Gambaran antibodi anti avian influenza h5 pada ayam petelur yang divaksinasi dengan vaksin ai h5n1 inaktif isolat tahun 2007 ayu

63 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

GAMBARAN ANTIBODI ANTI AVIAN INFLUENZA H5 PADA

AYAM PETELUR YANG DIVAKSINASI DENGAN VAKSIN AI

H5N1 INAKTIF ISOLAT TAHUN 2007

AYU AZRIANI AZHARI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

vaccine isolates 2007. AYU AZRIANI AZHARI. 2011. Under direction by SRI MURTINI and RETNO DAMAYANTI SOEJOEDONO.

Avian Influenza (AI) as well known as Avian flu or bird flu, is one of the important disease that occured in birds, especially chickens and caused by influenza virus type A. Vaccines have been used in AI control programs to prevent and eradicate AI from poultry and other birds. The purpose of this research was to study the antibody response to AI H5 in laying hens which vaccinated with AI H5N1 inactivated vaccine isolates 2007. A hundred day old chickens were used in the study. The chickens were divided into two groups, group one were vaccinated with AI H5N1 inactivated vaccine isolates 2007 and group two were unvaccinated as a control group. Serum samples were taken since the day of the study and every two week until ten weeks old. The vaccination were given at week two and six of experiment. The antibody anti AI were measured by Hemagglutinin Inhibition (HI) test. Two weeks after vaccination, 80% chicken of vaccinated group were developed antibody with low titer below protective titer (24). Two weeks after second vaccination, 70% chicken in vaccinated group were able to produce protective antibody titer, but the antibody titer decrease four weeks after vaccination. The result of this study indicated that to induce protective antibody against H5 in laying hens, it need more than two times vaccination.

(3)

dengan Vaksin AI H5N1 Inaktif Isolat Tahun 2007. AYU AZRIANI AZHARI. 2011. Di bawah bimbingan SRI MURTINI dan RETNO DAMAYANTI SOEJOEDONO.

Avian Influenza (AI) atau disebut flu burung adalah salah satu penyakit penting yang menyerang unggas, terutama pada ayam dan disebabkan oleh virus influenza tipe A. Vaksin telah digunakan dalam program kontrol AI untuk mencegah dan melenyapkan AI dari peternakan unggas dan burung lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui titer antibodi pada ayam petelur yang divaksin AI inaktif isolat tahun 2007. Penelitian ini menggunakan sebanyak 100 ekor ayam berumur satu hari (DOC) yang terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama diberikan vaksinasi dengan vaksin AI H5N1 inaktif isolat tahun 2007, dan kelompok kedua tidak diberikan vaksinasi atau sebagai kontrol. Pengambilan serum sampel dimulai dari hari pertama penelitian dan setiap dua minggu sampai ayam berumur sepuluh minggu. Pemberian vaksin dilakukan sebanyak dua kali pada saat ayam berumur dua minggu dan enam minggu. Antibodi anti AI diketahui melalui uji Hemagglutinin Inhibition (HI). Dua minggu setelah vaksinasi, sebanyak 80% ayam pada kelompok pertama berkembang antibodi dengan titer yang rendah di bawah titer protektif (24). Dua minggu setelah vaksinasi kedua, sebanyak 70% ayam pada kelompok pertama terlihat menghasilkan titer antibodi yang protektif, namun titer antibodi tersebut menurun empat minggu setelah vaksinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk menginduksi titer antibodi protektif terhadap H5 pada ayam petelur dibutuhkan lebih dari dua kali vaksinasi.

(4)

AYAM PETELUR YANG DIVAKSINASI DENGAN VAKSIN AI

H5N1 INAKTIF ISOLAT TAHUN 2007

AYU AZRIANI AZHARI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul gambaran antibodi anti avian influenza H5 pada ayam petelur yang divaksinasi dengan vaksin AI H5N1 inaktif isolat tahun 2007 adalah karya saya dengan arahan para pembimbing (Dr. Drh Sri Murtini, Msi dan Prof. Dr. Drh Retno Damayanti Soejoedono, MS) dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

(6)

Nama : Ayu Azriani Azhari

NRP : B04070133

Program studi : Kedokteran Hewan

Disetujui,

Dr. Drh. Sri Murtini, MSi Pembimbing I

Prof. Dr. Drh. Retno D. Soejoedono, MS Pembimbing II

Diketahui,

Dr. Nastiti Kusumorini

Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan

(7)

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(8)

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Gambaran Antibodi Anti Avian Influenza H5 pada Ayam Petelur yang Divaksinasi dengan Vaksin AI H5N1 Inaktif Isolat Tahun 2007. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tak langsung khususnya kepada :

1. Ibu Dr. Drh. Sri Murtini, MSi dan Ibu Prof. Dr. Drh. Retno Damayanti Soejoedono, MS selaku dosen pembimbing yang telah memberikan dukungan biaya sarana dan penelitian, waktu, tenaga, dan arahan selama penelitian dan penulisan.

2. Bapak Drh. R. Harry Soehartono. M. App. Sc. PhD selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing selama studi di FKH.

3. Papa, Mama, Kakak, Abang, Agus, Daffa, Mayla, Mischa, serta seluruh keluarga tercinta atas doa, dorongan, bantuan material maupun spiritual dan kasih sayang serta cinta yang tiada hentinya.

4. Pak Kos, Pak Lukman, Mas Wahyu, Pak Nur, Mbak Ramlah, Mbak Ita, Mba Ade, dan Mba Selin yang telah membantu dalam penelitian.

5. Sri Ardhiani dan Eka Marttiana, sebagai teman sekelompok penelitian.

6. Nurul Aini, Wiwieka Nanda Ardhani, I Wayan Widi Parnayoga, Wati Fatmawati, Tonny, Gamma Satria Kurniawan, Fahri Arfanto, seluruh teman-teman Honda Beat Community dan seluruh teman-teman Gianuzzi 44 atas kasih sayangnya dan persahabatan kita selama ini.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.

Bogor, September 2011

(9)

Penulis dilahirkan pada tanggal 3 September 1989 di Cimanggis, Jawa Barat sebagai anak bungsu dari ayah Masagus Azhari dan ibu Drg. Hj. Ratnawati Azhari, M.P.H. Pendidikan formal penulis dimulai dari TK Permata Bunda Bogor (1994-1995).

Penulis melanjutkan pendidikan ke SDN Bantar Kemang VII Bogor (1995-2001). Pada tahun 2001 penulis melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 3 Bogor (2001-2004). Kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke SMA plus YPHB Bogor (2004-2007). Pada tahun 2007 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) Fakultas Kedokteran Hewan melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD).

(10)

Halaman

Bahan dan Peralatan Perlengkapan Uji Laboratorium ... 12

Metode Penelitian ... 12

Rancangan Percobaan ... 12

Pemeliharaan Hewan Coba ... 13

Pengambilan Darah dan Evaluasi Titer Antibodi ... 13

(11)
(12)

Tabel 1 Strain masterseed virus AI yang ditemukan di Indonesia dan dijadikan sebagai bakal vaksin AI. ... 9 Tabel 2 Rancangan penelitian pada masing-masing kelompok ... 12 Tabel 3 Rataan titer antibodi dari masing-masing kelompok ayam selama pengamatan

... 18 Tabel 4 Persentasi antibodi dengan titer protektif masing sampel pada

masing-masing kelompok ayam ... 18 Tabel 5 Rataan titer antibodi ayam yang divaksinasi AI sebanyak tiga kali ulangan

(13)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Avian Influenza (AI) atau lebih dikenal sebagai fowl plague, pertama kali dilaporkan sebagai penyakit serius yang menyerang unggas di Italia pada tahun 1878 dengan tingkat kematian sebesar 100%. Pada tahun 1955, penyakit ini diketahui disebabkan oleh virus influenza tipe A (WHO 2005). Di Indonesia, penyakit AI mulai muncul pada pertengahan Agustus 2003. Penyakit AI dilaporkan pertama kali terjadi di Kecamatan Legok, Kabupaten Tanggerang, selanjutnya muncul kasus di Jawa Tengah yang secara berturut-turut ditemukan di Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Purbalingga, dan kemudian menyebar di sejumlah Kabupaten di Jawa Timur (Patu 2010).

Sebelum tahun 2004, penyakit AI tidak dikenal di Indonesia karena tidak pernah ditemukan atau dilaporkan keberadaannya sehingga penyakit AI tersebut merupakan penyakit eksotik. Pada Oktober 2003, para peternak di Banyumas dan beberapa tempat di Jawa Tengah resah akibat munculnya penyakit misterius yang mematikan ribuan ekor ayam. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, para ahli meyakini kejadian kematian ribuan bahkan jutaan ekor ayam tersebut disebabkan oleh adanya infeksi virus Avian Influenza tipe A subtipe H5N1, tetapi baru pada tanggal 25 Januari 2004 pemerintah mengumumkan secara resmi ditemukannya virus Avian Influenza tipe A H5N1 di Indonesia (Baraniah 2009).

Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi industri perunggasan karena tingginya angka morbiditas, mortalitas, dan kecemasan masyarakat akibat rasa takut akan tertular oleh penyakit AI (Setiyaningsih et al. 2008). Komite Nasional Pengendalian dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas PBPI) menyatakan bahwa tingginya angka kasus penularan avian influenza di Indonesia telah menimbulkan kerugian yang diperkirakan mencapai Rp 4.1 triliun pada tahun 2004 sampai 2007 (Baraniah 2009).

(14)

ayam mati mendadak dalam waktu satu minggu. Berdasarkan catatan Dinas Peternakan Sumbar, sedikitnya 2 400 unggas yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota di propinsi tersebut positif terkena flu burung sejak Januari hingga Maret 2011. Data terbaru dilaporkan ribuan ayam mati mendadak dan dinyatakan positif karena flu burung pada 15 kelurahan di 11 kecamatan di kota Padang, satu titik di Kota Pariaman, dan satu titik di Kabupaten Padang Pariaman.

Vaksinasi AI telah dilakukan tetapi kasus AI masih tinggi setiap tahunnya. Saat ini tercatat, sekitar 100 ribu dosis vaksin AI dari alokasi tahun 2010 yang bersumber dari pemerintah pusat telah diberikan pada setiap propinsi. Penyakit AI yang masih sering muncul dan menyerang unggas, hal ini merupakan akibat beberapa faktor seperti kurang optimalnya pengawasan dan kontrol atas penyebaran virus AI oleh berbagai pihak yang terlibat baik peternak komersial maupun otoritas pemegang kebijakan. Harga vaksin yang terlampau mahal, tertundanya program vaksinasi karena stok vaksin habis dan ketidakcocokan virus vaksin dengan virus yang menyerang di lapangan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan pengendalian penyakit AI (Shahid et al. 2009).

Vaksin adalah suatu produk biologik yang terbuat dari mikroorganisme, komponen, atau racun dari suatu mikroorganisme yang telah dilemahkan atau dimatikan dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh. Vaksinasi merupakan metode efektif dalam melindungi dan mencegah ayam dari infeksi AI. Tingkat keberhasilan pengendalian AI dengan vaksinasi ini dapat mencapai 70% (Woodson 2005). Vaksinasi juga merupakan sarana yang dianjurkan dan telah diterapkan di beberapa negara (Setiyaningsih et al. 2008).

(15)

antigenik virus AI subtipe H5N1 isolat unggas air terhadap antibodi hasil vaksinasi dengan vaksin AI subtipe H5N1 isolat Legok tahun 2003 mengindikasikan adanya antigenic drift, sehingga vaksin sudah tidak dapat melindungi unggas air secara sempurna terhadap infeksi virus AI subtipe H5N1 yang ada di alam. Kemunculan strain virus baru dan rendahnya antigenesitas virus isolat unggas air ini dengan virus bibit vaksin AI subtipe H5N1 isolat Legok tahun 2003 menuntut perlu adanya pergantian bibit vaksin yang sesuai dengan perkembangan genetik dan antigenik virus AI subtipe H5N1 di Indonesia. Oleh karena itu, industri vaksin mulai memproduksi vaksin dari isolat virus AI H5N1 terbaru, diantaranya isolat tahun 2007 dengan harapan bibit vaksin yang baru ini mampu memberikan proteksi yang baik terhadap infeksi virus AI saat ini.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi pada ayam petelur yang divaksin AI inaktif isolat tahun 2007.

Manfaat Penelitian

(16)

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Petelur

Ayam petelur putih termasuk dalam jenis ayam petelur ringan. Ayam ini mempunyai badan yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial

banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama. Ayam ini mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksi hen house.

Periode pemeliharaan unggas dimulai dari masa awal (starting period), pertumbuhan (growing period), perkembangan (developing period), dan akhir (finishing period). Pada masa awal pemberian pakan dilakukan secara penuh karena pada masa tersebut tubuh unggas tumbuh secara cepat dan dapat menyesuaikan kebutuhannya. Lepas dari periode tersebut pembatasan pemberian pakan harus dilakukan karena perkembangan berbagai organ tubuh tidak sama cepatnya dan unggas cenderung mengkonsumsi pakan melebihi kebutuhannya.

Berdasarkan kandungan gizinya, kebutuhan dasar pakan ayam dapat dibedakan berdasarkan atas tujuh komponen, yaitu : karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, vitamin, mineral, dan air. Kekurangan salah satu dari komponen itu bisa mengganggu proses metabolisme secara keseluruhan (Sarwono 2002).

Sistem Kekebalan Tubuh Pada Unggas

Secara umum sistem kekebalan pada unggas tidak berbeda jauh dengan sistem kekebalan pada manusia maupun mamalia. Unggas mempunyai dua organ limfoid primer, yaitu timus dan bursa Fabricius (BF). Bursa fabricius adalah organ limfoid primer yang berfungsi sebagai tempat pematangan dan diferensiasi bagi sel dari sistem pembentuk antibodi, sehinga sel ini disebut sel B. Disamping itu bursa juga berfungsi sebagai organ limfoid sekunder (Tizard 2004).

(17)

Antigen yang masuk ke dalam tubuh pertama kali akan dijerat sehingga dapat diketahui sebagai bahan asing. Materi yang telah diketahui sebagai bahan asing, kemudian oleh makrofag disampaikan ke sel limfosit melalui pembentukan berbagai sitokin ke sistem pembentuk antibodi atau ke sistem kebal berperantara sel. Sistem kebal ini harus menyimpan “ingatan” tentang kejadian ini sehingga pada paparan berikutnya dengan antigen yang sama, tanggapannya akan jauh lebih efisien (Tizard 2004). Antibodi bekerja melalui dua cara yang berbeda untuk mempertahankan tubuh terhadap agen penyebab penyakit yaitu : (1) dengan cara langsung menginaktivasi agen penyebab penyakit, (2) dengan mengaktifkan sistem komplemen yang kemudian akan menghancurkan agen penyakit tersebut (Hartati 2005).

Avian Influenza (AI)

Penyakit flu burung disebabkan oleh virus Avian Influenza (AI), yang termasuk Virus Influenza A dan digolongkan pada famili orthomyxoviridae dan genus orthomyxovirus (Kalthoff et al. 2010). Virus ini diidentifikasi pertama kali dengan sebutan Fowl Plague (sampar ayam) (Alexander 2000). Myxo berarti lendir dan ortho berarti asli (bahasa Yunani). Virus ini mempunyai kemampuan untuk berikatan pada lendir atau mukoprotein saluran pernafasan dan organ lain (Malole 1988).

Virus influenza ini memiliki tiga genera yaitu Influenza tipe A, B, dan C. Perbedaan tersebut didasarkan pada karakter protein M dari amplop virus dan nukleoprotein virus. Influenza A dapat menginfeksi manusia, babi, kuda, kucing, dan anjing laut serta berbagai jenis unggas (ayam, itik, angsa, kalkun, burung dara, burung camar, dan burung elang) dan Influenza B dan C hanya menginfeksi manusia (Fenner et al. 1995).

(18)

maka terdapat 144 kemungkinan subtipe virus yang bisa muncul. Diantara 16 subtipe virus AI hanya H5 dan H7 yang bersifat ganas (virulen) pada unggas (OIE 2006).

Sumber: Lee and Saif (2009)

Gambar 1 Diagram skematik struktur virus influenza A

Virus influenza bersifat labil atau mudah mengalami perubahan pembawa sifat (mutasi genetik) dari kurang ganas (Low Pathogenic Avian Influenza) menjadi sangat ganas (High Pathogenic Avian Influenza). Masa inkubasi virus ini adalah 3 hari untuk unggas di luar kandang dan 14 sampai 21 hari untuk unggas di dalam kandang (flok). Virus ini merupakan virus yang lemah, tidak tahan panas dan zat desinfektan (seperti karbol, lisol, kaporit, dan sebagainya), tetapi mampu bertahan selama 35 hari pada suhu 4˚C pada kotoran ayam. Di dalam air, virus ini dapat bertahan hidup selama 4 hari pada suhu 22˚C dan 30 hari pada suhu 0˚C (Nuh 2008).

Virus influenza bersirkulasi dalam inang alaminya, terutama unggas air dari ordo Anseriformes (bebek dan angsa) dan Charadriiformes (burung camar dan burung laut lainnya) (Kalthoff et al. 2010). Penularan dapat terjadi melalui jalan faecal-oral, paparan muntahan hewan, lubang anus unggas yang sakit, dan melalui

(19)

Gejala klinis penyakit AI sangat bervariasi, dari hewan mati tanpa menunjukkan gejala klinis sampai dengan gejala klinis yang kompleks. Gejala klinis yang sering teramati adalah pada jengger dan pial kebiruan (cyanosis), terjadi abnormalitas sistem reproduksi, pencernaan dan syaraf, ditemukan eksudat yang keluar dari mata dan hidung, edema daerah wajah dan kepala, beberapa daerah subkutan mengalami perdarahan, ptechie pada daerah dada dan kaki, batuk, bersin, ngorok, unggas mengalami diare dan kematian tinggi (Nuh 2008). Virus Influenza A memiliki cakupan inang yang sangat luas, virus ini dapat diisolasi dari berbagai hewan, termasuk manusia, babi, kuda, kucing, dan burung. Namun, beberapa penelitian menyatakan bahwa reservoir alami virus ini adalah burung air liar, seperti bebek liar, burung camar, dan burung laut lainnya (Chen and Holmes 2006). Model penularan virus Influenza A dari satu inang ke inang lain serta sifat infeksinya di gambarkan oleh Kalthoff et al. (2010) dalam Gambar 2.

Sumber: Kalthoff et al. (2010)

Gambar 2 Transmisi silang virus influenza A

Pencegahan dan Pengendalian AI

(20)

mengendalikan jika terjadi kasus AI sehingga tidak meluas dan pemberantasan adalah upaya untuk membebaskan kembali suatu wilayah dari AI (Nuh 2008).

Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan penyemprotan pada kandang-kandang unggas yang disinyalir telah terinfeksi virus flu burung dan melakukan pengawasan yang ketat terhadap ayam potong yang berasal dari luar daerah, mencuci tangan dengan sabun cair pada air yang mengalir sebelum dan setelah melakukan suatu pekerjaan, tiap orang yang berhubungan dengan bahan

yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker,

kacamata khusus), mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak dengan suhu

800˚C selama satu menit, dan mengkonsumsi telur unggas dipanaskan dengan

suhu 640˚C selama lima menit. Pencegahan yang dilakukan berdasaran keputusan Direktorat Jendral Peternakan No. 71 / Tahun 2000 yaitu bila akan melakukan importasi unggas hanya dari negara bebas patogenik AI, pengawasan distribusi unggas oleh Dinas Peternakan setempat, dan karantina berdasarkan sertifikasi kesehatan hewan yang dikeluarkan oleh dokter hewan berwenang dan dokumen lain yang memuat tentang negara asal hewan (Nazaruddin 2008, Baraniah 2009). Pelaksanaan penanggulangan virus AI dapat dilakukan dengan sembilan langkah penanggulangan, yaitu : peningkatan biosekuriti, vaksinasi lengkap (tiga kali setahun), depopulasi di daerah tertular, pengendalian lalu-lintas unggas, produk unggas dan limbah peternakan unggas, surveilans dan penelusuran (tracing back), pengisian kandang kembali (restocking), pemusnahan menyeluruh (stamping out) di daerah tertular baru, peningkatan kesadaran masyarakat, pemantauan dan evaluasi (Nuh 2008).

Vaksin

(21)

Vaksin unggas yang dibuat harus cocok dengan virus yang akan mewabah, karena vaksin untuk infeksi subtipe virus tertentu tidak efektif digunakan sebagai vaksin untuk infeksi subtipe yang lain. Vaksin yang digunakan dalam program vaksinasi AI di Indonesia adalah vaksin inaktif karena penggunaannya relatif lebih aman dibandingkan vaksin virus aktif. Keamanan vaksin inaktif tersebut disebabkan virus vaksin sudah tidak mampu bereplikasi dalam tubuh inang sehingga tidak menyebabkan sakit pada inang. Berbagai jenis strain virus AI telah banyak digunakan sebagai virus bibit vaksin AI atau influenza pada unggas dan manusia (Tabel ).

Tabel 1 Strain masterseed virus AI yang ditemukan di Indonesia dan dijadikan sebagai bakal vaksin AI.

No Strain Masterseed No Strain Masterseed

1 Ck/West Java-Crb/M16/2009 13 Ck/East Java/M08/2008 2 Ck/Jambi/M19/2009 14 Ck/West Java/M07/2008 3 Ck/East Java-Mdn/M17/2009 15 Ck/West Java/M06/2008

4 Ck/Central

Java-Smrg/M18/2009 16

Chicken/West Java/PWT-WIJ/2006

5 Ck/West Java/M13/2009 17 West Java/SMI-PAT/2006 6 Ck/East Java/M09/2008 18 Ck/West Java/M04/2008 7 Ck/East Java/M11/2008 19 Ck/West Java/M03/2007 8 Ck/ West Java/M05/2008 20 Ck/Banten/M15/2009

9 Ck/Central

Java-Pkl/M20/2009 21 Chicken/Wajo/2005

10 Ck/East Java/M12/2009 22 Chicken/Indonesia/BL/2003 11 Ck/East Java/M14/2009 23 Turkey/Kedaton/2004

12 Ck/South

Sulawesi-Mksr/M19/2009 24 Ck/North Sumatra/M10/2008

Sumber: http://info.medion.co.id 2009

Vaksin inaktif diberikan dengan dosis yang redah namun membutuhkan booster sebanyak dua sampai tiga kali (Hartati 2005). Vaksin yang baik harus

melewati uji dan ketentuan farmasitekal, antara lain: karekteristik umum vaksin, identifikasi dan uji bahan aktif, identifikasi dan uji bahan tambahan, identifikasi dan uji adjuvan, uji keamanan, uji kemurnian, uji inaktif, dan uji terhadap residu (Mulia 2005).

(22)
(23)

MATERI DAN METODA

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini berlangsung dari bulan Juni 2010 sampai dengan Juni 2011. Penelitian dilakukan di kandang FKH-IPB. Pengujian sampel dilakukan di Laboratorium Terpadu bagian Mikrobiologi FKH-IPB.

Bahan dan Alat Penelitian Hewan Percobaan

Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam jantan petelur jenis white leghorn, umur satu hari (DOC). Ayam yang digunakan berasal dari induk yang sudah diberikan vaksinasi AI sebelumnya. Jumlah ayam yang diamati sebanyak 100 ekor. Ayam tersebut dibagi dalam dua kelompok yaitu A1V (diberikan vaksin AI) dan A1K (tidak diberikan vaksin AI atau sebagai kontrol). Kelompok kontrol digunakan untuk sebagai parameter bahwa disekitar kandang percobaan benar-benar bebas dari virus avian influenza.kelompok kontrol juga digunakan untuk membandingkan hasil titer antibodi yang terjadi dengan kelompok yang diberi perlakuan vaksinasi. Masing-masing kelompok terdiri dari 50 ekor ayam.

Vaksin AI

Vaksin AI yang digunakan dalam penelitian ini adalah vaksin AI H5N1 inaktif (killed vaccine) isolat tahun 2007 strain Subang (A/chiken/West Java-Subang/29/2007) yang berasal dari perusahaan vaksin komersial di Indonesia.

Pakan

Pakan yang digunakan pada pemeliharaan ayam penelitian ini adalah pakan konsentrat komersial yang diberikan setiap pagi harinya. Air minum diberikan ad libitum.

Kandang dan Perlengkapannya

(24)

terbuat dari tembok yang dibatasi oleh kawat ram dan dilengkapi tempat minum dan tempat makan terbuat dari plastik yang dibersihkan setiap hari. Kandang juga dilengkapi dengan lampu listrik. tabung reaksi, marker (spidol), gelas piala, termos es, cawan petri, tabung mikro.

Metode Penelitian Rancangan Percobaan

Percobaan dilakukan dengan rancangan penelitian seperti pada Tabel 2. Tabel 2 Rancangan penelitian pada masing-masing kelompok Umur ayam

Pengambilan sampel darah Pengambilan sampel darah

2 -Pengambilan sampel darah

-Vaksinasi kesatu Pengambilan sampel darah 4 Pengambilan sampel darah Pengambilan sampel darah

6 -Pengambilan sampel darah

-Vaksinasi kedua Pengambilan sampel darah 8 Pengambilan sampel darah Pengambilan sampel darah 10 Pengambilan sampel darah Pengambilan sampel darah

(25)

bertujuan untuk melihat titer antibodi yang terbentuk serta menentukan kapan waktu dilakukannya booster. Serum yang diambil diukur titer antibodinya terhadap virus AI dengan uji HI menggunakan antigen standar AI H5N1 produksi Pusvetma.

Pemeliharaan Hewan Coba

Populasi ayam pejantan yang diamati secara keseluruhan yaitu 100 ekor. Ayam ini dibagi dalam dua kelompok. Kelompok ayam ini dipelihara di kandang yang terletak di kandang uji coba. Ayam diberi pakan dengan standar komersial dan diberi minum ad libitum.

Pengambilan Darah dan Evaluasi Titer Antibodi

Pengambilan darah sampel dilakukan dengan metode penarikan contoh acak (random sampling) sebanyak 10 ekor pada masing-masing kelompok ayam. Ayam diambil darahnya menggunakan spuit 3 ml di daerah sayap yaitu pada vena brachialis secara legeartis (sesuai dengan cara yang tepat). Darah tersebut

selanjutnya dibawa ke Laboratorium Terpadu bagian Mikrobiologi FKH-IPB. Darah dibiarkan tetap berada di dalam spuit dan disimpan dalam lemari es selama satu malam. Selanjutnya serum yang terpisah dari darah diambil dan dilakukan evaluasi titer antibodi dengan uji hambat aglutinasi atau haemagglutination inhbition (HI) test.

Pembuatan suspensi sel darah/RBC (Red Blood Cell)

(26)

Suspensi sel darah tersebut kemudian diencerkan menjadi suspensi 50% dan diukur konsentrasinya menggunakan kapiler hematokrit untuk menentukan konsentrasinya. Selanjutnya berdasarkan konsentrasi suspensi sel darah merah yang diperoleh, dilakukan pengenceran suspensi sel darah merah menjadi 5%. Suspensi sel darah merah 5% tersebut sebagai larutan stok dan disimpan di suhu 4˚C. Saat akan digunakan uji haemaglutinasi mikrotitrasi suspensi sel darah merah stok diencerkan menjadi 1%. Semua pengenceran suspensi sel darah merah menggunakan larutan PBS.

Uji HA mikrotitrasi

Uji HA ini digunakan untuk membuat virus AI standar (4 HAU). Antigen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan isolat virus AI standar subtipe H5N1 produksi Pusvetma Surabaya. Adapun prosedur uji HA mikrotitrasi yaitu :

1. Sebanyak 25 l PBS dimasukkan ke dalam sumur microplate berbentuk V (V bottom microplate).

2. Sebanyak 25 l suspensi virus dimasukkan pada lubang pertama dan dilakukan pengenceran menggunakan micropipette dengan cara menghisap dan mengeluarkan campuran sebanyak lima kali lalu memindahkan 25 l campuran ke sumur kedua. Pengenceran dilakukan hingga sumur ke-12. Pada sumur ke-12, campuran sebanyak 25 l dibuang.

3. Sebanyak 25 l PBS dimasukkan lagi ke dalam sumur yang telah berisi suspensi virus.

4. Sebanyak 25 l RBC 1% dimasukkan ke dalam semua sumur.

5. Microplate digoyang (untuk menghomogenkan) kemudian diinkubasikan pada suhu 4˚C selama 60 menit.

6. Hasil diamati setelah sumur kontrol positif tampak mengendap.

(27)

Uji HI mikrotitrasi

Titer antibodi ayam terhadap virus AI dilakukan dengan uji Hambat Aglutinasi (HI Test) mikrotitrasi menurut OIE (2008).

Prosedur uji HI mikrotitrasi :

 PBS sebanyak 25 l dimasukkan ke dalam sumur microplate berbentuk V (V bottom microplate).

 25 l serum ayam dimasukkan pada lubang pertama dan dilakukan pengenceran menggunakan micropipette dengan cara menghisap dan mengeluarkan campuran sebanyak 5 kali lalu memindahkan 25 l campuran ke sumur kedua. Pengenceran dilakukan hingga sumur ke-12. Pada sumur ke-12, campuran sebanyak 25 l dibuang.

 Suspensi virus AI standar (4 HAU) sebanyak 25 l dimasukkan ke- dalam sumur berisi serum yang telah diencerkan lalu di homogenkan dan inkubasi pada suhu 4˚C selama 60 menit.

 Plate pengujian yang telah diinkubasi kemudian ditambah dengan RBC 1% sebanyak 25 l ke semua sumur.

 Plate digoyang selama 10 detik untuk menghomogenkan larutan dan inkubasi pada suhu 4˚C selama 60 menit.

 Hasil diamati seteleh sumur kontrol positif tampak adanya reaksi penghambatan aglutinasi.

Titer antibodi dihitung dengan melihat batas akhir penghambatan aglutinasi sempurna. Batas akhir pada pengenceran tertinggi yang mampu menghambat terjadinya aglutinasi secara sempurna dan disebut dengan “end

point”. Antibodi terhadap AI dinyatakan protektif bila titer yang terbentuk adalah

≥ 24 (Deptan 2006).

Rataan titer antibodi dihitung dengan menggunakan Geometric Mean Titre (GMT) dengan rumus :

Log2 GMT = ( Log2 t1 )( S1 ) + ( Log2 t1 )( S1 ) + … + ( Log2 tn )( Sn )

(28)

Keterangan :

N = Jumlah contoh serum yang diamati

t = Titer antibodi pada pengenceran tertinggi (yang masih dapat menghambat aglutinasi sel darah merah)

(29)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai antibodi asal induk yang rendah karena rataan antibodinya hanya 22.4 (Tabel 3), dengan jumlah ayam yang memiliki titer antibodi protektif sebanyak 20% (Tabel 4). Titer antibodi yang terukur pada awal penelitian merupakan antibodi asal induk. Titer antibodi induk yang tinggi akan mempengaruhi titer antibodi asal induk pada anak ayam (Tizard 2004).

Pada umur dua minggu, terjadi penurunan titer antibodi dibandingkan saat ayam berumur sehari, dengan rata-rata titer antibodi menjadi 20.5 (Tabel 3). Jumlah ayam yang memiliki titer antibodi protektif juga menurun sebanyak 10% sehingga hanya 10% ayam yang masih memiliki titer antibodi protektif (Tabel 4). Penurunan titer antibodi ini dikarenakan antibodi asal induk yang berasal dari induk yang divaksinasi hanya mampu melindungi anak ayam dalam kurun waktu yang singkat. Oleh karena itu, vaksinasi pertama dilakukan pada saat ayam umur dua minggu untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit setelah antibodi asal induk mulai menurun.

Antibodi asal induk ini biasanya akan berada dalam tubuh anak ayam sampai umur empat minggu (OIE 2010). Imunoglobulin ini dapat diturunkan dari serum induk ayam ke dalam kuning telur ketika telur masih berada di dalam ovarium. Dalam fase kuning telur, IgG ditemukan memiliki titer yang sama dengan yang ada dalam serum induk. Selama embrio ayam berkembang, IgG dari kuning telur akan diserap. IgM dan IgA asal induk berada dalam cairan amnion dan akan ditelan oleh embrio. Dengan demikian saat anak ayam menetas, anak ayam tersebut telah memiliki IgG di dalam serum dan IgM dan IgA yang ada di dalam saluran pencernaan (Tizard 2004).

(30)

menginduksi pembentukan antibodi, tetapi belum mencapai titer antibodi protektif dua minggu setelah vaksinasi.

Tabel 3 Rataan titer antibodi dari masing-masing kelompok ayam selama pengamatan

Titer AI pada umur ayam ke - GMT pada kelompok

A1V A1K

Tabel 4 Persentasi antibodi dengan titer protektif masing-masing sampel pada masing-masing kelompok ayam

Sample

Titer antibodi AI Pada Umur Ayam Minggu Ke-

(31)

di dalam tubuh, sehingga memerlukan booster yang berulang kali agar dapat mempertahankan titer antibodi protektif.

Kelompok ayam kontrol merupakan parameter yang digunakan untuk memastikan bahwa di lingkungan sekitar kandang pemeliharaan ayam benar-benar bebas dari virus AI yang dapat menginfeksi ayam, sehingga hasil evaluasi titer antibodi yang diperoleh dari ayam yang di vaksinasi merupakan hasil murni dari vaksin yang digunakan. Beberapa faktor yang menyebabkan adanya kontaminasi dari virus AI tersebut adalah keadaan lingkungan yang kotor, adanya unggas spesies lain yang masuk ke dalam kawasan pemeliharaan, dan standar biosekuriti yang rendah (Akoso 2006).

Titer antibodi terus menurun sampai ayam berumur enam minggu saat dilakukan vaksinasi kedua. Titer antibodi kembali meningkat dua minggu setelah vaksinasi kedua (Tabel 3). Hasil evaluasi titer antibodi yang diperoleh dua minggu setelah dilakukan booster vaksinasi kedua (ayam berumur delapan minggu), menunjukkan adanya peningkatan titer antibodi dibandingkan vaksinasi sebelumnya dengan jumlah titer antibodi protektif menjadi sebanyak 70%, dan rataan titer antibodinya sebesar 24.2. Wibawan et al. (2008) dalam penelitiannya juga mengungkapkan bahwa peningkatan titer antibodi yang terjadi setelah dilakukan booster berkisar antara 25-27. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hartati (2005) bahwa respon imun akan terbentuk dengan optimal bila dilakukan vaksinasi minimal dua kali pada hewan yang sama (Tabel 5).

Tabel 5 Rataan titer antibodi ayam yang divaksinasi AI sebanyak tiga kali ulangan (Hartati 2005)

(32)

umur 13 minggu (dua minggu setelah vaksinasi pertama). Hal ini juga sesuai dengan pernyataan Wibawan dan Soejoedono (2003) bahwa pemaparan oleh antigen yang sama pada saat kedua kalinya menyebabkan terjadinya pembentukan respon imun sekunder dalam waktu singkat.

Sistem pembentukan antibodi memiliki kemampuan untuk mengingat keterpaparan dengan suatu antigen sebelumnya (Tizard 2004). Kondisi tersebut disebabkan oleh jumlah sel B dan T memori yang bertambah banyak sehingga kemungkinan untuk berinteraksi dengan antigen akan lebih besar, peningkatan titer antibodi akan lebih cepat dan lebih tinggi dari sebelumnya (Wibawan dan Soejoedono 2003). Titer antibodi yang dihasilkan pada minggu keempat setelah vaksinasi pertama (dua minggu setelah vaksinasi kedua) ini merupakan hasil yang diperoleh akibat vaksinasi dan tidak dipengaruhi oleh antibodi asal induk. Antibodi dengan titer yang tinggi tersebut bersifat protektif terhadap adanya infeksi lapangan.

Titer antibodi protektif yang dihasilkan hanya dapat bertahan sementara karena empat minggu setelah vaksinasi kedua (saat ayam berumur sepuluh minggu). Pada saat itu dilakukan kembali evaluasi titer antibodi, tampak terjadinya penurunan titer antibodi dibandingkan evaluasi sebelumnya. Titer antibodi protektif yang tersisa hanya 10% dan sisanya merupakan titer antibodi dengan protektif rendah (sebanyak 70%) serta antibodi yang tidak protektif lagi terhadap virus AI (sebanyak 20%). Hal ini bisa terjadi karena adanya proses netralisasi yang mengakibatkan jumlah antibodi yang bersirkulasi dalam darah menjadi menurun. Hartati (2005) dalam penelitiannya menyatakan bahwa titer antibodi protektif akan mampu bertahan dalam tubuh ayam sampai masa akhir produksi ayam (60 minggu ) setelah tiga kali vaksinasi atau booster.

(33)

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ayam petelur yang divaksinasi menggunakan vaksin AI inaktif mampu membentuk titer antibodi protektif setelah dua kali vaksinasi. Titer antibodi terbentuk optimal setelah dilakukan booster dengan rataan titer antibodi tertinggi mencapai 24,2. Titer antibodi protektif yang terbentuk hanya mampu bertahan sampai dua minggu setelah vaksinasi sehingga dibutuhkan pemberian booster kembali agar dapat mempertahankan titer antibodi protektif.

SARAN

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Akoso BT. 2006. Waspada Flu Burung: Penyakit Menular Pada Hewan dan Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

Alexander DJ. 2000. A review of avian influenza in different bird species. Vet. Microbiol. 74: 3-13.

Baraniah MA. 2009. Mewaspadai Penyakit Berbahaya pada Hewan dan Ternak. Depok: Penebar Swadaya.

[CDC] Centers of Disease Control and Prevention. 2010. Avian influenza (bird flu). http://www.cdc.gov/flu/avian/gen-info/facts.htm# [2 Juni 2011]. Chen R, Holmes EC. 2006. Avian influenza virus exhibits rapid evolutionary

dynamics. Oxford Journals 23[12]: 2336-2341.

[Deptan] Departemen Pertanian. 2006. Prosedur Operasional Standar Pengendalian Penyakit Avian Influenza di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Peternakan Departemen Pertanian.

Fenner FJ, Gibbs EPJ, Murphy FA, Root R, Studdert MJ, White DO. 1995. Virologi Veteriner Edisi 2. Putra DKH, penerjemah. Semarang: IKIP Semarang Press. Terjemahan dari: Veterinary Virology.

Hartati Y. 2005. Respon kekebalan vaksin avian influenza inaktif pada ayam indukan pedaging strain Hubbard (studi kasus pada peternakan ayam indukan pedaging) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Kalthoff D, Globig A dan Beer M. 2010. (Highly pathogenic) avian influenza as a zoonotic agent [review]. Vet. Microbiol. 140: 237-245.

Lee CW, Saif YM. 2009. Avian influenza virus. . Comparative Immunology, Microbiology and Infectious Diseases 32: 301-310.

Malole MB. 1988. Virologi. Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor. Mulia BH. 2005. Inaktivasi virus avian influenza (AI) dengan penambahan

formalin konsentrasi bertingkat sebagai salah satu cara pembuatan vaksin AI inaktif [skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Nuh M. 2008. Flu Burung Ancaman dan Pencegahan. Jakarta: Departemen Komunikasi dan Informatika.

(35)

[OIE] Office International des Epizooties World Organization. 2006. High pathogenic avian influenza. http://www.oie.int/eng/maladies/fiches/ a150.htm#2 [15 Desember 2010].

[OIE] Office International des Epizooties World Organization. 2008. Manual of Diagnostic Test and Vaccines for Testrial Animals (Mammals, Birds and Bees) Sixth Edition. Perancis: OIE.

[OIE] Office International des Epizooties World Organization. 2010. Terrestrial animal health code. http://www.oie.int/en/international-standardsetting/ terrestrial-code/access-online/?htmfile=chapitre_1.10.4.htm [20 Juni 2011]. Patu I. 2010. Flu burung di Indonesia. http://www.infeksi.com/articles.php?lng

=in&pg=36 [20 Juni 2011].

Sarwono B. 2002. Ayam Arab Petelur Unggul. Depok: Penebar Swadaya.

Setiyaningsih S, Soejoedono RD, Darminto, Soepar, Sunartatie T. 2008. Pengembangan vaksin DNA dari isolat lokal virus avian influenza: konstruksi plasmid pengkode gen HA. Laporan Hasil Penelitian. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Shahid MA, Abubakar M, Hameed S, Hassan S. 2009. Avian influenza virus (H5N1); effects of physico-chemical factors on its survival. VirologyJ 6: 38. Sudaryani T. 2003. Teknik Vaksinasi & Pengendalian Penyakit Ayam.

Depok: Penebar Swadaya.

Susanti R, Soejoedono RD, Mahardika IGK, Wibawan IWT, Suhartono MT. 2008. Filogenetik dan struktur antigenik virus avian influenza subtipe H5N1 isolat unggas air. Jurnal Vet. 9: 99-106.

Tizard IR. 2004. Veterinary Immunology an Introduct Sixth Edition . Philadelphia: W.B Saunders Company.

[WHO] World Health Organization. 2005. Avian Influenza: Assessing the Pandemic Threat. USA: WHO.

[WHO] World Health Organization. 2011. Cumulative number of confirmed human cases of avian influenza A/(H5N1) reported to WHO. http://www.who.int/csr/disease/avian_influenza/country/cases_table_2011_ 06_16/en/index.html [20 Juni 2011].

Wibawan IWT, Soejoedono R. 2003. Diktat Imunologi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

(36)
(37)

vaccine isolates 2007. AYU AZRIANI AZHARI. 2011. Under direction by SRI MURTINI and RETNO DAMAYANTI SOEJOEDONO.

Avian Influenza (AI) as well known as Avian flu or bird flu, is one of the important disease that occured in birds, especially chickens and caused by influenza virus type A. Vaccines have been used in AI control programs to prevent and eradicate AI from poultry and other birds. The purpose of this research was to study the antibody response to AI H5 in laying hens which vaccinated with AI H5N1 inactivated vaccine isolates 2007. A hundred day old chickens were used in the study. The chickens were divided into two groups, group one were vaccinated with AI H5N1 inactivated vaccine isolates 2007 and group two were unvaccinated as a control group. Serum samples were taken since the day of the study and every two week until ten weeks old. The vaccination were given at week two and six of experiment. The antibody anti AI were measured by Hemagglutinin Inhibition (HI) test. Two weeks after vaccination, 80% chicken of vaccinated group were developed antibody with low titer below protective titer (24). Two weeks after second vaccination, 70% chicken in vaccinated group were able to produce protective antibody titer, but the antibody titer decrease four weeks after vaccination. The result of this study indicated that to induce protective antibody against H5 in laying hens, it need more than two times vaccination.

(38)

dengan Vaksin AI H5N1 Inaktif Isolat Tahun 2007. AYU AZRIANI AZHARI. 2011. Di bawah bimbingan SRI MURTINI dan RETNO DAMAYANTI SOEJOEDONO.

Avian Influenza (AI) atau disebut flu burung adalah salah satu penyakit penting yang menyerang unggas, terutama pada ayam dan disebabkan oleh virus influenza tipe A. Vaksin telah digunakan dalam program kontrol AI untuk mencegah dan melenyapkan AI dari peternakan unggas dan burung lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui titer antibodi pada ayam petelur yang divaksin AI inaktif isolat tahun 2007. Penelitian ini menggunakan sebanyak 100 ekor ayam berumur satu hari (DOC) yang terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama diberikan vaksinasi dengan vaksin AI H5N1 inaktif isolat tahun 2007, dan kelompok kedua tidak diberikan vaksinasi atau sebagai kontrol. Pengambilan serum sampel dimulai dari hari pertama penelitian dan setiap dua minggu sampai ayam berumur sepuluh minggu. Pemberian vaksin dilakukan sebanyak dua kali pada saat ayam berumur dua minggu dan enam minggu. Antibodi anti AI diketahui melalui uji Hemagglutinin Inhibition (HI). Dua minggu setelah vaksinasi, sebanyak 80% ayam pada kelompok pertama berkembang antibodi dengan titer yang rendah di bawah titer protektif (24). Dua minggu setelah vaksinasi kedua, sebanyak 70% ayam pada kelompok pertama terlihat menghasilkan titer antibodi yang protektif, namun titer antibodi tersebut menurun empat minggu setelah vaksinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk menginduksi titer antibodi protektif terhadap H5 pada ayam petelur dibutuhkan lebih dari dua kali vaksinasi.

(39)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Avian Influenza (AI) atau lebih dikenal sebagai fowl plague, pertama kali dilaporkan sebagai penyakit serius yang menyerang unggas di Italia pada tahun 1878 dengan tingkat kematian sebesar 100%. Pada tahun 1955, penyakit ini diketahui disebabkan oleh virus influenza tipe A (WHO 2005). Di Indonesia, penyakit AI mulai muncul pada pertengahan Agustus 2003. Penyakit AI dilaporkan pertama kali terjadi di Kecamatan Legok, Kabupaten Tanggerang, selanjutnya muncul kasus di Jawa Tengah yang secara berturut-turut ditemukan di Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Purbalingga, dan kemudian menyebar di sejumlah Kabupaten di Jawa Timur (Patu 2010).

Sebelum tahun 2004, penyakit AI tidak dikenal di Indonesia karena tidak pernah ditemukan atau dilaporkan keberadaannya sehingga penyakit AI tersebut merupakan penyakit eksotik. Pada Oktober 2003, para peternak di Banyumas dan beberapa tempat di Jawa Tengah resah akibat munculnya penyakit misterius yang mematikan ribuan ekor ayam. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, para ahli meyakini kejadian kematian ribuan bahkan jutaan ekor ayam tersebut disebabkan oleh adanya infeksi virus Avian Influenza tipe A subtipe H5N1, tetapi baru pada tanggal 25 Januari 2004 pemerintah mengumumkan secara resmi ditemukannya virus Avian Influenza tipe A H5N1 di Indonesia (Baraniah 2009).

Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi industri perunggasan karena tingginya angka morbiditas, mortalitas, dan kecemasan masyarakat akibat rasa takut akan tertular oleh penyakit AI (Setiyaningsih et al. 2008). Komite Nasional Pengendalian dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas PBPI) menyatakan bahwa tingginya angka kasus penularan avian influenza di Indonesia telah menimbulkan kerugian yang diperkirakan mencapai Rp 4.1 triliun pada tahun 2004 sampai 2007 (Baraniah 2009).

(40)

ayam mati mendadak dalam waktu satu minggu. Berdasarkan catatan Dinas Peternakan Sumbar, sedikitnya 2 400 unggas yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota di propinsi tersebut positif terkena flu burung sejak Januari hingga Maret 2011. Data terbaru dilaporkan ribuan ayam mati mendadak dan dinyatakan positif karena flu burung pada 15 kelurahan di 11 kecamatan di kota Padang, satu titik di Kota Pariaman, dan satu titik di Kabupaten Padang Pariaman.

Vaksinasi AI telah dilakukan tetapi kasus AI masih tinggi setiap tahunnya. Saat ini tercatat, sekitar 100 ribu dosis vaksin AI dari alokasi tahun 2010 yang bersumber dari pemerintah pusat telah diberikan pada setiap propinsi. Penyakit AI yang masih sering muncul dan menyerang unggas, hal ini merupakan akibat beberapa faktor seperti kurang optimalnya pengawasan dan kontrol atas penyebaran virus AI oleh berbagai pihak yang terlibat baik peternak komersial maupun otoritas pemegang kebijakan. Harga vaksin yang terlampau mahal, tertundanya program vaksinasi karena stok vaksin habis dan ketidakcocokan virus vaksin dengan virus yang menyerang di lapangan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan pengendalian penyakit AI (Shahid et al. 2009).

Vaksin adalah suatu produk biologik yang terbuat dari mikroorganisme, komponen, atau racun dari suatu mikroorganisme yang telah dilemahkan atau dimatikan dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh. Vaksinasi merupakan metode efektif dalam melindungi dan mencegah ayam dari infeksi AI. Tingkat keberhasilan pengendalian AI dengan vaksinasi ini dapat mencapai 70% (Woodson 2005). Vaksinasi juga merupakan sarana yang dianjurkan dan telah diterapkan di beberapa negara (Setiyaningsih et al. 2008).

(41)

antigenik virus AI subtipe H5N1 isolat unggas air terhadap antibodi hasil vaksinasi dengan vaksin AI subtipe H5N1 isolat Legok tahun 2003 mengindikasikan adanya antigenic drift, sehingga vaksin sudah tidak dapat melindungi unggas air secara sempurna terhadap infeksi virus AI subtipe H5N1 yang ada di alam. Kemunculan strain virus baru dan rendahnya antigenesitas virus isolat unggas air ini dengan virus bibit vaksin AI subtipe H5N1 isolat Legok tahun 2003 menuntut perlu adanya pergantian bibit vaksin yang sesuai dengan perkembangan genetik dan antigenik virus AI subtipe H5N1 di Indonesia. Oleh karena itu, industri vaksin mulai memproduksi vaksin dari isolat virus AI H5N1 terbaru, diantaranya isolat tahun 2007 dengan harapan bibit vaksin yang baru ini mampu memberikan proteksi yang baik terhadap infeksi virus AI saat ini.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi pada ayam petelur yang divaksin AI inaktif isolat tahun 2007.

Manfaat Penelitian

(42)

TINJAUAN PUSTAKA Ayam Petelur

Ayam petelur putih termasuk dalam jenis ayam petelur ringan. Ayam ini mempunyai badan yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih bersih dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial

banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama. Ayam ini mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksi hen house.

Periode pemeliharaan unggas dimulai dari masa awal (starting period), pertumbuhan (growing period), perkembangan (developing period), dan akhir (finishing period). Pada masa awal pemberian pakan dilakukan secara penuh karena pada masa tersebut tubuh unggas tumbuh secara cepat dan dapat menyesuaikan kebutuhannya. Lepas dari periode tersebut pembatasan pemberian pakan harus dilakukan karena perkembangan berbagai organ tubuh tidak sama cepatnya dan unggas cenderung mengkonsumsi pakan melebihi kebutuhannya.

Berdasarkan kandungan gizinya, kebutuhan dasar pakan ayam dapat dibedakan berdasarkan atas tujuh komponen, yaitu : karbohidrat, protein, lemak, serat kasar, vitamin, mineral, dan air. Kekurangan salah satu dari komponen itu bisa mengganggu proses metabolisme secara keseluruhan (Sarwono 2002).

Sistem Kekebalan Tubuh Pada Unggas

Secara umum sistem kekebalan pada unggas tidak berbeda jauh dengan sistem kekebalan pada manusia maupun mamalia. Unggas mempunyai dua organ limfoid primer, yaitu timus dan bursa Fabricius (BF). Bursa fabricius adalah organ limfoid primer yang berfungsi sebagai tempat pematangan dan diferensiasi bagi sel dari sistem pembentuk antibodi, sehinga sel ini disebut sel B. Disamping itu bursa juga berfungsi sebagai organ limfoid sekunder (Tizard 2004).

(43)

Antigen yang masuk ke dalam tubuh pertama kali akan dijerat sehingga dapat diketahui sebagai bahan asing. Materi yang telah diketahui sebagai bahan asing, kemudian oleh makrofag disampaikan ke sel limfosit melalui pembentukan berbagai sitokin ke sistem pembentuk antibodi atau ke sistem kebal berperantara sel. Sistem kebal ini harus menyimpan “ingatan” tentang kejadian ini sehingga pada paparan berikutnya dengan antigen yang sama, tanggapannya akan jauh lebih efisien (Tizard 2004). Antibodi bekerja melalui dua cara yang berbeda untuk mempertahankan tubuh terhadap agen penyebab penyakit yaitu : (1) dengan cara langsung menginaktivasi agen penyebab penyakit, (2) dengan mengaktifkan sistem komplemen yang kemudian akan menghancurkan agen penyakit tersebut (Hartati 2005).

Avian Influenza (AI)

Penyakit flu burung disebabkan oleh virus Avian Influenza (AI), yang termasuk Virus Influenza A dan digolongkan pada famili orthomyxoviridae dan genus orthomyxovirus (Kalthoff et al. 2010). Virus ini diidentifikasi pertama kali dengan sebutan Fowl Plague (sampar ayam) (Alexander 2000). Myxo berarti lendir dan ortho berarti asli (bahasa Yunani). Virus ini mempunyai kemampuan untuk berikatan pada lendir atau mukoprotein saluran pernafasan dan organ lain (Malole 1988).

Virus influenza ini memiliki tiga genera yaitu Influenza tipe A, B, dan C. Perbedaan tersebut didasarkan pada karakter protein M dari amplop virus dan nukleoprotein virus. Influenza A dapat menginfeksi manusia, babi, kuda, kucing, dan anjing laut serta berbagai jenis unggas (ayam, itik, angsa, kalkun, burung dara, burung camar, dan burung elang) dan Influenza B dan C hanya menginfeksi manusia (Fenner et al. 1995).

(44)

maka terdapat 144 kemungkinan subtipe virus yang bisa muncul. Diantara 16 subtipe virus AI hanya H5 dan H7 yang bersifat ganas (virulen) pada unggas (OIE 2006).

Sumber: Lee and Saif (2009)

Gambar 1 Diagram skematik struktur virus influenza A

Virus influenza bersifat labil atau mudah mengalami perubahan pembawa sifat (mutasi genetik) dari kurang ganas (Low Pathogenic Avian Influenza) menjadi sangat ganas (High Pathogenic Avian Influenza). Masa inkubasi virus ini adalah 3 hari untuk unggas di luar kandang dan 14 sampai 21 hari untuk unggas di dalam kandang (flok). Virus ini merupakan virus yang lemah, tidak tahan panas dan zat desinfektan (seperti karbol, lisol, kaporit, dan sebagainya), tetapi mampu bertahan selama 35 hari pada suhu 4˚C pada kotoran ayam. Di dalam air, virus ini dapat bertahan hidup selama 4 hari pada suhu 22˚C dan 30 hari pada suhu 0˚C (Nuh 2008).

Virus influenza bersirkulasi dalam inang alaminya, terutama unggas air dari ordo Anseriformes (bebek dan angsa) dan Charadriiformes (burung camar dan burung laut lainnya) (Kalthoff et al. 2010). Penularan dapat terjadi melalui jalan faecal-oral, paparan muntahan hewan, lubang anus unggas yang sakit, dan melalui

(45)

Gejala klinis penyakit AI sangat bervariasi, dari hewan mati tanpa menunjukkan gejala klinis sampai dengan gejala klinis yang kompleks. Gejala klinis yang sering teramati adalah pada jengger dan pial kebiruan (cyanosis), terjadi abnormalitas sistem reproduksi, pencernaan dan syaraf, ditemukan eksudat yang keluar dari mata dan hidung, edema daerah wajah dan kepala, beberapa daerah subkutan mengalami perdarahan, ptechie pada daerah dada dan kaki, batuk, bersin, ngorok, unggas mengalami diare dan kematian tinggi (Nuh 2008). Virus Influenza A memiliki cakupan inang yang sangat luas, virus ini dapat diisolasi dari berbagai hewan, termasuk manusia, babi, kuda, kucing, dan burung. Namun, beberapa penelitian menyatakan bahwa reservoir alami virus ini adalah burung air liar, seperti bebek liar, burung camar, dan burung laut lainnya (Chen and Holmes 2006). Model penularan virus Influenza A dari satu inang ke inang lain serta sifat infeksinya di gambarkan oleh Kalthoff et al. (2010) dalam Gambar 2.

Sumber: Kalthoff et al. (2010)

Gambar 2 Transmisi silang virus influenza A

Pencegahan dan Pengendalian AI

(46)

mengendalikan jika terjadi kasus AI sehingga tidak meluas dan pemberantasan adalah upaya untuk membebaskan kembali suatu wilayah dari AI (Nuh 2008).

Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan penyemprotan pada kandang-kandang unggas yang disinyalir telah terinfeksi virus flu burung dan melakukan pengawasan yang ketat terhadap ayam potong yang berasal dari luar daerah, mencuci tangan dengan sabun cair pada air yang mengalir sebelum dan setelah melakukan suatu pekerjaan, tiap orang yang berhubungan dengan bahan

yang berasal dari saluran cerna unggas harus menggunakan pelindung (masker,

kacamata khusus), mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak dengan suhu

800˚C selama satu menit, dan mengkonsumsi telur unggas dipanaskan dengan

suhu 640˚C selama lima menit. Pencegahan yang dilakukan berdasaran keputusan Direktorat Jendral Peternakan No. 71 / Tahun 2000 yaitu bila akan melakukan importasi unggas hanya dari negara bebas patogenik AI, pengawasan distribusi unggas oleh Dinas Peternakan setempat, dan karantina berdasarkan sertifikasi kesehatan hewan yang dikeluarkan oleh dokter hewan berwenang dan dokumen lain yang memuat tentang negara asal hewan (Nazaruddin 2008, Baraniah 2009). Pelaksanaan penanggulangan virus AI dapat dilakukan dengan sembilan langkah penanggulangan, yaitu : peningkatan biosekuriti, vaksinasi lengkap (tiga kali setahun), depopulasi di daerah tertular, pengendalian lalu-lintas unggas, produk unggas dan limbah peternakan unggas, surveilans dan penelusuran (tracing back), pengisian kandang kembali (restocking), pemusnahan menyeluruh (stamping out) di daerah tertular baru, peningkatan kesadaran masyarakat, pemantauan dan evaluasi (Nuh 2008).

Vaksin

(47)

Vaksin unggas yang dibuat harus cocok dengan virus yang akan mewabah, karena vaksin untuk infeksi subtipe virus tertentu tidak efektif digunakan sebagai vaksin untuk infeksi subtipe yang lain. Vaksin yang digunakan dalam program vaksinasi AI di Indonesia adalah vaksin inaktif karena penggunaannya relatif lebih aman dibandingkan vaksin virus aktif. Keamanan vaksin inaktif tersebut disebabkan virus vaksin sudah tidak mampu bereplikasi dalam tubuh inang sehingga tidak menyebabkan sakit pada inang. Berbagai jenis strain virus AI telah banyak digunakan sebagai virus bibit vaksin AI atau influenza pada unggas dan manusia (Tabel ).

Tabel 1 Strain masterseed virus AI yang ditemukan di Indonesia dan dijadikan sebagai bakal vaksin AI.

No Strain Masterseed No Strain Masterseed

1 Ck/West Java-Crb/M16/2009 13 Ck/East Java/M08/2008 2 Ck/Jambi/M19/2009 14 Ck/West Java/M07/2008 3 Ck/East Java-Mdn/M17/2009 15 Ck/West Java/M06/2008

4 Ck/Central

Java-Smrg/M18/2009 16

Chicken/West Java/PWT-WIJ/2006

5 Ck/West Java/M13/2009 17 West Java/SMI-PAT/2006 6 Ck/East Java/M09/2008 18 Ck/West Java/M04/2008 7 Ck/East Java/M11/2008 19 Ck/West Java/M03/2007 8 Ck/ West Java/M05/2008 20 Ck/Banten/M15/2009

9 Ck/Central

Java-Pkl/M20/2009 21 Chicken/Wajo/2005

10 Ck/East Java/M12/2009 22 Chicken/Indonesia/BL/2003 11 Ck/East Java/M14/2009 23 Turkey/Kedaton/2004

12 Ck/South

Sulawesi-Mksr/M19/2009 24 Ck/North Sumatra/M10/2008

Sumber: http://info.medion.co.id 2009

Vaksin inaktif diberikan dengan dosis yang redah namun membutuhkan booster sebanyak dua sampai tiga kali (Hartati 2005). Vaksin yang baik harus

melewati uji dan ketentuan farmasitekal, antara lain: karekteristik umum vaksin, identifikasi dan uji bahan aktif, identifikasi dan uji bahan tambahan, identifikasi dan uji adjuvan, uji keamanan, uji kemurnian, uji inaktif, dan uji terhadap residu (Mulia 2005).

(48)
(49)

MATERI DAN METODA

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini berlangsung dari bulan Juni 2010 sampai dengan Juni 2011. Penelitian dilakukan di kandang FKH-IPB. Pengujian sampel dilakukan di Laboratorium Terpadu bagian Mikrobiologi FKH-IPB.

Bahan dan Alat Penelitian Hewan Percobaan

Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam jantan petelur jenis white leghorn, umur satu hari (DOC). Ayam yang digunakan berasal dari induk yang sudah diberikan vaksinasi AI sebelumnya. Jumlah ayam yang diamati sebanyak 100 ekor. Ayam tersebut dibagi dalam dua kelompok yaitu A1V (diberikan vaksin AI) dan A1K (tidak diberikan vaksin AI atau sebagai kontrol). Kelompok kontrol digunakan untuk sebagai parameter bahwa disekitar kandang percobaan benar-benar bebas dari virus avian influenza.kelompok kontrol juga digunakan untuk membandingkan hasil titer antibodi yang terjadi dengan kelompok yang diberi perlakuan vaksinasi. Masing-masing kelompok terdiri dari 50 ekor ayam.

Vaksin AI

Vaksin AI yang digunakan dalam penelitian ini adalah vaksin AI H5N1 inaktif (killed vaccine) isolat tahun 2007 strain Subang (A/chiken/West Java-Subang/29/2007) yang berasal dari perusahaan vaksin komersial di Indonesia.

Pakan

Pakan yang digunakan pada pemeliharaan ayam penelitian ini adalah pakan konsentrat komersial yang diberikan setiap pagi harinya. Air minum diberikan ad libitum.

Kandang dan Perlengkapannya

(50)

terbuat dari tembok yang dibatasi oleh kawat ram dan dilengkapi tempat minum dan tempat makan terbuat dari plastik yang dibersihkan setiap hari. Kandang juga dilengkapi dengan lampu listrik. tabung reaksi, marker (spidol), gelas piala, termos es, cawan petri, tabung mikro.

Metode Penelitian Rancangan Percobaan

Percobaan dilakukan dengan rancangan penelitian seperti pada Tabel 2. Tabel 2 Rancangan penelitian pada masing-masing kelompok Umur ayam

Pengambilan sampel darah Pengambilan sampel darah

2 -Pengambilan sampel darah

-Vaksinasi kesatu Pengambilan sampel darah 4 Pengambilan sampel darah Pengambilan sampel darah

6 -Pengambilan sampel darah

-Vaksinasi kedua Pengambilan sampel darah 8 Pengambilan sampel darah Pengambilan sampel darah 10 Pengambilan sampel darah Pengambilan sampel darah

(51)

bertujuan untuk melihat titer antibodi yang terbentuk serta menentukan kapan waktu dilakukannya booster. Serum yang diambil diukur titer antibodinya terhadap virus AI dengan uji HI menggunakan antigen standar AI H5N1 produksi Pusvetma.

Pemeliharaan Hewan Coba

Populasi ayam pejantan yang diamati secara keseluruhan yaitu 100 ekor. Ayam ini dibagi dalam dua kelompok. Kelompok ayam ini dipelihara di kandang yang terletak di kandang uji coba. Ayam diberi pakan dengan standar komersial dan diberi minum ad libitum.

Pengambilan Darah dan Evaluasi Titer Antibodi

Pengambilan darah sampel dilakukan dengan metode penarikan contoh acak (random sampling) sebanyak 10 ekor pada masing-masing kelompok ayam. Ayam diambil darahnya menggunakan spuit 3 ml di daerah sayap yaitu pada vena brachialis secara legeartis (sesuai dengan cara yang tepat). Darah tersebut

selanjutnya dibawa ke Laboratorium Terpadu bagian Mikrobiologi FKH-IPB. Darah dibiarkan tetap berada di dalam spuit dan disimpan dalam lemari es selama satu malam. Selanjutnya serum yang terpisah dari darah diambil dan dilakukan evaluasi titer antibodi dengan uji hambat aglutinasi atau haemagglutination inhbition (HI) test.

Pembuatan suspensi sel darah/RBC (Red Blood Cell)

(52)

Suspensi sel darah tersebut kemudian diencerkan menjadi suspensi 50% dan diukur konsentrasinya menggunakan kapiler hematokrit untuk menentukan konsentrasinya. Selanjutnya berdasarkan konsentrasi suspensi sel darah merah yang diperoleh, dilakukan pengenceran suspensi sel darah merah menjadi 5%. Suspensi sel darah merah 5% tersebut sebagai larutan stok dan disimpan di suhu 4˚C. Saat akan digunakan uji haemaglutinasi mikrotitrasi suspensi sel darah merah stok diencerkan menjadi 1%. Semua pengenceran suspensi sel darah merah menggunakan larutan PBS.

Uji HA mikrotitrasi

Uji HA ini digunakan untuk membuat virus AI standar (4 HAU). Antigen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan isolat virus AI standar subtipe H5N1 produksi Pusvetma Surabaya. Adapun prosedur uji HA mikrotitrasi yaitu :

1. Sebanyak 25 l PBS dimasukkan ke dalam sumur microplate berbentuk V (V bottom microplate).

2. Sebanyak 25 l suspensi virus dimasukkan pada lubang pertama dan dilakukan pengenceran menggunakan micropipette dengan cara menghisap dan mengeluarkan campuran sebanyak lima kali lalu memindahkan 25 l campuran ke sumur kedua. Pengenceran dilakukan hingga sumur ke-12. Pada sumur ke-12, campuran sebanyak 25 l dibuang.

3. Sebanyak 25 l PBS dimasukkan lagi ke dalam sumur yang telah berisi suspensi virus.

4. Sebanyak 25 l RBC 1% dimasukkan ke dalam semua sumur.

5. Microplate digoyang (untuk menghomogenkan) kemudian diinkubasikan pada suhu 4˚C selama 60 menit.

6. Hasil diamati setelah sumur kontrol positif tampak mengendap.

(53)

Uji HI mikrotitrasi

Titer antibodi ayam terhadap virus AI dilakukan dengan uji Hambat Aglutinasi (HI Test) mikrotitrasi menurut OIE (2008).

Prosedur uji HI mikrotitrasi :

 PBS sebanyak 25 l dimasukkan ke dalam sumur microplate berbentuk V (V bottom microplate).

 25 l serum ayam dimasukkan pada lubang pertama dan dilakukan pengenceran menggunakan micropipette dengan cara menghisap dan mengeluarkan campuran sebanyak 5 kali lalu memindahkan 25 l campuran ke sumur kedua. Pengenceran dilakukan hingga sumur ke-12. Pada sumur ke-12, campuran sebanyak 25 l dibuang.

 Suspensi virus AI standar (4 HAU) sebanyak 25 l dimasukkan ke- dalam sumur berisi serum yang telah diencerkan lalu di homogenkan dan inkubasi pada suhu 4˚C selama 60 menit.

 Plate pengujian yang telah diinkubasi kemudian ditambah dengan RBC 1% sebanyak 25 l ke semua sumur.

 Plate digoyang selama 10 detik untuk menghomogenkan larutan dan inkubasi pada suhu 4˚C selama 60 menit.

 Hasil diamati seteleh sumur kontrol positif tampak adanya reaksi penghambatan aglutinasi.

Titer antibodi dihitung dengan melihat batas akhir penghambatan aglutinasi sempurna. Batas akhir pada pengenceran tertinggi yang mampu menghambat terjadinya aglutinasi secara sempurna dan disebut dengan “end

point”. Antibodi terhadap AI dinyatakan protektif bila titer yang terbentuk adalah

≥ 24 (Deptan 2006).

Rataan titer antibodi dihitung dengan menggunakan Geometric Mean Titre (GMT) dengan rumus :

Log2 GMT = ( Log2 t1 )( S1 ) + ( Log2 t1 )( S1 ) + … + ( Log2 tn )( Sn )

(54)

Keterangan :

N = Jumlah contoh serum yang diamati

t = Titer antibodi pada pengenceran tertinggi (yang masih dapat menghambat aglutinasi sel darah merah)

(55)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai antibodi asal induk yang rendah karena rataan antibodinya hanya 22.4 (Tabel 3), dengan jumlah ayam yang memiliki titer antibodi protektif sebanyak 20% (Tabel 4). Titer antibodi yang terukur pada awal penelitian merupakan antibodi asal induk. Titer antibodi induk yang tinggi akan mempengaruhi titer antibodi asal induk pada anak ayam (Tizard 2004).

Pada umur dua minggu, terjadi penurunan titer antibodi dibandingkan saat ayam berumur sehari, dengan rata-rata titer antibodi menjadi 20.5 (Tabel 3). Jumlah ayam yang memiliki titer antibodi protektif juga menurun sebanyak 10% sehingga hanya 10% ayam yang masih memiliki titer antibodi protektif (Tabel 4). Penurunan titer antibodi ini dikarenakan antibodi asal induk yang berasal dari induk yang divaksinasi hanya mampu melindungi anak ayam dalam kurun waktu yang singkat. Oleh karena itu, vaksinasi pertama dilakukan pada saat ayam umur dua minggu untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit setelah antibodi asal induk mulai menurun.

Antibodi asal induk ini biasanya akan berada dalam tubuh anak ayam sampai umur empat minggu (OIE 2010). Imunoglobulin ini dapat diturunkan dari serum induk ayam ke dalam kuning telur ketika telur masih berada di dalam ovarium. Dalam fase kuning telur, IgG ditemukan memiliki titer yang sama dengan yang ada dalam serum induk. Selama embrio ayam berkembang, IgG dari kuning telur akan diserap. IgM dan IgA asal induk berada dalam cairan amnion dan akan ditelan oleh embrio. Dengan demikian saat anak ayam menetas, anak ayam tersebut telah memiliki IgG di dalam serum dan IgM dan IgA yang ada di dalam saluran pencernaan (Tizard 2004).

(56)

menginduksi pembentukan antibodi, tetapi belum mencapai titer antibodi protektif dua minggu setelah vaksinasi.

Tabel 3 Rataan titer antibodi dari masing-masing kelompok ayam selama pengamatan

Titer AI pada umur ayam ke - GMT pada kelompok

A1V A1K

Tabel 4 Persentasi antibodi dengan titer protektif masing-masing sampel pada masing-masing kelompok ayam

Sample

Titer antibodi AI Pada Umur Ayam Minggu Ke-

Figur

Tabel 1 Strain masterseed virus AI yang ditemukan di Indonesia dan dijadikan sebagai
Tabel 1 Strain masterseed virus AI yang ditemukan di Indonesia dan dijadikan sebagai . View in document p.12
Gambar 1 Diagram skematik struktur virus influenza A
Gambar 1 Diagram skematik struktur virus influenza A . View in document p.18
Gambar 2 Transmisi silang virus influenza A
Gambar 2 Transmisi silang virus influenza A . View in document p.19
Tabel 1 Strain masterseed virus AI yang ditemukan di Indonesia dan dijadikan
Tabel 1 Strain masterseed virus AI yang ditemukan di Indonesia dan dijadikan . View in document p.21
Gambar 1 Diagram skematik struktur virus influenza A
Gambar 1 Diagram skematik struktur virus influenza A . View in document p.44
Gambar 2 Transmisi silang virus influenza A
Gambar 2 Transmisi silang virus influenza A . View in document p.45
Tabel 1 Strain masterseed virus AI yang ditemukan di Indonesia dan dijadikan
Tabel 1 Strain masterseed virus AI yang ditemukan di Indonesia dan dijadikan . View in document p.47

Referensi

Memperbarui...