Respons Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Klon Karet Metabolisme Tinggi Terhadap Pemberian Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

91 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Berat Lateks (g) Penyadapan Pertama

Perlakuan Berat Lateks (g) Total Rataan

I II III

(2)

Lampiran 3. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Berat Lateks (g) Penyadapan Pertama (Transformasi�y)

Perlakuan Berat Lateks (g Total Rataan

Lampiran 4. Tabel Hasil Analisis Sidik Ragam Data Parameter Berat Lateks (g) Penyadapan Pertama (Transformasi�y)

(3)

Lampiran 5. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Berat Lateks (g) Penyadapan

(4)

Lampiran 7. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Berat Lateks (g) Penyadapan

(5)

Lampiran 9. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Kadar Padatan Total (%)

(6)

Lampiran 11. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Kadar Padatan Total (%)

(7)

Lampiran 13. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Kadar Padatan Total (%)

(8)

Lampiran 15. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Kadar Padatan Total (%) Penyadapan Ketiga (Transformasi�y)

Perlakuan Kadar Padatan Total (%) Total Rataan

Lampiran 16. Tabel Hasil Analisis Sidik Ragam Data Kadar Padatan Total (%) Penyadapan Ketiga (Transformasi�y)

(9)

Lampiran 17. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Produksi (g/cm/sadap)

(10)

Lampiran 19. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Produksi (g/cm/sadap) Penyadapan Pertama (Transformasi�y)

Perlakuan Produksi (g/cm/sadap) Total Rataan

Lampiran 20. Tabel Hasil Analisis Sidik Ragam Data Produksi (g/cm/sadap) Penyadapan Pertama (Transformasi�y)

(11)

Lampiran 21. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Produksi (g/cm/sadap)

(12)

Lampiran 23. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Produksi (g/cm/sadap) Penyadapan Kedua (Transformasi�y)

Perlakuan Produksi (g/cm/sadap) Total Rataan

Lampiran 24. Tabel Hasil Analisis Sidik Ragam Data Produksi (g/cm/sadap) Penyadapan Kedua (Transformasi�y)

(13)

Lampiran 25. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Produksi (g/cm/sadap)

(14)

Lampiran 27. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Produksi (g/cm/sadap) Penyadapan Ketiga (Transformasi�y)

Perlakuan Produksi (g/cm/sadap) Total Rataa

Lampiran 28. Tabel Hasil Analisis Sidik Ragam Data Produksi (g/cm/sadap) Penyadapan Ketiga (Transformasi�y)

(15)

Lampiran 29.Tabel Hasil Rataan Perlakuan Terhadap Parameter Pada Seluruh Penyadapan

1. Berat Lateks (g)

Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi terhadap Berat Lateks (g) seluruh penyadapan.

Penyadapan Waktu Aplikasi Rataan

A1 A2

1 111,32 87,14 99,23

2 98,96 74,94 86,95

3 101,39 66,64 84,02

Rataan 103,89 76,24 90,07

Tabel rataan perlakuan klon tanaman karet terhadap Berat Lateks (g) seluruh penyadapan.

Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap Berat Lateks (g) seluruh penyadapan.

Penyadapan Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

1 93,94 117,78 97,67 92,21 94,55 105,86

2 78,44 97,47 86,91 83,17 88,79 87,95

3 75,31 95,45 86,42 81,23 81,67 85,38

Rataan 82,56 103,56 90,33 85,53 88,34 90,07

2. Kadar Padatan Total (%)

Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi terhadap kadar padatan total (%) seluruh penyadapan.

Penyadapan Waktu Aplikasi Rataan

A1 A2

1 31,05 38,25 34,65

2 33,89 38,34 36,11

3 34,10 38,07 36,08

(16)

Tabel rataan perlakuan klon tanaman karet terhadap kadar padatan total (%) seluruh penyadapan .

Penyadapan Klon Rataan

K1 K2

1 36,53 32,78 34,65

2 37,50 34,73 36,11

3 37,86 34,30 36,08

Rataan 37,01 33,94 35,62

Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap kadar padatan total (%) seluruh penyadapan

Penyadapan Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi total produksi (gr/cm/sadap) seluruh penyadapan.

Penyadapan Waktu Aplikasi Rataan

A1 A2

1 1,13 1,10 1,12

2 1,12 0,95 1,04

3 1,12 0,84 0,98

Rataan 1,12 0,97 1,04

Tabel rataan perlakuan klon tanaman karet terhadap total produksi (gr/cm/sadap) seluruh penyadapan .

Penyadapan Klon Rataan

K1 K2

1 0,71 1,52 1,12

2 0,72 1,35 1,04

3 0,70 1,26 0,98

Rataan 0,71 1,38 1,04

Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap total produksi (gr/cm/sadap) seluruh penyadapan.

Penyadapan Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

1 1,18 1,25 1,06 0,98 1,10 1,22

2 1,00 1,11 1,10 0,94 1,05 1,05

3 0,92 1,04 1,05 0,86 1,03 0,98

(17)

Lampiran 30. Deskripsi klon IRR 118 j. Simetris daun pinggir : simetris

k. Ukuran daun : 2,4 : 1

l. Ujung daun : sedang

2. Anak tangkai daun

a. Posisi : mendatar

b. Bentuk : lurus

c. Panjang : sedang

d. Sudut : sedang (<60˚)

3. Tangkai daun

a. Posisi : lurus-mendatar

b. Bentuk : lurus

c. Panjang : sedang

d. Ukuran kaki : sedang

e. Bentuk kaki : mata agak berlekuk 4. Tangkai daun

a. Payung : kerucut setengah lingkaran

b. Besar : sedang

(18)

Lampiran 31.Deskripsi klon PB 260

f. Pinggiran daun : agak bergelombang g. Penampang memanjang : lurus

h. Penampang melintang : bentuk V

i. Posisi helaian daun : terpisah-bersinggungan j. Simetris daun pinggir : simetris

k. Ukuran daun : 2,4 : 1

l. Ujung daun : sedang

2. Anak tangkai daun

a. Posisi : agak terkulai

c. Kerapatan permukaan : terbuka d. Jarak antar payung : sedang 5. Mata

a. Letak mata : rata

b. Bekas tangkai daun : rata 6. Kulit batang

a. Corak kulit gabus : bentuk jala terputus-putus b. Warna kulit gabus : coklat tua

(19)

Lampiran 32. Data Curah Hujan

DATA CURAH HUJAN HARIAN

STASIUN/POS HUJAN : BALIT SUNGEI PUTIH KECAMATAN : GALANG, KABUPATEN : DELI SERDANG

(20)
(21)
(22)

Gambar 2. Pengamatan di lapangan

1. Pohon karet yang

diberi perlakuan

2. Penyadapan

4. Pengambilan data di

(23)

Gambar 3. Pengamatan Data Kadar Padatan Total (TSC) Lateks

1. Sampel Lateks 2. Sampel sebelum

pengovenan

3. Sampel setelah pengovenn

(24)
(25)
(26)

DAFTAR PUSTAKA

Aidi-Daslin. 2014. Perkembangan penelitian klon karet unggul IRR seri 100 sebagai penghasil lateks dan kayu. Warta perkaretan Vol. 33,Ho.1, Thn 2014.

Aidi, Daslin dan S. A. Pasaribu. 2015. Uji Adaptasi Klon Karet IRR Seri 100 pada Agroklimat Kering di Kebun Baleh Kabupaten Asahan Sumatera Utara. Medan: Pusat Penelitian Karet Balai Penelitian Sungei Putih.

Anwar, C. 2006. Manajemen Dan Teknologi Budidaya Karet. Disampaikan pada Pelatihan “Tekno Ekonomi Agribisnis Karet”. Jakarta.

Ardika, R., A. N. Cahyo dan T. Wijaya. 2011. Dinamika Gugur Daun dan Produksi Berbagai Klon Karet Kaitannya dengan Kandungan Air Tanah. Balai Penelitian Sembawa, Palembang.

Balai Penelitian Perkebunan Sembawa. 1982. Penyadapan Tanaman Karet (SeriPedoman No. 1). Palembang: Balai Penelitian Perkebunan Sembawa.

Bleecker AB, Kende H. 2000. Ethylene: a gaseous signal molecule in plants [abstrak]. Di dalam: Annual Review Cell DivisionBiology; Wisconsin. hlm 16. abstr no PMID: 11031228.

Charloq, Andan G., Arief M., Tomi G. 2015. Penelitian pendahulaan Analisis Kandungan Etilen Ekstrak Kulit Pisang Kepok (untuk kalangan sendiri). di Laboratorium Fisiologi Pusat Penelitian Karet. Galang

Damanik, S., M. Syakir, M. Tasma dan Siswanto. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Karet. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor.

Hadiwijoyo, S. dan Soehardi. 1981. Penanganan Lepas Panen 1. Departemen pendidikan dan kebudayaan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.

Jetro, N. N and G. M. Simon. 2007. Effects of 2-chloroethylphosphonic acid formulations as yield stimulant on Hevea Brasiliensis. National Rubber Research Programme IRAD Ekona Regional Center, Cameroon.

Junaidi, Atminingsih dan T. HS. Siregar. 2014. Penggunaan Stimulan Gas Etilen Pada Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis). Warta Perkaretan 2014, 33(2): 79-88.

Kurniawan, A., 2008. Penggunaan Silika Gel dan Kalium Permanganat Sebagai Bahan Penyerap Etilen. Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.

(27)

Nurjana. S. 2002. Kajian laju respirasi dan produksi etilen sebagai dasar penentuan waktu simpan sayuran dan buah-buahan. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Bandung

PTP Nusantara III. 2005. Instruksi kerja: norma-norma penyadapan tanaman karet.

Purwaningrum, Y., J. A. Napitupulu, C. Hanum dan T. H. S. Siregar. 2016. Pengaruh Sistem Eksploitasi Terhadap Produksi Karet pada Klon PB260. Pusat Penelitian Karet Sungai Putih, Sumatera Utara.

Rouf, A., M. O. Nugrahani, A. S. Pamungkas, Setiono dan H. Hadi. 2015. Strategi Peningkatan Produksi Lateks secara Kontiniu dengan Teknologi Stimulas Gas Etilen RIGG-9. Balai Penelitian Getas, Salatiga.

Sakti. 2008. Buah matang, Buah Masak dan Kualitasnya [5 januari 2009]

Setiawan, D. H. dan A. Andoko., 2008. Petunjuk lengkap budidaya karet. AgroMedia Pustaka, Jakarta

Setyamidjaja, D. 1993. Karet Budidaya dan Pengelolaan. Kanisius. Yogyakarta.

Sholihati. 2004. Kajian penggunaan bahan penyerap etilen kalium permanganat untuk mempepanjang umur simpan pisang raja (Musa paradisiaca L.) [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Siagian, N. 2010. Sifat dan Penanganan Biji Karet. Makalah yang Disampaikan pada Magang Petugas Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Medan pada Tanggal 30 Nopember – 1 Desember 2010. Pusat Penelitian Karet Sungei Putih.

Sianturi, H.S. 2001. Budidaya Tanaman Karet, Diktat. Fakultas Pertanian,USU, Medan.

Sinamo, H., Charloq., Rosmayati., dan Radite 2015. Respon Produksi Lateks Dalam Berbagai Waktu Aplikasi Pada Beberapa Klon Tanaman Karet Terhadap Pemberian Berbagai Sumber Hormon Etilen. Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatrea Utara

Siregar. T. H.S., Kuswanhadi., Sumarmadji., dan Karyudi. 2009. Optimasi produksi klon karet melalui system eksploitasi berdasarkan metabolism lateks. Pusat Penelitian Karet.

Siregar R. A. 2012. Marfologi Tanaman karet. http://pphp.deptan.go.id/ disp_informasi/1/5/54/1185/potensi_dan_perkembangan_pasar_ekspor_ karet_indonesia_di_pasar_dunia.html. [ 17 Oktober 2012]

(28)

Makalah Rapat Keja Evaluasi Hasil Penelitan Unggulan Badan Litbang Pertanian, Bogor, 18-20 Maret. 24p

Statistik Perkebunan Indonesia. 2010. Karet 2000-2011. Direktorat Jenderal Perkebunan. Departemen Pertanian : Jakarta.

Steenis, C. G. G. K., G. Hoed/S. Bloembergen dan P.J. Eyma., 2005. Flora. Terjemahan Moeso Surjowinoto, dkk. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

Sumarmadji. 2001. Pengelompokan sifat-sifat klon berdasarkan karakter fisiologi yang mendukung kapasitas produksi lateks. Laporan Hasil Penelitian Puslit Karet, ARMP II. 17p.

Sumarmadji. 2002. Studi karakter fisiologi lateks seebagai dasar penetapan system eksploitasi klon anjuran tanaman karet. Laporan Akhir. Pusat Penelitian Karet- Badan Litbang Pertanian. 25p

Syakir. M., S. Damanik., M. Tasma., dan Siswanto. 2010. Budidaya dan Pasca Panen karet. Nitro pdf. Bogor.

Syarief, R. dan A. Irawati. 1988. Pengetahuan Bahan Untuk Industri Pertnian. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.

Tim Penulis PS. 2009. Panduan Lengkap Karet , cetakan 2. Penebar Swadaya. Jakarta. 235 hlm.

Tistama R, Siregar T.H.S. 2005. Perkembangan penelitian stimulan untuk pengakiran lateks Hevea brasiliensis. Wrt Perkrt 24 (2): 45-57.

Tistama, R., 2013. Peran Seluler Etilen Eksogenus Terhadap Peningkatan Produksi Lateks pada Tanaman Karet ( Hevea Brasiliensis L). Warta Perkaretan 2013, 32(1): 25-37

Webster, C. C. and E. C. Paarkooper. 1990. The Botany Of The Rubber Tree. In Rubber. New York.

William, C.N., W.Y. Chew dan J.A Rajaratnam., 1987. Tree and Field Crop of The Wetter Regions of The Trophics. Longman Scientific & Technical, London.

Wills, R. H, T. H. Lee, D. Graham, W.B. McKasson and E.G. Hall. 1982. Postharvest, An Introduction To The Physiology and Handling of Fruits and Vegetables. New South Wales University Press, Kensington, Australia.

(29)

Woelan, S., I. Suhendry, dan Aidi-Daslin. 2006. Pengenalan klon karet penghasil lateks dan lateks-kayu. Balai Penelitian Sungei Putih.

(30)

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Karet Sungei

Putih Kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Berada pada

ketinggian tempat ± 54 m di atas permukaan laut. Penelitian ini dimulai dari bulan

September 2015 sampai dengan Februari 2016.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman karet klon IRR

118 dan klon PB 260 pada ancak B tahun tanam 2008 sebagai objek penelitian klon

metabolisme tinggi, kulit pisang kriteria menuju matang berwarna kuning sebagai

perlakuan. Hasil penelitian pendahuluan Charloq, et. al (2015) yang telah

dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus dengan metode titrasi dengan rumus :

Kadar Etilen =

(V1−V2) x N x �0.1486

2 � x 87

gram contoh

V1 = ml. Titran contoh

V2 = ml. Titran blanko (0.5)

N = Normalitas NaOH

Menghasilkan bahwa kulit pisang yang memiliki kandungan etilen tertinggi

ialah kriteria kulit pisang berwarna kuning sebesar 0.25%, sedangkan kulit pisang

(31)

memisahkan ekstrak dan ampas kulit buah, ember sebagai wadah perlakuan, oven

untuk mengukur kadar padatan total (TSC), timbangan analitik (Mettler PC 180)

untuk menimbang kulit pisang dan berat sampel lateks, kamera untuk mengamati

keadaan bagian sadapan, cat sebagai penanda perlakuan yang diberikan, Kuas lukis

lembut untuk mengoleskan perlakuan pada bidang sadap, botol kocok sebagai tempat

sampel lateks.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Tersarang Tiga Step (Three-

Stage Nested Design) dengan tiga ulangan, yaitu:

Step I : Waktu Aplikasi (A)

A1 = Waktu Aplikasi Pertama ( Minggu ke-1 )

A2 = Waktu Aplikasi Kedua ( Minggu ke-3 )

Step II : Klon Tanaman Karet

K1= Klon IRR 118

K2= Klon PB 260

Step III : Stimulan Hormon Etilen

S0 = Tanpa Stimulan

S1 = Stimulan etilen ekstrak 50 g kulit pisang

S2 = Stimulan etilen ekstrak 100 g kulit pisang

S3 = Stimulan etilen ekstrak 150 g kulit pisang

(32)

A1

Jumlah Tanaman/Perlakuan : 4 Tanaman

Jumlah Tanaman/Klon : 60 Tanaman

Jumlah Tanaman Seluruhnya : 120 Tanaman

Gambar 1. Peta penelitianRancangan Tersarang Tiga Langkah (Nested Design Three Steps) yang digunakan sebagaiberikut :

(33)

����� =µ+��+��(�)+��(��)+�(���)�j = 1, 2

k = 1, 2, 3, 4, 5

l = 1, 2, 3

Dimana:

����� : Hasil pengamatan stimulan ke-k tersarang dalam klon ke-j

dan tersarang waktu aplikasi ke-i pada ulangan ke-l

µ : Nilai rataan umum

�� : Waktu aplikasi ke-i

��(�) : Klon ke-j tersarang dalam waktu aplikasi ke-i

��(��) : Stimulan ke-k tersarang dalam klon ke-j dan tersarang

waktu aplikasi ke-i

�(���)� : Galat percobaan pada stimulan ke-k tersarang dalam klon

ke-j dan tersarang Aaktu aplikasi ke-i pada ulangan ke-l

Pelaksanaan Penelitian Pra Aplikasi

Penentuan Letak Tanaman (Ploting)

Klon tanaman yang digunakan ialah klon IRR 118 dan klon PB 260 pada

ancak B tahun tanam 2008. Jumlah tanaman karet pada setiap ancak berjumlah 310

batang dan tanaman sampel yang digunakan sebanyak 60 batang tanaman per masing

– masing klon. Tanaman Karet yang digunakan dengan sistem sadap normal ½ spiral,

(34)

pengacakan menggunakan microsoft excel. Penandaan sampel dilakukan dengan

penulisan kombinasi perlakuan pada bendera yang ditempelkan di batang tanaman

karet.

Pengukuran Panjang Alur Sadap

Tanaman karet yang telah ditentukan sebagai tanaman sampel, diukur panjang

alur sadap sebagai data yang akan digunakan untuk menghitung total produksi

Pembuatan Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Adapun jenis pisang yang digunakan yaitu pisang kepok yang telah

mengalami puncak klimaterik dengan kriteria matang dan berwarna kuning atau

pisang kepok yang 7 hari setelah dipanen. Pisang kepok yang digunakanberasal dari

kebun petani sekitaran kecamatan Galang Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Dari hasil studi pendahuluan, kulit pisang yang telah mengalami puncak klimaterik

berwarna kuning memiliki kandungan etilen sebesar 0,25 % .

Pembuatan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dilakukan sehari sebelum

pengaplikasian stimulan ke tanaman karet. Kulit pisang dipisahkan dari buah dan

ditimbang masing-masing S0 = 0 g, S1 = 50 g, S2 = 100 g, S3 = 150 g, S4 = 200 g.

Kemudian diblender dengan menambahkan 300 ml aquades sebagai pelarut. Larutan

kemudian diperam selama satu malam di dalam wadah yang tertutup rapat untuk

mengindari oksidasi. Pada pagi hari satu jam sebelum pengaplikasian stimulan,

(35)

.Aplikasi Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Pengaplikasian stimulan dilakukan 2 hari sebelum sadap dengan interval

waktu pengaplikasian stimulant etilen ekstrak kulit pisang selama 2 minggu.Aplikasi

dilakukan pada pagi hari untuk menghindari suhu udara (temperatur) dan penguapan

air yang terlalu tinggi dengan menggunakan sistem scrapping application. Sebelum

stimulan diaplikasikan, bidang sadap terlebih dahulu dibersihkan dari karet yang

mengering (Scrap) kemudian stimulan etilen ekstrak kulit pisang dioleskan searah

dari pangkal sampai ke ujung bidang sadap mengggunakan kuas yang lembut dengan

dosis 5 gram per pohoh per aplikasi.

Penyadapan

Penyadapa pada pagi hari pukul 06.00 sampai dengan 08.00. Sistem sadap

yang digunakan yaitu ½S d/3 yaitu sistem sadap ½ spiral dan intensitas penyadapan 3

hari sekali.

Pengamatan Parameter Berat Lateks (g)

Pengukuran berat lateks (g) pada setiap perlakuan dari penyadapan pertama

sampai penyadapan ketiga menggunakan gelas ukur.

Kadar Padatan Total (Total solid Content/TSC) (%)

Setelah dilakukan penimbangan lateks cair kemudian dilakukan pengukuran

kadar padatan total atau yang biasa disebut total solid content (TSC). Latek

(36)

Total Produksi (g/cm/sadap)

Dilakukan penghitungan total produksi untuk mengetahui produksi dari tiap

batang tanaman, dengan rumus :

Total Produksi = Berat x TSC

(37)

Hasil

Berat Lateks (g) Penyadapan Pertama

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap berat lateks penyadapan pertama dengan

frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik ragam

terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang berpengaruh tidak nyata

dan klon tanaman karet berpengaruh nyata terhadap berat lateks pada penyadapan

pertama. Rataan perlakuan klon tanaman karet dan stimulan etilen ekstrakkulit pisang

terhadap berat lateks penyadapan pertama dengan frekuensi penyadapan d/3 disajikan

pada Tabel 1.

Tabel1.Rataan perlakuan stimulant etilen ekstrak kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap berat lateks (g) penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3

Berat Lateks Penyadapan Pertama (g)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

IRR 118 57.96 63.21 50.83 46.13 56.60 54.95a

PB 260 129.92 172.35 144.50 138.29 132.50 143.51b

Rataan 93.94a 117.78a 97.67a 92.21a 94.55a 99.23

Keterangan:Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan klon PB 260 (K2) menghasilkan

berat lateks penyadapan pertama sebesar 143.51 g lebih tinggi dibandingkan IRR 118

(K1) sebesar 54.95 g. Perlakuan stimulan etilen ekstrak 50 g kulit buah pisang (S1)

(38)

sebesar 93.94 g, sedangkan perlakuan stimulan etilen ekstrak 150 g kulit buah pisang

(S3) sebesar 92.21 g menghasilkan berat lateks terendah pada penyadapan pertama.

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilenekstrak

kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks penyadapan pertama dengan

frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik ragam

terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang berpengaruh tidak nyata

dan waktu aplikasi berpengaruh nyata terhadap berat lateks pada penyadapan kedua.

Rataan perlakuan stimulan etilen kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks

penyadapan kedua dengan frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan perlakuan stimulant etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks (g) penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3

Berat Lateks Penyadapan I (g)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

A1 109.54 133.82 105.96 102.96 104.31 111.32a

A2 78.33 101.74 89.38 81.46 84.79 87.14b

Rataan 93.94a 117.78a 97.67a 92.21a 94.55a 99.23 Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan,

menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan waktu apilikasi 1 (A1)

menghasilkan berat lateks penyadapan pertama sebesar 111.32 g, lebih tinggi

dibandingkan waktu aplikasi 2 (A2) sebesar 87.14 g. Perlakuan stimulan etilen

ekstrak 50 g kulit buah pisang (S1) menghasilkan berat lateks tertinggi penyadapan

pertama sebesar 117.78 g, diikuti oleh stimulan etilen ekstrak 100 g kulit buah pisang

(39)

terendah pada penyadapan pertama.

Penyadapan II

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap berat lateks penyadapan kedua dengan

frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik ragam

terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen ekstrak penyadapan dan klon tanaman karet

berpengaruh nyata terhadap berat lateks penyadapan kedua. Rataan perlakuan klon

tanaman karet dan stimulan ekstrakkulit pisang terhadap berat lateks penyadapan

kedua dengan frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan perlakuan stimulan ekstrak etilen kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap berat lateks (g) penyadapan kedua dangan frekuensi penyadapan d/3

Berat Lateks Penyadapan II (g)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

IRR 118 55.83 55.76 50.28 51.88 60.00 54.75a

PB 260 101.04 139.17 123.54 114.46 117.58 119.16b

Rataan 78.44a 97.47a 86.91a 83.17a 88.79a 86.95

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan klon PB 260 (K2) menghasilkan

berat lateks penyadapan kedua sebesar 119.16 g, lebih tinggi dibandingkan klon IRR

118 (K1) sebesar 54.75 g. Perlakuan stimulan etilen ekstrak 50 g kulit buah pisang

(S1) menghasilkan berat lateks tertinggi penyadapan kedua sebesar 97.47 g, diikuti

oleh stimulant etilen ekstrak 200 g kulit buah pisang (S4) sebesar 88.79 g, stimulant

(40)

kedua.

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks penyadapan kedua dengan

frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik ragam

terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen kulit pisang berpengaruh tidak nyata dan

waktu aplikasi berpengaruh nyata terhadap berat lateks pada penyadapan kedua.

Rataan perlakuan stimulan etilen kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks

penyadapan kedua dengan frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4.Rataan perlakuan stimulant etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks (g) penyadapan keduadangan frekuensi penyadapan d/3

Berat Lateks Penyadapan II (g)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

A1 91.04 110.35 98.47 94.88 100.08 98.96a

A2 65.83 84.58 75.35 71.46 77.50 74.94b

Rataan 78.44a 97.47a 86.91a 83.17a 88.79a 86.95

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan waktu apilikasi 1 (A1)

menghasilkan berat penyadapan kedua sebesar 98.96 g, lebih tinggi dibandingkan

waktu aplikasi 2 (A2) sebesar 74.94 g. Perlakuan stimulan etilen ekstrak 50 g kulit

buah pisang (S1) menghasilkan berat lateks tertinggi penyadapan pertama sebesar

97.47 g, diikuti oleh stimulan etilen ekstrak 200 g kulit buah pisang (S4) sebesar

88.79 g, stimulan etilen ekstrak 100 g kulit buah pisang (S2) sebesar 86.91 g, dan

(41)

Penyadapan III

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap berat lateks penyadapan kedua dengan

frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik ragam

terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang berpengaruh tidak nyata

dan waktu aplikasi berpengaruh nyata terhadap berat lateks pada penyadapan ketiga.

Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap

berat lateks penyadapan ketiga dengan frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel

5.

Tabel 5. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap berat lateks (g) penyadapan ketiga dangan frekuensi penyadapan d/3

Berat Lateks Penyadapan III (g)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

IRR 118 46.67 55.28 57.08 55.79 53.33 53.63a

PB 260 103.96 135.63 115.76 106.67 110.00 114.40b

Rataan 75.31a 95.45a 86.42a 81.23a 81.67a 84.02

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 5. menunjukkan bahwa perlakuan klon PB 260 (K2) menghasilkan

berat lateks penyadapan ketiga sebesar 114.40 g, lebih tinggi dibandingkan klon IRR

118 (K1) sebesar 53.63 g. Perlakuan stimulant etilen ekstrak 50 g kulit buah pisang

(S1) menghasilkan berat lateks tertinggi penyadapan ketiga sebesar 95.45 g, diikuti

oleh stimulant etilen ekstrak 100 g kulit buah pisang (S2) sebesar 86.42 g, stimulant

(42)

ketiga.

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks penyadapan ketiga dengan

frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik ragam

terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang berpengaruh tidak nyata

dan waktu aplikasi berpengaruh nyata terhadap berat lateks pada penyadapan ketiga.

Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap

berat lateks penyadapan ketiga dengan frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel

6.

Tabel 6.Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks (g) penyadapan ketiga dengan frekuensi penyadapan d/3

Berat Lateks Penyadapan III (g)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

A1 90.21 114.51 106.67 103.29 92.29 101.39a

A2 60.42 76.39 66.18 59.17 71.04 66.64b

Rataan 75.31a 95.45a 86.42a 81.23a 81.67a 84.02

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Kadar Padatan Total (Total Solid Content/TSC) (%) Penyadapan I

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap kadar padatan total penyadapan pertama

(43)

pertama. Rataan perlakuan klon tanaman karet dan stimulan etilen ekstrakkulit pisang

terhadap kadar padatan total penyadapan pertama dengan frekuensi penyadapan d/3

disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap kadar padatan total penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3

TSC Penyadapan I (%)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

IRR 118 38.29 37.61 33.56 34.42 38.75 36.53a

PB 260 37.46 30.51 32.05 30.99 32.88 32.78b

Rataan 37.88a 34.06a 32.81a 32.70a 35.81a 34.65a

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 7 menunjukkan bahwa perlakuan klon IRR 118 (K1) menghasilkan

kadar padatan total penyadapan pertama sebesar 36.53 %, lebih tinggi dibandingkan

klon PB 260 (K2) sebesar 32.78 %. Perlakuan tanpa stimulan (S0) menghasilkan

kadar padatan total tertinggi penyadapan pertama sebesar 37.88 %, diikuti oleh

stimulan etilen ekstrak 200 g kulit buah pisang (S4) sebesar 35.81 % , stimulan etilen

ekstrak 50 g kulit buah pisang S1 sebesar 34.06 %, dan stimulan etilen ekstrak 100 g

kulit buah pisang (S2) sebesar 32.81 % , sedangkan perlakuan stimulan etilen ekstrak

150 g kulit buah pisang (S3) sebesar 32.70 % menghasilkan kadar padatan total

terendah pada penyadapan pertama.

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap kadar padatan total penyadapan pertama

(44)

penyadapan pertama. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu

aplikasi terhadap kadar padatan total penyadapan kedua dengan frekuensi penyadapan

d/3disajikan pada Tabel 8

Tabel 8. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap kadar padatan total penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3

TSC Penyadapan I (%)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

A1 32.73 31.27 30.73 29.27 31.25 31.05a

A2 43.02 36.85 34.89 36.14 40.38 38.25b

Rataan 37.88a 34.06a 32.81a 32.70a 35.81a 34.65

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari tabel 8 menunjukkan bahwa perlakuan waktu apilikasi 2 (A2)

menghasilkan kadar padatan total penyadapan pertama sebesar 38.25 %, lebih tinggi

dibandingkan waktu aplikasi 1 (A1) sebesar 31.05 %. Perlakuan tanpa stimulan (S0)

menghasilkan kadar padatan total tertinggi penyadapan pertama sebesar 37.88 %,

diikuti oleh stimulan etilen ekstrak 200 g kulit buah pisang (S4) sebesar 35.81 % ,

stimulan etilen ekstrak 50 g kulit buah pisang S1 sebesar 34.06 %, dan stimulan etilen

ekstrak 100 g kulit buah pisang (S2) sebesar 32.81 % , sedangkan perlakuan stimulan

etilen ekstrak 150 g kulit buah pisang (S3) sebesar 32.70 % menghasilkan kadar

padatan total terendah pada penyadapan pertama.

Penyadapan II

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen kulit

(45)

tanaman karet berpengaruh tidak nyata terhadap kadar padatan total penyadapan

kedua. Rataan perlakuan klon tanaman karet dan stimulan etilen ekstrakkulit pisang

terhadap kadar padatan total penyadapan kedua dengan frekuensi penyadapan d/3

disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap kadar padatan total penyadapan kedua dangan frekuensi penyadapan d/3

TSC Penyadapan II (%)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

IRR 118 40.42 38.35 35.53 36.78 36.40 37.50a

PB 260 36.05 33.12 39.12 31.70 33.68 34.73a

Rataan 38.24a 35.73a 37.33a 34.24a 35.04a 36.11

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 9 menunjukkan bahwa perlakuan klon IRR 118 (K1) menghasilkan

kadar padatan total penyadapan kedua sebesar 37.50 %, lebih tinggi dibandingkan

klon PB 260 (K2) sebesar 34.73 %. Perlakuan tanpa stimulan (S0) menghasilkan

kadar padatan total tertinggi penyadapan kedua sebesar 38.24 %, diikuti oleh stimulan

etilen ekstrak 100 g kulit buah pisang (S2) sebesar 37.33 %, stimulan etilen ekstrak

50 g kulit buah pisang (S1) sebesar 35.73 %, dan stimulan etilen ekstrak 200 g kulit

buah pisang (S4) sebesar 35.04 %, sedangkan perlakuan stimulan etilen ekstrak 150 g

kulit buah pisang (S3) sebesar 34.24 menghasilkan kadar padatan total terendah pada

penyadapan kedua.

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

(46)

nyata dan waktu aplikasi berpengaruh nyata terhadap berat lateks pada penyadapan

kedua. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi

terhadap kadar padatan total penyadapan kedua dengan frekuensi penyadapan

d/3disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10.Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap kadar padatan total penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3

TSC Penyadapan II (%)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

A1 35.14 33.44 36.89 30.80 33.20 33.89a

A2 41.33 38.03 37.76 37.68 36.88 38.34b

Rataan 38.24a 35.73a 37.33a 34.24a 35.04a 36.11

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 10 menunjukkan bahwa perlakuan waktu apilikasi 2 (A2)

menghasilkan kadar padatan total penyadapan kedua sebesar 38.34 %, lebih tinggi

dibandingkan waktu aplikasi 1 (A1) sebesar 33.89 %. Perlakuan tanpa stimulan (S0)

menghasilkan kadar padatan total tertinggi penyadapan kedua sebesar 38.24 %,

diikuti oleh stimulan etilen ekstrak 100 g kulit buah pisang (S2) sebesar 37.33 %,

stimulan etilenekstrak 50 g kulit buah pisang (S1) sebesar 35.73 %, dan stimulan

etilen ekstrak 200 g kulit buah pisang (S4) sebesar 35.04 %, sedangkan perlakuan

stimulan etilen ekstrak 150 g kulit buah pisang (S3) sebesar 34.24 menghasilkan

kadar padatan total terendah pada penyadapan kedua.

(47)

dengan frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis

sidik ragam terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan klon

tanaman karet berpengaruh nyata terhadap kadar padatan total penyadapan ketiga.

Rataan perlakuan klon tanaman karet dan stimulan etilen ekstrakkulit pisang terhadap

kadar padatan total penyadapan ketiga dengan frekuensi penyadapan d/3 disajikan

pada Tabel 11.

Tabel 11. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap kadar padatan total penyadapan ketiga dangan frekuensi penyadapan d/3

TSC Penyadapan III (%)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

IRR 118 40.68 39.69 34.49 36.37 38.09 37.86a

PB 260 33.02 32.25 38.26 32.37 35.62 34.30b

Rataan 36.85a 35.97a 36.38a 34.37a 36.85a 36.08

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 11. menunjukkan bahwa perlakuan klon IRR 118 (K1)

menghasilkan kadar padatan total penyadapan ketiga sebesar 37.86 %, lebih tinggi

dibandingkan klon PB 260 (K2) sebesar 34.30 %. Perlakuan stimulan etilen ekstrak

200 g kulit buah pisang (S4) dan perlekuan tanpa stimulan (S0) menghasilkan kadar

padatan total tertinggi penyadapan ketiga sebesar 36.85 %, diikuti oleh stimulan

etilen ekstrak 100 g kulit buah pisang (S2) sebesar 36.38 %, stimulan etilen ekstrak

50 g kulit buah pisang (S1) sebesar 35.97 %, sedangkan stimulan etilen ekstrak 150 g

kulit buah pisang (S3) sebesar 34.37 menghasilkan kadar padatan total terendah pada

(48)

dengan frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik

ragam terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang berpengaruh

nyata dan waktu aplikasi berpengaruh nyata terhadap kadar padatan total pada

penyadapan ketiga. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu

aplikasi terhadap kadar padatan total penyadapan ketiga dengan frekuensi

penyadapan d/3disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12.Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap kadar padatan total penyadapan ketiga dengan frekuensi penyadapan d/3)

TSC Penyadapan III (%)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

A1 34.62 34.17 34.26 32.13 35.29 34.10a

A2 39.07 37.76 38.49 36.61 38.41 38.07b

Rataan 36.85a 35.97a 36.38a 34.37a 36.85a 36.08

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari tabel 13. menunjukkan bahwa perlakuan waktu apilikasi 2 (A2)

menghasilkan kadar padatan total penyadapan ketiga sebesar 38.07 %, lebih tinggi

dibandingkan waktu aplikasi 1 (A1) sebesar 34.10 %. Perlakuan stimulan etilen

ekstrak 200 g kulit buah pisang (S4) dan tanpa stimulan (S0) menghasilkan kadar

padatan total tertinggi penyadapan ketiga sebesar 36.85 %, diikuti oleh stimulan

etilen ekstrak 100 g kulit buah pisang (S2) sebesar 36.38 %, stimulan etilenekstrak 50

g kulit buah pisang (S1) sebesar 35.97 %, sedangkan stimulan etilenekstrak 150 g

kulit buah pisang (S3) sebesar 34.37 % menghasilkan kadar padatan total terendah

(49)

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap produksi lateks penyadapan pertama

dengan frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis

sidik ragam terlihat bahwa perlakuan stimulanetilenekstrak kulit pisang berpengaruh

tidak nyata dan klon tanaman karet berpengaruh nyata terhadap produksi lateks pada

penyadapan pertama. Rataan perlakuan klon tanaman karet dan

stimulanetilenekstrakkulit pisang terhadap produksi lateks penyadapan pertama

dengan frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13. Rataan perlakuan stimulanetilenekstrak kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap produksi lateks (g/cm/sadap) penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3

Produksi Penyadapan I (g/cm/sadap)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

IRR 118 0.76 0.82 0.59 0.57 0.79 0.71a

PB 260 1.60 1.68 1.54 1.40 1.41 1.52b

Rataan 1.18a 1.25a 1.06a 0.98a 1.10a 1.12

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 13 menunjukkan bahwa perlakuan klon PB 260 (K2)

menghasilkan produksi lateks penyadapan pertama sebesar 1.52 g/cm/sadap, lebih

tinggi dibandingkan klon IRR 118 (K1) sebesar 0.71 g/cm/sadap. Perlakuan stimulan

etilenekstrak 50 g kulit buah pisang (S1) menghasilkan produksi lateks tertinggi

penyadapan pertama sebesar 1.25 g/cm/sadap, diikuti oleh perlakuan tanpa stimulan

(S0) sebesar 1.18 g/cm/sadap, stimulan etilenekstrak 200 g kulit buah pisang S4

(50)

pada penyadapan pertama.

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap produksi lateks penyadapan pertama dengan

frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik ragam

terlihat bahwa perlakuan stimulanetilen ekstrak kulit pisang berpengaruh tidak nyata

dan waktu aplikasi berpengaruh nyata terhadap produksi lateks pada penyadapan

pertama. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi

terhadap produksi lateks penyadapan kedua dengan frekuensi penyadapan

D/3disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14. Rataan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap produksi lateks (g/cm/sadap) penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3

Produksi Penyadapan I (g/cm/sadap)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

A1 1.21 1.30 1.08 1.01 1.07 1.13a

A2 1.15 1.20 1.05 0.96 1.13 1.10b

Rataan 1.18a 1.25a 1.06a 0.98a 1.10a 1.12

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 14 menunjukkan bahwa perlakuan waktu apilikasi 1 (A1)

menghasilkan berat lateks penyadapan pertama sebesar 1.13 g/cm/sadap, lebih tinggi

dibandingkan waktu aplikasi 2 (A2) sebesar 1.10 g/cm/sadap. Perlakuan stimulan

etilenekstrak 50 g kulit buah pisang (S1) menghasilkan produksi lateks tertinggi

penyadapan pertama sebesar 1.25 g/cm/sadap, diikuti oleh tanpa stimulan (S0)

(51)

sebesar 0.98 g/cm/sadap menghasilkan produksi lateks terendah pada penyadapan

pertama.

Penyadapan II

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilenekstrak

kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap produksi lateks penyadapan kedua

dengan frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis

sidik ragam terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang berpengaruh

tidak nyata dan klon tanaman karet berpengaruh nyata terhadap produksi lateks

penyadapan kedua. Rataan perlakuan klon tanaman karet dan

stimulanetilenekstrakkulit pisang terhadap produksi lateks penyadapan kedua dengan

frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15. Rataan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap produksi lateks (g/cm/sadap) penyadapan kedua dangan frekuensi penyadapan d/3

Produksi Penyadapan II

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

IRR 118 0.76 0.75 0.62 0.67 0.80 0.72a

PB 260 1.23 1.46 1.57 1.20 1.29 1.35b

Rataan 1.00a 1.11a 1.10a 0.94a 1.05a 1.04

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 15 menunjukkan bahwa perlakuan klon PB 260 (K2)

menghasilkan produksi lateks penyadapan kedua sebesar 1.35 g/cm/sadap, lebih

tinggi dibandingkan klon IRR 118 (K1) sebesar 0.72 g/cm/sadap. Perlakuan stimulan

(52)

buah pisang (S4) sebesar 1.05 g/cm/sadap, dan tanpa stimulan (S0) sebesar 1.00

g/cm/sadap, sedangkan perlakuan stimulan etilenekstrak 150 g kulit buah pisang (S3)

sebesar 0.94 g/cm/sadap menghasilkan produksi lateks terendah pada penyadapan

kedua.

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilenekstrak

kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap produksi lateks penyadapan kedua dengan

frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik ragam

terlihat bahwa perlakuan stimulanetilenekstrak kulit pisang berpengaruh tidak nyata

dan waktu aplikasi berpengaruh nyata terhadap produksi lateks pada penyadapan

kedua. Rataan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi

terhadap produksi lateks penyadapan kedua dengan frekuensi penyadapan

d/3disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16. Rataan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap produksi lateks (g/cm/sadap) penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3)

Produksi Penyadapan II (g/cm/sadap)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

A1 1.07 1.18 1.21 1.00 1.13 1.12a

A2 0.92 1.04 0.98 0.87 0.97 0.95b

Rataan 1.00a 1.11a 1.10a 0.94a 1.05a 1.04

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari tabel 16 menunjukkan bahwa perlakuan waktu apilikasi 1 (A1)

menghasilkan produks lateks penyadapan kedua sebesar 1.12 g/cm/sadap, lebih tinggi

(53)

kulit buah pisang (S2) sebesar 1.10 g/cm/sadap, stimulan etilenekstrak 200 g kulit

buah pisang (S4) sebesar 1.05 g/cm/sadap, dan tanpa stimulan (S0) sebesar 1.00

g/cm/sadap, sedangkan perlakuan stimulan etilenekstrak 150 g kulit buah pisang (S3)

sebesar 0.94 g/cm/sadap menghasilkan produksi lateks terendah pada penyadapan

kedua.

Penyadapan III

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilenekstrak

kulit pisang dan klon tanaman karet terhadap produksi lateks penyadapan ketiga

dengan frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis

sidik ragam terlihat bahwa perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang berpengaruh

tidak nyata dan klon tanaman karet berpengaruh nyata terhadap produksi lateks

penyadapan ketiga. Rataan perlakuan klon tanaman karet dan

stimulanetilenekstrakkulit pisang terhadap produksi lateks penyadapan ketiga dengan

frekuensi penyadapan d/3 disajikan pada Tabel 17.

Tabel 17. Rataan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dan klon tanaman karet terhada produksi lateks (g/cm/sadap) penyadapan ketiga dangan frekuensi penyadapan d/3

Produksi Penyadapan III (g/cm/sadap)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

IRR 118 0.65 0.76 0.70 0.73 0.75 0.72a

PB 260 1.16 1.40 1.43 1.13 1.27 1.28b

Rataan 0.90a 1.08a 1.06a 0.93a 1.01a 1.00

(54)

tinggi dibandingkan klon IRR 118 (K1) sebesar 0.72 g/cm/sadap. Perlakuan stimulan

etilenekstrak 50 g kulit buah pisang (S1) menghasilkan produksi lateks tertinggi

penyadapan ketiga sebesar 1.08 g/cm/sadap, diikuti oleh stimulan etilenekstrak 100 g

kulit buah pisang (S2) sebesar 1.06 g/cm/sadap, stimulan etilenekstrak 200 g kulit

buah pisang (S4) sebesar 1.01 g/cm/sadap, dan stimulan etilenekstrak 150 g kulit

buah pisang (S3) sebesar 0.93 g/cm/sadap, sedangkan perlakuan tanpa stimulan (S0)

sebesar 0.90 g/cm/sadap menghasilkan produksi lateks terendah pada penyadapan

ketiga.

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam perlakuan stimulan etilen ekstrak

kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap produksi lateks penyadapan ketiga dengan

frekuensi penyadapan d/3disajikan pada Tabel Lampiran 1. Dari analisis sidik ragam

terlihat bahwa perlakuan stimulanetilen ekstrak kulit pisang berpengaruh tidak nyata

dan waktu aplikasi berpengaruh nyata terhadap produksi lateks pada penyadapan

ketiga. Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi

terhadap produksi lateks penyadapan ketiga dengan frekuensi penyadapan

(55)

Produksi Penyadapan III (g/cm/sadap)

Klon Stimulan Rataan

S0 S1 S2 S3 S4

A1 1.05 1.25 1.23 1.13 1.09 1.15a

A2 0.76 0.91 0.89 0.73 0.93 0.84b

Rataan 0.90a 1.08a 1.06a 0.93a 1.01a 1.00

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom/baris antar perlakuan, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 18. menunjukkan bahwa perlakuan waktu apilikasi 1 (A1)

menghasilkan berat lateks penyadapan ketiga sebesar 1.15 g/cm/sadap, lebih tinggi

dibandingkan waktu aplikasi 2 (A2) sebesar 0.84 g/cm/sadap. Perlakuan stimulan

etilenekstrak 50 g kulit buah pisang (S1) menghasilkan produksi lateks tertinggi

penyadapan ketiga sebesar 1.08 g/cm/sadap, diikuti oleh stimulan etilenekstrak 100 g

kulit buah pisang (S2) sebesar 1.06 g/cm/sadap, stimulan etilenekstrak 200 g kulit

buah pisang (S4) sebesar 1.01 g/cm/sadap, dan stimulan etilenekstrak 150 g kulit

buah pisang (S3) sebesar 0.93 g/cm/sadap, sedangkan perlakuan tanpa stimulan (S0)

sebesar 0.90 g/cm/sadap menghasilkan produksi lateks terendah pada penyadapan

ketiga.

Pembahasan

Perlakuan waktu aplikasi pemberian stimulanetilenekstrak kulit pisang dan

klon tanaman karet berpengaruh nyata terhadap berat lateks (g), kadar padatan total

(%), dan produksi (g/cm/sadap).Perlakuan waktu aplikasi pertama (A1) menghasilkan

berat lateks (g) dan produksi (g/cm/sadap) lebih tinggi dibandingkan waktu aplikasi

(56)

fotosintesis untuk menghasilkan sukrosa sebagai bahan pembentuk utama lateks tidak

berregenerasi optimal (Purwaningsi, 2016; Woelan et.al, 2014). Oleh karena itu pada

saat dilakukan penyadapan akan di hasilkan lateks yang memiliki kadar air lebih

tinggi. Sehingga apabila dibandingkan berat basah lateks dengan berat karet kering

akan diperoleh kandungan padatan total yang rendah.

Pada aplikasi pertama diperoleh hasil berat lateks lebih tinggi dibandingkan

pada aplikasi keduadiduga bahwa pada aplikasi pertama masih adanya pengaruh

stimulan ethrel yang digunakan sebelum pengaplikasian stimulan etilen organik

ekstrak kulit pisang. Pada aplikasi kedua diduga bahwa stimulan yang bereaksi di

dalam tubuh tanaman karet adalah murni stimulan etilen organik ekstrak kulit pisang.

Dari hasilpenelitian sebelumnya Sinamo et.al (2015) diketahui bahwa pemberian

stimulan etilen organik ekstrak kulit pisang dapat meningkatkan produksi lateks

dibandingkan dengan tanpa pemberian stimulan, namun masih lebih rendah daripada

ethrel.

Perlakuan klon tanaman karet terhadap pemberian stimulan etilen ekstrak kulit

pisang berpengaruh nyata terhadap berat dan produksi lateks. Dimana perlakuan klon

PB 260 (K2) menghasilkan berat dan produksi lateks lebih tinggi yang berbeda nyata

dengan perlakuan klon tanaman karet IRR 118 (K1). Diduga bahwa potensi

peningkatan produksi dengan menggunakan stimulan menunjukkan respon yang

berbeda pada klon tanaman karet yang berbeda, hal ini sesuai dengan pendapat

(57)

diduga karena jumlah pembuluh lateks PB 260 lebih banyak daripada pembuluh

lateks klon IRR 118. Sehingga mempengaruhi jumlah produksi lateks diantara

keduanya, hal ini juga didukung oleh Woelan (2013) yang menyatakan jumlah

pembuluh lateks klon IRR seperti IRR 300, IRR 302, IRR 311, IRR 318 dan

sebagainya lebih rendah daripada jumlah pembuluh lateks klon PB 260. Jumlah

pembuluh lateks memiliki kolerasi positif dan berpengaruh langsung terhadap hasil

lateks. Secara genetik tanaman karet berproduksi rendah disebabkan oleh jumlah

pembuluh lateks yang sedikit demikian pula sebaliknya. Hal ini dapat dipahami

karena biosintesis lateks pada tanaman karet berlangsung pada sel-sel pembuluh

lateks. jumlah dan diameter pembuluh lateks merupakan variabel yang memiliki

korelasi positif dengan potensi produksi lateks.

Perlakuan pemberian stimulan etilenekstrak kulit pisang berpengaruh tidak

nyata terhadap berat dan produksi lateks. Namun perlakuan stimulan etilenekstrak 50

gram kulit pisang (S1) memberikan harapan meningkatkan produksi dan merupakan

perlakuan yang menghasilkan berat dan produksi lateks tertinggi dibandingkan

dengan tanpa stimulan (S0), stimulan etilenekstrak 100 gram kulit pisang (S2),

stimulan etilenekstrak 200 gram kulit pisang (S4), dan stimulan etilenekstrak 150

gram kulit pisang (S3). Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa pemberian stimulan

etilenekstrak kulit buah pisang dapat meningkatkan berat dan pruduksi lateks pada

tanaman karet. Hal ini sesuai dengan Sinamo, et al (2015) yang menyatakan

(58)

tanaman karet.

Pemberian stimulan dapat meningkatkan produksi lateks. Pada tahap awal

etilen memicu aktivitas H+ ATPase untuk melewatkan H+ dari sitosol ke dalam

vakuola atau lutoid. Pemindahan H+ tersebut menyebabkan sitosol menjadi lebih

alkalin sehingga meningkatkan aktivitas beberapa enzim-enzim di jalur mevalonat.

Peningkatan aktivitas enzim - enzim tersebut menyebabkan biosintesis karet menjadi

meningkat. Peningkatan biosintesis karet tentu saja harus didukung dengan

ketersediaan sukrosa sebagai bahan baku, nitrogen sebagai bahan protein dan fosfor

sebagai bahan ATP. Etilen mempengaruhi sel-sel pembuluh lateks menjadi sink baik

berupa air, gula, nutrisi sehingga senyawa-senyawa tersebut diarahkan ke dalam

pembuluh lateks. Lateks yang stabil dan suplai air yang memadai inilah yang

menyebabkan proses aliran lateks menjadi lebih panjang (Tistama, 2013)

Perlakuan stimulan etilenekstrak 50 gram kulit pisang menunjukkan hasil

yang lebih tinggi dibandingkan semua perlakuan termasuk perlakuan tanpa stimulan

walaupun belum menunjukkan hasil yang siginifikan. Hal ini dikarenakan

terdapatnya senyawa etilen dalam ekstrak kulit pisang yang apat memicu peningkatan

produksi lateks. Dengan hasil tersebut, pemanfaatan stimulan etilen ekstrak kulit

pisang dapat menstubtitusi stimulan sintetis (ethrel) guna meningkatan produksi

karet rakyat. PTP III (2005) melampirkan pada umumnya perkebunan negara

(59)

Dari hasil percobaan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dalam

berbagai konsentrasi yang diaplikasikan pada dua klon quick starter didapati bahwa

produksi karet mengalami penurunan pada penyadapan ke 2 dan ke 3. Hal ini diduga

karena pada saat penelitian sedang berlangsung keadaan cuaca sedang musim

kemarau, yang turut mempengaruhi kondisi tanaman karet. Musim kemarau

mengakibatkan tanaman karet memasuki masa gugur daun yang mengganggu proses

transpirasi tanaman sehingga produksi menjadi menurun. Ardika (2011) menyatakan

bahwa pada saat terjadi gugur daun, kecenderungan penurunan produksi mulai

terjadi. Pengguguran daun terjadi karena adanya respon alami dari dalam tubuh

tanaman karena terbatasnya ketersediaan air tanah guna mengurangi terjadinya

penguapan(transpirasi). Berdasarkan data yang diperoleh dari Stasiun Hujan Balai

Penelitian Karet Sungai Putih Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang curah

hujan mulai dari bulan November 2015 hingga Februari 2016 hanya sebesar 173 mm,

sementara menurut Damanik, et al (2010) mengatakan bahwa tanaman karet

memerlukan curah hujan optimal antara 2.000-2.500 mm/tahun dengan hari hujan

100 s/d 150 HH/tahun yang merata sepanjang tahun.

Perlakuan stimulan etilen ekstrak 50 gram kulit pisang (S1) pada klon PB 260

(K1) di dalam waktu aplikasi pertama (A1) merupakan perlakuan yang menunjukkan

produksi lateks tertinggi dibandingkan semua perlakuan walaupun belum

memperlihatkan perbedaan yang signifikan.. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan

(60)

stimulan etilen ekstrak 100 gram kulit pisang. Untuk itu dibutuhkan penelitian

lanjutan guna memperoleh data yang lebih akurat.

Stimulan etilen ekstrak kulit pisang yang diaplikasikan pada bidang sadap

akan meresap ke dalam pembuluh lateks. Gas etilen (C2H2) akan menyerap air dari

sel-sel yang ada disekitar pembuluh lateks. Penyerapan air ini menyebabkan naiknya

tekanan turgor yang mendorong keluarnya lateks ketika disadap. Hal ini sesuai

dengan Setiawan dan Handoko (2008) yang menyatakan bahwa gas etilen yang

diaplikasikan akan meresap ke dalam pembuluh lateks. Di dalam pembuluh lateks gas

tersebut menyerap air dari sel-sel yang ada disekitarnya.Tistama (2013) mengatakan

bahwa etilen mempengaruhi keseimbangan sukrosa dalam pembentukan lateks dan

juga meningkatkan aktivitas metabolisme dalam sel pembuluh lateks. Lateks yang

stabil dan suplai air yang memadai menyebabkan proses aliran lateks menjadi lebih

panjang, sehingga dengan penggunaan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dapat

(61)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Waktu aplikasi yang berbeda menggunakan stimulan etilen ekstrak kulit

pisang pada tanaman karet klon Quick Starter, berbeda nyata dalam

menghasilkan produksi lateks.

2. Tanaman karet klon Quick Starter klon PB 260 yang diaplikasikan

stimulan etilen ekstrak kulit pisang berbeda nyata dengan klon IRR 118

dalam menghasilkan produksi lateks pada waktu aplikasi yang berbeda.

3. Pemberian stimulan etilen ekstrak kulit pisang pada tanaman karet klon

Quick Starter dalam waktu aplikasi yang berbeda berpengaruh tidak nyata

dalam meningkatkan produksi lateks.

Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan waktu aplikasi

pada awal atau menjelang musim penghujan untuk mengetahui

kekonsistenan produksi lateks.

2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan berbagai klon

Quick Starter lainnya atau klon Slow Starter pada tanaman karet.

3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan aplikasi stimulan etilen ekstrak

kulit buah pisang dengan menggunakan jarak konsentrasi perlakuan yang

(62)

Botani Tanaman

Klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut Divisi: Spermatophyta,

Subdivisi: Angiospermae, Kelas: Monocotyledoneae, Ordo: Euphorbiales, Famili:

Euphorbiaceae, Genus: Hevea, Spesies: Hevea brassiliensisMuell.Arg.

(Steenis et al ., 2005).

Tanaman karet adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai 40 meter

dan mencapai umur 100 tahun. Warna permukaan batangnya abu-abu dan halus

(Webster and Paardekooper, 1990 dalam Lizawati, 2002).

Syarat Tumbuh Iklim

Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah antara 150 LS dan 150 LU.

Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4000

mm/tahun, dengan hari hujan berkisar antara 100 sampai 150 Hari hujan/tahun. Suhu

harian yang diinginkan tanaman karet antara 250 sampai 300C. Tanamam karet

tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 sampai 600 meter diatas

permukaan laut (Siregar, 2012).

Tanah

Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah

vulkanis maupun alluvial. Pada tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik

terutama struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainase, tetapi sifat

(63)

Klon tanaman Karet

Klon adalah tanaman yang didapat dari hasil perbanyakan vegetatif atau

aseksual. Kelebihan klon antara lain tumbuhnya tanaman lebih seragam, umur

produksinya lebih cepat, dan jumlah lateks yang dihasilkan lebih banyak. Akan

tetapi, klon juga memiliki kekurangan seperti daya tahan terhadap hama penyakit

tidak sama, serta lingkungan mempengaruhi pertumbuhan klon (Setiawan, 2013).

Dengan menggunakan prinsip diagnosis lateks (LD), maka pengelompokan

klon di Indonesia telah dilaksanakan sejak tahun 2001. Hasil pengelompokan tersebut

diperoleh 27 klon metabolisme tinggi, 11 klon metabolisme sedang, dan 10 klon

metabolisme rendah (Sumarmadji, 2002).

Klon metabolisme tinggi yang telah diuji ada 27 klon yaitu PB 235, PB 260,

PB 280, PB 340, RRIM 712, IRR 1, IRR 2, IRR 3, IRR 4, IRR 5, IRR 6, IRR 7, IRR

8, IRR 10, IRR 103, IRR 104, IRR 105, IRR106, IRR 107, IRR 109, IRR 110, IRR

111, IRR 112, IRR 117, IRR 118, IRR 119, DAN IRR 120. Klon metabolisme sedang

yang telah diuji ada 11 klon yaitu GT 1, BPM 1, BPM 24, PR 255, PR 261, PR 300,

PB 330, RRIC 100, RRIC 110, RRIM 717, dan IRR 9. Adapun klon metabolism

rendah yang telah diuji ada 10 klon yaitu AVROS 2037, BPM 107, BPM 109, PB

217, RRIC 102, PR 303, TM 2, TM 6, TM 8, TM 9. Klon lain yang perlu segera diuji

adalah IRR 5, IRR 21, IRR 32, IRR 39, dan IRR 42 (Sumarmadji, 2001).

Klon metabolisme tinggi tidak memerlukan intensitas eksploitasi yang tinggi,

(64)

(PTP Nusantara III, 2005).

Klon PB 260 merupakan klon anjuran komersial penghasil lateks. Klon PB

260 tergolong tahan terhadap penyakit daun utama (Corynespora, Colletotrichum, dan

Oidium), tetapi kurang tahan terhadap angin. Karakteristik klon PB 260 adalah

pertumbuhan lilit batang pada saat tanaman belum menghasilkan sedang. Potensi

produksi awal cukup tinggi dengan rata-rata produksi aktual 2107 kg/ha/tahun selama

9 tahun penyadapan dan tidak respon terhadap stimulan. Lateks berwarna putih

kekuningan. Pengembangan tanaman dapat dilakukan pada daerah beriklim sedang

dan basah (Woelan, et al,2000).

Klon tanaman karet IRR 118 merupakan klon metabolisme tinggi yang

dihasilkan oleh Pusat Penelitian Karet Sungai Putih. Klon tersebut merupakan klon

yang memiliki respon sedang terhadap stimulan, ketahanan terhadap angin sangat

baik, dan ketahanan terhadap penyakit kering alur sadap baik. Klon IRR 118

memiliki pertumbuhan cepat dan produksi karet kering rata- rata 2057 kg/ha/th

(Woelan et al, 2006).

Penyadapan Karet

Terdapat beberapa kriteria dalam pemanenan karet, hal tersebut berhubungan

dengan umur tanaman dan pengukuran lilit batang, yaitu tanaman karet siap disadap

pada umur sekitar 5-6 tahun. Pohon karet dinyatakan matang sadap apabila lilit

(65)

Faktor manajemen yang paling berpengaruh terhadap produktivitas klon

adalah sistem sadap. Untuk menggali potensi produksi secara optimal, diperlukan

dukungan teknologi eksploitasi yang tepat, sesuai dengan karakter fisiologi klon

(Kuswanhadi et al., 2009). Penyadapan yang tidak berdasarkan kepada kemampuan

fisiologi klon menyebabkan terjadinya penyadapan berlebihan (over exploitation)

ataupun kekurangan (under exploitation) karena belum tergalinya potensi produksi

(Siregar et al., 2008)

Sistem sadap yang sering diterapkan terdiri atas dua yakni perlakuan pertama

yang menggunakan sistem sadap setengah lingkaran tanpa stimulan dengan interval

penyadapan dua hari sekali (S/2 d2) dan sistem sadap dengan aplikasi stimulan 2,5%

setengah lingkaran dengan interval penyadapan tiga hari sekali (S/2 d3.ET2.5%

18/y(2w)) ( Junaidi, 2012)

Stimulan Etilen

Etilen adalah salah satu hormon yang mempengaruhi proses pertumbuhan

tanaman dan pematangan buah terutama buah yang tergolong klimaterik, respon

terhadap cekaman biotik dan abiotik, mempengaruhi proses perkecambahan biji, serta

pemanjangan akar tanaman dan mempengaruhi lama aliran lateks pada tanaman karet

(Bleecker et al., 2000).

Tanaman karet umumnya memiliki respon terhadap pemberian stimulan

(66)

Bahan aktif etephon yang biasa dipakai untuk stimulan mengeluarkan gas

etilen (C2H4) yang jika diaplikasikan akan meresap ke dalam pembuluh lateks. Gas

tersebut menyerap air dari sel-sel yang ada di sekitarnya dalam pembuluh lateks.

Penyerapan air ini menyebabkan tekanan turgor naik yang diiringi dengan derasnya

aliran lateks (Setiawan dan Andoko, 2008).

Keluarnya lateks adalah dengan adanya tekanan pada pembuluh lateks sebagai

akibat adanya tekanan turgor, yaitu tekanan pada dinding sel oleh isi sel.Semakin

banyak isi sel semakin besar tekanan pada dinding sel atau turgor. Dengan semakin

besarnya turgor ini semakin besar tekanan pada pembuluh lateks dan semakin banyak

lateks yang keluar melalui pembuluh lateks. (Balai Penelitian Sembawa, 2010).

Peningkatan frekuensi stimulan atau konsentrasi stimulan dapat dilakukan

dalam upaya merealisasikan produksi optimal, bukan produksi maksimal yang sering

kali identik dengan over-tapping. Karena setiap satuan stimulan hanya akan efektif

pada klon-klon yang responnya tinggi terhadap stimulan. Pemberian stimulan yang

berlebihan tidak akan meningkatkan produksi, bahkan sebaliknya akan merugikan

kesehatan tanaman yang ditandai dengan Kering Alur Sadap (KAS) ( Siregar et al.l

2009).

Stimulasi lateks umumnya diapliksikan pada tanaman karet yang telah dewasa

dengan tujuan untuk mendapatkan kenaikan hasil lateks sehingga diperoleh tambahan

keuntungan bagi pengusaha perkebunan karet. Pemberian stimulan tanpa menurunkan

(67)

intensitas rendah (S/2 d3.ET2.5% 18/y(2w)) (Sainoi, 2012)

Umur Tanaman menentukan efektivitas penggunaan stimulan gas etilen.

Tanaman yang masih muda umumnya kurang efektif apabila digunakan stimulan gas

etilen. Pengaruh penggunaan stimulan terhadap peningkatan tanaman muda hanya

sekitar 10%. Disamping itu, tanaman yang masih muda relative kurang tahan

terhadap stimulant gas etilen, sehingga setelah 3 – 5 tahun penggunaan stimulant gas

etilen kekeringan alur sadap (KAS) dapat mencapai 5 kali lipat. Dengan demikian

aplikasi stimulant sebaiknya diberikan pada tanaman berumur sekitar 15 tahun

(Karyudi, 2006).

Aplikasi stimulant gas etilen tidak memberi dampak negatif berupa penurunan

produksi apabila prosedur aplikasinya benar dan kesehatan tanaman dijaga. Selain

diterapkan secara selektif pada tanaman yang potensial dan sehat, juga diperlukan

strategi berupa penerapan sistem sadap yang tepat, prosedur pemasangan aplikator

stimulant gas yang benar, dan pemenuhan pupuk sesuai kebutuhan tanaman (Rouf,

et.al. 2015)

Kenaikan produksi lateks yang tinggi ketika menggunakan stimulan gas etilen

tidak selamanya dipandang positif. Hingga saat ini, ada kekhawatiran bahwa

peningkatan produksi lateks hanya terjadi sesaat saja, dan pada tahap lanjut

dikhawatirkan tanaman mengalami kering alur sadap. Penggunaan stimulan yang

tidak sesuai dengan karakter fisiologis tanaman memang dapat menurunkan

(68)

2009)

Stimulan Etilen Ekstrak Kulit Pisang

Pisang tergolong buah klimaterik, ditandai dengan peningkatan CO2 secara

mendadak, yang dihasilkan selama pematangan. Klimaterik adalah suatu periode

mendadak yang khas pada buah-buahan tertentu, dimana selama proses tersebut

terjadi serangkaian perubahan biologis yang diawali dengan proses pembentukan

etilen, hal tersebut ditandai dengan terjadinya proses pematangan (Syarief,1988).

Etilen adalah suatu senyawa kimia yang mudah menguap yang dihasilkan

selama proses masaknya hasil pertanian terutama pada buah-buahan dan

sayur-sayuran. Pada hasil-hasil pertanian klimaterik, produksi etilen sangat efektif selama

fase permulaan klimaterik (Hadiwiyo dan soehardi, 1981).

Buah klimaterik menghasilkan lebih banyak etilen pada saat matang. Etilen

pada buah klimaterik dapat mempercepat proses pematangan serta tingkat

kematangan yang seragam. Pada buah-buahan klimaterik, produksi etilen cenderung

untuk naik secara bertahap sesudah panen (Sakti, 2008).

Produksi etilen selama proses pemasakan pada buah klimaterik naik

perlahan-lahan sampai mencapai puncak tingkat kematangan. Contohnya pada buah pisang,

produksi etilen naik pada enam hari pertama kemudian sedikit menurun sampai

tingkat kematang yang optimal ( Wills, 1982 ).

Pada buah pisang yang masih hijau, selama pengamatan produksi etilen naik

(69)

dan adanya mikroorganisme yang terdapat pada buah. Kedua faktor ini dapat

meningkatkan produksi etilen dan akhirnya akan mempercepat proses pemasakan

karena hormon tersebut (Nurjanah, 2002).

Macam-macam hasil tanaman dengan konsentrasi etilen pada

stadiumpertumbuhan /perkembangan yang berbeda

Macam Hasil Tanaman Kandungan Etilen (ppm)

Buah apel 0,2 – 1000

Buah alpukat 0,5 – 500

Buah pisang 0,2 – 50

Buah lemon (jeruk lemon) 0,11 – 0,17

Buah mangga 0,04 – 3,0

Buah jeruk 0,13 – 0,32

Buah persik 0,9 – 21

Buah per 0,1 – 300

Buah nenas 0,16 – 0,40

Buah prem 0,14 – 0,23

Buah labu 0,04 – 2,1

Figur

Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap Berat Lateks (g) seluruh penyadapan
Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap Berat Lateks g seluruh penyadapan. View in document p.15
Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi terhadap kadar padatan total (%) seluruh penyadapan
Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi terhadap kadar padatan total seluruh penyadapan. View in document p.15
Tabel rataan perlakuan klon tanaman karet terhadap Berat Lateks (g) seluruh penyadapan
Tabel rataan perlakuan klon tanaman karet terhadap Berat Lateks g seluruh penyadapan. View in document p.15
Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi terhadap Berat Lateks (g) seluruh penyadapan. Waktu Aplikasi
Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi terhadap Berat Lateks g seluruh penyadapan Waktu Aplikasi . View in document p.15
Tabel rataan perlakuan klon tanaman karet terhadap kadar padatan total (%) seluruh penyadapan
Tabel rataan perlakuan klon tanaman karet terhadap kadar padatan total seluruh penyadapan . View in document p.16
Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi total produksi (gr/cm/sadap) seluruh penyadapan
Tabel rataan perlakuan waktu aplikasi total produksi gr cm sadap seluruh penyadapan. View in document p.16
Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap total produksi (gr/cm/sadap) seluruh penyadapan
Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap total produksi gr cm sadap seluruh penyadapan. View in document p.16
Tabel rataan perlakuan klon tanaman karet terhadap total produksi (gr/cm/sadap) seluruh penyadapan
Tabel rataan perlakuan klon tanaman karet terhadap total produksi gr cm sadap seluruh penyadapan . View in document p.16
Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap kadar padatan total (%) seluruh penyadapan Stimulan
Tabel rataan perlakuan stimulan hormon etilen terhadap kadar padatan total seluruh penyadapan Stimulan . View in document p.16
Gambar 2. Pengamatan di lapangan
Gambar 2 Pengamatan di lapangan . View in document p.22
Gambar 3. Pengamatan Data Kadar Padatan Total (TSC) Lateks
Gambar 3 Pengamatan Data Kadar Padatan Total TSC Lateks . View in document p.23
Gambar 4. Penelitian Pendahuluan Titrasi Ekstrak Kulit Pisang Kepok
Gambar 4 Penelitian Pendahuluan Titrasi Ekstrak Kulit Pisang Kepok . View in document p.24
Gambar 5. Supervisi Dosen Pembimbing dan Dosen Pembimbing Lapangan
Gambar 5 Supervisi Dosen Pembimbing dan Dosen Pembimbing Lapangan . View in document p.25
Gambar 1. Peta penelitianRancangan Tersarang Tiga Langkah (Nested Design Three Steps) yang digunakan sebagaiberikut :
Gambar 1 Peta penelitianRancangan Tersarang Tiga Langkah Nested Design Three Steps yang digunakan sebagaiberikut . View in document p.32
Tabel 4.Rataan perlakuan stimulant etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks (g) penyadapan keduadangan frekuensi penyadapan d/3 Berat Lateks Penyadapan II (g)
Tabel 4 Rataan perlakuan stimulant etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks g penyadapan keduadangan frekuensi penyadapan d 3 Berat Lateks Penyadapan II g . View in document p.40
Tabel 6.Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks (g) penyadapan ketiga dengan frekuensi penyadapan d/3
Tabel 6 Rataan perlakuan stimulan etilen ekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap berat lateks g penyadapan ketiga dengan frekuensi penyadapan d 3 . View in document p.42
Tabel 14. Rataan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap produksi lateks (g/cm/sadap) penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3 Produksi Penyadapan I (g/cm/sadap)
Tabel 14 Rataan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap produksi lateks g cm sadap penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d 3 Produksi Penyadapan I g cm sadap . View in document p.50
Tabel 16. Rataan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap produksi lateks (g/cm/sadap) penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d/3)
Tabel 16 Rataan perlakuan stimulan etilenekstrak kulit pisang dan waktu aplikasi terhadap produksi lateks g cm sadap penyadapan pertama dangan frekuensi penyadapan d 3 . View in document p.52

Referensi

Memperbarui...