Pengaruh Proxi Going Concern dan Opini Audit Tahun Sebelumnya Terhadap Opini Audit Tahun Berjalan pada Bank Umum yang Go Public di Indonesia

70 

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

SKRIPSI

PENGARUH PROXI GOING CONCERN DAN OPINI AUDIT TAHUN SEBELUMNYA TERHADAP OPINI AUDIT TAHUN BERJALAN

PADA BANK UMUM YANG GO PUBLIC DI INDONESIA

OLEH:

NAMA : DEWI A. HANDAYANI SIAGIAN NIM : 050503148

DEPARTEMEN : AKUNTANSI

(2)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul : “Pengaruh Proxi

Going Concern dan Opini Audit Tahun Sebelumnya Terhadap Opini Audit Tahun

Berjalan pada Bank Umum yang Go Public di Indonesia”, adalah benar hasil karya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi program reguler S-1 Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan dengan jelas, benar apa adanya. Apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas Sumatera Utara.

Medan, 19 Mei 2009 Yang membuat pernyataan

(3)

KATA PENGANTAR

Segala puji, hormat dan syukur kunaikkan kepada Mu Tuhan Yesus Kristus, Allah dan Juruselamat ku. Terima kasih tuhan untuk segala hikmat dan penyertaan Mu, selama proses pengerjaaan skripsi ini sehingga aku bisa menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu.

Adapun skripsi ini berjudul “Pengaruh Proxi Going Concern dan Opini Audit Tahun Sebelumnya Terhadap Opini Audit Tahun Berjalan pada Bank Umum yang Go Public di Indonesia”. Disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Fakultas Ekonomi Departemen Akuntansi, Universitas Sumatera Utara.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bimbingan, dukungan dan bantuan selama proses penyusunan skripsi ini.

1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs Arifin Akhmad M.Si,Ak. Selaku Ketua Departemen Akuntansi dan Bapak Fahmi Natigor Nasution, SE, M.Acc, selaku Sekretaris Departmen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

(4)

4. Bapak Drs. Hotmal Jafar, MM, Ak selaku dosen pembanding I dan Bapak Drs. Wahidin Yasin, Ak selaku dosen pembanding II yang telah memberikan arahan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

5. Orangtua penulis, Ayahanda K.C.Siagian dan Ibunda S.Sinaga, serta adik penulis Jonathan H.Siagian, terimakasih untuk setiap dukungan dan perhatiannya sehingga penulis tetap bersemangat mengerjakan skripsi ini.

6. Arta, Eka, Tiwi, Winda, Horas, Via, Bang Tunas, Ria, Bang Pitoy, Ka Herlina, terima kasih buat motivasi dan doa-doa kalian semua. Buat Maria dan Revol terima kasih atas pertolongan kalian berdua dalam pengerjaan skripsi ini.

Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dri kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan penulis, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan penulisan karya ilmiah kedepan. Akhir kata, penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Medan, 19 Mei 2009 Penulis,

(5)

ABSTRAK

Dalam penelitian ini, saya mencoba menyelidiki secara empiris hubungan antara proxi going concern dan opini audit tahun sebelumnya terhadap opini audit tahun berjalan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 17 perusahaan perbankan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia dari tahun 2005-2007. Regresi logistik digunakan untuk menguji hipotesis.

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa Debt to Equity Ratio dan opini audit tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap opini audit tahun berjalan. Di sisi lain, Quick Ratio, Loan to Asset Ratio dan Long Term Debt to

Assets Ratio tidak berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan.

(6)

ABSTRACT

In this study, i attempt empirically to investigate the relationship between proxy going concern and previous audit report on current audit opinion would receive a going concern pinion. A samples of 17 banking companies listed at Indonesia Stock Exchange from 2005-2007. Logistic regression is used to examine hypothesis.

The result indicate that Debt to Equity Ratio and previous audit report are signifcantly affect the going concern audit opinion. On the other hand, Quick Ratio, Loan to Asset Ratio, and Long Term Debt to Assets Ratio do not have affect on going concern audit opinion.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

PERNYATAAN...i

KATA PENGANTAR...ii

ABSTRAK... iv

ABSTRACT...v

DAFTAR ISI...vi

DAFTAR TABEL...ix

DAFTAR GAMBAR...x

DAFTAR LAMPIRAN...xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1

B. Perumusan Masalah...6

C. Batasan Penelitian...7

D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian...8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Opini Audit...10

B. Going Concern...11

C. Proxi Going Concern...13

D. Opini Audit Tahun Sebelumnya...15

E. Opini Audit Going Concern...15

F. Tinjauan Penelitian Terdahulu...16

(8)

BAB III METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian...21

B. Populasi Dan Sampel Penelitian...21

C. Jenis Dan Sumber Data...23

D. Metode Pengumpulan Data...24

E. Defenisi Operasional Dan Pengukuran Variabel...25

F. Metode Analisa Data 1. Pengujian Data...28

a. Uji Asumsi Klasik...28

1. Uji Autokorelasi...28

2. Uji Multikolinearitas...29

b. Menguji Keseluruhan Model Fit...30

c. Menguji Kelayakan Model Regresi...30

2. Pengujian Hipotesis...31

G. Jadwal Penelitian...33

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Data Penelitian...34

B. Analisis Hasil Penelitian 1. Statistik Deskriptif...34

2. Pengujian Data...37

a. Uji Asumsi Klasik...37

1. Uji Multikolinearitas...37

(9)

b.Menilai Keseluruhan Model...42

c.Menilai Kelayakan Model Regresi...47

3. Pengujian Hipotesis...49

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan...57

B. Keterbatasan...57

C. Saran...58

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu 16

Tabel 3.1 Daftar Sampel Emiten 23

Tabel 3.2 Rencana Jadwal Penelitian 33

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif 31

Tabel 4.2 Coefficient Correlations 33

Tabel 4.3 Coefficients 34

Tabel 4.4 Run Test 36

Tabel 4.5 Nilai -2 Log Likelihood awal 38

Tabel 4.6 Nilai -2 Log Likelihood akhir 38

Tabel 4.7 Hosmer And Lemeshow Test 43

Tabel 4.8 Ikhtisar Pengolahan Data 44

Tabel 4.9 Cox And Snell R Square Dan Nagelkerke R Square 45

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

(12)

DAFTAR LAMPIRAN Nama Judul

Lampiran 1 Laporan Auditor Independen Dan Laporan Keuangan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk.

(13)

ABSTRAK

Dalam penelitian ini, saya mencoba menyelidiki secara empiris hubungan antara proxi going concern dan opini audit tahun sebelumnya terhadap opini audit tahun berjalan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 17 perusahaan perbankan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia dari tahun 2005-2007. Regresi logistik digunakan untuk menguji hipotesis.

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa Debt to Equity Ratio dan opini audit tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap opini audit tahun berjalan. Di sisi lain, Quick Ratio, Loan to Asset Ratio dan Long Term Debt to

Assets Ratio tidak berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan.

(14)

ABSTRACT

In this study, i attempt empirically to investigate the relationship between proxy going concern and previous audit report on current audit opinion would receive a going concern pinion. A samples of 17 banking companies listed at Indonesia Stock Exchange from 2005-2007. Logistic regression is used to examine hypothesis.

The result indicate that Debt to Equity Ratio and previous audit report are signifcantly affect the going concern audit opinion. On the other hand, Quick Ratio, Loan to Asset Ratio, and Long Term Debt to Assets Ratio do not have affect on going concern audit opinion.

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Teori keagenan (agency theory) mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer sebagai agen dan pemegang saham sebagai prinsipal. Dengan adanya asimetri informasi ini, manajer dapat memaksimalisasi nilai saham perusahaan melalui pengungkapan (disclosure) informasi akuntansi. Bagaimanapun juga manajer tidak selalu bertindak sesuai keinginan

shareholders, sebagian dikarenakan oleh adanya moral hazard sehingga

dibutuhkan pihak ketiga yang independen sebagai mediator pada hubungan antara prinsipal (pemegang saham) dan agen (manajer).

Untuk melindungi publik yang juga merupakan pemilik perusahaan, otoritas pasar modal mengharuskan perusahaan emiten menyerahkan laporan keuangan auditan. Oleh karenanya informasi yang dianggap relevan untuk pengambilan keputusan investasi oleh para investor adalah laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit oleh auditor independen. Hal ini menyebabkan pemeriksaan atas laporan keuangan oleh pihak ketiga yang independen menjadi sangat diperlukan.

(16)

pernyataan wajar dari auditor. Pernyataan auditor diungkapkan melalui opini audit. Peran auditor diperlukan untuk mencegah diterbitkannya laporan keuangan yang menyesatkan. Dengan menggunakan laporan keuangan yang telah diaudit, para pemakai laporan keuangan dapat mengambil keputusan dengan benar sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Selain memberikan opini audit atas laporan keuangan, mengenai kewajarannya auditor juga bertanggungjawab untuk menilai apakah terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) dalam periode waktu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan audit (SPAP 2004). Jika ada keraguan mengenai kelangsungan hidup suatu bank, maka auditor perlu mengungkapkannya dalam laporan opini audit dengan tambahan bahasa penjelasan (unqualified modified

opinion).

Krisis moneter yang melanda beberapa negara di Asia termasuk Indonesia pada tahun 1997, membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup entitas bisnis

termasuk bisnis perbankan. Banyak perusahaan yang tidak mampu lagi membiayai operasional perusahaannya dan pailit. Peralihan kekuasaan pemerintah juga menghasilkan beberapa kebijakan baru, diantaranya kebijakan untuk melikuidasi sejumlah bank.

(17)

bermunculan. Mayoritas bank-bank tersebut dimiliki oleh kalangan pengusaha yang bukan bankir sehingga ketika krisis ekonomi mengguncang Indonesia, banyak perbankan yang tidak siap menanggung beban akibat tidak sehatnya kinerja keuangan bank. Imbasnya, sejumlah bank dilikuidasi oleh Pemerintah.

Dampak dari memburuknya kondisi ekonomi ini mengakibatkan makin meningkatnya opini dengan Qualified dengan penjelasan Going Concern dan opini Disclaimer pada tahun 1998. Beberapa hal yang memicu masalah going concern pada

tahun tersebut umumnya adalah perusahaan-perusahaan memiliki rasio hutang terhadap modal yang tinggi, saldo hutang jangka pendek dalam jumlah besar yang segera jatuh tempo, mengalami penurunan modal (capital deficiency) yang signifikan, kerugian keuangan (financial losses) yang disebabkan karena kerugian nilai tukar, menanggung beban-beban keuangan, kerugian operasional dan tidak adanya action plans yang jelas dari pihak manajemen.

Going concern adalah kelangsungan hidup suatu badan usaha. Dengan

adanya going concern maka suatu badan usaha dianggap akan mampu mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka waktu panjang, tidak akan dilikuidasi (untuk perusahaan) dalam jangka waktu pendek. Sehingga opini dengan tambahan bahasa penjelasan going concern harus diungkapkan dengan harapan dapat segera mempercepat upaya penyelamatan perusahaan yang bermasalah.

Going concern suatu bank dapat diproksikan dengan analisis rasio

keuangan. Kelangsungan usaha tidak hanya dapat diukur dengan profitabilitas tetapi juga harus memperhatikan likuiditas dan solvabilitas. Disamping itu going

(18)

Likuiditas perusahaan perbankan merupakan kemampuan suatu bank untuk menyediakan alat-alat lancar guna membayar kembali titipan yang jatuh tempo dan memberikan pinjaman (loan) kepada masyarakat yang memerlukan. Tingkat likuiditas yang tinggi menunjukkan tingkat efisiensi perusahaan. Likuiditas perbankan dalam penelitian ini diproksikan oleh Quick Ratio dan Loan

to Asset Ratio. Apabila nilai dari Quick Ratio semakin tinggi, maka semakin

tinggi pula kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Di sisi lain semakin tinggi nilai Loan to Asset Ratio, maka akan semakin rendah kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan sehingga suatu bank kemungkinan besar dinyatakan kurang likuid.

Solvabilitas perbankan merupakan kemampuan suatu bank untuk membayar kewajiban jangka panjangnya ataupun kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jika terjadi likuidasi bank. Solvabilitas perbankan dalam penelitian ini diproksikan dengan Long Term Debt to Assets

Ratio dan Debt to Equity Ratio. Bank yang mempunyai nilai Long Term Debt to

Assets Ratio dan Debt to Equity Ratio yang rendah, maka akan memperbesar

kemungkinan bank tersebut mendapat opini audit going concern.

Beberapa penelitian menemukan bahwa auditor dalam menerbitkan opini audit dengan penjelasan going concern akan mempertimbangkan opini audit dengan going concern yang telah diterima oleh auditee pada tahun sebelumnya. Namun

penelitian mengenai opini audit tahun sebelumnya pada industri perbankan masih sangat jarang dilakukan.

(19)

audit dengan going concern. Hasil dari penelitian mereka memberikan bukti empiris yaitu hanya variabel quick ratio, return on asset, dan interest margin of loans yang berpengaruh positif terhadap opini audit going concern. Penelitian mereka lebih berfokus pada industri perbankan saja, dengan periode pengamatan tahun 1995-1997.

Agrianti Komalasari A. (2005) yang melakukan penelitian pada perusahaan publik, yang meneliti pengaruh kualitas auditor, dan proxi going

concern yaitu likuiditas (quick ratio) dan profitabilitas (ROA) dan gearing ratio

terhadap opini auditor. Dia menemukan bahwa kualitas auditor dan gearing ratio berpengaruh negatif terhadap pemberian opini audit dengan going concern, dan ROA berpengaruh positif terhadap pemberian opini audit dengan going concern.

Narwinder Singh (2008) menyelidiki pengaruh dari beberapa rasio perbankan yaitu profitabilitas, likuiditas dan solvabilitas terhadap pemberian opini audit yang berkaitan dengan going concern. Dia menemukan bahwa hanya rasio likuiditas dan solvabilitas yang berpengaruh terhadap pemberian opini yang berkaitan dengan going concern yaitu quick ratio, banking ratio dan CAR.

Eko Budi, dkk (2006) yang meneliti pengaruh kualitas audit, kondisi keuangan perusahaan, opini audit tahun sebelumnya dan pertumbuhan perusahaan terhadap opini audit dengan going concern pada perusahaan manufaktur. Hasil penelitian mereka membuktikan bahwa kualitas audit dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif sedangkan kondisi keuangan perusahaan dan opini audit tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap opini audit dengan

going concern.

(20)

dilakukan namun penelitian yang berfokus pada industri perbankan masih sedikit sehingga penulis tertarik untuk melakukan replikasi terhadap penelitian tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk membahas seberapa besar pengaruh proxi going concern (likuiditas dan solvabilitas) dan opini audit tahun sebelumnya terhadap opini audit dengan objek penelitian bank-bank umum yang go public di Indonesia pada periode 2005-2007 dalam skripsi dengan judul “Pengaruh Proxi Going Concern Dan Opini Audit Tahun Sebelumnya Terhadap Opini Audit Tahun Berjalan Pada Bank Umum Yang Go Public di Indonesia”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis membuat perumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah Quick Ratio (QR) berpengaruh terhadap opini audit tahun

berjalan?

2. Apakah Loan to Asset Ratio (LAR) berpengaruh terhadap opini audit

tahun berjalan?

3. Apakah Long Term Debt to Assets Ratio (LTDAR) berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan?

4. Apakah Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan ?

(21)

C. Batasan Penelitian

Supaya penelitian ini terfokus pada topik yang dipilih, maka penulis memberi batasan masalah sebagai berikut:

1. Faktor yang mempengaruhi opini audit adalah kemampuan entitas bisnis dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going

concern), yang dalam penelitian ini diproxikan oleh rasio keuangan

bank serta opini audit tahun sebelumnya,

2. Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio likuiditas dan solvabilitas, dengan menggunakan alat ukur quick ratio,

loan to asset ratio, long term debt to assets ratio dan debt to equity

ratio

3. Opini audit yang diamati adalah unqualified opinion atau wajar tanpa pengecualian, yang diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: Unqualified with

Going Concern Audit Report maupun Unqualified with Non-Going

Concern Audit Report .

4. Objek penelitian adalah industri perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dan

5. Periode penelitian yang diamati adalah tahun 2005-2007

D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian A. Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

(22)

2. Untuk menguji pengaruh dari Loan to Asset Ratio (LAR) terhadap opini audit tahun berjalan.

3. Untuk menguji pengaruh dari Long Term Debt to Assets Ratio (LTDAR) terhadap opini audit tahun berjalan.

4. Untuk menguji pengaruh dari Debt to Equity Ratio (DER) terhadap opini audit tahun berjalan.

5. Untuk menguji pengaruh dari opini audit tahun sebelumnya terhadap opini audit tahun berjalan.

B. Manfaat penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan:

1. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan peneliti sehubungan dengan pengaruh dari informasi keuangan bank bagi kelangsungan hidup suatu bank.

2. Bagi calon investor dan investor, hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi pada perusahaan perbankan yang mempunyai kinerja tertentu berdasarkan laporan audit.

3. Bagi manajemen bank, sebagai pertimbangan dalam menggunakan laporan audit terhadap dampaknya bagi kelangsungan hidup perusahaan yang dimilikinya di masa yang akan datang.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Opini Audit

Dalam melakukan penugasan umum, auditor ditugasi memberikan opini atas laporan keuangan perusahaan. Opini yang diberikan merupakan pernyataan kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum (SPAP, 2004 alinea 1). Sehingga pendapat atau opini audit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan audit.

Opini yang dikeluarkan auditor ada empat macam yaitu: pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion), pendapat wajar dengan tambahan bahasa penjelasan (unqualified modified opinion), pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion), opini audit tidak memberikan pendapat (disclaimer opinion) dan pendapat tidak wajar (adverse opinion). Laporan penting sekali dalam suatu audit karena laporan menginformasikan pemakai informasi mengenai apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya.

Auditor mempunyai tanggung jawab untuk menilai apakah terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu pantas. Pada saat auditor menemukan adanya keraguan terhadap kemampuan klien untuk melanjutkan usahanya, auditor harus memberikan opini audit dengan modifikasi mengenai

going concern, auditor diijinkan untuk memilih apakah akan mengeluarkan

(24)

Menurut PSAK 29, bahwa keraguan yang besar tentang kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya merupakan keadaan yang mengharuskan auditor menambah paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan lain) dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian, yang dinyatakan oleh auditor. Istilah bahasa digunakan untuk mencakup paragraf, kalimat, frasa dan kata yang digunakan oleh akuntan publik untuk mengkomunikasikan hasil auditnya kepada pemakai laporan.

B. Going Concern

Going concern ialah kelangsungan hidup suatu badan usaha. Going

concern adalah salah satu konsep yang paling penting yang mendasari pelaporan

keuangan. Dengan adanya going concern maka suatu entitas dianggap akan mampu mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka panjang, tidak akan dilikuidasi dalam jangka waktu pendek. Adalah tanggung jawab utama director untuk menentukan kelayakan dari persiapan laporan keuangan menggunakan dasar going concern dan tanggung jawab auditor untuk meyakinkan dirinya bahwa penggunaan dasar going concern oleh perusahaan adalah layak dan diungkapkan secara memadai dalam laporan keuangan. Ketika kondisi ekonomi merupakan sesuatu yang tidak pasti, para investor mengharapkan auditor memberikan early warning akan kegagalan keuangan perusahaan. Kelangsungan hidup usaha selalu dihubungkan dengan kemampuan manajemen dalam mengelola perusahaan agar bertahan hidup.

(25)

berlawanan dengan asumsi kelangsungan hidup suatu badan usaha adalah berhubungan dengan dengan ketidakmampuan suatu badan usaha dalam memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar melalui bisnis biasa, restrukturisasi utang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan kegiatan serupa yang lain.

Salah satu dari hal-hal penting yang harus diputuskan oleh auditor dalam menyampaikan laporan audit adalah apakah perusahaan dapat mempertahankan hidupnya (going concern). Audit report dengan modifikasi mengenai going

concern, mengindikasikan bahwa dalam penilaian auditor terdapat resiko

perusahaan tidak dapat bertahan dalam bisnis. Dari sudut pandang auditor, keputusan tersebut melibatkan beberapa tahap analisis. Auditor harus mempertimbangkan hasil dari operasi, kondisi ekonomi yang mempengaruhi perusahaan, kemampuan pembayaran hutang, dan kebutuhan likuiditas di masa yang akan datang.

(26)

C. Proxi Going Concern

Menurut Agrianti Komalasari rasio keuangan merupakan proxi dari going

concern. Menurut Hani, dkk. (2003) analisis rasio secara tradisional

memfokuskan kepada profitabilitas, solvabilitas, dan likuiditas. Sudah jelas sekali bahwa perusahaan yang tidak menghasilkan profit atau keuntungan dalam jangka panjang adalah tidak solvabel, atau tidak likuid dan kemungkinan harus direstrukturisasi, dan yang sering terjadi setelah direstrukturisasi, maka perusahaan akan bangkrut. Cara untuk menghindarinya adalah dengan memprediksi bahaya keuangan jauh sebelumnya agar tidak menderita kerugian investasi.

Likuiditas

Rasio likuiditas digunakan karena rasio ini mengukur kemampuan perusahaan di dalam memenuhi kewajiban-kewajiban yang akan jatuh tempo (kewajiban jangka pendek). Sebagai parameter dari rasio likuiditas, penulis menggunakan Quick Ratio (QR) dan Loan to Assets Ratio (LAR).

Quick Ratio atau rasio cepat digunakan untuk mengetahui kemampuan

bank untuk membayar kembali kewajibannya kepada para deposannya dengan aktiva tunai yang dimilikinya. Rendahnya nilai rasio ini mengindikasikan bahwa suatu perusahaan perbankan atau bank mengalami kesulitan kas, sehingga suatu waktu dapat menimbulkan rush atau kegagalan pembayaran kepada nasabah, apabila terjadi penarikan besar-besaran oleh nasabah.

(27)

tingkat likuiditasnya rendah karena jumlah aktiva yang diperlukan untuk membiayai kreditnya semakin besar.

Solvabilitas

Rasio solvabilitas digunakan karena rasio ini mengukur kemampuan perusahaan di dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjang. Sebagai parameter dari rasio solvabilitas, penulis menggunakan Long Term Debt to Assets

Ratio (LTDAR) dan Debt to Equity Ratio (DER).

Menurut Juli, Zainal, dkk., (2002:91), Long Term Debt to Assets Ratio

(LTDAR) digunakan untuk mengukur kemampuan aktiva bank dalam memenuhi

kewajiban jangka panjangnya. Semakin tinggi nilai LTDAR, maka semakin kecil kemampuan untuk membayar hutang dari aktiva. Hal ini berarti bank tersebut mampu untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban bank untuk memenuhi kewajiban jika terjadi likuidasi bank.

Menurut Juli, Zainal, dkk., (2002: 91), Debt to Equity Ratio (DER) digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh utang jangka pendek maupun panjang, dengan menggunakan modal bank sendiri. Semakin tinggi nilai dari DER, maka semakin kecil kemampuan membayar hutangnya dari modal sendiri. Hal ini berarti bank tersebut mampu untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban bank untuk memenuhi kewajiban jika terjadi likuidasi bank.

D. Opini audit tahun sebelumnya

(28)

opini audit modifikasi mengenai going concern pada tahun sebelumnya lebih cenderung untuk menerima opini yang sama pada tahun berjalan. Penelitian oleh Carcello dan Neal (2000) serta Rahmadhani (2004) seperti yang dikutip dari Eko, Indira dan Faisal, memperkuat bukti mengenai opini audit modifikasi mengenai

going concern yang diterima tahun sebelumnya dengan opini audit modifikasi

mengenai going concern tahun berjalan. Ada hubungan positif yang signifikan antara opini audit modifikasi mengenai going concern tahun sebelumnya dengan opini audit modifikasi mengenai going concern tahun berjalan. Apabila pada tahun sebelumnya auditor telah menerbitkan opini audit modifikasi mengenai

going concern, maka akan semakin besar kemungkinan auditor untuk menerbitkan

kembali opini audit modifikasi mengenai going cocern pada tahun berikutnya.

E. Opini audit going concern

Opini audit modifikasi mengenai going concern merupakan opini audit yang dalam pertimbangan auditor terdapat ketidakmampuan atau ketidakpastian signifikan atas kelangsungan hidup perusahaan dalam menjalankan operasinya (SPAP). Termasuk dalam opini audit going concern ini adalah opini going

concern unqualified/qualified dan going concern disclaimer opinion.

(29)
(30)
(31)
(32)

G. Kerangka Konseptual dan Hipotesis 1. Kerangka Konseptual

Berdasarkan latar belakang masalah dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dibuat kerangka konseptual dan hipotesis sebagai berikut:

Loan to Asset Ratio(LAR)

(x2)

Long Term Debt to Assets Ratio(LTDAR)

(x3) Quick Ratio(QR)

(x1)

Opini Audit Tahun Berjalan

(Y)

Debt to equity Ratio (DER)

(x4)

Opini Audit Tahun Sebelumnya

(33)

2. Hipotesis

Hipotesis menurut Sugiyono (2005:306), menyatakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah. Karena sifatnya masih sementara, maka perlu dibuktikan kebenarannya melalui data empirik yang terkumpul.

Dari kerangka konseptual dan tinjauan teoritis tersebut, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

H1: Quick Ratio (QR) berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan.

H2: Loan to Asset Ratio (LAR) berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan.

H3: Long Term Debt to Assets Ratio (LTDAR) terhadap pemberian opini audit tahun berjalan.

H4: Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan.

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Peneliti menggunakan desain kausal atau hubungan sebab akibat. Desain penelitian kausal ini berguna untuk menganalisis hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya (Umar,2003:30). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah quick ratio, loan to asset ratio, long term debt to assets ratio dan debt to equity ratio dan opini audit tahun sebelumnya sebagai varibel independen serta opini audit tahun berjalan sebagai variabel dependen.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2004:72). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar (listing) di BEI tahun 2005 sampai 2007. Sektor perbankan dipilih untuk menghindari adanya industrial effect yaitu risiko industri yang berbeda antara suatu sektor industri yang

satu dengan yang lain.

(35)

Kriteria-kriteria sampel yang ditentukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan tersebut terdaftar di BEI pada tahun 2005 sampai 2007. 2. Perusahaan tidak sedang berada dalam proses delisting pada periode

pengamatan.

3. Perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuangan pada tahun 2005 sampai 2007.

4. Mempunyai laporan auditor independen yang dipublikasikan bersamaan dengan periode pengamatan, dan opini yang diterima adalah unqualified opinion, baik dengan going concern maupun non

(36)

Setelah dilakukan uji purposive sampling, maka emiten yang lolos uji ini adalah: Tabel 3.1

Daftar Sampel Emiten

NO. NAMA EMITEN

1. Bank Bumiputera Indonesia Tbk. 2. Bank Central Asia Tbk.

3. Bank Eksekutif Internasional Tbk 4. Bank Internasional Indonesia Tbk. 5. Bank Kesawan Tbk.

6. Bank Lippo Tbk.

7. Bank Mandiri (Persero) Tbk. 8. Bank Mayapada Internasional Tbk. 9. Bank Mega Tbk.

10. Bank Negara Indonesia Tbk. 11. Bank Niaga Tbk.

12. Bank Nusantara Parahyangan Tbk. 13. Bank Pan Indonesia

14. Bank Permata Tbk.

15. Bank Rakyat Indonesia Tbk. 16. Bank UOB Buana Tbk. 17. Bank Victoria Tbk.

Sumber: www.idx.go.id

C. Jenis dan Sumber Data

Data dalam penelitian ini ialah data sekunder. Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain (Umar,2003:69).

Data yang diperoleh adalah kombinasi antara data time series dengan data

time series dengan data cross section (Pooled Data). Data time series merupakan

(37)

Data penelitian ini juga mencakup data yang berbentuk rasio untuk variabel independen yang diamati, serta berbentuk nominal untuk data variabel dependen.

Jenis data yang digunakan berupa:

1. Laporan keuangan tahunan dari setiap perusahaan yang merupakan sampel penelitian.

2. Laporan auditor independen dari bank yang diamati.

3. Informasi keuangan lainnya yang berkaitan dengan variabel penelitian. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2005 sampai 2007 yang merupakan data tentang rasio-rasio keuangan serta opini audit untuk sampel yang diamati.

D. Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah data eksternal. Data eksternal adalah data yang dicari secara manual dengan cara mendapatkannya dari luar perusahaan (Umar,2003:70). Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama dilakukan melalui studi pustaka, yaitu jurnal akuntansi dan buku-buku yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

(38)

E. Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Seperti yang diuraikan pada tinjauan pustaka sebelumnya bahwa rasio keuangan merupakan proxi dari going concern perusahaan. Menurut Hani dkk. (2003) analisis rasio secara tradisional memfokuskan kepada profitabilitas, solvabilitas, dan likuiditas. Sudah jelas sekali, bahwa perusahaan yang tidak menghasilkan profit atau keuntungan dalam jangka panjang adalah tidak solvabel atau tidak likuid dan kemungkinan harus direstrukturisasi, dan yang sering terjadi setelah direstrukturisasi, perusahaan akan bangkrut. Ini merupakan alasan mengapa likuiditas, solvabilitas dan profitabilitas merupakan proxi dari going

concern perusahaan.

Variabel yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel Independen (tidak terikat)

Yaitu variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain (Umar,2003:50). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

going concern suatu bank yang diproksikan dengan rasio-rasio likuiditas dan

solvabilitas serta opini audit tahun sebelumnya. Rasio-rasio likuiditas dan solvabilitas menggunakan beberapa alat ukur antara lain:

a. Quick Ratio

(39)

Quick Ratio : Cash Assets

Total Deposit

b. Loan to Asset Ratio (LAR)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi permintaan kredit dengan menggunakan total aset bank yang dimiliki. Semakin tinggi LAR, semakin rendah likuiditasnya, karena semakin banyak aset yang dialokasikan ke kredit. LAR dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

LAR : Total Credit

Total Asset

c. Long Term Debt to Assets Ratio (LTDAR)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan aktiva suatu bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Semakin tinggi LTDAR, berarti semakin tinggi solvabilitasnya karena semakin banyak aset yang dialokasikan ke utang jangka panjang. LTDAR dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

LTDAR : Long Term Debt Total Asset

d. Debt To Equity Ratio (DER)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh utang jangka pendek maupun jangka panjang, dengan menggunakan modal bank sendiri. Dimana semakin tinggi nilai DER berarti semakin rendah solvabilitasnya. DER dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

DER : Total Loans

(40)

e. Opini Audit Tahun sebelumnya

Auditor dalam menerbitkan opini audit going concern akan

mempertimbangkan opini audit going concern yang telah diterima oleh auditee pada tahun sebelumnya.

2. Variabel dependen (terikat)

Yaitu variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah opini audit tahun berjalan yang diberikan oleh auditor untuk laporan keuangan bank yang diamati, sebagai dummy

variable. Dalam penelitian ini, pengukuran opini audit unqualified dengan going

concern yang terdapat dalam annual report diberi nilai “1”. Sedangkan opini audit

unqualified dengan non-going concern yang terdapat dalam annual report diberi

nilai “0”.

F. Metode Analisa Data

Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisa statistik dengan menggunakan software statistik yaitu SPSS 15. Peneliti melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu sebelum melakukan pengujian hipotesis.

1. Pengujian Data a. Uji Asumsi Klasik

(41)

autokorelasi dan multikolinearitas, dengan mengabaikan asumsi normalitas dan heterokedastisitas untuk pengujian regesi logistik.

1. Uji Autokorelasi

Uji ini berguna untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t (saat ini) dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Masalah ini timbul karena variabel pengganggu tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data time series karena gangguan pada seorang individu atau kelompok, cenderung mempengaruhi gangguan pada individu ataupun kelompok pada periode berikutnya. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Untuk mendeteksi adanya autokorelasi dapat dijelaskan dengan uji run test. Run test dapat digunakan untuk menguji apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi. Jika antar residual tidak terdapat hubungan korelasi maka dapat dikatakan bahwa residual adalah acak atau random. Run test digunakan untuk melihat apakah data residual terjadi secara random atau tidak. Hipotesis yang akan diuji adalah:

H0 : residual (res_1) random (acak) H1 : residual (res_1) tidak random 2. Uji Multikolinearitas

(42)

a. nilai tolerance dan lawannya

b. variance inflation factor (VIF)

Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi, nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF=1/Tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai utnuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai

Tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10.

Ada dua cara yang dapat dilakukan jika terjadi multikolineritas, yaitu:

1. mengeluarkan salah satu variabel, misalnya variabel independen A dan B saling berkorelasi dengan kuat, maka bisa dipilih A atau B yang dikeluarkan dari model regresi.

2. menggunakan metode lanjut, seperti Regresi Bayessian atau Regresi Ridge.

b. Menguji Keseluruhan Model Fit

Uji ini digunakan untuk menilai model yang telah dihipotesakan telah fit atau tidak dengan data. Seperti yang dikatakan dalam buku Homer-Lemeshow, 1989: 135 bahwa ” ...the model contains those variabel ( main effect as well as

interactions) that should be in the model and the variables have been entered in

the correct functional form”. Oleh karena itu data yang baik adalah yang model

hipotesanya sesuai dengan data.

Statistik yang digunakan adalah berdasarkan pada fungsi Likelihood.

Likelihood L dari model adalah probabilitas bahwa model yang dihipotesakan

menggambarkan model input. Untuk menguji hipotesis nol dan alternatif, L ditransformasikan menjadi -2LogL. Statistik -2LogL kadang-kadang disebut

(43)

c. Menguji Kelayakan Model Regresi

Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer and

Lemeshow’s Goodness of Fit Test. Jika nilai statistik Hosmer and Lemeshow’s

Goodness of Fit Test lebih besar dari 0,05, maka hipotesis nol tidak dapat ditolak

dan berarti model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena sesuai dengan data observasinya (Ghozali, 2005).

2. Pengujian Hipotesis

Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif. Statistik deskriptif memberikan gambaran suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (kemencengan distribusi).

(44)

Model yang digunakan dalam persamaan regresi ini adalah: Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 +b4X4 +b5X5 + e

Keterangan:

Y = opini audit tahun berjalan

X1 = quick ratio

X2 = loan to asset ratio

X3 = long term debt to assets ratio

X4 = debt to equity ratio

X5 = opini audit tahun sebelumnya

a = Konstanta

b1, b2, b3, b4, b5 = Koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel independen.

(45)

G. Jadwal Penelitian

Tabel 3.2

Rencana Jadwal Penelitian

Tahapan Penelitian Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar

Pengajuan Judul x

Penyelesaian Proposal x Pengumpulan Data dan Pengolahan Data

x x x

Seminar Proposal x

Penulisan Laporan x x

(46)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data Penelitian

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik yang menggunakan persamaan regresi logistik. Analisis data dimulai dengan mengolah data dengan menggunakan microsoft excel, selanjutnya dilakukan pengujian asumsi klasik dan pengujian menggunakan regresi logistik digunakan dengan menggunakan software SPSS versi 15. Prosedur dimulai dengan memasukkan variabel-variabel penelitian ke program SPSS tersebut dan menghasilkan output-output sesuai metode analisis data yang telah ditentukan.

Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, diperoleh 17 perusahaan yang memenuhi kriteria dan dijadikan sampel penelitian ini dan diamati selama periode 2005-2007.

B. Analisis Hasil Penelitian 1. Statistik Deskriptif

Setelah data terkumpul, seluruh sampel diseleksi berdasarkan kriteria. Diperoleh 51 sampel yang memenuhi kriteria pemilihan sampel yang telah ditentukan sebelumnya.

(47)

Tabel 4.1 Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

QR

51 ,178454 15,841696 10,888745

75 3,294827619 LAR

51 26,268184 90,934448 52,170327

65 14,776450138 LTDAR

51 ,000000 11,549766 3,0991674

9 3,170726288

DER 51 82,771781 1904,5316

95

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dideskripsikan beberapa hal berikut ini :

1. Jumlah seluruh sampel penelitian adalah 17 perusahaan dikali tiga (3) tahun penelitian sehingga total N adalah adalah 51. Dengan lima (5) variabel yaitu

quick ratio sebagai variabel independen pertama (X1), loan to asset ratio

(LAR) sebagai variabel independen kedua (X2), long term debt to assets ratio

(LTDAR) sebagai variabel independen ketiga (X3), debt to equity ratio (DER)

sebagai variabel independen keempat (X4), opini audit tahun sebelumnya sebagai variabel independen kelima (X5), dan opini audit tahun berjalan sebagai variabel dependen (Y).

(48)

3. Variabel independen kedua, yaitu loan to asset ratio, memiliki nilai minimum sebesar 26,26 dan nilai maksimum sebesar 90,93 dengan nilai rata-rata adalah 52,17. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel mempunyai nilai LAR yang positif. Nilai standar deviasi sebesar 14,77 menunjukkan bahwa tidak ada sampel yang memiliki nilai LAR yang bersifat ekstrim.

4. Variabel independen ketiga yaitu long term debt to assets ratio, memiliki nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum sebesar 11,54 dengan nilai rata-rata adalah 3,09. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel mempunyai nilai LTDAR yang positif. Nilai standar deviasi sebesar 3,17 menunjukkan bahwa tidak ada sampel yang memiliki nilai LTDAR yang bersifat ekstrim.

5. Variabel independen keempat yaitu debt to equity ratio, memiliki nilai minimum sebesar 82,77 dan nilai maksimum sebesar 1904,53 dengan nilai rata-rata adalah 887,08. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel mempunyai nilai DER yang positif. Nilai standar deviasi sebesar 342,16 menunjukkan adanya sampel yang memiliki nilai DER yang bersifat ekstrim.

(49)

deviasi sebesar 0,196, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan antar nilai rata-rata (mean) dengan nilai data.

7. Variabel dependen yaitu opini audit tahun berjalan, sama seperti variabel independen kelima, variabel ini juga merupakan variabel numerik yang menggunakan variabel dummy, dimana opini dengan pernyataan going concern diberi nilai satu “0” sebagai nilai minimum dan tanpa pernyataan going

concern diberi nilai nol “1” sebagai nilai maksimum. Sehingga dengan jelas

dapat kita ketahui bahwa range antara data adalah sebesar satu (1), dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 0,96 dan standar deviasi sebesar 0,196, yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan antar nilai rata-rata (mean) dengan nilai data.

2. Pengujian Data a. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Multikolineritas

Uji ini digunakan untuk situasi dimana adanya korelasi variabel-variabel independen antara yang satu dengan yang lainnya. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas (independen). Apabila terjadi korelasi antar variabel-variabel tersebut berarti terjadi problem multikolineritas (multikol). Sedangkan variabel yang baik adalah variabel yang tidak memiliki problem multikolinearitas.

Uji multikolineritas ini dilakukan dengan melihat besaran VIF (Variance

Inflation Factor) dan Tolerence serta melihat besaran korelasi antar variabel

(50)

Tabel 4.2

Covariances OPNS ,017 -1,89E-005 -4,69E-008 9,83E-005 ,000

LAR -1,89E-005 3,55E-006 1,63E-008 6,30E-006 3,85E-006 DER -4,69E-008 1,63E-008 6,90E-009 -4,25E-008 3,46E-007

QR 9,83E-005 6,30E-006 -4,25E-008 7,13E-005 1,01E-005

LTDAR ,000 3,85E-006 3,46E-007 1,01E-005 8,51E-005

Sumber : Hasil Pengolahan SPSS Deteksi adanya multikolineritas: a. Multikolineritas dapat dilihat dari:

Koefisien korelasi antar variabel independen haruslah lemah dan tidak cukup tinggi (tidak diatas 0,90), maka antar variabel tersebut tidak terjadi multikolineritas. Tidak adanya korelasi yang tinggi bukan berarti bebas dari gejala multikolineritas. Mutikolineritas dapat disebabkan karena adanya efek kombinasi dua atau lebih variabel independen (ghozali, 2005: 91).

Analisis :

Pada tabel 4.2 yaitu tabel COEFFICIENT CORRELATIONS tampak bahwa antar variabel-variabel independen tersebut tidak ada korelasi yang besar. Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa korelasi dibawah 0,95 atau 95%. Jadi dapat disimpulkan bahwa antar variabel tersebut tidak terjadi multikolineritas.

(51)

Tabel 4.3 Coefficients

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

Sumber : Hasil pengolahan SPSS b. Multikolineritas dapat dilihat dari:

1. Mempunyai nilai VIF disekitar angka 1. 2. Nilai Tolerence mendekati angka 1.

Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregres terhadap variabel independen lainnya. Tolerence mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai tolerence yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi (Ghozali, 2005: 91-92). Analisis:

Pada tabel 4.3 yaitu tabel COEFFICIENT, dapat dilihat bahwa nilai

tolerence dari kelima variabel mendekati satu (1). Yang berarti bahwa

(52)

2. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ada korelasi pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi.

Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) karena ”gangguan” pada seseorang individu/kelompok cenderung mempengaruhi ”gangguan” pada individu/kelompok yang sama pada periode berikutnya. Pada data

crossection (silang waktu), masalah autokorelasi relatif jarang

terjadi karena ”gangguan” pada observasi yang berbeda berasal dari individu kelompok yang berbeda. Maka regresi logistik yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi (Ghozali, 2005 : 95-96).

Uji yang digunakan untuk melihat autokorelasi dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan run test. Run test dapat digunakan untuk menguji apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi. Jika antar residual tidak terdapat hubungan korelasi maka dapat dikatakan bahwa residual adalah acak atau random. Run test digunakan untuk melihat apakah data residual terjadi secara random atau tidak. Hipotesis yang akan diuji adalah:

H0 : residual (res_1) random (acak)

(53)

Tabel 4.4

Test Value(a) ,00407

Cases < Test Value 25

Cases >= Test Value 26

Total Cases 51

Number of Runs 23

Z -,988

Asymp. Sig. (2-tailed) ,323

a. Median

Sumber : Hasil Pengolahan SPSS. Analisis :

Dari tabel 4.4 diatas tampak bahwa nilai test adalah sebesar 0,00407 dengan probabilitas 0,323 tidak signifikan pada 0,05 (5%) yang berarti hipotesis nol diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa residual random (acak) atau tidak terjadi autokorelasi antar nilai residual.

3. Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit)

Uji ini digunakan untuk menilai model yang telah dihipotesakan telah fit atau tidak dengan data. Seperti yang dikatakan dalam buku Homer-Lemeshow, 1989: 135 bahwa ” ...the model contains those variabel ( main effect as well as

interactions) that should be in the model and the variables have been entered in

the correct functional form”. Oleh karena itu data yang baik adalah yang model

(54)

H0: Model yang dihipotesakan Fit dengan Data. H1: Model yang dihipotesakan tidak fit dengan data.

Dari hipotesis tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa hipotesis yang diinginkan adalah hipotesa nol karena hipotesa tersebut menyatakan bahwa model fit dengan data.

Statistik yang digunakan adalah berdasarkan pada fungsi Likelihood.

Likelihood L dari model adalah probabilitas bahwa model yang dihipotesakan

menggambarkan model input. Untuk menguji hipotesis nol dan alternatif, L ditransformasikan menjadi -2LogL. Statistik -2LogL kadang-kadang disebut

likelihood rasio X2 statistik. Tabel 4.5

a Constant is included in the model. b Initial -2 Log Likelihood: 16,875

c Estimation terminated at iteration number 6 because parameter estimates changed by less than ,001.

(55)

Tabel 4.6

(56)
(57)

5 15,474 8,060 -,401

a Method: Backward Stepwise (Wald) b Constant is included in the model. c Initial -2 Log Likelihood: 16,875

d Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been reached. Final solution cannot be found.

e Estimation terminated at iteration number 7 because parameter estimates changed by less than ,001.

f Estimation terminated at iteration number 6 because parameter estimates changed by less than ,001.

(58)

Omnibus Tests of Model Coefficients

a A negative Chi-squares value indicates that the Chi-squares value has decreased from the previous step.

Sumber : Hasil pengolahan SPSS

Dari tabel 4.5 dan 4.6 diatas dapat dilihat bahwa nilai -2 log likehood awal (-2 LL awal) pada block number = 0, yaitu model yang hanya memasukkan konstanta saja memiliki nilai 16,875. Lalu pada tabel selanjutnya ,yaitu pada tabel 4.6 nilai -2 log likehood akhir (-2 LL akhir) pada block number = 1 berubah menjadi 9,537.

Penurunan nilai ini terjadi karena masuknya beberapa variabel independen dalam model penelitian.

(59)

Debt to Equity Ratio, Debt to Equity Ratio dan opini audit tahun sebelumnya ke

dalam model penelitian akan memperbaiki model fit penelitian ini.

4. Menilai Kelayakan Model Regresi

Uji ini dilakukan untuk melihat apakah data empiris cocok atau sesuai dengan model (tidak ada perbedaan antara model dengan data sehingga model dapat dikatakan fit).

Deteksi :

Jika nilai Hosmer dan Lemeshow goodness of fit test statistic adalah sama dengan atau kurang dari 0,05, berarti ada perbedaan signifikan antara model dengan observasinya sehingga goodness fit tidak baik, karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. Sebaliknya jika nilai Hosmer dan Lemeshow

Goodness of Fit Test lebih besar dari 0,05 berarti model mampu memprediksi

nilai observasinya atau dapat dikatakan bahwa model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya (Ghozali, 2005: 216).

TABEL 4.7

HOSMER AND LEMESHOW TEST

Sumber : Hasil pengolahan SPSS

Berdasarkan tabel 4.7 diatas dapat dilihat bahwa pada step akhir yaitu pada step delapan menunjukkan bahwa besarnya nilai statistik chi-square sebesar 0,537 dengan probabilitas signifikansi 1 yang nilainya di atas 0,05. Menurut

(60)

0,05, maka hipotesis nol yang ada pada penelitian tidak dapat ditolak, artinya model penelitian mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model fit dapat diterima karena cocok dengan data observasinya.

3. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari variabel– variabel independen terhadap opini audit tahun berjalan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan metode regresi logistik yang ditunjukkan dalam tabel– tabel di bawah berikut:

Tabel 4.8

Ikhtisar Pengolahan Data Case Processing Summary

Unweighted Cases(a) N Percent

Selected Cases Included in Analysis 51 100,0

Missing Cases 0 ,0

Total 51 100,0

Unselected Cases 0 ,0

Total 51 100,0

a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.

Dependent Variable Encoding

Original Value Internal Value

0 0

1 1

Sumber : Hasil Pengolahan SPSS

Dari tabel pengolahan data di atas maka dapat diambil analisis sebagai berikut : 1. Jumlah seluruh kasus yang diolah dalam penelitian sebanyak 51 kasus, dimana

jumlah ini berasal dari 17 sampel perusahaan dikali dengan tiga tahun penelitian.

(61)

3. Nilai yang diberikan untuk variabel independen opini audit tahun sebelumnya dan variabel dependen opini audit tahun berjalan adalah variabel yang menggunakan variabel dummy adalah satu dan nol.

Untuk melihat tingkat variasi data dalam penelitian ini akan menggunakan Cox &

Snell R Square dan Nagelkerke R Square.

TABEL 4.9

a Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been reached. Final solution cannot be found.

b Estimation terminated at iteration number 7 because parameter estimates changed by less than ,001.

c Estimation terminated at iteration number 6 because parameter estimates changed by less than ,001.

d Estimation terminated at iteration number 8 because parameter estimates changed by less than ,001.

Sumber : Hasil Pengolahan SPSS

Cox dan Snell’s R Square merupakan ukuran yang mencoba meniru ukuran R2 pada multiple regression yang didasarkan pada teknik estimasi

likelihood dengan nilai maksimum kurang dari satu sehingga sulit

(62)

Dengan melihat tabel SPSS diatas nilai Cox Snell’s R square sebesar 0,134 dan nilai Nagelkerke R2 sebesar 0,476 yang berarti variabilitas variabel independen yang dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel independen adalah sebesar 47,6% sedangkan sisanya yaitu sebesar 52,4% dijelaskan oleh faktor – faktor lain yang tidak disertakan dalam penelitian ini.

Hasil uji hipotesis :

(63)

Variables in the Equation(d)

a Variable(s) entered on step 1: QR, LAR, LTDAR, DER, OPNS. b Variable(s) entered on step 7: OPNS.

c Variable(s) entered on step 8: DER.

d Stepwise procedure stopped because removing the least significant variable result in a previously fitted model.

Sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Tabel 4.10 di atas memperlihatkan hasil pengujian hipotesis regresi logistik pada tingkat signifikansi 5% atau 0,05. Step kedelapan, atau step terakhir dari model regresi yang dijalankan menunjukkan model yang paling baik dalam memprediksi pengaruh variabel – variabel independen terhadap variabel dependen. Berdasarkan tabel 4.11 di atas, maka dapat diperoleh hasil uji regresi logistik yang diperlukan untuk menguji hipotesis yang dikemukakan. Maka hasil pengujian hipotesis adalah :

H1 : Quick Ratio berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan.

Berdasarkan tabel 4.10 di atas, regresi logistik dengan menggunakan backward stepwise (Wald) memperlihatkan bahwa variabel quick ratio, hanya dapat memprediksi nilai variabel dependen sampai pada step kelima. Sedangkan pada step enam sampai delapan, quick ratio tersebut dikeluarkan dari model regresi. Artinya pada taraf signifikansi 0,05 atau 5%, variabel quick ratio tidak mampu memprediksi nilai variabel dependennya. Variabel quick ratio mempunyai tingkat probabilitas signifikansi total sebesar 0,309 pada step lima, yang nilainya berada di atas taraf signifikansi 0,05 atau 5% sehingga dapat dikatakan bahwa H1

(64)

ditolak dan H0 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa quick ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit tahun berjalan.

Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Hani, dkk (2003) juga tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan Narwinder (2008). Namun hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Agrianti (2006), yang menyatakan bahwa quick ratio tidak berpengaruh terhadap opini going concern.

(65)

H3 : Long Term Debt to Assets Ratio berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan.

Berdasarkan tabel 4.10 di atas, regresi logistik dengan menggunakan backward stepwise (Wald) memperlihatkan bahwa variabel long term debt to

assets ratio, hanya dapat memprediksi nilai variabel dependen sampai pada step

keempat. Sedangkan pada step lima sampai delapan, long term debt to assets ratio tersebut dikeluarkan dari model regresi. Artinya pada taraf signifikansi 0,05 atau 5%, variabel long term debt to assets ratio tidak mampu memprediksi nilai variabel dependennya. Variabel long term debt to assets ratio mempunyai tingkat probabilitas signifikansi total sebesar 0,575 pada step empat, yang nilainya berada di atas taraf signifikansi 0,05 atau 5% sehingga dapat dikatakan bahwa H1 ditolak dan H0 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa long term debt to

assets ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit tahun berjalan.

H4 : Debt to Equity Ratio berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan. Berdasarkan tabel 4.10 di atas, regresi logistik dengan menggunakan backward stepwise (Wald) memperlihatkan bahwa variabel debt to equity ratio, dapat memprediksi nilai variabel dependen sampai pada step kedelapan. Artinya pada taraf signifikansi 0,05 atau 5%, variabel debt to equity ratio mampu memprediksi nilai variabel dependennya. Variabel debt to equity ratio mempunyai tingkat probabilitas signifikansi total sebesar 0,127 pada step kedelapan, yang nilainta berada di atas taraf signifikansi 0,05 atau 5% sehingga dapat dikatakan bahwa H1 ditolak dan H0 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

(66)

H5 : Opini audit tahun sebelumnya berpengaruh terhadap opini audit tahun berjalan.

(67)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan di atas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Hasil pengujian dengan menggunakan regresi logistik memberikan bukti empiris bahwa variabel QR, LAR, dan LTDAR tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit tahun berjalan.

2. Hasil pengujian dengan menggunakan regresi logistik memberikan bukti empiris bahwa variabel DER dan opini audit tahun berjalan berpengaruh signifikan terhadap opini audit tahun berjalan.

B. Keterbatasan Penelitian

1. Periode pengamatan hanya 3 (tiga) tahun yaitu sejak tahun 2005 sampai dengan 2007. Sehingga belum bisa melihat kecenderungan trend penerbitan opini audit tahun berjalan oleh auditor dalam jangka panjang.

2. Populasi dalam penelitian ini hanya pada 1 (satu) sektor saja yaitu bank umum.

(68)

C. Saran

Dari keterbatasan – keterbatasan tersebut, maka untuk peneliti yang akan datang disarankan untuk :

1. Memasukkan variabel independen tambahan seperti rotasi auditor, pertumbuhan perusahaan, atau rasio keuangan lain, dan variabel lainnya sehingga hasil penelitian akan lebih bisa memprediksi penerbitan opini audit tahun berjalan dengan lebih tepat.

2. Jumlah tahun pengamatan lebih diperpanjang sehingga dapat melihat kecenderungan trend penerbitan opini audit tahun berjalan oleh auditor dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perbedaan antara krisis moneter dengan periode kondisi ekonomi normal.

3. Menambah sektor perusahaan ataupun mengganti sektor dari populasi untuk melihat konsistensi hasil penelitian ini apabila populasi yang digunakan adalah sektor dari jenis perusahaan yang berbeda.

(69)

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra, Suharjo. 2006. Akuntansi Perbankan, Edisi Pertama, Salemba Empat, Jakarta.

Eko, Indira, Faisal, 2006. ”Pengaruh Kualitas Audit, Kondisi Keuangan

Perusahaan, Opini Audit Tahun Sebelumnya, Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Opini Audit Going Concern”, Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang.

Erlina, Sri Mulyani. 2007. Metodologi Penelitian Bisnis, Terbitan Pertama, USU Press, Medan.

Ghozali, Imam, 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan PenerbitUniversitas Diponegoro. Semarang.

Hani, Clearly, Mukhlasin, 2003. ”Going Concern Dan Opini Audit: Suatu Studi

Pada Perusahaan Perbankan di BEJ”, Simposium Nasional Akuntansi VI, Surabaya.

Komalasari, Agrianti. 2005. ”Analisis Pengaruh Kualitas Auditor dan Proxi

Going Concern Terhadap Opini Auditor”. Jurnal Skripsi.

Mirna, Indira, 2007. “Analisis Pengaruh Kualitas Audit, Debt Default Dan

Opinion Shopping Tehadap Penerimaan Opini Going Concern”. Simposium Nasional Akuntansi X, Makassar.

Mulyadi. 2002. Auditing, Buku Satu, Edisi Keenam, Salemba Empat, Jakarta. Mulyono, Teguh Pudjo, 1999. Bank Auditing, Djambatan, Jakarta.

Rahayu, Puji. 2007. “Assessing Going Concern Opinion : A Study Based On

Financial And Non-Financial Informations”. Simposium Nasional Akuntansi X, Makasar.

Siamat, Dahlan. 2005. Manajemen Lembaga Keuangan, Kebijakan Moneter Dan

Perbankan. Edisi 5. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Singh, Narwinder. 2008. “Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas Dan Solvabilitas

Terhadap Opini Audit Going Concern”. Jurnal Skipsi.

Simorangkir, O.P. 2004. Pengantar Lembaga Keuangan dan Non Lembaga

Keuangan. Cetakan Kedua. Ghalia Indonesia, Bogor.

Sugiyono, 2004. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Ketujuh, Alfabeta, Bandung. Umar, Husein, 2001. Riset Akuntansi: Metode Riset Sebagai Cara Penelitian

(70)

Wild, John J., K.R.Subramanyam dan Robert F. Hasley. 2005. Financial

Statement Analysis. Edisi 8, Salemba Empat, Jakarta.

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, Jurusan Akuntansi, 2004. Buku

Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Dan penulisan Skripsi, Medan.

Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Akuntansi Keuangan, buku 1, per 1 Januari 2004, Salemba Empat, Jakarta.

Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Profesional Akuntan Publik, Salemba Empat.

Figur

Tabel 2.1
Tabel 2 1 . View in document p.29
Tabel 3.1
Tabel 3 1 . View in document p.36
Tabel 3.2
Tabel 3 2 . View in document p.45
Tabel 4.1
Tabel 4 1. View in document p.47
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.50
Tabel 4.6
Tabel 4 6 . View in document p.55
Tabel 4.8
Tabel 4 8 . View in document p.60
TABEL 4.10
TABEL 4 10 . View in document p.62
Tabel 4.10 di atas memperlihatkan hasil pengujian hipotesis regresi
Tabel 4 10 di atas memperlihatkan hasil pengujian hipotesis regresi . View in document p.63

Referensi

Memperbarui...