ANALISIS MORFOMETRIK KEPALA PADA BEBERAPA
SUBSPESIES BURUNG DARA LAUT (Laridae)
SKRIPSI KAMARIAH
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
RINGKASAN
KAMARIAH. D14061680. 2011. Analisis Morfometrik Kepala pada Beberapa Subspesies Burung Dara Laut (Laridae). Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Ir. Rini H. Mulyono, M.Si. Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Dewi M. Prawiradilaga
Ukuran-ukuran linear kepala burung dara laut yang diamati pada penelitian; dilakukan untuk memperoleh kajian morfometrik ukuran kepala burung. Spesies burung dara laut yang diamati, meliputi Anous minutus worcesteri, Anous stolidus pileatus (genus Anous); Chlidonias hybrida javanica (genus Chlidonias); Sterna albifrons sinensis, Sterna anaethetus anaethetus, Sterna bergii cristatus, Sterna fuscata nubilosa dan Sterna sumatrana sumatrana (genus Sterna). Status konservasi spesies-spesies tersebut adalah least concern atau tidak memerlukan perhatian khusus.
Penelitian ini menggunakan spesimen yang disediakan Laboratorium Ornitologi Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Cibinong. Spesimen yang diamati adalah Anous minutus worcesteri
(camar angguk hitam) yang terdiri atas tujuh spesimen (lima ekor jantan dan dua ekor betina). Anous stolidus pileatus (camar angguk coklat) yang diamati terdiri atas sembilan spesimen (lima ekor jantan dan empat ekor betina); Chlidonias hybrida javanica (dara laut kumis) terdiri atas empat belas spesimen (sembilan ekor jantan dan lima ekor betina); Sterna albifrons sinensis (dara laut kecil) terdiri atas 13 spesimen (lima ekor jantan dan delapan ekor betina); Sterna anaethetus anaethetus
(dara laut batu) terdiri atas 18 spesimen (11 ekor jantan dan tujuh ekor betina);
Sterna bergii cristatus (dara laut jambul) terdiri atas 54 spesimen (24 ekor jantan dan 30 ekor betina); Sterna fuscata nubilosa (dara laut sayap hitam) terdiri atas 17 spesimen (tujuh ekor jantan dan 10 ekor betina); dan Sterna sumatrana sumatrana
(dara laut tengkuk hitam) terdiri atas 36 spesimen (16 ekor jantan dan 20 ekor betina). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi morfometrik dari burung dara laut yang diamati. T2-Hotelling digunakan untuk membedakan ukuran-ukuran linear kepala diantara setiap dua spesies burung dara laut yang diamati. Ketidakserupaan morfometrik kepala dilakukan dengan pendekatan jarak minimum D2 Mahalanobis. Analisis Komponen Utama digunakan untuk ukuran dan bentuk kepala burung dara laut yang diamati.
Hasil statistik T2-Hotelling menyatakan bahwa ditemukan perbedaan ukuran-ukuran linear kepala diantara setiap dua spesies dari delapan spesies burung dara laut yang diamati (P <0,01). Pendekatan jarak minimum ketidakserupaan morfometrik D2 Mahalanobis memisahkan delapan subspesies menjadi dua kelompok besar pada titik percabangan 3,6004; yaitu kelompok A dan B. Kelompok A dibagi menjadi dua kelompok, yaitu A1 dan A2 pada titik percabangan 2,9539; kelompok B dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok B1 dan B2 pada titik percabangan 2,6182. Kelompok A1 terdiri atas Anous stolidus pileatus, Chlidonias hybrida javanica,
Sterna anaethetus anaethetus dan Sterna fuscata nubilosa; sedangkan kelompok A2 terdiri atas Sterna bergii cristatus. Kelompok B1 adalah Sterna albifrons sinensis; sedangkan kelompok B2 terdiri atas Anous minutus worcesteri dan Sterna sumatrana
ii Hasil Analisis Komponen Utama menyatakan bahwa penciri ukuran pada delapan subspesies adalah panjang paruh. Vektor eigen penciri ukuran, yaitu panjang paruh pada Anous minutus worcesteri sebesar 0,975; pada Anous stolidus pileatus
sebesar 0,917; pada Chlidonias hybrida javanica sebesar 0,746; pada Sterna albifrons sinensis sebesar 0,931; pada Sterna anaethetus anaethetus sebesar 0,983; pada Sterna bergii cristatus sebesar 0,879; pada Sterna fuscata nubilosa sebesar 0,875; dan pada Sterna sumatrana sumatrana sebesar 0,985. Penciri bentuk pada
Anous stolidus pileatus, Chlidonias hybrida javanica dan Sterna anaethetus anaethetus adalah lebar kepala dengan vektor eigen masing-masing sebesar 0,882; 0,714 dan 0,975; sedangkan pada Anous minutus worcesteri, Sterna albifrons sinensis, Sterna bergii cristatus, Sterna fuscata nubilosa dan Sterna sumatrana sumatrana adalah panjang kepala dengan vektor eigen masing-masing sebesar 0,956; 0,742; 0,757; 0,922 dan 0,728.
Hasil pengelompokan dalam bentuk dendogram berdasarkan jarak minimum D2 Mahalanobis dan pengelompokan dalam bentuk diagram kerumunan berdasarkan Analisis Komponen Utama; memperlihatkan kesesuaian hasil terutama yang berhubungan dengan skor ukuran. Analisis Komponen Utama menyajikan skor bentuk yang tidak terdapat pada D2 Mahalanobis.
ABSTRACT
Head Morphometric Analysis of Several Terns (Laridae) Subspecies Kamariah, R. H. Mulyono and D. M. Prawiradilaga
This experiment was conducted to determine the size and body shape score of terns using Principal Component Analysis (PCA). The measurement taken were bill length, bill width, bill depth, head width and head length. A total of 168 specimen of terns consisted of 79 specimen males and 89 specimen females were measured. There were differences in linear bill and head measurements among subspecies of terns (P<0.01). The discriminator of head size for all subspecies terns being examined was bill length. The Eigen vectors of the discriminator of head size in subspecies Anous minutus worcesteri was 0,975; Anous stolidus pileatus was 0,917;
Chlidonias hybrida javanica was 0,746; Sterna albifrons sinensis was 0,931; Sterna anaethetus anaethetus was 0,983; Sterna bergii cristatus was 0,879; Sterna fuscata nubilosa was 0,875; and Sterna sumatrana sumatrana was 0,985. The discriminator of head shape of subspecies A. s. pileatus, C. h. javanica and S. a. anaethetus were head width, while the subspecies A. m.s worcesteri, S. a. sinensis, S. b. cristatus, S. f. nubilosa and S. s. sumatrana were head length. The Eigen vectors of the discriminator of head shape in subspecies A. s. pileatus, C. h. javanica and S. a. anaethetus were 0,882; 0,714 and 0,975 respectively. The Eigen vectors of the discriminator of head shape in subspecies A. m. worcesteri, S. a. sinensis, S. b. cristatus, S. f. nubilosa and S. s. sumatrana were 0,956; 0,742; 0,757; 0,922 and 0,728 respectively. Descriminator of size is influenced by the environment. Bill length as descriminator of shape indicates that the bill length is affected by habitat. Head width and head length are influenced by genetics. The Minimum D Mahalonobis distance showed the classification of terns into two group at the branching point of 3.6004, group A and B. Group A consisted of A. s. pileatus, C. h. javanica, S. a. anaethetus, S. f. nubilosa and S. b. cristatus. Group B consisted of S. a. sinensis, A. m. worcesteri and S. s. sumatrana.
ANALISIS MORFOMETRIK KEPALA PADA BEBERAPA
SUBSPESIES BURUNG DARA LAUT (Laridae)
KAMARIAH D14061680
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
Judul : Analisis Morfometrik Kepala pada Beberapa Subspesies Burung Dara Laut (Laridae)
Nama : Kamariah
NIM : D14061680
Menyetujui,
Pembimbing Utama,
Ir. Rini H. Mulyono, M.Si. NIP. 19621124 198803 2 002
Pembimbing Anggota,
Dr. Dewi Malia Prawiradilaga NIP. 19550103 197903 2 002
Mengetahui: Ketua Departemen,
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc. NIP. 19591212 198603 1 004
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 8 September 1988 di Kecamatan Muara
Muntai, Kutai Kartanegara. Penulis adalah anak bungsu dari lima bersaudara dari
pasangan Bapak Jarnie (alm) dan Ibu Jahrah.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 057 Samarinda pada tahun
2000, pendidikan menengah pertama di SLTPN 1 Muara Muntai diselesaikan pada
tahun 2003 dan pendidikan menegah atas di SMAN 1 Muara Muntai diselesaikan
pada tahun 2006.
Penulis diterima sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor pada tahun
2006 melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Pemerintah Daerah Kutai
Kartanegara dan diterima di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan,
Fakultas Peternakan pada tahun 2007. Selama mengikuti pendidikan di Institut
Pertanian Bogor, penulis pernah aktif sebagai anggota Koperasi Mahasiswa
(KOPMA) pada tahun 2007/ 2008. Penulis juga aktif dalam Organisasi Mahasiswa
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah SWT atas limpahan
karunia, rahmat dan hidayah-Nya yang tidak terhingga sehingga penulis mampu
menyelesaikan studi di Fakultas Peternakan ini. Shalawat dan salam dicurahkan
kepada Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan dan suri tauladan kita.
Skripsi dengan judul Analisis Morfometrik Kepala pada Beberapa Subspesies
Burung Dara Laut (Laridae), disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Sarjana Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian
ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai perbedaan ukuran-ukuran linear
kepala, jarak minimum ketidakserupaan ukuran-ukuran linear kepala kepala dan
mengetahui karakteristik morfometrik kepala burung-burung tersebut. Penulis
berharap agar penelitian ini dapat dilanjutkan ke spesies burung lain yang memiliki
status konservasi terancam.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu
penyusunan skripsi ini, semoga Allah SWT memberikan rahmat kepada kita semua.
Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat digunakan sebaik-baiknya.
Bogor, Januari 2011
DAFTAR ISI
Sterna anaethetus anaethetus... 9
Sterna bergii cristatus ... 10
Sterna fuscata nubilosa ... 12
Sterna sumatrana sumatrana ... 13
Lahan Basah ... 14
Analisis Komponen Utama (AKU) ... 15
ix
Statistik T2-Hotelling ... 18
Jarak Minimum Ketidakserupaan Morfometrik D2 Mahalanobis ... 19
Penyajian Dendogram ... 20
Analisis Komponen Utama ... 20
Diagram Kerumunan ... 21
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22
Hasil Statistik Deskriptif ... 22
Hasil Statistik T2-Hotelling ... 25
Hasil Statistik D2 Mahalanobis... 27
Hasil Analisis Komponen Utama ... 29
Marga Anous ... 30
Marga Chlidonias ... 32
Marga Sterna ... 33
KESIMPULAN DAN SARAN ... 43
Kesimpulan ... 43
Saran... 44
UCAPAN TERIMA KASIH ... 45
DAFTAR PUSTAKA ... 46
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Ukuran-ukuran Linear Peubah Kepala Burung Dara Laut
Jantan dan Betina pada GenusAnous ... 22
2. Ukuran-ukuran Linear Peubah Kepala Burung Dara Laut
Jantan dan Betina pada GenusChlidonias ... 23
3. Ukuran-ukuran Linear Peubah Kepala Burung Dara Laut
Jantan dan Betina pada GenusSterna ... 24
4. Rekapitulasi Hasil Uji Statistik T2-Hotelling antara
Subspesies Burung yang Diamati ... 25
5. Hasil Rekapitulasi Uji Statistik T2-Hotelling antara
Jenis Kelamin pada Setiap Subspesies yang diamati ... 26
6. Akar dari Jarak Minimum D2 Mahalanobis diantara
Delapan Subspesies Burung Dara Laut yang diamati ... 27
7. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kepala pada Anous minutus
worcesteri berikut Keragaman Total dan Nilai Eigen ... 30
8. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kepala pada Anous stolidus
pileatus berikut Keragaman Total dan Nilai Eigen ... 30
9. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kepala pada Chlidonisas hybrida
javanica berikut Keragaman Total dan Nilai Eigen ... 32
10. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kepala pada Sterna albifrons
sinensis berikut Keragaman Total dan Nilai Eigen ... 34
11. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kepala pada Sterna anaethetus
anaethetus berikut Keragaman Total dan Nilai Eigen ... 34
12. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kepala pada Sterna bergii
cristatus berikut Keragaman Total dan Nilai Eigen ... 35
13. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kepala pada Sterna fuscata
nubilosa berikut Keragaman Total dan Nilai Eigen ... 35
14. Persamaan Ukuran dan Bentuk Kepala pada Sterna sumatrana
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Anous minutus worcesteri ... 5
2. Anous stolidus pileatus... 6
3. Chlidonias hybrida javanica ... 7
4. Sterna albifrons sinensis ... 8
5. Sterna anaethetus anaethetus... 10
6. Sterna bergii cristatus ... 11
7. Sterna fuscata nubilosa ... 12
8. Sterna sumatrana sumatrana ... 14
9. Bagan Kepala Burung Dara Laut yang Diamati ... 17
10. Dendogram Ketidakserupaan Morfometrik Ukuran-ukuran Linear Kepala diantara Delapan Subspesies Burung Dara Laut yang Diamati ... 28
11. Diagram Kerumunan Marga Anous Berdasarkan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 31
12. Diagram Kerumunan Marga Chlidonias Berdasarkan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 33
13. Diagram Kerumunan Marga Sterna Berdasarkan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 37
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Perhitungan Manual Rataan, Simpangan Baku dan Koefisien
Keragaman pada Anous minutus worcesteri Betina ... 51
2. Perhitungan Manual Uji Statistik T2 Hotelling pada Peubah- peubah antara Kelompok Subspesies Anous minutus worcesteri
dan Anous stolidus pileatus ... 53
3. Perhitungan Jarak D2 Mahalanobis anatara Sterna sumatrana sumatrana, Anous minutus worcesteri dan Sterna albifrons
sinensis ... 56
4. Perhitungan untuk Memperoleh Persamaan Komponen Utama
Pertama... 60
5. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Anous minutus worcesteri ... 63
6. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Anous minutus worcesteri ... 63
7. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Anous stolidus pileatus ... 64
8. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Anous stolidus pileatus ... 64
9. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Chlidonias hybrida javanica ... 65
10. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Chlidonias hybrida javanica ... 65
11. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Sterna albifrons sinensis ... 66
12. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Sterna albifrons sinensis ... 66
13. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
xiii 14. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan
Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Sterna anaethetus anaethetus ... 67
15. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Sterna bergii cristatus ... 68
16. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Sterna bergii cristatus ... 68
17. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Sterna fuscata nubilosa ... 69
18. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Sterna fuscata nubilosa ... 69
19. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Sterna sumatrana sumatrana ... 70
20. Vektor Eigen, Nilai Eigen, Simpangan Baku Variabel dan Korelasi antara Skor Ukuran terhadap Peubah-peubah yang
Diamati pada Sterna sumatrana sumatrana ... 70
21. Komponen Utama I, II, III, IV dan V, Nilai Eigen (λ), Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Diturunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Kepala
pada Anous minutus worcesteri... 71
22. Komponen Utama I, II, III, IV dan V, Nilai Eigen (λ), Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Diturunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Kepala
pada Anous stolidus pileatus ... 71
23. Komponen Utama I, II, III, IV dan V, Nilai Eigen (λ), Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Diturunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Kepala
pada Chlidonias hybrida javanica ... 72
24. Komponen Utama I, II, III, IV dan V, Nilai Eigen (λ), Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Diturunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Kepala
pada Sterna albifrons sinensis... 72
25. Komponen Utama I, II, III, IV dan V, Nilai Eigen (λ), Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Diturunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Kepala
xiv 26. Komponen Utama I, II, III, IV dan V, Nilai Eigen (λ),
Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Diturunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Kepala
pada Sterna bergii cristatus ... 73
27. Komponen Utama I, II, III, IV dan V, Nilai Eigen (λ), Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Diturunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Kepala pada Sterna fuscata nubilosa ... 74
28. Komponen Utama I, II, III, IV dan V, Nilai Eigen (λ), Keragaman Total (%) dan Keragaman Kumulatif (%) yang Diturunkan dari Matriks Kovarian Peubah Ukuran Kepala pada Sterna sumatrana sumatrana ... 74
29. Penciri Ukuran dan Bentuk Kepala Spesies Burung Air yang Diamati Berikut Korelasinya terhadap Skor Ukuran dan Bentuk ... 75
30. Diagram Kerumunan Anous minutus worcesteri Berdasarkan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 75
31. Diagram Kerumunan Anous stolidus pileatus Berdasarkan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 76
32. Diagram Kerumunan Sterna albifrons sinensis Berdasarkan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 76
33. Diagram Kerumunan Sterna anaethetus anaethetus Berdasar kan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 77
34. Diagram Kerumunan Sterna bergii cristatus Berdasarkan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 77
35. Diagram Kerumunan Sterna fuscata nubilosa Berdasarkan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 78
36. Diagram Kerumunan Sterna sumatrana sumatrana Berdasarkan Skor Ukuran dan Skor Bentuk Kepala ... 78
37. Spesimen Anous minutus worcesteri... 79
38. Spesimen Anous stolidus pileatus ... 79
39. Spesimen Chlidonias hybrida javanica ... 79
40. Spesimen Sterna albifrons sinensis... 80
41. Spesimen Sterna anaethetus anaethetus ... 80
42. Spesimen Sterna bergii cristatus ... 80
43. Spesimen Sterna fuscata nubilosa ... 81
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Burung air merupakan kelompok burung yang menghuni lahan basah, seperti rawa,
sungai, danau dan pantai. Mereka memiliki fungsi penting dalam lingkungan, karena
merupakan indikator yang baik bagi kerusakan lingkungan dan menjaga
keseimbangan ekosistem lahan basah. Lingkungan yang rusak akan mengancam
kehidupan makhluk hidup termasuk burung air, karena ketersediaan pakan semakin
berkurang. Selain itu ketiadaan burung air dapat menyebabkan peledakan populasi
makhluk hidup lain, karena ketiadaan predator yang berfungsi menjaga
keseimbangan ekosistem. Salah satu suku (family) burung air yang berperan dalam
proses tersebut adalah suku Laridae atau dara laut.
Suku Laridae terdiri atas 12 marga (genus), diantara marga tersebut adalah
Anous, Chlidonias dan Sterna. Ukuran populasi Anous, Chlidonias dan Sterna hingga
tahun 2010 berkisar antara 150 ribu-22 juta individu dewasa; dan digolongkan ke
dalam status konservasi (status keberadaan) Least Concern atau tidak memerlukan
perhatian khusus (BirdLife International, 2011a,b,c,d,e,f,g). Ukuran populasi yang belum
mengkhawatirkan tersebut, harus tetap mendapatkan perhatian untuk mencegah
kepunahan dan menjaga kelestarian burung air dunia. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan adalah penangkaran. Upaya penangkaran memerlukan data spesifik
mengenai burung yang akan ditangkarkan, sehingga sangat membutuhkan informasi
genetik.
Informasi genetik morfometrik ukuran-ukuran kepala burung dara laut
(Laridae) dapat mendukung upaya penangkaran spesies tersebut untuk keperluan
konservasi ex situ, karena memberikan informasi penting mengenai kerakteristik
spesies berdasarkan ukuran-ukuran linear kepala. Penentuan karakteristik tersebut
penting, terutama untuk spesies yang memiliki karakteristik kualitatif yang hampir
sama.
Informasi tersebut dapat diperoleh melalui pengukuran tulang pada
bagian-bagian kepala karena tulang bersifat genetis yang diturunkan dari tetua. Setiap
spesies memiliki perbedaan karakteristik yang spesifik sehingga melalui Analisis
2 masing-masing spesies, setiap penciri berhubungan dengan faktor genetik dan
lingkungan.
Tujuan
Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai karakteristik
morfometrik kepala burung dara laut (Laridae), dengan membedakan peubah-peubah
ukuran linear kepala yang diamati pada setiap dua spesies burung air melalui uji
statistik T2-Hotelling. Penelitian ini juga bertujuan untuk memperoleh karakteristik
morfometrik kepala burung melalui pengamatan ukuran dan bentuk kepala; berikut
pencirinya dari masing-masing spesies yang diamati berdasarkan Analisis Komponen
Utama (AKU). Ukuran dan bentuk kepala divisualisasikan ke dalam diagram
kerumunan berdasarkan skor yang diperoleh. Penelitian ini juga bertujuan untuk
menentukan kedekatan hubungan morfometrik kepala berdasarkan ketidakserupaan
morfometrik melalui pendekatan jarak minimum D2-Mahalanobis yang
divisualisasikan dalam bentuk diagram pohon.
Manfaat
Penelitian ini bermanfaat sebagai informasi tambahan mengenai karakteristik
ukuran dan bentuk kepala burung air yang diamati, yaitu Anous minutus worcesteri
(camar angguk hitam), Anous stolidus pileatus (camar angguk coklat), Chlidonias
hybrida javanica (dara laut kumis), Sterna albifrons sinensis (dara laut kecil), Sterna
anaethetus anaethetus (dara laut batu), Sterna bergii cristatus (dara laut jambul),
Sterna fuscata nubilosa (dara laut sayap hitam), dan Sterna sumatrana sumatrana
(dara laut tengkuk hitam) yang dapat digunakan sebagai acuan konservasi bagi
spesies burung untuk mempertahankan keanekaragaman satwa, terutama burung air
dunia. Ilmu genetika yang mendasari pengelompokan berdasarkan ukuran dan bentuk
kepala, memberikan manfaat yang berharga bagi keberlanjutan eksistensi
TINJAUAN PUSTAKA
Suku Laridae
Suku Laridae memiliki karakteristik kaki pendek, sayap panjang, dan
runcing, ekor menggarpu, dan paruh yang halus serta runcing (MacKinnon, 1996).
Storer (1960) menjelaskan bahwa suku Laridae memiliki karakteristik ukuran tubuh
yang kecil hingga sedang dengan sayap yang panjang, dan jari kaki berselaput.
MacKinnon (1996) memisahkan suku Laridae ke dalam anak suku Sterninae. Suku
Laridae terdiri atas beberapa marga, diantaranya marga Anous, Chlidonias, dan
Sterna. Marga Anous terdiri atas Anous stolidus pileatus dan Anous minutus
worcesteri serta Anous tenuirostris. Marga Chlidonias terdiri atas Chlidonias hybrida
javanica, Chlidonias niger, Chlidonias leucopterus dan Chlidonias albostriatus; dan
marga Sterna terdiri atas 20 spesies, diantaranya Sterna albifrons sinensis, Sterna
anaethetus anaethetus, Sterna bergii cristatus, Sterna fuscata nubilosa dan Sterna
sumatrana sumatrana (Bridge et al., 2005).
Baskoro (2009) menyatakan bahwa spesies burung dalam marga Anous,
Chlidonias dan Sterna memiliki jumlah telur 1-2 atau 2-3 butir setiap periode dan
berbiak pada bulan Mei sampai Juni.
Paruh
Paruh merupakan salah ciri morfologi yang dapat mengidentifikasi jenis
burung berdasarkan pakan dan cara burung mengambil pakan (Pough et al., 2006).
Paruh pada burung memiliki fungsi yang hampir sama dengan tangan, dan mulut;
serta mengindikasikan kebiasaan makan burung (Storer et al., 1968). Ukuran paruh
yang ditunjukkan pada panjang, lebar dan dalam paruh; dapat menyumbang
informasi pada skor ukuran berdasarkan Analisis Komponen Utama, tetapi informasi
ekologi lebih dapat memberikan variasi pada ukuran dan bentuk paruh sebagai akibat
dari jenis pakan yang dikonsumsi (Sutherland et al., 2008).
Tengkorak Kepala
Tengkorak kepala merupakan informasi penting untuk mengidentifikasi
perkembangan dan mengetahui hubungan genetik antara jenis yang berbeda. Bangsa
berpengaruh terhadap ukuran tengkorak kepala (Saparto, 2004). Pengukuran kepala
4 2008). Tengkorak kepala terdiri atas ruang otak (cranium) serta rahang atas dan
bawah (maxilla dan mandibula). Pada umumnya, tulang pada cranium akan menjadi
bentuk yang sempurna pada saat burung dewasa (Tyne dan Berger, 1976). Warwick
et al. (1995) menyatakan bahwa ukuran-ukuran tubuh termasuk ukuran-ukuran
kepala berguna untuk menelusuri asal-usul dan hubungan filogenetik antar hewan
yang diamati.
Sexual Dimorphism
Sexual dimorphism adalah perbedaan morfologi antara jenis kelamin jantan
dan betina dalam satu spesies yang sama. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan pada
ukuran tubuh, warna dan struktur tubuh antara jenis kelamin (Owen dan Hartley,
1998). Sexual dimorphism dalam beberapa spesies berbeda-beda secara geografis.
Pada beberapa spesies burung, jantan memiliki warna yang lebih cerah dibandingkan
betina. Sexual dimorphism pada burung juga dapat ditemukan pada ukuran tubuh
keseluruhan, ukuran paruh dan panjang ekor (Tyne dan Berger, 1976; dan Owen dan
Hartley, 1998).
Perbedaan ukuran tubuh berhubungan dengan variasi dalam sistem
perkembangbiakan dan perbedaan jenis kelamin dalam perawatan anakan yang
ditunjukkan dalam persaingan antar jenis kelamin (Owens dan Hartley, 1998).
Sutherland et al. (2008) menjelaskan bahwa perbedaan jenis kelamin pada burung
bisa dilihat dari warna dan ukuran tubuh. Biasanya ukuran tubuh jantan lebih besar
dibandingkan betina, kecuali pada burung elang terjadi sebaliknya.
Anous minutus worcesteri
Anous minutus worcesteri atau burung camar angguk hitam, diklasifikasikan
ke dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; kelas Aves; bangsa Charadriiformes;
suku Laridae dan marga Anous (ZipcodeZoo, 2010a). Anous minutus worcesteri
memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Anous stolidus pileatus, tetapi
ukuran jenis burung ini lebih kecil dibandingkan Anous stolidus pileatus. Burung ini
memiliki karakteristik panjang tubuh 33 cm (MacKinnon, 1996). Karakterisik lain
yang membedakan adalah bulu yang berwarna hitam, kecuali pada bagian tengkuk
berwarna abu-abu tua dan dahi berwarna putih (del Hoyo et al.,1996).
Anous minutus worcesteri memiliki habitat yang serupa dengan burung air
5 Tempat tersebut merupakan tempat tinggal sekaligus tempat untuk mencari makan.
Makanan utama yang didapat di daerah tersebut adalah ikan-ikan kecil, cumi-cumi,
serangga dan krustasia (MacKinnon, 1996; dan del Hoyo et al., 1996). Gambar 1
menyajikan Anous minutus worcesteri yang sedang bertengger di ranting pohon.
Gambar 1. Anous minutus worcesteri
Sumber: Worldbirds (2010a)
Populasi Anous minutus worcesteri sampai tahun 2010 diperkirakan
berjumlah antara 160 ribu-1,1 juta individu dewasa (BirdLife International, 2011a).
Ukuran tersebut masih di luar ambang batas kepunahan, sehingga status konservasi
(status keberadaan) bagi jenis burung ini adalah Least Concern atau tidak
memerlukan perhatian khusus. Subspesies ini memiliki ancaman predator, yang
terdiri atas kucing, ular Boiga irregularis dan manusia yang memanfaatkan telur,
anakan dan individu dewasa untuk dikonsumsi (BirdLife International, 2011a). Jenis
burung ini menyebar hampir di seluruh dunia, diantaranya Samudera Hindia, Karibea
dan Samudera Atlantik (Guager, 1999). MacKinnon (1996) menjelaskan bahwa
Anous minutus worcesteri merupakan pengembara yang jarang dan kadang dapat
ditemui di sepanjang tepi pantai utara di Jawa dan Bali.
Anous stolidus pileatus
Anous stolidus pileatus atau burung camar angguk coklat, diklasifikasikan ke
dalam kerajaan Animalia;filum Chordata;kelas Aves;bangsa Charadriiformes;suku
Laridae dan marga Anous (ZipcodeZoo, 2010b). Anous stolidus pileatus merupakan
dara laut yang berukuran besar. Anous stolidus pileatus memiliki karakteristik yang
6 bulu. Anous stolidus pileatus memiliki warna coklat gelap dan ukuran yang lebih
besar dibandingkan Anous minutus worcesteri (del Hoyo et al., 1996). Burung ini
memiliki karakteristik panjang tubuh 39 cm (MacKinnon, 1996)
del Hoyo et al. (1996) menjelaskan bahwa jenis burung ini dapat ditemukan
di dekat pantai, pulau, batu karang, pasir kerikil dan lepas pantai. Anous stolidus
pileatus sering mencari makan di sekitar pantai sampai sejauh 50 km. Makanan
utama jenis burung ini adalah cumi-cumi, moluska, serangga dan ikan kecil (del
Hoyo et al., 1996; dan MacKinnon, 1996). Gambar 2 menyajikan Anous stolidus
pileatus yang sedang bertengger di ranting pohon.
Gambar 2. Anous stolidus pileatus
Sumber: Worldbirds (2010b)
Ukuran populasi Anous stolidus pileatus sampai dengan 2010 diperkirakan
antara 180 ribu-1,1 juta individu dewasa (BirdLife International, 2011b). Jumlah
tersebut belum mengkhawatirkan sehingga jenis burung ini dikatagorikan dalam
status konservasi (status keberadaan) Least Concern atau tidak memerlukan
perhatian khusus. Anous stolidus pileatus merupakan dara laut tropis yang menyebar
di seluruh dunia. Ancaman bagi ukuran populasi subspesies ini adalah predator
kucing, tikus, ular Boiga irregularis dan manusia (memanfaatkan telur, anakan serta
individu dewasa untuk dikonsumsi) (BirdLife International, 2011b). Daerah sebaran
spesies ini meliputi Hawai, Kepulauan Tuamuto, Australia, Samudera Hindia,
Amerika, Laut Merah sampai dengan Asia Tenggara (del Hoyo et al., 1996).
MacKinnon (1996) menjelaskan bahwa Anous stolidus pileatus banyak bersarang di
7
Chlidonias hybrida javanica
Chlidonias hybrida javanica atau burung dara laut kumis, diklasifikasikan ke
dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; kelas Aves; bangsa Charadriiformes;
suku Laridae dan marga Chlidonias (ZipcodeZoo, 2010c). Spesies ini memiliki
karakteristik yang cukup unik karena memiliki tutupan seperti kumis berwarna hitam
pada bagian atas paruh. Paruh yang kuat dengan panjang 29-34 mm ditemukan pada
jantan dan 25-27 mm pada betina. Burung dewasa pada musim panas memiliki paruh
dan kaki yang berwarna kemerahan. Sisi bagian leher berwarna putih, bahkan putih
sampai dengan ke bagian tengkuk. Bulu belakang sampai dengan bagian scapula
berwarna coklat gelap dan memiliki kerakteristik panjang tubuh 33 cm (MacKinnon,
1996).
Spesies ini memiliki berbagai habitat lahan basah, tetapi sering ditemukan
pada tanah berawa air tawar dengan perairan yang luas, terutama daerah yang
ditumbuhi tanaman pakan sapi atau kuda. Habitat lain dari spesies burung ini adalah
sungai, pulau, empang dengan tumbuhan teratai, muara, daratan pantai, pinggiran
pantai dan bakau (del Hoyo et al., 1996; dan Snow dan Perrins, 1998). Gambar 3
menyajikan Chlidonias hybrida javanica yang sedang bertengger pada batu.
Gambar 3. Chlidonias hybrida javanica
Sumber: Worldbirds (2010c)
Makanan utama spesies ini menurut del Hoyo et al. (1996) meliputi serangga
darat dan serangga air (misalnya: Dytiscidae, Odonata baik larva maupun dewasa,
Orthoptera, laba-laba, katak, kepiting kecil dan semut terbang). Makanan lain spesies
8 dengan tahun 2010 diperkirakan berkisar antara 300 ribu-1,5 juta individu dewasa
(BirdLife International, 2011c). Ukuran populasi tersebut belum mendekati ambang
batas kepunahan, meskipun demikian masih tetap diperlukan konservasi untuk
menjaga kelestarian spesies tersebut. Status konservasi (status keberadaan) spesies
ini adalah Least Concern atau tidak memerlukan perhatian khusus. Ancaman bagi
ukuran populasi subspesies ini adalah kerusakan sarang akibat gangguan binatang
pengerat dan sejumlah telur diambil oleh penduduk lokal untuk dikonsumsi atau
dijual (BirdLife International, 2011c). Chlidonias hybrida merupakan burung air
migran, tetapi khusus pada Chlidonias hybrida javanica, menyebar hanya di sekitar
pulau Jawa dan Australia (MacKinnon dan Phillips, 1993).
Sterna albifrons sinensis
Sterna albifrons sinensis atau burung dara laut kecil, diklasifikasikan ke
dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; kelas Aves; bangsa Charadriiformes;
suku Laridae dan marga Sterna (ZipcodeZoo, 2010d). Spesies ini merupakan burung
dara laut yang berukuran kecil dengan warna kaki dan paruh berwarna kuning serta
warna putih pada dahi. Pada musim dingin, warna putih pada dahi akan semakin
luas, paruh berwarna hitam dan warna hitam pudar pada kaki (del Hoyo et al., 1996).
Burung ini memiliki karakteristik panjang tubuh 25 cm (MacKinnon, 1996). Gambar
4 menyajikan Sterna albifrons sinensis yang sedang mencari makan di antara pasir.
Gambar 4. Sterna albifrons sinensis
Sumber: Viana (2010)
Habitat Sterna albifrons sinensis ditemukan pada daerah pantai tandus, pulau
dan tepi pantai, kerikil, bukit karang lepas pantai, sungai, muara, bendungan serta
9 Makanan spesies ini sebagian besar adalah ikan kecil (misalnya: Ammodytes spp.,
Rutilus rutilus, Scardinius erythrophthalmus, Cyprinus carpio dan Perca fluviatilis)
dan binatang berkulit keras dengan ukuran 3-6 cm seperti serangga serta cacing, siput
dan udang (del Hoyo et al., 1996 dan MacKinnon, 1996).
Ukuran populasi Sterna albifrons sinensis sampai dengan tahun 2010 dicatat
sebanyak 190-410 ribu individu dewasa (BirdLife International, 2011d). Spesies ini
dikategorikan ke dalam status konservasi (status keberadaan) Least Concern atau
tidak memerlukan perhatian khusus, karena berjumlah cukup besar dan sedikit
mengalami penurunan ukuran populasi. Ancaman bagi ukuran populasi subspesies
ini adalah kerusakan habitat untuk pengembangan industri, polusi pestisida dan
pengumpulan telur untuk konsumsi manusia (BirdLife International, 2011d). Kondisi
ini tetap membutuhkan perhatian untuk keberlangsungan populasi burung air ini.
Penyebaran Sterna albifrons sinensis menetap di sepanjang pantai daerah
sedang dan tropika. MacKinnon menjelaskan bahwa terdapat populasi kecil Sterna
albifrons sinensis di Jawa dan Bali. del Hoyo et al. (1996) menambahkan bahwa
spesies ini juga dapat ditemukan di Eropa, menyebar di sepanjang pantai di bagian
Afrika serta Asia Timur, Asia Barat, Arab, New Zealand hingga sesekali dapat
ditemukan di Hawai. Hampir semua jenis burung dara laut kecil menyebar luas di
seluruh dunia.
Sterna anaethetus anaethetus
Sterna anaethetus anaethetus atau burung dara laut batu, diklasifikasikan ke
dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; kelas Aves; bangsa Charadriiformes;
suku Laridae dan marga Sterna (ZipcodeZoo, 2010e). Jenis burung ini merupakan
dara laut yang berukuran sedang. Karakteristik yang dimiliki adalah panjang tubuh
37 cm, sayap dan ekor berwarna abu-abu gelap pada bagian atas, sedangkan pada
bagian bawah berwarna putih (MacKinnon, 1996). Karakteristik lain yang dimiliki
adalah dahi dan alis berwarna putih, kaki serta paruh yang berwarna hitam (Bridge et
al., 2005).
Jenis burung ini ditemukan pada daerah lepas pantai laut tropis dan subtropis,
yang meliputi daerah tumbuhan pantai, karang, batuan pulau, daerah pelagis hingga
sampah apung yang digunakan untuk menangkap ikan-ikan kecil (del Hoyo et al.,
10 MacKinnon (1996) adalah cumi-cumi dan ikan permukaan yang berukuran kurang
dari enam cm, selain itu juga memakan krustasia, serangga air, semut terbang,
kumbang, kutu busuk dan moluska. Gambar 5 menyajikan Sterna anaethetus
anaethetus yang sedang bertengger.
Gambar 5. Sterna anaethetus anaethetus
Sumber: Worldbirds (2010d)
Ukuran populasi Sterna albifrons anaethetus sampai dengan 2010, menurut
BirdLife International (2011e) berkisar antara 610 ribu-1,5 juta individu dewasa.
Jumlah ini belum mendekati ambang batas bawah bagi populasi yang mendekati
kepunahan, sehingga Sterna albifrons anaethetus dikatagorikan ke dalam status
konservasi (status keberadaan) Least Concern yang berarti tidak memerlukan
perhatian khusus. Ancaman bagi ukuran populasi subspesies ini adalah kucing,
aktivitas manusia di sekitar habitat serta pemanfaatan telur dan anakan oleh manusia
untuk dikonsumsi (BirdLife International, 2011e). Kondisi tersebut harus mendapat
perhatian untuk menghindari kepunahan burung air. Wilayah sebaran spesies ini
meliputi Samudera Pasifik dan Atlantik termasuk Karibia, Afrika timur hingga
selatan, Arab, India, Asia Tenggara, New Zealand dan Australia (de Hoyo et al.,
1996). MacKinnon (1996) menjelaskan bahwa Sterna albifrons anaethetus
merupakan penghuni tetap di lepas pantai di Jawa dan Bali.
Sterna bergii cristatus
Sterna bergii cristatus atau burung dara laut jambul, diklasifikasikan ke
dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; kelas Aves; bangsa Charadriiformes;
11 merupakan salah satu burung dara laut dengan ukuran yang cukup besar.
Karakteristik yang dimiliki burung ini adalah panjang tubuh yang berkisar antara
46-49 cm (Cooper, 2006). Dahi dan bagian bawah tubuh berwarna putih, bagian
belakang dan sayap bawah berwarna abu-abu kehitaman (Snow dan Perrins, 1998).
Sterna bergii cristatus mendiami daerah garis pantai tropis dan subtropis,
mencari makan pada daerah perairan dangkal, danau dan pinggiran laut, batu karang,
muara, teluk, daerah berpasir, berbatu hingga di perairan payau (del Hoyo et al.,
1996). Habitat tersebut merupakan tempat burung ini tinggal dan mencari makan.
Makanan utama meliputi ikan dengan panjang 10-50 cm, cumi-cumi, serangga,
binatang berkulit keras seperti kepiting dan kerang (del Hoyo et al., 1996). Ukuran
populasi Sterna bergii cristatus sampai dengan tahun 2010 diperkirakan sebanyak
150 ribu-1,1 juta individu dewasa. Populasi spesies ini cukup tinggi dibandingkan
dengan penurunan populasi sehingga BirdLife International (2011f) mengkategorikan
dalam status konservasi (status keberadaan) Least Corcern atau tidak memerlukan
perhatian khusus. Ancaman bagi ukuran populasi subspesies ini adalah gangguan
aktivitas manusia pada koloni yang sedang berkembang biak yang dapat
menyebabkan kegagalan reproduksi; selain itu peningkatan pemangsa burung ibis
terhadap telur dan kandang (BirdLife International, 2011f). Kondisi tersebut
memerlukan upaya konservasi untuk menjamin keberlanjutan generasi. Gambar 6
menyajikan Sterna bergii cristatus yang sedang mencari makan di pinggiran pantai.
Gambar 6. Sterna bergii cristatus
12
Sterna bergii cristatus termasuk burung yang sering ditemukan bersarang di
perairan dekat pantai dan pulau-pulau kecil di Jawa dan Bali (MacKinnon, 1996).
Daerah penyebaran Sterna bergii cristatus, meliputi Atlantik, Afrika Selatan, Asia,
Australia, sebelah barat samudera Hindia, samudera Pasifik dan dapat juga
ditemukan di Madagaskar (del Hoyo et al., 1996). Pratt et al. (1987) menyatakan
bahwa spesies ini juga ditemukan di Aldabra dan Etoile yang merupakan bagian dari
samudera Hindia, Samudera Pasifik yang meliputi Kiribati, Fiji dan Tonga.
Penyebaran yang luas menyebabkan spesies tersebut dapat ditemukan di berbagai
bagian dunia.
Sterna fuscata nubilosa
Sterna fuscata nubilosa atau burung dara laut sayap hitam diklasifikasikan ke
dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; kelas Aves; bangsa Charadriiformes;
suku Laridae dan marga Sterna (ZipcodeZoo, 2010g). Spesies ini memiliki
karakteristik ukuran tubuh yang cukup besar dengan panjang 43 cm (MacKinnon,
1996). Sterna fuscata nubilosa memiliki warna bulu abu-abu gelap pada bagian atas
tubuh dan warna putih pada bagian bawah tubuh. Paruh dan kaki berwarna hitam,
memiliki warna putih yang cukup besar pada dahi serta tidak memiliki garis pada
leher (Tregear, 1981). Gambar 7 menyajikan Sterna fuscata nubilosa yang sedang
berdiri di atas pasir.
Gambar 7. Sterna fuscata nubilosa
Sumber: Deng (2010)s
Sterna fuscata nubilosa memiliki habitat di sekitar dataran terbuka atau
13 karang serta perairan lepas pantai yang kaya akan plankton, ikan dan cumi-cumi
sebagai makanannya (del Hoyo et al., 1996). Makanan utama dari burung ini adalah
ikan yang berukuran 6-8 cm hingga dapat memangsa ikan berukuran 18 cm (del
Hoyo et al., 1996). Makanan lainnya meliputi cumi-cumi, serangga dan makanan lain
di atas permukaan air.
Ukuran populasi Sterna fuscata nubilosa yang dicatat BirdLife International
(2011g) sekitar 21-22 juta ekor individu dewasa. Sterna fuscata nubilosa merupakan
burung yang hidup berkoloni dengan jumlah yang cukup besar. Ancaman bagi
ukuran populasi subspesies ini adalah predator kucing, tikus, semut invasif.
Subspesies ini juga terancam punah akibat cemaran minyak dari kapal dan
pemanfaatan telur untuk dikonsumsi manusia (BirdLife International, 2011g).Ukuran
populasi yang cukup besar dan hingga sekarang belum mendekati ambang batas
bawah populasi, sehingga burung ini berada pada status konservasi (status
keberadaan) Least Concern (tidak memerlukan perhatian khusus) dan tetap
diperlukan penangkaran untuk menjaga kelangsungan populasi burung air dunia.
Sterna fuscata nubilosa ditemukan pada kepulauan Krakatau di antara Jawa dan
Sumatera (MacKinnon, 1996). Pada musim dingin, jenis burung ini lebih banyak
ditemukan pada perairan tropis, hal ini merupakan kebiasaan dari burung laut.
Collinson (2006) menerangkan bahwa Sterna fuscata nubilosa ditemukan di Laut
Merah, Samudera Hindia hingga Samudera Pasifik.
Sterna sumatrana sumatrana
Sterna sumatrana sumatrana atau burung dara laut tengkuk hitam,
diklasifikasikan ke dalam kerajaan Animalia; filum Chordata; kelas Aves; bangsa
Charadriiformes; suku Laridae dan marga Sterna (ZipcodeZoo, 2010h). Sterna
sumatrana sumatrana memiliki karakteristik panjang tubuh 35 cm (MacKinnon,
1996). Paruh dan kaki berwarna hitam. Jenis burung ini memiliki warna putih pada
bagian muka dan bagian dada dengan warna putih keabu-abuan (del Hoyo et al.,
1996).
Jenis burung air ini memiliki habitat yang tidak berbeda dengan burung air
lain. Mereka dapat ditemukan pada pulau kecil, pulau lepas pantai, padang
14 ikan-ikan kecil dan binatang kecil lain seperti serangga (del Hoyo et al., 1996).
Gambar 8 menyajikan Sterna sumatrana sumatrana yang sedang berdiri di atas batu.
Gambar 8. Sterna sumatrana sumatrana
Sumber: Tarrant (2010)
Jenis burung ini berdasarkan BirdLife International (2011h) dikatagorikan ke
dalam status konservasi (status keberadaan) Least Concern atau tidak memerlukan
perhatian khusus. Ancaman bagi ukuran populasi subspesies ini adalah predator
kucing, perubahan iklim sekitar habitat dan pemanfaatan telur untuk dikonsumsi
manusia (BirdLife International, 2011h). Kondisi ini menunjukkan bahwa jumlah
spesies tersebut belum mendekati ambang kepunahan, tetapi masih diperlukan
konservasi untuk menjaga kelestarian unggas air dunia. Jenis burung ini menyebar
pada daerah tropis dan subtropis. Jangkauan sebaran dari Samudera Hindia hingga
bagian timur Samudera Pasifik (del Hoyo et al., 1996). Sterna sumatrana sumatrana
termasuk burung dara laut yang paling umum ditemukan dan berbiak di pantai
karang dan pulau-pulau kecil lepas pantai di Jawa dan Bali (MacKinnon, 1996).
Lahan Basah
Davies et al. (1995) menyatakan lahan basah memiliki dua pengertian yaitu
secara sempit dan luas. Definisi sempit menerangkan bahwa lahan basah adalah
sebuah ekoton (suatu daerah peralihan antara daratan dan perairan yang
menyebabkan beberapa bagian daratan tergenang air), sedangkan definisi secara luas
menerangkan bahwa lahan basah yaitu daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut,
dan perairan. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (2007)
15 perairan yang bersifat alami maupun buatan, tetap ataupun sementara, dengan
perairan tergenang atau mengalir, tawar, agak asin ataupun asin, termasuk
daerah-daerah perairan laut yang dengan kedalaman tidak lebih dari enam meter pada waktu
surut.
Analisis Komponen Utama (AKU)
Gaspersz (1992) menerangkan bahwa Analisis Komponen Utama (AKU)
merupakan struktur varian-kovarian melalui kombinasi linear dari peubah-peubah
tertentu. Penggunaan AKU ditujukan untuk mereduksi data dan bisa
menginter-pretasikan dalam bentuk diagram kerumunan. Wiley (1981) menjelaskan bahwa
AKU adalah suatu teknik multivariat yang digunakan untuk menemukan hubungan
struktural antara dua peubah bebas yang disebut komponen utama. Komponen utama
pertama terdiri atas peubah dengan keragaman total yang tertinggi, sedangkan
komponen utama kedua meliputi peubah dengan keragaman total terbesar setelah
komponen utama pertama (Hayashi et al., 1982).
Penggunaan metode AKU dalam analisis morfometrik menerangkan bahwa
komponen utama pertama mengindikasikan ukuran (size) sebagai vektor ukuran dan
komponen utama kedua mengindikasikan bentuk (shape) sebagai vektor bentuk dari
hewan yang diteliti (Everitt dan Dunn, 1998). Komponen utama digunakan untuk
membentuk diagram sebaran. Nishida et al. (1982) menjelaskan bahwa diagram
kerumunan tersebut dibuat berdasarkan skor ukuran dan skor bentuk yang ditentukan
oleh persamaan bentuk dan ukuran setelah dianalisis menggunakan metode AKU.
Sumbu X menunjukkan ukuran dan sumbu Y menunjukkan bentuk dari data yang
diamati (Hayashi et al., 1982).
Jarak Minimum Ketidakserupaan Morfometrik D2 Mahalanobis Jarak minimum ketidakserupaan morfometrik D2 Mahalanobis digunakan
untuk membentuk diagram pohon (dendogram) berdasarkan pengamatan
morfo-metrik terhadap spesies yang diamati. Jarak minimum D2 Mahalanobis disajikan
dalam bentuk matriks yang dipergunakan untuk menghasilkan dendogram (Gaspersz,
1992). Pembuatan dendogram dilakukan dengan asumsi bahwa laju evolusi antara
METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ornitologi Bidang Zoologi Pusat
Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Cibinong. Penelitian ini
dilaksanakan selama enam bulan yaitu dari bulan Mei 2010 sampai Oktober 2010.
Materi
Burung Air
Penelitian ini menggunakan 168 spesimen burung dewasa dari suku Laridae.
Subspesies yang diamati adalah Anous minutus worcesteri (camar angguk hitam)
yang terdiri atas tujuh spesimen (lima ekor jantan dan dua ekor betina); Anous
stolidus pileatus (camar angguk coklat) terdiri atas sembilan spesimen (lima ekor
jantan dan empat ekor betina); Chlidonias hybrida javanica (dara laut kumis) terdiri
atas 14 spesimen (sembilan ekor jantan dan lima ekor betina); Sterna albifrons
sinensis (dara laut kecil) terdiri atas 13 spesimen (lima ekor jantan dan delapan ekor
betina); Sterna anaethetus anaethetus (dara laut batu) terdiri atas 18 spesimen (11
ekor jantan dan tujuh ekor betina); Sterna bergii cristatus (dara laut jambul) terdiri
atas 54 spesimen (24 ekor jantan dan 30 ekor betina); Sterna fuscata nubilosa (dara
laut sayap hitam) terdiri atas 17 spesimen (tujuh ekor jantan dan 10 ekor betina); dan
Sterna sumatrana sumatrana (dara laut tengkuk hitam) terdiri atas 36 spesimen (16
ekor jantan dan 20 ekor betina). Sterna fuscata nubilosa, Sterna albifrons sinensis,
Sterna bergii cristatus, Sterna sumatrana sumatrana, dan Sterna anaethetus
anaethetus digolongkan dalam marga Sterna. Anous stolidus pileatus, dan Anous
minutus worcesteri digolongkan dalam marga Anous; sedangkan Chlidonias hybrida
javanica digolongkan dalam marga Chlidonias.
Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat ukur berupa jangka
sorong, lembar data, alat tulis, dan kamera digital. Perangkat lunak Mega 4.1 Beta
(Molecular Evolutionary Genetics Analysis) digunakan untuk menyajikan
dendogram jarak minimum ketidakserupaan morfometrik D2 Mahalanobis. Perangkat
17 Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah bagian kepala dan paruh.
Bagian paruh yang diukur meliputi panjang, lebar, dan tinggi; sedangkan bagian
kepala yang diukur meliputi lebar dan panjang.
Prosedur
Pengamatan dilakukan pada ukuran-ukuran linear pada kepala, yang meliputi
panjang paruh (X1), lebar paruh (X2), tinggi paruh (X3), lebar kepala (X4) dan
panjang kepala (X5). Ukuran-ukuran linear kepala yang diamati disajikan pada
Gambar 9. Prosedur pengamatan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Panjang paruh (cm) : pengukuran dilakukan dari pangkal paruh hingga ujung
paruh.
2. Lebar paruh (cm) : pengukuran dilakukan dari bagian pangkal paruh bagian
atas hingga pangkal paruh bagian bawah.
3. Tinggi paruh (cm) : pengukuran dilakukan dari bagian pangkal paruh bagian
atas hingga pangkal paruh bagian bawah secara vertikal.
4. Lebar kepala (cm) : pengukuran dilakukan pada daerah belakang mata pada
bagian tengkorak.
5. Panjang kepala (cm) : pengukuran dilakukan dari bagian tengah tulang
teng-korak kepala hingga bagian bawah paruh.
Keterangan: X1 = panjang paruh (cm); X2 = lebar paruh (cm); X3 = tinggi paruh (cm); X4 = lebar
kepala (cm); X5 = panjang kepala (cm)
Gambar 9. Bagan Kepala Burung Dara Laut yang Diamati X5 X4
X3 X2
18 Rancangan Statistik
Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif meliputi rataan, simpangan baku, dan koefisien keragaman
yang dihitung berdasarkan rumus Standsfield (1983), sebagai berikut:
Keterangan:
: nilai rataan
: jumlah seluruh sampel pengamatan
: data ke-i
Keterangan:
: simpangan baku
: data ke-i
: rataan data pengamatan
: jumlah seluruh sampel pengamatan
Keterangan:
: koefisien keragaman (%)
: simpangan baku
: rataan data pengamatan
Statistik T2-Hotelling
Uji statistik T2-Hotelling digunakan untuk membandingkan peubah-peubah
antara setiap dua spesies dari delapan spesies burung air yang diamati. Statistik T2
-Hotelling yang digunakan berdasarkan rumus Gaspersz (1992), sebagai berikut:
: vektor rataan peubah-peubah dari spesies ke-1 sama dengan spesies
19 : vektor rataan peubah-peubah dari spesies ke-1 berbeda dengan
spesies ke-2
Uji hipotesis yang dianjurkan menurut Gaspersz (1992) adalah sebagai
berikut:
Selanjutnya besaran:
Akan berdistribusi F dengan derajat bebas V1 = p, dan V2 = n1 + n2– p – 1
Keterangan:
: nilai T2-Hotelling
: nilai hitung T2-Hotelling
: jumlah data pengamatan pada spesies ke-1
: jumlah pengamatan pada spesies ke-2
: vektor rataan peubah-peubah spesies ke-1
: vektor rataan peubah-peubah spesies ke-2
: matriks gabungan spesies ke-1 dan spesies ke-2
: invers matiks gabungan (invers dari matriks SG)
p : jumlah peubah yang diukur
Jarak Minimum Ketidakserupaan Morfometrik D2 Mahalanobis
Jarak Minimum ketidakserupaan morfometrik D2 Mahalanobis digunakan
untuk membentuk diagram pohon (dendogram) berdasarkan pengamatan
ukuran-ukuran kepala burung dara laut. Jarak Minimum ketidakserupaan morfometrik D2
Mahalanobis dihitung berdasarkan Nei (1987), sebagai berikut:
Keterangan:
: nilai statistik Mahalanobis sebagai ukuran jarak kuadrat
Mahalanobis ketidakserupaan morfometrik antara dua spesies yang
diamati
: matriks gabungan spesies ke-1 dan spesies ke-2
20 : vektor nilai rataan peubah-peubah acak dari spesies ke-1
: vektor nilai rataan peubah-peubah acak dari spesies ke-2
Penyajian Dendogram
Penyajian dendogram dilakukan berdasarkan nilai jarak minimum
ketidakserupaan morfometrik D2 Mahalanobis dari ukuran-ukuran linear kepala
burung setelah diakarkan. Pengelompokan spesies burung dara laut dilakukan
berdasarkan percabangan dendogram menggunakan metode Unweighted Pair Group
Method with Arithmetic (UPGMA) dengan asumsi bahwa laju evolusi antar
subspesies adalah sama.
Analisis Komponen Utama
Analisis Komponen Utama (AKU) yang digunakan dalam pengolahan data
ini berguna untuk membuat kerumunan data spesies burung yang telah diamati
berdasarkan skor ukuran dan bentuk. Skor ukuran dan skor bentuk kepala
masing-masing diperoleh berdasarkan persamaan ukuran dan persamaan bentuk kepala.
Persamaan ukuran dan bentuk kepala diturunkan berdasarkan matriks kovarian. AKU
yang digunakan berdasarkan Gaspersz (1992). Persamaan ukuran diperoleh
berdasarkan model statistik sebagai berikut:
Keterangan:
: skor ukuran
: panjang paruh
: lebar paruh
: tinggi paruh
: lebar kepala
: tinggi kepala
Persamaan bentuk diperoleh berdasarkan model statistik sebagai berikut:
Keterangan:
: skor bentuk
: panjang paruh
: lebar paruh
21 : lebar kepala
: tinggi kepala
Sumbu X mewakili skor ukuran yang merupakan skor komponen utama
pertama dan sumbu Y mewakili skor bentuk yang merupakan skor komponen utama
kedua (Nishida et al., 1980). Korelasi antara ukuran dan bentuk tubuh burung
diperoleh dari perkalian antara vektor eigen dan akar dari nilai eigen masing-masing
dan dibagi dengan simpangan baku dari masing-masing peubah (Gaspersz, 1992).
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Keterangan:
: koefisien korelasi peubah ke-i (1, 2, 3,..., i) dan skor ke-j (1,2)
: vektor eigen peubah ke-i (1, 2, 3,..., i) dan komponen ke-j (1,2)
: nilai eigen (akar ciri) pada komponen ke-j (1,2)
: simpangan baku peubah ke-i (1, 2, 3,..., i)
Diagram Kerumunan
Diagram kerumunan dibuat berdasarkan skor ukuran dan skor bentuk yang
diperoleh dari persamaan ukuran dan persamaan bentuk. Ukuran disetarakan dengan
sumbu X dan bentuk disetarakan dengan sumbu Y. Setiap plot pada diagram
kerumunan mencerminkan skor ukuran dan skor bentuk pada setiap data individu.
Pengerumunan dilakukan berdasarkan spesies yang diamati. Persamaan dan
perbedaan ukuran dan bentuk dapat dilihat berdasarkan kerumunan data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengamatan morfometrik kepala burung dara laut pada penelitian ini dimulai
dengan perhitungan statistik deskriptif yang kemudian dilanjutkan dengan statistik
T2-Hotelling. Berdasarkan hasil statistik T2-Hotelling pengamatan perbedaan ukuran
dan bentuk kepala dilakukan melalui Analisis Komponen Utama. Diagram
kerumunan dibentuk berdasarkan perhitungan skor ukuran dan bentuk kepala,
sehingga dapat dibandingkan antara subspesies burung dara laut yang diamati. Jarak
ketidakserupaan morfometrik ukuran-ukuran kepala diamati untuk mendukung
diagram kerumunan ukuran dan bentuk kepala pada burung dara laut tersebut.
Hasil Statistik Deskriptif
Tabel 1 menyajikan ukuran-ukuran linear peubah kepala pada subspesies
Anous minutus worcesteri dan Anous stolidus pileatus. Tabel tersebut menyampaikan
nilai rataan, simpangan baku dan koefisien keragaman pada masing-masing peubah
yang diamati.
Tabel 1. Ukuran-ukuran Linear Peubah Kepala Burung Dara Laut Jantan dan Betina pada Marga Anous
Subspesies Jenis
Keterangan: Persen dalam tanda kurung menunjukkan koefisien keragaman; n=jumlah sampel yang diamati
Koefisien keragaman peubah-peubah ukuran linear kepala yang berkisar
antara 0,31%-20,86% pada jantan dan betina Anous stolidus pileatus dan Anous
minutus worcesteri. Koefisien keragaman yang ditunjukkan tersebut mencapai lebih
dari 20% dan merupakan koefisien keragaman yang tinggi (Syahid, 2009). Koefisien
23 ini memiliki status konservasi yang masih dapat dipertahankan. Status konservasi
subspesies ini adalah Least Concern atau tidak memerlukan perhatian khusus
(BirdLife International, 2011a). Rataan ukuran-ukuran linear kepala pada Anous
stolidus pileatus ditemukan lebih besar dibandingkan dengan Anous minutus
worcesteri. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pernyataan del Hoyo et al. (1996)
yang menyatakan bahwa Anous minutus worcesteri memiliki karakteristik yang
hampir sama dengan Anous stolidus pileatus, tetapi ukuran jenis Anous stolidus
pileatus lebih besar dibandingkan Anous minutus worcesteri. Karakter lain yang
membedakan adalah bulu yang berwarna hitam, kecuali pada bagian tengkuk
berwarna abu-abu tua dan dahi berwarna putih.
Tabel 2 menyajikan ukuran linear peubah kepala pada subspesies Chlidonias
hybrida javanica. Koefisien keragaman ukuran-ukuran linear kepala pada subspesies
ini berkisar antara 5,89%-14,58%. Koefisien keragaman yang dihasilkan
digolongkan dalam koefisien keragaman yang sedang, karena mencapai kisaran
antara 10%-20% (Syahid, 2009). Keragaman ukuran-ukuran linear kepala yang tidak
rendah tersebut menunjukkan bahwa subspesies ini belum terancam punah (Docstoc,
2010). Chlidonias hybrida javanica memiliki status konservasi Least Concern atau
tidak memerlukan perhatian khusus (BirdLife International, 2011c).
Tabel 2. Ukuran-ukuran Linear Peubah Kepala Burung Dara Laut Jantan dan Betina pada Marga Chlidonias
Keterangan: Persen dalam tanda kurung menunjukkan koefisien keragaman; n=jumlah sampel yang diamati
Tabel 3 menyajikan ukuran-ukuran linear kepala pada marga Sterna, yang
meliputi Sterna anaethetus anaethetus, Sterna bergii cristatus, Sterna fuscata
nubilosa, Sterna sumatrana sumatrana dan Sterna albifrons sinensis. Koefisien
keragaman ukuran-ukuran linear kepala pada marga ini berkisar antara
1,84%-15,89%. Sterna anaethetus anaethetus memiliki koefisien keragaman ukuran-ukuran
24 pada marga Sterna. Koefisien keragaman ukuran-ukuran linear kepala terendah
dimiliki subspesies Sterna albifrons sinensis berkisar antara 2,78%-7,04% dan
koefisien keragaman yang paling tinggi ditunjukkan pada subspesies Sterna
anaethetus anaethetus yang berkisar antara 3,22%-15,89%.
Tabel 3. Ukuran-ukuran Linear Peubah Kepala Burung Dara Laut Jantan dan Betina pada Marga Sterna
Subspesies Jenis
Keterangan: Persen dalam tanda kurung menunjukkan koefisien keragaman; n=jumlah sampel yang diamati
Status konservasi subspesies yang diamati pada marga Sterna adalah Least
Concern atau tidak memerlukan perhatian khusus (BirdLife International,
2011d,e,f,g,h). Koefisien keragaman yang cukup tinggi pada semua subspesies
menunjukkan bahwa kemungkinan punah masih kecil. Hal tersebut sesuai dengan
Docstoc (2010) yang menyatakan bahwa semakin besar ukuran populasi suatu
subspesies, maka semakin besar keragaman genetik, sehingga semakin kecil
25 Keragaman fenotipik pada setiap individu ditentukan faktor genetik dan
lingkungan dan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Koefisien keragaman
pada burung dara laut yang diamati, menunjukkan keragaman pada ukuran-ukuran
linear kepala. Koefisien keragaman yang dihasilkan dipengaruhi heterogenitas dan
selang perlakuan. Heterogenitas tersebut terdiri atas heterogenitas alat, bahan, media,
dan lingkungan percobaan; sedangkan selang perlakuan yang semakin lebar akan
memperbesar nilai koefisien keragaman yang dihasilkan (Syahid, 2009). Koefisien
keragaman yang tinggi mengindikasikan keragaman yang tinggi dan sebaliknya.
Salamena et al. (2007) menjelaskan bahwa keragaman dalam suatu populasi dapat
menurun karena adanya seleksi, terjadi silang dalam dan kematian. Hal tersebut
dapat mengurangi jumlah populasi, sehingga keragaman genetik rendah dan
menunjukkan semakin besar kemungkinan spesies tersebut punah.
Hasil Statistik T2-Hotelling
Hasil statistik T2-Hotelling menjelaskan perbedaan ukuran-ukuran linear
kepala antara dua subspesies yang diamati secara serempak. Tabel 4 menyajikan
rekapitulasi hasil uji statistik T2-Hotelling antara setiap dua subspesies semua
subspesies burung dara laut yang diamati.
Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Uji Statistik T2-Hotelling antara Subspesies Burung yang Diamati
Subspesies 1 2 3 4 5 6 7
2 **
3 ** **
4 ** ** **
5 ** ** ** **
6 ** ** ** ** **
7 ** ** ** ** ** **
8 ** ** ** ** ** ** **
Keterangan: 1= Anous minutus worcesteri; 2= Anous stolidus pileatus; 3= Chlidonias hybrida javanica; 4= Sterna albifrons sinensis; 5= Sterna anaethetus anaethetus; 6= Sterna bergii cristatus; 7= Sterna fuscata nubilosa; 8=Sterna sumatrana sumatrana; **=berbeda sangat nyata (p <0,01)
Berdasarkan Tabel 4, ditemukan perbedaan ukuran-ukuran linear kepala