• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS IDENTITAS KULTURAL

3.2 Analisis Identitas Kultural

3.2.3 Wujud Budaya

Wujud adalah perwujudan dari sebuah ide yang telah diproses dengan perilaku. Wujud meliputi suatu hasil kesenian. Dalam analisis wujud ini penulis akan meneliti bagaimanakah apresiasi dan reaksi tokoh Janice terhadap suatu wujud budaya. Sebagai orang keturunan Cina tentu ia sangat tertarik dengan hasil budaya Cina tetapi ia tidak menutup diri terhadap hasil budaya orang lain. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut:

(110) “E, dayohe teka, e beberna klasa, e klasane bedah, e tambalen

jadah, e jadahe mambu, e pakakno asu, e asune mati, e buangen kali, e kaline banjir, e buangen pinggir...”

(E, tamunya datang, e segera beberkan tikar, e tikarnya robek, e ditambal nasi, e nasinya bau, e beri makan anjing, e anjingnya mati, e buang ke kali, e kalinya banjir, e buang ke pinggir..). Kubiarkan saja perempuan berjarik itu bersenandung bersama Mei-Mei. Ia selalu saja berbicara dan mengobrol dengan bahasa Jawa entah sengaja agar aku tidak mengerti(karena aku mengerti bahasa Indonesia yang mirip Melayu, berhubung aku disekolah aku mengambil mata pelajaran ini dan ibuku seorang Cina Malaka) entah ingin agar cucunya lebih Jawa daripada Cina, atau entah ingin agar aku tersindir.(hlm.14)

Dari kutipan di atas terlihat bahwa Janice tidak menutup diri terhadap hasil budaya lain khususnya budaya Jawa yang dibawa ibu mertuanya dengan membiarkan ibu mertuanya itu mengajarakan lagu berbahasa Jawa kepada Mei-Mei.

Janice juga terbuka terhadap hasil budaya berupa lagu yang berasal dari Indonesia. Dalam hal ini pertama kali diperkenalkan oleh temannya yang berasal

dari Indonesia waktu masih sekolah. Hasil budaya yang berupa lagu itu adalah lagu karya Gombloh yang baitnya sampai sekarang masih menempel di benak Janice. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut:

(111) Bicara soal coklat yang manis. Hidup ternyata tidak demikian. Jika ya demikian bukankah semua “tai kucing rasa coklat” (Jadi ingat pas sekolah, temanku orang Indonesia dulu memberiku kaset Gombloh, penyanyi nyentrik. Judulnya lupa. Salah satu baitnya,” kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat.” Kata-kata ini jadi nempel.). (hlm.39)

Pada kutipan di atas, nampak Janice tertarik dengan lagu karya Gombloh sampai-sampai menyamakannya dengan kehidupan yang ia lalui. Hal di atas juga dirasa cukup membuktikan bahwa ungkapan-ungkapan tersebut berpengaruh dalam alur pikiran Janice dalam menjalani hidupnya.

Ketika Janice memutuskan untuk mengambil pembantu dan kebetulan pembantunya yang bernama Ipah adalah mantan penari Jaipong. Janice sangat tertarik mendengarkan cerita Ipah tentang dirinya dan tari Jaipongnya. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut:

(112) Sepanjang perjalanan dengan taksi, aku banyak mencari tahu soal dirinya. Ia mengaku sejak usia akil baligh sudah bekerja, apa saja walaupun tidak pernah menjadi pembantu. Ipah memastikan ia siap untuk bekerja jadi pembantu karena pekerjaan sebelumnya yang macam- macam, plus sebelum ke Singapura ia sudah ikut pelatihan. Pernah jadi tukang bersih-bersih di mal, tukang cuci piring di restoran, kerja di industri garmen dan bahkan ikut kesenian keliling hingga kemudian diajak jadi penari tetap.”O ya menari?” tanyaku setengah percaya. Ia mengangguk. “Menari apa?” “Tari topeng Betawi, Jaipong, tari tarian tradisional Betawi,”ujarnya. “Oh, kamu orang Jakarta asli?” Ia seperti ingin tertawa kecil tapi mulutnya ditutp dengan tangannya. “Bukan Jakarta, tapi Parung, Madam. Orang Parung tidak persis Betawi, tapi seperti campuran antara Betawi dan Sunda, karena memang Parung terletak di tengah-tengah. Malah ada yang disebut daerah Parung Bingung, karena

orang Sunda.” Aku tersenyum. “Siapa yang mengajarimu menari?” tanyaku penasaran. “Nenek. Dulu sering keliling kampung, menari

di pesta kondangan atau hajatan kawinan,” katanya.

Hm..penari.Bagus, berarti tubuhnya tidak lembek atau lemah. Ingat, aku kan mesti membayar biaya dokter jika ia sampai jatuh sakit atau sakit-sakitan?. Aku bernafas lega.(hlm.44-45)

Dari kutipan di atas, terlihat Janice tertarik terhadap tarian Jaipongan, walaupun rasa keingintahuan tersebut didasari oleh keingintahuannya terhadap ketangguhan tubuh Ipah karena ia sadar bahwa nanti Ipah akan bekerja cukup berat. Janice menyimpulkan bahwa Ipah yang berlatar belakang penari, tub uhnya cukup tangguh untuk bekerja sebagai pembantu di rumahnya.

Sebagai orang Cina sudah tentu ia tahu hasil kebudayaan Cina dan ingin mewariskan hasil budaya tersebut kepada anaknya supaya anaknya kelak juga tahu hasil budaya Cina. Hal itu Janice lakukan karena ibu mertuanya sering mengajarkan lagu- lagu Jawa dan Janice mencoba mengimbanginya. Kali ini yang Janice ajarkan kepada Mei-Mei adalah lagu Cina di mana lagu- lagu Cina tersebut merupakan salah satu hasil dari olah perilaku dan didasari adanya ide. Hal itu terlihat pada kutipan berikut:

(113) “Mei-Mei bei xhe yang wa wal zou dao hua yuan lai kan hual wa wa ku le yiao ma mal shu shang de xiao niao xiao ha ha..”( Adik

perempuan membawa boneka asing/ ke taman melihat

bunga/boneka menagis mencari ibunya/di atas pohon seekor burng tertawa...). Mei-Mei kuajari lagu-lagu Cina, agar ia menyadari tubuhnya dialiri darah ini pula. Sering ku dengar ibu menyanyikan dan mengajari Mei-Mei lagu-lagu Jawa. Aku berusaha mengimbangi aksinya.(hlm.68)

Kutipan di atas membuktikan bahwa Janice sangat menghormati budaya Cina berupa lagu- lagu Cina dan untuk membuktikan rasa hormatnya ia mencoba

lakukan dengan tujuan supaya Mei-Mei tahu bahwa ia juga keturunan Cina karena selama ini ibu mertua Janice juga sering menyanyi dan mengajarkan lagu-lagu Jawa kepada Mei-Mei.

Janice juga diwarisi resep rojak ala Singapura oleh ibunya. Resep tersebut diberikan karena kelak diharapkan Janice dapat mebuat rojak untuk ibu mertuanya. Di setiap daerah bahkan negara, makanan sejenis rojak ini pasti ada. Di Indonesia dikenal dengan istilah Rujak. Rujak merupakan salah satu wujud budaya yang berupa makanan. Hal ini disebabkan di setiap daerah memiliki resep rujak yang sedikit berbeda. Dan resep rojak ini berusaha diwariskan oleh ibu Janice kepada dirinya. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut:

(114) To: Janice Feng Huang sayang Resep Nonya Rojak ala Ma (8 porsi)

Bahan :

3 you tiao (yeow char kwai atau chakuew) 2 tao pok (tahu goring)

1 timun

1 mangkok toge panjang 1 mang kuang (bengkuang) 1 ikat kangkung

1 ketela manis rebus

Buah-buahan setengah matang : mangga, nanas, belimbing, nangka(takaran kira-kira sesuai keinginan)

Bumbu : Hae to (petis) Belacan (terasi)

1 ons kacang tanah baker/panggang Gula malaka atau gula merah Air asam

Beberapa cabai hijau dan merah sesuai selera Kecap

Irisan tipis jahe 1 siung bawang putih Bunga kantan

- Semua buah-buahan dan sayur-sayuran dicuci, lalu diirs. Toge dan kangkung disiram air panas hingga layu. Semua bumbu, termasuk irisan bunga kantan, digiling atau ditumbuk atau diulek.

- Air asam secukupnya untuk ditambahkan, bisa pula ditambah air biasa untuk menentukan encer kentalnya.

- Semua bahan dicampur bumbu yang telah jadi. Hidangkan dengan menaburkan kacang tanah bakar atau panggang secukupnya dan juga irisan bunga kantan (hlm.130-131)

Kutipan di atas adalah daftar resep rujak atau rojak yang diwariskan ibu Janice kepada dirinya. Bila dibandingkan dengan rujak Indonesia sudah tent u berbeda tetapi pada dasarnya unsur sama, yaitu sama-sama menggunakan buah setengah matang.

Di samping hasil budaya dari keluarganya Janice juga mengerti hasil kebudayaan asing. Hasil kebudayaan tersebut adalah lagu berbahasa Inggris yang ia nyanyikan dengan Mei-Mei. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut:

(115) I saw a slippery, slithery snake, slide through the grasses, making them snake she looked at me with her beady eye. “Go away from my pretty green garden.” Said I.” Ssss,” said the slippery, slithery snake of she slid through the grasses make them snake”(hlm.144)

Kutipan di atas adalah lagu berbahasa Inggris yang dinyanyikan Janice bersama Mei-Mei. Hal tersebut membuktikan bahwa Janice juga tertarik pada hasil kebudayaan budaya barat.

Janice juga cukup pandai membuat pantun. Di setiap awal bagian dari buku hariannya Janice selalu menulis pantun. Ini merupakan bukti bahwa Janice juga mampu menghasilkan suatu produk budaya. Dalam pantunya Janice juga memasukkan unsur budaya Cina yaitu dengan memasukkan istilah-istilah dengan bahasa Cina. Pantun adalah hasil budaya orang Melayu, tapi oleh Janice yang

peranakan Cina pantun Melayu digabungkan dan diisi dengan istilah- istilah berbahasa Cina. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut:

(116) Dua sisi tembok berhadapan satu-satu, Saling menatap terus tanpa malu, Tembok satu bosan dan ingin berseteru, Tembok dua menahan ingin beradu Anak Cina masuk dari pintu, berdiri di tengah tembok berseteru, kamu berdua seperti dia dan aku

“cong rong bu po,” ya sudah tenang dan santai saja dulu.(hlm.10) (117) Kulihat hujan tadi pagi,

menyirami wajah bunga berseri-seri. Tapi hujan tak mau berhenti- henti,

Jatuh bunga terbawa air “luo hua liu shui” (hlm.39) (118) Mabuk daun buahnya tak ada,

Buah dan semak, diramainya indah, Ini tahun rasanya merana,

Hijau berserak, tak terserah. Berserah hujan kepada kemarau Dulu pohon kini abu,

Kemarin tenteram hari ini galau,

“bian huan mo ce,” perubahan terjadi sewaktu-waktu.(hlm.52)

(119) Ia dan aku,

Harusnya dua jadi satu, Mencoba-coba dari dulu,

“bian ben jia li,” begitu melulu sampai kelu(hlm.73) (120) Terbang melayang tanpa sayap,

“hu si luang xiang,” imajinasi berlari gelap.(hlm.77) (121) Lunak suara layak biduan,

Dendang sayang bapa dan nonya, Melihat rojak dimakan

Jadi teringat siapa saya. Campur-campur ini saya

Bersatu padu di Singapura Cina peranakan di luar pagar, ambil galah tolong jolokkan, budak sperti saya baru belajar

kalau salah tolong tunj ukkan.(hlm.84) (122) Budak peranakan diluar pagar

Ambil galah, jolok kelapa, saya seorang baru belajar, kalau salah, tak kenapa.(hlm.84) (123) Tidak akan sempurna sebuah hati,

jika belum mencari dan menemui si jantung hati pengusir sepi,

apa yang diingini pun puas terjadi.”chen xi ru yi,” (hlm.89) (124) YinYang, air dan api

“chang suo yu yan,” tanpa batas ekspresi bersemi. (hlm.98) (125) Jangan esok lekas datang

Aku tidak ingin melepas

Fearful, fearful, cautious, cautious.

“zhan zhan jing jing,” takut, takut, cemas, cemas. (hlm.104) (126) Pada ibu mintalah restu,

Wajib kita berbudi bahasa, Permintaan saya hanyalah satu, Jangan ibu tinggalkan saya. Mengepak sayap induk terbang Kepala menunduk spirit menghilang. Kehilangan ibu terasa belang.

“chui tou sang qi,” sedih tak terbilang (hlm.128) (127) Pahit pahit si buah pinang,

si daun salam di kerat-kerat, sakit-sakit tanpa menang malam kepala terasa berat. Berat rasa kepala badan,

pikiran jadi terpincang-pincang, bantal pendek tak berkesan,

Kutipan-kutipan di atas adalah pantun yang ditulis Janice pada setiap awal akan menulis pada buku hariannya. Dari pantun-pantun di atas ia mencoba menggabungkan dua budaya yaitu Melayu dan Cina. Hampir dalam setiap pantunnya ia memasukkan istilah dalam bahasa Cina.

Dokumen terkait