• Tidak ada hasil yang ditemukan

(xiii) Dengan cara apa mereka disempurnakan?

Cara yang melaluinya, pāramī-pāramī disempurnakan adalah dengan metode berfaktor empat:

1. akumulasi tanpa penghilangan semua syarat jasa kebajikan, dll., demi

pencerahan tertinggi, dengan melaksanakan pāramī-pāramī tersebut tanpa kekurangan;

2. melaksanakan pāramī-pāramī tersebut secara menyeluruh dengan

penghormatan dan penghargaan yang tinggi;

3. melaksanakan pāramī-pāramī tersebut dengan tekun tanpa berhenti; dan

4. mempertahankan usaha untuk jangka waktu yang lama tanpa berhenti

di tengah perjalanan. Kami akan menjelaskan lama waktunya nanti. Demi pencerahan tertinggi, Makhluk Agung, berjuang untuk pencerahan, pertama-tama harus menyerahkan diri kepada para Buddha dengan cara ini: “Saya menyerahkan diri saya kepada para Buddha.” Dan kapanpun ia memperoleh suatu kepemilikan, ia pertama-tama harus menetapkan kepemilikan itu sebagai suatu pemberian yang potensial: “Apapun syarat kehidupan yang muncul menghampiri saya, itulah yang akan saya berikan kepada mereka yang membutuhkannya, dan saya sendiri hanya akan

menggunakan dari apa yang tersisa dari pemberian ini.”

Ketika ia telah membuat suatu tekad mental untuk sepenuhnya melepaskan kepemilikan apapun yang muncul menghampirinya, baik yang bernyawa ataupun yang tidak bernyawa, terdapat empat belenggu untuk berdana (yang ia harus atasi), yaitu: tidak terbiasa berdana di masa lalu, kekurangan objek yang akan didanakan, keunggulan dan keindahan objeknya, dan kekhawatiran atas hilangnya objek tersebut.

1. Ketika bodhisattva memiliki objek-objek yang dapat didanakan dan

pemohonnya ada, namun pikiran bodhisattva itu tidak melompat ke pemikiran untuk berdana dan ia tidak mau memberi, ia seharusnya menyimpulkan: “Pastinya, saya belum terbiasa untuk berdana di masa lalu; oleh karena itu, keinginan untuk berdana tidak muncul sekarang di dalam pikiran saya. Agar pikiran saya senang dalam berdana di masa yang akan datang, saya akan memberikan dana. Dengan pertimbangan untuk masa yang akan datang, biarkanlah saya sekarang melepaskan apa yang saya miliki kepada mereka yang membutuhkan.” Jadi ia memberikan dana – murah hati, ikhlas, bergembira dalam melepaskan, seseorang yang memberi ketika diminta, yang bergembira dalam berdana dan berbagi. Dengan cara ini Makhluk Agung menghancurkan, meluluhlantakkan, dan memberantas belenggu untuk berdana yang pertama.

2. Sekali lagi, ketika objek yang akan diberikan kurang atau cacat,

Makhluk Agung merefleksikan: “Karena saya tidak cenderung untuk berdana di masa lalu, pada saat ini syarat-syarat saya cacat. Oleh karena itu, meskipun menyakitkan saya, biarkanlah saya memberikan apapun yang saya miliki sebagai dana meski objeknya rendah dan kurang. Dengan cara itu saya akan, pada masa yang akan datang, mencapai puncak kesempurnaan berdana.” Jadi ia memberikan apapun jenis dana yang bisa ia berikan – murah hati, ikhlas, bergembira dalam melepaskan, seseorang yang memberi ketika diminta, bergembira dalam berdana dan berbagi. Dengan cara ini Makhluk Agung menghancurkan, meluluhlantakkan, dan

Risalah tentang Parami -Parami

114

memberantas belenggu untuk berdana yang kedua.

3. Ketika keengganan untuk memberi muncul karena disebabkan oleh

keunggulan atau keindahan objek yang akan diberikan, Makhluk Agung memperingatkan dirinya sendiri: “ Orang baik, bukankah kau sudah membuat aspirasi untuk pencerahan tertinggi, yang paling luhur dan paling unggul di antara semua keadaan? Baiklah jika demikian, demi pencerahan, adalah pantas bagimu untuk memberikan objek- objek yang unggul dan indah sebagai dana.” Jadi ia memberikan apa yang unggul dan indah – murah hati, ikhlas, bergembira dalam melepaskan, seseorang yang memberi ketika diminta, bergembira

dalam berdana dan berbagi. Dengan cara ini Makhluk Agung

menghancurkan, meluluhlantakkan, dan memberantas belenggu

untuk berdana yang ketiga.

4. Ketika Makhluk Agung sedang memberikan sebuah dana, dan ia

melihat hilangnya objek yang sedang diberikan, ia merefleksikan dengan cara ini: “Inilah sifat dari kepemilikan materi, bahwa kepemilikan materi akan hilang dan berlalu. Selain itu, adalah karena saya tidak memberikan dana semacam itu di masa lalu, sehingga kepemilikanku sekarang habis. Maka, biarkanlah saya memberikan apapun yang saya miliki sebagai sebuah dana, baik yang saya miliki itu terbatas maupun melimpah. Dengan cara itu, pada masa yang akan datang, saya akan mencapai puncak kesempurnaan berdana.” Jadi, ia memberikan apapun yang ia miliki sebagai sebuah dana – murah hati, ikhlas, bergembira dalam melepaskan, seseorang yang memberi ketika diminta, bergembira dalam berdana dan berbagi. Dengan cara ini Makhluk Agung menghancurkan, meluluhlantakkan, dan memberantas belenggu untuk berdana yang keempat.

Merefleksikan hal-hal tersebut di atas dengan cara apapun yang sesuai adalah

cara-cara untuk menghilangkan belenggu-belenggu yang membahayakan

bagi kesempurnaan berdana. Metode serupa yang digunakan untuk kesempurnaan berdana juga berlaku untuk kesempurnaan moralitas dan kesempurnaan-kesempurnaan lainnya.

Lebih jauh lagi, penyerahan diri kepada para Buddha juga merupakan suatu cara untuk mencapai kesempurnaan pāramī-pāramī yang lengkap. Karena ketika Manusia Agung, bersusah payah dan berjuang demi pemenuhan syarat-syarat pencerahan, menghadapi kesulitan-kesulitan yang sulit untuk dipikul, kesulitan-kesulitan yang mencabut kebahagiaan dan sarana pendukung darinya, atau ketika ia menghadapi cedera-cedera yang diakibatkan oleh makhluk-makhluk dan bentukan-bentukan – sulit untuk diatasi, kejam, yang melemahkan vitalitas – kemudian, karena ia telah menyerahkan dirinya kepada para Budha, ia merefleksikan: “Saya telah melepaskan diri saya ini kepada para Buddha. Apapun yang datang, datanglah.” Atas dasar alasan ini, ia tidak ragu, tidak gemetar, tidak mengalami kebimbangan sedikitpun, dan tetap sepenuhnya tak tergoyahkan

dalam tekadnya untuk mengerjakan yang baik.

Secara singkat, penghancuran cinta-diri dan pengembangan cinta untuk makhluk lain adalah cara untuk menyempurnakan pāramī-pāramī. Karena untuk mengerti sepenuhnya segala hal sesuai dengan sifat mereka, Makhluk Agung yang telah membentuk keteguhan untuk mencapai pencerahan tertinggi tetap tidak ternodai oleh hal-hal tersebut, dan cinta-diri miliknya dengan demikian menjadi tersingkir dan habis. Kemudian, karena melalui praktik welas asih agung yang berulang-ulang, ia telah menganggap semua makhluk sebagai anak-anaknya yang terkasih, cinta kasih, welas asih, dan kasih sayangnya untuk mereka meningkat. Selaras dengan tahap ini, Manusia Agung, setelah mengusir keluar kekotoran-kekotoran batin seperti kekikiran, dll., yang mana bertentangan dengan syarat pencerahan, dan setelah menghilangkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin dalam kaitannya dengan dirinya sendiri dan makhluk lain, menyebabkan lebih lanjut orang-orang untuk masuk dan mencapai kematangan dalam tiga kendaraan dengan memanfaatkan sepenuhnya tiga kendaraan tersebut dengan empat dasar kedermawanan yang menyertai empat fondasi, yaitu: berdana, ucapan cinta kasih, perilaku dermawan, dan kesetaraan perlakuan. Karena welas asih agung dan kebijaksanaan agung dari Makhluk Agung dihiasi dengan berdana. Dana mereka dihiasi dan disertai oleh ucapan cinta

Risalah tentang Parami -Parami

116

kasih, ucapan cinta kasih oleh perilaku dermawan, dan perilaku dermawan oleh kesetaraan perlakuan. Ketika para bodhisattva sedang mempraktikkan syarat-syarat pencerahan, mereka memperlakukan semua makhluk tanpa terkecuali setara dengan diri mereka sendiri dan menyempurnakan rasa kesetaraan dengan tetap sama seperti itu dalam segala keadaan baik itu menyenangkan ataupun menyakitkan. Dan ketika mereka menjadi Buddha, kemampuan mereka untuk melatih orang disempurnakan dengan memanfaatkan sepenuhnya kemampuan mereka dengan empat dasar kedermawanan dan dibawa sampai pemenuhan oleh empat fondasi. Bagi para Buddha yang tercerahkan sempurna, dasar dari berdana dibawa sampai pemenuhan oleh fondasi pelepasan, dasar dari ucapan cinta kasih oleh fondasi kebenaran, dasar dari perilaku kedermawanan oleh fondasi kebijaksanaan, dan dasar kesetaraan perlakuan oleh fondasi kedamaian. Untuk hubungannya dengan parinibbāna, semua murid dan para paccekabuddha adalah sepenuhnya setara dengan Tathāgata; mereka identik, tanpa pembedaan apapun. Oleh karenanya dikatakan: “Tidak ada perbedaan di antara mereka dalam hubungannya dengan pembebasan.”

Ia jujur, murah hati, dan damai,

Diberkahi dengan kebijaksanaan dan simpati, Lengkap dalam semua syarat:

Kebaikan apa yang tidak bisa ia capai? Ia adalah Guru agung yang penuh welas asih,

Tenang seimbang namun mengusahakan kesejahteraan untuk semuanya, Bebas dari kekhawatiran di semua kesempatan:

Oh, betapa hebatnya Sang Penakluk!

Tidak memihak terhadap semua hal di dunia,

Dan dengan pikiran yang sama terhadap semua makhluk, Tetap ia tunduk berbakti untuk kesejahteraan mereka: Oh, betapa hebatnya Sang Penakluk!

Kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk, Ia tidak pernah berhenti karena kesulitan: Oh, betapa hebatnya Sang Penakluk!

(xiv) Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk

Dokumen terkait