• Tidak ada hasil yang ditemukan

Survey of the Physical Properties and Nutrient Content of Cassava to Different Drying Methods in Two Districts of Lampung Province SURVEI KOMPOSISI NUTRISI DAN SIFAT FISIK ONGGOK TERHADAP METODE PENGERINGAN YANG BERBEDA DI PROVINSI LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Survey of the Physical Properties and Nutrient Content of Cassava to Different Drying Methods in Two Districts of Lampung Province SURVEI KOMPOSISI NUTRISI DAN SIFAT FISIK ONGGOK TERHADAP METODE PENGERINGAN YANG BERBEDA DI PROVINSI LAMPUNG"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

Survey of the Physical Properties and Nutrient Content of Cassava to Different Drying Methods in Two Districts of Lampung Province

By

I Nyoman Ary Vidyana

Cassava into industrial waste which is generated in the form of wet tapioca . Utilization of cassava as animal feed , usually first dried . The drying process can be done on the cement floor and on the ground . The differences in the drying potential to provide different quality of nutrients. This study aimed to compare the nutritional composition and physical properties of the drying cassava on the ground and the cement floor , and to know the method of drying on the ground or on a cement floor the better the nutritional composition and physical properties of the onggok.Pelaksanaan research conducted at the Laboratory of Nutrition and Animal Feed Animal Husbandry Department of the Faculty of Agriculture, University of Lampung . This study uses data obtained will be analyzed using Student 's t-test at the 5% significance level . The results showed that : ( 1 ) there is a significant difference ( P > 0.05 ) in ash content , BETN levels ; ( 2 ) there is no significant difference ( P < 0.05 ) in moisture content , protein content , fat content , and crude fiber ;

(2)

ABSTRAK

SURVEI KOMPOSISI NUTRISI DAN SIFAT FISIK

ONGGOK TERHADAP METODE PENGERINGAN YANG BERBEDA DI PROVINSI LAMPUNG

Oleh

I Nyoman Ary Vidyana

Onggok yang menjadi limbah industri tapioka dihasilkan dalam bentuk basah. Pemanfaatan onggok sebagai pakan ternak, biasanya terlebih dahulu dikeringkan. Proses pengeringan dapat dilakukan di atas lantai semen dan di atas tanah. Perbedaan cara pengeringan ini berpotensi memberikan kualitas nutrien yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan komposisi nutrisi dan sifat fisik onggok pada penjemuran di atas tanah dan lantai semen, serta untuk mengetahui metode pengeringan yang lebih baik terhadap komposisi nutrisi dan sifat fisik onggok.

Pelaksanaan penelitian dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan metode purposive random sampling, dan data yang diperoleh akan dianalisis

menggunakan uji t-student pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terdapat perbedaan nyata (P<0,05) pada kadar abu, kadar BETN; (2) terdapat perbedaan tidak nyata (P>0,05) pada kadar air, kadar protein, kadar lemak, dan serat kasar.

(3)
(4)

SURVEI SIFAT FISIK DAN KANDUNGAN NUTRIEN ONGGOK TERHADAP METODE PENGERINGAN YANG BERBEDA

DI DUA KABUPATEN PROVINSI LAMPUNG

Skripsi

Oleh :

I NYOMAN ARY VIDYANA

JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)
(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada 24 Juni 1991 di Bandar Lampung dan merupakan anak kedua dari empat bersaudara buah kasih pasangan Bapak Achmad Hadi dan Mama Ni Putu Ambarasari.

Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SD Xaverius 3 Bandar Lampung, pada 2003; sekolah menengah pertama di SMP Fransiskus Tanjung Karang pada 2006; sekolah menengah atas di SMA Negeri 12 Bandar Lampung pada 2009. Pada tahun yang sama penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

(9)

Ya Allah, Ya Rabbi

Ayahanda yang mulia, Ibunda yang tercinta untaian doa,

air mata dan peluh perjuanganmu telah membawaku memasuki gerbang kesuksesan dari rasa

khawatir hingga rasa yakin aku mencoba bertahan atas nama ceritaku.

Aku selalu yakin dengan dukunganmu, selalu dan selalu ingin kuceritakan semua tapi aku

selalu kehabisan kata-kata. Mungkin hanya inilah yang mampu kubuktikan kepadamu

bahwa aku tak pernah lupa pengorbananmu,

Teriring do’a untuk Ayahanda dan Ibunda , dan Kakak

-kakakku, semoga Allah SWT

kelak menempatkan mereka dalam surga-Nya.

Keberhasilan ini ku persembahkan seiklasnya kepada :

Ayahanda dan Ibunda tercinta, kakak dan adik-adikku, serta teman seperjuangan atas

waktu dan pengorbananmu dalam membantuku menyelesaikan skripsi ini,

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Skripsi ini disusun berdasarkan penelitian yang berjudul “Survei Sifat Fisik Dan Kandungan Nutrien Onggok Terhadap Pengeringan Yang Berbeda Di Dua Kabupaten Provinsi Lampung”

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S.-- selaku Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung;

2. Bapak Prof. Dr. Ir. Muhtarudin, M.S.-- selaku Ketua Jurusan Peternakan Unila, atas arahan yang telah diberikan;

3. Ibu Ir. Tintin Kurtini, M.S.--selaku pembimbing akademik, atas arahan yang telah diberikan;

4. Bapak Ir. Syahrio Tantalo M.P.-- selaku Dosen Pembimbing Utama, atas motivasi, arahan, nasehat dan bimbingannya selama menjadi mahasiswa; 5. Bapak Liman, S.Pt., M.Si..-- Dosen Pembimbing Anggota, atas motivasi,

arahan, nasehat dan bimbingannya selama penyusunan skripsi ini;

(11)

7. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Peternakan,--atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan;

8. Ayah dan Ibu, serta I Made Adhitya, S.P , Ketut Aryana Wiranata dan Putu Arieska Putri,-- atas motivasi dan semangat yang selalu diberikan;

9. Fadlilah Ahmad Afrian sahabat seperjuangan atas persaudaraan dan kerjasamanya selama penelitian;

10.Sahabat terbaik, Fadly Satria, Hesty Prilita, Shindy Amelia Putri, Chandra Ning Maulidya, Yanidar Permata Sari, Marchela Monica Fortunela,-- atas segala keceriaan dan senyum semangat yang selalu diberikan;

11.Agus, Bintang, Iboy, Ucok, Dani, Alden, Kemas, Mandala, Ogie,-- atas motivasi dan rasa kekeluargaan yang telah diberikan pada penulis;

12.“Angkatan 2009” (Ahmad/Ente, Alda, Bomy, Dani R, Liza, Lia, Vera, Faisal Aziz, Wayan, Maul, Nopen, Devo, Sadam, Richard, Rojab, Tias, Arni, Irma, Elga, Febri, Gita, Iin, Lina, Mefi, Melati, Novia, Echa, Olyvia, Tri Nurjanah, Ulvi, Yayu,) atas suasana kekeluargaan dan kenangan indah selama masa studi serta motivasi yang diberikan pada penulis;

13.Seluruh kakak-kakak (06, 07 dan 08) serta adik-adik (010, 011, 012 dan 013) jurusan peternakan atas persahabatan dan motivasinya;

14.Mas Udin dan Mas Agus—yang selalu membantu dalam penelitian ini; 15.Semua dosen dan pegawai di jurusan peternakan yang senantiasa memberikan

dukungan dan motivasinya;

(12)

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, namun sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi yang membacanya

Bandar Lampung, Juni 2014

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang dan Masalah ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 2

1.3 Kegunaan Penelitian... 2

1.4 Kerangka Pemikiran ... 3

1.5 Hipotesis ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1. Gambaran Umum Ubi Kayu ... 7

2.2 Tapioka ... 8

2.3 Onggok ... 9

2.4 Pengeringan ... 13

2.5 Teknik Analisis Komposisi Nutrien ... 14

(14)

III. BAHAN DAN METODE ... 17

3.1 Tempat dan Waktu ... 17

3.2 Alat dan Bahan Penelitian ... 17

3.3 Rancangan Penelitian ... 17

3.4 Analisis Data ... 19

3.5 Peubah yang Diamati ... 19

3.5.1 Uji Organoleptik... 19

3.5.2 Analisis Proksimat ... 20

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26

4.1 Hasil Uji Organoleptik ... 26

4.2 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Air Onggok ... 29

4.3 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Abu Onggok ... 30

4.4 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Protein Onggok ... 32

4.5 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Lemak Onggok ... 34

4.6 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar Serat Kasar Onggok ... 35

4.7 Pengaruh Perlakuan terhadap Kadar BETN Onggok ... 36

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 38

5.1 Simpulan ... 38

DAFTAR PUSTAKA ... 39

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Hasil Uji Organoleptik ... 27

2. Kadar air onggok ... 29

3. Kadar abu onggok. ... 31

4. Kadar protein onggok ... 32

5. Kadar lemak onggok ... 34

6.. Kadar serat kasar onggok. ... 35

7. Hasil analisis kadar air onggok ... 43

8. Uji t-student data kadar air onggok. ... 43

9. Hasil analisis kadar abu onggok ... 44

10. Uji t-student data kadar abu onggok. ... 44

11. Hasil analisis kadar protein onggok ... 45

12. Uji t-student data kadar protein onggok. ... 45

13. Hasil analisis kadar lemak onggok ... 46

14. Uji t-student data kadar lemak onggok. ... 46

15. Hasil analisis kadar serat kasar onggok ... 47

16. Uji t-student data kadar serat kasar onggok. ... 47

(16)
(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Ubi kayu ... 7

2. Tapioka. ... 9

3. Alur pembuatan tepung tapioka ... 10

4. Onggok ... 12

(18)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Kebutuhan daging di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk yang diikuti dengan

meningkatnya taraf hidup dan kesadaran akan arti pentingnya gizi masyarakat. Keadaan ini menyebabkan kebutuhan protein asal hewani semakin meningkat. Pembangunan peternakan merupakan salah satu aspek penting dalam rangka mencukupi kebutuhan masyarakat akan daging sebagai salah satu sumber protein hewani.

Sektor peternakan merupakan salah satu sendi perekonomian yang dalam perkembangannya masih menemui masalah terkait penyediaan bahan pakan. Penggunaan lahan untuk tanaman pangan yang lebih banyak daripada hijauan mengakibatkan ketersediaan pakan hijauan berkurang, khususnya pada akhir musim kemarau hingga awal musim penghujan. Upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatan limbah pertanian dan agroindustri sebagai pakan ternak.

(19)

2 Pemanfaatan onggok sebagai pakan ternak dapat mengatasi penyediaan bahan pakan dan menanggulangi dampak negatifnya terhadap lingkungan.

Onggok yang berasal dari pengolahan ubi kayu menjadi tepung tapioka merupakan limbah padat yang masih mengandung protein dan karbohidrat. Sebagai ampas pati, kandungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) dalam onggok dapat mencapai 71,64 %. Berdasarkan tingginya kandungan BETN ini, maka onggok dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan sumber energi untuk ternak (Puslitbangnak, 1996).

Di Lampung sebagian besar penjemuran onggok dilakukan di atas tanah dan di atas lantai semen, hal ini diduga akan menghasilkan komposisi nutrisi dan sifat fisik onggok yang berbeda. Berkaitan dengan uraian di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk membandingkan kandungan nutrisi dan sifat fisik onggok pada kedua metode pengeringan tersebut di Provinsi Lampung.

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kandungan nutrisi dan sifat fisik onggok pada penjemuran di atas tanah dan lantai semen, serta mengetahui metode pengeringan di atas tanah atau di lantai semen yang lebih baik terhadap

kandungan nutrisi dan sifat fisik onggok.

1.3 Kegunaan Penelitian

(20)

3 secara keilmuan penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan pengaruh alas

pengeringan terhadap komposisi nutrisi dan sifat fisik onggok.

1.4 Kerangka Pemikiran

Salah satu jenis industri yang banyak menghasilkan limbah adalah pabrik

pengolahan tepung tapioka. Produksi singkong di Indonesia tahun 2012 mencapai angka 23,92 juta ton (Badan Pusat Statistik, 2012). Apabila diolah menjadi tepung tapioka akan menghasilkan onggok mencapai lebih dari 2,5 juta ton. Hal ini karena setiap satu ton ubi kayu dapat menghasilkan sekitar 250 kg tapioka dan 114 kg onggok. Keberadaan yang melimpah ini, membuat onggok banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Disamping itu, perlu diketahui bahwa pemanfaatan ini tidak akan mengganggu program ketahanan pangan karena onggok menjadi hasil samping atau limbah dari pengolahan singkong.

Kandungan zat makanan yang terdapat pada onggok adalah protein 3,6%; lemak 2,3%; air 20,31% dan abu 4,4% (Anonimus, 2005). Onggok berpotensi sebagai pakan ternak karena mengandung karbohidrat atau pati yang masih cukup tinggi sehingga dimanfaatkan sebagai sumber energi. Kandungan energi metabolis onggok adalah 3.000 kkal/kg, namun kandungan protein rendah yang hanya 3,6% dan sianidanya mencapai sekitar 1,75 mg/g (Abidin, 1997).

(21)

4 oleh sebab itu agar dapat dimanfaatkan sebagai campuran makanan ternak,

onggok perlu dijemur terlebih dahulu sampai kadar kekeringannya 20% (Hidayah, dkk., 2010).

Penjemuran onggok di Lampung sebagian besar dengan cara menjemur di atas tanah, selain itu ada juga yang menjemur onggok menggunakan lantai semen. Penjemuran onggok di atas tanah kemungkinan akan menurunkan kualitas bila dibandingkan dengan menggunakan lantai semen. Penjemuran di atas tanah diduga akan meningkatkan kadar abu pada onggok, karena pada saat

pengangkutan onggok sesudah dijemur sebagian tanah juga ikut terangkut. Beberapa metode pengeringan yang dilakukan tentunya akan memberikan sifat fisik. Dalam penilaian bahan pakan, sifat yang menentukan diterima atau tidak suatu produk adalah sifat fisiknya.

Pengujian organoleptik mempunyai peranan penting dalam penerapan mutu. Pengujian organoleptik dapat memberikan indikasi kebusukan, kemunduran mutu dan kerusakan lainnya dari produk. Selama ini belum ada standar yang baku mengenai kualitas onggok, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai penyebab variasi nutrisi onggok.

Uji organoleptik atau uji sensori merupakan cara pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap produk. Tujuan diadakannya uji organoleptik terkait langsung dengan selera. Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses

(22)

5 rangsangan yang diterima alat indra yang berasal dari benda tersebut. Reaksi atau kesan yang ditimbulkan karena adanya rangsangan dapat berupa sikap untuk mendekati atau menjauhi, menyukai atau tidak menyukai akan benda penyebab rangsangan. Kesadaran, kesan dan sikap terhadap rangsangan adalah reaksi psikologis atau reaksi subyektif. Pengukuran terhadap nilai / tingkat kesan, kesadaran dan sikap disebut pengukuran subyektif atau penilaian subyektif. Penilaian subyektif karena hasil penilaian atau pengukuran sangat ditentukan oleh pelaku atau yang melakukan pengukuran.

Jenis penilaian atau pengukuran yang lain adalah pengukuran atau penilaian suatu dengan menggunakan alat ukur dan disebut penilaian atau pengukuran

instrumental atau pengukuran obyektif. Pengukuran obyektif hasilnya sangat ditentukan oleh kondisi obyek atau sesuatu yang diukur. Demikian pula karena pengukuran atau penilaian dilakukan dengan memberikan rangsangan atau benda rangsang pada alat atau organ tubuh (indra), maka pengukuran ini disebut juga pengukuran atau penilaian subyketif atau penilaian organoleptik atau penilaian indrawi yang diukur atau dinilai sebenarnya adalah reaksi psikologis (reaksi mental) berupa kesadaran seseorang setelah diberi rangsangan, maka disebut juga penilaian sensorik.

(23)

6 di reseptor dan diteruskan pada susunan syaraf sensori atau syaraf penerimaan. Mekanisme pengindraan secara singkat adalah :

1. Penerimaan rangsangan (stimulus) oleh sel-sel peka khusus pada indra 2. Terjadi reaksi dalam sel-sel peka membentuk energi kimia

3. Perubahan energi kimia menjadi energi listrik (impulse) pada sel syaraf 4. Penghantaran energi listrik (impulse) melalui urat syaraf menuju ke syaraf

pusat otak atau sumsum belakang.

5. Terjadi interpretasi psikologis dalam syaraf pusat 6. Hasilnya berupa kesadaran atau kesan psikologis.

1.5Hipotesis

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Ubi Kayu

Ubi kayu yang sering pula disebut singkong atau ketela pohon merupakan salah satu tanaman penghasil bahan makanan pokok di Indonesia. Tanaman ini tersebar dan banyak tumbuh di Indonesia, diantaranya di Pulau Jawa, Madura, Sulawesi, dan Sumatera. Singkong di Indonesia menduduki urutan ke-3 diantara empat produksi pangan yang utama, antara lain padi, jagung, singkong dan ubi jalar (Prasetyana, 2009).

(25)

8 Secara taksonomi klasifikasi ketela pohon, yaitu sebagai berikut :

Divisio : Spermatophyta Sub divisio : Angiospermae Classis : Dicotyledoneae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Manihot

Species : Manihot utilissima pohl (Lingga, dkk,. 1989)

2.2 Tapioka

Tapioka adalah pati yang diperoleh dari umbi tanaman ubi kayu (Manihot utilissima). Tapioka sering pula dikenal sebagai tapioca flour atau tepung

tapioka. Ada banyak nama lain dari tapioka yang umumnya disesuaikan dengan sebutan ubi kayu yang juga berbeda-beda, misalnya pati kanji, pati ubi kayu, pati cassava, pati singkong, dan pati pohong. Pati merupakan polisakarida yang tersusun oleh molekul glukosa yang terdiri dari molekul amilosa dan amilopektin berbentuk makromolekul, tidak bermuatan, berbentuk granula yang padat dan tidak larut dalam air dingin. Jika dipanaskan akan mengalami gelatinasi dalam keadaan kering berwarna putih dan dalam bentuk gelatin berwarna opak (Hartati dan Prana, 2003).

(26)

9

Gambar 2. Tapioka

2.3 Onggok

Salah satu contoh limbah industri pangan yang menimbulkan pencemaran

(27)

10

Gambar 3. Alur pembuatan tepung tapioka

Industri tapioka menghasilkan limbah padat sekitar 10--30% dari berat singkong yang berupa ampas hasil ekstraksi dari pengolahan tepung tapioka (Kosugi, dkk., 2008). Limbah padat tersebut akan menimbulkan bau yang tidak sedap apabila

Ubi kayu/singkong

Pengendapan Limbah cair

(8,8 m3)

Tapioka kasar siap jual (300 kg)

(28)

11 tidak ditangani dengan tepat. Kegunaan dari limbah padat setelah dikeringkan adalah sebagai makanan ternak, pupuk, bahan campuran saus, dan obat nyamuk bakar. Salah satu limbah padat yang dapat digunakan sebagai makanan ternak adalah limbah industri tapioka.

Limbah padat tapioka mempunyai kadar air yang cukup tinggi, yaitu sekitar 60--70% (Sriroth, dkk., 2000). Kandungan air yang cukup tinggi dalam limbah padat tapioka merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme yang menyebabkan proses pembusukan limbah padat menjadi lebih cepat dan proses pembusukan ini dapat menimbulkan masalah bau pada limbah padat tapioka. Oleh karena itu, diperlukan proses penanganan yang baik dan tepat untuk mengurangi masalah bau tersebut yang sering menimbulkan persoalan dengan masyarakat sekitar pabrik tepung tapioka.

Onggok merupakan hasil samping dari pembuatan tepung tapioka yang kandungan proteinnya rendah (kurang dari 5%). Namun dengan teknik pengolahan, kandungan proteinnya dapat ditingkatkan sehingga onggok yang terolah, dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ternak (Tarmudji, 2004). Onggok ini merupakan limbah pertanian yang sering menimbulkan masalah lingkungan karena berpotensi sebagai polutan di sekitar pabrik.

(29)

12 Hasil samping dari proses tepung tapioka ini perlu dijemur terlebih dahulu sampai kadar kekeringannya 20% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak (Hidayah, dkk., 2010).

Gambar 4. Onggok

Di provinsi lampung sendiri ada dua cara tradisional yang dilakukan untuk mengeringkan onggok yaitu penjemuran dengan menggunakan alas lantai semen dan penjemuran di atas tanah.

Kadar karbohidrat yang dimiliki oleh onggok kering ini mencapai 51,8%

(Tarmudji, 2004). Menurut Rasyid, dkk. (1995) onggok merupakan bahan sumber energi yang mempunyai kadar protein kasar rendah, tetapi kaya akan karbohidrat yang mudah dicerna bagi ternak. Mengingat harga onggok murah, maka

penggunaannya dalam ransum mampu menurunkan biaya ransum. Proses

(30)

13

Onggok dalam keadaan kering mengandung 0,01% asam sianida, sedangkan kandungan zat gizinya adalah 3,6 % protein kasar, 2,19% serat kasar, 0,033% lemak kasar, 0,01% kalsium, 0,033% phospor, dan sisanya karbohidrat (Ikawati, 2006).

2.4 Pengeringan

Pengeringan adalah suatu peristiwa perpindahan massa dan energi yang terjadi dalam pemisahan cairan atau kelembaban dari suatu bahan sampai batas

kandungan air yang ditentukan dengan menggunakan gas sebagai fluida sumber panas dan penerima uap cairan (Treybal, 1980). Kandungan air bahan yang dikeringkan tersebut dikurangi hingga batas tertentu dimana pertumbuhan mikroba terhambat (Winarno, 1980).

Pengeringan pakan memiliki dua tujuan utama. Tujuan pertama sebagai sarana pengawetan makanan. Mikroorganisme yang mengakibatkan kerusakan pakan tidak dapat berkembang dan bertahan hidup pada lingkungan dengan kadar air yang rendah. Selain itu, banyak enzim yang mengakibatkan perubahan kimia pada pakan tidak dapat berfungsi tanpa kehadiran air (Geankoplis, 1993). Tujuan kedua untuk meminimalkan biaya distribusi pakan karena pakan yang telah dikeringkan akan memiliki berat yang lebih rendah dan ukuran yang lebih kecil.

(31)

14 rendah dibanding bahan segarnya. Berkurangnya kadar air akan membuat pakan yang mengandung senyawa-senyawa protein, karbohidrat, lemak, dan mineral dalam konsentrasi yang lebih tinggi, akan tetapi vitamin dan zat warna pada umumnya menjadi rusak (Winarno, 1980).

Di Lampung sebagian besar penjemuran dilakukan di atas tanah,selain itu ada juga yang menjemur menggunakan lantai semen.

2.5 Teknik Analisis Kandungan Nutrisi

Analisis proksimat merupakan analisis kimia yang dilakukan untuk mengetahui komposisi susunan kimia dan kegunaannya suatu bahan pakan. Cara ini

dikembangkan Weende Experiment Station di Jerman oleh Henneberg dan Stokman pada tahun 1865, dengan menggolongkan komponen yang ada pada makanan. Metode ini didasarkan pada komposisi susunan kimia dan kegunaan bahan makanan. Selanjutnya, metode ini terus dipakai dan dikenal dengan nama analisis proksimat.

Analisis Proksimat merupakan suatu metode analisis kimia untuk

(32)

15 Analisis proksimat digunakan untuk menganalisis beberapa komponen seperti kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar serat kasar, dan kadar protein.

2.6 Uji Organoleptik

Uji organoleptik merupakan suatu metode yang digunakan untuk menguji kualitas suatu bahan atau roduk menggunakan panca indra manusia. Jadi dalam hal ini aspek yang diuji dapat berupa warna, rasa, bau dan tekstur. Dalam penilaian bahan pakan sifat yang menentukan diterima atau tidak suatu produk adalah sifat

indrawinya. Penilaian indrawi ini ada enam tahap yaitu pertama menerima bahan, mengenali bahan, mengadakan klarifikasi sifat-sifat bahan, mengingat kembali bahan yang telah diamati, dan menguraikan kembali sifat indrawi produk tersebut. Indra yang digunakan dalam menilai sifat indrawi suatu produk adalah

1. Penglihatan yang berhubungan dengan warna kilap, viskositas, ukuran, bentuk, volume kerapatan dan berat jenis, panjang lebar dan diameter serta bentuk bahan.

2. Indra peraba yang berkaitan dengan struktur, tekstur dan konsistensi. Struktur merupakan sifat dari komponen penyusun, tekstur merupakan sensasi tekanan yang dapat diamati dengan mulut atau perabaan dengan jari, dan konsistensi merupakan tebal, tipis dan halus.

(33)

16 4. Indra pengecap, dalam hal kepekaan rasa , maka rasa manis dapat dengan

(34)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada September 2013--Oktober 2013. Pengambilan sampel onggok diperoleh di Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah. Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah onggok yang telah

dikeringkan. Sampel yang diambil sebanyak 20 kantung plastik, tiap kantung berisi 1 kg.

Adapun alat yang diperlukan dalam penelitian ini adalah kantung plastik,

timbangan, label, mesin penggiling, tali, kain, oven, tabung reaksi, neraca ohaust, gelas ukur, ember, pengaduk, sarung tangan, dan thermometer. Selain itu juga digunakan alat-alat lainnya yang diperlukan untuk analisis proksimat

3.3 Rancangan Penelitian

(35)

18 survei. Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta. Metode survei juga dikerjakan evaluasi serta perbandingan terhadap hal-hal yang dikerjakan orang dalam menangani masalah yang serupa sehingga hasilnya dapat digunakan dalam analisis dan pengambilan keputusan di masa datang (Putra dan Hayusudina, 2006).

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non probability sample (selected sample). Pemilihan sampel dengan teknik ini tidak menghiraukan prinsip-prinsip probability. Pemilihan sampel tidak secara random karena hasil yang diharapkan hanya merupakan gambaran kasar tentang suatu keadaan dan bersifat sementara. Pengambilan sampel dilakukan hanya atas dasar

pertimbangan penelitinya saja yang menganggap unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota sampel yang diambil. Cara ini digunakan agar

mengefesiensikan biaya dan hasil yang didapat tidak membutuhkan waktu yang lama (Nasution, 2003).

Cara yang dikenal dalam non probability sample menggunakan metode yang didasarkan atas tujuan dan pertimbangan tertentu dari peneliti adalah purposive sampling (sampel dengan maksud). Purposive sampling adalah metode

(36)

19 3.4 Analisis Data

Pengambilan sampel merupakan langkah penting dalam penelitian ini, karena sampel yang dikumpulkan akan dianalisis. Sampel ini dikumpulkan hingga sebanyak 20 sampel dengan 10 penjemuran di atas tanah dan 10 penjemuran di atas lantai semen, kemudian dari sampel yang diambil dilakukan uji organoleptik dan analisis proksimat.

Data yang diambil diperoleh dari wawancara dan sampel yang diambil kurang lebih sebanyak 2 kg pada setiap orang yang melakukan penjemuran onggok. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan uji t-student pada taraf nyata 5%.

3.5 Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah sifat fisik onggok, kadar air, kadar abu, kadar protein kadar lemak, kadar serat kasar dan kadar BETN.

3.5.1 Uji Organoleptik

Pada uji organoleptik ini digunakan metode uji deskriptif. Uji deskriptif

merupakan pengujian sensori produk baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Uji organoletik ini dilakukan untuk mengetahui aroma, tekstur, dan warna onggok. Panelis pada pengujian deskriptif harus mempunyai kemampuan untuk

(37)

20 Pertama-tama panelis menganalisis produk secara individu dan selanjutnya

penilaian dari masing-masing panelis didiskusikan bersama untuk mencapai kesepakatan kelompok. Hal ini dilakukan karena belum ada standar SNI untuk onggok dan untuk mengurangi kesalahan apabila uji deskriptif dilakukan oleh satu orang yang kurang terlatih, kemudian hasil deskriptif sampel diberikan skor penilaian untuk mengetahui sifat fisik onggok terbaik dari dua metode pengeringan.

3.5.2 Analisis Proksimat

a. Prosedur analisis kadar air

1. Membersihkan crucible lalu dimasukkan ke dalam oven selama ± 6 jam sehingga beratnya konstan;

2. Memindahkan crucible dari dalam oven ke desikator selama ± 15 menit; 3. Menimbang crucible dan mencatat beratnya (X);

4. Menambahkan sampel sebanyak ± 1 g (Y);

5. Masukkan crucible yang berisi sampel ke dalam oven 105ºC selama 6 jam; 6. Memasukkan ke dalam desikator dan menimbang crucible, lalu mencatat

beratnya (Z);

7. Menghitung kadar air (%) dengan formula:

Kadar air = (Y-X) – (Z-X) x 100% (Y-X)

Keterangan:

(38)

21 (Z - X ) : Berat sampel sesudah dipanaskan di oven (g)

8. Menghitung kadar bahan kering (%) dengan formula: Kadar bahan kering = 100 % - kadar air (%)

b. Prosedur analisis kadar abu

1. Membersihkan crucible lalu memasukkan ke dalam oven 105 ºC selama kurang lebih 6 jam;

2. Memasukkan crucible ke dalam desikator selama kurang lebih 15 menit; 3. Menimbang crucible ditimbang dan mencatat beratnya (X);

4. Menimbang sampel bahan pakan yang akan diukur kadar abunya kurang lebih 1 g, lalu dimasukkan ke dalam crucible. Mencatat berat crucible ditambah sampel (Y);

5. Masukkan crucible berisi sampel tersebut ke dalam tanur 600 ºC selama 2 jam lalu mendiamkan selama kurang lebih 1 jam;

6. Masukkan ke dalam desikator hingga dingin (suhu kamar) lalu menimbang dan mencatat beratnya (Z);

7. Menghitung kadar abu dengan formula: Kadar abu (%) = (Z – X) x 100%

(Y – X)

Keterangan:

(39)

22 c. Prosedur analisis kadar protein

1. mengambil kertas saring yang telah dipanaskan di oven dan memasukkan ke dalam desikator, lalu menimbang dan mencatat beratnya;

2. menambahkan sampel awal sebanyak ± 0,3 g di atas kertas saring tersebut; 3. memasukkan sampel ke dalam labu kjeldhal lalu menambahkan H2SO4 pekat

sebanyak 15 cc, K2SO4.7H2O sebanyak 10 g, dan CuSO4.7H2O sebanyak 0,5 g; 4. memanaskan di dalam ruang asam sampai warna larutan menjadi jernih lalu

mendinginkan isi labu;

5. menambahkan 200 cc aquades ke dalam labu dan 50 ml NaOH 45 % secara perlahan-lahan serta hati-hati;

6. mendestilasi agar semua amoniak menguap dan ditampung dalam Erlenmeyer berisi 100 cc asam borat;

7. proses destilasi selesai jika erlenmeyer yang berisi asam borat menjadi 150 cc. Menambahkan 2 hingga 3 tetes metal ungu sehingga larutan berubah menjadi hijau;

8. melakukan titrasi dengan larutan HCl 0,1 N sampai larutan berubah ungu; 9. mengerjakan prosedur di atas tanpa sampel;

10.menghitung kadar protein kasar (%) dengan formula: Kadar Protein Kasar = X x N HCl x 0,014 x 6,25 x 100%

Berat sampel awal (g) Keterangan:

(40)

23 d. Prosedur analisis kadar lemak

1. Menimbang kertas saring (A) kemudian menambahkan sampel sebanyak ±1 g (B) lalu mencatat berat total kertas + sampel (C);

2. Melipat kertas saring dengan rapi sehingga sampel tidak ada yang keluar; 3. Memanaskan dalam oven 105 ºC selama ± 12 jam. Setelah itu mendinginkan

dalam desikator, ditimbang dan dicatat beratnya (D);

4. Memasukkan ke dalam soxhlet (extractor), lalu menambahkan chloroform ± 300 ml;

5. Memanaskan selama 6 jam (terhitung saat mulai mendidih);

6. Mengambil sampel beserta bungkusnya untuk dipanaskan dalam oven 105 ºC selama 12 jam;

7. Mendinginkan ke dalam desikator, lalu menimbang dan mencatat beratnya (E);

8. Menghitung kadar lemak kasar dengan formula: Persentase lemak kasar = D – E x 100%

B

e. Prosedur analisis kadar serat kasar

1. Menyiapkan kertas saring Whatman nomor 51 yang dipanaskan di oven 105 ºC selama ± 6 jam kemudian menimbang (A) dan cawan porselen yang dipanaskan di oven 105 ºC selama ± 6 jam kemudian menimbang (B). 2. Menyiapkan sampel sebanyak ± 1 g.

(41)

24 4. Memanaskan selama 30 menit (terhitung sejak mendidih) sambil

digoyang-goyangkan;

5. Menyaring dengan kain penyaring dan air buangannya ditampung dalam erlenmeyer, residunya dicuci dengan aquades panas sampai diketahui asamnya hilang dengan kertas lakmus;

6. Memasukkan residu penyaringan kembali ke Erlenmeyer, ditambahkan 200 ml NaOH 0,313 N, asbes, serta zat anti buih sebanyak 3 tetes;

7. Memanaskan selama ± 30 menit;

8. Menyaring kembali dengan kertas saring yang sudah disiapkan lalu mencuci dengan aquades panas, larutan K2SO4 10 % dan alkohol 95 %;

9. Memasukkan residu beserta kertas saring ke cawan porselen yang sudah disiapkan lalu memanaskan di oven 105 ºC selama 6 jam;

10.Mendinginkan di eksikator dan menimbangnya (residu + cawan + kertas saring = C);

11.Selanjutnya memasukkan ke dalam tanur 600 º C selama 2 jam lalu didinginkan dan ditimbang (D);

12.Menghitung kadar serat kasar (%) dengan formula: Kadar Serat Kasar = X – Y x 100%

Berat sampel awal Keterangan:

X : banyaknya serat kasar (g) Y : banyaknya sampel awal (g)

f. Prosedur analisis kadar BETN

(42)

25 Analisis kandungan nutrien hasil pengeringan menggunakan skema Proksimat Weende sebagaimana yang ditunjukkan oleh bagan pada Gambar 5.

Gambar 5. Skema proksimat Weende (AOAC, 1990). Bahan pakan

Bahan kering (BK) Air

Bahan Organik Abu

Bahan Organik Tanpa Nitrogen (BOTN)

Protein

Karbohidrat Lemak

Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen

(43)

40

V. SIMPULAN

5.1.Simpulan

1. Metode pengeringan tidak berbeda nyata terhadap kadar air, kadar protein, dan kadar serat kasar, tetapi berbeda nyata pada kadar abu dan BETN.

(44)

39

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, G. 2011. Analisa Nutrient Onggok pada Pengeringan yang Berbeda. Skripsi. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Abidin, Z. 1997. Pengaruh Tingkat Penggantian Ransum Komersial dengan Campuran Gamblong dan DPW Terfermentasi oleh Rhizopus oligosporus yang Dikukus Terhadap Retensi Nitrogen dan Kecernaan Bahan Organik pada Ayam Pedaging Periode Finisher. Skripsi. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang. Malang. Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Anonimus. 2005. Bahan Alternatif Pakan Dari Hasil Samping Industri Pangan.

http://www.chemis-try.org/?sect=folus&ext=15. (29 Agustus 2013).

AOAC. 1990. Official Methods of Analysis of the AOAC. AOAC Inc. Arlington. Virginia

Badan Pusat Statistik. 2012. Statistik Industrial Indonesia 2012. Jakarta.Bernard. 1989. Perbaikan Varietas Padi. Jakarta: UI Press.

Dinas Pertanian Lampung Timur. 2004. Statistik Pertanian. Dinas Pertanian Lampung Timur. Lampung.

Djaya, S. 1995. Minyak dan Lemak Pangan. Penerbit Uneversitas Indonesia. Jakarta.

Geankoplis, C.J., 1993.Transport Processes and Unit Operation. Prentice Hall Book, Inc., Singapore.

Girindra, A . 1989. Biokimia Patologi Hewan. Bogor. PAU IPB.

(45)

40 Hidayah, Asfarina, N. Vilanti dan R. Mufidah.2010. “Produksi Pakan Ternak dari

Onggok Sebagai Income Alternatif Pengusaha Tepung Tapiokayang Peduli Peternak Ayam”. Laporan Penelitian. Universitas Negeri Malang.

Ikawati.2006. PemanfaatanOnggok Tapioka Sebagai Bahan Baku Pembuatan Minyak Melalui Teknologi Biokonversi. Skripsi. UNPAD. Bandung. Kosugi, A., A. Kondo, M. Veda, Y. Murata, P. Vaithanomsat,W. Thanapase, T.

Arai, Y. Mori, 2008. Production of Ethanol From Cassava Pulp Via Fermentation with a Surface – Engineered Yeast Strain Displaying Glucoamylase, Renewable Energy, PP. 1-5

Lehninger, A.L. 1998. Dasar – Dasar Biokimia. Terjemahan, M. Thenawidjaja. Pustaka Sinar Harapan.Jakarta.

Lingga, P, B. Sarwono, I. Rahardi, P.C. Rahardjo, J.J. Afriastini, R. Wudianto dan W.H. Apriadji. 1989. Bertanam Umbi-Umbian. PT Penebar Swadaya. Jakarta.

Muchtadi, TR, dan Sugiyono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. PAU. Bogor.

Nasution, R. 2003. Teknik Sampling. Fakultas Kesehatan MAsyarakatUniversitas Sumatera Utara. Medan

Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. UI Press. Jakarta.

Prasetyana, S. D. 2009. Kualitas Bio Etanol Limbah Tapioka Padat Kering Dihaluskan (Tepung) dengan Pembuatan Ragi dan H2SO4 Pada Lama Fermentasi yang Berbeda. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Malang. Jawa Timur.

Puslitbangnak. 1994. Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Limbah Pengolahan Tapioka/sagu sebagai Pakan Ternak. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Putra, A.A., N.D.Hayusudina. 2006. Efisiensi Tata Letak Fasilitas dan Sarana Proyek dalam Mendukung Metode Pekerjaan Konstruksi. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Semarang.Puslitbangnak. 1994. Pemanfaatan Limbah Pertanian dan Limbah Pengolahan Tapioka/sagu sebagai Pakan Ternak. Warta Penelitian danPengembangan Pertanian.

(46)

41 Sriroth K., K. Piyachomwan, K. Sangseethong, dan C. Oates. 2000. Modification

of cassava starch. Paper presented at Xth International Starch Convention. Cracow. Poland.

Tarmudji . 2004. Pemanfaatan Onggok untuk Pakan Unggas. Sinar Tani. Bogor. Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo, dan S.

Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Treybal, R.E. 1980.Mass Transfer Operations, McGraw-Hill Book Co., Singapore.

Winarno. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Gramedia, Jakarta.

Gambar

Tabel
Gambar 1. Ubi kayu
Gambar 2. Tapioka
Gambar 3. Alur pembuatan tepung tapioka
+3

Referensi

Dokumen terkait