• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DEMOKRASI DAN INTERRELASI DALAM

F. Demokrasi dalam Komunitas : Sebuah

Upaya untuk memunculkan aspirasi kolektif dilakukan melalui pengikutsertaan serta pembukaan ruang dialog bagi seluruh stakeholders Kawasan Malioboro, cara tersebut memberi peluang bagi anggota secara individu untuk belajar teknik dan pengelolaan sebuah forum dan dapat melakukan ekspresi yang terkonsolidasi pada suatu permasalahan. Kesadaran untuk memiliki Malioboro sebagai sebuah ruang bersama menjadi pendorong cairnya friksi-friksi yang mengkristal antar anggota sehingga bisa memproduksi aspirasi kolektif itu.

Untuk penyelesaian masalah internal, semangat yang dijiwai nilai-nilai bersama tetap dipegang teguh. Walau bagaimana pun, bagi mereka

Kawasan Malioboro bukan milik segelintir orang, sehingga semua berhak untuk memanfaatkannya, hanya tinggal pengatura nnya.

Tabel 3.1

Contoh Penyelesaian Permasalahan Internal

No Permasalahan Anggota yang

Terlibat Keputusan/Tindakan 1 Alokasi waktu

berjualan

Tri Dharma, Pemalni, Lesehan.

Pembagian waktu : jam 9-21 untuk Tri Dharma dan Pemalni, setelah jam 21 untuk lesehan.

2 Harga nuthuk Lesehan. Pendekataan persuasif disertai dengan penghargaan bagi pedagang yang memasang daftar harga.

3 Pemasangan Tenda VIP

Lesehan, Handayani. Melalui dialog informal dengan Walikota, disepakati adanya sponsor yang bisa memberikan subsidi biaya pengadaannya. Toko dan Hotel, Tri Dharma, Roso Slamet.

Pembagian wilayah, waktu, dan kesempatan dalam memanfaatkan ruang untuk kepentingan bersama.

PKL memberi ruang diantara lapaknya, dan pembuatan besi pembatas sehingga terbuka akses masuk ke toko.

Sumber : BERNAS dan Pengamatan Langsung

Analisa berikut ini memang sedikit me -generalisir permasalahan.

Dari beberapa data yang didapatkan selama penelitian (Lihat Tabel 3.1), permasalahan yang dibahas masih berkisar pada sebagian stake holders, yaitu PKL. Sedangkan yang lain kurang mendapat perawatan, paling banter

hanya menyesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi PKL ke dalam konteks wilayah profesinya, atau karena kedekatan secara psikologis sebagai solidaritas sesama warga Malioboro.

Selain masalah kesenjangan, keterlibatan warga yang bermukim di Kawasan Malioboro sangat penting untuk menjawab minimnya pengakuan karena keraguan akan representasi dan legitimasi. PKM yang dideklarasikan sebagai sebuah ruang publik yang memproduksi aspirasi kolektif kadang mengundang keraguan jika mengatasnamakan warga, sesuatu hal yang akan menunjukkan karakter PKM terikat dengan kondisi sosio -kultural warga Malioboro.

Proses produksi konsensus yang dihasilkan PKM berada pada pertemuan rutin bulanan. Melalui dialog dengan mengedepankan kesetaraan dan keterbukaan antar anggota, didapatkan penyelesaian yang memihak pada anggota -bila berhadapan dengan pihak luar PKM dan berusaha mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sikap akhir yang cenderung akomodatif tersebut tidak saja diilhami oleh pengetahuan tentang posisi dan fungsi lembaga-lembaga politik, tapi juga kesadaran tentang posisi masyarakat yang lemah dihadapan pemegang otoritas kebijakan.

Peningkatan kemampuan kapasitas anggota diasah dalam pertemuan rutin tersebut, hal tersebut sangat penting karena kebijakan dihasilkan dari forum-forum yang membutuhkan kecakapan dalam manajemen forum. Proses politik yang demokratis bisa berjalan jika ada peningkatan kualitas individu yang terlibat dalam proses itu, karena itu proses dalam PKM perlu dipelihara untuk tujuan tersebut.

Berbeda dengan anggota sektor yang lain, yaitu PKL, pedagang angkringan, pedagang lesehan, dan juru parkir. Walaupun “berdemokrasi” di sini dengan cara dan prespektif mereka sendiri, namun ideologi frontierism yang mereka terapkan dalam penguasaan resources ekonomi telah sedikit banyak mempengaruhi pandangan terhadap penghormatan hak-hak orang lain. Kebutuhan ekonomi menjadi kacamata kuda saat pengambil alihan ruang -ruang publik kota. Akibatnya prinsip persamaan, penghargaan, musyawarah -dialog, dan kesamaan tujuan (tiang penyangga PKM) yang pada mulanya menemui kendala terutama bila berkaitan dengan hak dan kewajiban. Peng-aku -an terhadap ruang-ruang tak bertuan bergeser ke penaklukan eksistensi kepentingan orang lain dalam simpul dialog multi kepentingan.

Adanya organisasi di tengah masyarakat memberi andil yang cukup besar dalam mengawal proses-proses demokrasi di masyarakat.

Keberadaannya akan menjadi pelumas dalam mempercepat perubahan pada masyaraka t tersebut. Sesuai dengan teori imbibisi sel, individu dalam asosiasi itu akan menyerap pengetahuan baru yang didapat dari penglihatan, pendengaran, kebiasaan, serta proses yang dilakukan bersama kelompoknya.

Peningkatan kualitas berjalan seiring dengan kemamp uan PKM dalam merangkul individu -individu untuk bisa berekspresi pada jalur-jalur aspirasi yang telah disepakati.

di pojokan trotoar Malioboro romans dimulai tanpa rayuan anjing-anjing jalanan mengigau auuuuung auuuuung swara raungan langit pecah-patah tahyul di batin tindaslah perasaan anjing-anjing jalanan meraung auuuuung auuuuung

BAB IV

BAB IV

INTERAKSI PKM DENGAN PEMERINTAH

Setelah bab sebelumnya mengurai dinamika internal PKM, bab ini akan memaparkan dinamika eksternal PKM. Yaitu hubungan antara PKM dengan pemerintah, termasuk juga proses-proses yang terjadi pada beberapa aktifitas ketika PKM turut terlibat atau melibatkan diri dalam perencanaan dan pelaksanaan sebuah kebijakan publik.

Sebelum melangkah lebih jauh pada interaksi keduanya, ada baiknya sedikit disinggung hal yang agak mendasar, yaitu aspek legalitas.

Aspek ini berkaitan dengan dasar hukum dari sikap pemerintah terhadap forum atau paguyuban semacam PKM.

Dalam UU No 22/1999 Penjelasan Pasal 92 disebutkan “Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi pembentukan forum perkotaan untuk menciptakan sinergi Pemerintah Daerah, masyarakat, dan pihak swasta”. Selain itu ada UU yang lain yang menyinggung masalah yang sama, yaitu UU No 25/2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004 (PROPENAS) pada Bab IX : Pembangunan Daerah, diamanatkan pengembangan “forum lintas pelaku” un tuk meningkatkan “ komunikasi dan konsultasi baik antara pemerintah dan lembaga masyarakat, maupun antar lembaga masyarakat dalam kegiatan pengambilan keputusan publik”.

Pada bab pendahuluan, sedikit disinggung bahwa konsep forum warga belum tercantum dalam UU No 22/1999 dimana pembahasannya masih terbatas pada elit daerah (hal. 8). Pada kedua UU di alenia atas memang masalah ‘forum lintas pelaku’ telah disebutkan dan diprogramkan, tetapi belum menjelaskan konsep yang lebih lanjut. Pertanyaan -pertanyaan ya ng

belum terjawab muncul, seperti59: Siapa yang terlibat dalam forum yang dimaksud? Bagaimana representasinya? Sejauhmana kewenangan dan keterlibatannya dalam proses pengambilan keputusan publik? Bagaimana kaitan forum dimaksud dengan forum-forum pengambilan keputusan lain yang telah diatur secara definitif dalam UU, seperti Pemda dan DPRD?

Begitu pula ketika sampai pada pemegang otoritas, tidak bisa berbuat banyak saat mengetahui aspirasi mereka tidak dimasukkan dalam pembuatan draft raperda misalnya. Juga belum ada kekuatan hukum yang mengikat pembuat kebijakan untuk memasukkan aspirasi kolektif tersebut ke dalam draft. Eksistensi yang lintas batas administrasi dengan ikatan yang lentur mungkin juga bisa menyulitkan konstitusi untuk memayunginya.

A. Pengelolaan Aspirasi : Berdiri Diatas Standar Ganda

Dengan mengklaim beranggotakan representasi dari seluruh elemen masyarakat Malioboro, PKM bisa menjadi alat yang efektif bagi kelompok masyarakat di kawasan tersebut untuk dapat memasuki ruang partisipasi publik. Banyak kerjasama yang dilakukan pemerintah dengan PKM khususnya saat mengadakan suatu event di Malioboro, seperti Yogya Great Sale dalam rangka HUT Kota Yogyakarta bulan Okober 2003 dan Malioboro Fair di penghujung tahun 2003.

Dalam Asian Tourism Forum (ATF) 2002, yang dilaksanakan pada 21-28 Januari 2002 di Yogyakarta, pemerintah melibatkan PKM dalam program tersebut. Karena Malioboro merupakan etalase raksasa yang bisa menyajikan komoditas perdagangan bagi wisatawan asing, sehingga dengan melibatkan warga Malioboro sendiri dapat tercipta citra yang baik bagi

59 Diambil dari R.Yando Zakaria dan Erwin Fahmi, Multi-Stakehoder Processes dan Good Governance: Minus Malum dalam Wacana Neol iberal? Makalah Lokakarya Indonesian Forum of Local Politics and Democratization (IF-LPD) di Yogyakarta, 9-11 Maret 2004.

Malioboro di mata delegasi asing yang akan datang pada perhelatan tingkat internasional tersebut. Pemerintah juga memberi bantuan kongkrit, dana sebesar Rp 25 Juta diserahkan kepada PKM. Dana tersebut digunakan untuk program pengadaan gerobak 2 in 1, suatu program yang dirumuskan sendiri sesuai dengan kebutuhan komunitas, agar tercipta nuansa yang tertib dan indah pada Malioboro.60

Mungkin yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa agenda besar pemerintah yang berskala internasional bisa melibatkan asosiasi yang relatif baru dan belum ada legalitas hitam di atas putih, padahal berbagai asosiasi formal yang merupakan representasi masyarakat tidak kurang jumlahnya, misalnya LPMK. Berarti pula ada ja lur dan kondisi tertentu yang memungkinkan meningkatnya intensitas komunikasi antara pemerintah dengan paguyuban ini. Berikut ini akan sedikit dipaparkan jalur produksi aspirasi kolektif yang dibuat berdasarkan informasi dan proses dialektika antara elemen internal dan eksternal.

Jalur distribusi informasi yang datang dari pemerintah mengenai suatu program atau kebijakan yang bersinggungan dengan PKM biasanya melalui Sujarwo Putro dari YCM sebagai pendamping. Secara personal pun seringkali anggota paguyuban mengetahui sendiri informasi dari pemkot. Hal ini dapat dimaklumi karena beberapa kelompok sektoral anggota PKM telah mempunyai pendamping bagi aktifitas organisasi kelompoknya, selain itu juga terdapat orang -orang dari pihak pengusaha toko, restoran atau hotel yang memiliki akses informasi langsung ke pemkot, secara psikologis mereka juga dekat dengan Walikota yang juga anggota dan pernah beraktifitas di PKM.

60 Bernas 11 Juli 2001 dan 28 Oktober 2001.

Informasi yang didapat oleh anggota kemudian dibawa ke pertemuan bulanan atau pertemuan khusus, b ila ada hal yang dianggap mendesak untuk dibahas dan dikupas. Pembahasan internal ini yang membuat setiap ada pertemuan dengan pemerintah kota, pihak paguyuban memiliki konsep -konsep yang sudah matang. Bukan sekedar kelompok masyarakat yang dimobilisasi tanpa punya wacana bersama untuk berdialog dengan pemerintah.

Perwakilan dari anggota paguyuban, dengan perbendaharaan kata yang terbatas tapi berani karena menguasai kondisi di lapangan, selalu menyimak dan mengkritisi materi-materi pertemuan. Bukan hanya pertemuan internal paguyuban, tetapi juga pertemuan dengan pemerintah. Kondisi psikologis memang sangat mempengaruhi para anggota tersebut, kondisi itu terbentuk dari pertemuan internal anggota. Wacana yang muncul dan mengendap dalam pikiran para anggota itu adalah hasil dari dialog yang intensif dilakukan oleh para pendamping disaat awal-awal berdirinya PKM dan berlanjut hingga saat ini.

Pihak pemerintah juga berusaha untuk mempertemukan dan memfasilitasi pertemuan dialogis antar elemen masyarakat. Setia p kebijakan yang akan diambil akan melalui beberapa tahapan yang disyaratkan, partisipasi aktif masyarakat mulai saat proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi pelaksanaannya akan dijunjung tinggi. Proses tersebut untuk menciptakan kebijakan yang efektif dalam implementasinya.

“Pemerintah selalu mengusahakan adanya dialog dengan berbagai pihak yang kompeten setiap ada kebijakan baru.

Sehingga dengan melibatkan pihak yang sama-sama memiliki kepentingan dalam kebijakan itu, produk hukum yang dihasilkan dapat dilaksanakan bersama-sama, karena itu kan merupakan hasil kesepakatan bersama.”

Penuturan Tion61 dari Dinas Perekonomian Kota Yogyakarta tersebut mempertegas komitmen pemerintah untuk mengikat peran sakeholders dalam sebuah kebijakan, dan menciptakan produk kebijakan yang tidak terkesan elitis. Dengan hasil dari produk bersama, pemerintah mengharapkan implementasinya dapat berjalan lancar karena semua elemen masyarakat sudah mengerti duduk permasalahannya. Keinginan itu sejalan dengan UU No 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah Pasal 4 ayat 1 yang berbunyi “Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi, daerah kabupaten, dan daerah kota berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.”

Di era otonomi daerah ini, sesungguhnya yang muncul terdepan bukanlah pelaksanaan proses kebijakan publik yang aspiratif, tetapi lebih pada perlombaan daerah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan berbagai macam cara. Nyawa ekonomi nyata -nyata telah merongrong kesediaan pemerintah untuk membuka partisipasi warganya. Lain halnya dengan masyarakat, pandangan yang terlanjur terbentuk selama puluhan tahun yang menempatkan dirinya sebagai konsumen dalam kebijakan publik terasa sulit bila melakukan suatu perubahan yang drastis.

Namun kebutuhan untuk mempertemukan keduanya sangat urgen di masa kini. Aransemen kebijakan yang dibuat bersama dan aspiratif akan dapat dilihat hasilnya saat bertemunya aspirasi kolektif dari bawah melalui PKM dengan draft yang diajukan dalam proses-proses dialogis yang biasa disebut public hearing, dengar pendapat, dan sebagainya. Sebuah kebijakan publik disebut aspiratif dan telah melalui proses yang demokratis apabila

61 Wawancara tanggal 18 November 2003

penawaran draft dari pemerintah, terutama pasca terselenggaranya public hearing, memasukkan aspirasi kolektif dari masyarakat.

Dibutuhkan kemampuan pengelolaan aspirasi yang baik agar dapat menghasilkan kebijakan yang aspiratif. Keinginan pemerintah untuk menciptakan hal itu akan berhadapan dengan dua hal yang berbeda, yaitu misi pemerintah untuk meningkatkan PAD dengan ketidak siapan untuk melaksanakan perubahan sepenuhnya, baik itu pada pemerintah maupun komunitas. Tak pelak hal ini akan berwujud pada terciptanya standar ganda pemerintah dalam melaksanakan kebijakannya sendiri.

B. Jalan Berliku dalam Berpartisipasi

Dari banyak kebijakan yang diproduksi pemerintah, penetapan Peraturan Daerah No 26/2002 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima Kota Yogyakarta adalah kasus yang diikuti penulis saat penelitian, nampak aktifitas elemen masyarakat yang terkait menunjukkan aktifitas berpartisipasi, selain masalah parkir dan uji coba lalu lintas. Perda tersebut merupakan kebijakan yang sangat menyentuh eksistensi dari pedagang kaki lima, tidak hanya di Malioboro saja tapi di seluruh wilayah Kota Yogyakarta.

Raperda PKL

Raperda tentang Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) pertama kali mencuat ke publik sekitar pertengahan bulan Oktober 2001 lalu. Dengan dijiwai oleh sema ngat untuk menciptakan Kota Yogya yang bersih dan tertib sesuai dengan slogan Yogya Berhati Nyaman, Pemkot Yogya bermaksud untuk menata lagi keberadaan PKL yang dianggap sudah membuat semrawut wajah kota Yogya. Membuat semrawut karena lokasi berjualannya mengambil tempat di beberapa fasilitas untuk publik seperti trotoar, pinggir jalan, tempat parkir, dan sebagainya.

Khusus untuk Jalan Malioboro, penataan tersebut telah kesekian kalinya dilaksanakan Pemkot Yogya. Awalnya, pada tahun 1968 Pemkot Yogya melarang menggunakan trotoar di sepanjang Jalan Malioboro untuk melaksanakan aktifitas perekonomian. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Daerah No 10/1968 Bab II Pasal 2 poin m. Inti Perda tersebut antara lain melarang adanya pendirian warung-warung dan dasaran umum di bagian pejalan kaki jika tidak ada ijin dari pemerintah. Namun himpitan perekonomian membuat para pedagang tetap berjualan, tanpa takut dengan Perda yang sudah ada. Namun Pemkot juga tidak tinggal diam, penertiban-penertiban terhadap PKL te rsebut kerap dilakukan.

Jumlah pedagang tetap membengkak, dan memberi warna tersendiri di Malioboro. Akhirnya, Pemkot menurunkan status menjadi mengatur keberadaan PKL dengan mengeluarkan SK Walikotamadya No:

56/KD/1987 yang disempurnakan dengan SK Walikota No: 311/KD/1995 tentang pengaturan PKL di wilayah Kota Yogya. Kemudian, ketika SK tersebut dirasa kurang memadai sejalan dengan semakin kompleksnya masalah yang berkembang. Pemerintah mengajukan Raperda No 26/2002 tersebut.

Setelah mengetahui akan adanya Raperda tersebut, PKM bersama beberapa kelompok PKL di Yogya menyusun berbagai rencana dialog dengan pihak eksekutif. Masing-masing juga membawa counter draft Raperda yang telah diolah di internal kelompok atau paguyuban. Ternyata pertemuan dengan eksekut if yang diprakarsai oleh paguyuban diklaim sepihak oleh Pemkot sebagai salah satu tahapan pembuatan kebijakan, yaitu public hearing. Sehingga legitimasi tersebut membawa Raperda versi eksekutif masuk ke meja anggota dewan.

Kabar yang menyebutkan bahwa Raperda PKL telah ke gedung DPRD sungguh sangat mengejutkan berbagai kalangan, tak terkecuali warga PKM. Karena draft yang diajukan eksekutif dianggap tidak melewati proses dialog dengan stakeholders yang menjadi obyek dari kebijakan tersebut.

Maka, pertemuan semakin intensif dilakukan, koalisi dengan beragam kelompok PKL dari seluruh Yogya digalang erat. Mereka pun melabrak gedung DPRD Kota Yogyakarta dengan membawa counter draft masing-masing. Yang kemudian terjadi beberapa kali dialog dan penyaluran aspirasi antara paguyuban dengan anggota legislatif.

Beberapa hal yang menjadi perhatian mereka dalam raperda tersebut antara lain : syarat ontologi raperda mengenai istilah penataan;

syarat aksiologi dimana penyusunannya masih top down dan belum memuat

beberapa UU yang menjadi dasar pijakan dalam menyusun; syarat epistemologi yang nyata-nyata menunjukkan adanya ketidakseimbangan

antara hak dan kewajiban PKL; dan juga masalah ijin lokasi berdagang.

Terkadang dalam penyusunan counter draft , ada benturan kepentingan antar kelompok. Tetapi adanya common issue yang dihadapi menyangkut eksistensi mereka mengharuskan mereka untuk melakukan kompromi. Alternatif yang win-win solution menjadi pilihan. Beban kemenangan dan kekalahan sama -sama diletakkan di pundak paguyuban, bukan lagi dibawa oleh anggota.

Berbagai rapat, pertemuan, dan dialog dilakukan dalam kerangka pembahasan Raperda tersebut. Hal itu menyebabkan proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama. “Konsekuensi yang harus dihadapi bila ingin melahirkan produk hukum yang disepakati banyak pihak” tutur Tion

“Adalah dengan molornya proses pembuatan dari produk yang bersangkutan.

Tetapi tidak seperti masa orde baru kan? Yang ujug-ujug ada kebijakan dari pemerintah tanpa rembugan sebelumnya”. Memang, proses yang memakan waktu tersebut disebabkan oleh transaksi wacana yang dilakukan dalam berbagai interaksi antara pemerintah dengan paguyuban.

Namun, banyaknya proses yang dilewati tidak menjamin aspirasi dari kelompok pedagang terakomodasi. Draft yang pada akhirnya menjadi Perda tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan usulan draft saat pertama kali diajukan. Aspirasi mereka masih belum bisa menyentuh ranah pengambilan keputusan. Kebijakan itu juga tidak seimbang, karena tidak memuat kewajiban pemerintah terhada p PKL, padahal PKL juga punya hak karena mereka juga diberi legitimasi pemerintah melalui penarikan retribusi kebersihan dan tempat berdagang.

Lain halnya dengan alasan yang dikemukakan pemerintah, menurut Tion, pemerintah berada di tengah-tengah dan bertindak sebagai fasilitator, tidak mungkin semua keinginan pedagang dipenuhi karena elemen masyarakat yang lainnya juga perlu diakomodir, sehingga pemerintah akan mencari jalan tengah dengan memunculkan produk kebijakan yang sitik iding, tentu dari produk ini akan ada pihak yang merasa dirugikan karena aspirasinya tidak tertampung.

Masalah Parkir dan Uji Coba Lalu Lintas

Selain raperda penataan PKL, beberapa kebijakan berkaitan dengan Malioboro juga menunjukkan kecenderungan yang tidak aspiratif.

Misalnya berkaitan dengan uji coba arus lalu lintas, yang berwujud pada penutupan Jalan Malioboro selama waktu tertentu. Penutupan tersebut dinilai paguyuban sangat merugikan masyarakat di Malioboro, tidak hanya pelaku ekonomi saja bahkan pengunjung dan masyarakat yang berdomisili di sana

pun merasa dirugikan.62 Akses masuk ke kawasan itu tertutup sehingga dianggap mematikan aktifitas disana. Penutupan yang rencananya akan berlaku terus merupakan rekomendasi YUIMS selaku konsultan yang telah melakukan penelitian selama dua tahun. Obsesi para arsitek itu adalah untuk menciptakan Malioboro yang nyaman dengan menetapkan Jalan Malioboro sebagai kawasan pedestrian, yaitu kawasan yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki..

Dengan menerapkan konsep pedestrian, otomatis parkir akan tergusur karena kendaraan bermotor tidak boleh lewat. Padahal di sana terdapat 180 orang yang kepulan asap dapurnya mengandalkan hasil dari parkir. Oleh karena itu pemerintah berencana memindahkan tempat parkir ke kantong -kantong parkir di sekitar Malioboro. Konsep pemindahan parkir ke beberapa lokasi itu dipertanyakan juru parkir sendiri, karena selain belum ada infrastruktur pendukung juga tidak ada jaminan kebijakan itu konsisten dilaksanakan dan juru parkir yang sebelumnya di Malioboro akan mendapatkan tempat di sana. Hal itu akan memunculkan konflik baru diantara para juru parkir, yaitu antara juru parkir yang terkena relokasi dengan yang sudah beroperasi di tempat relokasi tersebut.

Menurut Sigit Kartosaptono63, ketua paguyuban parkir, penutupan itu tidak hanya akan merugikan juru parkir sendiri tetapi juga akan merugikan seluruh warga Malioboro. Maka penentangan rencana tersebut ikut pula menjadi bagian dalam kegiatan advokasi yang dilakukan PKM untuk mencegah lahirnya kebijakan yang tidak aspiratif.

“Kami melawan bukan karena kami membangkang, tapi tanpa perlawanan pemerintah akan seenaknya sendiri membuat peraturan”

62 Radar Yogya, 17 Oktober 2000; Kedaulatan Rakyat, 18 Oktober 2000.

63 Wawancara tanggal 13 November 2003

Dalam hal pembuatan produk kebijakan yang aspiratif, langkah pemkot pada proses pembuatan raperda PKL dan beberapa raperda parkir sebenarnya patut diacungi jempol dengan beberapa perubahan yang diterapkan, misalnya public hearing untuk menjaring masukan dari masyarakat. Namun sedikit berbeda dengan kasus raperda PKL, pada kasus raperda parkir yang menodai proses pembuatan kebijakan yang partisipatif terletak pada kurangnya sosialisasi pemkot kepada juru parkir tentang produk kebijakan yang menjadi tema publik hearing. Celakanya, ternyata yang dibahas dalam publik hearing itu tidak hanya satu kebijakan tentang parkir tetapi ada empat produk kebijakan yang kemudian pada tanggal 27 Juli 2002 disahkan menjadi empat Perda perparkiran, yaitu : Perda No 17 Th 2002 tentang Penyelenggaraan Perparkiran; Perda No 19 Th 2002 tentang Retribusi Parkir di tepi Jalan Umum; Perda No 20 Th 2002 tentang Retribusi Tempat Khusus Parkir; dan Perda No 22 Th 2002 tentang Pajak Parkir. Padahal setahu juru parkir hanya satu raperda, hal itu yang membuat mereka merasa dipermainkan dan hanya menganggap publik hearing itu sebagai acara makan-makan.

Semua kebijakan tentang parkir hendaknya juga melibatkan juru

Semua kebijakan tentang parkir hendaknya juga melibatkan juru