PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS DAN SELF-EFFICACY SISWA KELAS VII MTS SWASTA IRA MEDAN.

45 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN

BERPIKIR KRITIS MATEMATIS DAN SELF-EFFICACY SISWA MTs SWASTA IRA MEDAN

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan pada

Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh :

DINA MAULINA ADNANI

NIM : 8136171018

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCA SARJANA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

i ABSTRAK

DINA MAULINA ADNANI. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan Self-efficacy Siswa Kelas VII MTs Swasta IRA Medan. Tesis. Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan, 2015.

Tujuan penelitian ini untuk: (1) Mengetahui kepraktisan perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy siswa, (2) Mengetahui efektivitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy siswa, dan (3) Mengetahui perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy siswa. Ujicoba dilakukan pada siswa kelas VII MTs Swasta IRA Medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan menggunakan model pengembangan perangkat pembelajaran Thiagarajan, Semmel dan Semmel, yaitu model four-D yang telah dimodifikasi dan rancangan dalam ujicoba menggunakan one group pretest-postest design. Hasil pengujian menunjukkan bahwa: (1) Perangkat pembelajaran berbasis masalah praktis untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis dan self-efficacy siswa. Dapat dilihat dari komponen-komponen: (a) Keterlaksanaan pembelajaran dengan kattegori baik; (b) Respon siswa dengan kategori sangat positif; (c) kemampuan guru mengelola pembelajaran dengan kategori baik. (2) Perangkat pembelajaran berbasis masalah efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis dan self-efficacy siswa. Dapat dilihat dari komponen-komponen: (a) aktivitas siswa berada pada kriteria batasan keefektifan pembelajaran; (b) kemampuan guru mengelola pembelajaran berada pada kriteria batasan keefektifan dan (c) respon siswa berada diatas 80 %. (b) Ketuntasan belajar siswa secara Klasikal adalah 83,33% siswa yang mengikuti pembelajaran mampu mencapai skor >75. (3) Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis dan self-efficacy dengan menggunakan Perangkat pembelajaran berbasis masalah. Untuk nilai rerata kemampuan berpikir kritis matematis meningkat dari 2,71 menjadi 3,00 dan nilai rerata self-efficacy meningkat dari 3,21 menjadi 3,32.

(7)

ii ABSTRACT

DINA MAULINA ADNANI. The development of Problem Based Learning Tool for Enhancing Critical Thinking Ability Mathematical and Self-efficacy of MTs of Swasta IRA Medan. Thesis. Education Mathematics Graduate Program, State University of Medan, 2015.

The purpose of this study was to: (1) Determine the practicality of learning tools developed with problem based learning model to enhance the critical thinking skills of mathematical and Self-efficacy of students, (2) Determine the effectiveness of learning tools developed with problem based learning model to improve critical thinking skills mathematical and Self-efficacy of students, and (3) Knowing the developed learning tools can enhance critical thinking skills and self-efficacy mathematical students. Experiments conducted on students of class VII MTs of Private IRA Medan. This type of research is the development of research development model learning device Thiagarajan, Semmel and Semmel, the four-D models that have been modified and the design of the trials using a one-group pretest-posttest design. The results show that: (1) The practical problem-based learning to improve critical thinking skills and self-efficacy mathematical students. Can be seen from the components: (a) Keterlaksanaan kattegori good learning; (b) The response of students categorized as very positive; (c) the ability of teachers to manage learning in both categories. (2) The effective problem-based learning to improve critical thinking skills and self-efficacy mathematical students. Can be seen from the components: (a) the activity of the students are at the criteria limits the effectiveness of learning; (b) the ability of teachers to manage learning are at the limits effectiveness criteria and (c) the student's response is above 80%. (3) Classical Mastery learning students is 83.33% of students who take the learning is able to achieve a score of> 75. (3) Improvement of critical thinking skills and self-efficacy mathematically using problem-based learning device. For the average value of critical thinking skills mathematical increased from 2,71 to 3,00 and a mean value of self-efficacy increased from 3,21 into 3,32.

(8)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmatnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis dengan judul

“Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan

Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan Self-efficacy Siswa MTs Swasta IRA

Medan”.

Tesis ini ditulis dan diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh

gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) Program Studi Pendidikan Matematika, Program

Pascasarjana Universitas Negeri Medan (UNIMED). Sejak mulai persiapan sampai

selesainya penulisan tesis ini, penulis mendapatkan semangat, dorongan, dan bantuan dari

berbagai pihak dan pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus

dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu

penulis. Semoga Allah Swt memberikan balasan yang setimpal atas kebaikan tersebut.

Terima kasih dan penghargaan khususnya peneliti sampaikan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Hasratuddin, M.Pd selaku Pembimbing I dan Bapak Dr. E. Elvis

Napitupulu, MS selaku Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan

serta motivasi yang kuat dalam penyusunan tesis ini

2. Bapak Dr. Kms. M. Amin Fauzi, M.Pd, Bapak Dr. Asrin Lubis, M.Pd, dan Bapak

Dr. Edi Surya, M.Si dan selaku Narasumber yang telah banyak memberikan saran

dan masukan-masukan dalam penyempurnaan tesis ini

3. Bapak Prof. Dr. Edi Syahputra, M.Pd dan Bapak Prof. Dr. Hasratuddin, M.Pd selaku

Ketua dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana UNIMED,

serta Bapak Dapot Tua Manullang, M.Si selaku Staf Program Studi Pendidikan

(9)

iv

4. Direktur, Asisten Direktur I, II dan III beserta Staf Program Pascasarjana UNIMED

yang telah memberikan bantuan dan kesempatan kepada penulis menyelesaikan tesis

ini

5. Kepala MTs Swata IRA Medan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis

untuk melakukan penelitian lapangan.

6. Ayahanda Drs. Adnan MH., Ibunda Sri Yani,S.Pd.I, abang dan adik yang telah

memberikan rasa kasih sayang, perhatian doa, dan dukungan moril maupun materil

sejak sebelum kuliah, dalam perkuliahan hingga menyelesaikan pendidikan ini

7. Sahabat-sahabat tercinta dikmat A-1.

8. Semua pihak serta rekan-rekan satu angkatan dari Program Studi Pendidikan

Matematika yang telah banyak memberikan bantuan dan dorongan dalam

penyelesaian tesis ini.

Dengan segala kekurangan dan keterbatasan, penulis berharap semoga tesis ini

dapat memberikan sumbangan dan manfaat bagi para pembaca, sehingga dapat

memperkaya khasanan penelitian-penelitian sebelumnya, dan dapat memberi inspirasi

untuk penelitian lebih lanjut.

Medan, Agustus 2015 Penulis,

(10)

v

2.1.3 Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 26

2.1.4 Kemampuan Self-efficacy ... 33

2.1.5 Pembelajaran Berbasis Masalah ... 43

2.1.6 Keterkaitan antara Kemampuan Berpikir Kritis Matematis dan Self-efficacy dengan Pembelajaran Berbasis Masalah ... 51

2.1.7 Pengembangan Perangkat Pembelajaran ... 52

2.1.8 Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran ... 58

(11)

vi

2.1.10 Keefektifan Pembelajaran ... 74

2.1.11 Aktivitas Belajar Siswa ... 77

2.1.12 Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran ... 80

2.2Penelitian yang Relevan ... 83

2.3Kerangka Konseptual ... 85

2.4Definisi Operasional ... 90

BAB. III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 92

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 92

3.3 Subyek dan Objek Penelitian... 93

3.4 Prosedur dan Rancangan Penelitian ... 93

3.4.1 Prosedur Penelitian ... 93

3.4.2 Rancangan Uji coba ...101

3.5 Instrument dan Teknik Pengumpulan Data ...102

3.6 Analisis Data ...115

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ...128

(12)

vii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Tahapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah ... 50

Tabel 2.2 Indikator Kemampuan guru mengelola Pembelajaran ... 82

Tabel 3.1 Kisi-kisiLembarValidasi RPP ... 104

Tabel 3.2 Kisi-kisiLembarValidasi Buku Siswa ... 105

Tabel 3.3 Kisi-kisiLembarValidasi LKS ... 107

Tabel 3.4 Kisi-kisiInstrumen Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 109

Tabel 3.5 Rubrik Penilaian Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 109

Tabel 3.6 Kisi-kisi Instrumen Self-efficacy ... 110

Tabel 3.7 Skor Alternatif Jawaban Skala Self-efficacy ... 111

Tabel 3.8 Kategorisasi Penilaian Angket Self-efficacy ... 111

Tabel 3.9 Rangkuman Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran ... 116

Tabel 3.10 Validasi Tes Kemampuan Berpikir Kritis ... 119

Tabel 3.11 Validitas Pernyataan Kemampuan Self-efficacy ... 120

Tabel 3.12 Kriteria Pencapaian Waktu Ideal Aktivitas Siswa ... 123

Tabel 3.13 Pedoman Penskoran Angket Respon Siswa ... 124

Tabel 3.14 Kriteria Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran ... 125

Tabel 3.15 Kriteria Nilai Ketuntasan ... 126

Tabel 4.1 Sub Topik danJenis Kegiatan Setiap Pertemuan ... 132

Tabel 4.2 Sub Topik danTujuan Pembelajaran Setiap Pertemuan ... 133

Tabel 4.3 Media dan Alat Bantu Pembelajaran Materi Aritmatika Sosial ... 134

Tabel 4.4 Daftar Nama Validator ... 142

Tabel 4.5 Hasil Validasi Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 145

Tabel 4.6 Hasil Validasi Angket Self-efficacy ... 145

(13)

viii

Ujicoba I ... 149

Tabel 4.9 Tingkat Pencapaian Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa pada Hasil Postes Ujicoba I ... 150

Tabel 4.10 Tingkat Ketuntasan Klasikal Kemampuan Berpikir Kritis Matematis pada Ujicoba I ... 151

Tabel 4.11 Deskripsi Hasil Angket Self-efficacy Siswa pada Ujicoba I ... 152

Tabel 4.12 Kategori Angket Self-efficacy Siswa pada Ujicoba I ... 152

Tabel 4.13 Hasil Analisis Data Angket Respon Siswa pada Ujicoba I ... 154

Tabel 4.14 Persentase Aktivitas Siswa pada Ujicoba I ... 156

Tabel 4.15 Hasil Analisis Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Ujicoba I ... 160

Tabel 4.16 Revisi Buku Siswa ... 164

Tabel 4.17 Deskripsi Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa pada Ujicoba II ... 165

Tabel 4.18 Tingkat PenguasaanKemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa pada Hasil Postes Ujicoba II ... 166

Tabel 4.19 Tingkat Ketuntasan Klasikal Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa pada Ujicoba II ... 167

Tabel 4.20 Deskripsi Hasil Angket Self-efficacy Siswa pada Ujicoba II ... 168

Tabel 4.21 Kategori Angket Self-efficacy Siswa pada Ujicoba II ... 168

Tabel 4.22 Hasil Analisis Data Angket Respon Siswa ... 170

Tabel 4.23 Persentasi Aktivitas Siswa pada Ujicoba II ... 173

(14)

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Tahapan Pendefinisian dalam Model 4-D ... 62

Gambar 2.2 Tahapan Perancangan dalam Model 4-D ... 63

Gambar 2.3 Tahapan Pengembangan dalam Model 4-D ... 64

Gambar 2.4 Tahapan Penyebaran dalam Model 4-D ... 65

Gambar 3.1 Bagan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model 4-D ... 94

Gambar 4.1 Cover Buku Siswa ... 137

Gambar 4.2 Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar ... 138

Gambar 4.4 Peta Konsep Aritmatika Sosial ... 139

(15)

x

DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1 Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Matematis pada

Hasil Postes Ujicoba I ... 150

Diagram 4.2 Persentasi Ketuntasan Klasikal Kemampuan Berpikir

Kritis Matematis pada Ujicoba I ... 151

Diagram 4.3 Diagram Persentasi Aktivitas Siswa pada Ujicoba I ... 159 Diagram 4.4 Diagram Nilai Rerata Kemampuan Guru Mengelola

Pembelajaran pada Ujicoba I ... 161

Diagram 4.5 Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa

pada Hasil Postes Ujicoba II ... 166

Diagram 4.6 Persentasi Ketuntasan Klasikal Kemampuan Berpikir

Kritis Matematis Siswa pada Ujicoba II ... 167

Diagram 4.7 Diagram Persentasi Aktivitas Siswa pada Ujicoba II ... 175 Diagram 4.8 Diagram Nilai Rerata Kemampuan Guru Mengelola

(16)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I. Perangkat Pembelajaran

A. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 194

B. Buku Siswa (BS) ... 210

C. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) ... 231

D. Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis ... 245

a. Kisi-kisi Tes Hasil Belajar ... 245

b. Soal Tes Hasil Belajar ... 246

c. Pedoman Penskoran Tes Hasil Belajar ... 248

E. Angket Self-efficacy ... 250

a. Kisi-kisi Tes Hasil Belajar ... 250

b. Soal Tes Hasil Belajar ... 251

Lampiran II. Hasil Validasi dan Nama Validator A. Hasil Validasi RPP ... 252

B. Hasil Validasi BAS ... 253

C. Hasil Validasi LKS ... 254

D. Hasil Validasi Tes Berpikir Kritis Matematis ... 255

E. Hasil Validasi Angket Self-efficacy ... 255

F. Nama-nama Validator ... 256

Lampiran III. Hasil Ujicoba Instrumen A. Reliabilitas Soal Tes Berpikir Kritis Matematis ... 258

B. Reliabilitas Angket Self-efficacy ... 260

C. Temuan Hasil Pengamatan Pra Penelitian Keterkaitan Perangkat Pembelajaran ... 262

D. Temuan Hasil Pengamatan Penelitian Keterkaitan Perangkat Pembelajaran ... 265

Lampiran IV. Data Hasil Ujicoba I A. Data Hasil Postes Berpikir Kritis Matematis ... 267

B. Data Hasil Angket Self-efficacy ... 269

(17)

xii Lampiran V. Data Hasil Ujicoba II

A. Data Hasil Postes Berpikir Kritis Matematis ... 271

B. Data Hasil Angket Self-efficacy ... 273

C. Data Hasil Angket Respon Siswa ... 274

D. Rekapitulasi Hasil Keterbacaan ... 275

(18)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan

yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM)

yang mampu bersaing di era global. Sumber Daya Manusia yang bermutu

merupakan faktor penting dalam pembangunan di era globalisasi saat ini.

Pengalaman di banyak negara menunjukkan, sumber daya manusia yang bermutu

lebih penting dari pada sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya manusia

yang bermutu adalah sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu

pengetahuan dan teknologi guna memenuhi kebutuhannya dan menjawab berbagai

tantangan yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat yang dinamis.

Masykur dan Fathani (2007:43) mengatakan bahwa, Ilmu pengetahuan dan

teknologi tentunya akan semakin terus berkembang, untuk itu jika kita tidak ingin

ketinggalan dibanding negara lain maka penguasaan matematika yang kuat sejak

dini merupakan suatu solusinya, sebab matematika merupakan ilmu universal

yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peranan penting

dalam berbagai disiplin ilmu dan mengembangkan daya pikir manusia.

Sejalan dengan pendapat di atas, Wheatley (1991:7) menyatakan bahwa,

Mathematics is the key to opportunity.” Matematika adalah kunci ke arah

peluang-peluang. Bagi seorang siswa, keberhasilan mempelajari matematika akan

membuka pintu karir yang cemerlang. Bagi para warganegara, matematika akan

menunjang pengambilan keputusan yang tepat. Bagi suatu negara, matematika

(19)

2

akan menyiapkan warganya untuk bersaing dan berkompetisi di bidang ekonomi

dan teknologi. Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa matematika menyatu

dengan pola kehidupan manusia, atau matematika adalah bagian dari hidup

manusia, sehingga matematika sangat dibutuhkan dalam setiap kegiatan

sehari-hari.

Pentingnya penguasaan matematika bagi peserta didik tidak sejalan dengan

kualitas penguasaan atas matematika. Hasil belajar matematika siswa sampai saat

ini masih jauh dari yang diharapkan, seperti yang diungkapkan oleh Hadi

(2005:10) walaupun sekolah-sekolah di tanah air sudah mempunyai pengalaman

cukup lama dalam menerapkan mata pelajaran matematika ternyata hasil yang

dicapai masih jauh dari memuaskan. Selanjutnya Hasratuddin (2013:119)

mengungkapkan bahwa dilihat dari hasil belajar matematika siswa tingkat Sekolah

Dasar sampai Sekolah Lanjut Tingkat Atas selalu di bawah bidang studi lain.

Pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan Nasional telah berupaya

untuk meningkatkan kualitas pendidikan salah satunya pendidikan matematika,

baik melalui peningkatan kualitas guru matematika melalui penataran-penataran,

maupun peningkatan prestasi belajar siswa melalui peningkatan standar minimal

nilai Ujian Nasional untuk kelulusan pada mata pelajaran matematika. Fenomena

tersebut dapat dilihat dari berbagai indikator hasil belajar antara lain ditunjukkan

dengan rendahnya prestasi siswa pada skala internasional seperti yang dilaporkan

oleh Trends in Internasional Mathematics and Science Study (TIMSS, 1999) dan

temuan sejumlah penelitian. TIMSS melaporkan bahwa peringkat matematika

(20)

3

peserta, tahun 2003 peringkat 34 dari 45 peserta, serta pada tahun 2007 Indonesia

berada pada urutan ke 36 dari 48 negara dengan skor 397. Data ini menunjukkan

bahwa siswa kita kurang mampu menyelesaikan masalah matematika (TIMSS,

2007).

Rendahnya prestasi matematika juga terjadi di MTs Swasta IRA Medan

yang akan menjadi tempat penelitian berlangsung. Hal ini tercermin dari hasil try

out UAN pada 25-27 Februari 2013 yang diadakan oleh BT/BS BIMA. Terlihat

bahwa dari 58 siswa kelas IX peserta try out, hanya 2 orang yang mendapat nilai

5,00 dan selebihnya dengan nilai rata-rata 3,84.

Mempelajari matematika berkaitan erat dengan aktivitas dan proses berpikir.

Hal tersebut bertalian erat dengan karakteristik matematika sebagai suatu ilmu dan

human activity (Freudenthal, 1973:35) yaitu bahwa matematika adalah pola

berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logis. Aktivitas dan proses

berpikir akan terjadi apabila seorang individu berhadapan dengan suatu situasi

atau masalah yang mendesak dan menantang serta dapat memicunya untuk

berpikir agar diperoleh kejelasan dan solusi atau jawaban terhadap masalah yang

dimunculkan dalam situasi yang dihadapinya.

Mengajarkan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dipandang

sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dikembangkan di sekolah agar siswa

mampu dan terbiasa menghadapi berbagai permasalahan di sekitarnya. Menurut

Fachrurazi (2011:77) penguasaan kemampuan berpikir kritis tidak cukup

dijadikan sebagai tujuan pendidikan semata, tetapi juga sebagai proses

(21)

4

masa mendatang di lingkungannya. Untuk itu dalam proses belajar mengajar guru

tidak boleh mengabaikan penguasaan kemampuan berpikir kritis siswa.

Orang yang berpikir kritis matematis akan cenderung memiliki sikap yang

positif terhadap matematika, sehingga akan berusaha menalar dan mencari strategi

penyelesaian masalah matematika. Sabandar (2005:45) menyatakan bahwa

berpikir kritis matematis adalah kemampuan untuk melibatkan pengetahuan

sebelumnya, penalaran matematis, strategi kognitif untuk menggeneralisasi,

membuktikan, dan mengevaluasi situasi matematis.

Menurut Sabandar (2006:34), berpikir kritis matematis merupakan dasar

dari tiga pola berpikir tingkat tinggi yang lainnya seperti berpikir kreatif, logis dan

reflektif dimana berpikir kritis matematis perlu dikuasai terlebih dahulu untuk

mencapai kemampuan-kemampuan berpikir lainnya. Oleh karena itu,

keterampilan berpikir kritis matematis sangat penting bagi siswa karena dengan

keterampilan ini siswa mampu bersikap rasional dan memilih alternatif pilihan

yang terbaik bagi dirinya.

Namun kebiasan berpikir kritis ini belum ditradisikan di sekolah-sekolah.

Seperti yang diungkapkan kritikus Jacqueline dan Brooks (Santrock, 2007:19),

sedikit sekolah yang mengajarkan siswanya berpikir kritis. Sekolah justru

mendorong siswa memberi jawaban yang benar daripada mendorong mereka

memunculkan ide-ide baru atau memikirkan ulang kesimpulan-kesimpulan yang

sudah ada. Terlalu sering para guru meminta siswa untuk menceritakan kembali,

mendefinisikan, mendeskripsikan, menguraikan, dan mendaftar daripada

(22)

5

menciptakan, mengevalusi, memikirkan dan memikirkan ulang. Akibatnya banyak

sekolah meluluskan siswa-siswa yang berpikir secara dangkal, hanya berdiri di

permukaan persoalan, bukannya siswa-siswa yang mampu berpikir secara

mendalam.

Berdasarkan fakta dari penelitian awal yang dilakukan oleh peneliti di

MTs Swasta IRA Medan kelas VII (3-4 November 2014), diperoleh informasi

bahwa hasil tes berpikir kritis matematis siswa terhadap 30 orang siswa, yang

dilakukan oleh peneliti masih tergolong rendah. Nilai rata-rata kemampuan

berpikir kritis matematis siswa MTs hanya 60 kalau dalam skala 0-100, nilai ini

dalam kategori kurang. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis matematis

siswa tingkat MTs masih belum memuaskan, dimana diberikan soal berpikir kritis

matematis pada materi Aritmatika Sosial sebagai berikut :

“Sebuah toko elektronik memberikan diskon sebesar 10% untuk semua jenis barang jika dibayar secara tunai. Iwan melihat harga jam tangan sebelum diskon di etalase seharga Rp75.000,- dan dikenakan pajak penjualan sebesar 5%. Iwan ingin membeli jam tangan tersebut tetapi dia hanya mempunyai uang sebesar Rp65.000,-. Cukupkah uang Iwan untuk membeli jam tangan tersebut?”.

Dari penelitian awal yang dilakukan peneliti, diperoleh indikator

kemampuan berpikir kritis untuk 30 siswa terdapat; hanya 3 siswa yang mampu

mengidentifikasi (menjelaskan konsep), 2 siswa yang mampu menggeneralisasi

(menghubungkan konsep), 2 orang siswa yang mampu menganalisis (memeriksa

dan mengevaluasi), dan 1 siswa yang mampu memecahkan masalah.

Permasalahan mengenai kurangnya kemampuan berpikir kritis siswa pada soal di

(23)

6

Gambar 1.1 Proses jawaban tes berpikir kritis matematis siswa

Dari hasil yang diperoleh, gambar 1.1 menunjukkan bahwa siswa

mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi (menjelaskan konsep) yang

diketahui dan unsur-unsur yang ditanya, menggeneralisasi (menghubungkan

konsep) yang diketahui dari soal tersebut, analisis (memeriksa dan mengevaluasi)

yang digunakan siswa tidak terarah dan menggunakan strategi yang salah untuk

menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan

berpikir kritis matematis siswa MTs Swasta IRA masih rendah.

Selain kemampuan berpikir kritis matematis, fokus penelitian lainnya

merupakan salah satu aspek keaktifan yaitu Self-efficacy. Bandura (2006:24)

mendefinisikan Self-efficacy sebagai keyakinan orang tentang kemampuan mereka

untuk menghasilkan tingkat kinerja yang ditunjuk sebagai latihan atas peristiwa

yang mempengaruhi kehidupan mereka. Kemampuan tersebut diukur berdasarkan

level (tingkat kesulitan masalah), strength (ketahanan) dalam menyelesaikan

masalah, generality (keluasaan) bidang masalah yang diberikan.

Individu dengan self-efficacy tinggi memiliki komitmen dalam

(24)

7

strategi yang dilakukan itu tidak berhasil. Menurut Bandura (1997:131), individu

yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi

tantangan. Individu tidak merasa ragu karena ia memiliki kepercayaan yang penuh

dengan kemampuan dirinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa individu dengan

self-efficacy tinggi berarti juga memiliki kemampuan berpikir kritis.

Ungkapan diatas diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan Pajares

(1997:11) melaporkan bahwa dengan self-efficacy yang tinggi, maka pada

umumnya seorang siswa akan lebih mudah dan berhasil melampaui latihan-latihan

matematika yang diberikan kepadanya, sehingga hasil akhir dari pembelajaran

tersebut yang tercermin dalam prestasi akademiknya juga cenderung akan lebih

tinggi dibandingkan siswa yang memiliki self-efficacy rendah. Self-efficacy yang

tinggi juga akan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa, sebab rasa

kepercayaan yang penuh dalam menyelesaikan masalah dan cepat menghadapi

masalah salah satu cara menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain

itu menurut Pajares (2002:12) self-efficacy juga dapat membuat seseorang lebih

mudah dan lebih merasa mampu untuk mengerjakan soal-soal matematika yang

dihadapinya, bahkan soal matematika yang lebih rumit atau spesifik sekalipun.

Pajares (2002:13) mengungkapkan bahwa gambaran lain mengenai

peranan self-efficacy bagi seorang siswa misalnya, akibat metode mengajar

dengan hanya berpatok pada teori dan pembelajaran di kelas, tidak jarang

membuat siswa merasa cepat bosan ketika diberikan materi pelajaran. Akibatnya

motivasi untuk lebih mengerti dan menguasai materi matematika itu sendiri

(25)

8

untuk dipelajari karena tercantum dalam kurikulum akademik, tanpa ada

pemaknaan lebih dalam lagi tentang matematika itu sendiri serta manfaatnya

dalam kehidupan sehari-hari. Selain kurangnya motivasi dari dalam diri siswa,

pengalaman-pengalaman terdahulu yang kurang menyenangkan dari proses

pembelajaran matematika yaitu kurangnya dorongan kepada siswa untuk

memunculkan ide-ide baru atau menumbuhkan kemampuan berpikir kritis

matematis, baik dialami oleh siswa secara langsung maupun tidak langsung, juga

mempengaruhi persepsi siswa tentang pelajaran matematika. Jika siswa

berpendapat tidak menyenangi matematika, maka siswa akan menjadi enggan

untuk mempelajari matematika lebih giat dan memiliki prestasi yang lebih tinggi.

Mengingat pentingnya self-efficacy siswa, maka hendaknya self-efficacy

ini ditumbuhkembangkan pada diri siswa. Ketercapaian self-efficacy matematika

siswa dapat diketahui dengan melakukan observasi proses pembelajaran

matematika dan skala self-efficacy, disini peneliti melihat ketercapaian

self-efficacy siswa dengan skala self-efficacy. Self-efficacy siswa dalam penelitian ini

diartikan sebagai kepercayaan diri siswa terhadap kemampuannya dalam

merepresentasikan dan memecahkan suatu masalah matematika. Artinya ketika

siswa diberikan suatu masalah matematika ia dapat menyatakan/meyakini dirinya

tentang kemampuannya dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Dari pernyataan di atas, maka dugaan sementara bahwa rendahnya tingkat

kemampuan berpikir kritis matematis dan kurangnya self-efficacy siswa, tidak

terlepas dari dan bagaimana guru mengajar serta minat dan respon siswa terhadap

(26)

9

IRA Medan (26 November 2014), baik selama proses pembelajaran maupun

perbincangan di luar kelas, diketahui bahwa siswa menganggap mata pelajaran

matematika merupakan mata pelajaran yang kurang disenangi siswa, matematika

merupakan pelajaran yang sulit dalam menyelesaikan soal-soal berbentuk masalah

yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Siswa memberikan alasan bahwa

soal-soal tersebut tidak sama yang diajarkan guru saat belajar di kelas, sehingga

siswa kurang berminat dan termotivasi untuk belajar matematika.

Hasil pengamatan awal peneliti terhadap aktivitas belajar siswa di kelas

VII MTs swasta IRA (26 November 2014), terlihat siswa hanya menjadi

pendengar saja, sedikit tanya jawab, mencatat dari papan tulis, mengerjakan

latihan yang diberikan guru dan hasilnya ditulis di papan tulis serta jawaban siswa

yang benar diterima saja tanpa ada penjelasan terhadap hasil yang diperoleh

kepada teman lain.

Pengamatan (26 November 2014) juga dilakukan terhadap guru (Asrar

Aspia manurung) dalam melakukan proses pembelajaran, terlihat bahwa guru

menyampaikan materi yang ada dalam buku paket, memberikan informasi

pengertian konsep secara langsung dengan cara mendiktekan kepada siswa,

memberikan contoh penerapan rumus-rumus matematika, mengerjakan

latihan-latihan dan langkah-langkah penyelesaian soal serta kurang mengaitkan fakta real

dalam kehidupan nyata dengan persoalan kehidupan nyata dengan persoalan

matematika. Pembelajaran yang terjadi di kelas cenderung berpusat pada guru

(27)

10

dari siswa sendiri serta tidak melatih siswa untuk memecahkan masalah

matematika secara matematis.

Selain fenomena-fenomena di atas, peneliti juga mendapati bahwa guru

yang mengajar matematika di sekolah tersebut menggunakan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) dengan model atau pendekatan-pendekatan pembelajaran

yang inovatif (yang tertulis di RPP) namun belum diimplementasikan dengan baik

dan benar, akibatnya proses pembelajaran masih tetap berorientasi pada guru

tersebut. Kemampuan guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran dan

mengimplementasikannya perlu ditingkatkan demi perubahan yang lebih baik

terhadap hasil ataupun prestasi belajar siswa.

Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan

kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy siswa adalah pembelajaran

berbasis masalah (PBM). Dalam PBM siswa dituntut untuk bertanya dan

mengemukakan pendapat, menemukan informasi yang relevan dari sumber yang

tersembunyi, mencari berbagai cara (alternatif) untuk mendapatkan solusi, dan

menemukan cara yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah. Hal ini sesuai

dengan pendapat Arends (1997:33) yang menyatakan bahwa:

Pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir kritis, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri.

Trianto (2009: 94) menyatakan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah

(problem-based instruction) memiliki tujuan: 1) membantu siswa

(28)

11

belajar peranan orang dewasa yang otentik, dan 3) menjadi pelajar yang mandiri.

Berdasarkan ke dua pendapat di atas, jelaslah bahwa dalam pembelajaran

berbasis masalah siswa mampu mengembangkan keterampilan berpikir dan

memecahkan masalah, sehingga siswa itu dengan sendirinya dapat menemukan

bagaimana konsep itu terbentuk, dan pada akhirnya siswa dapat menggunakan

dan mengingat lebih lama konsep tersebut.

Untuk mendukung proses pembelajaran yang mengaktifkan siswa maka

salah satu cara adalah menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.

Menurut Nur, M. (2008:54) menyatakan, Pembelajaran Berbasis Masalah

merupakan suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata

sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan kreatif,

keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan

konsep yang esensial dari materi pelajaran. Berarti apabila siswa menggunakan

model PBM pada proses belajar mengajar salah satu karakteristiknya adalah

masalah ditemukan terlebih dahulu.

Hal ini didukung oleh teori Bruner berpendapat dalam Nur M. (2000:30)

bahwa seorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang

dipelajari. Murid membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan

ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Selain itu, pembelajaran didasarkan kepada

merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan

kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan. Hal ini berbeda

dengan proses belajar mengajar yang biasa dilakukan pada umumnya yaitu

(29)

12

Penggunaan masalah-masalah kontekstual dalam model pembelajaran

berbasis masalah menjadikan pembelajaran tersebut lebih bermakna. Ibrahim dan

Nur M. (2008:30) menyampaikan bahwa dalam pembelajaran berbasis masalah

merupakan model belajar yang mengorgansisasikan pembelajaran di sekitar

pertanyaan dan masalah, melalui pengajuan situasi kehidupan nyata yang otentik

dan bermakna, yang mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri,

dengan menghindari jawaban sederhana, serta memungkinkan adanya berbagai

macam solusi dari situasi tersebut.

Dalam penerapan model PBM ini, siswa tidak hanya melakukan kegiatan

kognitif saja tapi secara bersama-sama mereka mengembangkan kemampuan

afektif dan psikomotornya. Jadi dengan menerapkan Model PBM, siswa akan

lebih bebas dalam menuangkan ide-idenya tanpa ada ketakutan akan kesalahan

dari apa yang dibuat. Selain itu, dari sintaks model PBM yang dikemukakan

Ibrahim dan Nur (2000:13) yaitu proses orientasi, mengorganisasi, membimbing

penyelidikan, mengembangkan dan menyajikan hasil, menganalisis dan

mengevaluasi. Terlihat bahwa dari sintaks model PBM berkaitan dengan indikator

kemampuan berpikir kritis yang ingin dicapai berupa: mengidentifikasi,

menggeneralisasi, menganalisis dan memecahkan masalah . Sehingga jelas bahwa

model PBM dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Berdasarkan Teori Perkembangan Kognitif Piaget (Nur M., 2008:40), anak

usia SMP (12-15 tahun) belum sepenuhnya dapat berpikir abstrak, dalam

pembelajarannya kehadiran benda-benda konkrit masih diperlukan. Meski begitu

(30)

13

ini, anak sudah mulai dapat menangkap maksud dari suatu permasalahan secara

lebih jelas, mempertimbangkan, mengajukan dugaan, dan menganalisa secara

sederhana keterkaitan antar subjek permasalahan. Di sinilah peran berpikir kritis

bagi anak usia SMP tersebut, yang dalam hal ini mengacu pada pendapat Piaget

(mengenai ciri-ciri kemampuan kognitif anak pada level SMP), telah dapat

diterapkan.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 41 (2007:134)

mengemukakan bahwa Sumber belajar adalah segala sesuatu yang mengandung

pesan, baik yang sengaja dikembangkan atau yang dapat dimanfaatkan untuk

memberikan pengalaman dan praktik yang memungkinkan terjadinya belajar.

Sumber belajar dapat berupa narasumber, buku, media non-buku, teknik dan

lingkungan. Buku ajar untuk siswa, buku pedoman guru dan lembar kegiatan

siswa merupakan sumber belajar yang harus ada agar kegiatan pembelajaran dapat

berlangsung sebagaimana yang diharapkan.

Dapat disimpulkan bahwa, salah satu sumber belajar yang dibutuhkan

adalah buku pelajaran yang mendukung peningkatan prestasi matematika siswa.

Khususnya tentang kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy siswa

diperlukan perangkat pembelajaran melalui model pembelajaran berbasis masalah.

Walaupun buku ajar ini dibutuhkan tetapi pada kenyataannya perangkat

pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis dan

Self-efficacy siswa masih sedikit dan jarang ditemukan.

Oleh karena itu, guru yang profesional harus mampu meramu, merancang

(31)

14

proses belajar. Misalnya dengan penggunaan media gambar dalam

mendeskripsikan konsep matematika, di samping akan mengkonkritkan materi

matematika yang bersifat abstrak, juga dapat menambah daya penguatan

(inforcement) serta dapat membangkitkan keinginan dan minat baru serta

rangsangan belajar (Hamalik,2003:43).

Suhadi (2007:24) mengemukakan bahwa “Perangkat pembelajaran adalah

sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan digunakan dalam

proses pembelajaran.” Dari uraian tersebut dapatlah dikemukanan bahwa

perangkat pembelajaran merupakan sekumpulan media atau sarana yang

digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Adapun

serangkaian perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan seorang guru dalam

menghadapi pembelajaran di kelas berupa : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP), Buku Siswa (BS) dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Perangkat pembelajaran

itu harus lengkap dan bagus dimiliki seorang guru sehingga dalam melakukan

proses pembelajaran, diharapkan proses pembelajaran akan berjalan secara

maksimal.

Selanjutnya Suhadi (2007:25) mengemukakan bahwa, pembelajaran

matematika yang menggunakan perangkat pembelajaran yang menarik akan

membantu siswa dalam mengerjakan atau menganalisa persoalan yang ada.

Selama itu, kita ketahui bahwa dalam pembelajaran matematika di kelas bersifat

konvesional. Kegiatan pembelajaran lebih didominasi oleh guru, tetapi dengan

menggunakan perangkat pembelajaran yang telah dirancang dengan menarik,

(32)

15

Pernyataan ini diperkuat oleh Hamalik (2003:77), ia mengemukakan

bahwa pemakaian perangkat pembelajaran yang menarik dalam proses belajar

mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan

motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa

pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap

orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran

dan penyampaian pesan dan pelajaran pada saat itu. Selain membangkitkan

motivasi dan minat siswa, perangkat pembelajaran juga dapat meningkatkan

kemampuan berpikir kritis, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya,

memudahkan penafsiran data, dan mendapatkan informasi yang lebih banyak.

Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti mencoba mengembangkan perangkat

pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis

matematis dan self-efficacy.

Berdasarkan Teori Perkembangan Kognitif Piaget, anak usia SMP (12-15

tahun) belum sepenuhnya dapat berpikir abstrak, dalam pembelajarannya

kehadiran benda-benda konkrit masih diperlukan. Meski begitu harus pula mulai

dikenalkan benda-benda semi konkrit. Namun pada level SMP ini, anak sudah

mulai dapat menangkap maksud dari suatu permasalahan secara lebih jelas,

mempertimbangkan, mengajukan dugaan, dan menganalisa secara sederhana

keterkaitan antar subjek permasalahan. Di sinilah peran berpikir kritis bagi anak

usia SMP tersebut, yang dalam hal ini mengacu pada pendapat Piaget (mengenai

(33)

16

Sehingga untuk mengukur kemampuan berpikir kritis matematis siswa,

pada penelitian ini dikembangkan perangkat pembelajaran berbasis masalah pada

materi aritmatika sosial untuk siswa kelas VII SMP/MTs, yang meliputi Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Buku Siswa (BS), Lembar Kerja Siswa (LKS)

dan soal tes kemampuan berpikir kritis matematis dan self-efficacy.

Hal ini yang membangkitkan semangat penulis untuk melakukan

penelitian tersebut, yaitu untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis

matematis dan self-efficacy siswa. Dengan mengembangkan perangkat

pembelajaran matematika yang sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang

ada serta tuntutan era globalisasi dan kurikulum, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian yang berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis

Matematis dan Self-Efficacy Siswa MTs Swasta IRA Medan Tahun Ajaran

2014/2015.

1.2. Identifikasi Masalah

1.2.1 Perangkat pembelajaran matematika masih kurang maksimal. Tidak

adanya perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model

pembelajaran berbasis masalah yang dapat mengaktifkan siswa dalam

proses pembelajaran.

1.2.2 Sulitnya guru membuat perangkat pembelajaran berbasis masalah.

1.2.3 Kurang efektif guru dan siswa dalam menerapkan perangkat Pembelajaran

(34)

17

1.2.4 Penggunaan model pembelajaran yang tidak tepat dengan karakteristik

materi pelajaran dan metode mengajar, model atau pendekatan yang

kurang bervariasi.

1.2.5 Siswa mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang

membutuhkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

1.2.6 Kemampuan self-efficacy siswa terhadap masalah selengkapnya masih

rendah.

1.2.7 Pembelajaran yang terlaksana adalah pembelajaran yang berpusat pada

guru, guru mendominasi pembelajaran sehingga keterlibatan siswa dalam

proses pembelajaran masih sangat kurang.

1.2.8 Guru menggunakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan

model atau pendekatan-pendekatan pembelajaran yang inovatif (yang

tertulis di RPP) namun belum di implementasikan dengan baik dan benar.

1.2.9 Aktivitas siswa dalam belajar matematika masih pasif.

1.2.10 Kurangnya respon siswa pada saat pembelajaran di kelas.

1.2.11 Sebagian besar kemampuan guru mengelola pembelajaran belum sesuai

dengan harapan.

1.3. Batasan Masalah

Berbagai masalah yang terindentifikasi di atas merupakan masalah yang cukup

luas dan kompleks, serta cakupan materi matematika yang sangat banyak. Agar

penelitian ini lebih fokus, maka masalah yang mendesak untuk ditemukan

solusinya melalui penelitian ini adalah :

(35)

18

penelitian adalah siswa kelas VII semester II Tahun Pelajaran 2014/2015.

1.3.2 Perangkat yang dikembangkan berupa Rancangan Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP), Buku Siswa (BS), dan Lembar Kegiatan Siswa

(LKS).

1.3.3 Model Pembelajaran berbasis masalah (PBM)

1.3.4 Kemampuan berpikir kritis pada siswa MTs Swasta IRA Medan.

1.3.5 Kemampuan Self-efficacy pada siswa MTs Swasta IRA Medan.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka rumusan masalah yang

dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.4.1 Bagaimana kepraktisan perangkat pembelajaran berbasis masalah yang

dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis

dan Self-efficacy?

1.4.2 Bagaimana efektivitas perangkat pembelajaran berbasis masalah yang

dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis

dan Self-efficacy?

1.4.3 Bagaimana perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat

meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy

siswa MTs Swasta IRA?

1.5.Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang

(36)

19

kemampuan berpikir kritis dan self-efficacy siswa MTs Swasta IRA. Sedangkan

secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk :

1.5.1 Mengetahui kepraktisan perangkat pembelajaran yang dikembangkan

dengan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan

kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy siswa.

1.5.2 Mengetahui efektivitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan

dengan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan

kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy siswa.

1.5.3 Mengetahui perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat

meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy

siswa.

1.6.Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan temuan-temuan yang

menjadi masukan berarti bagi pembaharuan kegiatan pembelajaran khususnya

dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis dan Self-efficacy

matematika siswa, selain itu penelitian diharapkan juga dapat memberikan

sumbangan sebagai berikut :

1.6.1 Manfaat bagi Kepala Sekolah

Memperoleh informasi sebagai masukan dalam upaya mengefektifkan

pembinaan para guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

matematika.

(37)

20

Memberikan informasi tentang dukungan model Pembelajaran Berbasis

Masalah dalam meningkatkan kemampuan berpir kritis matematis dan

self-efficacy siswa dalam proses pembelajaran matematika

1.6.3 Manfaat bagi siswa

Diharapkan dapat memperluas wawasan siswa tentang cara belajar

matematika untuk meningkatkan kemampuan matematikanya, khususnya

dalam memahami materi Aritmatika Sosial, sehingga siswa berperan aktif

dalam belajar matematika dibawah bimbingan guru sebagai fasilitator.

1.6.4 Manfaat bagi peneliti

(38)

187

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini,

dikemukakan beberapa simpulan sebagai berikut:

1. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria praktis

ditinjau dari kriteria keterlaksanaan pembelajaran, respon siswa dan

kemampuan guru mengelola pembelajaran. Ketiga kriteria ini dibahas sebagai

berikut:

a. Untuk menentukan kepraktisan perangkat pembelajaran sesuai model

Pembelajaran Berbasis Masalah, peneliti meminta pertimbangan para ahli

dan guru, serta berdasarkan hasil pengamatan dua pengamat dengan

menggunakan lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran

berbasis masalah dengan pencapain keterlaksanan pada kategori tinggi.

Pada ujicoba I terdapat rerata realisasi keterlaksanaan perangkat sebesar

72,5 dengan kategori tinggi dan pada ujicoba I terdapat rerata realisasi

keterlaksanaan perangkat sebesar 88,75 dengan kategori sangat tinggi.

b. Respon siswa yaitu apabila diperoleh lebih besar atau sama dengan 80%

respon positif siswa terhadap komponen-komponen perangkat

pembelajaran dan kegiatan pembelajaran. Pada uji coba I rerata total

respon positif siswa sebesar 91,06%, sedangkan pada uji coba II rerata

total respon positif siswa sebesar 94,79% sehingga kriteria ini telah

tercapai.

(39)

188

c. Untuk keseluruhan rerata nilai kemampuan guru mengelola pembelajaran

pada setiap tahapan pembelajaran adalah 3,37 dengan kategori baik.

2. Perangkat Pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria efektif.

Kriteria efektif ditinjau dari kriteria ketercapaian ketuntasan belajar siswa,

aktivitas siswa, kemampuan guru mengelola pembelajaran dan respon siswa.

Keempat kriteria ini dibahas sebagai berikut:

a. Ketercapaian ketuntasan belajar siswa yaitu apabila lebih dari atau sama

dengan 85% siswa dinyatakan telah memiliki kemampuan berpikir kritis

dengan skor rerata paling kecil 2,67 (kategori tuntas). Pada uji coba 1

terdapat 13 siswa tuntas (43,33%) sedangkan pada uji coba 2 terdapat 27

siswa tuntas (90%) sehingga kriteria ini telah tercapai.

b. Respon siswa yaitu apabila diperoleh lebih besar atau sama dengan 80%

respon positif siswa terhadap komponen-komponen perangkat

pembelajaran dan kegiatan pembelajaran. Pada uji coba I rerata total

respon positif siswa sebesar 91,06%, sedangkan pada uji coba II rerata

total respon positif siswa sebesar 94,79% sehingga kriteria ini telah

tercapai.

b. Untuk keseluruhan rerata nilai kemampuan guru mengelola pembelajaran

pada setiap tahapan pembelajaran adalah 3,37 dengan kategori baik.

c. Aktivitas siswa selama kegiatan belajar memenuhi kriteria toleransi waktu

ideal yang ditetapkan. Pada uji coba 1 terdapat satu kategori aktivitas yang

presentasenya tidak memenuhi yaitu kategori aktivitas siswa membaca

(40)

189

telah berada pada interval toleransi waktu ideal yang ditetapkan sehingga

kriteria ini telah tercapai.

3. Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis dan self-efficacy siswa

menggunakan perangkat pembelajaran berbasis masalah pada materi

aritmatika sosial dilihat dari rata-rata pencapaian kemampuan kemampuan

berpikir kritis matematis siswa pada uji coba I sebesar 2,71 meningkat

menjadi 3,00 pada uji coba II. Dan rata-rata pencapaian self-efficacy siswa

(41)

190

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka dapat

disarankan beberapa hal sebagai berikut:

1. Para guru agar dapat menggunakan instrumen dan perangkat pembelajaran

berbasis masalah sebagai alternatif pembelajaran.

2. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan ini hanya diujicobakan pada 1

sekolah, disarankan kepada para guru agar perangkat pembelajaran berbasis

masalah ini dapat diujicobakan ke sekolah-sekolah yang lebih banyak lagi,

agar cakupan dan kualitas perangkat pembelajaran ini dapat terpenuhi.

3. Bagi peneliti lain yang hendak melakukan penelitian dengan menggunakan

pembelajaran yang sama dengan penelitian ini, disarankan untuk

meminimalisir kelemahan-kelamahan yang terdapat dalam penelitian.

4. Peneliti menyarankan kepada pembaca dan para praktisi pendidikan untuk

dapat melakukan penelitian sejenis yang lebih mendalam dan menambahkan

kemampuan-kemampuan matematika lainnya seperti penalaran, komunikasi,

representasi dan pemecahan masalah.

5. Kelemahan pengembangan perangkat menggunakan model 4-D yaitu tidak

ada kejelasan mana yang harus didahulukan antara analisis konsep dan

(42)

191

DAFTAR PUSTAKA

Akker, V. D. 2007. An Introductional to Educational Design Research,

Proceeding of seminar conducted at the East China Nornal University,

Shanghai (PR China) November 23-26.

Arikunto. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi), Bandung, Bumi

Aksara

Arends, R. I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York, Mc

Graw-Hill Companies, Inc.

____________ 2001. Instruction to Teach. Fifth Edition. New York: McGraw

Hill Companies

____________ 2008. Learning to Teach, Belajar untuk Mengajar. Edisi Ketujuh. Jilid Dua. (diterjemahkan oleh Soedjipto, Helly, P. dan Soedjipto, Sri, M.)

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arsyad, A. 2000. Media Pengajaran, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Bandura, A. 1995. Self Efficacy in Changing Societies. Cambridge: Cambridge

University Press. (www.gobooke.com)

__________1997. Self Efficacy: The Exercise of Control. New York: W. H.

Freeman and Company.

__________2006. Self Efficacy. Cambridge: Cambridge University Press. Bisa

diunduh di www.gobooke.com.

Cabrera, G.A. 1992. A Framework for Evaluating the Teaching of Critical Thinking. Dalam R.N Cassel (ed). Education. 113 (1). 59-63.

Dahar, R. W. 1988. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga

Depdiknas. 2007. Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMP. Jakarta: Pusat Kurikulum Depdiknas.

Eggen, P. D., dan Kauchak. 1988. Strategies for Teacher Teaching Content and Thinking Skills. New Jersey: Prentice Hall.

Ennis, R, H. (1996). Critical Thinking. New Jersey: Prentice-Hall Inc.

Fachrurazi. 2011. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Edisi Khusus. No. 1 Agustus 2011

(43)

192

Fisher, A. 2007. Berpikir Kritis (Sebuah pengantar). Jakarta: Erlangga.

Freudenthal, H. 1973. Mathematics as an educational task. Dordrecht, The

Netherlands : Reidel.

Hadi, S. 2005. Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya,

Banjarmasin: Tulip

Hamalik, O. 2003. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Penerbit Bumi Aksara.

Hasratuddin. 2013. Membangun Karakter Melalui Pembelajaran Matematika, Paradikma Vo. 6 Nomor 2. Desember 2013. ISSN 1978-8002

Ibrahim, M dan Nur, M. 2000. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya,

Unesa-University Press.

Johnson, E. B. 2010. Contextual Teaching & Learning: Menjadikan Kegiatan

Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung: Kaifa.

Joyce, B. & Marsha W. 1996. Models og Teaching,Fifth Edition. USA:Allyn and

Bracon A Simon & Scuster Company.

Khabibah. 2006. Pengembangan Model pembelajaran Matematika dengan Soal Terbuka untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Sekolah Dasar. Surabaya:

Disertasi. Tidak dipubliksikan. Doktoral Universitas Negeri Surabaya.

Liberna, H. 2012. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Melalui Penggunaan Metode Improve Pada Materi System Persamaan Linier Dua Variable, Jurnal Formatif 2(3) 1990-197, ISSN 2088-351X

Masykur, M., dan Fathani, A. H. 2007. Mathematical Intelligence. Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media.

Mudhofir. 1987. Teknologi Instruksional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

National Council of Teachers of Mathematics. 1991. Professional Standar for

Teaching Mathematics. Reston, VA : NCTM.

Nieveen, N. 1999. Prototyping to reach product quality. In Jan Van den Akker,

R.M Branch, K. Gustafson, N. Nieveen, & Tj. Plomp. Design approaches and tools in education and training. Dordrecht, The Netherlands: Kluwer

Academic Publisher.

______,2007. An Introductional to Educational Design Research, Proceeding of seminar conducted at the East China Nornal University, Shanghai (PR

(44)

193

Nur, M. 2008. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: Pusat Sains

dan Matematika Sekolah (PSMS) Unesa.

Pajares, F. 1997. Current Direction in Self-efficacy Research. Greenwich, CT: JAI

Press

Rusman.2010.Model-model Pembelajaran mengembangkan Profesionalisme Guru.Bandung:Rajawali Pers.

Rusman, K. D., dan Riyana, C. 2011. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: PT Rajagrafindo Persada.

Sabandar, J. 2005. Pendekatan Konflik Kognitif pada Pembelajaran Matematika

dalam Upaya Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif.

Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional, FMIPA UNPAD, 27 Agustus

__________ 2006. Pertanyaan Tantangan dalam Memunculkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Pembelajaran Matematika. Artikel

Ilmiah. Bandung:UPI Jurnal Pendidikan No.2 Thn XXV.

Sanjaya, W. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:

Prenada Media Group.

Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.

Schunk, D.H. (1981). “Modelling and Attributional Effect on Children Achievement: A Self-Efficacy Analysis”. Journal of Educational Psychology. 73, 93-105.

Sinaga, B. 2007. Pengembangan Model pembelajaran matematika Berdasarkan

Masalah Berbasis Budaya Batak (PBMB3). Disertasi. Tidak

dipublikasikan. Surabaya: PPs Universitas Negeri Surabaya.

Siswono, T. 1999. Metode Pemberian Tugas Pengajuan Soal (problem Posing) dalam Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Perbandingan di MTsN Rungkut Surabaya. Tesis. Tidak dipublikasikan. Surabaya: PPS

Universitas Negeri Surabaya.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:

Rineka Cipta.

Slavin, R. E. 1994. Educational Psychology, Theories and Practice. Fourth

Edition. Masschusetts: Allyn and Bacon Publishers.

_________ 2000. Educational Psychology, Theories and Practice. Sixth Edition.

(45)

194

Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, (konstatasi keadaan masa kinimenuju harapan masa depan). Direktorat Jenderal Pendidikan

Tinggi. Depdiknas.

_______ 1994. Memantapkan Matematika Sekolah Sebagai Wawasan Pendidikan

dan Pembudayaan Penalaran, (Media Pendidikan Matematika Nasional),

N0. 4 Th.3, Surabaya, IKIP Surabaya.

Somakim. 2010. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Self-Efficacy Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama dengan Penggunaan Pendekatan Matematika Realistik. Bandung: PPS UPI. Disertasi tidak

diterbitkan.

Suhadi. 2007. Petunjuk Perangkat pembelajaran, Surakarta : Universitas

Suherman, E., dkk., (2001), Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,

JICA, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.

Suparno, Paul. (1997). Filsafat konstruktivis dalam pendidikan. Yogyakarta:

Penerbit Kanisius.

Syah, M. 1995. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja

Rosda Karya

Syahbana, A, 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Kontekstual Untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP. Edumatica. 2 (2)

Thiagarajan, S. Semmel, D.S. Semmel, M. 1974. Instructional Development for Training Teachers of Exceptional Children. A Sourse Book. Blomington:

Central for Innovation on Teaching The Handicapped.

TIMSS. (1999). International versions of the background questionnaires. TIMSS

International Study Center: boston College, Chestnut Hill, MA, June 1999.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:

Prenada Media Group.

Turmudi. 2008. Landasan Filsafat dan Teori Pembelajaran Matematika (Berparadigma Eksploratif dan Investigatif). Jakarta : PT. Leuser Cita

Pustaka.

Usman, U. 2001. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. PT Rosda

Karya. Bandung.

Wheatley, Grayson H (1991). Mathematics Learning. Journal Constructivist Perspective on Science and of Science Education, New York: John Wiley

Figur

Gambar 2.1 Tahapan Pendefinisian dalam Model 4-D ......................
Gambar 2 1 Tahapan Pendefinisian dalam Model 4 D . View in document p.14

Referensi

Memperbarui...