Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang berdirinya Jam’iyatul Khairiyah, aktivitas pendidikan, serta tradisi intelektual Jam’iyatul Khairiyah. Penelitian ini adalah penelitian sejarah dengan pendekatan sejarah sosial dengan prosedur heuristik, kritik sumber, analisis/interpretasi, serta historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdirinya Jam’iyatul Khairiyah dipengaruhi oleh semangat masyarakat, ulama, dan Qadhi Langkat membuat majelis taklim, per-kembangan serta pertumbuhan penduduk dan pembangunan, kemajuan ekonomi, dinamis dalam politik, dan adanya contoh madrasah modern di Langkat. Ditinjau dari aspek kelembagaan, Jam’iyatul Khairiyah memiliki visi misi, struktur organisasi, prasarana dan sarana yang bisa dikatakan modern, serta pendanaan yang jelas. Faktor pendukung perkembangan Jam’iyatul Khairiyah adalah semangat dan keseriusan para saudagar-saudagar Islam dalam memberikan dukungan pendanaan, dukungan dari Sultan Langkat yang telah mewakafkan sebidang tanah untuk membangun gedung Jam’iyatul Khairiyah, sumber daya manusia yang mumpuni dan memadai serta ahli dibidangnya, mata pelajaran yang terintegrasi. Jam’iyatul Khairiyah berhasil melahirkan ulama kaliber Nasional, misalnya Ulama Tiga Serangkai, yaitu H. Abdul Halim Hasan, H. Zainal Arifin Abbas, dan Abd. Rahim Haitami.
Kata Kunci: Jam’iyatul Khairiyah, Madrasah, Sumatera Timur,
Abstract:
This study aims to describe the background of the establishment of Jam’iyatul Khairiyah, educational activities, and the intellectual tradition of Jam’iyatul Khairiyah. This research is a historical research with a social history approach with heuristic procedures, source criticism, analysis / interpretation, and historiography. The results showed that the establishment of Jam'iyatul Khairiyah was influenced by the enthusiasm of the community, ulama, and Qadhi Langkat to make majelis taklim, development and population growth and development, economic progress, dynamic in politics, and the existence of examples of modern madrasa in Langkat. In terms of institutional aspects, Jam'iyatul Khairiyah has a vision of mission, organizational structure, infrastructure and facilities that can be said to be modern, as well as clear funding. The supporting factors for the development of Jam'iyatul Khairiyah are the enthusiasm and seriousness of Islamic merchants in providing financial support, support from Sultan Langkat who has endowed a plot of land to build the Jam'iyatul Khairiyah building, qualified and adequate human resources and experts in their fields, Mata integrated lessons. Jam'iyatul Khairiyah succeeded in giving birth to National-caliber scholars, for example the Three Trumpets Ulama, namely H. Abdul Halim Hasan, H. Zainal Arifin Abbas, and Abd. Haitami Uterus.
Keywords : Jam'iyatul Khairiyah, Madrasa, East Sumatra, Islamic
Education
PENDAHULUAN
engkaji pendidikan Islam di Indonesia eratlah kaitannya dengan kedatangan Islam itu sendiri ke Indonesia. Dalam hal ini, Yunus (1995:6) mengemukakan bahwa pendidikan Islam sama tuanya dengan masuknya agama tersebut ke Indonesia. Pendidikan di Nusantara sendiri pada awalnya terlaksana setelah adanya kontak antara pedagang atau mubalig dan masyarakat sekitarnya. Kontak ini bentuknya lebih mengarah pada pendidikan informal (Haidar, 2012:20-22). Selanjutnya, setelah masyarakat Islam terbentuk, maka yang menjadi perhatian utama adalah mendirikan rumah ibadah (masjid, surau, dan langgar). Selain sebagai tempat ibadah, masjid, surau, dan langgar dijadikan pula sebagai tempat pendidikan. Hal ini sesuai dengan contoh yang telah diberikan oleh Nabi Muhammad
saw., beliau menjadikan masjid Madinah sebagai tempat pendidikan (Asari, 2013:44-45).
Selain masjid dan rumah-rumah tempat kediaman ulama atau mubalig, maka muncullah lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya seperti meunasah, rangkang, dayah, pesantren, dan surau (Steenbrink, 1994:21). Nama-nama tersebut walaupun berbeda, tetapi hakikatnya sama yakni sebagai tempat menuntut ilmu pengetahuan agama. Perbedaan nama dikarenakan pengaruh dari perbedaan tempat. Pada awal abad ke 14/20, barulah muncul madrasah sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam di Indonesia sebagai bentuk modernisasi lembaga pendidikan Islam. Madrasah (bahasa Arab) pada masa klasik, tidak sama dengan madrasah (bahasa Indonesia). Menurut Asari (2013:70), madrasah di Indonesia merupakan lembaga pendidikan dasar dan menengah, sementara itu madrasah pada masa klasik merujuk pada lembaga pendidikan tinggi yang secara luas berkembang di dunia Islam pra-modern, sebelum universitas (al-jāmi‘ah). Lebih lanjut Asari (2013:72) mengemukakan bahwa madrasah merupakan sebuah evolusi dari masjid sebagai lembaga pendidikan dan asrama (khan) sebagai tempat tinggal mahasiswa.
Madrasah merupakan evolusi dari masjid–biasa dan masjid–khan.
Kompleks madrasah terdiri dari ruang belajar, ruang pemondokan dan masjid. Menurut Makdisi (1981:21), perkembangan madrasah dalam polanya yang utuh dan konkrit dipelopori oleh Niẓām al-Mulk (w. 485/ 1092). Hal ini tidak berarti bahwa Niẓām al-Mulk adalah orang pertama yang mendirikan madrasah dalam sejarah Islam abad pertengahan. Apa yang menjadikan ia berjasa dalam pengembangan madrasah adalah bahwa ia mempopulerkan pendidikan madrasah bersamaan dengan reputasinya sebagai wazir dalam kekuasaan Saljūq (Mukti, 2007). Selain Madrasah Niẓāmiyah, ada beberapa madrasah yang termasyhur di dunia Islam, seperti Madrasah al-Mustanṣiriyah yang didirikan di Baghdad tahun 631/1234 oleh khalifah al-Mustansir (623-640/1226-1242), Madrasah Nūriyah yang didirikan di Damaskus tahun 563/ 1167 oleh Nūr al-Dīn al-Zanki (w. 571/1174), dan sejumlah madrasah-madrasah lainnya (Haidar, 2012:100).
Dalam konteks Indonesia, pertumbuhan dan perkembangan madrasah pada awal abad ke-20 merupakan bagian dari gerakan pembaharuan Islam di Indonesia, yang memiliki kontak cukup intensif dengan gerakan pembaharuan di Timur Tengah. Di antara ulama yang berjasa
dalam menggagas tumbuhnya madrasah di Indonesia antara lain Syaikh Abdullah Ahmad, pendiri Madrasah Adabiyah di Padang pada tahun 1909. Syaikh M. Thaib Umar, pada tahun 1910 mendirikan Madrasah School di Batu Sangkar. Tiga tahun kemudian madrasah ini ditutup dan baru pada tahun 1918 dibuka kembali oleh Mahmud Yunus dan pada tahun 1923 madrasah ini berganti nama dengan Diniyah School. Pada tahun yang sama Rengkayo Rahmah El Yunusiyah mendirikan Madrasah Diniyah Putri Padang Panjang (Sumardi, 1978:49). Pertumbuhan dan perkembangan madrasah di Sumatera Barat, jelas mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan Islam lainnya di seluruh Indonesia, tidak terkecuali di daerah Sumatera Timur, yakni Madrasah Jam’iyatul Khairiyah.
Pada tanggal 22 Nopember 1922 berdiri sebuah perhimpunan yang bernama Jam’iyatul Khairiyah yang diinisiasi oleh K.H. Abdul Karim Tamim atas bantuan Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadsyah dan masyarakat sekitar (Dahlan, 2017). Perhimpunan ini mengelola sebuah madrasah yang kemudian diberi nama madrasah Jam’iyatul Khairiyah. Madrasah ini dibangun bersebelahan dengan Masjid Djami’ Binjai (Zuhdi, 2014). Madrasah sebagai lembaga pendidikan dengan corak agama Islam merupakan sebuah upaya yang gencar dilakukan oleh Sultan Langkat ketika itu.
Jam’iyatul Khairiyah didirikan atas gagasan brilian yang lahir karena semakin semaraknya penyelenggaraan pendidikan di masyarakat yang ketika itu dilaksanakan di masjid-masjid dan istana Sultan Langkat. Selain itu tentunya didukung oleh semangat zaman yaitu mulai maraknya semangat untuk mengentaskan masyarakat menjadi suatu bangsa yang maju dan beradab sebagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh Serikat Dagang Islam (SDI) dan juga Budi Utomo (Zuhdi, 2014:4). Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan sangat dibutuhkan manusia baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat (Harry G., 1956:2198). Cara yang paling mudah untuk menggambarkan betapa pentingnya pendidikan bagi umat manusia adalah dengan mengatakan bahwa jatuh bangunnya suatu bangsa terletak pada jatuh bangunnya pendidikannya (Pickering, 1969:49,77). Dengan pendidikan itu pula sering dijadikan tolok ukur keberhasilan suatu bangsa. Sebagai indikasinya adalah keberhasilan umat Islam mengungguli Barat di periode klasik (650-1258) selama enam abad dan hal ini tidak terlepas dari prestasi pendidikan yang mereka capai (Main, 1935:15). Sejalan
dengan alasan ini menurut penulis bahwa Binjai yang berada di bawah kawasan Kesultanan Langkat, Sumatera Timur, mendapatkan perhatian dari Sultan Langkat yang ketika itu ingin menjadikan masyarakat Langkat menjadi masyarakat yang berpendidikan yang mampu membangun bangsanya sendiri.
Oleh karena itu, studi ini akan berusaha menguak pendidikan Islam di Sumatera Timur dengan fokus pembahasannya yaitu historisitas Madrasah Jam’iyatul Khairiyah pada awal abad ke-20. Studi ini meng-analisis latar belakang berdirinya, aktivitas pendidikan, serta produk luarannya. Studi ini dilakukan karena dirasakan literatur-literatur yang ada belum mengungkap secara serius mengenai Jam’iyatul Khairiyah. Keberadaan Jam’iyatul Khairiyah yang merupakan cikal bakal perguruan Al-Ishlahiyah masih diulas dalam porsi yang sedikit. Walaupun ada, keabsahan data masih perlu dicek kembali, apakah telah sesuai atau tidak dengan fakta-fakta sejarah yang ada. Hal inilah yang penulis pandang penting untuk mendeskripsikan dan menganalisisnya dalam kajian yang lebih utuh, dengan judul “Pendidikan Islam di Sumatera Timur (1922-1950): Historisitas Madrasah Jam’iyatul Khairiyah Binjai Awal Abad XX”.
METODE
Penelitian ini adalah penelitian sejarah (historical research) dengan pendekatan sejarah sosial (social history approach) (Leedy, 1978:71). Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis historis (Asari, 2006:27). Prosedur yang dilalui dalam penelitian ini mencakup empat langkah, yakni heuristik, kritik sumber, analisis/ interpretasi, serta historiografi (Syamsuddin, 1996:60). Dengan menggunakan pendekatan sejarah sosial (social history approach), dapat dikemukakan kenyataan-kenyataan yang valid dan akurat tentang madrasah Jam’iyatul Khairiyah berdasarkan fakta-fakta yang ada.