Penetapan Kadar Fosfor Dalam Buah Jambu Biji Merah (Psidium Guajava L.) Secara Spektrofotometri Sinar Tampak

88  10 

Teks penuh

(1)

PENETAPAN KADAR FOSFOR DALAM BUAH JAMBU BIJI

MERAH (Psidium guajava L.) SECARA

SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK

SKRIPSI

OLEH:

PAHALA A. R. SINAGA

NIM 071501046

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PENETAPAN KADAR FOSFOR DALAM BUAH JAMBU BIJI

MERAH (Psidium guajava L.) SECARA

SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara

OLEH:

PAHALA A. R. SINAGA

NIM 071501046

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

PENETAPAN KADAR FOSFOR

DALAM BUAH JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L.)

SECARA SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK

OLEH:

PAHALA A. R. SINAGA

NIM 071501046

Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara Pada tanggal:

Pembimbing I, Panitia Penguji,

Drs. Chairul Azhar Dalimunthe, M.Sc., Apt Dra. Masfria, M.S., Apt. NIP 194907061980021001 NIP 195707231986012001

Pembimbing II Drs. Chairul Azhar D., M.Sc., Apt

NIP 194907061980021001

Drs. Fathur Rahman Harun, M.Si., Apt.

NIP 195201041980031002 Dra. Siti Nurbaya, Apt. NIP 195008261974122001

Dra. Salbiah, M.Si., Apt. NIP 194810031987012001

Dekan,

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan

berkat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“Penetapan Kadar Fosfor dalam Buah Jambu Biji Merah (Psidium guajava L.)

secara Spektrofotometri Sinar Tampak”. Tujuan penelitian ini adalah untuk

menetapkan kadar fosfor dalam buah jambu biji merah dan mengetahui pengaruh

faktor penghalusan dan pengupasan terhadap kadar fosfor dalam buah jambu biji

merah. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar

Sarjana Farmasi dari Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan

yang tulus kepada orang tua tercinta, Papa Drs. R Sinaga dan Mama R. Siregar,

S.Pd., juga kepada kakak-kakak dan adikku tersayang Juniar Sinaga, S.Hut.,

Wiwik Sinaga, S.Si., May Arcan Sinaga, S.E., Marathur Sinaga, S.Pd., dan

Novrista Sinaga serta semua keluarga yang tidak dapat disebutkan satu per satu,

yang telah banyak memberikan doa dan dorongan serta bantuan moril dan materil

kepada penulis selama menempuh pendidikan S-1 Farmasi.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak

Drs. Chairul Azhar Dalimunthe, M.Sc., Apt., dan Bapak Drs. Fathur Rahman

Harun, M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan

bimbingan dan bantuan yang sangat berarti mulai dari penelitian hingga selesainya

(5)

Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih

kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas

Farmasi, Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Siti Nurbaya, Apt., selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah

memperhatikan dan membimbing penulis selama masa perkuliahan.

3. Ibu Dra. Masfria, M.S., Apt., Ibu Dra. Siti Nurbaya, Apt., dan Ibu Dra.

Salbiah, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan

masukan dan saran kepada penulis hingga selesainya penulisan skripsi ini.

4. Seluruh Staf Pengajar dan Pegawai Tata Usaha di Fakultas Farmasi, serta

seluruh Asisten di Laboratorium yang telah banyak membimbing penulis

selama perkuliahan dan membantu penulis dalam menyelesaikan

penelitian ini.

5. Kelompok kecilku (Kak Christina, S.Farm., Apt., Debi, Sari, dan Ira).

6. Sahabat-sahabatku “Rejoicing in Love” ( Santa, Ira, Debi, Rachmad, Eva,

Novalina, Via, Triwati, Martianus, Vintha, Juwita, Sari, Jimmy, Sandro,

Melati, Cory, Elfrida, Ernal, Hendry, Febri, Wandi, Fanny, Silvana,

Melisa, dan Sylvia).

7. Teman-teman Farmasi 2007 khususnya konsentrasi Sains dan Teknologi

Farmasi serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Tidak ada gading yang tak retak. Penulis menyadari bahwa tulisan ini

(6)

hati penulis bersedia menerima kritik dan saran yang membangun pada skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Juni 2011

Penulis,

(7)

PENETAPAN KADAR FOSFOR DALAM BUAH JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L.) SECARA SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK

ABSTRAK

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya di Indonesia. Sampai saat ini belum ada obat yang tepat untuk mengatasi penyakit DBD. Namun, ada sebagian masyarakat mencoba dengan mengkonsumsi buah jambu biji merah untuk membantu kepulihan pasien penderita DBD. Buah jambu biji merah mengandung fosfor, yaitu mineral yang berperan dalam pembentukan energi dalam bentuk ATP. Pasien DBD membutuhkan asupan energi yang cukup, sehingga dengan adanya pembentukan ATP asupan energi pasien dapat terpenuhi dan dapat membantu kepulihan pasien tersebut. Sehubungan dengan itu, dilakukan penelitian tentang penetapan kadar fosfor dalam buah jambu biji merah dengan variasi perlakuan cara penghalusan dan pengupasan.

Pemeriksaan fosfor dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan pereaksi ammonium molibdat menghasilkan endapan kuning dan dengan menggunakan pereaksi barium klorida menghasilkan endapan putih. Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa buah jambu biji merah mengandung fosfor.

Analisis kuantitatif dilakukan dengan metode Spektrofotometri Sinar Tampak pada panjang gelombang 713 nm. Dari hasil analisis kuantitatif diperoleh kadar fosfor pada buah jambu biji merah yang di-blender (tanpa dikupas dan dikupas) sesuai dengan literatur, sedangkan kadar fosfor dalam buah jambu biji merah di-juicer (tanpa dikupas dan dikupas) tidak sesuai dengan literatur. Metode penelitian ini memiliki %recovery 98,9%, RSD 0,08%, LOD 0,2602 µg/ml, dan

LOQ 0,8672 µg/ml dengan konsenrasi minimum 5,8802 µg/ml yang menunjukkan

bahwa metode ini memiliki tingkat akurasi dan presisi yang baik.

Berdasarkan hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan cara penghalusan dan pengupasan berpengaruh terhadap kadar mineral ini, sedangkan berdasarkan hasil analisis lanjutan uji HSD menunjukkan bahwa cara penghalusan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar fosfor dalam buah jambu biji merah, tetapi faktor pengupasan tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar fosfor dalam buah jambu biji merah.

(8)

DETERMINATION OF PHOSPHORUS IN RED GUAVA FRUIT (Psidium guajava L.) WITH VISIBLE SPECTROPHOTOMETRY

ABSTRACT

Disease of dengue haemorraghic fever is one of the dangerous disease in Indonesia. Until now there is no correct drug to overcome dengue haemorraghic fever. But, there are some societies try by red guava fruit consumption to recovery dengue haemorraghic fever. Red guava fruit contain phosphorus, that is mineral which play a part in forming of energy in the form of ATP. Patient DBD require the input of energy which enough, so that with the existence of forming of ATP the input of energy of patient can be fullfiled and can assist convalesce of the patient. Refering to the mentioned, a research about determination of phosphorus in the red guava fruit with the variation of treatment of attenuation way and peel.

The determination of phosphorus was done by using qualitative and quantitative methods. The qualitative analysis did reacted by ammonium molibddenum formed yellow precipitate and reacted by barium chloridum formed white precipitate. Qualitative analysis showed the red guava fruit content phosphorus.

The quantitative examine did by visible spectrophotometry at maximum wavelength of 713 nm. The result of quantitative analysis get phosphorus value on the sample which blender (without peeled and peeled) is equal to literature, on the other hand phosphorus value on sample which juicer (without peeled and peeld) is not equal to literature. This method has %recovery 98,9%, RSD 0,08%, LOD 0,2602 µg/ml, dan LOQ 0,8672 µg/ml with minimum concentration 5,8802 µg/ml showed that this method has good accuration and precition level.

Pursuant to the result analysis of variance showed that attenuation way and peeling have an effect to this mineral rate, on the other hand pursuant to the result of continuation analyse HSD test showed that attenuation way give significant difference, but peeling factor doesn’t give significant difference.

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Hipotesis ... 3

1.4 Tujuan Penelitian ... 4

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Uraian Tumbuhan ... 5

2.1.1 Taksonomi Buah Jambu Biji Merah ... 5

2.1.2 Deskripsi Buah Jambu Biji Merah ... 5

2.1.3 Macam-macam Jambu Biji ... 6

2.1.4 Kandungan Kimia Jambu Biji Merah ... 7

(10)

2.2 Demam Berdarah Dengue ... 8

2.3 Mineral ... 9

2.3.1 Fosfor ... 9

2.3.2 Kekurangan Fosfor ... 11

2.3.3 Kelebihan Fosfor ... 11

2.4 ATP (Adenosine Tri Phosphate) ... 11

2.5 Spektrofotometri ... 12

2.6 Parameter Validasi ... 15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 18

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 18

3.2 Bahan-bahan ... 18

3.2.1 Sampel ... 18

3.2.2 Pereaksi ... 18

3.3 Alat-alat ... 18

3.4 Pembuatan Pereaksi ... 19

3.4.1 Larutan HNO3 5 N ... 19

3.4.2 Larutan H2SO4 5N ... 19

3.4.3 Larutan Ammonium Molibdat 4% b/v ... 19

3.4.4 Larutan Asam Askorbat 0,1N ... 19

3.4.5 Larutan Kalium Antimonil Tartrat 0,274% b/v ... 19

3.4.6 Larutan Pereaksi Warna Fosfor ... 20

3.5 Rancangan Penelitian ... 20

3.6 Prosedur Penelitian ... 22

(11)

3.6.2 Analisis Kualitatif ... 23

3.6.3 Analisis Kuantitatif ... 24

3.6.3.1 Pembuatan Larutan Induk Baku KH2PO4 ... 24

3.6.3.2 Penentuan Waktu Kerja ... 24

3.6.3.3 Pembuatan Kurva Serapan Larutan KH2PO4 . 25 3.6.3.4 Penentuan Kurva Kalibrasi Larutan Baku Fosfor 25 3.6.4 Analisis Fosfor dalam Sampel ... 25

3.6.5 Prosedur Uji Ketepatan ... 26

3.6.6 Simpangan Baku Relatif ... 27

3.6.7Analisis Data secara Statistik ... 28

3.6.8 Penentuan Batas/Limit Deteksi dan Batas/Limit Kuantitasi ... 28

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 29

4.1 Destruksi Kering ... 29

4.2 Analisis Fosfor dalam Buah Jambu Biji Merah ... 29

4.2.1 Analisis Kualititatif Fosfor ... 29

4.2.2 Analisis Kuantitatif Fosfor ... 29

4.2.2.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Senyawa Kompleks Fosfor Molibdat ... 29

4.2.2.2 Penentuan Waktu Kerja Kompleks Fosfor Molibdat pada Panjang Gelombang 713 nm ... 30

4.2.2.3 Kurva Kalibrasi Fosfor ... 30

4.2.2.4 Analisis Kadar Fosfor pada Buah Jambu Biji Merah 32 4.3 Analisis Data Secara Statistik ... 34

4.3.1 Analisis Variansi ... 34

(12)

4.4 Uji Perolehan Kembali (Recovery) ... 36

4.5 Simpangan Baku Relatif ... 36

4.6 Batas/Limit Deteksi (LOD) dan Batas/Limit Kuantitasi (LOQ) ... 36

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 38

5.1 Kesimpulan ... 38

5.2 Saran ... 38

DAFTAR PUSTAKA ... 39

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Randomisasi Kombinasi Perlakuan dari Cara Penghalusan

dan Pengupasan dengan 6 Kali Replikasi ... 22

Tabel 2. Hasil Kadar Total dan Kadar Rata-rata Fosfor pada Setiap

Kombinasi perlakuan dengan 6 Kali Replikasi ... 32

Tabel 3. Kadar Fosfor Sebenarnya dalam Buah Jambu Biji Merah ... 33

Tabel 4. Data Hasil Analisis Variansi Pengaruh Cara Penghalusan

dan Pengupasan terhadap Kadar Fosfor ... 34

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Kurva Serapan Senyawa Fosfor pada

Konsentrasi 8 µg/ml ... 30

Gambar 2. Serapan Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fosfor

pada Panjang Gelombang 713 nm ... 31

Gambar 3. Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fosfor pada

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Gambar Sampel Buah Jambu Biji Merah ... 42

Lampiran 2. Gambar Penguapan Kandungan Air, Hasil Pengarangan, dan Hasil Pengabuan Sampel ... 43

Lampiran 3. Flowsheet Destruksi Kering ... 44

Lampiran 4. Gambar Hasil Analisis Kualitatif ... 45

Lampiran 5. Data Penentuan Waktu Kerja Senyawa Fosfor Molibdat pada Panjang Gelombang 713 nm ... 46

Lampiran 6. Perhitungan Persamaan Regresi ... 48

Lampiran 7. Daftar Berat Sampel dan Berat Abu ... 49

Lampiran 8. Contoh Perhitungan Hasil Penetapan Kadar Fosfor dalam Sampel dengan Menggunakan Persamaan Regresi . 50

Lampiran 9. Data Serapan Sampel, Konsentrasi, dan Kadar Fosfor pada Setiap Kombinasi Perlakuan dengan 6 Kali Replikasi ... 51

Lampiran 10. Perhitungan Kadar Fosfor Sebenarnya dalam Buah Jambu Biji Merah secara Spektrofotometri Sinar Tampak ... 52

Lampiran 11. Perhitungan Kadar Fosfor dalam Buah Jambu Biji Merah Setelah Penambahan Larutan Standar dan Perhitungan Uji Perolehan Kembali (Recovery) ... 60

Lampiran 12. Data Uji Perolehan Kembali (Recovery) ... 64

Lampiran 13. Analisis Variansi ... 65

Lampiran 14. Perhitungan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi ... 66

Lampiran 15. Perhitungan Konsentrasi Larutan Induk Baku KH2PO4 ... 67

Lampiran 16. Daftar Nilai Distribusi t ... 68

(16)

PENETAPAN KADAR FOSFOR DALAM BUAH JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L.) SECARA SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK

ABSTRAK

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya di Indonesia. Sampai saat ini belum ada obat yang tepat untuk mengatasi penyakit DBD. Namun, ada sebagian masyarakat mencoba dengan mengkonsumsi buah jambu biji merah untuk membantu kepulihan pasien penderita DBD. Buah jambu biji merah mengandung fosfor, yaitu mineral yang berperan dalam pembentukan energi dalam bentuk ATP. Pasien DBD membutuhkan asupan energi yang cukup, sehingga dengan adanya pembentukan ATP asupan energi pasien dapat terpenuhi dan dapat membantu kepulihan pasien tersebut. Sehubungan dengan itu, dilakukan penelitian tentang penetapan kadar fosfor dalam buah jambu biji merah dengan variasi perlakuan cara penghalusan dan pengupasan.

Pemeriksaan fosfor dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan pereaksi ammonium molibdat menghasilkan endapan kuning dan dengan menggunakan pereaksi barium klorida menghasilkan endapan putih. Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa buah jambu biji merah mengandung fosfor.

Analisis kuantitatif dilakukan dengan metode Spektrofotometri Sinar Tampak pada panjang gelombang 713 nm. Dari hasil analisis kuantitatif diperoleh kadar fosfor pada buah jambu biji merah yang di-blender (tanpa dikupas dan dikupas) sesuai dengan literatur, sedangkan kadar fosfor dalam buah jambu biji merah di-juicer (tanpa dikupas dan dikupas) tidak sesuai dengan literatur. Metode penelitian ini memiliki %recovery 98,9%, RSD 0,08%, LOD 0,2602 µg/ml, dan

LOQ 0,8672 µg/ml dengan konsenrasi minimum 5,8802 µg/ml yang menunjukkan

bahwa metode ini memiliki tingkat akurasi dan presisi yang baik.

Berdasarkan hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan cara penghalusan dan pengupasan berpengaruh terhadap kadar mineral ini, sedangkan berdasarkan hasil analisis lanjutan uji HSD menunjukkan bahwa cara penghalusan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar fosfor dalam buah jambu biji merah, tetapi faktor pengupasan tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar fosfor dalam buah jambu biji merah.

(17)

DETERMINATION OF PHOSPHORUS IN RED GUAVA FRUIT (Psidium guajava L.) WITH VISIBLE SPECTROPHOTOMETRY

ABSTRACT

Disease of dengue haemorraghic fever is one of the dangerous disease in Indonesia. Until now there is no correct drug to overcome dengue haemorraghic fever. But, there are some societies try by red guava fruit consumption to recovery dengue haemorraghic fever. Red guava fruit contain phosphorus, that is mineral which play a part in forming of energy in the form of ATP. Patient DBD require the input of energy which enough, so that with the existence of forming of ATP the input of energy of patient can be fullfiled and can assist convalesce of the patient. Refering to the mentioned, a research about determination of phosphorus in the red guava fruit with the variation of treatment of attenuation way and peel.

The determination of phosphorus was done by using qualitative and quantitative methods. The qualitative analysis did reacted by ammonium molibddenum formed yellow precipitate and reacted by barium chloridum formed white precipitate. Qualitative analysis showed the red guava fruit content phosphorus.

The quantitative examine did by visible spectrophotometry at maximum wavelength of 713 nm. The result of quantitative analysis get phosphorus value on the sample which blender (without peeled and peeled) is equal to literature, on the other hand phosphorus value on sample which juicer (without peeled and peeld) is not equal to literature. This method has %recovery 98,9%, RSD 0,08%, LOD 0,2602 µg/ml, dan LOQ 0,8672 µg/ml with minimum concentration 5,8802 µg/ml showed that this method has good accuration and precition level.

Pursuant to the result analysis of variance showed that attenuation way and peeling have an effect to this mineral rate, on the other hand pursuant to the result of continuation analyse HSD test showed that attenuation way give significant difference, but peeling factor doesn’t give significant difference.

(18)

PENETAPAN KADAR FOSFOR DALAM BUAH JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L.) SECARA SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK

ABSTRAK

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya di Indonesia. Sampai saat ini belum ada obat yang tepat untuk mengatasi penyakit DBD. Namun, ada sebagian masyarakat mencoba dengan mengkonsumsi buah jambu biji merah untuk membantu kepulihan pasien penderita DBD. Buah jambu biji merah mengandung fosfor, yaitu mineral yang berperan dalam pembentukan energi dalam bentuk ATP. Pasien DBD membutuhkan asupan energi yang cukup, sehingga dengan adanya pembentukan ATP asupan energi pasien dapat terpenuhi dan dapat membantu kepulihan pasien tersebut. Sehubungan dengan itu, dilakukan penelitian tentang penetapan kadar fosfor dalam buah jambu biji merah dengan variasi perlakuan cara penghalusan dan pengupasan.

Pemeriksaan fosfor dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan pereaksi ammonium molibdat menghasilkan endapan kuning dan dengan menggunakan pereaksi barium klorida menghasilkan endapan putih. Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa buah jambu biji merah mengandung fosfor.

Analisis kuantitatif dilakukan dengan metode Spektrofotometri Sinar Tampak pada panjang gelombang 713 nm. Dari hasil analisis kuantitatif diperoleh kadar fosfor pada buah jambu biji merah yang di-blender (tanpa dikupas dan dikupas) sesuai dengan literatur, sedangkan kadar fosfor dalam buah jambu biji merah di-juicer (tanpa dikupas dan dikupas) tidak sesuai dengan literatur. Metode penelitian ini memiliki %recovery 98,9%, RSD 0,08%, LOD 0,2602 µg/ml, dan

LOQ 0,8672 µg/ml dengan konsenrasi minimum 5,8802 µg/ml yang menunjukkan

bahwa metode ini memiliki tingkat akurasi dan presisi yang baik.

Berdasarkan hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan cara penghalusan dan pengupasan berpengaruh terhadap kadar mineral ini, sedangkan berdasarkan hasil analisis lanjutan uji HSD menunjukkan bahwa cara penghalusan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar fosfor dalam buah jambu biji merah, tetapi faktor pengupasan tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar fosfor dalam buah jambu biji merah.

(19)

DETERMINATION OF PHOSPHORUS IN RED GUAVA FRUIT (Psidium guajava L.) WITH VISIBLE SPECTROPHOTOMETRY

ABSTRACT

Disease of dengue haemorraghic fever is one of the dangerous disease in Indonesia. Until now there is no correct drug to overcome dengue haemorraghic fever. But, there are some societies try by red guava fruit consumption to recovery dengue haemorraghic fever. Red guava fruit contain phosphorus, that is mineral which play a part in forming of energy in the form of ATP. Patient DBD require the input of energy which enough, so that with the existence of forming of ATP the input of energy of patient can be fullfiled and can assist convalesce of the patient. Refering to the mentioned, a research about determination of phosphorus in the red guava fruit with the variation of treatment of attenuation way and peel.

The determination of phosphorus was done by using qualitative and quantitative methods. The qualitative analysis did reacted by ammonium molibddenum formed yellow precipitate and reacted by barium chloridum formed white precipitate. Qualitative analysis showed the red guava fruit content phosphorus.

The quantitative examine did by visible spectrophotometry at maximum wavelength of 713 nm. The result of quantitative analysis get phosphorus value on the sample which blender (without peeled and peeled) is equal to literature, on the other hand phosphorus value on sample which juicer (without peeled and peeld) is not equal to literature. This method has %recovery 98,9%, RSD 0,08%, LOD 0,2602 µg/ml, dan LOQ 0,8672 µg/ml with minimum concentration 5,8802 µg/ml showed that this method has good accuration and precition level.

Pursuant to the result analysis of variance showed that attenuation way and peeling have an effect to this mineral rate, on the other hand pursuant to the result of continuation analyse HSD test showed that attenuation way give significant difference, but peeling factor doesn’t give significant difference.

(20)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit

yang cukup berbahaya di Indonesia. Tanda-tandanya demam tinggi mendadak

selama 2 – 7 hari, pembesaran hati, penurunan denyut nadi sampai timbul

bintik-bintik merah pada tubuh (Andika, J., G. dan Rejeki, S., C., 2009).

Sampai saat ini belum ada obat yang tepat untuk mengatasi penyakit DBD.

Namun, ada sebagian masyarakat mencoba dengan mengkonsumsi buah jambu

biji merah untuk mengatasi penyakit DBD. Selain mengkonsumsi buahnya dalam

bentuk utuh, masyarakat juga sering mengkonsumsi jambu biji merah dalam

bentuk minuman yang di-blender atau di-juicer.

Kandungan gizi dalam 100 gram buah jambu biji merah adalah 36-50

kalori; 77-86 g air; 2,8-5,5 g serat; 0,9-1,0 g protein; 0,1-0,5 g lemak; 0,43-0,7 g

abu; 9,5-10 g karbohidrat; 9,1-17 mg kalsium; 17,8-30 mg fosfor; 0,3-0,7 mg besi;

200-400 IU vitamin A; 200-400 mg vitamin C; 0,046 mg vitamin B1; 0,03-0,04

mg vitamin B2; 0,6-1,068 mg vitamin B3; dan 82% bagian yang dimakan

(Cahyono, 2010).

Fosfor merupakan salah satu mineral yang dibutuhkan dengan jumlah

lebih kurang 22% dari seluruh mineral yang terdapat dalam tubuh. Di dalam tubuh

mineral ini berada dalam bentuk kalsium fosfat yang mempunyai peranan dalam

metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Sebagai fosfolipid, fosfor merupakan

(21)

Fosfor berperan pula dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa

(Pudjiadi,2000). Di samping itu, fosfor juga memegang peranan penting dalam

reaksi biokimia yang berkaitan dengan penyimpanan atau pelepasan energi dalam

bentuk Adenin Trifosfat (ATP) (Almatsier, 2004).

Penderita DBD mengkonsumsi buah jambu biji merah dalam bentuk jus

yang disebabkan karena penderita tidak mampu mengkonsumsi buah jambu biji

merah dalam bentuk utuh. Masyarakat yang mengkonsumsi buah jambu biji

merah disarankan untuk tidak mengkonsumsi buahnya dengan biji karena biji

jambu biji merah dapat menyebabkan penyakit usus buntu (Cahyono, 2010).

Penderita DBD memerlukan asupan energi dan cairan yang cukup untuk

memulihkan kesehatannya (Suharso, 2009). Kandungan fosfor yang terdapat

dalam buah jambu biji merah yang berperan dalam penyimpanan energi seperti

disebutkan di atas dan pemberian buah jambu biji merah dalam bentuk jus dapat

mencukupi kebutuhan energi dan cairan penderita DBD sehingga dapat membantu

kepulihannya.

Untuk mengkonsumsi buah jambu biji merah, buahnya dapat dikupas

terlebih dahulu atau dapat juga dikonsumsi tanpa dikupas. Belum ada literatur

yang menyatakan kandungan mineral dalam buah jambu biji merah berbeda antara

buah yang dikonsumsi tanpa dikupas dan dikupas kulitnya.

Sebelum dilakukan penetapan kadar, terlebih dahulu dilakukan destruksi

untuk mengubah fosfor organik menjadi fosfor anorganik. Penetapan kadar fosfor

dapat dilakukan secara spektrofotometri sinar tampak dengan menggunakan tiga

metode, yaitu metode asam vanamolibdofosfor, metode stanium klorida, dan

(22)

karena metode ini lebih sederhana dan lebih sensitif (Lim, 1991). Pereaksi warna

yang digunakan terdiri dari campuran larutan H2SO4 5N, Ammonium molibdat

4% b/v, Asam Askorbat 0,1N, dan Kalium Antimonil Tartrat 0,274% b/v yang

diukur pada panjang gelombang 700-723 nm (Lanchasire, 2006).

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti kandungan

fosfor yang terdapat pada buah jambu biji merah secara spektrofotometri sinar

tampak dengan metode asam askorbat.

1.2 Perumusan Masalah

1. Apakah kadar fosfor dalam buah jambu biji merah yang diukur dengan

metode spektrofotometri sinar tampak dengan variasi perlakuan cara

penghalusan dan pengupasan sesuai dengan kadar fosfor dalam buah

jambu biji merah yang terdapat dalam literatur?

2. Apakah terdapat perbedaan kadar fosfor antara buah jambu biji merah

yang dihaluskan dengan cara di-blender dan di-juicer tanpa dikupas dan

dikupas kulitnya?

1.3 Hipotesis

1. Kadar fosfor dalam buah jambu biji merah yang diukur dengan metode

spektrofotometri sinar tampak dengan variasi perlakuan cara penghalusan

dan pengupasan sesuai dengan kadar fosfor dalam jambu biji merah yang

terdapat dalam literatur.

2. Terdapat perbedaan kadar fosfor antara buah jambu biji merah yang

dihaluskan dengan cara di-blender dan di-juicer tanpa dikupas dan dikupas

(23)

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui apakah kadar fosfor dalam buah jambu biji merah yang

di-blender yang di-juicer tanpa dikupas dan dikupas sesuai dengan kadar

fosfor dalam buah jambu biji merah yang terdapat dalam literatur.

2. Untuk mengetahui perbedaan kadar fosfor antara buah jambu biji merah

yang dihaluskan dengan cara di-blender dan di-juicer tanpa dikupas dan

dikupas kulitnya.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat bagi masyarakat sebagai informasi kandungan

fosfor dalam buah jambu biji merah (Psidium guajava) yang berperan dalam

pembentukan ATP sehingga dapat membantu kepulihan penderita demam

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan

2.1.1 Taksonomi Buah Jambu Biji Merah Kerajaan : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Bangsa : Myrtales

Suku : Myrtaceae

Marga : Psidium

Jenis : Psidium guajava L.

(Cahyono, 2010).

2.1.2 Deskripsi Buah Jambu Biji Merah

Jambu biji atau bahasa latinnya Psidium guajava L. merupakan jenis

tanaman perdu dengan cabang yang banyak. Tinggi pohon ini rata-rata sekitar

10-12 meter. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah yang dapat tumbuh di dataran

rendah maupun dataran tinggi. Ketinggian tempat yang sesuai untuk tanaman ini

sekitar 1.200 meter dari permukaan laut. Daunnya berbentuk bulat telur, kasar,

dan kusam. Bunganya relatif kecil dan berwarna putih. Besar buahnya sangat

bervariasi, berisi banyak biji kecil-kecil dan ada juga yang tidak mempunyai biji

(25)

Buah jambu biji yang banyak digemari oleh masyarakat adalah yang

mempunyai sifat unggul antara lain berdaging lunak dan tebal, rasanya manis,

tidak mempunyai biji, dan buahnya berukuran besar. Terdapat beberapa jenis

jambu biji yang diunggulkan yaitu jambu pasar minggu, jambu bangkok, jambu

palembang, jambu sukun, jambu apel, jambu sari, jambu merah, dan jambu merah

getas (Wirakusumah, 2000).

2.1.3 Macam-macam Jambu Biji

Buah jambu biji memiliki jenis yang banyak antara lain :

1. Jambu biji delima

Jambu biji delima buahnya berbentuk bulat dan bermoncong

dipangkalnya, walaupun kulitnya agak tebal dan banyak bijinya, tapi dengan

dagingnya yang berwarna merah dan rasanya yang manis jenis jambu biji ini

sangat menarik sekali untuk dinikmati.

2. Jambu biji gembos atau jambu biji susu

Jenis yang ini mempunyai bentuk buah bulat agak lonjong dengan

meruncing kepangkalnya. Sama seperti jambu biji delima, kulit jambu jenis ini

juga tebal dan jika buahnya matang berwarna agak kuning, dagingnya berwarna

putih, bijinya tidak banyak, rasanya kurang manis tetapi harum baunya.

3. Jambu biji manis

Bentuk buahnya bulat meruncing ke pangkal, kulit buahnya tipis dan jika

matang berwarna kuning muda. Jenis yang ini juga mempunyai biji yang banyak

(26)

4. Jambu biji Perawas (Getas)

Jambu biji perawas berbentuk bulat lonjong dan buahnya lebih besar dari

jenis biasanya, kulitnya agak tebal, bila buahnya matang berwarna kuning,

dagingnya merah, bijinya tidak banyak, rasanya agak asam, baunya harum.

5. Jambu biji Pipit

Berbentuk bulat kecil-kecil, kulitnya tipis, bila matang buahnya berwarna

kuning dan dagingnya berwarna putih, rasanya manis dan harum baunya.

6. Jambu biji sukun

Berbentuk bulat besar dan kulitnya tebal, bila matang buahnya berwarna

kuning, bijinya sedikit bahkan hampir tidak berbiji, tapi rasanya hambar dan

harum baunya (Anonim, 2010).

2.1.4 Kandungan Kimia Jambu Biji Merah

Jambu biji merah banyak mengandung zat kimia : pada buah, daun dan

kulit batang pohonnya mengandung tanin, tapi pada bunganya tidak banyak

mengandung senyawa tersebut. Selain mengandung tanin daun jambu biji merah

juga mengandung zat lain seperti asam oleanolat, minyak atsiri, asam kratogolat,

asam ursolat, asam psidiolat, asam guajaverin dan vitamin (Anonim, 2010).

Kandungan gizi dalam 100 gram buah jambu biji merah adalah 36-50

kalori; 77-86 g air; 2,8-5,5 g serat; 0,9-1,0 g protein; 0,1-0,5 g lemak; 0,43-0,7 g

abu; 9,5-10 g karbohidrat; 9,1-17 mg kalsium; 17,8-30 mg fosfor; 0,3-0,7 mg besi;

200-400 IU vitamin A; 200-400 mg vitamin C; 0,046 mg vitamin B1; 0,03-0,04

mg vitamin B2; 0,6-1,068 mg vitamin B3; dan 82% bagian yang dimakan

(27)

2.1.5 Khasiat Jambu Biji

Selain banyak digemari karena buahnya yang manis dan segar jambu biji

juga mempunyai khasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti :

maag, diabetes melitus, diare (sakit perut), masuk angin, mencret, sariawan dan

sakit kulit (Cahyono, 2010).

Selain daunnya, buah jambu biji terutama dari jenis berwarna merah sering

digunakan untuk mengobati penyakit demam berdarah. Jus jambu ini dapat

meningkatkan nilai trombosit penderita demam berdarah, namun sampai ini belum

diketahui senyawa yang dapat meningkatkan nilai trombosit (Yuliani et al, 2003).

2.2 Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit

yang cukup berbahaya di Indonesia. Tanda-tandanya demam tinggi mendadak

selama 2 – 7 hari, pembesaran hati, penurunan denyut nadi sampai timbul

bintik-bintik merah pada tubuh (Andika, J., G. dan Rejeki, S., C., 2009). Secara umum 2,5 sampai 3 milyar orang beresiko terserang penyakit DBD. Aedes aegypti merupakan vektor epidemi utama (WHO, 2001).

Tidak ada pengobatan yang spesifik ataupun vaksin untuk demam

berdarah. Bila seseorang terserang demam berdarah, berikan cairan sebanyak

mungkin, bawa ke puskesmas terdekat, dan hindarkan dari nyamuk untuk

menghindari penularan. Penyakit ini dapat berlangsung hingga 10 hari, dan

pemulihannya dapat memakan waktu 1 minggu hingga 4 minggu (Chen, Pohan,

(28)

2.3 Mineral

Mineral dalam tubuh manusia mengalami proses biokimia untuk

membantu proses fisiologis. Dalam sistem fisiologis manusia, unsur tersebut juga

dibagi menjadi dua bagian yaitu makroelemen, yang ditemukan dalam jumlah

relatif besar (lebih dari 0,005% dari berat badan) dan mikroelemen yang

ditemukan dalam jumlah relatif kecil (kurang dari 0,005% dari berat badan)

(Darmono, 1995).

Di samping itu mineral berperan dalam berbagai tahap metabolisme,

terutama sebagai kofaktor dalam aktivitas enzim-enzim. Yang termasuk mineral

makro antara lain: natrium, klorida, kalium, kalsium, fosfor, magnesium, dan

sulfur (Almatsier, 2004).

Secara tidak langsung, mineral banyak yang berperan dalam proses

pertumbuhan. Peran mineral dalam tubuh kita berkaitan satu sama lainnya, dan

kekurangan atau kelebihan salah satu mineral akan berpengaruh terhadap kerja

mineral lainnya (Poedjiadi, 2006).

2.3.1 Fosfor

Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak di dalam tubuh, yaitu 1% dari

berat badan. Kurang lebih 85% fosfor di dalam tubuh terdapat sebagai garam

kalsium fosfat di dalam tulang dan gigi yang tidak dapat larut. Fosfor di dalam

tulang berada dalam perbandingan 1 : 2 dengan kalsium. Fosfor selebihnya

terdapat di dalam semua sel tubuh, separuhnya di dalam otot dan di dalam cairan

ekstraseluler. Sebagai fosfolipid, fosfor merupakan komponen struktural dinding

(29)

berkaitan dengan penyimpanan atau pelepasan energi dalam bentuk Adenin

Trifosfat (ATP) (Almatsier, 2004).

Fosfor mempunyai peranan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan

protein, sebagai fosfolipid, fosfor merupakan komponen esensial bagi banyak sel

dan merupakan alat transport asam lemak. Fosfor berperan pula dalam

mempertahankan keseimbangan asam-basa (Pudjiadi, 2000).

Pada umumnya bahan makanan yang mengandung banyak kalsium

merupakan juga sumber fosfor, seperti susu, keju, daging, ikan, telur, dan serelia.

Akan tetapi fosfor dalam serelia pada umumnya terdapat dalam bentuk asam

fosfat yang dapat mengikat kalsium hingga terbentuk komponen yang tidak dapat

dicerna dan diserap. Biasanya kira-kira 70% dari fosfor yang berada dalam

makanan dapat diserap oleh tubuh. Penyerapan akan lebih baik bila fosfor dan

kalsium dimakan dalam jumlah yang sama (Poedjiadi, 2006).

Fosfor dapat diabsorpsi secara efisien sebagai fosfor bebas di dalam usus

setelah dihidrolisis dan dilepas dari makanan. Bila konsumsi fosfor rendah, taraf

absorpsi dapat mencapai 90% dari konsumsi fosfor. Fosfor dibebaskan dari

makanan oleh enzim alkalin fosfatase di dalam mukosa usus halus dan diabsorpsi

secara aktif dan difusi pasif. Sebagian besar fosfor di dalam darah terutama

terdapat sebagai fosfat anorganik atau sebagai fosfolipida (Almatsier, 2004).

Faktor-faktor makanan lain yang menghalangi absorpsi fosfor adalah

magnesium dan antasid yang mengandung aluminium, karena membentuk garam

yang tidak larut dalam air. Angka kecukupan fosfor rata-rata sehari adalah

(30)

2.3.2 Kekurangan Fosfor

Konsumsi pangan kurang fosfor jarang dijumpai pada manusia. Oleh

karena peranannya yang sangat penting dalam metabolisme pada jaringan hewan

dan tanaman, maka mineral ini umumnya terdapat dalam setiap bahan makanan

(Almatsier, 2004).

Adakalanya gejala kekurangan fosfor terdapat pada individu yang dapat

nutrisi parenteral lama atau mereka yang memakai sangat banyak antasida

(Pudjiadi, 2000). Aluminium hidroksida yang terdapat dalam antasida dapat

mengikat fosfor sehingga tidak dapat diabsorpsi. Kekurangan fosfor menyebabkan

kerusakan tulang. Gejalanya adalah rasa lelah, kurang nafsu makan dan kerusakan

tulang. Bayi prematur juga dapat menderita kekurangan fosfor karena cepatnya

pembentukan tulang sehingga kebutuhan fosfor tidak bisa dipenuhi oleh ASI

(Almatsier, 2004).

2.3.3 Kelebihan Fosfor

Kelebihan fosfor karena makanan jarang terjadi. Bila kadar fosfor darah

terlalu tinggi, ion fosfat akan mengikat kalsium sehingga dapat menimbulkan

kejang (Almatsier, 2004).

2.4 ATP (Adenosine Tri Phosphate)

ATP dan produk hidrolisis selanjutnya, adenosine diphosphate (ADP) dan

adenosine monophosphate (AMP) merupakan nukleotida. Nukleotida terdiri dari

basa purin dan pirimidin heterosiklik, gula dengan 5-karbon, dan satu atau lebih

gugus fosfat. Di dalam ATP, ADP, dan AMP basa yang terkandung adalah purin

(31)

Adenosin trifosfat adalah fosfat berenergi tinggi yang mengikat energi

yang dilepas oleh oksidasi hasil pencernaan. Sebagai energi kimia ATP digunakan

untuk beberapa fungsi spesifik dalam tubuh dimana molekulnya dipecah terlebih

dahulu menjadi adenosin difosfat (ADP) dan Pi. Apa yang terjadi selanjutnya

adalah tubuh kembali membentuk energi kimia dari pencernaan makanan dan

ADP kembali mengikat Pi (Holum, 1983).

Adenosin trifosfat berperan sebagai senyawa antara yang menghubungkan

reaksi kimia penghasil energi dan reaksi yang membutuhkan energi. Selama

katabolisme, atau pemecahan dari bahan bakar sel berenergi tinggi, sebagian di

antara energi bebasnya diambil, untuk membuat ATP dari adenosin difosfat dan

fosfat (Pi), suatu proses yang memerlukan input energi bebas. ATP lalu

memberikan sejumlah energi kimianya kepada proses-proses yang memerlukan

energi dengan memecah diri menjadi ADP dan fosfat. ATP, karenanya berperan

sebagai pembawa energi kimia dari proses-proses penghasil energi menuju

aktivitas sel dasar yang memerlukan energi (Lehninger, 1982).

2.5 Spektrofotometri

Spektrofotometri serapan merupakan pengukuran satu interaksi antara

radiasi elektromagnetik dan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Teknik yang

sering digunakan dalam analisis farmasi meliputi spektroskopi serapan ultraviolet,

sinar tampak, infra merah, dan serapan atom (Ditjen POM, 1995). Keuntungan

utama dari metode spektrofotometri, yaitu dapat menetapkan kadar suatu zat yang

sangat kecil (Basset, 1991).

Spektrofotometri ultraviolet-visibel adalah suatu metode pengukuran

(32)

diabsorpsi oleh sampel. Sinar ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang

cukup untuk mempromosikan elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang

lebih tinggi. Spektrofotometer ultraviolet-visibel biasanya digunakan untuk

molekul dan ion organik atau kompleks di dalam larutan. Spektrum

ultraviolet-visibel sangat berguna untuk pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari

analit di dalam larutan bisa ditentukan dengan mengukur absorbansi pada panjang

gelombang tertentu dengan menggunakan hukum Lambert-Beer. Sinar ultraviolet

berada pada panjang gelombang 200-400 nm, sedangkan sinar tampak berada

pada panjang gelombang 400-800 nm (Dachriyanus, 2004).

Panjang gelombang cahaya UV atau cahaya tampak bergantung pada

mudahnya promosi elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak

energi untuk promosi elektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang

lebih pendek. Molekul yang memerlukan energi yang lebih sedikit akan menyerap

pada panjang gelombang yang lebih besar. Senyawa yang menyerap cahaya dalam

daerah tampak mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikan daripada

senyawa yang menyerap pada panjang gelombang UV yang lebih pendek

(Fessenden and Fessenden, 1982).

Warna sinar tampak dapat dihubungkan dengan panjang gelombangnya.

Sinar putih mengandung radiasi pada semua panjang gelombang di daerah sinar

tampak. Sinar pada panjang gelombang tunggal (radiasi monokromatik) dapat

dipilih dari sinar putih. Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah

spektrum ultraviolet dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan

kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang

(33)

Alat spektrofotometri pada dasarnya terdiri atas sumber sinar,

monokromator, tempat sel untuk zat yang diperiksa, detektor, penguat arus, dan

alat ukur atau pencatat. Spektrofotometer dapat bekerja secara otomatik ataupun

tidak, dan dapat mempunyai sistem sinar tunggal atau ganda (Ditjen POM, 1979).

Sebagai sumber cahaya biasanya digunakan lampu hidrogen atau

deuterium untuk pengukuran UV dan lampu tungsten untuk pengukuran pada

cahaya tampak. Panjang gelombang dari sumber cahaya akan dibagi oleh pemisah

atau monokromator (Dachriyanus, 2004).

Analisis kuantitatif secara spektrofotometri dapat dilakukan dengan

metode regresi dan pendekatan.

1. Metode Regresi

Analisis kuantitatif dengan metode regresi dengan menggunakan

persamaan garis regresi yang didasarkan pada harga serapan dan konsentrasi baku

yang dibuat dalam berbagai konsentrasi, paling sedikit menggunakan lima

konsentrasi yang meningkat yang dapat memberikan serapan linier, kemudian

diplot menghasilkan suatu kurva kalibrasi. Konsentrasi suatu sampel dapat

dihitung berdasarkan kurva tersebut (Holme and Peck, 1983).

2. Metode Pendekatan

Analisis kuantitatif dengan cara ini dilakukan dengan membandingkan

serapan baku yang konsentrasinya diketahui dengan serapan sampel. Konsentrasi

sampel dapat dihitung melalui perbandingan Cs = As.Cb/Ab dimana As = serapan

sampel, Cs = konsentrasi sampel, Ab = serapan baku, dan Cb = konsentrasi baku

(34)

2.6 Parameter Validasi

Pensahihan adalah kerja yang dicatat dalam dokumen untuk membuktikan

bahwa prosedur analisis yang diuji akan dapat memenuhi fungsi sesuai dengan

tujuannya dengan konsisten dan betul-betul memberikan hasil seperti yang

diharapkan. Tujuan pensahihan adalah agar prosedur analisis tersebut diketahui

akurasi dan variabilitasnya, gangguan yang mungkin ada teridentifikasi dan

diketahui pula kespesifikan, presisi, serta kepekaannya (limit deteksi). Parameter

analisis khas yang ditentukan pada pensahihan adalah akurasi, presisi,

kespesifikan, limit deteksi, kelinieran, dan rentang (Satiadarma, dkk., 2004).

Akurasi dari suatu metode analisis adalah kedekatan nilai hasil uji yang

diperoleh dengan prosedur tersebut dari harga yang sebenarnya. Akurasi

merupakan ukuran ketepatan posedur analisis (Satiadarma, dkk., 2004).

Presisi dari suatu metode analisis adalah derajat kesesuaian di antara

masing-masing hasil uji, jika prosedur analisis diterapkan berulangkali pada

sejumlah cuplikan yang diambil dari satu sampel homogen. Presisi dinyatakan

sebagai deviasi standar atau deviasi standar relatif (koefisien variasi) (Satiadarma,

dkk., 2004).

Kespesifikan dari suatu metode analisis adalah kemampuannya untuk

mengukur kadar analit secara khusus dengan akurat, di samping komponen lain

yang terdapat dalam matriks sampel. Kespesifikan seringkali dinyatakan sebagai

derajat bias dari hasil analisis sampel yang mengandung pencemar, hasil

degradasi, senyawa sejenis yang ditambahkan atau komponen matriks,

dibandingkan dengan hasil uji sampel analit tanpa zat tambahan (Satiadarma, dkk,

(35)

Limit deteksi dari suatu metode analisis adalah nilai parameter uji batas,

yaitu konsentrasi analit terendah yang dapat dideteksi, tetapi tidak dikuantitasi

pada kondisi percobaan yang dilakukan. Limit deteksi dinyatakan dalam

konsentrasi analit (persen, bagian per milyar) dalam sampel (Satiadarma, dkk.,

2004).

Limit kuantitasi dari suatu metode analisis adalah nilai parameter

penentuan kuantitatif senyawa yang terdapat dalam konsentrasi rendah dalam

matriks. Limit kuantitasi adalah konsentrasi analit terendah dalam sampel yang

dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang dapat diterima pada kondisi

eksperimen yang ditentukan. Limit kuantitasi dinyatakan dalam konsentrasi analit

(persen, bagian per milyar) dalam sampel (Satiadarma, dkk., 2004).

Kelinieran suatu metode analisis adalah kemampuan untuk menunjukkan

bahwa nilai hasil uji langsung atau setelah diolah secara matematika, proporsional

dengan konsentrasi analit dalam sampel dalam batas rentang konsentrasi tertentu.

Kelinieran dinyatakan sebagai varians di sekitar landaian garis regresi yang

dihitung menurut hubungan matematika yang mapan dari hasil uji sampel yang

mengandung analit dengan konsentrasi yang bervariasi (Satiadarma, dkk., 2004).

Rentang suatu metode analisis adalah interval antara batas konsentrasi

tertinggi dan konsentrasi terendah analit yang terbukti dapat ditentukan

menggunakan prosedur analisis, dengan presisi, akurasi dan kelinieran yang

memadai. Rentang biasanya dinyatakan dalam satuan yang sama dengan hasil uji

(persen, bagian per sejuta) (Satiadarma, dkk., 2004).

Penentuan linieritas suatu prosedur analisis dilakukan dengan perlakuan

(36)

analit dalam rentang konsentrasi yang dituntut oleh prosedur. Perlakuan tersebut

pada umumnya adalah perhitungan garis regresi dengan metode least squares

lawan konsentrasi analit. Untuk mendapatkan hasil proporsional antara penentuan

kadar dan konsentrasi sampel, kadang-kadang data uji harus mendapatkan

transformasi matematika sebelum regresi. Landaian garis regresi dan variansnya

memberikan ukuran matematika dari linearitas (Satiadarma, dkk., 2004).

Rentang dari prosedur analisis disahihkan dengan jalan memverifikasi data

yang menunjukkan bahwa prosedur analisis menghasilkan presisi, akurasi, dan

linieritas yang dapat diterima, jika diterapkan pada sampel yang mengandung

analit dengan konsentrasi analit di ujung rentang dan di dalam rentang

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di dua laboratorium, yaitu penyiapan dan pengukuran

kadar sampel dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kualitatif Fakultas

Farmasi Universitas Sumatera Utara, sedangkan pengabuan sampel dilakukan di

Laboratorium Penelitian FMIPA Universitas Sumatera Utara pada bulan Januari

sampai Maret 2011.

3.2 Bahan-bahan 3.2.1 Sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan menggunakan metode

sampling purposif, yaitu tanpa membedakan asal buah jambu biji merah. Sampel

yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah jambu biji merah (Psidium

guajava L.) yang diperoleh dari Berastagi Supermarket.

3.2.2 Pereaksi

Bahan kimia yang digunakan kecuali dinyatakan lain adalah bahan

berkualitas untuk analisis (p.a.) merek dagang E.Merck, yaitu asam nitrat 65%

b/v, ammonium molibdat, asam sulfat 96% v/v, asam askorbat, kalium dihidrogen

fosfat, kalium antimonil tartrat, dan air suling buatan Laboratorium Penelitian

FMIPA Universitas Sumatera Utara.

3.3 Alat-alat

Alat yang digunakan antara lain, Spektrofotometer UV/Visibel (UV mini

(38)

Ltd.Shenstone), Oven, Hot plate, blender, juicer, krus porselen, botol kaca, dan

alat-alat gelas (Pyrex).

3.4 Pembuatan Pereaksi 3.4.1 Larutan HNO3 5N

Larutan HNO3 65% b/v sebanyak 350 ml diencerkan dengan air suling

hingga 1000 ml (Ditjen POM, 1979).

3.4.2 Larutan H2SO4 5N

Diukur 70 ml H2SO4 96% v/v, dimasukkan perlahan-lahan melalui dinding

labu tentukur 500 ml yang telah berisi air suling setengahnya. Dicukupkan

volumenya dengan air suling hingga garis tanda (Lancashire, 2006).

3.4.3 Larutan Ammonium Molibdat 4% b/v

Ditimbang seksama 20 g ammonium molibdat. Dilarutkan dalam labu

tentukur 500 ml dengan air suling dan dicukupkan volumenya dengan air suling

hingga garis tanda (Lancashire, 2006).

3.4.4 Larutan Asam Askorbat 0,1N

Ditimbang seksama 0,88 g asam askorbat dan dilarutkan dalam labu

tentukur 50 ml dengan air suling dan dicukupkan volumenya dengan air suling

hingga garis tanda (Lancashire, 2006).

3.4.5 Larutan Kalium Antimonil Tartrat 0,274% b/v

Ditimbang seksama 0,274 g Kalium Antimonil Tartrat. Dilarutkan dalam

labu tentukur 100 ml dengan air suling dan dicukupkan volumenya dengan air

(39)

3.4.6 Larutan Pereaksi Warna Fosfor

Dicampurkan 500 ml H2SO4 5 N, 150 ml Ammonium molibdat 4% b/v,

300 ml Asam Askorbat 0,1 N, dan 50 ml Kalium Antimonil Tatrat 0,274% b/v

(Lancashire, 2006).

3.5 Rancangan Penelitian

Cara penelitian dilakukan berdasarkan bagan berikut ini:

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental untuk

memeriksa kadar fosfor pada buah jambu biji merah yang diperoleh dari Berastagi

Supermarket berdasarkan pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat.

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah buah jambu biji merah

(Psidium guajava L.), sedangkan yang menjadi variabel bebas adalah cara

penghalusan dan pengupasan. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial

dengan 2 faktor perlakuan, yaitu:

1. Faktor A : Cara penghalusan dengan 2 variasi

A1 : di-blender

A2 : di-juicer

2. Faktor B : pengupasan dengan 2 variasi

(40)

Sehingga kombinasi perlakuan (t) = m faktor A x n faktor B

= m.n kombinasi perlakuan

= 2 x 2 = 4

Dengan replikasi (r) setiap kombinasi perlakuan, yaitu : (t-1) (r-1) ≥ 15

(4-1) (r-1) ≥ 15

r ≥ 6

Ini berarti bahwa replikasi (r) dapat dilakukan minimal sebanyak 6 kali. Replikasi

ditandai sebagai berikut:

R1 : Replikasi 1 R4 : Replikasi 4

R2 : Replikasi 2 R5 : Replikasi 5

R3 : Replikasi 3 R6 : Replikasi 6

Jadi, rancangan penelitian ini adalah rancangan faktorial desain 2 x 2 dan setiap

kombinasi perlakuan dilakukan 6 kali replikasi.

Jumlah unit penelitian = m faktor A x n faktor B x r ulangan

= m.n.r

= 2 x 2 x 6

= 24

Keterangan : m = jumlah variasi faktor A

n = jumlah variasi faktor B

r = jumlah ulangan

Atas dasar kondisi yang homogen, randomisasi dilakukan secara lengkap.

Hasil randomisasi kombinasi perlakuan dari cara penghalusan dan pengupasan

(41)

Tabel 1. Randomisasi Kombinasi Perlakuan dari Cara Penghalusan dan Pengupasan dengan 6 Kali Replikasi

1

Model matematika rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y = µ + τ + ε

= µ + αi + βj + αβij + ε

Keterangan: µ = Nilai rerata (mean)

τ = Pengaruh faktor kombinasi perlakuan (α + β + αβ)

αi = Pengaruh faktor A (cara penghalusan) ke-I (i = 1,2)

βj = Pengaruh faktor B (pengupasan) ke-j (j = 1,2)

αβij = Pengaruh interaksi cara penghalusan ke-i dengan

pengupasan ke-j

ε = Pengaruh galat (experimental error)

Model rancangan ini bertujuan untuk meneliti pengaruh-pengaruh faktor utama

dan interaksi dengan ketelitian yang sama (Hanafiah, 1995).

3.6 Prosedur Penelitian 3.6.1 Proses Destruksi Kering

Buah jambu biji merah sebanyak ± 1kg dicuci bersih, lalu dikeringkan,

(42)

50 g dalam krus porselen, dipanaskan di atas hot plate untuk menguapkan

kandungan air yang terdapat pada buah jambu biji merah sampai kering dan

mengarang. Diabukan di tanur dengan temperatur awal 100o C dan perlahan-lahan

temperatur dinaikkan menjadi 600oC dengan interval 25o C setiap 5 menit.

Pengabuan dilakukan selama 48 jam dan dibiarkan dingin pada desikator.

Prosedur yang sama dilakukan pada buah jambu biji merah yang

di-blender dan dikupas kulitnya. Destruksi kering juga dilakukan untuk buah jambu

biji merah yang dihaluskan dengan cara di-juicer tanpa dikupas dan yang dikupas

kulitnya. Hasil dalam bentuk Oksida Fosfor (P2O5).

Hasil destruksi yang berupa P2O5 dilarutkan dalam 10 ml HNO3 5N

kemudian dipanaskan di atas hot plate hingga larutan menjadi bening. Kemudian

hasilnya dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml dan krus porselen dibilas

sebanyak 3 kali. Setelah itu dicukupkan volumenya dengan air suling hingga garis

tanda. Lalu disaring dengan kertas saring Whatman N0. 42 dengan membuang 10

ml larutan pertama hasil penyaringan. Larutan ini digunakan untuk analisis

kualitatif dan analisis kuantitatif fosfor (Chapple dan Nick, 1991). Hasil yang

diperoleh dalam bentuk PO43-. Gambar penguapan kandungan air, hasil

pengarangan, dan hasil pengabuan sampel dapat dilihat pada Lampiran 2.

Flowsheet dekstruksi kering dapat dilihat pada Lampiran 3.

3.6.2 Analisis Kualitatif Fosfor

Analisis kualitatif fosfor menurut Vogel (1985), dapat dilakukan dengan

(43)

a. Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 5 ml sampel hasil destruksi kering berupa

PO43-, ditambah pereaksi ammonium molibdat 4% b/v ± 2 ml, dikocok dan

didiamkan, maka akan terbentuk endapan kuning.

b. Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 5 ml sampel hasil destruksi kering berupa

PO43-, lalu ditambahkan larutan barium klorida 4% b/v ± 1 ml. Terbentuk

endapan putih.

Gambar hasil kualitatif fosfor dapat dilihat pada Lampiran 4.

3.6.3 Analisis Kuantitatif Fosfor

3.6.3.1 Pembuatan Larutan Induk Baku (LIB) KH2PO4

Ditimbang 1,1 g KH2PO4 yang telah dikeringkan di dalam oven ± 2 jam

dengan suhu 105oC, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 250 ml,

ditambahkan 12,5 ml larutan HNO3 5 N, dikocok hingga larut, dicukupkan

volumenya dengan air suling hingga garis tanda. Diperoleh konsentrasi fosfor

pada Larutan Induk Baku ( LIB) I adalah 1000 µ g/ml.

Dari LIB I dipipet 10 ml, dimasukkan ke dalam labu tentukur 250 ml,

dicukupkan volumenya dengan air suling hingga garis tanda. Diperoleh

konsentrasi fosfor pada Larutan Induk Baku (LIB) II adalah 40 µg/ml.

3.6.3.2 Penentuan Waktu Kerja

Dari LIB II dipipet 20 ml, dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml,

ditambahkan air suling sehingga volume larutan menjadi 50 ml, ditambahkan 13

ml larutan pereaksi warna fosfor, dikocok, dicukupkan volume dengan air suling

hingga garis tanda (konsentrasi 8 µ g/ml), dan didiamkan kemudian diukur

serapan pada λ maksimum 713 nm mulai menit ke-5 hingga menit tertentu dengan

(44)

3.6.3.3 Pembuatan Kurva Serapan Larutan KH2PO4

Dari LIB II dipipet 20 ml, dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml,

ditambahkan air suling sehingga volume larutan menjadi 50 ml, ditambahkan 13

ml larutan pereaksi warna fosfor, dikocok, dicukupkan volume dengan air suling

hingga garis tanda (konsentrasi 8 µ g/ml), dan didiamkan kemudian diukur

serapan pada λ maksimum 700-713 nm pada waktu kerja yang diperoleh.

3.6.3.4 Penentuan Kurva Kalibrasi Larutan Baku Fosfor

Dari LIB I tersebut dipipet 10 ml, 15 ml, 20 ml, 25 ml, dan 30 ml untuk

mendapatkan konsentrasi 4 µg/ml, 6 µg/ml, 8 µg/ml, 10 µg/ml, dan 12 µg/ml,

dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml, ditambahkan air suling sehingga

volume masing-masing larutan menjadi 50 ml, ditambahkan 13 ml larutan

pereaksi warna fosfor, dikocok, dicukupkan volumenya dengan air suling hingga

garis tanda, kemudian didiamkan. Diukur serapan pada λ maksimum yang

diperoleh pada waktu kerja yang diperoleh.

3.6.4 Analisis Fosfor Dalam Sampel Buah Jambu Biji Merah

Larutan sampel dipipet 10 ml, dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml,

ditambahkan akuades sehingga volume larutan menjadi 50 ml, ditambahkan 13 ml

larutan pereaksi warna fosfor, dikocok, dicukupkan volume dengan air suling

hingga garis tanda, kemudian didiamkan. Diukur serapan pada λ maksimum yang

diperoleh pada waktu kerja yang diperoleh. Nilai serapan yang diperoleh berada di

dalam rentang nilai kurva kalibrasi larutan baku, Dengan demikian konsentrasi

fosfor dapat dihitung berdasarkan persamaan garis regresi linier dari kurva

kalibrasi.

(45)

Kadar (µg/g) =

Keterangan : C = Konsentrasi larutan sampel setelah pengenceran (µg/ml)

V = Volume labu kerja (ml)

Fp = Faktor pengenceran

W = Berat sampel (g)

Contoh perhitungan hasil penetapan kadar fosfor dalam sampel dapat dilihat pada

Lampiran 8 dan data hasil analisis kadar fosfor seluruhnya untuk setiap kombinasi perlakuan dengan 6 kali replikasi dapat dilihat pada Lampiran 9.

Kadar fosfor sebenarnya dalam sampel dapat dihitung dengan rumus:

µ = x ± (t(α/2, dk) x SD/

Keterangan: x : kadar rata-rata sampel

SD : Standar Deviasi

dk : derajat kebebasan (dk = n-1)

α : tingkat kepercayaan

n : banyak data

(Walpole, 1995). Perhitungan kadar fosfor sebenarnya dalam sampel dapat dilihat

pada Lampiran 10.

3.6.5 Prosedur Uji Perolehan Kembali

Uji perolehan kembali dilakukan dengan metode penambahan larutan

standar (standard addition method). Pertama-tama dilakukan penentuan kadar

fosfor dalam sampel , selanjutnya dilakukan penentuan kadar fosfor dalam sampel

setelah penambahan larutan standar dengan konsentrasi tertentu (Harmita, 2004).

(46)

100% dari kadar fosfor dalam sampel. Konsentrasi larutan standar fosfor yang

digunakan adalah 1000 µg/ml.

Sampel buah jambu biji merah ditimbang ± 50 g dalam krus porselen, lalu

ditambahkan larutan standar fosfor. Kemudian dilanjutkan dengan prosedur

destruksi sama seperti prosedur destruksi untuk fosfor. Selanjutnya dilakukan cara

yang sama seperti 3.6.4.

Uji perolehan kembali dilakukan terhadap sampel yang sama dan

dianalisis dengan cara yang sama dengan pengerjaan sampel awal. Uji perolehan

kembali dilakukan untuk mengetahui ketepatan metode yang digunakan. Persen

recovery dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

% recovery

Perhitungan kadar fosfor dalam buah jambu biji merah setelah penambahan

larutan standar dan perhitungan uji perolehan kembali dapat dilihat pada

Lampiran 11 dan data %recovery dapat dilihat pada Lampiran 12. 3.6.6 Simpangan Baku Relatif

Keseksamaan atau presisi diukur sebagai simpangan baku relatif (RSD)

atau koefisien variasi. Keseksamaan atau presisi merupakan ukuran yang

menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual ketika suatu metode

dilakukan secara berulang untuk sampel yang homogeny. Nilai simpangan baku

relatif yang memenuhi persyaratan menunjukkan adanya keseksamaan metode

(47)

Adapun rumus untuk menghitung simpangan baku relatif (Harmita, 2004)

adalah:

RSD = x 100%

3.6.7 Analisis Data secara Statistik

Pada penelitian dilakukan analisis statistik dari data yang didapatkan

dengan menggunakan analisis variansi (analysis of variance / ANAVA) yang

bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh dari perlakuan cara penghalusan

dan pengupasan terhadap kadar fosfor pada buah jambu biji merah. Data hasil

ANAVA dapat dilihat pada Lampiran 13. Untuk mengetahui beda pengaruh

masing-masing variasi perlakuan dilakukan analisis lanjutan, yaitu uji HSD.

3.6.8 Penentuan Batas/Limit Deteksi dan Batas/Limit Kuantitasi

Penentuan batas deteksi dapat dihitung berdasarkan pada standar deviasi

(SD) respon dan kemiringan (slope) linieritas baku (Harmita, 2004) yang dapat

dihitung dengan rumus:

(SY) =

LOD =

Sedangkan untuk penentuan batas kuantitasi dapat digunakan rumus:

LOQ =

(48)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Destruksi Kering

Fosfor organik setelah didestruksi berubah menjadi fosfor oksida dalam

valensi 3, yaitu P2O3 dan akhir destruksi akan terbentuk fosfor oksida valensi 5,

yaitu P2O5 yang bila dilarutkan dalam HNO3 5 N akan menjadi PO43-.

4.2 Analisis Fosfor pada Buah Jambu Biji Merah 4.2.1 Analisis Kualitatif Fosfor

Analisis kualitatif fosfor dalam sampel dilakukan dengan:

1. Reaksi menggunakan ammonium molibdat 4%, terbentuk endapan kuning.

2. Reaksi menggunakan BaCl2, terbentuk endapan putih.

Hal ini menunjukkan bahwa buah jambu biji merah mengandung fosfor.

4.2.2 Analisis Kuantitatif Fosfor

4.2.2.1 Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Senyawa Kompleks Fosfor Molibdat

Kurva penentuan λ serapan maksimum senyawa kompleks fosfor molibdat

dapat dilihat pada Gambar 1. Dari gambar tersebut terlihat λ gelombang serapan

maksimum yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 713 nm. Kompleks

fosfomolibdat memberikan serapan pada daerah sinar tampak pada panjang

(49)

Gambar 1. Kurva Serapan Senyawa Fosfor pada Konsentrasi 8 µg/ml

4.2.2.2 Penentuan Waktu Kerja Kompleks Fosfor Molibdat pada Panjang Gelombang Maksimum 713 nm

Untuk menentukan waktu kerja senyawa kompleks fosfor molibdat,

digunakan larutan baku KH2PO4 dengan konsentrasi 8 µg/ml dan diukur

serapannya pada λ 713 nm pada menit ke-5 sampai menit ke-74. Hasil pengukuran

menunjukkan serapan stabil pada menit ke-20 hingga menit ke-25. Data

pengukuran waktu kerja kompleks fosfor molibdat dapat dilihat pada Lampiran

5.

4.2.2.3 Kurva Kalibrasi Fosfor

Kurva kalibrasi fosfor diperoleh dengan cara mengukur serapan dari

larutan standar fosfor dengan konsentrasi larutan kerja yang berbeda, yaitu 0

µg/ml, 4 µg/ml, 6 µg/ml, 8 µg/ml, 10 µg/ml, dan 12 µg/ml. Berdasarkan hasil

pengukuran serapan vs konsentrasi larutan standar tersebut diperoleh kurva

(50)

Gambar 2. Serapan Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fosfor pada Panjang Gelombang 713 nm

Gambar 3. Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fosfor pada Panjang Gelombang 713 nm

Berdasarkan data kurva kalibrasi di atas, diperoleh persamaan regresi

untuk larutan standar fosfor, yaitu y = 0,0501 x + 0,0025 dengan nilai r (koefisien

korelasi) 0,9999. Nilai koefisien korelasi ≥ 0,95 menunjukkan bukti adanya

korelasi linier yang menyatakan adanya hubungan antara x dan y (Shargel dan

Andrew, 1988). Kurva ini menunjukkan terdapat korelasi yang positif antara

konsentrasi (x) dengan serapan (y) yang berarti meningkatnya konsentrasi akan

meningkat pula serapannya (Sudjana, 2005). Perhitungan persamaan regresi dapat

(51)

4.2.2.4 Analisis Kadar Fosfor pada Buah Jambu Biji Merah

Larutan hasil destruksi yang mengandung PO43- diukur dengan

spektrofotometer UV-Vis pada λ = 713 nm, pengukuran menghasilkan serapan

dan konsentrasi dapat dihitung berdasarkan persamaan garis regresi.

Hasil analisis fosfor pada buah jambu biji merah yang diberi perbedaan

perlakuan dalam hal cara penghalusan dan pengupasan menunjukkan hasil yang

berbeda. Pengukuran fosfor dengan Spektrofotometri Sinar Tampak dilakukan

dengan penambahan 13 ml larutan pereaksi warna fosfor. Larutan pereaksi warna

yang digunakan campuran asam sulfat, ammonium molibdat, asam askorbat, dan

kalium antimonil tartrat. Tujuan penambahan larutan ini adalah untul membentuk

senyawa berwarna biru dan diukur serapannya pada λ maksimum 713 nm.

Hasil destruksi yang berupa P2O5 yang diubah menjadi PO43- bereaksi

dengan ammonium molibdat yang berasal dari campuran larutan pereaksi warna

yang terdiri dari asam sulfat, ammonium molibdat, asam askorbat, dan kalium

antimonil tartrat membentuk senyawa kompleks fosfomolibdat. Senyawa

kompleks ini akan menghasilkan senyawa berwarna biru yang stabil selama 6

menit yang diukur pada menit ke-20 pada λ 713 nm.

Tabel 2. Hasil Kadar Total dan Kadar Rata-rata Fosfor Pada Setiap Kombinasi Perlakuan dengan 6 Kali Replikasi

(52)

Keterangan:

A1B1 : Di-blender; tanpa dikupas A1B2 : Di-blender; Dikupas A2B1 : Di-juicer; tanpa dikupas A2B2 : Di-juicer; Dikupas

Tabel 3. Kadar Fosfor Sebenarnya dalam Buah Jambu Biji Merah

No. Perlakuan Kadar Sebenarnya (µg/g)

1. A1B1 198,9014 ± 0,1363

2. A1B2 200,2779 ± 0,0628

3. A2B1 117,5561 ± 0,0284

4. A2B2 117,9927 ± 0,0256

Tabel di atas menunjukkan bahwa sampel mengandung fosfor dengan

kadar yang berbeda-beda untuk setiap kombinasi perlakuan. Menurut US

Department Agriculture dalam buku Cahyono (2010), kadar fosfor dalam buah

jambu biji merah sebesar 178 – 300 µg/g. Hasil di atas menunjukkan bahwa

kadar fosfor yang dihaluskan dengan cara di-blender lebih tinggi dibandingkan

dengan kadar fosfor yang dihaluskan dengan cara di-juicer. Hal ini disebabkan

karena semua bagian buah (kecuali biji) yang di-blender ikut terdestruksi,

sedangkan yang di-juicer hanya sari buah saja yang ikut terdestruksi. Selain itu,

hasil analisis juga menunjukkan bahwa kadar fosfor pada buah yang dihaluskan

baik dengan cara di-blender maupun di-juicer tanpa dikupas lebih rendah

dibandingkan dengan kadar fosfor pada buah yang dikupas. Hal ini menunjukkan

bahwa kandungan fosfor lebih besar terdapat pada daging buah. Untuk

membuktikan pengaruh setiap perlakuan terhadap kadar fosfor dalam buah jambu

(53)

4.3 Analisis Data secara Statistik 4.3.1 Analisis Variansi

Hasil analisis data secara statistik menurut analisis variansi dapat dilihat

pada tabel di bawah ini:p

Tabel 4. Data Hasil Analisis Variansi Pengaruh Cara Penghalusan dan Pengupasan terhadap Kadar Fosfor

Sumber Variasi

Keterangan : Harga F pada tabel distribusi F adalah: F0.05(3,20) = 3,10 dan F0.01(3,20) = 4,94

Hasil analisis variansi di atas menunjukkan bahwa harga Fhitung lebih besar

daripada harga Ftabel, berarti beda rata-rata dari kadar fosfor dalam buah jambu biji

merah dengan pengaruh cara penghalusan dan pengupasan adalah sangat

signifikan atau nyata.

Setelah diperoleh hasil analisis variansi, maka dilakukan analisis lebih

lanjut untuk mengetahui perbedaan antara di-blender tanpa dikupas, di-blender

dikupas, di-juicer tanpa dikupas, dan di-juicer dikupas. Analisis lanjutan yang

dilakukan adalah uji dengan mencari Highly Significance Difference (HSD)

(54)

4.3.2 Analisis Lanjutan (Uji HSD) Tabel 5. Data Hasil Uji HSD

Tanda bintang (*) pada tabel di atas menunjukkan adanya perbedaan yang

signifikan antara masing-masing perlakuan yang dibandingkan pada tingkat

kepercayaan 0,05. Dari tabel dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang

signifikan jika ditinjau dari faktor cara penghalusan. Sementara jika ditinjau dari

faktor pengupasan, hasil pada tabel tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Hal ini terlihat pada sampel yang diberi perlakuan cara penghalusan yang sama

dengan perbedaan perlakuan tanpa dikupas dan dikupas tidak dibubuhi tanda

bintang (*), sedangkan pada sampel yang diberi perlakuan cara penghalusan yang

berbeda dengan sama-sama tanpa dikupas dan dikupas dibubuhi tanda bintang (*).

Berarti, kadar fosfor hanya dipengaruhi oleh bagaimana buah jambu biji merah

dihaluskan dan faktor pengupasan tidak memberikan pengaruh terhadap kadar

fosfor dalam buah jambu biji merah.

(I)

Std. Error Sig. 95% Confidence Interval

Lower

A2B1 79.7627833* 1.1166189 .000 76.637438 82.888128 A2B2 79.2998833* 1.1166189 .000 76.174538 82.425228 A1B2 A1B1 2.6313667 1.1166189 .119 -.493978 5.756712

A2B1 82.3941500* 1.1166189 .000 79.268805 85.519495 A2B2 81.9312500* 1.1166189 .000 78.805905 85.056595 A2B1 A1B1 -79.7627833

*

1.1166189 .000 -82.888128 -76.637438

A1B2 -82.3941500* 1.1166189 .000 -85.519495 -79.268805 A2B2 -.4629000 1.1166189 .975 -3.588245 2.662445

A2B2 A1B1 -79.2998833 *

Figur

Gambar Penguapan Kandungan Air, Hasil Pengarangan, dan Hasil Pengabuan Sampel  ...................................................
Gambar Penguapan Kandungan Air Hasil Pengarangan dan Hasil Pengabuan Sampel . View in document p.15
Tabel 1.  Randomisasi Kombinasi Perlakuan dari Cara Penghalusan dan Pengupasan dengan 6 Kali Replikasi
Tabel 1 Randomisasi Kombinasi Perlakuan dari Cara Penghalusan dan Pengupasan dengan 6 Kali Replikasi . View in document p.41
Gambar 1. Kurva Serapan Senyawa Fosfor pada Konsentrasi 8 µg/ml
Gambar 1 Kurva Serapan Senyawa Fosfor pada Konsentrasi 8 g ml . View in document p.49
 Gambar 3.  Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fosfor pada Panjang Gelombang  713 nm
Gambar 3 Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fosfor pada Panjang Gelombang 713 nm . View in document p.50
Gambar 2. Serapan Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fosfor pada Panjang Gelombang 713 nm
Gambar 2 Serapan Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fosfor pada Panjang Gelombang 713 nm . View in document p.50
Tabel 2. Hasil Kadar Total dan Kadar Rata-rata Fosfor Pada Setiap Kombinasi Perlakuan dengan 6 Kali Replikasi
Tabel 2 Hasil Kadar Total dan Kadar Rata rata Fosfor Pada Setiap Kombinasi Perlakuan dengan 6 Kali Replikasi . View in document p.51
Tabel 3.   Kadar Fosfor Sebenarnya dalam Buah Jambu Biji Merah
Tabel 3 Kadar Fosfor Sebenarnya dalam Buah Jambu Biji Merah . View in document p.52
Tabel 4. Data Hasil Analisis Variansi Pengaruh Cara Penghalusan dan Pengupasan terhadap Kadar Fosfor
Tabel 4 Data Hasil Analisis Variansi Pengaruh Cara Penghalusan dan Pengupasan terhadap Kadar Fosfor . View in document p.53
Tabel 5. Data Hasil Uji HSD
Tabel 5 Data Hasil Uji HSD . View in document p.54

Referensi

Memperbarui...