Hubungan Antara Karakteristik Pasien dengan Adekuasi Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada Tahun 2014

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN

ADEKUASI HEMODIALISIS DIKLINIK SPESIALIS GINJAL

DAN HIPERTENSI RASYIDA, MEDAN

TAHUN 2014

Oleh:

Albert Audrey T 110100305

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN

ADEKUASI HEMODIALISIS

DIKLINIK SPESIALIS GINJAL DAN HIPERTENSI RASYIDA,

MEDAN TAHUN 2014

KARYA TULIS ILMIAH

Oleh:

Albert Audrey T

110100305

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)
(4)
(5)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ABSTRAK

Di Indonesia, prevalensi dari ESRD tergolong cukup tinggi. Riskesdas (2013) melaporkan prevalensi penyakit gagal ginjal kronis berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia sebesar 0.2 persen. Hemodialisis merupakan salah satu terapi yang paling sering diterapkan pada pasien ESRD. 4th Report of Indonesian Renal Registry (2011) melaporkan 78% dari seluruh pasien yang mengalami gangguan ginjal menjalani hemodialisis. Penelitian Owen dkk dalam Gatot (2008) menyatakan bahwa adekuasi hemodialisis akan mempengaruhi resiko mortalitas dari pasien. Pada pasien yang menjalani hemodialisis dengan URR <60% mempunyai perbedaan makna resiko mortalitas dengan pasien yang memiliki URR di antara 65-69%. Berbagai karakteristik pasien seperti usia pada saat memulai hemodialisis, penyakit penyerta, lama menjalani hemodialisis, dan beberapa karakteristik lainnya akan mempengaruhi adekuasi daripada hemodialisis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis di KSGH Rasyida Medan.

Desain penelitian ini adalah deskriptif-analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh data pasien hemodialisis di KSGH Rasyida yang baru terdaftar pada tahun 2014. Cara pengambilan sampel adalah dengan consecutive sampling. Data yang diteliti berupa data sekunder (rekam medik).

Total sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 52 dari 187 orang. Sampel yang didapat akan disesuaikan dengan pembagian karakter berdasarkan jenis kelamin, kelompok usia, status, diagnosa, frekuensi hemodialisis, dan lama menjalani hemodialisis. Dari hasil penelitian, 50 orang telah mencapai hemodialisis yang adekuat. Sementara 2 orang diantaranya belum mencapai hemodialisis yang adekuat.

Pada penelitian ini, peneliti tidak menemukan adanya hubungan antara karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis.

(6)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ABSTRACT

In Indonesia, the prevalence of ESRD is quite high. Riskesdas (2013) reported the prevalence of chronic kidney disease based on diagnose of doctors in Indonesia amounted to 0.2%. Hemodialysis is one of the most frequently applied therapy in ESRD patients. 4th Report of Indonesian Renal Registry (2011) reported 78% of all patients with renal impairment is treated with hemodialysis. Owen et al in Gatot (2008) reported that adequacy of hemodialysis will affect the mortality risk of patients. In patients that treated by hemodialysis with URR <60% has different meanings mortality risk with patients who have URR in between 65-69%. Patient characteristics such as age at the start of hemodialysis, comorbidities, duration of hemodialysis, and some other characteristics will affect the adequacy of hemodialysis. The purpose of this study was to determine the relationship between characteristics of the patients with the adequacy of hemodialysis in KSGH Rasyida Medan.

This study was a descriptive-analytic with cross-sectional approach. The population of this research is all the hemodialysis patient’s data in KSGH Rasyida that newly registered in 2014. The way of the sampling is with consecutive sampling. The data examined in the form of secondary data (medical records).

Total sample that fulfill the inclusion and exclusion criteria amounts to 52 of 187 people. Samples obtained will be tailored to the character of the distribution by sex, age group, status, diagnostics, hemodialysis frequency, and duration of hemodialysis. From the results of the study, 50 people have achieved adequate hemodialysis. While two of them have not reached an adequate hemodialysis.

In this study, researchers didn’t find an association between the characteristics of patients with adequacy of hemodialysis.

(7)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan judul “Hubungan Antara Karakteristik Pasien dengan Adekuasi Hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada Tahun 2014”. Karya tulis ilmiah ini disusun penulis dalam rangka untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran dalam program studi Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Dalam proses penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis mendapatkan kesulitan dan hambatan. Namun, penulis memperoleh bimbingan, pengarahan, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dosen Pembimbing, Alm. dr. Salli Roseffi Nasution, Sp.PD-KGH dan dr. Isti Ilmiati Fujiati, M.Sc, CM-FM, M.Pd.Ked yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya di tengah kesibukan beliau untuk memberikan arahan, dukungan, dan bimbingan kepada penulis selama penyusunan karya tulis ilmiah ini.

2. Ayahanda Akel dan ibunda tercinta, Januerika yang telah membesarkan, mengasihi, mendoakan, dan senantiasa memberikan semangat kepada penulis sehingga karya tulis ilmiah ini dapat selesai. 3. Prof. dr. Harun Rasyid Lubis, Sp.PD-KGH selaku pemilik dari Klinik

Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida dan dr. Riri Andri Muzasti, Sp.PD selaku manager pelayanan medis yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di KSGH Rasyida Medan.

4. Bapak Muhammad Sahri Lubis selaku penanggung jawab unit hemodialisis dan rekam medik, seluruh staff beserta perawat KSGH Rasyida Medan yang turut membantu penulis untuk mendapatkan seluruh data peserta penelitian dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. 5. Dosen penguji dr. Nelly Rosdiana, Sp.A(K), dan dr. Datten Bangun,

M.Sc, Sp.FK yang telah menyempurnakan karya tulis ilmiah ini.

6. Semua staf pengajar Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberi pengajaran, pengarahan, dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

(8)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

8. Teman-teman mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2011 yang selalu mendukung penulis selama penyusunan karya tulis ilmiah ini.

9. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang ikut membantu penulis dalam proses penulisan karya tulis ilmiah ini.

Usaha dan kerja keras telah dilakukan penulis selama proses penyusunan karya tulis ilmiah ini, namun penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh karena itu, penulis meminta maaf dan mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak agar penulis dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan karya tulis ilmiah ini.

Akhir kata, semoga karya tulis ilmiah ini dapat member manfaat bagi kita semua dan dapat menjadi rujukan bagi karya tulis ilmiah berikutnya di masa yang akan datang.

Medan, 2 Juni 2014

(9)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DAFTAR ISI Halaman

Lembar Pengesahan ……… i

2.1. Penyakit Ginjal Kronik………. 5

2.1.1. Definisi dan Etiologi……….. 5

2.1.2. Klasifikasi……….. 6

2.1.3. Faktor Resiko………. 7

2.1.4. Gejala Klinis……….. 7

2.1.5. Patofisiologi………... 8

2.1.6. Komplikasi………. 8

2.2. Hemodialisis………. 9

2.2.1. Pengertian Hemodialisis……… 9

2.2.2. Indikasi Hemodialisis………. 10

2.2.3. Peralatan Hemodialisis………... 10

2.2.4. Prinsip dan Cara Kerja Hemodialisis………. 12

2.2.5. Adekuasi Hemodialisis……….. 14

2.2.6. Pemantauan Selama Hemodialisis………. 15

2.2.7. Komplikasi Hemodialisis………... 15

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 16 3.1. Kerangka Konsep………. 16

3.2. Definisi Operasional………. 17

(10)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

BAB 4 METODE PENELITIAN……… 20

4.1. Jenis Penelitian………. 20

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian……….. 20

4.3. Populasi dan Sampel………. 20

4.3.1. Populasi……….. 20

4.3.2. Sampel……… 20

4.3.2.1. Kriteria Inklusi……… 20

4.3.2.2. Kriteria Ekslusi………... 21

4.4. Metode Pengumpulan Data……….. 21

4.5. Metode Pengelolaan dan Analisis Data……… 21

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………... 22

5.1. Hasil Penelitian………. 22

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian………... 22

5.1.2. Deskripsi Data Penelitian……… 23

5.1.2.1. Distribusi Karakteristik Peserta Penelitian... 23

5.1.2.2. Analisa Univariat……….. 25

5.1.2.3. Analisa Bivariat……… 26

5.1.2.4. Analisa Multivariat………... 31

5.2. Pembahasan……….. 32

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN………. 36

6.1. Kesimpulan………... 36

6.2. Saran dan Keterbatasan Peneliti………... 36

DAFTAR PUSTAKA……… 38

(11)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 2.1. Kriteria untuk Penyakit Ginjal Kronik 5

( Kerusakan fungsi atau struktur ginjal yang berlangsung lebih dari 3 bulan )

Tabel 2.2. Pembagian Penyakit Ginjal Kronik 6

berdasarkan Laju Filtrasi Glomelurus

Tabel 2.3. Rentang Substansi dalam Dialisat 11

Tabel 5.1. Distribusi Karakteristik Peserta Penelitian 23

Tabel 5.2. Hasil URR 25

Tabel 5.3. Frekuensi Hemodialisis pada saat 25

Pemeriksaan URR pertama kali di KSGH Rasyida Medan

Tabel 5.4. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan 26

Adekuasi Hemodialisis

Tabel 5.5. Hubungan antara Frekuensi Hemodialisis 26

Dengan Adekuasi Hemodialisis

Tabel 5.6. Hubungan antara Adekuasi Hemodialisis 27

Dengan Mortalitas

Tabel 5.7. Hubungan antara Usia dengan Adekuasi 27

Hemodialisis

Tabel 5.8. Hubungan antara Penyakit Penyerta 28

Dengan Adekuasi Hemodialisis

Tabel 5.9. Hubungan antara Lama Menjalani 29

Hemodialisis dengan Adekuasi Hemodialisis

(12)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar 2.1. Alur Hemodialisis 13

(13)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DAFTAR SINGKATAN

ESRD : End Stage Renal Disease Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar

URR : Ureum Reduction Ratio

KDIGO : Kidney Disease Improving Global Outcomes PERNEFRI : Perhimpunan Nefrologi Indonesia

NIDDK : National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease NKF DOQI : National Kidney Foundation Disease Outcomes Quality Invasive LFG : Laju Filtrasi Glomelurus

AJKD : American Journal of Kidney Disease

AVF : Arteriovenous Fistula

AVG : Arteriovenous Graft

NCDS : The National Cooperative Dialysis Study

GNK : Glomeluronefritis Kronik

DN : Diabetic Nefropati

(14)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup

Lampiran 2 Surat Izin Penelitian

Lampiran 3 Persetujuan Komisi Etik Tentang Pelaksanaan Penelitian Bidang Kesehatan

Lampiran 4 Data Induk

(15)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ABSTRAK

Di Indonesia, prevalensi dari ESRD tergolong cukup tinggi. Riskesdas (2013) melaporkan prevalensi penyakit gagal ginjal kronis berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia sebesar 0.2 persen. Hemodialisis merupakan salah satu terapi yang paling sering diterapkan pada pasien ESRD. 4th Report of Indonesian Renal Registry (2011) melaporkan 78% dari seluruh pasien yang mengalami gangguan ginjal menjalani hemodialisis. Penelitian Owen dkk dalam Gatot (2008) menyatakan bahwa adekuasi hemodialisis akan mempengaruhi resiko mortalitas dari pasien. Pada pasien yang menjalani hemodialisis dengan URR <60% mempunyai perbedaan makna resiko mortalitas dengan pasien yang memiliki URR di antara 65-69%. Berbagai karakteristik pasien seperti usia pada saat memulai hemodialisis, penyakit penyerta, lama menjalani hemodialisis, dan beberapa karakteristik lainnya akan mempengaruhi adekuasi daripada hemodialisis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis di KSGH Rasyida Medan.

Desain penelitian ini adalah deskriptif-analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh data pasien hemodialisis di KSGH Rasyida yang baru terdaftar pada tahun 2014. Cara pengambilan sampel adalah dengan consecutive sampling. Data yang diteliti berupa data sekunder (rekam medik).

Total sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 52 dari 187 orang. Sampel yang didapat akan disesuaikan dengan pembagian karakter berdasarkan jenis kelamin, kelompok usia, status, diagnosa, frekuensi hemodialisis, dan lama menjalani hemodialisis. Dari hasil penelitian, 50 orang telah mencapai hemodialisis yang adekuat. Sementara 2 orang diantaranya belum mencapai hemodialisis yang adekuat.

Pada penelitian ini, peneliti tidak menemukan adanya hubungan antara karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis.

(16)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ABSTRACT

In Indonesia, the prevalence of ESRD is quite high. Riskesdas (2013) reported the prevalence of chronic kidney disease based on diagnose of doctors in Indonesia amounted to 0.2%. Hemodialysis is one of the most frequently applied therapy in ESRD patients. 4th Report of Indonesian Renal Registry (2011) reported 78% of all patients with renal impairment is treated with hemodialysis. Owen et al in Gatot (2008) reported that adequacy of hemodialysis will affect the mortality risk of patients. In patients that treated by hemodialysis with URR <60% has different meanings mortality risk with patients who have URR in between 65-69%. Patient characteristics such as age at the start of hemodialysis, comorbidities, duration of hemodialysis, and some other characteristics will affect the adequacy of hemodialysis. The purpose of this study was to determine the relationship between characteristics of the patients with the adequacy of hemodialysis in KSGH Rasyida Medan.

This study was a descriptive-analytic with cross-sectional approach. The population of this research is all the hemodialysis patient’s data in KSGH Rasyida that newly registered in 2014. The way of the sampling is with consecutive sampling. The data examined in the form of secondary data (medical records).

Total sample that fulfill the inclusion and exclusion criteria amounts to 52 of 187 people. Samples obtained will be tailored to the character of the distribution by sex, age group, status, diagnostics, hemodialysis frequency, and duration of hemodialysis. From the results of the study, 50 people have achieved adequate hemodialysis. While two of them have not reached an adequate hemodialysis.

In this study, researchers didn’t find an association between the characteristics of patients with adequacy of hemodialysis.

(17)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ginjal merupakan organ yang berfungsi untuk mempertahankan stabilitas volume, komposisi elektrolit, dan osmolaritas cairan ekstraseluler. Salah satu fungsi penting ginjal lainnya adalah untuk mengekskresikan produk-produk akhir/ sisa metabolisme tubuh, misalnya urea, asam urat, dan kreatinin. Apabila sisa metabolisme tubuh tersebut dibiarkan menumpuk, zat tersebut bisa menjadi racun bagi tubuh, terutama bagi otak. (Sherwood, 2012)

Pada pasien dengan penyakit ginjal kronik, ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik. Ginjal mengalami gangguan untuk memfiltrasi darah sehingga zat sisa metabolisme tubuh seperti urea, asam urat dan kreatinin tidak dapat diekskresikan. Hal ini dapat menyebabkan berbagai masalah bagi tubuh. (National Chronic Kidney Disease Fact Sheet, 2014)

End Stage Renal Disease ( ESRD ) merupakan tahap terakhir dari penyakit ginjal kronik. ESRD merupakan suatu keadaan dimana ginjal tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh untuk mengekskresikan sisa metabolisme dan menjaga keseimbangan cairan elektrolit. Penyebab ESRD yang paling utama adalah diabetes dan hipertensi. ESRD juga merupakan salah satu akibat dari penyakit ginjal kronik setelah terjadi penurunan fungsi ginjal selama 10-20 tahun terakhir. (Miller, 2013)

Dari tahun 1980 sampai 2009, National Kidney and Urologic Disease Information Clearinghouse (2012) melaporkan peningkatan prevalensi ESRD hampir sebesar 600% di Amerika Serikat. Dari 290 kasus per 1 juta penduduk pada tahun 1980 meningkat sampai 1738 kasus per 1 juta penduduk pada tahun 2009.

(18)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

gagal ginjal kronis dilaporkan mencapai 0.2 persen. Berdasarkan jenis kelamin, Riskesdas (2013) melaporkan prevalensi gagal ginjal kronis pada pria di Indonesia sebesar 0,3 persen dan pada wanita di Indonesia sebesar 0,2 persen.

4th Report of Indonesian Renal Registry (2011) melaporkan dari seluruh pasien yang didiagnosa dengan penyakit ginjal, 87% merupakan gagal ginjal terminal / ESRD. Pada tahun 2011, dilaporkan terdapat 13.619 pasien yang didiagnosa ESRD di Indonesia. Di Sumatera Utara, dilaporkan terdapat 392 pasien yang didiagnosa ERSD. Dari data pasien yang mengalami gangguan ginjal, dilaporkan 23% disertai penyakit diabetes melitus, 46% disertai hipertensi, 11% disertai penyakit kardiovaskuler, 2% disertai penyakit serebrovaskuler, 2% disertai penyakit saluran pencernaan, 3% disertai penyakit saluran kencing, 1% disertai Tuberkulosis, 2% disertai penyakit Hepatitis B/ HbSAg+, 2% disertai penyakit hepatitis C/ anti HCV+, 4% disertai keganasan dan 5% lain-lain.

Hemodialisis merupakan suatu tindakan untuk mengantikan fungsi ginjal sebagai pengekskresi zat sisa metabolisme. Menurut Kandarini (2013), hemodialisis sering dilakukan pada pasien dengan penyakit ginjal kronik atau gagal ginjal kronik. 4th Report of Indonesian Renal Registry (2011) melaporkan 78% dari seluruh pasien yang mengalami gangguan ginjal menjalani hemodialisis. Tujuan tindakan hemodialisis adalah untuk membuang zat racun/ toksik yang ada dalam tubuh, misalnya urea, asam urat, dan kreatinin.

(19)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

URR (Ureum Reduction Ratio) merupakan perbandingan antara kadar ureum dalam darah pada pasien sebelum dan sesudah proses hemodialisis. URR dapat digunakan sebagai parameter untuk menentukan adekuasi dari suatu tindakan hemodialisis. URR yang direkomendasikan oleh National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease - Kidney and Urologic Disease

Information Clearinghouse (2009) adalah lebih besar dari atau sama dengan 65%. Canaud (2014) menyebutkan ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi outcomes daripada hemodialisis pasien. Beberapa hal tersebut adalah dosis dialysis, manajemen cairan dan tekanan darah, toleransi terhadap hemodialisis dan praktek hemodialisis yang dilakukan terhadap pasien.

Jindal et al (2006) menyebutkan bahwa urea clearance yang tinggi merupakan suatu indikator akan adekuatnya suatu hemodialisis. Tingginya urea clearance juga merupakan suatu indikator bahwa cairan serta tekanan darah sudah dimanajemen dengan baik.

Haller (2008) melaporkan bahwa pada pasien yang menjalani hemodialisis dengan hipertensi ataupun hipotensi memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan pada pasien yang memiliki tekanan darah normal.

Diepen et al (2014) menyebutkan bahwa usia, riwayat merokok, riwayat gangguan pembuluh darah, pasien dengan diabetes mellitus, pasien dengan kadar albumin tinggi, memiliki prognosis yang lebih buruk walaupun adekuasi dari hemodialisis pada pasien tersebut masih adekuat.

Chertow et al (2010) menyebutkan bahwa frekuensi dalam menjalani hemodialisis yang sering akan menurunkan angka mortalitas pasien dengan penyakit ginjal kronik karena hemodialisis dapat mengontrol kondisi kelebihan cairan, kekurangan albumin, hipertensi, dan hyperphosphatemia.

Muzasti (2011) menyatakan dalam laporannya bahwa rata-rata harapan hidup pada pasien hemodialisis laki-laki lebih rendah dari rata-rata harapan hidup pada pasien hemodialisis perempuan.

(20)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada tahun 2014.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah yang muncul adalah “Apakah karakteristik pasien yang menjalani hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan berpengaruh terhadap adekuasi hemodialisis”

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada tahun 2014.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui adekuasi hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada tahun 2014 dengan menggunakan URR.

2. Mengetahui hubungan antara usia pasien dengan adekuasi hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada tahun 2014.

3. Mengetahui hubungan antara jenis kelamin pasien dengan adekuasi hemodialisis di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada tahun 2014.

(21)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 1.4. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat :

1. Memberi masukan kepada institusi pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, khususnya untuk unit hemodialisis dalam mencapai adekuasi hemodialisis sehingga dapat mengurangi resiko tingkat mortalitas dari pasien yang menjalani hemodialisis.

2. Memberi pemahaman kepada institusi pelayanan kesehatan tentang pengaruh karakteristik pasien terhadap adekuasi hemodialisis sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan di unit hemodialisis.

3. Memberi pemahaman dan informasi kepada peneliti sendiri dalam memahami tentang hemodialisis, faktor-faktor yang mempengaruhi adekuasi hemodialisis, dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat mortalitas pada pasien yang menjalani hemodialisis.

(22)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penyakit Ginjal Kronik 2.1.1. Definisi dan Etiologi

Penyakit ginjal kronik dapat didefinisikan sebagai suatu abnormalitas dari struktur ataupun fungsi ginjal yang berlangsung selama lebih dari 3 bulan dengan adanya gangguan fisiologis pada tubuh. (KDIGO/ Kidney Disease Improving Global Outcomes, 2013)

Tabel 2.1: Kriteria untuk Penyakit Ginjal Kronik (Kerusakan fungsi atau struktur ginjal yang berlangsung lebih dari 3 bulan)

Indikator adanya kerusakan ginjal

Albuminuria (AER≥30mg/24jam ; ACR≥30mg/g

[≥3mg/mmol]

Kelainan pada sedimen urine

Kelainan pada elektrolit dan kelainan lainnya pada gangguan tubular

Kelainan struktur pada jaringan/ histology Kelainan struktur yang terlihat pada imaging Riwayat transplantasi ginjal

Berkurangnya GFR GFR < 60 ml/min/ 1.73m2 ( Kategori GFR G3a-G5 ) Sumber : KDIGO (2013)

Menurut Arora (2014), penyakit ginjal kronik dapat disebabkan oleh: 1. Penyakit ginjal diabetic

2. Hipertensi

3. Penyakit jantung dan pembuluh darah 4. Penyakit glomelurus (primer atau sekunder) 5. Penyakit ginjal kistik

6. Penyakit tubulointerstitial

(23)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

8. Penyakit batu ginjal yang berulang

9. Cacat bawaan lahir pada ginjal atau saluran kemih ( kongenital ) 10. Penyakit ginjal akut yang belum dipulihkan

Miller (2013) menyebutkan banyak penyakit dan kondisi lainnya yang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal, misalnya :

1. Gangguan autoimun ( sistemik lupus eritematosus dan scleroderma ) 2. Zat kimia beracun

3. Trauma pada ginjal 4. Batu ginjal dan infeksi

5. Masalah pada arteri yang memperdarahi ginjal

6. Beberapa obat seperti anti nyeri dan obat untuk kanker 7. Refluks nefropati

8. Dan penyakit ginjal lainnya

2.1.2. Klasifikasi

KDIGO (2013) membagikan penyakit ginjal kronik menjadi beberapa stadium berdasarkan laju filtrasi glomelurus (LFG).

Tabel 2.2: Pembagian penyakit ginjal kronik berdasarkan laju filtrasi glomelurus

Kategori LFG LFG ( ml/min/1.73m2 ) Batasan

G1 90 Normal atau tinggi

G2 60-89 Penurunan ringan

G3a 45-49 Penurunan ringan sampai

sedang

G3b 30-44 Penurunan sedang sampai

berat

G4 15-29 Penurunan berat

G5 <15 Gagal ginjal

(24)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2.1.3. Faktor Resiko

American Kidney Foundation (2012) menyebutkan beberapa factor resiko dari penyakit ginjal adalah :

1. Diabetes

2. Hipertensi/ tekanan darah tinggi 3. Penyakit jantung

4. Riwayat keluarga yang memiliki penyakit ginjal 5. Berusia di atas 60 tahun

6. Merupakan ras Afrika-Amerika, penduduk asli Amerika atau Asia

2.1.4. Gejala Klinis

Miller (2013) mengatakan bahwa gejala awal dari penyakit ginjal kronik hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Pada awalnya, gejala dapat berupa :

1. Hilangnya nafsu makan 2. Perasaan sakit atau kelelahan 3. Sakit kepala

4. Gatal (pruritus) dan kulit kering 5. Penurunan berat badan

Setelah fungsi ginjal semakin memburuk, gejala dapat berupa : 1. Kelainan kulit

2. Nyeri tulang

3. Mengantuk atau gangguan konsentrasi 4. Pembengkakan di tangan dan kaki

5. Kram

6. Bau nafas

7. Mudah memar

8. Terdapat darah pada tinja 9. Haus yang berlebihan 10. Masalah pada fungsi seksual

11. Amenorrhea

(25)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

13. Gangguan tidur

14. Muntah ( sering pada pagi hari )

2.1.5. Patofisiologi

Menurut Arora (2014), sebuah ginjal yang normal memiliki sekitar 1 juta nefron yang masing-masing berpengaruh terhadap total laju filtrasi glomelurus (GFR). Dalam menghadapi kerusakan ginjal, ginjal memiliki kemampuan untuk mempertahankan GFR. Meskipun kerusakan nefron begitu progresif, sebagian sisa nefron yang masih berfungsi akan melakukan hiperfiltrasi sebagai kompensasi. Bentuk kompensasi nefron ini memungkinkan ginjal untuk tetap membersihkan zat sisa metabolisme seperti urea dan kreatinin dari dalam darah.

Kadar urea dan kreatinin dalam plasma darah akan menunjukkan peningkatan apabila jumlah GFR menurun menjadi 50%. Kadar kreatinin akan menjadi berlipat ganda. Hal ini terjadi akibat tidak berfungsinya sekitar 50% nefron pada ginjal. (Arora, 2014)

Hiperfiltrasi dan hipertrofi pada nefron yang masih berfungsi akan menyebabkan disfungsi ginjal progresif. Peningkatan tekanan kapiler pada glomelurus dapat merusak kapiler, awalnya akan mengarah kepada glomerulosklerosis segmental dan kemudian akan berakhir pada glomerulosklerosis global yang nantinya akan menjadi penyakit ginjal kronik. (Arora, 2014)

2.1.6. Komplikasi

Miller (2013) menyebutkan komplikasi dari penyakit ginjal kronik dapat berupa :

1. Anemia

2. Perdarahan dari perut atau usus 3. Nyeri pada tulang, sendi dan otot 4. Perubahan pada gula darah 5. Neuropati perifer

6. Demensia

(26)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

8. Gagal jantung kongestif 9. Penyakit arteri koroner

10. Hipertensi/ tekanan darah tinggi 11. Perikarditis

12. Stroke

13. Peningkatan kadar fosfor dan kalium 14. Hiperparatiroid

15. Peningkatan resiko infeksi 16. Kerusakan hati atau gagal hati 17. Malnutrisi

18. Kemandulan

19. Kejang

20. Bengkak (edema)

21. Melemahnya tulang dan peningkatan resiko terjadinya fraktur

2.2. Hemodialisis

2.2.1. Pengertian Hemodialisis

(27)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2.2.2. Indikasi Hemodialisis

Kandarini (2013) menyatakan indikasi hemodialisis dapat dibagi menjadi dua, yaitu hemodialisis emergency atau hemodialisis segera dan hemodialisis kronik. 1. Indikasi hemodialisis emergency atau hemodialisis segera antara lain :

a. Kegawatan ginjal

- Keadaan uremik berat, overdehidrasi - Oligouria

- Anuria - Hiperkalemia - Asidosis berat - Uremia

- Encephalopaty uremikum - Neuropati / miopati uremikum - Perikarditis uremikum

- Disnatremia berat - Hipertermia

b. Keracunan akut (alcohol, obat-obatan) yang bisa melewati membran dialisis.

2. Indikasi hemodialisis kronik antara lain : a. GFR < 15 mL/menit

b. Gejala uremia meliputi ; lethargy, anoreksia, nausea, mual, dan muntah. c. Adanya malnutrisi atau hilangnya massa otot.

d. Hipertensi tak terkontrol dan adanya kelebihan cairan. e. Komplokasi metabolic yang refrakter.

2.2.3. Peralatan Hemodialisis

1. Dialiser

(28)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

serat dapat memfiltrasi zat-zat toksin yang berasal dari tubuh. (Sherman, Swartz, and Thomas ,2014)

2. Cairan Dialisis/ Dialisat

Cairan dialysis yang juga dikenal sebagai dialisat merupakan cairan yang terdapat di dalam dialiser. Dialisat bertugas untuk membantu menghilangkan sisa metabolisme tubuh atau zat toksin dari dalam darah. Dialisat mengandung bahan kimia yang membuatnya bekerja seperti spons. (Sherman, Swartz, and Thomas ,2014)

Tabel 2.3. Rentang substansi dalam dialisat

Sumber : Cahyaningsih, 2008

3. Akses Vaskuler

Bethesda (2010) menyebutkan ada tiga jenis akses vaskuler untuk hemodialisis yaitu: arteriovenous fistula (AVF), arteriovenous graft(AVG), dan kateter vena. AVF merupakan proses penyambungan antara arteri dengan vena. AVF merupakan salah satu akses vaskuler jangka panjang terbaik untuk melakukan hemodialisis. AVF juga memiliki resiko komplikasi yang lebih kecil dibandingkan dengan arteriovenous graft dan kateter vena. Apabila pada pasien tidak bisa dilakukan AVF, maka AVG dan kateter vena diperlukan untuk akses vaskuler.

Substansi Konsentrasi dalam dialisat

Natrium 135-145 mEq/L

Kalium 0-4 mEq/L

Kalsium 2,5-3,5 mEq/L

Magnesium 0,5-1,0 mEq/L

Klorida 100-124 mEq/L

Bikarbonat 32-40 mEq/L

(29)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Untuk membuat sebuah AVF diperlukan waktu yang relatif lebih lama, yaitu sekitar 24 bulan. Namun, AVF yang terbentuk dengan baik, akan memiliki resiko pembentukan klot atau resiko terjadinya infeksi yang lebih kecil dibandingkan dengan akses vaskuler yang lainnya. AVF yang terbentuk dengan baik juga akan bertahan lebih lama daripada akses vaskuler jenis lainnya. (Bethesda, 2010)

Apabila pembuluh darah untuk AVF tidak dapat berkembang dengan baik, dapat digunakan sebuah tabung sintesis yang kemudian akan ditanamkan pada di bawah tangan. AVG tersebut dapat digunakan sebagai akses vaskuler untuk hemodialisis. AVG hanya memerlukan waktu sekitar 3-4 minggu untuk pembuatannya. Namun, pada AVG lebih sering terjadi pembekuan darah dan lebih mudah terpapar infeksi. (Bethesda, 2010)

Bagi penderita penyakit ginjal kronik, hemodialisis perlu dilakukan dengan segera mungkin. Kateter vena dapat digunakan sebagai akses vaskuler temporer/ sementara. Kateter vena dapat dipasang pada vena yang terdapat di daerah leher, dada, atau kaki di dekat pangkal paha. Kateter vena tidak ideal untuk digunakan sebagai akses permanen karena sering terjadi pembekuan darah dan infeksi. (Bethesda, 2010)

2.2.4. Prinsip dan Cara Kerja Hemodialisis

Menurut Sherman et al (2014), mesin dialysis memiliki tiga fungsi utama, yaitu : a. Memompa darah dan mengontrol aliran darah

b. Membuang zat sisa metabolisme/ zat toksin dari darah

c. Mengontrol tekanan darah dan kecepatan pemindahan cairan dari dalam tubuh.

(30)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dengan dibuangnya zat-zat berbahaya bagi tubuh, kelebihan elektrolit dan cairan, dapat membantu tubuh untuk menjaga tekanan darah dan keseimbangan elektrolit di dalam tubuh.

Kandarini (2013) menyebutkan bahwa proses hemodialisis dimulai oleh proses pengeluaran darah vena melalui akses vaskular dengan kecepatan tertentu, kemudian darah dari vena akan masuk ke dalam mesin hemodialisis dengan proses pemompaan. Kemudian setelah terjadi proses dialisis, darah yang telah bersih akan masuk kembali ke pembuluh darah dan akan didistribusikan ke seluruh tubuh. Proses dialisis (pencucian) darah dilakukan di dalam dialiser.

Prinsip kerja dari proses hemodialisis ini adalah ketika suatu zat terlarut (solut) atau darah dari tubuh akan berubah pada saat solut tersebut dipaparkan dengan dialisat melalui membran semipermeabel (dialiser). Perpindahan solut melewati membran tersebut dinamakan proses osmosis. Daugirdas et al (2007) dalam Kandarini (2013) menyebutkan perpindahan tersebut terjadi melalui mekanisme difusi dan ultrafiltrasi. Kedua perpindahan difusi maupun ultrafiltrasi disebabkan oleh mekanisme hidrostatik yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan.

Gambar 2.1. Alur Hemodialisis

(31)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2.2.5. Adekuasi Hemodialisis

Menurut Jindal (2006), setiap pasien yang menjalani hemodialisis harus dilakukan penilaian terhadap adekuatnya hemodialisis. Penilaian terhadap adekuasi hemodialisis terdiri dari urea clearance, tekanan darah, dan gejala klinik.

Urea clearance dapat dihitung dengan menggunakan Kt/V atau URR. Kt/V minimum yang harus dicapai adalah 1,2 atau URR yang harus dicapai minimal 65%. (Jindal, 2006)

The National Cooperative Dialysis Study (NCDS) menyatakan bahwa semakin tinggi adekuasi suatu hemodialisis, maka akan mengurangi tingkat morbidity (Jindal, 2006)

URR dapat dihitung dengan menggunakan rumus : URR(%)=100x(1-Ct/Co)

Ct merupakan kadar ureum darah sesudah hemodialisis dan Co merupakan kadar ureum darah sebelum hemodialisis. (Daugirdas, 2009)

Daugirdas (2009) juga menyebutkan bahwa URR yang baik adalah apabila

URR ≥65%.

Kt/V merupakan salah satu cara lain untuk menentukan dosis dialisis melalui hasil pemeriksaan ureum sebelum dan sesudah hemodialisis. (Daugirdas, 2009)

Kt/V= -Ln(R-0,008xt)+(4-3,5xR)xUF/W

(32)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2.2.6. Pemantauan Selama Hemodialisis

Menurut Cahyaningsih (2008) yang perlu dipantau selama proses hemodialisis berlangsung adalah :

1. Koagulasi 2. Tekanan Darah 3. Suhu

4. Daerah Akses Vaskuler

2.2.7. Komplikasi Hemodialisis

Daurgidas et all dalam Kandarini (2013) membagi komplikasi hemodialisis menjadi komplikasi akut dan komplikasi kronik

Komplikasi akut merupakan komplikasi yang terjadi selama proses hemodialisis berjalan. Komplikasi tersebut dapat berupa hipotensi, kram otot, mual, muntah, sakit kepala, sakit dada, sakit punggung, gatal, demam, menggigil, gangguan hemodinamik, sindrom disekuilibrium, reaksi dialiser, aritmia, tamponade jantung, pendarahan intrakranial, kejang, hemolisis, emboli udara, neutropenia, aktivasi komplemen, hipoksemia. (Kandarini, 2013).

(33)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian ini bertujuan untuk melihat hubunga karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis. Variabel independen pada penelitian ini adalah karakteristik pasien seperti jenis kelamin, usia, dan penyakit penyerta pasien. Sedangkan, yang menjadi variabel dependen pada penelitian ini adalah adekuasi hemodialisis. Kerangka konsep dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 3.1. Kerangka Konsep

Jenis Kelamin

Adekuasi hemodialisis Usia

Hipertensi

Diabetes Melitus

Penyakit Kardiovaskuler

(34)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 3.2. Defenisi Operasional

No Variabel Definisi Operasionil dimulai dari tahun kelahiran arterial > 120/80 mmHg kerja insulin atau sekresi insulin yang telah didiagnosa dokter

(35)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dan tercantum di rekam medik.

hemodialisis yang telah didiagnosa

1. Ada penyakit penyerta

1. Hemodialisis Adekuat (URR

≥ 65%)

2. Hemodialisis tidak adekuat (URR <65%)

(36)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 3.3. Hipotesis

1. Hipotesis Nol (Ho)

Tidak ada hubungan antara karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis.

2. Hipotesis Alternatif (Ha)

(37)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB 4

METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian

Desain penelitian merupakan suatu metode atau prosedur untuk mengumpulkan data pada sebuah penelitian. (Mukhtar, 2011). Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian deksriptif-analitik dengan pendekatan cross sectional. Dimana, pengumpulan data hanya dilakukan satu kali saja dan tanpa ada perlakuan terhadap peserta penelitian.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2014. Tempat penelitian dilakukan di unit Hemodialisis Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan yang beralamat di Jalan Mayjend. D.I. Panjaitan No. 144 Medan, Sumatera Utara.

4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah data rekam medik pasien yang menjalani hemodialisis di unit hemodialisis Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan pada bulan Januari 2014 sampai Oktober 2014.

4.3.2. Sampel

(38)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 4.3.2.1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah :

1. Pasien yang baru menjalani hemodialisis untuk pertama kalinya pada tahun 2014

2. Pasien yang memiliki hasil pemeriksaan ureum reduction ratio.

4.3.2.2. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah :

1. Pasien yang tidak memiliki data dengan lengkap. 2. Pasien yang datanya sudah hilang.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Setelah mendapat izin dari komisi etik, peneliti mengumpulkan data. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder, dimana data diperoleh dari rekam medik. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis.

4.5. Metode Pengelolaan dan Analisis Data

(39)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini bertempat di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi (KSGH) Rasyida Medan. KSGH Rasyida Medan beralamat di Jalan Mayjend. D.I. Panjaitan No. 144 Medan, Sumatera Utara.

KSGH Rasyida Medan merupakan salah satu fasilitator pelayanan hemodialisis bagi masyarakat Sumatera Utara. Saat ini, KSGH Rasyida Medan telah mengoperasikan 52 unit mesin hemodialisis, dan alat pendukung hemodialisis lainnya seperti 1 unit mesin rontgen, alat USG warna, laboratorium, bio impedance analysis dan apotek.

KSGH Rasyida Medan terdiri dari 3 lantai. Ruang hemodialisis terdapat di lantai 1 dan lantai 2. Ruang hemodialisis yang berada di lantai 1 merupakan ruangan khusus untuk pasien VIP yang bukan peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial – Kesehatan (BPJS). Selain ruang hemodialisis, di lantai 1 juga terdapat ruang praktek untuk dokter-dokter yang bertugas di KSGH Rasyida. Sedangkan, ruang hemodialisis di lantai 2 merupakan ruang hemodialisis khusus untuk pasien BPJS. Pasien yang menjalani hemodialisis di ruang hemodialisis akan menjalani hemodialisis secara nyaman dengan duduk di sofa ataupun tidur di tempat tidur. Selain ruangan hemodialisis, di lantai 2 juga terdapat ruang rekam medik. Sementara, di lantai 3 terdapat ruangan osmosis, ruangan cleaning service, dan kantin.

(40)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 5.1.2. Deskripsi Data Penelitian

5.1.2.1. Distribusi Karakteristik Peserta Penelitian

Tabel 5.1: Distribusi Karakteristik Peserta Penelitian

Karakteristik Frekuensi (n) Persen (%)

Jenis Kelamin

Glomerulonefritis Kronik (GNK) 1 1.9

Diabetic Nefropati (DN) 4 7.7

End Stage Renal Failure (ESRF) 1 1.9

Unknown 3 5.8

Frekuensi HD (per Minggu)

2 Kali 44 84.6

3 Kali 6 11.5

Data Tidak Ada 2 3.8

Lama Menjalani HD

1 Bulan 3 5.8

(41)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ini berjumlah 52 orang (27.8%). Karakteristik dari 52 orang peserta penelitian ini telah terpapar di Tabel 5.1

Berdasarkan Tabel 5.1 di atas, didapati bahwa dari 52 orang peserta penelitian, 30 orang (57.7%) diantaranya merupakan laki-laki dan 22 orang (42.3%) diantaranya merupakan perempuan.

Pada Tabel 5.1 di atas, didapati bahwa 1 orang (1.9%) peserta penelitian berusia di antara 15-24 tahun, 3 orang (5.8%) peserta penelitian berusia di antara 25-34 tahun, 5 orang (9.6%) peserta penelitian berusia di antara 35-44 tahun, 12 orang (23.1%) peserta penelitian berusia di antara 45-54 tahun, 24 orang (46.2%) peserta penelitian berusia diantara 55-64 tahun, 6 orang (11.5%) peserta penelitian berusia di antara 65-74 tahun, dan 1 orang (1.9%) berusia diatas 75 tahun.

Peneliti juga mendapatkan bahwa di antara 52 orang peserta penelitian, 4 orang (7.7%) diantaranya sudah meninggal dunia, dan 3 orang (5.8%) diantaranya pindah.

Dari Tabel 5.1, peneliti mendapatkan bahwa penyebab terbanyak peserta penelitian melakukan hemodialisis di KSGH Rasyida disebabkan oleh hipertensi (82.7%). Sebanyak 7.7% disebabkan oleh diabetik nefropati, 1.9% oleh glomeluronefritis kronik, 1.9% oleh end stage renal failure, 5.8% tidak diketahui.

Pada tabel 5.1, didapatkan bahwa rata-rata frekuensi hemodialisis dari peserta penelitian adalah 2 kali per minggu (84.6%). Sedangkan, sebanyak 11.5% melakukan hemodialisis sebanyak 3 kali per mingggu dan sebanyak 3.8% tidak diketahui.

(42)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 5.1.2.2. Analisa Univariat

Tabel 5.2: Hasil URR

Hasil URR Frekuensi (n) Persen (%)

Tercapai 50 96.2

Tidak Tercapai 2 3.8

Total 52 100.0

Berdasarkan tabel 5.2, didapatkan bahwa dari 50 orang (96.2%) peserta penelitian mencapai hemodialisis yang adekuat, yaitu dengan ureum reduction ratio di atas atau sama dengan 65% (Daugirdas, 2009). Peneliti juga mendapatkan 2 orang (3.8%) peserta penelitian tidak mencapai hemodialisis yang adekuat.

Tabel 5.3: Frekuensi Hemodialisis pada saat Pemeriksaan URR pertama kali di KSGH Rasyida Medan

Frekuensi HD Jumlah (n) Persen (%)

(43)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(5.8%) peserta penelitian mendapatkan pengukuran URR diantara hemodialisis yang ke -51 sampai dengan ke-60. 1 orang (1.9%) peserta penelitian mendapatkan pengukuran URR diantara hemodialisis ke-61 sampai dengan ke-70. Dan 1 orang (1.9%) peserta penelitian mendapatkan pengukuran URR setelah melakukan proses hemodialisis lebih dari 81 kali.

5.1.2.3 Analisa Bivariat

Tabel 5.4: Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Adekuasi Hemodialisis

Adekuasi Hemodialisis

Tercapai Tidak Tercapai Total (n) Nilai p*

Jenis Kelamin

Laki-Laki 30(57.69) 0(0.00) 30(57.69) 0.174

Perempuan 20(38.46) 2(3.85) 22(42.31)

Total 50(96.15) 2(3.85) 52(100.00)

* Fisher’s exact test pada SPSS

Pada Tabel 5.4, didapatkan bahwa dari 52 orang peserta penelitian, 30 orang laki-laki dan 20 orang perempuan mencapai hemodialisis yang adekuat. Berdasarkan Tabel 5.4 di atas, peneliti juga mendapatkan ada 2 orang perempuan yang tidak mencapai hemodialisis yang adekuat. Nilai p lebih besar dari 0.05 pada tabel 5.4 menunjukkan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan adekuasi hemodialisis dalam penelitian ini.

Tabel 5.5: Hubungan antara Frekuensi Hemodialisis dengan Adekuasi Hemodialisis

* Fisher’s exact test pada SPSS

(44)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

orang yang menjalani hemodialisis 2 kali per minggu tidak mencapai hemodialisis yang adekuat. Nilai p lebih besar dari 0.05 pada tabel 5.5 menggambarkan tidak ada hubungan antara frekuensi hemodialisis dengan adekuasi hemodialisis dalam penelitian ini.

Tabel 5.6: Hubungan antara Adekuasi Hemodialisis dengan Mortalitas

Adekuasi Hemodialisis

Tercapai Tidak Tercapai Total (n) Nilai p*

Status

Hidup 43(87.75) 2(4.09) 45(91.84) 1.000

Meninggal 4(8.16) 0(0.00) 4(8.16)

Total 47(95.91) 2(4.09) 49(100.00)

* Fisher’s exact test pada SPSS

Pada tabel 5.6 di atas, didapatkan bahwa di antara 49 orang peserta penelitian, 43 orang yang hidup dan 4 orang yang meninggal telah mencapai hemodialisis yang adekuat. Sedangkan, 2 orang yang hidup tidak mencapai hemodialisis yang adekuat. Nilai p lebih besar dari 0.05 menunjukkan tidak ada hubungan antara adekuasi hemodialisis dengan mortalitas dalam penelitian ini.

Tabel 5.7: Hubungan antara Usia dengan Adekuasi Hemodialisis

Adekuasi Hemodialisis

*Uji korelasi spearman pada SPSS

(45)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

berada kelompok usia 45-54 tahun tidak mencapai hemodialisis yang adekuat. Nilai p lebih kecil dari 0.5 di pada tabel 5.7 menunjukkan adanya hubungan yang lemah antara adekuasi hemodialisis pada kelompok usia yang ada pada tabel dalam penelitian ini.

Tabel 5.8: Hubungan antara Penyakit Penyerta dengan Adekuasi Hemodialisis

Adekuasi Hemodialisis

Tercapai Tidak Tercapai Total (n) Nilai p*

Diagnosa

HN 41(78.85) 2(3.85) 43(82.70) 0.998

GNK 1(1.92) 0(0.00) 1(1.92)

DN 4(7.69) 0(0.00) 4(769)

ESRF 1(1.92) 0(0.00) 1(1.92)

UK 3(5.77) 0(0.00) 3(5.77)

Total 50(96.15) 2(3.85) 52(100.00)

*Uji regresi logistic pada SPSS

(46)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Tabel 5.9: Hubungan antara Lama Menjalani Hemodialisis dengan Adekuasi

Hemodialisis

Adekuasi Hemodialisis

Tercapai Tidak Tercapai Total (n) Nilai p*

Lama Menjalani HD

1 Bulan 3(6.12) 0(0.00) 3(6.12) 0.702

*Uji regresi logistic pada SPSS

(47)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 5.1.2.4. Analisa Multivariat

Tabel 5.10: Korelasi antara Karakteristik Pasien

Spearman Frekuensi

HD per

Diagnosa Status Adekuasi Hemodialisis

Lama HD Koefisien Korelasi

Diagnosa Koefisien Korelasi

0.042 0.045 -0.165 -0.084 1.000

-0.029

-0.091

Nilai p* 0.770 0.753 0.242 0.553 0.838 0.521

Status Koefisien

Korelasi

*Uji korelasi spearman pada SPSS

Pada Tabel 5.10 di atas, peneliti melakukan uji korelasi spearman untuk mencari hubungan antara berbagai karakteristik pasien. Hasil dari tabel 5.10 di atas menyatakan apabila koefisien korelasi berada di antara -1 sampai dengan 1 maka, kedua variabel dinyatakan berhubungan. Apabila koefisien korelasi sama dengan 0, hal tersebut mennyatakan tidak ada hubungan sama sekali antara kedua variabel tersebut.

(48)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 5.2. Pembahasan

Pada Tabel 5.1 dan 5.4, didapatkan bahwa jumlah laki-laki (57.7%) yang menjalani hemodialisis lebih besar dibandingkan dengan jumlah perempuan (42.3%). Hal ini sesuai dengan hasil Riskesdas 2013 yang menyatakan bahwa prevalensi GGK pada pria di Indonesia lebih besar dibandingkan pada wanita. Ujianto (2005) pada penelitiannya memaparkan bahwa 69.6% dari peserta penelitiannya yang menjalani hemodialisis merupakan laki-laki.

Dari Tabel 5.4, peneliti tidak mendapatkan adanya hubungan antara jenis kelamin dengan adekuasi hemodialisis. Dalam penelitian ini, peneliti tidak dapat menemukan jumlah peserta penelitian dengan perbandingan peserta penelitian yang mencapai hemodialisis yang adekuat dengan peserta penelitian yang tidak mencapai hemodialisis yang kuat sehingga peneliti tidak dapat membandingkan hubungan antara jenis kelamin dengan adekuasi hemodialisis.

Muzasti (2011) memaparkan tidak ada perbedaan harapan hidup antara pasien laki-laki yang menjalani hemodialisis dengan pasien perempuan yang menjalani hemodialisis. Meskipun dalam laporan penelitiannya, didapat mean harapan hidup pada perempuan (34.09 bulan) lebih besar daripada mean harapan hidup pada laki-laki (27.76 bulan).

Berdasarkan Tabel 5.5, hasil penelitian menggambarkan tidak ada hubungan antara frekuensi hemodialisis per minggu dengan adekuasi hemodialisis. Namun, pada tabel 5.10 peneliti mendapatkan bahwa ada hubungan yang kuat antara frekuensi hemodialisis per minggu dengan adekuasi hemodialisis. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengingatkan kembali bahwa peneliti tidak dapat menemukan jumlah peserta penelitian dengan perbandingan peserta penelitian yang mencapai hemodialisis yang adekuat dengan peserta penelitian yang tidak mencapai hemodialisis yang kuat sehingga peneliti tidak dapat membandingkan hubungan antara frekuensi hemodialisis dengan adekuasi hemodialisis.

(49)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2010) menyebutkan bahwa frekuensi menjalani tindakan hemodialisis yang sering akan menurunkan angka mortalitas pasien dengan penyakit ginjal kronik karena bisa mengontrol kondisi kelebihan cairan, kekurangan albumin, hipertensi, dan hyperphosphatemia.

4th Report of Indonesian Renal Registry (2011) mencatat bahwa sekitar 322 orang dari 423 pasien (76.1%) yang menjalani hemodialisis di Sumatera Utara memiliki frekuensi hemodialisis 2 kali dalam seminggu.

Berdasarkan Tabel 5.6, peneliti tidak menemukan hubungan antara adekuasi hemodialisis dengan tingkat mortalitas. Dalam penelitian ini, peneliti tidak dapat menemukan jumlah peserta penelitian dengan perbandingan peserta penelitian yang mencapai hemodialisis yang adekuat dengan peserta penelitian yang tidak mencapai hemodialisis yang kuat sehingga peneliti tidak dapat membandingkan hubungan antara adekuasi hemodialisis dengan tingkat mortalitas.

Hemodialisis dikatakan mencapai adekuat apabila URR lebih besar atau sama dengan 65%. Penelitian Owen dkk dalam Gatot (2008) mencatat bahwa rendahnya kadar URR akan meningkatkan resiko mortalitas. Pasien dengan URR dibawah 60% mempunyai perbedaan makna resiko mortalitas dengan pasien yang memiliki URR di antara 65-69%.

Dari Tabel 5.1 dan Tabel 5.7 di atas, peneliti juga menemukan bahwa dari 52 peserta penelitian, distribusi penyebaran kelompok usia yang terbanyak adalah 55-64 tahun (46.2%). Pernefri melalui 4th Report of Indonesian Renal Registry (2011) memaparkan bahwa usia peserta hemodialisis yang aktif adalah dari 45-54 tahun (27%). Sedangkan, Pernefri memaparkan usia peserta hemodialisis di antara 55-64 tahun ada 22%.

Muzasti (2011) dalam penelitiannya mencatat bahwa pasien yang menjalani hemodialisis paling banyak memulai pada saat berusia di antara 40-59 tahun (61%).

(50)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

muda onset ketika pasien memulai hemodialisis, maka pasien akan memiliki survival rate yang lebih baik. Carvalho et al (2003) membaginya menjadi 3, yaitu dibawah 43 tahun, diantara 43 sampai 57 tahun, dan di atas 57 tahun. Apabila onset saat memulai hemodialisis di bawah 43 tahun, akan memiliki survival rate yang lebih baik.

Muzasti (2011) melaporkan bahwa resiko mortalitas pada pasien yang memulai hemodialisis pada usia lebih besar dari 60 tahun adalah hampir dua setengah kali dibandingkan dengan pasien yang memulai hemodialisis pada usia 40-59 tahun. Pasien yang memulai hemodialisis pada usia lebih dari 60 tahun juga memiliki resiko mortalitas sebesar lebih kurang satu setengah kali dibandingkan dengan pasien yang memulai hemodialisis kurang dari 40 tahun.

Pada Tabel 5.1 dan 5.8, didapatkan bahwa jumlah peserta penelitian yang didiagnosa dengan hipertensi jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan peserta penelitian yang didiagnosa dengan penyakit lainnya. (82.7%). Hal ini sesuai dengan 4th Report of Indonesian Renal Registry (2011) yang melaporkan bahwa sekitar 46% pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis juga disertai dengan hipertensi.

Pada Tabel 5.8, hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara adekuasi hemodialisis pada peserta penelitian dengan berbagai macam diagnosa penyakit. Namun, Haller (2008) melaporkan bahwa pasien yang menjalani hemodialisis dengan hipertensi ataupun hipotensi memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang normal.

Diepen et al (2014) menyebutkan bahwa pasien dengan riwayat gangguan pembuluh darah dan pada pasien dengan diabetes mellitus memiliki prognosis yang lebih buruk meskipun hemodialissis yang dijalani adekuat.

Pada penelitian Carvalho (2003) menyebutkan bahwa survival pada pasien yang menjalani hemodialisis dengan hipertensi dan diabetes jauh lebih rendah dibandingkan dengan lainnya.

(51)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Berdasarkan Tabel 5.9, peneliti menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara adekuasi hemodialisis pada pasien yang telah menjalani hemodialisis selama 1 bulan sampai dengan pasien yang menjalani hemodialisis selama 9 bulan. Lama hemodialisis yang dimaksud peneliti dalam penelitian ini adalah waktu sejak peserta penelitian melakukan hemodialisis yang pertama kali sampai dengan penelitian ini dilakukan.

Dalam penelitian ini, peneliti tidak dapat menemukan jumlah peserta penelitian dengan perbandingan peserta penelitian yang mencapai hemodialisis yang adekuat dengan peserta penelitian yang tidak mencapai hemodialisis yang kuat . Peneliti juga tidak dapat menemukan hasil URR pada saat peserta penelitian melakukan proses hemodialisis yang pertama sehingga peneliti tidak dapat membandingkan hubungan antara lama hemodialisis dengan adekuasi hemodialisis

Muzasti (2011) dalam penelitiannya mengatakan semakin lama pasien menjalani hemodialisis, maka harapan hidup dari pasien tersebut akan semakin tinggi. Muzasti(2011) membagi lama hemodialisis menjadi 3 kategori yaitu; dibawah 60 bulan, antara 60-120 bulan, dan lebih dari 120 bulan. Dalam penelitiannya, Muzasti melaporkan rata-rata harapan hidup pada pasien yang telah menjalani hemodialisis lebih dari 120 bulan (61.5 bulan) lebih besar dibandingkan dengan pasien yang menjalani hemodialisis antara 60-120 bulan (42.3 bulan) dan pasien yang menjalani hemodialisis kurang dari 60 bulan (23.1 bulan).

(52)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah :

1. Tidak ada hubungan antara karakteristik pasien dengan adekuasi hemodialisis. 2. Adekuasi hemodialisis yang dilakukan di KSGH Rasyida Medan mencapai

tingkat keberhasilan sebesar 96.2%.

3. Ada hubungan yang lemah antara kelompok usia pasien pada saat memulai hemodialisis dengan adekuasi hemodialisis.

4. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin pasien yang menjalani hemodialisis dengan adekuasi hemodialisis.

5. Tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit penyerta pasien yang menjalani hemodialisis dengan adekuasi hemodialisis.

6.2. Saran dan Keterbatasan Peneliti

Dalam proses penulisan penelitian ini, ada beberapa saran yang akan disampaikan oleh peneliti dengan harapan saran tersebut akan bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut adalah :

1. Melalui penelitian ini, disarankan kepada pihak KSGH Rasyida Medan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hemodialisis.

2. Disarankan kepada pihak KSGH Rasyida Medan, khususnya bagian

pemeriksaan laboratorium untuk melakukan pemeriksaan laboratorium seperti URR setiap kali dilakukan hemodialisis pada pasien.

3. Disarankan kepada pihak KSGH Rasyida Medan, khususnya bagian yang bertanggung jawab dalam penulisan dan penyimpanan rekam medik agar dapat melengkapi serta menulis rekam medik dengan baik dan rapi sehingga rekam medik dapat dipahami dan diinterpretasi dengan tepat.

(53)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

penelitian analitik sehingga hasil yang disajikan akan lebih spesifik dan bermanfaat bagi ilmu kedokteran.

(54)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Daftar Pustaka

American Kidney Foundation. 2012. Chronic Kidney Disease (CKD). Available

from

Arora, P. 2014. Chronic Kidney Disease. Available from:

[Accessed 21 July 2014]

Cahyaningsih, N. D., 2008. Hemodialisis (Cuci Darah). Yogyakarta: Mitra Cendikia Press

Canaud, B. 2014. Hemodialysis Adequacy in 2014. Available from :

CDC. 2014. National Chronic Kidney Disease Fact Sheet. Available from: http://www.cdc.gov/diabetes/pubs/pdf/kidney_factsheet.pdf [Accessed 03 July 2014]

(55)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kementrian Kesehatan RI

Diepen, M.V. Schroijen, M.A. Dekkers, O.M. Rotmans, J.I. Krediet, R.T. Boeschoten, E.W. Dekker, F.W. Predicting Mortality in Patients with Diabetes Starting Dialysis. Available from :

Gatot, D. 2008. Rasio Reduksi Ureum Dializer 0,9; 2,10 dan 2 Dializer Seri 0,90

dengan 1,20. Available from:

Haller, H. 2009. Treatment of Hypertension in Patients on Hemodialysis. Available from

International Society of Nephrology. 2013. KDIGO 2012 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease.

Available from:

Jindal, K. Chan, C.T. Deziel, C. Hirsch, D. Soroka, S.D. Tonelli, M. Culleton, B.F. Hemodialysis Adequacy in Adults. Available from :

[Accessed 25

(56)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Kandarini, Y., 2013. Peranan Ultrafiltrasi terhadap Hipertensi Intradialitik dan Hubungannya dengan Perubahan Kadar: Endothelin-1, Asymetric Dimethylarginin dan Nitric Oxide. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar: 11-14. Available from:

[Accessed 30 May 2014]

Maruli, R. 2012. Pengaruh Pembalikan Catheter Double Lumen Terhadap Adekuasi Dialisis pada Pasien Hemodialisis di RSUP. H. Adam Malik Medan. Skripsi. Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Medan Mukhtar, Z., T.S.H. Haryuna, E. Effendy, A.Y.M. Rambe, Betty, dan D.Zahara.

2011. Desain Penelitian Klinis dan Statistika Kedokteran Edisi 1. USU Press. Medan

Miller, S. 2013. Chronic Kidney Disease. Available from:

03 July 2014]

Muzasti, R.A. 2011. Hubungan Phase Angle pada Bioelectrical Impedance Analysis dengan Berbagai Karakteristik dan Lama Harapan Hidup Pasien

Hemodialisis Kronik. Available from:

Perhimpunan Nefrologi Indonesia. 2011. 4th Report Of Indonesian Renal

Registry. Available from

(57)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Sastroasmoro, S. dan S. Ismael. 2011. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi ke-4. CV. Sagung Seto. Jakarta

Sherman, R.A., R.D. Swartz, dan C.Thomas. 2014. Treatment Methods for Kidney Failure Hemodialysis. Available from:

Sherwood, L. 2007. Human Physiology: From Cells To Systems, Sixth Edition, Cengage Learning Asia Pte Ltd, Singapore. Terjemahan B.U. Pendit dan N. Yesdelita. 2011. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem edisi keenam, EGC. Jakarta

Ujianto, D. 2005. Epidemiologi Deskriptif Gagal Ginjal Terminal di Instalasi Hemodialisis RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto. Available from 2014]

U.S. Department of Health and Human Services and National Institutes of Health.

2009. Hemodialysis Doses and Adequacy. Available from:

U.S. Department of Health and Human Services and National Institutes of Health.

2010. Vascular Access for Hemodialysis. Available from:

Figur

Tabel 2.2: Pembagian penyakit ginjal kronik berdasarkan laju filtrasi glomelurus

Tabel 2.2:

Pembagian penyakit ginjal kronik berdasarkan laju filtrasi glomelurus p.23
Tabel 2.3. Rentang substansi dalam dialisat

Tabel 2.3.

Rentang substansi dalam dialisat p.28
Gambar 2.1. Alur Hemodialisis

Gambar 2.1.

Alur Hemodialisis p.30
Gambar 3.1. Kerangka Konsep

Gambar 3.1.

Kerangka Konsep p.33
Tabel 5.1: Distribusi Karakteristik Peserta Penelitian

Tabel 5.1:

Distribusi Karakteristik Peserta Penelitian p.40
Tabel 5.2: Hasil URR

Tabel 5.2:

Hasil URR p.42
Tabel 5.3: Frekuensi Hemodialisis pada saat Pemeriksaan URR pertama kali

Tabel 5.3:

Frekuensi Hemodialisis pada saat Pemeriksaan URR pertama kali p.42
Tabel 5.4: Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Adekuasi Hemodialisis

Tabel 5.4:

Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Adekuasi Hemodialisis p.43
Tabel 5.5: Hubungan antara Frekuensi Hemodialisis dengan Adekuasi

Tabel 5.5:

Hubungan antara Frekuensi Hemodialisis dengan Adekuasi p.43
Tabel 5.6: Hubungan antara Adekuasi Hemodialisis dengan Mortalitas

Tabel 5.6:

Hubungan antara Adekuasi Hemodialisis dengan Mortalitas p.44
Tabel 5.7: Hubungan antara Usia dengan Adekuasi Hemodialisis

Tabel 5.7:

Hubungan antara Usia dengan Adekuasi Hemodialisis p.44
Tabel 5.8: Hubungan antara Penyakit Penyerta dengan Adekuasi

Tabel 5.8:

Hubungan antara Penyakit Penyerta dengan Adekuasi p.45
Tabel 5.9: Hubungan antara Lama Menjalani Hemodialisis dengan Adekuasi

Tabel 5.9:

Hubungan antara Lama Menjalani Hemodialisis dengan Adekuasi p.46
Tabel 5.10: Korelasi antara Karakteristik Pasien

Tabel 5.10:

Korelasi antara Karakteristik Pasien p.47

Referensi

Memperbarui...

Outline : Analisa Bivariat