BAB I TUGAS DAN PERANAN GURU DALAM PROESES BELAJAR – MENGAJAR DI SEKOLAH

30  42  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I

TUGAS DAN PERANAN GURU DALAM PROESES BELAJAR – MENGAJAR

DI SEKOLAH

Tugas dan peranan guru sebagai pendidik profesional sesungguhnya sangat kompleks, tidak terbatas pada saat berlanggsungnya interaksi edukatif di dalam kelas, yang lazim disebut proses belajar mengajar. Guru juga bertugas sebagai administrator, evalusai, konselor, dan lain-lain sesuai dengan sepuluh kopetensi (kemampuan) yang dimilikinya. Namun uraian kali ini kami batasi masalah proses belajar mengajar sebagaimana telah tertuang dalam topik bahasan.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan disekolah. Agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar, maka perlu pengadmintrasian kegiatan-kegiatan belajar mengajar, yang lazim disebut adminitrasi kurikulum. Bidang pengaministrasian ini sebenarnya merupakan pusat dari semua kegiatan di sekolah ( M. Moh. Rifai, 1986: 114 ). Menurut James B. Brow seperti yang dikutip oleh Sardiman A.M. ( 1990: 142 ), mengemukakan bahwa tugas dan peranan guru antara lain : menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.

Tugas guru dalam proses belajar mengajar meliputi tugas paedagogis dan tugas administrasi. Tugas paedagogis adalah tugas membantu, membimbing dan memimpin. ( Moh. Rifai, 1989 : 135 ) mengatkan bahwa :

Di dalam situasi pengajaran, gurulah yang memimpin dan bertanggung jawab penuh atas kepemimpinan yangdilakukan itu. Ia tidak melakukan instruksi-instruksi dan tidak berdiri di bawah instruksi manusia lain kecuali dirinya sendiri, setelah masuk dalam situasi kelas.

Jadi setelah masuk kelas tugas guru adalah sebagai pemimpin dan bukan semata-mata mengontrol dan mengritik.

Untuk dapat mampu melaksanakan tugas mengajar dengan baik, guru harus memiliki kemampuan profesional, yaitu terpenuhinya 10 kompetensi guru, yang meliputi :

1. Menguasai bahan, meliputi :

a) Menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah. b) Menguasai bahan pengayaan / penunjang bidang studi. 2. Mengelola program belajar mengajar, meliputi :

a) Merumuskan tujuan instruksional.

b) Mengenal dan dapat menggunakan prosedur instruksional yang tepat.

c) Melaksanakan program belajar mengajar. d) Mengenal kempuan anak didik.

(2)

a) Mengatur tata ruang kelas untuk pelajaran. b) Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi. 4. Penggunakan media atau sumber, meliputi :

a) Mengenal, memilih dan menggunakan media. b) Membuat alat bantu pelajaran yang sederhana.

c) Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar-mengajar. d) Menggunakan micro teaching untuk unit program

pengenalan lapangan.

5. menguasai landasan-landasan pendidikan. 6. mengelola interaksi-interaksi belajar mengajar. 7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran.

8. Mengenal fungsi layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah, meliputi :

a) mengenal fungsi dan layanan program bimbingan dan penyuluhan.

b) Menyelenggarakan layanan bimbingan dan penyuluhan. 9. Mengenalkan dan menyelenggarakan adminstrasi sekolah

10. Memahami prinsip-prinsip dan manfsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

( Depdikbud, 1984/1985 : 25 – 26 )

Kompetensi profesional di atas merupakan profil kemampuan dasar yang harus dimiliki guru. Kompetensi tersebut dikempetensi tersebut dikembangkan berdasarkan pada analisis tugas-tugas yang harus dilakukan guru. Oleh karena itu, sepuluh kompetensi tersebut secara operasional akan mencerminkan fungsi dan peranan guru dalam membelajarkan anak didik. Melalui pengembangan kompetensi profesi, diusahkan agar pengusaan akademis dapat terpadu secara dangan kemampuan mengajar. Hal ini perlu karena seorang guru diharapkan mampu mengambil keputusan secara profesional dalam melaksanakan tugasnya yaitu keputusan yang mengandung wibawa akademik dan praktis secara kependidikan.

Selain kopetensi profesional, seorang guru juga dituntut memiliki 2 kopetensi lain yaitu kompetensi pribadi dan kompetensi kemasyarakatan ( sosial ). ( Dirto H. Dkk., 1983 : 21 ). Sikap pribadi yang dijiwai oleh filsafat Pancasila, yang akan mengagungkan budaya bangsanya, yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dab nebgarabya termasuk dalam kompetensi pribadi. Sedangkan kompetensi kemasyarakatan adalah kemampuan guru dalam membina dan mengembangkan interaksi sosial bik sebagai tenaga profesional maupun sebagai warga masyarakat (Sutan Zanbi Arbi, 1992/1993) : 133). Guru yang Pancasilais adalah guru yang mampu menciptakan suasana yang serasi, selaras dan seimbang dalam aspek kehidupan di masyarakat.

Mengenai tugas guru dalam pengelolaan pengajaran, dalam buku Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Kurikulum 1984 Pendidikan Kejuruan disebutkan sebagai berikut:

1) Membuat program pengajaran.

2) Mengorganisasi kelas dan siswa, meliputi:

a) Mengatur ruangan dan perabot pelajaran di kelas. b) Mengatur siswa dalm belajar.

(3)

3) Menggunakan sarana dan lingkungan sebagai sumber belajar (1985: 22).

Sementara itu Tim Proyek Peningkatan dan Pengembangan Guru, seperti dikutip Hadari Nawawi, merumuskan tugas dalam pengelolaan pengajaran sebagi berikut:

1) Merumuskan tujuan instruksional.

2) Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar.

3) Mampu memilih, menyusun dan menggunakan prosedur instruksional yang relevan dengan materi dan murid.

4) Mampu melaksanakan program mengajar yang dinamis. 5) Mengenal dan memahami kemampuan anak didik.

6) Mampu merencanakan dan melaksanakan program remidial (Hadari Nawawi, 1982: 124).

Ahli lain yang mengemukakan pendapat tentang tugas mengajar guru adalah Ad. Rovijakkers (1989: 9), yang mengemukakan bahwa tugas guru dalam mengajar meliputi; mengurutkan bahan, memilih masalah pokok dan tambahan, memilih alat peraga, cara menyajikan bahan dan mengukur kemampuan murid menerima bahan.

Disamping itu, di dalam SK Menpan No.84/Menpan/1993 disebutkan bahwa bidang kegiatan guru meliputi bidang kegiatan pendidikan, proses belajar mengajar atau bimbingan dan penyuluhan, pengembengan profesi, dan penunjang proses belajar mengajar atau bimbingan dan penyuluhan. Butir kegiatan proses belajar mengajar atau praktek, disebutkan tugas pokok guru meliputi kegiatan sebagai berikut :

1) Menyusun program pengajar atau praktek.

2) Menyajikan program pengajaran atau melaksanakan praktek. 3) Melaksanakan evaluasi belajar atau praktek.

4) Melaksanakan analisis hasi evaluasi belajar atau praktek.

5) Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan. 6) Menyusun dan melaksanakan program bimibingan dan penyuluhan

di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.

7) Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler.

8) Membimbing guru dalam kegiatan proses belajar mengajarba atau praktek peroarangan.

9) Melaksnakan bimbingan karier siswa. 10) Mengikuti kegiatan EBTA atau EBTANAS.

a) Menyusun kisi-kisi. b) Menyusun soal.

c) Mengawasi pelaksanaan EBTA atau EBTANAS d) Memeriksa hasil EBTA dan EBTANAS.

(SK Menpan No. 84/Menpan/1993).

Pendapat lain tentang tugas guru dalam pengajaran dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto ( 1983 : 99 ), sebagai berikut : 1. Mempelajari materi pelajaran ( dalam GBPP ), yang akan dijadikan

tuntunan dalam penyusunan rencana pelajaran.

2. Memilih pendekatan atau strategi untuk menyampaikan pelajaran. 3. Memilih alat-alat pelajaran dan sarana lain.

(4)

Dari pendapat-pendapat yang telah diuraikan di atas, dapat diambil kesimpuln bahwa tugas guru dalam proses belajar mengajar dapat dikelompokkan ke dalam 3 kegiatan yaitu :

1) Menyusun program pengajaran :

a) Program tahunan pelaksanaan kurikulum. b) Program semester / catur wulan.

c) Program satuan pelajaran

d) Perencanaan program mengajar

2) Menyajikan / melaksanakan pengajaran :

a) Menyampaikan materi (dalam GBPP).

b) Menggunakan metode mengajar.

c) Menggunakan media / sumber.

3) Melaksanakan evaluasi belajar :

a) Menganalisis hasil evaluasi belajar b) Melaporkan hasil evaluasi belajar

c) Melaksanakan program perbaikan dan pengayaan. Efektif Pelaksanaan Mengajar

Pengajaran merupakan hasil proses belajar mengajar, efektivitasnya tergantung dari beberapa unsur. Efektifitas suatu kegiatan tergantung dari terlaksana tidaknya perencanaan. Karena perencanaan, maka pelaksanaan pengajaran menjadi baik dan efektif. Cara untuk mencapai hasil belajar yang efektif yaitu murid-murid harus dijadikan pedoman setiap kali membuat persiapan dalam mengajar. (S.Nasution, 1989: 101).

Menurut L.L Pasaribu dan B. Simanjuntak (1993: 25), di dalam pendidikan efectivitas dapat ditinjau dari dua segi yaitu :

1) Mengajar guru, di mana menyangkut sejauh mana kegiatan belajar mengajar yang direncanakan terlaksana.

2) Belajar murid, yang menyangkut sejauh mana tujuan pelajaran yang diinginkan tercapai melalui kegiatan belajar mengajar ( KBM )

Menurut Tim Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik / Kurikulum IKIP Surabaya (1988:48), mengemukakan bahwa :

Efisiensi dan efektivitas mengajar dalm proses interaksi belajar mengajar yang baik adalah segala daya upaya guru untuk membantu murid-murid agar bisa belajar dengan baik.Untuk mengetahui efetivitas mengajar, dengan mengevaluasi berbagai aspek proses pengajaran.

Hasil tes mengungkapkan kelemahan belajar siswa dan kelemahan pengajaran secara menyeluruh.

Selanjutnya S. Nasution (1989: 102), mengemukakan pendapat tentang ciri-ciri pengajaran yang efektif, yaitu bahwa pengajaran yang efektif merupakan proses sirkuler, yang terdiri dari atas empat kompenen: 1) Mengadakan asesment, mendiagnosis:

a) Asesment atau diagnosis diadakan pada beberapa fase yakni ; (1) Tingkat perkembangan kognotif dan efektif.

(2) Kesiapan mempelajari bahan baru.

(3) Bahan yang telah dipelajari sebelumnya (entry behavior).

(5)

b) Asesment selama proses instruksional, selama berlangsunya proses belajar mengajar, siswa harus dipantau dan dinilai terus menerus, untuk mengetahui ;

(1) Sampai mana bahan telah dikuasai. (2) Bahan mana yang kurang dipahami.

(3) Sebab-sebab kegagalan memahami bahan tertentu. (4) Metode dan alat mana yang dapat bermanfaat.

(5) Bahan mana harus diajarkan kembali dan kepada siswa yang mana.

c) Asesment pada akhir instruksional, yaitu pada akhir pelajaran, untuk mengetahui ;

(1) Apa yang telah mereka kuasai dari seluruh pelajaran. (2) Apa yang tidak berhasil dikuasai.

(3) Apakah masih perlu diberi ulangan, latihan reinforcement bagi siswa tertentu.

2) Perencanaan pengajaran, terjadi pada dua tingkat, yakni : a) Tingkat kurikulum umum (tingkat makro)

b) Tingkat instruksional yang spesifik untuk pengajaran dalam kelas (tingkat mikro)

3) Mengajar denga efektif

Efektivitas mengajar , nyata dari keberhasilan siswa menguasai apa yang diajarkan guru itu.

4) Latihan dan reinforcement, yaitu membantu siswa melatih dan memantapkan pelajaran. Dalam hal ini guru bertindak sebagai ”coach”, yaitu membantu, mendorong, memperbaiki, memotivasi dan memberikan balikan selama proses belajar mengajar. Kegiatan ini meliputi :

a) Menyediakan lembaran kerja bagi setiap siswa.

b) Memajukan pertanyaan yang mendorong siswa mengadakan analisis, sintesis dan penilaian.

c) Mengadakan simulasi dan permainan peran. d) Memimpin diskusi.

e) Membantu siswa berfikir iritis, memecahkan masalah atau situasi yang mendukung konflik.

(6)

Gambar: Proses Sirkuler Pengajaran Efektif

Adapun karakteristik atau ciri-ciri guru yang efektif dikemukakan oleh S. Nasution (1989: 110) ada 12 ciri yaitu:

1. Mulai dan mengakhiri pelajaran tepat pada waktunya.

2. Berada terus di dalam kelas dan menggunakan sebagian besar dari jam pelajaran untuk mengajar dan membimbing pelajaran. 3. Memberi ikhtisar pelajaran lampau pada permulaan pelajaran

baru.

4. Mengemukakan tujuan pelajaran lampau pada permulaan pelajaran

5. Menyajikan pelajaran baru langkah demi langkah dan memberi latihan praktis pada akhir tiap langkah.

6. Memberi latihan praktis yang mengaktifkan semua siswa 7. Memberi bantuan siswa khususnya pada permulaan pelajaran 8. Mengajukan banyak pertanyaan dan berusaha memperoleh

jawaban dari semua atau sebanyak-banyaknya siswa untuk mengetahui pemahaman tiap siswa.

9. Bersedia menegrjakan kembali apa yang belum dipahami oleh siswa

10. Membantu kemajuan siswa, memberi balikan yang sistematis dan memperbaiki setiap kesalahan

11. Mengadakan review atau pengulangan tiap minggu secara teratur.

Mengadakan

asesment / penilaian /

mendiagnosis

Membimbing /

latihan

Reinforcement

Mengajar efektif

ialah proses

sirkuler

Merencanakan

Mengajar

1

2

(7)

12. Mengadakan evaluasi berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan.

Bagaimana agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien?

Upaya untuk menjadikan efektif dan efesien dengan kegiatan mendidik atau mengajar hakiktanya adalah menyediakan kondisi bagi terjadinya proses belajar mengajar.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah terdapat beberapa aspek kemampuan yang harus dikuasai dan dilakukan oleh guru dalam mengajar, agar kegiatan belajar mengajar dapat efektif. Menurut Rob Norris yang dikutip oleh Dakdir (1987: 179), mengajar yang efektif tergantung pada :

a. Kepribadian guru. b. Metode yang dipilih. c. Pola tingkah laku.

d. Kompetensi yang relevan.

Ahli lain yakni A.S. Bar mengemukakan bahwa mengajar yang efektif itu tergantung pada:

a. Sikap guru pada waktu mengajar.

b. Tingkah laku guru pada waktu mengajar. c. Motivasi.

d. Perhatian terhadap perbedaan individu. e. Mengorganisasi bahan.

f. Memberi ilustrasi. g. Memberi tugas.

h. Pertanyaan dalam kelas. i. Penguasan bahan.

j. Memberi komentar terhadap jawaban siswa. k. Ketertiban siswa.

l. Cara memberi tes dan evaluasi. (1987: 179 – 180).

Menurut Rustiyah (1982:44-47), agar guru dapat mengajar secara efektif hendaknya syarat-syarat sebagai berikut :

a. Membelajari siswa secara aktif.

b. Mempergunakan banyak metode mengajar ( variasi metode ). c. Memberi motivasi belajar siswa yang tepat.

d. Materi yang diajarkan disesuaikan dengan kurikulum dan kebutuhan masyarakat

e. Mempertimbangkan perbedaan individu siswa. f. Selalu membuat perencanaan sebelum mengajar. g. Memberikan pengaruh yang sugestif kepada siswa.

h. Memilih keberanian dalam menghadapi siswanya dan masalah-masalah yang timbul sewaktu PBM berlangsung.

i. Mampu menciptakan situasi yang demokratis di sekolah.

j. Sewaktu menyajikan bahan pengajaran, guru memberikan masalah-masalah yang merangsang siswa untuk berfikir.

k. Mengintegrasikan semua pelajaran yang diberikan kepada siswa. l. Menghubungkan mata pelajaran di sekolah dengan kebutuhan

nyata di masyarakat.

(8)

n. Menyusun perencanaan pengajaran remedial dan diberikan kepada siswa yang memerlukan.

Pendapat lain yang dikemukakan oleh Tangyong (1984 : 10 ) menjelaskan, apabila guru melaksanakan pendekatan CBSA maka terlihat bahwa 10 ciri yang disebutkan di bawah ini muncul :

1. Guru dapat memanfaatkan waktu belajar dengan baik.

2. Guru dapat membagi perhatian kepada siswa secara individual dengan mengingat latar belakangnya.

3. Guru selalu mendorong siswa untuk belajar aktif, baik untuk kerja individual, kerja kelompok ataupun hanya mendorong untuk berfikir.

4. Guru dapat mengatur kegiatan belajar berkelompok yang memungkinkan siswa untuk dapat saling belajar dan mengajar. 5. Guru dapat mengembangkan teknik bertanya yang mendorong

seluruh siswa untuk berfikir dan memberikan respon untuk berfikir dan memberikan respon untuk timbulnya pertanyaan dari siswa yang lain.

6. Guru dapat menciptakan berbagai umpan balik siswa dan menggunakan bagi pengembangan materi dan metode mengajarnya.

7. Guru dapat mencari, memanfaatkan dan mengintegrasikan sumber belajar lain di lingkungan.

8. Guru dapat menggunakan hasil belajar siswa untuk mendorong lebih giat belajar dan berkompetensi sehat.

9. Guru dapat menggunakan hasil belajar siswa untuk selanjutnya meningkatkan kualitas mengajarnya.

10. Guru dapat mengintegrasi sumber belajar lain.

Dari pendapat yang telah diuraikan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa agar pelaksanaan pengajaran efektif, perlu memperhatikan sebagai berikut :

1. Konsistensi kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum ; dilihat dari aspek-aspek :

a) Tujuan pengajar

b) Bahan pengajaran yang diberikan. c) Alat pengajaran yang digunakan.

d) Strategi evaluasi / penilaian yang digunakan. 2. Keterlaksanaan proses belajar mengajar ; meliputi :

a) Mengkondisikan kegiatan belajar siswa.

b) Menyajikan alat, sumber dan perlengkapan belajar.

c) Menggunakan waktu yang tersedia untuk KBM secara efektif. d) Motivasi belajar siswa.

e) Menguasai bahan pelajaran yang akan disampaiakn. f) Mengatifkan siswa dalam proses belajar mengajar g) Melaksanakan komunikasi / interaksi belajar mengajar.

h) Memberikan bantuan dan bimbingan belajar mengajar kepada siswa

(9)

BAB II

MENGELOLA PROSES BELAJAR – MENGAJAR

Telah dijelaskan di atas tentang tugas dan tanggung jawab guru dalam proses belajar mengajar. Tugas dan tanggung jawab tersebut erat kaitannya dengan kemampuan guru dalam usaha meningkatkan proses dan hasil belajar. Dalam bagian ini akan dijelaskan kemapuan guru dalam PBM. Namun sebelumnya akan dijelaskan tentang mengajar dan proses belajar mengajar itu sendiri.

Mengajar merupakan suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghungkannya dengan anak, sehingga terjadi belajar mengajar (Nasution, 1982: 8).

Gagne & Brig mengemukakan bahwa pengajaran bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebutuhan, melainkan adanya kemampuan guru yang dimiliki tentang dasar-dasar mengajar yang baik. Instruction is the means meployed by teacher, designer of materials, curriculum specialist, and promote whose purpose is to develop and organized plan top promote learning (1979: 9). Sedangkan menurut jaromelek dan foster 1981: 64), mengajar mengandung tiga peranan besar yaitu planning for learning and instruction, fasilitatory of learning and evaluation of learning.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar pada hakekatnya adalah melakukan kegiatan belajar, sehingga proses belajar, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

Menurut Moh. Uzer Usman (1990: 1), proses belajar mengajar adalah :

(10)

Selanjutnya dalam buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam terbitan Depag RI, proses belajar mengajar adalah :

Belajar mengajar sebagai proses dapat mengandung dua pengertian yaitu rentetan tahapan atau fase dalam mempelajari sesuatu, dan dapat pula berarti sebagai rentetan kegiatan perencanaan oleh guru, pelasanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut ( 1990:1).

Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan s ampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujaun tertentu yaitu pengajaran. Sedangkan yang dimaksug kemampuan mengelola proses belajar mengajar adalah kesanggupan para guru dalam menciptakan suasana komunikasi yang idukatif antara guru dan peserta didik yang mencakup segi koknitif, afektiftitas dan psikomotor, sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar tercapai tujuan pengajaran.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses Pendidikan formal dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Dalam PBM sebagian besar hasil belajar peserta didik ditentukan oleh peranan guru. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptaka lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola PBM, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal (Moh. Uzer Usman, 1990: 7). Jadi keberhasilan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar.

Berpangkal tolak dari beberapa syarat mengajar yang efektif sebagaimana telah diuraikan pada bagian depan, maka kemampuan guru dalam mengelola PBM, ditijau dari kegiatan yang dilakukan guru pada waktu mengajar.

Achmad Badawi (1990: 31-35), mengatakan bahwa mengajar guru dikatakan berkualitas apabila seorang guru dapat menampilkan kelakuan yang baik dalam usaha mengajarkannya. Kelakuan guru tersebut diharapkan mencerminkan kemampuan guru dalam mengelola PBM yang berkualitas yang meliputi :

1. Kemampuan dalam mempersiapkan pengajaran

a. Kemampuan merencanakan PBM, terdiri dari sub-sub kemampuan :

1) Kemampuan merusmuskan tujuan pengajaran. 2) Kemampuan memilih metode alternatif

3) Kemampuan memilih metode yang sesaui dengan tujuan pengajaran.

4) Kemampuan merencanakan langkah-langkah pengajaran. b. Kemampuan mempersiapkan bahan pengajaran, terdiri dari :

5) Kemampuan penyiapkan bahan yang sesuai dengan tujuan. 6) Kemampuan yang mempersiapkan pengayaan bahan

(11)

7) Kemampuan menyiapkan bahan pengajaran remedial. c. Kemampuan merencanakan media dan sumber, terdiri dari :

8) Kemampuan memilih media pengajaran yang tepat. 9) Kemampuan memilih sumber pengajaran yang tepat.

d. Kemampuan merencanakan penilaian terhadap prestasi siswa, terdiri dari sub-sub kemampuan :

10) Kemampuan menyusul alat penilaian hasil pengajaran

11) Kemampuan merencanakan penafsiran penggunaan hasil penilaian pengajaran.

2. Kemampuan dalam melaksanakan pengajaran

a. Kemampuan mengusai bahan yang direncanakan dan disesuaikannya, terdiri dari sub-sub kemampuan :

12) Kemampuan menguasai bahan yang direncanakan. 13) Kemampuan menyampaikan bahan yang direncanakan. 14) Kemampuan menyampaikan pengayaan bahan pengajaran. 15) Kemampuan memberikan pengajaran remedial.

b. Kemampuan dalam mengelola PBM terdiri dari :

16) Kemampuan untuk mengarahkan pengajaran untuk mencapai tujuan pengajaran.

17) Kemampuan menggunakan metode pengajaran yang direncanakan.

18) Kemampuan menggunakan metode pengajaran alternatif. 19) Kemampuan menyesuaikan langkah-langkah mengajar dengan

langkah-langkah yang direncanakan.

c. Kemampuan mengelola keras, terdiri dari kemampuan : 20) Kemampuan menciptakan suasana kelas yang serasi.

21) Kemampuan memanfaatkan kelas untuk mencapai tujuan pengajaran.

d. Kemampuan menggunakan metode dan sumber, terdiri dari : 22) Kemampuan menggunakan media pengajaran yang

direncanakan

23) Kemampuan menggunakan sumber pengajaran yang telah direncanakan.

e. Kemampuan melaksanakan interaksi belajar mengajar, terdiri dari sub-sub kemampuan :

24) Kemampuan melaksnakan PBM secara logis berurutan. 25) Kemampuan memberi pengertian dan contoh yang sederhana. 26) Kemampuan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. 27) Kemampuan bersikap sungguh-sungguh terhadap pengajaran. 28) Kemampuan bersikap terbuka terhadap pengajaran

29) Kemampuan memacu aktivitas siswa

30) Kemampan mendorong siswa untuk berinisiatif

31) Kemampuan merangsang timbulnya respon siswa terhadap pengajaran.

(12)

32) Kemampuan melaksanakan penilaian hasil pengajaran.

33) Kemampuan melaksanakan penilaian selama PBM berlangsung.

g. Kemampuan pengadministrasian kegiatan belajar mengajar, terdiri dari sub-sub kemampuan :

34) Kemampuan menulis di papan tulis.

35) Kemampuan mengadmintrasikan peristiwa penting yang terjadi selama PBM

Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam mengajar diharapakan terlihat kemampuan mengajar guru sebanyak diharapkan terlihat kemampuam mengajar guru sebanyak 12 kemampuan dengan 36 butir sub kemampuan :

a. Kemampuan merencanakan pengajaran sebanyak 4 kemampuan dengan 11 sub kemampuan.

b. Kemampuan merencanakan pengajaran sebanyakn 8 kemampuan dengan 25 sub kemampuan.

c. Kemampuan mengelola belajar secara individual. d. Kemampuan menanyakan pertanyaan yang tepat. e. Kemampuan menjadikan siswa-siswa yang bertanya. f. Kemampuan menggunakan alat bantu pengajaran. g. Kemampuan merencanakan urutan bahan secara logis.

h. Kemampuan membuat bantan memperbaiki alat bantu pengajaran.

i. Kemampuan mengkomunikasikan di setiap tingkat yang berbeda.

j. Kemampuan mengwasi kemajuan peserta didik

k. Kemampuan untuk membuat siswa bertanggung jawab akan belajarnya.

l. Kemampuan menjadikan para peserta didik mengembangkan semangat kerjasama dalam kelas.

m. Kemampuan mengawasi keefektifan

n. Kemampuan menggunakan materi yang sesuai dengan lingkungan mereka.

Kemampuan menggabungkan situasi belajar siswa di kelas dengan kerja produktif. (Suharsimi AK., 1983 38).

Kelima belas kemampuan mengajar situasi belajar siswa di Tanzani tersebut sesuai dengan jenis kemampuan guru dalam mengelola proses belajar dikelompokkan menjadikan 3 kelompok, yaitu :

1. Kemampuan merencanakan pengajaran, meliputi : a. Menguasai GBPP.

b. Menyusun analisis materi pelajaran (AMP). c. Menyusun program cawu.

d. Menyusun rencana pengajaran, dengan memperhatikan :

1) Karakter dan kemampuan awal siswa. 2) Perumusan tujuan pengajaran.

(13)

5) Pemilihan sarana / alat pendidikan. 6) Pemilihan strategi evaluasi.

2. Kemampuan melaksanakan proses belajar mengajar, meliputi :

a. Membuka pelajaran.

b. Melaksanakan inti proses belajar mengajar, terdiri : c. rdiri :

1) Menyampaikan materi pelajaran 2) Menggunakan ri pelajaran 3) Menggunakan metode mengajar. 4) Mengajukan pertanyaan.

5) Memberikan penguatan 6) Interaktif belajar mengajar

3. Kemampuan mengevaluasi / penilaian pengajaran, meliputi :

a. Melaksanakan tes. b. Mengolah hasil penilaian c. Melaporkan hasil penilaian

d. Melaksanakan program remedial / perbaikan pengajaran.

Hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan mengelola proses belajar mengajar, seperti telah disebutkan di atas, akan diuraikan satu per satu pada pembahasan berikut :

A. Kemampuan Merencanakan Pengajaran.

Pada hakekatnya bila suatu suatu kegiatan direncanakan lebih dahulu, maka tujuan dari kegiatan tersebut akan lebih terarah dan lebih berhasil. Itulah sebabnya seorang guru harus memiliki kemampuan dalam merencanakan pengajaran. Seorang guru sebelum mengajar hendaknya merencanakan program pengajaran, membuat persiapan pengajaran yang hendaknya diberikan. Sehubungan dengan hal itu, David Johnson (1979: 9), mengatakan :

Teacher are expected to design and deliver instruction so that student learning is facilitated. Instruction is asset of event design to initiated aclivate, and support learning in student, it is the process of arranging the learning situation ( including the classroom, the student, and the curriculum materials ) so that learning is facilitated.

(14)

Perencanaan itu dapat bermanfaat nagi guru sebagai kontrol terhadap diri sendiri agar dapa memperbaiki cara pengajaraannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto (1984: 136), bahwa selain berguna sebagai alat control, maka persiapan mengajar juga berguna sebagai pegangan bagi guru sendiri.

Pedukung pendapat tersebut, Tim Pembina Mata Kuliah Didaktik/Kurikulum IKIP Surabaya (1988: 48), menyatakan bahwa dengan perencanaan maka pelaksanaan pengajaraan menjadi baik dan efektif yaitu murid harus dijadikan pedoman setiap kali membuat persiapan pengajaran.

Sehubungan dengan kemampuan merencanakan pengajaran, berikut ini akan dijelaskan hal-hal sebagai berikut; 1) Menguasai GBPP

Program pengajaran merupakan seperangkat rencana bahan pengajaran yang digunakan sebagai pedoman pengajaran. Program pengajaran tersebut tertuang dalam GBPP yang didalamnya memuat tujuan, bahan dan program.

Sebelum tampil di depan kelas, guru harus menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa dan bahan pelajaran yang mendukung jalannya proses belajar mengajar. Syamsul Mochtar (1987: 12) menjelaskan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah pada hakikatnya merupakan perwujudan pelaksanaan program pengajaraan yang telah digariskan dalam kurikulum, khususnya GBPP. Oleh karena itu sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar guru harus memahami benar isi dari GBPP tersebut,yang meliputi tujuan kurikuler, tujuan instruksional, serta materi/bahan pelajaran yang diajarkan.

2) Menguasai GBPP

Analisis materi pelajaran adalah hasil dari kegiatan yang berlangsung sejak seorang guru mulai meneliti isi GBPP kemudian mengkaji materi dan menjabarkannya serta mempertimbangkan penyajiannya. Analisis materi pelajaran merupakan salah satu bagian dari rencana kegiatan belajar mengajar yang berhubungan erat dengan materi pelajaran dan strategi penyajiannya.

Adapun fungsi analisis materi pelajaran sebagai acuan untuk menyusun program pengajaran yaitu program tahunan, program catur wulan, program satuan pelajaran dan rencana pengajaran. Sasaran analisis materi pelajaran yang merupakan komponen utama, meliputi :

a) Terjabarnya tema/konsep/pokok bahasan/sub pokok bahasan konsep/sub tema.

(15)

c) Terpilihnya sarana pembelajaran yang paling cocok. d) Tersedianya alokasi waktu sesuai dengan lingkungan

materi ke dalam materi dan keliasan materi. (Depdikbud, 1994: 23).

Kegiatan penyusunan analisis materi pelajaran ini berupa penjabaran dan penyesuaian isi GBPP mata pelajaran. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

a) Mejabarkan kurikulum

Yaitu mengurangi bahan pelajaran, menguraikan tema/konsep pokok bahasan yang mengacu pada tujuan pembelajaran.

b) Menyesuaikan kurikulum

Yaitu menyesuaikan pembelajaran dalam kurikulum nasional dengan keadaan setempat agar proses belajar dan hasil belajar dapat dicapai secara efektif dan efisien, sesuai dengan tujuan. Kegiatan penyesuaian kurikulum mencakup :

(1) Pemilihan metode

(2) Pemilihan sarana pembelajaran

(3) Pendistribusian waktu belajar mengajar. 3) Menyusun program cawu

Menyusun program cawu didasarkan atas program tahunan. Program tahunan dan program cawu merupakan sebagian dari program pengajaran. Program tahunan memuat alokasi waktu untuk setiap pokok bahasan dalam satu tahun pelajaran, sedangkan program catur wulan memuat lokasi waktu untuk setiap satuan bahasan setiap cawu.

Dalam menyusun program cawu dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :

a) Menghitung hari dan jam efektif selama satu cawu.

b) Merncatat mata pelajaran yang akan diajarkan selama satu cawu.

c) Membagi alokasi waktu yang tersedia selama satu cawu. (Wiyono, 1989: 126)

4) Menyusun program satuan pelajaran

(16)

Sehubungan dengan penyusunan satuan pelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

a) Karakterstik dan Kemampuan Awal Siswa

Karakteristik dan kemampuan awal siswa adalah pengetahuan dan keterampilan yang relevan termasuk latar belakang karakteristik yang dimiliki siswa pada saat akan mulai mengikuti suatu program pengajaran (Abdul Gafur, 1981:59).

Untuk mengetahui karakteristik dan kemampuan awal siswa, teknik yang dapat dilakukan yaitu;

(1). Menggunakan catatan atau dokumen seperti rapor. (2). Menggunakan tes pra-syarat dan tes awal.

(3). Mengadakan komunikasi individual.

(4). Menyampaikan angket. (Abdul Gafur, 1981: 62). b) Tujuan Instrusional Khusus (TIK)

Tujuan instruksional khusus adalah kemampuan, ketrampilandan sikap yang harus dimiliki oleh siswa manakala ia telah selesai mengikuti sesuatu program pelajaran (Abdul Gafur, 1981: 70).

Dalam merumuskan tujuan instruksional khusus, dasar yang dijadikan pertimbangan adalah;Tujuan Instruksional Umum (TIU), usia, karakteristik dan kemapuan siswa, (Oteng Sutisno, 1983: 47). Sedangkan menurut A. Samana (1982: 46), dasar pertimbangan dalam merumuskan TIK adalah:

(1). Tujuan instruksional institusioanl. (2). Tujuan instruksional umum. (3). Sifat bahan.

(4). Kebutuhan – kebutuhan siswa.

Jadi dasar pertimbangan dalam merumuskan TIK adalah tujuan instruksional umum, sifat bahan, karakteristik dan kemampuan awal siswa.

c) Bahan Pelajaran

Bahan pelajaran atau materi pelajaran adalah gabungan antara pengetahuan (fakta, informasi yang terperinci), ketrampilan (langkah, prosedur, keadaan dan syarat-syarat) dan faktor sikap.

Dasar yang dipakai dalam memilih bahan atau materi pelajaran menurut A. Samana (1992: 72) terdiri dari:

(1) Tujuan instruksional umum.

(2) Tingkat perkembangan dan intelektual anak, (3) Pengalaman anak,

(17)

Sementara itu Suharsimi Arikunto (1983: 61), mengemukakan dasar pemilihan materi pelajaran sebagai berikut:

(1) Tujuan.

(2) Keadaan siswa. (3) Situasi setempat.

(4) Tersedianya waktu dan fasilitas.

Dari dua pendapat di atas, dapat disampaikan bahwa dasar pemilihan materi pelajaran adalah sebagai berikut :

(1) Tujuan instruksional umum. (2) Tingkat perkembangan siswa (3) Pengalaman siswa

(4) Tersedianya waktu dan fasilitas d) Metode Mengajar

Menurut Hadari Nawawi (1985: 123), metode mengajar adalah kesatuan langkah kerja yang dikembangkan oleh guru berdasarkan pertimbangan rasioanl tertentu, masing-masing jenisnya bercorak khas dan kesemuanya berguna untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.

Dasar pemilihan metode mengajar menurut Abu Ahmadi (1990: 111), terdiri dari lima hal yaitu;

(1) Relevansi dengan tujuan. (2) Relevansi dengan bahan.

(3) Relevanasi dengan kemampuan guru. (4) Relevansi dengan situasi pengajaran.

Sedangkan menurut Lardizal (1987: 47), dasar pemilihan metode mengajar terdiri dari:

(1) Tujuan. (2) Materi. (3) Fasilitas. (4) Guru.

Jadi dasar pemilihan metode mengajar terdiri dari: (1). Relevansi dengan tujuan.

(2). Relevansi dengan materi.

(18)

(5). Relevansi dengan perlengkapan/fasilitas sekolah.

e) Sarana/Alat Pendidikan

Sarana/alat pendidikan adalah alat yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan (Suharsimi Arikunto, 1987: 10). Lebih lanjut Suharsimi Arikunto (1987: 11) mengemukakan bahwa sarana pendidikan terdiri dari: alat pengajaran, alat peraga dan alat pendidikan.

Dasar pemilihan sarana menurut Abdul Gafur (1989: 111), terdiri dari;

(1). Tujuan. (2). Materi.

(3). Karakteristik sarana. (4). Kemampuan anak dan (5). Biaya.

Sementara itu menurut Suharsimi Arikunto (1983: 199) dasar pemilihan sarana pendidikan terdiri dari: (1) Kondisi, kemampuan dan minat siswa.

(2) Tersedianya fasilitas lain dan (3) Alokasi waktu.

Dari dau pendapat diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa dasar pemilihan sarana pendidikan terdiri dari: (1) Tujuan.

(2) Materi.

(3) Kemampuan, minat dan usia siswa. (4) Alokasi waktu.

f) Strategi Evaluasi

Dalam menentukan strategi evaluasi yang akan dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung berdasrkan pada:

(1). Tujuan evaluasi.

(2). Segi-segi yang akan dinilai, yaitu aspek-aspek pengetahuan dan ketrampilan murid.

(3). Alat penilaian.

(19)

Yang dimaksud dengan pelaksanaan proses belajar mengajar dalah proses berlangsung belajar mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Jadi pelaksanaan pengajaran adalah interaksi guru dengan murid dalam rangka menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dan untuk mencapai tujuan pengajaran. (Winarno Surachmad, 1983: 257). Sedangkan menurut Roy R. Lefrancois seperti dikutip oleh Dimayati Mahmud (1989: 23), pelaksanaan pengajaran adalah pelaksanaan strategi-strategi yang telah dirancang untuk mencapai tujuan pengajaran.

Menurut Nana Sudjana (1987: 148), pelaksanaan proses belajar mengajar meliputi pentahapan sebagai berikut:

1) Tahap pra Intruksional

Yakni tahap yang ditempuh pada saat dimulai sesuatu proses belajar mengajar, yaitu;

(a) Guru menanyakan kehadiran siswa dan mencatat siswa yang tidak hadir.

(b) Bertanya kepada siswa sampai di mana pembahasan sebelumnya.

(c) Memberikan kesemnpatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan pelajaran yang belum dikuasainya, dari pelajaran yang sudah disampaikan.

(d) Mengajukan pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan bahan yang sudah diberikan.

(e) Mengulang bahan pelajaran yang lain secara singkat tetapi mencakup semua aspek bahan.

2) Tahap Intruksional

Yakni tahap pemberian bahan pelajaran yang dapat diidentifikasikan beberapa kegiatan sebegai berikut:

(a) Menjelaskan kepada siswa tujuan pengajaran yang harus dicapai siswa.

(b) Menjelaskan pokok materi yang akan dibahas. (c) Membahas pokok materi yang sudah dituliskan.

(d) Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh-contoh yang kongkret, pertanyaan, tugas.

(e) Penggunaan alat bantu pengajaran untuk memperjelas pembahasan pada setiap materi pelajaran.

(f) Menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi.

3) Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut

(20)

a) Mengajukan pertanyaan kepada kelas atau kepada beberapa murid mengenai semua aspek pokok materi yang telah dibahas pada tahap instruksional.

b) Apabila pertanyaan yang diajukan belum dapat dijawab oleh siswa (kurang dari 70%), maka guru harus mengulang pengajaran.

c) Untuk memperkaya pengetahuan siswa mengenai materi yang dibahas, guru dapat memberikan tugas atau PR.

d) Akhiri pelajaran dengan menjelaskan atau memberikan pokok materi yang akan dibahas pada pelajaran berikutnya.

Mendukung pendapat diatas J.J. Hasibuan ( 1988: 29) mengemukakan tahap mengajar sebagai berikut:

1) Tahap sebelum pengajaran, meliputi:

a) Menyusun tahunan pelaksanaan kurikulum. b) Program semester / cawu pelaksanaan kurikulum c) Program satpel dan perencanaan program mengajar 2) Tahap pengajaran, yaitu interaksi guru dan siswa,

meliputi :

a) Pengelolaan dan pengendalian kelas

b) Penyampaian informasi, keterampilan-keterampilan, konsep.

c) Penggunaan tingkah laku verbal dan non verbal. d) Cara mendapat balikin

e) Mepertimbangkan prinsip-prinsip psikologis yaitu motivasi dan keterlibatan balikin

f) Mendiagnosis kesulitan belajar

g) Menyajikan kegiatan sehubungan dengan perbedaan individu.

h) Mengevaluasi kegiatan interaksi. 3) Tahapan sesudah pengajaran, meliputi :

a) Menilai pekerjaan siswa

b) Membuat perencanaan untuk pertemuan berikut c) Menilai kembali PBM.

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan mengajar meliputi tiga tahap :

1) Tahap sebelum pengajaran (pra instruksional) 2) Tahap pengajaran (instruksional)

(21)

Sehubungan dengan pelaksanaan pengajaran, berikut ini akan dijelaskan tentang membuka pelajaran, berikut ini akan dijelaskan tentang membuka pelajaran, berikut ini akan dijelaskan tentang membuka pelajaran, menyampaikan materi pelajaran, menggunakan metode mengajar, menggunakan alat peraga, pengelolaan kelas dan menutup pelajaran.

1) Membuka pelajaran

Membuka pelajaran adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan pra kondisi bagi murid agar mental maupun perhatiannya terpusat pada apa yang dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek terhadap kegiatan belajar. (M. Uzer Usman, 1990: 26).

Jadi yang dimaksud dengan membuka pelajaran adalah usaha guru untuk menciptakan kondisi awal agar mental dan perhatian murid terpusat pada apa yang dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek positif terhadap kegiatan belajar mengajar.

Sehungan dengan membuka pelajaran, kegiatan yang dilakukan guru untuk menumbuhkan kesiapan mental siswa dalam menerima pelajaran adalah :

a) Mengemukakan tujuan pelajaran yang akan dicapai

b) Mengemukakan masalah-masalah pokok yang akan dipelajari

c) Menentukan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar

d) Menentukan batas-batas tugas yang harus dikerjakan untuk mengusai pelajaran. (J.J Hasibuan, 1988: 117).

Dalam pada itu, komponen-komponen membuka pelajaran meliputi :

(1) Menarik perhatian siswa (2) Menimbulkan motivasi (3) Membrikan acuan (4) Membuat kaitan

(22)

a) Menggunakan gaya mengajar yang bervariasi. b) Menggunakan berbagai media mengajar c) Pola interaksi yang bervariasi, misalnya:

(1) Guru menerangkan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

(2) Guru memberikan tugas, diskusi dan sebagainya. (J.J Hasibuan, 1988: 118)

a) Dengan kehangatan dan keantusiasan, misalnya bersikap ramah, bershabat, hangat, dan akrap. b) Dengan menimbulkan rasa ingin tahu

c) Dengan mengemukakan ide yang bertentangan. d) Dengan memperhatikan dan menyesuaikan

minat siswa.

Dalam hubungannya dengan membuka pelajaran, oleh J.J Hasibuan (1986: 120) diartikan sebagai :

Usaha mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkaian alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas tentang hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang hendak ditempuh dalam mempelajari bahan pelajaran.

Usaha dan cara member acuan antara lain adalah :

a) Mengemukan tujuan dan batas-batas tugas b) Menyarankan langkah-langkah yang akan

dilakukan

c) Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas

d) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan (J.J Hasibuan, 1988: 121).

Untuk mempermudah pemahaman siswa dalam mengajarkan bahan pelajaran yang baru guru perlu menghubungkan bahan pengait. Usaha guru untuk membuat kaitan itu, misalnya dengan cara :

a) Membuat antara aspek-aspek yang relevan dari mata pelajaran yang telah dipelajari.

(23)

c) Menjelaskan konsep atau pengertiannya lebih dahulu.

d) Mengemukakan rician bahan yang baru.

Adapun tujuan membuka pelajaran dengan baik dikelas adalah dengan maksud agar diperoleh pengaruh posirif terhadap proses dan hasil belajar. Pengaruh positif tersebut antara lain :

a) Timbulnya perhatian dan motivasi siswa untuk menghadapi tugas-tugas yang akan dikerjakan. b) Siswa tahu batas-batas tugas yang akan

dikerjakan

c) Siswa mempunyai gambaran yang jelas tentang pendekatan-pendekatan yang mungkin diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari mata pelajaran.

d) Siswa mengetahui hubungan anatar pengalaman-pengalaman yang telah dikuasai dengan hal-hal yang baru.

e) Siswa mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mempelajari pelajaran itu. (J.J Hasibun, 1988: 120).

2) Menyampaikan materi pelajaran

Bahan atau materi pelajaran pada hakikatnya adalah isi dari materi pelajaran yang diberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakan. Secara umum sifat bahan pelajaran dapat dibedakan menjadi beberapa kategori yaitu : fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan.

Dalam menyampaikan bahan pelajaran perlu memperhatikan dalam menetapkan bahan pelajaran. Nana Sudjana (1989: 67), mengemukakan hal-hal yang diperhatikan dalam menetapkan materi pelajaran sebagai berikut :

a) Bahan harus sesuai dengan menunjang tercapainya tujuan.

b) Bahan yang ditulis dalam perencanaan pengajaran terbatas pada konsep / garis besar bahan, tidak perlu urutan tujuan.

c) Menetapkan bahan pengajaran harus serasi dengan urutan tujuan.

(24)

e) Bahan disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang kongkrit menuju yang abstrak, sehingga siswa mudah memahami

Hal yang diperlukan dalam menetapkan bahan adalah kemampuan guru memilih bahan yang akan diberikan pada siswa. Guru harus memilih bahan mana yang perlu. Dalam menetapkan pilihan tersebut Nana Sudjana (1989: 70), mengemukakan untuk memperhatikan :

a. Tujuan pengajaran b. Urgensi bahan c. Tuntutan kurikulum d. Nilai kegunaan

e. Terbatasnya sumber bahan 3) Menggunakan metode mengajar

Metode mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh kerana itu, peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar.

Dengan metode mengajar diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa, sehubungan dengan kegiatan mengajar guru. Dengan kata lain, terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak / pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima / dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik, kalau siswa lebih banyak aktif disbanding dengan guru. Oleh karenanya metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa, serta menggunakan metode mengajar secara bervariasi. Tugas guru ialah memilih metode yang tepat untuk menciptakan proses belajar mengajar yang baik. Ketepatan penggunaan metode mengajar sangat tergantung kepada tujuan, isi proses belajar mengajar dan kegiatan belajar mengajar.

Menurut Nana Sudjana (1989: 69), dalam praktek mengajar metode yang baik diginakan adalah metode mengajar yang bervariasi / kombinasi dari beberapa metode mengajar, seperti :

(25)

c. Ceramah, demontrasi dan eksperimen. d. Ceramah, sosiodrama dan diskusi e. Ceramah, problem solving dan tugas. f. Ceramah, demontrasi dan latihan.

Di dalam buku Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (Depdikbud, 1994: 40 – 70), disebutkan metode mengajar dan pendekatan yang digunakan pada tiap-tiap mata pelajaran. Adapun pendekatan dan metode yang digunakan tiap-tiap mata pelajaran adalah sebagai berikut : a) Mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP)

Metode dan pendekatan yang digunakan yaitu : (1) Ceramah murni

(2) Ceramah bervariasi

(3) Ekspoitorik (bahan, alat peraga).

(4) VCT (Value Clarification Technique = menguraikan nilai, jenis). (5) Inquiri.

(6) Pemecahan masalah (7) Tanya jawab nilai moral (8) Daftar skala sikap (9) Simulasi.

(10) Permainan

(11) Modeling (mengembangkan mode) (12) Demontrasi

(13) Partisipatorik (14) Karyawisata (15) Observasi b) Mata Pelajaran Agama

(1) Agama Islam, pendekatan yang digunakan adalah : (a) Pendekatan pengalaman

(b) Pendekatan pembiasaan (pengalaman)

(c) Pendekatan emosional (menggugah perasaan), (d) pendekatan rasional dan

(d) Pendekatan rasional dan (e) Pendekatan fungsional.

(2) Agama Kristen, pendekatan dan metode yang digunakan : (a) Pendekatan dialogis partisipasif (tentang pemahaman iman) (b) Metode mendengar pendapat orang lain.

(c) Metode indoktrinasi. c) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.

Metode yang digunakan adalah : (1) Metode Tanya jawab

(26)

(5) Ceramah

(6) Bercerita dan dranatisasi

d) Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) Pendekatan yang digunakan adalah :

(1) Pendekatan factual: memberi berbagai fakta peristiwa.

(2) Pendekatan prosesual; menambahkan kesinambungan peristiwa. (3) Pendekatan pemecahan masalah kausal; mengembangkan daya

fikir.

Sedangkan metode yang digunakan yaitu : (1) Metode ceramah bervariasi

(2) Bercerita (3) Tanya jawab (4) Diskusi

(5) Pemberian tugas. (6) Widyawisata. (7) Bermain peran. (8) Sosiodrama

e) Mata Pelajaran Pendidikan Jasmanai dan Kesehatan Metode yang digunakan adalah :

(1) Ceramah. (2) Demostrasi. (3) Eksperimen. (4) Kerja kelompok. (5) Diskusi.

(6) Inquiri. (7) Diskoveri.

f) Mata Pelajaran Matematika

Pendekatan yang digunakan adalah :

(1) Pendekatan induktif: mengkaji kasus-kasus pola-pola. (2) Pendekatan deduktif: menemukan membuktikan prinsip.

(3) Ketrampilan proses: menerapkan konsep dan penyelesaian soal. (4) Metode pemberian tugas.

(5) Pemecahan masalah.

g) Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alama ( IPA ) Pendekatan yang digunakan adalah :

(1) Pendekatan konsep. (2) Ketrampilan proses. (3) Pemecahan masalah.

(27)

Sedangkan metode yang dipakai : (1) Eksperimen.

(2) Demontrasi. (3) Diskusi. (4) Karyawisata. (5) Penugasan

(6) Metode Tanya jawab.

Dalam pelaksanaan metode-metode tersebut tidak berdiri sendiri tetapi digunakan secara terpadu. Pada prinsipnya dalam semua mata pelajaran metode yang digunakan harus dapat menunjang pendekatan belajar aktif.

4) Menggunakan Alat Peraga dalam Pengajaran

Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Metode dan alat merupakan unsur yang tidak bias dilepaskan dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara/teknik. Dalam proses belajar mengajar alat peraga dipergunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar siswa lebih efektif dan efisien.

Alat peraga dalam proses belajar mengajar penting karena memiliki fungsi pokok sebagai berikut:

a) Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar mempunyai fungsi sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.

b) Penggunaan alat peraga merupakan bagian integral dari keseluruhaan situasi belajar.

c) Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran

d) Penggunaan alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru (Nana Sudjana, 1989: 68).

5) Pengelolaan Kelas

(28)

Kegiatan mengelola kelas menyangkut kegiatan sebagai berikut: a) Mengatur tata ruang, misalnya mengatur meja dan tetmpat

duduk, menempatkan papan tulis, dan sebagainya.

b) Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi, dalam arti guru harus mampu menangani dan mengarahkan tingkah laku anak didik agar tidak merusak suasana kelas. (Sardiman A.M., 1986: 167).

Guru sangat berperan dalam mengelola kelas. Apabila guru mampu mengelola kelasnya dengan baik, maka tidaklah sukar bagi guru itu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Adapun pengelolaan kelas yang baik seperti yang dikemukakan oleh John Jarolinek dan Clifford D. Foster (1976: 59-62), adalah :

a) Good classroom management the mental and social development of pupils.

b) Good classsrom provides intelectual and physical freedom within know parameters.

c) Good classroom facilities the chievement of goals of instruction. d) Good classroom management allows children the develop skills of

self direction and independence.

e) Good classroom management allows pupils to share some responsibility for classroom management.

f) Good classroom management work toward sa warm, but form relationship between the teacher and pupuls.

g) Good classroom management result in positive pupils attitudes towards the class.

Untuk lebih jelasnya dapat diterjemahkan secara bebas sebagai berikut :

a) Pengelolaan kelas yang baik mempertinggi perkembangan mental dan social murid-murid.

b) Pengelolaan kelas yang baik member kebebasan intelektual dan fisik dalam karakter yang ditentukan.

c) Pengelolaan kelas yang baik memungkinkan pencapaian tujuan instruksional.

d) Pengelolaan kelas yang baik mengizinkan kepada murid untuk ikut berpartisipasi atas pengelolaan kelasnya.

e) Pengelolaan kelas yang baik mengizinkan kepada murid untuk mengembangkan kecakapan sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.

f) Pengelolaan kelas yang baik membuat suasana yang hangat terhadap hubungan antara guru dan murid.

g) Pengelolaan kelas yang baik menghasilkan sikap murid yang positif terhadap kelasnya.

(29)

Our review of research on effective classroom indicate that teacher can have impact on student behavior and student achievement and teacher do that by planning managing and instrukcting in ways that keep student involved on succesfully covering appropriate content.”

Maksudnya mengandung makna kurang lebih kurang lebih yaitu kelas yang efektif menunjukkan bahwa guru-guru dapat berdampak pada tingkat laku dan hasil belajar siswa. Untuk itu guru membuat perencanaan pengelolaan dan pengajaran dengan suatu cara tertentu agar siswa terlihat pada suatu peliputan isi pelajaran secara berhasil.

Jadi dalam PBM harus berbentuk adanya kelas yang efektif, yaitu dengan melihat berbagai pola tingkat laku guru dan tingkah laku siswa. 6) Interaksi Belajar mengajar

Pelaksanaan interaksi balajar mengajar adalah proses hubungan antara guru dengan siswa selama berlangsungnya pengajaran. Sehungan dengan pelaksanaan PBM Suharsimi Arikunto (1989: 96), mengemukakan ineteraksi belajar mengajar meliputi :

a) Persiapan

(1) Menenangkan kelas.

(2) Menyiapkan perlengkapan belajar

(3) Apersepsi ( menghubungkan dengan pelajaran yang lalu ). (4) Membahas pekerjaan rumah (PR).

b) Kegiatn Pokok Belajar

(1) Merusmuskan tujuan pelajaran (2) Guru mencatat atau mendiktekan

(3) Guru menerangkan secara lisan / tulisan. (4) Guru mendemonsikan.

(5) Murid mencoba mendemostrasikan sendiri.

(6) Murid mencoba mendemonstrasikan secara kelompok (7) Diskusi kelas.

(8) Murid belajar sendiri

(9) Guru member bantuan belajar secara individual kepada siswa. (10) Guru bertanya

(11) Murid bertanya c) Penyelesaian

(1) Evaluasi formatif.

(2) Guru menjelaskan kembali bagi pelajaran tertentu (3) Guru memberikan tugas tertentu / PR.

(30)

Menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran pelajaran atau kegaiatan belajar mengajar (M. Uzer Usman, 1990: 90). Lebih lanjut disebutkan bahwa kegiatan menutup pelajaran tersendiri dari :

a) Merangkum atau membuat garis besar persoalan yang dibahas. b) Mengkonsolidasi perhatian siswa terhadap hal-hal yang diperoleh

dalam pelajaran.

c) Mengorganisasi semua kegiatan / pelajaran yang telah dipelajaran sehingga merupakan suatu kesatuan yang berarti dalam memahami materi.

(M. Uzer Usman, 1990: 91).

C. Kemampuan Mengevaluasi (Pelaksanaan Penilaian)

Untuk dapat menentukan tercapainya tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan usaha dan tindakan atau kegiatan untuk menilai hasil belajar. Penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengjaran yang telah dipelajari tujuan ditetapkan.

Penilaian dalam proses belajar mengajar meliputi : a) Evaluasi formatif

b) Evaluasi sumatif

c) Pelaporan hasil evaluasi

d) Pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan. a) Evaluasi foramatif

Evaluasi formatif adalah penilaian yang dilakukan guru setelah satu pokok bahasan selesai dipelajari oleh siswa (Suharsimi Arikuntoro, 1988: 42). Dalam buku Pedoman Penilaian hasil Belajar di Sekolah Dasar (1987: 42), penilaian formatif disebutkan dengan istilah penilaian pada akhir satuan pelajaran. penilaian ini berfungsi untuk mengetahui sejauh mana kertercapaian tujuan instruksional khusus yang telah ditentukan dalam setiap satuan pelajaran (Depdikbud., 1987: 48).

b) Evaluasi Sumatif

(31)

Figur

Gambar: Proses Sirkuler Pengajaran Efektif
Gambar: Proses Sirkuler Pengajaran Efektif p.6

Referensi

Memperbarui...