3. METODOLOGI
3.4 Analisis Data
3.4.4 Zonasi pemanfaatan kawasan Teluk Banten
Kawasan Teluk Banten dimanfaatkan oleh kegiatan perikanan budidaya, pariwisata bahari dan perikanan tangkap. Zona perikanan budidaya dan pariwisata bahari dipetakan pada kawasan Teluk Banten berdasarkan kajian pustaka yang berupa hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, disertai dengan pengamatan langsung di lapangan.
3.4.4.2 Zonasi perikanan tangkap
Zona pemanfaatan perikanan tangkap dibuat melalui tahapan (1) menentukan musim dan daerah penangkapan, (2) menentukan indikator dan kriteria zonasi perikanan tangkap, (3) menyusun zonasi kawasan perikanan tangkap.
Musim penangkapan dianalisis dengan menghitung indeks musim penangkapan dan kajian pustaka serta wawancara dengan nelayan. Informasi mengenai pola musim penangkapan digunakan untuk menentukan waktu operasi penangkapan ikan agar memperkecil resiko kerugian. Perhitungan pola musim penangkapan digunakan data hasil tangkapan tiap jenis ikan setiap bulan. Data produksi yang diperoleh dari lapangan memiliki peluang yang tidak sama benar dengan distribusi normal, maka digunakan metode rata-rata bergerak sehingga diperoleh data yang mendekati ideal.
Pola musim penangkapan diperoleh dengan menggunakan model dekomposisi multiplikatif (Gaspersz 1992):
Et Ct Tt It Yt * * * (3-12) Keterangan:
Yt = Banyaknya produksi ikan tiap spesies pada bulan ke-t (periode ke-t) It = Pengaruh komponen musiman terhadap produksi ikan tiap spesies
pada periode ke-t
Tt = Pengaruh komponen trend terhadap produksi ikan tiap spesies pada periode ke-t
Ct = Pengaruh komponen siklik terhadap produksi ikan tiap spesies pada periode ke-t
Et = Pengaruh galat yang timbul pada periode ke-t
Tahap-tahap analisis adalah sebagai berikut:
1) Menentukan nilai rata-rata bergerak (moving average) selama 12 bulan (Mt) untuk memperoleh pengaruh trend dan siklik:
Ct Tt Mt * (3-13) Keterangan: 12 12 .... 2 1 Y Y Y Mt
2) Pengaruh musiman, diperoleh dengan cara membagi data aktual produksi ikan tiap spesies (Yt) dengan nilai rata-rata bergerak (Mt):
Et It Mt Yt * (3-14) 3) Penghilangan pengaruh galat melalui merata-ratakan nilai pada bulan yang sama. Dekomposisi nilai rasio data aktual terhadap rata-rata bergerak menggunakan suatu pendekatan metode rata-rata medial. Rata-rata medial adalah nilai rata-rata dari setiap bulan setelah nilai terbesar dan terkecil dari angka-angka tersebut dikeluarkan (tidak diperhitungkan). Indeks musim diperoleh dengan menggandakan nilai rata-rata medial dengan faktor koreksi (k). Nilai k diperoleh dari 1.200 dibagi dengan nilai total rata-rata medial, hal ini agar total indeks musim selama setahun adalah 1.200 atau rata-rata sama dengan 100.
Penentuan pola musim penangkapan dengan metode rata-rata bergerak
(moving average) mempunyai keuntungan yaitu dapat mengisolasi fluktuasi
musiman sehingga dapat menentukan saat yang tepat untuk melakukan penangkapan ikan. Keuntungan yang lain adalah dapat menghilangkan kecenderungan yang biasa dijumpai pada deret waktu (time series).
73
Penentuan musim penangkapan dibedakan berdasarkan musim puncak, sedang dan paceklik. Musim puncak diindikasikan dengan nilai indeks musim penangkapan di atas 100, musim sedang 50-100, dan musim paceklik < 50.
Analisis terhadap daerah penangkapan ikan dilakukan berdasarkan data letak lokasi penangkapan ikan oleh nelayan dan data penunjang berupa data sekunder kondisi oseanografi perairan hasil penelitian sebelumnya dan citra satelit. Informasi daerah penangkapan ikan dari nelayan diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan alat bantu peta perairan Laut Jawa, Teluk Banten dan Kepulauan Seribu yang telah diberi grid. Nelayan suatu jenis alat tangkap diminta untuk menunjukkan daerah operasi penangkapannya pada setiap bulannya dan menentukan hasil tangkapan utamanya. Untuk mempertajam informasi yang diperoleh dari nelayan kemudian dilakukan analisis kondisi lingkungan perairan. Data oseanografi dan meteorologi yang diperoleh dari instansi terkait diolah untuk menjawab korelasi yang terjadi antara keberadaan ikan dan lingkungannya.
Model penentuan fishing ground juga dilakukan dengan data MODIS yang menggunakan dua parameter yaitu parameter suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a. Untuk mengetahui dinamic features sebaran SPL dan klorofil-a permukaan yang menggambarkan berlangsungnya berbagai proses oseanografi seperti pola arus dan kesuburan perairan (yang direpresentasikan dengan tingkat produktivitas berupa kelimpahan klorofil-a/fitoplankton) dilakukan dengan analisis digital dan visual citra sensor AVHRR dan MODIS.
Citra satelit dari data sensor thermal satelit NOAA-AVHRR (National
Oceanic and Atmospheric Administration – Advanced Very High Resolution
Radiometer), selain dapat digunakan untuk mengamati SPL, sekaligus dari citra
dapat diamati pola arus permukaan dengan melihat kecenderungan pergerakan massa air yang tergambar pada pola sebaran SPL. Data sensor visible dari sensor MODIS (Moderate-resolution Imaging Spectroradiometer) dapat digunakan untuk mengetahui sebaran dan konsentrasi klorofil-a (produktifitas primer) yang menggambarkan kesuburan perairan.
Sumber data yang diolah untuk menghasilkan citra SPL merupakan data format GAC (Global Area Coverage) sensor AVHRR yang di-download dari sumber data NOAA (NASA) untuk melengkapi data bulanan yang tidak ter-cover
data LAC (Local Area Coverage). Data yang digunakan merupakan data time series periode 2007-2008 dalam format citra komposit (data download). Data
yang digunakan telah diolah dengan analisa split windows dengan pemrosesan citra kanal 4 dan 5 menggunakan algoritma Mc.Millin & Crosby: SPL=T4+2,702 (T4-T5)-0,582.
Citra klorofil-a merupakan data sensor visible MODIS (Moderate-
resolution Imaging Spectroradiometer) periode Januari 2007–Desember 2008
(citra komposit bulanan) dalam format GAC (Global Area Coverage) yang kemudian dibatasi pada daerah pengamatan dengan batasan geografis 5°53’07”-
6°01’49” LS dan 106°04’30”-106°16’39” BT. Data ini bersumber dari
website:http://gsfc.nasa.gov/. Untuk memudahkan pengamatan pola sebaran klorofil-a, maka nilai digital klorofil-a pada citra diolah tersendiri dan bisa di-
overlay pada citra, sehingga dapat menampilkan kontur nilai sebaran klorofil-a. Fitoplankton (klorofil-a) perairan merupakan salah satu komponen biologi laut yang penting terutama untuk memetakan potensi sumber daya hayati laut. Hal ini didukung oleh kondisi bahwa cahaya di perairan Indonesia cukup banyak sepanjang tahun, sehingga apabila terjadi sedikit kenaikan atau penurunan kandungan klorofil perairan maka ini adalah diakibatkan oleh proses oseanografi termasuk adanya perubahan kontribusi jumlah kandungan zat makanan dari daratan. Sedangkan populasi plankton dapat berubah dari tahun ke tahun, terkait dengan perubakan iklim musiman dan tahunan.
Adapun kondisi perairan dan dampak lingkungan dianalisis berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah ada dilengkapi dengan data citra terkini. Seluruh analisis selanjutnya dipetakan untuk masing-masing pemanfaatan kawasan sehingga terlihat kesesuaiannya ataukah terjadi tumpah tindih pemanfaatan, dengan menggunakan metode GIS. Tahapan yang dilakukan dalam metode GIS adalah pengumpulan data dengan melakukan verifikasi di lapangan, pengambilan data posisi setiap aktifitas yang ada di kawasan Teluk Banten, penentuan kriteria, digitasi, dan penyusunan zona. Kesesuaian pemanfaatan kawasan dikaji berdasarkan rencana tata ruang kawasan perairan Teluk Banten yang dibuat Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota Serang.
3.4.4.3 Pemetaan potensi konflik
Pemetaan potensi konflik dilakukan dengan melakukan pengamatan di lapangan dan wawacara dengan pengguna kawasan teluk, yang selanjutnya dipetakan dalam bentuk matriks.
75