Meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar matematika melalui pendekatan open ended

150 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MENIN

DALAM

Diajukan Untuk Mem

JURUSA

FAKULTA

UNIVERSITAS

SKRIPSI

INGKATKAN KEMANDIRIAN SISWA

M BELAJAR MATEMATIKA MELA

PENDEKATAN

OPEN ENDED

ukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguru Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendi

Disusun Oleh:

Etika Intan Sari

NIM. 106017000516

USAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

LTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGUR

TAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYA

JAKARTA

2010

SWA

ELALUI

guruan ndidikan

TIKA

KEGURUAN

(2)

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul ”Meningkatkan Kemandirian Siswa dalam Belajar Matematika melalui Pendekatan Open Ended”, disusun olehEtika Intan Sari, Nomor Induk Mahasiswa 106017000516, Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, September 2011

Yang Mengesahkan

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Afidah Mas’ud Otong Suhyanto M.Si

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi berjudul ”Meningkatkan Kemandirian Siswa dalam Belajar Matematika melalui Pendekatan Open Ended disusun oleh ETIKA INTAN SARI Nomor Induk Mahasiswa 106017000516, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasah pada tanggal 14 September 2011 dihadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1 (S.Pd) dalam bidang Pendidikan Matematika.

(4)

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Yang bertandatangan di bawah ini

Nama : Etika Intan Sari

NIM : 106017000516

Jurusan : Pendidikan Matematika Angkatan Tahun : 2006

Alamat : Puri Pamulang Jl.Palem C1 No.12 Pamulang Tangerang 15400 Tangerang

MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA

Bahwa skripsi yang berjudulMeningkatkan Kemandirian Siswa dalam Belajar Matematika melalui Pendekatan Open Ended adalah benar hasil karya sendiri di bawah bimbingan dosen:

1. Nama : Dra. Afidah Mas’ud NIP : 19610926 198603 2 004 Dosen Jurusan : Pendidikan Matematika 2. Nama : Otong Suhyanto. M.Si

NIP : 19681104 199903 1 001 Dosen Jurusan : Pendidikan Matematika

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya sendiri.

(5)

LEMBAR UJI REFRENSI

Nama : Etika Intan Sari

NIM : 106017000516

Judul Skripsi :Meningkatkan kemandirian Siswa dalam Belajar Matematika Melalui PendekatanOpen Ended

No Refrensi Paraf

Pembimbing I Pembimbing II

BAB I

1.

2.

Japar, “Pembelajaran Matematika

Dengan Pendekatan Open

(Bandung: FMIPA UPI, 2003), hlm.132.

R. Soedjadi,Kiat Pendidiakan Matematika Di Indonesia, (Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional, 1999/2000), hlm.11Tohirin. 2006.

Ali Hamzah dan Mukhlisrarini,

Implementasi Pembelajaran

Matematika Melalui Model

(6)

4.

Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Mahasiswa, (Jakarta: Gaung Persada, 2009), Cet. I, h.26.

Erman Suherman, Strategi

Pembelajaran Matematika

Kontemporer, (Bandung: FMIPA UPI, 2003), hlm.15.

Darwing Paduppai dan Nurdin, “Penerapan Peendekatan Open

Ended Problem Dalam

Pembelajaran Kalkulus”, dalam

Jurnal Pendidikan dan

Kebudayaan, No.074 Tahun 14, September 2008, hlm.911.

Martinis Yamin, Paradigma Pendidikan…,Cet.1, hlm.203

Umam Tirtarahadja dan La Sulo,

Pengantar Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2005), Cet.2, hlm.50.

Slameto, “Kemandirian Belajar dan Prestasi Siswa SMA Unggulan”, dalam Varidika Kajian Penelitian Pendidikan, Vol.15 No.1, Juni 2003, hlm.39.

Slameto, “Kemandirian Belajar dan Prestasi Siswa SMA Unggulan”, dalam Varidika Kajian Penelitian Pendidikan, Vol.15 No.1, Juni 2003, hlm.39

(7)

11.

dalam Varidika Kajian Penelitian Pendidikan, Vol.15 No.1, Juni 2003, hlm.39

Antonius Atosokhi Gea, “ Relasi Dengan Diri Sendiri”, (Jakarta : Gramedia, 2004), cet. 3, hlm.195

Busnawir dan Suhaena, “Pengaruh Penilaian Berbasis Portofolio Dasar, Vol.7 No.2, September 2006, hlm.370

Busnawir dan Suhaena, “Pengaruh Penilaian Berbasis Portofolio Dasar, Vol.7 No.2, September 2006, hlm.371

Martinis Yamin,Paradigma Pendidikan Konstruktivistik, (Jakarta : Gaung Perdana Press, 2008), Cet.1, hlm.213

Ayie Seti Budi, “Pentingkah Kemandirian Bagi Anak?”, dari http://id.shvoong.com, 18 Maret 2007.

(8)

17.

Busnawir dan Suhaena, “Pengaruh Penilaian…, Vol.7 No.2, September 2006, hlm.371

Desmita, “Psikologi Perkembangan Peserta Didik”, (Bandung : Rosdakarya, 2010), Cet.2, hlm.187.

Mohammad Ali dan Mohammad Asrori,

Psikologi Remaja

Perkembangan Peserta Didik”, (Jakarta : Bumi Aksara, 2010), Cet.4, hlm.118

Ali Hamzah dan Muhlisrarini,

Perencanaan dan Strategi

Pembelajaran Matematika

(PSPM), (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009), hlm.359

Gusni Satriawati, “Pembelajaran Dengan Pendekatan Open Ended Untuk Meningkatkan Pemahaman dan Kemampuan Komunikasi Siswa SMP”, dalam Algoritma Jurnal Matemtika dan Pendidikan Matematika, Vol.1 No.1, Juni 2006, hlm105.

Wina Sanjaya, Strategi Pembelejaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009), Cet. 6, hlm.127.

(9)

24.

Prenada Media Group, 2009), Cet. 6, hlm.127

Erman Suherman, dkk, Strategi Pembelajaran…,hlm123.

Suyatno, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, (Surabaya : Masmedia Buana Pustaka, 2009), Cet. I, hlm.62.

Al Jupri, “Open Ended Problem dalam

Matematika”, dari

http://mathematicse.wordpress. com,25 Desember 2007.

Gusni Satriawati, “Pembelajaran

Matematika Dengan

Pendekatan Open Ended pada Pokok Bahasan Dalil Pythagoras di Kelas II SMP”, dalam buku Pendekatan Baru Dalam Pendekatan Sains dan Matematika Dasar, (Jakarta : PIC, IISEP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007), Cet. I, hlm.159.

Gusni Satriawati, “Pembelajaran Dengan Pendekatan…, dalam

Algoritma Jurnal Matemtika dan Pendidikan Matematika, Vol.1 No.1, Juni 2006, hlm105. Busnawir dan Suhaena, “Pengaruh

Penilaian…, Vol.7 No.2, September 2006, hlm.371 Darwing Paduppai dan Nurdin,

(10)

BAB III

1.

2.

3.

4.

Wijana Kusumah dan Dedi Dwitagama,

Mengenal Penelitian Tndakan Kelas, (Jakarta : PT Indeks, 2009), Cet. 3, hlm.9.

Wijana Kusumah dan Dedi Dwitagama,

Mengenal Penelitian Tndakan Kelas, (Jakarta : PT Indeks, 2009), Cet. 3, hlm.44.

Punaji Setyosari, Metode Penelitian

Pendidikan dan

Pengembangan, (Jakarta :

Kencana Prenada Media Group, 2010), hlm221.

Ahmad Sofyan, dkk, Evaluasi

Pembelajaran IPA Berbasis

Kompetensi, (Jakarta : Gaung Persada, 2006), hlm.108

Jakarta, 6 Desember 2010

Yang Mengetahui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Afidah Mas’ud Otong Suhyanto. M.Si

(11)

ABSTRAK

Etika Intan Sari (106017000516). “Meningkatkan Kemandirian Siswa dalam Belajar Matematika melalui Pendekatan Open Ended”. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar matematika. Penelitian ini dilaksanakan di SMP PGRI 1 Ciputat pada bulan November sampai Desember 2010. Pembelajaran yang diterapkan adalah pendekatan open endeddengan subyek penelitian siswa kelas VIII–9 yang terdiri dari 35 siswa. Penelitian ini dilakukan dengan alur penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dan tiap siklusnya terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, lembar wawancara, dan angket kemandirian siswa. Data hasil pengamatan kemandirian siswa dianalisis dengan perhitungan perolehan persentase skor rata-rata kemandirian siswa.

Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran matematika dengan pendekatan open ended dapat meningkatkan kemandirian siswa pada siswa SMP PGRI 1 Ciputat kelas VIII-9. Setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan pendekatan

open ended pada siklus I diperoleh persentase skor rata-rata untuk hasil observasi adalah sebesar 57.79%, dan pada siklus II persentase skor rata-rata tersebut naik menjadi 75.98%. dan berdasarkan perhitungan angket, pada siklus I skornya adalah 79 dan meningkat di siklus II menjadi 87.6. Peningkatan kemandirian siswa juga disertai dengan meningkatnya hasil belajar matematika siswa.

Berdasarkan hasil dari pengumpulan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan pendekatan open ended dapat meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar matematika pada siswa kelas VIII-9 SMP PGRI 1 Ciputat.

(12)

ABSTRACT

ETIKA INTAN SARI (106017000516). “Increasing Student’s Self Regulated in

Mathematic Through Open Ended Approach”. Skripsi Department of

Mathematics Education, Faculty of Tarbiyah and Teachers Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta.

The purpose of this research is to increasing student’s self regulated in learning mathematics. This learning use open ended approach by 35 students at VIII-9 class as a subject research at Junior High School PGRI 1 Ciputat. This research was done by classroom action research step that consist of two ciclus. In each ciclus there are planning, acting, observing, and reflecting.

In this research there are observation piece, interview piece, and questionnaire. The product observation of the students being autonomy data is analyzed by account the students being autonomy percentage average score.

This research of product show that open ended approach can increase the autonomy study of student in Junior High School PGRI 1 Ciputat class VIII-9. After open ended approach was done on the ciclus I, it has been got the percentage average score of the students being autonomy as much 57.79%. In ciclus II was got the percentage average score of the students being autonomy become 75.98%. Based on questionnaire calculation, the score from the first ciclus is 79 and increased at the second ciclus become 87.6. Increasing the students being autonomy followed by the product mathematic study of student.

Based on the results of data collection can be concluded that by applying the open ended approach can increase student’s self regulated in mathematics classes VIII-9 Junioar High School of PGRI 1 Ciputat.

(13)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat illahirabbi Allah SWT yang telah memberikan segala karunia, nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat kesehatan yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang senantiasa mengikuti ajarannya sampai akhir zaman.

Skripsi ini disusun untuk melengkapi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana pendidikan pada program studi pendidikan matematika. Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian di SMP PGRI 1 Ciputat, Tangerang. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan hambatan dalam penulisan skripsi ini. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis, namun berkat dorongan dan bantuan dari berbagai pihak maka hambatan tersebut dapat terselesaikan dengan baik.

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan moril dan materil, sehingga skripsi ini dapat selesai. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Maifalinda Fatra M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan izin atas penyusunan skripsi dan memberikan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan..

3. Ibu Dra.Afidah Mas’ud, sebagai dosen pembimbing I, yang telah memberikan pengarahan, memberikan saran, serta masukan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan..

(14)

sekaligus sebagai dosen pembimbing II yang telah membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini.

5. Almh. Ibu Dra. Muhlisrarini, M.Pd., sebagai Dosen Pembimbing I yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasannya telah membimbing, memberikan saran, masukan serta mengarahkan penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

6. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan, semoga ilmu yang telah Bapak dan Ibu berikan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

7. Staf Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dan Staf Jurusan Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberi kemudahan dalam pembuatan surat-surat serta sertifikat.

8. Kepala Sekolah SMP PGRI 1 Ciputat,Bapak Cartam.S.Pd,M.Pd yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di SMP PGRI 1 Ciputat, Tangerang, Bapak Pendi,S.Pd guru matematika dan siswa-siswi khususnya kelas VIII-9 yang telah membantu penulis melaksanakan penelitian. Seluruh karyawan dan guru SMP PGRI 1 Ciputat, Tangerang yang telah membantu melaksanakan penelitian.

9. Pimpinan dan staff Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulis dalam menyediakan serta meberikan pinjaman literatur yang dibutuhkan.

10. Keluarga tercinta alm.Ayahanda Ujang, dan almh.Ibunda Risnayati yang tak henti-hentinya mendoakan, melimpahkan kasih sayang dan memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis selama mereka masih hidup. Suami dan anakku tercinta yang selalu mendoakan dan mendorong penulis untuk tetap semangat dalam mengejar dan meraih cita-cita.

(15)

(Mia Usniati, Azizah, Siti Chairunisa, Fara Rahmawati, dan Nia Kurnia) yang selalu memberikan semangat dan doa kepada penulis

Ucapan terima kasih juga ditunjukan kepada semua pihak yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis hanya dapat memohon dan berdoa mudah-mudahan bantuan, bimbingan, dukungan, semangat, masukan dan doa yang telah diberikan menjadi pintu datangnya ridho dan kasih sayang Allah SWT di dunia dan akhirat. Amin yaa robbal’alamin.

Demikianlah, betapapun penulis telah berusaha dengan segenap kemampuan yang ada untuk menyusun karya tulis yang sebaik-baiknya, namun di atas lembaran-lembaran skripsi ini masih saja dirasakan dan ditemui berbagai macam kekurangan dan kelemahan. Karena itu, kritik dan saran dari siapa saja yang membaca skripsi ini akan penulis terima dengan hati terbuka.

Penulis berharap semoga skripsi ini akan membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi penulis khususnya dan bagi pembaca sekalian umumnya.

Jakarta, Agustus 2011

(16)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRAC ... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR... x

DAFTAR BAGAN ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang... 1

B. Area dan Fokus Penelitian ... 4

C. Pembatasan Masalah Penelitian ... 4

D. Perumusan Masalah Penelitian ... 5

E. Tujuan Hasil Penelitian dan Kegunaan Hasil Penelitian... 5

F. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II Kajian Teoritik dan Pengajuan Konseptual Intervensi Tindakan A. Pembelajaran Matematika... 7

1. Definisi Matematika... 7

B. Kemandirian Belajar ... 9

1. Definisi Kemandirian... ... 10

2. Ciri-ciri Kemandirian ... 12

a. Inisiatif ... 13

b. Percaya Diri ... 13

c. Tanggung Jawab ... 13

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian ... 14

a. Keturunan Orang tua ... 14

b. Pola Asuh Orang Tua ... 14

(17)

d. Sistem Kehidupan di Masyarakat ... 15

C. Pendekatan Pembelajaran ... 15

1. Definisi Open Ended ... 16

2. Karakteristik Pendekatan Open Ended ... 19

D. Kerangka Berpikir ... 20

E. Bahasan Hasil-hasil Penelitian yang Relevan... 21

F. Hipotesis Tindakan ... 21

BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 22

B. Metode dan Desain Intervensi Tindakan/Rancangan Siklus Penelitian.... 22

C. Subjek Penelitian... 25

D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian ... 25

E. Tahapan Perencanaan Tindakan... 25

F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan... 28

G. Data dan Sumber Data ... 28

H. Teknik Pengumpulan Data ... 28

I. Instrumen pengumpulan Data yang Digunakan ... 28

J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trustworthiness) Studi ... 32

1. Uji Validitas ... 32

2. Uji Reliabilitas ... 34

K. Analisis Data dan Intervensi Hasil Data ... 34

L. Pengembangan Perencanaan Tindakan ... 35

BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERVENSI DATA DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data... 36

1. Penelitian Pendahuluan ... 36

2. Siklus I ... 38

a. Perencanaan Tindakan ... 38

b. Pelaksanaan dan Observasi ... 38

(18)

3. Siklus II ... 49

a. Perencanaan Tindakan ... 49

b. Pelaksanaan dan Observasi ... 49

c. Refleksi ... 55

B. Pemeriksaan Keabsahan Data ... 59

C. Analisis Data ... 60

D. Interpretasi Hasil Analisis ... 61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 63

B. Saran... 63

DAFTAR PUSTAKA... 65

(19)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Skema Pelaksanaan pembelajaranOpen Ended ... 18

Tabel 2 Prosedur Kegiatan Prapenelitian ... 25

Tabel 3 Prosedur Kegiatan Pada Siklus I ... 26

Tabel 4 Prosedur Kegiatan Pada Siklus II... 27

Tabel 5 Hasil Observasi kemandirian Siswa Pada Penelitian Pendahuluan 37 Tabel 6 Hasil Observasi kemandirian Siswa Pada Penelitian Pada Siklus I 44 Tabel 7 Distribusi Angket Kemandirian Siswa Pada Siklus I... 46

Tabel 8 Rangkuman Skor Kemandirian Siswa Pada Siklus I ... 47

Tabel 9 Refleksi Kegiatan Pembelajaran Pada Siklus I ... 48

Tabel 10 Hasil Observasi Kemandirian Siswa Pada Siklus II ... 54

Tabel 11 Distribusi Angket Kemandirian Siswa Pada Siklus II ... 56

(20)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Siswa Menyelesaikan Hasil Kerjanya di Depan Kelas ... 41

Gambar 2 Seorang Siswa Sedang Bertanya ... 42

Gambar 3 Siswa Sedang Mengerjakan LKS ... 50

Gambar 4 Siswa Bertanya Kepada Kelompok yang Sedang Presentasi ... 51

Gambar 5 Siswa Sedang Berdiskusi ... 52

(21)

DAFTAR BAGAN

Bagan 1 Siklus PTK dengan Dua Siklus ... 24 Bagan 2 Rata-rata Kemandirian Siswa ... 57 Bagan 3 Peningkatan Kemandirian Siswa Berdasarkan Hasil Observasi. 58 Bagan 4 Peningkatan Kemandirian Siswa Berdasarkan Perhitung

(22)

DAFTAR LAMPIRAN

(23)

Lampiran 29 Angket Kemandirian Siswa Dalam Belajar Matematika ...117 Lampiran 30 Kisi-kisi Angket Kemandirian Siswa Setelah Uji Validitas ...120 Lampiran 31 Angket Kemandirian Siswa Dalam Belajar Matematika ...121 Lampiran 32 Instrumen yang Digunakan Sebelum Uji Validitas ...123 Lampiran 33 Hasil Perhitungan Angket Kemandirian Siswa Siklus I ...125 Lampiran 34 Instrumen yang Digunakan Setelah Uji Validitas ...126 Lampiran 35 Hasil Perhitungan Angket Kemandirian Siswa Siklus II ...127 Lampiran 36 Reliabilitas ...128 Lampiran 37 Perhitungan Hasil Angket ...129 Lampiran 38 Lembar Uji Referensi

Lampiran 39 Surat Bimbingan Skripsi Lampiran 40 Surat Izin Penelitian Lampiran 41 Surat Izin Observasi

(24)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada hakikatnya, pendidikan merupakan kegiatan yang berlangsung seumur dengan manusia, artinya sejak adanya manusia telah terjadi usaha-usaha pendidikan dalam rangka memberikan kemampuan kepada subjek didik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan lingkungannya. Sehingga dengan diberikannya pendidikan maka seorang anak didik sanggup untuk berbuat dan bertindak sebagai manusia yang berkepribadian sosial. Pendidikan merupakan situasi yang dapat menolong individu yang mengalami perubahan suatu proses, dengan demikian pendidikan dipandang penting sebagai pelaku perubahan dan perkembangan dalam masyarakat.

Dalam proses pendidikan yaitu pada kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus memiliki dan menerapkan strategi tertentu supaya siswa dapat belajar secara efektif. Hal ini bisa saja dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya pengelolaan waktu belajar. Contohnya ketika kegiatan belajar mengajar dilakukan di waktu siang hari yang kondisi siswa lelah, lapar dan mengantuk, tentu sudah tidak efektif lagi, sehingga perlu dipikirkan bagaimana mengatur jadwal pelajaran sehingga dapat diperoleh jadwal yang optimal dan dapat diterima oleh siswa.

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang dasar juga merupakan sarana berpikir logis, analisis dan sistematis. Sebagai mata pelajaran yang berkaiatan dengan konsep yang abstrak, maka dalam penyajian materi pelajaran, matematika harus disajikan lebih menarik dan sesuai dengan kondisi dan keadaan siswa agar dalam proses pembelajaran siswa lebih aktif dan termotivasi untuk belajar.

(25)

soal-soal yang diberikan oleh guru matematika yang menyebabkan rendahnya hasil belajar mereka.

Rendahnya hasil belajar matematika selain karena matematika dianggap pelajaran yang sukar, juga disebabkan karena pendekatan, metode, ataupun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang masih banyak digunakan oleh para guru masih bersifat tradisional, dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan kemampuannya1.

Pendidikan lebih menekankan pada peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Ilmu itu tidak terbatas pada apa yang disampaikan oleh guru.

Dalam proses belajar mengajar guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing siswa ke arah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Harapan guru di dalam proses belajar mengajar di kelas, adalah siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain, kreatif dalam mencari solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Hasil belajar matematika, selain disebabkan oleh faktor ketidaksukaan siswa terhadap pelajaran matematika itu sendiri dan pendekatan, metode ataupun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran, juga di pengaruhi oleh rendahnya kemandirian siswa itu sendiri. Siswa yang mandiri mempunyai hasil belajar yang baik seperti yang diungkapkan oleh Beitler dalam varidika bahwa “riset menyimpulkan bahwa individu-individu yang telah mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam kemandirian belajar cenderung berkinerja lebih baik dalam tugas kerjanya”2.

Kemandirian belajar yang diungkapkan oleh Desmita dalam bukunya bahwa “kemandirian belajar mengandung pengertian, mampu mengambil inisiatif untuk

1

Japar, “Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Open Ended”,

http://arifinmuslim.wordpress.com, 9 April 2010 2

Slameto,“Kemandirian Belajar dan Prestasi Siswa SMA Unggulan”, dalam Varidika

(26)

mengatur masalah yang dihadapi, memiliki kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas-tugasnya dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya”3.

Namun berdasarkan pengalaman peneliti ketika mengobservasi siswa SMP PGRI 1 Ciputat kelas VIII, masih banyak siswanya yang tidak mandiri dalam belajar. Hal itu terlihat dari beberapa aspek seperti : Siswa belum punya inisiatif dalam hal mencatat materi pelajaran. Pada saat guru menerangkan pelajaran dan saat guru tidak memerintahkan kepada siswa untuk mencatat materi tersebut, terlihat bahwa tidak adanya inisiatif dari siswa untuk mencatat materi tersebut.

Aspek kemandirian kedua adalah siswa tidak percaya diri ketika diminta untuk mengerjakan soal matematika yang diberikan guru di depan kelas. Berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap beberapa siswa, diketahui bahwa hal itu karena siswa merasa takut salah saat mengerjakan soal matematika di depan kelas dan siswa juga takut akan ditertawakan oleh teman-temannya di kelas jika siswa tersebut salah mengerjakan soal. Aspek kemandirian yang ketiga adalah siswa tidak menyerahkan PR tepat waktu. Siswa mengaku malas mengerjakan PR karena siswa merasa PR yang diberikan tidak menguntungkan mereka, PR tersebut tidak pernah dikoreksi oleh guru ataupun diberi nilai dan tidak mendapatkan sanksi apapun jika tidak mengerjakan PR.

Mengingat begitu pentingnya kemandirian belajar bagi siswa, maka guru harus memberikan pendekatan yang efektif dalam belajar agar siswa dapat lebih leluasa dalam mengembangkan ide kreatifnya dalam belajar. Salah satu pendekatan yang efektif diterapkan oleh guru adalah pendekatan Open Ended. Seperti ungkapan Arie Susanto dalam suaramars bahwa “ sebaiknya peserta didik diberi keleluasaan mengembangkan ide-idenya untuk menumbuhkan kreatifitas dan hasrat mengeksplorasi nilai demokrasi serta kemampuan memecahkan masalah. Karena masalah matematika dapat diselesaikan dengan multisolusi”4.

Pendekatan open-ended sebagai salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika merupakan suatu pendekatan yang memungkinkan siswa untuk

3

Desmita, “Psikologi Perkembangan Peserta Didik”, (Bandung : Rosdakarya, 2010), Cet.2, h.185.

4

Arie Susanto, “Pendekatan Open Ended dalam Pembelajaran Matematika”,

(27)

menginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuannya mengelaborasi permasalahan atau mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing. Pendekatanopen ended

diawali dengan memberikan masalah terbuka kepada siswa.

Masalah terbuka adalah masalah yang diformulasikan memiliki multijawaban (banyak penyelesaian) yang benar. Di samping itu, melalui pendekatan open-ended siswa dapat menemukan sesuatu yang baru dalam penyelesaian suatu masalah, khususnya masalah yang berkaitan dengan matematika. Dengan dasar ini, maka pendekatan open-ended dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar.

Keunggulan dari pendekatan open-ended sebagaimana yang diungkapakan oleh Erman Suherman dalam buku Strategi Pembelajaran matematika Kontemporer adalah “siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekpresikan idenya, siswa juga memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematika mereka”5. Selain itu, keunggulan dari pendekatan open ended lainnya adalah siswa yang memiliki kemampuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri dan siswa memiliki banyak pengalaman untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.

Melihat persamaan antara konsep kemandirian dan pendekatan open ended

mengenai kesamaan tentang kebebasan siswa dalam memilih dan menentukan strategi dan cara belajarnya sendiri, maka dengan dasar tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul :

Meningkatkan Kemandirian Siswa dalam Belajar Matematika melalui Pendekatan Open Ended”.

5

(28)

B. Area dan Fokus Penelitian

Dari latar belakang masalah dapat diidentifikasikan masalah-maslah sebagai berikut :

1. Masih banyak siswa yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang manakutkan.

2. Pendekatan open ended dapat meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar matematika.

C. Pembatasan Masalah Penelitian

Untuk menghindari salah tafsiran terhadap masalah yang diteliti, dirasakan perlu untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yaitu :

1. Kemandirian yang dimaksud adalah meliputi dimensi : inisiatif, percaya diri dan tanggung jawab.

2. Pendekatan open ended yang dimaksud dalam penelitian adalah salah satu bentuk pendekatan pembelajaran yang mengaharapkan siswa bukan hanya mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada proses pencarian suatu jawaban.

D. Perumusan Masalah Penelitian

Untuk mempertajam persoalan yang telah digambarkan pada latar belakang masalah, maka disusun perumusan masalah sebagai berikut : Apakah pembelajaran dengan pendekatan open ended dapat meningkatkan kemandirian siswa dalambelajar matematika?

E. Tujuan Hasil Penelitian dan Kegunaan Hasil Penelitian 1. Tujuaan Hasil Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan kemandirian siswa dalam belajar matematika setelah diberi pembelajaran denganopen ended.

2. Kegunaan Hasil Penelitian

(29)

a. Bagi siswa

Mampu meningkatkan kemandirian dalam belajar matematika dan siswa bisa belajar mengemukakan jawaban secara bebas dan terbuka.

b. Bagi penulis

Menambah wawasan ilmu pengetahuan dengan terjun langsung ke lapangan dan memberikan pengalaman belajar yang menumbuhkan kemampuan dan keterampilan meneliti serta pengetahuan yang lebih mendalam teru tama pada bidang yang dikaji. c. Bagi guru

Sebagai masukan dalam mengelola dan meningkatkan strategi belajar mengajar serta meningkatkan mutu pengajaran.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Siswa

a. Mampu meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar matematika. b. Belajar mengemukakan jawaban secara bebas dan terbuka

2. Bagi penulis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan dengan terjun langsung ke lapangan dan memberikan pengalaman belajar yang menumbuhkan kemampuan dan keterampilan meneliti.

3. Bagi guru

(30)

BAB II

KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL

INTERVENSI TINDAKAN

A. Pembelajaran Matematika

Matematika merupakan alat bantu yang efisien dan diperlukan oleh setiap ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-haripun manusia banyak menggunakan matematika sebagai alat bantu dalam melaksanakan kegiatan misalnya mengatur komposisi pupuk, jual beli, memasak dan lain-lain. Matematika diperlukan oleh setiap bidang ilmu pengetahuan, terlebih lagi dalam pengembangan ilmu yang bersangkutan.

1. Definisi Matematika

Untuk menjawab pertanyaan “Apakah matematika itu?” tidak dapat dengan mudah dijawab. Hal itu dikarenakan sampai saat ini belum ada kepastian mengenai pengertian matematika karena pengetahuan dan pandangan masing-masing dari para ahli yang berbeda-beda. Banyak orang berpendapat bahwa matematika itu adalah ilmu yang pasti. Masalah-masalah atau persoalan matematika dapat diselesaikan dengan prosedur yang jelas dan terurut. Hal ini sangat berbeda dengan ilmu-ilmu sosial pada umumnya yang untuk menyelesaikan suatu permasalahan tidak ada prosedur yang pasti yang dapat digunakan. Berikut adalah beberapa definisi yang diungkapkan oleh bebarapa ahli. Kata matematika berasal dari perkataan latin mathematika yang mulanya diambil dari perkataan Yunanaimathematike yang berarti mempelajari. Perkataan latin tersebut mempunyai asal kata mathemayang berarti pengetahuan atau ilmu. Katamathematikeitu berhubungan pula dengan kata lain yang hampir sama yaitu

matheinataumatheneinyang artinya belajar atau berpikir6.

6

(31)

“Matematika adalah salah satu ilmu yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan teknologi”7. Menurut Russeffendi dalam Suwangsih, berdasarkan asal katanya, matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan proses berpikir atau bernalar8. Matematika lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio atau penalaran bukan menekankan dari hasil eksperimen atau hasil observasi, akan tetapi matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran.

“Sebagai ilmu, matematika adalah ilmu yang bersifat terstruktur, deduktif, sistematis dan konsisten. Objek matematika adalah hal yang abstrak. Matematika dibentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dari penalaran”9. Penalaran yang bersifat deduktif adalah penalaran menarik kesimpulan dari pernyataan yang berlaku umum diberlakukan kepada keadaaan khusus. Oleh karena itu matematika bisa tumbuh dan berkembang karena proses berpikir dan bernalar.

Penjelasan lain mengenai apa dan bagaimana sebenarnya matematika itu, akan terus mengalami perkembangan seiring dengan pengetahuan dan kebutuhan manusia serta laju perubahan zaman. Untuk itu, kita dapat memperhatikan pengertian istilah matematika dan beberapa deskripsi yang diuraikan oleh para ahli sebagai berikut, diantaranya :

Menurut James dan James dalam Suherman, matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, besaran dan konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak10. Sedangkan menurut Reys,dkk dalam Suwangsih, matematika adalah telaahan tentang pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat11. Jelaslah bahwa matematika dapat dilihat sebagai bahasa yang menjelaskan tentang pola, baik pola di alam maupun pola yang

7

Soemoenar, dkk, Penerapan Matematika Sekolah, (Jakarta : Universitas Terbuka), h.1.19

8

Erna Suwangsih dan Tiurlina, Model Pembelajaran Matematika, (Bandung : UPI PRESS, 2006), Cet.I, h.3.

9

Ali Hamzah dan Mukhlisrarini, Implementasi Pembelajaran Matematika Melalui Model Konstruktivisme Dengan Pendekatan Kooperatif Tipe STAD Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Mahasiswa, (Jakarta: Gaung Persada, 2009), Cet. I, h.26.

10

Erman Suherman, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: FMIPA UPI, 2003), h.16.

11

(32)

ditemukan melalui pikiran. Pola-pola tersebut bisa berbentukreal(nyata) maupun berbentuk imajinasi, dapat dilihat, atau hanya dalam bentuk mental atau pikiran. Hal-hal tersebut dapat muncul dari lingkungan sekitar atau dari hasil pekerjaan pikiran manusia.

Melalui penggunaan penalaran logika dan abstraksi, matematika berkembang dari pencacahan, perhitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematis terhadap bangun dan pergerakan benda-benda fisika. Matematika praktis telah menjadi kegiatan manusia sejak adanya rekaman tertulis. Argumentasi kaku pertama muncul di dalam Matematika Yunani, terutama di dalam karya Euklides,

Elemen. Matematika selalu berkembang, misalnya di Cina pada tahun 300 SM, di India pada tahun 100 M, dan di Arab pada tahun 800 M, hingga zaman Renaisans, ketika temuan baru matematika berinteraksi dengan penemuan ilmiah baru yang mengarah pada peningkatan yang cepat di dalam laju penemuan matematika yang berlanjut hingga kini12.

Dari uraian tentang beberapa definisi matematika tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa matematika adalah sebuah ilmu atau pengetahuan yang merupakan hasil dari pemikiran manusia yang dapat dikembangkan menjadi sebuah ide-ide yang akan menghasilkan sebuah karya.

B. Kemandirian Belajar

“Kemandirian belajar pada hakikatnya merupakan kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi secara mandiri”13. Kemampuan tersebut bertujuan untuk menimbulkan dorongan pada diri sendiri untuk senantiasa terlibat dalam menyelesaikan masalah dalam diri pribadi tersebut. Sedangkan menurut Good dalam Slameto, kemandirian belajar adalah belajar yang dilakukan dengan sedikit atau tanpa bantuan dari pihak luar sama sekali14.

“Kemandirian dalam belajar dapat diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pebelajar”.15 Sedangkan menurut Brookfield dalam

12

Matematika,http://id.wikipedia.org, 29 Juli 2010.15:15 13

Darwing Paduppai dan Nurdin, “Penerapan Peendekatan Open Ended Problem Dalam Pembelajaran Kalkulus”, dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No.074 Tahun 14, September 2008, h.911.

14

Slameto, “Kemandirian Belajar dan Prestasi Siswa SMA Unggulan”, dalam Varidika Kajian Penelitian Pendidikan, Vol.15 No.1, Juni 2003, h.39.

15

(33)

Yamin, kemandirian belajar adalah belajar yang dilakukan oleh siswa secara bebas dalam artian bebas untuk menentukan tujuan, strategi belajar dan juga bebas menggunakan sumber-sumber belajar yang dipilihnya untuk mencapai tujuan belajar16.

Menurut Berk dalam Budiamin, kemandirian belajar adalah mampunya anak untuk mengurus dirinya sendiri yang konsekuensinya untukorang tua adalah waktu yang diluangkan oleh mereka untuk mengurus anak berkurang dengan sangat tajam17. Dengan mandirinya anak, maka orang tua tidak akan terlalu repot dan khawatir akan urusan anaknya karena mereka tahu dan mengerti akan urusannya sendiri tanpa minta bantuan dari orang tuanya.

Konsep kemandirian dalam belajar bertumpu pada prinsip bahwa individu yang belajar hanya akan sampai kepada perolehan hasil belajar, mulai keterampilan, pengembangan penalaran, pembentukan sikap sampai kepada penemuan diri sendiri apabila ia mengalami sendiri dalam proses perolehan hasil belajar tersebut. Kemandirian memerlukan kemauan untuk bertindak secara mandiri, tidak bergantung dan melakukan segala sesuata dengan sendiri.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar adalah suatu kebebasan dimana seorang siswa bebas menentukan cara belajarnya sesuai dengan kemampuannya masing-masing walaupun siswa mendapatkan bantuan atau bimbingan dari orang lain tetapi bukan berarti siswa harus bergantung kepada orang tersebut.

1. Definisi Kemandirian

Kemandirian tercermin pada perilaku sendiri yang merupakan salah satu hal penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Individu yang mandiri dapat menemukan dirinya sendiri yang berarti mampu mengarahkan diri sendiri dalam pembuatan keputusan, pemilihan, maupun pengambilan inisiatif, serta mampu menghadapi tantangan yang datang dari lingkungan.

16

Martinis Yamin, Paradigma Pendidikan Konstruktivistik, (Jakarta :Gaung Persada Perss, 2008),Cet.1, h.203.

17

(34)

Kemandirian sering diartikan sebagai kepercayaan pada diri sendiri atau

self-reliance. kemandirian juga merupakan satu kebutuhan dasar yaitu kebutuhan untuk membuat keputusan pada diri sendiri, mempercayakan pada kemampuan sendiri untuk mencapai cita-cita tanpa mengaharapkan bantuan dari orang lain.

Menurut Knowles, belajar mandiri adalah suatu proses di mana individu mengambil inisiatif dengan dan tanpa bantuan orang lain, merumuskan tujuan belajarnya dan memilih strategi belajarnya sendiri18. Sedangkan menurut Wedemeyer belajar mendiri adalah cara belajar yang memberikan kebebasan ,tanggung jawab kepada siswa dalam merencanakan dan melaksanakan belajarnya19.

Definisi kemandirian yang lain adalah memiliki kepercayaan diri dalam melaksanakan tugasnya20. Menurut Hoshi dalam Varidika bahwa “dalam kemandirian belajar siswa bertanggung jawab atas pembuatan keputusan yang berkaitan dengan proses belajarnya dan mempunyai kemampuan melaksanakannya21.

Tujuan akhir dari sebuah kemandirian adalah kelak para siswa akan menikmati arti hidup sebenarnya dari pada mereka senantiasa terbelenggu dan selalu diatur oleh orang lain. Tingkat kemandirian seseorang dapat dibedakan antara orang yang mempunyai tingkat kemandirian tinggi dan rendah. Sehubungan dengan hal itu, orang yang kemandiriannya rendah biasanya memiliki ciri khusus antara lain mencari bantuan, mencari perhatian, dan mencari pengarahan dari orang lain.

Dari beberapa definisi tentang kemandirian yang telah disebutkan, maka dapat disimpulkan definisi kemandirian yaitu kemampuan untuk berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain dan kemampuan tersebut dapt dilihat dari perbuatan atau tindakan nyata.

18

Busnawir dan Suhaena, “Pengaruh Penilaian Berbasis Portofolio Terhadap Hasil Belajar Matematika dengan Mempertimbangkan Kemandirian Belajar Siswa”, dalam Jurnal Pendidikan Dasar, Vol.7 No.2, September 2006, h.369-370.

19

ISO: “Sistem Belajat Mandiri Dapatkah Diterapkan dalam Pola Pendidikan Konvensional”, dalamhttp://www.pustekkomdepdiknas.go.id, 5 Maret 2009, h.

20

Desmita,Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung : Rosdakarya, 2010), Cet.2, h.187.

21

(35)

2. Ciri-Ciri Kemandirian

Salah tujuan pendidikan yang menantang adalah mengantarkan anak-anak menjadi pembelajar mandiri independent learner. Pembelajar mandiri bukan berarti anak hanya belajar sendiri tanpa membutuhkan guru atau orang lain. Tetapi, pembelajar mandiri selalu memiliki dorongan internal untuk belajar dan bertanggung jawab atas proses belajar yang dijalaninya.

Kemandirian pada seseorang ditunjukkan dalam kemantapan diri, keyakinan diri dan keinginan untuk berinteraksi dengan yang lain. Pada anak remaja, kemandirian dapat ditunjukkan dengan adanya perubahan hubungan dengan teman sebaya dan orang tuanya, serta menurun ketergantungannya pada kelompok dan kepatuhan pada norma orang tuanya. Kemandirian dapat diwujudkan dalam perilaku berpikir yang akan tampak jelas pada masa remaja dan berkembang pada masa berikutnya.

Menurut Ringer dalam Busnawir, ciri-ciri kemandirian itu adalah dapat bekerja sendiri secara fisik, dapat berpikir sendiri, dapat menyusun serta mengekspresikan gagasan sendiri dan cara mengekspresikannya itu dapat dimengerti orang lain22. Sedangkan menurut Desmita dalam bukunya, ada beberapa karakteristik kemandirian, diantaranya : mampu mengambil keputusan dan berinisiatif dalam mengatasi masalah yang dihadapinya, memiliki kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas-tugasnya dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukanya23.

Individu dapat dikatakan mandiri apabila memiliki ciri-ciri, mampu mengatur dirinya sendiri sesuai dengan hak dan kewajiban yang dimiliki, mampu menentukan nasib sendiri dengan tidak menggantungkan diri pada orang lain, mampu bertanggung jawab atas keputusan dan tindakan yang dilakukan serta mampu membuang pola perilaku yang mengingkari kenyataan.

Berdasarkan uraian tentang definisi dan karakteristik kemandirian, dimensi kemandirian yang dijadikan fokus penyelidikan dalam penelitian ini adalah

22

Busnawir dan Suhaena, Pengaruh Penilaian…, Vol.7 No.2, September 2006, h.370-371 23

(36)

dimensi inisiatif, percaya diri, dan tanggung jawab. Ketiga dimensi tersebut dijelaskan sebagai berikut :

a) Inisiatif

Inisiatif berarti usaha sendiri, langkah awal, dan ide baru. Berinisiatif berarti mengembangkan dan memberdayakan sektor kreativitas untuk merencanakan ide baru atau buah pikiran yang menjadi konsep baru yang pada gilirannya diharapkan dapat berdaya guna dan bermanfaat.

Manusia yang berinisiatif adalah manusia yang tanggap terhadap segala perkembangan yakni manusia yang pandai membaca, menghimpun, dan meneliti. Manusia yang inisiatif juga dapat memanfaatkan setiap peluang di setiap pergantian waktu dan menjadikannya sebagai peluang yang baru.

Inisiatif itu sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Semakin banyak inisiatif yang dimilikinya maka akan semakin besar karismatik dan diakui kadar kepemimpinannya. Tentu, inisiatif bukanlah satu-satunya karakter kepemimpinan yang harus dimiliki, namun ia memiliki peran yang sangat signifikan dalam menentukan kadar kepemimpinan seseorang.

b) Percaya diri

Percaya diri adalah sebuah sikap positif seseorang yang mampu mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan dan situasi yang sedang dihadapinya. Bukan berarti orang yang percaya diri adalah orang yang mampu dalam segala hal, ia tetaplah manusia dengan segala keterbatasannya, namun pada saat yang sama ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu, dan percaya bahwa dia bisa melakukannya.

c) Tanggung jawab

(37)

sangat penting dalam kehidupan karena tanggung jawab menyangkut orang lain dan diri kita.

3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian

Sebagaimana aspek-aspek psikologis lainnya, kemandirian juga bukanlah semata-mata merupakan pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi yang datang dari lingkungannya, selain potensi yang telah dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orang tuanya.

“Ada sejumlah faktor yang sering mempengaruhi kemandirian, yaitu, Keturunan orang tua, pola asuh orang tua, sistem pendidikan di sekolah, dan sistem kehidupan di masyarakat”24.

a. Keturunan orang tua

Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian tinggi pula. Namun, faktor keturunan ini masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik anaknya.

Cara orang tua mengasuh atau mendidik anak akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak remajanya. Orang tua yang terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata “jangan” kepada anak tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan mengahambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, orang tua yang menciptakan suasana aman dalam interaksi keluarganya akan mendapatkan dorongan kelancaran perkembangan anak. Demikian juga, orang tua yang cenderung sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain juga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan kemandirian anak.

b. Sistem pendidikan di sekolah

Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokratisasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan

24

(38)

menghambat perkembangan kemandirian remaja. Demikian juga, proses pendidikan yang banyak menekankan pentingnya pemberian sanksi atau hukuman juga dapat menghambat perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, proses pendidikan yang lebih menenkankan pentingnya penghargaan terhadap potensi anak, pemberian reward, dan penciptaan kompetensi positif akan memperlancar perkembangan kemandirian remaja.

c. Sistem kehidupan di masyarakat

Sistem kehidupan di masyarakat yang terlalu menenkankan pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang menghargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, lingkungan masyarakat yang aman, menghargai ekspresi potensi remaja dalam bentuk berbagai kegiatan, dan tidak terlalu hierarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirian remaja.

C. Pendekatan Pembelajaran

Salah satu hal yang mempengaruhi kemandirian siswa dalam belajar matematika di sekolah adalah pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran memiliki banyak definisi, diantaranya yaitu, “pendekatan pembelajaran merupakan strategi yang dapat memperjelas arah yang ditetapkan dan sering kali juga disebut kebijakan guru atau pengajar agar mencapai tujuan pembelajaran”25. Menurut Ruseffendi dalam Satriawati, pendekatan adalah suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pengajaran dilihat sudut bagaimana proses pengajaran atau materi pengajaran itu, umum atau khusus26.

25

Ali Hamzah dan Muhlisrarini, Perencanaan dan Strategi Pembelajaran Matematika (PSPM), (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009), h.359.

26

(39)

“Pendekatan pembelajaran (approach) merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran”27. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum.

Menurut Roy Killen (Wina Sanjaya, 2009) dua pendekatan dalam pembelajaran, diantaranya pendekatan yang berpusat pada guru yaitu menurunkan strategi pembelajaran langsung dan pendekatan yang berpusat pada siswa yaitu siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery salah satu contoh dari pendekatan ini adalah pendekatan open ended28. Dengan diterapkannya pendekatan pembelajaran dalam proses belajar mengajar, siswa akan lebih asyik dalam belajar terutama belajar matematika dan gurupun akan lebih mudah dalam menyampaikan materi pelajaran.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan tentang definisi pendekatan pembelajaran yaitu, sebuah cara atau teknik yang dilakukan oleh pengajar atau guru untuk memudahkan mereka dalam melakukan proses belajar mengajar. Dengan menggunakan pendekatan dalam proses belajar mengajar akan memberikan makna positif bagi pencapaian tujuan pembelajaran matematika yang lebih baik.

1. Defenisi Open Ended

Open Ended memiliki banyak definisi, diantara: menurut Shimada dalam Satriawati bahwa “Open Ended memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan pengalaman dan memecahkan masalah dengan beberapa cara yang berbeda”29. Sedangkan menurut Badger dalam Satriawati bahwa “ pendekatan Open Ended bukanlah bentuk pertanyaan yang banyak pilihan tanpa options juga bukan pertanyaan yang hanya memiliki satu jawaban

27

Wina Sanjaya,Strategi Pembelejaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009), Cet. 6, h.127.

28

Wina Sanjaya,Strategi Pembelejaran…, Cet.6, h.127 29

(40)

benar tapi lebih mengarah kepada pertanyaan dimana siswa berpeluang berpikir lebih leluasa”30.

Contoh penerapanproblem open endeddalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan dan bukan berorientasi pada jawaban (hasil) akhir. Tujuan pembelajaran berbasis open ended menurut Nohda dalam Suherman dkk, adalah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa melalui pemecahan masalah secara simultan31.

“Pendekatanopen ended merupakan salah satu pendekatan yang membantu siswa melakukan penyelesaian masalah secara kreatif dan menghargai keragaman berpikir yang mungkin timbul selama mengerjakan soal”32. Siswa dihadapkan dengan problem open endedtujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Hal ini menunjukkan bahwa banyak cara untuk mendapatkan jawaban dari suatu permasalahan matematika. Sifat keterbukaan dari problem itu hilang apabila guru hanya mengajarkan satu alternatif cara dalam menjawab permasalahan. Rangkaian tersebut diajarkan tidak sebagai suatau hal yang saling lepas, tetapi merupakan rangkaian yang terintegrasi dengan kemampuan dan sikap dari setiap siswa, sehingga di dalam pikirannya akan terjadi pengorganisasian kemampuan intelektual yang optimal.

“Pembelajaran dengan pendekatan open ended adalah pembelajaran yang dimulai dengan memberikan soal yang memiliki banyak jawaban yang benar (problem terbuka atau incomplete) kepada siswa”33. Pembelajaran dengan pendekatan open ended juga dapat dilakukan siswa dengan cara

30

Gusni Satriawati,“Pembelajaran Matematika… Cet. I, h.159. 31

Erman Suherman, dkk,Strategi Pembelajaran…, (Bandung: FMIPA UPI, 2003),h.124. 32

Gusni Satriawati, “Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Open Ended pada Pokok Bahasan Dalil Pythagoras di Kelas II SMP”,dalambuku Pendekatan Baru Dalam Proses Pembelajaran Matematika Dasar dan sains, (Jakarta : PIC, IISEP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007), Cet. I, h.159.

33

(41)

mengkombinasikan antara pemahaman, kemampuan atau cara berpikir mereka yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Dengan kata lain, kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.

Melalui pendekatan open ended, setidaknya ada beberapa keuntungan yang didapatkan, diantaranya : para siswa terlibat lebih aktif dalam proses pembelajaran dan mereka dapat mengungkapkan ide-ide mereka secara lebih sering, para siswa tidak hanya pasif menirukan cara yang dicontohkan gurunya, siswa mempunyai kesempatan yang lebih dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematika mereka secara menyeluruh, siswa dapat menjawab permasalahan dengan caranya sendiri.

Dari uraian tentang definisi pendekatan open ended tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan open ended merupakan salah satu pendekatan yang membantu siswa dalam melakukan pemecahan masalah secara kreatif dan menghargai keragaman berpikir yang mungkin akan timbul selama proses pemecahan masalah. Soal-soal yang diberikan dalam pendekatan open ended

memiliki lebih dari satu penyelesaian yang benar.

Berikut adalah skema pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan open ended34:

Tabel 2.1

Skema Pelaksanaan Pembelajaranopen ended

Kegiatan guru Langkah-langkah

(42)

Membantu siswa

Pendekatan pembelajaran Open Ended pada tabel 2.1 di atas, terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan kepada siswa suatu masalah dan diakhiri dengan penyajian serta analisis hasil kerja siswa. Jika masalah yang dikaji sedang-sedang saja, maka kelima tahapan tersebut dapat diselesaikan dalam satu pertemuyan. Namun apabila masalah yang diberikan adalah kompleks, maka memerlukan waktu yang lebih lama.

2. Karakteristik Pendekatan Open Ended

(43)

kemungkinan prosedur pemecahannya. Masalah pendekatan open ended pada umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Dideskripsikan secara tidak lengkap, artinya membiarkan atau menyembunyikan atau menghilangkan sebagian informasi yang berkaitan dengan masalah, tujuannya agar dapat dikonstruksikan oleh siswa sendiri dalam rangka mengembangkan berbagai perspektif secara kritis.

b. Dirumuskan sedemikian rupa sehingga memungkinkan adanya lebih dari satu jawaban benar.

c. Hasil pemecahan masalah tidak dapat ditebak-tebak apalagi hanya dengan menggunakan dasar kemampuan (skill) dan fakta-fakta saja.

d. Informasi bisa diinterpretasikan secara bervariasi.

e. Perlu dipecahkan secara berulang-ulang jika ada perubahan kondisi dan penambahan informasi yang lebih baik.

f. Dapat dipecahkan dengan suatu proses pemecahan masalah

Masalah matematikaopen endedmenuntut siswa untuk menjelaskan pola pikir matematika mereka melalui penalaran yang mana hal ini dapat menjadi sumber informasi bagi guru terhadap keberhasilan pembelajaran.

D. Kerangka Berpikir

Kemandirian siswa dalam belajar matematika yang rendah ditandai dengan kurang disiplinnya siswa dalam hal waktu yaitu sering terlambat masuk kelas dan suka ngobrol ketika guru menerangkan pelajaran, dan lain sebagainya. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa di sekolah.

Sasaran pembelajaran yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini adalah peningkatan kemandirian siswa dalam belajar matematika. Seorang siswa yang memiliki kemandirian dalam belajar memiliki ciri-ciri yang khas seperti memiliki inisiatif, penuh percaya diri dan bertanggung jawab.

(44)

kemampuan mereka, dengan landasan itu kemandirian siswa dalam belajar matematika dapat ditingkatkan.

E. Bahasan Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan

1. Hasil penelitian Gruber dan Weitman dan Campbell dan Chapman memberikan kesimpulan bahwa peningkatan kendali pembelajaran yang lebih diserahkan kepada pebelajar (kemandirian belajar) menghasilkan keingintahuan terhadap materi pelajaran, dan membuat pebelajar memiliki perasaan lebih berdaya dan lebih berminat terhadap topic yang dipelajari35.

2. Hasil penelitian Darwing Paduppai dan Nurdin memberikan kesimpulan bahwa dengan penerapan pendekatan open ended dalam proses belajar mengajar telah terdapat peningkatan dalam hal kemandirian mahasiswa dalam belajar matematika terutama pada materi kalkulus36.

F. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan permasalahan dan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut : Pendekatan

open ended dapat meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar matematika yang meliputi beberapa dimensi, seperti : inisiatif, percaya diri dan tanggung jawab.

35

Busnawir dan Suhaena, “Pengaruh Penilaian…, Vol.7 No.2, September 2006, hlm.371 36

(45)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP PGRI 1 yang bertempat di daerah Ciputat Tangerang Selatan. Sekolah tersebut terdiri dari 9 kelas untuk kelas VIII, dan kelas yang dijadikan tempat penelitian adalah kelas VIII-9. Waktu pelaksanaan penelitian adalah pada tanggal 11 November sampai 3 Desember 2010.

B. Metode dan Desain interval Tindakan /Rancangan Siklus Penelitian

Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti di kelas dengan cara merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dengan guru mata pelajaran kelas tersebut.

Penelitian ini lebih menekankan kepada proses tindakan penelitian, oleh sebab itu berhasil atau tidaknya sesuatu penelitian dapat dilihat dari proses tindakannya. Agar proses berjalan dengan lancar, peneliti harus mempersiapkan dengan matang segala sesuatu yang menjadi pendukung sebuah proses agar dapat dikatakn berhasil. Penelitian ini berlangsung secara siklik, setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu :

1. Penyusunan rencana 2. Pelaksanaan

3. Observasi 4. Refleksi

Adapun rancangan dari setiap aspek pokok yang akan menjadi gambaran dari proses penelitian adalah sebagai berikut:

a. Perencanaan

(46)

b. Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan kolaborasi dengan guru bidang studi. Peneliti sebagai pelaku tindakan yang perannya sebagai guru yang menjalankan pembelajaran dengan pendekatanopen ended sedangkan guru sebagai observer yang berperan sebagai pengamat. Pengamatan yang dilakuakn oleh observer adalah pengamatan terhadap kemandirian siswa dan pengamatan terhadap pembelajaran yang dilakuakn oleh guru dengan pendekatan open ended pada lembar observasi yang telah disediakan peneliti. Pada tahap pelaksanaan ini rancangan strategi dan skenario yang sudah di diskusikan bersama akan diterapkan.

c. Observasi

Pada tahap ini, observer melakukan monitoring terhadap proses tindakan kelas, situasi kelas, dengan menggunakan pedoman observasi yang telah disiapkan oleh peneliti.

d. Refleksi

Data-data yang diperoleh pada saat observasi, dikumpulkan dan dianalisis secara menyeluruh kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan pengkajian ulang melalui siklus berikutnya.

Guru yang melakukan penelitian tindakan kelas membuat catatan seluruh kegiatan PTK yang telah dilakukannya. Catatan tersebut digunakan untuk menyususn suatu karya ilmiah yang dapat disebarluaskan menjadi suatu inovasi, dan dapat

dimanfaatkan oleh guru-guru lain dalam melaksanakan PTK. Penelitian Tindakan Kelas biasa dilakukan oleh guru dengan penekanan pada penyempurnaan atau proses dan praktik pembelajaran.

Adapun siklusnya dapat digambarkan dengan gambar sebagai berikut37.

37

(47)

Siklus I

Siklus II

Bagan 3.1 Siklus PTK dengan dua siklus

C. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang terlibat dalam pembelajaran pendekatan open ended yaitu satu kelas VIII-9 sebanyak 35 orang siswa dengan jumlah siswa laki-laki adalah 15 orang dan jumlah siswa perempuan adalah 20 orang. Kelas tersebut kemandiriannya masih rendah dalam hal kurang Pelaksanaan Tindakan I: guru melakukan pembelajaran dengan pendekatan open ended dan siswa

belajar secara individu

Pelaksanaan Tindakan II : guru melakukan pembelajaran dengan pendekatan open ended dan siswa

belajar secara berkelompok

(48)

inisiatif saat belajar, kurang percaya diri dalam mengerjakan tugas dan kurang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikanoleh guru.

D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian

Posisi peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai pelaku tindakan penelitian. Dalam melakukan tindakan penelitian, peneliti berkolaborasi dengan guru bidang studi yang posisinya sebagai observer. Sedangkan peran yang dilakukan bersama dengan observer adalah membuat rancangan pembelajaran, mengobservasi proses pembelajaran, melakukan refleksi dan merancang tindakan untuk siklus selanjutnya.

E. Tahapan Perencanaan Tindakan

Prosedur penelitian ini berlangsung dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan penelitian dimulai dari tahapan prapenelitian yang akan dilanjutkan dengan siklus I. setelah melakukan pengamatan dan refleksi pada siklus I, penelitian akan dilanjutkan pada siklus II dan seterusnya.

Prosedur penelitian di atas bila digambarkan, seperti terlihat pada tabel berikut

Tabel 3.1

Prosedur Kegiatan Prapenelitian Kegiatan Prapenelitian 1. Observasi ke SMP PGRI 1 Ciputat Tangerang 2. Mengurus surat izin penelitian

3. Membuat instrument penelitian 4. Menghubungi kepala sekolah

5. Wawancara dengan guru mata pelajaran 6. Menentukan kelas subjek penelitian

(49)

Tabel 3.2

Prosedur Kegiatan Pada Siklus I

S

ik

lu

s

I

Perencanaan 1. Membuat rencana pengajaran

2. Mendiskusiakn RPP dengan guru kolaborator 3. Menyiapkan materi ajar untuk setiap pertemuan 4. Menyiapkan lembar observasi siswa, wawancara 5. Menyiapkan lembar kerja siswa pada setiap pertemuan 6. Menyiapkan soal akhir siklus

Pelaksanaan

1. Melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan rencana tindakan 2. Melaksanakan pembelajaran dengan pendekatanopen endedmateri

Pythagoras

3. Siswa mengerjakan LKS secara individu 4. Penilian hasil tes siklus I

5. Memberikan angket kemandirian kepada siswa 6. Mewawancarai siswa

Observasi

Tahap ini berlangsung bersamaan dengan tahap pelaksanaan yang terdiri dari observasi terhadap siswa dan guru, mencatat semua hal yang terjadi selama proses pembelajaran yang dilakukan oleh observer (guru mata pelajaran)

(50)

Tabel 3.3

Prosedur Kegiatan Pada Siklus II

S

1. Membuat rencana pengajaran

2. Mendiskusiakn RPP dengan guru kolaborator 3. Menyiapkan materi ajar untuk setiap pertemuan 4. Menyiapkan lembar observasi siswa, wawancara. 5. Menyiapkan lembar kerja siswa pada setiap pertemuan 6. Menyiapkan soal akhir siklus

Pelaksanaan

1. Melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan rencana tindakan 2. Melaksanakan pembelajaran dengan pendekatanopen endedmateri

pythagoras

3. Siswa mengerjakan LKS secara berkelompok 4. Penilian hasil tes siklus II

5. Memberikan angket kemandirian kepada siswa 6. Mewawancarai siswa

Observasi

Tahap ini berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan yang terdiri dari observasi terhadap siswa dan guru, mencatat semua hal yang terjadi selama proses pembelajaran

Refleksi

Menentukan keberhasilan dan kekurangan pelaksanaan Siklus II yang akan dijadikan dasar pelaksanaan siklus berikutnya

F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan

(51)

1. Hasil pengukuran angket kemandirian siswa dalam belajar matematika menunjukkan skor rata-rata sebesar 85

2. Hasil observasi kemandirian siswa dalam belajar matematika menunjukkan skor rata-rata sebesar 70%

G. Data dan Sumber Data

1. Data kualitatif seperti : hasil wawancara, lembar observasi, dan dokumentasi. 2. Data Kuantitatif : angket kemandirian belajar dan nilai-nilai dari tugas siswa.

Sumber data penelitian adalah siswa dan guru kelas (observer) dan juga peneliti.

H. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah pengamatan dari setiap aktivitas siswa yang termasuk dalam indikator kemandirian siswa dalam belajar matematika saat pembelajaran dengan pendekatan open ended

berlangsung. Hasil setiap pengamatan didiskusikan bersama observer untuk melakukan tindakan pada siklus selanjutnya.

Peneliti juga mewawancarai siswa dan guru untuk mendapatkan tanggapan. Selain wawancara peneliti juga mengambil data dari hasil dokumentasi mengenai kemandirian siswa dilakukan pada setip siklus. Data dalam penelitian ini diperoleh berdasarkan hasil angket, wawancara, dan pengamatan kegiatan siswa selama belajar.

I. Instrumen Pengumpulan Data yang Digunakan

Alat pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah : 1. Pedoman Observasi

Lembar observasi yang digunakan adalah untuk mengamati aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

(52)

KISI-KISI LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS KEMANDIRIAN SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA

No 5 Siswa hadir saat

(53)

Kisi – Kisi PANDUAN OBSERVASI GURU

LEMBAR PENGAMATAN AKTIVITAS GURU DALAM MENGELOLA

OPEN ENDED

Berilah penilaian anda dengan memberi tanda (√ ) pada kolom yang sesuai !

No

Aktivitas Guru Dalam Mengelola

Open Ended

Dilakukan Catatan ya Tidak

1 Guru memberikan soal matematika terbuka kepada siswa

2 Guru membantu siswa mendefinisikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang akan di pecahkan

3 Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dengan masalah yang diberikan

4 Guru meminta siswa mempresentasikan hasil kerjanya

5 Guru membimbing siswa menarik kesimpulan dari hasil kerjanya dalam menyelesaikan masalah yang diberikan

Kesan keseluruhan

2. Angket

Angket digunakan untuk memperoleh data tentang kemandirian belajar matematika Siswa. Metode angket yang digunakan adalah angket langsung yaitu daftar pertanyaan yang diberikan langsung kepada siswa untuk dimintai pendapat tentang keadaan dirinya. Data yang diperoleh dari angket berupa skor.

(54)

Kisi – kisi Angket Kemandirian Siswa Dalam Belajar Matematika

No

Dimensi Indikator No Pernyataan Jml

+

-Wawancara yang dilakukan penulis adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada guru matematika yang bersangkutan tentang data dan informasi pada proses pembelajaran siswa di sekolah.

(55)

No Dimensi Indikator No Pertanyaan Jml 1 Inisiatif Keaktifan mencari

pengetahuan

J. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trustworthiness) Studi

Sebelum instrument angket digunakan untuk mengumpulkan data, instrument atau alat untuk mengevaluasi harus valid agar hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi valid. Instrumen berupa angket diukur validitasnya secara konten, sedangkan instrument tes hasil belajar dan angket kemandirian siswa dalam belajar matematika setelah diukur secara konten kemudian diujicobakan agar validitas dan reabilitas yang diperileh menjadi semakin kuat.

1. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen a. Uji Validitas

Salah satu ciri angket yang baik adalah apabila angket tersebut dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur atau istilahnya valid atau sahih. Dalam penelitian ini penulis menggunakan validitas butir yang dilakukan dengan cara

membagikan instrument angket kepada siswa tentang kemandirian siswa dalambelajar matematika.

Sebelum alat ukur kemandirian belajar matematika siswa dikatakan memiliki validitas jika hasilnya memiliki kesejajaran dengan kriterium, untuk mengetahui kesejajaran tersebut penulis menggunakan teknik korelasi product moment yaitu38,

38

(56)

 

rxy : Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang dikorelasikan

N : Jumlah Responden X : Skor item

Y : Skor total

Hasil perhitungan dengan koefisien korelasi (rhitung) dapat dihubungkan dengan tabel r hasil korelasi Product Moment. Jika rhitung< rtabel maka butir soal tidak valid, jika rhitung> rtabelmaka butir soal dinyatakan valid (untuk n = 35 dengan taraf signifikansi 5% rtabel= 0.344).

Kriteria untuk penafsiran korelasi koefisien, adalah sebagai berikut39: 0.00 – 0.20 : hampir tidak ada korelasi

0.20 – 0.40 : korelasi rendah 0.41 – 0.70 : korelasi cukup 0.71 – 0.90 : korelasi tinggi

0.91 – 1.00 : korelasi sangat tinggi (sempurna) b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Untuk mengukur besarnya reliabilitas instrument tes hasil belajar peneliti menggunakan rumus Alpha Cronbach, yaitu40:

ݎ

ଵଵୀቂ ௞௞ିଵቃቈଵି∑ ௌ ೔మ

೟మ ቉

39

Ngalim Purwanto,Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2008), h. 144.

40

Figur

Gambar 1Siswa Menyelesaikan Hasil Kerjanya di Depan Kelas ............. 41
Gambar 1Siswa Menyelesaikan Hasil Kerjanya di Depan Kelas 41. View in document p.20
Tabel 2.1
Tabel 2 1. View in document p.41
Tabel 3.1Prosedur Kegiatan Prapenelitian
Tabel 3 1Prosedur Kegiatan Prapenelitian. View in document p.48
Tabel 3.2Prosedur Kegiatan Pada Siklus I
Tabel 3 2Prosedur Kegiatan Pada Siklus I. View in document p.49
Tabel 3.3Prosedur Kegiatan Pada Siklus II
Tabel 3 3Prosedur Kegiatan Pada Siklus II. View in document p.50
Tabel 4.1Hasil Observasi Kemandirian Siswa pada Penelitian Pendahulua
Tabel 4 1Hasil Observasi Kemandirian Siswa pada Penelitian Pendahulua. View in document p.60
Gambar 4.1Siswa mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas secara individu
Gambar 4 1Siswa mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas secara individu. View in document p.64
Gambar 4.2Seorang siswa sedang bertanya kepada temannya yang sedang presentasi
Gambar 4 2Seorang siswa sedang bertanya kepada temannya yang sedang presentasi. View in document p.65
Tabel 4.2Hasil Observasi Kemandirian Siswa Siklus I
Tabel 4 2Hasil Observasi Kemandirian Siswa Siklus I. View in document p.67
Tabel 4.3Distribusi Angket Kemandirian Siswa Pada Siklus I
Tabel 4 3Distribusi Angket Kemandirian Siswa Pada Siklus I. View in document p.69
Tabel 4.4Rangkuman Skor Kemandirian Siswa Pada Siklus I
Tabel 4 4Rangkuman Skor Kemandirian Siswa Pada Siklus I. View in document p.70
Tabel 4.5Refleksi kegiatan pembelajaran pada Sikus I
Tabel 4 5Refleksi kegiatan pembelajaran pada Sikus I. View in document p.71
Gambar 4.3Siswa terlihat lebih bersemangat saat mengerjakan LKS secara berkelompok
Gambar 4 3Siswa terlihat lebih bersemangat saat mengerjakan LKS secara berkelompok. View in document p.73
Gambar 4.4Siswa sedang bertanya kepada kelompok yang sedang presentasi
Gambar 4 4Siswa sedang bertanya kepada kelompok yang sedang presentasi. View in document p.74
Gambar 4.5Siswa saat berdiskusi : Salah satu siswa sedang menjelaskan materi kepada
Gambar 4 5Siswa saat berdiskusi Salah satu siswa sedang menjelaskan materi kepada. View in document p.75
Gambar 4.6Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok
Gambar 4 6Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok. View in document p.75
Tabel 4.7Hasil Observasi Kemandirian Siswa Pada Siklus II
Tabel 4 7Hasil Observasi Kemandirian Siswa Pada Siklus II. View in document p.77
Tabel 4.8Distribusi Angket Kemandirian Siswa Pada Siklus II
Tabel 4 8Distribusi Angket Kemandirian Siswa Pada Siklus II. View in document p.79
Tabel 4.9Rangkuman Skor Kemandirian Siswa Pada Siklus II
Tabel 4 9Rangkuman Skor Kemandirian Siswa Pada Siklus II. View in document p.79
Gambarlah sketsa segitiga tersebut !
Gambarlah sketsa segitiga tersebut . View in document p.105
gambar di samping !
gambar di samping !. View in document p.120

Referensi

Memperbarui...