BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Wujud Implikatur Percakapan
Teori tindak tutur merupakan pandangan bahwa ungkapan suatu bahasa
dapat dipahami jika dikaitkan dengan situasi konteks terjadinya ungkapan
tersebut. Searle (dalam Yule, 2006:92-94) mendeskripsikan ke dalam lima wujud
tindak tutur, yaitu: direktif, representatif, ekspresif, deklarasi, dan komisif.
Berdasarkan hasil analisis terhadap data yang ada, dapat ditemukan kelima wujud
tuturan implikatur percakapan. Wujud tuturan implikatur percakapan pada
penelitian ini akan dijabarkan sebagai berikut.
a. Tuturan Direktif
Yule (2006:93) menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur yang
Menyuruh, meminta, menasihati, menyarankan, memohon, bertanya, mengajak, memerintah, memberi aba-aba, menantang, mendesak, menagih, memaksa. Pada
tindak ujaran direktif, si pendengarlah yang diharapkan untuk melakukan sesuatu.
Peneliti akan menjabarkan contoh data tuturan direktif sebagai berikut.
Keterangan:
OT = Orang Tua AN1 = Anak laki-laki AN2 = Anak Perempuan
No. Data Tuturan
1 OT : “Dek, ambilin mimik
dulu.”(Mimik=minum) AN1 : “Iya bu.” OT : “Makasih”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Tuturan dilakukan oleh OT (41 tahun) yang sedang duduk santai bersama anaknya yang paling kecil AN1 (11 tahun) sambil menonton televisi. Saat itu, OT haus dan ingin minum, sehingga OT meminta AN1 untuk pergi ke dapur mengambil minum.
2 AN2 : “Kamu dapet nilai berapa?”
AN1 : “Gatau, kan bukan aku yang ngerjain.” AN2 : “Ih, itu kan tugas kamu.”
OT : “Ye, jangan begitu sama aja itu tugas adeknya dibantuin sama kakaknya. Kerja sama yang baik, ya dek?”
AN1 : “Iya bu.
Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa-Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga Ketika itu, AN2 (18 tahun) menanyakan kepada AN1 (11 tahun) terkait nilai tugas yang dikerjakannya. Namun, AN1 menjawab bahwa ia tidak mengetahui nilai tugasnya dan AN2 menyalahkan AN1 karena yang mengerjakan tugas tersebut adalah AN1. Jadi, seharusnya AN1 mengetahui nilai tugas yang diperolehnya. OT pun menyahut AN2 dan AN1 menasehatinya dengan mengatakan jika
pada intinya seorang kakak dan adik harus saling bekerja sama yang baik.
3 OT : “Lagi. Ini lagi mas Pedro”
AN1 : “Gak ah, gak mau.”(sambil tertawa pelan)
OT : “Gak jadi tak beliin paket.” (sambil tertawa pelan)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu sebagai karyawan swasta. Saat itu OT (48 tahun) masih ingin AN1 (16 tahun) memakaikan kuteks pada kakinya, sehingga OT menyuruh AN1 lagi. Tetapi, AN1 menolaknya dengan sambil tertawa pelan. OT pun juga ikut tertawa pelan sambil mengatakan kepada AN1 kalau ia tidak jadi membelikan kuota internet untuk AN1.
4 OT : “Mau bikin apa, fi? Pedang apa fi?” AN1 : “Pedang satrio”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu wirausaha kusen. OT (36 tahun) sedang santai sambil bermain lego bersama AN1 (8 tahun) dan anak perempuannya AN2. OT menanyakan kepada AN1 legonya mau dibentuk pedang seperti apa. AN1 pun merespon OT dengan menjawab Pedang satrio.
5 OT : “Aa lagi belajar apa aa.” AN1 : “Lagi belajar tematik.”
OT : “Ada yang perlu ditanyain gak ke mama?” AN1 : “Ada.”
OT : “Ayo ditulis. Ini tentang keselamatan di jalan. Kalo di jalan tuh gak boleh meleng.” Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Sunda. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga Saat itu, OT (33 tahun) sedang mendampingi AN1 (8 tahun) yang sedang belajar tematik. Kemudian, OT menanyakan kepada AN1 apa yang ditanyakan terkait materi yang sedang dipelajari. Lalu, OT pun menyuruh AN1 untuk menuliskan penjelasan materi yang tidak dimengerti.
Data tuturan (1), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan direktif, karena dalam tuturan OT memiliki
tujuan untuk menyuruh/memerintah. OT menuturkan “Dek, ambilin mimik dulu.”
Secara halus bermaksud untuk menyuruh atau memerintah AN1 untuk
mengambilkan minum karena dirinya haus. Ujaran “Iya bu.” sebagai penerimaan
AN1 atas perintah OT mengambilkan minum. Hal ini sejalan dengan pandangan
Searle (dalam Yule, 2006:93) yang menyatakan bahwa direktif merupakan tindak
tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu.
Data tuturan (2), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan direktif, karena dalam tuturan OT memiliki
tujuan untuk menasihati. OT menuturkan “Ye, jangan begitu sama aja itu tugas
adeknya dibantuin sama kakaknya. Kerja sama yang baik, ya dek?”. Secara tidak
langsung dan halus bermaksud untuk menasihati pendengarnya, yaitu AN1 dan
AN2 agar saling bekerja sama yang baik sebagai kakak dan adik. Ujaran “Iya
bu.” sebagai kesetujuan AN1 atas nasihat yang diberikan OT. Hal ini sejalan
dengan pandangan Searle (dalam Yule, 2006:93) yang menyatakan bahwa direktif
merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu.
Data tuturan (3), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan direktif, karena dalam tuturan OT memiliki
tujuan untuk mendesak. OT menuturkan “Lagi. Ini lagi mas Pedro”dan “Gak
jadi tak beliin paket.” Secara tidak langsung dan halus bermaksud untuk
mendesak pendengarnya, yaitu AN1 memakaikan kuteks pada kaki OT, kalau
tidak, OT tidak akan menuruti keinginan AN1 membelikan kuota internet
menyatakan bahwa direktif merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong
pendengar melakukan sesuatu.
Data tuturan (4), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan direktif, karena dalam tuturan OT memiliki
tujuan untuk bertanya. OT menuturkan “Mau bikin apa, fi? Pedang apa fi?”
Secara halus bermaksud untuk bertanya kepada mitra tutur, yaitu AN1 mainan
legonya mau dibentuk pedang seperti apa. Hal ini sejalan dengan pandangan
Searle (dalam Yule, 2006:93) yang menyatakan bahwa direktif merupakan tindak
tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu.
Data tuturan (5), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan direktif, karena dalam tuturan OT memiliki
tujuan untuk menyuruh atau memerintah. OT menuturkan “Ayo ditulis. Ini
tentang keselamatan di jalan. Kalo di jalan tuh gak boleh meleng.” Secara tidak
langsung dan halus bermaksud untuk menyuruh/memerintah mitra tutur, yaitu
AN1 untuk menuliskan penjelasan materi yang tidak dimengerti. Hal ini sejalan
dengan pandangan Searle (dalam Yule, 2006:93) yang menyatakan bahwa direktif
merupakan tindak tutur yang berfungsi mendorong pendengar melakukan sesuatu.
b. Tuturan Representatif
Yule (2006:92) mengatakan bahwa representatif merupakan jenis tindak tutur
yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan, dalam artian tindak
tutur representatif berupa pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan
pendeskripsian. Tindak tutur ini menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu
adanya. Memiliki makna misalnya: Mengemukakan pendapat, memberitahukan,
mempertahankan, menuntut, menunjukkan, menyebutkan, memberikan kesaksian, berspekulasi. Peneliti akan menjabarkan contoh data tuturan representatif sebagai
berikut.
6 OT : “Tadi malem Bude Sum juga ke dokter.” AN2 : “Terus dilayanin?”
OT : “Iya dilayanin.”
AN2 : “Terus dikasih obat apa mak?” OT : “Gatau.”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada siang hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Saat itu, OT (55 tahun) dan AN2 (17 tahun) sedang berbincang santai sambil tiduran. OT memulai interaksi dengan mengatakan kepada AN2 kalau semalam Bude Sum pergi berobat.
7 OT : “Mama gak bisa lurus kakinya, keganjel perut.”
AN1 : “Yaa lagian mama gendut-gendut” (Sambil tertawa pelan)
OT : “Gabisa perutnya keganjel.”(Sambil ikut tertawa pelan)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu sebagai karyawan swasta. AN1 (16 tahun) yang sedang membantu memakaikan kuteks pada kaki OT (48 tahun) menyudahinya karena dirinya pegal memakaikan kuteksnya dengan badan yang membungkuk. Sedangkan kaki OT tidak bisa menyelonjorkan kakinya lebih dekat ke arah AN1 karena perutnya yang buncit.
8 OT : “Kayak orang Papua. Noh.. noh liat.” AN1 : “Palingan si Abas.”(sambil tertawa pelan)
OT : “Orang cewe kok..Masa Abas..Abas.”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada pagi hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Batak-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Saat itu OT (47 tahun) dan AN1 (14 tahun) sedang duduk santai sambil menonton suatu acara di televisi. Ketika menonton, OT memberitahukan salah satu aktris kepada AN1 dengan menunjuk ke arah televisi kalau aktris tersebut seperti orang Papua. AN1
pun merespon OT dengan menjawab sambil tertawa pelan kalau kemungkinan aktris tersebut adalah Abas. Kemudian, OT menentang jawaban AN1 dengan menjawab kalau aktris yang ia maksud itu adalah seorang perempuan bukan laki-laki.
9 AN2 : “Mak, Pak Sugeng sama Bu Lia tuaan siapa ma?”
OT : “Gak tau, gak pernah ngomong.”
AN2 : “Nikah muda po mak? Soalnya anaknya udah pada gede-gede.”
OT : “Mama gatau, gak pernah ngurusin kayak gitu.”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (55 tahun) dan AN2 (17 tahun) sedang tiduran santai di ruang tamu. AN2 menanyakan kepada OT dengan tuturan tersebut, tetapi OT hanya menjawab dengan memberikan pernyataan “Mama gatau, gak
pernah ngurusin kayak gitu.”
10 AN2 : “Mak, ini bisa nyembuhin alergi gak mak?”
OT : “Bisa ko hahaha”
AN2 : “Hahaha.”(Sambil tertawa)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (55 tahun), OT (59 tahun), dan AN2 (17 tahun) sedang bersantai sambil mencamil ubi rebus. Ketika itu, AN2 mengajak bercanda menanyakan kepada OT dengan tuturan tersebut sambil tertawa dan menunjuk ubi yang sedang dimakannya.
Data tuturan (6), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan representatif karena dalam tuturan OT
memiliki tujuan untuk memberitahukan. OT menuturkan “Tadi malem Bude Sum
juga ke dokter.” Secara tidak langsung dan halus bermaksud untuk
memberitahukan kepada mitra tutur, yaitu AN2 kalau semalem Bude Sum pergi
berobat. Hal ini sejalan dengan pandangan Yule (2006:92) yang mengatakan
diyakini penutur kasus atau bukan, dalam artian tindak tutur representatif berupa
pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Tindak tutur
ini menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu adanya.
Data tuturan (7), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan representatif karena dalam tuturan OT
memiliki tujuan untuk melaporkan. OT menuturkan “Mama gak bisa lurus
kakinya, keganjel perutnya.” Secara tidak langsung bermaksud untuk melaporkan
kepada mitra tutur, yaitu AN1 kalau OT tidak bisa meluruskan kakinya karena
perutnya yang buncit. Hal ini sejalan dengan pandangan Yule (2006:92) yang
mengatakan bahwa representatif merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan
apa yang diyakini penutur kasus atau bukan, dalam artian tindak tutur
representatif berupa pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan
pendeskripsian. Tindak tutur ini menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu
adanya.
Data tuturan (8), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan representatif karena dalam tuturan OT
memiliki tujuan untuk memberitahukan. OT menuturkan “Kayak orang Papua.
Noh.. noh liat.” dan “Orang cewe kok..Masa Abas..Abas.” Secara tidak langsung
bermaksud untuk memberitahukan kepada mitra tutur, yaitu AN1 kalau salah satu
aktris yang OT tonton mirip seperti orang Papua. Hal ini sejalan dengan
pandangan Yule (2006:92) yang mengatakan bahwa representatif merupakan jenis
tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan, dalam
kesimpulan, dan pendeskripsian. Tindak tutur ini menjelaskan apa dan bagaimana
sesuatu itu adanya.
Data tuturan (9), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan representatif karena dalam tuturan OT
memiliki tujuan untuk memberikan jawaban berupa pernyataan. OT menuturkan
“Gak tau, gak pernah ngomong.”dan “Mama gatau, gak pernah ngurusin kayak gitu.” Bermaksud untuk memberikan jawaban berupa pernyataan kalau OT tidak
tahu menahu dan tidak mengurusi urusan seperti itu. Hal ini sejalan dengan
pandangan Yule (2006:92) yang mengatakan bahwa representatif merupakan jenis
tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan, dalam
artian tindak tutur representatif berupa pernyataan suatu fakta, penegasan,
kesimpulan, dan pendeskripsian. Tindak tutur ini menjelaskan apa dan bagaimana
sesuatu itu adanya.
Data tuturan (10), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan representatif karena dalam tuturan OT
memiliki tujuan untuk memberikan pernyataan atau menyatakan. OT menuturkan
“Bisa ko hahaha”. Bermaksud untuk memberikan jawaban berupa pernyataan
sambil bergurau kalau ubi yang dimaksudkan AN2 bisa dimakan. Hal ini sejalan
dengan pandangan Yule (2006:92) yang mengatakan bahwa representatif
merupakan jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus
atau bukan, dalam artian tindak tutur representatif berupa pernyataan suatu fakta,
penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Tindak tutur ini menjelaskan apa dan
c. Tuturan Ekspresif
Yule (2006:93) menyatakan bahwa ekspresif merupakan sesuatu yang
dirasakan oleh penutur. Tindak tutur tersebut menyangkut perasaan dan sikap.
Memiliki makna misalnya: Tindakan minta maaf, berterima kasih, menyampaikan
ucapan selamat, memuji, menyatakan belasungkawa, mengkritik, mengeluh, menyanjung, menyalahkan, menyindir. Peneliti akan menjabarkan contoh data
tuturan ekspresif sebagai berikut.
11 OT : “Kenapa pada keriting begitu mas Pedro?”(sambil tertawa pelan)
AN1 : “Kuku mama keriting ih.” (sambil tertawa pelan juga)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada sore hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa-Flores. Memiliki latar belakang profesi, yaitu bagai karyawan swasta. OT (48 tahun) mengamati AN1 (16 tahun) yang sedang memakaikan kuteks pada kakinya yang tidak sesuai seperti yang diharapkannya, sehingga membuat OT bertanya kepada AN1 sambil tertawa pelan.
12 AN2 : “Mama.. tidur mulu.”(Sambil tertawa pelan)
OT : “Opo?” (Opo dalam bahasa Indonesia artinya “apa")
AN2 : “Gak..gak papa gajadi, lupain aja.”(Sambil tertawa pelan)
OT : “Yang tidur mulu tuh kamu.”(Sambil tertawa pelan)
AN2 : “Lagian setiap jam segini selalu tidur.”(Sambil tertawa pelan)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. OT (55 tahun) dan AN2 (17 tahun) sedang tiduran santai di ruang tamu. AN2 memperhatikan OT yang setiap jam yang sama selalu sudah tertidur. Kemudian, ia dengan spontan memberikan pernyataan dengan tuturan tersebut kepada OT.
13 OT : “Masa semuanya dimakan, itu makan .. ini makan. Besok juga masih ada hari.”
AN2 : “Tapi kalo misalnya dibuka juga diambil hahaha.” (Sambil tertawa)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari. Keluarga ini berasal dari
suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu guru. OT (59 tahun) dan AN2 (17 tahun) sedang tiduran santai sambil mengobrol. Saat itu, AN2 hendak pergi ke dapur untuk mengambil salah satu cemilan yang baru dibeli untuk dimakan, OT yang mengetahui niatnya itu mengkritik AN2 dengan mengatakan tuturan tersebut.
14 AN2 : “Ih bau pak.”(Sambil tertawa) OT : “Kamu yang bau.”(Sambil tertawa)
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu guru. Saat itu, AN2 (25 tahun) mencium sesuatu yang bau. Kemudian, AN2 menyalahkan OT (59 tahun) sambil tertawa dengan tuturan tersebut.
Data tuturan (11), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan ekspresif karena dalam tuturan OT memiliki
tujuan untuk mengkritik. OT menuturkan “Kenapa pada keriting begitu?” Secara
tidak langsung bermaksud untuk mengkritik mitra tutur, yaitu AN1 karena hasil
kuteks pada kakinya yang berantakan. Hal ini sejalan dengan pandangan Yule
(2006:93) yang menyatakan bahwa ekspresif merupakan sesuatu yang dirasakan
oleh penutur. Tindak tutur tersebut menyangkut perasaan dan sikap.
Data tuturan (12), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan ekspresif karena dalam tuturan AN2
memiliki tujuan untuk mengkritik. AN2 menuturkan “Mama.. tidur mulu.”dan
mitra tutur dengan bergurau, yaitu OT yang setiap jam yang sama selalu sudah
tidur. Kemudian, OT merespon tuturan AN2 dengan mengkritiknya balik dengan
menuturkan “Yang tidur mulu tuh kamu.”(Sambil tertawa pelan). Hal ini sejalan
dengan pandangan Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa ekspresif merupakan
sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur tersebut menyangkut perasaan
dan sikap.
Data tuturan (13), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan ekspresif karena dalam tuturan OT memiliki
tujuan untuk mengkritik. OT menuturkan “Masa semuanya dimakan, itu makan ..
ini makan. Besok juga masih ada hari.” Secara tidak langsung dan halus
bermaksud untuk mengkritik mitra tutur, yaitu AN2 secara halus , karena AN2
ingin memakan sekaligus abis salah satu cemilan yang baru dibeli. Hal ini sejalan
dengan pandangan Yule (2006:93) yang menyatakan bahwa ekspresif merupakan
sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur tersebut menyangkut perasaan
dan sikap.
Data tuturan (14), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan ekspresif karena dalam tuturan AN2
memiliki tujuan untuk menyalahkan. AN2 menuturkan “Ih bau pak.” Secara tidak
langsung penutur bermaksud untuk menyalahkan mitra tutur, yaitu OT dengan
maksud bercanda atau bergurau. AN2 mengatakan ada aroma bau yang ditujukan
untuk OT. OT pun merespon tuturan AN2 dengan mengatakan kalau AN2 lah
yang bau. Hal ini sejalan dengan pandangan Yule (2006:93) yang menyatakan
bahwa ekspresif merupakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur
d. Tuturan Deklaratif
Yule (2006:92) menyatakan bahwa tindak tutur deklaratif merupakan tuturan
yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataan. Memiliki makna misalnya:
Memecat, berpasrah, membaptis, memberi nama, mengangkat, mengucilkan, mengizinkan, mengabulkan, menolong, mengampuni, membatalkan, melarang, mengesahkan, membatalkan, dan menghukum. Peneliti akan menjabarkan contoh
data tuturan deklaratif sebagai berikut.
15 OT : “Ih jangan dilempar. Ini dari Korea Selatan ,Dhin.”(Sambil tertawa)
AN2 : “ Wah, gak nanya lagi hahaha.” (Sambil tertawa)
OT : “hahaha dari Korea ini.”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu seorang ibu rumah tangga. Saat itu, AN2 (25 tahun) dan OT (55 tahun) sedang duduk santai. AN2 mengisengi OT dengan memainkan dompet kecil milik OT. Kemudian, OT mengatakan tuturan tersebut kepada AN2 sambil tertawa.
Data tuturan (15), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan deklaratif karena dalam tuturan OT memiliki
tujuan untuk melarang. Secara tidak langsung penutur bermaksud untuk melarang
mitra tutur, yaitu AN2 untuk melemparkan dompet kecilnya itu, karena dompet
milik OT merupakan hadiah temannya yang habis pulang dari Korea Selatan. Hal
ini sejalan dengan pandangan Yule (2006:92) yang menyatakan bahwa tindak
tutur deklaratif merupakan tuturan yang menghubungkan isi tuturan dengan
kenyataan.
e. Tuturan Komisif
Yule (2006:94) mengatakan bahwa komisif merupakan tindak tutur yang
masa yang akan datang. Tindak tutur tersebut menyatakan apa saja yang
dimaksudkan oleh penutur. Memiliki makna misalnya: Bersumpah, berjanji,
mengusulkan, penolakan, menyatakan kesanggupan, mengancam, dan menawarkan. Peneliti akan menjabarkan contoh data tuturan komisif sebagai
berikut.
16 OT : “Nih, mau ubi lagi gak?” AN2 : “Gak mau pak.. ”
Konteks: Tuturan ini terjadi pada malam hari di ruang tamu. Keluarga ini
berasal dari suku Jawa. Memiliki latar belakang profesi, yaitu guru. OT (59 tahun) menawarkan ubi yang tersisa di piring kepada AN2 (17 tahun). Tetapi AN2 menolaknya.
Data tuturan (16), tuturan tersebut dapat dikelompokkan dalam wujud
implikatur percakapan dalam tuturan komisif karena dalam tuturan OT memiliki
tujuan untuk menawarkan. OT menuturkan “Nih, mau ubi lagi gak?” Secara tidak
langsung penutur bermaksud untuk menawarkan ubi yang tersisa kepada mitra
tutur, yaitu AN2. Hal ini sejalan dengan pandangan Yule (2006:94) mengatakan
bahwa komisif merupakan tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk
meningkatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang.
Tindak tutur tersebut menyatakan apa saja yang dimaksudkan oleh penutur.