(Studi Kasus Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R Vipamas 06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan)
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan gelar
Sarjana Sosial Islam (S. Sos. I)
Disusun Oleh :
UJANG KOSASIH NIM : 1110054000020
JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
i Ujang Kosasih
EVALUASI PROGRAM PEMBUATAN KOMPOS DAUR ULANG SAMPAH (Studi Kasus Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R Vipamas 06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang selatan)
Partisipasi merupakan salah satu faktor penting dalam upaya melakukan kegiatan evaluasi program. Partisipasi masyarakat bisa timbul dari diri sendiri dan bisa pula timbul setelah dilakukan intervensi terhadap mereka oleh orang pihak luar. Partisipasi menjadi sebuah proses belajar masyarakat dengan perubahan sikap dan prilaku masyarakatnya. Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa proses belajar tersebut memerlukan waktu yang relatif panjang.
Salah satu diantara kegiatan evaluasi adalah pengelolaan sampah. Kota Tangerang Selatan yang baru berusia enam tahun mengalami permasalahan sampah yang cukup berat. Permasalahan sampah berjalan seiring dengan bertambahnya penduduk dan perubhan pola hidup masyarakat. Upaya-upaya yang dilakukan dalam menangani sampah, salah satunya dengan kegiatan menggunakan konsep pengelohan sampah. Diantara kegiatan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu terdiri dari proses memilah, dicacah atau dibakar dihancurkan menjadi kompos. Studi ini menemukan bahwa partisipasi masyarakat di RW 06 Vila Pamulang Mas dan kontribusi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu terhadap lingkungan di Perumahan Vila Pamulang Mas cukup signifikan. Program ini sudah berhasil memperoleh sampah organik menjadi barang yang bernilai.
Penelitian ini menggunakan metodelogi kualitatif. Yaitu pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen, dimana peneliti ikut berperan aktif dalam melakukan kegiatan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Vila Pamulang Mas.
ii
KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah wa syukurillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke
Hadirat Allah SWT. Karena atas limpahan Rahmat dan Karunia-nya yang tak
terhingga kepada hambanya, sampai detik ini Sholawat serta salam selalu senantiasa
tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Sehingga
penulis dapat melewati perjalanan akademis dan dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan judul “Evaluasi Program Pembuatan Kompos Daur Ulang Sampah (Studi
Kasus Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R VIPAMAS 06 Bambu Apus
Pamulang – Tangerang Selatan)”.
Sebagai manusia yang tak luput dari khilaf, penulis menyadari dengan sepenuh
hati bahwa skripsi ini banyak mempunyai kekurangan dan kelemahan, sehingga kritik
dan saran dari beberapa pihak sangat dibutuhkan untuk lebih baik dalam
kelanjutannya. Setelah penyelesaian skripsi yang cukup lama dalam proses
pengerjaannya, penulis merasa wajib mengucapkan banyak terima kasih
setinggi-tingginya kepada beberapa pihak. Ditengah kesibukannya, mereka menyempatkan
waktu luang untuk berbagi informasi dan motivasi agar penulis mampu mewujudkan
skripsi ini. Maka dengan niat suci dan ketulusan hati, penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih kepada:
1. Dr. Arief Subhan selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah Dan Ilmu Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Wati Nilamsari, M. Si selaku Ketua Jurusan Pengembangan Masyarakat
Islam (PMI) dan Bapak Drs. M. Hudri, M. Ag selaku Sekertaris Jurusan
Pengembangan Masyarakat Islam atas segala ilmu yang diberikan.
3. Ibu Nurul Hidayati, S, Ag. M. Pd selaku Dosen Pembimbing skripsi, atas segala
iii
memberikan dedikasinya, pengarahan, pengalaman serta bimbingannya.
5. Para Penguji, Ketua dan Sekertaris sidang yang telah memberikan bimbingan
dan masukannya sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.
6. Terima kasih banyak untuk seluruh Staf Karyawan Perpustakaan Dakwah dan
Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk referensi buku-bukunya.
7. Orang tua tercinta Abah Tarno Bin Tarhawi Alm dan Ibu tercinta Sutini, atas
kasih sayangnya. Dengan pengorbanan dan kesabaran kalian skripsi ini
terselesaikan. Dan kakak-kakakku segala perhatian, kasih sayang, motivasi,
dukungan dan do’a yang peneliti dapatkan selama pelaksanaan skripsi.
8. Seorang yang telah membuatku ceria Izmi Zahrotul Amalia dan Fani. Atas
perhatiannya dan motivasinya.
9. Seluruh Teman-teman PMI 2010, atas kebersamaannya dalam suka maupun
duka.
Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk kritik dan saran perbaikan skripsi ini sangat penulis harapkan.
Semoga Allah Maha Kuasa senantiasa memberikan Taufik dan Hidayah-nya kepada
kita semua.
Jakarta, 20 Desember 2015
Penulis
iv
B. Batasan dan Rumusan Masalah ………...9
C. Tujuan Dan Manfaatpenelitian………...10
2. Tujuan Dan Pentingnya Evaluasi………..22
v E. Sampah
1. Pengertian Sampah………...34
2. Sumber dan Jenis Sampah………....35
BAB III. GAMBARAN UMUM TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH
TERPADU (TPST)
A. Gambaran Umum TPST– Tangerang Selatan…..…………...38
B. Visi dan Misi TPST-Tangerang selatan………..…41
C. Struktur Kepengurusan TPST– Tangerang Selatan…………41
D. Strategi dan Prinsip TPST -TangerangSelatan………....42
E. Kegiatan dan Sumber Dana TPST–Tangerang Selatan...43
F. Fasilitas TPST– Tangerang Selatan………....44
G. Letak TPST–Tangerang Selatan………...45
BAB IV. ANALISISDAN TEMUAN”
A. Pelaksanaan Program Pembuatan Kompos Daur Ulang
Sampah………...46
B. Evaluasi Program Pembuatan Kompos Daur Ulang Sampah
1. Tujuan Program Pembuatan Kompos Daur Ulang Sampah di
TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) …...49
2. Pencapaian Tujuan Program Pembuatan Kompos Daur Ulang
Sampah………...52
1). Mengurangi Penumpukan Sampah……….………52
2). MeningkatnyaKesehatan Masyarakat………55
3). Merubah Paradigma Masyarakat Tentang Sampah……....57
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan………63
B. Saran ……….64
DAFTAR PUSTAKA………...………...65
vi
DAFTAR TABEL
TABEL 1………..……..57
1
A. Latar Belakang Masalah
Beberapa dekade belakangan ini, muncul sebuah fenomena kekhawatiran global
yang menghinggapi hampir seluruh anak manusia akan kelangsungan hidup planet
bumi tempat mereka berpijak. Kecemasan akan kelangsungan hidup anak manusia
ini didengungkan oleh salah seorang petinggi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa),
dengan mengatakan, “Dunia kita berada di tepi kehancuran lantaran ulah manusia.
Sumber-sumber alam di jarah kelewat batas”.
Kecemasan umat manusia tampaknya akan semakin berlipat apabila
dikemukakan pula bukti bukti demikian: pada setiap detik, diperkirakan sekitar 200
ton karbon dilepas ke atmosfir dan 750 ton topsoil musnah. Sementara itu,
diperkirakan 47.000 hektar hutan di babat hingga tuntas, 16.000 hektar tanah di
gunduli dan antara 100 sampai 300 spesies mati setiap hari. Pada saat yang
bersamaan, secara absolut jumlah penduduk meningkat 1 miliar orang perdekade.1
Masalah lingkungan sekarang ini bukan hanya tanggung jawab sekelompok
orang, tetapi sudah menjadi tanggung jawab atau kewajiban semua orang untuk
menjaga dan memeliharanya agar tetap asri. Lingkungan yang asri akan
mendatangkan manfaat bagi umat manusia di bumi. Tumbuh-tumbuhan, ternak, dan
segala ciptaan tuhan akan berkembang dengan baik, di lingkungan yang asri guna
1
2
kepentingan manusia. Sayangnya lingkungan yang asri sudah banyak yang rusak oleh
tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab, sehingga bencana terjadi
dimana-mana. Allah berfirman pada ayat suci al-Quran
“Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Surat Ar-Ruum ayat 41).2
Ayat tersebut menjelaskan dua hal pokok yang menjadi dasar pandangan islam
isu pencemaran lingkungan. Pertama, islam menyadari telah dan akan terjadi
kerusakan lingkungan baik di daratan dan lautan yang berakibat pada turunnya
kualitas lingkungan untuk mendukungun hidup manusia. Kedua, islam memandang
manusia sebagai penyebab utama kerusakan dan sekaligus pencegahan terjadinya
kerusakan tersebut. Oleh karena itu, ajaran islam secara tegas mengajak manusia
melestariakan bumi dan sekaligus secara tegas melarang manusia membuat kerusakan
di bumi. Namun seringkali sebagian besar masyarakat belum cukup menyadari
dampak akibat kerusakan lingkungan.
Permasalahan lingkungan cukup kompleks. Seperti Penebangan hutan
menyebabkan banjir, pencemaran terhadap air bersih oleh limbah-limbah industri,
pembuangan sampah kesungai-sungai (termasuk sampah rumah tangga), pencemaran
terhadap tanah merupakan ancaman bagi kehidupan manusia.
Permasalahan mengenai sampah merupakan hal yang sangat membutuhkan
perhatian khusus karena sampah menjadi persoalan nasional. Kegagalan dalam
pengelolaan sampah berimbas pada menurunnya kualitas lingkungan hidup,
2
kesehatan warga masyarakat, mesrusak estetika kota, dan dalam jangka panjang dapat
mempengaruhi arus investor ke daerah oleh karena itu, kesadaran masyarakat
terhadap pengelolaan pelestarian lingkungan hidup belum optimal bahkan cenderung
banyak masyarakat yang mengabaikannya.
Lingkungan hidup sangatlah penting bagi kehidupan manusia. Karena
lingkungan hidup memiliki tiga fungsi pokok. Fungsi pertama, diolah menjadi produk
jadi baik yang di konsumsi sebagai kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Fungsi
kedua, sebagai sumber kesenangan yang sifatnya alami, seperti memberikan
kesegaran karena adanya udara yang sejuk dan nyaman untuk dihirup, menyediakan
sinar matahari yang hangat, menyediakan pantai yang bersih dan indah untuk rekreasi
dan sebagainya. Fungsi ketiga adalah menyediakan diri sebagai tempat untuk
menampung dan mengolah limbah secara alami.
Istilah lingkungan hidup sebenarnya mempunyai pengertian yang kuantitas
maupun kualitas sumber daya alam, baik yang sifatnya dapat di perbaharui maupun
yang tidak dapat di perbaharui, termasuk lingkungan ambient yang terdiri dari air,
udara, landscape, dan atmosfir. Maka lingkungan hidup merupakan faktor penentu
bagi kuantitas, kualitas dan keberlanjutan kegiatan dan kehidupan manusia. Dengan
meningkatnya masalah kualitas lingkungan, maka meningkat pula masalah
kuantitasnya.3
Kesehatan lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.
Kesehatan lingkungan erat pula hubungannya dengan taraf social ekonomi karenanya,
3
4
untuk dapat mengelola kualitas lingkungan ataupun kesehatan masyarakat perlu
dihayati hubungan lingkungan dengan manusia, yaituekologi manusia.
Ekologi manusia adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara setiap segi
kehidupan manusia (fisik, mental, sosial) dengan lingkungan hidupnya secara
keseluruhan. Manusia merupakan salah satu faktor di dalam lingkungan hidup ini.
Semakin banyaknya penduduk dan semakin padatnya lingkungan hidup.
Sebagaimana biasanya, lingkungan yang padat inipun digunakan orang untuk
membuang sampah yang bersifat padat. Selain itu saat ini tanah juga untuk
membuang sampah yang berbahaya yang cair maupun padat.
Yang dimaksud dengah sampah ialah segala sesuatu yangtidak dapat
dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat. Sampah ini ada yang mudah
membusuk dan ada pula yang tidak mudah membusuk.
Garbage, yaitu sampah yang mudah membusuk. Di Negara yang sedang
berkembang seperti Indonesia sampah kebanyakan terdiri atas sampah jenis ini.
Tetapi bagi lingkungan sampah ini relatif kurang berbahaya karena dapat terurai
dengan sempurna menjadi zat-zatanorganikyang berguna bagi fotosintesistumbuhan.
Hanya saja orang harus mengankut dan membuangnya di tempat yang aman, dengan
kecepatan yang lebih daripada kecepatan membusuknya di dalam keadaan cuaca di
daerahtropisini.
Refuse, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk. Biasanya sampah ini terdiri atas
kertas, plastik, logam, gelas dan lain-lain yang tidak dapat membusuk/sulit membusuk.
Sampah ini apabila memungkinkan sebaiknya didaur ulang sehingga dapat bermanfaat
ulang, maka butuh proses untuk memusnahkannya, seperti pembakaran, tetapi hasil dari
proses ini masih memerlukan penanganan lebih lanjut.4
Daur ulang mempunyai pengertian sebagai proses menjadikan bahan bekas atau
sampah menjadi menjadi bahan baru yang dapat digunakan kembali. Dengan proses daur
ulang, sampah dapat menjadi sesuatu yang berguna sehingga bermanfaat untuk mengurangi
penggunaan bahan baku yang baru. Manfaat lainnya adalah menghemat energi, mengurangi
polusi, mengurangi kerusakan lahan dan emisi gas rumah kaca dari pada pada proses
pembuat barang baru.
Manfaat Daur Ulang
1. Meciptakan lingkungan bersih
2. Mengurangi bakteri yang terdapat dibarang yang tidak terpakai
3. Dari pada dibakar, daur ulang lebih safety karena tidak menimbulkan polusi.
4. Menciptakan nilai pada suatu barang yang tidak bernilai sebelumnya
5. Menciptakan inovasi yang lebih brilian, misalnya dengan menggabungkan
barang satu dengan yang lain.
6. Dari pada ditimbun, daur ulang akan lebih menguntungkan tanah, misalnya
pada kaleng bekas yang bersifat logam, apabila ditimbun akan merusak
unsur-unsur hara yang terkandung didalam tanah yang baik bagitumbuhan.
7. Modal yang dikeluarkan sebagai alat pendaur relatif sedikit
8. Caranya yang gampang atau mudah sehingga dapat dilakukan sendiri
9. Jumlah bahan yang tak dapat diuraikan yang berada rmenjadi lebih sedikit
10. Dapat menjadi cara alternatif dalam memenuhi kebutuhan ekonomi.5
4
6
Hasil yang di daur ualang akan dijadikan kompos. Dimana kompos merupakan
hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat
dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi
lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Sedangkan proses
pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara
biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik
sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses
alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat
campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan
penambahan aktivator pengomposan.6
Menurut Professor Mubyanto dan Professor Bromley pertumbuhan ekonomi di
Indonesia selama tiga dekade terkhir di akui telah banyak memberikan kemajuan
materiil, tetapi mengandung dua maslah serius. Pertama, perekonomian Indonesia
masih sangat rentan terhadap kondisi eksternal. Kedua, kemajuan ekonomi di
Indonesia yang telah dicapai ternyata sangat tidak merata, baik antar- daerah maupun
antar kelompok sosial ekonomi.
Kemajuan materil yang di capai melalui strategi pertumbuhan selama 30 tahun
terakhir ini tidak banyak memberikan sumbangan yang sesungguhnya terhadap
“pertumbuhan”. Selama aspek kelembagaan balum diperhatikan dengan baik, maka
akan sulit untuk merumuskan dan melaksanakan semua aktivitas pengurangan
5
https://www.facebook.com/ForumHijauIndonesia/posts/260008630756908. Diakses tanggal 6 November, 2014 Pukul. 20.18 WIB
6
kemiskinan, dan usaha-usaha peningkatan kualitas hidup kemampuan ekonomi
masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dalam meningkatkan memanfaatkan
kesempatan ekonomi yang ada. Inovasi dalam kebijakan publik semacam ini akan
senantiasa memberikan perhatian terhadap tiga hal penting, yaitu etika, hukum, dan
ilmu ekonomi.
Etika menekankan pada persepsi kolektif tentang sesuatu yang dianggap baik
dan adil, untuk masa kini maupun masa yang akan mendatang. Hukum menekankan
pada penerapan kekuatan kolektif untuk melaksanakan yang telah disepakati.
Sementara itu, ilmu ekonomi menekankan pada perhitungan untung rugi yang
didasarkan pada etika dan landasan hukum suatu Negara.7
Salah satu untuk mengatasi pengangguran di tangerang selatan sebagai kota
penyanggah ibu kota yaitu dengan kegiatan inovatif yang bisa menimbulkan
kesempatan baru bagi penciptaan ekonomi kecil dan peningkatan penghasilan pada
masyarakat. Seperti pelaksanaan pembuatan kompos melalui daur ulang sampah yang
berada di perumahan Vila Pamulang Mas Bambu Apus RW (Rukun Warga) 06
Tanggerang Selatan.
Dengan adanya pelaksanaan pembuatan kompos di Tempat Pembuangan
Sampah Terpadu (TPST) melalui daur ulang sampah di perumahan Vila pamulang
Mas, Bambu Apus RW 06, Tanggerang Selatan dapat memberdayakan masyarakat.
Karena warga sekitar ikut menjadi pekerja di TPST pembuatan kompos melalui daur
7
8
ulang sampah tersebut. Dengan begitu masyarakat mempunyai pekerjaan, masalah
pengangguran yang ada di Tanggerang selatan.
Dalam tahapan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, ada yang bilang
disebut pendampingan masyarakat. Pendampingan masyarakat itu dilakukan oleh
para pendamping masyarakat. Pendampingan masyarakat adalah para fasilitator dari
LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam menumbuhkan kesadaran, pembimbing,
pengajar dan pembaharuan dalam membimbing segala program yang ditawarkan oleh
LSM. Dan menjadi tolak ukur keberhasilan dari program pemberdayaan tersebut
adalah apakah dalam menjalankan program tersebut, pendampingan terhadap
masyarakat itu menghasilkan hubungan yang sinergis anatara keberhasilan
pendampingan dan hasil akhir dari usaha program lembaga tersebut. Tentunya dalam
menjalankan itu semua, perlu dilkukan sebuah evaluasi program sebagai tahapan
pengmbangan masyarakat. Evaluasi program dalam pengembangan masyarakat biasa
dibagi menjadi tiga, yaitu evaluasi input, proses dan output. Evaluasi program ini
sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan pengembangan masyarakat. Mengapa
demikian, hal ini di karenakan dalam upaya agar pergerakkan dan pemberdayaan
masyarakat ini dapat berhasil daya dan berhasil guna sehingga dapat mewujudkan
tujuan yang telah di rencanakan setiap tahapnya.
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis bermaksud mengadakan sesuatu
penelitian ilmiah guna mengetahui bagaimana aplikasi satu tahapan pelaksanaan
dalam manajemen pengembangan masyarakat yang diterapkan pada Tempat
pembuangan Sampah Terpadu (TPST) sebagai salah satu lembaga yang konsen dalam
memberdayakan ekonomi mereka sendiri. Maka penulis meninjau perlunya penelitian
yang lebih mendalam mengenai bagaimana pelaksanaan evaluasi program pada
Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) dalam mencapai tujuannya yaitu
mengurangi penumpukan sampah, meningkatkan kesehatan masyarakat dan merubah
paradigama masyarakat tentang sampah. untuk mencapai tujuan tersebut penulis
menuangkannya dalam skripsi dengan judul “EVALUASI PROGRAM DALAM
PEMBUATAN KOMPOS DAUR ULANG SAMPAH STUDI KASUS TEMPAT
PEMBUANGAN SAMPAH TERPADUT 3R VIPAMAS 06 BAMBU APUS
PAMULANG– TANGERANG SELATAN”
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka penulis
membatasi masalah untuk meneliti mengenai “Evaluasi Program Pembuatan Kompos
Daur Ulang Sampah Studi Kasus Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R
VIPAMAS 06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan. Jadi penulis meneliti
mengenai Pelakasanaan dan Pencapaian Program Pembuatan Kompos Daur Ulang
Sampah.
2. Perumusan Masalah
1. Bagaimana Pelaksanaan Program Pembuatan Kompos Daur Ulang Sampah
TPST 3R VIPAMAS 06 ?
2. Bagaimana Evaluasi Program Pembuatan Kompos Daur Ulang Sampah di
10
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Dengan mengacu kepada latar belakang masalah yang telah dikemukakan
maka penulis mempunyai tujuan sebagai berikut :
a. Untuk Mengetahui Pelaksanaan Program Pembuatan Kompos Daur Ulang
Sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R VIPAMAS 06
Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan.
b. Untuk Mengetahui hasil pencapaian evaluasi program Pembuatan Kompos
Daur Ulang Sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R
VIPAMAS 06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan.
2. Manfaat Peneliti
a. Sebagai bahan kajian dalam bidang sosial khususnya tentang
pemberdayaan masyarakat pada jurusan Pengembangan Masyarakat Islam
di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
b. Diharapkan dapat bermanfaat bagi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu
3R VIPAMAS 06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan sebagai
bahan masukan yang dapat di pergunakan dalam mengembangkan dan
meningkatkan keterampilan untuk menekan angka pengangguran yang di
sebabkan oleh kemiskinan dalam berbagai aspek.
c.
S
ecara akademis, peneliti ini dapat dijadikan acuan pemikiran dalammenanamkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan pembuatan kompos
khususnya untuk jurusan Pengembangan Masyarakat Islam dalam kegiatan
praktikum (lapangan) dalam memberikan pengembangan atau pengetahuan
dan pemberdayaan pada masyarakat.
D. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan dan Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun
penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor dikutip oleh Moleong adalah
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.8
Adapun desain dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu
penelitian yang menggunakan teknik analisa datanya berupa kata-kata, gambar dan
bukan angka-angka. Semua data tersebut menjadi kunci terhadapapa yang sudah
diteliti.9
Dalam hal ini peneliti fokus tentang evaluasi program pembuatan kompos daur
ulang sampah, serta pelaksanaan dan hasil program pembuatan kompos daur ulang
sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R VIPAMAS 06 Bambu Apus
Pamulang - Tangerang Selatan.
2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan penelitian evaluasi, dimana peneliti
menggunakan model evaluasi berbasis tujuan. Evaluasi tujuan menurut scriven model
8
Lexy Moleong,Metode Penelitian Kualitatif,(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), h. 3
9Ibid,
12
evaluasi ini merupakan evaluasi mengenai pengaruhnya, objektif yang ingin dicapai
oleh program.
3. Objek Evaluasi
Objek evaluasi yang di jadikan dari kegiatan evaluasi ini adalah tingkah laku,
terutama tingkah laku masyarakat tentang sampah. Aspek tingkah laku disini
mencakup masyarakat memilah – memilah sampah organik anorganik, mendaur
ulang sampah menjadi kompos padat dan dair, menanam pohon di taman warga dan
di rumah warga, tidak ada yang membuang sampah sembarangan dan membakar
sampah sembarangan.
4. Kerangka Evaluasi
Menurut Scriven Kerangka evaluasi tujuan evaluasi yang dapat mempengaurhi
program antara lain:
a. Pengaruh positif yang di tetapkan oleh tujuan program.
Suatu program mempunyai tujuan yang ditetapkan oleh rencana program.
Tujuan program merupakan apa yang akan dicapai atau perubahan yang
diharapkan dari program.
b. Pengaruh sampingan positif
Pengaruh sampingan positif ini merupakan pengaruh positif program di
luar pengaruh yang ditentukan oleh tujuan program di tempat pembuangan
sampah terpadu.
c. Pengaruh sampingan yang negatif
Pengaruh sampingan negatif yaitu pengaruh sampingan yang tidak
Kerangka evaluasi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pengaruh
positif yang di tetapkan oleh program karena suatu program mempunyai tujuan yang
ditetapkan oleh rencana program. Dan tujuan program merupakan apa yang akan
dicapai atau perubahan yang diharapkan dari program.
5. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan
berkomunikasi langsung atau tidak langsung yaitu dengan mempergunakan teknik
sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi yaitu pengamatan langsung dengan menggunakan seluruh panca
indera (melihat, mendengar dan merasakan)10dan pencatatan secara sistematis
gejala-gejala yang terjadi di lapangan penelitian, yaitu dengan mengadakan
pengamatan langsung Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R VIPAMAS
06 Bambu Apus Pamulang–Tangerang Selatan.
b. Wawancara
Wawancara merupakan suatu alat pengumpulan informasi langsung
tentang beberapa jenis data.11 Dalam penelitian ini penulis langsung
mewawancarai Pengurus Wakil Ketua, Bendahara, Operator Mesin,
Karyawan dan Masyarakat.
c. Dokumentasi
10
Indriati Yulistiani,Ragam penelitian kualitatif: penelitian lapangan(Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik:UI, 2001), h, 16
11
14
Studi dokumentasi adalah data-data yang tertulis yang mengandung
keterangan dan penjelasan serat pemikiran tentang fenomena yang masih
aktual. Dalam dokumentasi ini penulis mengumpulkan informasi berupa
makalah-makalah, buku-buku atau catatan harian, klipping, foto, dokumen
pemerintahan maupun swasta dan lain-lainnya yang berkaitan dengan
pembahasan skripsi ini.
6. Analisa Data
Dalam melakukan analisa data, penulis menggunakan penelitian deskriptif.
penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang sesuatu masyarakat atau
suatu kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan
antara dua gejala atau lebih. Biasanya, penelitian deskriptif seperti ini menggunakan
metode survey (Atherton dan Klemmack).12 Teknik analisa data dimana penulis
terlebih dahulu memaparkan sesuatu yang diperoleh mengenai kondisi pembuatan
kompos daur ulang sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R VIPAMAS
06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan kemudian mendeskripsikan
temuan-temuan yang ada dengan berpedoman pada sumber-sumber tertulis.
Data Kualitatif (Bogdan & Biklen) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan
bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan
yang dapat dikelola, mentensiskannya, mencari dan memutuskan apa yang dapat
dipelajari dan apa yang dapat di ceritakan kepada orang lain.13
12
Dr. Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya,(bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), cet -8, hal. 35
13
7. Teknik Keabsahan Data
Teknik keabsahan data, data yang telah di gali, di kumpulkan dan di catat
dalam kegiatan penelitian. Untuk menjawab keabsahan data dalam penelitian ini di
perlukan teknik pemeriksaan. Adapun teknik yang digunakan untuk menjaga
keabsahan adalah sebagai berikut:
a. Kriterium Kredibilitas/Kepercayaan
Fungsi kriterium kredibilitas ini adalah untuk melaksanakan inkuiri
sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemunya dapat dicapai,
kemudian mempertunjukan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan
jalan pembuktian oleh penulis pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.
Kriterium kredibilitas ini menggunakan dua teknik pemeriksaan.
1). Ketekunan Pengamatan
Dimaksudkan untuk menemukan cirri-ciri dan unsure-unsur dalam
situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu dalam penelitian ini
dan kemudian merumuskan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dengan
kata lain, peneliti mengadakan pengamatan kepada subyek penelitian yaitu,
Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R VIPAMAS 06 Bambu Apus
Pamulang - Tangerang Selatan, pengurus Tempat Pembuangan Sampah
Terpadu 3R VIPAMAS 06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan,
pekerja Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R VIPAMAS 06 Bambu
Apus Pamulang - Tangerang Selatan. Sehingga data yang didapat
benar-benar valid, objektif, dan saling mendukung untuk keperluan pengecekan
16
2). Triangulasi
Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data itu. Salah satu teknik triangulasi
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi dengan
sumber, triangulasi dengan sumber akan digunakan untuk membandingkan
dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh
melalui waktu dan alat yang berbeda. Hal ini akan dilakukan dengan jalan:
• Membandingkan data hasil wawancara dengan pengamatan di
lapangan, misalnya penelitian membandingkan hasil wawancara subyektif
penelitian dengan hasil temuan pengamatan lapangan tentang pelaksanaan
Program Pembuatan Kompos Daur Ulang Sampah dan pencapaian tujuan
program Pembuatan Kompos Daur Ulang Sampah.
• Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai
pendapat dan pandangan orang lain, misalnya peneliti membandingkan
jawaban yang diberikan oleh pengurus dan pekerja Tempat Pembuangan
Sampah Terpadu 3R VIPAMAS 06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang
Selatan.
b. Kriterium Kepastian
Mengutip pendapat scriven, yang menyatakan bahwa masih ada
unsur ‘kualitas’ yang melekat pada konsep objektif, dalam hal ini dapat
faktual, dan dapat dipastikan. Dari sisi peneliti dapat membuktikan bahwa
data - data hasil yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi
terhadap subjek penelitian.14
8. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhitung mulai November 2014 sampai dengan
januari 2015. Adapun lokasi penelitian di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R
VIPAMAS 06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan.
E. Tinjuan Pustaka
Setelah melakukan penelusuran kolektsi skripsi pada Perpustakaan Utama
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, ada skripsi yang fokusnya sama
yaitu tentang usaha kompos, namun belum ada satu pun yang menagambil objek
dalam penelitian ini.
Beberapa skripsi yang menjadi acuan penulis untuk memfokuskan penelitian
pada “Evaluasi Program Pembuatan Kompos Daur Ulang Sampah Studi Kasus di
Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bambu Apus Pamulang Tanggerang Selatan”
diantaranya adalah skripsi berjudul Evaluasi Program Unit Usaha Bisnis Barang
Bekas Berkualitas (BARBEKU) di Yayasan Imdad Mustadh’afin (YASMIN)
Cirendeu. Masalah yang dibahas dalam skripsi ini adalah, pertama: bagaimana evaluasi program unit usaha bisnis barang bekas berkualiatas di Yayasan Imdad
Mustatadh’afin (yasmin) Cirendeu? kedua, bagaimana hasil pemberdayaan
masyarakat dilakukan oleh Yayasan Imdad Mustadhafin (yasmin) Cirendeu?. Skripsi
ini di tulis oleh Suryati pada tahun 2013 Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas
14
18
Ilmu Dakwah Dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidatullah
Jakarta.
Evaluasi program baitulmaal wa tamwil ar-ridho dalam pemberdayaan
ekonomi masyarakat di kelurahan pisangan kecamatan ciputat timur. Masalah
yang dibahas dalam skripsi lebih berfokus kepada, pertama. Tujuan-tujuan manakah
yang sudah di capai oleh BMt Ar-Ridho dan masyarakat di wilayah ciputat dari
adanya program simpan pinjam mudrarabah?,kedua.Apakah program simpan pinjam
mudharabah BMT Ar-Ridho dan masyarakat di wilayah ciputat berpengaruh kepada
peningkatan ekonomi masyarakat peminjam?. Skripsi ini di tulis oleh Fanny Nur
Oktaviana pada tahun 2010 Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu
Dakwah Dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
F. Sistematika Penulisan
Laporan tugas akhir ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN : Pada bab ini akan di paparkan mengenai latar
belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan
manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan
sistematika penulisan.
BAB II KAJIAN TEORITIS : Bab ini akan membahas mengenai teori-teori
yang terkait dengan penelitian ini, yang terdiri dari teori evaluasi.
BAB III GAMBARAN UMUM : Bab ini membahas mengenai gambaran
umum lokasi penelitian di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R
VIPAMAS 06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan, gambaran
pembuatan kompos daur ulang sampah, maksud dan tujuan, sumber
dana atau modal berdirinya usaha kompos daur ulang sampah
BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS : Bab ini membahas mengenai hasil dan
temuan data yang telah ditemukan, yaitu bagaimana pelaksanaan
pembuatan kompos daur ulang sampah, tujuan pembuatan kompos
daur ulang sampah dan pencapaian dalam pembuatan kompos daur
ulang sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu 3R VIPAMAS
06 Bambu Apus Pamulang - Tangerang Selatan.
BAB V PENUTUP : Bab ini membahas kesimpulan dan saran yang
20
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi
Secara etimologi evaluasi adalah penafsiran, perkiraan keadaan dan penentuan
nilai. Sedangkan secara pengertian evaluasi adalah mengkritisi suatu program dengan
melihat kekurangan, kelebihan, pada kontek, input, proses dan produk pada sebuah
program.1
Sedangkan secara terminologi pengertian evaluasi menurut casley dan kumar,
evaluasi merupakan suatu penilaian berkala terhadap relevensi, kinerja, efesiensi dan
implikasi dari suatu proyek dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Sementara Fink dan Kosecoff sebagaimana di kutip oleh Fredy S. Nggao memberikan
definisi evaluasi, adalah serangkaian prosedur untuk menilai mutu sebuah program
dan menyediakan tentang tujuan, aktivitas, hasil, dampak dan biaya program.2
Evaluasi merupakan pengidentifikasian keberhasilan dan kegalalan suatu
rencana kegiatan atau program. Secara umum dikenal dua tipe evaluasi, yaitu:
on-going evaluation atau evaluasi terus-menerus dan ex-post evaluation atau evaluasi
akhir. Tipe evaluasi yang pertama dilakasanakan pada interval periode waktu tertentu,
misalnya per tri wulan atau persemester selama proses implementasi (biasanya pada
akhir phase atau tahap suatu rencana). Tipe evaluasi yang kedua dilakukan setelah
1
Nurul Hidayati S. Ag,Metodologi penelitian Dakwah,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006) cet-1, h. 123
2
implementasi suatu program atau rencana. Evaluasi biasanya difokuskan pada
pengidentifikasian kualitas program. Evaluasi berusaha mengidentifikasi mengenai
apa yang terjadi pada pelaksanaan atau penerapan program.3
Scriven (1967) orang pertama yang membedakan antara evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif sebagai fungsi evaluasi yang utama. Kemudian Stufflebeam juga
membedakan sesuai di atas yaitu Proactive evaluation untuk melayani pemegang
keputusan dan Retroactive evaluation untuk keperluan pertanggung jawaban.
Evaluasi mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi formatif, biasanya evaluasi formatif ini
dipakai untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan (program,
orang, produk dan sebagainya).Fungsi sumantif, biasanya dipakai untuk pertanggung
jawaban, keterangan, seleksi dan lanjutan. Jadi evaluasi hendaknya membantu
pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu program, perbaikan program,
pertanggung jawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari
mereka yang terlibat.4
Maka secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa evaluasi merupakan
kegiatan penilaian terhadap segala macam pelaksanaan program agar dapat diketahui
secara jelas apakah sasaran-sasaran yang dituju sudah dapat tercapai atau belum.
Segala macam pelaksanaan program apapun baik dalam bentuk profit dan non-profit
ataupun nirlaba dalam pelaksanaan manajerialnya sangatlah disyaratkan untuk
3
Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat, Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (Bandung: PT. Refika Adiatma, cet 1, 2005), h. 119.
4
22
melakukan monitoring dan evaluasi. Fungsi pengewasan dalam suatu organisasi pada
umumnya terkait dengan proses pemantauan (monitoring)dan evaluasi(evaluation).5
2. Tujuan dan Pentingnya Evaluasi
Scriven orang pertama yang membedakan antara evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif sebagai fungsi evaluasi yang utama. Kemudian stufflebeam juga
membedakan sesuai di atas yaitu
Evaluasi merupakan suatu yang sangat penting dilakukan, dalam hal ini,
feurstein menyatakan 10 (sepuluh) alasan mengapa evaluasi perlu dilakukan:
a. Pencapaian. Guna melihat apa yang sudah di capai.
b. Mengukur kemajuan. Melihat kemajuan dikaitkan dengan objektif
program.
c. Meningkatkan pemantauan. Agar tercapai manajemen yang lebih baik.
d. Mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan. Agar dapat memperkuat
program itu sendiri.
e. Melihat apakah usaha sudah dilakukan secara efektif. Guna melihat
perbedaan apa yang telah terjadi setelah di terapkan suatu program.
f. Biaya dan manfaat. Melihat apakah biaya yang dikeluarkan cukup masuk
akal.
g. Mengumpulkan informasi. Guna merencanakan dan mengolah kegiatan
program secara lebih baik
5
h. Berbagi pengalaman. Guna melindungi pihak lain terjebak dalam kesalahan
yang sama, atau utuk mengajak seseorang untuk ikut melaksanakan metode
yang serupa bila metode yang di jalankan telah berhasil dengan baik.
i. Meningkatkan keefektifan. Agar dapat memberikan dampak yang lebih
luas.
j. Memungkinkan perencanaan yang lebih baik. Karena memberikan
kesempatan untuk mendapatkan masukan dari masyarakat, komunitas
funsional dan komunitas lokal.6
3. Indikator Evaluasi
Secara umum, indikator dapat didefinisikan sebagai suatu alat ukur untuk
menunjukan atau menggambarkan suatu keadaan dari suatu hal yang menjadikan
pokok perhatian. Indikator dapat menyangkut suatu fenomena sosial, ekonomi,
penelitian, proses suatu usaha peningkatan kualitas. Indikator dapat berbentuk
ukuran, angka, atribut atau pendapat yang dapat menunjukan suatu keadaan.7
Terdapat empat indikator yang digunakan untuk mengevaluasi suatu kegiatan,
yaitu: indikator ketersediaan, indikator relevensi, indikator efesiensi, dan indikator
keterjangkauan.
a. Indikator Ketersediaan.
Indikator ini melihat apakah unsur-unsur yang seharusnya ada dalam
suatu proses itu benar-benar ada. Misalnya dalam suatu program
6
Ibid., h. 188
7
24
pembangunan kompos cair yang menyatakan bahwa tidak perlunya
lahan luas. Maka perlu di cek (dilihat), apakah pembuatan kompos cair
tersebut benar-benar ada.
b. Indikator Relevensi.
Indikator ini menunjukkan seberapa relevan dan tepatnya suatu
teknologi, misalnya pada suatu program pembuatan kompos padat
adanya mesin incinalator, masyarakat diperkenalkannya mesin
incinalator yang biasa mereka tidak gunakan. Berdasarkan keadaan
tersebut pembuatan kompos daur ulang ini akan lebih cepat sehingga
masyarakat dalam pembuatan kompos padat tidak memerlukan lahan
yang luas dan cukup lama dalam pembuatan kompos padat.
c. Indikator Efesiensi.
Indikator ini menunjukkan apakah sumber daya dan aktifitas yang
dilaksanakan guna mencapai tujuan dimanfaatkan secara tepat guna
(efesien), atau tidak memboroskan sumber daya yang ada dalam upaya
mencapai tujuan, misalnya saja, suatu program pembuatan kompos yang
dijalankan dengan baik dengan hanya memanfaatkan 1 lahan atau
pekarangan kosong, tidak perlu memanfaatkan 5 lahan atau pekarangan
kosong dengan alasan untuk menghindari terjadinya penyempitan lahan.
Bila hal ini yang dilakukan, maka yang akan terjadi adalah penyempitan
d. Indikator Keterjangkauan.
Indikator ini melihat apakah tempat pembuangan sampah terpadu masih
berada dalam jangkauan pihak-pihak yang membutuhkan, misalnya saja
apakah tempat pembuangan sampah terpadu yang didirikan untuk
masyarakat berada pada posisi yang strategis, dimana sebagian
masyarakat mudah datang mengontrol.
4. Model-Model Evaluasi
a. Model Evaluasi Berbasis Tujuan
Model evaluasi beerbasis tujuan dalam bahasa Inggris disebut goal
based evalution model atau obejktive oriented evalution atau
objective-referenced evaluation model atau objective evalution approach merupakan
model evaluasi tertua dan di kembangkan oleh Ralph W. Tyler. Ia
mendifinisikan evaluasi merupakan proses menentukan sampai seberapa
tinggi tujuan sesungguhnya dapat dicapai.
Model evaluasi berbasis tujuan dirancang dan dilaksanakan dengan
proses sebagai berikut:
1). Mengidentifikasi tujuan. Mengidentifikasi tujuan atau objektif
intervensi, layanan dari program yang tercantum dalam rencana
program. Objektif program kemudian di rumuskan dalam
indikator-indikator kualitas yang dapat diukur, seperti:tidak adanya penumpukan
sampah, tidak ada yang membakar sampah di drum, adanya tong
sampah organik anorganik, adanya penanaman pohon, adanya
26
2). Merumuskan tujuan menjadi indikator-indikator. Evaluator
merumuskan tujuan program menjadi indikator-indikator kuantitatif
dan kualitatif yang dapat diukur. Misalnya, tujuan program pembuatan
kompos daur ulang sampah adalah memberikan dukungan 400 Kepala
Keluarga berpartisifasi dalam memilah sampah organik dan anorganik
sebelum dibuang. Untuk itu pemerintah memberikan layanan
(indikator - indikator tujuan program) sebagai berikut:
- Bantuan mesin Incinalator.
- Tong sampah organik anorganik.
- Motor grobag.
- Mesin Pencacah
- Kantor TPST
3). Memastikan program telah berakhir dalam mencapai tujuan.
Layanan, intervensi dari program telah dilaksanakan dan ada indikator
mencapai pencapaian tujuan, pengaruh atau perubahan yang
diharapkan.
4). Menjaring dan menganalisis data atau informasi mengenai
indikator-indikator pecapaian program TPST.
Kesimpulan. Mengukur hasil pencapaian program atau perubahan
yang diharapkan dari pelaksanaan program dan membandingkan dengan
obejktif yang direncanakan dalam rencana program untuk menemukan sejauh
manakah pencapaian program pembuatan kompos daur ulang sampah di
b. Model Evaluasi Bebas Tujuan
Model evaluasi bebas tujuan ini dikemukakan oleh micheal scriven
(1973). Menurut scriven model evaluasi ini merupakan evaluasi mengenai
pengaruh yang sesungguhnya, objektif yang ingin dicapai oleh program.
Suatu program dapat mempunyai tiga jenis pengaruh:
1). Pengaruh sampingan yang negatif. Yaitu pengaruh sampingan yang
tidak dikehendaki oleh program. Ini seperti jika orang membuang
sampah dan membakar dampah maka ada efek negatifnya, dengan
menghirup udara bau tidak enak dan menghirup asap menyebabkan
sesak nafas.
2). Pengaruh positif yang di tetapkan oleh tujuan program. Suatu
program mempunyai tujuan yang ditetapkan oleh rencana program.
Tujuan program merupakan apa yang akan dicapai atau perubahan
yang diharapkan dari program, seperti tidak adanya penumpukan
sampah, meningkatnya kesehatan masyarakat dan merubah paradigma
masyarakat.
3). Pengaruh sampingan positif. Yaitu pengaruh positif program di
luar pengaruh positif yang ditentukan oleh tujuan program di tempat
pembuangan sampah terpadu.
5. Tahapan Evaluasi
a. Menentukan suatu standar untuk mengukur kinerja tempat pembuangan
sampah terpadu dan membuat batas toleransi yang dapat di terima untuk
28
b. Menghitung dan mengukur hasil kinerja yang telah dicapai.
c. Membandingkan antara standar dengan hasil yang dicapai dan tidak
melampui batas toleransi, harus di analisis penyebab-penyebabnya.
d. Mengambil tindakan perbaikan jika di perlukan.
B. Program
1. Pengertian Program
Adapun program memiliki pengertian sebagai berikut, yakni rancangan
asas-asas serta usaha-usaha (dalam ketatanegaraan, perekonomian dan sebagainya) yang
akan dijalankan.8 Suharsimi arikinto mengemukakan program sebagai berikut,
program adalah sederetan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh seorang atau
kelompok organisasi, lembaga bahkan negara. Jadi seseorang sekelompok organisasi,
lembaga bahkan negara mempunyai suatu program.9
Program merupakan pernytaan tertulis tentang suatu yang harus dimengerti
dan diusahakan. Program menggambarkan tentang apa yang perlu dilaksanakan dan
mengapa hal itu perlu dilaksanakan. Program dapat di gambarkan berupa sesuatu
pernyataan tertulis tentang situasi, tujuan-tujuan yang hendak dicapai,
masalah-masalah yang hendak dipecahkan dan cara pemecahannya.10
Program adalah sederatan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan untuk
mencapai kegiatan tertentu. Suatu program terdiri dari rencana umum, rencana kerja
dan jadwal kerja. Dari rencana umum akan muncul kegiatan-kegiatan yang perlu
8
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997 ) cet. Ke-9, h. 414
9
Suharsimi Arikunto,Penilaian Program Pendidikan,(Yogyakarta: Bina Aksara, 1998), h. 34
10
dilaksanakan agar program itu dapat diwujudkan. Kegiatan-kegiatan itu akan tertuang
didalam rencan kerja lengkap dengan ketentuan bagaimana melakukannya, siapa
pelakunya, siapa kalayak sasarannya, dimana akan dilakukan dan kapan
pelaksanaannya. Bila perlu dapat pula dicakup saran-saran yang diperlukannya untuk
pelaksanaannya, termasuk dana yang diperlukannya kemudian rencana kerja
dijalankan secara kronologis menjadi jadwal kerja.
2. Tujuan Program
Tujuan program merupakan suatu yang pokok dan harus dijadikan pusat
perhatian oleh evaluator. Jika suatu program tidak mempunyai tujuan yang tidak
bermanfaat maka program tersebut tidak perlu dilaksanakan. Tujuan menentukan apa
yang akan di raih. Tujuan umum dan tujuan khusus (objektif). Tujuan umum biasanya
menunjukan output dari program jangka panjang sedangkan jangka khusus outputnya
jangka pendek.11
3. Model Program
Dalam kegiatan evaluasi keberadaan program merupakan unsur yang tidak
bisa dipisahkan, karena posisi program sudah menjadi pokok kajian yang perlu di
bedah dan di ukur, sejauh mana program tersebut berjalan, apakah bisa
merealisasikan tujuan yang di harapkan atau belum. Hal itu diperoleh dari kegiatan
evaluasi. Oleh sebab itu mengetahui tipe program dalam penentuan program prioritas
untuk mewujudkan tujuan adalah menjadi penting.
Huey Tsyh Chen salah satu tokoh yang berpengaruh dalam
mengembangkan konsep tentang evaluasi. Karyanya yang paling terkenal theory
11
30
driven evaluation, telah membagi model program dengan beberapa model.
Sebagaimana yang di kutip oleh wiraman di antaranya menyebutkan:
a. Model Perubahan
Menurut Huey Tsyh Chen sebaimana yang telah dikutip oleh wirawan
menjelaskan model perubahan menunjukan proses sebab dan akibat yang di
timbulkan oleh program di TPST.
b. Model Tindakan
Menurut Huey Tsyh Chen model tindakan melukiskan rencana sistematik
untuk mengatur staf, sumber-sumber dan dukungan organisasi agar dapat
mencapai populasi target dan menyediakan layanan-layanan intervensi.
Dalam model ini akan di jelaskan dibagian analisis program bab IV
(Empat).
4. Aspek-Aspek Program
Aspek-aspek program yaitu ditinjau dari:
a. Tujuan, di dalam tujuan TPST ini mengurangi penumpukan sampah,
meningkatkan kesehatan masyarakat dan merubah paradigma masyarakat
Bambu Apus Rukun Warga 06.
b. Jenis, dalam jenis program TPST ini berbasis pemberdayaan
kemasyarakatan. Dikarenakan program tersebut melibatkan partisifasi
masyarakat dan merubah prilaku masyarakat tentang sampah.
c. Jangka waktu, ada program jangka pendek, jangka menengah dan jangka
panjang.
d. Keluasan, ada program sempit ada program luas. Program sempit hanya
orang banyak. Seperti pembuatan kompos padat masyarakat di ikutsertakan
dalam memilah sampah organik anorganik.
e. Pelaksanaannya, ada program kecil dan ada program yang besar, program
kecil hanya dilaksanakan beberapa orang, sedangkan program besar
dilaksanakan oleh orang banyak.
sesuai dengan aspek-aspek yang sudah dipaparkan di atas yaitu tujuan
program yang direncanakan bertujuan untuk mengurangi penumpukan
sampah, meningkatkan kesehatan masyarakat dan merubah paradigma
masyarakat tentang sampah.
Jenis program ini direncanakan berbasis kemasyarakatan. Kemudian dapat
di tinjau dari jangka waktu program, yaitu jangka pendek, jangka menengah
dan jengka panjang. Program penting yang dampaknya menyangkut orang
banyak, menyangkut hal-hal yang vital sedangkan program kurang penting
adalah sebaliknya. Suharsimi arikinto menegeskan dalam bukunya penelitian
program pendidikan bahwa macam-macam program dapat bermacam-macam
wujud, jika di tinjau dari aspek-aspek yang sudah dipaparkan diatas.12
Maka ketika aspek-aspek program tersebut sudah jelas maka program akan
siap dilaksanakan oleh lembaga atau organisasi sehingga tujuan dari lembaga
tersebut dapat dicapai.
12
32
C. Kompos
1. Pengertian Kompos
Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman, hewan
dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi
sehingga dapat dijadikan sebagai sumber hara bagi tanaman.
Kompos mudah dibuat dari sisa panen seperti jerami, serasah, batang
jagung, bahkan sampah organik rumah tangga. Selain bahan bakunya mudah didapat,
peralatan yang digunakan untuk membuatnya sederhana, proses pembuatannya juga
tidak memerlukan banyak tenaga, dengan nilai ekonomi tinggi, kompos tidak hanya
layak untuk digunakan sendiri tetapi juga sangat menjanjikan untuk diusahakan
sebagai sumber mata pencaharian.13 Jadi pembutan kompos ini dapat meningkatkan
ekonomi masyarakat di karenakan adanya kegiatan masyarakat yang menghasilkan
uang.
2. Manfaat Kompos
a. Memperbaiki struktur tanah agar menjadi gembur
b. Memperkuat daya ikat agregat tanah berpasir
c. Meningkatkan daya tanah dan daya serapan air
d. Memperbaiki drainase dan pori-pori dalam tanah
e. Menambah dan mengaktifkan unsur hara.
f. Meningkatkan daya ikat tanah terhadap unsur hara
g. Membantu dekomposisi bahan mineral
13
h. Menyediakan bahan makanan bagi mikroorganisme yang menguntungkan
pertumbuhan.
3. Bahan-Bahan Kompos
Berikut bahan-bahan yang sering digunakan untuk membuat kompos.
a. Sisa tanaman, terdiri dari jerami dan sekam padi, tanaman pisang, gulma,
sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, sabut kelapa dan sisa tanaman
yang lain.
b. Sisa makanan, seperti sayuran, lalaban, dll.
c. Sampah kota (khususnya sampah organik) dan limbah industri. Sampah
kota yang diajadikan kompos harus dipilih kembali, karena yang
digunakan berupa sampah organik. Limbah industri pun dipilih limbah
yang tidak mengandung bahan kimia dan logam yang berbahaya.
D. Daur Ulang
1. Pengertian Daur Ulang
Daur ulang adalah proses menjadikan barang bekas atau sampah menjadi
barang baru yang dapat digunakan kembali sehingga bermanfaat. Pengembangan
pembuaan kompos daur ulang sampah diyakini merupakan upaya pembangunan
insfrastruktur kebersihan dan upaya penghematan yang saat ini sangat diperlukan
sebagai solusi strategis untuk pengelolaan sampah dalam ekonomi yang eksis.
Upaya pengembangan pembuatan kompos daur ulang dapat menjadikan
sumber nafkah baru dan mampu menjadi unsur utama kekuatan ekonomi rakyat yang
34
2. Tujuan Daur Ulang
a). Kegiatan daur ulang sampah untuk pembuatan kompos dan pakan ayam,
pakan ikan secara komersial dapat dijadikan peluang usaha yang dapat menjadi
sumber nafkah baru usaha kecil, membantu mengatasi kemisikinan, penghematan
sumber daya alam maupun sumber daya dana.
b). Meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kegiatan daur ulang
sampah.
c). Mendorong masyarakat agar memiliki ketrampilan.
E. Sampah
1. Pengertian Sampah
Sampah merupakan materi sisa yang tidak digunakan lagi setelah berakhrinya
suatu proses. Daur ulang sampah adalah salah satu strategi pengelolaan sampah yang
terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemerosesan, pendistribusian dan
pembuatan produk atau material bekas pakai. Material yang dapat didaur ulang:
a). Botol bekas wadah kecap, saos, sirup krim kopi; baik yang putih bening
maupun yang berwarna terutama gelas atau kaca yang tebal.
b). Kertas, terutama kertas bekas di kantor, Koran, majalah, kardus kecuali
kertas yang berlapis (minyak atau plastik).
c). Logam bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue, rangka meja,
besi rangka beton.
d). Plastik bekas wadah sampo, air mineral, jerigen dan ember.
2.Sumber dan Jenis Sampah
Secara umum sumber sampah dapat digolongkan atas tiga kelompok, yaitu
sampah berasal dari kegiatan rumah tangga (domestic refuse), dari kegiatan
perdagangan (commercial refuse) dan dari kegiatan perindustrian (industrian
refuse).14
Domestic refusebiasanya merupakan sisa makanan, bahan dan peralatan yang
sudah terpakai lagi dalam rumah tangga, sisa pengelolahan makanan, bahan
pembungkus, bermacam-macam kertas, kain bekas, kaleng dan lain-lain.
Commercial refuse adalah sampah yang berasal dari tempat-tempat
perdagangan seperti pasar, “supermarket”, pusat pertokoan, warung dan tempat jual
beli lainnya. Biasanya sampah yang berasal dari kegiatan perdagangan ini terdiri dari
berbagai jenis, seperti bahan dagangan yang rusak, kertas, plastik dan daun
pembungkus, bagian komoditi yang tidak dapat dimanfaatkan, peralatan yang rusak
dan lain-lain.
Industrial refuse merupakan sampah yang berasal dari kegiatan industri,
jumlah dan jenisnya sangat tergantung pada jenis dan jumlah bahan yang diolah oleh
perushaan perindustrian tersebut. Suatu perindustrian biasanya membuang limbah
dan sampahnya disekitar perusahaan tersebut, sehingga sering mencemari lingkungan
di sekelilingnya.
Disamping sampah yang bersumber dari kegiatan diatas, masih ada sampah
jenis lain yaitu sampah yang berasal dari jalanan (streer sweeping), dari bangkai
14
36
binatang yang mati (dead animal), pembersihan, pembangunan suatu tempat, sampah
dari tempat produksi pertanian dan lain-lain.
Secara umum sampah dapat dibagi atas dua golongan, yaitu sampah yang
mudah terurai (dergradable refuse) dan sampah yang tidak dapat terurai
(nondegradable). Degradable refuse yaitu sampah yang mudah terurai secara alami
melalui proses fisik, kimiawi maupun biologis. Biasanya sampah golongan ini berasal
dari bahan-bahan organik, seperti sampah sayuran dan buah-buahan, sisa makanan,
kertas, bangkai binatang dan lain-lain. Nondegradable adalah sampah yang tidak
dapat diuraikan atau sulit diuraikan secara alami melalui proses fisik, kimiawi, dan
biologis menjadi molekul-molekul yang lebih kecil. Nondegradable refuse ini
biasanya berasal dari bahan anorganik, bahan sintetis dan bahan kertas lainnya,
seperti metal, kaca, plastik, kayu dan kramik.
Berdasarkan jenisnya, sampah dapat pula diklasifikasi atas beberapa
kelompok, antara lain:
a. Garbage yaitu sampah yang berasal dari sisa pengolahan, sisa pemasakan,
atau sisa makan yang telah membusuk, tetapi masih dapat digunakan sebagai
makanan oleh organisma lainnya, seperti insekta, binatang pengerat (rodentia)
dan berbagai “scavenger”. Sampah jenis ini biasanya bersumber dari
“domestic refuse” atau industri pengolahan makanan.
b. Rubbish yaitu sampah sisa pengolahan yang tidak mudah membusuk dan
dapat pula dibagi atas dua golongan. Pertama sampah yang tidak mudah
sintetik. Kedua adalah sampah yang tidak mudah membusuk dan tidak mudah
terbakar, sperti kaca, keramik dan tulang hewan.
c. Ashes dan cinder yaitu berbagai jenis abu dan arang yang berasal dari
kegiatan pembakaran.
d. Dead animal yaitu sampah yang berasal dari bangkai hewan, dapat beruapa
bngakai hewan peliharaan (domestic animal) maupun hewan liar (wild
animal).
e. Street sweeping yaitu sampah atau kotoran yang berserakan dijalan seperti
sisa-sisa pembungkus dan sisa makanan, kertas, daun kayu dan lain-lain.
f. Industrial waste merupakan sampah yang berasal dari kegiatan industri,
sampah jenis ini biasanya lebih homogeni bila dibandingkan dengan sampah
38
BAB III
GAMBARAN UMUM
TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH TERPADU
A. Gambaran Umum
Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) merupakan tempat pembuangan
sampah yang memilah-milah sampah yang dapat didaur ulang dan tidak dapat didaur
ulang, sehingga terdapat pemangkasan sampah untuk dibuang ke TPA (Tempat
pembuangan akhir). Sebelumnya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang hanya
diperuntukkan bagi warga RW (rukun warga) 06 Vila Pamulang Mas (vipamas)
sangat menyedihkan kumuh, berantakan dan bau. Ironisnya banyak warga lain yang
bukan warga vipamas pun ikut membuang sampah TPS tersebut setiap harinya,
bahkan ada yang membawa gerobak sampah dengan aneka ragam jenis sampah.
Tidak heran jika akhirnya terbentuk timbunan sampah yang menggunung di TPS
hingga meluber ke jalan. Puncaknya truk pengangkut sampah yang selama ini
melayani vila pamulang mas tidak lagi beroperasi karena rusak.
Ada beberapa kendala sehingga TPS tersebut menjadi kumuh, rusak,
berantakan, bau dan meluber ke jalanan diantaranya adalah :
1. Truk pengangkut sampah yang selama ini digunakan, sudah tidak lagi
beroperasi karena rusak sehingga timbunan sampah semakin hari semakin
2. Belum adanya vendor (pemerintah maupun swasta) yang mampu dan bersedia
melakukan sistem pengangkutan sampahdoor to doorsesuai kebutuhan warga.
3. Jumlah truk yang dimiliki Pemerintahan Kota Tangerang Selatan jauh lebih dari
cukup ditambah lagi belum adanya TPA yang permanen.
4. Bila TPS ditutup akan memerlukan dana yang besar, diantaranya untuk
membuang timbunan sampah yang sudah menggunung hingga bersih, termasuk
membuat pagar penutup agar tidak ada lagi yang membuang sampah di lokasi
eks TPS tersebut.
Berdasarkan undang-undang No. 18 tahun 2008 tentang pengolahan sampah,
mengamanatkan pembuatan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan
regional, seperti perumahan, desa dan kelurahan. Cara-cara pengolaan sampah ini
dapat dilakukan dari skala kecil hingga besar. Dan salah satu filosofi dasar yang
ditetapkannya undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang pengolahan sampah
adalah bagaimana cara melihat sampah dari perspektif yang berbeda, yakni
memandang sampah sebagai sesuatu yang punya nilai guna dan manfaaat.
Sehingga membuang sampah dengan percuma merupakan tindakan yang
kurang tepat. Ungkapan yang dikenalkan oleh salah seorang praktisi pengelolaan
sampah, yaitu ‘dulu sampah, sekarang berkah’ sungguh tepat memaknai perubahan
paradigma tentang sampah.
Sebagai upaya membumikan perubahan paradigma tentang sampah tersebut,
praktek mengolah dan memanfaatkan sampah harus menjadi langkah nyata baru kita
dalam mengolah sampah, meninggalkan cara lama yang hanya membuang sampah.
40
sederhana yaitu mengubah sampah menjadi kompos di rumah-rumah kita, sampai
dengan mengolah dan memanfaatkan sampah dalam skala bisinis yang besar dengan
menggunakan teknologi tinggi. Prinsip utama mengolah sampah yang benar adalah
mencegah timbulnya sampah, mengguna ulang sampah dan mendaur ulang sampah.
Itulah prinsip 3R (reduce, reuse,recycle).
Berdasarkan hal-hal di atas, keluarga besar Kelompok Swadaya Masyarakat
(KSM) vipamas 06 menawarkan untuk bekerjasama kepada warga RW (rukun warga)
06 Vila Pamulang Mas dalam hal pengelola sampah rumah tangga menjadi kompos
dengan lokasi di TPS yang ada sekarang, dan tawaran tersebut di sambut dengan baik
oleh para pengurus RW, RT (rukun tetangga) maupun warga untuk segera
merealisasikan. Kontrak kerjasama antara KSM vipamas 06 dengan Rukun Warga 06
vipamas telah di tanda tangani, pekerjaan awal sudah kami mulai, sehingga lokasi
TPS yang digunakan sejak tahun 1998 dan terhitung mulai tahun 2010 sudah
dirapihkan, dipagar, selanjutnya akan dibuat tempat pengelolaan sampah menjadi
kompos dan sampah yang diolah menjadi kompos nantinya akan dikembalikan lagi
ke masyarakat atau warga untuk dapat dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.
Oleh karena itu, khusus menangani persoalan sampah di perkotaan, Kelompok
Swadaya Masyarakat (KSM) merancang suatu program yang diharapkan dapat lebih
terjamin keberlanjutannya yaitu TPST (Tempat Pembuangan sampah terpadu)
program ini mempunyai strategi dan prinsip 3R, yang lebih mengutamakan
pemberdayaan masyarakat dan instansi lokal. Program yang akan dilakukan ini
menganut pendekatan pemberdayaan (Emplowerment) sebagai suatu syarat menuju
terbentuknya masyarakat yang mampu mengatasi persoalan sampah yang dihadapi
secara berkelanjutan. Upaya pemberdayaan masyarakat, baik pemberdayaan mental,
ekonomi, maupun intelektual merupakan tanggun jawab semua pihak. Untuk itu
kerjasama semua komponen masyarakat dalam upaya pemberdayaan harus senantiasa
ditumbuh kembangkan dan dilaksanakan secara kontinu.
B. Visi dan Misi
Visi dari TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) ini adalah:
“Terwujudnya masyarakat yang mandiri untuk membangun ekonomi
kerakyatan serta lingkungan yang bersih dan hijau sehingga tercipta masyarakat
yang sehat.”
Sedangkan Misi dari TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) ini adalah:
1. Mengurangi jumlah penumpukan sampah.
2. Merubah paradigma masyarakat tentang sampah
3. Meningkatkan kesehatan masyarakat
C. Struktur Kepengurusan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu
Struktur Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) tidak terlalu rumit dan
berbelit-belit. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan Tempat Pembuangan
Sampah Terpadu (TPST) tidak akan berjalan dengan adanya pengurus. Kepengurusan
yang ramping dan tidak terlalu rumit ini memungkinkan berjalan dengan baik. TPST
(Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) yang dilahirkan oleh Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM) dan dibangun sejak tahun 2010 sampai sekarang masih aktif.
Namun hanya ada beberapa kepengurusan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu
42
Pelindung : 1. Lurah Bambu Apus
2. Ketua RW (rukun warga) 06 Vipamas
3.Ketua RT (rukun tetangga) 01 s/d 08 Bambu Apus
Ketua : Imam Aulia
Wakil : Tarmizi Usman
Sekretari : Imam Thohar
Bendahara : Eka
Operator Mesin : Rahmat
D. Strategi dan Prinsip Tempat Pembuangan Sampah Terpadu
Berdasarkan visi, misi dan tujuan sebagaimana dikemukakan di atas, maka
rencana aksi dilakukan dengan strategi sebagai berikut:
1. Pelaksnaannya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan lingkup sasaran dan
target yang disesuaikan dengan tingkat kapasitas kelembagaan pada saat dimulai.
2. Penggalangan sumber dana kelembagaan, yang secara parsial relatif kecil,
menjadi satu kesatuan yang sinergik, melalui kemitraan, harmonisasi, sinkronisasi
atau kerjasama dengan pemerintah daerah (provinsi, kabupaten dan kota).
3. Pengembangan kapasitas dilakukan secara simultan bersamaan dengan
pelaksanaan rencana aksi dan pengembangan kapasitas tersebut didasarkan pada
hasil pengkajian kebutuhan. Sedangkan pengkajian kebutuhan tersebut didasarkan
pada hasil pemantauan dan evaluasi pelaksanaan rencana aksi .
Sedangkan prinsip utama mengelola sampah yang benar adalah mencegah
timbulnya sampah, menguna ulang sampah dan mendaur ulang sampah. Itulah prinsip