• Tidak ada hasil yang ditemukan

ZAKAT DAN USAHA PEMECAHAN MASALAH SOSIAL

Dalam dokumen KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL (Halaman 122-129)

PENGEMBANGAN ZAKAT

C. ZAKAT DAN USAHA PEMECAHAN MASALAH SOSIAL

Ajaran Islam telah menggariskan ketentuan-ketentuan yang tegas dan jelas dalam usaha memerangi kemiskinan atau dalam memecahkan masalah-masalah kepincangan sosial.

Allah SWT secara tegas memperingatkan kepada umat ma-nusia untuk memperhatikan kewajibannya terhadap masalah-masalah sosial, sebagaimana yang difirmankan dalam Surat Al Ma'un ayat 1 - 3 :

Terjemahnya:

"Tahukan kamu orang yang mendustakan agama? Itu-lah orang yang menghardik anak yatim; Dan tidak meng-anjurkan memberi makan orang miskin. (Al Ma'un: l - 3).

Dari ayat tersebut di atas jelaslah, bahwa Islam

mewajib-kan memelihara anak ya tim dan menyantuni fakir miskin.

Bahkan orang yang tidak berbuat yang sedemikian itu dina-makan orang yang mendustakan agama.

Selanjutnya, salah satu bentuk yang paling kokoh dalam usaha memecahkan masalah-masalah sosial, adalah kewajiban membayar zakat bagi mereka yang memiliki harta dalam jum-lah dan keadaan tertentu. Zakat, sebagai sajum-lah satu rukun Is-lam yang Hrna adalah merupakan kewajiban agama yang te-lah melembaga dalam kehidupan umat Islam. Zakat memiliki landasan-landasan pengertian, antara lain sebagai berikut:

( l ). Dalam bentuk pengertian Ta uh id, zakat dilaksanakan berdasarkan petunjuk-petunjuk Allah SWT, sehingga tujuan pokok pelaksanaannya adalah untuk mendekat-kan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Beriman dan ikhlas beramal dalam usaha beribadat kepada Tuhan.

(2). Dalam pengertian Hukum, zakat adalah hukum Tuhan yang sesuai dengan hukum yang berlaku dalam alam be-serta isinya agar manusia dapat hidup saling mencintai dan tolong menolong yang didasari rasa kasih sayang dalam ikatan hukum, di mana keadilan lebih tinggi dari kekuasaan. Ia menjadi jiwa hukum dari kebudayaan ma-nusia untuk me]lciptakan keadilan sosial yang hakiki dalam masyaraka t.

(3). Dalam pengertian akhlaq, zakat adalah isi dari penjelma-an budi mpenjelma-anusia ypenjelma-ang mulia, suci dpenjelma-an sempuma dalam arti menyediakan barang-barang keperluan hidup de-ngan tujuan ibadat kepada Tuhan. Ia menjelmakan cita, rasa, kehendak manusia, antara si kaya dan si miskin, antara yang mulia dan yang hina. Ia sumber praktek per-samaan dan persaudaraan kemanusiaan dalam aspek kehidupan sosial.

(4). Dalam pengertian sosial, zakat tumbuh untuk memper-samakan dan mempersaudarakan seluruh umat manusia dalam masyaraka t kemanusiaan yang satu, yang

ber-wujud pengorbanan benda bagi hidup bertolong-tolong an dengan taqwa kepada Allah SWT. Zakat menduduki fungsi hidup yang harmonis dalam budi dan produksi, dalam sirkulasi pembagian rejeki bagi sesama manusia.

Dalam kaitannya dengan masalah kejiwaan, zakat me-rupakan pengikat batin yang mempersamakan dan mempersaudarakan kelompok-kelompok manusia yang kuat dan yang lemah bagi penciptaan masyarakat adil dan makmur yang abadi dalam pembagian rejeki.

(5). Dalam pengertian ekonomi, zakat meninggikan hasrat produksi moderen bagi keperluan hidup, melancarkan jalan distribusi dan mengadakan stabilisasi konsumsi, rena konstantnya peredaran/sirkulasi uang, di antara ka-um yang lemah, yang miskin yang terjamin hidupnya dengan zakat. Begitu juga bagi pedagang-pedagang ke-cil, bagi ibnu sabil, mereka inipun wajib menerima za-kat.

Kaum lemah, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam agama, memberikan aspirasi dalam pemikiran yang tidak me-mihak, bahwa tenaga konsumsi yang terbesar adalah tenaga kaum yang lemah di dunia ini. Merekalah yang telah memba-yar segala kesenangan, kemewahan hidup kaum pengusaha yang kaya raya, pemilik modal dan sebagainya. Pembayaran itu berwujud pertukaran tenaga kaum buruh yang menerima uang. Kaum buruh membeli bahan-bahan makanan dari kaum tani dan begitu seterusnya. Dari basil perdagangan, pertanian, peternakan, yang banyak mendatangkan kekayaan dan harta benda itulah diwajibkan membayar zakat, untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya, di antaranya kepada kaum fakir miskin atau mereka yang berpenghasilan lemah, yang ikut membayar kesenangan para pengusaha tersebut. Sesuai dengan namanya, tujuan mengeluarkan zakat adalah berarti membersihkan harta kekayaan dari kotoran yang mungkin terkandung di dalamnya.

Begitulah zakat mempunyai beraneka ragam aspek yang suci dan sangat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan ma-nusia, untuk menikmati pengertian iman dan ibadat kepada Allah SWT secara nyata. Ajran Islam tentang zakat ini perlu dipikirkan penjabarannya dalam usaha memerangi kemiskin-an. Untuk itu hendaknya mampu dipikirkan usaha-usaha yang konkrit, bagaimana caranya:

(a) menterjemahkan "nilai-nilai" zakat dalam kehidupan masyarakat terutama di kalangan umat Islam sendiri.

(b) menjabarkan nilai-nilai tersebut dalam kerangka pem-bangunari Nasional dengan bahasa yang dimengrti oleh masyarakat, terutama oleh umat Islam itu sendiri.

(c) mendorong masyarakat terutama umat Islam untuk ikut secara aktif mewujudkan nilai-nilai yang telah di-tunjukkan itu dengan kegiatan-kegiatan yang nyata.

Akhirnya dapat disimpulkan, bahwa :

1. Zakat sebagai rukun Islam, tidak dapat sepenuhnya difa-hami oleh umat Islam dengan tidak memberikan motivasi yang kuat dalam pelaksanaan zakat. Motif pelaksanaan za-kat dimaksud dapat mendorong mengenalnya bahwa me-laksanakan zakat bukan saja sekedar motivasi kewajiban untuk kepentingan dirinya, tetapi hendaknya memperluas cakrawala pemikiran untuk kepentingan masyarakat ba-nyak.

2. Kesadaran berzakat apabila dimiliki oleh sebagian kecil saja dari kurang Iebih 130 juta dari umat Islam Indonesia, akan dapat merupakan satu kekuatn yang tidak kecil da-lam menghimpun dana umat Isda-lam dapat mengakhiri ke-budayaan "mengedarkan list".

3. Kaitan zakat dengan kemiskinan adalah sebagai upaya umat Islam dalam menanggulangi kemiskinan yang masih menghantui kelompok terbesar, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Dalam pembangunan bangsa

diusaha-kan memperkecil jurang anara yang kaya dan yang miskin, seperti ditegaskan dalam ajaranAgama bahwa zakat, infaq dan sodakoh adalah merupakan salah satu upaya pemerata-an kesejahterapemerata-an dpemerata-an menghindari penumpukpemerata-an kekayapemerata-an pad a kelompok orang saja.

4. Selama ini pengaturan atau tata laksana masalah-masalah zakat, infaq, sodakoh dan seterusnya belum memadai. Kita bersyukur bahwa di beberapa daerah usaha pengaturan za-kat sedang dibenahi. Dalam usaha inilah harus diusahakan terus penyempurnaan tata laksana atau management zakat, infaq dan sodaqoh sehingga benar-benar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat banyak.

5. Sekalipun selama ini penerimaan zakat, infaq dan sodakoh masih bersifat tradisional. namun demikian usaha-usaha untuk lebih meratakan dan memasyarakatkan zaktat ter-masuk pembagiannya kepada masyarakat luas telah pula banyak dilakukan, termasuk usaha pengumpulan dan pem-bagian zakat yang dapat dikembangkan dalam bentuk usaha produktif. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang baik untuk dapat memobilisir pengumpulan zakat, infaq dan sodakoh dan pengaturan pembagiannya dengan sebaik-baiknya, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat zakat, infaq dan sodakoh tersebut, dalam rangka menang-gulangi masalah-masalah sosial kemasyarakatan, kemiskin-an, bahkan untuk dana pmbangunan masyarakat.

6. Dalam meletakkan zakat sebagai salah satu tuntunan aga-ma, hanya lslamlah yang menempatkan soal zakat sebagai salah satu rukunnya. Ini berarti betapa ajaran Islam

mem-perhatikan masalah tersebut sebagai masalah penting dalam menegakkan kehidupan sosial dalam Islam, terutama dalam menegakkan kehidupan sosial dalam Islam, terutama da-lam masalah menanggulani kemiskinan dan menciptakan kehidupan yang berkeadilan sosial. Apabila sementara ini belum terlaksana secara baik apa yang diajarkan Islam, maka bukan ajaran Islam yang salah tetapi harus disadari

bahwa yang salah adalah pemel uknya yang belum melak-sanakan sesuai dengan tuntutan agamanya tersebut.

7. Selama ini memang diakui bahwa umat Islam pada umum-nya kurang mampu, sehingga tidak baumum-nyak yang mampu dan dapat mengeluarkan zakat. Ambil contoh umat Islam Indonesia, apabila dari seluruh umat Islam Indonesia (dari 130 juta), I 0% saja yang mampu menjadi wajib zakat dan mau mengeluarkan zakat, dengan perkiraan terendah ra ta-rata dapat membayar Rp. 1.000,- per tahun (berarti tiap bulan sekitar Rp. 80,-) X 13 juta umat Islam, maka tiap tahun akan dapat terkumpul Rp. 13 milyar, ini bagaima-napun merupakan jumlah yang tidak kecil.

8. Menjadi persoalan adalah mampukah kita merubah ke-adaan dan merubah cara berfikir, seab hakekatnya apabila umat Islam tertolong karena sesama umat Islam sendiri berarti bangsa Indonesia ikut tertolong, sebab umat Islam merupakan golongan terbesar dari bangsa Indonesia. Meh-jadi tantangan bersama dalam hal ini untuk dapat memberi-kan motivasi yang kuat yang dapat menggerakmemberi-kan zakat dan sekaligus mengatur managemennya yang baik dan ter-tib.

VI

PENYELENGGARAAN HAJI

Dalam dokumen KEHIDUPAN BERAGAMA DAN PEMBANGUNAN NASIONAL (Halaman 122-129)