Uji Efektifitas Jamur Antagonis Trichoderma sp. Dan Gliocladium sp. Untuk Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium

52  88  Download (4)

Teks penuh

(1)

UJI EFEKTIFITAS JAMUR ANTAGONIS Trichoderma SP. DAN Gliocladium SP. UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM (Fusarium oxysporum F.SP capsici)

PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.) DI RUMAH KASA

SKRIPSI

OLEH :

RIMA YUNISA NASUTION 100301236

AGROEKOTEKNOLOGI/ HPT

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(2)

MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM (Fusarium oxysporum F.SP capsici) PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.) DI RUMAH KASA

SKRIPSI

OLEH :

RIMA YUNISA NASUTION 100301236

AGROEKOTEKNOLOGI/ HPT

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Pertanian di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan.

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2015

(3)

(Fusarium oxysporum f.sp capsici) Pada Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) Di Rumah Kassa

Nama : Rima Yunisa Nasution

NIM : 100301236

Program Studi : Agroekoteknologi

Minat Studi : Hama dan Penyakit Tumbuhan

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing

Ketua Pembimbing Anggota Pembimbing

(Ir. Lahmuddin Lubis, M.P) (Dr. Ir. Hasanuddin, M.S) NIP : 195511211981031002 NIP : 195808081984031003

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2015

(4)

Rima Yunisa Nasution. 2014. Effectiveness test on antagonist fungi Trichoderma sp. and Gliocladium Sp. to control fusarium disease (Fusarium oxysporum F.sp capsici) for chilli crop (Capsicum Annuum L.) at screen house. Supervised by Lahmuddin Lubis and Hassanuddin. The goal of the research is to examine antagonist fungi Trichoderma and Gliocladium virens towards F. Oxysporum that lead the fusarium disease for chilli crop at screen house. The research was conducted at Plant Disease Laboratory, Agroecoteknology Program Study, Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara, Medan from July to November 2014. It was done by using Completely Randomized design (CRD) non factorial with ten treatments and three replications. The result showed all fungi that have used for (Trichoderma virdae, Trichoderma koningii, Trichoderma harzianum dan Gliocladium virens.) have a potential as biological agents to control fusarium for chilli crop. The best result obtained on T. koningii with disease severity 7.21% for chilli crop at screen house. T. harzianum also improve plant growth with height 59.7 cm.

Key words: Chilli, Fusarium oxysporum, Trichoderma sp, Gliocladium sp

(5)

Rima Yunisa Nasution. 2014. Uji Efektifitas Jamur Antagonis Trichoderma sp. dan

Gliocladium Sp. Untuk Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum F.sp capsici) pada Tanaman Cabai (Capsicum Annuum L.) Di

Rumah Kassa, di bawah bimbingan Lahmuddin Lubis dan Hassanuddin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya antagonisme beberapa jamur Trichoderma dan Gliocladium virens terhadap F. oxysporum penyebab penyakit layu pada tanaman cabai di Rumah Kasa. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di Rumah Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan mulai bulan Juli sampai November 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan sepuluh perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan semua jamur yang digunakan (Trichoderma virdae, Trichoderma koningii, Trichodherma harzianum dan Gliocladium virens.) berpotensi sebagai agens hayati untuk mengendalikan layu fusarium pada cabai. Hasil terbaik didapat pada T. koningii dengan keparahan penyakit sebesar 7,21 % pada tanaman cabai di rumah kassa. T. harzianum juga mampu membantu pertumbuhaan tanaman dengan tinggi tanaman tertinggi 59,7 cm

(6)

RIWAYAT HIDUP

Rima Yunisa Nasution, dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 12 Juni 1992 dari pasangan Ayah Dipo Hamulian Nasution dan Ibu Sri Wardiyastuti. Penulis

merupakan putri kedua dari tiga bersaudara.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh :

- Lulusan dari Sekolah Dasar Negeri 060812 Medan pada tahun 2004.

- Lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 34 Medan, pada tahun 2007.

- Lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 13 Medan, pada tahun 2010.

- Tahun 2010 diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan,

Program Studi Agroekoteknologi melalui jalur SNMPTN.

Pendidikan informal yang pernah di tempuh di antaranya :

- Tahun 2013 menjadi asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman di

Fakultas Pertanian USU, Medan.

- Tahun 2013 menjadi asisten Laboratorium Mikrobiologi Pertanian di Fakultas

Pertanian USU, Medan.

- Tahun 2014 menjadi asisten Laboratorium Pestisida dan Teknik Aplikasi di Fakultas

Pertanian USU, Medan.

- Tahun 2014 menjadi asisten Laboratorium Pengendalian Hama Terpadu di Fakultas

Pertanian USU, Medan.

- Tahun 2011 peserta Seminar” Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit

(7)

- Tahun 2013 peserta Seminar dan Workshop Hidroponik ”Alternatif Wirausaha

Pertanian Modern” di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

- Tahun 2013 peserta lomba Plant Protection Day 2013 di Universitas Padjadjaran.

- Tahun 2013 melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di

PTPN III, Kec. Aek Nabara Utara, Kab. Asahan, Sumatera Utara.

- Tahun 2014 melaksanakan penelitian di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Program

Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan Rumah

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas

berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan

sebaik-baiknya.

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Uji Efektifitas Jamur Antagonis Trichoderma spp. Dan Gliocladium sp. Untuk Mengendalikan Penyakit Layu

Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp capsici) Pada Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) Di Rumah Kassa” merupakan salah satu syarat untuk

memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian,

Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada

Ir. Lahmuddin Lubis, M.P selaku ketua komisi pembimbing dan Dr. Ir. Hasanuddin,

M.S selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan

kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi

kesempurnaan proposal ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini

bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Maret 2015

(9)

DAFTAR ISI

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ... 7

(10)

Penanaman ... 15

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Halaman

1 F. oxysporium f.sp capsici (A) Mikrokonidia, (B)

Klamidiospora, dan (C) Makrokonidia (1000x) ... 5 2 Gejala serangan F. oxysporium (A) daun layu , (B) akar

busuk ... 6 3 Hubungan antara daerah hambatan dengan pengaruh inokulasi

F. oxysporium dan jamur Trichoderma sp. Dan

Gliocladium virens...……… 22 4 Pengujian inhibiting zone (A) T6, (B) T7, (C) T8, (D) T9 ... 24 5 Hubungan antara tinggi tanaman dengan pengaruh inokulasi

F. oxysporium dan jamur Trichoderma sp. Dan

Gliocladium virens...……… 25 6 Hubungan antara panjang akar (cm), berat basah (g), berat

kering (g) dengan pengaruh inokulasi F. oxysporium dan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens...…..………

(12)

DAFTAR TABEL

No. Gambar Halaman 1. Hasil identifikasi jamur endofit asal cabai ……….. 24

2. Daerah hambatan pemberian jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens terhadap F. oxysporum (%) ………..……... 22 3 Pengaruh inokulasi F. oxysporum f.sp. capsici dengan jamur

Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens terhadap tinggi

tanaman (cm) ………... 25

4

Pengaruh inokulasi F. oxysporum dengan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens terhadap panjang akar (cm), berat akar

basah dan berat kering (g) ... 27 5 Pengaruh F. oxysporum dengan jamur Trichoderma sp. Dan

Gliocladium virens terhadap kejadian dan keparahan penyakit

(13)

Rima Yunisa Nasution. 2014. Effectiveness test on antagonist fungi Trichoderma sp. and Gliocladium Sp. to control fusarium disease (Fusarium oxysporum F.sp capsici) for chilli crop (Capsicum Annuum L.) at screen house. Supervised by Lahmuddin Lubis and Hassanuddin. The goal of the research is to examine antagonist fungi Trichoderma and Gliocladium virens towards F. Oxysporum that lead the fusarium disease for chilli crop at screen house. The research was conducted at Plant Disease Laboratory, Agroecoteknology Program Study, Faculty of Agriculture, University of Sumatera Utara, Medan from July to November 2014. It was done by using Completely Randomized design (CRD) non factorial with ten treatments and three replications. The result showed all fungi that have used for (Trichoderma virdae, Trichoderma koningii, Trichoderma harzianum dan Gliocladium virens.) have a potential as biological agents to control fusarium for chilli crop. The best result obtained on T. koningii with disease severity 7.21% for chilli crop at screen house. T. harzianum also improve plant growth with height 59.7 cm.

Key words: Chilli, Fusarium oxysporum, Trichoderma sp, Gliocladium sp

(14)

Rima Yunisa Nasution. 2014. Uji Efektifitas Jamur Antagonis Trichoderma sp. dan

Gliocladium Sp. Untuk Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum F.sp capsici) pada Tanaman Cabai (Capsicum Annuum L.) Di

Rumah Kassa, di bawah bimbingan Lahmuddin Lubis dan Hassanuddin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya antagonisme beberapa jamur Trichoderma dan Gliocladium virens terhadap F. oxysporum penyebab penyakit layu pada tanaman cabai di Rumah Kasa. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di Rumah Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan mulai bulan Juli sampai November 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan sepuluh perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan semua jamur yang digunakan (Trichoderma virdae, Trichoderma koningii, Trichodherma harzianum dan Gliocladium virens.) berpotensi sebagai agens hayati untuk mengendalikan layu fusarium pada cabai. Hasil terbaik didapat pada T. koningii dengan keparahan penyakit sebesar 7,21 % pada tanaman cabai di rumah kassa. T. harzianum juga mampu membantu pertumbuhaan tanaman dengan tinggi tanaman tertinggi 59,7 cm

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Cabai merah adalah salah satu komoditas sayuran penting yang banyak

diusahakan oleh petani di dataran rendah, dalam arti luas tanam dan nilai produksinya.

Luas pertanaman cabai merah di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat dan

berkembang ke dataran tinggi sampai pada ketinggian 1400 m di atas permukaan air

laut (Sumarna, 1998).

Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terung-terungan (Solanaceae). Keluarga ini diduga memiliki sekitar 90 genus dan sekitar 2.000 spesies yang terdiri dari

tumbuhan herba, semak, dan tumbuhan kerdil lainnya. Dari banyaknya spesies tersebut,

hampir dapat dikatakan sebagian besar merupakan tumbuhan negeri tropis. Namun yang

dapat dimanfaatkan hanya beberapa spesies saja. Di antaranya adalah kentang (Solanum tuberosum), cabai (Capsicum annuum), dan tembakau (Nicotiana tabacum) (Sinaga, 2009).

Cabai merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai nilai ekonomis

tinggi. Buah cabai selain dapat dikonsumsi segar untuk campuran bumbu

masak/rempah, juga dapat diawetkan misalnya untuk acar, saus dan tepung cabai dan

buah kering. Diantara jenis-jenis cabai yang banyak dibudidayakan di dataran rendah

adalah cabai besar (cabai merah), cabai keriting dan cabai kecil seperti cabai rawit

(Sutarya et al., 1995).

(16)

lama. Patogen ini, umumnya menginfeksi pada bagian akar atau pangkal batang

tanaman. Gejala layu Fusarium tampak pada bagian atas tanaman. Penyakit tular tanah umumnya, sulit dikendalikan karena memiliki kisaran inang yang luas dan dapat

bertahan hidup dalam tanah dengan waktu yang lama, serta gejala awal sulit

diidentifikasi, akibatnya penyakit sering dapat diketahui ketika serangan sudah lanjut

(Djaenuddin, 2011).

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini, tetapi belum

memberikan harapan dan hasil yang memuaskan. Pengendalian hayati patogen

tular-tanah merupakan pilihan yang perlu dikembangkan, sebab relatif murah dan mudah

dilakukan, serta bersifat ramah lingkungan. Penggunaan agensia pengendali hayati yang

berasal dari bakteri antagonis telah banyak dilaporkan

(Soesanto dan Rahayuniati, 2009).

Asas pengendalian biologis sudah dipakai sejak tahun 1970-an terhadap jamur

akar putih (Rigidoporus microporus) pada karet. Usaha ini ditingkatkan lagi pada tahun 1980-an dengan pemberian belerang untuk membantu berkembangnya Trichoderdma sp. Dalam tanah yang mempunyai daya antagonistik terhadap jamur akar putih . Untuk

menjamin adanya antagonis yang efektif dalam tanah, sejak beberapa tahun yang lalu

tersedia campuran “Sako-P” yang mengandung T. koningii untuk menginokulasi tanah (jamur diproduksi oleh Pusat Penelitian Karet Sungei Putih). Dewasa ini di banyak

Negara diketahui bahwa Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dapat dipakai untuk mengendalikan macam-macam penyakit bawaan tanah (Semangun, 1996).

Beberapa tahun belakangan ini telah dicoba pengendalian dengan memanfaatkan

mikroorganisme antagonis. Diantara jamur antagonis yang umun digunakan adalah

(17)

miselium jamur Rhizoctonia dan Sclerotium, serta menghambat pertumbuhan banyak jamur seperti Phytium, Fusarium dan mengurangi penyakit yang disebabkan oleh sebagian patogen tersebut (Agrios, 1996).

Berdasarkan hal diatas maka perlu dilakukan percobaan menggunakan berbagai

jamur antagonis Trichoderma sp. dan juga Gliocladium sp. untuk mengendalikan patogen Fusarium oxysporum f.sp capsici untuk mengurangi pengendalian yang selama ini masih menggunakan pengendalian secara kimiawi.

Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya antagonisme beberapa jamur

Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dalam mengendalikan F. oxysporum f.sp. capsici penyebab penyakit layu pada tanaman cabai terhadap

pertumbuhannya di rumah kasa.

Hipotesis penelitian

Diduga adanya pengaruh berbagai spesies Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. untuk mengendalikan Fusarium oxysporum f.sp capsici di lapangan.

Kegunaan penelitian

1. Sebagai sumbangsih pengetahuan bagi para petani untuk menggunakan

Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. Untuk mengendalikan layu Fusarium pada tanaman cabai.

(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Patogen penyebab penyakit Biologi patogen

Menurut Agrios (1996), penyakit layu Fusarium dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Fungi

Divisio : Ascomycota

Kelas : Sordariomycetes

Ordo : Hypocreales

Famili : Nectriaceae

Genus : Fusarium

Spesies : Fusarium oxysporum f.sp. capsici

Fusarium memiliki konidiofor yang bercabang maupun tidak, mikrokonidia bersepta 0 hingga 2, terbentuk lateral pada fialid yang sederhana, atau terbentuk pada

fialid yang terdapat pada konidiofor bercabang pendek, umumnya terdapat dalam

jumlah banyak sekali, terdiri dari aneka bentuk dan ukuran, berbentuk ovoid–elips

sampai silindris, lurus atau sedikit membengkok, dan berukuran (5,0-12,0) x (2,2-3,5)

nm. Makrokonidia jarang terdapat pada beberapa strain, terbentuk pada fialid yang

terdapat pada konidiofor bercabang atau dalam sporodokhia, bersepta 3-5, berbentuk

fusiform, sedikit membengkok, meruncing pada kedua ujungnya dengan sel kaki

berbentuk pediselata, umumnya bersepta 3. Klamidiospora terdapat dalam hifa atau

(19)

dengan diameter 5,0-15 nm, terletak terminal atau interkalar, dan berpasangan atau

tunggal (Gandjar et al, 1999 dalam Indrawan, 2008) (Gambar 1).

Gambar 1. F. oxysporium f.sp. capsici. a. Konidiofor, b. Makrokonidia, c. Klamidospora, d. Mikrokonidia

Sumber: Sinaga (2009).

Fusarium oxysporum f.sp. capsici menghasilkan 3 jenis spora. Mikrokonidia tidak berwarna, bersel tunggal, berbentuk bulat dengan panjang 6-15 μm dan

berdiameter 3 5 μm. Makrokonidia berbentuk bulan sabit, tidak berwarna, mempunyai

3-5 sekat, masing-masing panjangnya 30-50 μm dan berdiameter 2-5 μm.

Klamidiospora halus, berbentuk bola, bersel tunggal yang menghasilkan miselium yang

tua dan rata-rata berdiameter 10 μm (Lucas et al, 1985 dalam Sinaga, 2011).

Jamur membentuk miselium bersekat dan dapat tumbuh dengan baik pada

bermacam-macam media-agar yang mengandung ekstrak sayuran. Mula-mula miselium

tidak berwarna, semakin tua warna menjadi krem, akhirnya koloni tampak mempunyai

benang-benang berwarna oker. Pada miselium yang lebih tua terbentuk klamidospora

yang berdinding tebal. Jamur membentuk banyak mikrokonidium bersel 1, tidak

berwarna, lonjong atau bulat telur, 6-15 x 2,5-4 μm (Semangun, 1996).

(20)

Pada cabai terdapat penyakit layu disebabkan oleh jamur

Fusarium oxysporum Schlecht. Yang mana tulang-tulang daun yang halus menguning, dimulai daun yang tua. Jamur berada didalam pembuluh kayu dan menyebabkan

jaringan ini berwarna cokelat. Berbeda dengan pada layu bakteri, disini batang tidak

mengeluarkan lender bila dipotong. Selain itu pada layu bakteri sering terjadi

pembusukan pada empelur (Semangun, 2004) (Gambar 2).

Gambar 2. Gejala serangan F. oxysporum (A) daun layu, (B) akar busuk

Gejala penyakit yang diamati adalah gejala penyakit yang umum disebabkan

oleh cendawan patogen F. solani dan F. oxysporum, antara lain meliputi rebah semai, busuk akar dan pangkal batang, layu Fusarium. Gejala penyakit internal berupa perubahan warna coklat atau nekrosis juga diamati dengan cara memotong pengkal

batang tanaman uji tersebut ( Istikorini, 2005).

Gejala penyakit layu Fusarium diawali dengan menguningnya daun, terutama permukaan bawah daun, kemudian berlanjut pada daun yang lebih muda di atasnya, dan

akhirnya seluruh tanaman layu. Gejala layu Fusarium terlihat pada tepi daun bawah berwarna kuning tua, kemudian coklat dan mengering. Gejala yang paling khas adalah

(21)

menuju ke semua arah, dari batang ke atas melalui jaringan pembuluh ke pangkal daun

dan tangkai (Soesanto dan Rahayuanita, 2009).

Daur Hidup

F. oxysporum mempunyai daerah penyebaran yang luas, dapat bertahan pada tanah selama lebih dari 17 tahun dan pada air lebih dari 7 tahun. Kisaran pH pada

medium untuk pertumbuhan Fusarium, yaitu 2,2–9,0, dengan pH optimum 7,7 (Musa et al., 2005).

F. oxysporum dapat bertahan lama dalam tanah dalam bentuk klamidospora. Jamur ini adalah jamur tanah, atau yang lazim disebut sebagai soil inhabitant. Tanah yang sudah terinfestasi sukar dibebaskan kembali dari jamur ini. Tanpa adanya

tumbuhan inang, jamur dapat bertahan dalam tanah lebih dari 10 tahun. Jamur

mengadakan infeksinya pada akar, terutama melalui luka-luka, atau melalui luka pada

akar yang terjadi akibat munculnya akar lateral (Semangun, 1996).

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit

Penyakit layu Fusarium berkembang pada suhu tanah 21-33oC, dengan suhu optimum 28oC. Sedangkan kelembapan tanah yang membantu tanaman, ternyata juga

membantu perkembangan penyakit. Seperti kebanyakan Fusarium, penyebab penyakit ini dapat hidup pada pH tanah yang luas variasinyana (Semangun, 1996).

Pada suhu yang tinggi yaitu 370C umumnya tanaman lebih stres dan lebih rentan

terhadap F. oxysporum f.sp. capsici. Walaupun sulit untuk mengatakan bahwa perubahan iklim yaitu peningkatan suhu merupakan satu-satunya penyebab peningkatan

(22)

Karena tanah yang terinfeksi susah dibebaskan dari Fusarium, usaha higienis sangat penting. Alat pertanian yang habis dipakai dilahan yang terinfestasi dapat

diinfestasi dengan formalin 5%. Harus diusahakan agar tidak menanam bibit (beserta

tanah) dari persemaian yang terinfestasi. Tidak menanam benih (biji) yang diambil dari

buah tanaman sakit (Semangun, 1996).

Cara pengendalian penyakit layu Fusarium adalah dengan penanaman jenis tanaman yang tahan. Beberapa usaha untuk mengendalikan penyakit dengan fungisida

tidak memberikan hasil yang memuaskan. Tetapi diberitakan bahwa pencelupan akar

benomyl 1.000 ppm memberikan hasil yang baik. Usaha untuk mengendalikan penyakit

dengan meningkatkan suhu tanah dengan mulsa plastik memberikan banyak harapan,

namun masih memerlukan banyak penelitian untuk dapat dianjurkan dalam praktek

(Semangun, 2000).

Pengendalian secara biologis juga dapat dilakukan dengan pathogen yang tidak

virulen dari jenis yang sama sebagai pesaing. Di Jepang penyakit layu Fusarium pada ubi jalar dan stroberi (F. oxysporum) dikendalikan dengan jamur F. oxysporum nonpatogenik. Busuk akar pada bit gula karena Rhizoctonia solani dikendalikan dengan jamur R. solani nonpatogenik dan yang berinti dua (binucleate) (Semangun, 1996). Trichoderma dan Gliocladium

Trichoderma harzianum menghasilkan beberapa antibiotik, di antaranya antibiotik peptaibol yang bekerja secara sinergis dengan enzim ß (1,3) glukanase, senyawa 3-(2-hidroksipropil)-4-(2-heksadienil)-2(5H) furanon yang membantu proses

penghambatan terhadap F. oxysporum dan senyawa alkil piron (6-n-pentil-2H- piran-2-on atau 6PP) yang bersifat fungistasis dan mampu mengubah penyebaran biomassa

(23)

alanin, leusin dan valin serta dua senyawa ninhidrin positif lainnya yang dihasilkan T. harzianum secara in vitro juga dapat menurunkan patogenitas cendawan patogen (Mukarlina, 2010).

Jamur Gliocladium sp. memarasit inangnya dengan cara menutupi atau membungkus patogen, memproduksi enzim-enzim dan menghancurkan dinding sel

patogen hingga patogen mati. Di samping itu, Gliocladium sp. dapat hidup baik sebagai saprofit maupun parasit pada cendawan lain, dapat berkompetisi akan makanan, dapat

menghasilkan zat penghambat dan bersifat hiperparasit Sedangkan jamur Trichoderma sp. memiliki mekanisme yaitu kompetisi terhadap ruang dan makanan yang mampu

menekan perkembangan patogen pada tanah dan jaringan tanaman, serta mengumpulkan

nutrisi organik, menginduksi ketahanan dan inaktivasi enzim patogen. Trichoderma sp. dapat menekan pertumbuhan patogen dengan cara melilit hifa patogen, mengeluarkan

enzim β-1,3 glukonase dan kitinase yang dapat menembus dinding sel inang (Agustina,

2013).

Keberadaan agen antagonis selain mampu menekan perkembangan penyakit

juga dapat menyediakan ketersediaan hara bagi tanaman sehingga pertumbuhan kedua

sifat tanaman tersebut dapat berlangsung dengan normal. Agen antagonis dapat

melakukan proses dekomposisi bahan organik yang berasal dari sekam padi dan pupuk

kandang yangdigunakan sebagai media tanam. Dalam proses dekomposisi tersebut agen

antagonis baik Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp. akan mengubah unsur yang ada dalam bentuk larut sehingga bisadiserap oleh tanaman (Hartal et al, 2010).

Mikroorganisme yang diisolasi daerah rhizosfer mempunyai daya hambat yang

(24)

pada uji antagonisme ini adalah antibiosis. Hal ini dapat diketahui dengan terbentuknya

zone penghambatan di sekitar koloni jamur antagonis (Soenartiningsih dan Djaenuddin,

2011).

Potensi jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. sebagai jamur antagonis yang bersifat preventif terhadap serangan penyakit tanaman telah menjadikan jamur

tersebut semakin luas digunakan oleh petani dalam usaha pengendalian Organisme

(25)

BAHAN DAN METODE

Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di Rumah

Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat

+ 25 m dpl pada Bulan Mei 2014 hingga Oktober 2014.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan adalah bibit tanaman cabai yang sehat, tanaman

cabai yang terserang layu Fusarium oxysporum f.sp capsici, Trichoderma sp., Gliocladium sp., kompos, tanah, polibek, alkohol 96%, kloroks 5%, kapas, spirtus, cling wrap, aquades, media Potato Dexstrose Agar (PDA) , Media Water agar (WA), media jagung, kertas stensil, aluminium foil, methyl blue, dan label nama.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikroskop compound, micropipet, spatula, cawan petri, pipet tetes, pinset, tabung reaksi, inkubator, timbangan analitik, Haemocytometer, erlenmeyer, bunsen, oven, beaker glass, objek glass, autoclave, bunsen, laminar air flow, coke borer, kulkas, jarum ose, gunting, pisau, handsprayer, kamera, cangkul, gembor dan alat tulis.

Metode penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial

dengan perlakuan sebagai berikut:

T0 : Kontrol (tanaman tanpa perlakuan)

(26)

T3 : Trichoderma koningii T4 : Trichoderma harzianum T5 : Gliocladium virens

T6 : Trichoderma viridae + Fusarium f.sp capsici T7 : Trichoderma koningii + Fusarium f.sp capsici T8 : Trichoderma harzianum + Fusarium f.sp capsici T9 : Gliocladium virens + Fusarium f.sp capsici

Jumlah ulangan yang diperoleh dengan rumus sebagai berikut :

t ( r-1) ≥ 15

10 (r-1) ≥ 15

10r - 10 ≥ 15

10 ≥ 25

r ≥ 2,5

r ≥ 3

Banyak ulangan adalah : 3

Jumlah perlakuan : 10 x 3 = 30

Model linier yang digunakan adalah :

Yij =

Dimana :

Yij = respon atau nilai pengamatan pada perlakuan ke-i

μ = efek nilai tengah

= efek dari perlakuan taraf ke-i

= efek error (Sastrosupadi, 2000).

(27)

Di Laboratorium

Isolasi jamur F. oxysporum f.sp. capsici

Sumber inokulum diperoleh dari tanaman cabai yang terserang

F. oxysporum f.sp. capsici yang didapat dari lahan petani cabai di Marelan kabupaten. Deli Serdang. Bagian yang terinfeksi seperti pangkal batang dibersihkan dengan air

steril, lalu dipotong-potong sebesar 0,5 cm. Setelah itu disterilkan dengan klorox 1 %

selama lebih kurang 3 menit dan dibilas 2-3 kali dengan air steril. Selanjutnya potongan

tersebut ditanam dalam media PDA dan diinkubasi pada suhu kamar selama 1 minggu.

Setelah 1 minggu miselium yang tumbuh dari jaringan terinfeksi dikulturkan kembali

pada medium baru sampai diperoleh isolat F. oxysporum f.sp. capsici yang murni. Spora tunggal diperoleh dengan mengencerkan suspensi jamur sampai 10-4.

Pada pengenceran 10-3 dan 10-4,masing-masing di plating 0,5 ml pada permukaan media Water Agar (WA) dan diinkubasi selama 20-24 jam pada suhu kamar. Spora yang

berkecambah diamati di mikroskop compound, ditandai dan spora langsung dipindahkan pada media PDA. Diinkubasi pada suhu ruang selama 7 hari. Biakan murni hasil spora

tunggal akan menjadi sumber inokulum yang digunakan pada penelitian ini.

Penyediaan agens antagonis

Jamur antagonis Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. diperoleh dari isolat tanah tanaman cabai yang sehat. Kemudian tanah disebar pada media PDA dan diinkubasi

selama 1 minggu. Pengamatan secara visual dilakukan terhadap jamur yang tumbuh.

Jamur yang memiliki ciri-ciri seperti jamur Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. yaitu berwarna hijau muda sampai hijau tua dipisahkan dan dibiakan pada media PDA yang

baru. Setelah didapat biakan murni selanjutnya dilakukan identifikasi dengan

(28)

Perbanyakan agens antagonis

Perbanyakan agens antagonis dilakukan dengan menggunakan media jagung.

Jagung dibersihkan dan dikukus dengan menggunakan dandang (1/2 matang) atau

selama 30 menit mulai dari keluar uap. Hamparkan jagung yang telah dikukus di atas

nampak/baki sampai dingin, kemudian masukkan masing-masing ke dalam kantong

plastik tahan panas sesuai dengan perlakuan. Setelah itu media disterilkan selama 30

menit. Biakan murni agens antagonis yang telah dikulturkan selama 1 minggu

diinokulasikan dengan menggunakan cork borer pada media jagung. Diaduk hingga rata kemudian diinkubasikan pada suhu kamar selama 10 – 15 hari. Setelah itu jamur siap

untuk di aplikasikan (Syahnen, 2006).

Di Rumah Kasa Persiapan Pembibitan

Persemaian dibuat pada polibeg dengan ukuran 8 x 9 cm dengan diisi tanah

hingga 90%. Sebelum benih disemaikan telah dilakukan perendaman terlebih dahulu

selama ± 72-98 jam sampai benih pecah dan melunak, benihyang mengapung dibuang.

Persiapan media tanam

Tanah top soil, pasir dan kompos yang akan digunakan (5:3:2) diayak terlebih

dahulu. Diletakkan pada tempat yang terlindung. Media campuran tersebut kemudian

disterilkan (sterilisasi uap panas) dengan cara memanaskannya (mengkukus) pada suhu

±105ºC, selama ± 30 menit. Media yang telah dipanaskan dikeluarkan dari kukusan lalu

dikering-anginkan di atas alas plastik di ruangan tertutup selama ±2 hari. Kemudian

tanah dimasukan ke polibeg (Siregar, 2011).

(29)

Penanaman benih yang telah disemaikan selama 2 minggu, dilakukan

penanaman ke dalam polibeg 1 minggu setelah aplikasi agens antagonis dengan

menanam bibit satu persatu ke dalam polibeg dengan tanah yang telah disterilkan.

Aplikasi Jamur F. oxysporum f.sp. capsici.

Inokulasi jamur F. oxysporum f.sp. capsici dilakukan dengan cara menyemprot suspensi F. oxysporum f.sp. capsici. di atas permukaan tanah sebanyak 20 ml saat tanaman cabai berumur 3 minggu setelah ditanam di polibek.

Aplikasi agens antagonis

Pengaplikasian agens antagonis dilakukan 1 minggu setelah inokulasi Fusarium oxysporum f.sp capsici. Aplikasi dilakukan dengan menaburkan substrat jagung sebagai media perbanyakan agens antagonis yang telah dibiakan selama 1 minggu sebelum

pengaplikasian sebanyak 20 g per polibek di daerah perakaran.

Pemeliharaan

Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Penyiangan gulma

dilakukan sekali seminggu.

Peubah amatan Di laboratorium

Persentase Penghambatan

Pengamatan dilakukan dengan mengukur persentase penghambatan yang

dihasilkan jamur endofit terhadap F. oxysporum f.sp. capsici. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh (Soenartiningsih et al., 2011), yaitu:

P =

(30)

P = persentasi zona penghambat pertumbuhan (%)

r1 = jari-jari koloni jamur antagonis yang tumbuh berlawanan arah kea rah patogen

r2 = jari-jari koloni patogen yang mendekati jamur antagonis (cm)

Keterangan :

P = Patogen

A = Agens antagonis

Pengamatan dilakukan sejak 1 hari setelah inokulasi sampai R1 atau R2 mencapai

maksimum.

Di Rumah Kasa Kejadian Penyakit

Pengamatan terhadap kejadian penyakit dilakukan setiap minggu setelah

inokulasi (msi) sampai dengan 5 msi yaitu dengan melihat gejala serangan secara visual.

Kejadian penyakit dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

KjP = a x 100% a + b

Keterangan:

KjP = Kejadian Penyakit Fusarium oxysporum

a = Jumlah tanaman yang terserang Fusarium oxysporium b = Jumlah tanaman sehat

(Abbott, 1925).

P

R2 R1

(31)

Keparahan Penyakit

Pengamatan keparahan penyakit F. oxysporum dilakukan pada akhir pengamatan saat tanaman berumur 5 msi. Tanaman dibongkar dan akar dicuci bersih dengan air

mengalir. Kemudian akar dipotong secara melintang untuk menghitung keparahan

penyakit layu fusarium dengan menggunakan rumus :

KP = ∑ (nxv) x 100% NxZ

Dimana :

KP= Keparahan Penyakit

n = Jumlah tanaman pada setiap scoring

v = Nilai skala serangan penyakit tiap individu tanaman

Z = Nilai tertinggi kategori kerusakan

N = Jumlah tanaman yang diamati

(Townsensd & Hueberger 1948).

Skala serangan yang digunakan adalah :

Skala 0 = tanaman tidak terserang penyakit sama sekali

Skala 1 = tanaman agak terserang penyakit ( < 50% daun layu)

Skala 2 = tanaman terserang parah ( > 50% daun layu)

Skala 3 = tanaman mati

(Kerkeni et al, (2007) dalam Hamdiyati (2011)).

Pengamatan keparahan penyakit dilakukan sesuai dengan besarnya kerusakan pada

setiap tanaman, kemudian disesuaikan dengan rumus di atas.

(32)

Pengamatan tinggi tanaman dilakukan seminggu sekali dengan menggunakan

penggaris sampai dengan 5 msi. Tinggi tanaman dihitung dari pangkal batang sampai

ujung daun yang terpanjang.

Panjang akar (cm)

Panjang akar dihitung pada umur tanaman 5 msi F. oxysporum menggunakan penggaris dihitung dari akar sekunder sampai pangkal batang.

Berat basah akar (g)

Berat akar basah dihitung pada saat tanaman berumur 5 msi F. oxysporum dengan membersihkan akar, kemudian ditimbang menggunakan timbangan analitik.

Berat kering akar (g)

Berat akar kering dihitung dengan memasukkan akar ke dalam amplop dan dimasukkan

(33)

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Identifikasi Jamur

Hasil biakan murni 4 isolat jamur yang berasal dari tanaman cabai yang terserang

penyakit dan tanah perakaran tanaman cabai yang sehat. Selanjutnya ke-4 isolat jamur

ini dilakukan penapisan secara in-vitro untuk melihat kemampuannya sebagai agens hayati. Ke-4 isolat jamur tersebut diidentifikasi (Tabel 1)

Tabel 1. Hasil identifikasi jamurasal cabai

No Genus Ciri-Ciri Asal

1. Fusarium Makrokonidia

(34)

Mikrokonidia

- Hifa mempunyai sekat (a).

- percabangan yang membentuk

sudut 45 dan 90 derjat (b),

- fialid berbentuk botol panjang, dan konidia berbentuk globuse (c).

3. Trichoderma koningii

Makrokonidia - Warna koloni hijau

kekuningan

- Koloni tumbuh menyebar

Mikrokonidia - Hifa bercabang (a), - Ujung hifa membetuk

oval (b). a

b c

a

(35)

4. Trichoderma harzianum

Makrokonidia

- Bentuk koloni di cawan Petri seperti bunga, - warna koloni bagian atas

putih kehijauan

- tepi koloni juga tidak rata dan berwarna putih kabur Mikrokonidia

(36)

Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa nilai persentase penghambatan jamur

antagonis berpengaruh sangat nyata terhadap F. oxysporum. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2 dan Lampiran 2-7.

Tabel 2. Persentase penghambatan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens terhadap F. oxysporum (%)

Perlakuan Pengamatan-

1HSI 2HSI 3HSI 4HSI 5HSI 6HSI 7HSI

T0 0.0 d 0.0 c 0.0 b 0.0 d 0.0 d 0.0 c 0.0 d

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji jarak duncan pada taraf 5%.

T1: F. oxysporum, T2 : T. virdae, T3: T. Koningii, T4: T. harzianum, T5: G. virens, T6: F. oxysporum + T. virdae T7: F.

oxysporum + T. koningii, T8: F. oxysporum + T. harzianum, T9: F. oxysporum, + G. virens

HSI : Hari Setelah Inokulasi

Hubungan antara persentase penghambatan dengan pengaruh inokulasi

(37)

Gambar 3. Hubungan antara persentase penghambatan dengan pengaruh inokulasi F. oxysporum dan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens.

Tabel 2 menunjukkan bahwa F. oxysporum mengalami hambatan pertumbuhan karena kehadiran jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens. Persentase penghambatan tertinggi pada 7 hsi terdapat pada perlakuan T8 (T. harzianum + F. oxysporum) yaitu sebesar 72,5 %. sedangkan persentase penghambatan terendah terdapat pada perlakuan T6 (T. viridae + F. oxysporum) yaitu sebesar 62,3 %. T. harzianum menghasilkan beberapa antibiotik, di antaranya antibiotik peptaibol yang bekerja secara sinergis dengan enzim ß (1,3) glukanase, senyawa furanon yang membantu proses penghambatan terhadap F. oxysporum. Hal ini sesuai dengan literatur Mukarlina (2010), yang menyatakan bahwa asam amino bebas seperti asam aspartat,

asam glutamat, alanin, leusin dan valin serta dua senyawa ninhidrin positif lainnya yang

dihasilkan T. harzianum secara in vitro juga dapat menurunkan patogenitas cendawan patogen.

Pengambilan data persentase penghambatan dilakukan saat terjadi pertemuan

(38)

A B

menekan pertumbuhan patogen dengan cara melilit hifa patogen, mengeluarkan enzim

β-1,3 glukonase dan kitinase yang dapat menembus dinding sel inang. Selanjutnya

Sudhanta (2010) menyatakan bahwa jamur endofit dan saprofit apabila ditumbuhkan

bersama pada medium PDA dalam satu cawan Petri tidak saling menghambat

pertumbuhan, artinya kedua jamur ini di dalam tanah dapat bersinergis dalam

mengendalikan jamur F. oxysporum.

Gambar 4. Pengujian inhibiting zone 7 HSI (A) T6, (B) T7, (C) T18, (D) T9, (Keterangan: a. F. oxysporum, b. Jamur Trichoderma sp., c. G. virens)

3. Tinggi tanaman (cm)

Analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa pemberian F. oxysporum dan jamur endofit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Hasil uji beda rataan tinggi

tanaman dapat dilihat pada Tabel 3 dan Lampiran 37-43.

Tabel 3. Pengaruh inokulasi F. oxysporum dan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens terhadap tinggi tanaman (cm)

Perlakuan Pengamatan -

1MSI 2MSI 3MSI 4MSI 5MSI

(39)

T4 53.0 a 55.0 a 57.5 a 58 a 59.7 a

T5 38.8 bc 41.3 b 44.7 b 46.8 b 49.7 b

T6 24.7 e 27.2 d 32.2 cd 37.3 cd 34.1 e

T7 28.0 de 29.2 cd 32 cd 35.7 cd 37.7 de

T8 27.5 de 29.7 cd 32 cd 36.8 cd 38.7 de

T9 25.2 e 28.7 cd 30.3 d 31.8 d 41.2 cde

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji jarak duncan pada taraf 5%.

T1: F. oxysporum, T2 : T. virdae, T3: T. Koningii, T4: T. harzianum, T5: G. virens, T6: F. oxysporum + T. virdae T7: F. oxysporum + T. koningii, T8: F. oxysporum + T. harzianum, T9: F. oxysporum, + G. virens

MSI : Minggu Setelah Inokulasi

Hubungan antara tinggi tanaman dengan pengaruh inokulasi F. oxysporum dan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Hubungan antara tinggi tanaman dengan pengaruh inokulasi F. oxysporum dan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens

Berdasarkan pengamatan pada 3 msi sampai 5 msi perlakuan T1 (F. oxysporum) berbeda nyata dengan semua perlakuan Berdasarkan pengamatan tinggi tanaman

tertinggi pada 7 msi terdapat pada perlakuan T4 (T. harzianum) yaitu sebesar 59,7 cm, sebaliknya tinggi tanaman terendah pada 7 msi terdapat pada perlakuan T1 (F. oxysporum) yaitu sebesar 9,10 cm. Hasil ini menunjukkan pemberian jamur Trichoderma sp dan G. virens dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena keberadaan agen antagonis selain mampu menekan perkembangan penyakit juga dapat

(40)

(2010) bahwa agen antagonis dapat melakukan proses dekomposisi bahan organik yang

berasal dari sekam padi dan pupuk kandang yangdigunakan sebagai media tanam.

Dalam proses dekomposisi tersebut agen antagonis baik Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp. akan mengubah unsur yang ada dalam bentuk larut sehingga bisa diserap oleh tanaman.

Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa pada perlakuan T4 berbeda

nyata dengan perlakuan T0. Hal ini dikarenakkan pada perlakuan T4 diaplikasikan

jamur Trichoderma sp., sedangkan pada perlakuan T0 tidak diberi perlakuan. Pemberian jamur Trichoderma sp. pada tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Trichoderma sp merupakan jamur parasit yang dapat menyerang dan mengambilnutrisi dari jamur lain.Hal ini sesuai literatur Setyowati (2003) yang menyatakan bahwa

peranan Trichoderma sp yang mampu menyerang jamur lain namun sekaligus berkembang baik pada daerah perakaran menjadikan keberadaan jamur ini sebagai

biokontrol dan memperbaiki pertumbuhan tanaman.

4. Panjang akar

(cm), berat akar basah (g), dan kering (g)

Analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa pemberi F. oxysporum dan jamur endofit berpengaruh sangat nyata terhadap panjang akar (cm), berat akar basah dan kering (g).

Hasil uji beda rataan kejadian penyakit dapat dilihat pada Tabel 4 dan Lampiran 44-46.

Tabel 4. Pengaruh inokulasi F. oxysporum dengan jamur Trichoderma sp. Dan G. virens terhadap panjang akar (cm), berat akar basah dan kering (g)

Perlakuan Pengamatan 5 MSI

Berat Basah (g) Berat Kering Akar (g) Panjang Akar (cm)

T0 4.17 abcd 1.22 bcd 28.37 a

T1 2.14 d 0,39 f 16.93 c

T2 3.12 cd 1.29 bcd 24.07 ab

T3 6.04 a 1.85 a 26.47 ab

(41)

T5 5.22 ab 1.40 abc 26.67 ab

T6 2.29 cd 0.42 f 17.67 c

T7 5.23 ab 1.58 ab 25.17 ab

T8 2.50 cd 0.78 def 22.00 bc

T9 4.94 abc 0.51 ef 18.17 c

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji jarak duncan pada taraf 5%.

T1: F. oxysporum, T2 : T. virdae, T3: T. Koningii, T4: T. harzianum, T5: G. virens, T6: F. oxysporum + T. virdae T7: F. oxysporum + T.

koningii, T8: F. oxysporum + T. harzianum, T9: F. oxysporum, + G. virens

MSI : Minggu Setelah Inokulasi

Hubungan antara panjang akar (cm), berat basah dan kering (g) dengan

(42)

Gambar 6. Hubungan antara terhadap panjang akar (cm), berat akar basah dan kering (g) dengan pengaruh inokulasi F. oxysporum dan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens

Dari hasil pengamatan 7 msi diperoleh panjang akar tertinggi terdapat pada

perlakuan T4 (T. harzianum) yaitu sebesar 28,17 cm. Hal ini dikarenakan jamur Trichoderma harzianum menghasilkan suatu suatu hormon yang dapat berpengaruh terhadap tanaman yang di aplikasikan. Salisbury dan Ross, (1995) dalam Sudantha dan

Ernawati (2012) menyatakan bahwa Hormon tumbuhan merupakan senyawa organik

yang disintesis di salah satu bagian tumbuhan dan dipindahkan ke bagian lain, dan pada

konsentrasi yang sangat rendah mampu menimbulkan suatu respon fisiologis. Respon

tersebut dapat berupa memacu pertumbuhan batang, daun, akar, bunga atau buah.

Sebaliknya panjang akar terendah terdapat pada perlakuan F. oxysporum (T1) yaitu sebesar 16,93 cm. Hal ini dikarenakan patogen F. oxysporum merupakan patogen tular tanah yang menyerang tanaman melalui akar, terutama akar yang luka. Kemudian

berkembang sepanjang akar menuju batang, dan disini jamur berkembang secara meluas

dalam jaringan pembuluh sebelum masuk ke dalam batang palsu. Djaenuddin (2011)

menyatakan bahwa F. oxysporum menyerang tanaman melalui akar, terutama akar yang luka. Setelah masuk ke dalam akar, jamur berkembang sepanjang akar menuju batang,

dan disini jamur berkembang secara meluas dalam jaringan pembuluh sebelum masuk

(43)

Berdasarkan hasil pengamatan pada 5 msi diketahui bahwa bobot basah akar dan

kering tertinggi terdapat pada perlakuan T3 (T. koningii) masing-masing seberat 6,04 g dan 1,85 g. Hal ini dikarenakan T. koningii adalah salah satu mikroorganisme yang

mampu memacu pertumbuhan tanaman dan terbentuknya rambut-rambut akar yang

lebih banyak juga. Hal ini sesuai dengan literatur Setyowati et al (2003) yang terbentuknya rambut-rambut akar yang lebih banyak juga, sehingga mampu menyerap

hara dari dalam tanah semakin tinggi sehingga meningkatkan kemampuan fotosintetis

tanaman. Dengan semakin tingginya kemampuan berfotosintetis maka dapat

meningkatkan bobot tanaman.

Dari data pengamatan menunjukkan bahwa panjang akar dapat dihubungkan

dengan berat akar basah dan berat akar kering, yaitu semakin panjang akar maka

semakin tinggi berat akar basah dan berat akar kering. Berdasarkan hasil pengamatan

diketahui bahwa panjang akar, bobot akar basah dan kering tertinggi secara kombinasi

terdapat pada perlakuan T7 (F. oxysporum + T. koningii) ini dikarenakan T. koningii lebih cepat pertumbuhannya untuk menghambat patogen. Hal ini sesuai dengan

literature Pinem dan Sipayung (2005) yang menyatakan dalam penelitiannya bahwa

intensitas serangan Fusarium setelah aplikasi jamur antagonis menunjukan pada perlakuan T. koningii memiliki intensitas yang sangat rendah. Hal ini dikarenakn T. koningii mempunyai pertumbuhan yang cepat dan kemampuan menghasilkan konidia dalam jumlah yang besar.

5. Kejadian penyakit (%), dan keparaha penyakit (%)

Pengaruh F. oxysporum. dengan jamur Trichoderma sp dan G.virens terhadap periode inkubasi, kejadian, dan keparahan penyakit layu fusarium dapat dilihat dalam

(44)

Tabel 5.Pengaruh F. oxysporum dan Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens terhadap kejadian dan keparahan penyakit layu fusarium sampai 5 msi(%).

Perlakuan Pengamatan

% Keparahan 5 MSI % Kejadian 5 MSI

T0 0.00 d 0.00 c

T1 100.00 a 100.00 a

T2 0.00 d 0.00 c

T3 0.00 d 0.00 c

T4 0.00 d 0.00 c

T5 0.00 d 0.00 c

T6 31.80 bc 66.67 b

T7 7.12 d 33.33 bc

T8 16.98 cd 33.33 bc

T9 40.20 b 66.67 b

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji jarak duncan pada taraf 5%.

T1: F. oxysporum, T2 : T. virdae, T3: T. Koningii, T4: T. harzianum, T5: G. virens, T6: F. oxysporum + T. virdae T7: F. oxysporum + T. koningii, T8: F. oxysporum + T. harzianum, T9: F. oxysporum, + G. virens

Hubungan antara kejadian dan keparahan penyakit dengan pengaruh inokulasi

(45)

Gambar 7. Hubungan antara kejadian dan keparahan penyakit dengan pengaruh inokulasi F. oxysporum dan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens Persentase kejadian penyakit diamati dengan melihat jumlah tanaman yang

terserang pada tiap perlakuan sampai 5 msi. Gejala layu fusarium secara visual pada

tanaman yang terinfeksi memperlihatkan tepi bawah daun menjadi kuning tua,

merambat ke bagian dalam secara cepat sehingga seluruh permukaan daun tersebut

menguning. Gejala tersebut disebabkan patogen F. oxysporum yang terus berpenetrasi ke dalam jaringan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Semangun (2004) yang

menyatakan bahwa tulang-tulang daun yang halus menguning, dimulai daun yang tua.

Jamur berada didalam pembuluh kayu dan menyebabkan jaringan ini berwarna cokelat.

Penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan kombinasi diperoleh persentase

kejadian penyakit terendah terdapat pada perlakuan

T7 (T. Koningii + F. oxysporum),T8 (T. harzianum + F. oxysporum) Mempunyai kemampuan yang cukup baik dalam mengendalikan F. Oxysporum. Sudantha (2010) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa Salah satu alternatif untuk pemecahan

masalah ini yang mempunyai prospek baik adalah memanfaatkan jamur endofit dan

saprofit Trichoderma spp. antagonistik yang mampu menginduksi ketahanan tanaman kedelai terhadap penyakit layu Fusarium. Yang mana Tindaon (2008) menyebutkan

bahwa T. harzianum adalah jamur yang tersebar luas di tanah dan mempunyai sifat mikoparasitik. Mikoparasitik adalah kemampuan untuk menjadi parasit bagi jamur lain

dan sifat inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai biokontrol. Begitu juga dengan T. koningii yang mana Pinem dan Sipayung (2001) menyebutkan bahwa T. koningii adalah jamur antagonis yang mampu memparasit miselium jamur patogenik, dengan

cara melekat pada miselium dan menembus miselium patogen sehingga terjadi

(46)

Tingkat keparahan penyakit tanaman diamati dengan membandingkan bagian

tanaman sakit dari tanaman sampel. Pada penelitian ini, keparahan penyakit pada

perlakuan F. oxysporum secara tunggal berbeda nyata dengan perlakuan lain. Pada perlakuan F. oxysporum secara tunggal keparahan penyakit lebih tinggi dibanding dengan perlakuan lainnya yaitu 100%. Hal ini disebabkan pada perlakuan F. oxysporum tunggal tidak ada hambatan bagi patogen untuk menginfeksi dan berinvasi di dalam

jaringan tanaman. Infeksi F. oxysporum pada akar tanaman cabai yang rentan dapat berkembang ke xilem dan berlanjut ke batang yang mengakibatkan gangguan

transportasi air. Sehingga muncul gejala penguningan pada daun. Mess et al, (1999) dalam Susanti et al, (2006) menyatakan Fusarium adalah jamur patogen yang dapat menginfeksi tanaman dengan kisaran inang sangat luas. Jamur ini menyerang jaringan

bagian vaskuler dan mengakibatkan kelayuan pada tanaman inangnya dengan cara

menghambat aliran air pada jaringan xylem.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa persentase kejadian dan keparahan

penyakit tertinggi pada perlakuan kombinasi terdapat pada perlakuan

(47)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Trichoderma koningii memiliki kemampuan terbaik dalam menghambat pertumbuhan F. oxysporum dengan keparahan terendah sebesar 7,12 %.

2. Trichoderma harzianum memiliki kemampuan yang hampir sama dengan Trichoderma koningii dalam menghambat pertumbuhan F. oxysporum dengan kejadian sebesar 33,33%.

3. Trichoderma harzianum secara in vitro juga dapat menurunkan patogenitas cendawan patogen.

Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih spesifik dalam penggunaan T. harzianum dan T. koningii untuk meningkatkan imunitas tanaman cabai terhadap penyakit layu fusarium pada kondisi lapang yang paling baik.

(48)

DAFTAR PUSTAKA

Abbott, 1925. In Uenterstenhofer, G. 1976. The Basic Principles of Crop Protection Field Trials. Planzenschutz-Nachrichten Bayer AG Leverkusen.

Agrios, G. N., 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Edisi Ketiga. Terjemahan M. Busnia. UGM-Press, Yogyakarta.

Agustina, I. 2013. Uji Efektifitas Jamur Antagonis Trichodherma sp. dan Gliocladium sp. Untuk Mengendalikan Penyakit Lanas (Phytopthora nicotianae) Pada Tanaman Tembakau Deli (Nicotiana tabaccum L.). Universitas Sumatera Utara. Medan

Departemen Pertanian, 2011. Prospek Bawang Merah. www.litbang.deptan.go.id. Diunduh Pada tanggal 13 Maret 2014.

Djaenuddin, N. 2011. Bioekologi Penyakit Layu Fusarium oxysporum. Seminar dan Pertemuan Tahunan XXI PEI, PFI Komda Sulawesi Selatan dan Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tanggal 7 Juni 2011 di Hotel Singgasana Makassar. Makassar. 67-71.

Hamdiyati S. 2011. Pengembangan Potensi Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val) sebagai Fungisida Nabati untuk Mengendalikan Jamur

Patogen pada Tanaman Cabai Merah. Universitas Pendidikan Indonesia

Hartal, Misnawaty dan I. Budi, 2010. Efektifitas Trichodermasp. dan Gliocladium sp. Dalam Pengendalian Layu Fusarium pada Tanaman Krisan. JIPI 12(1): 7-12

Indarwan, A, 2008. Penghambatan Layu Fusarium Pada Benih Cabai Merah (Capsicum annuum L.) yang Dienkapsulasi Alginat-Kitosan Dan Tapioka Dengan Bakteri Kitinolitik. Universitas Sumatera Utara, Medan. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Istikorini, Y. 2005. Eksplorasi Cendawan Endofit dari Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) dan Teki (Cyperus rotundus).

Mukarlina, S. Khotimah, dan R. Rianti, 2010. Uji Antagonis Trichoderma harzianum Terhadap Fusarium spp. Penyebab Penyakit Layu Pada Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) Secara In Vitro. Universitas Tanjungpura, Kalimantan. Musa, A. S., M. Wachjadi, dan L. Soesanto, 2005. Potensi Beberapa Pestisida Nabati

(49)

Pinem M. I., dan W. Sipayung. 2005. Uji Efektif Jamur (Gliocladium virens dan Trichoderma koningii) pada Berbagai Tingkat Dosis terhadap Penyakit Busuk Pangkal Batang (Fusarium oxysporum f.sp passiflorae) pada Tanaman Markisah (Passiflora edulis f. edulis) di Lapangan. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan

Sastrosupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Kanisius, Jakarta.Hal 72.

Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

. 2000. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

. 2004. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Setyowati N., H Bustaman, dan M Derita. 2003. Penurunan Penyakit Busuk Akar dan Pertumbuhan Gulma pada Tanaman Selada yang di Pupuk Mikroba. JIPI 5(2) : 48-57.

Siregar, W. N. 2011. Uji Efektifitas Jamur Antagonis Trichoderma sp. Dan Gliocladium sp. Untuk Mengendalikan Penyakit Rebah Semai (Phytium spp.) pada Tanaman Tembakau Deli (Nicotiana tabaccum L.) di Pembibitan. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sinaga, M. H. 2009. Pengaruh Bio Va-Mikoriza Dan Pemberian Arang Terhadap Jamur Fusarium oxysporum Pada Tanaman Cabai (Capsicum annuum) Di Lapangan. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sinaga, E. 2011. Isolasi Dan Uji Kemampuan Antifungal Bakteri Endofit Dari Andaliman (Zanthozylum Acanthopodium dc.) Terhadap Fungi Perusak Makanan. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Soenartiningsih, M. S. Pabbage dan N. Djaenuddin, 2011. Penggunaan Inokulum Antagonis (Trichoderma dan Gliocladium) dalam Menekan Penyakit Busuk Pelepah pada Jagung. Balai Penelitian Serealia.

Soesanto, L. dan R. F. Rahayuniati, 2009. Pengimbasan Ketahanan Bibit Pisang Raja Terhadap Penyakit Layu Fusarium Dengan Ekstrak Bakteri Antagonis (Induced Resistance Of Raja Cultivar Banana Seedling To Fusarium Wilt By Applying Antagonistic Bacteria Extract). Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.

(50)

Sudhanta, I. M., dan N. M. L. Ernawati. 2012. Pengaruh Dosis Aplikasi Jamur Endofit Trichoderma polysporum Isolat Endo-04 Dan Jamur Saprofit T. harzianum Isolat Sapro-07 Dalam Meningkatkan Ketahanan Terinduksi Beberapa Klon Vanili Terhadap Penyakit Busuk Batang Fusarium. Universitas Mataram.

Sumarna, A. 1998. Irigasi Tetes pada Budidaya Cabai. Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Susanti, E., F. Widiartini, dan T. Suganda. 2006.

Pembuatan Strain Nonpatogenik

Fusarium oxysporum

f.sp.

lycopersici

dengan Radiasi Sinar Ultraviolet.

Universitas Padjadjaran, Bandung.

Sutarya, R. G. Grubben dan H. Sutarno, 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Datar Rendah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Syahnen, 2006. Prosedur Operasi Standar/Standard Operasional Procedure (SOP) Perbanyakan Jamur Trichoderma. Balai Pengembangan proteksi Tanaman Perkebunan, Sumatera Utara-Medan.

(51)
(52)

Lampiran. 2

Deskripsi Varietas Laris Golongan : hibrida

Bentuk tanaman : tegak

Tinggi tanaman : 110-140 cm

Umur tanaman : mulai berbunga 60-70 hari

mulai panen :100-120 hari

Bentuk kanopi : tegak memayung

Warna batang : hijau

Warna kelopak bunga : hijau

Warna tangkai bunga : hijau

Warna mahkota bunga : putih

Warna kotak sari : ungu

Jumlah kotak sari : 5-6

Warna kepala putik : putih

Jumlah helai daun : 5-6

Bentuk buah : keriting

Kulit buah : lurus warna merah sehingga terlihat segar

Tebal kulit buah : 1- 1,5 mm

Warna buah muda : hijau medium

Warna buah tua : merah medium

Ukuran buah : panjang 14,5 cm, diameter 0,9 cm

Rasa buah : pedas sekali

Figur

Gambar 1. F. oxysporium f.sp. capsici. a. Konidiofor, b. Makrokonidia,

Gambar 1.

F. oxysporium f.sp. capsici. a. Konidiofor, b. Makrokonidia, p.19
Gambar 2. Gejala   serangan   F.  oxysporum  (A)  daun layu,  (B) akar busuk Gejala penyakit yang diamati adalah gejala penyakit yang umum disebabkan

Gambar 2.

Gejala serangan F. oxysporum (A) daun layu, (B) akar busuk Gejala penyakit yang diamati adalah gejala penyakit yang umum disebabkan p.20
Tabel 1. Hasil identifikasi jamur asal cabai

Tabel 1.

Hasil identifikasi jamur asal cabai p.33
Tabel 2. Persentase penghambatan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens  terhadap F

Tabel 2.

Persentase penghambatan jamur Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens terhadap F p.36
Gambar 3. Hubungan antara persentase penghambatan dengan pengaruh inokulasi                       F

Gambar 3.

Hubungan antara persentase penghambatan dengan pengaruh inokulasi F p.37
Gambar 4. Pengujian C

Gambar 4.

Pengujian C p.38
Tabel 3. Pengaruh inokulasi  F. oxysporumGliocladium virens dan jamur Trichoderma sp. Dan  terhadap tinggi tanaman (cm)

Tabel 3.

Pengaruh inokulasi F. oxysporumGliocladium virens dan jamur Trichoderma sp. Dan terhadap tinggi tanaman (cm) p.38
Gambar 5. Hubungan antara tinggi tanaman dengan pengaruh inokulasi F. oxysporum dan jamur Trichoderma sp

Gambar 5.

Hubungan antara tinggi tanaman dengan pengaruh inokulasi F. oxysporum dan jamur Trichoderma sp p.39
Tabel 4. Pengaruh inokulasi F.  oxysporum dengan jamur Trichoderma sp. Dan G. virens terhadap panjang  akar (cm), berat akar basah dan kering (g)

Tabel 4.

Pengaruh inokulasi F. oxysporum dengan jamur Trichoderma sp. Dan G. virens terhadap panjang akar (cm), berat akar basah dan kering (g) p.40
Gambar 6. Hubungan antara terhadap panjang  akar (cm), berat akar basah dan kering (g) dengan pengaruh inokulasi F

Gambar 6.

Hubungan antara terhadap panjang akar (cm), berat akar basah dan kering (g) dengan pengaruh inokulasi F p.42
Tabel 5.Pengaruh F. oxysporum dan Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens terhadap kejadian dan keparahan penyakit layu fusarium sampai 5 msi(%)

Tabel 5.Pengaruh

F. oxysporum dan Trichoderma sp. Dan Gliocladium virens terhadap kejadian dan keparahan penyakit layu fusarium sampai 5 msi(%) p.44
Gambar 7.

Gambar 7.

p.44

Referensi

Memperbarui...