Tingkat Keparahan Ansietas pada Pasien Tuberkulosis Paru di Instalasi Rawat Jalan SMF Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP H. Adam Malik Medan

69 

Teks penuh

(1)

TINGKAT KEPARAHAN ANSIETAS PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI INSTALASI RAWAT JALAN SMF PULMONOLOGI

DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

T E S I S

O L E H

DESSI WAHYUNI

107106006

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK SPESIALIS KEDOKTERAN JIWA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

Judul Penelitian : Tingkat Keparahan Ansietas pada Pasien

Tuberkulosis Paru di Instalasi Rawat Jalan SMF Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP H. Adam Malik Medan

Nama Mahasiswa : Dessi Wahyuni Nomor Induk Mahasiswa : 107106006

Program Magister : Magister Kedokteran Klinik Konsentrasi : Ilmu Kedokteran Jiwa

Menyetujui :

Komisi Pembimbing I : Komisi Pembimbing II :

Prof. dr. Bahagia Loebis, Sp.K.J.(K)

NIP. 19780330 200501 1 003

dr. Mustafa M. Amin, M.Ked.K.J, M.Sc, Sp.K.J

Ketua Program Studi Magister Dekan Kedokteran Klinik

Prof.dr.H.Chairuddin P.Lubis,DTMH&H,Sp.A(K)

NIP: 19540220 198011 1 001

(3)

Telah diuji pada

Tanggal : 24 Desember 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. dr. Bahagia Loebis, Sp.K.J (K) ... Anggota : dr. Harun Taher Parinduri, Sp.K.J (K) ... dr. Elmeida Effendy, M.Ked.K.J, Sp.K.J ... dr. Dapot P Gultom, Sp.K.J, M.Kes ...

(4)

PERNYATAAN

TINGKAT KEPARAHAN ANSIETAS PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI INSTALASI RAWAT JALAN SMF PULMONOLOGI

DAN ILMU KEDOKTERANRESPIRASI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah dituliskan atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis mengacu dalam naskah ini dan disebutkan di dalam daftar rujukan.

Medan, Desember 2013

(5)

UCAPAN TERIMAKASIH

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkah limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya maka penulisan hasil penelitian ini dapat diselesaikan.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan hasil penelitian ini.

Dengan selesainya hasil penelitian ini, perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Ketua TKP PPDS-I dan Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kepada penulis kesempatan untuk mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. dr. Elmeida Effendy, M.Ked.K.J, Sp.K.J, selaku Ketua Program Studi PPDS-I Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, dan memberi masukan-masukan yang berharga kepada penulis sehingga hasil penelitian ini dapat diselesaikan.

(6)

perhatian serta masukan-masukan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaikan Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

4. dr. Mustafa Mahmud Amin, M.Ked.K.J, M.Sc, Sp.K.J, sebagai guru dan pembimbing penulis yang telah memberikan bimbingan, pengetahuan dan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

5. dr. Zainuddin Amir, M.Ked.paru, Sp.P.(K) sebagai Konsultan dari Departemen Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi RSUP H. Adam Malik yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan dan dukungan dalam menyelesaikan hasil penelitian ini.

6. dr. H. Harun Taher Parinduri, Sp.K.J.(K), sebagai guru penulis yang telah banyak memberikan bimbingan, pengetahuan, dorongan serta pengarahan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaikan hasil penelitian ini.

7. (Alm) Prof. dr. Syamsir BS, Sp.K.J.(K), sebagai guru besar penulis yang semasa hidupnya memberikan bimbingan, pengetahuan, dorongan serta pengarahan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaikan hasil penelitian ini.

(7)

9. dr. Vita Camellia, M.Ked.K.J, Sp.K.J, sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan, dan dukungan dalam menyelesaikan hasil penelitian ini.

10.dr. Muhammad Surya Husada, M.Ked.K.J, Sp.K.J, sebagai guru dan Co-Author yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan, dan dukungan dalam menyelesaikan hasil penelitian ini.

11.dr. Dapot Parulian Gultom, Sp.K.J, M.Kes, sebagai Wakil Direktur Badan Layanan Umum Daerah RSJ Propinsi Sumatera Utara dan guru penulis, yang telah memberikan izin, fasilitas, dan pengarahan kepada penulis.

12.(+) dr. Herlina Ginting, Sp.K.J, sebagai guru penulis yang semasa hidupnya telah banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan serta dorongan kepada penulis. 13.dr. Mawar Gloria Taringan, Sp.K.J, sebagai guru yang telah banyak memberikan

bimbingan dan pengetahuan serta dorongan kepada penulis.

14.dr.Freddy Subastian, Sp.K.J, sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, pengetahuan, dorongan dan dukungan kepada penulis.

15.dr. Juskitar, Sp.K.J, sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan dan dukungan kepada penulis.

16.dr. Vera RB. Marpaung, Sp.K.J, sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan serta dorongan kepada penulis.

17.dr. Machnizar Sentari, Sp.K.J, sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan serta dorongan kepada penulis.

(8)

dr. Mariati, Sp.K.J, dr. Evawati Siahaan, Sp.K.J, dr. Paskawani Siregar, Sp.K.J, dr. Citra Julita Tarigan, Sp.K.J, dr. Juwita Saragih, Sp.K.J, dr. Friedrich Lupini, Sp.K.J, dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.K.J, dr. Laila Sari, Sp.K.J, dr. Evalina Perangin-Angin, Sp.K.J, dr. Victor Eliezer, Sp.K.J, dr. Siti Nurul Hidayati, Sp.K.J, dr. Lailan Sapinah, Sp.K.J, dr. Silvy Agustina Hasibuan, Sp.K.J, dr. Ira Aini Dania, M.Ked.K.J, Sp.K.J, dr. Mila Astari Harahap, M.Ked.K.J, Sp.K.J, dr. Baginda Harahap, M.Ked.K.J, Sp.K.J, dr. Ricky Wijaya Tarigan, M.Ked.K.J, Sp.K.J sebagai senior yang banyak memberikan bimbingan, dorongan dan semangat kepada penulis selama menyelesaikan hasil penelitian ini.

19.Direktur RSUP H. Adam Malik Medan, Direktur RSUD dr. Pirngadi Medan, Direktur RS. PTP II Tembakau Deli Medan, Ka Rumkit RS Bhayangkara Medan, Ka Rumkit RS Putri Hijau Kesdam I Bukit Barisan Medan, Kepala Puskesmas Medan Johor atas izin, kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis selama melaksanakan penelitian untuk mendapatkan subjek penelitian dan sampai selesainya hasil penelitian ini.

(9)

Syahri Rangkuti, M.Ked.K.J, dr. Agussyah Putra, M.Ked.K.J, dr. Rini Gusya Liza, M.Ked.K.J, dr. Gusri Girsang, M.Ked.K.J, dr. Ritha Mariati Sembiring, dr. Reny Fransiska Barus, dr. Susiati, dr. Annisa Fransiska, dr. Dessy Mawar Zalia, M.Ked.K.J, dr. Nazli Mahdinasari Nasution, dr. Andi Syahputra Siregar, dr. Nining Gilang Sari, M.Ked.K.J, dr. Rosa Yunilda, dr. Arsusy Widyastuty, dr. Poltak Jeremias Sirait, dr. Manahap Cerarius Fransiskus Pardosi, dr. Muhammad Affandi, dr. Endah Tri Lestari, dr. Deasy Hendriati dr. Rona Hanani Simamora, dr. Novi Prasanty, dr. Novita Linda Akbar, dr. Catherine, dr. Trisna Marni, yang banyak memberikan masukan berharga kepada penulis melalui diskusi-diskusi kritis dalam berbagai pertemuan formal maupun informal, serta selalu memberikan dorongan-dorongan yang membangkitkan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan hasil penelitian ini.

21.Dokter muda, perawat dan pegawai di berbagai tempat dimana penulis pernah bertugas selama menjalani penelitian ini, serta pasien, keluarga pasien dan berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu penulis dalam menjalani proses hasil penelitian ini.

22.Teman-teman di layanan digital perpustakaan Universitas Sumatera Utara : Evi Yulifimar, S.Sos, Yuli Handayani, S.Sos, Diani Hartati, S.Sos, M. Salim, A.Md yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan hasil penelitian ini.

(10)

24.Kedua mertua yang penulis hormati dan sayangi, (Alm) Amhardi Damir dan Hj. Hastuti Hasan yang banyak memberikan semangat dan doa kepada penulis dalam menjalani pendidikan dan menyelesaikan hasil penelitian ini.

25.Seluruh saudara kandung yang saya sayangi, Erna Wati, Zainab, SP dan Hafsah, S.Ag dan adik-adik ipar saya, Ahmed Ronova, ST, Efrinaldi Fitra, SP, Rahmi Febriani, SE dan Ihsanil Hayati, S.Psi yang telah banyak memberikan semangat dan doa kepada penulis dalam menjalani Program Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 26.Buat suamiku tercinta Muhammad Indra Hadi, SE dan anak- anakku tersayang

Aqila dan Abida, terima kasih atas segala doa dan dukungan, kesabaran dan pengertian yang mendalam serta pengorbanan atas segala waktu dan kesempatan yang tidak dapat penulis habiskan bersama-sama dalam sukacita dan keriangan selama penulis menjalani dan menyelesaikan hasil penelitian ini. Tanpa semua itu, penulis tidak akan mampu menyelesaikan hasil penelitian ini dengan baik.

Akhirnya penulis hanya mampu berdoa dan memohon semoga Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada seluruh keluarga, sahabat, dan handai tolan yang tidak dapat penulis sebut satu persatu, baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah banyak memberikan bantuan, baik moril maupun materil, penulis ucapkan terima kasih.

Medan, Desember 2013

(11)

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

AIDS : Acquired Immunodeficiency Syndrome Ham-A : Hamilton-Anxiety

HIV : Human Immunodeficiency Virus Ka Rumkit : Kepala Rumah Sakit

PT : Perguruan Tinggi

RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat SD : Sekolah Dasar

(12)

DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan Pembimbing ... i

Ucapan Terima Kasih ... iv

Daftar Singkatan dan Lambang ... x

Daftar Isi ... xi

Daftar Tabel ... xiii

Daftar lampiran... ... xiv

Abstrak ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

1.4. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Simtom Ansietas ... 6

2.2. Penyakit Tuberkulosis Paru ... 9

2.3. Simtom Ansietas Pada Pasien Tuberkulosis Paru... .... 14

2.4. Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) ... 15

(13)

BAB III METODOLOGI ... 18

3.1.Desain penelitian ... 18

3.2.Tempat dan waktu penelitian ... 18

3.3.Populasi penelitian ... 18

3.4.Sampel dan cara pengambilan sampel ... 18

3.5.Besar sampel... 19

3.6.Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 20

3.7.Persetujuan / Informed Consent ……… ... 20

3.8.Cara Kerja Penelitian ... 20

3.9.Definisi Operasional ... 22

3.10. ... Rencana Pengolahan dan Analisa Data ... 24

3.11. ... Etika Penelitian... ... 24

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 26

BAB V PEMBAHASAN... 32

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 35

(14)

DAFTAR TABEL

1. Tabel 4.1 : Distribusi sampel penelitian berdasarkan karakteristik demografik...24 2. Tabel 4.2 : Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan usia...25 3. Tabel 4.3 : Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan jenis

kelamin... 26 4. Tabel 4.4 : Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan pekerjaan... 26 5. Tabel 4.5 : Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan

pendidikan... 27 6. Tabel 4.6 : Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan status

perkawinan ... 28 7. Tabel 4.7 : Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasasarkan skor

(15)

Daftar Lampiran

1. Jadwal Penelitian

2. Surat Persetujuan Komite Etik

3. Lembar Penjelasan kepada calon subjek Penelitian 4. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan

5. Data Penelitian Pasien 6. Riwayat Hidup Peneliti

(16)

TINGKAT KEPARAHAN ANSIETAS PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI INSTALASI RAWAT JALAN SMF PULMONOLOGI

DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN dessi wahyuni* bahagia loebis** mustafa mahmud amin***

departemen ilmu kedokteran jiwa

zainuddin amir**** fakultas kedokteran universitas sumatera utara

Latar belakang: Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) adalah penyakit pada individu dengan pengobatan yang lama dan berdampak pada pasien baik kondisi fisik secara umum, fungsi, dan kualitas hidupnya. Hubungan antara gangguan pada TB Paru dan kejiwaan, khususnya dalam ansietas telah diketahui selama bertahun-tahun. Data Badan Kesehatan Dunia, menunjukkan pada tahun 2005 dijumpai 8,8 juta kasus TB Paru. Penelitian di Pakistan menunjukkan bahwa prevalensi depresi dan ansietas yaitu 43% dan 47% dan di dapat dari 96 sampel pasien TB Paru

Tujuan penelitian: untuk mengetahui proporsi tingkat keparahan ansietas berdasarkan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan, tingkat pendidikan) pada pasien TB paru.

Metode penelitian: penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional study, teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik non probability sampling jenis consecutive sampling. Tempat penelitian: Instalasi Rawat Jalan di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP.H. Adam Malik Medan . Waktu penelitian: 1 Maret 2013 sampai 1 April 2013. Setiap pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi diikutsertakan dalam penelitian kemudian dilakukan penilaian tingkat keparahan ansietas dengan menggunakan kuesioner Hamilton – Anxiety ( HAM-A ) . Semua data yang terkumpul akan dianalisis lebih lanjut.

Hasil penelitian: berdasarkan karakteristik demografik gambaran tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paru dijumpai pada kelompok laki-laki sebanyak 66 orang (68,7%), umur 18-30 tahun sebanyak 37 orang (38,5%), bekerja sebanyak 51 orang (53,1%), pendidikan SMA 46 orang (47,9%), yang kawin 63 orang (65,6%) dan berdasarkan penilaian total Skor HAM-A yaitu tidak dijumpai ansietas 8 orang, ansietas ringan 17 orang (17,7%), ansietas sedang 47 orang (48,9%), ansietas berat 22 orang (23%) dan ansietas berat sekali 2 orang (2,1%).

Kesimpulan: dari hasil penelitian ini pada 96 orang sampel pasien tuberkulosis paru di RSUP H. Adam Malik Medan didapati proporsi lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

(17)

** Guru Besar dan pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK USU/ RSUP H. Adam Malik Medan

*** Staf pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan

(18)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Gangguan ansietas dan depresi biasa terjadi pada semua daerah di seluruh dunia. Penyakit kronis meningkatkan morbiditas dengan gangguan perasaan dan/atau gangguan ansietas, dan penyakit tuberkulosis dengan durasi pengobatan yang lama merupakan salah satu penyakit kronis. Tuberkulosis paru tetap menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Dalam beberapa tahun ini, banyak usaha dilakukan untuk menilai kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan yang dialami oleh orang-orang yang terinfeksi tuberkulosis paru. Ada kebutuhan untuk menilai kontribusi gangguan mood, khususnya gangguan ansietas.1

Beban dari penyakit tuberkulosis menyatakan keadaan neuropsikiatri yang dihitung sampai seperempat dari semua kecacatan yang terjadi selama menderita penyakit bertahun-tahun. Di negara yang berpenghasilan menengah ke bawah, gangguan neuropsikiatri seperti depresi, ansietas dan gangguan somatoform terhitung 9,8% dari penderita tuberkulosis.

1

Tuberkulosis paru merupakan penyakit pada individu dengan pengobatan yang lama yang berdampak pada pasien baik kondisi fisik

(19)

secara umum, fungsi, dan kualitas hidupnya. Pasien yang menderita tuberkulosis menunjukkan morbiditas psikiatri yang lebih tinggi. Pasien menunjukkan reaksi psikiatri seperti penyangkalan, tidak ada harapan hidup, ansietas dan dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat.

Faktor risiko untuk masalah kesehatan jiwa bersifat kompleks. Kemiskinan, pendidikan yang rendah, pengucilan sosial, jenis kelamin, masalah hidup dan bencana merupakan penentu sosial utama dari gangguan kejiwaan. Adanya tanda sakit medis dan perbedaan juga memegang peranan dalam perkembangan depresi. Penelitian Lancet terbaru pada masalah kesehatan jiwa secara umum mencatat kurangnya penelitian pada interaksi antara gangguan jiwa dan penyakit seperti tuberkulosis dan HIV/AIDS pada pasien yang berpenghasilan rendah.

2

Tuberkulosis paru seperti infeksi kronis lainnya, membutuhkan pengobatan untuk waktu yang lama. Tuberkulosis paru juga dapat menyebabkan reaksi psikologis yang berlawanan. Persepsi yang salah dapat menciptakan pandangan sosial dan kepanikan pada masyarakat. Kurangnya kesadaran atau pengetahuan yang salah tentang penyakit ini dapat menyebabkan persepsi yang salah mengenai berbagai aspek penyakit, yang akan menyebabkan laporan berkala dan tingkat kepatuhan yang rendah.

1

(20)

Angka kejadian tuberkulosis paru bervariasi pada negara yang berbeda, dan angka kejadian tuberkulosis paru sangat tinggi di Rumania. Pada tahun 2005 dijumpai 8,8 juta kasus tuberkulosis paru. Tingkat perkapita tinggi dijumpai di Afrika (28% disemua kasus tuberkulosis paru) dan setengahnya kasus baru dijumpai di enam negara Asean yaitu Bangladesh, Cina, India, Indonesia, Pakistan dan Filipina. Ada prevalensi kelainan jiwa pada pasien-pasien tuberkulosis paru, tetapi dokter umum dan ahli pulmonologi tidak

melihat hubungan ini. Evaluasi gangguan jiwa dari pasien tuberkulosis paru dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan dan mengurangi kekambuhan penyakit. Hal ini dapat memperbaiki prognosis kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis ini. Dokter spesialis paru perlu mengembangkan strategi sistemik untuk mendata simtom gangguan jiwa pada pasien-pasien tuberkulosis paru dan harus meminta bantuan dari psikolog atau psikiater untuk mengobati morbiditas ini.

Pada tahun 2009 diperkirakan kasus TB multidrug-resistant (MDR) sebanyak 250.000 kasus (230.000 – 270.000 kasus), tetapi hanya 12% atau 30.000 kasus yang sudah terkonfirmasi. Dari hasil data WHO tahun 2009, lima negara dengan jumlah kasus terbanyak yaitu India (1,6 – 2,4 juta), China (1,1 – 1,5 juta), Afrika Selatan (0,4 -0,59 juta), Nigeria (0,37 – 0,55 juta) dan Indonesia (0,35 - 0,52 juta).

(21)

India menyumbangkan kira-kira seperlima dari seluruh jumlah kasus didunia (21%).

Mengingat prevalensi yang tinggi dari permasalahan ini, sangat penting bagi klinisi untuk mampu secara cepat mengidentifikasi pasien-pasien yang membutuhkan perhatian lebih terhadap simtom ansietas maupun depresi pada pasien TB. Maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk melihat tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paru yang berobat ke Instalasi Rawat Jalan SMF Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP H. Adam Malik Medan.

5

1. 2. Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Berapa proporsi tingkat keparahan ansietas pada pasien Tuberkulosis paru berdasarkan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan dan tingkat pendidikan)?

(22)

1. 3. TUJUAN PENELITIAN

1. 3. 1. TUJUAN UMUM

Mengetahui proporsi tingkat keparahan ansietas pada pasien Tuberkulosis Paru (TB Paru) dengan menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A).

1. 3. 2. TUJUAN KHUSUS

1. Mengetahui proporsi tingkat keparahan ansietas pada pasien Tuberkulosis Paru (TB Paru) berdasarkan karakteristik demografik (usia, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan dan tingkat pendidikan).

2. Mengetahui proporsi tingkat keparahan ansietas pada pasien

3. Tuberkulosis Paru (TB Paru).

1. 4. MANFAAT PENELITIAN

1. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai proporsi tingkat keparahan ansietas pada pasien TB paru.

(23)

mengantisipasi apabila diperlukan penanganan lebih lanjut pada pasien ini.

(24)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. SIMTOM ANSIETAS

Ansietas dialami oleh setiap orang pada suatu waktu dalam kehidupannya. Ansietas adalah suatu keadaan psikologis dan fisiologis yang dicirikan dengan komponen kognitif, somatik, emosional dan perilaku. Hal ini merupakan serangkaian simtom yang muncul dari kesalahan adaptasi terhadap stres dan ketegangan kehidupan. Dalam bahasa populer, istilah ansietas mengacu pada banyak hal, diantaranya status mental, suatu serangan seperti menjadi ansietas terhadap suatu tempat, suatu respons terhadap situasi khusus seperti menjadi cemas tentang pekerjaan baru, suatu sifat bawaan seseorang seperti orang pencemas, karena suatu perilaku seperti seseorang yang merokok karena ansietas, dan gangguan psikiatri.

Ansietas dicirikan secara umum sebagai suatu sifat perasaan tidak menyenangkan, perasaan yang tidak jelas dari ketakutan pada sesuatu yang akan terjadi, sering bersamaan dengan simtom otonomik seperti sakit kepala, berkeringat, palpitasi, sesak di dada, rasa tidak nyaman diperut yang ringan, dan gelisah, yang ditandai dengan tidak bisa duduk atau berdiri lama. Kumpulan khusus dari adanya simtom selama ansietas cenderung bervariasi diantara masing- masing orang.

7-9

(25)

Ansietas merupakan tanda siaga, mengingatkan bahaya yang akan datang dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan berhadapan dengan ancaman. Ketakutan (fear) mirip dengan tanda siaga, tapi harus dibedakan dengan ansietas. Ketakutan adalah suatu respons terhadap sesuatu yang diketahui, berasal dari luar, nyata, atau ancaman yang tidak bertentangan, sedangkan ansietas adalah suatu respons terhadap ancaman yang tidak diketahui, berasal dari dalam, tidak jelas, atau bertentangan.

Ansietas dapat diartikan sebagai suatu respons normal dan adaptif yang mempunyai kualitas memberi pertolongan, dan memperingatkan ancaman terhadap kerusakan tubuh, kesakitan, ketidakberdayaan, hukuman yang mungkin terjadi, atau rasa frustasi terhadap sosial atau kebutuhan tubuh, berpisah dari orang yang dicintai, ancaman terhadap status atau kesuksesan seseorang, dan akhirnya ancaman menyatukan seluruhnya. Hal ini mendorong seseorang untuk mengambil tindakan penting untuk mencegah ancaman tersebut atau mengurangi akibatnya.

6

Gangguan ansietas mempengaruhi sekitar 40 juta orang Amerika dewasa berusia 18 tahun ke atas (sekitar 18%) pada tahun tertentu, menyebabkan mereka dipenuhi dengan ketakutan dan ketidakpastian. Gangguan ansietas berat disebabkan oleh kejadian yang membuat stres (seperti berbicara di depan umum atau kencan pertama), gangguan ansietas berakhir paling sedikit 6 bulan dan dapat memburuk jika gangguan ansietas tidak diobati.

6

(26)

Gangguan ansietas secara umum terjadi bersamaan dengan sakit mental atau sakit fisik lainnya, meliputi alkohol atau penyalahgunaan zat terlarang, yang akan menunjukkan simtom ansietas atau membuat gangguan ansietas yang semakin buruk. Pada beberapa kasus, penyakit lainnya ini perlu diobati sebelum seseorang tersebut merespon terhadap pengobatan gangguan ansietas.

Beberapa gangguan ansietas yaitu: 7-9

1. Gangguan panik

2. Gangguan obsesi kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder / OCD)

3. Gangguan stress setelah trauma (Post Traumatic Stress Disorder/PTSD)

4. Fobia sosial (atau gangguan ansietas sosial)

5. Fobia khusus

6. Gangguan ansietas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder/GAD)

(27)

gangguan yang ada harus dikenali, seperti kondisi lainnya yang menyertai, seperti depresi atau penyalahgunaan zat.

2. 2. PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU

Penyakit tuberkulosis paru disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis atau M. Tb). Bakteri ini menyebar oleh satu orang melalui inhalasi bakteri dalam droplet batuk atau bersin oleh seseorang dengan tuberkulosis infeksius. Tidak semua bentuk tuberkulosis itu infeksius. Mereka yang menderita TB di organ tubuh selain paru-paru jarang menginfeksi orang lain, dan begitu juga dengan tuberkulosis laten.

Beberapa orang dengan tuberkulosis respirasi infeksius, khususnya mereka dengan bakteri yang dapat dilihat pada pemeriksaan mikroskop sederhana dari sputum, yang disebut “hapusan positif”. Risiko terinfeksi tergantung pada berapa lama dan berapa sering paparan bakteri ini. Risiko penyakit lebih besar pada yang terpapar lama dan dekat dengan penderita TB infeksius.

10

(28)

Pada beberapa kasus, penghalang bakteri dibangun di sekitar infeksi, tetapi bakteri TB tidak dibunuh dan menetap disana. Ini dikatakan tuberkulosis laten; orang tidak sakit dan tidak infeksius. Kadang-kadang pada waktu infeksi awal, bakteri masuk ke dalam pembuluh darah dan dapat dibawa ke bagian tubuh lainnya, seperti tulang, kelenjar limfa otak, sebelum penghalang bakteri dibangun. Sepertiga populasi dunia, dua juta orang, menderita tuberkulosis laten.

Jika sistem imun gagal membangun penghalang bakteri, tuberkulosis laten akan menyebar dalam paru-paru (tuberkulosis pulmonar) atau masuk dalam kelenjar limfe dalam dada (tuberkulosis respirasi intrathorax) atau berkembang ke bagian lain dari tubuh (tuberkulosis ekstrapulmonar). Hanya beberapa dengan tuberkulosis paru akan mengalami simtom (tuberkulosis aktif). Sekitar setengah kasus tuberkulosis aktif berkembang dalam beberapa tahun infeksi awal, khususnya pada anak-anak dan dewasa muda. Sebagian kasus TB aktif muncul dari reaktivasi infeksi laten beberapa tahun kemudian.

Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu gejala lokal dan gejala sistemik. Bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratori (gejala lokal sesuai organ yang terlibat).

10

(29)

1. Gejala respiratori :

• Batuk > 2 minggu

• Batuk darah

• Sesak nafas

• Nyeri dada

Gejala respiratori ini sangat bervariasi dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang pasien terdiagnosis pada saat medical check up.

2. Gejala sistemik :

• Demam

• Gejala sistemik lain adalah : malaise, keringat malam,

anoreksia dan berat badan menurun.

3. Gejala TB ekstraparu

(30)

Ada beberapa klasifikasi tuberkulosis, salah satunya berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis yaitu5

a. TB paru BTA positif

:

1. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS) hasilnya BTA positif.

2. Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran TB.

3. Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.

4. Satu atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

b. TB paru BTA negatif

Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif :

Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi :

1. Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.

2. Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran TB.

(31)

4. Ditentukan (di pertimbangkan) oleh dokter untuk di beri pengobatan.

Pengobatan Tuberkulosis

Panduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia sesuai rekomendasi WHO dan kategori panduan OAT yang paling sering dipakai adalah:

Kategori 1 : 5

2HRZE/4(HR)3, artinya selama dua bulan pertama obat yang diberikan adalah INH (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z) dan etambutol (E) setiap hari. Kemudian 4 bulan selanjutnya INH (H) dan rifampisin (R) tiga kali dalam seminggu. Panduan OAT ini diberikan untuk pasien baru :

a. Pasien baru TB paru BTA positif.

b. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif.

c. Pasien TB ekstra paru.

Kategori 2 :

(32)

a. Pasien kambuh

b. Pasien gagal

c. Pasien dengan pengobatan setelah terputus

Tujuan pengobatan TB adalah :

• Menyembuhkan pasien dan mengembalikan kualitas hidup dan

produktivitas.

• Mencegah kematian karena penyakit TB aktif atau efek lanjutannya.

• Mencegah kekambuhan.

• Mengurangi transmisi atau penularan kepada yang lain.

• Mencegah terjadinya resistensi obat serta penularannya.

2. 3. SIMTOM ANSIETAS PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU (TB PARU)

(33)

Pakistan menunjukkan bahwa prevalensi depresi dan ansietas diantara pasien TB yaitu 43% dan 47%. Pasien TB memiliki kesehatan mental yang dan kualitas hidup yang buruk dibandingkan dengan populasi umum di Inggris.

HIV merupakan faktor risiko paling besar untuk perkembangan TB aktif dan TB luar paru. TB juga mempercepat perburukan status imun pasien dengan HIV dan hal ini menyebabkan mortalitas pada orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS (people living with HIV/AIDS/PLHA). Common Mental Disorders(CMD) dikarakteristikkan oleh tingkat depresi tinggi, ansietas dan/atau simtom somatik yang biasa terjadi diantara wanita di Ethiopia. Sejauh ini perwujudan CMD diantara laki-laki dan interaksinya antara CMD dan penyakit yang terkait tidak diperiksa di Ethiopia.

11

Kurangnya dukungan sosial, tingkat edukasi yang rendah dan pendapatan yang rendah telah dilaporkan berhubungan dengan kualitas hidup yang rendah pada pasien TB. Pada penelitian kami, pendapatan, depresi dan kekurangan dukungan keluarga merupakan faktor predisposisi kualitas hidup yang buruk diantara pasien yang terinfeksi TB/HIV. Partisipan tanpa pendapatan yang cukup dan dukungan keluarga mungkin akan memiliki status imun dan nutrisi yang akan mempengaruhi kualitas hidup.

12

12

Penyakit kronis meningkatkan morbiditas dengan mood dan/atau gangguan ansietas. Biasanya, semakin serius penyakit somatik ini, semakin

(34)

mungkin penyakit ini diikuti oleh simtom mood dan/atau ansietas dengan berbagai tingkat keparahan. Kegagalan mengatur masalah kesehatan jiwa meningkatkan kemungkinan pasien menderita komplikasi, bahkan kematian.

2. 4. HAMILTON ANXIETY RATING SCALE (HAM-A) 13

HAM-A merupakan satu skala pertama yang dikembangkan untuk mengukur derajat keparahan simtom ansietas, dan masih dipergunakan secara luas pada kedua pengaturan klinis dan pada penelitian. Skala ini terdiri dari 14 bagian, setiap bagian ditentukan oleh satu seri simtom, dan diukur kedua ansietas fisik (agitasi mental dan stres psikologi) dan ansietas somatik (keluhan fisik yang berhubungan dengan ansietas). Walaupun HAM-A tetap dipergunakan secara luas sebagai ukuran dalam percobaan klinis, HAM-A telah dikritik untuk kemampuannya yang kadang-kadang sulit menentukan antara ansiolitik dan efek antidepresan, dan ansietas somatik berbanding efek somatik. HAM-A tidak menyediakan pertanyaan pembuktian apapun. Disamping ini, tingkat kepercayaan yang dilaporkan dari untuk skala ini dapat diterima.

HAM-A ini memerlukan waktu 10 – 15 menit. Tujuan utama skala ini adalah untuk menilai tingkat keparahan ansietas pada populasi dewasa, remaja dan anak-anak.

(35)

Penilaian

Setiap bagian dinilai pada skala 0 (tidak ada) sampai 4 (berat/parah), dengan rentang total skor 0-56, dimana < 14 menunjukkan tidak ada ansietas, 14-20 menunjukkan ansietas ringan, 21-27 menunjukkan ansietas sedang, 28-41 menunjukkan ansietas berat, 42-56 menunjukkan ansietas berat sekali.

Versi

Skala ini telah diartikan dalam bahasa Kanton untuk Cina, bahasa Prancis dan bahasa Spanyol

2.5 KERANGKA KONSEP

PASIEN

TUBERKULOSIS

TINGKAT KEPARAHAN ANSIETAS

KARAKTERISTIK DEMOGRAFIK:

USIA, JENIS KELAMIN, STATUS

PERKAWINAN,PEKERJAAN

(36)

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1. DESAIN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan studi cross sectional, dengan mengisi kuesioner HAM-A untuk melihat tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paru.

3. 2 WAKTU DAN TEMPAT

16

Tempat penelitian : Instalasi Rawat Jalan SMF Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP H. Adam Malik Medan.

Waktu penelitian : 1 Maret – 1 April 2013 3. 3 POPULASI PENELITIAN

3.3.1 Populasi target : pasien TB Paru di Instalasi Rawat Jalan SMF Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP H. Adam Malik Medan.

3.3.2 Populasi terjangkau : pasien TB Paru di Instalasi Rawat Jalan SMF Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP H. Adam Malik Medan periode 1 Maret – 1 April 2013

3. 4 SAMPEL DAN CARA PENGAMBILAN SAMPEL

(37)

Kedokteran Respirasi RSUP H. Adam Malik Medan yang memenuhi kriteria inklusi.

3.4.2 Cara pengambilan sampel dengan non probability sampling jenis consecutive sampling.

3. 5 BESAR SAMPEL

Besar sampel diukur dengan menggunakan rumus: n =

Dengan menggunakan rumus di atas didapatkan jumlah sampel 96 orang Keterangan:

Zα = nilai batas bawah dari tabel Z yang besarnya tergantung pada nilai α yang ditentukan; untuk nilai α = 0.05 →Zα = 1,96.

P = proporsi simtom ansietas pada pasien tuberkulosis paru. Q = 1 – P = 1 – 0,47 = 0,53

(38)

3. 6 KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI 3.6.1 KRITERIA INKLUSI

1. Pasien TB paru yang dikonfirmasi sebagai penderita Tuberkulosis paru Kategori 1.

2. Bisa membaca dan menulis.

3. Kooperatif dan bersedia ikut serta dalam penelitian.

3.6.2 KRITERIA EKSKLUSI

1. Riwayat penyakit medis umum lainnya, seperti penyakit jantung iskemik, hipertensi, tumor, diabetes melitus, hepatic insufficiency, HIV/AIDS.

2. Memiliki gangguan psikiatri sebelum penelitian. 3. Menggunakan obat anti ansietas.

4. Menggunakan obat anti depresan

3. 7 PERSETUJUAN/ INFORMED CONSENT

Semua subyek penelitian akan diminta persetujuan terlebih dahulu dan diberi penjelasan sebelum diberikan kuesioner HAM-A.

3. 8 CARA KERJA PENELITIAN

(39)

dimasukkan kedalam penelitian. Semua pasien yang diikutsertakan dalam penelitian wajib memberikan persetujuan secara tertulis setelah diberikan penjelasan secara terperinci dan dimengerti oleh pasien. 2. Selanjutnya semua pasien yang diikutsertakan untuk mengisi data

pasien mengenai identitas pasien serta karakteristik demografiknya (umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, status pernikahan).

3. Setelah mengisi data pasien, subjek penelitian diberikan kuesioner HAM-A yang terdiri dari 14 pertanyaan.

4. Setelah semua kuesioner dan data pasien terisi lengkap maka akan dilakukan pengolahan data.

5. Selain itu dilakukan identifikasi dari masing-masing skor ansietas. KERANGKA KERJA

PASIEN TB PARU

KRITERIA INKLUSI KRITERIA EKSKLUSI

KARAKTERISTIK DEMOGRAFIK:

1. UMUR

2. JENIS KELAMIN

3. PENDIDIKAN

4. PERKAWINAN

5. PEKERJAAN

(40)

3. 9 DEFINISI OPERASIONAL

1. Simtom ansietas : Perasaan tidak menyenangkan yang terdiri atas respons-respons psikofisiologis terhadap antisipasi bahaya yang tidak nyata atau yang tidak terbayangkan, secara nyata disebabkan oleh konflik intrapsikis yang tidak diketahui. Penyerta fisiologis mencakup denyut jantung bertambah cepat, kecepatan pernapasan tidak teratur, berkeringat, gemetar, lemas, dan lelah; penyerta psikologis meliputi perasaan-perasaan akan ada bahaya, tidak berdaya, terancam, dan takut.

2. Pasien TB paru sebagai penderita TB paru Kategori 1 yaitu pasien baru TB paru dengan BTA positif, BTA negatif foto toraks positif dan TB ekstraparu. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis atau M. Tb). Bakteri ini menyebar pada waktu batuk atau bersin dimana pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan oleh parunya. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

3. Usia adalah lamanya hidup sejak lahir yang dinyatakan dalam satuan tahun.

(41)

5. Status perkawinan : menikah dan tidak menikah

6. Tingkat pendidikan dibedakan atas SD, SMP, SMA, Perguruan tinggi. 7. Status pekerjaan dibedakan atas bekerja dan tidak bekerja.

8. Tingkat keparahan ansietas dengan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) :

Skor :

0 = Tidak ada 1 = Ringan 2 = Sedang 3 = Berat

4 = Berat, hendaya secara nyata Total Skor :

(42)

3. 10 RENCANA PENGOLAHAN DARI HASIL PENELITIAN

Hasil yang akan didapatkan akan disusun dalam tabel distribusi, kemudian dihitung proporsi tingkat keparahan ansietas pada pasien TB paru dengan menggunakan kuesioner HAM-A dan proporsi simtom ansietas berdasarkan karakteristik demografik (umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan) dan tingkat keparahan ansietas.

3. 11 ETIKA PENELITIAN

(43)

BAB 4. HASIL

Sebanyak 96 pasien tuberkulosis paru yang datang berobat ke Instalasi Rawat Jalan SMF Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP H. Adam Malik Medan mengisi kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HAM-A) pada 1 Maret 2013 – 1 April 2013.

Tabel 4.1

Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Karakteristik Demografik

Karakteristik Responden Jumlah %

Umur

Jenis kelamin Laki-laki

Perempuan

Status perkawinan Kawin

Tidak Kawin

63 33

65,6 34,4

(44)

Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan karakteristik demografik

Tabel 4.2

Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan usia

SIMTOM

Tidak ada ansietas

Ringan Sedang Berat Berat

sekali To

tal %

N % N % N % N % N %

Usia 18 – 30 8 100 13 76,5 14 29,8 2 9,5 0 0 37 38,5

31 – 40 0 0 3 17,6 12 25,5 1 4,8 0 0 16 16,7 41 – 50 0 0 0 0 12 25,5 0 0 1 33,3 13 13,5 > 51 0 0 1 5,9 9 19,2 1

8 85,7 2 66,7 30 31,3

TOTAL 8 100 17 100 47 100 21 100 3 100 96 100

(45)

Tabel 4.3

Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan jenis kelamin

SIMTOM

Dari tabel 4.3 diatas memperlihatkan bahwa tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paru paling banyak terjadi pada jenis kelamin laki laki sebanyak 35 orang (76,1%) yang berupa tingkat ansietas sedang.

Tabel 4.4

Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan pekerjaan

(46)

TOTAL 8 100 19 100 45 100 22 100 2 100 96 100

Dari tabel 4.4 diatas memperlihatkan bahwa tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paru paling banyak terjadi pada kelompok bekerja sebanyak 35 orang (77,8%) yang berupa tingkat ansietas sedang.

Tabel 4.5

Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan pendidikan

SIMTOM

(47)

Tabel 4.6

Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan status perkawinan

SIMTOM

Tidak ada ansietas

Ringan Sedang Berat Berat

sekali Total %

N % N % N % N % N %

S

tat

us

pe

rka

w

ina

n

Kawin 1 12,5 5 29,4 35 74,5 20 90,9 2 100 63 65,6

Tidak

kawin 7 87,5 12 70,6 12 25,5 2 9,1 0 0 33 34,4

TOTAL 8 100 17 100 47 100 22 100 2 100 96 100

(48)

Tabel 4.7

Distribusi tingkat keparahan ansietas berdasarkan skor HAM-A

Dari tabel 4.7 diatas memperlihatkan bahwa tingkat keparahan ansietas berdasarkan Skor HAM-A pada pasien tuberkulosis paru dengan tidak dijumpai ansietas yaitu 8 orang (8,3%), ansietas ringan yaitu 17 orang (17,7%), ansietas sedang yaitu 47 orang (48,9%), ansietas berat yaitu 22 orang (23%), dan ansietas berat sekali 2 orang (2,1%).

SIMTOM ANSIETAS Total %

Tingkat Keparahan

Tidak ada ansietas 8 8,3

Ringan 17 17,7

Sedang 47 48,9

Berat 22 23

Berat sekali 2 2,1

(49)

BAB 5. PEMBAHASAN

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Didapatkan hasil penelitian dari 96 sampel penelitian berdasarkan karakteristik demografiknya yang terbanyak adalah jenis kelamin laki-laki sebanyak 66 orang (68,7%), dengan kelompok umur 18-30 tahun sebanyak 37 orang (38,5%), bekerja sebanyak 51 orang (53,1%), pendidikan terakhir SMA 46 orang (47,9%), status perkawinan terbanyak yaitu kawin 63 orang (65,6%), Siddiqua Aamir dkk mendapatkan karakteristik demografik dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terbanyak pada usia menengah (rerata usia 36 tahun), menikah 44 (68%), pendidikan rendah, sosioekonomi yang rendah 55 (85%) dan pasien dari daerah pedesaan 57 (88%) yang didiagnosis TB dengan komorbid ansietas dan depresi.

Pada penelitian Mohammed O. Husain dkk, karakteristik pasien pada hasil penelitiannya di jumpai sampel terbanyak 86 (79,8%) perempuan, dan rerata umur dari total sampel sekitar 37,3 tahun, tidak bekerja, dan 63 (58,3%) menikah, 38 (35,2%) sendiri, 6 (5,6%) janda dan 1 (0,9%) bercerai.

18

Sedangkan pada penelitian P. Vega dkk dijumpai karakteristik sampel penelitian bahwa rerata usia sampel 26,8 (11,8-65,1), perempuan 38 (50,7%) dan laki-laki 37(49,3%), pendidikan lebih banyak dijumpai pada pendidikan tinggi 46(86,8%), dan tidak menikah 47(66%).

4

Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paling banyak terjadi pada kelompok usia 18-30 sebanyak 14

(50)

orang (29,8%) yang berupa tingkat ansietas sedang. Namun menurut hasil penelitian Man Milena Adina dkk dijumpai rerata usia 45,31 (antara 18 sampai 73 tahun).1 Hal serupa juga dijumpai pada penelitian Georgius Moussas dkk, dijumpai rerata usia sampel pada usia 45,23.6

Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paling banyak terjadi pada jenis kelamin laki laki sebanyak 35 orang (76,1%) yang berupa tingkat ansietas sedang. Pada hasil penelitian Man Milena Adina dkk dijumpai populasi pasien TB lebih dominan pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan namun lebih sering dijumpai wanita yang ansietas bila dibandingkan dengan laki-laki.

Hal ini kemungkinan disebabkan pada penelitian ini lebih banyak dijumpai sampel pada kelompok usia 18-30 tahun.

1

Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paling banyak terjadi pada kelompok bekerja sebanyak 35 orang (77,8%) yang berupa tingkat ansietas sedang. Hal ini kemungkinan disebabkan pada penelitian ini lebih banyak dijumpai sampel yang bekerja bila dibandingkan dengan yang tidak bekerja. Namun menurut Man Milena Adina dkk pasien TB dengan status pekerjaan khususnya tidak bekerja dan dapat menjadi faktor beban ekonomi.

Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paling banyak terjadi pada pendidikan SMA sebanyak 28 orang (58,3%) yang berupa tingkat ansietas sedang.

(51)

Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keparahan ansietas pada pasien tuberkulosis paling banyak terjadi pada kelompok yang menikah sebanyak 35 orang (74,5%) yang berupa tingkat ansietas sedang. Pada penelitian Man Milena Adina dkk pasien TB dengan ansietas dijumpai pada status perkawinan kawin. Dimana status perkawinan ini dapat menjadi sebagai faktor beban personal.

Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat keparahan ansietas berdasarkan skor HAM-A pada pasien tuberkulosis paru dengan tidak dijumpai ansietas yaitu 8 orang (8,3%), ansietas ringan yaitu 17 orang (17,7%), ansietas sedang yaitu 47 orang (48,9%), ansietas berat yaitu 22 orang (23%), dan ansietas berat sekali 2 orang (2,1%). Becna Thomas menyatakan

1

(52)

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

1.1. KESIMPULAN

 Berdasarkan karakteristik demografik tingkat keparahan ansietas yang

terbanyak pada pasien tuberkulosis paru adalah laki-laki, usia sekitar 18-30 tahun, bekerja, SMA, kawin,

 Dari hasil penelitian berdasarkan skor HAM-A memperlihatkan bahwa pada

pasien tuberkulosis paru tingkat keparahan ansietas paling banyak dijumpai pada tingkat ansietas sedang.

 Dari hasil penelitian ini, pada 96 orang sampel pasien tuberkulosis paru

RSUP H.Adam Malik Medan didapati proporsi lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

1.2. SARAN

(53)

DAFTAR RUJUKAN

1. Adina MM, Necrelescu OL, Bondor C, et al. Depressive Syndrome, anxiety and illness perception in Tuberculosis patients. A research. 2010;243-248. Romania. ISBN: 978-960-474-278-3

2. Deribew A, Tesfaye M, Hailmichael Y, et al. Tuberculosis and HIV co-infection: its impact on quality of life. A research. Health and Quality of Life Outcomes. 2009;1-7. Belgium.

3. Eram U, Khan IA, Tamanna Z, et al. Patient Perception of Illness and Initial Reaction to The Diagnosis of Tuberculosis. Indian Journal of Community Medicine Vol. 31, No. 3. 2006. Aligarh.

4. Husain MO, Dearman SP, Chaudhry IB, et al. The relationship between anxiety, depression and illness perception in tuberculosis patients in Pakistan. A research. Clinical Practice and Epidemiology in Mental Health. 2008; 1-5. London.

5. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis (TB) Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2011.

(54)

7. Anxiety Disorders. National Institute of Mental Health.U.S. Department of Health and Human Services. 2009.

8. Sadock BJ, Sadock VA. Anxiety Disorders in Psychiatry. In Kaplan & Sadock’s. Synopsis of Psychiatry Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 10th

9. Pine SD, Anxiety Disorders In : Sadock BJ, Sadock VA, Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook of Psychiatry Vol III, 9

ed. Philadelphia : Lippincott Williams and Wilkins; 2005.p.579.

th

10.Appleby S, Bryant G, Campbell I, et al. Tuberculosis. Royal College of Physician. 2006;3-6.London. ISBN 1 86016 277 0

ed. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia : 2005, p.1839 - 1844.

11.Craske MG, Rauch, SL, Ursano R, et al. What Is an Anxiety Disorder?. Depression and Anxiety 26 edition. 2009;1066-1085. Los Angeles.

12.Deribew A, Tesfaye M, Hailmichael Y, et al. Common Mental Disorders in TB/HIV co-infected patients in Ethiopia. A review. BMC Infectious Disease. 2010;1-8. Ethiopia.

13. Mirza I, Jenkins R. Risk factors, prevalence, and treatment of anxiety and

depressive disorders in Pakistan. A systematic review. BMJ volume 328. 2004;

1-5. London.

(55)

15. Sadock BJ, Sadock VA. Anxiety Disorders in Psychiatry. In Kaplan &

Sadock’s. Synopsis of Psychiatry Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 10th

16. Dahlan M.S. Langkah-langkah membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran

dan Kesehatan. Jakarta. Sagung Seto. 2009.

ed. Philadelphia : Lippincott Williams and Wilkins; 2005.p.314.

17. Dahlan M.S. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel. Jakarta. Salemba

Medika. 2010.

18. Aamir S, Aisha. Co-Morbid Anxiety and Depression Among Pulmonary

Tuberculosis Patients. Journal of the College and Surgeons Pakistan. 2010

19.Vega P, Sweetland A, et al. Psychiatric issues in the management of patients

with multidrug-resistant tuberculosis. Article submitted Neuropsychiatric

Service, Department of Medicine, Ministry of Health, Lima. 2003.

20.Thomas B, et al. Treatment Compliance Relation to Sources of Referral and

Initial Reaction to The Diagnosis of Tuberculosis. Institute in Research in

(56)

Lampiran 1

Waktu Februari 2013 Maret 2013 April 2013

(57)

Lampiran 3

LEMBAR PENJELASAN UNTUK PENELITIAN

TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI SMF PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI

RSUP H. ADAM MALIK MEDAN Bapak/Ibu/Saudara/i/Yth.

Saya dr. Dessi Wahyuni peserta program pendidikan dokter spesialis di Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa akan membuat suatu penelitian yang berjudul “Gambaran Tingkat Keparahan Ansietas pada Pasien Tuberkulosis Paru di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP. H.Adam Malik Medan”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gejala kecemasan pada pasien TB paru.

Dengan mengetahui adanya tingkat kecemasan, maka penelitian akan sangat bermanfaat bagi para dokter untuk lebih memberikan perhatian bagi para pasien TB paru. Jika Bapak/Ibu bersedia ikut serta dalam penelitian, maka Bapak/Ibu akan diminta untuk mengisi data-data demografi, dan mengisi sebuah daftar isian yang disebut “Skala Kecemasan” untuk mengetahui apakah Bapak/Ibu memiliki gejala-gejala kecemasan, karena gangguan ini sering ditemukan pada penderita dengan kondisi medis umum.

Partisipasi Bapak/Ibu dalam penelitian ini bersifat sukarela dan tanpa paksaan maupun tekanan dari pihak manapun serta tidak dipungut biaya apapun selama dalam penelitian. Seandainya, bapak/Ibu menolak untuk ikut serta dalam penelitian saya ini maka tidak ada sanksinya.

Jika selama menjalani penelitian ini terdapat hal-hal yang kurang jelas maka Bapak/Ibu dapat menghubungi saya: dr. Dessi Wahyuni (081275761975) di Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK USU Medan. Terima Kasih.

Medan, Maret 2013 Hormat Saya,

(58)

Lampiran 4

PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin :

Alamat :

Setelah mendapat penjelasan secara terperinci dan jelas mengenai penelitian “Gambaran Tingkat Keparahan Ansietas Pada Pasien Tuberkulosis Paru di SMF Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi RSUP. H.Adam Malik Medan” dan setelah mendapat kesempatan tanya jawab tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian tersebut, termasuk risikonya, maka dengan ini saya secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bahwa bersedia diikutsertakan dalam penelitian ini.

Medan, ………..2013

Yang memberikan penjelasan Yang membuat pernyataan persetujuan

(59)

Lampiran 5

DATA PENELITIAN PASIEN

Nomor MR : Tanggal :

A. Data Demografik

1. Nama :

2. Umur :

3. Jenis Kelamin : L / P

4. Alamat :

5. Pekerjaan : 6. Pendidikan :

7. Status pernikahan : Kawin/tidak kawin/janda/duda

B. Tingkat Keparahan

(60)

Lampiran 6

RIWAYAT HIDUP PENELITI Data Pribadi

Nama : dr. Dessi Wahyuni Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat/Tanggal Lahir : Tanjung Pura / 17 Desember 1975

Agama : Islam

Alamat : Jln : Karya Wisata Perumahan Johor Katelia Indah Blok E3 No : 214 Medan

Telepon : 0811754723 / 081275761975

Email : dessiwa@yahoo.com

Riwayat Pendidikan

Tahun 1981 - 1987 : SD Negeri 056022 Tanjung Pura Tahun 1987 - 1990 : SMP Negeri 2 Tanjung Pura Tahun 1990 - 1993 : SMA Negeri Tanjung Pura

Tahun 1993 - 2002 : Pendidikan Dokter Umum di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

(61)

Lampiran 7

PEMERIKSAAN SKALA KECEMASAN HAMILTON ANXIETY (HAMILTON ANXIETY RATING SCALE)

PETUNJUK : ISILAH IDENTITAS DIRI ANDA

NAMA :

JENIS KELAMIN :

ALAMAT :

Petunjuk “BACALAH PERNYATAAN DIBAWAH INI DENGAN BAIK BARU ANDA SESUAIKAN PILIHAN DENGAN KEADAAN KELUHAN ANDA

DALAM SEMINGGU INI” 1. Mood Cemas

Kecemasan, antisipasi keburukan, antisipasi ketakutan, iritabilitas.

Perasaan tegang, berdebar-debar, respon terkejut, berubah menjadi mudah menangis, bergetar, perasaan gelisah, tidak tenang.

Tidak ada (0)

Akan gelap, orang asing, sendirian, akan binatang, lampu lalu lintas, keramaian.

Tidak ada (0)

Sulit tidur, tidur terganggu, tidur tidak pulas dan bangun merasa lelah, bermimpi, mimpi buruk, ketakutan malam hari.

Kesulitan konsentrasi, ingatan lemah.

(62)

Sangat berat (4) 6. Mood Depresi

Kehilangan rasa tertarik, kekurangan kesenangan pada hobbi, depresi, bangun cepat, mood uring-uringan pada siang hari.

Tidak ada (0)

Rasa nyeri dan rasa sakit, kekakuan, tegang otot, gigi gemeletuk, suara tidak tenang, meningkatnya ketegangan otot.

Tinnitus, pandangan kabur, tanda kemerahan dan dingin, perasaan lemas, sensasi tertusuk.

Tidak ada (0)

Takikardia, palpitasi, nyeri dada, pembuluh darah terasa berdenyut, perasaan pucat, kehilangan denyut jantung

Tekanan atau konstriksi dada, perasaan tersedak, menghela nafas panjang, dispnoe.

Tidak ada (0)

Sulit menelan, nyeri perut ringan, perasaan terbakar, perasaan penuh pada perut, nausea, muntah, bunyi suara borborygmi, perasaan tipis pada usus, kehilangan berat badan, konstipasi.

Tidak ada (0)

Frekuensi miksi, miksi yang mendesak, amenorrhea/tidak datang bulan, menorrhagia, kedinginan, ejakulasi cepat, kehilangan gairah seksual/libido, impotensi.

Mulut kering, muka kemerahan, pucat, cenderung berkeringat, pening, tekanan sakit kepala, rambut

(63)

berdiri. Berat (3) Sangat berat (4) 14.Perilaku saat wawancara

Gelisah, mondar-mandir, tangan tremor, alis mata berkerut, wajah tersiksa, menghela nafas panjang atau pernafasan cepat, wajah pucat, menelan ludah, dll.

Tidak ada (0) Ringan (1) Sedang (2) Berat (3)

(64)

NO. MR UMUR JK KERJA PDDKN STATUS SKOR HAM-A KETERANGAN

1. 00553441 40 L Bekerja SMP Kawin 22 Sedang

2. 00543559 52 P Tdkbekerja SMA Kawin 26 Sedang

3. 00545943 28 L Tdkbekerja PT TdkKawin 25 Sedang

4. 00526974 22 L TdkBekerja SMA TdkKawin 15 Ringan

5. 00549588 38 L Bekerja SMP Kawin 22 Sedang

6. 00549317 63 L Tdkbekerja SMA Kawin 26 Sedang

7. 00528037 40 L Bekerja SMP Kawin 24 Sedang

8. 00548399 34 P Bekerja PT Kawin 18 Ringan

9. 00549975 48 L Bekerja PT Kawin 26 Sedang

10. 00521968 30 L Bekerja SMP Kawin 15 Ringan

11. 00436048 54 L Bekerja SMA Kawin 24 Sedang

12. 00540202 20 P TdkBekerja PT BlmKawin 30 Berat

13. 00264936 64 L TdkBekerja SMA Kawin 40 Berat

14. 00544283 21 L Tdkbekerja SMA BlmKawin 16 Ringan

15. 00544497 57 P TdkBekerja SMP Kawin 30 Berat

(65)

17. 00549781 21 P TdkBekerja SMP BlmKawin 18 Ringan

18. 00542637 27 P Bekerja PT Tdkkawin 25 Sedang

19. 00539146 29 L Bekerja SMA Kawin 22 Sedang

20. 00545667 26 L Bekerja SMA Blmkawin 24 Sedang

21. 00552851 61 P TdkBekerja SMP Kawin 30 Berat

22. 00543986 40 L Bekerja SMP Kawin 40 Berat

23. 00319362 24 L Bekerja SMA BlmKawin 15 Ringan

24. 00550416 41 L Bekerja SMA Kawin 25 Sedang

25. 00506186 39 L Bekerja SD Kawin 16 Ringan

26. 00488181 68 L Tdkbekerja SMA Kawin 30 Berat

27. 00505315 26 P Bekerja SMA Blmkawin 25 Sedang

28. 00496884 32 P TdkBekerja SMA Kawin 25 Sedang

29. 00543793 25 L Bekerja PT Blmkawin 30 Berat

30. 00311836 37 P TdkBekerja SMP Kawin 26 sedang

31. 00533196 59 P TdkBekerja SMP Kawin 30 Berat

32. 00512993 28 P Bekerja SMA BlmKawin 26 Sedang

(66)

34. 00545498 64 L TdkBekerja SMP Kawin 35 Berat

35. 00550777 51 P Bekerja SMA Kawin 36 Berat

36. 00550913 38 L Bekerja SMA Kawin 24 Sedang

37. 00547665 48 L Bekerja SMP Kawin 25 Sedang

38. 00549083 66 L Tdkbekerja SD Kawin 40 Berat

39. 00545170 29 L Bekerja SMA Blmkawin 26 Sedang

40. 00550374 19 P TdkBekerja SMP BlmKawin 12 Tidak ada

41. 00546072 57 L Bekerja SMP Kawin 38 Berat

42. 00546835 33 P TdkBekerja SMP Kawin 22 Sedang

43. 00550926 18 L Tdkbekerja SMP BlmKawin 18 Ringan

44. 00550174 47 L Bekerja SMA Kawin 24 Sedang

45. 00543292 24 P TdkBekerja SMP BlmKawin 16 Ringan

46. 00548641 42 L Bekerja SMA Kawin 25 Sedang

47. 00529842 79 L TdkBekerja SD Kawin 43 Berat sekali

48. 00543222 23 L Bekerja SMA BlmKawin 22 Ringan

49. 00437105 18 L TdkBekerja SMP TdkKawin 12 Tidak ada

(67)

51. 00550477 52 L Bekerja SMA Kawin 17 Ringan

52. 00543198 21 P TdkBekerja SMP TdkKawin 13 Tidak ada

53. 00552061 27 P TdkBekerja SMP BlmKawin 15 Ringan

54. 00551963 33 P TdkBekerja SMP Kawin 15 Ringan

55. 00523892 58 L Bekerja SMP Kawin 30 Berat

56. 00542255 21 P TdkBekerja SMA BlmKawin 22 Sedang

57. 00537939 29 L Bekerja SMA BlmKawin 26 Sedang

58. 00001589 25 L Bekerja SMA BlmKawin 26 Sedang

59. 00551466 35 L Bekerja SMA Kawin 26 Sedang

60. 00067334 50 P Tdkbekerja SMA Kawin 38 Berat

61. 00545598 27 L Bekerja SMP BlmKawin 22 Sedang

62. 00272861 35 L Bekerja SMP Kawin 21 Sedang

63. 00552544 40 L Bekerja SMA Kawin 26 Sedang

64. 00548864 21 P Tdkbekerja SMP BlmKawin 15 Ringan

65. 00514546 23 P TdkBekerja SMA BlmKawin 15 Ringan

66. 00541648 43 L Bekerja SMA Kawin 22 Sedang

(68)

68. 00550459 18 L TdkBekerja SMP Kawin 12 Tidak ada

69. 00362832 56 L Bekerja SMA Kawin 29 Berat

70. 00002123 37 P TdkBekerja SMP Kawin 21 Sedang

71. 00101457 57 L Bekerja SMP Kawin 22 Sedang

72. 00547255 47 L Bekerja SMA Kawin 23 Sedang

73. 00544913 21 L TdkBekerja SMP BlmKawin 13 Tidak ada

74. 00489541 53 P TdkBekerja SMA Kawin 25 Sedang

75. 00553393 18 L TdkBekerja SMP BlmKawin 15 Ringan

76. 00538012 21 L TdkBekerja SMA BlmKawin 25 Sedang

77. 00553450 48 P TdkBekerja SMP Kawin 24 Sedang

78. 00553093 38 L Bekerja SMA Kawin 22 Sedang

79. 00513161 44 L Bekerja SMP Kawin 23 Sedang

80. 00553763 22 L TdkBekerja SMA BlmKawin 17 Ringan

81. 00546569 55 P TdkBekerja SMP Kawin 38 Berat

82. 00546845 19 L Tdkbekerja SMA BlmKawin 12 Tidak ada

83. 00552984 18 P Tdkbekerja SMP BlmKawin 12 Tidak ada

(69)

85. 00550914 43 L Bekerja SMP Kawin 23 Sedang

86. 00476099 30 P TdkBekerja SMP Kawin 22 Sedang

87. 00549458 53 L Bekerja SMA Kawin 36 Berat

88. 00551581 56 L Bekerja SMA Kawin 25 Sedang

89. 00553475 66 L Bekerja SMP Kawin 37 Berat

90. 00503893 75 L TdkBekerja SMA Kawin 42 Berat sekali

91. 00533988 28 L Bekerja SMA BlmKawin 12 Tidak ada

92. 00532550 79 L TdkBekerja SMP Kawin 36 Berat

93. 00553859 64 L Bekerja SMA Kawin 25 Sedang

94. 00539324 29 L Bekerja PT BlmKawin 24 Sedang

95. 00000635 45 L Bekerja SMP Kawin 22 Sedang

Figur

Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.43
Tabel  4.2
Tabel 4 2 . View in document p.44
Tabel  4.3
Tabel 4 3 . View in document p.45
Tabel  4.4
Tabel 4 4 . View in document p.45
Tabel  4.5
Tabel 4 5 . View in document p.46
Tabel  4.7
Tabel 4 7 . View in document p.48

Referensi

Memperbarui...