Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun) di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan

102  19  Download (0)

Teks penuh

(1)

Kode :

Lembar Persetujuan Menjadi Responden Penelitian

Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun) di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan

Saya yang bernama Maya Ardilla Siregar/ 091101057 adalah mahasiswa jalur A Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Saat ini saya sedang melakukan penelitian mengenai “Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun) di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan”. Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Untuk keperluan tersebut, saya mohon kesediaan saudara untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Selanjutnya saya mohon kesediaannya untuk mengisi kuesioner dengan jujur dan apa adanya. Jika bersedia, silahkan menandatangani lembar persetujuan ini sebagai bukti kesukarelaan.

Partisipasi saudara dalam penelitian ini bersifat suka rela, sehingga saudara bebas untuk mengundurkan diri setiap saat tanpa ada sanksi apapun. Identitas pribadi saudara dan semua informasi yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya akan digunakan untuk keperluan penelitian ini.

Terima kasih atas partisipasi saudara dalam penelitian ini.

Medan, Februari 2013 Peneliti Responden

(2)

KUISIONER PENELITIAN

Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun) di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan

A. Data Demografi

1. Nomor Responden : (diisi peneliti)

2. Jenis Kelamin : ( ) Laki-laki ( )Perempuan

3. Usia : ( ) tahun

4. Pengalaman masuk rumah sakit : ( ) Belum pernah

( ) Sudah pernah : ( sebutkan berapa kali) 5. Lama dirumah sakit :

( ) 1 hari ( ) 2 hari

( ) 3 hari ( ) lebih dari 3 hari 6. Kedudukan dalam keluarga :

( ) Anak sulung ( ) Anak Tengah ( ) Anak bungsu 7. Diagnosa Penyakit :

(3)

B. Kuisioner Komunikasi Terapeutik Perawat

Petunjuk Pengisian :

1. Bacalah baik-baik setiap item pernyataan dibawah ini

2. Jawablah pernyataan di bawah ini dengan menggunakan tanda cek list (√) pada kolom jawaban di bawah ini.

Dengan Keterangan : SL : Selalu SR : Sering

KK : Kadang-kadang TP : Tidak Pernah

No. Komunikasi Terapeutik Perawat

Jawaban

SL SR KK TP

1.

2.

3.

4.

5.

Perawat memberikan salam dan tersenyum setiap bertemu dengan saya.

Ketika pertama kali bertemu dengan perawat, perawat mengajak saya berkenalan.

Perawat meminta izin ketika ingin menyentuh/ memeriksa saya.

(4)

6.

Ketika Berbicara, Jarak perawat dengan saya membuat saya merasa nyaman dan tidak takut Perawat memperhatikan kebutuhan saya, perawat menanyakan perasaan saya apakah saya cemas, takut, nyeri atau tidak mengerti.

Perawat tidak pernah marah-marah kepada saya saat saya tidak menuruti apa yang perawat katakan (perintahkan), Misalnya: Minum Obat. Perawat mengajak saya bercerita dan bermain ketika saya merasakan sakit atau bosan.

Perawat berbicara dengan nada yang wajar (sopan, lembut, ramah) ketika menjelaskan tujuan tindakan perawatan kepada saya.

Perawat membungkuk kearah saya, atau duduk sejajar saya ketika mendengar pesan yang saya sampaikan.

Perawat tidak melipat tangan dan kakinya ketika mendengarkan saya berbicara.

Perawat menatap mata saya ketika saya berbicara kepadanya.

Perawat memberi tanggapan dengan cepat ketika saya menyampaikan keluhan, ketika saya mengatakan sakit yang saya alami.

(5)

15. 16.

Perawat memberi saya semangat untuk sembuh. Perawat meminta saya melakukan sesuatu dengan lembut, tidak memerintah saya dengan kasar. Misalnya: Adik.. Buka bajunya ya…

C. Kuisioner Tingkat Stres Hospitalisasi Anak

Gejala Stres Hospitalisasi

Jawaban

SL SR KK TP

Sejak Saya dirawat di rumah sakit, Saya mengalami hal-hal dibawah ini:

1. Mengompol 2. Menggigit kuku 3. Menghisap ibu jari

4. Jadi suka menangis (mudah menangis) (karena sakit, cemas, marah, cemburu)

5. Suka marah-marah karena tidak bisa makan makanan yang saya suka dan hanya tidur di tempat tidur, semua diluar kendali saya.

6. Tidak mau bicara dengan orang lain. 7. Tidak nafsu makan.

8. Merasa Sulit tidur.

(6)

10.Tidak semangat. 11.Sering sakit kepala.

12.Merasa cemas ditinggalkan orangtua saya (orang terdekat saya)

13.Merasa cemas teman-teman saya akan melupakan saya.

14.Merasa bosan dan kesepian karena tidak bisa bermain dengan teman-teman saya.

15.Merasa tidak berarti karena penyakit saya semua orang melupakan saya.

16.Takut dengan dokter dan perawat yang memeriksa saya.

17.Takut dengan lingkungan rumah sakit seperti: tempat tidur, kursi roda, tiang infuse, stetoskop, thermometer, suntik dan lain-lain.

18.Merasa bersalah dengan kondisi saya saat ini.

19.Menolak tindakan yang dilakukan dokter dan perawat kepada saya, misalnya: suntik, minum obat dan lain-lain.

(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)

Anggaran Biaya Penelitian

Pembuatan proposal

Izin survey awal Rp. 200.000 Biaya Print Rp. 50.000 Foto copy sumber-sumber tinjauan

pustaka

Rp. 50.000

Perbanyak proposal Rp. 30.000 Biaya internet Rp. 100.000 Pengumpulan

data

Izin penelitian (3 bulan) Rp. 600.000 Transportasi Rp. 120.000 Penggandaan kuesioner

(74 x Rp.600,-)

Rp. 44.400

Pembelian Souvenir Rp. 126.000 Analisis data Biaya print Rp. 100.000

Penjilidan Rp. 200.000 Penggandaan laporan penelitian Rp. 100.000

(14)
(15)
(16)

DAFTAR JADWAL KONSUL

Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun) di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan

Nama : Maya Ardilla Siregar NIM : 091101057

HP : 083197440598

No.

Tanggal Materi Konsul Saran Paraf

01. Konsul perbaikan bab I & II

Konsul bab III dan IV Serta kuisioner

Konsul perbaikan bab I, II, III, IV dan kuisioner Konsul perbaikan bab IV Konsul perbaikan propo-sal

Konsul perbaikan propo-sal bab I-IV

Konsul bab V dan VI

Konsul perbaikan bab IV, V, dan VI

Judul Acc

Penyelesaian bab I

-

Disarankan di Pirngadi dan pada anak usia sekolah

Perbaiki bab I dan II sesuai saran Perbaiki sesuai saran

Perbaiki sesuai saran

Acc

Perbaiki sesuai saran

Perbaiki kata-kata proposal seperti: “akan”.

Kelompokkan penyakit agar tidak terlalu banyak

Pada hasil, membaca hasil analisa hanya yang maksimalnya saja.

Perbaiki cara penulisan judul tabel. Tuliskan keterbatasan penelitian pada pembahasan

Perbanyak jurnal/penelitian yang bisa mendukung pada pembahasan.

Perbaiki kembali bab IV, masih terdapat kata-kata proposal, pada

(17)

11.

12.

17 Juli 2013

18 Juli 2013

Konsul perbaikan bab IV Konsul Abstrak

Konsul abstrak

teknik pengumpulan data, tulis sesuai apa yang dialami saat pengumpulan data.

Pada pembacaan hasil, gunakan kata yang umum agar tidak ada kata yang berulang.

Buat abstrak

Perbaiki penulisan tabel.

Perbaiki abstrak, tuliskan hasil data demografinya.

(18)

Reliability

[DataSet1] D:\OUTPUT DATA TERBARU\Data relib fix kom ter allahu akbar.sav

Scale: ALL VARIABLES

a. Listwise deletion based on all variables in the

(19)

Item-Total Statistics

Scale Mean if

Item Deleted

Scale Variance if

Item Deleted

Corrected

Item-Total Correlation

Cronbach's

Alpha if Item

Deleted

q1 52.4000 24.042 -.181 .802

q2 52.7500 19.882 .334 .789

q3 52.5000 19.421 .698 .754

q4 52.5500 17.945 .754 .742

q5 52.4500 21.418 .601 .771

q6 52.4500 24.261 -.223 .806

q7 53.3000 20.116 .355 .784

q8 52.6500 19.713 .677 .757

q9 54.8000 21.747 .330 .782

q10 52.4000 19.937 .865 .752

q11 53.3000 22.958 .096 .795

q12 52.4000 19.937 .865 .752

q13 52.6500 20.239 .480 .770

q14 52.8000 19.853 .372 .783

q15 52.6500 21.292 .253 .791

q16 52.4500 23.629 -.049 .799

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

(20)

Reliabilitas Stres Hospitalisasi

a. Listwise deletion based on all variables in the

(21)
(22)

Nonparametric Correlations

[DataSet1] D:\OUTPUT DATA TERBARU\DATA SPSS TERBARU.sav

Correlations

KomunikasiTerape

utikPerawat

StressHospitalisasi

AnakUsiaSekolah

Spearman's rho KomunikasiTerapeutikPerawat Correlation Coefficient 1.000 -.138

Sig. (2-tailed) . .320

N 54 54

StressHospitalisasiAnakUsiaSek

olah

Correlation Coefficient -.138 1.000

Sig. (2-tailed) .320 .

N 54 54

(23)

Riwayat Hidup

Nama : Maya Ardilla Siregar Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 27 September 1991

Alamat : Jl. Binjai Km. 15 Pasar IV Gg. Bersama Diski Riwayat Pendidikan :

1. 1996-1997 : TK Tsamiatun Hasanah Diski

2. 1997-2003 : SD Negeri 101738 Sumber Melati Diski 3. 2003-2006 : SMP Negeri 1 Sunggal

(24)
(25)

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, dkk. (2003). Teori dan Manajemen Stress: Kontemporer dan Islam. Malang: Taroda.

Aidar, Nur. (2011). Hubungan Peran Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun) Yang Mengalami Hospitalisasi Di Ruang III Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Repository USU. Diperoleh pada tanggal 10 Juli 2013 pukul 22.30, dari handle/123456789/27095

Arwani. (2002). Komunikasi dalam Keperawatan. Jakarta:EGC.

Damaiyanti, Mukhripah. (2008). Komunikasi Terapeutik dalam Praktek Kepera-watan. Samarinda: Refika Aditama.

Danim, Sudarwan. (2003). Riset Keparawatan: Sejarah dan Metodologi. Jakarta: EGC.

Demsey, Patricia Ann dan Arthur D. Demsey. (2002). Rsiet Keperawatan: Buku Ajar dan Latihan. Jakarta: EGC.

Edi Susanto, Nurkholis. (2008). Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kecemasan Pasien Gangguan Kardiovaskular yang Pertama Kali di Rawat di ICCU RSU Tugurejo Tahun 2008. Jurnal Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang. Diperoleh tanggal 24 November 2012, dari http://jurnal.unimus.ac.id/ index.php/FIKkeS/article/view/157.

Harlianty, Nia. (2009). Hubungan Antara Komunikasi Terapeutik Perawat-Pasien dengan Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Rumah Sakit Al Islam Bandung. Fikom Universitas Padang. Diperoleh tanggal 25 November 2012, dari http://lib.fikom.unpad.ac.id/digilib/ gdl.php?mod=browse&op= read&id=jbptunpadfikom-gdl-niaharlian-2629.

Hidayat, Aziz Alimul. (2007). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah (Ed. 2). Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, Aziz Alimul. (2009). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, Aziz Alimul. (2009). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

(26)

tanggal 16 Juli 2013, dari

Laela, Nur. (2008). Faktor-Faktor yang mempengaruhi Tingkat Stres pada Anak Usia Sekolah Dasar yang Sibuk dan Tidak. Repository Institut Pertanian Bogor. Diperoleh tanggal 26 November 2012, dari http://repository.ipb. ac.id/bitstream/handle/123456789/2550/A08nla_abstract.pdf?sequence=1. Mulyono, Ady Eko. 2008. Pegaruh Terapi bermain terhadap Tingkat Stres

Hospitalisasi Pada Anak Usia Todler Studi di Ruang Empu Tantular RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Repository Universitas Muhammadiyah Malang. Diperoleh tanggal 14 Juli 2013 pukul 12.05, dari http:// digilib.umm.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptummpp-gdl-s12 008adyekomuly14588&PHPSESSID=42d6ee65b827a38f44956092d28ba9 85.

Mundakir. (2006). Komunikasi Keperawatan Aplikasi dalam Pelayanan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

dengan Respon Cemas Anak Usia Sekolah terhadap Pemasangan Intravena di Rumah Sakit Advent Medan. Diakses dari

Nasir, Abdul.dkk. (2009). Komunikasi dalam Keperawatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.

Notoadmodjo, Soekodjo. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Nuryanti, Lusi. (2008). Psikologi Anak. Jakarta: PT.Indeks.

Potter, Patricia A dan Anne Griffin Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik (Edisi 4 Vol.1). Jakarta: EGC. Polit, D.F., Beck, C.T., & Hungler, B.P. (2001). Essentials of Nursing Research:

Method, Apprasial, and Utilization. Lippincot: William & Wilkins. Rasmun. (2004). Stres, Koping dan Adaptasi. Jakarta: Sagung Seto.

Salman, Nur. (2010). Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Haji Medan 2010. RepositoryUniversitas Sumatera Utara. Diperoleh pada tanggal 22 Oktober 2012, dari http:// repository.usu.ac.id/.Skripsi.

Setiadi.(2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

(27)

Solikhah, Umi.2011. Pengaruh Therapeutic Peer Play terhadap kecemasa dan kemandirian Anak Usia Sekolah Selama Hospitalisasi di Rumah Sakit Wilayah Banyumas. Di akses dari 14.00.

Sudjana, M.A.(1992).Metode Statistika Edisi kelima. Bandung: Tarsito.

Supartini, Yupi. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.

Suryani, S.Kp, MHSc. (2005). Komunikasi Terapeutik Teori & Praktek. Jakarta: EGC.

Tamsuri, Anas. (2005). Buku Saku Komunikasi dalamKeperawatan. Jakarta: EGC.

Tarwoto dan Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

(28)

34

BAB 3

KERANGKA KONSEP

3.1Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah. Berdasarkan tinjauan pustaka, selama proses hospitalisasi, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh stres (Supartini, 2004). Menurut Wong (2008), stresor utama yang dialami anak ketika dihospitalisasi berupa perpisahan, kehilangan kendali, cedera tubuh dan nyeri. Lingkungan baru dan asing, pengalaman yang menyakitkan dengan petugas, prosedur tindakan keperawatan, diagnotik dan terapi, berpisah dengan orang tua dalam arti sementara. Kondisi ini akan menyebabkan anak mengalami kecemasan (Rasmun, 2004). Karena cemas tersebut sehingga akan meningkatkan stres anak. Akibat dari stres tersebut anak akan menunjukkan respon yang berbeda-beda, berbagai perasaan akan muncul mulai dari sedih, takut, sampai penolakan. Anak usia sekolah memiliki peningkatan kekhawatiran terhadap integritas tubuhnya, anak menjadi sangat sensitif terhadap segala sesuatu yang dianggap mengancam atau menjadi indikasi timbulnya cedera pada tubuhnya (Potter & Perry, 2005). Anak usia sekolah mulai menunjukkan kekhawatiran terhadap kemungkinan efek menguntungkan dan merugikan suatu prosedur, ingin tahu untuk apa, bagaimana, dan apa yang terjadi pada tubuh mereka ketika prosedur itu dilakukan. Sehingga dengan komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat mengurangi kekawatiran

(29)

35

anak. Misalnya, ketika melakukan suatu intervensi, perawat berkomunikasi terlebih dahulu, dan menjelaskan semua prosedur dan manfaat intervensi tersebut pada anak. Dengan demikian akan terbina hubungan saling percaya, sehingga anak akan merasa nyaman selama hospitalisasi. Komunikasi terapeutik ini diharapkan akan menurunkan tingkat stres hospitalisasi yang dialami anak usia sekolah, sehingga menurut teori Johnson jika stres diturunkan maka klien akan mudah dalam melewati masa penyembuhannya.

Skema 3.1 Kerangka konsep penelitian ini adalah hubungan komunikasi

terapeutik perawat dengan tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah (6-12 tahun) di ruang III RSUD dr. Pirngadi Medan.

Tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah meliputi:

1. Stres Ringan 2. Stres Sedang 3. Stres Berat Komunikasi terapeutik perawat selama

(30)

36

3.2Defenisi Operasional

Tabel 3.1 Defenisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Komunikasi terape-utik perawat selama hospitalisasi anak usia sekolah (6-12 tahun) yang di rawat di RSUD dr. usia sekolah di rawat di RSUD Dr. Pirngadi Medan, yang sesuai dengan cara

komunikasi yang terapeutis pada anak.

Instrumen berupa kuisioner, yang jumlah pertanyaan terdiri dari dari 19 pertanyaan.

(31)

37

dr.Pirngadi Medan. yang dinilai berdasarkan gejala atau tanda stres pada anak usia sekolah

Hipotesa dalam suatu penelitian itu ada 2 yaitu hipotesa alternatif menyatakan adanya hubungan antarvariabel sedangkan hipotesa nol menyatakan tidak ada hubungan antarvariabel (Alimul, 2007). Hipotesis alternatifnya (Ha) ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah. Hipotesis nolnya (Ho), tidak ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah.

(32)

38

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1Desain Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi. Menurut Notoatmodjo (2002), deskriptif korelasi yaitu suatu jenis penelitian yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara suatu variabel dengan variabel lain dengan mengidentifikasi kedua variabel yang ada pada responden yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antara kedua variabel tersebut.

Pada penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komunikasi terapeutik perawat dan tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah serta mengidentifikasi hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah yang di rawat di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.

4.2Populasi dan Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak usia sekolah yang dirawat inap (mengalami hospitalisasi) di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan. Berdasarkan rekam medik RSUD Dr. Pirngadi Medan pada Januari-Desember 2011 terdapat 738 pasien anak usia sekolah yang di rawat inap di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.

(33)

39

4.2.2 Sampel dan Teknik Penelitian

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Alimul, 2007). Penentuan jumlah sampel penelitian didasarkan pada rumusan slovin (Notoatmodjo, 2002) dimana untuk populasi kecil atau lebih dari 10.000, dapat menggunakan rumus yang lebih sederhana yaitu sebagai berikut:

�= �

�+� (��)

Keterangan:

N = Besar populasi n = Besar sampel

d = Tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan

Jadi, sampel pada penelitian ini berjumlah 54 pasien anak (53,30).

Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu purposive sampling yaitu setiap responden yang memenuhi kriteria sampel

dimasukkan dalam penelitian ini dalam waktu yang telah ditentukan (Nursalam, 2001)

Adapun kriteria sampel pada penelitian ini adalah: 1. Anak usia sekolah, berusia 6-12 tahun yang di rawat inap di Ruang III RSUD

dr. Pirngadi Medan. 2. Dalam keadaan sadar 3. Bisa berkomunikasi

(34)

40

4.3Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan dengan pertimbangan rumah sakit ini memiliki jumlah sampel anak usia sekolah yang relatif banyak sehingga memenuhi kriteria sampel yang diinginkan peneliti. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April sampai bulan Juli 2013.

4.4Pertimbangan Etik Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mengajukan permohonan izin kepada institusi Fakultas Keperawatan USU, dan kemudian mengajukan permohonan izin kepada Direktur RSUD Dr.Pirngadi Medan, tempat penelitian dilakukan. Setelah memperoleh persetujuan, peneliti meminta izin kepada kepala SMF Anak ruang III Dr. Pirngadi Medan dan meminta izin kepada kepala ruangan ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan. Setelah mendapat persetujuan, peneliti melakukan penelitian dengan memperhatikan pertimbangan etik yang meliputi lembar persetujuan penelitian, kerahasiaan identitas responden dan kerahasiaan informasi.

1. Lembar persetujuan penelitian (Informed Consent)

Informed Consent diberikan kepada responden, yaitu lembar persetujuan

untuk menjadi responden. Sebelumnya peneliti memperkenalkan diri terlebih dahulu, kemudian peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian dan menjelaskan prosedur penelitian. Setelah itu peneliti menanyakan kesediaan responden untuk menjadi sampel dalam penelitian ini. Jika responden bersedia maka responden diminta untuk menandatangani informed consent tersebut. Namun, jika responden menolak untuk berpartisipasi dalam penelitian maka peneliti tidak akan memaksa dan menghormati hak responden.

(35)

41

2. Anonimity (Tanpa Nama)

Anonimity bertujuan untuk menjaga kerahasiaan responden. Peneliti

tidak mencantumkan nama responden, tetapi peneliti hanya menuliskan kode (inisial) sebagai pengganti nama responden yang hanya diketahui oleh peneliti saja.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti dan hanya kelompok data tertentu saja yang dilaporkan sebagai hasil penelitian.

4.5Instrumen Penelitian

Sesuai dengan permasalahan dan variabel yang diteliti, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini disusun oleh peneliti dengan mengacu kepada tinjauan pustaka. Instrumen penelitian berupa kuesioner terdiri dari 3 bagian yang berisi data demografi, kuesioner untuk komunikasi terapeutik perawat dan kuesioner untuk tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi.

4.5.1 Data Demografi

(36)

42

4.5.2 Kuisioner Komunikasi Terapeutik Perawat

Bagian yang kedua berupa kuesioner komunikasi terapeutik perawat selama proses hospitalisasi anak. Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari empat subvariabel, dimana terdiri dari 16 pernyataan, kuesioner dalam penelitian ini dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan tinjauan pustaka yaitu cara berkomunikasi yang terapeutik pada anak. Cara pengisian lembar kuesioner adalah dengan menggunakan cek list pada tempat yang tersedia. Penilaian menggunakan skala Linkert, Kuesioner ini mempunyai 4 pilihan jawaban yaitu Selalu (SL) dengan nilai 4, Sering (SR) nilai 3, Kadang - Kadang (KK) dengan nilai 2 dan Tidak Pernah (TP) dengan nilai 1. Maka untuk komunikasi terapeutik perawat selama proses hospitalisasi anak di RSUD Dr. Pirngadi Medan diperoleh nilai tertinggi 64 dan nilai terendah 16. Total skor adalah 16-64. Semakin tinggi jumlah skor maka komunikasi terapeutik perawat semakin baik. Berdasarkan rumus statistik (Sudjana, 1992):

� = �������

�����������

dimana p merupakan panjang kelas, dengan rentang (nilai tertinggi dikurang nilai terendah) sebesar 48 dan banyak kelas dibagi atas 4 kategori kelas untuk komunikasi terapeutik perawat (kurang, cukup, baik dan sangat baik), maka akan diperoleh panjang kelas sebesar 12.

Dengan p = 12 dan nilai terendah 16 sebagai batas bawah kelas interval pertama, maka komunikasi terapeutik perawat dikategorikan atas kelas interval sebagai berikut:

16-27 : keterampilan kurang 28-39 : keterampilan cukup

(37)

43

40-51 : keterampilan baik

52-64 : keterampilan sangat baik

4.5.3 Kuisioner Tingkat Stres Hospitalisasi Anak

Bagian yang ketiga berupa kuesioner untuk tingkat stres hospitalisasi anak yang mengalami hospitalisasi di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan yang terdiri dari 19 pernyataan. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan tinjauan pustaka yaitu berdasarkan gejala atau tanda stres pada anak sekolah. Cara penilaian adalah dengan menggunakan skala Linkert dengan skor pilihan yaitu Selalu (SL) dengan nilai 4, Sering (SR) nilai 3, Kadang - Kadang (KK) dengan nilai 2 dan Tidak Pernah (TP) dengan nilai 1. Total skor berkisar antara 19-76. Nilai terendah yang mungkin dicapai oleh responden adalah 19 dan tertinggi adalah 76. Semakin tinggi total skor kuisioner maka semakin tinggi tingkat stres anak yang dialami anak. Cara pengisian lembar kuesioner adalah dengan menggunakan cek list pada tempat yang tersedia. Menggunakan rumus statistik menurut Sudjana (1992), yang sama seperti pada Kuesioner Komunikasi Terapeutik Perawat, dengan rentang sebesar 57 dan banyak kelas dibagi atas 3 kategori kelas untuk tingkat stres (ringan, sedang, dan berat) didapatlah panjang kelas sebesar 19.

Dengan p = 19 dan nilai terendah 19 sebagai bawah kelas interval pertama, maka tingkat stres dikategorikan atas kelas interval sebagai berikut :

(38)

44

4.6 Validitas dan Realibilitas Instrumen

Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Instrumen harus mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Nursalam,2008). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrument menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Uji validitas yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji validitas isi yang dilakukan oleh Ibu Sri Eka Wahyuni, S.Kp, M.Kep selaku dosen Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara (USU) Departermen Keperawatan Jiwa.

Uji realibilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukuran dapat dipercaya atau diandalkan. Hal ini berarti sejauh mana alat tersebut tetap konsisten bila dilakukan beberapa kali dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2002). Uji realibilitas dilakukan di RSUD Dr.Pirngadi Medan. Dalam penelitian ini digunakan uji Realibilitas Konsistensi Internal karena memiliki kelebihan yaitu memberikan instrumen hanya satu kali dengan satu bentuk instrumen kepada satu objek studi (Dempsey & Dempsey, 2002).

Uji realibilitas dilakukan kepada 20 responden yang sesuai dengan kriteria subjek studi kemudian peneliti menilai responnya. Uji tes ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi komputerisasi SPSS 16 dengan analisis Cronbach Alpha pada item berskala di mana instrument ini dikatakan reliabel jika mempunyai nilai alpha 0,5 atau lebih.

(39)

45

Hasil Uji reliabilitas kuisioner dalam penelitian ini yaitu 0,789 untuk kuisioner komunikasi terapeutik dan 0, 770 untuk kuisioner stres hospitalisasi.

4.7 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan pengisian kuisioner melalui metode wawancara kepada anak usia sekolah (6-12 tahun) yang di rawat inap. Pengumpulan data dimulai setelah peneliti mendapat rekomendasi izin pelaksanaan penelitian dari institusi pendidikan yaitu Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan surat izin dari lokasi penelitian yaitu Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Setelah mendapat surat izin tersebut, peneliti mengantarkan ke kepala SMF Anak RSUD Dr. Pirngadi Medan, setelah mendapat persetujuan dan surat pengantar ke kepala ruangan ruang III, peneliti meminta izin setiap kali datang untuk pengambilan data di ruang III tersebut.

(40)

46

sehingga pasien anak mau menjawab pertanyaan peneliti. Selesai wawancara dan mengisi kuisioner, peneliti memeriksa kelengkapan data dan kemudian memohon pamit kepada pasien anak dan orang tuanya. Setelah selesai pengumpulan data, peneliti melakukan analisa data.

4.8Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, sebelum dianalisa, dilakukan beberapa tahapan yaitu:

1. Editing atau mengedit data, yaitu memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Tujuannya mengevaluasi kelengkapan, konsistensi dan kesesuaian antara kriteria data yang diperlukan untuk menguji hipotesis atau “menjawab” tujuan penelitian (Danim, 2003).

2. Coding, memberi kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri dari beberapa kategori pada kuisioner untuk mempermudah mengadakan tabulasi dan analisa. Misalnya: untuk jenis kelamin, perempuan diberi kode 1 dan laki-laki diberi kode 2.

3. Entri data, memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master table atau database komputer, atau memasukkan data ke dalam komputer secara manual.

Metode statistik untuk analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1) Statistik univariat

Analisis univariat yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2002). Pada penelitian ini analisa data

(41)

47

dengan metode statistik univariat digunakan untuk menganalisa variabel independen (data demografi dan komunikasi terapeutik perawat) dan variabel dependen (tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah selama menjalani hospitalisasi) secara tersendiri. Data tentang variabel dependen dan independen akan ditampilkan dalam tabel distribusi frekuensi. Data demografi juga ditampilkan dalam tabel distribusi frekuensi.

2) Statistik bivariat

Untuk melihat hubungan antara variabel independen (komunikasi terapeutik perawat) dan variabel dependen (tingkat stres hospitalisasi anak selama menjalani proses hospitalisasi) digunakan formulasi korelasi Spearman. Uji korelasi Spearman digunakan pada penelitian ini karena variabel komunikasi

terapeutik perawat dan tingkat stres hospitalisasi anak merupakan variabel dengan skala ordinal.

Untuk mengetahui apakah hubungan itu lemah, sedang atau kuat dipakai standar korelasi menurut Burns dan Grove (2001).

Tabel 4.1 Kriteria Penafsiran Korelasi

Nilai r Penafsiran

Diatas -0.5 Korelasi negatif tinggi

Hubungan negatif dengan interprestasi kuat - 0.3 sampai – 0.5 Korelasi negatif sedang

Hubungan negatif dengan interpretasi memadai - 0.1 sampai – 0.3 Korelasi negatif rendah

Hubungan negatif dengan interpretasi lemah

0 Tidak ada / hubungan

0.1 sampai 0.3 Korelasi positif rendah

Hubungan positif dengan interpretasi lemah 0.3 sampai 0.5 Korelasi positif sedang

Hubungan positif dengan interpretasi memadai Di atas 0.5 Korelasi positif tinggi

(42)

48

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian serta pembahasan tentang komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah (6-12 tahun) di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.

5.1 Hasil Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil penelitian melalui pengumpulan data yang dilakukan sejak tanggal 8 April 2013 sampai 4 Juli 2013 di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan terhadap 54 responden.

Hasil yang akan dijabarkan mencakup deskripsi karakteristik responden, karakteristik komunikasi terapeutik perawat, karakteristik tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah yang dirawat, dan hubungan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah (6-12 tahun).

5.1.1 Analisis Univariat

Analisis univariat menggambarkan distribusi frekuensi dari kategori variabel yang menjadi perhatian dalam penelitian ini.

5.1.1.1 Karakteristik Responden

Adapun karakteristik yang akan dipaparkan mencakup usia, jenis kelamin, lama rawat inap, pengalaman masuk rumah sakit, kedudukan anak dalam keluarga dan diagnosa penyakit.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa mayoritas pasien anak usia sekolah yang dirawat inap (hospitalisasi) berusia 12 tahun (25,9 %), berjenis kelamin perempuan (53,7 %), belum pernah dirawat di rumah sakit (55,6 %),

(43)

49

dengan lama rawat inap 2 hari (42,6 %), sebagai anak bungsu (paling kecil) 20 anak (37,03 %) dan menderita penyakit saluran cerna (24,07 %). Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.1 dibawah ini.

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan presentase responden berdasarkan data demografi (n = 54)

Karakteristik Frekuensi Persentase (%)

Usia

Pengalaman Masuk Rumah Sakit Belum Pernah

Sudah Pernah Lama di Rumah Sakit 1 hari

2 hari 3 hari >3 hari

Kedudukan Anak dalam Keluarga Anak sulung

Anak tengah Anak bungsu Diagnosa Penyakit

(44)

50

5.1.1.2 Komunikasi Terapeutik Perawat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 54 responden menyatakan bahwa perawat di ruang III RSUD Dr. Pirngadi memiliki keterampilan komunikasi terapeutik sangat baik sekitar 47 responden (87.03 %). Jadi, Secara umum keterampilan komunikasi terapeutik perawat di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan sangat baik.

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Presentase Komunikasi Terapeutik Perawat di Ruang III RSUD (n=54)

Komunikasi Terapeutik Perawat Frekuensi Presentase (%)

Keterampilan Sangat Baik

5.1.1.3 Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 54 responden pasien anak yang dirawat di RSUD Dr. Pirngadi Medan mayoritas mengalami stres hospitalisasi ringan sebanyak 36 responden (66,67%). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Sekolah (6-12 tahun) yang dirawat di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan (n=54)

Tingkat Stres Hospitalisasi Frekuensi Presentase (%)

Ringan

5.1.2 Analisis Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat ada tidaknya hubungan signifikan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah yang dirawat inap di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.

(45)

51

5.1.2.1 Hubungan antara Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Tingkat

Stres Hospitalisasi Anak Usia sekolah

Berdasarkan hasil penelitian hubungan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah yang dirawat di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan didapatkan nilai koefisien korelasi spearman rho’ atau r sebesar -0,138. Berdasarkan tabel penafsiran korelasi menurut Burns &

Groove (1993) bahwa kedua variabel tersebut dapat dikatakan tidak signifikan, dimana p>0,05.

Tabel 5.4 Hasil Uji korelasi Spearman rho’ antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stress hospitalisasi anak usia sekolah yang dirawat di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan (n=54)

Variabel 1 Variabel 2 r p-value Keterangan

-0,138 0,320 Hubungan negatif dengan interprestasi lemah

5.2 Pembahasan

Dari data hasil penelitian telah diperoleh, pembahasan dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian tentang hubungan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah yang dirawat di

ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.

5.2.1 Komunikasi Terapeutik Perawat

(46)

52

pasien anak. Komunikasi pada anak tidak sama dengan komunikasi pada orang dewasa. Hal ini sejalan dengan pendapat Supartini (2004) bahwa Seorang perawat yang merawat menangani klien anak harus memiliki kemampuan melakukan pendekatan dan komunikasi kepada anak karena hal ini yang membedakannya dengan asuhan keperawatan yang dilakukan pada klien dewasa. Selain itu, perawat harus menggunakan teknik komunikasi tertentu yang sesuai dengan tahapan perkembangannya pada saat berhubungan dengan anak maupun orang tuanya sehingga tujuan asuhan keperawatan yang dijalankan dapat tercapai dengan baik. Sesuai dengan perkembangan proses pikirnya, kemampuan komunikasi pada anak dibagi atas komunikasi pada bayi, anak usia todler, prasekolah, usia sekolah dan remaja. Jika tahap perkembangan anak lebih tinggi, maka perawat akan mudah berkomunikasi karena kosa kata yang dimiliki juga lebih banyak.

Secara keseluruhan berdasarkan item kuisioner dalam penelitian ini, item yang paling baik yaitu perawat melakukan komunikasi terapeutik dengan mengatur jarak interaksi yang nyaman antara perawat dengan anak sekitar 100% responden menyatakan perawat melaksanakan cara tersebut. Ketika berinteraksi dengan pasien anak usia sekolah jarak perawat tidak begitu dekat sehingga tidak membuat anak takut, dan tidak begitu jauh sehingga tidak membuat anak merasa dijauhi. Perawat berada pada jarak yang tepat sehingga anak merasa nyaman, terutama saat ingin melakukan tindakan invasiv.

Item kuisioner komunikasi terapeutik yang paling buruk yaitu mengajak anak bercerita dan bermain, sebanyak 36,36 % menyatakan perawat tidak pernah mengajak bermain dan bercerita, sebanyak 56,82 % menyatakan kadang-kadang

(47)

53

dan 6,82 % menyatakan sering. Bermain bukan hanya berpengaruh untuk anak toddler atau prasekolah, bermain sangatlah berpengaruh terhadap stres anak usia sekolah yang dirawat inap (hospitalisasi), sesuai dengan pendapat Champbell dan Glaser (1995) dalam Supartini (2004), bermain merupakan satu cara yang paling efektif untuk menurunkan stres pada anak, dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak. Menurut Supartini (2004), bermain merupakan media yang baik bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, relaksasi, dan distraksi perasaan yang tidak nyaman. Sehingga penting bagi perawat untuk melaksanakan “bermain” sebagai bagian dari asuhan keperawatan untuk dijadikan terapi agar anak lebih nyaman dan meningkatkan hubungan saling percaya sehingga anak akan lebih mudah untuk diajak kerja sama selama perawatan. Penelitian yang mendukung terkait teknik komunikasi pada anak yaitu penelitian yang dilakukan oleh Mulyono (2008), yang menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara terapi bermain terhadap stres hospitalisasi. Terapi bermain dapat menurunkan stres hospitalisasi anak usia toddler yang dirawat inap dari stress sedang menjadi stress ringan.

(48)

54

Berdasarkan pengamatan peneliti selama melakukan pengumpulan data, hasil ini bisa saja bias dikarenakan anak usia sekolah yang dirawat di ruang III tersebut tidak dapat membedakan antara perawat yang benar-benar bekerja di ruang III dan mahasiswa keperawatan yang sedang dinas. Mereka menganggap semua yang baju putih adalah perawat, terkadang mereka juga menganggap dokter sebagai perawat. Hal ini di dukung oleh hasil komunikasi terapeutik yang sangat baik, padahal menurut pengamatan peneliti komunikasi terapeutik perawat di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan masih belum baik terutama komunikasi terapeutik pada anak.

5.2.2 Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Sekolah

Secara umum berdasarkan hasil distribusi frekuensi dan persentase tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah yang dirawat inap di ruang III RSUD Dr.Pirngadi Medan menunjukkan mayoritas pasien anak tersebut mengalami stres ringan yaitu berkisar 36 responden (66,67%), 18 responden (33,33%) mengalami stres sedang, dan tidak ada reponden yang mengalami stres berat. Hal ini sejalan dengan pendapat Supartini (2004) bahwa hospitalisasi (rawat inap) pada pasien anak dapat menyebabkan kecemasan dan stres pada semua tingkat usia. Anak yang mengalami hospitalisasi akan mendapatkan banyak stressor diantaranya cemas akibat perpisahan, kehilangan kendali, cedera tubuh dan nyeri. Karena stressor-stressor tersebut, anak akan mudah mengalami stres. Hal ini dikarenakan keterbatasan dalam mekanisme koping untuk mengatasi masalah maupun kejadian-kejadian yang bersifat menekan.

Menurut asumsi peneliti, mayoritas anak usia sekolah yang dirawat mengalami stres ringan dipengaruhi oleh usia (tahap perkembangan) anak.

(49)

55

Dimana semakin besar usia (tumbuh kembang) seseorang maka semakin tinggi besar kemampuan kopingnya terhadap stres. Hal ini sejalan dengan pendapat Alimul (2009) bahwa respon terhadap stressor dipengaruhi oleh tahap perkembangan (usia). Hal ini juga sejalan dengan penelitian Tsai (2007) dalam Anita (2011) bahwa terdapat hubungan usia dengan kecemasan anak usia sekolah. Namun, hal ini bertentangan dengan penelitian Bringuier (2009) dalam Anita (2011) bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan kecemasan anak usia sekolah. Dimana apabila kecemasan meningkat tingkat stres akan meningkat. Faktor lain yang berpengaruh menurut asumsi peneliti yaitu kedudukan anak dalam keluarga, dimana dalam penelitian ini mayoritas anak usia sekolah sebagai anak bungsu. pendapat Supartini (2004) bahwa anak bungsu biasanya akan mudah merasa cemas apabila ditinggal orang tua atau keluarga lainnya, karena anak bungsu terbiasa mendapat perhatian yang penuh dari seluruh anggota keluargannya.

(50)

56

Peneliti juga berasumsi bahwa pengalaman masuk rumah sakit dan lama hospitalisasi (rawat inap) tidak berpengaruh terhadap tingkat stres hospitalisasi anak. Hal ini dilihat dari hasil pengumpulan data, tidak ada perbedaan stres hospitalisasi anak yang belum dan sudah pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Imtiyaz (2010) bahwa jenis kelamin, pengalaman masuk rumah sakit, dan lama rawat tidak merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi stres anak usia prasekolah. Namun, hal ini bertentangan dengan penelitian Tsai (2007) bahwa anak yang memiliki pengalaman mengalami hospitalisasi memiliki kecemasan lebih rendah dibanding anak yang belum memiliki pengalaman hospitalisasi.

Berdasarkan hasil pengumpulan data didapat bahwa stres terbesar disebabkan karena bosan dan kesepian (46,3 %), takut dengan lingkungan rumah sakit terutama karena suntik (44,4 %) dan cemas ditinggalkan orang tua (38,9 %). Bosan dan kesepian, anak usia sekolah yang dirawat inap mayoritas mengalami bosan dan kesepian, ini sesuai dengan pendapat Wong (2008) bahwa kelompok anak usia sekolah ini yang mengalami hospitalisasi berpusat pada kebosanan, hal ini disebabkan karena anak kehilangan kendali terhadap kesenangan dan diri mereka sendiri seperti tirah baring yang dipaksakan, ketidakmampuan memilih menu makanan, dan lain-lain. Kesepian, bosan, isolasi dan depresi umum terjadi pada anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi.

Anak usia sekolah takut dengan lingkungan rumah sakit, terutama alat-alat invasiv seperti suntik. Hal ini didukung oleh penelitian Li, Lopez dan Lee (2007) dalam Solikhah (2011) bahwa tindakan invasif seperti suntik dan infus menimbulkan ancaman yang sama pada anak usia sekolah yang akan menjalani

(51)

57

pembedahan di rumah sakit. Hal ini sesuai dengan pengamatan peneliti selama pengumpulan data, terdapat beberapa anak usia sekolah yang menunjukkan reaksi penolakan seperti menangis dan memberontak ketika akan dilakukan pemasangan infus atau injeksi. Selain itu, mayoritas responden juga mengatakan bahwa mereka takut jika disuntik.

Anak usia sekolah merasakan cemas ditinggalkan orang tua selama mengalami hospitalisasi (rawat inap), hal ini bertentangan dengan pendapat Wong (2008) bahwa Anak-anak usia sekolah pertengahan dan akhir dapat lebih cemas terhadap perpisahan dengan aktivitas mereka yang biasa dan teman sebaya daripada ketidakhadiran orang tua. Namun, Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Nur Aidar (2011) bahwa peran orang tua khususnya ibu sangat dibutuhkan oleh anaknya dalam situasi apapun dalam memberikan dukungan pada anaknya, dan dapat membantu dalam proses penyembuhan pada anak. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Hart dan Bossert (1994) dalam Wong (2008) bahwa ketakutan jauh dari keluarga (orang tua) memiliki peringkat yang lebih tinggi daripada ketakutan lainnya yang muncul akibat hospitalisasi. Meskipun secara umum anak usia sekolah lebih mampu melakukan koping terhadap perpisahan, stres dan sering kali disertai regresi akibat penyakit atau hospitalisasi dapat meningkatkan kebutuhan mereka akan keamanan dan bimbingan orang tua.

5.2.3 Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Tingkat Stres

Hospitalisasi

(52)

58

antara hubungan komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah. Dengan koefisien korelasi sebesar -0,138 berarti hubungan antara kedua varibel adalah negatif dengan interpretasi lemah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho gagal ditolak, artinya bahwa pernyataan hipotesa adanya hubungan komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah tidak dapat diterima. Jadi, tidak ada hubungan yang berarti antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah (6-12 tahun) yang di rawat inap di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian komunikasi terapeutik yang dilakukan pada orang dewasa, yaitu “Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Kecemasan Pasien Gangguan Kardiovaskuler yang pertama kali di rawat di ICCU RSU Tugurejo Tahun 2008”. Penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa adanya hubungan yang sangat kuat antara komunikasi terapeutik perawat dengan penurunan kecemasan pada pasien kardiovaskuler yang pertama kali di rawat di ICCU. Dari hasil tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa komunikasi terapeutik yang berpengaruh terhadap stres orang dewasa ketika dirawat inap di rumah sakit tidak berpengaruh terhadap tingkat stres hospitalisasi anak.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena ketika seorang anak sakit, stressor terbesarnya adalah cemas akibat perpisahan dengan orangtua dan teman-teman (figur lekatnya). Sehingga ketika dihospitalisasi anak akan menjadi stres walaupun ada perawat disampingnya karena hal yang paling berpengaruh untuk anak adalah orang tua atau figur lekatnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Aidar

(53)

59

(2010), “hubungan peran keluarga dengan tingkat kecemasan Anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi di ruang III Rumah Sakit Umum Dr Pringadi Medan” bahwa peran orang tua khususnya ibu sangat dibutuhkan oleh anaknya dalam situasi apapun dalam memberikan dukungan pada anaknya, dan dapat membantu dalam proses penyembuhan pada anak. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Nursalam (2005) bahwa keluarga (orang tua) memberikan perhatian serta memberikan rasa aman dan nyaman pada anak yang mengalami hospitalisasi di rumah sakit sehingga dapat meminimalkan dampak kecemasan dan stres pada anak. Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang dapat membantu anak dalam mengkoping stressor.

Penelitian lain yang mendukung yaitu penelitian yang dilakukan oleh Christine (2010) di Rumah Sakit Advent Medan, tentang hubungan dukungan keluarga dengan respon cemas anak usia sekolah terhadap pemasangan intravena, menunjukkan bahwasannya ada hubungan antara dukungan keluarga dengan respon cemas anak usia sekolah terhadap pemasangan intravena di Rumah Sakit Advent Medan.

(54)

60

saat hospitalisasi. Dengan kemampuan koping tersebut maka tingkat stres anak yang dialaminya dapat diminimalkan.

Hal ini sesuai dengan filosofi dalam keperawatan anak, yaitu family centred care. Casey (1997) dalam Supartini (2004) berpendapat bahwa prinsip

pelayanan keperawatan pada anak harus berfokus pada anak dan keluarga. Hal ini berbeda dengan perawatan pasien dewasa, yang menjadikan kliennya yaitu pasien itu sendiri, sedangkan pada pasien anak selain anak itu sendiri, keluarga juga merupakan klien dari perawat anak. Menurut Supartini (2004), dalam hal ini perawat berperan untuk memfasilitasi hubungan orangtua dan anaknya dirumah sakit, jangan sampai terjadi perpisahan antara orang tua dan anaknya, karena jika terjadi perpisahan dapat menimbulkan dampak psikologis pada anak.

(55)

BAB 6

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan dapat diambil kesimpulan dan saran mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stress hospitalisasi anak usia sekolah (6-12 tahun) yang dirawat di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.

Mayoritas reponden menyatakan keterampilan komunikasi terapeutik perawat sangat baik (87,03 %) dan mayoritas responden mengalami stres ringan (66,67%).

Komunikasi terapeutik perawat berhubungan secara negatif dengan interpretasi lemah terhadap tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah (r= -0,138) dengan nilai signifikansi yang tidak dapat diterima p =0,320 (p>0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesa dalam penelitian ini gagal ditolak/ dapat diterima, artinya tidak ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat terhadap tingkat stress hospitalisasi anak usia sekolah (6-12 tahun) yang dirawat di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.

(56)

6.2 Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian maka penting diberikan rekomendasi kepada berbagai pihak antara lain:

6.2.1 Bagi praktek keperawatan

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Peneliti menyarankan untuk praktek keperawatan agar lebih sensitif terhadap kebutuhan anak, karena merawat anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Perawat disarankan untuk memfasilitasi kebutuhan bermain/bercerita dan memfasilitasi hubungan anak dan orang tua.

6.2.2 Bagi penelitian selanjutnya

Perbedaan antara hasil penelitian dan tinjauan pustaka yang diperoleh dapat dijadikan sebagai data masukan bagi penelitian selanjutnya tentang komunikasi terapeutik perawat dan tingkat stress hospitalisasi anak usia sekolah. Penelitian lanjutan juga perlu dilakukan di rumah sakit lain dengan instrument yang lebih valid dan jumlah sampel yang lebih banyak agar penelitian lebih representatif dan dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya tentang komunikasi terapeutik dan tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah. Penelitian selanjutnya juga diharapkan agar meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat stres hospitalisasi anak usia sekolah.

(57)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Komunikasi Terapeutik

2.1.1Definisi Komunikasi Terapeutik

Komunikasi terapeutik menurut Potter (2005) adalah proses di mana perawat yang menggunakan pendekatan terencana mempelajari klien. Komunikasi terapeutik adalah hubungan terapeutik dimana perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama serta memperbaiki pengalaman emosional klien yang negatif. Komunikasi terapeutik juga dapat dipersepsikan sebagai proses interaksi antara klien dan perawat yang membantu klien mengatasi stress sementara untuk hidup harmonis dengan orang lain, menyesuaikan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah dan mengatasi hambatan psikologis yang menghalangi realisasi diri (Kozier dan Glenora, 2000). Sedangkan menurut Damaiyanti (2008), komunikasi terapeutik dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang memfasilitasi proses penyembuhan pasien. Jadi, komunikasi terapeutik adalah komunikasi antara perawat dan pasien yang bertujuan untuk mengatasi pengalaman emosional klien serta stres sementara yang dialami sehingga memfasilitasi pasien sehat atau dengan kata lain yaitu komunikasi yang mendukung proses penyembuhan pasien.

2.1.2Tujuan Komunikasi Terapeutik

(58)

7

Suryani (2005) menyatakan komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi klien kearah yang lebih positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan klien yang meliputi:

a Kesadaran diri, penerimaan diri, dan meningkatkan kehormatan diri

Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan dalam diri klien. Dengan melakukan komunikasi terapeutik pada klien tersebut, diharapkan perawat dapat mengubah cara pandang klien tentang penyakitnya, dirinya, dan menerima diri apa adanya.

b Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung dengan orang lain

Melalui komunikasi terapeutik, klien belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain. Dengan komunikasi yang terbuka, jujur, dan menerima klien apa adanya, perawat akan dapat meningkatkan kemampuan klien dalam membina hubungan saling percaya.

c Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang realistis

Perawat membimbing klien dalam membuat tujuan yang realistis dan meningkatkan kemampuan klien memenuhi kebutuhan dirinya.

d Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri

Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat membantu klien meningkatkan integritas dirinya dan identitas diri yang jelas. Dalam hal ini perawat berusaha menggali semua aspek kehidupan klien dimasa sekarang dan masa lalu. Kemudian perawat membantu meningkatkan integritas diri klien melalui komunikasinya dengan klien.

(59)

8

2.1.3 Karakteristik Komunikasi Terapeutik

Arwani (2002) menyatakan ada 3 hal mendasar yang menjadi ciri-ciri (karakteristik) komunikasi terapeutik, yaitu:

1. Keikhlasan (Gunuineness)

Perawat dalam membantu klien harus menyadari tentang nilai, sikap dan perasaan yang dimiliki terhadap keadaan klien. Perawat yang mampu menunjukkan rasa ikhlasnya mempunyai kesadaran mengenai sikap yang dipunyai terhadap pasien sehingga mampu belajar untuk mengkomunikasikan -nya secara tepat. Perawat tidak akan menolak segala bentuk perasaan negatif yang dipunyai klien, bahkan ia akan berusaha berinteraksi dengan klien.

2. Empati (Empathy)

Empati merupakan perasaan “pemahaman” dan “penerimaan” perawat terhadap perasaan yang dialami klien dan kemampuan merasakan “dunia pribadi pasien”. Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitif, dan tidak dibuat-buat (objektif) didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Empati tidak sama dengan simpati. Perawat akan mudah mengatasi nyeri yang dirasakan pasien, misalnya, jika dia mempunyai pengalaman yang sama tentang nyeri. Perawat yang berempati dengan orang lain dapat menghindarkan penilaian berdasarkan kata hati (impulsive judgement) tentang seseorang dan pada umumnya dengan empati akan menjadi lebih sensitif dan ikhlas.

3. Kehangatan (Warmth)

(60)

9

ancaman menunjukkan adanya rasa penerimaan perawat terhadap pasien. Sehingga pasien akan mengekspresikan perasaannya secara lebih mendalam.

2.1.4 Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik

Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers (dalam Purwanto, 1994, dalam Damaiyanti, 2008) adalah:

a Perawat harus mengenal dirinya yang berarti menghayati, memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut.

b Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, saling percaya, dan saling menghargai.

c Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan pasien baik fisik maupun mental.

d Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan pasien bebas berkembang tanpa rasa takut.

e Perawat harus dapat menciptakan suasana yang memungkinkan pasien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap, tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah - masalah yang dihadapi.

f Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan maupun frustasi.

g Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya.

h Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik.

(61)

10

i Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar dari hubungan terapeutik. j Mampu berperan sebagai role model agar dapat menunjukkan dan

menyakinkan orang lain tentang kesehatan, oleh karena itu perawat perlu mempertahankan suatu keadaan sehat fisik mental, spiritual, dan gaya hidup. k Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap mengganggu. l Altruisme untuk mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara

manusiawi.

m Berpegang pada etika dengan cara berusaha sedapat mungkin mengambil keputusan berdasarkan pripsip kesejahteraan manusia.

n Bertanggung jawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggung jawab terhadap orang lain.

2.1.5Teknik-Teknik Komunikasi Terapeutik

Dalam menanggapi pesan yang disampaikan klien, perawat menggunakan berbagai teknik komunikasi terapeutik. Beberapa teknik komunikasi terapeutik menurut Wilson dan Kneist (1992) serta Stuart dan Sundeen (1998) (dalam Damaiyanti, 2008) antara lain:

1. Mendengarkan dengan penuh perhatian

Dengan mendengarkan perawat mengetahui perasaan klien, memberi kesempatan lebih banyak pada klien untuk bicara (Mundakir, 2006).

2. Menunjukkan penerimaan

(62)

11

menyatakan tidak setuju, seperti mengerutkan kening atau menggeleng yang menyatakan tidak percaya.

3. Menanyakan pertanyaan berkaitan

Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikan oleh klien. Oleh karena itu, pertanyaan sebaiknya dikaitkan dengan topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata yang sesuai dengan konteks sosial budaya klien.

4. Pertanyaan tebuka

Teknik ini memberi kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya sesuai kehendak klien tanpa membatasi (Mundakir, 2006). Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban “ya” dan “mungkin”, tetapi pertanyaan memerlukan jawaban yang luas, sehingga pasien dapat mengemukakan masalahnya, perasaannya dengan kata-kata sendiri, atau dapat memberikan informasi yang diperlukan. Misalnya: “Coba adik ceritakan apa yang adik rasakan?”.

5. Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri

Melalui penggulangan kembali kata-kata klien, perawat memberikan umpan balik bahwa ia mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan. Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien (Mundakir,2006). Misalnya: “Oh.. jadi adik tadi malam tidak bisa tidur karena…”.

6. Mengklarifikasi

Klarifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk menjelaskan dalam kata-kata, idea tau pikiran (implicit maupun eksplisit) yang tidak jelas dikatakan oleh

(63)

12

klien. Tujuan teknik ini adalah untuk menyamakan pengertian. Misalnya: “Apa yang Adik maksudkan dengan…?”.

7. Memfokuskan

Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti.

8. Menyatakan hasil observasi

Perawat harus memberikan umpan balik kepada klien dengan menyatakan hasil pengamatannya sehingga klien dapat mengetahui apakah pesannya diterima dengan benar atau tidak. Dalam hal ini perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat non verbal klien. Misalnya: “Adik tampak tegang”.

9. Menawarkan informasi

Memberikan tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien. Perawat tidak membenarkan memberikan nasehat kepada klien ketika memberikan informasi, karena tujuan dari tindakan ini adalah memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan. Penahanan informasi yang dilakukan saat klien membutuhkan akan mengakibatkan klien menjadi tidak percaya.

10.Diam

(64)

13

11.Meringkas

Meringkas adalah pengulangan ide utama telah dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk membantu mengingat topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pembicaraan berikutnya.

12.Memberikan penghargaan

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi kepada klien untuk berbuat yang lebih baik lagi. Penghargaan dalam pelayanan keperawatan tidak berbentuk materi, akan tetapi berbentuk dorongan psikologis atau inmaterial untuk memacu lebih baik lagi (Nasir, 2009).

13.Menawarkan diri

Perawat menyediakan diri tanpa repons bersyarat atau respon yang diharapkan. Misalnya: “ Suster akan duduk menemanimu selama 15 menit”.

14.Memberikan kesempatan pada klien untuk memulai pembicaraan

Memberikan kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.

15.Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan

Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan. Teknik ini juga mengindikasikan bahwa perawat mengikuti apa yang dibicarakan dan tertarik dengan apa yang akan dibicarakan selanjutnya.

16.Menempatkan kejadian secara berurutan

Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawatan dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif. Kelanjutan dari suatu kejadian menuntut

(65)

14

perawat dan klien untuk melihat kejadian berikutnya merupakan akibat dari kejadian sebelumnya dan juga dapat menemukan pola kesukaran interpersonal. 17.Memberikan kesempatan kepada klien untuk menguraikan persepsinya

Apabila perawat ingin mengerti klien, maka ia harus melihat segala sesuatunya dari perspektif klien.

18.Refleksi

Refleksi memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri.

19. Assertif

Asertif adalah kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai orang lain. 20.Humor

Dugan (1989) (dalam Damaiyanti,2008) menyebutkan humor sebagai hal yang penting dalam komunikasi verbal dikarenakan tertawa mengurangi ketegangan dan rasa sakit akibat stres, dan meningkatkan keberhasilan asuhan keperawatan.

2.1.6 Sikap Komunikasi Terapeutik

Perawat hadir secara utuh (fisik dan psikologis) pada waktu berkomunikasi dengan klien.

a Kehadiran diri secara fisik

Egan (dalam Mundakir, 2006) mengidentifikasi 5 sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik, yaitu:

(66)

15

2. Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. 3. Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan kepedulian dan

keinginan perawat untuk mengatakan atau mendengar sesuatu yang dialami klien.

4. Mempertahankan sikap terbuka. Tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi. Sikap terbuka perawat ini meningkatkan kepercayaan klien kepada perawat atau petugas kesehatan lainnya.

5. Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon terhadap klien.

b Kehadiran Diri secara psikologis

Kehadiran diri secara psikologis dapat dibagi dalam 2 dimensi yaitu: 1. Dimensi Respon

Dimensi respon merupakan sikap perawat secara psikologis dalam berkomunikasi kepada klien. Dimensi respon terdiri dari respon perawat yang ikhlas, menghargai, empati dan konkrit. Dimensi respon sangat penting pada awal berhubungan dengan klien untuk membina hubungan saling percaya dan komunikasi yang terbuka. Respon ini harus terus dipertahankan sampai pada akhir hubungan.

2. Dimensi Tindakan

Dimensi tindakan tidak dapat dipisahkan dengan dimensi respon. Tindakan yang dilaksanakan harus dalam konteks kehangatan dan pengertian. Dimensi respon membawa klien pada tingkat penilikan diri

(67)

16

yang tinggi dan kemudian dilanjutkan dengan dimensi tindakan. Dimensi tindakan terdiri dari konfrontasi, kesegeraan, keterbukaan, emotional chataris, dan bermain peran (Stuart dan Sundeen, 1987 dalam Mundakir,

2006).

2.1.7 Tahap Komunikasi Terapeutik

Stuart dan Sundee (dalam Damaiyanti, 2008) mengungkapkan dalam membina hubungan terapeutik (berinteraksi) perawat mempunyai 4 tahap yaitu: fase pra-interaksi, orientasi, kerja dan terminasi.

1. Fase Pra-interaksi

Pra-interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan klien. Hal-hal yang dipelajari dari diri sendiri adalah sebagai berikut: (a) pengetahuan yang dimiliki yang terkait dengan penyakit dan masalah klien, (b) kecemasan dan kekalutan diri, (c) analisis kekuatan diri, dan (d) waktu pertemuan baik saat pertemuan maupun lama pertemuan. Sedangkan, hal-hal yang perlu dipelajari dari diri klien yaitu: (a) perilaku klien dalam menghadapi penyakitnya, (b) adat istiadat, dan (c) tingkat pengetahuan (Nasir, 2009).

2. Fase Perkenalan

Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu klien. Tugas perawat pada tahap perkenalan adalah:

a Memberikan salam dan tersenyum pada klien b Memperkenalkan diri dan menanyakan nama klien

(68)

17

f Membuat kontrak timbal balik

g Mengeksplorasi perasaan klien, pikiran dan tindakan h Mengidentifikasi masalah klien

i Mendefinisikan tujuan dengan klien

j Menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan k Menjelaskan kerahasiaan

3. Fase Kerja

Fase kerja merupakan inti hubungan perawatan klien yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Tugas perawat pada tahap ini adalah: (a) memberi kesempatan klien untuk bertanya, (b) menanyakan keluhan utama/ keluhan yang mungkin berkaitan dengan kelancaran pelaksanaan kegiatan, (c) memulai kegiatan dengan cara yang baik dan (d) melakukan kegiatan sesuai rencana.

4. Fase Terminasi

Terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan perawat dan klien. Terminasi dibagi dua, yaitu: terminasi sementara dan terminasi akhir.

a. Terminasi sementara

Terminasi sementara dilakukan bila perawat mengakhiri tindakan keperawatan, masa tugas berakhir atau operan dengan teman sejawat dalam rangka untuk peralihan tugas.

b. Terminasi akhir

Terminasi akhir dilakukan bila klien akan meninggalkan rumah sakit karena sudah sembuh atau pindah ke rumah sakit lain dengan memberikan

(69)

18

discharge planning yaitu memberikan pesan-pesan pokok yang perlu dilakukan

oleh klien untuk ditindak lanjuti di rumah atau di tempat yang lain. Kegiatan yang dilakukan pada tahap terminasi adalah sebagai berikut:

a) Evaluasi subjektif, merupakan kegiatan yang dilakukan dengan mengevaluasi suasana hati setelah terjadi interaksi dengan klien.

b) Evaluasi objektif, merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengevaluasi respons objektif terhadap hasil yang diharapkan dari keluhan yang dirasakan, apakah ada kemajuan atau sebaliknya.Untuk mengevaluasi ini perawat cukup berpegang pada Nursing Outcome Clasification dari tujuan yang ingin dicapai agar tidak terjadi bias dan tepat sasaran.

c) Tindak lanjut, merupakan kegiatan yang dilakukan dengan menyampaikan pesan kepada klien mengenai lanjutan dari kegiatan yang telah dilakukan (Nasir, 2009).

2.1.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Terapeutik

Menurut Potter & Perry dalam Nurjannah (2001) (Tamsuri, 2005), ada faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik itu, diantaranya: perkembangan, persepsi, nilai, latar belakang sosial budaya, emosi, pengetahuan, peran dan hubungan, lingkungan, jarak, dan masa kerja.

2.1.9 Komunikasi pada Anak Usia Sekolah

(70)

19

Pada usia ini, anak kurang mengandalkan apa yang mereka lihat tetapi lebih pada apa yang mereka ketahui bila dihadapkan pada masalah baru. Mereka butuh penyelesaian untuk segala sesuatu tetapi tidak membutuhkan pengesahan dari tindakan yang dilakukan. Pada masa ini anak sudah dapat memahami penjelasan sederhana dan mampu mendemonstrasikannya. Anak perlu diizinkan untuk mengekspresikan rasa takut dan keheranan yang dialaminya (Mundakir, 2006).

Anak usia sekolah sangat peka terhadap stimulus yang dirasakannya akan mengancam keutuhan tubuhnya. Oleh karena itu, apabila perawat akan melakukan suatu tindakan, ia akan bertanya mengapa dilakukan, untuk apa, dan bagaimana caranya dilakukan? Anak membutuhkan penjelasan atas pertanyaannya. Gunakan bahasa yang dapat dimengerti anak dan berikan contoh yang jelas sesuai dengan kemampuan kognitifnya (Damaiyanti, 2008).

Anak usia sekolah sudah lebih mampu berkomunikasi dengan orang dewasa. Perbendaharaan katanya sudah lebih banyak, sekitar 3000 kata dikuasai dan anak sudah mampu berpikir secara kongkret. Apabila akan melakukan tindakan, perawat dapat menjelaskannya dengan mendemonstrasikan pada mainan anak. Misalnya, bagaimana perawat akan menyuntik diperagakan terlebih dahulu pada bonekanya (Damaiyanti, 2008).

Fokus untuk komunikasi dengan anak usia sekolah menurut Potter & Perry (2005) yaitu:

a Anak mencari alasan dan penjelasan atas segala sesuatu namun tidak membutuhkan pengesahan.

Figur

Tabel 3.1 Defenisi Operasional

Tabel 3.1

Defenisi Operasional p.30
Tabel 4.1 Kriteria Penafsiran Korelasi

Tabel 4.1

Kriteria Penafsiran Korelasi p.41
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan presentase responden  berdasarkan data demografi (n = 54)

Tabel 5.1

Distribusi frekuensi dan presentase responden berdasarkan data demografi (n = 54) p.43

Referensi

Memperbarui...