EKSISTENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) TERHADAP SAKSI PELAPOR (WHISTLEBLOWER) PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI

Teks penuh

(1)

EXISTENCE AND VICTIM WITNESS PROTECTION AGENCY (Agency)

WITNESS FOR REPORTING (

Whistleblower

) CORRUPTION CASE

by

MEIRIA NURPHI

Based on of the the Agency Whistleblower, Act 13 of 2006 give fortunately. Although currently there are no Witness and Victim Protection Agency (Agency) whom perform tasks provide protection for witnesses and victims. But unfortunately not yet reached the scope of the Agency Whistleblower, Act 13 of 2006 does not specify that the whistleblower is given protection. The research was conducted by using normative juridical research. Data obtained from secondary data sources consisting of primary legal materials, legal materials secondary, tertiary, legal materials.

Based on the research results of the Agency should be given greater autonomy in coordination even if it may be given the right to be assisted by law enforcement officers who carry out security measures and security protection. Other authority required by the agency in conjunction with other law enforcement agencies are right to give advice about the condition of a witness or victim, including when witnesses will give testimony in the trials. Therefore witness protection law must include an obligation other agencies in supporting the work of the Witness Protection Agency. Besides, the Agency needs to be given the right to collaborate with the community in order to provide protection. To synergize the protection of the witness protection law this cooperation should also be open to the public, besides that it is useful for the Agency as this will help the Agency both logistical and support resource protection.

Furthermore, advised against the Witness and Victim Protection Agency regarding the existence of the reporting witness corruption cases should be more active in providing protection to the reporting witness. This is done so that the position of a witness, corruption can be more secure and capacity as a witness can be accountable under applicable law.

(2)

ABSTRAK

EKSISTENSI LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

(LPSK) TERHADAP SAKSI PELAPOR (WHISTLEBLOWER) PERKARA

TINDAK PIDANA KORUPSI

Oleh

MEIRIA NURPHI

Berdasarkan UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, lembaga yang memiliki kewenangan untuk melindungi whistleblower adalah Lembaga Perlindungan Saksi dan korban (LPSK). Dalam undang-undang ini tidak menyebutkan secara jelas mengenai pengertian dan perlindungan terhadap whistle blower. Permasalahan dalam penulisan tesis ini adalah bagaimanakah eksistensi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dalam memberikan perlindungan terhadap whistleblower pada perkara tindak pi dana korupsi.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian secara yuridis normatif. Data diperoleh dari sumber data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis untuk mendapatkan kesimpul;an yang sesuai dengan permasalahn yang dibahas.

Berdasarkan hasil penelitian, Eksistensi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memerlukan kewenangan yang lebih luas dalam memberikan perlindungan terhadap whistleblower. Kordinasi bahkan jika mungkin di berikan hak agar dibantu oleh aparat penegak hukum yang melakukan tindakan pengamanan dan proteksi keamanan. Oleh karena itu UU perlindungan saksi dapat mencantumkan kewajiban lembaga-Iembaga lainnya dalam mendukung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) karena hal ini akan membantu kinerja Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Selanjutnya disarankan periindungan hukum terhadap whistleblower periu perundang-undangan khusus yang mengatur secara tegas mengenai perlindungan terhadap whistle blower. Peraturan perundang-undangan tersebut terintegrasi mengikat Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan didukung para aparat penegak hukum

(3)
(4)

PIDANA KORUPSI

(Tesis)

Oleh

MEIRIA NURPHI

PROGRAMPASCASARJANA MAGISTER HUKUM FAKULTAS HUKUMUNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tindak pidana korupsi merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak hak ekonomi masyarakat, sehingga tindak pidana korupsi tidak dapat lagi di golongkan sebagai kejahatan biasa (ordinary-crimes) melainkan telah menjadi kejahatan luar biasa (extra-ordinary crimes). Sehingga dalam upaya pemberantasannya tidak dapat lagi dilakukan secara biasa, tetapi di butuhkan cara-cara yang luar biasa (extra-ordinary enforcement).Tindak pidana korupsi di Indonesia telah melibatkan banyak kalangan, baik di pusat maupun di daerah, lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan tokoh masyarakat.1Oleh karena itu pola pemberantasannya tidak bisa hanya oleh instansi tertentu namun membutuhkan pelaksanaan secara komprehensif dan bersama-sama oleh lembaga penegak hukum, lembaga masyarakat, dan individu anggota masyarakat.

Terkait tindak pidana korupsi, upaya perlindungan terhadap saksi diperlukan demi tercapainya proses penegakan hukum. Peranan tersebut tercermin daridimulainya proses penegakan hukum karena adanya permohonan dari saksi ataukorban.2

1

Martiman Prodjohamidjojo, Penerapan Pembuktian Terbalik Dalam Kasus Korupsi, (Bandung: Mandar Maju, 2001), hlm 2.

2

(16)

Hukum AcaraPidana sebagai prosedur penegakan hukum di Indonesia belum mengatur secara tegas perlindungan saksi.Pentingnya kedudukan saksi pelapor dalam proses peradilan pidana, telah dimulai sejak awal proses peradilan pidana. Begitu pula dalam proses selanjutnya, ditingkat kejaksaan sampai pada akhirnya di pengadilan, keterangan saksi sebagai alat bukti utama menjadi pertimbangan hakim dalam memutus bersalah atau tidaknya terdakwa. Jadi jelas bahwa saksi mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam upaya menegakkan hukum dan keadilan.3

Hal lain mengenai perlindungan saksi pelapor dalam perkara tindak korupsi adalah rumusan UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang tidak memberikan batasan atau pengertian istilah “pelapor”, implementasi dakwaan dan putusan terhadap Whistleblower.Pengertian saksi dalam UU ini hanya sedikit lebih maju, karena berupaya mencoba memasukkan atau (memperluas) perlindungan terhadap orang-orang yang membantu dalam upaya penyelidikan pidana yang masih berstatus pelapor atau pengadu.

Perlindungan terhadap status saksi dalam konteks penyelidikan ini pun masih terbatas dan kurang memadai karena terbentur pada doktrin yang ada dalam KUHAP.Rumusan ini masih mencampuradukkan antara definisi saksi dalam

KUHAP yang menitikberatkan pada “nilai pembuktian” dengan orang-orang yang

dapat dilindungi oleh Lembaga Perlindungan Saksi.

3

(17)

Undang-undang No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi danKorban (UU PSK) menjadi dasar bagi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dalam menjalankan kewenangannya terhadap perlindungan saksi dan korban merupakan langkah pemerintah untuk menjawab harapan semua pihak agar terdapat kepastian perlindungan hukum kepada saksi dan korban. Namun demikian, ternyata keberadaan Undang-undang dan LPSK tersebut belum dapat memberikan kepastian perlindungan hukum kepada pelapor atau whistleblower yang sesuai dengan harapan, masih banyak terjadi perdebatan dan pertentangan tentang pengertian whistleblower itu sendiri dan perlindungan hukumnya, terutama yang terlibat dalam tindak pidana korupsi. Akan tetapi undang-undang ini tetap mendapat respon positip dari masyarakat pemerhati hukum dan lembaga lembaga penegak hukum terutama LPSK.

Whistleblower (peniup peluit) adalah istilahlain bagi saksi yang mengetahui sendiri, melihat sendiri ketika suatuperbuatan pidana yang akan, sedang atau telah terjadi danmengungkapkannya kepada publik. Whistleblower dalam UU Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pelindungan Saksi dan Korban tidak memberikan

pengertian tentang “pengungkap fakta”, dan berkaitan dengan itu hanya

memberikan pengertian tentang saksi yaitu orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilantentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan / atau ia alami sendiri.4

4

(18)

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang PerlindunganSaksi dan Korban, tidak menyebutkan secara tegas perlindungan hukumbagi “whistleblower (peniup

peluit)”, Secara yuridis formal yangdilindungi oleh undang-undang hanyalah Saksi dan Korban, sedangkanpengertian saksi menurut ketentuan Pasal 1

Undang-Undang Nomor 13Tahun 2006 adalah “orang yang dapat memberikan keterangan

gunakepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan disidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ialihat sendiri,

dan/atau ia alami sendiri”, Sehingga whistleblower (peniuppeluit) yang berhak mendapat perlindungan hukum harus memenuhiklasifikasi sebagai saksi sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006.

Penggunaan dalam rumusan inilah yang kemudian membatasi perlindunganterhadap saksi yang mendengar, melihat dan /atau mengalami sebuah tindak pidana. Karenadalam banyak kasus ada orang yang berstatus pelapor ini kadangkala bukanlah orang yangmendengar, melihat atau mengalami sendiri perkara pidana tersebut5, tapi orang yanginformasinya merupakan hal yang penting dalam mengungkap sebuah kasus. Contohnya adalahmengetahui dimana informasi mengenai alat bukti di temukan, atau tempat dimana sebuahdokumen-dokumen pembuktian berada.

Mahkamah Agung telah mengeluarkan SEMA No 04 Tahun 2011 tentang Perlakuan Terhadap Pelapor Tindak Pidana (Whistleblower) dan Saksi Pelaku

5

(19)

Yang Bekerjasama (Justice Collaborator) di dalam Perkara Tindak Pidana

Tertentu (“SEMA 04/2011”) yang meminta kepada para hakim agar jika

menemukan adanya orang-orang yang dapat dikategorikan sebagai Pelapor Tindak Pidana dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama, dapat diberikan perlakuan khusus antara lain memberikan keringanan pidana dan/atau bentuk perlindungan lainnya.Pada dasarnya seorang whistleblower merupakan kunci untuk pengungkapan skandal kejahatan yang kerap melibatkan atasan maupun koleganya sendiri. Namun tidak banyak orang yang mengetahui dengan persis dan detail mengenai siapa sesungguhnya yang dapat dikategorikan sebagai seorang

whistleblower dan laporan yang dapat disampaikan. Pengaturannya secara implisit termaktub dalam UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, kemudian diikuti dengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan terhadap Pelapor Tindak Pidana (whistleblower) dan Saksi Pelaku yang Bekerja Sama (justice collaborator).

Surat Edaran Mahkamah Agung tersebut diterbitkan berdasarkan pengaturan Pasal 10 UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Dalam SEMA ini disebutkanWhistleblower adalah sebagai seorangpelapor pelaku tindak pidana tertentu artinya whistleblower merupakan bagian dari pelaku, tetapi bukan pelaku utama yang mengakui perbuatannya dan bersediamenjadi saksi dalam proses peradilan.

(20)

tentang pelaku-pelakulain yang terlibat bahkan mengungkapkan pelaku utamanya dengan harapan mendapat kompensasi keringanan hukuman. Tawaran untuk menjadi justice collaborator tersebut dapat saja dilakukan oleh penyidik atau tersangka. Sementara whistleblower dengan kesadaran sendiri untuk membocorkan informasi kepada penyidik baik dia terlibat dalam kasus tersebut atau tidak terlibat dan statusnyabukan sebagai tersangka.

Surat edaran tersebut menegaskan bahwa Mahkamah Agung meminta kepada para Hakim agar jika menemukan orang-orang yang dapat dikategorikan sebagai

Whistleblower dan Justice Collaborators dapat memberikan perlakukan khusus antara lain dengan memberikan keringanan pidana dan/atau bentuk perlindungan lainnya. Dengan adanya SEMA tersebut, maka langkah LPSK terbantu dalam mewujudkan harapan baru bagi masyarakat, khususnya mereka yang menjadi

whistleblower. LPSK dapat memperhatikan kepentingan whistlebloweruntuk mendapatkan perlindungan, keadilan dan pemulihan hak-haknya. Selain itu LPSK juga dapat rmeningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengungkap tindak pidana dengan menciptakan suasana yang kondusif agar setiap orang yang mengetahui terjadinya tindak pidana atau menjadi korban tindak pidana memiliki kemauan dan keberanian untuk melaporkan hal tersebut kepada penegak hukum6.

Undang-undang memposisikan LPSK sebagai lembaga yang pasif artinya hanya bisa bertindak apabila pihak yang menjadi korban atau saksi mengajukan permohonan mtuk mendapat perlindungan ke LPSK. Namun hal tersebut tidak

6

(21)

membuat LPSK diam saja menunggu laporan atau pengaduan, LPSK berusaha pula pro-aktif yaitu menghimbau kepada mereka untuk memanfaatkan LPSK sebagai lembaga yang mandiri sehingga permasalahan mereka dapat ditangani oleh LPSK.

Kewenangan LPSK terhadap whistleblower dapat membantu mengungkap fakta dan kebenaran sehingga upayaproses penegakan hukum dapat tercapai karena

whistleblowermemperoleh perlindungan sesuai dengan yang diamanatkan oleh UndangUndang Nomor 13 Tahun 2006. Whistleblower sebagai pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana korupsi dan bukan merupakan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya dapat diberikan perlindungan oleh LPSK.

Bentuk perlindungannya yang dapat dilakukan oleh LPSK antara lain: jika Pelapor Tindak Pidana dilaporkan pula oleh terlapor, maka penanganan perkara atas laporan yang disampaikan oleh Pelapor Tindak Pidana didahulukan dibanding laporan dari terlapor. Kewenangan LPSK yang diatur dalam Undang- undang Nomor 13 Tahun 2006 tentangPerlindungan Saksi dan Korban tersebut dalam penerapannyakurang efektif, dan secara normatif belum memenuhi aspek perlindungan hukum terhadap saksi pelapor ( whistleblower).

(22)

berikutnya putusan MK yang memutuskan bahwa Pasal 1 angka 26 dan angka 27; Pasal 116 ayat (3) dan ayat (4); Pasal 184 ayat (1) huruf a KUHAP bertentangan

dengan UUD 1945 memberikan “angin segar” bagi pemberantasan tindak pidana

korupsi karena memberikan peluang peran yang lebih luas bagi selain saksi yang dibatasi pengertiannya menurut Pasal 1 angka 26 dan angka 27 KUHAP, juga saksi alibi (yang tidak berada di tempat kejadian perkara).

Putusan MK tersebut dapat membuat atau berpeluang seorang saksi alibi juga bertindak sebagai pelapor dalam dugaan telah terjadinya tindak pidana korupsi. Dengan begitu, pelapor menjadi terlindungi dalam konteks penerapan UU No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.Peranan dari LPSK ini memberikan suatu keyakinan bahwa kejahatan korupsi yang terorganisir dapat diselesaikan berkat whistleblower.

(23)

dikorupsinya. Beberapa perlindungan dilakukan terhadap saksi dan korban dalam kasus-kasus serius, di mana dari perlindungan itu kemudian turut andil dalam menegakkan hukum demi mencapai keadilan.7

Meskipun peran LPSK terhadap whistleblower sangat dibutuhkan dalam penegakan hukum, namun sistem dan kondisi hukum di Indonesia ternyata belum memberikan jaminan perlindungan yang semestinya terhadap keamanan dan keselamatan mereka, sebab UU No. 13 Tahun 2006 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban belum memberikan pelindungan hukum yang ideal dan proporsional bagi keberadaan whistleblower. Jika pelindungan atas keamanan dan keselamatan para whistleblower dapat dijalankan, maka potensi untuk mengungkapkan berbagai kasus korupsi akan berjalan lancar.Undang-undang hanya mengatur mengenai tanggung jawab LPSK, keanggotaan dan proses seleksi LPSK, pengambilan keputusan dan pendanaan namun tidak mengatur secara jelas mengenai organisasi dan dukungan kelembagaan, administrasi, serta tranparansi dan akuntabilitas dari LPSK.8Untuk itu Penulis mengangkat hal ini dalam Karya Ilmiah dalambentuk Tesis yang Berjudul

Eksistensi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) terhadap

Saksi Pelapor (Wistleblower)dalam Tindak Pidana Korupsi “

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

7

Rahmat, Kesaksian, Majalah Kesaksian Edisi II, 2012, hlm. 3. 8

Mal Thes Zumara, Fungsi LPSK dalam Kasus Pelanggaran HAM Dikaitkan dengan UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, Repository UNAND, diakses dari

(24)

Berdasarkan pada latar belakang diatas maka permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah:

a. Bagaimana Eksistensi Lembaga Perlindungan saksi dan Korban dalam melindungi saksi pelapor (whistleblower) pada tindak pidana korupsi?

b. Hambatan-hambatan yang mempengaruhi eksistensi LPSK menjalankan kewenangannya dalam melindungi saksi pelapor (whistleblower) pada tindak pidana korupsi?

2. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pembahasan tesis ini dibatasi pada penelitian mengenai eksistensi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dalam melindungi saksi pelapor (whistleblower) pada tindak pidana korupsi dengan kajian kajian yang berhubungan dengan kewenangan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban, serta referensi-referensi lainnya yang berhubungan dengan pembahasan tesis ini

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

(25)

Adapun tujuan penelitian tesis ini adalah untuk mengetahui dan memahami bagaimana eksistensi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dalam menjalankan kewenangannya melindungisaksi pelapor (whistleblower) pada perkara korupsi,serta menganalisa hambatan-hambatan yang terjadi didalam pelaksanaannya.Hambatan tersebut sebetulnya bukan saja semata karenapersoalan kelembagaan, tapi juga dukungan atau sambutaninstansi pemerintah tertentu atas kehadiran LPSK.

2. Kegunaan Penelitian

Ada dua kegunaan dalam penelitian ini yaitu: 1. Kegunaan Teoritis

Secara teoritis penelitian iniadalah “Untuk mengetahui eksistensi dari LembagaPerlindungan Saksi dan Korban dalam melindungi saksi pelapor (whistleblower) pada perkara tindak pidana korupsi. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai masukan dan sumbangan pemikiran bagi pengembangan pembangunan hukum di Indonesia

2. Kegunaan Praktis

Penelitian ini mencoba memberikan rekomendasi umum terhadap berbagai kelemahan terkait dengankelembagaan dalam UU No 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

(26)

pihak yang bertangungjawab atas pelaksanaan UU PSK dapatmengambil sikap dan tentunya dapat mengeliminir berbagai kelemahan yang ada. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk menambah informasi, pengetahuan dan masukan bagi masyarakat, penegak hukum dan instansi terkait, seperti Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan (hakim), Penasihat Hukum/Advokat, Balai Pemasyarakatan dan Lembaga Pemasyarakatan dalam upaya melindungi saksi pelapor (whistleblower)pada tindak pidana korupsi.

D.Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Pisau analisis untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini menggunakan teori penegakan hukum dan teori hukum progresif. Penegakan hukum juga dapat diartikan dalam kerangka tiga konsep, yakni konsep penegakan hukum yang bersifat total (total inforcement concept) yang menuntut agar semua nilai yang ada dibelakang norma hukum tersebut ditegakkan tanpa kecuali yang bersifat penuh (full inforcement concept) yang menyadari bahwa konsep total perlu dibatasi dengan hukum acara dan sebagainya demi perlindungan kepentingan individu, dan konsep penegakan actual (actual inforcement concept) yang muncul setelah diyakini adanya deskripsi dalam penegakan hukum , karena kepastian baik yang berkaitan dengan sarana prasarana, kualitas SDM, kualitas perundang-undangan dan kurangnya partisipasi masyarakat.

(27)

a. Faktor hukumnya sendiri yaitu UU PSK sebagai dasar perlindungan belum memiliki ketentuan yang khusus mengatur tentang pelapor/whistleblower. Khusus yang dimaksud adalah dari segi definisi, syarat dan perlindungan yang dapat diberikan kepada pelapor/whistleblower. Pengaturan Surat Edaran Mahkamah Agung RI (SEMA) yaitu SEMA Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan Bagi Pelapor Tindak Pidana (Whistle Blower) dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Justice Collaborator) di dalam Perkara Tindak Pidana Tertentu, dan Peraturan Bersama Kementerian Hukum dan HAM RI, KPK RI, Kejaksaan RI, Polri, dan LPSK tentang Perlindungan Bagi Pelapor, Saksi Pelapor dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama, hanya bersifat anjuran tidak mengikat antar penegak hukum sehingga sulit untuk diberikan perlindungan yang pasti jika didasarkan pada SEMA.

b. Aparatur penegak hukumnya, yakni LPSK yang merupakan lembaga baru di Indonesia masih mengalami banyak hambatan dalam memberikan perlindungan. Adanya benturan kewenangan LPSK dengan institusi lain khsusunya dengan kepolisian, dimana masing-masing institusi mendasarkan pada ketentuan perundang-undangan yang menjadi rujukan hukum lembaganya. Selain itu apabila LPSK memberikan rekomendasi kepada penegak hukum lain mengenai perlindungan hukum, hal itu dianggap intervensi kepada penegak hukum tersebut. Oleh karena itu, diperlukan suatu penyamaan visi antar penegak hukum. Selain masalah integralisasi yang belum baik peran LPSK masih terbatas dalam kewenangan yang dituangkan UU PSK.

c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung proses penegakan hukum. Sarana atau fasilitas tersebut, antara lain mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup, jika hal-hal tersebut tidak dipenuhi maka mustahil penegakan hukum mencapai tujuanya.

d. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.

e. Faktor kebudayaan yakni didasarkan sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.9

Teori hukum progresif diperlukan dalam rangka menjadikan keadilan subtantif sebagai inti pengadilan yang dijalankan di Indonesia. Kata progresif itu sendiri

9

(28)

berasal dari progress yang berarti adalah kemajuan. Jadi, disini diharapkan hukum itu hendaknya mampu mengikuti perkembangan zaman, mampu menjawab perubahan zaman dengan segala dasar didalamnya, serata mampu melayani masyarakat dengan menyandarkan pada aspek moralitas dari sumber daya penegak hukum itu sendiri.10Dasar filosofi dari hukum progresif adalah suatu institusi yang bertujuan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang adil, sejahtera dan membuat manusia bahagia.11 Selain itu juga hukum progresif menolak segala anggapan bahwa institusi hukum sebagai institusi yang final dan mutlak, sebaliknya hukum progresif percaya bahwa institusi hukum selalu berada dalam proses untuk terus menjadi (law as a process, law in the making). Anggapan ini dijelaskan oleh Satjipto Rahardjo sebagai berikut:

“Hukum progresif tidak memahami hukum sebagai institusi yang mutlak secara

final, melainkan sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk mengabdi kepada manusia. Dalam konteks pemikiran yang demikian itu, hukum selalu berada dalam proses untuk terus menjadi. Hukum adalah institusi yang secara terus menerus membangun dan mengubah dirinya menuju kepada tingkat kesempurnaan yang lebih baik. Kualitas kesempurnaan disini bisa diverifikasi ke dalam faktor-faktor keadilan, kesejahteraan, kepedulian kepada rakyat dan

lain-lain. Inilah hakikat “hukum yang selalu dalam proses menjadi (law as a process, law in the making).”12

Dalam konteks yang demikian itu, eksistensi LPSK diharapkan selalu bergerak dalam upayanya melindungi whistleblower tanpa terpaku pada hukum yang ada.

10

Ali Mahrus., Menggugat Dominasi Negara. hlm.80-82 11

Kusuma Mahmud., Menyelami Semangat Hukum Progresif; Terapi Paradigmatik Atas Lemahnya Penegakan Hukum Indonesia, Antony Lib bekerjasama LSHP, Yogyakarta, 2009, hlm.31

12

(29)

Jika LPSK hanya menerima hukum sebagai sebuah skema yang final, maka hukum tidak lagi tampil sebagai solusi bagi persoalan kemanusiaan, melainkan manusialah yang dipaksa untuk memenuhi kepentingan kepastian hukum.

Kewenangan LPSK dapat dilakukan secara maksimal dalam mewujudkan keadilan yang progresif dimana whistleblowermenjadi faktor penting dalam menentukan, bahwa pengadilan di Indonesia bukanlah suatu permainan (game) untuk mencari menang, melainkan mencari kebenaran dan keadilan. Keadilan progresif semakin jauh dari cita-cita “pengadilan yang cepat, sederhana, dan biaya

ringan” apabila membiarkan pengadilan didominasi oleh “permainan” prosedur.

2. Konseptual

Kerangka konseptual diperlukan dalam menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus/istilah istilah yang dipakai sesuai judul untuk memberikan batasan atau gambaran mengenai pokok-pokok dan alur pikir penulisan tesis ini. Adapun konsep yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah:

a. Eksistensi

Menurut kamus besar bahasa Indonesia Eksistensi adalah keberadaan, kehadiran yang mengandung unsur bertahan13. Pengertian lainnya dikemukakan oleh Abidin bahwa:

“Eksistensi adalah proses yang dinamis, suatu „menjadi‟ atau „mengada‟.

Ini sesuai dengan asal kata eksistensi itu sendiri, yakni existere yang artinya keluar dari, melampaui‟ atau „mengatasi‟. Jadi eksistensi tidak

13

(30)

bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur atau kenyal dan mengalami perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya”14. Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi adalah proses atau gerak untuk menjadi ada kemudian melakukan suatu hal untuk tetap menjadi ada.

b. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban adalahLembaga Perlindungan Saksi dan Korban, yang selanjutnya disingkat LPSK yang bertugas dan berwenang untuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kepada saksi dan/atau sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang.

c. Whistleblower kadang diartikan sebagai „saksi pelapor’, „pemukul

kentongan’, atau „pengungkap fakta’. Whistleblower biasanya ditujukan kepada seseorang yang pertama kali mengungkap atau melaporkan suatu tindak pidana atau tindakan yangdianggap ilegal di tempatnya bekerja atau orang lain berada, kepadaotoritas internal organisasi atau kepada publik seperti media cetak atau lembaga pemantau publik. Pengungkapan tersebut tidak selaludidasari itikad baik sang pelapor, tetapi tujuannya untuk mengungkapkejahatan atau penyelewengan yang diketahuinya.

d. Pengertian korupsi adalah karakteristik korupsi yang unik, multi dimensi, dan sangat merusak(destruktif) telah menimbulkan pendapat dan penafsiran yang berbeda-beda, baik di kalangan praktisi hukum maupun teoritisi hukum, tentang batasan korupsi. Salah satu pengertian korupsi

14

(31)

yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya dikemukakan oleh Gunnar Myrdal. Gunnar Myrdal sebagaimana dikutip oleh Oemar Seno Adji, memberikan pengertian korupsi dalam arti yang luasyaitu;

“The term ‘corruption’ will be used-in its sense, to include not only all forms of ‘improper of selfish exercise of power and influence attached to a public office or to the special position one occupies in public life’ but also the activity of the bribers”.15

e. Tindak pidanakorupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No 31 tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan undang-Undang No 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ( Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No 20 Tahun 2001)

15

(32)

II.TINJAUANPUSTAKA

A. Tinjauan Umum Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

Pasca amandemen UUD 1945 yang terjadi di Indonesia, banyak hal yang telah berubah pada sistem ketatanegaraan. Salah satu sistem ketatanegaraan Indonesia yang berubah pasca amandemen UUD 1945 adalah mengenai format lembaga negara. Sebelum amandemen UUD 1945, format lembaga negara Indonesia adalah dengan menggunakan sistem lembaga tertinggi negara yang memegang kedaul atan tertinggi, yang kemudian lembaga tertinggi negara membagi kekuasaan kepada lembaga-lembaga di bawahnya. Akan tetapi, setelah amandemen UUD 1945 konsepsi lembaga tertinggi negara tidak digunakan lagi.

Kekuasaan tertinggi Negara dikembalikan kepada rakyat yang dilakukan berdasarkan UUD 19451, artinya format lembaga negara pasca amandemen UUD 1945 kedudukanlembaga negara berada kedudukannya saling sejajar dan saling mengimbangi(check and balances).UUD 1945 (amandemen) telah mengamanatkan dibentuknya beberapalembaga negara dengan fungsi dan kewenangannya masing-masing yangberbeda satu sama lainnya, tetapi tetap dalam semangat check and balances.

1

(33)

Lembaga-lembaga negara di atas dalam sistem ketatanegaraan disebutsebagai Lembaga Tinggi Negara. Dengan fungsi dan kewenangannyalembaga-lembaga negara tersebut menjalankan roda pemerintahan.Seiring perkembangan negara yang demikian pesat, sertakebutuhan kesejahteraan dan perlindungan terhadap warga negara semakin meningkat. Kurangnya lembaga-lembaga negara pasca amandemen UUD 1945dalam memenuhi kebutuhan akan kesejahteraan dan perlindungan warganegara, pada akhirnya memicu kelahiran lembaga-lembaga negara barudengan berpayung hukum pada peraturan perundang-undangan dibawah UUD1945.

Lembaga-lembaga negara baru yang lahir karena undang-undangcenderung berbentuk komisi atau lembaga yang mempunyai sifat yangindenpenden.Secara teoritik, lahirnya lembaga-lembaga negara baru tersebutsebagai akibat dari gelombang baru demokrasi yang terjadi disejumlah negara,khususnya yang mengalami proses transisi demokrasi dari otoritarian kedemokratis, muncul organ-organ kekuasaan baru, baik yang sifatnyaindependen (independent regulatory agencies), maupun yang sebatassampiran negara (state auxiliary agencies). Kalaupun bukan merupakanbentuk kekalahan gagasan trias politica terhadap perkembangan baru danpergeseran paradigma pemerintahan dari perspektif Huntingtonian, kelahiran organ-organ kekuasaan baru dapat dibaca sebagai sebuah bentuk penyesuain diri negara untuk mempertahankan stabilitas sistem dalam kerangkapengaturan trias politica untuk menuju suatu kondisi tertib politik.2

2

(34)

http://wahyudidjafar.files.wordpress.com/2010/01/komisi-negara_antaralatah-Sejumlah persoalan bangsa terkait dengan kesejahteraan danperlindungan warga negara bertolak pada penegakkan hukum, yang manadalam masa rezim otoritarian orde baru persoalan tersebut seperti tersimpan tanpa pernah dipublikasikan. Oleh karenanya dalam masa transisidemokrasi yang sedang berjalan saat ini, Indonesia banyak melahirkan lembaga dan komisi baru untuk membantujalannya tertib pemerintahan disegala bidang.Periode sesudah tumbangnya Orde Baru komisi negara terbentuk hingga 2009, Indonesia sedikitnya telahmemiliki 14 komisi negara independen, yang bukan perpanjangan dari salah satu organ kekuasaan tertentu. Dari 14 komisi-komisi negara yang ada, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) adalah lembaga yang mempunyai kewenangan memberikan perlidunganterhadap saksi dan korban pada suatu perkara hukum yang terjadi.

Berdasarkan ketentuan umum Pasal 1 ayat (3) UUPSK menyatakan bahwa:

“Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, yangselanjutnya disingkat LPSK, adalah lembaga yang bertugas dan berwenanguntuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kepada Saksi dan/atauKorban sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini”. Kemudian dalamPasal 12 UU PSK disebutkan bahwa:

“LPSK bertanggung jawab untukmenangani pemberian perlindungan dan bantuan

pada Saksi dan Korbanberdasarkan tugas dan kewenangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini”.

(35)

melindungi saksi yang mengetahui tindak pidana agar tercipta penegakan hukum yang seadil-adilnya, sama rata dan tidak pandang bulu. Hal ini sangat penting untuk menciptakan iklim hukum yang sebenarnya di dalam suatu negara hukum.

Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban dibentuk untuk memberikan rasa aman terhadap setiap saksi dan/atau korban dalam memberikan keterangan pada setiap proses peradilan pidana. Perlindungan dalam UU No. 13 Tahun 2006 diartikan sebagai segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan/atau korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK.

Undang-Undang (UU) Perlindungan Saksi dan Korban pada awalnyaadalah amanat yang didasarkan Ketetapan (TAP) MPR No. VIII Tahun 2001tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi,Kolusi dan Nepotisme, yang menyatakan bahwa perlu adanya sebuah undang-undangyang mengatur tentang perlindungan saksi.Penjelasan Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban menyebutkan bahwaPerlindungan Saksi dan Korban dalam proses peradilan pidana di Indonesia belum diatur secara khusus. Pasal 50 sampai dengan Pasal 68 UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana hanya mengatur perlindungan terhadap tersangka atau terdakwa untuk mendapat perlindungan dari berbagai kemungkinan pelanggaran hak asasi manusia..

(36)

masih sedikit, namun telah diacungi jempol dari berbagai pihak. Beberapa perlindungan dilakukan terhadap saksi dan korban dalam kasus-kasus serius, di mana dari perlindungan itu kemudian turut andil dalam menegakkan hukum demi mencapai keadilan.3

Bila dilihat dari karakteristik tugas dan pekerjaan maka LPSK sebenarnya merupakan model lembaga yangmenjadi pendukung (supporting) dari pekerjaan lembaga/institusi lainnya4. Implikasi atas karakteristikpekerjaan tersebut menyebabkan LPSK tidak akan terlepas dari keberadaan beberapa lembaga penegakhukum yang ada5.

Dari segi politik hal ini membutuhkan seni dan cara penempatan yang baik agar bisamenempatkan diri pada posisi tersebut. Oleh karena itulah maka LPSK dengan jelas harus membangunposisi kelembagaannya yang berada diantara dua kepentingan yakni kepentingan pertama yangdimandatkan oleh UU PSK sebagai lembaga yang bersifat mandiri, namun dari kepentingan kedua yakniuntuk menjalankan program juga harus didukung oleh instansi terkait yang dalam prakteknya akanmenimbulkan irisan kewenangan dengan instansi tersebut.

B. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

3

Rahmat, Kesaksian, Majalah Kesaksian Edisi II, 2012, hlm. 3. 4

Lihat Notulensi Diskusi terbatas mengenai lembaga negara, tanggal 7 Maret 2006 yang dilaksanakan oleh ICW danKoalisi Perlindungan Saksi

5

(37)

Tindak pidana korupsi adalah perbuatan mengambil aset milik Negara yang dimotivasi oleh kepentingan pribadi, sehingga negara kehilangankemampuannya untuk melaksanakan dan tanggungjawabnya dalammenyejahterakan masyarakat. Sebagai konsekuensinya, korupsimengakibatkan masyarakat kehilangan hak-hak dasar untuk hidupsejahtera.

Istilah korupsi dilihat dari sudut pandang terminologi berasal dari kata

corruptio”dalam bahasa Latin yang berarti kerusakan atau kebobrokan, dan

dipakaipula untuk menunjuk suatu keadaan atau perbuatan yang busuk. Dalamperkembangan selanjutnya, istilah ini mewarnai perbendaharaan katadalam bahasa berbagai negara, termasuk bahasa Indonesia. Istilah korupsiyang sering dikaitkan dengan ketidakjujuran atau kecurangan seseorangdalam bidang keuangan. Dengan demikian, melakukan korupsi berartimelakukan kecurangan atau penyimpangan menyangkut keuangannegara. Hal itu dikemukakan pula oleh Henry Campbell Black6 yangmengartikan korupsi sebagai: “an act done with an intent to give someadvantage inconsistent with official duty and the rights of

others”. (terjemahanbebasnya: sesuatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untukmemberikan suatu keuntungan yang tidak sesuai dengan kewajibanresmi dan hak-hak dari pihak lain).

Termasuk pula dalam pengertian“corruption” menurut Black adalah, perbuatan

seorang pejabat yang secaramelanggar hukum menggunakan jabatannya untuk

mendapatkan suatukeuntungan yang berlawanan dengan kewajibannya. “an act

6

(38)

done with anintent to give some advantage inconsistent with official duty and the

rights ofothers” (terjemahan bebasnya: sesuatu perbuatan yang dilakukan denganmaksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak sesuai dengankewajiban resmi dan hak-hak dari pihak lain). Dalam Webster’s

NewAmerican Dictionary kata “corruption” diartikan sebagai “decay

(Lapuk),“contamination” (kemasukan sesuatu yang merusak), dan

impurity”(tidak murni). Sedangkan kata “corrupt” dijelaskan sebagai “to

becomerotten or putrid” (menjadi busuk, lapuk atau buruk), juga “to induce

decayin something originally clean and sound” (memasukkan sesuatu yang

busuk,atau yang lapuk ke dalam sesuatu yang semula bersih dan bagus).7

Korupsi dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai perbuatan yang buruk seperti penggelapanuang, penerimaan uang sogok dan sebagainya.8 Sedangkan

menurutSudarto, istilah korupsi berasal dari perkataan “corruption”, yang

berartikerusakan. Disamping itu perkataan korupsi dipakai pula untuk menunjukkeadaan atau perbuatan yang busuk. Korupsi banyak dikaitkankepada ketidak-jujuran seseorang dalam bidang keuangan.

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak PidanaKorupsi dalam Pasal3 memberikan pengertian korupsi sebagai berikut :

”Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiriatau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan,kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukanyang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara”.Secara umum korupsi berhubungan dengan perbuatan

7

Lihat A. Mariam Webster, New International Dictionary, (G & C Marriam Co. PublishersSpringfield Mass USA, 1985 )

8

(39)

yangmerugikan kepentingan negara atau masyarakat luas untuk kepentinganpribadi, kelompok, atau keluarga tertentu.’

Karakteristik korupsi yang unik, multi dimensi, dan sangat merusakdestruktif) telah menimbulkan pendapat dan penafsiran yang berbeda-beda,baik di kalangan praktisi hukum maupun teoritisi hukum, tentang batasankorupsi.Salah satu pengertian korupsi yang dikemukakan oleh para ahlidiantaranya dikemukakan oleh Gunnar Myrdal. Gunnar Myrdal sebagaimanadikutip oleh Oemar Seno Adji,

memberikan pengertian korupsi dalam arti yangluas, dengan menyatakan, “The

term ‘corruption’ will be used-in its sense, toinclude not only all forms of

‘improper of selfish exercise of power andinfluence attached to a public office or

to the special position one occupies inpublic life’ but also the activity of the

bribers”.9

Vijay K. Shunglu berpendapat sebagian besar praktik korupsi adalah kasus “ white-collar corruption”10. Hal ini dikarenakan “white-collar worker” memiliki peluang

yang lebih besar untuk melakukan korupsi dibandingkan dengan “blue-collar worker”.11 Sutherland menyatakan bahwa “a white collar crime was a crimecommitted by a person of respectability and high social status in the course

ofhis occupation.”12

Menurut IS Susanto, “white-collar crime” dapat dikelompokkan ke dalam:

1.Kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh kalangan profesi dalam melakukanpekerjaannya.

2. Kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah atau aparatnya 3. kejahatan korporasi.13

9

Oemar Seno Adji, Hukum Pidana Pengembangan, (Jakarta: Erlangga, 1985), hal. 240.

10

Vijay K. Shunglu, India’s Anticorruption Strategy,” in Regional Strategies and International Instrument to Fight Corruption, page 17.

(40)

Berbeda dengan IS Susanto yang mengelompokkan kejahatan yang dilakukan oleh

pemerintah ke dalam kelompok kejahatan yang disebut sebagai “white-collar crime”,

Spinellis justru mengelompokkan kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah ke

dalam kelompok “top hat crimes”. “Top hatcrimes” adalah kejahatan yang dilakukan

oleh “politicians”, yaitu orang-orang yang :

a. take part in politics dan

b. hold public offices.14

Perkembanganselanjutnya, istilah ini mewarnai perbendaharaan kata dalam bahasaberbagai negara, termasuk bahasa Indonesia. Istilah korupsi seringdikaitkan dengan ketidakjujuran atau kecurangan seseorang dalam bidang keuangan.

Tindak Pidana Korupsi tidak hanya dilakukan oleh Pejabat Negara melainkan juga

dilakukan korporasi. Pelakunya bahkan tidak lagi merasa malu menyandang predikat

tersangka kasus korupsi sehingga perbuatan korupsi seolah-olah sudah menjadi

sesuatu yang biasa untuk dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan walaupun

sudah jelas melakukan perbuatan melawan hukum memperkaya diri sendiri atau

orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau

perekonomian Negara.

C. Pengertian Saksi Pelapor(Whistleblower)

Istilah whistleblower sering muncul dalam kasus korupsi yang ditangani oleh Komisi Permberantasan korupsi (KPK), dikutip dalam Surat Edaran Mahkamah agung Nomor 4 Tahun 2011 tentang perlakuan Bagi Pelapor Tindak Pidana ( whistleblower). Menurut UU.No.13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan

14Dionysios Spinellis, “Crime of Politicians in Office (or “Top Hat Crimes”),” General Report for the Round

(41)

korban, mendefinisikan whistleblower yaitu orang yang memberikan informasi kepada penegak hukum mengenai terjadinya suatu tindak pidana (lihat penjelasan pasal 10 ayat 1). Sedangkan menurut komisi pemberantasan korupsi (KPK)

Whistleblower adalah seseorang yang melaporkan perbuatan yang berindikasi tindak pidana korupsi yang terjadi didalam organisasi tempat ia bekerja, dan ia memiliki akses informasi yang memadai atas terjadinya indikasi tindak pidana korupsi tersebut.15

Secara umum pengertian orang yang mengungkapkan fakta kepada publik mengenai sebuah skandal, bahaya, malpraktik, maladministrasi atau korupsi disebutwhistleblower.16Whistleblowerdidefinisikan sebagai seorang yang memberikan bantuan kepada penegak hukum dalam bentuk pemberian informasi penting, bukti-bukti yang kuat, atau keterangan di bawah sumpah yang dapat mengungkap suatu kejahatan dimana orang tersebut terlibat dalam kejahatan tersebut atau suatu kejahatan lainnya.17

Pada umumnya whistleblower merupakan bagian dari pelaku kejahatan yang terjadi karena memang whistleblower sangat dekat dengan kejahatan itu sendiri dan mengetahui secara langsung tentang pelanggaran yang terjadi, tetapi seorang

whistleblower bukan merupakan pelaku utama. Kejahatan tersebut biasanya merupakan sebuah skandal atau merupakan suatu jaringan sindikat sehingga

15http”//

kws.kpk.go.id/.diakses tanggal 25 november 2014

16

Koalisi Perlindungan Saksi, Pengertian Saksi dan Perlindungan bagi Para Pelapor haruslah diperluas, www.antikorupsi.org1, diakses tanggal 2 Desember 2014

17

(42)

whistleblowermengetahui secara pasti kejahatan itu dan dapat membantu penegak hukum untuk membuktikan kejahatan tersebut.18

Whistleblower ibarat martir yang memicu pengungkapan skandal kejahatan,dimana dalam kejahatan tersebut kerap melibatkanatasan maupun koleganya sendiri. Pengaturannya secara implisit termaktub dalam UU No. 13 Tahun2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban serta kemudian diikutidengan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011 tentangPerlakuan terhadap Pelapor Tindak Pidana (whistleblower) dan SaksiPelaku yang Bekerja Sama (justice collaborator).Surat Edaran Mahkamah Agung RI Tahun 2011 tersebut diterbitkan berdasarkan pengaturan Pasal 10 UU No. 13 Tahun 2006 tentangPerlindungan Saksi dan Korban.

Whistleblower harus memiliki motivasi pilihanetis yang kuat untuk berani mengungkap skandal kejahatan terhadappublik. Salah satu tokoh AS

whistleblower yang terkenal di lingkup perusahaanswasta adalah Jeff rey Wigand, seorang direksi di BagianRiset dan Pengembangan (1988-1993) perusahaan rokok Brown andWilliamson Tobacoo Corporation. Wigand memberi laporan ataukesaksian atas praktik manipulasi kadar nikotin rokok yang didugaterjadi di perusahaan itu.Wigand pada akhirnya mau mengungkap dugaanpelanggaran atau kejahatan itu. Jeffrey Wigand jelas menekankan aspek moralitas dalam memberikanlaporan atau kesaksian mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan.Hal ini tersurat dari pernyataannya yang cukup terkenal bahwa, “kita

18

(43)

sebenarnya adalah manusia biasa yang berada dalam situasi luar biasa. Namun, kita telah melakukan sesuatu yang benar yang seharusnya dilakukan oleh semua orang.”19

Whistleblowersangat rentan akan intimidasi danancaman karena status hukumnya (di Indonesia) tidak diakui. Dalam kasus pidana korupsi,mereka biasanya disebut sebagai para pelapor (dikategorikan saja secara sederhana berdasarkan KUHAP). Pada umumnya whistleblower akan melaporkan kejahatan di lingkungannyakepada otoritas internal terlebih dahulu. Namun seorangwhistleblower tidak berhenti melaporkan kejahatan kepada otoritas internalketika proses penyelidikan laporannya tidak berjalan. Ia dapat melaporkankejahatan kepada otoritas yang lebih tinggi, semisal langsung ke dewandireksi, komisaris, kepala kantor, atau kepada otoritas publik di luarorganisasi yang berwenang serta media massa.Langkah ini dilakukan supaya ada tindakan internal organisasi atautindakan hukum terhadap para pelaku yang terlibat. Hanya saja terdapatkecenderungan yang tak dapat ditutupi pula bahwa jika terjadisebuah kejahatan dalam organisasi, maka otoritas tersebut bertindakkontraproduktif.

Keberanian mengungkap apa yang benar dan salah atau apa yangbaik dan yang jahat, diharapkan pelanggaran atau kejahatan dapat terungkapdan dapat diatasidemi perbaikan suatu negara, perusahan, lembaga, dan kondisi masyarakat.Siapa pun pada akhirnya dapat berperan menjadi saksi pelapor

19

(44)

(whistleblower)jika diabersedia dan mampu melaporkan atau menyampaikan dugaan kejahatanatau tindak pidana yang lebih terorganisir. Karena setiap skandalpublik dapat dipastikan akan mempengaruhi segala upaya perbaikandi bidang ekonomi, politik, hukum, maupun sosial tadi. Agar praktik sistem pelaporan dan perlindungan whistleblowerdapat dilakukan secara lebih maksimal diperlukan upaya perbaikan terus-menerus penerapanpraktik sistem pelaporan dan perlindungan saksi yang sudah ada.

Perkembangan baru mengenai pengaturan whistleblowerini dilaksanakan oleh Mahkamah Agung pada tanggal 10 Agustus 2011 yang lalu menerbitkanSurat Edaran Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan BagiPelapor Tindak Pidana (Whistleblower) dan Saksi Pelaku yang BekerjaSama di Dalam Tindak Pidana Tertentu. Surat edaran ini menjadi arah dan harapanbaru untuksementara bagiaparat penegak hukum dalam memberikan perlakuan khusus ataureward

terhadap whistleblower. Sehingga kedepannya whistleblower dapat turut aktif berani menjadi saksi demi mewujudkan keadilan bagi masyarakat.

D. Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pelapor (whistleblower) Tindak

Pidana Korupsi

(45)

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, Negara bertanggung jawab atas perlindungan Hak Asasi Manusia merupakan suatu hal yang sangat penting. Seperti yang jelas diuraikan dalam Pasal 28I ayat (4) Undang-undang Dasar (UUD) Tahun 1945 yang berbunyi: “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab

negara, terutama pemerintah.”

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2006 TentangPerlindungan Saksi dan Korban berlaku setelah diundangkan pada tanggal 11Agustus 2006 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 64.Undang-Undang ini merupakan perjuangan panjang dan kebutuhan mendesakbagi kalangan aktivis antikorupsi dan Hak Asasi Manusia (HAM). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2006 tentang PerlindunganSaksi dan Korban merupakan lex specialis (ketentuan khusus) yang mengaturperlindungan hukum bagi saksi dan/atau korban. Pengaturan perlindungandan tata cara pemberian perlindungan bagi saksi dan atau korban, sebelumnyatersebar di beberapa peraturan dan di beberapa lembaga negara yangdiberikan kewenangan untuk memberikan perlindungan.

Bagian penjelasan Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 tentangPerlindungan Saksi dan Korban disebutkan:

(46)

Pentingnya perlindungan hukum terhadap setiap masyarakat inilah yang menjadi salah satu alasan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang di undangkan pada 11 Agustus 2006. Dalam Undang-undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, diatur pula tentang sebuah lembaga yang bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan dan bantuan pada saksi dan korban, yang dinamakan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). LPSK bertugas dan berwenang untuk memberikan perlindungan dan bantuan kepada saksi dan korban. Lingkup perlindungan oleh LPSK adalah pada semua tahap proses peradilan pidana, agar saksi dan/atau korban merasa aman ketika memberikan keterangan.

Prinsip Universal sebagaimana termuat dalam The UniversalDeclaration of Human Right (10 Desember 1948) dan The International Covenanton Civil and Political Rights (16 Desember 1966) mengakui bahwa semua orangadalah sama terhadap undang-undang dan berhak atas perlindungan hukum yangsama tanpa perlakuan atau sikap diskriminasi apapun. Setiap tindakan pelanggaran hak-hak asasi yang di jamin oleh ketentuan peraturan perundang-undangan nasional.Suatu

pengungkapan atau kesaksian kebenaran dalam suatu scandal crime ataupun

Serious Crime oleh whistleblowerjelas merupakanancaman nyata bagi pelaku kejahatan.20 Pelaku kejahatan akanmenggunakan berbagai cara untuk membungkam dan melakukan aksipembalasan sehingga kebijakan perlindungan seharusnya bersifat prevensial (mencegah sebelum terjadi) kehadiran

20

(47)

whistleblower memang sulitdibantah dapat menjadi alat bantu, sekalipun seorang

whistleblowerberani mengambil resiko yang sangat berbahaya bagi keselamatan fisik maupun psikis dirinya, dan keluarganya, resiko terhadap pekerjaan danmasa depannya.

Bedasarkan penjabaran diatas sangatlah patut adanya perlindunganhukum bagi

whistleblowerdalam mengungkap fakta tindak pidanakorupsi di Indonesia. Terhadap orang-orang yang kritis dan beranimencegah dan mengungkap korupsi yang telah ia lakukan bersama rekan-rekannya. Namun fakta yang sering terjadi justrukebalikannya, mereka diberikan sanksi dengan direkayasaseolah-olah yang bersangkutan melakukan perbuatan indisipliner atauperbuatan melawan hukum. Whistleblower perlu diberikanperlindungan hukum, sehingga iatidak selalu menjadi korban denganharapan whistlebloweryang lain mampu bekerjasama danmempermudah aparat hukum untuk mengungkap suatu tindak pidanakorupsi guna menemukan alat bukti serta menangkap tersangka yang lain.

(48)

atau menjadi saksi tindak pidana, sudah sewajarnya apabila mereka diberi penghargaan sesuai dengan perannya. Adanya penghargaan bagi peran serta masyarakat penting dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam melaporkan tindak pidana. Oleh karena itu model perlindungan berlapis bagi

whistleblower yang dapat diberikan antara lain:

1. Perlindungan yang Bersifat Represif

Bentuk perlindungan represif meliputi perlindungan hukum yang diberikan terhadap whistleblower dalam segi antisipasi dari segala tindakan atau resiko yang tidak diinginkan. Perlindungan yang diberikan dalam bentuk secara yuridis maupun fisik.21Sistem perlindungan antisipasi atau represif dengan memanfaatkan lembaga atau badan yang telah ada melalui penambahan bahkan menguatkan fungsi dan kewenangan dari lembaga tersebut. Butuh suatu terobosan sebagai model perlindungan baik pada saksi dan korban terutama whistle blower. Suatu aktivasi lembaga ini sudah di nanti-nanti agar mampu memfasilitasi perlindungan bagi whistle blower.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, yang telah dibentuk pasca dikeluarkan undang-undang nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, belum memberikan suatu jaminan perlindungan secara maksimal. Perlindungan baik dalam bentuk fisik maupun hukum tidak terlaksana dengan efektif. Perlindungan hukum tidak akan terlaksana jika tidak ada motor penggerak untuk

21

(49)

mewujudkan suatu jaminan perlindungan hukum, dengan begitu dibutuhkan lembaga atau badan yang mampu melaksanakan.

Di sisi lain model koordinasi antara Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban atau LPSK dengan instansi lain dalam memberikan perlindungan hukum dapat digunakan sebagai upaya preventif agar mampu menciptakan instrumen guna mengantisipasi kemungkinan terburuk dalam kedudukan whistle blower. Asas-asas umum pemerintahan yang baik menjadi dasar agar tercipta koordinasi yang harmonis demi kepentingan negara sebagai kebutuhan publik. Dari sinergitas tersebut dapat dihasilkan suatu program maupun kebijakan lembaga agar menciptakan suatu pembebasan dalam pertanggungjawaban pidana yang dipikul (suatu kondisi ketika whistleblower tersangkut kasus dimana ia juga menjadi saksi pengungkap fakta).

Jenis instrumen yang dapat dihasilkan antara Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban dengan lembaga lain misal Kejaksaan, melalui Kejaksaan Agung memunculkan suatu kebijakan guna melindungi status whistleblower. Aplikasinya berupa pembuatan ketentuan peraturan yang berisi penempatan whistleblower

sebagai bagian dari penuntut umum atau dari pihak kejaksaan.

(50)

chaos22 ketika terbit seorang whistleblower dengan segala ancaman yang ditujukan.

Jenis kordinasi lain melalui lembaga representasi masyarakat dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban yaitu menempatkan klausula pengaturan seperti di atas atas binding power atau memiliki kekuatan hukum mengikat ketika aturan yang demikian semakin dikembangkan oleh badan representatif masyarakat. Bahwa whistleblower bukanlah seorang saksi maka pengaturannya harus secara khusus dengan diaplikasikan pada kewenangan LPSK.

Klausul tersebut memberikan dampak yang sangat obyektif bagi whistleblower

dengan sistem perlindungan hukum yang bertaraf legal national. Implikasi yuridis yang timbul bahwa lex specialis derogat legi generalle dan lex superior derogat legi inferiori. Pengaturan yang dilakukan koordinasi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban dengan Kejaksaan masih di bawah pengaturan yang dihasilkan pengaturan oleh legislatif nasional. Pengaturan ini diharapkan mampu memberikan pengamanan bagi seorang whistleblower demi kedudukan dan status hukum.

2. Perlindungan yang Bersifat Represif

Bentuk perlindungan selanjutnya berupa penerapan Restorative justice yang termodifikasi. Restorative justice bertujuan untuk mewujudkan pemulihan kondisi korban kejahatan, pelaku dan masyarakat berkepentingan (stakeholder) melalui proses penyelesaian perkara yang tidak hanya berfokus pada mengadili dan

22

(51)

menghukum pelaku.23 Stakeholder disini antara lain saksi, whistleblower dan masyarakat yang mungkin dirugikan.Proses peradilan pidana yang bersifat restoratif berpandangan bahwa mewujudkan keadilan bukan urusan pemerintah dan pelaku kejahatan, tetapi lebih dari itu harus memberikan keadilan secara totalitas yang tidak bisa mengabaikan kepentingan dan hak-hak dari korban dan masyarakatnya.24

Mekanisme restorative justice termodifikasi digunakan sesuai dengan karakter bangsa Indonesia karena konsep restorative justice yang ada jika diterapkan maka dapat mengakibatkan dampak negatif tanpa mempedulikan karakter bangsa ini. Modifikasi yang dilakukan pada tahap peradilan pidana maupun konsep bentuk perlindungan bagi whistleblower. Tahapan proses peradilan pidana Indonesia sudah waktunya untuk direvisi demi tuntutan tujuan hukum yang memberikan kemanfaatan dan keadilan bagi keseluruhan pihak.

Tahap proses peradilan yang akan direvisi dalam bentuk menambahkan ataupun mengganti tahap yang sudah selayaknya untuk dimodifikasi. Pertama akan ditambahkan proses permulaan peradilan sehabis dilakukan penyidikan namun sebelum masuk ke proses penuntutan berupa proses untuk mempertemukan para pihak (stakeholder) baik pelaku korban maupun kelurga korban, saksi maupun

whistleblower sampai masyarakat kolektif yang memiliki kepentingan di

23

Dr.Artidjo Alkostar,S.H.,LLM.Restorative Justice.Jurnal Varia Peradilan 2007 24

(52)

dalamnya. Proses ini bisa disebut istilah mediasi dalam proses peradilan perdata ataupun dismissal proses dalam bidang peradilan Tata Usaha Negara.

Proses permulaan tersebut dapat disepakati bahwa baik pihak keluarga korban,korban,saksi, masyarakat kolektif dan pelaku untuk tidak meneruskan kasus kejahatan sampai pada tahap penuntutan. Yang terpenting disini adalah kepentingan para pihak akhirnya mampu lebih banyak diakomodir dan bisa menciptakan kemanfaatan bagi para pihak. Proses selanjutnya yang sebaiknya ditambah dalam sistem peradilan pidana Indonesia adalah memberikan jaminan perlindungan hukum bagi seorang whistleblower. Kelonggaran yang diberikan dalam sistem peradilan pidana ini bisa berupa tidak diambil sumpah dalam keterangan whistleblower. Untuk menguatkan hal tersebut juga perlu suatu instrumen hukum sebagai payung hukum adanya perlindungan tersebut agar muncul legalitas dalam pengaturan suatu mekanisme beracara di peradilan pidana.

(53)

Saat ini praktik-praktik sistem pelaporan dan perlindungan whistleblower

diIndonesia belum sepenuhnya dilaksanakan secara luas di lembaga-lembagapemerintahan atau lembaga negara, institusi-institusi publik atau sektorswasta. Negara ini sangat jauh tertinggal dari negara-negara lain, sepertiAmerika Serikat (AS), Australia, dan beberapa negara di Eropa yangsudah lama menerapkan sistem pelaporan dan perlindungan whistleblower.Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan(PPATK), Ombudsman, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KomnasHAM), Komisi Yudisial (KY), Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas),Komisi Kejaksaan, sedangkan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban(LPSK) masih dalam tahap pembangunan sistem. Selain itu beberapa perusahaanswasta dan BUMN sudah membangun dan menerapkan sistemwhistleblowing tersebut, seperti Pertamina, United Tractors, Sinar Mas, dansebagainya.Sistem whistleblower yang diterapkan di berbagai instansi dan perusahaanBUMN atau swasta tersebut juga dilengkapi dengan perlindungannya.

(54)

Whistleblower dapat berperan besar dalam mengungkap praktik-praktikkoruptif lembaga-lembaga publik, pemerintahan maupun perusahaanswasta. Tanpa adanya sistem pelaporan dan perlindungan whistleblower,partisipasi publik untuk membongkar suatu dugaan tindak pidana ataupelanggaran menjadi rendah. Hal itu berarti praktik-praktik menyimpang,pelanggaran, atau kejahatan pun semakin berkembang subur.Oleh karena itu peran whistleblower di Indonesia perlu terus didorong,disosialisasikan, dan diterapkan, baik di perusahaan, lembagapemerintah, dan institusi publik lain. Bagaimana peran whistleblowerdi Indonesia dibangun dan dikembangkan memang membutuhkan waktu dan sebuah proses karena praktik pelaporan dan perlindungan terhadap whistleblower

membutuhkan banyak tantangan.

Akibat minimnya perlindungan hukum Indonesia,seorang whistleblower dapat terancam karena laporan atau kesaksiannya atas dugaan pelanggaran dan kejahatan yang terjadi. Pihak-pihakyang merasa dirugikan kemungkinan besar akan memberikan perlawananuntuk mencegah whistleblower memberikan laporan atau kesaksian.

(55)

Pada Sistem pelaporan dan perlindungan ada kewajibanyang harus dipenuhi oleh seorang whistleblower untuk memberi laporanatau kesaksian dan mendapatkan perlindungan. Misalnya hal yang diungkapoleh whistleblower haruslah fakta dan bukan gossip atau isu semata.Whistleblower juga tidak akan menyampaikan laporan atau kesaksiankepada institusi lain atau kepada media massa jika

whistleblower sudahmemberikan laporan atau kesaksian kepada lembaga yang berwenangmenangani.

Seorang whistleblower dalam upaya mengungkap suatu pelanggaranatau kejahatan, baik di perusahaan atau suatu lembaga pemerintahan,memang dapat

dilatari berbagai motivasi, seperti pembalasan dendam,ingin “menjatuhkan”

institusi tempatnya bekerja, mencari “selamat”,atau niat untuk menciptakan

lingkungan organisasi tempatnya bekerjayang lebih baik.

E. Fungsi Hukum Pidana

(56)

cabang hukum lainnya. Fungsi khusus hukum pidana ini dapat dibedakan menjadi 3 ( tiga ) fungsi, yaitu :

a. Fungsi primer, yaitu sebagai sarana dalam penanggulangan kejahatan atau sarana untuk mengontrol atau mengendalikan masyarakat.

b. Fungsi sekunder, yaitu untuk menjaga agar penguasa dalam menanggulangi kejahatan itu melaksanakan tugasnya sesuai dengan aturan yang digariskan dalam hukum pidana.

(57)

III. METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Masalah

Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatife, dimulai dengan mengkaji peraturan perundang-undangan atau pasal pasal serta literatur-literatur yang terkait dengan eksistensi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dalam melindungi saksi tindak pidana korupsi. Pendekatan yuridis normatif dimaksudkan sebagai penelaahan dalam tataran konsepsional tentang arti dan maksud berbagai peraturan hukum nasional yang berkaitan dengan eksistensi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban dalam melindungi saksi pelapor (whistleblower) pada tindak pidana korupsi.

B. Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder mengenai ketentuan pasal-pasal didalam undang-undang. Data sekunder tersebut terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

1.Bahan hukum primer yang digunakan di peroleh dari sumber berikut ini : a. Undang Undang No 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana b. Undang Undang No 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan

(58)

c. Undang Undang No 31 Tahun 1999 jo. Undang Undang No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

2. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang mendukung dan menjelaskan mengenai bahan hukum primer berupa: buku-buku hukum (text book), jurnal-jurnal hukum, karya tulis atau pendapat para ahli hukum yang dimuat di media.

3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang member petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti majalah, surat kabar, kamus dan ensiklopedia.

C. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Prosedur Pengumpulan Data

Cara pengolahan bahan hukum ini dilakukan secara induktif yaitu menarik kesimpulan dari suatu permasalahan konkret yang bersifat khusus kepada permasalahan abstrak yang bersifat umum.

2. Prosedur Pengolahan Data

(59)

D. Analisis Data

(60)

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan uraian-uraian pada bab pembahasan sebagai jawaban atas permasalahan yang timbul dalam bab pendahuluan, maka dapatlah ditarik kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:

1. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) belum sepenuhnya memiliki peran dan kewenangan dalam memberikan perlindungan kepada

whistleblower beserta keluarganya selama proses peradilan berlangsung sebagai suatu bentuk pelayanan yang diberikan LPSK.

(61)

B. Saran

Saran penulis mengenai eksistensi LPSK dalam upaya memberikan perlindungan terhadap whistleblower dalam tindak pidana korupsi adalah :

1. Mekanisme perlindungan saksi belum secara rinci diatur baik di dalam UU PSK maupun pada bagian penjelasannya. Dalam UU PSK juga belum mengatur jenis perlindungan apa yang akan diberikan kepada saksi pelapor

( whistleblower) karena ini menyangkut nyawa saksi yang mengalami intimidasi dari pihak yang berkepentingan. Hal ini dapat menghambat jalannya kinerja dari LPSK dalam memberikan perlindungan. Untuk itu pimpinan LPSK harus segera mengajukan revisi terhadap UU No. 13 Tahun 2006 kepada Presiden yang selanjutnya Presiden menyerahkan

draft revisi tersebut kepada DPR untuk disetujui.

(62)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...