EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROGRAM
PENGEMBANGAN UKM
(Studi Pada Dinas Koperasi Kota Medan)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial Departemen Ilmu Administrasi Negara
D I S U S U N OLEH :
DWI SETYOWATI LESTARI
040903007
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk diperbanyak dan dipertahankan oleh : Nama : DWI SETYOWATI LESTARI
NIM : 040903007
Departemen : Ilmu Administrasi Negara
Judul : Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan UKM (Studi Pada . . Dinas Koperasi Kota Medan)
Medan, September 2008 Ketua Departemen Desen Pembimbing Ilmu Administrasi Negara
Dra. Beti Nasution , M.Si Drs. Marlon Sihombing, MA Nip : 131 757 009 Nip : 131 568 391
DEKAN FISIP USU
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Skripsi Deapartemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara pada :
Hari :
Tanggal : Pukul : Tempat :
TIM PENGUJI
Ketua Penguji :
Anggota I :
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : DWI SETYOWATI LESTARI
Tempat/Tgl. Lahir : Medan, 1 Juli 1986 Jenis Kelamin : Perempuan
NIM : 040903007
Fakultas : Ilmu Sosial Ilmu Politik Departemen : Ilmu Administrasi Negara Program Studi : S-1
Dengan ini menyatakan bahawa foto yang Saya gunakan untuk ijazah memakai jilbab/kerudung. Demikian surat pernyataan ini Saya perbuat untuk dipergunakan seperlunya.
Medan, 18 September 2008 Pembuat Pernyataan
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur Penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas segala Berkat, Rahmat dan Hidayah-Nya yang begitu berlimpah, Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu. Adapun judul dari skripsi ini, yaitu : “Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan UKM (Studi Pada Dinas Koperasi Kota Medan)”
Dalam penyelesaian skripsi, Penulis menyadari masih ada kekurangan baik dari segi bahasa, penulisan maupun penyampaiannya. Untuk itu Penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangunan untuk penyempurnaan skripsi ini.
Selain itu perjalanan panjang Penulis selama 4 tahun 3 bulan untuk menyelesaikan studi sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan pendidikan di FISIP USU terbantu oleh adanya orang-orang yang senantiasa membantu dan menyemangati Penulis. Untuk itu tanpa mengurangi rasa hormat, Penulis ingin merngucapkan kasih yang paling tulus kepada :
2. Abang qu Mr. Echo Webee (b’Eko) n adik qu pak trimo (Adi) yang uda mau bantuin aq ngitungin kuesioner dan jadi ojek qu ke kampus serta yang g’ kelupaan adik qu paling kecil tapi badanya paling “gaboh” (Ayu), baek-baek kau belajar ya, jangan main PS aja kerjanya….he..he..
3. Ibu Dra. Beti Nasution, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Administrasi Negara yang uda ngebantuin Penulis untuk memilih judul penelitian serta sebagai Dosen Pembimbing Penulis yang telah banyak membimbing dan membantu Penulis menyelesaikan skripsi. Sekali lagi terima kasih banyak ya Bu.
4. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
5. Bapak Dr. Marlon Sihombing, MA selaku Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
6. Ibu Arlina S.H, M.Hum selaku Dosen Wali Penulis yang telah banyak membantu Penulis semenjak awal Penulis memulai studi sampai akhirnya Penulis selesai studi.
7. Bapak Ihsan Efendi S.E, M.Si selaku Dosen Penguji pada seminar proposal yang telah banyak memberikan saran-saran untuk perbaikan proposal dan Skripsi Penulis
8. Kepada seluruh Dosen Ilmu Administrasi Negara yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berlimpah kepada Penulis
10.Kepada Bapak Kepala Dinas Koperasi Kota Medan dan seluruh pegawai Dinas Koperasi Kota Medan yang telah banyak membantu Penulis dalam memberikan data-data dan keterangan mengenai program pengembangan UKM, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
11.Kepada Bapak Ridwan Nasution selaku ketua UKM se Sumatera Utara, terima kasih atas segala informasi yang Bapak berikan mengenai UKM. Informasi yang Bapak berikan benar-benar membantu Penulis untuk merampung skripsi ini. Terima kasih ya Pak..
13.Buat Sponsor n Upline dasyat *7 qu Ines n Khairi, thanks banget karena selalu menyemangati n kasih konsultasi ama aq. Terima kasih karena uda ngenalin aq dengan bisnis yang “sangat luar biasa dasyat”. Yang uda ngajarin aq arti impian, perjuangan dan semangat. Pokoknya aq janji setelah ini aq bakalan naik peringkat n “Be The Best One”.
14.Buat semua downline-downline dasssyaatt qu B’Budi, Bu Masta, Enny,Novi, Liza, Nike, Imel, Lia, Rio O, Rio T n yang lainnya yang ga bisa disebutin satu persatu, terima kasih atas kerja samanya selama ini, terutama buat Enny n Nike yang selalu tanya kapan kakak wisuda, Ni sekarang kakak uda tamat, selanjutnya kalian juga ya.
15.Buat Iwel (Hikmah) n Pahe (Erlita) my best friend di SMA. Terima kasih atas persahabatanya selama ini. Walaupun sekarang qt uda jarang kumpul tapi aq g bakalan ngelupain pengalaman-pengalaman seru qt waktu SMA.
16.Buat TTM qu ( teman-teman magang), Astri (mami tiri), Juni, Juli, Marissa, Boris, King, Rudi n Melky. Terima kasih atas kebersamaan n pengertiannya, serta segala pengalaman-pengalaman aneh qt waktu magang, terutama saat-saat menengangkan qt sama P’Hasibuan, lucu juga ya kalo’ diingat-ingat…
17.Buat Henny temen seperjuangan satu doping, walaupun kw uda tamat duluan, tapi maksih ya uda buanyak banget ngasi info ama aq. Qu doain kw bisa cepet dapat kerjanya.
19.Buat Lia, Irut, Doni, Joe, Carol, Cika, Putri n Juli, kok g ada kabar nya lagi sich….sombong ni mentang-mentang uda tamat duluan…
20.Buat temen-temen An ’04 Neni, Ayu Sar, Ayu Sri, Monica, Debi, Ipul, Dodo, Fikri n semuanya la yang tamat taon ini. Sama-sama ya qt pake toganya. Dan g ketinggalan juga temen-temen ‘04yang lain yang masih lagi nyusun. Qu doain biar bisa cepat nyusul juga
21.Buat para UKM-UKM kota Medan, terima kasih ya Pak/Bu karena uda mw ngisi kuesioner n uda ngasih banyak informasi
22.Dan buat semua pihak yang uda ngebantuin aq nyelesaikan skripsi ini, Penulis ucapkan terima kasih banyak.
Akhir kata Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi Penulis khususnya dan bagi semua yang memerlukannya. Amin.
Medan, 12 September 2008 Hormat Saya
DAFTAR ISI
Kata Pengantar... i
Daftar Isi... vi
Daftar Tabel Dan Gambar... xi
Lampiran……….. xiii
ABSTRAK ……….. xiv
BAB I : Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah…... 1
1.2. Perumusan Masalah…... 7
1.3. Tujuan Penelitian…... 7
1.4. Manfaat Penelitian…... 8
1.5.1. Organisasi Pemerintah……….. 9
1.5.2. Manajemen Pemerintahan ……… 12
1.5.3. Efektivitas………. 12
1.5.4. Pelaksanaan Program……… 16
1.5.5. Usaha Kecil dan Menengah (UKM)... 18
1.5.5.1. Pengertian UKM ... 18
1.5.5.2. Karateristik UKM ... 20
1.5.5.3. Jenis-Jenis UKM ... 21
1.5.6. Pengembangan UKM ... 24
1.5.6.2. Program Pengembangan UKM ... 25
1.5.6.3 Masalah-Masalah Dalam Pengembang UKM... 28
1.6. Defenisi Konsep ... 30
1.7. Defenisi Operasional ... 32
1.8. Sistematika Penulisan ... 33
BAB II : Metode Penelitian 2.1. Bentuk Penelitian ... 35
2.2. Lokasi Penelitian ... 35
2.3. Populasi dan Sampel ... 36
2.4. Teknik Pengumpulan Data ... 38
2.5. Teknik Analisa Data... 38
BAB III : Deskripsi Lokasi Penelitian 3.1. Gambaran Umum Kota Medan ... 40
3.1.1. Sejarah Kota Medan ... 42
3.1.2. Letak Geografis ... 43
3.1.3. Jumlah Penduduk ... 44
3.1.4. Perekonomian Kota Medan... 46
3.2. Dinas Koperasi Kota Medan ... 48
3.2.1. Sejarah Singkat Dinas Koperasi Kota Medan ... 48
3.2.2. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi... 48
3.2.3. Visi dan Misi Dinas Koperasi Kota Medan ... 50
3.2.4. Susunan Oraginasi, Tugas dan Fungsi ... 51
3.2.6. Kebijakan, Program dan Kegiatan Dinas Koperasi
Kota Medan ... 62
BAB IV : Penyajian Data 4.1. Karateristik Responden ... 66
4.2. Data Variabel Penelitian... 73
4.2.1. Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan UKM... 73
4.2.1.1. Pencapaian Tujuan ... 73
4.2.1.2. Ketepatan Waktu ... 93
4.2.1.3. Manfaat ... 97
4.3. Hasil Wawancara ... 112
BAB V : Analisa Data 5.1. Pencapaian Tujuan... 121
5.2. Ketepatan Waktu ... 127
5.3. Manfaat... ... 128
5.4. Hambatan-Hambatan Dalam Pelaksanaan Program Pengembangan UKM ... 130
BAB VI : Penutup 6.1. Kesimpulan.... ... 131
6.2. Saran... 133
DARTAR TABEL
Tabel 1.1 : Perbedaan Organisasi Pemerintahan dengan Organisasi Swasta …. 10
Tabel 1.2 : Program Pengembangan UKM ... 27
Tabel 2.1 : Sampel Penelitian Berdasarkan Sektor Usaha ………. 37
Tabel 3.1 : Laju Pertumbuhan Penduduk Kota Medan Tahun 2001-2005……. 44
Tabel 3.2 : Persentasi Jumlah Penduduk Kota Medan Menurut Kelompok Umur Tahun 2001-2005……… 45
Tabel 3.3 : Pegawai Dinas Koperasi Kota Medan Berdasarkan Pendidikan ... 61
Tabel 3.4 : Pegawai Dinas Koperasi Kota Medan Berdasarkan Golongan... 62
Tabel 4.1 : Data Pribadi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 67
Tabel 4.2 : Data Pribadi Responden Berdasarkan Usia... 68
Tabel 4.3 : Data Pribadi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan... 69
Tabel 4.4 : Data Pribadi Responden Berdasarkan Jenis Usaha ... 71
Tabel 4.5 : Data Pribadi Responden Berdasarkan Lama Usaha... 72
Tabel 4.6 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Pemberian Pelatihan dan Pengarahan Tentang Pengadaan Modal………. 74
Tabel 4.7 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Jalan Keluar Yang Diberikan Dinas Koperasi Untuk Mendapatkan Modal Usaha…… 75
Tabel 4.8 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Pemberian Pelatihan Dan Pengarahan Tentang Pembukuan ………. 76
Tabel 4.10 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Bantuan Dinas
Koperasi Dalam Mendapatkan Bahan Produksi ……….. 79 Tabel 4.11 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Pemberian Pelatihan
Dan Pengarahan Tentang Penggunaan Teknologi Untuk
Meningkatkan Produksi……… 80 Tabel 4.12 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Penggunaan
Teknologi Untuk Meningkatkan Produksi……… 81 Tabel 4.13 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Pemberian Pelatihan
Dan Pengarahan Untuk Meningkatkan Pemasaran ……….. 82 Tabel 4.14 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Bantuan Dinas
Koperasi Dalam Pemasaran... 83 Tabel 4.15 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai penyedaian Akses
Terhadap Informasi Pasar Untuk Memasarkan Prodak ... 84 Tabel 4.16 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Kemampuan Kerja
Pegawai Dalam Memberikan Pelatihan dan Pengarahan ... 85 Tabel 4.17 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Peningkatan
Kemampuan Kerja Pegawai ... 86 Tabel 4.18 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Mutu Pelatihan
Dan Pengarahan... 87 Tabel 4.19 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Penyelenggaraan
Pameran / Promosi ... 88 Tabel 4.20 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Keikutsertaan
Tabel 4.21 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Keberadaan Pameran
/ Promosi Membantu Dalam Meningkatkan Penjualan ... 90 Tabel 4.22 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Bantuan Dalam
Mengembangkan sistim Kemitraan Dengan Usaha Besar... 91 Tabel 4.23 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Bantuan Dalam
Mengembangkan sistim Kemitraan Dengan UKM Lainnya ... 92 Tabel 4.24 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Penetapan Standar
Waktu Dalam Pemberian Pelatihan dan Pengarahan... 93 Tabel 4.25 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Ketepatan
Waktu Pelaksanaan Pelatihan dan Pengarahan ... 95 Tabel 4.26 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Efektiviatas
Waktu Pelaksanaan Pelatihan dan Pengarahan... 96 Tabel 4.27 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Penetapan Biaya
Dalam Pelatihan dan Pengarahan... 97 Tabel 4.28 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Perkembangan Modal
Usaha ... 98 Tabel 4.29 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Penilaian Perkembangan
Modal Usaha ... 99 Tabel 4.30 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Peningkatan
Kemampuan Kerja Karyawan... 100 Tabel 4.31 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Peningkatan Jumlah
Tabel 4.32 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Peningkatan Kualitas / Mutu Produksi ... 102 Tabel 4.33 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Penilaian
Perkembangan Produksi Usaha... 103 Tabel 4.34 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Peningkatan Omset /
Penjualan ... 104 Tabel 4.35 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Penilaian Peningkatan
Omset / Penjualan ... 105 Tabel 4.36 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Perluasan Saluran
Pemasaran ... 106 Tabel 4.37 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Penilaian Perkembangan
Pemasaran... 107 Tabel 4.38 : Rekapitulasi Data ... 108
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 : Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dan Jenis
DAFTAR LAMPIRAN
1. Kuesioner Penelitian 2. Daftar Wawancara
3. Syarat Pengajuan Judul Skripsi 4. Permohonan Judul Skripsi 5. Penunjukan Dosen Pembimbing
6. Undangan Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi 7. Jadwal Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi
8. Daftar Hadir Peserta Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi 9. Berita Acara Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi
ABSTRAK
Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan UKM (Studi Pada Dinas Koperasi Kota Medan)
Nama : DWI SETYOWATI LESTARI
NIM : 040903007
Fakultas : Ilmu Sosial Ilmu Politik Departemen : Ilmu Administrasi Negara Pembimbing : Dra. Beti Nasution, M.Si
Dinas Koperasi Kota Medan adalah unsur pelaksana Pemerintah Kota Medan yang memiliki tugas melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah dalam bidang pengkoperasian pengusaha kecil dan menengah serta melaksanakan tugas pembantuan sesuai dengan bidang tugasnya. Dengan demikian pengembangan terhadap usaha kecil dan menengah sudah menjadi salah satu tugas pokok dalam program kerja dinas koperasi. Program pengembangan UKM itu meliputi kegiatan bimbingan dan pengarahaan, pengadaan atau bantuan permodalan, pengembangan jaringan pemasaran, pengembangan program kemitraan, dan juga melakukan evaluasi terhadap hasil dari program tersebut. Agar pelaksanaan program pengembangan UKM dapat berjalan dengan efektif, maka tujuan atau sasaran dari prgram tersebut harus dapat tercapai sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang besar terhadap UKM, terutama membantu UKM menyelesaikan permasalahannya, seperti : permodalan, SDM, pemasaran, dan penggunaan teknologi serta meningkatkan daya saing UKM terhadap perkembangan globalisasi. Sehingga UKM nantinya dapat berperan sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat kota Medan.
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskritif, dimana peneliti ingin mengetahui sejauh apa efektivitas pelaksanaan program pengembangan UKM pada dinas koperasi kota Medan. Apakah sudah berjalan dengan efektif atau tidak serta mengetahui apa saja yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan program pengembangan UKM. Untuk melihat hal tersebut, Peneliti menggunakan indikator-indikator keberhasilan efektivitas, yaitu pencapaian tujuan, ketepatan waktu dan pemberian manfaat.
ABSTRAK
Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan UKM (Studi Pada Dinas Koperasi Kota Medan)
Nama : DWI SETYOWATI LESTARI
NIM : 040903007
Fakultas : Ilmu Sosial Ilmu Politik Departemen : Ilmu Administrasi Negara Pembimbing : Dra. Beti Nasution, M.Si
Dinas Koperasi Kota Medan adalah unsur pelaksana Pemerintah Kota Medan yang memiliki tugas melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah dalam bidang pengkoperasian pengusaha kecil dan menengah serta melaksanakan tugas pembantuan sesuai dengan bidang tugasnya. Dengan demikian pengembangan terhadap usaha kecil dan menengah sudah menjadi salah satu tugas pokok dalam program kerja dinas koperasi. Program pengembangan UKM itu meliputi kegiatan bimbingan dan pengarahaan, pengadaan atau bantuan permodalan, pengembangan jaringan pemasaran, pengembangan program kemitraan, dan juga melakukan evaluasi terhadap hasil dari program tersebut. Agar pelaksanaan program pengembangan UKM dapat berjalan dengan efektif, maka tujuan atau sasaran dari prgram tersebut harus dapat tercapai sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang besar terhadap UKM, terutama membantu UKM menyelesaikan permasalahannya, seperti : permodalan, SDM, pemasaran, dan penggunaan teknologi serta meningkatkan daya saing UKM terhadap perkembangan globalisasi. Sehingga UKM nantinya dapat berperan sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat kota Medan.
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskritif, dimana peneliti ingin mengetahui sejauh apa efektivitas pelaksanaan program pengembangan UKM pada dinas koperasi kota Medan. Apakah sudah berjalan dengan efektif atau tidak serta mengetahui apa saja yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan program pengembangan UKM. Untuk melihat hal tersebut, Peneliti menggunakan indikator-indikator keberhasilan efektivitas, yaitu pencapaian tujuan, ketepatan waktu dan pemberian manfaat.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia akibat pengaruh melemahnya nilai rupiah tidak dapat terlepas dari kesalahan konsepsi pembangunan ekonomi masa lalu. Kebijakan yang berorientasi pada pengembangan usaha skala besar justru semakin melemahkan tatanan ekonomi nasional. Ketergantungan usaha besar pada komponen impor dan modal asing menyebabkan mereka rentan terhadap fluktasi nilai tukar.
Para ahli, pada umumnya tidak memperkirakan krisis ekonomi ini akan terjadi begitu dasyat. Dalam waktu singkat, ekonomi kita kempes seperti terkena tusukan jarum. Jatuhnya nilai rupiah membuat harga-harga barang kebutuhan pokok merangkak naik yang mendorong meningkatnya angka inflansi. Melonjaknya harga kebutuhan pokok semakin mempersulit tingkat kehidupan sosial masyarakat. Angka penganguran meningkat akibat derasnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut BPS sampai akhir 2003 tercatat 11,4 juta pengangguran (11,63% dari jumlah angkatan kerja) dengan pertumbuhan sektor industri hanya mencapai 3,41% (Suseno, dkk , 2005 : 54) .
merosotnya nilai rupiah (Iwantono, 2001: hal ix).
Di sinilah suatu pandangan masa lalu yang mengatakan bahwa UKM penuh dengan resiko tidak terbukti kebenarannya. UKM mampu bertahan di tengah krisis karena : (1) sebagian besar usaha kecil menghasilkan barang-barang konsumsi (consumer goods) dengan ciri khasnya permintaan bersifat in-elastis terhadap perubahan pendapatan. Artinya, jika pendapatan masyarakat turun karena krisis, turunnya permintahan terhadap barang kecil, (2) mayoritas UKM mengandalkan pada non banking financial dalam aspek pendanaan. Maka ketika perbankan juga
mengalami krisis, UKM tidak terpengaruh (Suseno, dkk , 2005 : 5)
Sektor UKM pada kenyataannya mampu menunjukkan kinerja yang lebih tangguh dalam menghadapi masa kritis. Kontribusi sektor ini pada ekonomi nasional pun cukup signifikan. Menurut Menteri Negara Koperasi dan UKM (Menegkop & UKM) mengatakan jumlah populasi UKM pada 2006 mencapai 48,9 juta unit usaha atau 99,98% terhadap total unit usaha di Indonesia, sementara jumlah tenaga kerjanya mencapai 85,4 juta orang atau 96,18% terhadap seluruh tenaga kerja Indonesia. Jumlah itu naik 2,2 juta pekerja setara 2,6% bila dibanding tahun 2005 dimana jumlah tenaga pekerja UKM 83,2 juta, Usaha Kecil 79 juta pekerja dan Usaha Menengah 4,2 juta pekerja. Menegkop & UKM juga mengatakan bahwa UKM menyumbang 53,3% atau sebesar Rp1.778,7 triliun dari total Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2006 yang mencapai Rp3.338,2 triliun. 20 Maret 2008).
pemerintah lebih terfokus kepada kelompok usaha besar. Ketika krisis muncul, ternyata sebagaian besar dari kelompok konglomerat mengalami pukulan berat dan pada saat yang sama justru sektor UKM relatif mampu bertahan. Banyak pengusaha konglomerat bangkrut akibat usaha yang dibangun begitu besar dengan hutang, sehingga saat krisis terjadi tidak mampu mengembalikan hutang-hutang yang sudah jatuh tempo, apalagi hutang dan bahan baku yang digunakan berbasis mata uang asing. Situasi lain saat krisis adalah harga bahan baku yang tinggi sedangkan kemampuan daya beli masyarakat yang cenderung terus menurun. Ini merupakan situasi yang sulit dihindarkan pada saat itu. Berbeda dengan yang dialami oleh para pelaku UKM yang relatif lebih bisa bertahan.
Pemerintah kemudian menyadari akan pentingnya pengembangan kegiatan UKM yang dianggap sebagai salah satu alternatif penting yang mampu mengurangi beban berat yang dihadapi perekonomian nasional dan daerah. Hal ini karena UKM merupakan kegiatan usaha dominan yang dimiliki bangsa Indonesia. Selain itu pengembangan kegiatan UKM relatif tidak memerlukan modal yang besar dan dalam priode krisis selama ini UKM relatif “survive”. Sejalan dengan otonomi daerah, pembangunan UKM merupakan salah satu bidang pemerintahan yang menjadi kewenangan wajib yang diserahkan kepada kabupaten/kota. Oleh karena itu konsekuensinya pemerintah daerah mempunyai keleluasaan dalam menggali dan mengembangkan potensi UKM, sesuai dengan kemampuan masing-masing daerah.
penguatan UKM baik disektor manajemen dan permodalan diharapkan mampu menjawab dan merespon kebutuhan masyarakat. Melalui upaya ini, UKM sedikit banyak akan terbantu dalam menyelesaikan permasalahan usahanya.
Di tingkat daerah, khususnya Kota Medan, kita dapat melihat bahwa secara umum pertumbuhan perekonomian Kota Medan tidak terlepas dari kontribusi UKM. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pertumbuhan UKM yang ada di Kota Medan, yaitu terdapat 12.997 unit usaha, baik yang bergerak di sektor industri maupun yang bergerak di sektor perdagangan. Selain itu.keberadaan UKM juga mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 102.421 orang. Walaupun UKM mempunyai jumlah yang besar, namun UKM hanya mampu memberikan 39,8% saja terhadap PDRB, sedangkan usaha besar memberikan kontribusi sebanyak 60,2% (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, 2003). Dengan demikian, untuk meningkatkan kontibusi UKM terhadap PDRB, maka pemerintah dan pihak yang terkait merasa perlu lebih memperhatikan kondisi UKM di Kota Medan.
Pemerintah kota Medan berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan berbagai kesempatan berusaha di bidang UKM. Namun usaha tersebut terkendala dari pihak UKM itu sendiri. Adapaun serangkain masalah yang dihadapi oleh UKM, seperti :
1. Modal terbatas
2. Kemampuan teknik produksi dan manajemen terbatas
Pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan danbtahap perkembangan usaha sulit ditemukan, antara lain karena pengetahuan dan managerial skil pengusaha kecil dan menengah belum mampu menyusun strstegi bisnis yang tepat. Kemampuan usaha dalam mengorganiasikan diri dan karyawan masih lemah, sehingga terjadi pembagian kerja yang tidak jelas dan sering kali pengusaha harus bertindak ”one men show”
3. Pemasaran yang relatif sulit karena dihadapkan pada struktur pasar yang sangat kompotitif. Bukan saja antara industri kecil melainkan ada kalanya juga dengan industri besar. Disamping itu, kesulitan pemasaran juga disebabkan oleh berbagai faktor pendukung utama seperti informasi mengenai perubahan dan peluang pasar yang ada di dalam maupin di luar negeri.
4. Permasalahan sumber daya manusia yang rendah
Di samping hal diatas, UKM juga masih menghadapi berbagai permasalahan yang terkait dengan iklim usaha seperti: (a) besarnya biaya transaksi, panjangnya proses perizinan dan timbulnya berbagai pungutan; dan (b) praktik usaha yang tidak sehat. Selain itu, otonomi daerah yang diharapkan mampu mempercepat tumbuhnya iklim usaha yang kondusif bagi UKM ternyata belum menunjukkan kemajuan yang merata.
pengusaha kecil dan menengah serta melaksanakan tugas pembantuan sesuai dengan bidang tugasnya. Dengan demikian pengembangan terhadap usaha kecil dan menengah sudah menjadi salah satu tugas pokok dalam program kerja dinas koperasi. Program pengembangan UKM itu meliputi kegiatan bimbingan dan pengarahaan, pengadaan atau bantuan permodalan, pengembangan jaringan pemasaran, pengembangan program kemitraan, dan juga melakukan evaluasi terhadap hasil dari program tersebut.
Pelaksanaan program pengembangan UKM dapat berhasil dan berdaya guna apabila :
1. Tujuan atau sasaran dari program tersebut dapat teracapai sesuai dengan apa yang telah direncanakan
2. Waktu penyelesaian program tersebut tercapai sesuai dengan waktu yang ditetapkan
3. Program pengembangan UKM dapat memberikan manfaat yang besar terhadap UKM, terutama membantu UKM menyelesaikan permasalahannya (seperti : permodalan, SDM, pemasaran, penggunaan teknologi, dll.) serta meningkatkan daya saing UKM terhadap perkembangan globalisasi
Berangkat dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melihat sejauh apa efektivitas pelaksanaan program pengembangan UKM pada Dinas Koperasi Kota Medan dengan melakukan penelitian yang berjudul ”Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan UKM Pada Dinas Koperasi Kota Medan”.
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi. Masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan dan kompetisi. (Sugiyono, 2005: 32 )
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah :
“Bagaimanakah Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan UKM pada
Dinas Koperasi Kota Medan”
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang penulis harapkan dapat dicapai melalui penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui sejauh apa efektivitas pelaksanaan program pengembangan UKM pada dinas koperasi kota Medan
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian merupakan hal yang diharapkan dari hasil penelitian yang dilakukan. Manfaat penelitian yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup hal-hal sebagai berikut :
1. Bagi penulis, bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan menulis karya ilmiah dalam menganalisa permasalahan di lapangan. Dan juga menjadi masukan pengetahuan bagi penulis tentang efektifitas pelaksanaan program pengembangan UKM
2. Bagi instansi, penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan ataupun informasi tentang efektifitas pelaksanaan program pengembangan UKM
3. Secara akademis, penelitian ini diharapkan akan mampu menyambung khasanah ilmiah dan kepustakaan baru dalam penelitian sosial
4. Bagi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, penelitian ini sebagai bahan masukan bagi Fakultas dan menjadi referensi tambahan bagi mahasiswa/i di masa mendatang.
1.5 KERANGKA TEORI
Sebelum melangkah pada operasionalisasi penelitian, akan dikemukakan terlebih dahulu teori-teori yang sesuai dengan penelitian yang akan dilaksanakan. Sebagi upaya untuk lebih mengarahkan penelitian mencapai tujuan yang hendak dicapai.
pelaksanaan program pengembangan UKM pada Dinas Koperasi Kota Medan, meliputi :
1.5.1. Organisasi Pemerintahan
Dalam memberikan pengertian atau defenisi mengenai organisasi oleh para ahli manajemen, terdapat berbagai pendekatan yang dilakukan serta pemikiran yang berlainan mengenai persoalan organisasi. Beberapa ahli manajemen memberikan defenisi organisasi sebai berikut :
Menurut Siagian (1992 : 35), organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang berkerjasama untuk mencapai tujuan bersama dan terikat secara formal dalam satu ikatan hierarki dimana selalu terdapat hubungan antara seseorang atau kelompok orang yang disebut pimpinan dan seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan.
Menurut James D. Mooney (Syafiie, 2003 : 133) “Organization is the form of every human association for the attainment of common purpose” (organisasi adalah
bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan bersama).
Dari defenisi-defenisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa defenisi organisasi adalah sebagai berikut :
1. Organisasi merupakan wadah atau tempat terselenggaranya administrasi
2. Didalam organisasi terjadi hubungan antar individu maupun kelompok, baik dalam organisasi itu sendiri maupun di luar organisasi
3. Terjadi kerja sama dan pembagian tugas dalam organisasi tersebut 4. Berlangsung proses aktivitas berdasarkan kinerja masing-masing
mengait dan merupakan satu kesatuan. Disini organisasi merupakan suatu wadah atau tempat menjalin kerja sama diantara pelaksananya atau juga sebagai sistem kerja sama, sistem hubungan dan sistem sosial. Dalam defenisi ini organisasi merupakan satu sistem, yang berarti adanya kesatuan dari berbagai faktor manusia yang membentuk organisasi tersebut maupun faktor pendukung, seperti kemampuan bekerja, kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, dan kemampuan untuk melaksanakan azas-azas organisasi.
Semua organisasi, baik formal maupun informal disatukan dan dipertahankan kesatuannya oleh kelompok yang melihat bahwa ada manfaat untuk bekerja sama ke arah sasaran yang sama. Jadi elemen yang sangat mendasar dalam organisasi apapun adalah “sasaran atau tujuan”. Tanpa adanya suatu sasaran dan tujuan yang ingin dicapai, maka tidak ada organisasi yang dapat bertahan.
Secara umum organisasi sebagai rangkaian kerja sama antar manusia dapat dibedakan atas organisasi sektor publik/pemerintahan dan organisasi sektor swasta, dengan perbedaan sebagai berikut :
Tabel 1.1
Perbedaan Organisasi Pemerintahan dengan Organisasi Swasta
No. Perbedaan Organisasi Pemerintahan Organisasi Swasta 1 Tujuan organisasi Non provite motive Provite motive
2 Sumber pendanaan Pajak, retribusi, utang, obligasi, laba BUMN /BUMD, penjualan asset negara dan pendapat lain yang sah
a. Pembiayaan internal, yaitu : modal sendiri, laba ditahan, penjualan aktiva
yaitu : utang bank,obligasi,
penerbitan saham
3 Pertanggungjawaban Kepada publik
(masyarakata) dan parlemen (DPR/DPRD)
Kepada pemegang saham dan kreditur
4 Struktur organisasi Birokratis, kaku dan hierarkis
Fleksibel, datar, piramid, lintas fungsional
5 Karateristik anggaran
Terbuka untuk publik Tertutup untuk publik
6 Sistem akuntansi Cash accounting Accrual accounting 7 Kriteria
keberhasilan
Ekonomis, efesiensi dan efektivitas
Laba
8 Kecenderungan sifat Organisasi politis Organisasi bisnis
9 Dasar operasional Di luar mekanisme pasar Berdasarkan mekanisme pasar
Sumber : Mahsun, 2006 : 16
1.5.2 Manajemen Organisasi Pemerintahan
Secara etimologi, manajemen (management) berasal dari kata manus (berarti tangan) dan agere (berarti melakukan). Setelah digabung menjadi kata manager (bahasa Inggeris) yang berarti mengurus atau managiere (bahasa latin) yang berarti melatih.
Menurut George Terry (Syafiie, 2003 : 117) manajemen adalah suatu proses khusus yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta menacapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber lainnya.
Manajemen dilakukan dan dibutuhkan dalam setiap tingkatan pekerjaan manusia, baik dalam skala pekerjaan yang kecil hingga penentuan tujuan dalam pekerjaan yang besar sekalipun. Manajemen memiliki tujuan tertentu yang tidak dapat diraba. George Terry (1999 : 2) mengungkapkan bahwa manajemen dapat diagambarkan sebagai sesuatu yang tidak nyata, karena ia tidak dapat dilihat, tetapi hanya terbukti oleh hasil-hasil yang ditimbulkannya (out put ) atau hasil kerja yang memadai, kepuasan manusiawi dan hasil-hasil produksi serta jasa yang lebih baik.
Dengan demikian manajemen secara garis besar adalah kemampuan mengurus organisasi untuk mencapai tujuan yang tekah ditetapkan sebelumnya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan
1.5.3 Efektivitas
suatu aktivitas di sebut efektif apabila tercapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan demikian efektivitas pelaksanaan suatu organisasi secara umum diartikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan oleh suatu organisasi dengan kemampuan yang ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara obyektif.
Richard Steers (1995 : 44) dalam pandangannya terhadap efektivitas mengemukakan bahwa walaupun hampir setiap orang setuju bahwa efektivitas merupakan atribut yang diinginkan dalam organisasi, tetapi anehnya hanya ada sedikit usaha yang dilakukan untuk menerangkan konsep itu sendiri sehingga orang selalu saja memiliki sudut pandang teoritis maupun sudut pandang kepemimpinan yang berbeda-beda dalam memandang efektivitas.
Mengacu pada penadapat Steers diatas, dapat disimpulkan bahwa efektivitas sebenarnya merupakan sebuah konsep yang samar. Hal ini karena efektivitas hanya lebih sering disebut-sebut dari pada diteliti, baik di dalam teori-teori maupun kepustakaan organisasi. Oleh sebab itu konsep efektivitas dalam suatu organisasi tidak selalu baku, dalam arti dapat saja menggunakan ukuran yang berbeda-beda.
Untuk mengetahui efektivitas kegiatan organisasi publik dapat diukur melalui pendekatan-pendekatan sebagai berikut (Putra, 2001 : 22) :
1. Pendekatan Sasaran (Goal Approach)
Pendekatan ini memusatkan perhatiannya dalam mengukur efektivitas pada aspek out-put, yaitu dengan mengukur keberhasilan organisasi publik dalam mencapai
tingkatan out-put yang direncanakan.
Pendekatan ini mengukur efektivitas dari sisi in-put, yaitu dengan mengukur keberhasilan organisasi publik dalam mendapatkan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk mencapai performasi yang baik.
3. Pendekatan Proses (Process Approach)
Pendekatan ini menekankan pada aspek internal organisasi publik, yaitu dengan mengukur efektivitas layanan publik melalui berbagai indikator internal organisasi, seperti efesiensi dan iklim organisasi
4. Pendekatan Integratif (Integrative Approach)
Pendekatan ini merupakan gabungan dari ketiga pendekatan diatas yang muncul sebagai akibat adanya kelemahan dan kelebihan masing-masing pendekatan.
Bila dilihat dari aspek keberhasilan pencapaian tujuan, maka efektivitas memfokuskan pada tingkat pencapaian terhadap tujuan organisasi publik (Noermandi, 1999 : 193). Hal ini senada dengan pendapat T. Hani Handoko (1993 :7) yang mengatakan bahwa efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tingkat pelayanan dan derajat kepuasan masyarakat merupakan salah satu ukuran efektivitas. Ukuran ini tidak mempertimbangkan berapa biaya, tenaga dan waktu yang digunakan dalam memberikan pelayanan, tetapi lebih menitikberatkan pada tercapainya tujuan organisasi pelayanan publik.
menyimpulkan bahwa suatu kegiatan dikatakan efektif apabila penyelesaian kegiatan tersebut tepat pada waktu yang telah ditentukan. Dan suatu kegiatan dikatakan tidak efektif apabila penyelesaian atau penacapaian tujuan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Selanjutnya bila ditinjau dari aspek manfaat, maka Steers (Zainun, 1991 : 14) mendefenisikan efektivitas sebagai suatu usaha untuk mencapai suatu keuntungan manfaat dalam organisasi dengan segala cara. Ia menekankan bahwa semakin besar keuntungan yang diperoleh organisasi, maka organisasi itu semakin efektif. Dengan demikian suatu kegiatan dikatakan efektif apabila kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi organisasi dan masyarakat sesuai dengan kebutuhannya.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa terdapat empat unsur dalam efektivitas, yaitu :
1. Pencapaian tujuan, yaitu suatu kegiatan dikatakan efektif apabila dapat mencapai tujuan atau sasaran sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya
2. Ketepatan waktu, yaitu suatu kegiatan dikatakan efektif apabila penyelesaian atau pencapaian tujuan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
3. Manfaat, yaitu suatu kegiatan dikatakan efektif apabila kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi organisasi dan masyarakat sesuai dengan kebutuhannya
1.5.4 Pelaksanaan Program
Merupakan konsekuensi logis dari suatu pembuatan kebijakan (policy-making) untuk mengimplementasikan kebijakan yang telah dibuat. Implementasi
kebijakan sesungguhnya tidak hanya bersangkut paut dengan mekanisme penjabaran keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin lewat saluran-saluran birokrasi, melainkan lebih dari itu. Implementasi kebijakan menyangkut masalah konflik, keputusan dan siapa yang memperoleh hasil dari suatu kebijakan.
Oleh sebab itu, tidak terlalu salah jika dikatakan implementasi kebijakan merupakan aspek yang penting dalam keseluruhan dari proses kebijakan. Bahkan seorang pakar kebijakan dari Afrika, Chief J. O. Udoji menyetakan bahwa : “pelaksanaan kebijakan adalah suatu yang penting, bahkan mungkin jauh lebih penting dari pada pembuatan kebijakan. Kebijakan-kebijakan akan sekedar impian atau rencana bagus yang tersimpan rapi dalam arsip kalau tidak diimplementasikan” (Wahab, 1991 : 45).
Patton dan Sawichi (Tangkilisan, 2003 : 29) menyatakan bahwa “implementasi berkaitan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan untuk merealisasikan program, dimana pada posisi ini eksekutif mengatur cara untuk mengorganisir, menginterprestasikan dan menerapkan kebijakan yang telah diseleksi”.
2. Adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan yang harus dipegang dan prosedur yang harus dilalui
3. Adanya aturan-aturan yang harus dipegang dan prosedur yang harus dilalui 4. Adanya perkiraan anggaran yang dibutuhkan
5. Adanya strategi dalam pelaksanaan
Dengan adanya program, maka segala bentuk rencana akan lebih terorganisir danlebih mudah untuk dioperasionalkan.
Unsur kedua yang harus dipenuhi dalam proses implementasi yaitu adanya kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program sehingga masyarakat tersebut akan menerima manfaat dari program yang dijalankan serta terjadinya perubahan dan peningkatan pada kehidupan. Tanpa memberikan manfaat kepada masyarakat, maka bisa dikatan bahwa program tersebut gagal dilaksanakan.
Berhasil atau tidaknya suatu program diimplemantasikan tergantung dari unsur pelaksananya yang merupakan unsur ketiga. Pelaksanaan memiliki arti penting karena pelaksanaan, baik itu organisasi maupun perorangan bertanggung jawab dalam pengelolaan maupun pengawasan dalam proses implementasi.
kelompok sasaran.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa implementasi atau pelaksanaan program adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu-individu atau pejabat-pejabat terhadap suatu obyek atau sasaran yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
1.5.5. Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
1.5.5.1. Pengertian Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Banyak buku dan para ahli yang mengungkapkan tentang pengertian UKM. Sebagian besar menjabarkannya dengan melihat jumlah modal dan tenaga kerja/karyawan .Untuk mendapatkan penjabaran tentang pengertian UKM, maka penulis mencoba mengambil dari beberapa penjelasan berikut : 1. UsahaKecil
1.a. Menurut UU No 9 tahun 1999 tentang usaha kecil, yang dimaksud dengan usaha kecil adalah:
b. Memiliki kekayaan (aset) bersih Rp. 200 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha,
c. Hasil penjualan tahunan (omzet) paling banyak Rp. 1 milyar, d. Milik warga Indonesia,
hukum atau berbadan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.
1.b. Sedangkan menurut badan pusat statistik (BPS, 2003), usaha kecil adalah :
a. Menurut omset, usaha kecil adalah usaha yang memiliki asset tetap kurang dari Rp. 200 juta dan omset per tahun kurang dari Rp. 1 milyar
b. Menurut jumlah tenaga kerja,usaha kecil adalah usaha yang memiliki tenaga kerja sebanyak 5-19 orang.
2. Usaha Menengah
2.b. Menurut Instruksi Presiden No.10 tahun 1999 tentang pemberdayaan usaha menengah, yang dimaksud dengan usaha menengah adalah :
a. Memiliki kekayaan (aset) bersih Rp. 200 juta sampai paling banyak Rp. 1 Milyar, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
b. Milik warga Indonesia
c. Berbentuk usaha perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum atau berbadan usaha yang berbadan hukum 2.b. Sedangkan menurut badan pusat statistik (BPS, 2003), usaha
menengah adalah usaha yang memiliki tenaga kerja antara 20 sampai 99 orang.
adalah suatu usaha atau kegiatan ekonomi yang berdiri sendiri serta milik warganegara Indonesia, memiliki kekayaan bersih antara Rp. 200 Juta sampai Rp. 10 Milyar (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dan omset tahunan atau hasil penjualan sebanyak Rp. 1 Milyar sampai 5 Milyar (tidak termasuk tanah dan bangunan), serta memiliki tenaga kerja sebanyak 1 sampai 99 orang.
1.5.5.2. Karateristik Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Menurut hasil studi Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menunjukkan bahwa di Indonesia kriteria usaha kecil itu sangat berbeda-beda, tergantung pada fokus permasalahan yang dituju dan instasi yang berkaitan dengan sektor ini (Anoraga, 2002 : 225). Sedangkan di negara-negara lain, kriteria yang ada akhirnya turut menentukan ciri sektor UKM, yang antara lain ditentukan oleh karyawan yang dimiliki perusahaan yang bersangkutan.
Secara umum, sektor usaha kecil menengah (UKM) memiliki karateristik sebagai berikut (Ibid : 225) :
1. Sistem pembukuan yang relatif sederhana dan cenderung tidak mengikuti kaidah administrasi pembukuan standar. Kadang kala pembukuan tidak di up to date, sehingga sulit untuk melihat kinerja usahanya.
2. Margin usaha yang cenderung tipis mengingat persaingan yang sangat tinggi
4. Pengalaman manajerial dalam mengelola perusahaan masih sangat terbatas
5. Skala ekonomi yng terlalu kecil, sehinga sulit mengharapkan untuk mampu menekan biaya mencapai titik efisiensi jangka panjang
6. Kemampuan pemasaran dan negosiasi serta diversifikasi pasar sangat terbatas
7. Kemampuan untuk memperoleh smber dana dari pasar modal rendah, mengingat keterbatasan dalam sistem administrasinya, untuk mendapakan dana di pasar modal, sebuah perusahaan harus mengikut sistem administrasi standar dan harus transparan.
1.5.5.3. Jenis-Jenis Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Menurut Tulus Tambunan (2002 : 20), kelompok UKM terdiri atas 1. Sektor Pertanian
Pertanian merupakan sektor suatu unit (kesatuan) produksi yang terletak pada pada suatu tempat tertentu yang melakukan kegiatan bercocok tanam dengan tujuan komersil
2. Sektor Pertambangan
komersil
3. Sektor Manufaktur, Industri Pengolahan
Manufaktur, industri pengolahan merupakan sektor suatu unit (kesatuan) produksi yang terletak pada pada suatu tempat tertentu yang melakukan kegiatan mengubah barang dasar/ bahan mentah menjadi barang jadi / setengah jadi dan atau barang yang kurang nilainya,sehingga lebih dekat kepada pemakai akhir untuk tujuan komersil
4. Sektor Listrik, Air dan Gas
a. Sub sektor listrik adalah sub sektor suatu unit (kesatuan) produksi yang terletak pada pada suatu tempat tertentu yang melakukan kegiatan pembangkitan tenaga listrik serta pengoperasian jaringan transmini dan distribusi tenaga listrik kerumah tangga, instansi, industri dan konsumen lainnya untuk tujuan komersil
b. Sub sektor air adalah sub sektor suatu unit (kesatuan) produksi yang terletak pada pada suatu tempat tertentu yang melakukan kegiatan penjernihan, penyediaan dan penyaluran air melalui terminal air, mobil tangki ke rumah tangga, instansi, industri dan konsumen lainnya untuk tujuan komersil
5. Sektor Bangunan
Konstruksi/ bangunan merupakan sektor suatu unit (kesatuan) produksi yang terletak pada pada suatu tempat tertentu yang melakukan kegiatan dengan hasil akhir berupa bangunan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, baik digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana kegiatan lain untuk tujuan komersil
6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Sektor perdagangan merupakan sektor suatu unit (kesatuan) produksi yang terletak pada suatu tempat tertentu yang melakukan kegiatan penjualan kembali barang baru maupun bekas (tanpa perubahan wujud) yang meliputi perdagangan besar, perdagangan eceran, rumah makan untuk tujuan komersil
7. Sektor Transportasi dan Komunikasi
a. Transportasi adalah aktivitas kegiatan yang kegiatannya menyediakan jasa angkutan penumpang atau barang jadi / ternak dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan alat angkutan bermotor maupun tidak bermotor baik milik sendiri maupun milik orang lain melalui darat, laut maupun udara dengan mendapatkan balas jasa dengan tujuan komersil
b. Komunikasi adalah aktivitas yang melakukan kegiatan penyampaian info (tanpa merubah wujud asli) kepada penerima akhirnya dengan tujuan komersil
9. Sektor Jasa-jasa Lainnya
Sektor jasa adalah sektor dari suatu kegiatan serta ada seseorang atau lebih yang bertanggung jawab atas resiko usaha
1.5.6. Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah
1.5.6.1. Pengertian Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah
Pengembangan adalah suatu tindakan, proses, hasil atau pertanyaan menjadi labih baik (Thoha, 1997 : 7). Pengertian pengembangan tersebut memiliki dua unsur, yaitu : (1) pengembangan itu sendiri bisa berupa suatu tindakan, proses atau pernyataan dari suatu tujuan, (2) pengembangan itu bisa menunjukkan kepada perbaikan atas sesuatu.
Menurut Warren G. Bennis (Sutarto, 1995 : 416) pengembangan adalah suatu jawaban terhadap perubahan, suatu strategi pendidikan yang kompleks yang diharapkan untuk merubah kepercayaan, sikap, nilai dan susunan organisasi, sehinga organisasi dapat lebih baik menyesuaikan dengan teknologi, pasar, dan tantangan yang baru serta perputaran yang cepat dari perubahan itu sendiri.
pembangunan nasional untuk meletakkan landasan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Adpun yang menjadi sasaran dalam upaya pengembangan dan pembinan UKM, yaitu :
1. Tercapainya lapangan usaha dan lapangan kerja yang luas 2. Tercapainya peningkatan pendapatan masyarakat
3. Terwujudnya UKM yang semakin efesien dan mampu berkembang mandiri
4. Terwujudnya pesebaran industri yang merata
5. Tercapainya peningkatan kemampuan UKM dalam aspek penyediaan produk jadi, bahan baku baik untuk pasar dalam negeri maupun ekpor.
Inti dari pembinaan dan pengembangan UKM pada dasarnya terletak pada upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan adanya sumber daya manusia yang bermutu, maka UKM akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi UKM yang tangguh
1.5.6.2. Program Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah
Usaha Kecil dan Menengah pada hakekatnya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Dengan mencermati permasalahan yang dihadapi oleh UKM, maka upaya untuk mengembangkan UKM dapat dilihat dari dua sisi, yaitu faktor dari dalam perusahaan (faktor internal) dan faktor dari luar perusahaan (faktor eksteral), sebagai berikut (Suseno, dkk , 2005 : 45-46) :
Faktor Internal
• Meningkatkan kemampuan usaha dan kewirausahaan
• Melakukan perencanaan usaha dan investasi dalam jangka panjang • Mengembangkan Research & Development
Faktor Eksternal
• Menciptakan iklim yang kondusif untuk pengembangan usaha
(penyedeerhanaan perizinan dan birokrasi) • Mengupayakan adanya program pendampingan
• Mengupayakan tersedianya produk-produk pendukung dalam proses
produksi
• Mengupayakan tersedianya infra struktur sosial • Mengupayakan tersedianya biaya dari kredit
• Perlu memberikan fleksibilitas dalam penerapan prinsip penyaluran kredit,
diantaranya faktor kapasitas dan kemampunan debitor dalam menghasilkan keuntungan dan juga masalah anggunan
UKM
Menurut rencana kerja tahun 2008 Dinas Koperasi Kota Medan, program pengembangan usaha kecil dan menengah yang dilakukan ,antara lain :
Tabel 1.2
Program Pengembangan UKM
Program Kegiatan Sasaran
Program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif usaha kecil dan menengah
a. Penyelenggaraan bagi usaha mikro kecil menengah
c. Temu kemitraan antara UKM dengan lembaga keuangan bank/non bank
e. Sertifikasi tanah milik UKM
f. Pameran UKM kota Medan
e. Terlaksananya fasilitas tanah milik UKM
f. Tercapainya promosi hasil produk UKM
Sumber, Dinas Koperasi Koata Medan, 2008
1.5.6.3. Masalah-Masalah Dalam Pengembangan UKM
Peranan UKM di Indonesia memang diakui sangat penting di dalam perekonomian nasioanal, terutama dalam aspek-aspek, seperti peningkatan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan ekonomi pedesaan dan peningkatan ekspor non-migas. Selama ini telah banyak usaha-usaha yang dilakukan pemerintah untuk membantu perkembangan UKM melalui berbagai macam program pengembangan atau pembinaan UKM.
Namun demikian, pengembangan UKM hingga saat ini berjalan sangat lamban. Pada umumnya permasalahan yang dihadapi oleh Usaha Kecil dan Menengah lain meliputi (Suseno, dkk , 2005 : 48) :
Masalah Internal
a. Keterbatasan modal kerja
b. Kesulitan mendapatkan bahan baku dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau
c. Keterbatasan teknologi, karena sebagian besar UKM masih menggunakan mesin-mesin tua atau alat-alat produksi yang sifatnya manual
pengusaha UKM masih lulusan pendidikan primer
e. Kesulitan dalam pemasaran, karena kualitas produk dan kegiatan promosi masih kurang sehingga ada persaingan dari produk-produk sejenis, baik di pasar domestik maupun di pasar internasional
f. Ketidaksiapan UKM sendiri, karena UKM tidak mempunyai pengetahuan tentang pasar dan jaringan pemasaran sehingga sering UKM tergantung pada para tengkulak
g. Desain untuk produk-produk UKM banyak yang sudah tidak sesuai lagi/tidak diminati oleh konsumen modern di perkotan maupun konsumen internasional
h. Pelaku UKM mengeluhkan sulitnya pencairan dana bergulir yang dibutuhkan guna mengatasi kenaikan harga BBM akhir-akhir ini.
Masalah Eksternal
a. UKM tidak dapat memperluas usaha karena keterbatasan akses pada sumber permodalan karena semua bank termasuk lembaga perkreditan yang khusus untuk UKM mensyaratkan adanya agunan
b. Adanya distorsi pasar, hak istimewa banyak diberikan pada perusahaa-perusahaan besar,misalnya : kemudahan kredit, lisensi bisnis, keringanan pajak, dan penciptaan regulasi yang kondusif
c. Adanya aturan-aturan yang kontradiktif dengan upaya-upaya pengembangan UKM, misalnya lahir Perda-perda untuk peningkatan pajak dan retribusi daerah
UKM akan mengalami kesulitan dalam memanfaatkan sumber pendanaan karena keuntungan yang diperoleh masih dibawah rata-rata.
1.6 DEFENISI KONSEP
Konsep merupakan istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial (Singarimbun, 1999 : 33). Melalui konsep peneliti diharapkan akan dapat menyederhanakan pemikirannya dengan menggunakan satu istilah untuk beberapa kejadian yang berkaitan satu dengan lainnya.
Untuk mendapatkan batasan yang jelas dari masing-masing konsep yang diteliti, maka dalam hal ini penulis mengemukakan defenisi dari konsep yang dipergunakan, yaitu :
1. Efektifitas, yaitu nilai atau ukuran keberhasilan dan keberdayaan Dinas Koperasi Kota Medan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam setiap pelaksanaan tugas-tugas yang telah ditetapkan
2. Pelaksanaan Program Pengembangan UKM, yaitu aktivitas dari Dinas Koperasi Kota Medan dalam melaksanakan atau menjalankan program-program yang telah ditetapkan untuk mengembangkan UKM yang meliputi kegiatan bimbingan dan pengarahaan, pengadaan atau bantuan permodalan, pengembangan jaringan pemasaran, pengembangan program kemitraan, dan juga melakukan evaluasi terhadap hasil dari program tersebut
antara Rp. 200 Juta sampai Rp. 10 Milyar (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dan omset tahunan atau hasil penjualan sebanyak Rp. 1 Milyar sampai 5 Milyar (tidak termasuk tanah dan bangunan), serta memiliki tenaga kerja sebanyak 1 sampai 99 orang.
Untuk memperjelas kerangka konsep yang dipakai dalam penelitian ini, dapat digambarkan sebagai berikut :
Komponen / Unsur Keberhasilan Efektivitas
OUT-PUT OUT-COME
b. Meningkatkan modal usaha c. Meningkatkan kualitas SDM,
terutama dalam penggunaan teknologi
d. Meningkatkan jumlah dan mutu produksi
e. Meningkatkan omset
penjualan
a. Bertambahnya jumlah UKM b. Meningkatnya kesejahteraan
UKM dari segi ekonomi, pendidikan dan kesehatan c. Meningkatnya modal usaha
d. Bertambahnya saluran
pemasaran
1.7 DEFENISI OPERASIONAL
Defenisi operasioal adalah unsur-unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana cara mengukur suatu variabel sehingga dalam pengukuran ini dapat diketahui indikator-indikator apa saja yang melekat dalam variabel sebagai pendukung untuk dianalisis dari variabel tersebut (Singarimbun, 1999 : 46).
Adapun yang menjadi defenisi operasional dalam penelitian ini adalah Efektivitas Pelaksanaan Program Pengembangan UKM pada Dinas Koperasi Kota Medan dengan indikator sebagai berikut :
1. Pencapaian tujuan
a. Meningkatnya kemampuan UKM dalam memperoleh sumber modal melalui pelatihan-pelatihan atau seminar
b. Meningkatnya kemampuan usaha (kualitas SDM) dan kewirausahaan UKM melalui pelatihan-pelatihan atau seminar
c. Meningkatnya kemampuan UKM dalam penggunaan teknologi produksi d. Meningkatnya UKM dalam menerapkan strategi pasar yang berorientasi pasar
lokal dan ekspor melalui pameran dan promosi prodak
e. Terlaksananya kemitraan antara UKM dengan UKM atau UKM dengan usaha besar
2. Ketepatan waktu
a. Pelaksanaan kegiatan pengembangan UKM sesuai dengan standar waktu yang telah ditetapkan
3. Manfaat
a. Peningkatan modal yang dimiliki b. Peningkatan kualitas SDM/ karyawan c. Peningkatan Produksi yang dihasilkan d. Peningkatan omset/penjualan
e. Bertambahnya saluran pemasaran prodak
1.8 SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisiskan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta kerangka teori, defenisi konsep, defenisi operasional dan sistematika penulisan
BAB II METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan metode penelitian, populasi dan sampel serta teknik pengumpulan data dan teknik analisa data
BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Bab ini berisikan tentang gambaran umum lokasi penelitian dimana peneliti melakukan penelitian
BAB IV PENYAJIAN DATA
Bab ini berisikan tentang penyajian data-data yang diperoleh selama berlangsungnya penelitian. Keseluruhan data-data yang diperoleh disajikan terlebih dahulu di dalam bab ini.
Bab ini berkaitan tentang kajian dan analisa data yang diperoleh dari lokasi penelitian
BAB VI PENUTUP
BAB II
METODE PENELITIAN
2.1. BENTUK PENELITIAN
Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Menurut Nawawi (1990 : 64), bahwa metode deskriptif yaitu metode penelitian yang memusatkan perhatian pada masalah atau fenomena yang ada pada saat penelitian dilakukan atau pada masalah yang bersifat aktual, kemudian menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan interpretasi yang rasional dan akurat.
Penelitian deskriptif bertujuan membuat pencenderaan, lukisan, deskripsi mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat suatu populasi atau daerah tertentu secara sistematik, faktual dan teliti. Variabel-variabel yang diteliti terbatas atau tertentu saja, tetapi dilakukan secara meluas pada suatu populasi atau daerah itu (Lubis, 1997 : 23).
Dengan demikian penelitian ini menggambarkan fakta-fakta dan menjelaskan keadaan dari objek penelitian berdasarkan fakta-fakta sebagaimana adanya dan mencoba menganalisa kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh.
2.2. LOKASI PENELITIAN
2.3. POPULASI DAN SAMPEL
a. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2005 : 90).
Karena yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Dinas Koperasi Kota Medan, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah UKM yang dibina oleh Dinas Koperasi Kota Medan yang berjumlah 504 UKM
b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian yang dianggap mewakili dari seluruh populasi (Sugiyono, 2005 : 90). Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik proportionate stratified random sampling (sampel stratifikasi proporsional), dimana teknik ini digunakan
bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional (Sugiyono, 2005 : 93). Dengan teknik penarikan sampel tersebut, maka penulis mengklasifikasikan sampel berdasarkan jenis sektor usaha yang digeluti oleh responden.
besar, maka dapat diambil 10%-15% atau 20%-25% sampel atau lebih. Dalam penelitian ini penulis hanya mengambil 10% dari jumlah populasi, yaitu :
dengan perincian sebagai berikut : Tabel 2.1
Sampel Penelitian Berdasarkan Sektor Usaha
No Sektor Jumlah UKM Sampel
1 Industri Pengolahan
/konveksi 205 504 50 20,33 20
Sumber : Dinas Koperasi Kota Medan, 2008
2.4. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Untuk memperoleh data atau informasi yang berguna untuk penelitian ini,maka penulis menggunakan metode-metode sebagai berikut :
1. Pengumpulan Data Primer
Pengumpulan data primer yaitu data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian langsung ke lokasi penelitian (field research) untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan data masalah yang diteliti. Data primer dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, yaitu :
a. Wawancara, dengan mengadakan tanya jawab langsung kepada pihak-pihak
yang terkait dan memiliki relevansi terhadap masalah penelitian.
b. Angket, yaitu dengan pemberian daftar pertanyaan terbuka kepada responden
yang dilengkapi dengan beberapa alternatif jawaban yang sudah ditentukan c. Observasi, yaitu pengamatan secara langsung terhadap fenomena-fenomena
yang berkaitan dengan fokus penelitian 2. Pengumpulan Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder, yaitu kegiatan penelitian dengan cara penelitian pustaka, yaitu mencari data-data yang telah di kumpulkan dari buku-buku dan bahan bacaan lainnya yang berhubungan dengan tema diatas dan dokumentasi atau arsip yang berhubungan denganmasalah yang diteliti
2.5. TEKNIK ANALISA DATA
BAB III
DESKRIPISI LOKASI PENELITIAN
3.1. Gambaran Umum Kota Medan
Perkembangan Kota Medan tidak terlepas dari dimensi historis, ekonomi dan karateristik Kota Medan itu sendiri, yakni sebagai kota yang mengemban fungsi yang luas dan besar (METRO), serta sebagai salah satu dari tiga kota metropolitan terbesar di Indonesia. Realitasnya, Kota Medan berfungsi :
1. Sebagai pusat pemerintahan daerah,baik pemerintahan Propinsi Sumatera Utara, maupun Kota Medan sebagai tempat kedudukan perwakilan/konsulat negara-negara sahabat, serta wilayah kedudukan berbagai perwakilan perusahaan, bisnis, keuangan di Sumatera Utara.
2. Sebagai pusat pelayanan kebutuhan sosial, ekonomi masyarakat Sumatera Utara seperti rumah sakit, perguruan tinggi, stasiun TVRI, RRI, dll termasuk berbagai fasilitas yang dikembangkan swasta khususnya pusat-pust perdagangan
3. Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi,perdagangan,keuangan dan jasa secara regional maupun internasional
4. Sebagai pintu gerbang regional,internasional, kepariwisataan untuk kawasan Indonesia bagian barat
Visi Pemerintah Kota Medan
Penjelasan dari visi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Modern
kota modern yang akan diwujudkan adalah kota jasa, perdagangan, keuangan, dan pendidikan yang siap bersaing secara regional dan global dengan sistem lalu lintas keuangan yang efisien serta kompetitif dengan dukungan infra-struktur sosial ekonomi yang lengkap, pondasi per-ekonomian yang kuat, stabilitas keamanan, sosial - politik yang kondusif dan tata pemerintahan yang profesional serta pembangunan yang berfokus pada peningkatan kese-jahteraan masyarakat, kualitas sumber daya manusia (sdm), ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta iman dan taqwa (imtaq).
2. Madani
Kota madani yang akan diwujudkan adalah kota yang beradab dan agamis sebagaimana tercermin dalam cara berfikir, sikap dan perilaku yang berbudaya, mandiri, menghargai ilmu pengetahuan, kemajemukan, adil, terbuka, serta demokratis.
3. Religius
Misi Pemerintahan Kota Medan
“Mewujudkan Percepatan Pembangunan Daerah Pinggiran, Dengan Meningkatkan
Pertumbuhan Ekonomi Melalui Pengembangan Usaha Kecil, Menengah Dan
Koperasi Untuk Kemajuan Dan Kemakmuran Yang Berkeadilan Bagi Seluruh
Masyarakat Kota.”
3.1.1. Sejarah Kota Medan
Sejarah Kota Medan tidak terlepas dari dimensi historis yang panjang. Dimulai dari dibangunnya Kmapung Medan Puteri tahun 1950 oleh Guru Patimus dan berkembang menjadi kesultanan Deli pada tahun 1669 yang diproklamirkan oleh Tuanku Perungit yang memisahkan diri dari kesultanan Aceh. Perkembangan Kota Medan selanjutnya ditandai dengan perpindahan ibu kota Residen Sumatera Timur dari Bengkalis ke Medan pada tahun 1887 sebelum akhirnya statusnya diubah menjadi Gubenermen yang dipimpin oleh seorang Gubenur pada tahun 1915.
Propinsi Sumatera Utara.
3.1.2. Letak Geografis Kota Medan
Kota Medan memiliki luas 26.510 Hektar (265,1 Km2) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainnya, Kota Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil,tetapi dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis Koata Medan terletak pada 3030−3043’ Linatang Utara dan 98035' −98044' Bujur Timur. Untuk itu topografi Kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut.
3.1.3 Jumlah Penduduk
Berdasarakan data kependudukan tahun 2005, penduduk Kota Medan diperkirakan telah mencapai 2.036.018 jiwa. Jumlah penduduk tersebut diketahui merupakan penduduk tetap, sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan mencapai lebih dari 500.000 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Kota Medan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.1
Laju Pertumbuhan Penduduk Kota Medan Tahun 2001-2005
Tahun Jumlah
Sumber : BPS Kota Medan, 2005
Berdasarkan data tabel di atas diketahui bahwa selama tahun 2001 – 2005 jumlah penduduk Kota Medan cenderung mengalami peningkatan yaitu dari 1,92 juta jiwa pada tahun 2001 menjadi 2,03 juta jiwa pada tahun 2005. Demikian juga kepadatan penduduk Kota Medan, meningkat dari 7.267 jiwa/Km2 pada tahun 2001 menjadi 7.681 jiwa/ 2
Km tahun 2005. Peningkatan laju pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh meningkatnya derajat kehidupan sosial masyarakat khususnya di bidang pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
kaum pencari kerja ke Kota Medan. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, faktor utama yang menyebabkan komutasi ke Kota Medan adalah adanya pandangan bahwa : (1) bekerja di kota lebih bergengsi (2) di kota lebih gampang mencari pekerjaan, (3) Tidak ada lagi yang dapat diolah (dikerjakan) di daerah asalnya, dan (4) upaya mencari nafkah yang lebih baik.
Komposisi penduduk Kota Medan berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.2
Persentasi Jumlah Penduduk Kota Medan Menurut
Kelompok Umur Tahun 2001-2005
Kelompok
Sumber : BPS Kota Medan, 2005 Keterangan : *) Angka Perbaiakan
**) Angka Sementara
maupun kuantitasnya
Gambar 3.1
Sumber : BPS Kota Medan, 2005
3.1.4 Perekonomian Kota Medan
Perubahan struktur perekonomian kota Medan ditandai oleh perubahan pada komposisi kontribusi sektor primer, sekunder dan tertier terhadap pembentukan PDRB kota Medan. Proses perubahan tersebut didorong oleh proses akumulasi dan proses perubahan pola konsumsi masyarakat yang timbul bersamaan dengan meningkatnya pendapatan perkapita penduduk. Struktur ekonomi kota Medan yang demikian membuat kota ini dapat dianggap debagai semi industrialized local.
Situasi ini memunculkan kebutuhan-kebutuhan baru masyarakat sehingg memungkinkan peningkatan pertumbuhan sektor sekunder dan tertier.
Sumbangan sektor primer berasal dari beberapa kecamatan yang berada di pinggiran kota Medan Tuntungan, Medan Selayang, Medan Marelan yang secara umum menyumbang dan sub sektor tanaman pangan dan peternakan; serta Kecamatan Medan Belawan dan Medan Labuhan dari sub sektor perikanan
Sektor sekunder merupkan sektor ekonomi kedua terbesar yang memberi kontribusi terhadap pembentukan PDRB kota Medan sebesar 27,58% pada tahun 2005. sumbangan sektor sekunder ini diperoleh dari sub sektor pengolahan, listrik, gas dan air minum serta sub sektor bangunan.
Rata-rata pertumbuhan ekonomi kota Medan sebelum krisis ekonimi mencapai lebih dan 6,5% setiap tahunnya. Sebagai dampak krisis ekonomi dan monoter, pertumbuhan ekonomi sempat jatuh pada angka negatif (-20,11%) di tahun 1998. untunglah pertumbuhan positif kembali terjadi sebesar 5,49% pada tahun 2004 dan 6,98% pada tahun 2005. kondisi ini memperlihatkan bahwa kondisi perekonomian kota Medan dapat pulih dan bangkit lebih cepat dari krisis yang terjadi sekaligus mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan daerah-daerah lainnya.
ekonomi kota Medan.
Faktor penggerak pertumbuhan ekonomi kota Medan yang tak kalah penting adalah kemampuan konsumsi masyarakat. Kenaikan angka konsumsi masyarakat dimungkinkan dengan meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat. Peningkatan ini terjadi pada dua tahun terakhir dan Rp. 10,9 juta di tahun 2003 menjadi Rp. 12,5 juta di tahun 2004. peningkatan ini didukung oleh menurunnya tingkat pengangguran dari 11,44% pada tahun 2003 menjadi 11,01% pada tahun 2004 dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dari 5,32% pada tahun 2003 menjadi 5,49% pada tahun 2004.
3.2. Dinas Koperasi Kota Medan
3.2.1. Sejarah Singkat Dinas Koperasi Kota Medan
Dengan diberlakukannya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 dan sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Medan No. 4 Tahun 2000 tentang pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas di lingkungan Kota Medan, maka Dinas Koperasi Kota Medan adalah salah satu dari unit kerja pemerintahan Kota Medan yang awalnya merupakan gabungan dari eks Dinas Perindustrian Kota Medan dengan eks Kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan.
3.2.2. Kedudukan Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Koperasi