BAB III yaitu Kiprah Abdul Muis dalam Sarekat Islam tahun 1912-1927. BAB IV berisi kesimpulan dari pembahasan bab-bab sebelumnya. Pada bagian akhir, dilengkapi dengan Simpula, daftar sumber dan lampiran-lampiran.
24 A. Sejarah Pembentukan Sarekat Islam
Sarekat Islam berdiri karena dilatarbekangi oleh beberapa faktor. Pertama, pedagang Cina digunakan oleh pihak Belanda untuk menghadapi pedagang Indonesia asli, sehingga memunculkan ketegangan dan persaingan yang bias dimanfaatkan oleh Belanda untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dari adanya pertikaian tersebut. Kedua, adanya politik Belanda yang menganaktirikan orang-orang Indonesia dibandingkan dengan orang-orang atau pedagang Cina. Ketiga, kehadiran Pan-Islamisme juga mengilhami umat Islam Indonesia untuk mengadakan persekutuan dalam sebuah organisasi agar gerakan mereka dapat lebih teratur dan semakin diperhitungkan. Keempat, adanya misi kristenisasi zending yang direncanakan serta didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dalam rangka mengaburkan akidah umat Islam, terutama melalui rumah sakit dan sekolah yang mereka tangani. Kelima, kelompok priyayi yang memperlebar iklim feodal yang berarti mempertajam kesenjangan antara rakyat biasa dengan kaum
bangsawan. 19
Dengan berbagai faktor tersebut perlu untuk mendirikan suatu perkumpulan atau syarikat yang akan membantu mereka dalam mengatasi himpitan kebijaksanaan ekonomi Belanda yang semakin menindas. Walaupun begitu, paradigma berpikir masyarakat pribumi lebih mengedepankan aspek ekonomi di dalam menunjangnya. Secara jelas, itu semua tertera dalam latar
belakang mereka ingin mendirikan suatu syarikat. Harapan dari semua itu adalah para pedagang Muslim mampu bersaing dan mengelola mata pencaharian secara bersama-sama dalam ikatan agama.
Nama baru ini, SI mencanangkan program yang bersifat nasional yang
diungkapkan oleh Abu Hanifah:20
1. Pembangunan persatuan dalam umat Islam di Indonesia, yang merupakan persatuan Islam sedunia.
2. Rebahnya imperialism dan kapitalisme untuk memudahkan dan
melekaskan tercapainya kemerdekaan umat atau kemerdekaan
kebangsaan (nationale vrijheid) dan harus berkuasa atas negeri tumpah darah kita sendiri.
3. Negeri Indonesia merdeka yang pemerintahnya bersifat demokratis berdasarkan kepada kekuatan rakyat.
4. Penghidupan ekonomi bangasa Indonesia yang dari kenistaan “perhambaan kebangsaan” dan kenistaan “perhambaan pencarian”, dengan memerangi kapitalisme mulai dari benihnya sampai ke akar-akarnya.
5. Menolak perbedaan derajat manusia di dalam pergaulan hidup bersama dan di dalam hukum, karena perbedaan derajat manusia di hadapan Allah hanya takwanya belaka.
6. Kemerdekaan rakyat Indonesia yang sejati, dengan melepaskan rakyat dari perhambaan macam apa pun juga. Kemerdekaan yang berasaskan
20
keislaman telah mengajarkan melakukan tiga perkara yang menjadi anasir sosialisme yang sejati, yaitu: kemerdekaan (vrijheid), persamaan (gelijkheid) dan persaudaraan.
Sarekat Islam telah menyadarkan lapisan-lapisan luas masyarakat Indonesia dari keterbelakangannnya dan dari kenyataan bahwa orang tidak begitu saja harus tetap pasrah. Banyak contoh telah diberikan dari mentalitas yang berubah, sebagai contoh pegawai muda Sumarsono, yang menolak merangkak di
tanah untuk majikannya yang baru, Asisten Residen Karawang.21
Karena berdasarkan ketentuan RR 111 membatasi gerakan massa yang berbau politik di negeri jajahan, tentu saja sangat sulit bagi Belanda segera memberikan pengakuan resmi bagi SI. Untuk itu, menurut Ahmad Mansur Suryanegara baru pada tanggal 10 September 1912 SI mendapatkan pengesahan sebagai badan hukum di depan notaris B. Ter Kuile (Surakarta). Dengan demikian secara de facto (pada kenyataannya) SI berdiri pada tanggal 16 Oktober 1905 yang merupakan kelanjutan dari SDI, dan secara de jure (sebagai badan hukum) diakui Belanda pada tanggal 10 September 1912. Terjadi selisih waktu enam tahun dari awal berdirinya dengan pengakuan resmi dari penjajah. Perkembangan SI mengalami kemajuan pesat setelah di pimpin oleh HOS Cokroaminoto. Kekhawatiran penjajah lama kelamaan menjadi kenyataan. Gerakan SI yang dianggap berbahaya, tidak dapat dibendung lagi dengan ketentuan RR 111. Sambutan massa begitu membara menuntut kehormatan dan kemerdekaan yang sejati.
21
B. Perkembangan Sarekat Islam
Perkembangan SI dengan adanya SI lokal ini maka anggota SI secara keseluruhan bertambah. Pada saat kongres pertama kali diadakan di Surabaya
pada tahun 1913 sudah ada 15 SI lokal dengan 80.000 anggota.22 Maka dilihat
dari aspek inilah dibentuklah CSI, seperti yang sudah dijelaskan di atas, agar dapat mengkordinir para anggota yang tersebar di berbagai daerah.
Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya pemerintah kolonial tidak berkeberatan bila diantara cabang Sarekat Islam itu mengadakan kerjasama di bawah pimpinan suatu badan pusat. Badan pusat ini memang pada perkembangan berikutnya, yaitu tanggal 18 Maret 1916, diakui sebagai badan hukum. Dengan diakuinya badan pusat ini, maka lahir “Central Sarekat Islam”, berfungsi sebagai penghubung cabang-cabang SI yang tersebar di berbagai daerah di tanah air.
Sesudah lebih dari 50 S.I. daerah berdiri, lalu dalam tahun 1915 di Surabaja didirikan Central Sarekat Islam (CSI). Maksud tudjuan Badan Sentral ini memadjukan dan membantu S.I. daerah, mengadakan dan memelihara perhubungan dan pekerdjaan bersama diantaranja.
Central Sarekat Islam sebenarnya merupakan suatu badan yang berbentuk federasi antar cabang SI. Jadi, CSI ini merupakan koordinator antar cabang-cabang tersebut. Dalam program kerjanya, CSI tidak secara langsung membina cabang. Geraknya lebih banyak diarahkan ke luar, yakni ditujukan kepada pihak pemerintah kolonial. Adapun gerak cabang terbatas di lingkup daerahnya dan
22
Simbolon, P.T. 2007. Menjadi Indonesia, Jakarta: PT. Kompas Media. Nusantara, , hlm. 268
secara langsung berhubungan dengan anggota pendukungnya. Sekalipun demikian, gerak langkah SI yang sedemikian ini ditakuti pihak Belanda. Dalam kaitan ini Korver menyatakan:
Engelenberg (6-61913, hlm. 19 dan 30) yang menyebutkan fakta-fakta ini; khawatir kalau dengan cara ini Central Comite akan mempunyai kekuasaan yang terlalu besar atas seluruh gerakan. Karenanya hal itu akan merupakan bahaya politik bagi pemerintah Hindia Belanda. Karena itu pulalah diusulkan agar jangan memberikan pengakuan badan hukum kepada pengurus pusat SI.
Sarekat Islam, yang saat itu sebagai organisasi masa berlingkup nasional, secara berkala menyelenggarakan pertemuan nasional untuk mempertemukan para pimpinan cabangnya. Pertemuan tingkat nasional untuk mempertemukan para pimpinan cabangnya. Pertemuan tingkat nasional pada saat itu disebut “kongres”. Di dalam kongres dibahas; pertanggungjawaban pengurus pusat, program nasional, dan pemilihan pengurus pusat. Pertemuan demikian merupakan media penyaluran atau penampungan aspirasi anggota Syarikat Islam. Aspirasi yang tersalurkan melalui para wakil cabang kemudian dirumuskan dan diputuskan berdasarkan kesepakatan anggota kongres.
Pada masa kepemimpinan HOS Cokroaminoto terdapat sebuah kongres yang mempunyai arti penting bagi sejarah, baik bagi SI sendiri ataupun bagi bangsa Indonesia, yaitu kongres ke 3. Kongres ini diselanggarakan di Bandung, pada tanggal 17-24 Juni 1916. Kongres ini disebut National Indische Congres 1 atau disingkat “NATICO” I. Arti penting kongres ini tersirat di balik namanya,
yaitu untuk pertama kalinya kongres Sarekat Islam disebut secara resmi sebagai
kongres “nasional”. Bagaimana penting kongres tersebut, Korver
menggambarkannya sebagai berikut:
“Namun kehendak pemerintah kolonial dan peraturan pemerintah kolonial pasal 111, sama sekali tidak bias menghadang kongres nasional CSI yang pertama, diadakan di Bandung pada tanggal 17-24 Juni 1916, yang dihadiri oleh 80 Cabang SI dari seluruh persada tanah air selain Irian Jaya. Di sinilah kesadaran nasional Nampak nyata, bukan hanya dilihat dari segi lapisan masyarakat secara vertikal, tetapi juga secara horizontal, yaitu kesadaran di seluruh pelosok tanah air. Pada saat itu anggota SI berjumlah
360.000 orang.23
Pada saat itu sebelum ada satu perkumpulan pun yang berani menggunakan istilah nasional, kecuali Syarikat Islam. Tentang nasionalitas kongres Sarekat Islam diungkap dalam pidato HOS Tjokroaminoto di muka Kongres Nasional (Majelis Tahkim) tersebut tentang arti dan maksud penggunaan nama “Natico” sebagai berikut:
“Dengan perkataan national dimaksud nahwa Partai Sarekat Islam Indonesia menuju ke arah persatuan bangsa-terdiri dari semua golongan bangsa Indonesia untuk mencapai terbentuknya suatu natie, lambat laun dengan jalan evolusi, berjuang mencapai pemerintah sendiri”.
Penyebutan itu memang dimaksudkan untuk menegaskan sifat kenasionalan gerakan Sarekat Islam dalam rangka mengemakan perjuangan membina “kesatuan” bangsa Indonesia. Tak pelak lagi kongres ini merupakan tonggak sejarah Sarekat Islam sebagai organisasi kesatuan yang memantapkan
23
kesadaran kebangsaan dan jiwa kemerdekaan di kalangan masyarakat Indonesia. Asal daerah para peserta yang menghadiri kongres pun mencerminkan sifat kenasionalan organisasi ini, NATICO I dihadiri oleh 360 orang utusan yang mewakili 80 organisasi Sarekat Islam local (cabang) dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Isi pidato bersejarah HOS. Cokroaminoto pada Kongres CSI pertama 1916 di Bandung tersebut yang menunjukan cita-cita perjuangannya. Islam dijadikan sumber nilai dan kekuatan untuk mempersatukan seluruh seluruh bangsa Indonesia. Keinginan untuk mendirikan pemerintahan sendiri menjadi cita-cita yang dimaksudkan dalam kongres tersebut, sebagaimana dinyatakan HOS. Cokroaminoto dalam kongres tersebut:
Kita cinta bangsa sendiri dan dengan kekuatan ajaran kita, agama Islam, kita berusaha untuk mempersatukan seluruh bangsa kita, atau sebagian besar dari bangsa kita. Kita cinta tanah air, di mana kita dilahirkan, dan kita cinta pemerintah yang melindungi kita. Karena itu, kita takut untuk minta perhatian atau segala sesuatu yang kita anggap baik, dan menuntut apa saja yang dapat memperbaiki bangsa kita, tanah air kita dan pemerintah kita.
Untuk mencapai tujuan kita, dan untuk memudahkan cara kerja kita agar rencana raksasa itu dapat dilaksanakan, maka perlulah, dan kita harap dengan sangat agar diadakan peraturan, yang memberi kita penduduk bumiputra hak untuk ikut serta dalam mengadakan bermacam-macam peraturan, yang sekarang sedang kita pikirkan. Tidak boleh terjadi lagi bahwa dibuat perundang-undangan untuk kita, bahwa kita diperintah tanpa kita, dan tanpa ikut serta dari kita.
Meskipun jiwa kita penuh dengan harapan dan keinginan yang besar, kita tidak pernah bermimpi tentang datangnya Ratu Adil, atau kejadian yang bukan-bukan, yang kenyataannya memang tidak akan terjadi. Tapi kita akan terus mengharapkan dengan ikhlas dan jujur akan datangnya status berdiri sendiri bagi Hindia Belanda, paling sedikit Dewan Jajahan, agar kita dapat ikut berbicara dalam urusan pemerintah. Tuan-tuan jangan takut, bahwa kita dalam rapat ini berani mengucapkan perkataan “Pemerintahan sendiri”. Dengan sendirinya kita tidak takut untuk memakai perkataan itu, karena ada undang-undang (wet), yang harus dibaca oleh tiap-tiap penduduk, yang juga menggunakan perkataan
“pemerintah sendiri” yaitu Undang-undang 23 Juli 1903, tentang “desentralisasi dari pemerintah Hindia Belanda”, yang memuat keputusan Sri Ratu Wilhelmina, di mana Sri Ratu memandang perlu, agar untuk kresidenan atau bagian-bagian daerah membuka kemungkinan untuk mencapai “pemerintah sendiri”.
Berhubung dengan sabda dan Ratu tersebut di atas, yang menyebabkan kita berani berbicara tentang “pemerintah sendiri”, dan karena itu juga kita dapat memikirkan lebih lanjut bagaimana keinginan Ratu itu dapat selekas mungkin dan dengan sempurna dilaksanakan. Dalam permulaan Sri Ratu hanya mengharapkan tercapainya “pemerintah sendiri” dari daerah-daerah atau sebagai dari daerah, akan tetapi kita yakin, bahwa dalam harapan Sri Ratu itu tersimpul maksud agar pada saatnya juga untuk seluruh Hindia Belanda mencapai status “pemerintah sendiri”………
Pada bagian penutup pidatonya, Pak Cokro berkata:
Kongres yang terhormat, bangsaku dan kawan-kawan separtai yang saya cintai. Maka perlu sekali kita bekerja keras. Meskipun pemerintah yang maju mampu, dan tentu bersedia, mendidik anak buahnya dan membangkitkan energi anak buahnya, agar mereka semakin maju dalam kehidupannya, hak-hak dan kebebasan politik baru diberikan kepada satu rakyat kalau rakyat itu meminta sendiri dengan memaksa, jarang sekali terjadi bahwa hak dan kebebasan semacam itu diberikan sebagai hadiah oleh suatu pemerintah. Di bawah pemerintah yang tiranik dan dzolim, hak-hak dan kebebasan itu dicapai dengan revolusi, gerakan yang patut. Kita berharap, bahwa gerakan evolusi ini senantiasa akan berlangsung di bawah naungan Sang Tiga Warna (Belanda, pen). Tapi bagaimanapun juga,
rakyat harus bekerja untuk menentukan nasibnya sendiri”.24
Demikianlah pokok isi dari pidato Pak Cokro dalam NATICO I (pertama) di Bandung. Dari isi pidatonya itu Pak Cokro membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan secara revolusi. Pak Cokro meminta kepada pemerintah penjajah supaya bangsa Indonesia diberi kebebasan untuk mendirikan “pemerintah sendiri”, namun tetap menjalin kerjasama dengan pemerintah Nederland.
Berdasarkan situasi dan kondisi politik saat itu cara-cara dilakukan oleh HOS Cokroaminoto memang suatu kebijakan yang layak. Dengan cara yang seperti itu Pak Cokro tidak bermaksud untuk melanggengkan penjajahan di bumi Indonesia. Namun secara bertahap dengan cara kerjasama terlebih dahulu, di
24
Anhar Gonggong, HOS. 1985, Tjokroaminoto, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, hlm. 37
kelak kemudian hari dapat berdiri suatu Negara Indonesia yang berdaulat, tidak dibawah naungan Sang Tiga Warna. Bagaimana kepemimpinan dan kelihaian Pak Cokro dalam kongres tersebut dapat diikuti bagaimana cara Pak Cokro memimpin rapat-rapat, Hazeu menulis sebagaimana dikutip oleh A.P.E. Korver sebagai berikut:
“Hazeu menulis tentang ini: “Semua rapat dipimpinnya dengan keahlian yang mengagumkan, sehingga politikus Barat terbaik mana pun tidak akan dapat mengunggulinya. Dengan tata cara resmi dan senang hati dia tidak saja memberikan kesempatan bicara kepada para utusan, tetapi, juga pada orang luar (…), kalau ternyata mereka lebih mampu dibandingkan dengan salah seorang utusan untuk menguraikan suatu persoalan; senantiasa dia tahu memberikan kesempatan sepenuhnya untuk mendiskusikan soal “yang penting menurut pandangannya”, sedangkan untuk soal-soal yang kurang penting, para pembicara hanya diperkenankan menggunakan beberapa menit saja”. Juga digunakan istilah-istilah Barat modern untuk berbagai fungsionaris seperti presiden, sekretaris, thesaurier, dan komisaris.25
NATICO II dan seterusnya dilaksanakan di tempat yang berbeda-beda. Hal ini menunjukan bahwa Sarekat Islam dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang pesat. Kota-kota yang menjadi tempat penyelenggaraan kongres dipilih kota yang menjadi pendukung utama organisasi Sarekat Islam.
Tuntunan Sarekat Islam agar bangsa Indonesia ikut berbicara dalam menerapkan kebijakan bangsanya dipenuhi pemerintah kolinial dengan didirikannya “Volksraad” (semacam DPR). Tahun 1918 Sarekat Islam mempunyai dua orang wakil di Volksraad, yaitu HOS Cokroaminoto dan Abdul Muis. Kedua wakil Sarekat Islam itu menempatkan diri sebagai golongan oposisi terhadap pemerintah colonial. Oleh karena itu mereka lebih banyak
25
menyampaikan tuntutan-tuntutan perbaikan bagi rakyat dan kritik-kritik yang tajam terhadap pemerintah Belanda.
Volksraad dibuka untuk pertama kalinya pada tanggal 18 Mei 1918. Sebagaimana dikatakan di atas tadi, Sarekat Islam menerima pengadaan Dewan Rakyat ini sebagai lembaga untuk “menyuarakan” kehendak rakyat, walaupun kenyaataannya dewan ini tidak dapat memberikan apa-apa terhadap tujuan yang diingini oleh Sarekat Islam/ Cokroaminoto.
Untuk mewakilinya, Sarekat Islam mengirimkan Cokroaminoto
(berdasarkan pengangkatan) dan Abdul Muis (berdasarkan atas pilihan). Dalam Volksraad itu, Cokroaminoto dan Abdul Muis telah memberikan reaksi-reaksinya yang jelas dan tegas terhadap pelaksanaan pemerintahan ketika itu. Karena sikapnya yang demikian itu, maka Cokroaminoto-Abdul
Muis telah menjadi oposisi.26
Demikian dikemukakan oleh sejarawan Anhar Gonggong.
Setelah dibuka Volksraad diselenggarakan kongres nasional SI yang ketiga di Surabaya. Berdasarkan keputusan NATICO III tahun 1918, Sarekat Islam menuntut: (1) dihapuskannya rodi atau kerja paksa, (2) diturunkannya pajak, (3) dihapuskannya tanah partikelir demi kepentingan rakyat, serta menentang pemerintah colonial yang melindungi kaum bermodal dengan mengabaikan kaum buruh dan tani. Secara lebih rinci Anhar Gonggong menyatakan:
Beberapa bulan setelah pembukaan Volksraad, Kongres Nasional ke-3 Sarekat Islam diadakan di Surabaya pada tanggal 29 September s/d 6 Oktober 1918. Dalam kongres ini tuntutan untuk mengadakan pemerintahan sendiri, tuntutan untuk berlakunya hak pilih bagi setiap warganegara yang dewasa, demikian pula tuntutan perbaikan sosial-ekonomis telah terdengar dengan lebih nyaring. Berdasar itu semua, disetujuilah gagasan untuk menentang pemerintah dalam usahanya melindungi kapitalisme, dan akan menggerakkan semua organisasi bangsa
Indonesia untuk menentang kapitalisme. Sarekat Islam akan
mengorganisasi kaum buruh. Dalam kong itu Cokroaminoto telah berkata secara lantang: “Jika pemerintah tidak hendak mengindahkan segala
26
Anhar Gonggong, HOS. 1985, Tjokroaminoto, Departemen Pendidikan dan
tuntutan itu dalam waktu lima tahun, maka Sarekat Islam sendiri kelak yang akan melaksanakannya”. Ucapan itu telah memancing kegembiraan
yang meluap dari peserta kongres.27
Salah satu kasus berkaitan dengan hasil Natico III di Surabaya adalah gerakan protes kaum partikelir di Surabaya. Pada saat itu Sarekat Islam bertindak untuk menyelesaikan kasus tersebut. Dalam proses penyelesaian tanah partikelir itulah ISDV menyusup di bawah pimpinannya Hendrik Sneevliet untuk bekerja sama dengan SI. Berkaitan dengan peristiwa ini Korver menyatakan:
Gerakan protes di tanah-tanah partikelir Surabaya merupakan salah satu kesempatan pertama untuk melakukan hubungan yang lebih erat dengan ISDV. Organ ISDV, Het Vriej Wood, seperti juga Oetoesan Hindia, memberikan banyak perhatian terhadap peristiwa-peristiwa di pertahanan partikelir. Dalam edisi 10 Januari 1916, Sneevliet mengemukaan pendapat bahwa menjadi tugas SI untuk menyelenggarakan pertemuan di kota-kota besar guna menjelaskan kepada massa luas tentang hal yang terjadi di Surabaya. Menjawab pertanyaan apakah ISDV sendiri tidak bisa berbuat lebih banyak untuk para penghuni dan aksi mereka, Sneevliet mengutarakan kemungkinan bahwa cabang-cabang ISDV, Insulinde, dan SI di Surabaya bersama-sama dapat menyelenggarakan pertemuan yang
demikian.28
Sejalan dengan keberanian warga pribumi, maka gerakan politik Sarekat Islam di tengah-tengah masyarakat sering menimbulkan letupan protes dan aksi-aksi sosial berupa pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Sebagai contoh, pada tanggal 5 Juli 1919 terjadi pemberontakan di toil-toli yang menyebabkan terbunuhnya J.P. Dekat Anglino dan beberapa orang pegawai negeri pemerintah kolonial. Pada waktu yang sama terjadi pula pemberontakan di
27
Anhar Gonggong, HOS. 1985, Tjokroaminoto, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan,,,hlm. 42
28
Garut yang terkenal dengan istilah “Cireme Drame”. Akibat pemberontakan-pemberontakan tersebut pemerintah kolonial mengambil tindakan keras, namun berkat kemahiran Pak Cokro dalam siyasah, tindakan pemerintah kolonial tersebut dapat dilunakkan.
Pada NATICO IV yang diselenggarakan di Surabaya pada tanggal 26 Oktober- 2 Nopember 1919, anggota Sarekat Islam telah mencapai 2,25 juta orang. Kepesatan perkembangan Sarekat Islam ini terjadi berkat kemampuan organisasi dalam membina basis sosial lapisan rakyat bawah, baik di kota-kota ataupun di desa-desa, serta keberhasilan organisasi dalam melaksanakan dakwah Islam. Salah satu prestasi besar Sarekat Islam di bidang dakwah ialah penyiaran Agama Islam di Sulawesi Utara. Penyelenggaraan dakwah secara sistematis di wilayah ini dimaksudakan pula untuk menanggulangi kristenisasi yang disokong pemerintah kolonial. Pengurus pusat Sarekat Islam secara periodic mengirimkan para mubaligh dari Jawa ke Sulawesi Utara. Operasi dakwah, seperti proses Islamisasi lainnya di setiap wilayah Nusantara, dilakukan melalui jalur dagang dan pendidikan. Salah seorang mubaligh yang sangat gigih melaksanakan dakwah ialah Kyai Djazuli Kartawinata dari Garut, Jawa Barat. Demikian juga dengan bidang pendidikan, Sarekat Islam mengirim tokoh pendidikan ke Sulawesi Utara, yaitu Moh. Syafe’i Wirakusumah dari Bandung. Berkat usaha keras Sarekat Islam dalam melaksanakan dakwah dan pendidikan bagi para kadernya, Propinsi Sulawesi Utara hingga kini merupakan pendukung Sarekat Islam yang cukup kuat.
Pada tahun diadakannya NATICO IV ini, Syarikat Islam melancarkan aksi demokrasi antib feodal, dengan nama Program Aksi Jawa Dwipa, Aksi tersebut bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi perbedaan kelas dalam masyarakat. Caranya ialah merombak kebiasaan etika masyarakat feodal di lingkungan masyarakat Jawa. Bentuk aksi tersebut antara lain menggunakan “ Bahasa Ngoko” dalam berbicara dengan siapa saja, baik dengan rakyat biasa ataupun dengan kaum bangsawan tidak berjongkok atau membungkuk bila bertemu dengan pembesar atau pegawai pemerintah kolonial dan tidak turun dari sepeda bila melewati rumah-rumah raja dan pembesar pemerintah kolonial. Upaya ini dimaksudkan untuk menanamkan rasa harga diri dan persamaan derajat manusia. Selain itu Sarekat Islam berusaha menaikkan tingkat kehidupan rakyat di bidang ekonomi. Tahun 1919 Sarekat Islam mendirikan Bank Qirodl, suatu bank yang dijalankan atas dasar kooperasi. Inilah periode puncak dari kemajuan Sarekat Islam sebelum kemerdekaan Indonesia. Sejalan dengan hal ini Amelz menyatakan sebagai berikut:
Perkembangan SI mencapai puncaknya hingga tahun 1919 di mana hamper semua tempat di Indonesia sudah memiliki kantor cabang SI. Setelah jaya biasanya segera datang masa surut. Masa surut ini ditandai oleh terpecahnya SI menjadi dua bagian yang secara ideologis berbeda jauh: SI Merah (komunis) dan SI- Putih (Islam). Tetapi pendukungnya telah menurun secara dramatis setelah tahun 1919, ketika PKI mengambil alih sebagian besar anggota SI dan memasukkannya pada SI Merah yang merupakan cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI pun mengalami kemerosotan karena meletusnya pemberontakan pada tahun 1926. 29
29
Al-Chaidar, 1999, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S. M.