Jurnal
Jendela Hukum dan Keadilan
ISSN 2407-4233 Volume 2 Nomor 1 Juni 2015
ISSN 2407-4233
VOLUME 2 NOMOR 1 JUNI 2015
JURNAL JENDELA HUKUM DAN KEADILAN
PELINDUNG
Direktur Pascasarjana Universitas Prof.Dr.Hazairin.SH PEMIMPIN REDAKSI
Hj.Laily Ratna.SH.MH DEWAN REDAKSI Dr. Fulgensius Jimmy.SH.MH
Dr. Imam Mahdi.SH.MH H. Surya Darma.SH.MH
H.Ependi.SH.MH M.Faizal.SH.M.Hum Wilson Ghandi.SH.MH
Alauddin.SH.MH
Himawan Ahmed Sanusi.SH.MH Nediyanto Ramadhan.SH.MH
SEKRETARIS REDAKSI
Ashibly.SH.MH MITRA BESTARI
Prof.Dr. Herawan Sauni.SH.MS Dr. Angkasa.SH.MH
TATA USAHA
Junaidi Firdaus.ST Marshal.SH PENERBIT
Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Prof.Dr.Hazairin.SH Alamat Penerbit/Redaksi Jl. Ahmad Yani No.1 Bengkulu
Telp/Fax. (0736) 344733, email : [email protected]. Web : www.unihaz.ac.id
DARI REDAKSI
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan sekalian Alam yang selalu melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Sholawat serta salam mudah-mudahan tetap terlimpah curahkan keharibaan beliau, Baginda Nabiyullah Muhammad SAW, karena dengan perjuangan beliaulah kita mampu berjalan dari alam yang gelap gulita ke alam yang terang benderang seperti saat ini.
Dengan mengucapkan rasa syukur, Jurnal Jendela Hukum dan Keadilan edisi Juni 2015 Vol. 2 No. 1 dengan Nomor ISSN 2407-4233 dapat diterbitkan. Edisi ini mempublikasikan hasil penelitian dan kajian tentang hukum. Jurnal Jendela Hukum dan Keadilan diterbitkan pada bulan Juni dan bulan Desember setiap tahunnya sebagai media komunikasi dan pengembangan Ilmu hukum.
Tulisan Indradefi memfokuskan pada Pembagian wewenang pemberian perizinan penanaman modal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah khususnya pembagian wewenang yang meliputi penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas Provinsi yang wewenangnya terkait sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat risiko kerusakan lingkungan yang tinggi, bidang industri skala nasional dan terkait fungsi penghubung antar wilayah lintas Provinsi dan terkait pelaksanaan strategi pertahanan dan keamanan penanam modal asing atau menggunakan modal dari Pemerintah Negara lain, sedangkan wewenang Pemerintah Daerah menyelenggarakan urusan penanaman modal yang menjadi wewenang, kecuali urusan pemerintah pusat, namun dalam pelaksanaan pusat masih tetap menangani perizinan, daerah tidak menjadi Koordinasi yang baik menciptakan kepastian hukum bagi investor.
Tulisan Fitri Anita berbicara mengenai Peranan LSM Cahaya Perempuan dalam melindungi korban perkosaan di Kota Bengkulu belum berjalan efektif, tetapi setidaknya sudah cukup baik untuk membantu mengurangi beban penderitaan korban perkosaan untuk memperjuangkan hak korban dalam persidangan dan memulihkan mental korban dengan penanganan para ahli.
Berikutnya tulisan dari Ashibly yang mengupas mengenai PTEBT masyarakat adat Lembak yang terdiri dari kesenian saraval anam yang disajikan disaat ada pesta perkawinan, aqiqah dan maulid Nabi Muhammad SAW. Tapan Ilim yang digunakan sebagai lambang adat, biasanya digunakan untuk menyambut tamu penting. Upacara adat Tamat kaji yang digelar dalam rangka ungkapan rasa syukur karena si anak sudah mampu membaca Al-Quran. Alat kesenian berikutnya adalah ceger, ceger merupakan alat musik pukul bagian dari alat musik pada berbagai acara ritual adat suku Lembak. Kesenian berikutnya adalah Barong Landong, Barong Landong adalah kesenian tradisional berwujud sepasang boneka manusia besar mengenakan pakaian pengantin tradisional Bengkulu beserta asesorisnya. Dari pakaian adat, dikenal dengan nama Baju Betabur, Baju Betabur adalah baju kurung atau kebaya panjang dasar kain beludru warna merah atau hijau tua dihiasi tempelan/taburan tabur penabur, tabur rendo, tabur karang patu, dan tabur salaguri yang berwarna kuning emas, digunakan pada pada waktu acara inai curi, akad nikah, bercampur (duduk bersanding dipelaminan) dan belarak (pengantin mengunjungi sanak keluarga). Sedangkan dari bahasa yang digunakan oleh masyarakat Lembak adalah bahasa Col. Dari bidang arsitektur, masyarakat adat Lembak mempunyai rumah adat tradisional yang dinamakan Rumah Tua Bubungan Lima.
Paparan di akhiri dengan tulisan dari Leonaldo Novian yang mengkaji tentang Penerapan prinsip kehati-hatian perbankan dengan sistem bagi hasil dalam pembiayaan mudharobah bagi umkm pada perbankan syariah untuk mencegah terjadinya kemacetan pembayaran dalam menghindari kerugian yang diderita pihak bank maka analisis penyaluran dana wajib dilakukan oleh pihak bank, hal ini berhubungan dengan penerapan prinsip 5c perbankan, pelaksanaan prinsip tersebut dapat memberikan informasi mengenai keadaan serta kemampuan nasabah dalam menerima dan mengelola dana tersebut.
Akhir kata, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada mitra bestari yang telah berkenan mengoreksi artikel, dan kepada penulis yang telah berpartisipasi menyumbangkan pemikiran kepada Jurnal Jendela Hukum dan Keadilan. Semoga Jurnal Jendela Hukum dan Keadilan ini memberikan manfaat dan menambah khasanah mengenai perkembangan hukum di Indonesia.
Bengkulu, Juni 2015
Redaksi
DEWAN REDAKSI i
DARI REDAKSI...ii
DAFTAR ISI...iv
Pembagian Wewenang Pemberian Perizinan Penanaman Modal Dihubungkan Dengan Azas Otonomi Daerah
(Indradefi)... 1-9
Peran Lembaga Swadaya Masyarakat Cahaya Perempuan Women Crisis Center (WCC) Dalam Melindungi Hak Korban Perkosaan Di Kota Bengkulu
(Fitri Anita)...10-18
Kekayaan Intelektual Atas Pengetahuan Tradisional Dan Ekspresi Budaya Tradisional Yang Terdapat Pada Masyarakat Adat Lembak Di Provinsi Bengkulu
(Ashibly)...19-32
Penerapan Bagi Hasil Dalam Pembiayaan Mudharabah Pada Perbankan Syariah Bagi UMKM Dalam Praktik
(Leonaldo Novian)...33-44
IndekPenulis...45 Aturan Penulisan...46
PEMBAGIAN WEWENANG PEMBERIAN PERIZINAN PENANAMAN MODAL DIHUBUNGKAN DENGAN AZAS OTONOMI DAERAH
Indradefi
Fakultas Hukum Universitas Prof. Dr. Hazairin.SH Jl. Jend. Ahmad Yani No.1 Bengkulu
Email : [email protected] Abstract
Efforts to increase investment from the government and investment certainty of investors , very influential on the regulations and provide legal certainty . One stop service is the organization of a licensing activities and nonperizinan who received the delegation or devolution of the institution or agency that has the licensing authority and nonperizinan the management process starts from the proposal stage to the stage of issuance of permit documents from one place . Investment Coordinating Board is a service investment Indonesian government which was formed with a view to implementing effectively enforce the law against foreign investment and domestic investment .
Keywords : Authority , Licensing , Investment.
Jurnal
Abstrak
Upaya peningkatan investasi dari sisi pemerintahan dan kepastian berinvestasi dari investor, sangat berpengaruh terhadap peraturan yang berlaku dan memberikan kepastian hukum. Pelayanan terpadu satu pintu adalah kegiatan penyelengaraan suatu perizinan dan nonperizinan yang mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari lembaga atau instansi yang memiliki kewenangan perizinan dan nonperizinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan sampai dengan tahap terbitnya dokumen perizinan dari satu tempat. Badan Koordinasi penanaman modal adalah sebuah layanan penanaman modal pemerintah Indonesia yang dibentuk dengan maksud untuk menerapkan secara efektif penegakkan hukum terhadap penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri.
Kata Kunci : Wewenang, Perizinan, Penanaman Modal.
Pendahuluan
Tujuan dan arah pembangunan Nasional sebagai mana ditetapkan dalam program pembangunan nasional, yakni berusaha mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur, namun keadaan perekonomian Indonesia menjadi sangat terpuruk pada saat Indonesia dilanda Krisis pada tahun 1997 yang berakibat sangat luas. Penyebab krisis tersebut adalah prilaku bisnis yang kurang bertanggung jawab, yaitu berprilaku buruk dalam menjaga kekuatan perekonomian Indonesia.1 Krisis tersebut telah mengubah keadaan dari kerisis ekonomi menjadi krisis kepercayaan.
Kurangnya kepercayaan masyarakat dan dunia luar terhadap elite politik dan elite ekonomi orde baru yang disebabkan oleh prilaku yang kurang bertanggung jawab tadi, telah mengakibatkan kerugian amat besar pada masyarakat dan dunia luar yang pada akhirnya menggerogoti dunia dan administrasi bisnis. Dalam kondisi demikian, banyak investor yang lari dari Indonesia ke negara lain.2 runtuhnya perekonomian nasional Indonesia. Akibat runtuhnya perekonomian Indonesia telah mengakibatkan hancurnya sejumlah kegiatan perindustrian dan perdagangan, meningkatnya jumlah pengangguran yang semuanya bermuara pada rendahnya
pertumbuhan nasional. Untuk
mengembalikan kondisi pertumbuhan perekonomian nasional seperti sebelum krisis moneter, maka akumulasi modal sangatlah penting peranannya.3
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah melakukan terobosan-terobosan
1Ana Rokhmatussa’dyah, Suratman,
Hukum Investasi dan Pasar Modal, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, Hlm 51
2Dhaniswara K.Harjono, Hukum Penanaman Modal, Tinjauan Terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007, Hlm 48
untuk mengembalikan perekonomian nasional seperti sebelum krisis moneter terjadi. Berbagai kebijakan ditempuh oleh
pemerintah untuk memulihkan
perekonomian nasional, salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah untuk mendorong perekonomian nasional adalah dengan melibatkan pihak swasta dalam bentuk investasi swasta.4 Karena secara ekonomi penanaman modal merupakan langkah awal kegiatan produksi, sehingga investasi pada hakekatnya langkah awal kegiatan pembangunan ekonomi.5
Penanganan ekonomi yang melibatkan pihak swasta, baik yang berasal dari penanaman modal asing maupun modal dalam negeri mempunyai peranan penting dalam kegiatan perekonomian. Karena bagaimana pun juga pertumbuhan ekonomi. terkait erat dengan tingkat penanaman modal, maka untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi diperlukan pula tingkat penanaman modal yang tinggi.6
Identifikasi Masalah
Dari latar belakang, ada beberapa permasalahan yang akan diteliti yaitu : 1) Bagaimana pembagian wewenang pemberian perizinan penanaman modal antara Pemerintah Pusat dan Daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal ?
3Yushfi Munif Nasution,
Pertanggungjawaban Pidana Korporasi terhadap Tindak Pidana Penyeludupan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, Hlm 1.
4Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Menata Ke depan Perekonomian Nasional, Bappenas, Jakarta,1999, Hlm 67.
5Dumairy, Perekonomian Indonesia, Erlangga, Jakarta, 1997, Hlm 132.
6Aloysius Uwiyono, “Implikasi Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 Terhadap Iklim Investasi” Jurnal Hukum Bisnis, Volume 22 No.5 Tahun 2003, Hlm 9.
Jurnal
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui dan menemukan pembagian wewenang pemberian perizinan penanaman modal antara Pemerintah Pusat dan Daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal.
Metode Penelitian
Untuk menjawab permasalahan yang timbul dari latar belakang permasalahan, maka penentuan metode penelitian sangatlah penting untuk menjawab permasalahan tersebut. Suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsif-prinsif hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.7 Pentingnya metode penelitian tidak hanya diperlukan di saat permulaan penelitian tetapi juga dipergunakan di akhir penelitian.8 Maka oleh karena itu metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yuridis normatif. Metode penelitian yuridis normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis di dalam buku, maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan.9 Penelitian yuridis hukum normatif didasarkan data sekunder dan menekankan pada langkah-langkah spekulatif teori dan analisis normatif kualitatif.10
Adapun data yang digunakan dalam menyusun penulisan ini diperoleh dari 7Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007, Hlm 35
8Mayra A.Harris, Legal Reseacrh, ed.10, Prentice Hall, New York, 1997, Hlm. 2
9Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum,PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2006, Hlm 118
10Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, Hlm .11
penelitian kepustakaan, sebagai suatu teknis pengumpulan data dengan memanfaatkan berbagai literatur berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku, karya ilmiah, bahan kuliah, putusan pengadilan, wawancara serta sumber data skunder lainnya yang dibahas oleh penulis. Digunakan pendekatan yuridis normatif karena masalah yang diteliti berkisar mengenai keterkaitan peraturan satu dengan yang lainnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan adalah metode penelitian normatif yang merupakan suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. Logika keilmuan dalam penelitian hukum normatif dibangun berdasarkan disiplin ilmiah dan cara kerja ilmu hukum normatif, yaitu ilmu hukum yang objeknya hukum itu sendiri.11
Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif, yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah atau norma dalam hukum positif. Penelitian ini bersifat deksriptif analitis. Tujuan penelitian deskriptif adalah menggambarkan secara tepat, sifat individu, suatu gejala, keadaan atau kelompok tertentu.12
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pemikiran Negara hukum dimulai sejak Plato, dengan konsep bahwa penyelenggaraan Negara yang baik adalah yang didasarkan pengaturan (hukum) yang baik yang disebutnya dengan istilah nomoi. “kemudian ide tentang negara hukum populer pada abad ke 17 sehingga akibat dari situasi Pembentukan politik di Eropa
11Jhonny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang, 2006, Hlm 57
12Kontjananingrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia, Jakarta, 1997, Hlm 42
yang didominasi oleh absolutism.13 Konsep Negara hukum selanjutnya berkembang dalam dua sitem hukum yaitu sistem Eropa Kontinental yang diatur oleh Negara-negara Jerman, Belanda, dan Prancis dengan istilahrechtstaat dan sistem anglo saxon dengan istilah rule of law. Rule of law berkembang dinegara-negara anglo saxon seperti Amirika Serikat dan Inggris, konsep Negara hukum menurut sistem Eropa Kontinental (rechtstaat) ditandai empat unsur sebagai berikut :
a) Perlindungan dan pengakuan adanya hak azasi manusia.
b) Adanya pemisahan kekuasaan
c) Pemerintahan berdasarkan undang-undang (wetmatig bestuur)
d) Peradilan administrasi negara.14 A. Kebijakan Penanaman Modal
Ditetapkannya ketentuan penanaman modal melalui Undang-Undang tentang penanaman moal nomor 25 tahun 2007 sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang penanaman modak Asing dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Dalam negeri telah mengakhiri dualisme pengaturan tentang penanaman modal, baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri, selain itu kehadiran Undang-Undang yang baru ini sekaligus mempertegas dan memperjelas kebijakan pengaturan penanaman modal di Indonesia.
Pemerintah propinsi Bengkulu dalam kebijaksanaanya telah menetapkan strategi yang akan dilaksanakan, antara lain adalah 13Muhammad Tahir Azhary, dalam Lusiana, Usaha Penanaman Modal di Indonesia, PT. RajaGrafindo, 2012, Hlm 10
14Titik Triwulan Tatik, Pokok-pokok hukum tata Negara Indonesia, cerdas, Pustaka Publisher, Jakarta,2008, Hlm 170
mengurangi penduduk miskin,
meningkatkan peran Pemda dalam Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT), mempersiapkan sumber daya manusia dan meningkatkan penyertaan modal usaha dalam bidang usaha yang strategi dan menyangkut kepentingan masyarakat. Untuk mendukung program tersebut, pemerintah Propinsi Bengkulu mengupayakan melalui peningkatan dana inventasi baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri. Investasi ini dapat berupa jangka panjang maupun investasi jangka pendek.
Usaha pemerintah untuk mendorong para investor, tidak hanya menyediakan informasi yang telah terindikasi, tapi juga memerlukan suatu informasi yang lebih kompeherensif yang mendukung perkembangan potensi daerah seperti tersedianya sarana dan prasarana jalan, telepon, listrik, air minum, pasar, lahan, sistem transportasi, tenaga kerja, upah, buruh, lembaga keuangan, kondisi sosial budaya, dan sistem perizinan dan sebagainya. Calon investor dapat melakukan kalkulasi sejauh mana keuntungan komperatif dan kompetitif yang akan diperoleh seandainya menanam modal pada jenis bisnis tertentu. Potensi investasi ini menggambarkan secara umum keadaan potensi yang ada dan peluang investasi di propinsi Bengkulu Baik yang diusahakan oleh pemerintah maupun yang diusahakan oleh swasta dan masyarakat, baik berupa penanaman modal dalam negeri (PMDM) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). Untuk tercapainya iklim investasi yang dinamis sangat ditentukan beberapa faktor seperti keamanan, stabilitas politik, infrastruktur memadai dan yang sangat penting adalah regulasi dan insentif yang dapat diberikan pemerintah untuk mendukung investasi dan yang sangat penting adalah ketersediaannya sarana dan Jurnal
fasilitas yang dapat diberikan pemerintah maupun kemudahan administrasi (perizinan).
B. Izin Penanaman Modal
Lembaga yang Berwenang
Mengoordinasikan Investasi.
Keberadaan lembaga yang
mengoordinasikan penanaman investasi di Indonesia mempunyai peranan yang sangat strategis karena dengan adanya lembaga tersebut akan menentukan tinggi rendahnya investasi yang diinvestasikan oleh investor, baik investor asing maupun domestik. Semakin baik pelayanan yang diberikan kepada investor, akan semakin banyak investor yang tertarik menanamkan investasinya di Indonesia. Selama ini, kita mendengar berbagai keluhan dari investor bahwa pelayanan yang diberikan oleh lembaga yang berwenang adalah sangat berbelit–belit, birokrasi yang panjang, dan memerlukan biaya yang besar. Ini disebabkan ada dua lembaga yang mengoordinasikan penanaman investasi di Indonesia, yaitu BKPM dan BKPMD. Masing – masing lembaga ini memiliki kinerja yang berbeda.
Sebelum adanya Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Penanaman Modal Dalam Rangka Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) melalui Sistem Pelayanan Satu Atap, pejabat yang berwenang mengoordinasikan pelaksanaan investasi di tingkat Pusat adalah Menteri Negara Investasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, sedangkan di tingkat daerah, lembaga yang berwenang untuk mengoordinasi pelaksanaan investasi adalah Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD). Namun, dengan diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan
Penanaman Modal Dalam Rangka Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) melalui Sistem Pelayanan Satu Atap, maka pejabat yang berwenang untuk mengoordinasi pelaksanaan investasi di Indonesia adalah Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) adalah instansi pemerintah yang menangani kegiatan penanaman modal dalam rangka: 1. Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN); dan
2. Penanaman Modal Asing (PMA).
Pertimbangan ditunjuknya BKPM sebagai satu – satunya instansi pemerintah yang menangani kegiatan penanaman modal dalam rangka PMA dan PMDN adalah dalam rangka meningkatkan efektivitas dalam menarik investor untuk melakukan investasi di Indonesia, selama ini pelaksanaan investasi memerlukan waktu yang panjang dan biaya yang besar. Oleh karena itu, dengan adanya pelayanan pada satu atap, yaitu pada BKPM, diharapkan nantinya pelayanan terhadap investor akan menjadi lebih cepat dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Dalam Pasal 2 Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Penanaman Modal Dalam Rangka Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) melalui Sistem Pelayanan Satu Atap ditentukan bahwa penyelenggaraan penanaman modal terdiri atas bidang – bidang.
1. kebijakan dan perencanaan pengembangan penanaman modal; 2. promosi dan kerja sama penanaman
modal;
3. pelayanan persetujuan, perizinan , dan fasilitas penanaman modal;
4. pengendalian pelaksanaan penanaman modal;
5. pengelolaan sistem informasi penanaman modal.
Pelayanan pesetujuan, perizinan, dan fasilitas penanaman modal dalam rangka PMA dan PMDN dilaksanakan oleh BKPM, berdasarkan pelimpahan kewenangan dari Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membina bidang–bidang usaha penanaman modal yang bersangkutan melalui sistem pelayanan satu atap.
Sistem Pelayanan Satu Atap adalah suatu sistem pelayanan pemberian persetujuan penanaman modal dan perizinan pelaksanaannya pada satu instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang penanaman modal. Sementara itu, gubernur/ bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya dapat melimpahkan kewenangan pelayanan persetujuan, perizinan dan fasilitas penanaman modal kepada BKPM melalui sistem pelayanan satu atap sehingga kewenangan pemerintah provinsi hanya memperpanjang izin mempekerjakan tenaga kerja asing yang bekerja di wilayah kabupaten/ kota dalam satu provinsi. Sementara itu, pemerintah kabupaten/ kota, hanya berwenang menerbitkan:
1. izin lokasi;
2. sertifikat hak atas tanah; 3. izin mendirikan bangunan; dan 4. izin undang – undang gangguan/HO. C. Pembagian wewenang pemberian
perizinan penanaman modal antara pemerintah pusat dan pusat dan daerah.
Badan koordinasi penanaman modal (investment coordinating board) adalah lembaga Pemerintah non Departemen Indonesia yang bertugas untuk merumuskan
kebijakan pemerintah di bidang penanaman modal, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Badan ini didirikan sejak tahun 1973, menggantikan fungsi yang dijalankan oleh panitia teknis penanaman modal yang dibentuk sebelumnya pada tahun 1968.
Dengan ditetapkannya Undang-Undang Penanaman Modal pada tahun 2007, BKPM menjadi sebuah Lembaga Pemerintah yang menjadi koordinator kebijakan penanaman modal, baik koordinasi antar instansi pemerintah, pemerintah dengan Bank Indonesia, serta Pemerintah dengan Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Daerah. BKPM juga diamanatkan sebagai Badan advokasi bagi para investor, missal menjamin tidak adanya ekonomi biaya tinggi.
Pembagian wewenang antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, sejak dilaksanakan otonomi daerah pada awal reformasi, pembagian tugas dan wewenang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014, dimana dalam melaksanakan tugasnya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Urusan yang menjadi urusan pemerintah pusat secara absolute antara lain :
a. Politik luar negeri; b. Pertahanan; c. Keamanan; d. Yustisi;
e. Moneter dan fiskal nasional dan f. Agama.
Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan sebagaimana disebutkan diatas, pemerintah pusat menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat pemerintah pusat atau wakil pemerintah di daerah, atau dapat menugaskan kepada pemerintah daerah.
Sedangkan Tugas dan wewenang
pemerintah daerah adalah
menyelenggarakan urusan pemerintahan (31 urusan pemerintahan) yang menjadi Jurnal
kewenangannya (kecuali urusan Pemerintah pusat), dimana dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan, yang mejadi kewenangan daerah pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi yang juga dikenal dengan asas desentralisasi.
Selain kewenangan pemerintah pusat dan kewenangan pemerintah daerah, dalam melaksanakan urusan pemerintahan juga dikenal dekonsentrasi (dekon) dan tugas perbantuan (TP). Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau kepada instansi vertical diwilayah tertentu, sedangkan tugas perbantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah, dari pemerintah provinsi kepada kabupaten, atau kota, serta dari pemerintah kabupaten, atau kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban melaporkan
dan mempertanggungjawabkan
pelaksanaannya kepada yang menugaskan. Pembagian tugas dan wewenang ini pada dasarnya dilakukan dengan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat dengan memperpendek jalur birokrasi, agar terciptanya peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan aspek-aspek potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global melalui penyerahan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah.
Pembagian wewenang pemberian perizinan antara pusat dan daerah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan bahwa pelaksanaan otonomi daerah akan berhasil tergantung dengan kemauan yang sangat kuat pejabat pemerintahan pusat dapat menyerahkan
sebagaian kewenangannya kepada pejabat pemerintahan di daerah.
Simpulan
Pembagian wewenang pemberian perizinan penanaman modal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah bahwa Pemerintah Pusat memiliki wewenang yang meliputi penyelenggaraan penanaman modal yang ruang lingkupnya lintas Provinsi yang wewenangnya terkait sumber daya alam yang tidak terbarukan dengan tingkat risiko kerusakan lingkungan yang tinggi, bidang industri skala nasional dan terkait fungsi penghubung antar wilayah lintas Provinsi dan terkait pelaksanaan strategi pertahanan dan keamanan penanam modal asing atau menggunakan modal dari Pemerintah Negara lain, sedangkan
wewenang Pemerintah Daerah
menyelenggarakan urusan penanaman modal yang menjadi wewenang, kecuali urusan pemerintah pusat, namun dalam pelaksanaan pusat masih tetap menangani perizinan, daerah tidak menjadi Koordinasi yang baik menciptakan kepastian hukum bagi investor.
Daftar Pustaka Buku :
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2006
Ana Rokhmatussa’dyah, Suratman, Hukum Investasi Dan Pasar Modal, Sinar Grafika, Jakarta, 2011
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Menata Ke depan Perekonomian Nasional, Jakarta, Bappenas ,1999 Dhaniswara K.Harjono, Hukum Penanaman Modal, Tinjauan Terhadap
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007
Dumairy, Perekonomian Indonesia, Erlangga, Jakarta, 1997
Jhonny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publishing, Malang, 2006
Kontjananingrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia, Jakarta, 1997
Mayra A.Harris, Legal Reseacrh, Prentice Hall, New York, 1997
Muhammad Tahir Azhary, dalam Lusiana, Usaha Penanaman Modal di Indonesia, PT. RajaGrafindo, 2012
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007
Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta
Titik Triwulan Tatik, Pokok-pokok hukum tata Negara Indonesia, cerdas, Pustaka Publisher, Jakarta,2008
Yushfi Munif Nasution,
Pertanggungjawaban Pidana Korporasi terhadap Tindak Pidana Penyeludupan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007
Jurnal
Aloysius Uwiyono, “Implikasi Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 Terhadap Iklim Investasi” Jurnal Hukum Bisnis, Volume 22 No.5 Tahun 2003 Jurnal
PERAN LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT CAHAYA PEREMPUAN WOMEN CRISIS CENTER (WCC) DALAM MELINDUNGI HAK KORBAN PERKOSAAN DI
KOTA BENGKULU Fitri Anita
Fakultas Hukum Universitas Prof. Dr. Hazairin.SH Jl. Jend. Ahmad Yani No.1 Bengkulu
Email :
Abstract
Rape is one of the existing act and often performed which is the expression of an act of physical coercion physically strong against the weak. Here there is the element of compulsion, dueto inherent powerlessness and dense darkness of the appressed to accept the reality of life. In article 291 KUHP and, article 291 KUHP of the crime of rape formulate. And act No. 13 of 2006 on the important element in law enforcement is the human element it self where law enforcement officials pay less attention to and protect victims, especially victims of rape. Objective and identification of problems of this research is to examine and analyze the role of the community organization of women crisis center in providing protection to victims of rape in the city of Bengkulu. This is a descriptive analytical study, where as the approach used is juridical normative and sociological. Stages of research conducted in the frame work of collection the material, the research. Methods and means which used to collect primary and secondary data is the study of literature and interviews. The the data obtained in this study were analyzed by qualitative juridical methods. Based on the research that women’s non government organization in the city of light Bengkulu already maximally in assisting rape victims either at the time of the trial in the court with the victim directly to reduce the mental burden of the victim themselves. The role of non government organizations in the womens light providers protection to victims rape in Bengkulu city was victim accompanied during the hearing in court. The victim was given medial care, the existence of counseling, and other factor’s that inbibit. Factor duty non government organizations in protecting victims that victims are afraid to report because they are a disgrace, a lack of clear information on criminal rape.
Abstrak
Perkosaan adalah salah satu perbuatan yang ada dan seringkali dilakukan yang merupakan ungkapan dari suatu tindakan pemaksaan fisik yang kuat terhadap fisik yang lemah. Disini ada unsur keterpaksaan, ada sifat ketidakberdayaan dan akibat kelam yang pekat dari pihak yang tertindas untuk menerima kenyataan hidup. Dalam Pasal 285 KUHP dan Pasal 291 KUHP merumuskan tentang Tindak Pidana Perkosaan. Serta Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Salah satu unsur yang penting dalam penegakan hukum adalah unsur manusianya sendiri dimana para aparat penegak hukum kurang memperhatikan da nmelindungi korban terutama korban perkosaan. Tujuan dan identifikasi masalah dari penelitian ini adalah mengkaji dan menganalisis peranan LSM WCC Cahaya Perempuan dalam memberikan perlindungan kepada korban perkosaan di Kota Bengkulu serta faktor-faktor yang menghambat tugas WCC Cahaya Perempuan dalam memberikan perlindungan kepada korban perkosaan di Kota Bengkulu. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, sedangkan metode pendekatan yang dipergunakan adalah yuridis normative dan yuridis sosiologis. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan dalam rangka pengumpulan bahan-bahan, yaitu Penelitian Kepustakaan (library research) dan Penelitian Lapangan (field research). Metode dan cara yang dipergunakan untuk mengumpulkan data primer dan sekunder adalah studi literature dan wawancara (interview). Kemudian data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan metode yuridis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian bahwa Lembaga Swadaya Masyarakat Cahaya Perempuan di Kota Bengkulu sudah secara maksimal dalam mendampingi korban perkosaan baik pada saat persidangan dipengadilan dengan adanya konseling dan mediasi dengan korban secara langsung untuk mengurangi beban mental sikorban itu sendiri. Peran Lembaga Swadaya Masyarakat Cahaya Perempuan dalam memberikan perlindungan kepada korban didampingi saat sidang dipengadilan, korban diberi pelayanan medis, adanya konseling, dan lain-lain. Faktor-faktor yang menghambat tugas lembaga swadaya masyarakat dalam melindungi korban yaitu korban takut melapor karena masalah itu aib, kurangnya informasi yang jelas terhadap pidana perkosaan yang terjadi.
Pendahuluan
Berdasarkan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Indonesia ialah Negara hukum. Dengan demikian segala tindakan yang dilakukan dan terhadap pelakunya dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Negara hukum tidak membedakan antara warga negaranya, diperlakukan sama baik rakyat miskin dan kaya, masyarakat biasa, pejabat dan lain sebagainya.
Tujuan diadakan hukum adalah untuk menciptakan kedamaian dan keserasian bersama diantara warga masyarakat yang ada. Dengan adanya ketentuan hukum yang diharapkan akan terciptanya keadaan yang damai, harmonis, serasi diantara sesama anggota masyarakat. Hal ini dikarenakan hukum memiliki sanksi yang tegas yang dapat dikenakan kepada setiap pelanggarnya.15
Tujuan penjatuhan hukuman dalam hukum pidana adalah untuk melindungi dan memelihara ketertiban hukum guna mempertahankan keamanan dan ketertiban masyarakat sebagai satu kesatuan (for the publictas awhole). 16
Dalam kenyataan sosial masalah kriminalitas tidak dapat dihindarkan dan memang selalu ada, sehingga wajar bila menimbulkan keresahan, karena kriminalitas dapat dianggap sebagai gangguan terhadap kesejahteraan penduduk.17
Dalam masalah kriminalitas tercipta hubungan antara penjahat dan korban kejahatan, dimana hubungan ini bukanlah masalah yang baru, selama berabad-abad si korban merupakan salah satu subjek yang 15Muchsin, Ikhtisar Ilmu Hukum, Iblam, Jakarta, 2006, Hlm.32
16Juhaya S. Praja, Teori Hukum Dan Aplikasinya, Pustaka Setia, Bandung, 2011, Hlm. 178
17Mabes Polri, Perpolisian Masyarakat, Mabel Polri, Jakarta, 2006
diabaikan dalam studi kejahatan dan dalam pelaksanaan keadilan pidana.
Untuk mengetahui bagaimanakah sesungguhnya kehidupan hukum dan dalam masyarakat, maka perlu diketahui bagaimana kesadaran hukum masyarakat itu sendiri, serta peran pemerintah atau lembaga yang berperan dalam masalah tersebut.18
Perihal sikap korban kejahatan dijadikan objek penelitian tidak lain karena pada dasarnya korban kejahatan berada pada pihak yang lemah dan tertekan, sehingga dalam mengambil tindakkan atau sikap seringkali mengabaikan kebebasan sebagai hak asasi yang dimilikinya.
Menurut Mardjono Reksodiputro, ada hak-hak korban yaitu19 :
a) Si korban diberikan bantuan hukum atau penasehat hukum secara Cuma-Cuma. b) Khusus mereka yang mengalami
tekanan batin (korban pemerkosaan atau penganiayaan) disediakan fasilitas khusus dengan penanganan oleh ahli-ahli.
c) Selama ini korban perkosaan di Kota Bengkulu menghadapi permasalahannya sendiri dengan perasaan takut untuk memperjuangkan haknya didepan hukum terutama saat melakukan pengaduan dipersidangan, sehingga LSM Cahaya Perempuan membantu langsung korban perkosaan di Kota Bengkulu agar berani dan percaya diri dalam memperjuangkan haknya dipengadilan.
d) LSM Cahaya Perempuan merupakan suatu lembaga atau yayasan di Kota Bengkulu yang ikut membantu dan memperjuangkan hak-hak korban tindak 18Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, C.V. Rajawali, Jakarta, 1683, Hlm.156
pidana, termasuk tindak pidana perkosaan.
e) Hukum Pidana Materiil menitikberatkan perhatian pada pembuat korban (pelaku kejahatan) daripada korban, seolah-olah terdapat suatu perbedaan atau pemisahanyang tajam antara si pembuat korban dengan si korban, walaupun keduanya memiliki peranan yang fungsional dalam terjadinya tindak pidana.20
f) Yang paling mendapat sorotan tajam dari mass media mengenai kejahatan terhadap kesusilaan adalah “Perkosaan”. Sering anggota masyarakat telah menarik kesimpulan tanpa memahami dengan baik hakikat pemerkosaan g) Perlindungan hak-hak korban maupun
jumlah peristiwa kejahatan yang tidak pernah sampai ke alat penegak hukum,
adalah pendekatan yang
mengetengahkan bahwa bukan saja banyak korban yang tidak tahu hak-haknya (dan mungkin juga alat penegak hukum tidak mengetahuinya), tetapi banyak dari mereka yang takut atau mungkin tidak dapat melapor. Dalam pemikiran semacam ini maka pengertian korban pun diperluas. Tidak saja korban dari kejahatan konvensional (misalnya: pembunuhan, perkosaan, pengeniayaan, dan pencurian) tetapi juga mencangkup korban dari kejahatan-kejahatan non konvensional seperti : terorisme, pembajakan, perdagangan narkotika secara tidak sah, kejahatan terorganisasi dan kejahatan melalui komputer. Dan kini pembicaraan mengenai korban meliputi pula pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Sejak itu pula ruang lingkup studi tentang korban ini menjangkau penyalahgunaan secara
20Arif Gosita, Masalah Perlindungan Anak, Op.Cit., Hlm. 93. Dalam buku Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan antara Norma dan Realita.
melawan hukum kekuasaan ekonomi (illegal abuses of economic power).
Berdasarkan Undang-undang No.16 tahun 2001 tentang Yayasan, maka secara umum organisasi non pemerintah di Indonesia berbentuk yayasan.
Lembaga swadaya masyarakat secara hukum dapat didirikan dalam dua bentuk21: a) Organisasi Massa, yakni berdasarkan Pasal 1663-1664 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), serta UU No. 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan ("UU Ormas").
b) Badan Hukum, yakni berdasarkan Staatsblad 1870 No. 64, serta UU No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan UU No. 28 Tahun 2004 ("UU Yayasan").
LSM Lembaga Swadaya Masyarakat adalah organisasi non-pemerintah yang independen dan mandiri, dan karena itu bukan merupakan bagian atau berafiliasi dengan lembaga-lembaga negara dan pemerintahan. (Kode Etik LSM Bab 1 No. 1). Lembaga swadaya masyarakat adalah organisasi yang tumbuh secara swadaya, atas kehendak dan keinginan sendiri, ditengah masyarakat, dan berminat serta bergerak dalam bidang lingkungan hidup. (UU No. 4 Tahun 1982 Pasal 1 Ayat 12)22.
LSM juga sering dikenal dengan NGO (Non-governmental organization). Sesuai dengan namanya, NGO pada dasarnya memiliki pengertian singkat sebagai organisasi yang tidak berada secara langsung dalam struktur pemerintahan ataupun tidak ada koordinasi langsung dari pemerintah dan merupakan badan yang bersifat mandiri. LSM dapat berdiri jika 21Bambang Waluyo, Viktimologi Perlindungan Korban dan Saksi, Sinar Grafika, Jakarta, 2011, Hlm, 86
terdapat kesamaan visi dan misi sekelompok orang yang membentuk organisasi dengan kebebasan segala perbedaan yang terdapat di masyarakat seperti agama, suku, ras, golongan, dan gender tapi tetap berasaskan Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan Undang-undang No.16 tahun 2001 tentang Yayasan, maka secara umum organisasi non pemerintah di indonesia berbentuk yayasan23.
Perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada saksi dan / atau korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006.24
KUHP merumuskan perbuatan perkosaan (rape) pada Pasal 285 yang bunyinya sebagai berikut:
“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 tahun”.
Berdasarkan Pasal 291 ayat (2), jika pemerkosaan tersebut mengakibatkan matinya perempuan itu diancam lima belas tahun penjara.
Dalam Pasal 285 KUHP maupun Pasal 389 Rancangan Undang-Undang KUHP tampaknya belum secara realita melindungi kaum wanita.Pasal 285 KUHP hanya menyebut ”Wanita” seyogianya wanita dibedakan berdasarkan umur,fisik, maupun status sehingga wanita dapat dibedakan atau dikategorikan sebagai berikut:
1) Wanita belum dewasa yang masih perawan;
2) Wanita dewasa yang masih perawan; 23Sinta Dewi, Hukum dan Perkembangan Masyarakat, Kumpulan Karya Ilmiah Para Ahli Hukum, Hlm, 110
24Bunyi BAB I Ketentuan Umum Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban angka 6
3) Wanita yang sudah tidak perawan lagi; 4) Wanita yang sedang bersuami;
Dengan demikian, tampak bahwa KUHP maupun RUUKUHP belum dapat memberi perlindungan menyeluruh kepada wanita terhadap perkosaan. Hambatan penerapan Pasal285 KUHP, selain karena wanita korban perkosaan pada umumnya sangat malu sehingga enggan melaporkannya atau tidak segera melaporkan juga karena perbuatan tersebut umumnya dilakukan tanpa kehadiran orang lain kecuali pemerkosaan dilakukan secara bersama-sama25.
Kecepatan pelaporan kejadian, akan sangat mempengaruhi keberhasilan penyidikan dan penuntutan karena dengan demikian pembuktian tidak begitu rumit apalagi jika wanita korban perkosaan tersebut melaporkan sebelum membersikan diri / badan. Dengan demikian semua alat bukti, akan memungkinkan untuk memperolehnya baik dengan visum et repertum maupun dengan hasil laboratorium.
Indentifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka penulis menarik permasalahan yakni sebagai berikut : 1. Bagaimanakah peran LSM Cahaya
Perempuan (WCC) dalam memberikan perlindungan pada korban perkosaan di kota Bengkulu ?
2. Apakah faktor penghambat LSM Cahaya Perempuan dalam memberikan perlindungan kepada korban perkosaan di Kota Bengkulu ?
Tujuan Penelitian
LSM WCC Cahaya Perempuan dalam memberikan perlindungan kepada korban perkosaan di Kota Bengkulu dan untuk mengkaji serta menganalisis faktor-faktor penghambat tugas WCC Cahaya
Perempuan dalam memberikan
perlindungan kepada korban perkosaan di Kota Bengkulu.
Metode Penelitian
Metode penelitian dengan pendekatan yuridis normatif, dan pendekatan yuridis sosiologis. Penelitian ini merupakan penelitian deskiptif analitis, yaitu menggambarkan permasalahan mengenai perlindungan hak korban perkosaan, untuk selanjutnya dianalisis dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan dan pendapat para pakar yang relevan dengan permasalahan diatas.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
LSM Cahaya Perempuan adalah salah satu lembaga atau yayasan yang membantu korban tindak kejahatan termasuk kejahatan seksual yaitu perkosaan. Lembaga ini selain pendamping korbannya didalam persidangan untuk memperoleh keadilan, juga membantu korban yang menderita fisik dengan mengobati korban dengan membawa korban kedoktor atau puskesmas terdekat, tenaga-tenaga ahli seperti psikolog, guru spiritual untuk mengobati tekanan batin yang dialami korban perkosaan.
LSM Cahaya Perempuan tergerak hatinya untuk membantu korban kekerasan seksual termasuk juga korban perkosaan, dimana korbannya kebanyakan perempuan. Perempuan seringkali mengalami tindak kejahatan, perempuan dianggap sosok yang lemah, mudah ditindas dan dianiaya, fisiknya yang lemah, serta sifatnya yang penakut, mengakibatkan pelaku semakin menjadi-jadi untuk melakukan kejahatan terhadap mereka. Maka dengan adanya
lembaga ini di Bengkulu membantu korban untuk memperjuangkan keadilan untuk dirinya, memberanikan diri untuk mengungkapkan kejadian dan kenyataan yang sebenarnya, supaya kaum wanita dilindungi dan dihargai tanpa adanya pembedaan antara laki-laki dan perempuan.
LSM Cahaya Perempuan berusaha
keras untuk membantu dan
memperjuangkan keadilan bagi korban, baik didalam persidangan dan juga dalam lingkungan masyarakat, dimana korban sering dihina, dicaci dan dimaki oleh masyarakat tempat tinggal mereka sendiri, diharapkan masyarakat bisa saling menghargai, menghormati atau setidaknya membantu korban kejahatan untuk memulihkan mental mereka agar tidak menjadi murung, penakut atau minder dalam bergaul dalam masyarakat. Diharapkan masyarakat secara tidak langsung ikut membantu korban seksual dengan pergaulan masyarakat yang baik, adanya nasehat-nasehat atau masukan motivasi agar bisa menjadi lebih baik dan menjalankan hidup sebagaimana mestinya.
Manusia sebagai pribadi akan memiliki arti serta dapat mengembangkan hidupnya apabila ia berada bersama-sama dengan manusia lainnya sehingga tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa manusia itu sebagai makhluk sosial.
Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial tentunya membawa konsekuensi perlunya diciptakan suatu hubungan yang harmonis antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Kondisi ini dapat diwujudkan melalui kehidupan saling menghormati dan menghargai bahwa di antara mereka terkandung adanya hak dan kewajiban.
seharusnya diperoleh oleh korban perkosaan.
Korban yang menderita luka fisik akan dibawa berobat kedokter atau kepuskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik dan adanya pendamping ahli-ahli untuk memulihkan mental korban itu sendiri. Karena itu, keberadaan manusia yang memiliki hak dan kewajibannya masing-masing tidak dapat dipandang sebagai individu yang berdaulat sehinggadapat mempertahankan hak serta kewajibannya secara mutlak, melainkan haruslah dipandang sebagai personal sosial, yaitu suatu oknum pribadi sosial yang dibina oleh masyarakat, dan hidup terikat oleh masyarakat, serta mengendalikan hak asasi dan hak-hak lain di mana hak itutimbul karena hak hidupnya dalam masyarakat dan penggunaannya harus diselaraskan dengan kepentingan umum masyarakat pula.
Manusia dilahirkan ke muka bumi dengan membawa hak-hak dasar yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa atau lazim disebut dengan hak asasi manusia. Hak asasi manusia diberikan kepada setiap individu di dunia tanpa memandang suku, ras, warna kulit, asal-usul, golongan, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Hak ini tidak akan pernah lepas dan selalu melekat seumur hidup.
Demikian pentingnya hak asasi manusia bagi setiap individu sehingga eksistensinya harus senantiasa diakui, dihargai, dan dilindungi, di antaranya melalui berbagai produk perundang-undangan. Adanya pengakuan terhadap eksistensi hak asasi manusia tentu membawa konsekuensi pada perlunya diupayakan perlindungan terhadap hak-hak tersebut dari kemungkin munculnya, tindakan-tindakan yang dapat merugikan manusia itu sendiri, baik dilakukan oleh manusia lainnya maupun oleh pemerintah.
Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 dengan tegas menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara hukum (rectstaat) dan bukan Negara kekuasan (machtstaat). Dengan keberadaannya sebagai negara hukum (rechtstaat) ada berbagai konsekuensi yang melekat padanya, sebagaimana dikemukakan oleh Philipus M. Hadjon, bahwa konsepsi rechtstaat maupun konsepsi the rule of law, menempatkan hak asasi manusia sebagai salah satu ciri khas pada negara yang disebut rechtstaat atau menjunjung tinggi the rule of law, bagi suatu negara demokrasi pengakuan dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia merupakan salah satu ukuran tentang baik buruknya suatu pemerintahan.
Beberapa peraturan perundang-undangan yang memuat perihal perlindungan hak asasi manusia telah banyak disusun, baik dalam perundang-undangan nasional maupun internasional, di antaranya: dalam Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, Declaration of Human Pights, Convention on The Elimination of Violence Against Women (1993).
Sebelum keluarnya beberapa perundang-undangan nasional yang mengatur tentang hak asasi manusia, sebenarnya bangsa Indonesia sudah memahami pentingnya perlindungan hak asasi manusia. Pengalaman dijajah selama 350 tahun oleh pemerintah kolonial Belanda serta 3,5 tahun oleh jepang, menjadi bukti beratnya penderitaan yang harus ditanggung oleh penduduk yang hak asasinya diinjak-injak oleh penjajah.
Kebebasan berpendapat dihambat, adanya perlakuan diskriminatif dalam memperoleh kesempatan bekerja dan berusaha, terbatasnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan, terlebih semuanya dilakukan di tanah air sendiri.
Pada masa penjajahan, banyak lahir berbagai pergerakan kemerdekaan, baikyang bersifat kedaerahan maupun nasional, dengan tujuan sama, yaitu membebaskan diri dari penindasan kaum penjajah. Berbagai pergerakan ini
sebenarnya merupakan bentuk
pembelajaran bagaimana sejatinya hak asasi manusia harus dilindungi.
Oleh karena itulah, ketika pada akhirnya Bangsa Indonesia dapat memperoleh kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, di dalam Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional, dicantumkan berbagai wujud pengakuan terhadap eksistensi hak asasi manusia, seperti hak untuk mengemukakan pendapat, hak untuk memperoleh pendidikan, hak untuk memeluk agama, hak untuk memperoleh kesamaan di hadapan hukum.
Apabila memerhatikan kehidupan nyata, apa yang diharapkan sangat berbeda dengan kenyataan. Kitasering menyaksikan bagaimana hak asasi manusia seseorang dilanggar baik oleh perorangan, kelompok, maupun negara. Akibat terjadinya pelanggaran, tentu mengakibatkan munculnya ketidakseimbangan dalam diri korban (keluarganya), seperti ketidakseimbangan dari aspek finansial, apabila korban adalah kepala keluarga dan tumpuan hidup keluarga, aspek fisik yang mengakibatkan korban berhenti beraktivitas, aspek psikis, yang berwujud munculnya kegoncangan/ ketidakstabilan psikis baik temporer maupun permanen dari korban. Untuk menyeimbangkan kondisi korban (keluarga) sehingga dapat pulih kembali pada keadaan semula, maka harus
ditempuh berbagai upaya pemulihan, seperti pemulihan secara finansial, medis, psikis.
Simpulan
Peranan LSM Cahaya Perempuan dalam melindungi korban perkosaan di Kota Bengkulu belum berjalan efektif, tetapi setidaknya sudah cukup baik untuk membantu mengurangi beban penderitaan korban perkosaan untuk memperjuangkan hak korban dalam persidangan dan memulihkan mental korban dengan penanganan para ahli. Hambatan LSM Cahaya Perempuan dalam melindungi korban perkosaan di Kota Bengkulu yaitu kurangnya informasi yang jelas terhadap tindak pidana perkosaan yang dialami sehingga sukar dibantu, serta terlambatnya pelaporan terhadap peristiwa yang terjadi.
Daftar Pustaka Buku :
Arif Gosita, Masalah Perlindungan Anak, Dalam buku Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan antara Norma dan Realita.
Bambang Waluyo, Viktimologi Perlindungan Korban dan Saksi, Sinar Grafika, Jakarta, 2011
Juhaya S. Praja, Teori Hukum Dan Aplikasinya, Pustaka Setia, Bandung, 2011
Mabes Polri, Perpolisian Masyarakat, Mabel Polri, Jakarta, 2006
Mardjono Reksodiputro, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana, Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum, Jakarta, 1997 Muchsin, Ikhtisar Ilmu Hukum, Iblam,
Jakarta, 2006
Sinta Dewi, Hukum dan Perkembangan Masyarakat, Kumpulan Karya Ilmiah Para Ahli Hukum
Soerjono Soekanto, Beberapa Permasalahan Hukum Dalam Kerangka Pembangunan Di Indonesia, UI-Press, Jakarta, 1983 Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi
Hukum, C.V. Rajawali, Jakarta
Peraturan Perundang-undangan :
Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia
Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum
KEKAYAAN INTELEKTUAL ATAS PENGETAHUAN TRADISIONAL DAN EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL YANG TERDAPAT PADA MASYARAKAT ADAT
Ashibly
Fakultas Hukum Universitas Prof. Dr. Hazairin.SH Jl. Jend. Ahmad Yani No.1 Bengkulu
Email : [email protected] Abstract
Traditional knowledge is the intellectual work in the field of science and technology which contains elements characteristic of the traditional heritage produced, developed, and maintained by a community or a particular community. While understanding the traditional cultural expressions of terminology WIPO provides a definition of Traditional Cultural expresions as follows: "... any form, visible or invisible, in which traditional culture and knowledge are expressed, appear or are manifested, and includes forms of expression or the following combination .... ". This includes oral ekspersi, such as stories, Efik, legends, poetry, riddles and other forms of narrative; words, symbols, names and symbols; expression in the form of motion, such as drama, ceremonies, rituals. Lembak tribe is Moslem so many nuanced Islamic culture, besides that there are influences from other cultures. Process documentation and compilation of the data-base PTEBT, PTEBT even before the bill is enacted, it is vital to preserve PTEBT and prevent it from extinction. One rare example of art in the show by the indigenous peoples of Lembak is Barong Landong. If this is not addressed and acted upon by the Government of Bengkulu province, then it is possible Barong Landong art will become extinct. Formulation of the problem of this research is What are the intellectual property of traditional knowledge and traditional cultural expressions found in indigenous peoples Lembak in Bengkulu? The goal is to identify and record any intellectual property on traditional knowledge and traditional cultural expressions contained in Lembak indigenous peoples in the province of Bengkulu. The approach I use in this study is juridical empirical sociology of law. This research is descriptive. The type of data used are primary data and secondary data. Results and discussion PTEBT indigenous peoples is comprised of art SaraVal Lembak anam, Tapan Ilim, traditional ceremony End examine, Ceger art equipment, Barong Art Landong. From traditional clothes, known as Baju Betabur , while language is the language Col, architecture, indigenous peoples have Lembak traditional house called Rumah Tua Bubungan Lima
Keywords: Traditional Knowledge, Art, Lembak
Abstrak
dipelihara oleh komunitas atau masyarakat tertentu. Sedangkan pengertian ekspresi budaya tradisional dari terminologi WIPO memberikan definisi tentang Traditional Cultural Expresions sebagai berikut “...bentuk apapun, kasat mata maupun tak kasat mata, dimana pengetahuan dan budaya tradisional diekspresikan, tampil atau dimanifestasikan dan mencakup bentuk-bentuk ekspresi atau kombinasi berikut ini....” . Hal ini meliputi ekspersi lisan, seperti misalnya kisah, efik, legenda, puisi, teka-teki dan bentuk narasi lainnya; kata, lambang, nama dan simbol; ekspresi dalam bentuk gerak, seperti drama, upacara, ritual. Suku Lembak adalah pemeluk agama Islam sehingga budayanya banyak bernuansakan Islam, disamping itu masih ada pengaruh dari kebudayaan lainnya. Proses dokumentasi dan kompilasi data-base PTEBT, bahkan sebelum RUU PTEBT diundangkan, adalah vital untuk melestarikan PTEBT dan mencegahnya dari kepunahan. Salah satu contoh kesenian yang jarang di tampilkan oleh Masyarakat adat Lembak adalah Barong Landong. Apabila hal ini tidak disikapi dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu, maka tidak menutup kemungkinan kesenian Barong Landong ini akan punah. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah Apa sajakah kekayaan intelektual atas pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional yang terdapat pada masyarakat adat Lembak di Provinsi Bengkulu? Tujuannya Untuk mengetahui dan mendata apa saja kekayaan intelektual atas pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional yang terdapat pada masyarakat adat Lembak di Provinsi Bengkulu. Metode pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis empiris atau sosiologi hukum. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Hasil dan pembahasan ialah PTEBT masyarakat adat Lembak terdiri dari kesenian saraval anam, Tapan Ilim, Upacara adat Tamat kaji, Alat kesenian ceger, Kesenian Barong Landong. Dari pakaian adat, dikenal dengan nama Baju Betabur, Sedangkan dari bahasa adalah bahasa Col, bidang arsitektur, masyarakat adat Lembak mempunyai rumah adat tradisional yang dinamakan Rumah Tua Bubungan Lima.
Kata Kunci : Pengetahuan Tradisional, Kesenian, Lembak
Pendahuluan Hak kekayaan intelektual itu adalah
kerja rasio. Hasil dari pekerjaan rasio manusia yang menalar26, atau juga dapat diartikan sebagai hak atas kepemilikan terhadap karya-karya yang timbul atau lahir karena adanya kemampuan intelektualitas manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Karya-karya yang tersebut merupakan kebendaan tidak terwujud yang merupakan hasil kemampuan intelektualitas seseorang atau manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi melalui daya cipta, rasa, karsa dan karyanya, yang memiliki nilai-nilai moral, praktis dan ekonomis. Pada dasarnya yang termasuk dalam lingkup HKI adalah segala karya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan melalui akal atau daya pikir seseorang atau manusia tadi. Hal inilah yang membedakan HKI dengan hak-hak milik lainnya yang diperoleh dari alam27.
Indonesia sebagai Negara kepulauan, memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang sangat kaya. Hal itu sejalan dengan keanekaragaman etnik, suku bangsa dan agama yang secara keseluruhan merupakan potensi nasional yang perlu dilindungi. Kekayaan seni dan budaya tersebut merupakan salah satu sumber dari karya intelektual yang dapat dan perlu dilindungi oleh undang–undang. Kekayaan itu tidak semata–mata untuk seni dan budaya itu sendiri, tetapi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan di bidang perdagangan dan industri yang melibatkan para penciptanya. Dengan demikian, kekayaan seni dan budaya yang dilindungi dapat meningkatkan kesejahteraan tidak
26Ok.Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intelectual Property Rights), RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2013, Hlm 9
27Rachmadi Usman, Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual (Perlindungan dan Dimensi Hukumnya di Indonesia),
Alumni,Bandung, 2003,Hlm 2
hanya bagi para penciptanya saja, tetapi juga bagi bangsa dan negara.
Indonesia adalah negara dengan kekayaan dan keragaman budaya serta tradisi yang luar biasa. Jika kekayaan keragaman budaya dan tradisi itu dapat dikelola dengan baik dan benar, maka bukan tidak mungkin kebangkitan ekonomi Indonesia justru dipicu bukan karena kecanggihan teknologi, melainkan karena keindahan tradisi dan keragaman warisan budaya itu sendiri. Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, pengetahuan tradisional dan ekspresi kebudayaan adalah bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat yang bersangkutan28.
mencakup Indigenous Knowledge and folklore29. Sedangkan pengertian ekspresi budaya tradisional dari terminologi WIPO memberikan definisi tentang Traditional Cultural Expresions sebagai berikut “...bentuk apapun, kasat mata maupun tak kasat mata, dimana pengetahuan dan budaya tradisional diekspresikan, tampil atau dimanifestasikan dan mencakup bentuk-bentuk ekspresi atau kombinasi berikut ini....” . Hal ini meliputi ekspersi lisan, seperti misalnya kisah, efik, legenda, puisi, teka-teki dan bentuk narasi lainnya; kata, lambang, nama dan simbol; ekspresi dalam bentuk gerak, seperti drama, upacara, ritual. Sebagai tambahan, definisi ini juga mencakup ekspresi yang kasat mata, seperti produksi seni, khususnya gambar, desain, lukisan termasuk lukisan tubuh dan juga dengan berbagai benda-benda kerajinan, instrumen musik, dan berbagai bentuk arsitektural. Agar suatu ekspresi memenuhi syarat traditional cultural ekspresion, ekspresi tersebut harus menunjukan adanya kegiatan intelektual individu maupun kolektif yang merupakan ciri dari identitas dan warisan suatu komunitas, dan telah dipelihara, digunakan atau dikembangkan oleh komunitas tersebut, atau oleh orang perorangan yang memiliki hak atau tanggung jawab untuk melakukannya sesuai dengan hukum dan praktik adat/kebiasaan dalam komunitas tersebut30.
Hukum memberikan sarana
perlindungan terhadap sebuah karya cipta yang merupakan produk dari pikiran manusia. Dengan adanya Undang-undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta, maka terhadap karya cipta yang dihasilkan dapat diberikan perlindungan. Bentuk nyata ciptaan - ciptaan yang dilindungi dapat 29Afrillyanna Purba, Pemberdayaan Perlindungan Hukum Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Sebagai Sarana Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Alumni, Bandung, 2012, Hlm 90-91
30Ibid, Hlm 95
berupa ilmu pengetahuan, seni, dan sastra. Perlindungan dimaksud adalah untuk melindungi Pengetahuan Tradisional dan/atau Ekspresi Budaya Tradisional terhadap pemanfaatan yang dilakukan tanpa hak dan melanggar kepatutan.
Sedangkan pengaturan kekayaan intelektual pengetahuan tradisional dan kekayaan intelektual lain sejenis dinamakan ekspresi budaya tradisional merupakan masalah hukum baru yang berkembang baik di tingkat nasional maupun internasional. Pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional sebagai kekayaan intelektual baru dalam waktu satu dekade terakhir muncul menjadi masalah hukum disebabkan belum ada instrumen hukum nasional maupun internasional memberikan perlindungan hukum secara optimal terhadap pengetahuan tradisional yang saat ini banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini disebabkan kurangnya perlindungan yang diberikan oleh negara terhadap pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab31.
Dalam tataran normatif, perlindungan terhadap hasil kebudayaan rakyat ini diatur dalam ketentuan Pasal 38 ayat (1) Undang – undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta menyebutkan “Hak Cipta atas ekspresi budaya tradisional dipegang oleh Negara.”. Selain itu aturan hukum non HKI yang melindungi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisonal (PTEBT) terdapat juga di Undang-undang Cagar Budaya, Hukum Adat dan RUU Kebudayaan.
Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional yang dilindungi di dalam RUU Perlindungan dan Pemanfaatan Kekayaan Intelektual
Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional meliputi:
(1) Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional yang dilindungi mencakup unsur budaya yang:
a. disusun, dikembangkan, dipelihara, dan ditransmisikan dalam lingkup tradisi; dan
b. memiliki karakteristik khusus yang terintegrasi dengan identitas budaya masyarakat tertentu yang melestarikannya;
(2) Pengetahuan Tradisional yang dilindungi sebagaimana dimaksud di atas mencakup kecakapan teknik (know how), keterampilan, inovasi, konsep, pembelajaran dan praktik kebiasaan lainnya yang membentuk gaya hidup masyarakat tradisional termasuk di antaranya pengetahuan pertanian, pengetahuan teknis, pengetahuan ekologis, pengetahuan pengobatan termasuk obat terkait dan tata cara penyembuhan, serta pengetahuan yang terkait dengan sumber daya genetik.
(3) Ekspresi Budaya Tradisional yang dilindungi mencakup salah satu atau kombinasi bentuk ekspresi berikut ini:
a. verbal tekstual, baik lisan maupun tulisan, yang berbentuk prosa maupun puisi, dalam berbagai tema dan kandungan isi pesan, yang dapat berupa karya susastra ataupun narasi informatif;
b. musik, mencakup antara lain: vokal, instrumental atau kombinasinya;
c. gerak, mencakup antara lain: tarian, beladiri, dan permainan; d. teater, mencakup antara lain:
pertunjukan wayang dan sandiwara rakyat;
e. seni rupa, baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi
yang terbuat dari berbagai macam bahan seperti kulit, kayu, bambu, logam, batu, keramik, kertas, tekstil, dan lain-lain atau kombinasinya; dan
f. upacara adat, yang juga mencakup pembuatan alat dan bahan serta penyajiannya.32
Provinsi Bengkulu merupakan sebuah Provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada dikota Bengkulu. Provinsi ini terletak dibagian barat daya Pulau Sumatera, yang berbatasan dengan :
Utara : Sumatera Barat. Selatan : Lampung
Barat : Samudera Hindia
Timur : Jambi dan sumatera Selatan. Provinsi Bengkulu memiliki populasi sebanyak 1.972.196 jiwa. Yang terdiri dari berbagai suku, yakni :
1. Rejang (60,36%) 2. Jawa (22,31%) 3. Serawai (17,87%)
4. Melayu Bengkulu (7,93%) 5. Lembak (4,95%)
6. Minangkabau (4,28%) 7. Sunda (3.01%)
8. Lain – Lain (18,29%).33
Salah satu suku yang ada di Provinsi Bengkulu adalah suku Lembak. Dalam penelitian ini, difokuskan pada masyarakat adat Lembak yang ada di Provinsi Bengkulu. Masyarakat Lembak adalah suku bangsa yang permukimannya tersebar di Provinsi Bengkulu, antara lain di kota Bengkulu, Bengkulu Utara, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahing. Suku Lembak di Kabupaten Rejang Lebong bermukim di Kecamatan Padang Ulak Tanding, Sindang Kelingi, dan Kota
32Lihat di
www.djpp.kemenkumham.go.id 33 Indonesia’s
Padang. Di Kabupten Kepahiang suku Lembak mendiamin desa Suro Lembak. Suku Lembak juga mendiami wilayah daerah kota Lubuk linggau dan Kabupaten Musi Rawas yang berada diwilayah Provinsi Sumatera Selatan.
Suku Lembak adalah pemeluk agama Islam sehingga budayanya banyak bernuansakan Islam, disamping itu masih ada pengaruh dari kebudayaan lainnya. Dari sisi adat istiadat antara Melayu Bengkulu dan Suku Lembak ada terdapat kesamaan dan juga perbedaan, ada hal-hal yang terdapat dalam Melayu Bengkulu tidak terdapat dalam masyarakat Lembak, dan sebaliknya. Secara garis besar, kebudayaan Melayu mendominasi kebudayaan suku Lembak.
Pada masa lalu suku Lembak mempunyai sejarah kerajaan yaitu Kerajaan Sungai Hitam dengan rajanya Singaran Pati yang bergelar Aswanda. Suku Lembak sudah berada di Bengkulu sekitar tahun 1400-an atau sekitar 6 abad yang lalu34. Sampai saat ini, upaya dokumentasi PTEBT yang sudah terlihat dilakukan oleh pemerintah hanyalah pada PTEBT Indonesia yang sudah mendunia seperti wayang, keris, batik. Untuk PTEBT lainnya, upaya pemerintah hanya sampai pada proses inventarisasi saja. Belum ada kejelasan prosedur dan kerja-sama di antara kementerian di Indonesia untuk mengorganisasi proses dokumentasi dan data-base PTEBT. Saat ini, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan Kementerian Hukum dan HAM, Dirjen HKI, melakukan proses inventarisasi PTEBT secara sendiri-sendiri.
Proses dokumentasi dan kompilasi data-base PTEBT, bahkan sebelum RUU PTEBT diundangkan, adalah vital untuk melestarikan PTEBT dan mencegahnya dari kepunahan. Apabila PTEBT Indonesia 34http://pariwisata.rejanglebongkab.go.id/ sejarah-dan-asal-usul-suku-lembak/
punah karena PTEBT tersebut tidak lagi dipraktekkan oleh komunitasnya, maka hilang juga perlindungan HKI atas PTEBT tersebut. RUU PTEBT bahkan tidak mengklarifkasi kementerian mana yang akan ditugaskan untuk melaksanakan proses dokumentasi dan data-base atas PTEBT Indonesia. Salah satu contoh kesenian yang jarang di tampilkan oleh Masyarakat adat Lembak adalah Barong Landong. Apabila hal ini tidak disikapi dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu, maka tidak menutup kemungkinan kesenian Barong Landong ini akan punah.
Dari uraian diatas, penelitian ini ditujukan untuk mendokumentasikan (data base) PTEBT masyarakat adat Lembak sehingga dari hasil penelitian ini dapat diketahui apa saja kekayaan intelektual atas pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional khususnya yang dimiliki oleh masyarakat adat Lembak di Provinsi Bengkulu, maka dari itu perlu dilakukan suatu penelitian terkait dengan “Kekayaan Intelektual Atas Pengetahuan Tradisional Dan Ekspresi Budaya Tradisio