• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Efisiensi Rantai Pasokan Cabai Merah Keriting Kota Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Efisiensi Rantai Pasokan Cabai Merah Keriting Kota Bogor"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS EFISIENSI RANTAI PASOKAN CABAI MERAH

KERITING KOTA BOGOR

FAMULLA ROYALDI

F34090099

TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Analisis Efisiensi Rantai Pasokan Cabai Merah Keriting Kota Bogor” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

FAMULLA ROYALDI. Analisis Efisiensi Rantai Pasokan Cabai Merah Keriting Kota Bogor. Dibimbing oleh SUKARDI.

Cabai merah keriting merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan Indonesia. Perkembangan industri berbasis cabai merah memiliki prospek yang tinggi. Penelitian ini akan berfokus pada analisis anggota-anggota rantai utama rantai pasokan cabai merah di Kota Bogor dari pedagang grosir hingga konsumen akhir. Selain itu melakukan analisis anggota sekunder yang terlibat di rantai pasokan cabai merah keriting. Penelitian ini juga akan menganalisis rantai pasokan cabai merah keriting dari luar kota Bogor hingga masuk ke pedagang grosir hingga di distribusikan ke konsumen. Efisiensi rantai pasokan dapat diukur dengan pendekatan efisiensi pemasaran. Lebih jelasnya nilai efisiensi pemasaran bisa menjadi keuntungan dengan perhitungan marjin pemasaran. Marjin pemasaran yang telah dihitung dari keseluruhan saluran pemasaran diharapkan dapat diketahui marjin pemasaran tertinggi hingga terendah. Saluran pasokan yang paling efisien yaitu saluran pasokan 1 (Pengirim-Pedagang besar pasar Induk Kemang-Pedagang pengecer pasar Warung Jambu-konsumen). Saluran pasokan 1 memiliki alokasi biaya operasional yang rendah dibandingkan tujuh saluran operasional lainnya yaitu Rp. 2436,00- dan keuntungan Rp. 2564,00- sehingga marjin pemasarannya sebesar Rp. 5000,00-.

Kata kunci: efisiensi, cabai merah, rantai pasokan, marjin

ABSTRACT

FAMULLA ROYALDI. Eficiency Analysis Of Red Chili Supply Chain In Bogor City. Supervised by SUKARDI

Red chili is one of the priorities of Indonesian agricultural commodities. Red chili-based industrial development has a high prospect. The research will focus on the analysis of the liniers members of the supply chain in Bogor red chili from the wholesaler to the end consumer. Besides analyzing the secondary members are involved in the supply chain of red chili. This research will also analyze the supply chain of red chili outside the city of Bogor to the wholesaler to be distributed to consumers. Supply chain efficiency can be measured by the efficiency of the marketing approach. marketing efficiency value can be an advantage to the marketing margin calculations. Marketing margin has been calculated from the overall marketing channel marketing margins are expected to know the highest to the lowest. The most efficient supply channels which supply channel 1 (Author- wholesalers Kemang-Retailers Warung Jambu-consumert). Supply channel 1 has a low operating cost allocations compared to seven other operational channels Rp. 2436.00 - and a profit of Rp. 2564.00 - so the marketing margin of Rp. 5000.00 -.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian

pada

Departemen Teknologi Industri Pertanian

ANALISIS EFISIENSI RANTAI PASOKAN CABAI MERAH

KERITING KOTA BOGOR

FAMULLA ROYALDI

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi: Analisis Efisiensi Rantai Pasokan Cabai Merah Keriting Kota Bogor

Nama : Famulla Royaldi NIM : F34090099

Disetujui oleh

Prof Dr Ir Sukardi MM Pembimbing

Diketahui oleh

Prof Dr Ir Nastiti Siswi Indrasti Ketua Departemen

(8)
(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi berjudul “Analisis Efisiensi Rantai Pasokan Cabai Merah Keriting Kota Bogor” berhasil diselesaikan.

Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesarnya kepada: 1. Bapak Prof Dr Ir Sukardi MM selaku Pembimbing Akademik atas perhatian

dan bimbingannya selama penelitian dan penyelesaian skripsi.

2. Bapak Drs Purwoko M.Si dan Arif Darmawan S.TP M.T yang telah menguji dan memberikan nasehat dalam koreksi hasil penelitian.

3. Bapak Iwan Setiawan beserta seluruh staf Kantor dan UPT PD Pasar Pakuan Jaya.

4. Bapak Irvan Setiawan beserta staf Dinas Perdagangan dan Perindustrain Kota Bogor.

5. Para Staf Kantor Ketahanan Pangan Kota Bogor yang telah memberi masukan kepada penulis.

6. Para pedagang pasar Kota Bogor dan pelaku usaha pengolahan cabai merah keriting di Kota Bogor

7. Ayahanda Handi Rohandi, Ibunda Hayati atas doa, dukungan materi, dan non materi untuk penulis.

8. Keluarga besar TIN 46 dan Al-Jaddah Bro’s atas kenangan dan kehangatan bersaudara yang tak terlupakan.

9. Seluruh sanak dan kerabat yang tidak bisa disebutkan satu-persatu Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Ruang Lingkup Penelitian 2

TINJAUAN PUSTAKA 3

Cabai 3

Rantai Pasokan 4

Identifikasi Anggota Rantai Pasokan 4

Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran 5

Pengendalian Persediaan 6

METODE 7

Jenis dan Sumber Data 9

Prosedur Analisis Data 9

HASIL DAN PEMBAHASAN 10

Gambaran Lokasi Penelitian 10

Kebutuhan dan Konsumsi Cabai Merah Keriting 11 Varietas Cabai Besar di Pasaran Kota Bogor 11

Produk Olahan Cabai Merah Keriting 12

Identifikasi Anggota Rantai Pasokan 15

Konfigurasi Jaringan Logistik 18

Marjin Pemasaran 23

Simpulan 26

Saran 26

DAFTAR PUSTAKA 27

LAMPIRAN 28

(11)

DAFTAR TABEL

1 Batas-batas wilayah Kota Bogor 9

2 Jumlah Penduduk Kota Bogor Menurut Jenis Kelamin 10

3 Konsumsi Cabai Merah Keriting Kota Bogor 11

4 Aktivitas anggota primer rantai pasokan cabai merah keriting di kota

Bogor 16

DAFTAR GAMBAR

1 Rangkaian rantai pasokan 6

2 Tahapan Tata Laksana Penelitian 8

3 Diagram Alir Pengolahan Sambal Basah 13

4 Diagram Alir Pengolahan Sambal kering 14

5 Sumber dan Penyebaran Pasokan Cabai Merah Keriting di Kota Bogor 21 6 Saluran Pasokan Cabai Merah Keriting Kota Bogor 23

DAFTAR LAMPIRAN

1 Sumber dan Penyebaran Pasokan Cabai Merah Keriting per Bulan di

Kota Bogor 28

2 Perhitungan Marjin Pemasaran Cabai Merah Keriting Saluran Pasokan

1, 2, 3, 4 dan 5 (per kilogram) 29

3 Perhitungan Marjin Pemasaran Cabai Merah Keriting Saluran Pasokan

4 dan 5 (per kilogram) 30

4 Perhitungan Marjin Pemasaran Cabai Merah Keriting Saluran Pasokan

6,7 dan 8 (per kilogram) 31

(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hortikultura merupakan sektor penting untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Departemen Pertanian membuat daftar komoditas unggulan nasional hortikultura yaitu pisang, mangga, manggis, jeruk, durian, rimpang, kentang, bawang merah, dan cabai. Kebutuhan nasional akan komoditas unggulan tersebut sangatlah besar. Kota Bogor dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya akan komoditas unggulan hortikultura tersebut, sebanyak kurang lebih 90% dipasok dari luar Kota Bogor. Diantara komoditas tersebut, cabai merupakan jenis komoditas yang banyak dibudidayakan, dikembangkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Kota Bogor dalam memenuhi kebutuhan jenis komoditas tersebut harus mendatangkan dari kota lain karena keterbatasan lahan yang kurang memadai tidak memungkinkan kota Bogor mengembangkan komoditas tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

(13)

2

Pertimbangan rancangan supply chain meliputi pengelolaan bagian hulu dan hilir rantai pasokan. Bagian hulu rantai pasokan terdiri dari proses-proses yang berlangsung antara pemasok, manufaktur, distributor dan pihak yang terlibat kegiatan rantai pasokan tersebut. Pertimbangan rancangan hulu rantai pasokan perlu memperhatikan dukungan pasokan bahan baku. Analisis efisiensi rantai pasokan cabai merah di Kota Bogor diharapkan dapat memberikan gambaran ketersediaan pasokan cabai merah sebagai pertimbangan pengelolaan supply chain bagi instansi terkait dan industri pengolah cabai merah keriting. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan pertimbangan bagi pihak pengelola pasar untuk mengadakan sistem pemasokan yang lebih efisien dengan diketahuinya saluran pasokan yang efisien.

Perumusan Masalah

Perumusan masalah dari skripsi ini adalah mencari informasi tentang aliran pasokan cabai merah keriting yang masuk ke Kota Bogor dengan mewawancarai para pelaku yang terlibat dalam aliran rantai pasok cabai merah keriting di kota Bogor. Selain itu, mengidentifikasi saluran pasokan di Kota Bogor dari yang paling efisien hingga yang tidak efisien.

Tujuan Penelitian

Menganalisis dan mengidentifikasi aliran serta pengelolaan rantai pasokan (Supply Chain) komoditas cabai merah keriting di Kota Bogor. Menganalisis saluran rantai pasokan cabai merah keriting yang paling efisien di Kota Bogor.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini bagi peneliti adalah untuk menambah pengetahuan mengenai analisis efisiensi rantai pasokan cabai merah keriting kota Bogor dan memperoleh pengalaman bagaimana cara menganalisis suatu rantai pasokan dari komoditas tertentu. Bagi instansi terkait, penelitian ini berguna untuk memperoleh informasi mengenai aliran suatu rantai pasokan komoditas cabai merah keriting dari produsen hingga konsumen dan mengetahui efisiensi rantai pasokan dari cabai merah keriting di kota Bogor.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini difokuskan dengan menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh pada mekanisme rantai pasokan komoditas cabai merah keriting yang masuk ke Kota Bogor dengan memperhatikan pelaku-pelaku yang berperan di dalamnya seperti pedagang, pelaku industri dan instansi-instansi yang terkait. Aktivitas anggota rantai pasokan yang dianalisis yaitu aktivitas yang dilakukan oleh anggota primer.

(14)

3

TINJAUAN PUSTAKA

Cabai

Tanaman cabai dapat dikelompokkan menjadi dua jenis: (1) cabai besar (C. annum) yang terdiri dari cabai merah dan cabai keriting, (2) cabai kecil dikenal dengan nama cabai rawit (Capsicum frustescens, C. pendulum, C. baccatum, dan C. chinense). Diantara ketiga jenis cabai tersebut, cabai besar merupakan jenis yang paling banyak diperdagangkan dalam masyarakat. Cabai besar terdiri dari Cabai merah besar dan cabai merah keriting. Perbedaan keduanya yaitu pada cabai merah besar memiliki kulit permukaan yang lebih halus dibanding dengan cabai merah keriting, sedangkan cabai merah keriting memiliki rasa yang lebih pedas dibandingkan dengan cabai merah besar. Cabai merupakan salah satu komoditas holtikultura yang menarik. Bagi yang mengkonsumsinya cabai merah berperan cukup penting sebagai bahan rempah, penghias makanan, bahan pewarna, aroma dan pemberi rasa pedas. Selain itu, cabai juga mengandung beberapa zat gizi seperti vitamin A, B, C dan beta karoten.

Menurut Topan (2008) cabai merupakan komoditi holtikultura yang termasuk dalam tanaman ternak tahunan. Dalam perdagangan internasional cabai dibedakan menjadi 3 kelompok. Pengelompokan tersebut dilakukan berdasarkan tingkat kepedasan yang dimilikinya, yaitu cabai sangat pedas, cabai dengan tingkat kepedasan pertengahan, cabai dengan tingkat kepedasan kurang, cabai tidak pedas.

Menurut Suyanti (2007) secara umum cabai digolongkan menjadi 3 kelompok yaitu cabai besar, cabai kecil dan cabai hias. Berikut penjelasan dari ketiga jenis cabai tersebut.

1. Cabai Besar (Capsicum annum L)

Cabai besar dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu cabai merah besar dan cabai merah keriting. Cabai merah besar memiliki permukaan yang halus dan rasa yang kurang pedas sedangkan cabai merah keriting permukaan kulit buahnya tidak halus, lebih kecil dan rasanya lebih pedas. Cabai besar memiliki panjang antara 6-10 cm dengan diameter 0,7-1,2 cm 2. Cabai Kecil atau Cabai Rawit

Cabai kecil (Capsicum frustecens) atau yang lebih dikenal dengan cabai rawit memiliki rasa yang sangat pedas. Berdasarkan tingkat kepedasannya cabai rawit dikelompokkan ke dalam empat golongan berdasarkan aturan pasar internasional yaitu sangat pedas, kepedasan pertengahan, kepedasan kurang dan tidak pedas. Masing-masing kelompok cabai memiliki bentuk fisik dan kegunaan yang berbeda-beda. Tabel 1 menunjukkan pengelompokkan cabai berdasarkan tingkat kepedasan, kandungan kapasaisin, warna serta kegunaannya.

3. Cabai Hias

(15)

4

Rantai Pasokan

Rantai pasokan atau Supply Chain didefinisikan oleh Indrajit dan Djokopranoto (2003) sebagai suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai ini juga merupakan jaringan atau jejaring dari berbagai organisasi yang saling berhubungan dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan dan penyaluran barang tersebut. Menurut Simchi-Levi dan Kaminsky (2003), Supply Chain Management (SCM) merupakan serangkaian pendekatan yang diterapkan untuk mengintegrasikan pemasok, pengusaha, gudang dan tempat penyimpanan lainnya secara efisien sehingga produk dihasilkan dan didistribusikan dengan kuantitas yang tepat, lokasi dan waktu yang tepat untuk memperkecil biaya dan memuaskan kebutuhan pelanggan. SCM bertujuan untuk membuat seluruh sistem menjadi efisien dan efektif, minimasi biaya sistem total, dari transportasi dan distribusi sampai inventory bahan mentah, bahan dalam proses dan produk jadi. Menurut Anatan dan Ellitan (2008) aplikasi manajemen rantai pasokan pada dasarnya memiliki 3 tujuan utama yaitu Penurunan biaya (cost reduction), penurunan modal (capital reduction), perbaikan pelayanan (service improvement). Perspektif SCM hampir sama dengan saluran pemasaran yang teradministrasi atau terkontrak dimana pendekatan-pendekatan ini membutuhkan kerjasama sukarela ataupun kerjasama berdasarkan kontrak dari anggota-anggota saluran untuk mencapai tujuan umum. Menurut Miranda dan Tunggal (2005), SCM terdiri atas tiga elemen yang saling terkait satu sama lain, yaitu :

1. Struktur jaringan supply chain, Jaringan kerja anggota dan hubungan dengan anggota supply chain lainnya.

2. Proses bisnis supply chain, Aktifitas-aktifitas yang menghasilkan nilai keluaran tertentu bagi para pelanggan.

3. Komponen manajemen supply chain, Variabel-variabel manajerial dimana proses bisnis disatukan dan disusun sepanjang suppy chain.

Identifikasi Anggota Rantai Pasokan

Pelaksanaan SCM meliputi pengenalan anggota rantai pasokan dengan siapa dia berhubungan, proses apa yang perlu dihubungkan dengan tiap anggota inti dan jenis penggabungan apa yang diterapkan pada tiap proses hubungan tersebut. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan persaingan dan keuntungan bagi perusahaan dan seluruh anggotanya, termasuk pelanggan akhir.

(16)

5 1. Pemasok (Suppliers) merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama, dimana mata rantai penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, subassemblies, suku cadang, dan sebagainya. Sumber pertama dinamakan pemasok, termasuk juga pemasoknya pemasok atau sub-pemasok. Jumlah pemasok dapat berjumlah banyak atau sedikit.

2. Produsen (Manufacturer). pemasok sebagai mata rantai pertama dihubungkan dengan manufacturer atau assembler atau fabricator atau bentuk lain yang melakukan pekerjaan membuat, memfabrikasi, meng-asembling, mengkonversikan, atau menyelesaikan barang (finishing). Hubungan dengan mata rantai pertama ini sudah mempunyai potensi untuk melakukan penghematan. Pada tahap ini terjadi penghematan sebesar 40 % - 60 % atau bahkan lebih.

3. Distributor (Distribution). Barang sudah jadi yang dihasilkan oleh manufacturer dapat mulai disalurkan kepada pelanggan. Walaupun tersedia banyak cara untuk penyaluran barang ke pelanggan, yang umum adalah melalui distributor dan ini biasanya ditempuh oleh sebagian besar rantai pasokan. Barang dari pabrik melalui gudangnya disalurkan ke gudang distributor atau wholesaler atau pedagang besar dalam jumlah besar, dan akhirnya pedagang besar menyalurkan dalam jumlah yang lebih kecil kepada retailers atau pengecer.

4. Pengecer (Retail outlet). Pedagang besar biasanya mempunyai fasilitas gudang sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini digunakan untuk menimbun barang sebelum disalurkan lagi ke pihak pengecer. Pada tahap ini terdapat kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah persediaan dan biaya gudang, dengan cara melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik dari gudang pengolahan maupun ke toko pengecer (retail outlet). 5. Pelanggan (Customers). Mata rantai pasokan baru benar-benar berhenti

(17)

6

Gambar 1 Rangkaian rantai pasokan (Chopra dan Meindl, 2001) Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran

Supply Chain merupakan salah satu konsep inti pemasaran. Sementara saluran pemasaran menghubungkan pemasar dengan pembeli sasaran, Supply Chain menggambarkan suatu saluran yang lebih panjang yang terentang dari bahan mentah, komponen-komponen, hingga produk-produk final yang disampaikan kepada pembeli akhir. Menurut Sudiyono (2002) dianggap sebagai proses aliran barang yang terjadi dalam pasar dimana barang-barang yang mengalir dari produsen sampai kepada konsumen akhir disertai dengan penambahan guna bentuk melalui proses pengolahan, guna tempat melalui proses pengangkutan dan guna waktu melalui proses penyimpanan.

Dalam menciptakan guna tempat, guna bentuk dan guna waktu diperlukan biaya pemasaran. Biaya pemasaran ini diperlukan untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran oleh lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran dari produsen sampai kepada konsumen akhir. Pengukuran kinerja dari pemasaran ini memerlukan ukuran efisiensi pemasaran.

Menurut Said dan Intan (2001) suatu sistem pemasaran dinyatakan bekerja secara efektif dan efisien apabila sistem tersebut mampu menyediakan insentif bagi pelaku (produsen, konsumen, dan lembaga pemasaran) yang mampu mendororng pengambilan keputusan para pelaku tersebut secara tepat dan efisien. Kompleksitas sistem pemasaran bervariasi antar komoditi, pasar dan waktu yang berbeda.

Kotler (2002) mendefinisikan efisiensi pemasaran sebagai usaha untuk meningkatkan rasio output-input. Output pemasaran yaitu kepuasan atas produk dan jasa, sedangkan input adalah berbagai macam tenaga kerja, modal, manajemen pemasaran yang digunakan dalam proses pemasaran tersebut. Efisiensi pemasaran dapat diukur dengan menggunakan konsep efisiensi operasional dan efisiensi penetapan harga. Efisiensi operasional diukur dengan membandingkan output pemasaran terhadap input pemasaran. Penetapan efisiensi operasional dilakukan dengan asumsi-asumsi bahwa sifat utama output tidak mengalami perubahan atau efisiensi ini lebih berkaitan dengan teknologi. Efisiensi penetapan harga berhubungan dengan keefektifan pemasaran sehingga harga dapat digunakan untuk menilai hasil kinerja proses pemasaran dalam menyampaikan output pertanian dari daerah produsen ke daerah konsumen.

(18)

7 lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran (functional cost) dan keuntungan (profit) lembaga pemasaran. Biaya pemasaran adalah semua jenis biaya yang dikeluarkan pemasaran suatu komoditas dalam proses penyampaian barang oleh lembaga-lembaga yang terlibat dalam sistem distribusi mulai dari titik produsen sampai ke titik saluran distribusi tertentu yang pada dasarnya mempunyai tujuan mencari keuntungan. Keuntungan pemasaran merupakan penerimaan yang diperoleh lembaga pemasaran sebagai imbalan dari menyelenggarakan fungsi-fungsi pemasaran. Perbedaan rantai pemasaran dan perlakuan dari lembaga dalam sejumlah saluran pemasaran menyebabkan perbedaan harga jual dari lembaga yang satu dengan lembaga yang lainnya sampai ke tingkat konsumen akhir. Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat dalam penyaluran suatu komoditas dari titik produsen sampai titik konsumen, maka akan semakin besar perbedaan harga komoditas tersebut di titik produsen dibandingkan dengan harga yang akan dibayar oleh konsumen. Penyediaan fasilitas fisik untuk pengangkutan, penyimpanan dan pengolahan dianggap dapat digunakan untuk melihat efisiensi pemasaran.

Pengendalian Persediaan

Gaspersz (1998) berpendapat bahwa persediaan merupakan penyimpanan dari barang dan stok, termasuk persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, persediaan barang jadi, dan persediaan yang berfungsi sebagai penunjang dalam proses operasi atau produksi agar berjalan lancar. Pengendalian persediaan berkenaan dengan masalah adanya kebutuhan terhadap barang (bahan atau produk). Pada kasus Agroindustri yang bahan bakunya merupakan hasil pertanian yang karakteristiknya spesifik, antara lain mudah rusak dan tidak dapat disimpan lama, maka masalah persediaan menjadi lebih rumit. Disamping itu pengendaliaan persediaan juga diperlukan untuk mengingat masalah ketidakpastian pemasokan, harga, dan kebutuhan terhadap persediaan itu sendiri.

Khusus untuk persediaan produk, pengendaliannya menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan tingkat pelayanan (service factor) terhadap pemenuhan kebutuhan konsumen, on time delivery, tingkat kepercayaan konsumen, serta risiko beralihnya pelanggan kepada produk saingan karena tidak tersedianya produk.

METODE

(19)

8

Gambar 2 Tahapan Tata Laksana Penelitian Mulai

Selesai Studi Pustaka

Observasi Lapangan

Definisi dan Identifikasi Masalah

Penghitungan Marjin dan Efisiensi Pemasaran Pengambilan Data (wawancara)

Analisis Deskriptif Sesuai

Analisis Data

(20)

9 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober 2013 di Kota Bogor. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan survey lapangan komoditas cabai merah keriting di Pasar Induk Kemang, Pasar Baru Bogor, Pasar Jambu Dua, Pasar Kebon Kembang, Pasar Merdeka, Pasar Sukasari, Pasar Gunung Batu dan Pasar Padasuka. Selain itu, diperoleh juga data kebutuhan dari Industri pengolah cabai merah.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Jenis data yang diperoleh untuk data primer antara lain data harga pembelian dan penjualan, data jumlah pasokan harian, data jumlah dan jenis biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran, pola aliran pemasaran untuk tiap lembaga pemasaran, serta data lainnya yang terkait dengan penelitian. Lembaga pemasaran dalam penelitian ini yaitu anggota primer rantai pasokan cabai merah keriting. Data sekunder, diperoleh dari informasi statistik dalam bentuk data deret waktu yang dimiliki oleh Departemen Pertanian, Direktoral Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura serta data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bogor. Selain itu, data sekunder tersebut juga diperoleh melalui literatur dari berbagai instansi dan penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dalam penelitian ini. Untuk data sekunder, jenis data yang diperoleh adalah data permintaan dan konsumsi cabai merah, data penduduk kota Bogor, data industri pengolahan cabai merah keriting serta data lainnya yang terkait dengan penelitian.

Prosedur Analisis Data

a. Analisis Deskriptif

Analisis ini merupakan suatu metode analisis yang digunakan untuk memperoleh gambaran secara mendalam dan obyektif mengenai rantai penyediaan (supply chain) dari cabai merah. Tujuan penggunaan analisis ini adalah untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan, dan memeriksa sebab-sebab dari gejala tertentu. Hasil analisis ini disajikan dalam bentuk tabulasi dan statistik sederhana berdasarkan informasi yang ada untuk menggambarkan keadaan pasar dan aliran rantai pasokan cabai merah. Analisis deskriptif mencakup menganalisis secara deskriptif pada tiga aspek, yaitu konfigurasi jaringan logistik, metode transportasi dan penyimpanan, pengendalian persediaan dan marjin pemasaran.

b. Analisis Efisiensi Rantai Pasokan

(21)

10

untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang disebut biaya pemasaran atau biaya fungsional dan keuntungan (profit) lembaga pemasaran. Secara matematis marjin pemasaran setiap lembaga pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut :

Mi= Pri - Pfi

Mi= Ci+ πi

Sehingga :

Pri - Pfi= Ci+ πi

Dimana :

Mi = marjin pemasaran pada pasar tingkat ke-i

Pri = harga jual pada tingkat lembaga ke-i

Pfi = harga beli pada tingkat lembaga ke-i

Ci = biaya pemasaran pada tingkat lembaga ke-i

πi = keuntungan lembaga pemasaran pada tingkat ke-i

Total marjin (MT) adalah penjumlahan marjin pemasaran di setiap lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat, sehingga dirumuskan sebagai berikut :

Dimana : n = jumlah lembaga pemasaran

Selain itu juga menghitung rasio antara keuntungan terhadap total biaya pemasaran yang dikeluarkan yang dirumuskan sebagai berikut:

Rasio Keuntungan-Biaya = Total Keuntungan Total Biaya Saluran Pemasaran

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Lokasi Penelitian

(22)

11 Tabel 1Batas-batas wilayah Kota Bogor

No. Arah Perbatasan

1. Timur Berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor

2. Barat Berbatasan dengan Kecamatan Kemang dan Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor

3. Utara Berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor

4. Selatan Berbatasan dengan Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor

Sumber: (Badan Pusat Statistik, 2013)

Setiap tahun jumlah penduduk kota Bogor selalu mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah penduduk selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel 2. Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa kenaikan jumlah penduduk paling tinggi terjadi pada tahun 2011 dimana terjadi kenaikan sebesar 17.516 jiwa atau 1.8 % dari tahun 2010. Data Jumlah penduduk pada tahun 2012 menunjukkan jumlah penduduk kota Bogor adalah 1.004.831 jiwa dengan rasio jenis kelamin laki-laki berbanding perempuan sebesar 1,03. Kenaikan jumlah penduduk pada tahun 2011 ke tahun 2012 terbesar kedua yakni mencapai 17.516.

Tabel 2 Jumlah Penduduk Kota Bogor Menurut Jenis Kelamin Tahun Laki-laki

Kebutuhan dan Konsumsi Cabai Merah Keriting

(23)

12

kota Bogor yang selalu bertambah setiap tahunnya maka akan diikuti pula dengan meningkatnya jumlah konsumsi pangan beberapa komoditas. Hal yang sama terjadi pada data tabel 3 yang menunjukkan tren konsumsi yang cenderung meningkat setiap bulannya.

Tabel 3 Konsumsi Cabai Merah Keriting Kota Bogor

Bulan Konsumsi (Ton)

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bogor (2013) Varietas Cabai Besar di Pasaran Kota Bogor

(24)

13 cabai merah dikenakan biaya tambahan, besarnya 10-15% dari harga cabai merah keriting per kilogram.

Selain itu diolah menjadi bentuk bumbu atau sambal setengah jadi, cabai merah keriting juga diolah secara menjadi sambal basah dan sambal kering untuk meningkatkan nilai tambah. Berdasarkan data dari dinas perindagkop kota Bogor, terdapat 2 usaha kecil dan menengah yang mengolah cabai merah keriting, yaitu CV Putra Karya Sejahtera dan Bumbu Tradisional Indonesia. Kedua usaha ini sama-sama membuat cabai merah keriting menjadi sambal basah dan kering. Perbedaan diantara kedua produk tersebut yaitu terdapat pada bentuk produknya. Sambal basah berbentuk cairan kental sedangkan sambal kering berbentuk bubuk. Pada sambal basah kandungan airnya sangat tinggi dibandingkan sambal kering sehingga umur simpannya lebih pendek dibandingkan dengan sambal kering.

Gambar 3 Diagram Alir Pengolahan Sambal Basah

Kedua usaha pembuatan sambal ini sama-sama masih menggunakan teknologi yang sederhana. Sambal basah dibuat dengan terlebih dahulu merebus bahan cabai merah keriting selama 1 jam pada suhu 100o C, kemudian di blender

Cabai Merah Keriting

Perebusan

Blender 3 menit

Pemasakan selama 1 jam Suhu 100oC

Pelabelan dan Merk Pendinginan

packaging Natrium benzoat

Bumbu

(25)

14

selama 3 menit, kemudian dilakukan pemasakan selama 1 jam dengan disertai penambahan natrium benzoat sebagai pengawet sambal basah tersebut. Setelah diproses pemasakan sambal didinginkan dan di packaging dalam kemasan gelas. Gambar 3 diatas memperlihatkan diagram alir pembuatan sambal basah tersebut.

Selain membuat sambal basah, kedua UKM ini juga membuat sambal kering. Perbedaan utama keduanya terlihat secara fisik sambal kering berbentuk bubuk dan sambal basah berbentuk kental. Gambar 4 menunjukkan cara pembuatan sambal kering

Gambar 4 Diagram alir pembuatan sambal kering

Cabai keriting mula-mula dikeringkan dengan cahaya matahari selama 2-3 hari tergantung cuaca, kemudian dilakukan pengeringan lanjutan dengan menggunakan oven hingga suhu mencapai 200oC selama 10-15 menit. Tujuan pengeringan lanjutan ini adalah untuk meminimalkan kadar air pada bahan cabai merah keriting hingga 10-15% . setelah dikeringkan, bahan kemudian di blender disertai dengan campuran bumbu, bahan kemudian dimasukkan ke kuali pemasakan selama 10 menit dengan suhu 180oC. setelah dimasak kemudian masuk pada proses pendinginan yang memerlukan waktu hingga 1 hari. Setelah didinginkan sambal kering di packaging dengan kemasan botol kertas dan diberi label dan merk.

Cabai Merah Keriting

Pengeringan Matahari 3 hari

Pengeringan oven

blender

Pelabelan dan Merk Pemasakan

packaging Bumbu

(26)

15 Sambal basah dan sambal kering memiliki perbedaan yang cukup besar dalam hal masa umur simpan. Sambal basah yang menggunakan pengawet natrium benzoat dapat bertahan hingga masa simpan setengah tahun. Sedangkan sambal kering memiliki masa simpan yang lebih lama hingga mencapai satu tahun. Diantara kedua jenis produk tersebut menurut hasil wawancara dengan pemilik usaha bahwa sambal kering yang memiliki volume penjualan yang lebih baik daripada sambal basah. Hal tersebut dikarenakan konsumen kota Bogor lebih menyukai sambal kering yang lebih pedas dan memiliki umur simpan yang lebih lama daripada sambal basah.

Identifikasi Anggota Rantai Pasokan

Anggota dalam suatu rantai pasokan adalah individu atau kelompok yang terlibat serta berperan dalam aktivitas pemasaran aliran suatu barang atau produk tertentu. Anggota rantai pasokan komoditas cabai merah keriting adalah individu atau kelompok yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan rantai pasokan komoditas cabai merah keriting serta produk olahnnya dari hulu ke hilir. Para pelaku yang di identifikasi berperan pada aktivitas rantai pasokan cabai merah keriting bisa berasal dari luar kota Bogor dengan pertimbangan peranannya dalam aliran pasokan cabai merah keriting tersebut.

Anggota Primer

Anggota primer yaitu anggota yang benar-benar terlibat dan menjalankan rantai pasokan utama yang meliputi aktivitas operasional dan manajerial bisnis yang hasilnya berupa keluaran tertentu bagi pasar. Pada penelitian ini ada empat anggota primer dalam rantai pasokan cabai merah keriting di kota Bogor. Berikut keempat anggota primer rantai pasokan tersebut.

a. Pengirim

Pengirim merupakan anggota primer yang memiliki peran besar dalam aktivitas rantai pasokan cabai merah keriting di kota Bogor. Pengirim yang berasal dari Banyuwangi dan Blitar provinsi jawa timur setiap hari berhubungan dengan pedagang besar di pasar Induk Kemang dalam melakukan aktivitas bisnis jual beli cabai merah keriting. Pengirim juga umumnya berstatus sebagai pengumpul cabai merah keriting yang didapatkan dari petani cabai merah keriting. Berdasarkan informasi yang didapat penulis, pengumpul terbagi menjadi dua yaitu pengumpul individu dan pengumpul yang tergabung dalam kelompok tani atau koperasi tani. b. Pedagang Besar

(27)

16

c. Pedagang Pengecer

Pedagang pengecer yaitu pedagang yang membeli barang dalam jumlah kecil dari pedagang besar untuk kemudian dijual kembali kepada konsumen. Aktivitas pedagang pengecer hanya sebatas menjual di pasar-pasar yang terdapat di kota Bogor untuk dijual ke konsumen akhir.

d. Pelaku Pengolah

Pelaku pengolah merupakan anggota rantai pasok yang mengolah bahan baku berupa cabai merah keriting yang dikonversi menjadi produk tertentu. Pelaku pengolah memiliki tujuan melakukan aktivitas pengolahan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih besar daripada menjual produk dalam bentuk bahan baku. Ada dua jenis aktivitas pengolahan cabai merah keriting di kota Bogor yaitu pengolahan cabai merah keriting di tingkat pedagang pengecer dan pengolahan tingkat industri kecil. Kota Bogor memiliki dua pelaku pengolahan industri kecil cabai merah keriting yaitu CV Putra Karya Sejahtera dan Bumbu Tradisional Indonesia. Ruang lingkup pemasaran produk kedua pelaku pengolahan tersebut sebagian besar berada di dalam Kota Bogor sehingga masuk sebagai anggota primer.

Anggota sekunder

Anggota sekunder yaitu individu atau kelompok yang menyediakan sumber daya, pengetahuan, utilitas dan aset bagi anggota primer. Aktivitas anggota sekunder dengan anggota primer saling menguntungkan sehingga perannya cukup besar dalam aktivitas rantai pasokan cabai merah keriting kota Bogor. Anggota sekunder yang termasuk yaitu lembaga penyedia jasa transportasi, produsen kemasan, buruh angkut, produsen mesin penggiling cabai dan produsen alat-alat pengolahan industri cabai merah keriting.

Aktivitas anggota primer rantai pasokan komoditas cabai merah keriting kota Bogor

(28)

17 melakukan transaksi penjualan dengan pedagang besar yang ada di pasar Induk Kemang. Cabai keriting yang tidak terjual disimpan dalam gudang yang memiliki masa simpan maksimal dua hari. Cabai merah keriting yang tidak terjual ke pedagang besar oleh pengirim dilakukan tahap sortasi lagi untuk memilah cabai merah keriting untuk kemudian dijual ke penampung yang membeli cabai yang dalam kondisi kurang baik. Cabai merah keriting yang dikemas dalam kardus dikirim menggunakan truk menuju pasar Induk Kemang. Secara umum, aktivitas pengirim yaitu penjualan, pembelian, pengangkutan, penyimpanan, sortasi, grading dan info pasar.

Setelah sampai di pasar Induk Kemang, pedagang besar melakukan bongkar muat mulai melakukan penjualan di pasar Induk Kemang pada pedagang pengecer. Keseluruhan pedagang pengecer yang berada di pasar kota Bogor membeli cabai merah keriting dari pasar Induk Kemang. Pedagang besar dalam membeli cabai merah keriting dari pengirim selalu mencari info pasar sebagai patokan untuk pembelian cabai merah keriting hari berikutnya. Setiap hari cabai besar yang dibeli oleh pedagang besar selalu habis terjual sehingga aktivitas penyimpanan yang dilakukan oleh pedagang besar jarang dilakukan. Setiap ada pembelian, cabai merah keriting dikemas dalam kantong plastik yang berukuran 20 Kg. jika ada cabai merah keriting yang tidak terjual pada hari itu, maka cabai merah tersebut akan disortasi untuk kemudian dijual keesokan harinya. Cabai merah keriting yang tidak terjual secara fisik menjadi mengkerut dan tidak segar akan ada penampung yang membeli cabai tersebut dibawah harga pasaran. Aktivitas pedagang besar di pasar Induk Kemang mencakup penjualan, pembelian, penyimpanan, pengemasan, sortasi, dan info pasar. Pedagang besar tidak melakukan aktivitas pengangkutan karena aktivitas pengangkutan cabai merah keriting dari pengirim ke pedagang besar biayanya ditanggung oleh pihak pengirim. Harga yang ditetapkan oleh pengirim telah mencakup dengan ongkos kirim ke pedagang besar.

(29)

18

Anggota primer tingkat pengolah melakukan aktivitas penjualan dan pembelian. Pembelian oleh pengolah dilakukan dengan bantuan info pasar. Ketika harga cabai merah melonjak umumnya pengolah akan berhenti produksi karena biaya produksi yang ditanggung terlalu tinggi, tetapi saat harga cabai merah keriting dibawah harga rata-rata maka pengolah akan memborong cabai merah keriting tersebut. Cabai merah keriting tersebut kemudian akan disimpan dalam gudang sebelum memasuki proses pengolahan lebih lanjut. Pengolah juga melakukan sortasi dan grading terhadap cabai merah keriting setelah melakukan pembelian ditingkat pedagang besar. Sortasi dan grading juga dilakukan sebelum memasuki proses pengolahan. Aktivitas yang dilakukan anggota primer rantai pasokan cabai merah keriting dapat dilihat pada tabel 4 dibawah.

Tabel 4 Aktivitas anggota primer rantai pasokan cabai merah keriting kota Bogor

Aktivitas Anggota Primer Rantai Pasokan

Pengirim Pedagang Pengecer Pengolah

Penjualan √ √ √ √

√/- : Dilakukan oleh sebagian anggota

Anggota sekunder yang terlibat dalam jaringan rantai pasokan cabai merah keriting di kota Bogor hanya mendukung aktivitas bisnis dari anggota primer rantai pasokan. Anggota sekunder memiliki fokus yang berbeda dibandingkan dengan fokus anggota primer yang melakukan aktivitas yang tersaji di tabel 4 diatas. Fokus anggota sekunder hanya terbatas pada aktivitas jasa dan penyediaan bagi anggota primer seperti jasa transportasi dan penyediaan kemasan bagi komoditas cabai merah keriting.

Konfigurasi Jaringan Logistik

Pola Aliran Rantai Pasokan

(30)

19 wawancara dengan pedagang besar bahwa sepanjang tahun asal pasokan cabai merah keriting yang masuk ke kota Bogor berasal dari kedua daerah tersebut. Daerah sentra sayur mayur di Jawa Barat yang juga menghasilkan cabai merah keriting kurang diminati oleh pedagang besar, karena selain harganya yang lebih mahal juga masa simpannya pendek daripada cabai merah keriting asal Blitar dan Banyuwangi.

Pedagang besar pasar Induk Kemang telah memiliki pengirim tetap yang berada di Banyuwangi atau Blitar. Setiap pedagang besar membeli cabai merah keriting dari pengirim antara 500 kg hingga 1,5 ton per hari tergantung banyaknya permintaan dari konsumen. Permintaan dari konsumen bisa meningkat lagi pada saat ada hari raya natal, idul fitri dan tahun baru. Pada saat tersebut pedagang besar bisa membeli 2-3 kali lipat dari jumlah order hari biasa. Selain dijual ke pasar-pasar di kota Bogor, pedagang besar juga menjual ke luar kota Bogor. Area luar kota Bogor tersebut yaitu Ciawi, Parung dan Cibinong. Ada dua pasar yang tidak membeli cabai merah keriting langsung dari pasar Induk Kemang, yaitu pasar Sukasari dan pasar Padasuka. Kedua pasar ini membeli cabai merah keriting di pasar Bogor dan pasar Warung Jambu, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 1.

Pedagang pengecer di pasar-pasar kota Bogor membeli cabai merah keriting berkisar antara 5-80 kilogram per hari untuk kemudian dijual kepada konsumen akhir. Pedagang pengecer ini tidak selalu membeli cabai merah keriting dari pedagang besar yang sama setiap harinya. Pedagang pengecer biasanya memilih membeli di pedagang besar yang memiliki harga yang paling rendah diantara pedagang besar lainnya.

Industri pengolahan cabai merah keriting yang terdapat di kota Bogor ada dua, yaitu CV Putra Kaya Sejahtera dan Bumbu Tradisional Indonesia. Kedua usaha ini termasuk usaha kecil menengah sehingga penggunaan bahan baku cabai merah keriting tidak terlalu besar, berkisar 50-80 kilogram per hari. Bahan baku cabai merah keriting diperoleh dengan membeli di pasar Induk Kemang. Kedua usaha pengolah cabai tersebut selalu mengikuti info pasar terhadap harga cabai setiap hari. Kedua pengolah tersebut sangat bergantung pada harga yang ditetapkan oleh pedagang besar di pasar Induk Kemang. Jika harga bahan baku cabai merah keriting dibawah rata-rata maka mereka akan memborong untuk stok di simpan digudang selama persediaan selama beberapa produksi. Setiap bulan kedua industri tersebut membutuhkan 2,86 ton cabai merah keriting untuk diolah menjadi produk sambal basah dan sambal kering.

Metode Transportasi dan Penyimpanan Cabai Merah Keriting dan Produk Olahan

(31)

20

pesanan pada pengirim dengan meramalkan berapa pembelian cabai merah keriting untuk dua hari ke depan jika memesan hari ini dengan info pasar yang didapatkan. Saat pengiriman dengan truk, digunakan terpal untuk menutupi cabai tersebut dengan tujuan untuk meminimalisasi berkurangnya kadar air pada cabai dan kotoran yang berpotensi merusak cabai selama perjalanan berlangsung. Pedagang besar tidak melakukan aktivitas transportasi karena hal tersebut telah dilakukan dan ditanggung oleh pengirim. Biaya transportasi yang dibebankan oleh penyedia transportasi berkisar antara Rp. 238,00-250,00 per kilogram tergantung banyaknya cabai yang dipesan oleh pedagang besar.

Transportasi berikutnya dilakukan oleh pedagang pengecer untuk membawa cabai merah keriting ke pasar di kota Bogor. Sekitar pasar Induk Kemang banyak terdapat pihak penyedia transportasi mobil bak kecil/pick up yang dapat disewa oleh pedagang pengecer. Pedagang pengecer yang menjual cabai merah diatas 50 kilogram menggunakan jasa transportasi mobil bak tersebut. Kapasitas mobil bak tersebut dapat mencapai 1 ton. Kapasitas yang besar tersebut disiasati oleh pedagang pengecer dengan melakukan sistem patungan dengan beberapa pedagang besar pengecer lain yang berjualan di lokasi pasar yang sama di kota Bogor. Biaya yang dibebankan oleh pihak penyedia jasa transportasi kepada pengecer berbeda-beda tergantung jarak yang ditempuh setiap pasar. Harga transportasi pengiriman per kilogram cabai merah keriting yang dibebankan berkisar Rp. 350,00 – 550,00 ke pasar-pasar yang ada di kota Bogor.

Penyimpanan cabai merah keriting dilakukan oleh semua lini anggota primer rantai pasokan. Namun ada juga pedagang besar dan pengecer yang tidak melakukannya. Penyimpanan baru dilakukan oleh pedagang besar dan pengecer jika stok penjualan tidak habis pada hari tersebut. Peyimpanan oleh pedagang besar dan pengecer pun hanya sebatas dilakukan dengan menyimpan di kios. Tetapi pedagang besar selama melakukan penyimpanan juga dilakukan meminimalisasi kehilangan kadar air pada cabai merah keriting dengan cara mengarahkan kipas ke arah cabai tersebut. Pengirim melakukan penyimpanan cabai merah keriting yang tidak terjual di gudang penyimpanan yang dikemas per dus. Kapasitas dus maksimal 30 kilogram cabai merah. Cabai merah keriting yang tidak terjual dan mutunya menjadi menurun tetap dapat dijual dengan harga yang relatif rendah dari harga umumnya. Akan tetapi kondisi cabai merah keriting yang tidak terjual di lini pengirim jarang terjadi karena setelah didapat dari petani-petani cabai merah, cabai tersebut langsung dikirimkan ke pedagang-pedagang besar.

(32)

21 Penyebaran Pasokan Cabai Merah Keriting di Kota Bogor

Cabai merah keriting yang masuk ke kota Bogor berasal dari provinsi Jawa Timur. Cabai merah keriting yang ditanam oleh petani dibeli oleh pengepul yang berfungsi juga sebagai pengirim atau supplier, kemudian oleh pengirim dipasok ke kota Bogor masuk melalui pasar Induk Kemang. Bulan September tercatat cabai merah keriting yang masuk sebesar 157,5 ton. Gambar 5 menunjukkan cabai merah keriting yang masuk ke kota Bogor tidak semuanya dijual dipasar yang ada di kota Bogor. Sebesar 148,65 ton atau 94,38% cabai merah keriting dijual di kota Bogor tersebar di tujuh pasar tradisional kota Bogor. Kemudian sebesar 2,86 ton atau 1,82% cabai merah keriting digunakan oleh industri untuk diolah menjadi produk sambal basah dan sambal kering. Sisa cabai merah keriting 3,8% dijual ke luar kota Bogor. Jumlah yang dipasok kepada konsumen di pasar tradisional kota Bogor berbeda-beda tergantung besar kecilnya kecil tersebut. Pasokan terbesar berada di pasar baru Bogor yang memasok 69,12 ton atau 46,5%, sedangkan pasokan terkecil yaitu pasar gunung batu yang memasok cabai merah keriting kepada konsumen 570 kilogram per bulan. Pasar baru Bogor merupakan pasar tradisional yang memiliki aktivitas 24 jam dan arealnya luas menyebabkan banyak pedagang pengecer yang berjualan di pasar tersebut yang berakibat pada banyaknya jumlah pasokan cabai merah keriting.

Keterangan:

*) : dari berbagai daerah tergantung musim

Gambar 5 Sumber dan penyebaran pasokan cabai merah keriting di kota Bogor per bulan

Pengelolaan Persediaan

Cabai merah merupakan komoditas pertanian yang cepat mengalami kebusukan sehingga harus cepat sampai pada konsumen. Cabai merah yang dikirim oleh pengirim dari Jawa timur pada sore atau malam hari kemudian sampai di pasar induk Kemang pada siang hari 2 hari kemudian. Pengiriman cabai merah keriting oleh pengirim dikirim setiap hari sesuai dengan pesanan pedagang besar. Pedagang besar melakukan pemesanan dengan melakukan peramalan sederhana terhadap stok pada 2 hari kemudian yang bisa terjual habis berdasarkan

(33)

22

informasi pasar yang telah didapat. Pedagang besar biasanya hanya menyimpan sedikit sisa stok penjualan pada satu hari sehingga penjualan hari sebelumnya digabungkan dengan penjualan hari berikutnya. Pedagang besar menerapkan sistem bayar dimuka atau cash setiap satu kali order kepada pengirim. Setiap kerusakan komoditi yang telah dikirimkan ke Bogor ditanggung seluruhnya oleh pedagang besar kecuali jika ada kerusakan dalam skala besar selama perjalanan maka tingkat kerugian akan ditanggung bersama oleh pedagang besar dan pengirim. Aktivitas di pasar induk kemang berlangsung antara sore hingga tengah malam. Saat tersebut dipenuhi oleh pedagang pengecer dari pasar kota Bogor yang membeli cabai merah keriting. Sistem pembelian oleh pedagang pengecer dilakukan dengan mendatangi langsung pedagang besar tersebut dan dilakukan pembayaran secara tunai. Umumnya pasokan dari pedagang besar selalu terpenuhi sepanjang tahun. Pedagang pengecer menggunakan kiosnya sebagai tempat untuk menyimpan stok cabai keriting yang tidak terjual. Cabai tersebut akan dijual lagi keesokan harinya dengan terlebih dahulu dilakukan grading terhadap cabai yang masih layak jual. Cabai yang tidak layak jual akan dijual kepada penampung dengan harga rendah. Sebagian pedagang pengecer memiliki alat penggiling cabai yang menggiling cabai yang tidak laku pada hari tersebut untuk kemudian dijual sebagai bumbu mentah.

Jumlah cabai merah keriting yang dikonsumsi oleh masyarakat relatif sedikit tetapi keberadaannya diperlukan setiap hari. Jumlah pasokan yang kontinyu ke kota Bogor dari pengirim sangat diperlukan sekali. Akan tetapi sifat komoditas pertanian yang tidak dapat diproduksi secara kontinyu menyebabkan ketersediaan cabai merah keriting di kota Bogor tidak selalu berlimpah. Pasokan yang diluar masa panen cabai keriting biasanya akan menyebabkan harga naik karena kondisi pasokan dan permintaan yang tidak seimbang. Kemudian saat hari raya besar keagamaan harga berbagai komoditas termasuk cabai merah keriting naik karena kebutuhan yang tinggi dimasyarakat walaupun jumlah pasokannya telah terpenuhi. Akibatnya kondisi ini yang menyebabkan cabai keriting mengalami fluktuasi harga yang cukup sering sepanjang tahun.

Marjin Pemasaran

(34)

23 merah keriting. Pedagang pengecer inilah yang menyalurkan komoditas tersebut kepada konsumen akhir di kota Bogor. Gambar 6 menjelaskan saluran pasokan cabai merah keriting kota Bogor.

Gambar 6 Saluran pasokan cabai merah keriting kota Bogor

Ada 8 pasokan cabai merah keriting di kota Bogor berdasarkan gambar 3, yaitu:

1. Saluran Pasokan 1 : Petani – Pengirim – pasar Induk Kemang – Pengecer pasar Warung Jambu – Konsumen

2. Saluran Pasokan 2 : Petani – Pengirim – pasar Induk Kemang – Pengecer pasar Gunung Batu – Konsumen

3. Saluran Pasokan 3 : Petani – Pengirim – pasar Induk Kemang – Pengecer pasar Merdeka - Konsumen

4. Saluran Pasokan 4 : Petani – Pengirim – pasar Induk Kemang – Pengecer pasar Kebon Kembang - Konsumen

5. Saluran Pasokan 5 : Petani – Pengirim – pasar Induk Kemang – Pengecer pasar Baru Bogor - Konsumen

6. Saluran Pasokan 6 : Petani – Pengirim – pasar Induk Kemang – Pengecer pasar Baru Bogor – Pengecer pasar Padasuka - Konsumen

Pasar Gunung Batu Pasar Merdeka

Pasar Kebon Kembang

Pasar Padasuka Pasar Baru

Bogor Konsumen

Pasar Induk Kemang Pengirim

Pasar Warung Jambu

Pasar Sukasari

(35)

24

Seluruh saluran rantai pasokan diatas diawali dengan cabai merah keriting yang berasal dari Petani di kabupaten Banyuwangi saat penelitian ini dilaksanakan. Ada perbedaan saluran pemasokan yang menuju pedagang pengecer di pasar sukasari dan padasuka. Jika kelima pasar Baru Bogor, Merdeka, Warung Jambu, Kebon Kembang dan Gunung Batu mendapatkan cabai merah keriting langsung dengan membeli dari pedagang besar di pasar Induk Kemang. Lain halnya dengan pasar Padasuka dan Sukasari, kedua pasar tersebut mendapatkan cabai merah keriting dari pedagang pengecer dari pasar baru Bogor dan pasar Warung Jambu. Saluran pasokan 6 menunjukkan pedagang pengecer sukasari mendapatkan cabai merah keriting untuk dijual kembali dari pasar Baru Bogor. Sama halnya dengan saluran pasokan 7 pedagang padasuka mendapat pasokan cabai merah keriting dari pasar Baru Bogor. Namun berdasarkan hasil wawancara, ada pula pedagang pengecer di pasar Sukasari yang mendapat pasokan cabai merah dari pasar warung jambu.

Biaya pemasaran setiap anggota linier/lembaga pemasaran berbeda-beda. Secara umum komponen biaya pemasaran ditingkat pedagang besar dan pengecer hampir sama. Biaya pemasaran di tingkat pedagang besar yaitu biaya transportasi, biaya bongkar muat, biaya penyusutan, biaya tenaga kerja, biaya kebersihan, biaya keamanan, biaya retribusi, biaya listrik dan biaya sewa kios. Di tingkat pedagang pengecer, biaya pemasaran meliputi biaya transportasi, biaya penyusutan, upah tenaga kerja, biaya kebersihan, biaya keamanan, biaya retribusi, biaya listrik dan biaya sewa kios. Biaya-biaya tersebut diperhitungkan dengan cara membagi biaya total per bulannya dengan jumlah kilogram cabai merah keriting yang dipasok setiap bulan. Saluran pemasaran dipengaruhi oleh dua hal, yaitu biaya fungsional/operasional dan harga yang ditetapkan. Jika kedua hal tersebut efisien maka akan tercipta saluran efisiensi yang baik sehingga keuntungannya tinggi. Menurut Sudiyono (2002), efisiensi pemasaran dapat didekati dengan efisiensi operasional yang diukur dengan membandingkan output pemasaran terhadap input pemasaran, dengan penekanan ditujukan pada usaha mengurangi input untuk menghasilkan output pemasaran atau menaikan rasio output-input pemasaran.

(36)

25 pasokan 6,7 dan 8 merupakan biaya operasional yang tinggi dibandingkan kelima pasar lainnya. Hal tersebut dikarenakan panjangnya saluran pasokan yang berada di ketiga saluran tersebut yang menyebabkan biaya operasional yang tinggi. Pedagang pengecer yang berlokasi di pasar padasuka dan pasar sukasari tidak membeli langsung cabai keriting dari pedagang besar pasar Induk Kemang karena faktor jarak yang jauh mengakibatkan biaya transportasi yang tinggi, sedangkan keuntungan yang didapatkan tidak jauh berbeda dengan membeli di pasar tradisional yang terdekat. Pedagang di pasar padasuka membeli cabai keriting di pedagang pasar Baru Bogor (saluran 6). Sedangkan pedagang sukasari mendapatkan cabai merah keriting dari pasar Baru Bogor (saluran 7) dan pasar Warung Jambu (saluran 8) berdasarkan lampiran 4.

Saluran 6 tertinggi di delapan saluran pemasokan cabai merah keriting disebabkan karena faktor panjangnya aliran pasokan cabai merah keriting di saluran tersebut. Saluran pasokan 6 menunjukkan bahwa pedagang pasar Padasuka membeli cabai merah tidak langsung dari pedagang besar di pasar Induk Kemang tetapi dari pasar baru Bogor untuk kemudian dijual kembali kepada konsumen.

(37)

26

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Cabai merah keriting yang masuk ke kota Bogor berasal dari kabupaten Banyuwangi dan Blitar. Seluruh cabai merah keriting masuk ke kota Bogor melalui pasar Induk kemang. Jumlah pasokan cabai merah keriting yang dikirimkan oleh pengirim ke pedagang besar kota Bogor mencapai 157,5 ton per bulan. Sekitar 5,99 ton atau 3,8% jumlah pasokan dikonsumsi oleh penduduk diluar kota Bogor. Sebesar 94,38% atau 148,65 ton dipasok ke dalam kota Bogor dan 2,86 ton atau 1,82% jumlah pasokan dipasok ke industri cabai merah keriting di Kota bogor. Cabai merah keriting memiliki aliran pasokan utama dari anggota primer yaitu pengirim, pedagang besar, pedagang pengecer, industri dan konsumen. Adapun anggota sekunder dalam rantai pasokan cabai merah keriting yaitu penyedia jasa angkutan, produsen dan penyedia kemasan, buruh, dan penyedia alat-alat industri pengolahan cabai merah keriting. Pedagang besar menjual cabai merah keriting di pasar Induk kemang untuk dijual lagi kepada pedagang pengecer yang berasal dari seluruh pasar-pasar yang ada di kota Bogor. Industri pengolahan cabai merah di kota Bogor ada dua, yaitu CV Putra Karya Sejahtera dan Bumbu Tradisional Indonesia. Kedua industri ini termasuk Usaha Menengah dan Kecil (UKM) sehingga untuk memenuhi kebutuhan pasokan cabai merah keriting sebagai bahan baku utamanya masih dipenuhi dari pedagang besar. Industri pengolah cabai merah keriting kota Bogor membuat produk sambal basah dan sambal kering. Secara umum pengolahan dari cabai merah keriting menjadi sambal basah dan sambal kering teknologi masih sangat sederhana dan konvensional. Kedua produk tersebut dijual di wilayah pemasaran sekitar kota Bogor.

Terdapat delapan saluran pemasaran yang dimulai dari pengirim diluar kota Bogor yang menjual ke pedagang besar pedagang besar pasar Induk Kemang. Pedagang membeli cabai merah tersebut untuk dijual kembali kepada konsumen. Analisis marjin pemasaran yang dilihat dari aspek biaya operasional menunjukkan bahwa saluran pasokan yang paling efisien yaitu saluran pasokan 1 (Petani- Pengirim-Pedagang besar pasar Induk Kemang-Pedagang pengecer pasar Warung Jambu-konsumen). Saluran pasokan 1 memiliki alokasi biaya operasional yang rendah dibandingkan tujuh saluran operasional lainnya yaitu Rp. 2436,00- dan keuntungan Rp. 2564,00- sehingga marjin pemasarannya sebesar Rp. 5000,00-.

Saran

(38)

27

DAFTAR PUSTAKA

Anatan L, Ellitan L. 2008. Supply Chain Management Teori dan Aplikasi. Bandung (ID): Alfabeta.

Badan Pusat Statistik. 2013. Kota Bogor dalam Angka (tahun 2012). Bogor (ID): BPS Kota Bogor.

Chopra S, Meindl P. 2001. Supply Chain Management: Strategi, Planning and Operation. New Jersey (US) : Prentice-Hall.

Gumbira ES, Intan AH. 2001. Manajemen Agribisnis. Jakarta (ID): Ghalia Indonesia.

Gaspersz, V. 1998. Production Planning and Inventory Control. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama.

Indrajit RE, Djokopranoto R. 2003. Konsep Manajemen Supply Chain: Cara Baru Memandang Mata Rantai Penyediaan Barang. Jakarta (ID): PT Grasindo. Kotler P. 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta (ID): Prenhalindo.

Miranda, Tunggal AW. 2005. Manajemen Logistik dan Supply Chain Management. Jakarta (ID): Harvarindo.

Simchi-Levi D, Kaminsky P. 2003. Designing, and Managing The Supply Chain : Concepts, Strategies and Case Studies. New York (US): McGraw-Hill.

Sudiyono A. 2002. Pemasaran Pertanian. Malang (ID): UMM.

Suyanti. 2007. Membuat Aneka Olahan Cabai. Jakarta (ID): Penebar Swadaya. Topan M. 2008. Panduan lengkap Budidaya dan Bisnis Cabai. Jakarta (ID):

(39)

28

Lampiran 1 Sumber dan Penyebaran Pasokan Cabai Merah Keriting per Bulan Kota Bogor

Keterangan: *) Dari berbagai daerah, tergantung musim Pengirim

157,5 Ton*)

Kota Bogor (pasar Induk Kemang)

157,5 Ton

Pasar Kota Bogor 148,65 Ton

(94,38%)

Pasar Gunung Batu 0.57 Ton (0,39%)

Pasar Merdeka 11,64 Ton

(7,83%) Pasar Kb.

Kembang 46,8 Ton (1,48%) Pasar Baru Bogor

69,12 Ton (46,50%)

Pasar Warung Jambu 20,52 Ton

(13,8%)

Industri Pengolah Cabai Merah 2,86 Ton (1,82%) Luar Kota Bogor

5,99 Ton (3,8%)

Pasar Sukasari 2.64 Ton (65% dari pasar Bogor, 35% dari

pasar jambu Pasar Padasuka

2.83 Ton (4,09%)

(40)

29 Lampiran 2 Perhitungan Marjin Pemasaran Cabai Merah Keriting Saluran

Pasokan 1, 2, dan 3 (per kilogram)

Saluran Pasokan 1 2 3

(41)

30

Lampiran 3 Perhitungan Marjin Pemasaran Cabai Merah Keriting Saluran Pasokan 4 dan 5 (per kilogram)

Saluran Pasokan 4 5

Asal Pasokan Pengirim

Komponen Marjin Rp. (%) Rp. (%)

Petani

Harga Jual 12700 12700

Pengirim

Harga Jual 25000 25000

Pedagang Besar PIK

Harga Beli 25000 25000

Biaya Pemasaran

Upah tenaga kerja 176 2,93 176 2,93

Biaya transportasi 238 3,97 238 3,97

Bongkar Muat & Timbang 23 0,38 23 0,38

Penyusutan 583 9,72 583 9,72

Biaya Lain-lain 58 0,97 58 0,97

Total Biaya Pemasaran 1055 17,97 1055 17,97

Keuntungan 945 15,36 945 15,36

Harga Jual

Pengecer Pasar Kebon

Kembang

Pasar Baru Bogor

Harga Beli 27000 27000

Biaya Pemasaran

Upah tenaga kerja 321 5,35 334 5,66

Biaya transportasi 464 7,74 531 8,85

Bongkar Muat & Timbang 214 3,57 200 3,33

Penyusutan 450 7,50 420 7,00

Biaya Lain-lain 245 4,08 163 2,71

Total biaya pemasaran 1694 28,24 1648 27,47

Keuntungan 2306 38,44 2352 39,20

Harga Jual 31000 31000

Konsumen

Harga beli 31000 31000

Total Biaya keseluruhan 2749 45,82 2703 45,05

Total keuntungan 3251 54,18 3297 54,95

Total Marjin pedagang besar-pengecer

6000 6000

(42)

31 Lampiran 4 Perhitungan Marjin Pemasaran Cabai Merah Keriting Saluran Pasokan 6,7 dan 8 (per kilogram)

Saluran Pasokan 6 7 8

Pengecer Pasar Bogor Pasar Bogor Pasar Wr.

(43)

32

Keterangan : (%) Sebaran Marjin

PIK : Pasar Induk Kemang

Total biaya pemasaran = upah tenaga kerja + biaya transportasi + biaya bongkar muat dan penimbangan + biaya penyusutan + biaya lain-lain Biaya lain-lain = biaya sewa kios + biaya listrik, air, kebersihan

dan keamanan + retribusi

Biaya penyusutan = (Volume Susut / Volume Pembelian) x Harga Beli

Marjin Pemasaran setiap saluran pasokan ke-i = Harga jual oleh anggota rantai pasokan ke-i – biaya pemasaran anggota rantai pasokan ke-i

Total Marjin = Marjin pemasaran pedagang besar + marjin pemasaran pedagang pengecer

Keuntungan untuk setiap saluran pasokan ke-i = marjin pemasaran anggota rantai pasokan ke-i – harga beli oleh anggota rantai pasokan ke-i

Total Keuntungan = Keuntungan pedagang besar + keuntungan pedagang pengecer

Sebaran marjin = (biaya Kegiatan Pemasaran / Total Marjin) x 100%

Harga beli 33000 33000 33000

Total Biaya keseluruhan 3794 47,42 3526 44,07 3534 44,17

Total keuntungan 4207 52,58 4475 55,93 4466 55,83

Total Marjin Pedagang Besar-Pengecer

8000 8000 8000

(44)

33

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cirebon pada tanggal 3 Januari 1991 dari ayah Handi Rohandi dan Ibu Hayati. Penulis adalah putra pertama dari dua bersaudara. Tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Sumber dan diterima di jalur masuk Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2009.

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan seperti UKM Basket dan kepanitiaan di tingkat Departemen atau Fakultas. Penulis juga pernah aktif di forum Ikatan Kekeluargaan Cirebon (IKC) tahun 2009/2010. Pada tahun 2011/2012 penulis menjadi ketua cabang olahraga basket departemen Teknologi Industri Pertanian. Penulis juga pernah berpartisipasi dalam kegiatan Pekan Karya Ilmiah Mahasiswa dalam bidang kewirausahaan pada tahun 2012/2013.

Gambar

Gambar 2 Tahapan Tata Laksana Penelitian
Tabel 2 Jumlah Penduduk Kota Bogor Menurut Jenis Kelamin
Gambar 3 Diagram Alir Pengolahan Sambal Basah
Gambar 4 Diagram alir pembuatan sambal kering
+3

Referensi

Dokumen terkait

Analisis risiko dilakukan berdasarkan pada fluktuasi harga dan pasokan cabai merah keriting dan cabai merah besar di Pasar Induk Kramat Jati yang ditinjau dari

Tujuan penelitian ini adalah untuk Menganalisis efisiensi operasional (marjin pemasaran, farmer’s share , rasio keuntungan) cabai merah keriting di Kecamatan Cikajang,

Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Aliran produk dapat dibedakan menjadi aliran produk berupa buah cabai merah besar dan aliran produk berupa produk olahan cabai merah besar

Kabupaten Jember; (4) Aliran keuangan dalam rantai pasokan komoditas cabai merah besar di Kabupaten Jember dibedakan menjadi 12 macam aliran dimana dalam aliran

Identifikasi keberadaan efek ARCH dilakukan dengan mengamati nilai kurtosis dari data harga cabai merah keriting. Nilai Kurtosis yang lebih dari tiga menunjukkan terdapat

Data penelitian sebagai subjek penelitian adalah Data time series harga cabai merah keriting pada sentra produksi dan pasar induk tahun 2014 dan data perkembangan harga

Nilai Estimasi Elastisitas Risiko Produktivitas terhadap Input dengan Fungsi Produksi Stokastik Translog, pada Usahatani Cabai Merah Besar dan Cabai Merah Keriting di Provinsi

Tujuan dari penelitian ini yaitu, mengetahui pola saluran pemasaran cabai merah keriting, menganalisis besar biaya, keuntungan, dan margin pemasaran pada masing- masing pola saluran