilkan tindakan dan ucapan yang berbobot. Teknik yang harus dimiliki oleh seoarang
coach yaitu: mendengarkan, bertanya, mengklarifikasi,
meringkas dan merefleksi. Pentingnya etika dalam coaching karena etika merupakan esensi dan pondasi dari coaching. Pengalaman adalah guru yang terbaik, demikian halnya dengan coaching akan menjadi lebih mahir dan profesional ketika banyak praktek, mengikuti berbagai pelatihan tentang
coaching dan berdiskusi/bertukar pikiran sesama coach.
2. Rekomendasi
Perlu adanya kesamaan persepsi widyaiswara tentang perannya sebagai coach .yaitu dengan mempelajari dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan coaching. Dalam meningkatkan ketrampilan sebagai coach bisa dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan coaching. Hal yang tidak kalah penting untuk dilakukan coach adalah bahwa perlu adanya pemahaman dan kesadaran diri untuk membimbing
coachee dalam hal kepercayaan diri dan pemberdayaan
sehingga timbul keberanian untuk melakukan tindakan-tindakan baru sehingga bisa mencapai hasil yang dinginkan.
KOLOM
Daftar Kepustakaan
Atkinson, Marilyn W dan Chois, Rae T. 2016. Art & Science of Coaching Series, Dinamika Batin Dalam Coaching, PT. Gramedia, Jakarta.
Clegg, Brian dan Birch, Paul. 2006. Instant Creativity: 76 Cara Instan Meningkatkan Kreativitas Anda, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Kok, Erni Julia. 2015. Coaching Genius, Karier Sukses Luar Biasa Hidup Semakin Bahagia, PT. Gramedia, Jakarta
Kouzes, James M dan Posner, Barry Z. 2004. Leadership The Challenge, tantangan Kepemimpinan Edisi Ketiga, Penerbit Erlangga, Jakarta.
LAN RI. 2015. Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 20 Tahun 2015 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklatpim Tk. IV
Passmore, Jonathan. 2010. Excellence in Coaching: Panduan Lengkap Menjadi Coach Professional, Penerbit PPM, Jakarta Richardson, Pam. 2004. The Life Coach, Pelatihan Hidup, Penerbit Erlangga, Jakarta