BAB I : PENDAHULUAN
B. Zakat
1. Pengertian dan Definisi Zakat
16
S. P. Siagian, Manajemen Modern, (Jakarta: Masagung, 1994), Cet ke-2, h. 9
Perkataan zakat berasal dari kata zakaa, artinya tumbuh dengan subur. Makna lain kata zakaa. Dalam kitab-kitab hukum islam, perkataan zakat itu diartikan dengan suci, tumbuh dan berkembang serta berkah. Dan jika pengertian itu dihubungkan dengan harta, maka menurut ajaran islam, harta yang di zakati itu akan tumbuh berkembang, bertambah karena suci dan berkah (membawa kebaikan bagi hidup dan kehidupan yang punya). Jika dirumuskan, maka zakat adalah bagian dari harta yang wajib diberikan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat kepada orang-orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu pula. Syarat-syarat-syarat tertentu itu adalah nisab, haul, dan
kadar-nya. Menurut hadits, yang berasal dari Ibnu Abbas, ketika Nabi Muhammad mengutus Mu’az bin jabal ke Yaman untuk mewakili beliau menjadi gubernur di sana, antara lain Nabi menegaskan bahwa zakat adalah harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk disampaikan kepada yang berhak menerimanya, antara lain fakir dan miskin.17
Infaq adalah pengeluaran sukarela yang dilakukan seseorang, setiap kali ia memperoleh rezeki, sebanyak yang dikehendakinya sendiri.18
Shadaqah atau sedekah adalah pemberian sukarela yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, terutama kepada
17
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 38
18
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 23
orang miskin, setiap kesempatan terbuka yang tidak ditentukan baik jenis, jumlah maupun waktunya. Lembaga sedekah sangat digalakkan oleh ajaran Islam untuk menanamkan jiwa sosial dan mengurangi penderitaan orang lain. Sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja, tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain, termasuk dalam kategori sedekah.19
2. Prinsip-prinsip Zakat
Menurut M.A. Mannan, zakat mempunyai enam prinsip, yaitu:
a. prinsip keyakinan keagamaan (faith)
b. prinsip pemerataan (equite) dan keadilan
c. prinsip productivitas (productivity) dan kematangan d. prinsip nalar (reason)
e. prinsip kebebasan (freedom) f. prinsip etik (ethic) dan kewajaran.20
Prinsip (pertama) keyakinan keagamaan menyatakan bahwa orang yang membayar zakat yakin bahwa pembayaran tersebut merupakan salah satu manifestasi keyakinan agamanya, sehingga kalau orang yang bersangkutan belum menunaikan zakatnya, belum
19
Ibid, h. 23
20
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 39
merasa sempurna ibadahnya. Prinsip (kedua) pemerataan dan keadilan cukup jelas menggambarkan tujuan zakat yaitu membagi lebih adil kekayaan yang telah diberikan Tuhan kepada umat manusia. Prinsip (ketiga) produktivitas dan kematangan menekankan bahwa zakat memang wajar harus dibayar karena milik tertentu telah menghasilkan produk terntentu. Dan hasil (produksi) tersebut hanya dapat dipungut setelah lewat jangka waktu satu tahun yang merupakan ukuran normal memperoleh hasil tertentu. Prinsip (keempat) nalar, dan (kelima) kebebasan menjelaskan bahwa zakat hanya dibayar oleh orang yang bebas dan sehat jasmani serta rohaninya, yang merasa mempunyai tanggung jawab untuk membayar zakat untuk kepentingan bersama. Zakat tidak dipungut dari orang yang sedang dihukum atau orang yang menderita sakit jiwa. Akhirnya, (keenam) prinsip etik dan kewajaran menyatakan bahwa zakat tidak akan diminta secara semena-mena tanpa memperhatikan akibat yang ditimbulkannya. Zakat tidak mungkin dipungut, kalau karena pemungutan itu orang yang membayarnya justru akan menderita.
3. Tujuan, Hikmah, Syarat, Macam, dan Dalil Zakat
Yang dimaksud dengan tujuan zakat, dalam hubungan ini, sasaran praktisnya. Tujuan tersebut, selain yang telah disinggung di atas, antara lain adalah sebagai berikut:
1) Mengangkat derajat fakir-miskin dan membantunya ke luar dari kesulitan hidup serta penderitaan
2) Membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh para
gharimin, ibnussabil dan mustahiq lainnya
3) Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat Islam dan manusia pada umumnya
4) Menghilangkan sifat kikir dan atau loba pemilik harta
5) Membersihkan sifat dengki dan iri (kecemburuan sosial) dari hati orang-orang miskin
6) Menjembatani jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin dalam suatu masyarakat
7) Mengembangkan rasa tanggung jawab sosial pada diri seseorang, terutama pada mereka yang mempunyai harta
8) Mendidik manusia untuk berdisiplin menunaikan kewajiban dan menyerahkan hak orang lain yang ada padanya untuk mencapai keadilan sosial.21
b. Hikmahnya
21
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 40
Zakat sebagai lembaga Islam mengandung hikmah (makna yang dalam, manfaat) yang bersifat rohaniyah dan filosofis. Hikmah itu digambarkan di dalam berbagai ayat al-Qur’an dan al-Hadits. Di antara hikmah-hikmah itu adalah:
1) Mensyukuri karunia Ilahi, menumbuh suburkan harta dan pahala serta membersihkan diri dari sifat-sifat kikir dan loba, dengki, iri, serta dosa
2) Melindungi masyarakat dari bahaya kemiskinan dan akibat kemelaratan
3) Mewujudkan rasa solidaritas dan kasih sayang antara sesama manusia
4) manifestasi kegotongroyongan dan tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa
5) Mengurangi kefakirmiskinan yang merupakan masalah sosial 6) Membina dan mengembangkan stabilitas sosial
7) Salah satu jalan mewujudkan keadilan sosial.22
c. Syaratnya
Menurut para ahli hukum Islam, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar kewajiban zakat dapat dibebankan pada harta yang dipunyai oleh seorang muslim. Syarat-syarat itu adalah:
22
1) Pemilikan yang pasti. Artinya sepenuhnya berada dalam kekuasaan yang punya, baik kekuasaan pemanfaatan maupun kekuasaan menikmati hasilnya
2) Berkembang. Artinya harta itu berkembang, baik secara alami berdasarkan sunnatullah maupun bertambah karena ikhtiar atau usaha manusia
3) Melebihi kebutuhan pokok. Artinya harta yang dipunyai oleh seseorang itu melebihi kebutuhan pokok yang diperlukan oleh diri sendiri dan keluarganya untuk hidup wajar sebagai manusia 4) Bersih dari hutang. Artinya harta yang dipunyai oleh seseorang itu bersih dari hutang, baik hutang kepada Allah (nazar, wasiat) maupun hutang kepada sesama manusia
5) Mencapai nisab. Artinya mencapai jumlah minimal yang wajib dikeluarkan zakatnya
6) Mencapai haul. Artinya harus mencapai waktu tertentu pengeluaran zakat, biasanya dua belas bulan atau setiap kali menuai atau panen.23
d. Macamnya
Sebagaimana telah disebut juga di atas, zakat terdiri dari (1) Zakat maal atau zakat harta, dan (2) zakat fitrah. Yang dimaksud dengan (1) zakat harta adalah bagian dari harta kekayaan seseorang
23
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 41
(juga badan hukum) yang wajib dikeluarkan untuk golongan orang-orang tertentu setelah dipunyai selama jangka waktu tertentu dalam jumlah minimal tertentu; (2) zakat fitrah adalah pengeluaran wajib dilakukan oleh setiap muslim yang mempunyai kelebihan dari keperluan keluarga yang wajar pada malam dan hari raya idulfitri.24 e. Dalil-dalilnya
Yang dimaksud dengan dalil-dalil dalam hubungan ini adalah dasar-dasar hukum zakat, baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun yang terdapat dalam kitab-kitab hadits (al-Hadits). Dalil-dalil yang terdapat dalam kedua sumber hukum Islam itu disebut dalil-dalil naqli, sedangkan dalil-dalil yang lahir dari ijtihad manusia dinamakan dalil aqli.25
Berikut ini, sebagai contoh, disebutkan beberapa dalil naqli
dan keutamaan zakat yang terdapat di dalam al-Qur’an, yaitu: 1) Perintah menunaikan. (Q.s. Al Baqarah : 43, 83, 110, 177).26
☺ ⌧ ⌧ 24
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 42
25
Ibid, h. 42
26
Sukmadjaja Asyarie dan Rosy Yusuf, Indeks Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka, 2000), h. 249.
Artinya : Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku. (Q.s. Al Baqarah : 43)
☺
☺
⌧
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Q.s. Al Baqarah : 83)
☺ ☺
Artinya : Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Q.s. Al Baqarah : 110)
☺ ☺ ⌧ ☺ ☺ ☺ ☺ ☺
☺
Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Q.s. Al Baqarah : 177)
2) Orang yang menunaikan – mendapat pahala dari Tuhan. (Q.s. Al Baqarah : 277; An Nisaa : 162; Al A’raaf : 156; At Taubah : 71).27
☺
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala disisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.s. Al Baqarah : 277)
☺
☺
27
Sukmadjaja Asyarie dan Rosy Yusuf, Indeks Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka, 2000), h. 249.
Artinya : Tetapi orang-orang yang mendalami ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (Q.s. An Nisaa : 162)
⌧
⌧ ☺
⌧
Artinya : Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat, sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan “Siksa-Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat Kami.“ (Q.s. Al A’raaf : 156) ☺ ☺ ☺ ☺ ☺ ⌧ ⌧
Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari
yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.s. At Taubah : 71)
3) Orang yang berhak menerima (Q.s. At Taubah : 60).28
☺
☺ ☺
⌧ ⌧ ☺
Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang-orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang untuk dijalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang
28
Sukmadjaja Asyarie dan Rosy Yusuf, Indeks Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka, 2000), h. 249.
diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.s. At Taubah : 60)
4) Keharusan ada pemungut (Q.s. At Taubah : 103).29
⌦ ☺
Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.s. At Taubah : 103)
5) Bani Israil diperintah (Q.s. Al Maaidah : 12).30
⌧
☺
29
Sukmadjaja Asyarie dan Rosy Yusuf, Indeks Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka, 2000), h. 249.
30
Sukmadjaja Asyarie dan Rosy Yusuf, Indeks Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka, 2000), h. 249.
☺
☺ ⌧
Artinya : Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa kafir diantaramu sesuadah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (Q.s. Al Maaidah : 12)
Di samping yang terdapat di dalam al-Qur’an itu, dapat juga dimajukan beberapa dalil naqli yang terdapat di dalam kitab-kitab hadits, yakni (antara lain):31
1) Orang kaya yang bersyukur, lebih baik dari orang miskin yang kufur;
2) Kemiskinan membawa orang kepada kekufuran yaitu sikap mengingkari dan lupa pada kebenaran;
3) Menolong janda miskin sama (nilainya) dengan melakukan jihad di jalan Allah; ...
4) Senyum (yang kau berikan) pada saudaramu, menganjurkan berbuat baik dan mencegah melakukan kejahatan, menujukkan jalan bagi orang yang sesat, menghilangkan gangguan duri dari jalan, menuangkan air yang ada dalam embermu ke ember saudaramu, menuntun orang yang lemah, adalah sedekah;
5) Sewaktu mengutus Mu’az bin Jabal ke Yaman, antara lain Nabi Muhammad bersabda: “Allah mewajibkan mereka (orang Yaman itu) menzakati harta kekayaan mereka. Zakat itu diambil dari orang-orang kaya dan dibagi-bagikan kepada fakir-miskin;
6) Ketika seorang menanyakan pendapat Muhammad mengenai cara membelanjakan hartanya, Nabi menjawab: keluarkan zakat
31
Mohammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf (Jakarta: Universitas Indonesia, 1988), h. 43.
dari hartamu itu, sebab zakat adalah suci dan akan menyucikan kamu. Dengan zakat kamu akan dapat menyambung tali silahturahmi dengan kerabat, tetangga, peminta-minta, dan menghormati hak orang-orang miskin;
7) Barangsiapa yang diberi Allah kekayaan, tetapi tidak menunaikan zakatnya, pada hari kiamat kekayaannya itu akan menjadi ular berbisa yang akan melilit tubuhnya, sambil berkata: Akulah kekayaanmu dan akulah harta bendamu.