• Tidak ada hasil yang ditemukan

25 yang terdapat di dalam suatu sekolah yang

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 35-37)

menggambarkan keadaan warga sekolah yaitu dalam keadaan riang dan mesra ataupun kepedulian antar satu sama lainnya. Stol (1994: 79) terkait dengan iklim kerja yang baik menyatakan bahwa iklim kerja yang positif dan kondusif dapat membentuk peserta didik berkelakuan baik dan prestasi akademiknya meningkat. Terlebih Supardi (2014: 122) menyatakan bahwa iklim sekolah adalah faktor utama yang menentukan keadaan kualitas pembelajaran yang dihadapi oleh peserta didik di sekolah.

Dengan demikian iklim kerja adalah suasana yang terdapat di sekitar sekolah yang menggambarkan keadaan warga sekolah yang erat kaitannya dengan pembelajaran di sekolah.

Pembahasan

Tuntutan terhadap guru profesional untuk menampilkan kinerja yang baik adalah sangat wajar, terlebih guru memang memegang peran yang sangat strategis dalam pelaksanaan pendidikan. Pendidikan masih diyakini sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam usaha menghasilkan SDM yang berkualitas, terlebih dengan akan adanya MEA. Pada beberapa penelitian telah diungkapkan bahwa hasil kinerja guru saat ini buruk. Namun ketika kita membahas kinerja guru, kinerja bukanlah suatu yang berdiri sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhinya.

Faktor kinerja guru utamanya dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Diantara dua faktor tersebut, faktor eksternal oleh beberapa ahli dinyatakan memiliki pengaruh yang lebih besar, sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih. Berikut akan disajikan pembahasan mengenai pengaruh beberapa faktor eksternal yang erat kaitannya dengan konteks global terhadap kinerja guru profesional di SMK

Kinerja Guru Profesional dengan Gaji

Kinerja merupakan unjuk kerja nyata guru dalam menampilkan kompetensinya pada setiap pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. Dalam pelaksanaan tugas itulah guru memiliki kewajiban untuk tuntas dalam menunaikannya. Di sisi yang lain, guru adalah manusia biasa yang membutuhkan materi untuk hidup. Materi inilah erat kaitannya dengan gaji yang merupakan kompensasi yang harus ditunaikan oleh sekolah setiap bulannya dan merupakan hak yang

diterima oleh guru setelah menjalankan tugas- tugasnya.

Guru adalah seperti manusia lainnya yang membutuhkan pemenuhan kebutuhan primer meliputi sandang, pangan maupun papan, bahkan tidak menutup kemungkinan ingin memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier juga. Wajar bila kemudian guru berorientasi pada materi. Oleh karena itu, guru harus hidup dalam standar hidup yang layak. World Bank melansir bahwa standar hidup yang layak adalah sebesar $1-$2 dolar per orang per hari. Maka standar hidup setiap jiwa termasuk guru saat ini perhari harus mencapai ($1= Rp 12.450,- per tanggal 30 Januari 2014) Rp Rp 12.450,- sampai Rp 24.900,- atau per bulan mencapai Rp 373.500,- sampai Rp 747.000,- per orang. Bila setiap pendidik misalnya memiliki 2 tanggungan (1 istri dan 1 anak), maka menurut standar hidup World Bank, setiap bulan harus memiliki gaji sebesar Rp 1.120.500,- sampai dengan Rp 2.241.900,-.

Fase kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab r.a (634-644 M) patut untuk ditiru. Apresiasi yang cukup besar oleh pemerintahan Umar bin khattab r.a kepada guru ditunjukkan dengan memberikan standar penghidupan yang layak. Khalifah Umar r.a pada saat itu memberikan gaji 15 dinar kepada setiap guru, bila 1 dinar saat ini mencapai Rp 2.020.000,- (Per tanggal 30 Januari 2015) maka nilai tersebut setara dengan Rp 30.030.000,- per bulan.

Bila saat ini ada guru yang sudah mendapatkan standar penghidupan yang layak namun tetap kinerjanya buruk, maka harus perlu diteliti lebih lanjut. Bila saat ini dunia sudah bersiap untuk mengglobal, maka gaji guru di Indonesia sudah semestinya juga bersiap untuk mengikuti standar global.

Kinerja Guru Profesional dengan Sarana dan Prasarana

Tugas utama guru sesuai dengan UU Sisdiknas (No 20 tahun 2003) dan UU Guru dan dosen (UU No 14 Tahun 2005) meliputi perencanaan dalam pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran yang bermutu serta penilaian dan pengevaluasian hasil pembelajaran. Dalam melaksanakan itu semua, guru membutuhkan sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai, di mana sarana dan prasarana itu telah dimaknai dengan fasilitas yang sangat vital yang harus disediakan oleh sekolah.

26

Ketersediaan sarana dan prasarana di lingkungan SMK tidak bisa ditolerir. SMK yang berorientasi dalam menyiapkan peserta didik untuk siap kerja tentu harus menyediakan sarana dan prasarana penunjang belajar yang mendekati standar sarana dan prasarana yang ada di dunia industri. Dengan demikian proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru akan maksimal. Adapun sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh SMK yang paling vital adalah bengkel praktik dan peralatan praktik yang tentu harus up to date dengan perkembangan teknologi di dunia industri.

Bila saat ini sekolah sudah menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap dan memadai namun tetap guru berkinerja buruk, maka harus perlu diteliti lebih lanjut. Bila Dunia hari ini sudah mulai mengglobal dan persaingan tenaga kerja sudah mulai sangat kompetitif, diperlukan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Semestinya pemerintah tidak melupakan faktor ketersediaan sarana dan prasarana bagi SMK yang sesuai dengan standar global dalam menunjang kinerja guru.

Kinerja Guru Profesional dengan Iklim Kerja

Kinerja merupakan unjuk kerja nyata guru dalam menampilkan kompetensinya pada setiap pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. Dalam melaksanakan tugasnya, pasti di sekolah akan terjadi interaksi satu sama lain dan secara tidak langsung terbentuklah iklim kerja yang dimaknai dengan suasana yang terdapat di sekitar sekolah yang menggambarkan keadaan warga sekolah.

Kinerja guru sangat erat kaitannya dengan iklim kerja yang ada di sekolah, sebagaimana Stol (1994: 79) yang menyatakan bahwa iklim kerja yang positif dan kondusif dapat membentuk peserta didik berkelakuan baik dan prestasi akademiknya meningkat. Demikian pula Supardi (2014: 122) yang menyatakan bahwa iklim sekolah adalah faktor utama dalam menentukan keadaan kualitas pembelajaran yang dihadapi oleh peserta didik di sekolah.

Hubungan yang tidak kondusif antara sesama guru, guru dengan siswa, guru dengan kepala sekolah setidaknya harus dihindari. Sekolah harus dibuat senyaman mungkin dan sekondusif mungkin supaya guru bisa maksimal dalam bekerja dan menampilkan kinerja yang baik. Bila saat ini sekolah sudah mampu menciptakan iklim kerja yang baik, namun tetap kinerja guru buruk, harus perlu diteliti lebih lanjut. Bila Dunia hari ini sudah mulai

mengglobal dan persaingan tenaga kerja sudah mulai sangat kompetitif, sehingga diperlukan usaha yang baik dari semua pihak, maka semestinya guru di sekolah harus bisa menularkan habit iklim kerja yang kompetitif namun tetap sehat. Boleh ada persaingan antara sesama guru dan antar sesama siswa, namun tetap persaingan yang kompetitif dan sehat yang tidak membuat suasana di sekolah menjadi panas.

Simpulan

Guru profesional khususnya di SMK harus menampilkan kinerja yang maksimal dalam menunaikan tugas yang sudah diamanatkan padanya. Kinerja sendiri bukanlah variabel yang berdiri sendiri. Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadapnya, baik dari dalam dan luar. Adapun faktor eksternal yang dekat dengan konteks global meliputi: gaji, sarana dan prasarana dan iklim kerja. Ketiganya memiliki pengaruh yang cukup besar, maka sudah seharusnya perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2013). Keadaan Ketenagakerjaan Februari 2014. Diakses dari,

http://www.bps.go.id/brs.../naker_05mei14.p df pada tanggal 29 Januari 2015 jam 14.50 WIB

Barnawi & Arifin, M. (2014). Kinerja Guru Profesional. Yogyakarta: Arruzmedia Daryanto. (2013). Standar Kompetensi dan

Penilaian Kinerja Guru

Profesional.Yogyakarta: Gava Media Depdikas. (2002). Kamus Besar Bahasa

Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta

Handoko. (2010). Manajemen Personalia & Sumberdaya Manusia, Edisi kedua, BPFE UGM Yogyakarta.

Kompas. (2015). Pemerintah Perpanjang Pembahasan MoU dengan Freeport. Diakses dari

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/201 5/01/24/083024526/Pemerintah.Perpanjang. MoU.dengan.Freeport pada tanggal 25 Januari 2015 jam 19.30 WIB

Marzuki. (1997). Kajian Sekolah Berkesan di Malaysia : Model Lima Faktor. Kuala Lumpur : Universitas Malaya

Mulyasa. (2007). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosadakarya

Mulyasa. (2013). Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru. Bandung: Rosda.

27

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 35-37)

Garis besar

Dokumen terkait