• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1.2 Willingness to Accept

Metode yang digunakan adalah kebersediaan menerima (Willingness to Accept). Kompensasi yang nilainya tidak terkait dengan pendapatan. WTA merupakan suatu ukuran dalam konsep penilaian ekonomi dari barang/jasa lingkungan. Ukuran ini memberikan informasi tentang besarnya dana kompensasi yang bersedia diterima masyarakat terhadap penurunan kualitas lingkungan di sekitarnya yang setara dengan biaya perbaikan kualitas lingkungan tersebut. Penilaian barang/jasa lingkungan dari sisi WTA mempertanyakan seberapa besar jumlah minimum uang yang bersedia diterima seseorang (rumah tangga) setiap bulan/tahun sebagai kompensasi atas diterimanya kerusakan lingkungan.

Beberapa pendekatan yang digunakan dalam perhitungan WTA, antara lain:

1. Menghitung jumlah yang bersedia diterima oleh individu untuk mengurangi dampak negatif pada lingkungan karena adanya suatu kegiatan pembangunan; 2. Menghitung pengurangan nilai atau harga dari suatu barang akibat semakin

menurunnya kualitas lingkungan;

3. Melalui suatu survei untuk menentukan tingkat kesediaan masyarakat menerima dana kompensasi dalam rangka mengurangi dampak negatif pada lingkungan.

Asumsi dalam pendekatan WTA dari masing-masing penduduk (responden), yaitu :

1. Responden yang bersedia menerima kompensasi (WTA) benar-benar mengenal baik DAS Sungai Cileungsi maupun limbah cair industri kertas.

2. Pemerintah Kabupaten Bogor memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas lingkungan Sungai Cileungsi.

3. Pemerintah Kabupaten Bogor bersedia memberikan dana kompensasi atas perubahan kualitas lingkungan (air) sungai akibat pencemaran yang ditimbulkan karena limbah cair industri.

Penghitungan WTA dapat dilakukan secara langsung melalui survei dan wawancara dengan masyarakat, maupun secara tidak langsung dengan menghitung nilai dari penurunan kualitas lingkungan. Metode pertanyaan dalam WTA juga hampir sama dengan pertanyaan pada WTP. Metode pertanyaan yang digunakan, yaitu:

1. Metode tawar menawar (bidding game), yaitu dengan menanyakan kepada responden apakah bersedia menerima sejumlah uang tertentu yang diajukan sebagai titik awal. Jika “ya” maka besarnya nilai uang dinaikkankan atau diturunkan sampai pada tingkat yang disepakati.

2. Metode pertanyaan terbuka (open-ended question), yaitu menanyakan langsung kepada responden berapa jumlah minimal uang yang diterima akibat perubahan kualitas lingkungan. Kelebihan metode ini adalah responden tidak perlu diberikan petunjuk yang dapat mempengaruhi nilai yang diberikan dan tidak digunakannya nilai awal yang ditawarkan sehingga tidak menimbulkan bias titik awal. Namun, metode ini lemah dalam akurasi nilai dan terlalu besar variasinya.

3. Metode kartu pembayaran (payment card). Metode ini menawarkan kepada responden suatu kartu yang terdiri dari berbagai nilai kemampuan untuk menerima sehingga responden dapat memilih nilai minimal yang sesuai

dengan preferensinya. Kelebihan dalam metode ini adalah memberikan stimulan untuk membantu responden berpikir lebih leluasa tentang nilai minimum yang akan diberikan tanpa harus terintimidasi dengan nilai tertentu, seperti pada metode tawar menawar. Penggunaan metode ini memerlukan pengetahuan statistik yang relatif baik.

4. Metode pertanyaan pilihan dikotomi (close-ended referendum), yaitu menawarkan kepada responden jumlah uang tertentu dan menanyakan kepada responden apakah mau menerima atau tidak sejumlah uang tersebut akibat perubahan kualitas lingkungan.

Selain metode yang telah disebutkan di atas, masih ada metode bertanya contingent ranking. Metode ini tidak menanyakan secara langsung kepada responden berapa nilai yang ingin diterima, tetapi responden diberikan ranking dari kombinasi kualitas lingkungan yang berbeda dan nilai moneternya kemudian responden diminta untuk mengurutkan beberapa pilihan dari yang paling disukai sampai kepada yang paling tidak disukai. Metode ini menggunakan skala ordinal sehingga diperlukan pengetahuan statistik yang sangat baik dan jumlah sampel yang besar.

3.1.3 Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method)

Pendekatan yang tepat untuk memperkirakan kesediaan membayar disebut “contingent valuation”. Berdasarkan ide sederhana bahwa jika ingin mengetahui berapa kesediaan seseorang untuk membayar untuk mencapai kondisi lingkungan tertentu, dapat langsung ditanyakan kepada orang tersebut. Metode ini disebut “contingent” karena metode ini mencoba mendorong orang untuk

mengungkapkan ‘apa yang akan mereka lakukan’ jika mereka ditempatkan pada kondisi “contingent” tertentu.

CVM merupakan suatu metode yang memungkinkan untuk memperkirakan nilai ekonomi dari suatu komoditi yang tidak diperdagangkan dalam pasar. Studi CV telah digunakan untuk mempelajari banyak faktor lingkungan: kualitas udara, nilai keindahan alam, kualitas kondisi pantai, perlindungan spesies liar, kepadatan populasi alam liar. Namun, pada kenyataannya metode CV juga dimanfaatkan untuk hal-hal di luar permasalahan lingkungan, seperti: nilai program pengurangan resiko serangan jantung, nilai informasi harga supermarket, dan lain-lain.

CVM menggunakan pendekatan secara langsung, yang pada dasarnya menanyakan kepada masyarakat mengenai berapa besar nilai maksimum dari WTP untuk manfaat tambahan atau berapa besar nilai maksimum dari WTA sebagai kompensasi dari kerusakan barang lingkungan. Tujuan dari CVM adalah untuk menghitung nilai atau penawaran barang publik yang mendekati nilai sebenarnya, jika pasar dari public goods benar-benar ada. Pasar hipotesis (kuesioner dan responden) sedapat mungkin mendekati kondisi pasar yang sebenarnya. Responden harus mengenal dengan baik barang yang ditanyakan dalam kuesioner dan alat analisis yang digunakan untuk pembayaran, seperti pajak dan biaya masuk secara langsung, yang juga dikenal sebagai alat pembayaran.

Asumsi dasar dari metode CVM ini adalah bahwa individu-individu memahami benar pilihan mereka dan bahwa mereka cukup familiar atau tahu kondisi lingkungan yang dinilai, dan bahwa apa yang dikatakan orang adalah

sungguh-sungguh apa yang akan mereka lakukan jika pasar untuk public goods (lingkungan) benar-benar terjadi.

Tahapan-tahapan dalam penerapan analisis CVM menurut Hanley dan Spash (1993) adalah sebagai berikut:

a. Membuat Pasar Hipotetik (Setting Up the Hypothetical Market)

Pada awal proses pelaksanaan CVM, terlebih dahulu harus membuat pasar hipotetik terhadap sumberdaya yang akan dievaluasi. Misalnya, pemerintah ingin memperbaiki kondisi pantai yang sudah tercemar. Dalam hal ini, kita bisa membuat suatu kuesioner yang berisi informasi lengkap mengenai bagaimana kondisi pantai yang bagus, manfaat dari perbaikan pantai tersebut serta kerugian jasa lingkungan yang hilang akibat dari kerusakan pantai tersebut. Kuesioner ini bisa diuji terlebih dahulu pada kelompok kecil untuk mengetahui reaksi masyarakat atas proyek yang akan dijalankan sebelum proyek tersebut benar-benar dilaksanakan.

b. Mendapatkan Penawaran Besarnya Nilai WTP/WTA (Obtaining Bids)

Tahap ini dapat dilakukan dengan melakukan survei, baik survei langsung dengan kuesioner, wawancara melalui telepon, atau surat. Dari ketiga cara tersebut, survei langsung akan memperoleh hasil yang lebih baik. Tujuan dari survei adalah untuk memperoleh nilai minimum keinginan menerima (WTA) dari responden terhadap kehilangan jasa lingkungan atau keinginan untuk membayar (WTP) terhadap upaya perbaikan kondisi lingkungan.

c. Memperkirakan Nilai Rata-rata WTP dan atau Nilai Tengah WTA (Calculating Average WTP and/or WTA)

Tahap selanjutnya adalah menghitung nilai rataan WTP/WTA setiap individu. Nilai ini dihitung berdasarkan nilai lelang/penawaran (bid) yang diperoleh pada tahap dua. Perhitungan ini biasanya didasarkan pada nilai tengah (median) dan rata-rata (mean) dari WTP/WTA. Akan tetapi, pada tahap ini kemungkinan timbul outlier (nilai yang sangat jauh menyimpang dari rata-rata). Misalnya ada 100 responden, 99 responden memiliki nilai penawaran Rp 10.000,00 tetapi ada satu responden yang memiliki nilai penawaran Rp. 100.000,00. Dalam perhitungan statistika, nilai ini disebut outlier dan biasanya tidak dimasukkan ke dalam perhitungan.

d. Memperkirakan Kurva Penawaran (Estimating Bid Curve)

Kurva penawaran (Bid Curve) dapat diperoleh dengan nilai WTP/WTA sebagai variabel tak bebas (dependent) dan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tersebut sebagai variabel bebas (independent). Kurva ini dapat digunakan untuk memperkirakan perubahan nilai WTP/WTA karena perubahan sejumlah variabel bebas yang berhubungan dengan kualitas lingkungan.

e. Mengagregatkan Data (Agregating Data)

Tahap ini melibatkan konversi data rataan sampel ke rataan populasi secara keseluruhan. Cara mengkonversinya yaitu dengan mengalikan rataan sampel dengan jumlah rumah tangga dalam populasi.

f. Mengevaluasi penggunaan CVM (Evaluating the CVM Exercise)

Pada tahap ini dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan CVM. Evaluasi tersebut dilakukan dengan memberikan pertanyaan seperti apakah responden benar-benar mengerti pasar hipotetik, berapa banyak barang/jasa yang dimiliki oleh responden yang terdapat dalam pasar hipotetik, seberapa baik pasar hipotetik yang dibuat dapat mencakup semua aspek barang/jasa lingkungan, dan sebagainya.

Keunggulan dan kelemahan CVM yang perlu diperhatikan dalam penggunaanya. Keunggulan-keunggulan dari penggunaan CVM, yaitu:

1. Sifatnya yang fleksibel dan dapat diterapkan pada beragam kekayaan lingkungan, tidak hanya terbatas pada benda atau kekayaan alam yang terukur secara nyata di pasar saja.

2. Dapat diaplikasikan pada semua kondisi dan memiliki dua hal penting, yaitu: seringkali menjadi hanya satu-satunya teknik untuk mengestimasi manfaat, dapat diaplikasikan pada berbagai konteks kebijakan lingkungan.

3. Dapat digunakan dalam berbagai macam penilaian barang-barang lingkungan di sekitar masyarakat.

4. Dibandingkan dengan teknik penilaian yang lain, CVM memiliki kemampuan untuk mengestimasi nilai non pengguna. Dengan CVM, seseorang mungkin dapat mengukur utilitas dari penggunaan barang lingkungan bahkan jika digunakan secara langsung.

5. Responden dapat dipisahkan ke dalam kelompok pengguna dan non pengguna sesuai dengan informasi yang didapatkan dari kegiatan wawancara, sehingga

memungkinkan perhitungan nilai tawaran pengguna dan non pengguna secara terpisah.

Keterbatasan utama dari penggunaan CVM adalah timbulnya bias yang memungkinkan nilai WTP/WTA yang dihasilkan dari CVM lebih tinggi (overstate) atau lebih rendah (understate) dari nilai sebenarnya. Bias dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. Bias Strategi (Strategic Bias)

Yaitu bias yang terjadi karena barang lingkungan memiliki sifat non-excludability dalam pemanfaatannya, sehingga akan mendorong terciptanya responden yang bertindak sebagai free rider dan tidak jujur dalam memberikan informasi. Alternatif untuk mengurangi bias ini adalah melalui penjelasan bahwa semua orang akan membayar nilai tawaran rata-rata. 2. Bias Rancangan (Design Bias)

Yaitu mencakup cara informasi disajikan, instruksi yang diberikan, format pertanyaan, dan jumlah serta tipe informasi yang disajikan kepada responden.

3. Bias yang Berhubungan dengan Kondisi Kejiwaan Responden (Mental Account Bias)

Yaitu bias yang terkait dengan langkah proses pembuatan keputusan seorang individu dalam memutuskan seberapa besar pendapatan, kekayaan, dan waktunya dihabiskan untuk barang lingkungan tertentu dalam periode waktu tertentu.

4. Kesalahan Pasar Hipotesis (Hypothetical Market Error)

Bias ini terjadi jika fakta yang ditanyakan kepada responden dalam pasar hipotesis membuat tanggapan responden berbeda dengan konsep yang diinginkan peneliti sehingga nilai WTP yang dihasilkan menjadi berbeda dengan nilai sebenarnya.

Di samping itu, dalam penghitungan CVM banyak ditemui permasalahan yang menyangkut:

1. Permasalahan analisis CV, yaitu sifat dari analisis CV yang hipotetik dan pada sebuah kuisioner CV tidak dapat menggambarkan kondisi nyata dari permasalahan sesungguhnya.

2. Permasalahan perkiraan manfaat, karena data yang baik selalu sulit didapat sehingga perlu dilakukan discounting yaitu mengurangi nilainya yang ada pada saat ini dan nilai di saat ini akan semakin rendah di masa yang akan datang. Pengurangan wajar dilakukan sepanjang hal itu tidak mengurangi nilai modal lingkungan bagi masyarakat pada jangka panjang.

Dokumen terkait