Pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi Bank menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 jo. Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perbankan

105 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGANGKATAN DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI BANK

MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1992 JO.

UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1998 TENTANG

PERBANKAN

SKRIPSI

Di susun dan Diajukan untuk memenuhi

Syarat-syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Pada Fakultas Hukum di Universitas Sumatera Utara

OLEH :

ARINI WULANDARI

NIM. 090200053

Departemen Hukum Ekonomi

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

ABSTRAK

PENGANGKATAN DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI BANK MENURUT UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1992 JO.

UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1998 TENTANG PERBANKAN (PERMATA BANK)

Arini Wulandari *) Bismar Nasution **) Windha ***)

Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas terdapat definisi mengenai Direksi dan Dewan Komisaris secara jelas yang terdapat pada Pasal 1 ayat (5) mengenai pengertian Direksi dan Pasal 1 ayat (6) mengenai pengertian Dewan Komisaris. Persyaratanuntuk menjadi anggota dewan komisaris dan direksi bank, seseorang harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan setiap perubahannya wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia yang diatur dalam PBI No. 13/27/PBI/2011 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia No. 11/1/PBi/2009 tentang Bank Umum. Pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank juga ada diatur dalam Undang-Undang Perbankan, namun tidak memiliki ketegasan hukum karena ada beberapa pasal yang tidak lengkap dan telah dihapus. Permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini adalah bagaimana pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank menurut Undang-Undang Perbankan, bagaimana peran Bank Indonesia dalam Pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank, dan bagaimana pelaksanaan peraturan pengangkatan dewan komisaris dan direksi dalam Undang-Undang Perbankan

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah . Penelitian hukum normatif meliputi penelitian terhadap asas-asas hukum, taraf sinkronisasi hukum, sejarah hukum, dan perbandingan hukum. Metode pendekatan yang digunakan penelitian normatif ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan secara jelas bahwa pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank mengacu kepada Undang-Undang Perseroan Terbatas dan Peraturan Bank Indonesia, sedangkan Undang-Undang Perbankan tidak menjelaskan menjelaskan secara rinci bagaimana pengangkatan dewan komisaris dan direksi, hanya menjelaskan pendirian suatu bank

Kata Kunci: Pengangkatan, Dewan Komisaris, Direksi, Bank ____________________________

*) Penulis

(3)

KATA PENGANTAR

Bismilahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, penentu jalan hidup manusia Yang Maha Agung dan yang telah menghantarkan penulis hingga di batas ini, tidak lupa pula penulis ucapkan shalawat beriring salam kepada teladan kita Rasulullah SAW semoga mendapatkan syafa’atnya di yaumul akhir kelak.

Skripsi ini berjudul “Pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi Bank menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 jo.

Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan”. Cara dan tahapan

pembahasan yang dilakukan selama proses perampungan skripsi ini, mulai dari pemahaman dan pencarian bahan pustaka mengenai normatif empiris tentang Pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu diharapkan saran dan kritikan yang membangun sehingga penulisan kedepan dapat lebih baik lagi.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Allah SWT atas karunianya dan kasih sayangnya yang selalu menyertaiku

dan menolongku dan memberikan kekuatan dalam hidupku.

(4)

3. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum sebagai Pembantu Umum Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak Syafrudin Hasibuan, S.H., M.H., DFM sebagai Pembantu Umum Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Bapak Muhammad Husni, S.H., M.H sebagai dosen Pembantu Umum Dekan III Fakultas Hukum Universitas sumatera Utara.

7. Ibu Windha, S.H., M.Hum sebagai Ketua Departemen Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai Pembimbing II saya, yang telah memberikan waktunya menjadi dosen pembimbing skripsi ini, sehingga skripsi ini boleh selesai tapt pada waktunya.

8. Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H sebagai dosen pembimbing I, yang sudah menyediakan waktu dan membagi pengetahuan berkenaan dengan skripsi yang dibahas, yang selalu sabar memberikan masukan sehingga penulisan ini juga boleh selesai tepat pada waktunya.

9. Bapak dan Ibu Dosen seluruh pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang turut mendukung segala urusan perkuliahan dan administrasi ku selama ini.

10. Untuk adik-adikku, Randisyah Abrari dan Anugrah Dimas Maulana yang tak bosan memberikan dukungan buat penulis. Makasih yah dek.

(5)

12. Buat teman-teman seperjuanganku yang selalu memberikan motivasi dan dukungannya : Putri Arini, Yudhistira Frandana, Meilani Sabrina, Dila Kristy, Sari Ramadani, Febrina Sari, Novira Sembiring, Dhirgan Afryanda Segara, M. Andri Fauzan Lubis, Windha Auliana Yusra, Mulkan Balya, Nyak Ulfa, Windy Widya Utami, Dina Krisyanti Rupang, M. Subhi, Mona Winata, khususnya M. Iqbal Harahap.

13. Sahabatku dari SMP sampai SMA: Siti Rizky Mardhani, Nadhila Yasmin Qaisum, Winda Novasari Rambe, Rizky Dina Safitri, dan Ade Ismail.

14. Terima kasih kepada Abangda Muhar Affandy dan Mahyul Dani yang memberikan banyak masukan dan saran atas skripsi ini.

15. Terima kasih kepada adik-adik junior 2012 yang tak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih telah memberikan motivasi dan hiburan bagi penulis. 16. Semua kawan-kawan stambuk ’09 yang tidak bisa disebutin satau persatu,

khususnya anak Hukum Ekonomi.

17. Seluruh pihak yang telah memberikan bantuannya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Akhir kata kiranya tulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, terutama dalam penerapan serta pengembangan ilmu hukum di Indonesia.

Medan, Mei 2013 Penulis

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………... 1

B. Perumusan Masalah ……….. 8

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 8

D. Keaslian Penulisan .……… 9

E. Tinjauan Pustaka ...………... 10

F. Metode Penelitian …..………... 15

G. Sistematika Penulisan ………... 17

BAB II PENGANGKATAN DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI BANK MENURUT UNDANG-UNDANG PERBANKAN A. Kedudukan PT dan PT Bank dalam Hukum Perusahaan …... 19

1. Kedudukan PT dalam Hukum Perusahaan ... 23

2. Kedudukan PT Bank dalam Hukum Perusahaan ... 29

B. Organ Perseroan dalam suatu Lembaga Perbankan ………... 34

1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ………... 34

2. Dewan Komisaris ………... 39

(7)

C. Pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi Bank Menurut Undang-Undang Perbankan ………... 47

BAB III PERAN BANK INDONESIA DALAM PENGANGKATAN

DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI BANK

A. Peraturan Bank Indonesia mengenai Pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi Bank ………. 50 B. Uji Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) ……… 61 C. Kriteria Hasil Akhir dan Sanksi terhadap Pelanggaran ketentuan Fit and

Proper Test ……….. 79

BAB IV PELAKSANAAN PERATURAN PENGANGKATAN DEWAN

KOMISARIS DAN DIREKSI DALAM UNDANG-UNDANG

PERBANKAN

A. Syarat-syarat dalam Pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi Bank ………... 76 B. Prosedur Pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi Bank …………. 87 C. Pelaksanaan Uji Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test) bagi

Dewan Komisaris dan Direksi antara Bank BUMN dengan Bank Swasta ………... 89

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan …..……… 92 B. Saran ….……….... 94

(8)

ABSTRAK

PENGANGKATAN DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI BANK MENURUT UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1992 JO.

UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1998 TENTANG PERBANKAN (PERMATA BANK)

Arini Wulandari *) Bismar Nasution **) Windha ***)

Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas terdapat definisi mengenai Direksi dan Dewan Komisaris secara jelas yang terdapat pada Pasal 1 ayat (5) mengenai pengertian Direksi dan Pasal 1 ayat (6) mengenai pengertian Dewan Komisaris. Persyaratanuntuk menjadi anggota dewan komisaris dan direksi bank, seseorang harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan setiap perubahannya wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia yang diatur dalam PBI No. 13/27/PBI/2011 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia No. 11/1/PBi/2009 tentang Bank Umum. Pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank juga ada diatur dalam Undang-Undang Perbankan, namun tidak memiliki ketegasan hukum karena ada beberapa pasal yang tidak lengkap dan telah dihapus. Permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini adalah bagaimana pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank menurut Undang-Undang Perbankan, bagaimana peran Bank Indonesia dalam Pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank, dan bagaimana pelaksanaan peraturan pengangkatan dewan komisaris dan direksi dalam Undang-Undang Perbankan

Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah . Penelitian hukum normatif meliputi penelitian terhadap asas-asas hukum, taraf sinkronisasi hukum, sejarah hukum, dan perbandingan hukum. Metode pendekatan yang digunakan penelitian normatif ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan secara jelas bahwa pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank mengacu kepada Undang-Undang Perseroan Terbatas dan Peraturan Bank Indonesia, sedangkan Undang-Undang Perbankan tidak menjelaskan menjelaskan secara rinci bagaimana pengangkatan dewan komisaris dan direksi, hanya menjelaskan pendirian suatu bank

Kata Kunci: Pengangkatan, Dewan Komisaris, Direksi, Bank ____________________________

*) Penulis

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selama kurang-lebih 32 tahun, kita baru menyadari bahwa pembangunan bidang ekonomi lebih diutamakan namun dengan mengabaikan pembangunan hukumnya. Akibatnya, dalam pembangunan bidang ekonomi tersebut muncullah pelbagai isu dan persoalan hukum berskala nasional. Isu dan persoalan hukum tadi merupakan ekses dari kebijakan politik (ekonomi) yang tidak mempunyai esensi substansi karena lebih mengedepankan tata langkah dan cara kerja hukumnya. Oleh karena itu, sewajarnya kita berbenah diri dalam menghadapi pertumbuhan dan perkembangan pembangunan ekonomi yang sedemikian pesatnya. Caranya dengan mengadakan penyesuaian dan perubahan seperlunya terhadap pelbagai perangkat hukum dan perundang-undangan nasional yang mengatur bidang ekonomi.1

Pada tahun 1997, Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi yang diikuti dengan turunnya pemerintahan orde baru, membuat Indonesia harus menghadapi krisis lanjutan diberbagai aspek seperti ekonomi, politik, dan sosial. Krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada tahun 1997 tersebut ditandai dengan turunnya nilai tukar mata uang rupiah terhadapa dollar Amerika Serikat secara drastis dan merosotnya pasar modal karena aksi jual para investor serta banyaknya perusahaan yang bangkrut karena tidak sanggup membayar beban utangnya, baik yang berasal dari dalam maupun dalam luar negeri.

1

(10)

Terjadinya krisis tersebut didahului dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi dalam kurun waktu yang lama. Krisis yang semula terjadi pada sektor keuangan dan perbankan kemudian meluas menjadi krisis ekonomi bahkan meluas menjadi krisis politik dan sosial dan akhirnya menjadi krisis kepemimpinan nasional. Kondisi ketidakpercayaan terhadap mata uang rupiah lambat laun berubah menjadi ketidakpercayaan terhadap perbankan yang menimbulkan terjadinya krisis perbankan di Indonesia.

(11)

Pada dasarnya, kondisi suatu bank sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi baik secara mikro maupun makro, sehingga bank selalu dituntut untuk selalu menjaga prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan.2

Menjalankan suatu usaha bank tidaklah mudah karena harus memiliki keahlian dibidang perbankan dan harus memperoleh surat izin usaha. Pasal 16 ayat 1 Undang-Undang Perbankan menyatakan bahwa setiap pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan,

Pasal 2 Undang-Undang Perbankan menyebutkan bahwa perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian, sehingga untuk menunjang prinsip kehati-hatian ini diperlukan manajemen yang profesional dan berdedikasi tinggi agar resiko dalam usaha perbankan dapat diminimalisir.

Menurut Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan, Pasal 1 ayat (2) menyatakan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Hal ini ditandai dengan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan karena masyarakat merupakan potensial modal dalam perekonomian. Agar potensi ini dapat bermanfaat bagi pembangunan ekonomi maka perlu disalurkan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan modal untuk membiayai kegiatan usaha, kebutuhan sehari-hari, maupun untuk investasi yang akan datang.

2

(12)

wajib terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai bank umum atau bank perkreditan rakyat dari pimpinan Bank Indonesia, kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dimaksud diatur dengan Undang-undang tersendiri. Sedangkan Pasal 16 ayat 2 UU Perbankan menyatakan bahwa untuk memperoleh izin usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat, wajib memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya: susunan organisasi, permodalan, kepemilikan, keahlian di bidang perbankan, dan kelayakan rencana kerja. Dari ketentuan diatas dapat dilihat, bahwa langkah pertama yang harus dilakukan dalam pendirian bank adalah menentukan jenis bank yang akan didirikan, apakah bank umum atau bank perkreditan rakyat. Karena hal ini ada kaitannya dengan syarat-syarat pendirian bank.3

Bentuk hukum yang ditentukan di atas, maka menurut Undang-Undang Perbankan, bentuk hukum lainnya tidak dapat diperkenankan beroperasi dalam kegiatan perbankan. Konsekuensinya bentuk hukum lainnya harus menyesuaikan dengan ketentuan yang ada, misalnya bentuk hukum perusahaan negara seperti Bentuk hukum bank di Indonesia mengacu pada jenis bank itu sendiri, maksudnya bentuk hukum jenis bank umum bentuknya bisa berbeda dengan bentuk hukum pada bank perkreditan rakyat, tetapi juga mungkin bisa sama. Ketentuan mengenai bentuk hukum suatu bank diatur pada Pasal 21 ayat (1) UU Perbankan dapat berupa persereoan terbatas, koperasi, dan perusahaan daerah.

3

(13)

bank milik pemerintah harus berubah menyesuaikan diri menjadi perusahaan perseroan.4

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menghasilkan struktur manajemen yang baik adalah melalui proses seleksi manajemen terhadap pemilik dan pengurus (dewan komisaris dan direksi) pada semua bank yang dilakukan melalui uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test). Hal tersebut dianggap perlu oleh berbagai pihak karena banyak kalangan yang menilai bahwa kemampuan manusia menjadi faktor utama dalam menjalankan prinsip kehati-hatian, yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan suatu bank. Oleh karena itu, Bank Indonesia sebagai bank sentral yang memiliki fungsi pokok menjaga kestabilan moneter, keamanan sistem pembayaran nasioal, dan pengaturan serta pengawasan Bank merasa perlu mengeluarkan peraturan kebijakan tentang penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper test). Pengaturan mengenai uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) diatur di dalam PBI No. 12/23/PBI/2010 tentang uji kemampuan dan kepatutan (fit and

Menjalankan suatu bank diperlukan kepengurusan bank yang memiliki ahli dibidangnya, teruji serta memiliki kemampuan yang baik dan profesional dalam melaksanakan tugasnya, sehingga idealnya para calon pemilik dan pengurus Bank harus mengikuti suatu uji kemampuan terlebih dahulu. Pokok-pokok mengenai ketentuan uji kemampuan tersebut selanjutnya diatur dalam peraturan bank indonesia.

4

(14)

proper test), sedangkan mengenai penilaian uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) diatur didalam PBI No. 2/23/PBI/2000.

Pengertian dewan komisaris dan direksi bank dalam hal ini dibatasi pada dewan komisaris dan direksi bank yang berbentuk perseroan terbatas yang diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UU PT), sehingga pengertian dewan komisaris dalam Pasal 1 ayat (6) adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada direksi dan pengertian direksi pada Pasal 1 ayat (5) adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

Dewan komisaris dan direksi bank memiliki andil dan peran penting dalam memajukan suatu bank yang berbentuk perseroan terbatas. Direksi perseroan merupakan organ perseroan yang melaksanakan kegiatan dan kepengurusan perseroan. Ketentuan ini menugaskan direksi untuk mengurus perseroan yang, antara lain, meliputi pengurusan sehari-hari dari perseroan. Direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.5

Pada dewan komisaris, tugasnya melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai perseroan

5

(15)

maupun usaha perseroan, dan memberi nasihat kepada direksi. Pengawasan dan pemberian nasihat ini dilakukan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.6

Pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank sesuai dengan UU Perbankan dinilai tidak memiliki dasar hukum. Bisa dikatakan selama ini pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank memenuhi ketentuan yang “tidak ada”. Bank Indonesia sebagai bank sentral harusnya ikut serta dalam mengatasi problema mengenai pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank yang ternyata regulasi peraturan pengangkatannya tidak ada dasar hukum. Bagaimana bisa mengenai pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank yang diatur dalam UU Perbankan yang selama ini berlaku cukup lama di Indonesia dari Tahun 1998 sampai sekarang dibiarkan begitu saja tanpa ada tindakan perubahan undang-undang ataupun Bank Indonesia untuk tindakan selanjutnya maupun dari pemerintah, DPR, dan Menteri Keuangan. Bank yang berbentuk perseroan terbatas yang bergerak di bidang jasa keuangan perbankan secara umum tunduk dan harus berdasar kepada ketentuan yang diatur dalam UU PT. Hal ini dianggap Mengenai pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank yang terdapat di dalam Pasal 38 ayat (1) UU Perbankan bahwa pengangkatan keanggotaan dewan komisaris dan direksi bank, wajib memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (6) dan Pasal 17 UU Perbankan. Apabila kita lihat dalam Pasal 16 UU Perbankan hanya dicantumkan 3 ayat saja dan di Pasal 17 telah dihapus.

6

(16)

karena di dalam UU PT itu sendiri lebih spesifik mengenai pengangkatan dewan komisaris dan direksi daripada Undang-Undang Perbankan.

Hal ini yang membuat tertarik Penulis untuk mengangkat masalah ini menjadi sebuah judul skripsi dan Penulis membatasi pembahasan skripsi ini pada pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi pada Bank Umum.

B. Perumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah :

1. Bagaimanakah pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank menurut Undang-Undang Perbankan ?

2. Bagaimanakah peran Bank Indonesia dalam pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank ?

3. Bagaimanakah pelaksanaan peraturan pengangkatan dewan komisaris dan direksi dalam Undang-Undang Perbankan ?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan penelitian

Adapun tujuan penulisan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah :

(17)

b. Untuk mengetahui peran Bank Indonesia dalam pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank

c. Untuk mengetahui pelaksanaan peraturan pengangkatan dewan komisaris dan direksi dalam Undang-Undang Perbankan

2. Manfaat penulisan

Manfaat yang diperoleh dari penulisan skripsi adalah: a. Secara Teoretis

Diharapkan akan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan ilmu hukum, khususnya pengetahuan ilmu hukum ekonomi

b. Secara Praktis

Dapat diajukan sebagai bahan pedoman dan rujukan bagi rekan-rekan mahasiswa, masyarakat, praktisi hukum, dan pemerintah agar dapat lebih mengetahui dan memahami tentang pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan peraturan lainnya yang terkait di Indonesia. Suatu peraturan yang baik adalah peraturan yang tidak saja memenuhi persyaratan-persyaratan formal sebagai suatu peraturan, tetapi menimbulkan rasa keadilan dan kepatutan yang dilaksanakan atau ditegakkan dalam kenyataannya.

D. Keaslian Penulisan

(18)

1998 tentang Perbankan” belum pernah dibahas oleh mahasiswa lain di lingkungan Universitas Sumatera Utara dan penulisan skripsi ini asli disusun oleh penulis sendiri dan dan bukan plagiat atau diambil dari penelitian orang lain. Di dalam penulisan skripsi ini dimulai dengan mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank serta peraturan pemerintah yang mengatur tentang pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank, baik melalui literatur yang diperoleh dari perpustakaan atau media cetak maupun media elektronik.

Bila dikemudian hari ternyata terdapat judul yang sama atau telah ditulis oleh orang lain dalam bentuk skripsi sebelum skripsi ini dibuat, maka hal itu dapat diminta pertanggungjawaban dikemudian hari.

E. Tinjauan Pustaka

(19)

UU Perbankan yang diubah memasukkan kepengurusan bank, yakni anggota dewan komisaris dan direksi sebagai pihak yang terafiliasi pada bank. Dalam Pasal 1 angka 22 dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan pihak terafiliasi itu adalah:7

1. Anggota dewan komisaris, pengawas, direksi, atau kuasanya, pejabat, atau karyawan bank;

2. Anggota pengurus, pengawas pengelola atau kuasanya, pejabat, atau karyawan bank, khusus bagi ,bank yang berbentuk hukum koperasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

3. Pihak yang memberikan jasanya kepada bank, antara lain akuntan publik, penilai, konsultan hukum, dan konsultan lainnya;

4. Pihak yang menurut penilaian Bank Indonesia turut serta mempengaruhi pengelolaan bank, antara lain pemegang saham dan keluarganya, keluarga komisaris, keluarga pengawas, keluarga direksi, keluarga pengurus.

Perseroan menurut hukum adalah orang. Tetapi perseroan tidak mempunyai jasmani dan rohani. Perseroan tidak mempunyai badan dan kaki, tidak bisa menendang atau memukul, tanpa tangan untuk bekerja, bahkan tidak bernyawa dan tidak berotak untuk berfikir. Dia tidak dapat bertindak sendiri. Oleh karena itu, perseroan memerlukan manusia yaitu direksi sebagai media yang dapat bertindak mewakili perseroan.8

7

Rachmadi Usman, Op.Cit, hal. 104.

8

(20)

1. Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan.

2. Dalam hal anggota Direksi terdiri dari satu orang maka setiap anggota direksi berwenang mewakili perseroan kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang No. 40 Tahun 2007 atau anggaran dasar, dan anggaran dasar dapat menentukan pembatasan wewenang anggota direksi tersebut. Dijelaskan bahwa undang-undang ini memilih sistem perwakilan kolegial. Akan tetapi, untuk kepentingan praktis masing-masing anggota direksi berwenang mewakili perseroan.

3. Namun, ada kalanya anggota direksi tidak berwenang mewakili perseroan, yaitu apabila :

a. Terjadi perkara di depan pengadilan antara perseroan dengan anggota direksi yang bersangkutan, atau

b. Anggota direksi yang bersangkutan mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan perseroan (conflict of interest).

(21)

5. Direksi dapat memberi kuasa tertulis kepada satu atau lebih karyawan perseroan atau orang lain untuk dan atas nama perseroan melakukan perbuatan hukum tertentu.9

Perseroan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan menghimpun dan/ atau mengelola dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat atau perseroan terbuka wajib mempunyai paling sedikit dua orang anggota dewan komisaris (Pasal 108 UU PT).10

Persyaratan menjadi anggota dewan komisaris dan direksi bank, seseorang harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan setiap perubahannya wajib Dewan komisaris terdiri atas satu orang anggota atau lebih. Dewan komisaris yang terdiri dari satu orang anggota merupakan majelis dan setiap anggota dewan komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri, tetapi berdasarkan keputusan dewan komisaris.

Yang dimaksud dengan “untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan” adalah bahwa pengawasan dan pemberian nasihat yang dilakukan oleh dewan komisaris tidak untuk kepentingan pihak atau golongan tertentu, tetapi untuk kepentingan perseroan secara menyeluruh dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.

Berbeda dengan direksi yang memungkinkan setiap anggota bertindak sendiri-sendiri dalam menjalankan tugas direksi, setiap anggota dewan komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri dalam menjalankan tugas dewan komisaris, kecuali berdasarkan keputusan dewan komisaris.

9

Ibid

10

(22)

dilaporkan kepada Bank Indonesia. Soal pengangkatan keanggotaan dewan komisaris dan direksi bank dan perubahannya diatur dalam Pasal 38 Undang-Undang Perbankan yang diubah, yang berlaku pula dalam hal pengangkatan atau perubahan pejabat pimpinan yang setingkat direksi dan anggota dewan komisaris, bagi bank yang berbentuk hukum koperasi.11

Menurut Rasjim Wiraatmaja,12

11

Rachmadi Usman, Op.Cit, hal. 105.

12

Ahli Hukum Perbankan: Rasjim Wiraatmaja, dalam seminar Nasional “Sekadar Tambal Sulam atau Perumusan Ulang”, Rabu 27 Juli 2012 di Jakarta, Infobanknews.com tanggal akses 25 Februari 2013.

seorang ahli hukum perbankan, beliau menyatakan tidak banyak yang tahu, khususnya masyarakat awam, ternyata pengangkatan anggota dewan komisaris dan direksi sebuah bank sesuai UU Perbankan tidak memiliki ketegasan hukum. Dalam Undang-Undang Perbankan, dalam mengangkat anggota dewan komisaris dan direksi bank bank wajib memenuhi ketentuan yang tidak ada. Beliau juga mengatakan bahwa pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank hanyalah salah satu kelemahan dari Undang-Undang Perbankan yang saat ini berlaku.

(23)

F. Metode Penelitian

1. Jenis dan pendekatan penelitian

Berdasarkan perumusan masalah dalam menyusun skripsi ini, jenis penelitian yang digunakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif meliputi penelitian terhadap asas-asas hukum, taraf sinkronisasi hukum, sejarah hukum, dan perbandingan hukum.13 Metode pendekatan yang digunakan penelitian normatif ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif.14

2. Data penelitian

Materi dalam skripsi ini diambil dari data-data sekunder. Adapun data-data sekunder yang dimaksud adalah:

a. Bahan hukum primer

Yaitu dokumen peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Dalam tulisan ini diantaranya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, peraturan bank indonesia, peraturan pemerintah dan peraturan-peraturan lainnya.

b. Yaitu semua dokumen yang merupakan informasi atau hasil kajian tentang dewan komisaris dan direksi dan organ-organ perseroan seperti

13

Pemikiran normatif didasarkan pada penelitian yang mencakup (1) asas-asas hukum, (2) sistemik hukum, (3) taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal, (4) perbandingan hukum, (5) sejarah hukum. Lebih jauh tentang ini lihat Soerjono Soekamto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif suatu Tinjauan Singkat (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 13-14.

14

(24)

buku, seminar-seminar, jurnal hukum, majalah, koran karya tulis ilmiah dan beberapa sumber dari internet yang berkaitan dengan persoalan di atas. c. Bahan hukum tersier

Yaitu semua dokumen yang berisi tentang konsep-konsep dan keterangan-keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus, ensklopedi dan sebegainya.

3. Teknik pengumpulan data

Untuk memperoleh suatu kebenaran ilmiah dalam penulisan skripsi, maka digunakan metode pengumpulan data dengan cara:15

4. Analisis data

studi kepustakaan, yaitu mempelajari dan menganalisis secara digunakan sistematis buku-buku, surat kabar, makalah ilmiah, majalah, internet, peraturan perundang-undangan dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan materi yang dibahas dalam skripsi ini.

Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah analisis kualitatif, yaitu data yang diperoleh kemudian disusun secara sistematis dan selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas dan hasilnya tersebut dituangkan dalam bentuk skripsi. Metode kualitatif dilakukan guna mendapatkan data yang bersifat deskriptif analistis, yaitu data-data yang akan diteliti dan dan dipelajari sesuatu yang utuh.

15

(25)

G. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini merupakan bab pendahuluan yang isinya antara lain memuat latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, keaslian judul, tinjauan pustaka, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II PENGANGKATAN DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI BANK MENURUT UNDANG-UNDANG PERBANKAN

Bab ini akan dibahas tentang pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank menurut Undang-Undang Perbankan yang isinya antara lain kedudukan PT dan PT Bank dalam organisasi perusahaan, struktur kepengurusan dalam suatu lembaga perbankan, pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank menurut Undang-Undang Perbankan.

BAB III PERAN BANK INDONESIA DALAM PENGANGKATAN DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI BANK

(26)

BAB IV PELAKSANAAN PERATURAN PENGANGKATAN

DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI DALAM UNDANG-UNDANG PERBANKAN

Bab ini akan membahas tentang implementasi pengaturan pengangkatan dewan komisaris dan direksi yang isinya antara lain syarat-syarat dalam pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank, prosedur pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank, pelaksanaan uji kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) bagi dewan komisaris dan direksi antara Bank BUMN dengan Bank swasta.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(27)

B AB II

PENGANGKATAN DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI BANK

MENURUT UNDANG-UNDANG PERBANKAN

A. Kedudukan PT dan PT Bank dalam Hukum Perusahaan

Seiring dengan perkembangan dunia usaha, maka berbagai pihak mengajukan untuk pengkajian terhadap dunia usaha tersebut secara lebih komprehensif, baik dari sudut pandang praktis maupun teoritis. Munculnya pemikiran semacam itu merupakan suatu hal yang tidak mungkin dihindarkan pada saat sekarang ini, karena jika berbicara dalam konteks bisnis hampir tidak ada lagi batas-batas antarnegara. Hal itu disebabkan dalam dekade terakhir ini mobilitas bisnis melintas antarnegara demikian cepat. Untuk itu, tanpa terasa norma hukum maupun karakteristik dari perusahaan yang akan melakukan kegiatannya di suatu negara sedikit banyak dipengaruhi oleh sistem hukum dari negara asal perusahaan yang bersangkutan. Di sisi lain, bagi pebisnis yang hendak melakukan kegiatan bisnisnya di luar negeri harus memahami ketentuan hukum yang berlaku di negara tersebut, khususnya yang berkaitan dengan badan usaha, dalam hal ini perseroan terbatas.16

Hukum perusahaan merupakan semua peraturan hukum yang mengatur mengenai segala jenis usaha dan bentuk usaha. Satu rumusan tentang perusahaan yang menarik untuk disimak adalah apa yang dikemukakan oleh M. Smith dan

Fred Skousen, perseroan (corporation) adalah badan usaha yang dibentuk

16

(28)

berdasarkan undang-undang, mempunyai eksistensi yang terpisah dari para pemiliknya dan dapat melakukan usaha dalam batas-batas tertentu sebagaimana lazimnya manusia biasa. Sifat badan usaha semacam inilah yang disebut badan hukum. Satu hal yang cukup menonjol tentang pengertian perusahaan yang seperti yang dikemukakan oleh penulis di atas, bahwa dalam suatu badan usaha harus ada pemisahan antara harta pribadi pemilik, harta pengurus dengan harta perusahaan. Konsep seperti ini merupakan ciri utama dalam suatu badan usaha yang berbadan hukum.17

Jadi, untuk sampai pada suatu hal yang disebut sebagai badan hukum, maka badan usaha tersebut lebih dahulu harus berbentuk perseroan terbatas. Akan tetapi, apa dan bagaimana bentuk perseroan terbatas itu sendiri tidak dengan jelas disebutkan dalam pasal-pasal undang-undang Perseroan Terbatas. Oleh karena itu, UU PT hanya menekankan bahwa perseroan terbatas merupakan badan hukum, padahal institusi badan hukum yang merupakan badan hukum bukan saja badan hukum, padahal yang berbentuk perseroan terbatas, melainkan juga yayasan dan koperasi. Dapat dikatakan bahwa PT adalah suatu organisasi dan mempunyai pengurus, yang dinamakan direksi. Sebagai organisasi, sudah pasti mempunyai

Pasal 1 ayat (1) UU PT menyatakan bahwa perseroan terbatas, yang

selanjutnya disebut perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

17

(29)

tujuan, pengawasan dilakukan oleh komisaris yang mempunyai wewenang dan kewajiban sesuai dengan ketetapan dalam anggaran dasarnya.

Oleh karena itu, pasal-pasal tersebut di atas memberi suatu pengertian bahwa perseroan terbatas adalah suatu usaha yang mempunyai unsur-unsur:18

a. Adanya kekayaan yang terpisah; b. Adanya pemegang saham; c. Adanya pengurus.

Seperti halnya PT, bentuk hukum usaha bank harus jelas, sehingga diperoleh ketegasan tentang kekayaan yang terpisah, pengesahan pendiriannya, dan pengurus yang berwenang mewakili bank. Bentuk hukum suatu bank tersebut tergantung pada jenis banknya sebagaimana diatur dalam Pasal 21 Undang-Undang Perbankan yang Diubah. Bentuk hukum suatu Bank Umum dapat berupa:19

a. Perseroan Terbatas; b. Koperasi, atau c. Perusahaan Daerah.

Sedangkan suatu bank perkreditan rakyat, bentuk hukumnya dapat berupa salah satu dari :

a. Perusahaan daerah; b. Koperasi;

c. Perseroan Terbatas;

d. Bentuk lain yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

18

Agus Budiarto, Kedudukan Hukum & Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas (Mataram: Ghalia Indonesia, 2009), hal. 19

19

(30)

Dengan demikian berdasarkan Pasal 21 UU Perbankan yang diubah tersebut, bentuk badan usaha selain yang disebutkan di atas, tidak dimungkinkan menjalankan usaha sebagai bank, seperti bentuk usaha perseorangan, firma atau perusahaan komanditer dan termasuk pula perusahaan persero. Bentuk hukum dari suatu bank, dapat disimpulkan bahwa bank wajib berbentuk sebagai badan hukum. Penjelasan yang disampaikan di atas mengkhususkan pada bentuk hukum bank yang berbadan hukum perseroan terbatas. Hal ini disebabkan sebagian besar dari usaha bank di Indonesia berdiri dan berbentuk perseroan terbatas.20

Bank sebagai badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas, maka pada bank berlaku asas-asas umum dalam perseroan terbatas. Pemaparan asas-asas umum yang berlaku dalam hukum perseroan ini oleh karena para pemilik dan pengurus bank justru berlindung pada asas-asas umum ini, antara lain asas “terbatas” pada perseroan terbatas. Asas “terbatas” dalam perseroan terbatas ini sering dijadikan landasan berlindung dari tuntutan hukum. Oleh karena itu, mereka dapat lolos dari ketentuan hukum.21

Ketentuan yang menyangkut bank yang berbentuk perseroan terbatas, secara umum tunduk harus berdasar kepada ketentuan yang diatur dalam Undang-undang PT. Akan tetapi, dengan sifat khusus yang dimiliki oleh usaha jasa berbentuk bank, maka ketentuan-ketentuan mengenai bank diatur secara khusus. Artinya, ketentuan yang terdapat dalam Undang-undang PT secara doktrin hukum yang menyangkut badan hukum, berlaku untuk tugas dan tanggung jawab direksi

20

Try Widiyono, Direksi Perseroan Terbatas, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2005), hal. 92.

21

(31)

bank, kecuali secara tegas terdapat ketentuan yang diatur dan hanya berlaku untuk direksi bank.22

1. Kedudukan PT dalam Hukum Perusahaan

Perusahaan perseroan terbatas dapat pula menjalankan kegiatan usaha Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Perusahaan perseroan terbatas ini merupakan persekutuan yang berbentuk badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian. Hal ini dikemukakan dalam Undang-Undang PT, bahwa perseroan terbatas adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Sebagai badan hukum, perusahaan perseroan terbatas mempunyai legal personality yang terbatas pada nilai nominal saham yang dimilikinya.

Dalam praktek sangat banyak kita jumpai perusahaan berbentuk perseroan terbatas. Bahkan, berbisnis dengan membentuk perseroan terbatas ini, terutama untuk bisnis yang serius atau bisnis besar, merupakan model berbisnis yang paling lazim dilakukan, sehingga dapat dipastikan bahwa jumlah dari perseroan terbatas di Indonesia jauh melebihi jumlah bentuk bisnis lain, seperti firma, perusahaan komanditer, koperasi, dan lain-lain.23

Ada definisi lain yang memberikan arti perseroan terbatas sebagai suatu asosiasi pemegang saham (atau bahkan seorang pemegang saham jika

22

Try Widiyono, Op.Cit, hal. 87.

23

(32)

dimungkinkan untuk itu oleh hukum di negara tertentu) yang diciptakan oleh hukum dan diberlakukan sebagai manusia semu (artificial person) oleh pengadilan, yang merupakan badan hukum karenanya sama sekali terpisah dengan orang-orang yang mendirikannya, dengan mempunyai kapasitas untuk bereksistensi yang terus-menerus, dan sebagai suatu badan hukum, perseroan terbatas berwenang untuk menerima, memegang dan mengalihkan harta kekayaan, menggugat atau digugat, dan melaksanakan kewenangan-kewenangan lain yang diberikan.

Untuk mendirikan badan usaha perseroan terbatas dibutuhkan beberapa persyaratan. Persyaratan yang dimaksud dibagi dua, yakni syarat formal dan materil.24

a. Syarat formal

Suatu PT yang hendaknya didirikan harus dibuat dengan akta notaris. Hal ini dengan tegas disebutkan dalam Pasal 7 UU PT, sebagai berikut.

1) Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia.

2) Setiap pendiri perseroan wajib mengambil bagian saham pada saat perseroan didirikan.

3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam rangka peleburan.

24

(33)

4) Perseroan memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum perseroan.

5) Setelah perseroan memperoleh status badan hukum dan pemegang saham menjadi kurang dari 2 (dua) orang, dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak keadaan tersebut, pemegang saham yang bersangkutan wajib mengalihkan sebagian sahamnya kepada orang lain atau perseroan mengeluarkan saham baru kepada orang lain.

6) Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (5) telah dilampaui, pemegang saham tetap kurang dari 2 (dua) orang, pemegang saham bertanggung jawab secara pribadi atas segala perikatan dan kerugian perseroan, dan atas permohonan pihak yang berkepentingan, pengadilan negeri dapat membubarkan perseroan tersebut.

(34)

b. Syarat materiil

Yang dimaksud dengan syarat materiil di sini adalah dalam pendirian PT harus ada modal. Modal dalam PT terdiri dari 3 jenis, yakni seperti di bawah ini:

1) Modal dasar atau sering juga disebut sebagai modal statuir yaitu jumlah modal yang disebutkan dalam Anggaran Dasar (AD). Dalam UU PT disebutkan minimal RP. 50.000.00,00 (lima puluh juta rupiah). (Lihat Pasal 32 ayat 1).

2) Modal ditempatkan atau modal yang telah diambil yaitu sebagian dari modal perseroan telah disetujui untuk diambil oleh para pendiri, dalam bentuk saham. Dalam Pasal 33 ayat (1) UU PT disebutkan, pada saat pendirian perseroan, paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) dari modal dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 UU PT.

Organ perseroan terbatas mempunyai organ yang terdiri atas: Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), direksi, dan komisaris.

Di dalam Undang-undang PT dengan tegas menyebutkan Komisaris sebagai salah satu organ perseroan yang bertugas untuk melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus serta memberikan nasihat kepada direksi dalam menjalankan perseroan. Pasal 1 ayat (6) UU PT menyatakan:

Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan

pengawasan secara umum dan atau khusus serta memberikan nasihat

kepada direksi dalam menjalankan perseroan”.

(35)

dan penasihat direksi, menurut Pasal 92 dan Pasal 100 Undang-undang PT, Komisaris selain berwenang memberhentikan persetujuan atau bantuan kepada direksi, juga berwenang memberikan persetujuan atau bantuan kepada direksi dalam melakukan perbuatan hukum tertentu dan berwenang pula melakukan tindakan pengurusan perseroan dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu menggantikan direksi yang berhalangan tersebut. Bagi komisaris yang demikian berlaku semua ketentuan mengenai hak, wewenang, dan kewajiban direksi terhadap perseroan dan pihak ketiga. Ketentuan Pasal 100 UU PT ini memberi wewenang kepada komisaris untuk melakukan pengurusan perseroan yang sebenarnya hanya dapat dilakukan oleh direksi dalam hal direksi tidak ada. Apabila ada direksi, maka komisaris hanya dapat melakukan tindakan tertentu yang secara tegas telah ditentukan dalam UU PT.

Komisaris pada umumnya bertugas untuk mengawasi kebijaksanaan direksi dalam mengurus perseroan serta memberikan nasihat-nasihat kepada direksi, demikian menurut Pasal 108 Undang-Undang PT. Tugas pengawasan itu bisa merupakan bentuk pengawasan preventif atau represif.

(36)

kerugian besar bagi perseroan dan tidak bertentangan dengan undang-undang dan anggaran dasar. Apakah nasihat-nasihat dari komisaris sudah diperhatikan betul oleh komisaris. Selanjutnya, Pasal 114 ayat (2) UU PT memberikan kewajiban kepada komisaris agar dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perseroan.25

Dewan komisaris merupakan badan pengawas mandiri yang tidak dikenal dalam sistem hukum perseroan Anglo America. Kalaupun “Board of Directors” perseroan dalam sistem Common Law memberi kesan mirip dengan Dewan Komisaris, namun kemiripannya semu karena pada hakikatnya Board of Directors

merupakan organ eksekutif. Juga istilah “officer” yang tidak dikenal dalam sistem kontinental.26

Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas, direksi merupakan salah satu organ perseroan terbatas yang bertugas dan fungsinya melakukan kepengurusan sehari-hari dari perseroan terbatas serta mewakili badan hukum dalam melakukan perbuatan hukum dalam rangka hubungan hukum tertentu. Badan hukum perseroan terbatas mewakilkan kepengurusan sehari-hari perseroan terbatas kepada direksi selaku salah satu organ perseroan terbatas. Pada hakikatnya, hanya

Sebelumnya, Pasal 1 ayat (5) Undang-undang PT menyatakan:

“Direksi adalah organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas

pengurursan perseroan untuk kepentingan perseroan, sesuai dengan

maksud dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan, baik di dalam

maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar”.

25

Agus Budiarto, Op.Cit, hal. 75.

26

(37)

direksilah yang diberikan kekuasaan untuk “mengurusi dan mewakili” perseroan terbatas baik di dalam maupun di luar pengadilan. Dalam mengurusi dan mewakili perseroan terbatas, hendaknya direksi memperhatikan kepentingan dan tujuan perseroan terbatas.

Sehubungan dengan itu, menurut Paul Scholten dan Bregstein, pengurus adalah mewakili badan hukum. Analog dengan pendapat Gierke dan Paul Scholten maupun Bregstein tersebut di atas, maka direksi bertindak mewakili PT sebagai badan hukum. Kewenangan perwakilan dari direksi PT ini timbul karena adanya pengangkatan dari RUPS dan akan berakhir dengan meninggalnya orang yang diangkat untuk mewakili tersebut atau kewenangan mewakili itu ditarik kembali.

Seperti dikemukakan di atas, bahwa pengangkatan direksi dilakukan oleh RUPS, tetapi untuk pertama kalinya pengangkatannya dilakukan dengan mencantumkan susunan dan nama anggota direksi dalam akta pendiriannya. Ketentuan seperti ini dapat dilihat pada Pasal 94 ayat (2) Undang-undang PT. Direksi dapat diangkat dari orang pemegang saham atau bukan, bahkan menurut Prasetyo (1983: 17), pemegang jabatan direksi sekaligus sebagai pemegang saham hanyalah suatu kebetulan karena di dalam praktik sering dijumpai direksi PT adalah orang luar, bukan pemegang saham.27

2. Kedudukan PT Bank dalam Hukum Perusahaan

Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) UU Perbankan, dinyatakan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk

27

(38)

simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Pasal 1 ayat (3) UU Perbankan menyatakan bahwa bank adalah badan usaha yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.28

Perkataan komisaris mengandung pengertian, baik sebagai organ PT maupun sebagai orang perseorangan. Sebagai organ PT, komisaris lazim disebut

Kekhususan usaha bidang perbankan terletak pada pengelolaan dana masyarakat yang dipercayakan kepada bank, antara lain dengan cara menarik dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Dengan demikian, besar dan kecilnya operasional bank tergantung sepenuhnya kepada dana masyarakat yang dipercayakan kepadanya.

Bank harus mampu mengolah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank. Konsekuensinya, harus tercipta sebuah hubungan yang saling menguntungkan dan seimbang. Sebab, dana masyarakat, bagi bank Merupakan darah kehidupan bank. Tanpa dana masyarakat, bank tidak mungkin dapat beroperasi. Sehingga tidaklah adil jika keuntungan merupakan darah kehidupan bank. Tanpa dana masyarakat, bank tidak mungkin dapat beroperasi. Sehingga tidaklah adil jika keuntungan bank hanya dinikmati oleh bank itu sendiri (pemilik/pemegang saham) dan jika merugi harus mengikutsertakan masyarakat (nasabah).

28

(39)

juga dewan komisaris, sedangkan sebagai orang perseorangan disebut anggota komisaris. Sebagai organ PT, pengertian komisaris termasuk juga badan-badan lain yang menjalankan tugas pengawasan khusus di bidang tertentu. Komisaris jika lebih dari satu orang mereka merupakan majelis yang tidak dapat bertindak sendiri-sendiri untuk mewakili perseroan. Hal ini berarti bahwa komisaris yang lebih dari satu orang itu bersifat kolegial.

Berdasarkan Pasal 110 ayat (1) UU PT, yang dapat diangkat menjadi anggota dewan komisaris adalah orang perseorangan yang cakap melakukan perbuatan hukum, kecuali dalam waktu lima tahun sebelum pengangkatannya pernah :

a. Dinyatakan pailit;

b. Menjadi anggota direksi atau anggota dewan komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit; atau

c. Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan. Yang dimaksud dengan “sektor keuangan”, antara lain, lembaga keuangan bank dan penghimpunan dan pengelolaan dana masyarakat.

(40)

persyaratan-persyaratan yang ditentukan tersebut dan surat dari instansi yang berwenang berkenaan dengan ketentuan yang dipersyaratkan tersebut.

Seperti halnya dengan direksi atau disebut juga sebagai pengurus perseroan adalah alat perlengkapan perseroan yang melakukan semua kegiatan perseroan dan mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Dengan demikian, ruang lingkup tugas direksi ialah mengurus perseroan.29

29

Ibid, hal. 63.

Menurut teori organisme dari Otto von Gierke, sebagaimana yang dikutip oleh Suyling, pengurus adalah organ atau alat perlengkapan dari badan hukum. Seperti halnya manusia yang mempunyai organ-organ tubuh, misalnya kaki, tangan, dan lain sebagainya itu geraknya diperintah oleh otak manusia, demikian pula gerak dari organ badan hukum diperintah oleh badan itu sendiri, sehingga pengururs adalah merupakan personifikasi dari badan hukum itu sendiri.

(41)

“Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk

kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili persroan baik di dalam

maupun di luar pengadilan.”

Di samping itu, Pasal 97 UU PT tersebut di atas juga memberikan pedoman kepada direksi agar di dalam mengurus perseroan selalu berorientasi pada kepentingan dan tujuan perseroan. Hal ini dapat diduga latar belakang adanya ketentuan itu adalah karenan kepentingan perseroan serta tujuan di satu pihak, yang suatu saat dapat tidak sejalan dengan kepentingan dan keinginan pemegang saham. Ketentuan mengenai direksi yang dalam melaksanakn tugasnya hanyalah untuk kepentingan serta tujuan daripada perseroan, rupa-rupanya didasarkan pada paham yang oleh sementara orang disebut sebagai paham institusi atau pandangan bahwa perseroan merupakan subjek hukum yang mempunyai fungsi di dalam masyarakat dan menjadi titik perhatian utama dari kepengurusan direksi. Demikian pula Pasal 85 ayat (1), yang menegaskan bahwa setiap anggota direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan usaha perseroan, juga termasuk pada pandangan paham institusi yang disebut di atas. Ititkad baik direksi untuk menjalankan/mengurus perseroan secara profesional dengan skill dan tindakan pemeliharaan semuanya dimaksudkan untuk kepentingan usaha perseroan, termasuk pula kepentingan para pemegang saham.

Berdasarkan Pasal 93 ayat (1) UU PT yang dapat diangkat menjadi anggota direksi adalah orang perseorangan yang cakap melakukan perbuatan hukum, kecuali dalam 5 (lima) tahun sebelum pengangkatannya pernah:

(42)

b. Menjadi anggota direksi atau anggota dewan komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit;

c. Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan.

Ketentuan persyaratan sebagaimana dimaksud tidak mengurangi kemungkinan instansi teknis yang berwenang menetapkan persyaratan tambahan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pemenuhan persyaratan ini dibuktikan dengan surat yang disimpan oleh perseroan (Pasal 93 ayat (2) dan ayat (3).

Jangka waktu lima tahun terhitung sejak yang bersangkutan dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap telah menyebabkan perseroan pailit atau apabila dihukum terhitung sejak selesai menjalani hukuman. Yang dimaksud dengan ‘surat” adalah surat pernyataan yang dibuat oleh calon anggota direksi yang bersangkutan berkenaan dengan persyaratan yang ditentukan tersebut dan dimungkinkan untuk mendapatkan surat rekomendasi dari instansi yang berwenang sesuai persyaratan yang dibutuhkan.

B. Organ Perseroan dalam suatu Lembaga Perbankan

1. RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)

(43)

perusahaan lainnya, yaitu direksi dan komisaris, yang dapat mengambil keputusan setelah memenuhi syarat-syarat tertentu dan sesuai dengan prosedur tertentu sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar perseroan.30

Kewenangan tersebut merupakan kewenangan eksklusif yang tidak dapat diserahkan kepada organ lain yang telah ditetapkan dalam UU PT dan anggaran dasar. Wewenang eksklusif yang ditetapkan dalam UU PT akan ada selama UU PT belum. Sedangkan wewenang eksklusif dalam anggaran dasar yang disahkan atau disetujui Menteri Kehakiman dapat diubah melalui perubahan anggaran dasar sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan UU PT.31

Pasal 75 ayat (1) Undang-undang PT memberi batasan terhadap wewenang RUPS, yaitu sejauh yang tidak diberikan kepada direksi atau komisaris. Dengan demikian, dapat diuraikan lingkup wewenang RUPS sebagaimana dapat dilihat dalam Bab VI undang-undang PT yang mengatur tentang RUPS dan Bab VII yang mengatur tentang direksi dan komisaris, antara lain adalah sebagai berikut32

1. Pengangkatan direksi dan komisaris adalah menjadi wewenang RUPS, demikian juga dengan pemberhentian direksi dan komisaris.

:

2. RUPS mempunyai wewenang mengambil keputusan untuk mengubah anggaran dasar.

3. Wewenang RUPS juga dapat dilihat pada perbuatan penggabungan/merger dan akuisisi di antara perusahaan.

30

Munir Fuady, Perseroan Terbatas Paradigma Baru, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 135.

31

Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Perseroan Terbatas, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), hlm. 78.

32

(44)

Walaupun rencana merger dan akuisisi merupakan pekerjaan direksi dan perseroan-perseroan yang bersangkutan, namun penggabungan dan akuisisi hanya dapat dilakukan jika disetujui oleh RUPS masing-masing perseroan. Persetujuan itu adalah hak dan wewenang dari RUPS.

Hal ini berarti bahwa tidak perusahaan yang akan melakukan merger ataupun akuisisi dengan sah tanpa persetujuan dari RUPS masing-masing perusahaan tersebut.

4. RUPS berwenang membuat peraturan tentang pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi serta besar dan jenis penghasilan direksi. Tugas tersebut dapat dilimpahkan kepada komisaris jika ditentukan demikian dalam anggaran dasar.

5. RUPS berwenang mengangkat satu orang pemegang saham atau lebih untuk mewakili perseroan dalam keadaan direksi tidak berwenang mewakili perseroan karena terjadi perselisihan/perkara antara direksi dengan perseroan atau terjadi pertentangan kepentingan antara direksi dan perseroan.

6. RUPS berwenang mengambil keputusan jika diminta oleh direksi untuk memberikan persetujuan guna mengalihkan atau menjadikan jaminan utang seluruh atau sebagian harta kekayaan perseroan.

7. RUPS mempunyai wewenang mengambil keputusan atas permohonan kepailitan perseroan yang akan dimajukan direksi kepada pengadilan negeri. 8. RUPS berwenang dan berhak meminta segala keterangan yang berkaitan

(45)

ini merupakan kewajiban bagi direksi atau komisaris untuk memberikan keterngan yang diperlukan oleh RUPS.

Pengertian mengenai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), terlihat bahwa RUPS hanya memiliki kewenangan yang bersifat residual. Maksudnya adalah bahwa kepada direksi kewenangannya adalah untuk mengelola perseroan dan komisaris untuk mengawasinya, sedangkan untuk RUPS pada prinsipnya kewenangannya tidak ditentukan dengan terperinci, tetapi hanya kebagian sisa kewenangan yang tidak diberikan kepada direksi dan komisaris. Akan tetapi, karena RUPS memiliki kekuasaan tertinggi dalam perseroan, maka keputusannya tidak dapat dibatalkan oleh siapapun, kecuali oleh pengadilan jika ada alasan untuk itu. Di samping itu, karena kekuasaannya tertinggi, maka di samping memiliki kekuasaan residual, undang-undang dan/atau anggaran dasar pereroan sering mensyaratkan persetujuan RUPS jika perusahaan ingin keputusan-keputusan yang penting.33 Pada pokoknya RUPS harus diselenggarakan di tempat perseroan berkedudukan, atau tempat-tempat lain sebagaimana dimungkinkan dalam Anggaran Dasar perseroan, selama dan sepanjang tempat tersebut masih beradadalam wilayah Negara Republik Indonesia.34

Pada prinsipnya ada 2 (dua) macam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), yaitu:35

1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan 2. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa

33

Munir Fuady, Op.Cit, hlm. 136.

34

Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Op.Cit, hlm. 79.

35

(46)

Berikut ini penjelasan bagi kedua macam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tersebut, yaitu sebagai berikut:

a. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang wajib dilakukan oleh perseroan sekali dalam setahun, dilakukan paling lambat dalam waktu 6 (enam) bulan setelah tahun buku, dengan pokok pembicaraan adalah di sekitar perkembangan perusahaan yang telah terjadi selama setahun. Perkembangan perusahaan selama setahun tersebut disampaikan oleh direksi dengan laporan tahunan, uang harus ditandatangani oleh direksi dan komisaris, yang minimal memuat 6 (enam) hal sebagai berikut:

1) Perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca akhir tahun dan penjelasannya.

2) Terhadap perusahaan dalam 1 (satu) grup, dibuat neraca konsolidasi dan neraca masing-masing perseroan.

3) Laporan tentang keadaan dan jalannya perusahaan dalam setahun serta hasil-hasil yang telah dicapai.

4) Kegiatan utama perusahaan dan perubahannya selama tahun buku. 5) Rincian masalah-masalah yang terjadi.

(47)

ada kerugian tertentu, meskipun undang-undang tidak dengan tegas-tegas mengaturnya.

b. Rapat Umum Pemegang saham (RUPS) Luar Biasa

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) luar biasa dapat dilakukan kapan saja bila diperlukan oleh perusahaan dengan mata acara yang juga sangat beraneka ragam, yakni terhadap kegiatan yang tidak termasuk ke dalam ruang lingkup RUPS tahunan. Pada prinsipnya, kegiatan perseroan yang memerlukan persetujuan dari RUPS luar biasa dari suatu perseroan terbatas adalah sebagai berikut:

1) Kegiatan-kegiatan yang memerlukan persetujuan RUPS sebagaimana disebut dalam anggaran dasar perseroan.

2) Kegiatan-kegiatan yang memerlukan persetujuan RUPS sebagaimana disebut dalam peraturan perundang-undangan yang baru.

3) Kegiatan-kegiatan yang dianggap penting bagi perseroan tersebut sebaiknya juga dilakukan dengan persetujuan RUPS, meskipun tidak diharuskan oleh anggaran dasar maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Dewan Komisaris

Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan atau khusus serta memberikan nasihat kepada direksi dalam menjalankan perseroan.

(48)

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 perseroan diharuskan memiliki komisaris. Bahkan untuk perseroan:36

a. Yang bidang usahanya mengerahkan dana masyarakat; b. Yang menerbitkan surat pengakuan utang;

c. Terbuka;

Diwajibkan mempunyai paling sedikit dua orang komisaris, karena menyangkut kepentingan masyarakat yang memerlukan pengawasan yang lebih besar.

Rincian tugas komisaris biasanya diatur di dalam anggaran dasar, antara lain sebagai berikut:

1. Mengawasi tindakan pengurusan dan pengelolaan perseroan yang dilakukan oleh direksi.

2. Memeriksa buku-buku, dokumen-dokumen, serta kekayaan perseroan,

3. Memberikan teguran-teguran, petunjuk-petunjuk, nasihat-nasihat kepada direksi.

4. Apabila ditemukan keteledoran direksi yang mengakibatkan perseroan menderita kerugian, komisaris dapat memberhentikan sementara direksi yang bersalah tersebut, untuk kemudian dilaporkan kepada RUPS untuk mendapatkan keputusan lebih lanjut. Pemberhentian ini sifatnya sementara dan segera dalam waktu 1 (satu) bulan komisaris harus mengadakan RUPS untuk memberikan keputusan lain, maka direksi akan ditempatkan kembali.

36

(49)

Jika RUPS tidak diadakan, maka keputusan komisaris batal dengan sendirinya.

Mengenai tanggung jawab komisaris dapat dibagi dalam: a. Tanggung jawab keluar terhadap pihak ketiga;

b. Tanggung jawab ke dalam terhadap perseroan.

Tanggung jawab keluar itu tidak sebesar tanggung jawab direksi, karena komisaris bertindak keluar berhubungan dengan pihak ketiga hanya dalam keadaan-keadaan yang sangat istimewa, yaitu dalam hal komisaris dibutuhkan direksi sebagai saksi atau pemberi izin dalam hal direksi menurut anggaran dasar harus terlebih dahulu mendapat izin dari komisaris dalam perbuatan penguasaan (beschikking), misalnya menjual, menggadaikan, dan lain-lain.

Tanggung jawab ke dalam sama dengan direksi, pertanggungjawaban secara pribadi untuk seluruhnya. Bila ada 2 (dua) orang komisaris atau lebih, maka pertanggungjawaban itu bisa bersifat kolektif atau majelis. Jika komisaris ikut serta dalam pengurusan, biasanya ia lalu ikut memberikan pertanggungjawaban kepada RUPS bersama-sama dengan direksi.

(50)

Pasal 1 angka 6 Undang-Undang PT dan Pasal 108 Undang-Undang PT menjadi pijakan bagi Dewan Komisaris untuk memberikan nasihat kepada direksi dalam tugasnya mengurus perseroan. Dari kedua pasal tersebut jelas memperlihatkan kegiatan proaktif Dewan Komisaris untuk memberikan nasihat kepada Direksi, terlepas dari diminta atau tidaknya nasihat tersebut oleh direksi. Dalam pemberian nasihat kepada Direksi tersebut, setiap anggota Dewan Komisaris wajib melakukannya dengan iktikad baik, penuh kehati-hatian dan tanggung jawab dengan senantiasa memperhatikan kepentingan perseroan dan kegiatan usaha perseroan (Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang PT).37

Undang-Undang PT tidak mengelaborasi bentuk nasihat apa saja yang wajib diberikan Dewan Komisaris kepada Direksi, namun membaca bunyi Pasal 108 ayat (2) juncto Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang PT, dapat disimpulkan bahwa nasihat yang diberikan Dewan Komisaris tersebut haruslah terkait dengan atau berhubungan dengan kepentingan perseroan dan selaras dengan maksud dan tujuan perseroan. Pentingnya pelaksanaan pemberian nasihat dengan iktikad baik, penuh kehati-hatian dan tanggung jawab oleh masing-masing anggota akan diterima oleh masing-masing anggota Dewan Komisaris tersebut apabila terbukti mereka bersalah atau lalai dalam menjalankan tugasnya tersebut. Mengenai luas tanggung jawab pribadi anggota Dewan Komisaris tersebut, Undang-Undang PT menganut tanggung jawab yang terbatas di mana tanggung jawab pribadi anggota

37

(51)

Dewan Komisaris dibatas sebatas tingkat kesalahan atau kelalaian anggota Dewan Komisaris tersebut.38

3. Dewan Pengawas Syariah

Dewan pengawas syariah diatur dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah. Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai dewan komisaris, juga wajib mempunyai dewan pengawas syariah. Pasal 32 ayat (1) menyatakan bahwa ewan pengawas syariah wajib dibentuk di bank syariah dan bank konvensional yang memiliki UUS (Unit Usaha Syariah) Dewan pengawas syariah sebagaimana dimaksud terdiri dari seorang ahli syariah atau lebih, yang diangkat oleh RUPS atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.39

38

Ibid, hlm. 81.

39

Jamin Ginting, Op.Cit, hlm. 131.

Hal ini telah diatur dalam Keputusan Dewan Pimpinan MUI tentang susunan pengurus DSN-MUI, No: Kep-98/MUI/III/2001, yaitu Dewan Pengawas Syariah adalah badan yang ada di lembaga keuangan syariah dan bertugas mengawasi pelaksanaan keputusan DSN di lembaga keuangan syariah tersebut. Dewan Pengawas Syariah diangkat dan diberhentikan di lembaga Keuangan Syariah melalui RUPS setelah mendapat rekomendasi dari DSN.

(52)

a. Dewan Pengawas Syariah melakukan pengawas kepada manajemen dalam kaitan dengan implementasi sistem dan produk-produk agar tetap sesuai dengan syariah islam;

b. Bertanggung jawab atas pembinaan akhlak seluruh karyawan berdasarkan sistem pembinaan keislaman yang telah diprogramkan setiap tahunnya; c. Ikut mengawasi pelanggaran nilai-nilai islam di lingkungan perusahaan

tersebut;

d. Bertanggung jawab atas seleksi syariah karyawan baru yang dilakukan oleh Biro Syariah.

Peranan utama dewan pengawas syariah adalah mengawasi jalannya lembaga keuangan syariah sehari-hari agar selalu sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Dewan pengawas syariah harus membuat pernyataan secara berkala (biasanya tiap tahun) bahwa lembaga keuangan syariah yang diawasinya telah berjalan sesuai dengan ketentuan syariah. Tugas lain dewan pengawas syariah adalah meneliti dan membuat rekomendasi produk baru dari lembaga keuangan syariah yang diawasinya. Dewan Pengawas Syariah bersama komisaris dan direksi, bertugas untuk terus-menerus mengawal dan menjaga penerapan nilai-nilai islam dalam setiap aktifitas yang dikerjakan lembaga keuangan syariah.

4. Direksi

(53)

terbatas sangat penting. Sekalipun perseroan terbatas sebagai badan hukum, yang mempunyai kekayaan terpisah dengan direksi, tetapi hal itu hanya berdasarkan fiksi hukum, bahwa perseroan terbatas dianggap seakan-akan subyek hukum, sama seperti manusia.40

40

Try Widiyono, Op.Cit, hlm. 7.

Keberadaan direksi adalah untuk mengurus perseroan sesuai maksud dan tujuan perseroan dengan iktikad baik dan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, keberadaan direksi sangat dibutuhkan oleh perseroan. Tidak mungkin terdapat suatu perseroan tanpa adanya direksi.

Mengurus perseroan bukan merupakan hal yang mudah. Oleh karena itu, agar perseroan tersebut terurus sesuai maksud didirikannya perseroan, maka untuk menjadi direksi perlu persyaratan dan keahlian. Pendelegasian wewenang dari perseroan kepada direksi untuk mengelola perseroan tersebut lazim disebut sebagai fiduciary duty.

(54)

Tindakan direksi dalam mengurus perseroan tidak hanya berdasarkan ketentuan yang ada pada UU PT dan atau anggaran dasar perseroan yang bersangkutan. Tindakan direksi harus juga memperhatikan ketentuan-ketentuan yang lebih khusus. Ketentuan khusus yang mengatur tindakan direksi tersebut tersebar diberbagai peraturan perundang-undangan. Tindakan dalam melakukan usaha tertentu, misalnya usaha asuransi, perbankan, dan pasar modal harus melihat ketentuan dan kewajiban yang harus dipenuhi dalam melakukan tindakan tersebut berdasarkan peraturan itu.

Undang-undang secara umum menyatakan bahwa suatu perseroan sekurang-kurangnya harus diurus oleh satu orang atau lebih anggota direksi, dengan pengecualian bagi perseroan yang bidang usahanya melakukan pengerahan dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang atau perseroan terbatas terbuka harus memiliki sekurang-kurangnya dua orang anggota direksi.41

Eksistensi dan fungsi direksi bank pada dasarnya sama dengan eksistensi dan fungsi direksi perseroan terbatas. Namun demikian, secara khusus terdapat ketentuan-ketentuan lain yang melengkapi ketentuan-ketentuan yang hanya berlaku pada direksi perseroan terbatas. Pengaturan mengenai direksi bank yang lebih khusus dibandingkan dengan pengaturan direksi pada jenis usaha lain sebenarnya telah memberikan gambaran bahwa lembaga perbankan telah disadari

41

(55)

mempunyai karakteristik yang berbeda dengan bentuk usaha lainnya dan dengan demikian diperlukan adanya aturan yang berbeda juga.42

C. Pengangkatan Dewan Komisaris dan Direksi Bank Menurut

Undang-Undang Perbankan

PBI No. 11/1/PBI/2009 tentang bank umum, pada Pasal 28 ayat (1) menyatakan bahwa bank wajib menugaskan salah seorang anggota direksi sebagai direktur kepatuhan dan diatur dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur tentang penugasan direktur kepatuhan (compliance director). Dalam UU PT tidak dikenal adanya direktur kepatuhan, UU PT hanya mengatur tentang direksi. Sedangkan tugas dari masing-masing direktur berdasarkan Pasal 92 ayat (5) UU PT dinyatakan bahwa dalam hal direksi terdiri atas 2 (dua) anggota direksi atau lebih, pembagian tugas dan wewenang pengurusan di antara anggota direksi ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS. Berarti masing-masing tugas anggota direksi, yaitu masing-masing direktur diatur dalam keputusan RUPS. Namun demikian, berdasarkan Pasal 92 ayat (5) UU PT dinyatakan bahwa dalam anggaran dasar dapat ditetapkan bahwa kewenangan RUPS sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dilakukan oleh komisaris atas nama RUPS.

Oleh karena bank merupakan suatu badan usaha yang diharuskan berbentuk PT, namun karena kekhususan jenis usahanya. Maka, peraturan khusus mengenai pengangkatan direksi dan dewan komisaris. Pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank menurut UU Perbankan diatur dalam Pasal 38, yang

42

(56)

menyatakan bahwa pengangkatan keanggotaan dewan komisaris dan direksi bank, wajib memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (6) dan Pasal 17. Bunyi Pasal 16 UU Perbankan, yaitu:

1. Setiap pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan wajib terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai bank umum atau bank perkreditan rakyat dari pimpinan Bank Indonesia, kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dimaksud diatur dengan undang-undang tersendiri.

2. Untuk memperoleh izin usaha bank umum dan bank perkreditan rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib dipenuhi persyaratan sekurang-kurangnya tentang:

a. Susunan organisasi dan kepengurusan; b. Permodalan;

c. Kepemilikan;

d. Keahlian di bidang perbankan; e. Kelayakan rencana kerja.

3. Persyaratan dan tata cara perizinan bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Bank Indonesia.

(57)

tingkat kejenuhan jumlah bank dalam suatu wilayah tertentu, serta pemerataan pembangunan ekonomi nasional.

Bila kita telisik lagi pada Pasal 16 hanya terdapat 3 (tiga) pasal saja, sedangkan Pasal 17 telah dihapus. Inilah yang mengakibatkan pengangkatan dewan komisaris dan direksi bank pada UU Perbankan menimbulkan kepastian hukum yang tidak ada mengingat keberadaan pengurus sangatlah penting dalam perbankan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...