• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tradisi Rantangan Sebagai Modal Sosial di Kalangan Suku Jawa (Studi Kasus di Desa Urung Pane, Kabupaten Asahan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Tradisi Rantangan Sebagai Modal Sosial di Kalangan Suku Jawa (Studi Kasus di Desa Urung Pane, Kabupaten Asahan)"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

Tradisi Rantangan Sebagai Modal Sosial di Kalangan Suku Jawa

(Studi Kasus di Desa Urung Pane Kecamatan Setia Janji Kabupaten Asahan)

Disusun Oleh: Fitria (Nim: 090901021)

DEPARTEMEN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ABSTRAK

Orang Jawa sangat memegang teguh pepatah yang mengatakan: ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Ini merupakan konsep dasar hidup bersama yang penuh kesadaran dan tanggung jawab. Dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, khususnya orang Jawa yang ada di desa Urung Pane Kecamatan Setia Janji, mempunyai pola hidup yang berbeda. Kebiasaan hidup secara berkelompok menyebabkan rasa diri mereka sedemikian dekat satu dengan lainnya, sehingga saling menolong merupakan sebuah kebutuhan. Di dalam tradisi rantangan terdapat beberapa modal sosial. Hakikat modal sosial adalah hubungan sosial yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari warga masyarakat. Hubungan sosial mencerminkan hasil interaksi sosial dalam waktu yang relatif lama sehingga menghasilkan jaringan, pola kerjasama, pertukaran sosial, saling percaya, termasuk nilai dan norma yang mendasari hubungan sosial tersebut.

Adanya tradisi tersebut merupakan bentuk modal sosial yang menimbulkan rasa saling percaya, adanya kerja sama antar jaringan, serta solidaritas diantara sesama suku Jawa. Kepercayaan akan menimbulkan kewajiban sosial dengan mempercayai seseorang akan menimbulkan kepercayaan kembali dari orang tersebut (resiprositas). Selain itu tradisi rantangan juga membantu mengurangi biaya pengeluaran saat mengadakan suatu pesta yang menimbulkan adanya tindakan resiprositas yang dilakukan oleh Suku Jawa yang sedang membutuhkan pertolongan di masa mendatang, sehingga hal ini akan memperkuat rasa saling percaya antara Suku Jawa.

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Dengan menggunakan metode ini peneliti dapat dengan mudah untuk mendapatkan informasi dan data yang jelas serta terperinci mengenai tradisi rantangan sebagai modal sosial di kalangan suku Jawa di Desa Urung Pane Kecamatan Setia Janji Kabupaten Asahan, serta melihat bagaimana tradisi rantangan itu di lakukan di kalangan suku Jawa.

(3)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbilalamin penulis ucapkan kepada Allah SWT. Berkat rahmat_Nya penulis telah mampu menyelesaikan skripsi dengan judul “Tradisi Rantangan Sebagai Modal Sosial di Kalangan Suku Jawa (Studi Kasus di Desa Urung Pane, Kabupaten Asahan)” guna memperoleh gelar sarjana sosial di Departemen Sosiologi Universitas Sumatera Utara.

Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis tentu menemukan berbagai hambatan dan tantangan diantaranya dalam hal pembagian waktu untuk menyelesaikan penulisan skripsi dan waktu untuk kegiatan organisasi dan kerja ketika itu. Namun, berkat rahmat dari Allah SWT dan dukungan dari semua pihak akhirnya penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan maksimal.

Terimakasih dan limpahan doa penulis persembahkan kepada Ibunda dan Ayahanda tercinta yang selama ini telah memberikan limpahan kasih sayang yang sangat berharga kepada penulis. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Bapak Dr.Sismudjito, M.Si selaku pembimbing skripsi yang telah dengan sabar memberikan bimbingan yang sangat berarti demi selesainya skripsi ini dengan baik.

Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr.dr. Syahril Pasaribu, D.T.M&H., MSc. (C.T.M), Sp.A.(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

(4)

3. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si selaku Ketua Departemen Sosiologi bersama seluruh staf Departemen Sosiologi.

4. Bapak Drs. Henry Sitorus, M.Si selaku Dosen Wali Penulis.

5. Bapak dan Ibu Dosen pengajar di Departemen Sosiologi yang telah memberikan ilmunya yang sangat bermanfaat.

6. Bapak/Ibu tim penguji skripsi.

7. Kepada Masyarakat Desa Urung Pane Kabupaten Asahan pada khususnya yang telah menjadi bagian dari proses penelitian dan pengambilan data.

8. Adik-adik tercinta; Ismayuni, Junaidi, Rama, Dandi, dan Kanza Khairunnisa. Terimakasih untuk semuanya, doa dan dukungannya yang selalu hadir disaat suka maupun duka. Kakak mencintai adik-adik semua karena Allah.

9. Teman-teman PKL kelompok Pantai Labu: Syahid, Yohan, Edi, Christian, May, Sri, Heny, Lilis, Welly, Onka, Siti, dan Sopia Winda.

10.Teman-teman Sosiologi angkatan 2009; Nela, Putri, Qory Turnip, Willer, Serdita, Bernita, Rani, Siska, Melita, Bertha, Elisabet Ambarita, Elisabet Sitohang, dan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Perjuangan kita akan menjadi memori indah dan pelajaran yang tak terlupakan.

(5)

12.Teman-teman seperjuangan Bima, Syahid, Zikri, Yayuk, Nela, Uni, dan seluruh rekan-rekan UKMI As-Siyasah FISIP USU. 13.Adik-adik Mentee tercinta: Novi, Ernita, Aisyah, Dwi, Ismi, Liza,

Nidia, Ade, Mei, Suci, Rici, Intan, Misnah, Eka, Awa, Lasni, Devi, Poetri Azela, Welni, Helen, Nur atika, Ama dan yang lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Terimakasih untuk semua doa dan dukungannya yang selalu menjadi penyemangat penulis skripsi.

14.Keluarga Besar Paguyuban KSE USU, yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang sudah banyak membantu dalam hal financial dan menjadi sahabat serta keluarga selamanya.

15.Teman seperjuangan wirausaha baik RUMBANG ataupun KOMANG: Bang Rama (Si abang Super Duper), Bang Dicky (Si abang Super Gokil ), Fendi (Si kawan Super PD), Dani (Si adikkan super Bawel). Terimakasih atas do’a, kebersamaan, semangat serta dukungannya selama ini. Perjuangan serta kebersamaan kita akan menjadi kenangan terindah yang takkan pernah terlupakan.

16.Keluarga besar satu kontrakan Azzahra no. 9 G ; Kak Uji Junika, Yayuk Yusdiawati, Vita Pratiwi, Dinda Aprianti, dan Pristia. Terimakasih atas semangat serta do’anya selama ini. Kebersamaan kita akan menjadi memori indah yang tak pernah terlupakan.

(6)

18.Terimakasih buat kakak tersayang dan tercinta Pratiwi Nurhabibi, walaupun jauh dimata tetapi dekat dihati serta selalu menjadi penyemangat bagi penulis skripsi.

Mudah-mudahan jasa-jasa semuanya yang telah diberikan kepada penulis dapat menjadi pahala yang berharga dan menuai hasil dari apa yang telah diberikan. Semoga kebaikan akan selalu bersama dengan kita semua, Aamiin.

Penulis menyadari skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan keilmuan bagi pembaca sekalian. Atas perhatian para pembaca, penulis mengucapakan terimakasih.

Medan, Oktober 2014 Penulis

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I : PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah ... 1

1.2.Perumusan Masalah ... 9

1.3.Tujuan Penelitian... 9

1.4.Manfaat Penelitian ... 9

1.5.Defenisi Konsep ... 10

BAB II : KAJIAN PUSTAKA 2.1.Modal Sosial ... 12

2.2.1. Jaringan Sosial (social networks) ... 16

2.2.2 Kepercayaan (Trust) ... 18

2.2.3. Nilai dan Norma Sosial ... 20

BAB III : METODE PENELITIAN 3.1.Jenis Penelitian ... 22

3.2.Lokasi Penelitian ... 23

3.3.Unit Analisis dan Informan ... 23

3.3.1 Informan ... 23

(8)

3.4.2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder ... 25

3.5. Interpretasi Data ... 26

3.6.Jadwal Kegiatan ... 26

3.7.Keterbatasan Penelitian ... 26

BAB IV TEMUAN DAN INTERPRETASI DATA 4.1.Deskripsi Lokasi Penelitian ... 28

4.1.1. Kondisi Geografis Desa Urung Pane ... 28

4.1.2. Kondisi Demografis ... 30

4.2.Profil Informan ... 33

4.2.1. Karakteristik Informan ... 33

4.2.1.1. Profil Informan Kunci ... 34

4.2.2.1. Profil Informan Biasa ... 44

4.3.Sejarah Tradisi Rantangan di Kalangan Suku Jawa ... 46

4.4.Berbagai Kegiatan Acara yang Memberikan Rantangan ... 50

4.5.Tradisi Rantangan Dahulu Dengan Tradisi Rantangan Sekarang ... 52

4.6.Rantangan Dijadikan Instrumen (alat) Masyarakat Untuk Mencari Materi ... 56

4.7.Tradisi Rantangan Sebagai Modal Sosial dalam Pembangunan ... 58

4.8.Membangun Trust ( Kepercayaan) dalam Tradisi Rantangan ... 63

(9)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.Kesimpulan ... 66 5.2.Saran ... 67 DAFTAR PUSTAKA ... 69

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Luas Setiap Dusun di Desa Urung Pane... 28

Tabel 2 Luas Lahan Menurut Peruntukkan di Desa Urung Pane ... 29

Tabel 3 Jumlah Kepala Keluarga di Desa Urung Pane... 30

Tabel 4 Komposisi Penduduk ... 31

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Proses Wawancara dengan informan ... 72

Gambar 2 Proses Pembuatan Rantangan ... 72

Gambar 3 Proses Wawancara dengan informan ... 73

(12)

ABSTRAK

Orang Jawa sangat memegang teguh pepatah yang mengatakan: ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Ini merupakan konsep dasar hidup bersama yang penuh kesadaran dan tanggung jawab. Dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, khususnya orang Jawa yang ada di desa Urung Pane Kecamatan Setia Janji, mempunyai pola hidup yang berbeda. Kebiasaan hidup secara berkelompok menyebabkan rasa diri mereka sedemikian dekat satu dengan lainnya, sehingga saling menolong merupakan sebuah kebutuhan. Di dalam tradisi rantangan terdapat beberapa modal sosial. Hakikat modal sosial adalah hubungan sosial yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari warga masyarakat. Hubungan sosial mencerminkan hasil interaksi sosial dalam waktu yang relatif lama sehingga menghasilkan jaringan, pola kerjasama, pertukaran sosial, saling percaya, termasuk nilai dan norma yang mendasari hubungan sosial tersebut.

Adanya tradisi tersebut merupakan bentuk modal sosial yang menimbulkan rasa saling percaya, adanya kerja sama antar jaringan, serta solidaritas diantara sesama suku Jawa. Kepercayaan akan menimbulkan kewajiban sosial dengan mempercayai seseorang akan menimbulkan kepercayaan kembali dari orang tersebut (resiprositas). Selain itu tradisi rantangan juga membantu mengurangi biaya pengeluaran saat mengadakan suatu pesta yang menimbulkan adanya tindakan resiprositas yang dilakukan oleh Suku Jawa yang sedang membutuhkan pertolongan di masa mendatang, sehingga hal ini akan memperkuat rasa saling percaya antara Suku Jawa.

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Dengan menggunakan metode ini peneliti dapat dengan mudah untuk mendapatkan informasi dan data yang jelas serta terperinci mengenai tradisi rantangan sebagai modal sosial di kalangan suku Jawa di Desa Urung Pane Kecamatan Setia Janji Kabupaten Asahan, serta melihat bagaimana tradisi rantangan itu di lakukan di kalangan suku Jawa.

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang majemuk atau heterogen. Bangsa Indonesia mempunyai beraneka ragam suku bangsa, budaya, agama, dan adat istiadat (tradisi). Semua itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, misalnya dalam upacara adat, rumah adat, baju adat, nyanyian dan tarian daerah, alat musik, ataupun makanan khas. Di Indonesia ada berbagai macam suku bangsa yang merupakan sumber kebudayaan nasional. Suku bangsa adalah suatu kelompok masyarakat yang terikat kesatuan budaya, bahasa, dan tempat tinggal. Oleh karena itu, setiap suku bangsa memiliki bahasa yang berbeda, tradisi dan kebudayaannya juga berbeda. Jumlah suku bangsa di Indonesia kurang lebih 300 suku bangsa dan setiap masing-masing suku menyebar di seluruh penjuru Indonesia. Salah satunya adalah suku Jawa.

Suku Jawa adalah salah satu suku yang terdapat di Indonesia dan merupakan suku yang memiliki populasi terbesar di pulau Jawa, bahkan di Indonesia. Populasi suku Jawa diperkirakan lebih dari 40% dari total jumlah penduduk Indonesia, yaitu sekitar 100 juta orang. Suku Jawa hampir ada di segala penjuru Indonesia, mulai dari daerah provinsi Sumatra Utara hingga ke wilayah paling timur Indonesia, yaitu provinsi Papua.

(14)

ditempatkan di beberapa daerah, seperti pertama kali di Sumatra Utara, sebagai buruh-buruh kontrak di perkebunan, yang dilanjutkan ke daerah-daerah lain

(http://deutromalayan.blogspot.com/2012/10/suku-jawa.html/diakses pada tanggal 01 Juli 2013).

Suku Jawa merupakan penduduk asli pulau Jawa bagian tengah dan timur, kecuali pulau Madura. Mereka yang menggunakan bahasa Jawa dalam kesehariannya untuk berkomunikasi juga termasuk dalam suku Jawa, meskipun tidak secara langsung berasal dari pulau Jawa. Di zaman sekarang banyak suku Jawa hidup di pulau-pulau lain sebagai pegawai, anggota ABRI, ahli teknik, guru, dan juga sebagai transmigran. (Franz Magnis-Suseno, 1984:11-12)

Dalam masyarakat Jawa terdapat penggolongan sosial yang pernah dibahas oleh seorang antropolog dari Amerika Serikat bernama Clifford Geertz di dalam bukunya yang berjudul The religion of Java, Ia membagi suku Jawa dalam tiga golongan, yaitu:

1. Kaum santri

Golongan ini adalah mereka yang memeluk agama Islam dan menganut agama Islam sebagai jalan hidupnya.

2. Kaum Abangan

(15)

diantara mereka beragama islam, namun demikian kewajiban-kewajiban yang terdapat di dalam rukun islam tidak dijalankan secara utuh.

3. Kaum Priyayi

Kaum priyayi adalah mereka yang bekerja sebagai pegawai atau para cendikiawan. Mereka pada umumnya bekerja untuk pemerintah atau swasta dengan status sosial yang lebih tinggi dari orang kebanyakan.

Suku Jawa terkenal karena keramahan dan sopan santun apabila berbicara dengan orang lain. Mereka juga tidak mudah tersinggung dalam menghadapi orang lain, mereka juga suka bercanda dan periang, serta bisa menempatkan diri dihadapan kelompok etnis lain. Karena sifat dan karakter seperti inilah yang membuat mereka bisa hidup dan berbaur dengan suku bangsa dari mana saja. Selain itu, sifat gotong-royong atau saling membantu sesama orang di lingkungan hidupnya akan selalu terlihat di dalam setiap sendi kehidupannya baik itu suasana suka maupun duka.

(16)

dan tanggung jawab. Kita harus mengakui bahwa kehidupan orang jawa memang begitu spesifik. Dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia, bahkan yang ada di dunia, orang Jawa mempunyai pola hidup yang berbeda. Kebiasaan hidup secara berkelompok menyebabkan rasa diri mereka sedemikian dekat satu dengan lainnya, sehingga saling menolong merupakan sebuah kebutuhan. Mereka selalu memberikan pertolongan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan. Bahkan dengan segala cara mereka ikut membantu seseorang keluar dari permasalahan, apalagi jika sesaudara atau sudah menjadi teman

(http://ihwan42.blogspot.com/2013/01/sifat-dan-karakter-orang-jawa.html/diaksespada tanggal 01 Juli 2013)

Dengan pernyataan demikian, lalu muncul semacam tradisi. Menurut Ougburn and Nimkoff (dalam Sismudjito:40) menunjukkan bahwa tradisi adalah suatu bentuk collective habits (customs) yang telah menempuh usia yang panjang.

(17)

sekaligus juga mengatur penggunaan sanksi dan ancaman terhadap pelanggaran dan penyimpangan.

Sebagai sistem budaya, tradisi akan menyediakan seperangkat model untuk bertingkah laku yang bersumber dari sistem nilai dan gagasan utama (vital). Sistem nilai dan gagasan utama ini akan terwujud dalam sistem ideologi, sistem sosial, dan sistem teknologi. Sistem ideologi meliputi etika, norma, dan adat istiadat. Ia berfungsi memberikan pengarahan atau landasan terhadap sistem sosial, yang meliputi hubungan dan kegiatan sosial masyarakatnya. Perkembangan suatu tradisi yang ada didalam masyarakat biasanya berkembang mengikuti zaman. Dan itu semua tergantung dengan masyarakat yang ada didalamnya, apakah mereka tetap akan mempertahankan tradisi yang sejak dahulu pernah ada, atau memperbahuruinya dengan memasukkan nilai dan norma yang baru ke dalam tradisi tersebut dengan mengikuti batasan-batasan ataupun aturan-aturan yang sesuai dengan tradisi tersebut.

(18)

ada di sekitarnya dengan cara membantu menyumbangkan tenaga bagi tetangga untuk urusan memasak dan menyiapkan pesta adat atau jamuan makan pernikahan (http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2013/01/15/622/Korel asi-Tradisi-Rewang-dengan-Kesadaran-Sosial/diakses pada tanggal 01 Juli 2013).

Selain tradisi Rewang, di Sumatera Utara banyak juga kita temukan masyarakat suku Jawa yang masih menjalankan tradisi-tradisi lain yang ada di dalam masyarakat Suku Jawa, salah satunya yaitu di desa Urung Pane Kabupaten Asahan, Kisaran. Desa Urung Pane merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Setia Janji, Kisaran. Jumlah penduduk yang ada di desa tersebut sebesar 3.304 jiwa. Mayoritas masyarakatnya adalah suku Jawa, karena Sekitar 2.202 jiwa masyarakatnya adalah suku Jawa. Mata pencaharian masyarakat yang ada disana mayoritas bertani dan berdagang. Di dalam masyarakat Suku Jawa tersebut ada semacam tradisi yang dikenal yaitu Tradisi Rantangan atau bisa juga disebut tonjokan. Rantangan adalah suatu hantaran berupa makanan seperti nasi dan lauk pauk yang di isi di dalam rantang yang diberikan kepada tetangga, saudara, kerabat dan orang tua ketika mengadakan suatu acara. Maksud dari adanya rantangan yang diberikan tersebut adalah merupakan suatu sedekah untuk orang lain karena bentuk rasa syukur dan berbagi rasa kebahagiaan dari acara yang telah dilakukan, serta si perantang juga mohon didoakan kepada orang yang dirantang agar acara yang dilakukan menjadi berkah. Biasanya rantangan ini diberikan pada saat mengadakan suatu acara seperti syukuran dan pesta. Baik pesta pernikahan, khitanan ataupun mengayunkan (menabalkan nama) anak.

(19)

pengharapan doa kepada orang yang dirantang, tetapi kini sudah menjadi ajang atau wadah untuk mencari materi. Semua orang berlomba-lomba untuk mengadakan suatu acara dan melakukan rantangan. Agar mendapatkan keuntungan dari orang yang dirantang. Karena biasanya apabila seseorang melakukan rantangan berharap untuk mendapatkan balasan berupa sumbangan amplop (uang) sebagai bentuk rasa ucapan terima kasih karena sudah dirantang. Bagi orang yang sudah mendapatkan rantangan juga mau tidak mau untuk bisa hadir dalam acara tersebut. Karena rantangan tersebut juga merupakan penggantinya surat undangan.

Fungsi rantangan tersebut sudah bergeser menjadi sebagai modal sosial. Berubahnya fungsi tersebut awalnya karena timbul rasa ingin kerja sama dan saling percaya yang terjadi diantara orang yang merantang dan yang dirantang. Modal sosial yang berupa kepercayaan yang berasal dari sebuah jaringan di dalam masyarakat yang memungkinkan masyarakat saling bersatu dengan yang lain dan memberikan kontribusi pada peningkatan modal sosial. Adapun bentuk kepercayaan diatas dapat diartikan sebagai bentuk saling percaya antara anggota kelompok yang didasari dengan pengharapan melalui interaksi sosial dimana antara Suku Jawa tersebut akan saling menguntungkan dalam hal ini baik moril maupun materil. Harapan yang dimaksud menunjuk pada suatu yang akan terjadi dimasa yang akan datang melalui tindakan resiprositas yang dilakukan oleh Suku Jawa tersebut yang sedang membutuhkan pertolongan, sehingga hal ini akan memperkuat rasa saling percaya antara Suku Jawa.

(20)

kepercayaan yang kuat mampu membentuk kerja sama dan saling percaya. Nilai dan norma tidak dapat dipisahkan dari jaringan dan kepercayaan. Nilai merupakan suatu ide yang telah turun temurun dan dipatuhi serta dianggap penting untuk dilaksanakan oleh kelompok masyarakat. Pada suku Jawa, norma dan nilai yang menyangkut adalah sikap saling menghormati kepada sesamanya terutama kepada orang tua.

Melihat elemen-elemen yang mendasari lahirnya tradisi rantangan sebagai modal sosial, yaitu adanya kepercayaan, jaringan sosial, dan nilai-nilai atau norma maka rantangan dapat dikatakan sebagai salah satu potensi modal sosial, dimana kita dapat melihat modal sosial bekerja secara efektif. Elemen-elemen modal sosial yang bekerja dengan baik akan melahirkan bentuk-bentuk modal sosial.

Kajian modal-modal sosial tersebut yaitu:

1. Saling percaya (trust), yang meliputi adanya kejujuran (honesty), kewajaran (fairness), sikap egaliter (egaliterianisme), toleransi (tolerance) dan kemurahan hati (generosity).

2. Jaringan sosial (network), yang meliputi adanya partisipasi (participation), pertukaran timbal balik (resiprocity), solidaritas (solidarity), kerja sama (cooperation), keadilan (equity).

(21)

unit sosial, seperti keluarga, komunitas, asosiasi sukarela, Negara, dan lain sebagainya (Badaruddin, 2005:31)

Dengan demikian di dalam tradisi rantangan terdapat modal sosial berupa kerja sama, jaringan sosial, kepercayaan, nilai dan norma yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Karena pada dasarnya tradisi rantangan tersebut dibangun atas dasar saling kerja sama yang nantinya bisa saling menguntungkan baik moril maupun materil.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan yang diteliti adalah “Bagaimana tradisi rantangan sebagai modal sosial dikalangan suku Jawa di desa Urung Pane Kabupaten Asahan”?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis serta melihat tradisi rantangan sebagai modal sosial dikalangan suku Jawa.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

(22)

menambah rujukan bagi mahasiswa Sosiologi Fisip USU mengenai penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini.

b. Manfaat praktis : Bagi penulis, penelitian ini dapat mengasah penulis dalam membuat karya tulis ilmiah serta menambah pengetahuan penulis mengenai masalah yang diteliti.

1. 5 Definisi Konsep

Dalam sebuah penelitian ilmiah, definisi konsep sangat diperlukan untuk memfokuskan penelitian sehingga memudahkan penelitian. Konsep adalah definisi, abstraksi mengenai gejala atau realita ataupun suatu pengertian yang nantinya akan menjelaskan suatu gejala (Meleong, 2006:67). Disamping berfungsi untuk memfokuskan dan mempermudah penelitian, konsep ini juga berfungsi sebagai panduan yang nantinya digunakan peneliti untuk menindak lanjuti sebuah kasus yang diteliti dan menghindari terjadinya kekacauan akibat kesalahan penafsiran dalam sebuah penelitian. Adapun konsep yang digunakan sesuai dengan konteks penelitian ini antara lain adalah:

1. Menurut Ougburn and Nimkoff menunjukkan bahwa tradisi adalah suatu bentuk collective habits (customs) yang telah menempuh usia yang panjang.

2. Rantangan (Tonjokan) adalah hantaran berupa makanan yang diberikan ketika akan mengadakan pesta baik itu pesta pernikahan, sunnatan rasul, ataupun mengayunkan kepada tetangga ataupun kerabatnya.

(23)

4. Suku Jawa adalah merupakan penduduk asli pulau Jawa bagian tengah dan timur, kecuali pulau Madura. Selain itu, mereka yang menggunakan bahasa Jawa dalam kesehariannya untuk berkomunikasi juga termasuk dalam suku Jawa, meskipun tidak secara langsung berasal dari pulau Jawa.

5. Jaringan sosial menurut George Ritzer dalam Ritzer dan goodman (2004:382) merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antara banyak individu dalam suatu kelompok dengan kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya.

6. Solidaritas sosial menurut Soerjono Soekanto (2002: 68-69) solidaritas sosial merupakan kohesi yang ada antara anggota suatu asosiasi, kelompok, kelas sosial atau kasta, dan diantara berbagai pribadi, kelompok maupun kelas-kelas membentuk masyarakat dan bagian-bagiannya. Solidaritas ini menghasilkan persamaaan, saling ketergantungan, dan pengalaman yang sama, merupakan unsur pengikat bagi unit-unit kolektif seperti keluarga, kelompok atau komunitas tertentu.

(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2. 1. Modal Sosial

Konsep modal sosial menawarkan betapa pentingnya suatu hubungan. Dengan membagun suatu hubungan satu sama lain, dan memeliharanya agar terjalin terus, setiap individu dapat bekerjasama untuk memperoleh hal-hal yang tercapai sebelumnya serta meminimalisasikan kesulitan yang besar. Modal sosial menentukan bagaimana orang dapat bekerja sama dengan mudah.

Hakikat modal sosial adalah hubungan sosial yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari warga masyarakat. Hubungan sosial mencerminkan hasil interaksi sosial dalam waktu yang relatif lama sehingga menghasilkan jaringan, pola kerjasama, pertukaran sosial, saling percaya, termasuk nilai dan norma yang mendasari hubungan sosial tersebut (Ibrahim, 2006:110).

Modal sosial tidak hanya terbatas pada kajian kehidupan sosial semata. Ide sentral dari modal sosial adalah bahwa jaringan-jaringan sosial merupakan suatu asset yang bernilai. Jaringan-jaringan menyediakan suatu basis bagi kohesi sosial karena menyanggupkan orang untuk bekerjasama satu sama lain dan bukan hanya dengan orang yang mereka kenal secara langsung agar saling menguntungkan. Keanggotaan jaringan-jaringan dan seperangkat nilai-nilai yang dibagi bersama merupakan inti dari konsep modal sosial (Field, 2005:16).

(25)

Menurutnya bahwa modal sosial berhubungan dengan modal-modal lainnya, seperti modal ekonomi dan modal budaya. Ketiga modal tersebut akan berfungsi efektif jika kesemuanya memiliki hubungan. Modal sosial dapat digunakan untuk segala kepentingan dengan dukungan sumberdaya fisik dan pengetahuan budaya yang dimiliki, begitu pula sebaliknya.dalam konteks hubungan sosial, eksistensi dari ketiga modal (modal sosial, modal ekonomi dan budaya) tersebut merupakan garansi dari kuatnya suatu ikatan hubungan sosial.

Modal sosial atau Social Capital merupakan sumber daya yang dipandang sebagai investasi untuk mendapatkan sumber daya baru. Sumber daya yang digunakan untuk investasi, disebut dengan modal. Modal sosial cukup luas dan kompleks. Modal sosial disini tidak diartikan dengan materi, tetapi merupakan modal sosial yang terdapat pada seseorang. Misalnya pada kelompok institusi keluarga, organisasi, dan semua hal yang dapat mengarah pada kerjasama. Modal sosial lebih menekankan pada potensi kelompok dan pola-pola hubungan antar individu dalam suatu kelompok dan antar kelompok, dengan ruang perhatian pada kepercayaan, jaringan, norma dan nilai yang lahir dari anggota kelompok dan menjadi norma kelompok.

Pemanfaatan modal sosial yang saling menguntungkan antar sesama suku Jawa melalui rantangan merupakan tali pengikat antara satu sama lain. Artinya, terpenuhinya kepentingan-kepentingan setiap individu-individu dalam memeperoleh keuntungan ekonomi melalui tradisi rantangan tersebut.

(26)

yang semakin solid. Keterkaitan dan konsintensi elemen-elemen modal sosial pada suatu interaksi sosial akan berpengaruh positif terhadap penciptaan koordinasi-koordinasi dan kerjasama yang akan menguntungkan satu sama lainnya.

Nilai-nilai sosial yang positif dapat dilihat dari besarnya tingkat kepercayaan dalam masyarakat dan organisasi sosial yang bertahan. Nilai-nilai sosial yang positif tersebut antara lain adalah kepercayaan (trust), jaringa n soaial (social network), dan pranata sosial (institutionts) yang merupakan elemen-elemen pokok dalam modal sosial. Modal sosial dapat dilihat dan ditemukan dalam masyarakat yang antar individunya terjalin interaksi dan komunikasi.

Lubis, dalam (Badaruddin, 2005:31) menjelaskan bahwa modal sosial adalah sumber daya yang berintikan elemen-elemen pokok yang mencakup : (1) Saling percaya (trust), yang meliputi adanya kejujuran (honesty), kewajaran (fairness), sikap egaliter (egaliterianisme), toleransi (tolerance) dan kemurahan hati (generosity), (2) Jaringan sosial (network), yang meliputi adanya partisipasi (participation), pertukaran timbal balik (resiprocity), solidaritas (solidarity), kerja sama (cooperation), keadilan (equity), (3) Pranata (institution), yang meliputi nilai-nilai yang dimiliki bersama (shared value), norma-norma dan sanksi-sanksi (norms and sanctions) dan aturan-aturan (rules).

Rudi Syahra, dkk. dalam (Kristina, 2003:60) menyebutkan bahwa modal sosial dapat dilihat dari :

(27)

orang lain, dengan keyakinan bahwa yang bersangkut an akan menepati janji atau memenuhi kewajibannya.

2. Solidaritas, kesediaan untuk secara sukarela ikut menanggung suatu konsekuensi sebagai wujud adanya rasa kebersamaan dalam menghadapi suatu masalah.

3. Toleransi, kesediaan untuk memberikan konsesi atau kelonggaran, baik dalam bentuk materi maupun non-materi sepanjang tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat prinsipil.

Modal sosial terletak pada bagaimana kemampuan masyarakat dalam suatu entitas atau kelompok untuk bekerjasama membangun suatu jaringan untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama tersebut diwarnai oleh suatu pola interelasi timbal balik dan Saling menguntungkan dan dibangun atas kepercayaan yang ditopang oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial yang positif dan kuat. Kekuatan tersebut akan maksimal jika didukung oleh semangat membuat jalinan hubungan diatas prinsip-prinsip yang telah disepakati bersama.

2.2.1. Jaringan Sosial (social networks)

Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa dalam bentuk yang formal maupun informal. Hubungan sosial adalah cerminan dari kerjasama dan koordinasi antarwarga yang didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprosikal (Ibrahim, 2002:67)

(28)

kenal. Secara lebih luas, ikatan-ikatan di antara manusia juga berperan sebagai dinding pembatas bagi struktur-struktur sosial yang lebih luas.

Jaringan lebih mobel dari pada hirarki. Dalam alokasi sumber daya ala jaringan, transaksi terjadi tidak melalui pertukaran yang terpisah atau restu administratif, tetapi melalui jaringan-jaringan individu yang terlibat dalam aksi-aksi timbal balik, saling mengutamakan, dan saling mendukung. Jaringan dapat bersifat kompleks; mereka tidak menerapkan kriteria pasar yang ekplisit, juga tidak memakai paternalisme yang biasanya terdapat dalam hirarki. Sebuah asumsi dasar dari hubungan jaringan adalah bahwa satu pihak tergantung pada sumber-sumber yang dikontrol oleh pihak lain, dan bahwa ada keuntungan yang bisa diperoleh dari penggabungan sumber daya. Intinya, pihak-pihak dalam jaringan setuju untuk tidak mengejar kepentingan diri sendiri dengan jalan merugikan yang lainnya. Powell ( dalam Hamilton, 1996:270)

(29)

pengelolaan organisasi yang lebih modern akan memiliki tingkat partisipasi anggota yang lebih baik dan memiliki rentang jaringan yang lebih luas.

Pada dasarnya modal sosial merupakan kerjasama yang dibangun dengan untuk mencapai tujuan. Kerjasama yang terjalin tercipta ketika telah terjadinya hubungan interaksi sosial sehingga menghasilkan jaringan kerjasama, pertukaran sosial, saling percaya dan terbentuknya nilai dan norma dalam hubungan interaksi tersebut.

2.2.2. Kepercayaan (Trust)

Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa trust itu berasal dari sebuah jaringan sebagai sumber penting tumbuh dan hilangnya trust. Dalam pandangan Francis Fukuyama, trust adalah sikap saling mempercayai di masyarakat yang memungkinkan masyarakat tersebut saling bersatu dengan yang lain dan memberikan kontribusi pada peningkatan modal sosial. Fukuyama berpendapat bahwa kepercayaan adalah pengharapan yang muncul dalam sebuah komunitas yang berperilaku normal, jujur dan kooperatif berdasarkan norma-norma yang dimiliki bersama. Adanya jaminan tentang kejujuran dalam komunitas dapat memperkuat rasa solidaritas dan sifat kooperatif dalam komunitas.

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30469/3/Chapter%20II.pdf/diaks es pada tanggal 28 Januari 2013)

(30)

atribut kolektif untuk mencapai tujuan-tujuan kelompok. Sedangkan pada tingkatan sistem sosial trust merupakan nilai yang berkembang menurut sistem sosial yang ada. Trust juga dipandang sebagai komponen ekonomi yang relevan pada kultur yang ada pada masyarakat dan membentuk kekayaan modal sosial.

Kepercayaan akan menimbulkan kewajiban sosial dengan mempercayai seseorang akan menimbulkan kepercayaan kembali dari orang tersebut (resiprositas). Menurut Homans dalam Munandir Soelaeman (2001:56-57) dikenal dengan teori pertukaran (exchange theory) antar pribadi. Antar-pribadi terjadi pertukaran karena keadaan internal (tidak mampu mengatasi keinginan atau kondisi), dan keadaan eksternal (ada konsensus nilai, pelembagaan). Dasar psikologis pertukaran, karena dukungan sosial dan faktor penguat, sehingga terjadi transaksi atau saling memberi, timbal balik, memperoleh keseimbangan emosional atas dasar pribadi. Dan dalam kaitannya dengan resiprositas dan pertukaran, Pretty dan Ward, dalam (Badaruddin, 2005:32) mengemukakan bahwa adanya hubungan-hubungan yang dilandasi oleh prinsip resiprositas dan pertukaran akan menumbuhkan kepercayaan karena setiap pertukaran akan dibayar kembali (repaid an balanced). Hal ini merupakan pelicin dari suatu hubungan kerjasama yang telah dibangun agar tetap konsisten dan berkesinambungan.

(31)

melekat kuat dan bertahan lama. Karena diantara orang-orang yang melakukan hubungan tersebut mendapat keuntungan timbal balik dan tidak ada salah satu pihak yang dirugikan. Disini hubungan telah memenuhi unsur keadilan (fairness) diantara sesama individu (Wafa, 2006:46).

Coleman, dalam (Wafa, 2006:60) menegaskan bahwa kelangsungan setiap transaksi sosial ditentukan adanya dan terjaganya trust (amanah atau kepercayaan) dari pihak-pihak yang terlibat. Artinya hubungan transaksi antara manusia sebagai individu maupun kelompok baik yang bersifat ekonomi maupun non-ekonomi hanya mungkin terjadi apabila ada kelanjutan trust atau rasa saling percaya dari pihak-pihak yang melakukan interaksi. Individu-individu yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi memungkinkan terciptanya organisasi-organisasi bisnis yang fleksibel yang mampu bersaing dalam ekonomi global.

2.2.3. Nilai dan Norma Sosial

(32)

menjadi tujuan kehidupan bersama, (b) Sesuatu yang menjadi pola-pola pedoman untuk mencapai tujuan dari kehidupan sosial, yang didalamnya terdapat seperangkat perintah dan larangan berikut sanksinya yang dinamakan sistem norma.

Norma-norma sosial (Social Norms) akan sangat berperan dalam mengontrol bentuk-bentuk perilaku yang tumbuh dalam masyarakat. Menurut Hasbullah (2006), pengertian norma itu sendiri adalah sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh anggota masyarakat pada suatu entitas (kelompok) tertentu. Norma-norma ini terinstusionalisasi dan mengandung sanksi sosial yang dapat mencegah individu berbuat sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Aturan-aturan tersebut biasanya tidak tertulis, akan tetapi dipahami oleh setiap anggota masyarakatnya dan menentukan pola tingkah laku yang diharapkan dalam konteks hubungan sosial.

Aturan-aturan kolektif itu misalnya menghormati orang lain, tidak mencurangi orang lain, kebersamaan dan lainnya. Apabila di dalam suatu komunitas masyarakat, asosiasi, group, atau kelompok, norma-norma tersebut tumbuh, dipertahankan dan kuat, maka akan memperkuat masyarakat itu sendiri. Inilah alasan mengapa norma-norma sosial merupakan salah satu unsur modal sosial yang akan merangsang keberlangsungan kohesifitas sosial yang hidup dan kuat.

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Dalam mengumpulkan data lapangan, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor dalam (Moleong, 2009:4) adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Dengan menggunakan penelitian kualitatif peneliti akan memperoleh informasi atau data yang lebih mendalam mengenai Tradisi Rantangan (Tonjokan) sebagai Modal Sosial dikalangan Etnis Jawa di desa Urung Pane, Kabupaten Asahan Kisaran. Penelitian kualitatif digunakan untuk melihat individu secara utuh serta berusaha untuk menggambarkan fenomena yang terjadi

(34)

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di desa Urung Pane Kabupaten Asahan, Kisaran. Alasan peneliti memilih daerah ini adalah dikarenakan daerah ini banyak masyarakatnya terutama masyarakat etnis jawa yang masih mengikuti atau menjalankan tradisi rantangan ketika akan mengadakan pesta, baik itu pesta pernikahan, sunnatan rasul ataupun mengayunkan anak. Dan karena penulis juga berada di lokasi tersebut.

3.3. Unit Analisis dan Informan

Unit analisis adalah satuan yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian (Arikunto, 1999:22). Adapun unit analisis dalam tradisi rantangan sebagai modal sosial yaitu masyarakat suku jawa yang masih menjalankan tradisi rantangan ketika akan mengadakan pesta, baik itu pesta pernikahan, sunattan rasul ataupun mengayunkan anak.

3.3.1 Informan

(35)

1. Informan kunci

Dalam penelitian ini yang menjadi informan kunci adalah masyarakat suku Jawa yang pernah pesta dan menjalankan tradisi rantangan serta pemuka adat suku Jawa.

2. Informan biasa

Dalam penelitian ini yang menjadi informan biasa adalah masyarakat yang tinggal di sekitar desa Urung Pane Kabupaten Asahan, Kisaran.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data Primer

Teknik pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian langsung ke lokasi penelitian (field research) untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Teknik pengumpulan data ini dilakukan dengan cara:

1. Metode Observasi

(36)

Dalam penelitian ini peneliti mengadakan pengamatan langsung dilapangan. Data yang diperoleh melalui observasi ini terdiri dari rincian tentang kegiatan, perilaku, dan tindakan orang. Hasil observasi ini kemudian dituangkan dalam bentuk catatan lapangan.

2.Metode Wawancara

Metode wawancara disebut juga metode interview. Metode wawancara merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara. Salah satu bentuk wawancara yang dipakai dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (dept interview). Wawancara mendalam yang dimaksudkan adalah percakapan yang sifatnya luwes, terbuka, dan tidak baku. Intinya adalah peneliti akan mengadakan pertemuan yang berulang kali secara langsung dengan informan, dengan harapan informan dapat mengungkap informasi atau data yang diharapkan dengan datanya sendiri.

3.4.2 Teknik Pengumpulan Data Sekunder

(37)

member keterangan sebagai pelengkap dan bahan pembanding (Bungin, 2001:129)

3.5 Interpretasi Data

Data yang dikerjakan sejak peneliti mengumpulkan data dilakukan secara intensif setelah pengumpulan data selesai dilaksanakan. Merujuk pada Lexy J. Moleong (2006:190), pengolahan data ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan (observasi) yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya.

Data tersebut setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah maka langkah selanjutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang yang terperinci, merujuk ke inti dengan menelaah pernyataan-pernyataan yang diperlukan sehingga tetap berada dalam fokus penelitian.

(38)

3.6 Jadwal Kegiatan

No Kegiatan Bulan ke-

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Pra Survey √

2 Acc Judul Penelitian √

3 Penyusunan Proposal √

4 Seminar Proposal √

5 Revisi Proposal √

6 Penelitian Lapangan √ √ √

7 Pengumpulan dan Analisis Data √ √

8 Bimbingan Skripsi √ √ √

9 Penulisan Laporan √ √ √

10 Sidang Meja Hijau √

3.7 Keterbatasan Penelitian

(39)
(40)

BAB IV

TEMUAN DAN INTERPRETASI DATA

4.1. Deskripsi Wilayah Desa Urung Pane

Desa Urung Pane adalah merupakan suatu desa yang berada diwilayah Kecamatan Setia Janji Kabupaten Asahan memiliki luas wilayah 2660 Ha atau ± 37,27 Km ² , kearah Timur dari Pusat Pemerintahan Kecamatan Setia Janji dan sekitar ± 25 Km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Asahan dengan batas dan perincian sebagai berikut :

 Sebelah Utara berbatas dengan Desa Sukadamai Barat Kecamatan Pulobandring

 Sebelah Selatan berbatas dengan Desa Sei Silau Timur Kecamatan Buntu Pane  Sebelah Timur berbatas dengan Desa Tanah Rakyat Kecamatan Pulobandring  Sebelah Barat berbatas dengan Desa Silau Maraja dan Desa Sei Silau Barat

Tabel 1

Luas Setiap Dusun di Desa Urung Pane

(41)

Desa Urung Pane berada pada ketinggian antara ± 20 m – 22 m diatas permukaan laut terletak di jalur lalu lintas antara Kecamatan Buntu Pane dengan Kecamatan Setia Janji.

Masyarakat yang bermukim di desa Urung Pane ini memiliki keragaman etnis dan latar belakang yang berbeda. Warga yang berasal dari suku Jawa mendominasi jumlah penduduk yang ada diwilayah ini. Dari data jumlah penduduk Desa Urung Pane, sekitar 67% merupakan suku Jawa.

Mata pencaharian warga masyarakat desa Urung Pane begitu beragam. Mulai dari pedagang, pengusaha, petani, karyawan perkebunan tukang batu hingga yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Akan tetapi yang paling mendominasi mata pencahariannya adalah petani. Selain itu juga di desa Urung Pane ini terdapat lahan yang dimanfaatkan oleh penduduk untuk kegiatan pertanian dan pemukiman. Secara rinci pemanfaatan lahan di desa Urung Pane dapat terlihat pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2

Luas Lahan menurut Peruntukkan di Desa Urung Pane Tahun 2010

No Peruntukkan Lahan Luas Presentase

1 Perkebunan Negara 488 Ha 18,3 %

2 Persawahan 110 Ha 4,13 %

3 Perkebunan Masyarakat 1.212 Ha 45,5 % 4 Perumahan/ Pemukiman 49 Ha 1,8 % 5 Perkantoran/ Sarana Sosial

(42)

d.Sekolah

e.Lapangan Olahraga f.Pasar Desa

g.Jalan Umum/ Jalan Dusun h.Saluran Irigasi

Status kepemilikkan lahan di Desa Urung Pane terbagi dalam tiga bagian yaitu :

Dari data tahun 2010-2011, tercatat jumlah penduduk desa Urung Pane sebanyak 3.304 jiwa yang terdiri atas 1.670 jiwa laki-laki dan 1.565 jiwa perempuan. Jika dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK), desa Urung Pane dihuni oleh 996 Kepala Keluarga, yakni:

Tabel 3

Jumlah Kepala Keluarga di desa Urung Pane

(43)

JUMLAH 751 245 996 Sumber: Data Desa Urung Pane Tahun 2010-2011(Belum ada data terbaru)

b. Komposisi Penduduk

Komposisi penduduk desa Urung Pane berdasarkan jenis kelamin dan agama terlihat pada tabel berikut:

3.304

37,27 × 1 jiwa Km⁄ = 88 jiwa Km ( 1,7 ⁄ jiwa m⁄ 2)

Tabel 4

Komposisi Penduduk

No Nama Dusun Jumlah Penduduk Agama

Lk Pr Total Islam Protestan Katolik Hindu Budha

Sumber: Data Desa Urung Pane Tahun 2010-2011(Belum ada data terbaru)

c. Kondisi Sosial Ekonomi

Desa Urung Pane adalah merupakan desa pertanian. Maka hasil ekonomi warga dan mata pencaharian warga sebagian besar adalah petani. Dari jumlah KK (996 KK) yang ada lebih kurang 593 KK adalah petani. Selebihnya 373 KK ada PNS, TNI/Polri, Pedagang, Karyawan Perkebunan dan lain-lain.

(44)

yaitu Rp.20.000 / hari dan jika dihitung perbulan hanya berpenghasilan Rp.600.000 dari kerja sebagai buruh tani/kebun.

d. Kondisi Sosial Budaya

Kehidupan masyarakat Desa Urung Pane sangat kental dengan tradisi-tradisi peninggalan leluhur. Upacara-upacara adat yang berhubungan dengan siklus hidup manusia (lahir-dewasa/berumah tangga-mati), seperti upacara kelahiran, khitanan, perkawinan hampir selalu dilakukan oleh warga masyarakat. Selain itu, tradisi bersih desa dan semacamnya juga masih dilakukan setiap tahun.

Kegotongroyongan masyarakat Desa Urung Pane masih sangat kuat. Kebiasaan saling membantu antar tetangga ataupun saudara masih sering terlihat, misalnya kebiasaan menjenguk orang sakit dengan memberi sumbangan berupa uang, kebiasaan saling membantu memperbaiki rumah atau membantu tetangga yang mengadakan perhelatan juga masih dilakukan dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang semua itu menggambarkan bahwa hubungan ketetanggaan di desa ini masih erat/kuat.

e. Sarana dan Prasarana

(45)

Tabel 5

Prasarana Perhubungan

No Jenis Prasarana Kuantitas/Panjang Keterangan

1. Jalan Kabupaten 5 Km Rusak ringan

2. Jalan Desa 13 Km 3 Km sudah pengerasan

3. Jalan Dusun 17 Km 2 Km sudah pengerasan

4. Jembatan 12 Unit 4 Rusak

Sarana transportasi yang paling banyak digunakan warga masyarakat adalah sepeda motor. Di desa ini belum ada sarana transportasi umum, seperti bus, mikrolet atau sejenisnya.

Jaringan listrik dari PLN sudah tersedia di desa ini, sehingga hampir semua rumah tangga menggunakan tenaga listrik untuk memenuhi keperluan penerangan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Beberapa rumah tangga semakin banyak yang menggunakan pompa listrik untuk mengambil air sumur.

Di seluruh wilayah desa, air bersih dapat diperoleh dari sumur gali (sumur bor). Sehingga masalah air bersih di Desan Urung Pane tidak masalah.

4.2. Profil informan

4.2.1. Karakteristik Informan

(46)

informan kunci dan informanan 2 (dua) orang informan biasa. Informan kunci yang terdiri dari 8 (delapan) orang yaitu terdiri dari 3 pemuka adat dan sisanya adalah orang-orang yang pernah melakukan tradisi rantangan saat pesta. Sedangkan informan biasa yang terdiri dari 2 (dua) orang yang tinggal disekitar desa Urung Pane Kabupaten Asahan.

4.2.1.1 Profil Informan Kunci

Nama : Mbah Marnak

Jenis kelamin : Laki-laki

Umur : 73 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Petani

Pendidikan : SD/SR

(47)

Di desa Buluh Cina, Mbah Marnak di kenal sebagai pemuka adat. Beliau banyak mengetahui tradisi-tradisi khususnya tradisi dalam masyarakat suku jawa. Dan salah satu tradisinya adalah tradisi rantangan. Baginya istilah rantangan tidak asing lagi bahkan sejak zaman nenek moyang kita sudah ada. Dan beliau sendiripun pernah melakukan tradisi rantangan saat mengadakan pesta beberapa kali. Beliau sudah pernah mengadakan pesta sebanyak 5 kali pesta, yaitu pada tahun 1983, 1986, 1989, 2002, dan 2011. Pada tahun itu semua sudah merangkap sekaligus saat pesta khitan ataupun pernikahan anak-anaknya.

4.2.1.2. Nama : Mbah Sirkum

Jenis kelamin : Laki-laki

Umur : 74 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Petani

Pendidikan : SD/SR

Mbah Sirkum yang biasa dikenal dengan tukang tratak itu adalah orang yang sangat di kenal di desa Urung Pane. Karena selain sebagai petani, beliau juga mempunyai usaha sewa tratak yang digunakan saat mengadakan suatu pesta. Selain sewa tratak beliau juga menyewakan berbagai macam peralatan untuk pesta mulai dari kursi, meja, piring, gelas, bahkan rantang yang biasa digunakan untuk merantang dan lain sebagainya. Selain itu beliau juga dikenal sebagai pemuka adat masyarakat suku Jawa yaitu sebagai dukun manten (istilah Jawa).

(48)

dan itu membawa keuntungan tersendiri bagi beliau saat sebagai orang yang mengadakan pesta. Karena ketika melakukan tradisi rantangan saat pesta akan mendapatkan keuntungan yang besar dari hasil sumbangan para penerima rantang. Keuntungan ini berupa uang yang dapat membantu mbah Sirkum dalam meningkatkan pendapatan saat pesta dan membantu membayar keperluan pengeluaran saat pesta.

4.2.1.3. Nama : Mbah Katem

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 65 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Pendidikan : SD/SR

Mbah Katem merupakan salah seorang warga yang tinggal di Dusun VII Dari Pane yaitu salah satu Dusun yang ada di desa Urung Pane yang memiliki 5 orang anak. Ketika peneliti mewawancarai beliau, beliau baru-baru saja mendapat kemalangan atas meninggalnya suami beliau tercinta. Namun, jika dilihat dari suasana saat mewawancarai beliau termasuk orang yang sangat periang dan tegar dalam menghadapi permasalahan yang ada.

(49)

musim orang pesta. Karena, jika sudah musim orang pesta beliau pernah mendapatkan rantang sebanyak 3 kali dalam seminggu atau bahkan jika dihitung dalam perbulan pernah mendapat rantang sebanyak 5 - 6 kali. Hal inilah terkadang yang menjadi beban bagi beliau apalagi jika saat musim rantangan kondisi tingkat perekonomian beliau sedang menipis karena pekerjaan sehari-hari mbah Katem adalah sebagai tukang cuci di tempat tetangganya. Maka dari hasil beliau jadi tukang cuci itulah beliau bertahan hidup dan bisa membayar sumbangan jika mendapat rantangan banyak.

4.2.1.4. Nama : Mastina

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 53 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Pendidikan : SD/SR

(50)

menurut beliau saat pesta pertama sekitar tahun 1990an rantangan itu tidak dipatokkan. Hanya untuk tetangga dan orang-orang tua saja. Namun, ketika pesta akhir-akhir tahun kemarin yaitu tahun 2012 saat menikahkan anak perempuannya beliau melakukan rantangan dengan mengikuti tradisi yang ada. Karena dilihat beliau banyak orang yang melakukan rantangan saat pesta, maka beliau juga ikut-ikutan merantang saat pesta dengan pukul rata orang-orang yang dirantangnya.

4.2.1.5. Nama : Tumina

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 53 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Pendidikan : SD/SR

Ibu Tumina yang merupakan warga desa Urung Pane ini istri dari pak Paiman. Beliau mempunyai 4 orang anak. Kesehariannya di dalam keluarga ialah ibu rumah tangga. Pekerjaan suaminya adalah karyawan harian di PTPN 3. Namun, sesekali beliau juga pernah pergi mencetak batu bata untuk mendapatkan uang tambahan. Ketika peneliti ingin mewawancarai beliau, beliau sedang duduk-duduk sore di depan rumah bersama ibu sales baju yang kebetulan juga ada pada waktu itu dan sekaligus sama-sama ikut diwawancarai. Nama sales baju tersebut adalah ibu Dewi (39). Beliau tinggal di kota Serdang Bedagai.

(51)

merasakan dirantang dan menyumbang. Akan tetapi, ibu Dewi ketika diwawancarai mengenai rantangan mengerti dan paham. Karena baginya rantangan juga tidak asing lagi terdengar ditelinganya.

Ibu Tumina pernah mengadakan pesta 2 kali, yaitu menikahkan putrinya. Ketika pesta beliau mengatakan tidak terlalu banyak merantang orang, hanya sekitar kurang dari 100 orang yan dirantang. Menurut beliau, walaupun rantangan yang dilakukannya tidak banyak akan tetapi orang yang datang sewaktu ketika beliau pesta banyak dan uang yang didapatkan dari hasil pesta juga banyak. Hal ini menurut beliau adalah karena kerabatnya banyak dan sudah sangat dekat. Walaupun tidak dirantang, tetapi kerabat-kerabatnya tahu serta ikut membantu dalam menyumbang.

Berbeda dengan pernyataan ibu Dewi, karena beliau belum pernah mengadakan pesta ataupun rantangan justru terkadang berat untuk selalu bisa menyumbang ketika dirantang. Apalagi sekarang beliau “harus menghidupi 3 (tiga) orang anak tanpa suami” ujar ibu Dewi. Beliau sudah lama bercerai dengan suaminya.

4.2.1.6. Nama : Mbah Saben

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 73 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Pendidikan : SD/SR

(52)

bungsunya. Karena rata-rata anak beliau sudah berkeluarga semuanya. Ketika mewawancarai beliau mengenai tradisi rantangan, beliau kelihatan sangat semangat. Baginya ini hal yang unik untuk ditanyai. Di dalam tradisi rantangan masyarakat suku Jawa menurut beliau itu sudah ada sejak Zaman nenek moyang kita. Namun, tujuannya berbeda dan berubah. Ketika zaman dahulu, tradisi rantangan diberikan kepada orang-orang ternama atau atasan kerja misalnya Mandor, Asisten. Bisa juga untuk orang tua yang dianggap sebagai penghormatan sesama saudara. Tujuannya adalah untuk menjalin silaturahim dan mempererat tali persaudaraan agar hubungan sosialnya semakin dekat. Dan rantangan ini tidak ada balasannya lagi bagi orang yang sudah dirantang terhadap orang yang merantang.

Berbeda dengan tradisi rantangan yang ada di zaman sekarang. Rantangan itu sudah digunakan ketika mengadakan suatu pesta. Dan orang-orang yang dirantangpun semuanya pukul rata dan tanpa memilih-milih.

“Asal kenal dan dekat, Ya pasti semua dirantang dan pukul rata. (Wawancara dengan mbah saben, 14 Juli 2014)

(53)

4.2.1.7. Nama : Supini Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 48 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Pendidikan : SD/SR

Ibu Supini merupakan ibu rumah tangga dari ke 3 (tiga) orang anaknya. 2 (dua) orang diantaranya adalah anak laki-laki dan 1 (satu) orang anak perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari ibu Supini bekerja membantu suaminya di Kebun. Beliau memiliki kebun cokelat dan sawit. Hasil dari kebun tersebut itulah mereka dapat bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, karena suaminya baru saja pension dari karyawan harian di PTPN 3, Kisaran.

Beliau menjelaskan bahwa sudah pernah mengadakan pesta sebanyak 2 kali, yaitu khitan dan menikahkan. Di dalam pesta beliau juga mengadakan tradisi rantangan sebagaimana yang telah dilakukan mayoritas masyarakat suku Jawa. Akan tetapi pernyataan beliau berbeda dengan informan-informan yang lainnya. Bagi beliau tradisi rantangan merupakan suatu sedekah terhadap orang lain dan tidak terlalu mengharap imbal balik bagi orang yang dirantang. Menurut pendapat beliau,

jika ada orang yang dirantang namun ia tidak datang menyumbang atau“mbalekne” itu tidak apa-apa. Yang penting tali persaudaraan kita terhadap tetangga, kerabat ataupun saudara semakin dekat. (Wawancara dengan Ibu Supini, 14 Juli 2014)

(54)

dirantang. Terkadang juga tidak semuanya datang. Akan tetapi, menurut beliau yang penting sudah berusaha mengingat dan mengundang saudara kita.

4.2.1.8. Nama : Selamet S. Jenis kelamin : Laki-laki

Umur : 48 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Wiraswasta

Pendidikan : SD/SR

Bapak Selamet merupakan warga Dusun IV di desa Urung Pane. Beliau mempunyai 6 orang anak. 3 (tiga) orang anak laki-laki dan 3 (tiga) orang anak perempuan. Mata pencaharian beliau adalah sebagai pedagang bakso dan mie ayam dalam menghidupi istri dan anak-anaknya.

Ketika mewawancarai beliau, tidak jauh hal berbeda dengan informan yang lain. Beliau juga pernah mengadakan pesta dan mengikuti tradisi rantangan. Beliau pernah mengadakan pesta sebanyak 2 (dua) kali. Pesta pertama mengayunkan dan pesta yang kedua adalah khitan. Dua-duanya pesta juga dengan mengikuti tradisi rantangan. Menurut beliau rantangan itu perlu, akan tetapi kita juga harus memilih siapa-siapa saja orang yang akan dirantang. Menurut beliau orang yang pertama sekali dirantang adalah keluarga, saudara, tetangga, serta kerabat yang memang benar-benar dekat hubungannya dengan kita. Selain itu juga adalah orang tua yang diaanggap sebagai petuah atau pemuka adat.

(55)

hari jika suatu saat akan mengadakan pesta. Jumlah nominal orang yang datang dan menyumbang juga dicatat. Sehingga, jika suatu saat nanti orang yang dirantang itu gentian pesta, maka seberapa besar uang yang disumbangkan dahulu kepada pak Selamet ketika pesta, maka sebesar itulah pak Selamet akan mbalekne atau menyumbang kepada orang tersebut.

4.2.1.9. Nama : Romlah

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 58 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : SD/SR

Ibu Romlah merupakan warga dusun IV di desa Urung Pane. Beliau memiliki 4 (empat) orang anak. Beliau juga pernah mengadakan pesta pernikahan anaknya dan melakukan tradisi rantangan. Pada saat itu beliau hanya merantang sekitar 500-700 orang. Ketika mewawancarai beliau mengenai rantangan menurut beliau tradisi rantangan terkadang bisa menjadi beban jika pada saat musim pesta atau rantangan.

(56)

memberikan rantangan. Hanya yang dianggap saudara atau kerabat dekat saja yang mendapatkan rantanga.

4.2.2.1 Profil Informan Biasa

Nama :Tumiyem

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 42 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : SD

Ibu Tumiyem merupakan warga Dusun V di desa Urung Pane. Beliau memiliki 2 (dua) orang anak perempuan. Ketika mewawancarai beliau mengenai pesta dan rantangan, ternyata beliau baru mengadakan pesta akhir tahun lalu, yaitu tahun 2013 pesta pernikahan anak perempuan pertamanya. Ternyata juga, baru kali pertama itu ibu Tumiyem mengadakan pesta.

(57)

Ibu kan gak pernah pesta selama ini dan hanya menyumbang saat diundang orang saja. Jadi waktu pesta anak ibu yang pertama ini tidak banyak merantangan juga banyak yang datang dan menyumbang (mbalekne) sama keluarga ibu. (Wawancara dengan ibu Tumiyem, 13 April 2014)

Dari hasil mewawancarai ibu Tumiyem tentang rantangan ternyata terdapat perbedaan yang signifikan dari informan-informan yang lainnya. Rantangan juga bukan merupakan suatu kewajiban agar seseorang itu datang ke pesta. Akan tetapi, ibu Tumiyem ini juga merupakan memiliki hubungan yang harmonis dan kedekatan dengan saudara dan kerabatnya. Jadi, ketika tidak merantang saat pesta tidak merupakan menjadi masalah dan berubah. Tetap saja orang yang di undang melalui surat undangan atau rantangan, mbalekne kepada ibu Tumiyem itu tetap sama. Karena hal yang sama juga terjadi pada ibu Tumiyem, bahwa beliau juga mempunyai catatan orang-orang yang pernah beliau sumbang atau merantang seperti kejadian yang sama dengan pak Selamet di atas.

Ibu juga punya catatan orang-orang yang sudah merantang ibu, dan buku catatan itu akan menjadi simpanan dimasa mendatang jika ibu pesta. Dan terbukti kemarin ketika ibu pesta catatan itu berlaku (Wawancara dengan ibu Tumiyem, 13 April 2014)

4.2.2.2. Nama : Tuti Heriyani Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 39 Tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : SD

(58)

memiliki 3 (tiga) orang anak perempuan. Jika dilihat dari sukunya, beliau bukan suku Jawa. Beliau adalah suku Batak. Namun ketika peneliti mewawancarai beliau mengenai rantangan, ternyata beliau juga banyak mengetahui tentang rantangan. Sebagai orang yang mempunyai suku yang berbeda dengan suku Jawa, beliau juga banyak mengetahui tentang tradisi-tradisi yang ada di masyarakat suku Jawa. Ini karena beliau tinggal dekat dengan lingkungan yang mayoritas masyarakatnya adalah suku Jawa.

Ibu Tuti juga mengakui bahwa selama ini beliau belum pernah mengadakan pesta sekalipun. Akan tetapi, beliau pernah beberapa kali dirantang ketika sudah musim orang pesta. Beliau mengatakan bahwa pernah dalam satu bulan mendapatkan 3 rantang. Ini juga sama seperti sebelumnya bahwa beliau harus mbalekne atau menyumbang uang yang besar dari yang biasanya saat datang pesta. Walaupun rantangan ini bukan termasuk tradisi yang ada di dalam sukunya, namun beliau tetap merasa senang kalau rantangan ini ada sehingga tetap menjalin silaturahim walaupun berbeda suku. Akan tetapi, beliau juga mengatakan bahwa tradisi ini juga tidak seharusnya dipatokkan harus selalu ada. Menurutnya karena jika sudah musim orang pesta dan beliau banyak mendapatkan rantangan akan menjadi beban tersendiri jika suatu saat nanti beliau tidak mempunyai uang yang cukup untuk menyumbang.

4.3. Sejarah Tradisi Rantangan di Kalangan Suku Jawa

(59)

yang diperingati sejak 7 hari, 40 hari, 100 hari, satu tahun (geblag) sampai upacara 1000 hari yang ditandai dengan menyembelih kambing atau sapi. Selain itu, satu hal yang biasanya ditandai dengan upacara berbiaya cukup tinggi adalah pesta. Pola tradisi yang demikian menjadikan masyarakat Jawa dalam menjalankan tradisi dan kehidupan sosialnya menjadi berbiaya tinggi.

Sangat beruntung masyarakat Jawa memiliki tradisi yang bermakna memberikan sesuatu kepada orang lain pada waktu-waktu tertentu. Salah satu diantaranya ketika diberi Rantangan saat mengadakan suatu pesta. Namun didalam pemberian tersebut terkandung makna timbal-balik atau reciprocity. Kegiatan tradisi ini disebut “Nyumbang” ketika mendapat rantangan. Aktivitas tradisi yang disebut nyumbang dalam masyarakat jawa, ternyata tidak berdiri sendiri. Banyak diberbagai daerah yang sering kita jumpai. Reciprocity atau timbal balik yang bermakna saling ini menjadi point penting bagi aktivitas tradisi ini.

Rantangan adalah hantaran berupa makanan yaitu nasi dan lauk pauk yang di isi di dalam rantang kemudian diberikan kepada tetangga, saudara, kerabat atau orang tua ketika akan mengadakan suatu acara. Acara tersebut adalah syukuran dan pesta. Baik pesta pernikahan, khitanan, ataupun mengayunkan (menabalkan) anak.

(60)

penghormatan sebagai orang tua. Namun berbeda dengan sekarang, rantangan sudah menjadi ajang dimana orang-orang menjadikan rantangan sebagai wadah mencari materi sesaat saat mengadakan suatu pesta. Seperti yang disampaikan informan berikut ini:

Kalau rantangan sekarang cuma untuk cari duit saja saat pesta. Jadi, banyak orang berlomba-lomba pada saat pesta dengan merantang orang sebanyak-banyaknya (wawancara dengan ibu Mastina, 13 April 2014)

Selain itu, rantangan juga sebagai pengganti surat undangan bagi orang yang rumahnya jauh yang memungkinkan apabila dirantang sudah pasti akan datang saat acara tersebut berlangsung karena merasa tidak enak, sudah dihantar makanan . Jadi, rantangan bisa dikatakan secara tidak langsung adalah sifatnya wajib. Berbeda dengan ketika mendapat surat undangan saja. Mereka belum tentu akan datang pada saat acaranya berlangsung. Seperti yang disampaikan informan berikut ini:

Mau tidak mau kita datang ke acara yang telah diadakan. Karena kan malu, kalau gak datang. Uda dirantang dan dapat makanan masa gak mau datang. Jadi, secara tidak langsung sifatnya wajib datang bagi orang yang dapat rantangan. (Wawancara dengan bapak selamet, 12 april 2014)

(61)

dalam menyumbang ketika mendapat suatu rantangan. Seperti yang disampaikan informan berikut ini:

Kalau dirantang ya uwak biasa aja dan gak merasa rugi. Karena dari dulu memang sudah gitu tradisinya. Jadi, mau gak mau ya harus ngikuti. Bagaimanapun juga nanti kita akan merasakan hal yang sama jika akan mengadakan suatu syukuran atau pesta. Karena kita juga pasti akan gantian merantang. Jadi , sudah seharusnya kita membantu saudara kita yang pesta melalui sumbangan yang kita berikan. (Wawancara dengan ibu Supini, 14 Juli 2014)

Hal ini juga tidak terlepas dari apa yang sudah melekat di dalam diri atau jiwa masayakat suku Jawa. Sesuai dengan pepatah diatas, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Ini merupakan konsep dasar hidup bersama suku Jawa yang penuh kesadaran dan tanggung jawab. Jika dikaitkan dengan tradisi rantangan yang sekarang bahwa ada benarnya juga. Ini dapat membantu membayar pengeluaran saat pesta jika kita ikut dalam menyumbang. Dalam mewawancarai, informan juga mengatakan bahwa ada rasa tanggung jawab atas apa yang sudah diberi oleh orang yang merantang. Seperti yang di sampaikan salah satu informan, yaitu:

Namanya juga kita sudah dirantang dan diberi makanan, ya wajar kalau kita juga harus membalas rantangan itu dengan cara menyumbang sebagai ucapan rasa terimaksih kita karena sudah dirantang (Wawancara dengan ibu Supini, 14 Juli 2014)

(62)

berbeda. Biasanya mereka menyumbang lebih besar lagi nominalnya. Untuk perempuan rata-rata adalah sebesar Rp 50.000 dan untuk laki-laki sebesar Rp 100.000. Sumbangan ini diberikan guna untuk mengucapkan rasa terima kasih karena sudah dirantang dan diberi makan. Sekaligus membantu mengurangi biaya pengeluaran saat pesta. Jadi, disini juga terdapat rasa kepercayaan diantara orang yang merantang dan dirantang.

Dengan begitu, keberadaan rantangan tidak perlu dipertanyakan lagi karena memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dikaca mata orang yang memandangnya. Namun dari hasil wawancara dengan informan, bahwa mereka tidak mempermasalahkan adanya rantangan yang kini sudah menjadi tradisi masyarakat suku Jawa, khususnya masyarakat suku Jawa yang ada di desa Urung Pane. Sebaliknya, mereka beranggapan bahwa ini akan membantu meringankan beban biaya pengeluaran saat mengadakan suatu pesta.

4.4. Berbagai Kegiatan Acara yang Memberikan Rantangan

(63)

pemberian sesuatu, yaitu yang biasa disebut rantangan. Dari rantangan tersebut seseorang memberikan sedekah atas rasa syukur yang telah dia rasakan karena merasa bahagia atas apa yang telah dia dapatkan. Namun, di dalam rantangan tersebut hanyalah sebatas pemberian saja tanpa mengharap pembalasan kembali. Dalam acara syukuran tersebut biasanya orang yang dirantang tidak banyak. Orang-orang yang dirantang juga hanya sebatas saudara ataupun tetangga. Asal sudah datang saat acara syukuran, maka orang yang mengadakan syukuran tersebut sudah merasa sangat bahagia.

(64)

Rantangan itu juga buat kita lebih dekat lagi dengan saudara-saudara kita yang jauh, bahwa kita masih ingat dengan mereka. Otomatis, pemberian rantangan ini akan lebih dihargai daripada hanya sekedar pemberian undangan saja. Karena belum tentu seseorang akan hadir saat pesta jika hanya diberikan undangan saja. Kalau rantangankan kita sudah diberi makan, jadi gak enak kalau gak datang atau menyumbang saat pestanya (Wawancara dengan bapak Selamet: 12 April, 2014)

Pernyataan lain juga mengatakan bahwa rantangan ini dilakukan untuk orang-orang yang rewang di tempat orang yang pesta. Biasanya orang yang rewang adalah tetangga yang dekat dengan rumah yang pesta. Karena orang tuanya rewang, bantu-bantu orang yang pesta, maka orang yang pestapun menghantar rantangan untuk anak-anak mereka yang berada di rumah untuk makan anak-anaknya. Seperti yang dinyatakan oleh:

Kalau rewang ya pasti dapat rantang untuk makan anak-anak di rumah. Karenakan satu harian sudah bantu-bantu di rumah yang pesta dan gak ada yang ngurus di rumah, jadi itu pengganti untuk makan anak-anak di rumah. (Wawancara dengan ibu Romlah: 7 Oktober, 2014)

Dari berbagai acara diatas yang lebih sering melakukan rantangan adalah acara saat mengadakan suatu pesta. Baik itu pesta pernikahan, khitanan, atau mengayunkan (menabalkan nama) anak. Karena rantangan saat mengadakan suatu pesta sudah merupakan suatu tradisi turun menurun yang ada di dalam masyarakat suku Jawa.

4.5. Tradisi Rantangan Dahulu Dengan Tradisi Rantangan Sekarang

(65)

namun disamping itu adanya inovasi baru tersebut terkadang tidak mampu sepenuhnya diikuti oleh masyarakat Indonesia dengan baik . Sehingga nilai ataupun norma di dalam tradisi serta budaya Indonesia akan menjadi hilang atau berubah. Serta didukung oleh tanpa adanya pengawasan dari keluarga seperti orang tua juga salah satu faktor yang mampu membawa perubahan tersebut.

Sama halnya jika dikaitkan dengan tradisi rantangan ini. Adanya perbedaan antara tradisi rantangan dahulu dengan tradisi rantangan yang sekarang. Seperti yang telah diungkapkan diatas bahwa tradisi rantangan ini awalnya hanya bersifat sebagai suatu penghormatan, pengganti surat undangan pesta serta merupakan suatu sedekah untuk orang lain sebagai rasa ucapan terima kasih atas apa yang sudah didapatkan. Sifatnya juga tidak wajib dan harus memberikan imbalan. Masih murni hanya sebagai penghormatan kepada orang tua-orang tua yang di kenal saja.

(66)

dengan sama rata semuanya menjadi rantangan. Dengan begitu, ketika sudah mendapatkan rantangan orangpun lebih berpikir bahwa segan kalau seandainya tidak datang.

Adanya berupa sumbangan yang diberikan kepada si perantang juga terjadi karena adanya rasa kepercayaan serta kerja sama diantara sesama suku Jawa selain sebagai rasa ucapan terima kasih. Mereka percaya bahwa suatu saat nanti hal yang sama itu juga akan terjadi kepada mereka apabila melakukan rantangan. Selain itu, sumbangan itu juga bisa membantu mengurangi biaya pengeluaran pesta. Apabila ada sisanya bahkan sumbangan tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka. Jadi, sebenarnya ini merupakan perbuatan positif dengan adanya tradisi rantangan tersebut. Namun, seiring berkembangnya tradisi tersebut dikalangan masyarakat suku Jawa membuat orang-orang sering sekali mengadakan suatu acara atau pesta dengan melakukan rantangan. Sehingga membuat masyarakat yang dirantang merasa terbebani atau berat memberikan sumbangan karena seringnya mendapatkan rantangan dengan kondisi perekonomian yang tidak menentu.

Gambar

Tabel 1 Luas Setiap Dusun di Desa Urung Pane
Tabel 2
Tabel 3
Tabel 4
+2

Referensi

Dokumen terkait

Aspek nilai sosial pada tradisi Julungan dapat dilihat dari prosesi atau pelaksanaan tradisi Julungan adalah sebagai acara yang menggambarkan falsafah kehidupan gotong

Aspek nilai sosial pada tradisi Julungan dapat dilihat dari prosesi atau pelaksanaan tradisi Julungan adalah sebagai acara yang menggambarkan falsafah kehidupan gotong

Proses pengembangan ekowisata menuntut adanya modal sosial yang kuat dalam hal ini, jaringan, kepercayaan, norma, dan partisipasi masyarakat.. Berikut merupakan

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan berbagai bentuk dukungan swadaya dari masyarakat dapat terlihat dengan adanya sumbangan yang diterima oleh pengurus TPKK RESPEK

Nngumbai lawok adalah suatu bentuk upacara adat yang di rayakan atau dilaksanakan oleh masyarakat Desa Balai Kencana sebagai bentuk ucapan rasa syukur, adapun bentuk dari

Dari hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa minimnya tindak kejahatan atau kriminalisasi di Desa Sambori memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. Adanya

Proses pengembangan ekowisata menuntut adanya modal sosial yang kuat dalam hal ini, jaringan, kepercayaan, norma, dan partisipasi masyarakat.. Berikut merupakan

Aspek nilai sosial pada tradisi Julungan dapat dilihat dari prosesi atau pelaksanaan tradisi Julungan adalah sebagai acara yang menggambarkan falsafah kehidupan gotong