• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir (Butis Amboinensis) Dalam Ransum Terhadap Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pemanfaatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir (Butis Amboinensis) Dalam Ransum Terhadap Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN TEPUNG LIMBAHIKAN GABUSPASIR

(

Butis amboinensis

)DALAM RANSUM TERHADAP

KARKASITIK PEKING UMUR 8 MINGGU

SKRIPSI

Oleh :

JUNIOR HUTAGALUNG 100306017

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PEMANFAATANTEPUNG LIMBAHIKAN GABUSPASIR

(

Butis amboinensis

)DALAM RANSUM TERHADAP

KARKASITIK PEKING UMUR 8 MINGGU

SKRIPSI

Oleh :

JUNIOR HUTAGALUNG 100306017/PETERNAKAN

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Skripsi : Pemanfaatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir (Butis amboinensis) dalam Ransum Terhadap Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu

Nama : Junior Hutagalung

NIM : 100306017

Program Studi : Peternakan

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Ir. Armyn Hakim Daulay, MBA Ir. Edhy Mirwandhono, M.Si

Ketua Anggota

Mengetahui,

Dr. Ir. Ma’ruf Tafsin, M.Si Ketua Program Studi Peternakan

(4)

ABSTRAK

JUNIOR HUTAGALUNG, 2014: Pemanfaatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir

(Butis amboinensis) dalam Ransum Terhadap Karkas Itik Peking Umur8 Minggu,

dibimbing oleh ARMYN HAKIM DAULAY dan EDHY MIRWANDHONO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberiantepung limbah ikan gabus terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, lemak abdominal dan persentase lemak abdominal. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak program studi peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara yang berlangsung pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2014. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan 6 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 5 ekor day old duck (DOD). Perlakuan terdiri dari P0 (ransum 0% TLIG); P1 (Ransum dengan 5% TLIG); P2 (ransum 10% TLIG).

Hasil penelitian menunjukan rataan bobot potong (g/ekor) secara berturut- turut untuk perlakuan P0, P1 dan P2sebesar (1334.22; 1354.66 dan 1384,89). Bobot karkas (g/ekor) (864.387; 848.467 dan 888.718). Persentase karkas (%) (64.625; 62.73 dan 64.4167). Bobot lemak abdominal (g/ekor) (9.275; 10.4417 dan 11.665). Persentase lemak abdominal (%) (1.059; 1.22167 dan 1.285). Hasil penelitian ini menunjukan perlakuan tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (P>0,05) terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal. Kesimpulannya adalah bahwa tepung ikan gabus dapat digunakan dalam ransum untuk menggantikan tepung ikan komersil pada level 10% dalam ransum.

(5)

ABSTRACT

JUNIOR HUTAGALUNG, 2014: The Utilization ofWaste of Gabus Pasir Flour

(Butis amboinensis) in Peking Duck Rations on Carcass of 8th Weeks of Age.

UnderSupervisiedbyARMYN HAKIM DAULAYand EDHY MIRWANDHONO.

The research aimed to determine the utilization of the use ofwaste of gabus pasir flour to slaughter weight, carcass weight and carcass percentage, abdominal fat, abdominal percentage.The research was conducted in Biologi Laboratory of Animal Science, Faculty of Agriculture in North Sumatra University, from Agustus until Oktober. The design used in completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 6 replications each replications consist of 5 DOD. Treatments were consisted of P0 ( 0% waste of gabus pasirflour); P1 (5 % waste of gabus pasirflour); P2 (10 % waste of gabus pasirflour. The parameters studied were slaughter weigth, carcass weight and carcass percentage, abdominal fat, abdominal percentage.

The result showed the average slaughter weight (g/head) for the treatments of P0,P1,and P2 were (1334,22; 1354,66 and 1384,89). Average

carcass (g/head) weight (864,387; 848,467 and 888,718). Average

carcasspercentage (%) (64,625; 62,730 and 64,416). Average abdominal fat (g/head) (9,275; 10,441; and 11,665). Average abdominal percentage (%) (1,059; 1,221; 1,285).The results of this study showed that treatment nonsignificanthy different on slaughter weight, carcass weight and carcass percentage, abdominal fat, abdominal percentage. The conclusion is that ofwaste of gabus pasir flourcan be usedto 10% level offish mealin the ration.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sitorngom, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi

Sumatera Utara pada tanggal 30 Juni 1992 dari ayah Raplin Hutagalung dan ibu

Tiermida Sitohang. Penulis Merupakan anak kelima dari lima bersaudara.

Tahun 2004 penulis lulus dari SD Negeri 173152 Sitorngom, Tahun 2007

Lulus dari SMP Negeri 2 Adiankoting, Tahun 2010 penulis lulus dari SMANegeri

2 Sibolgadan pada tahun yang sama masuk ke Program Studi Peternakan Fakultas

Pertanian Universitas Sumatra Utara melalui jalur ujian tertulis Ujian Masuk

Bersama (UMB).

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif dalam organisasi Ikatan

Mahasiswa Peternakan (IMAKRIP) dan aktif sebagai anggota Paduan Suara

Transeamus Pertanian.

Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di Unit

Pengembangan Ternak Daerah (UPTD) Siborongborong Desa Siaro Kecamatan

Siborongborong Kabupaten Tapanuli Utara dimulai dari 16 juli sampai dengan 23

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah memberikan rahmat serta karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan

Skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir Dalam

Ransum Terhadap Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis

R. Hutagalung dan T. Br Sitohang yang telah mendidik penulis selama ini. Penulis

juga menyampaikan terima kasih kepada Ir. Armyn Hakim Daulay, MBA selaku

ketua komisi pembimbing dan Ir. Edhy Mirwandhono, M.Si selaku anggota

komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan

berharga kepada penulis dari mulai menetapkan judul, melakukan penelitian,

sampai pada ujian akhir nantinya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Tati Vidiana Sari S.Pt, MP

yang telah membantu dan memberikan arahan, masukan dalam penulisan skripsi

ini. Terima kasih juga kepada pihak Dikti yang telah membantudana penelitian,

serta semua pihak yang ikut membantu dan memberikan arahan dalam penulisan

skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi peneliti dan perkembangan ilmu

(8)

DAFTAR ISI

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

Sistem Pencernaan Itik Peking... ... 6

Penyerapan Zat Makanan Pada Itik... 7

Metabolisme Protein ... 8

Metabolisme Lemak... ... 9

Kebutuhan Nutrisi Itik Peking ... 10

BobotPotong ... 13

Karkas dan Persentase Karkas ... 13

Lemak Abdominal dan Persentase Lemak Abdominal ... 16

BAHAN DAN METODE PENELITIAN TempatdanWaktuPenelitian ... 19

Bahan dan Alat Penelitian ... 19

Bahan ... 19

Alat ... 19

MetodePenelitian ... 20

Ransum Percobaan Penelitian ... 21

Parameter Penelitian... ... 22

Bobot Potong ... 22

Bobot Karkas ... 22

Persentase Kaekas ... 23

Bobot Lemak Abdominal ... 23

Persentase Lemak Abdominal ... 23

PelaksanaanPenelitian... ... 23

(9)

Bobot Karkas ... 29

Persentase Karkas... 31

Bobot Lemak Abdominal ... 33

Persentase Lemak Abdominal ... 35

Rekapitulasi Hasil Penelitian ... 36

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 37

Saran ... 37

DAFTAR PUSTAKA ... 38

(10)

DAFTAR TABEL

Hal.

1. Komposisi Nutrisi Tepung Ikan ... 4

2. Komposisi Nutrisi Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir ... 6

3. Kebutuhan Nutrisi Itik Peking ... 13

4. Laju Pertumbuhan dan Konsumsi Itik Pedaging ... 13

5. Ciri-Ciri Kualitas Karkas ... 15

6. Komposisi Kimia Komponen Karkas Itik Peking ... 16

7. Rataan Bobot Potong Itik Peking Umur 8 Minggu ... 27

9. Rataan Bobot Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu ... 29

11. Rataan Persentase Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu ... 32

13. Rataan Bobot Lemak Abdominal Itik Peking Umur 8 Minggu ... 33

15. Rataan Persentase Lemak Abdominal Itik Peking Umur 8 Minggu ... 35

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Hal.

1. Rataan Bobot Potong Itik Peking Umur 8 Minggu ... 43

2. Anova Bobot Potong Itik Peking Umur 8 Minggu ... 43

3. Grafik Rataan Bobot Potong Itik Peking Umur 8 Minggu ... 43

4. Rataan Bobot Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu ... 44

5. Analisis Ragam Bobot Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu ... 44

6. Grafik Rataan Bobot Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu ... 44

7. Rataan Persentase Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu ... 45

8. Analisis Ragam Persentase Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu ... 45

9. Grafik Rataan Persentase Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu ... 45

10. Rataan Bobot Lemak Abdominal Itik Peking Umur 8 Minggu ... 46

11. Analisis Ragam Bobot Lemak Abdominal Itik Peking Umur 8 Minggu ... 46

12. Grafik Rataan Bobot Lemak Abdominal Itik Peking Umur 8 Minggu ... 46

13. Rataan Persentase Lemak Abdominal Itik Peking Umur 8 Minggu ... 47

14. Analisis Ragam Persentase Lemak Abdominal Itik Peking Umur 8 Minggu ... 47

15. Grafik Persentase Lemak Abdominal Itik Peking Umur 8 Minggu ... 47

16. Formulasi Ransum Itik Peking Starter Umur 0-2 Minggu ... 48

17. Formulasi Ransum Itik Peking Finisher Umur 3-8 Minggu ... 49

18. Pertambahan Bobot Badan Itik Peking Selama Penelitian ... 50

19. Rataan PBB Itik Peking Selama Penelitian ... 50

20. Analisis Ragam PBB Itik Peking Selama Penelitian ... 50

21. Konsumsi Itik Peking Selama Penelitian ... 51

22. Rataan Konsumsi Itik Peking Selama Penelitian ... 51

23. Analisis Ragam Rataan Konsumsi Itik Peking Selama Penelitian ... 51

24. Konversi Pakan Selama Penelitian ... 52

25. Rataan Konversi Pakan Selama Penelitian ... 52

26. Analisis Ragam Konversi Pakan Selama Penelitian ... 52

(12)

DAFTAR GAMBAR

Hal.

1. Pengacakan Perlakuan dan Ulangan ... 20

2. Gambar Ikan Gabus ... 54

3. Limbah Ikan Gabus Pasir ... 54

4. Pengukusan Limbah Ikan Gabus Pasir ... 54

5. SetelahPengukusan Limbah Ikan Gabus Pasir ... 54

6. Penimbangan Ikan Gabus Pasir Setelah Dikeringkan Dengan Matahari ... 54

7. Penggilingan Ikan Gabus Pasir ... 54

8. Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir ... 55

9. Itik Peking Umur 2 Hari ... 55

10. Suasana Kandang Penelitian ... 55

11. Suasana Itik Sedang Makan ... 56

12. Penimbangan Itik Peking ... 56

13. Pemotongan Itik ... 56

14. Itik Dibiarkan Mati Sempurna ... 56

15. Pencabutan Bulu itik peking setelah di schalding ... 57

16. Proses Pemisahan Jeroan Dari Karkas Itik Peking ... 57

17. Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu ... 57

(13)

ABSTRAK

JUNIOR HUTAGALUNG, 2014: Pemanfaatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir

(Butis amboinensis) dalam Ransum Terhadap Karkas Itik Peking Umur8 Minggu,

dibimbing oleh ARMYN HAKIM DAULAY dan EDHY MIRWANDHONO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberiantepung limbah ikan gabus terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, lemak abdominal dan persentase lemak abdominal. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak program studi peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara yang berlangsung pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2014. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan 6 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 5 ekor day old duck (DOD). Perlakuan terdiri dari P0 (ransum 0% TLIG); P1 (Ransum dengan 5% TLIG); P2 (ransum 10% TLIG).

Hasil penelitian menunjukan rataan bobot potong (g/ekor) secara berturut- turut untuk perlakuan P0, P1 dan P2sebesar (1334.22; 1354.66 dan 1384,89). Bobot karkas (g/ekor) (864.387; 848.467 dan 888.718). Persentase karkas (%) (64.625; 62.73 dan 64.4167). Bobot lemak abdominal (g/ekor) (9.275; 10.4417 dan 11.665). Persentase lemak abdominal (%) (1.059; 1.22167 dan 1.285). Hasil penelitian ini menunjukan perlakuan tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (P>0,05) terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal. Kesimpulannya adalah bahwa tepung ikan gabus dapat digunakan dalam ransum untuk menggantikan tepung ikan komersil pada level 10% dalam ransum.

(14)

ABSTRACT

JUNIOR HUTAGALUNG, 2014: The Utilization ofWaste of Gabus Pasir Flour

(Butis amboinensis) in Peking Duck Rations on Carcass of 8th Weeks of Age.

UnderSupervisiedbyARMYN HAKIM DAULAYand EDHY MIRWANDHONO.

The research aimed to determine the utilization of the use ofwaste of gabus pasir flour to slaughter weight, carcass weight and carcass percentage, abdominal fat, abdominal percentage.The research was conducted in Biologi Laboratory of Animal Science, Faculty of Agriculture in North Sumatra University, from Agustus until Oktober. The design used in completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 6 replications each replications consist of 5 DOD. Treatments were consisted of P0 ( 0% waste of gabus pasirflour); P1 (5 % waste of gabus pasirflour); P2 (10 % waste of gabus pasirflour. The parameters studied were slaughter weigth, carcass weight and carcass percentage, abdominal fat, abdominal percentage.

The result showed the average slaughter weight (g/head) for the treatments of P0,P1,and P2 were (1334,22; 1354,66 and 1384,89). Average

carcass (g/head) weight (864,387; 848,467 and 888,718). Average

carcasspercentage (%) (64,625; 62,730 and 64,416). Average abdominal fat (g/head) (9,275; 10,441; and 11,665). Average abdominal percentage (%) (1,059; 1,221; 1,285).The results of this study showed that treatment nonsignificanthy different on slaughter weight, carcass weight and carcass percentage, abdominal fat, abdominal percentage. The conclusion is that ofwaste of gabus pasir flourcan be usedto 10% level offish mealin the ration.

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tepung ikan merupakan salah satu bahan baku sumber protein hewani

yang sangat dibutuhkan dalam komposisi makanan ternak. Tepung ikan

mengandung protein yang tinggitersusun atas asam amino, lisin dan metionin.

Tepung ikan sebagai sumber protein sampai saat ini masihsulit digantikan

kedudukannya oleh bahan baku lain. Keberadaan tepung ikan di pasar yang cukup

mahal mendorong peneliti untuk berusaha menekan biaya ransum dengan

mengadakan berbagai penelitian agar dapat menyusun ransum bernilai gizi tinggi

dan diharapkan dapat menggantikan tepung ikandengan harga relatif murah dan

mengefisiensi pakan.

Salah satu upaya untuk menggantikan keberadaan tepung ikan adalah

dengan menggunakan bahan pakan berasal dari limbah pertanian, perikanan dan

industri (Anggorodi, 1990). Salah satu limbah perikanan yang berpotensi untuk

digunakan sebagai bahan pakan adalah limbah ikan gabus pasir(Butis

amboinensis) karena ketersediaannya melimpah dan penggunaannya tidak

bersaing dengan keperluan manusia. Limbah perikanan merupakan sisa buangan

dari usaha perikanan yang mengalami proses perlakuan atau pengolahan untuk

memperoleh hasil utama atau hasil samping. Limbah ikan gabus pasirterdiri atas

kepala, isi perut dan kulit. Limbah ikan gabus pasir dapat diolah menjadi tepung

untuk menjadi pakan ternak yang bernilai ekonomis.

Ikan gabus pasirmerupakan ikan yang berada dipesisir laut dan banyak

terdapat didaerah Sumatera Utara khususnya Medan Belawan yang berada di

(16)

KUD (Koperasi Unit Desa) dengan jarak tempuh antara kota Medan dengan kota

Belawan ±25 km dari kota Medan. Daging ikan gabus pasir diolah menjadi bakso

dan juga ikan ini akan dikirim ke negara Malaysia untuk dijadikan bahan makanan

di negara tersebut. Sedangkan kepala ikan gabus beserta isi perutnya atau

limbahnya akan disimpan sampai beberapa hari dalam tempat penyimpanan ikan.

Produksi dari limbah ikan tersebut dalam satu hari berjumlah 500 kg sampai

dengan 1 ton dan dalam seminggu bisa mencapai 7-8 ton limbah ikan gabus pasir,

ini mengartikan bahwa limbah perikanan yang dihasilkan TPI Belawan begitu

besar dan bisa dimanfaatkan limbahnya berupa kepala, isi perut. Limbah olahan

ikan gabus pasir bisa menjadi komoditi yang bisa dimanfaatkan jadi pakan

pengganti tepung ikan dipasar, karenamengandung protein yang sangat tinggi.

Permasalahan yang sering dihadapi pada usaha produksi itik pedaging

adalah tidak efisiennya dalam memanfaatkan pakan (Sinurat dkk, 2009), sehingga

biaya produksi pakan menjadi tinggi. Tepung ikan komersial bisa mencapai harga

Rp 7500-8000/kg di pasar, oleh karena itu perlu diupayakan cara untuk

menggantikan tepung ikan agar biaya produksi pakan tidak tinggi dan mudah

didapat serta efisiensi tepung ikan gabus pasir diharapkan dapat berpengaruh

terhadap bobot hidup, bobot karkas, persentase karkas, lemak abdominalitik

peking dan juga terhadap konsumsi ransum itik peking. Ransum yang baik adalah

ransum yang mengandung zat makanan yang dibutuhkan oleh ternak dalam

perbandingan yang sesuai dengan kebutuhan. Namun ransum yang dilengkapi

tidak menjamin hasil ternak akan lebih baik karena efisiensi bahan pakan juga

(17)

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian

yang berjudul “Pemanfaatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir (Butis

amboinensis) dalam Ransum Terhadap Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu”.

Tujuan Penelitian

Untuk menguji pengaruh pemberian tepung limbah ikan gabus pasir dalam

ransum terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak

abdominal dan persentase lemak abdominal itik peking umur 8 minggu.

Hipotesis Penelitian

Tepung limbah ikan gabus pasir dapat menggantikan tepung ikan

komersial dan berpengaruh positif terhadap karkas (bobot potong, bobot karkas,

persentase karkas, bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal) itik

peking8 minggu.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi peneliti,

peternak itik peking danmasyarakat tentang pemanfaatan tepung limbah ikan

gabus pasir dalam ransum terhadap karkas itik peking umur 8 minggu, juga salah

satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas

(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Tepung Ikan

Tepung ikan merupakan sumber protein utama bagi unggaskarena tepung

ikan tersebut mengandung semua asamamino yang dibutuhkan. Asam amino

dibutuhkan dalam tubuh ternak dalam jumlah cukup dan teristimewamerupakan

sumber lisin dan methionin yang baik.Penggunaan tepung ikan dalam ransum

unggas sering kali harus dibatasi untuk mencegah bau ikan yang meresap kedalam

daging. Tepung ikan mudah busuk sehingga terjadi penurunan kadar protein

kasar(Anggorodi, 1995).

Tepung ikan merupakan salah satu bahan baku sumber protein hewani

yang dibutuhkan dalam komposisi makanan ternak.Kandungan protein tepung

ikan memang relatif tinggi, protein hewani tersebut disusun oleh asam-asam

amino esensial yang kompleks, diantaranya asam amino Lisin dan Methionin.

Disamping itu, juga mengandung mineral Calsium dan Phospor serta vitamin B

kompleks khususnya vitamin B12 (Murtidjo, 2001). Kandungan nutrisi tepung

ikan ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi nutrisi tepung ikan

Nutrisi Kandungan

Tepung ikan dapat digunakan sebagai kalsium. Kandungan protein tepung

ikan sangat dipengaruhi oleh bahan ikan yang digunakan dalam proses

(19)

berwarna cokelat dan kadar proteinnya cenderung menurun atau bisa menjadi

rusak (Boniran, 1999).

Tepung ikan merupakan salah satu bahan pakan yang berpotensi sebagai

sumber protein maupun lemak terutama asam lemak tak jenuh rantai panjang

(polyunsaturated fatty acids–PUFA). Tepung ikan banyak mengandung asam

lemak esensial eicosapentaenoic acid (EPA, C20:5n-3) yaitu sebanyak 5,87 g dan

docosahexanoic acid (DHA, C20:6n-3)sebanyak 9,84 g/kg. Asam lemak esensial

banyak berperan dalam memperbaiki produktivitas, kualitas produk, dan

penampilan reproduksi ternak(Marjuki, 2006).

Ikan Gabus Pasir

Ikan gabus pasir (Butis amboinensis) merupakan ikan predator

(pemangsa), ikan ini mencari makanan sebagian besar pada malam hari dengan

pola samar untuk membantu ikan tersebut berbaur dengan lingkungan untuk

mendapatkan mangsa. Ikan ini juga dapat meringankan dan menggelapkan

pewarnaan tubuh, memiliki kebiasaan menyelaraskan diri dengan permukaan

padat baik horizontal, vertikalatau terbalikdan sering berenang di posisi

terbalik.Spesies ikan ini mendiami pesisirsungai,muara danhutan bakaudi

NewGuinea telah tercatat300kilometer ke arah huludarimuara sungai ikan gabus

pasir ditemukandi atas lumpurberpasir (Allen 1991).

Klasifikasiikan gabus pasir adalah Kingdom: Animalia, Phylum :

Chordata,class: Actinopterygii,Ordo : Perciformes, Family: Eleotridae, Genus :

Butis, Spesies: amboinensis(Gultom, 2010).Pada setiap tingkat ikan gabus pasir

memiliki karakteristik dari ikan gabus pasir yaitu kepala pipih datar, lebar badan

(20)

total, tidak mempunyai sisik tambahan, interorbital, pipi dan kepala bersisik, tidak

ada sisik antara mata dan tulang mata, gigi pada barisan depan tidak membesar,

tipe ekor membulat(Allen, 1991).

Tabel 2. Komposisi nutrisi tepung limbah ikan gabus pasir

Jenis Nutrisi Kandungan

Sumber :aLaboratorium Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Prodi Peternakan Fakultas Pertanian USU(2014).

b

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Loka Peneltian Kambing Potong

Limbah ikan gabus pasirterdiri atas kepala, isi perut. Limbah ikan gabus

pasir diolah menjadi tepung dengan cara dipanaskan (cooking), dipressing, dioven

dan digrinder menjadi tepung ikan. Tepung ikan mengandung protein yang tinggi

yang dapat meningkatkan produksi dan nilai gizi telur, daging ternak. Kandungan

gizi tepung ikan tergantung dari jenis ikan yang digunakan sebagai bahan

bakunya(Stevieet al., 2009).

Kandungan nutrisi tepung limbah ikan gabus pasir yang terbaik adalah

dengan metode pengukusan. Nilai nutrisi dengan metode pengukusan dapat dilihat

pada Tabel 2. Hasil ini sudah sesuai dengan standar SNI (1996) nilai nutrisi

tepung ikan gabus pasir dengan metode pengukusan termasuk kriteria kualitas

sedang (Vidiana, etal., 2014). Menurut SNI (1996) sedang standar persyaratan

mutu tepung ikan yang berkualitas tinggi mengandung komponen-komponen

(21)

standar persyaratan mutu tepung ikan yang berkualitas rendah yaitu air 12 %,

lemak 12%, protein 45%, abu 30 % dan serat kasar 3%.

Sistem Pencernaan Itik Peking

Alat pencernaan itik terdiri atas mulut : mulut terdiri atas paruh dan ruang

paruh serta lidah. Makanan yang masuk oleh penggerakan lidah didorong masuk

kedalam pharynx kemudian ditelan.Pharynx : proses menelan pada itik tidak

bersifat peristaltik karena itik tidak memiliki palat halus dan muskulus konstriktor

pada pharynxnya.Esophagus : makanan masuk ke esophagus semata-mata oleh

adanya gravitasi (gaya berat) makanan dan karena tekanan yang lebih rendah

didalam ruang esophagus oleh leher yang dijulurkan ke atas. demikian juga

halnya dengan proses menelan air.Crop : Cropmerupakan pelebaran dingding

esophagus. Pada itik dan unggas air pada umumnya, crop tidak berkembang

dengan sempurna, tidak seperti pada ayam. crop semata-mata berfungsi

menampung sementara makanan. Perut : perut terdiri atas perut kelenjar

(proventrikulus) dan perut muskular (ventrikulus) sebagai penghancur

makanan.Usus halus (intestine) terdiri atas duodenum sepanjang 22 sampai 38

cm,jejenum sepanjang 105 cm dan ileum sepanjang 15 cm.Kolon : terdapat 2 ceca

yang masing-masing panjangnya antara 10 sampai 20 cm.Kloaka : Merupakan

pertemuan atau muara bagi saluran pengeluaran sistem pencernaan, urinaridan

genital(Srigandono, 1996).

Sistem pencernaan pada unggas relatif sederhana dan proses

pencernaannya lebih cepat dibandingkan dengan ternak lain. Unggas menelan

makanannya sedikit banyak sebagai keseluruhan dan sisa makanan yang tidak

(22)

meninggalkan tembolok. Seluruh usus dikosongkan dalam waktu enam sampai 1

jam (Anggorodi, 1995).

Penyerapan Zat Makanan Pada Itik Peking

Unggas membutuhkan zat makanan berupa karbohidrat, protein, lemak,

vitamin, mineral dan air untuk pertumbuhan dan memperoleh energi.

Bahan-bahan makanan yang diperoleh dari ransum masih dalam bentuk yang kompleks

dan sukar diserap untuk digunakan oleh tubuh ternak. Makanan tersebut harus

diubah lebih dahulu baik secara mekanis dan khemis melalui proses pencernaan

yaitu memecahkan molekul nutrien kompleks menjadi molekul sederhana agar

dapat diabsorbsi oleh dinding usus (Yuniastuti, 2002).

Selama penyerapan zat-zat makanan dalam tubuh, zat makanan diserap

oleh mukosa kemudian ke darah dikontrol sesuai dengan yang dibutuhkan oleh

tubuh (Tillman et al., 1991). Menurut Wahyu (1997) protein dalam tubuh akan

digunakan sebagai sumber energi, kelebihan protein ini akan disimpan dalam

bentuk lemak dan juga dibuang melalui urin. Semua protein dalam makanan

secara sempurna dicerna menjadi asam-asam amino dalam alat pencernaan

kemudian diserap oleh tubuh melalui usus halus (intestine).

Absorbsi lemak terjadi melalui permukaan jejenum. Lemak ini akan

dipecah menjadi asam lemak dan gliserol. Gliserol ini akan diangkut ke vena porta

ke dalam hati dan dimetabolisme sebagai sumber energi cadangan. Asam lemak

bebas dibentuk menjadi trigliserida, kemudian bersama-sama dengan kolesterol

dan phospholipid bergabung dengan protein membentuk kilomikron dan masuk ke

dalam sistem limfe (Wahyu, 1992).

(23)

Protein dalam tubuh ternak berperan sebagai bahan pembangun tubuh

danpengganti sel-sel yang sudah rusak serta bahan penyusun beberapa hormon

danenzim (Sutardi, 1981). Meningkatkan kandungan protein dalam karkas, dan

meningkatnya deposisi protein yang merupakan indikasi dari proses pemanfaatan

protein pakan. Deposisi protein yang bernilai positif, berarti ternak tersebut

memanfaatkan protein yang tinggal di tubuh untuk meningkatkan bobot badan

(Maynard dan Loosli, 1969).

Protein yang tidak terbuang tersebut akan disimpan dalam daging, organ

internal serta jaringan bawah kulit (Anggorodi, 1995). Energi yang cukup bagi

tubuh ternak akan mencegah pemanfaatan protein tubuh, sehingga deposisi

protein tidak menurun. Pemberian pakan dengan kadar protein tinggi diharapkan

dapat meningkatkan jumlah protein yang terdeposisi di dalam tubuh

(Boorman, 1980).

Pencernaan protein dimulai dari proventikulus dengan mensekresikan

pepsinogen dan HCL selanjutnya pencernaan selanjutnya pada usus halus (small

intestine). Bagian dari small intestinum yaitu duodenum, duodenum merupakan

tempat sekresi enzim dari pankreas, cairan pankreas mengandung proenzim

trypsinogendan chymotrypsinogen. Proenzim trypsinogen dan chymotrypsinogen

diaktifkan menjadi enzim trypsin dan chymotrypsin oleh enzim enterokinase yang

dihasilkan oleh sel-sel mukosa usus halus. Enzim trypsin dan chymotrypsin

berperan memecah polipeptida menjadi peptida sederhana. Selanjutnya peptida

tersebut dipecah menjadi asam amino oleh enzim peptidase (erepsin), asam amino

(24)

ileum membentuk jaringan sel yang rusak dan membentuk jaringan otot daging

untuk pertumbuhan (Nurcahyo, 2011).

Metabolisme Lemak

Metabolisme lemak dimulai dengan proses hidrolisis lemak

(trigliserida)dari makanan yang dikonsumsi oleh enzim lipase (dari pankreas)

yangmenghasilkan asam lemak bebas dan gliserol. Gliserol diserap usus

danditransportasikan melalui saluran darah ke hati. Selanjutnya gliserol

tersebutdimetabolisasi membentuk asam piruvat kemudian dioksidasi

mengasilkan energiatau disintesis menjadi glukosa (Thomas, 1983).

Asam-asam lemak dan monogliserida diserap dari lumen usus halus

dandiresintesis lagi menjadi trigliserida yang kemudian digabungkan dengan

proteinmembentuk kilomokron. Fosfolipid dan kolesterol yang berasal dari

makananyang dikonsumsi juga akan digabungkan dalam kilomikron dan

ditransportasikan(Yuniastuti, 2002).

Bila jumlah karbohidrat atau pati yang dikonsumsi banyak, maka tubuh

akanmenggunakan glukosa sebagai energi dan esterifikasi asam lemak bebas.

Akantetapi jika jumlah konsumsi sedikit maka karbohidrat hanya digunakan

untukesterifikasi asam lemak bebas dan untuk produksi energi digunakan asam

lemakbebas. Esterifikasi adalah proses pembentukan trigliserida kembali dari

asamlemak dan gliserol. Sebagian besar asam lemak disimpan sebagi

trigliserida33(trigliserol) dalam sel-sel jaringan adipose (sekitar 16% dari berat

badanmerupakan trigliserida) (Zuheid, 1990).

(25)

Kebutuhan zat gizi itik pada masing-masing periode pemeliharaan sangat

berbeda. Pada berbagai fase pemeliharaan itik membutuhkan pakan dengan

kandungan air, protein, vitamin, mineral, lemak dan serat kasar yang mencukupi.

Begitu juga dengan jumlah pakan yang diperlukan itik tergantung tingkat umur

itik (Wakhid, 2013).

Protein merupakan materi penyusun dasar dari semua jaringan tubuh yang

dibentuk, misalnya otot-otot, sel darah untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Pemberian protein ternak harus dilakukan dengan berkesinambungan melalui

ransum untuk pertumbuhan, pergantian sel dan produksi lainnya. Jika protein

yang diberikan tidak cukup maka akan menyebabkan pertumbuhan dari ternak

tidak normal (Santoso, 1986).

Pemeliharaan itik yang khusus untuk tujuan pedaging ransum stater 22%

protein yang diberikan sampai umur 2 minggu, kemudian disusul dengan ransum

grower dan finisher yang mengandung protein untuk grower 18% kemudian

ransum finisher 16% (Wahyu, 1988).

Bahan makanan pada dasarnya mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh

untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi (Tillman et al.. 1991).Berdasarkan

unsur yang dikandung oleh bahan makanan yang perlu disediakan zat-zat nutrisi

yang dibutuhkan ternak.

Pada prinsipnya makanan itik tidak berbeda dengan makanan ayam.

Perbedaan terletak pada kadar protein dalam ransum yang relatif lebih tinggi.

Disamping itu penyediaan air lebih banyak diperhatikan. Itik yang dipelihara

secara intensif atau dikurung, kebutuhan air biasanya disediakan dalam

(26)

menyatakan bahwa bahan makanan yang biasa dipakai sebagai campuran ransum

itik adalah jagung kuning, dedak, bungkil-bungkilan, kulit kerang, tepung ikan,

daun lamtoro, minyak atau lemak, tepung darah dan lainnya.

Ransum pada itik pada dasarnya sama seperti ayam, kesamaannya

terutama pada bagian penggunaan bahan pakan. Ransum itik umumnya diberikan

agak basah. Air perlu ditambahkan ke dalam ransum untuk membuat pakan

ransum saling melekat, akan tetapi ransum tidak boleh begitu basah sampai becek

(Anggorodi, 1995).

Itik pedaging harus diberi pakan yang memiliki gizi tinggi untuk

mendukung pertumbuhan yang cepat.Kebutuhan utama zat gizi berupa protein

dengan kandungan asam amino esensial yang berimbang serta mempunyai

kandungan energi yang memadai. Disamping itu pakan tersebut harus memiliki

kadar vitamin dan mineral yang harus diperhatikan. Itik pada periode starter

membutuhkan ransum dengan kadar protein antara 20-22% dan energi

metabolismenya antara 2800-3000 kkal/kg ransum. Memasuki fase finisher, kadar

protein diturunkan menjadi 16-17% dan energi metabolismenya sebesar

2900-3000 kkal/kg. Untuk mencapai berat badan sekitar 3,5 kg pada umur 8 minggu,

itik peking harus menghabiskan pakan sebanyak 9,5 kg dengan rata-rata konsumsi

pakan 170 g/hari selama 8 minggu (Srigandono, 1998).

Kebutuhan nutrisi untuk itik peking dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini,

(27)

Tabel 3. Kebutuhan nutrisi itik peking

Sumber: NRC (1994) disitasi Anggorodi (1995).

Tabel 4. Laju pertumbuhan dan konsumsi itik pedaging

Umur Minggu

Berat badan (Kg) Konsumsi makanan mingguan (Kg)

Konsumsi makanan komulatif (Kg) Jantan Betina Jantan Betina Jantan Betina

1 0,06 0,06 0,00 0,00 0,00 0,00

(28)

Bobot Potong

Bobot potong adalah bobot ternak yang penimbangannya dapat dilakukan

sebelum ternak dipotong. Itik pekingbiasanya dipotong berumur 7-8 minggu,

sebelum dipotong itik peking dilakukan pemuasaan terlebih dahulu selama 8-10

jam. Pemuasaan mempunyai tujuan agar saluran pencernaan relatif sudah kosong

sehingga pada saat proses pemotongan, karkas tidak terkontaminasi oleh kotoran

saluran pencernaan itik peking (Srigandono, 1998).

Karkas dan Persentase Karkas

Karkas unggas merupakan daging bersama dengan tulang hasil

pemotongan setelah dipisah dari kepala sampai batas leher kemudian dari kaki

sampai batas lutut (tarsus) dan juga isi perut serta darah dan bulu unggas

(Murtidjo, 1996).

Karkas yang bagus mempunyai bentuk yang padat, terdapat di kulit dan di

dagingnya.Sedangkan karkas yang tidak bagus mempunyai bentuk daging yang

kurang padat pada bagian dada sehingga terlihat panjang dan kurus.Pada dasarnya

bobot karkas dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, bobot badan, kualitas dan

kuantitas makanan yang diberikan (Siregar, 1994).

Ukuran karkas ditentukan berdasarkan bobot, dimana bobot individual

ditentukan oleh bobot karkas itu sendiri, berdasarkan pembagiannya adalah :

ukuran kecil 0,8 kg-1,0 kg, ukuran sedang 1,0 kg-1,2 kg, ukuran besar 1,2 kg-1,5

kg (Sembiring, 1993).

Itik peking pada umur 50-56 hari mencapai persentase karkas sampai 65%,

namun tingkat pertumbuhan tersebut terjadi pada keadaan suhu lingkungan

(29)

tropis yang suhu udaranya berada diantara 28-29 C, tingkat pertumbuhan yang

dapat kira-kira 10% lebih rendah (Srigandono, 1997).

Menurut Ensminger (1992)kualitas karkas terbagi atas 3 bagian, yaitu

kualitas A, kualitas B dan kualitas C. Ciri-ciri dari masing-masing kualitas

tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini :

Tabel 5. Ciri-ciri kualitas karkas

Faktor Kualitas Kualitas A Kualitas B Kualitas C

Konformasi Sempurna Boleh ada cacat

sedikit tapi tidak boleh pada bagian paha

Ada cacat sedikit

Pedagingan Tebal Sedang Tipis

Perlemakan Cukup Cukup Tipis

Keutuhan Sempurna Tulang sempurna

kulit boleh sobek

Perubahan warna Bebas dari memar Adamemar sedikit

tapi tidak pada bagian dada

Ada memar

Kualitas daging dan karkas sangat dipengaruhi oleh faktor sebelum dan sesudah

pemotongan.Faktor untuk sebelum pemotongan yaitu genetik, tipe ternak tersebut,

jenis kelamin, ransum termasuk bahan aditif (hormon dan antibiotik) dan stres.

Faktor untuk setelah pemotongan antara lain metode stimulasi listrik, pemanasan

dan penyimpanan (Soeparno, 1994).Disamping itu, produksi karkas sangat erat

kaitannya dengan bobot badan. Pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh bahan

pakan penyusun ransum itu sendiri (Nataamidjaya et al., 1995).

Persentase karkas merupakan faktor yang penting untuk menilai produksi

karkas, semakin bertambahnya bobot hidup (bobot potong) maka produksi karkas

(30)

Persentase karkas merupakan perbandingan antara bobot karkas dan bobot

hidup yang mempunyai faktor penting dalam produksi ternak potong sebenarnya,

dikarenakan dalam bobot hidup masih ada saluran pencernaan dan organ dalam

yang mempunyai berat masing-masing ternak berbeda. Persentase karkas bisa

dipengaruhi oleh bertambahnya umur serta bobot hidup dan yang akan diikuti

dengan meningkatnya bobot karkas yang dihasilkan (Soeparno, 1994).

Persentase karkas juga merupakan faktor yang sangat penting untuk

menilai dari produk ternak tersebut,dimana semakin bertambah bobot potong

maka produksi karkasnya semakin meningkat (Morran, 1970).Secara umum,

persentase karkas unggas berkisar sekitar 65-75 % dari berat hidup (bobot potong)

yang ada (Priyatno, 1997). Komposisi kimia dan komponen karkas itik peking

ditampilkan pada Tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6. Komposisi Kimia Komponen Karkas Itik Peking (Umur 50 Hari)

Komponen Lemak Air Protein

*** Tulang, kartilago dan jaringan yang menempel (Srigando, 1997).

Bobot Lemak Abdominal dan Persentase Lemak Abdominal

Itik termasuk salah satu ternak yang mempunyai kandungan lemak yang

relatif tinggi yaitu 2,0% dari berat hidup (Srigandono, 1997). Dalam tubuh itik

(31)

cukup banyak. Disamping itu penimbunan sejumlah lemak abdominal yaitu

lemakyang terdiri dari rongga perut. Lemak badan mempunyai peranan yang

penting untuk mengatasi kondisi lingkungan dingin ketika berada pada habitat

aslinya air (Srigandono, 1997).

Lemak pada bagian perut (abdominal) diperoleh dengan

memisahkanlemak pada bagian perut dan sekitar saluran pencernaan termasuk

sekitarventriculus dan intestinum. Deposit lemak paling banyak terdapat pada

bagianabdominal. Jaringan adipose tubuh 50% berada di bawah kulit, sisanya

berada di sekitar alat alat tubuh tertentu terutama ginjal dan di dalam membran

sekeliling29usus dan intramuscular. Penimbunan lemak abdominal dipengaruhi

beberapa faktor, antara lain tingkat energi dalam ransum, umur dan jenis kelamin

(Al-Sultan, 2003).

Perlemakan tubuh diakibatkan darikonsumsi energi yang berlebih yang

akan disimpan dalam jaringan tubuh yaitupada bagian intramuscular, subcutan

dan abdominal. Kelebihan energi akan menghasilkan karkas yang mengandung

lemak lebih tinggi danrendahnya konsumsi menyebabkan lemak dan karbohidrat

yang disimpan dalam glikogen rendah (Gaman, 1992).

Faktor-faktor yangmempengaruhi lemak tubuh, maka faktor ransum

adalah yang palingberpengaruh. Perlemakan tubuh diakibatkan dari konsumsi

energi ransum yangberlebih yang akan disimpan dalam jaringan tubuh, yaitu

bagian dariintramuskuler, subkutan dan abdominal (Zuheid, 1990).

Salah satu cara untuk mengurangi lemak adalah dengan jalan

memvariasikan dengan nutrien ransum terutama energi dan protein. Dengan

(32)

lemak abdominalnya secara keseluruhan. Sebaliknya dengan meningkatnya

kandungan protein ransum maka jumlah lemak abdominalnya juga akan menurun

(Wahyu, 1985).

Hubungan antara lemak yang dikonsumsi dan lemak yang disimpan dalam

tubuh unggas dapat diubah hanya bila sejumlah besar lemak dikonsumsi.

Kelebihan lemak hanya dapat disimpan dalam sel-sel lemak. Bila karbohidrat dan

lemak yang dikonsumsi lebih dari yang diperlukan unggas, penyimpanan lemak

akan berlanjut dan tidak terbatas (Aggorodi, 1995).

Kelebihan energi setelah energi untuk pertumbuhan dan pemeliharaan

ternak unggas terpenuhi, akan disimpan dalam bentuk lemak. Karena kelebihan

energi mempunyai pengaruh buruk terhadap kualitas karkas setelah ternak unggas

dipotong (Murtidjo, 1996). Menurut Anggorodi (1995) kira-kira 50% jaringan

lemak terdapat dibawah kulit sedangkan sisanya ada di sekeliling usus dan urat

daging.

Sisa energi yang disimpan dalam bentuk lemak di berbagai tempat

penimbunan sehingga ternak tampak gemuk. Penimbunan lemak akan berlanjut

(33)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian inidilaksanakan di Laboratorium Biologi TernakProgram Studi

Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.Penelitian ini

berlangsung selama 8 minggu dimulai dari bulan Agustus 2014 sampai dengan

Oktober 2014.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan

Bahan yang digunakan yaitu itik Peking umur 1 hari (Day Old Duck

(DOD)sebanyak 90 ekor,bahan penyusun ransum terdiri dari jagung, dedak padi,

bungkil kelapa, bungkil kedelai, tepung ikan, minyak nabati, bungkil inti sawit,

tepung limbah ikan gabus pasir; top mix, air minum memenuhi kebutuhan air

dalam tubuh yang diberikan secara ad libitum, air gula untuk mengurangi stress

dari kelelahan transportasi, rodalon sebagai desinfektan kandang dan peralatan

tempat pakan dan minum,formalin 40% dan KMnO4 (Kalium permanganate)

untuk fumigasi kandang,vitamin dan suplemen tambahan seperti Vitachick, vaksin

ND strain Lasota.

Alat

Adapun alat yang digunakan yaitukandang model panggungbertingkat

sebanyak 18 plot, masing-masing dengan ukuran panjang 100 cm, lebar 72 cm

dan tinggi 100 cmsebanyak 18 unit dan tiap unit diisi 5 ekor DOD,peralatan

kandang terdiri dari 18 unit tempat pakan dan 18 unit tempat minum, timbangan

(34)

ransum,alat penerang dan pemanas berupa lampu pijar 40watt sebanyak 18

buah,thermometer sebagai pengukur suhu kandang. Alat pencatat data seperti

bukudata, alat tulis dan kalkulator,alat pembersih kandang berupa sapu, ember,

sekop dan hand sprayer, alat lain berupa plastik, ember dan pisau.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL)

yang terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan dimana setiap perlakuan terdiri dari 5

ekor itik peking. Penelitian ini terdahulunya diambil dari penelitian Hutasoit

(2014) dimana metode penelitiannya menggunakan 3 metode sebelumnya yaitu

metode pengukusan, pengeringan matahari dan silase, dimana bahan pakan yang

terbaik adalah metode pengukusan yang digunakan dalam penelitian ini. Pada

ransum diberikan perlakuan sebagai berikut:

P0 = Kontrol (Ransum dengan tepung limbah ikan gabus pasir sebanyak 0%)

P1 = Ransum dengan tepung limbah ikan gabus pasir sebanyak 5%

P2 = Ransum dengan tepung limbah ikan gabus pasir sebanyak 10%

Jumlah ulangan:

Dengan susunan sebagai berikut :

P0U2 P2U3 P1U3 P0U3 P2U6 P1U6

P2U1 P1U2 P0U4 P2U5 P1U5 P0U5

P1U4 P0U1 P2U2 P1U1 P0U6 P2U4

(35)

Menurut Hanafiah (2003), model linear untuk rancangan acak lengkap

(RAL) adalah :

Yij = µ + σi + ∑ij

Keterangan :

Yij = Nilai pengamatan yang diperoleh dari satuan percobaan dari perlakuan

ke-i dan ulangan ke-j

µ = Nilai tengah umum

σi = Efek dari perlakuan ke-i

∑ij = Pengaruh galat percobaan perlakuan ke-I dan ulangan ke-j.

Ransum Percobaan Penelitian

Tabel 2. Formulasi ransum itik peking umur Starter

Bahan P0 P1 P2

Bungkil KIedelai 20,00 20,00 20,00

(36)

Vidiana et al., (2014).

Parameter Penelitian

a. Bobot potong (g/ekor)

Bobot potong adalah bobot ternaksebelum ternak dipotong setelah dipuasakan

selama 9-12 jam (Hasibuan. 2007).

b. Bobot karkas (g/ekor)

Bobot karkas adalah bobot yang diperoleh dari selisih bobot tubuh setelah

dipuasakan (bobot potong)dikurangi, kepala, kedua kaki, darah, bulu dan organ

Table 4. Formulasi ransum itik peking umur grower

Bahan P0 P1 P2

Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir 0,00 5,00 10,00

(37)

dalam (hati, saluran pencernaan, jantung, saluran reproduksi, kecuali ginjal) yang

dinyatakan dalam g/ekor (Hasibuan, 2007).

c. Persentase Karkas (%)

Persentase karkas adalah perbandingan bobot karkas dengan bobot potong

dikalikan 100% (Hasibuan, 2007).

d. Bobot lemak Abdominal (g/ekor)

Diperoleh dari hasil penimbangan lemak yang terdapat disekitar rongga perut

sampai dengan kloaka (Hasibuan, 2007).

e. Persentase lemak abdominal (%)

Persentase lemak abdominal adalah perbandingan berat abdominal dengan berat

karkas dikalikan 100% (Waskito, 1981).

Pelaksanaan Penelitian

Persiapan Kandang dan Peralatan

Kandang yang digunakan yaitu sistem model panggung, terdiri dari 18

plot, setiap plot terdapat 5 ekor DOD.Sebelum DOD dimasukkan, kandang

dibersihkan dengan air dan detergen kemudian didesinfektan menggunakan

rodalon dan fumigasi menggunakan formalin 40% dan KMnO4 . Istirahat kandang

dilakukan selama 1 minggu.Kandang harus dilengkapi dengan tempat pakan dan

minum serta alat penerangan.Air gula diberikan keDOD pada saat baru tiba untuk

mengurangi cengkaman stres selama perjalanan.

Random DOD

Sebelum DOD dimasukkan kedalam kandang yang sudah disediakan,

(38)

pemilihan secara acak (random) untuk menghindari bias (galat percobaan) lalu

ditempatkan pada masing-masing plot yang tersedia sebanyak 5 ekor.

Pembuatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir

Pendahuluan penelitian dengan menggunakan tiga metode yaitu metode

pengukusan, pengeringan matahari dan metode silase, dimana diantara tiga

metode yang dianalisis, bahan pakan yang terbaik adalah metode

pengukusan.Pembuatan tepung diawali dengan membersihkan limbah ikan gabus

dengan air, kemudian dikukus selama 15 menit ± 1000C, lalu dipress limbah

tersebut dan diovenkan dengan suhu 60oC selama 8 jam. MenurutWinarno

(1995)suhu pemasakan tepung ikan biasanya sekitar 95-1000C dengan waktu

pemasakan sekitar 20 menit atau dapat dilakukan selama 15-30 menit pada suhu

970C.

Penyusunan Ransum

Bahan penyusun ransum yang digunakan terdiri dari jagung, dedak padi,

bungkil kedelai, tepung ikan, bungkil inti sawit, minyak nabati, tepung limbah

ikan gabus pasir,top mix.

Bahan penyusun ransum sebaiknya ditimbang terlebih dahulu sesuai

komposisi susunan ransum yang telah ditentukan dalam formulasi setiap

perlakuan.Metode yang digunakan dalam mencampur ransum adalah secara

manual dan ransum disusun dua kali seminggu untuk mencegah terjadinya

(39)

Pemeliharaan Itik Peking

Semua perlakuan terdiri dari 18 plot/kandang, masing-masing plot berisi 5

ekor itikpeking, setiap plot/kandang diberi pemanas dan penerangan (lampu pijar

40 watt). Ransum dan air minum diberikan secara adlibitum.

Pengambilan data

Pengambilan data dilakukan pada itik pekingumur 8 minggu dengan

memotong semua ternak dalam plot yang dijadikan sebagai sampel. Tahapan

pelaksanaan pemotongan adalah sebagai berikut:

- Sampel dipuasakan secara bertahap dengan rentang waktu 10 menit dari

setiap plot selama 12 jam kemudian sampel ditimbang untuk mengambil data

bobot potong.

- Pemotongan dilakukan sesuai dengan syariat islam dengan cara memotong

arteri karotis,vena jungularis dan oesofagus.

- Setelah darah keluar secara sempurna itik dicelup kedalam air panasdengan

suhu 60oC (1420F) selama ± 1 menit (Ensmeninger, 1992), kemudian dibului

dan dipisahkan dari kepala sampai batas leher dan kaki sampai batas lutut

serta isi perut, lalu ditimbang bobot karkasnyaserta dihitung persentase

karkasnya.

- Setelah isi perut dikeluarkan,dipisahkan organ di sekitar empedu, usus

membentang sampai ischium, fabricus, rongga peruthingga kloaka.

- Difreezer karkas selama 6 jam dengan suhu dibawah 00C atau sampai

membeku serta dipisahkan lemak dari daging, ditimbang lemak abdominal

(40)

Analisis Data

Data dianalisis dengan sidik ragam guna mengetahui pengaruh perlakuan

terhadap parameter penelitian antara lain bobot potong, bobot karkas,persentase

karkas, bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal.Analisis data

dilakukan dengan menggunakan analisis Sidik Ragam dan besaran F-tabel

diperoleh dari Tabel F dengan derajat bebas yang sesuai dengan taraf nyata yang

diinginkan. Bila nilai F-hitung > F-tabel pada taraf α = 0,05 dikatakan perlakuan

-perlakuan tersebut berbeda nyata. Apabila F-hitung lebih besar dari F-tabel pada

taraf α = 0,01 dikatakan perlakuan-perlakuan tersebut berbeda sangat nyata.

Apabila F-hitung lebih kecil dari F-tabel, H0 diterima. Berarti pengaruh perlakuan

tersebut tidak berbeda nyata. Jika semua data telah diperoleh maka dilakukan uji

(41)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bobot Potong

Bobot potong merupakan bobot yang diperoleh setelah ternak dipuasakan

selama 12 jam dengan pemberian air minum secara adlibitum. Bobot potong perlu

diperhatikan karena berpengaruh terhadap kualitas karkas itik peking. Data rataan

bobot potong itik peking umur 8 minggu dapat dilihat pada Tabel 7di bawah ini.

Tabel 7. Rataan bobot potong itik peking umur 8 minggu (g/ekor)

Tabel diatas menunjukkan bahwarataan bobot potong tertinggi diperoleh dari

hasil penelitian terdapat pada perlakuan P2 (ransum dengan 10% tepung ikan

gabus pasir)sebesar 1384,89 g dan terendah pada perlakuan P0 (kontrol) sebesar

1334,22 g. Hal ini dikarenakan ternak itik memanfaatkan protein yang terdapat

pada ransum pada setiap perlakuan yang dibutuhkan ternak berbeda-beda. Protein

sebagai bahan pembangun tubuh menganti sel-sel tubuh yang telah rusak.

Pendapat tersebut didukung oleh Maynard dan Loosli (1969) dan Santoso (1986)

yang menyatakan bahwa protein dalam tubuh ternak berperan sebagai bahan

pembangun tubuh danpengganti sel-sel yang sudah rusak serta bahan penyusun

beberapa hormon danprotein merupakan materi penyusun dasar dari semua

jaringan tubuh yang dibentuk, misalnya otot-otot, sel darah untuk pertumbuhan

dan perkembangan.Pemberian protein ternak harus dilakukan dengan

Perlakuan Ulangan

1 2 3 4 5 6 Rataan±sd

P0 1253,33 1413,33 1274,33 1458,00 1283,00 1323,33 1334,22±83,00

P1 1401,00 1304,66 1380,33 1247,33 1442,00 1352,66 1354,66±69,94

(42)

berkesinambungan melalui ransum untuk pertumbuhan, pergantian sel dan

produksi lainnya, jika protein yang diberikan tidak cukup maka akan

menyebabkan pertumbuhan dari ternak tidak normal.

Bobot potong dipengaruhi oleh pertambahan bobot badan dan konsumsi.

Untuk mengetahui pertambahan bobot badan dapat dilihat pada di Lampiran 19.

Pertambahan bobot badan tertinggi terdapat pada perlakuan sebesar

33,12 g/ekor/hari sedangkan pertambahan bobot badan terendah terdapat pada

perlakuan P0 sebesar 31,98 g/ekor/hari sedangkan P1 sebesar 32,35 g/ekor/hari.

Untuk rataan konsumsi pakan dapat dilihat pada Lampiran 22. Konsumsi pakan

tertinggi terdapat pada perlakuan P0 sebesar 110,38 g/ekor/hari dengan standar

deviasi sebesar 2,0921 sedangkan konsumsi ransum yang terendah terdapat pada

perlakuan P1 sebesar 107,78 g/ekor/hari dengan standar deviasi sebesar 1,6657

sedangkan konsumsi ransum pada perlakuan P2 sebesar 108,37 g/ekor/hari

dengan standar deviasi sebesar 2,2977. Hal ini sesuai yang dikemukakan

Srigandono (1998) bahwa untuk mencapai berat badan sekitar 3,5 kgpada umur 8

minggu, itik peking harus menghabiskan pakan sebanyak 9,5 kg dengan rata-rata

konsumsi pakan 170 g/hari selama 8 minggu.

Pengaruh pemberian tepung limbah ikan gabus dalam ransum tidak

berbeda nyata (P>0,05) terhadap bobot potong terdapat pada lampiran 2. Rataan

bobot potong itik peking yang diperoleh antar perlakuan tidak terdapat perbedaan

yang sangat signifikan. Tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap bobot potong

itik peking antar perlakuan dipengaruhi oleh kandungan nutrisi ransum yang

hampir sama pada tiap perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa ransum P1 dan P2

(43)

Rataan bobot potong itik peking umur 8 minggu hasil penelitian ini lebih

tinggi dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Rosmauli (2006) bahwa

rataan bobot potong itik peking dengan pemanfaatan tepung temulawak sebesar

1274,50 g. Hasil penelitian ini juga lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian

yang dilaporkan Yulinar (2006) rataan bobot potong itik peking dengan

pemanfaatan kulit biji kakao sebesar 1343,25 g. Rataan bobot potong hasil

penelitian ini lebih rendah dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh

Hasibuan (2007) sebesar 1614,17 g. Hal ini dikarenakan semua protein dalam

pakan secara sempurna dicerna menjadi asam-asam amino dalam alat pencernaan

kemudian diserap oleh tubuh melalui usus halus (intestine). Bobot potong juga

berhubungan dengan suhu lingkungan, konsumsi ransum pada perlakuan yang

sama. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Rasyaf (1992) mengatakan bahwa

pertambahan bobot badan dapat dipengaruhi oleh konsumsi ransum, kesehatan,

suhu lingkungan dan jenis kelamin.

Bobot Karkas

Bobot karkas merupakanselisih bobot tubuh setelah dipuasakan (bobot

potong) yang diperoleh dari hasil penimbangan daging bersama tulang dari hasil

pemotongan setelah dipisahkan bulu, darah, kepala sampai batas pangkal leher,

kaki sampai batas lutut dan isi rongga bagian dalam selain ginjal. Rataan bobot

karkas dapat dilihat dari Tabel 9di bawah ini.

Tabel 8. Rataan bobot karkas itik peking umur 8 minggu(g/ekor)

Perlakuan Ulangan

1 2 3 4 5 6 Rataan±sd

P0 793,00 933,66 824,33 972,33 810,00 853,00 864,38±72,44

P1 896,66 755,66 895,66 785,83 897,33 859,66 848,46±62,60

(44)

Berdasarkan tabel diatasrataan bobot karkas tertinggi yang diperoleh dari

hasil penelitian terdapat pada perlakuan P2 yaitu sebesar 888,71g dan terendah

pada perlakuan P1 sebesar 848,467 g. Bobot karkas P1 lebih rendah dibandingkan

bobot karkas P0. Hal itu dipengaruhi oleh adanya hubungan metabolisme lemak

yang berbeda antar perlakuan. Ukuran bobot karkas P0, P1, P2 yang diperoleh

dari hasil penelitian masuk dalam kriteria bobot karkas ukuran kecil. Hal ini

sesuai pernyataan Sembiring (1993) yang menyatakan bahwa ukuran karkas

ditentukan berdasarkan bobot, bobot individual ditentukan oleh bobot karkas itu

sendiri, berdasarkan pembagiannya adalah : ukuran kecil 0,8 kg-1,0 kg, ukuran

sedang 1,0 kg-1,2 kg, ukuran besar 1,2 kg-1,5 kg.

Pengaruh pemberian tepung limbah ikan gabus dalam ransum tidak

berbeda nyata (P>0,05) terhadap bobot karkas. Penelitian ini memberikan hasil

bahwa itik peking yang memiliki bobot potong besar tidak selamanya memiliki

bobot karkas yang besar juga. Bisa dilihat pada perlakuan P1, rataan bobot potong

P1 lebih tinggi dibandingkan rataan bobot potong P0 tetapi jika dilihat rataan

bobot karkas, perlakuan P0 lebih tinggi dibandingkan P1. Hal tersebut

dikarenakan non karkas pada perlakuan P0 lebih besar dibandingkan P1, tetapi P2

memiliki bobot potong dan bobot karkas yang tinggi. Hal ini sesuai sesuai dengan

yang dikemukakan oleh Soeparno (1994) yang menyatakan bahwa bobot karkas

dan bobot hidup yang mempunyai faktor penting dalam produksi ternak potong

sebenarnya, dikarenakan dalam bobot hidup masih ada saluran pencernaan dan

organ dalam yang mempunyai berat masing-masing ternak berbeda. Persentase

karkas bisa dipengaruhi oleh bertambahnya umur serta bobot hidup dan yang akan

(45)

Pemberian ransum yang berenergi tinggi dengan imbangan yang baik

antara protein, vitamin dan mineral akan menghasilkan bobot karkas yang tinggi.

Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Nataamidjaya et al.,(1995)

yang menyatakan bahwa produksi karkas sangat erat kaitannya dengan bobot

badan, dimana pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh bahan pakan penyusun

ransum. Adapun bahan-bahan pakan penyusun ransum dilakukan satu kali

seminggu, sehingga ketengikan pakan tersebut dapat dihindari.

Rataan bobot karkas itik peking umur 8 minggu hasil penelitian ini lebih

tinggi dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Rosmauli (2006) bahwa

rataan bobot karkas itik peking dengan pemanfaatan tepung temulawak sebesar

860,45 g. Rataan bobot potong hasil penelitian ini lebih rendah dibandingkan hasil

penelitian yang dilaporkan oleh Yulinar (2006) rataan bobot karkas itik peking

dengan pemanfaatan kulit biji kakao sebesar 896,50 g. Rataan bobot karkas hasil

penelitian ini lebih rendah juga dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan

oleh Hasibuan (2007) dengan pemanfaatan tepung bawang putih sebesar

1057,50 g.

Persentase Karkas

Persentase karkas merupakan perbandingan antara bobot karkas dengan

bobot potong dikalikan 100 %. Rataan persentase karkas itik peking dapat dilihat

(46)

Tabel 9. Rataan persentase karkas itik peking umur 8 minggu (%)

Berdasarkan tabel diatas diperoleh bahwa rataan persentase karkas

tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol yaitu P0 sebesar 64,62%,sedangkan

persentase terkecil pada P1 sebesar 62,73%. Persentase terbesar tidak dihasilkan

dari bobot karkas yang terbesar. Hal ini dipengaruhi oleh non karkas ternak itik

sendiri, hal itu juga dikarenakan ternak tersebut mendeposisikan protein

berbeda-beda. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Maynard dan Loosli (1969) bahwa

meningkatkan kandungan protein dalam karkas, dan meningkatnya deposisi

protein yang merupakan indikasi dari proses pemanfaatan protein pakan. Deposisi

protein yang bernilai positif, berarti ternak tersebut memanfaatkan protein yang

tinggal di tubuh untuk meningkatkan bobot badan. Hal ini juga sesuai pernyataan

Boorman (1980) menyatakan bahwa energi yang cukup bagi tubuh ternak akan

mencegah pemanfaatan protein tubuh, sehingga deposisi protein tidak menurun.

Pemberian pakan dengan kadar protein tinggi diharapkan dapat meningkatkan

jumlah protein yang terdeposisi di dalam tubuh.

Pemberian tepung limbah ikan gabus dalam ransum tidak berbeda nyata

(P>0,05) terhadap persentase. Hal ini disebabkan bobot potong dan bobot karkas

sangat mempengaruhi besar kecilnya persentase karkas. Pendapat ini juga

didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Morran (1970) bahwa semakin

(47)

Hasil penelitian menunjukkan rataan persentase karkas yang diperoleh P0

sebesar 64,62% dengan standar deviasi sebesar 1,39, P1 sebesar 62,73 dengan

standar deviasi sebesar 2,45 dan P2 sebesar 64,41% dengan standar deviasi

sebesar 3,43%. Hal itu mengartikan bahwa persentase itik peking umur 8 minggu

bisa mencapai ± 65%. Hal ini juga didukung oleh teori Srigandono (1997) yang

menyatakan bahwa itik peking pada umur 50-56 hari mencapai persentase karkas

sampai 65%, namun tingkat pertumbuhan tersebut terjadi pada keadaan suhu

lingkungan pemeliharaan 13-27 C. Didaerah yang suhunya lebih tinggi, misalnya

didaerah tropis yang suhu udaranya berada diantara 28-29 C, tingkat pertumbuhan

yang dapat kira-kira 10% lebih rendah.

Bobot Lemak Abdominal

Lemak abdominal diperoleh dari hasil penimbangan lemak yang terdapat

disekitar rongga perut dan sekitar kloaka yang dihitung dalam satuan gram.

Rataan lemak abdominal itik peking umur 8 minggu dapat dilihat pada Tabel 13

di bawah ini.

Tabel 10. Rataan lemak abdominal itik peking umur 8 minggu (g)

Perlakuan Ulangan

Berdasarkan tabel di atas lemak abdominal tertinggi yang diperoleh

terdapat pada perlakuan P2 yaitu sebesar 69,99 g dan terendah terdapat pada

perlakuan P0 yaitu sebesar 9,27 g. Hal ini dikarenakan kelebihan protein yang

(48)

P2 akan disimpan dalam bentu lemak. Hal ini sesuai pernyataan Wahyu (1997)

yang menyatakan bahwa protein dalam tubuh akan digunakan sebagai sumber

energi, kelebihan protein ini akan disimpan dalam bentuk lemak dan juga dibuang

melalui urin. Semua protein dalam makanan secara sempurna dicerna menjadi

asam-asam amino dalam alat pencernaan kemudian diserap oleh tubuh melalui

usus halus (intestine).

Berdasarkan analisis ragam pada lampiran 8 diketahui pemberian tepung

limbah ikan gabus pasir dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap

lemak abdominal itik peking antar perlakuan dipengaruhi oleh kandungan nutrisi

ransum yang hampir sama pada setiap perlakuan dan tingkat konsumsi ransum

yang tidak berbeda nyata pada tiap perlakuan. Hal ini sesuai pernyataan Zuheid

(1990) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yangmempengaruhi lemak tubuh,

maka faktor ransum adalah yang palingberpengaruh.

Perlemakan tubuh diakibatkan dari konsumsi energi ransum yangberlebih

yang akan disimpan dalam jaringan tubuh, yaitu bagian dariintramuskuler,

subkutan dan abdominal. Hal ini juga sesuai teori Anggorodi (1995)

mengemukakan bahwa hubungan antara lemak yang dikonsumsi dan lemak yang

disimpan dalam tubuh unggas dapat diubah hanya bila sejumlah besar lemak

dikonsumsi. Kelebihan lemak hanya dapat disimpan dalam sel-sel lemak. Bila

karbohidrat dan lemak yang dikonsumsi lebih dari yang diperlukan unggas,

(49)

Persentase Lemak Abdominal

Persentase lemak abdominal merupakan perbandingan berat lemak abdominal

dengan berat karkas dikalikan 100%. Rataan persentase lemak abdominal itik

peking dapat dilihat pada Tabel 11 di bawah ini.

Tabel 11. Rataan persentase lemak abdominal itik peking umur 8 minggu (%)

Perlakuan Ulangan

Tabel diatas rataan persentase lemak abdominal tertinggi terdapat pada

perlakuan P2 (10% tepung limbah ikan gabus pasir) sebesar 1,28% dan yang

terendah terdapat pada perlakuan P0 (0% tepung limbah ikan gabus pasir) yaitu

sebesar 1,05%.

Berdasarkan analisis ragam diketahui pemberian tepung limbah ikan gabus

pasir dalam ransum tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap persentase lemak

abdominal itik peking antar perlakuan.

Lemak abdominal itik peking dipengaruhi oleh konsumsi energi dan

disimpan dalam jaringan tubuh. Hal ini sesuai pernyataan Gaman (1992) yang

menyatakan bahwa perlemakan tubuh diakibatkan darikonsumsi energi yang

berlebih yang akan disimpan dalam jaringan tubuh yaitupada bagian

intramuscular, subcutan dan abdominal. Kelebihan energi akan menghasilkan

karkas yang mengandung lemak lebih tinggi. menurut pernyataan Wahyu (1985)

salah satu cara untuk mengurangi lemak adalah dengan jalan memvariasikan

dengan nutrien ransum terutama energi dan protein dengan meningkatnya

(50)

abdominalnya secara keseluruhan. Sebaliknya dengan meningkatnya kandungan

protein ransum maka jumlah lemak abdominalnya juga akan menurun.

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Rekapitulasi penelitian terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase

karkas, bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal dapat dilihat

pada Tabel 12 di bawah ini.

Tabel 12. Rekapitulasi hasil penelitian pemanfaatan tepung limbah ikan gabus pasir dalam ransum terhadap karkas itik peking umur 8 minggu

Perlakuan Bobot potong (g)

Bobot karkas(g)

Persentase karkas(%)

Bobot Lemak abdominal (%)

Persentase lemak abdominal (%) P0 1334,22 tn 864,38 tn 64,62 tn 9,27 tn 1,05 tn P1 1354,66 tn 848,46 tn 62,73 tn 10,44 tn 1,22 tn P2 1384,89 tn 888,71 tn 64,41 tn 11,66tn 1,28 tn

(51)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pemberian tepung limbah ikan gabus pasir dalam ransum itik peking

umur 8 minggu tidak berbeda nyata terhadap bobot potong, bobot karkas,

persentase karkas, bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal,

sehingga dapat dijelaskan pemberian tepung limbah ikan gabus pasir dapat

digunakan untuk menggantikan tepung ikan komersil pada level 10%.

Saran

Tepung limbah ikan gabus pasir dapat diberikan sebanyak 10%dalam

(52)

DAFTAR PUSTAKA

Allen, G.R., 1991. Field Guide To The Freshwater Fishes Of New Guinea Christensen Research Institute, Madang. Papua New Guinea.

Al-Sultan, S. 2003. The Effect of Curcuma Longa (Tumeric) On Overall

Performance of Broiler Chickens. International Journal of Poultry Science.

Anggorodi.H.R., 1985. Ilmu Pakan Ternak Unggas. UI-Press, Jakarta.

Anggorodi.H.R., 1990. Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Anggorodi.H.R., 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Loka Penelitian Kambing Potong., 2014. Analisa Sampel. Sei Putih-Galang, Medan.

Boniran, S., 1999. Kualitas Kontrol untuk Bahan Baku dan Produk Akhir Pakan Ternak. Kumpulan Makanan Quality Management Workshop.

Boorman, K. N., 1980. Dietary constraints on nitrogen retention. In: P.J. Buttery and D. B. Lindsay (Editor). Protein Deposition in Animals.

Butterworths,London. pp. 147-166.

Ensminger, M.E.,1992.Poultry Science. Interstate Publisher. Danville, Illionis.

Gaman, P. M., 1992. Ilmu Pangan Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi edisi kedua. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Gultom, L., 2010. Keanekaragaman dan Distribusi Ikan Dikaitkan dengan Faktor Fisik dan Kimia Air di Muara Sungai Asahan. Tesis. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Hanafiah, K. A., 2003. Rancangan Percobaan. Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Palembang.

Hasibuan, N. 2007. Pemberian Tepung Bawang Putih (Alliun sativum l.) Dalam Ransum Itik Peking Terhadap Bobot Karkas, Persentase Karkas, Bobot Potong Dan Bobot Lemak Abdominal Pada Umur 8 minggu. Universitas Sumatera Utara, Medan.

(53)

Marjuki., 2006. Penggunaan Tepung Ikan Dalam Pakan: http://www.marjuki.blogsome.com.

Maynard, L. A. dan J. K. Loosli., 1969. Animal Nutrition. 6th Ed., Mc Graw Hill Book Company, New Delhi.

Murtidjo. B., 1996. Mengelola Itik. Kanisius, Yogyakarta.

Murtidjo. B., 2001. Beberapa Metode Pengolahan Tepung Ikan. Kanisius. Yogyakarta.

Nataamidjaya, A. G., Dwiyanto, K., Jarmani, S. N., 1995.Pendugaan Kebutuhan Pokok Nutrisi Unggas Koleksi Plasma Nutfah Sistem Free Chise Feeding. Preceding Seminat Nasional Sains dan Teknologi Peternakan. Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor.

NRC, 1984. Nutrient Requirements for Poultry. National Research Council, Washington D. C. USA.

Nurcahyo, H., 2011. Regulasi Metabolisme Protein: http//www. Dr. drh. Heru Nurcahyo.blogspot.com.

Priyatno, M. A., 1997. Mendirikan Usaha Pemotongan Ayam. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rasyaf, M., 1990. Makanan Ayam Broiler. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Rasyaf, M., 1992. Beternak Itik Komersial. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Rosmauli, G. T., 2006. Pemanfaatan Tepung Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) dan Molases dalam Ransum Terhadap Kualitas Karkas Itik Peking Umur 8 Minggu. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Santoso, U., 1986. Limbah Bahan Ransum Unggas yang Rasional. PT. Bhatara Karya Aksara. Jakarta.

Scot, M. L., J. M. G. Neshim and R. Young, 1982. Nutrition Or Chiken 3th Ed.Pulbl. By M. L. Scott Association, New York.

Sembiring, P., 1993. Penuntun Praktikum Produksi Ternak Unggas, Jurusan Peternakan FP USU. Medan.

Sinurat, Arnold P., T. Purwadaria, I.A.K. Bintang, P.P. Ketaren, N. Bermawie, M. Raharjo dan M. Rizal. 2009. Pemanfatan kunyit dan temulawak sebagai imbuhan pakan untuk ayam broiler. JITV Vol. 14 No. 2 Th. 2009: 90-96.

Gambar

Tabel 1. Komposisi nutrisi tepung ikan
Tabel 2. Komposisi nutrisi tepung limbah ikan gabus pasir
Tabel 4. Laju pertumbuhan dan konsumsi itik pedaging
Tabel 5. Ciri-ciri kualitas karkas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari gambar 4 tersebut dapat dilihat bahwa R/C ratio yang diperoleh pada penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan P0 (Ransum kontrol dengan tepung limbah ikan gabus pasir

Menurut Lubis (1992) persentase karkas ayam yang mendapat ransum dengan kandungan protein 23% akan lebih tinggi dibandingkan dengan ayam yang mendapat ransum dengan protein

gabus pasir (Butis amboinensis) dalam ransum terhadap peformans Itik Petelur. Universitas

Judul Penelitian : Pemanfaatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir ( Butis amboinensis ) Sebagai Substitusi Tepung Ikan dalam Ransum Terhadap Kualitas Telur Itik Lokal Umur 35

NOVIKA SARI, 2015: “Pemanfaatan Tepung Limbah Ikan Gabus Pasir (Butis amboinensis) Dalam Ransum Terhadap Kualitas Telur Itik Lokal Umur 35.. Minggu”, dibimbing oleh ARMYN

Pemanfaatan tepung limbah ikan gabus pasir (Butis amboinensis) dapat mensubstitusi tepung ikan dalam ransum terhadap kualitas telur pada itik lokal umur 35 minggu.

ikan gabus pasir sebagai pakan ternak itik dalam bentuk tepung dapat menekan. biaya pakan peternak itik, sehingga dapat menambah pemasukan

Bahan makanan pada dasarnya mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi (Tillman et al.. 1991).Berdasarkan unsur yang dikandung oleh