Penanganan Aborsi Tidak Aman (Unsafe Abortion) dari Perspektif Perempuan yang Mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD)

164  10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENANGANAN ABORSI TIDAK AMAN (UNSAFE ABORTION) DARI PERSPEKTIF PEREMPUAN YANG MENGALAMI

KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN (KTD)

TESIS

OLEH

RAHMADANI HIDAYATIN 077033025/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

THE HANDLING UNSAFE ABORTION BY UNWANTED PREGNANCY IN FEMALE PERSPECTIVE

THESIS

BY

RAHMADANI HIDAYATIN 077033025/IKM

POST GARDUATE PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH UNIVERSITY OF NORTH SUMATERA

(3)

PENANGANAN ABORSI TIDAK AMAN (UNSAFE ABORTION) DARI PERSPEKTIF PEREMPUAN YANG MENGALAMI

KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN (KTD)

TESIS

Diajukan sebagai salah satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

OLEH

RAHMADANI HIDAYATIN 077033025/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(4)

Judul Tesis : PENANGANAN ABORSI TIDAK AMAN (UNSAFE ABORTION) DARI PERSPEKTIF PEREMPUAN YANG MENGALAMI

KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN (KTD) Nama Mahasiswa : Rahmadani Hidayatin

Nomor Induk Mahasiswa : 077033025

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Promosi Kesehatan dan Imu Perilaku

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. dr. Delfi Lutan, M.Sc, Sp.OG Ketua

) (Dra. Syarifah, M.S Anggota

)

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

(5)

Telah diuji

Pada tanggal : 25 Agustus 2010

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. dr. Delfi Luthan, M.Sc, Sp.OG Anggota : 1. Dra. Syarifah, M.S

(6)

PERNYATAAN

PENANGANAN ABORSI TIDAK AMAN (UNSAFE ABORTION) DARI PERSPEKTIF PEREMPUAN YANG MENGALAMI

KEHAMILAN TIDAK DIINGINKAN (KTD)

TESIS

Dengan ini menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, April 2012

(7)

ABSTRAK

Masih tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menandakan bahwa derajat kesehatan perempuan belum seperti yang diharapkan. Padahal kesehatan ibu merupakan salah satu wujud hak asasi perempuan dan indikator status sosial dan kesejahteraan diseluruh negara dalam rangka pencapaian Millinium Development Goals (MDGs), untuk menurunkan AKI pada tahun 2015. Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) yang berakhir dengan tindakan unsafe abortion adalah salah satu penyumbang AKI di Indonesia. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengatakan masalah ini merupakan The Hidden Epidemic, diperkirakan insiden aborsi pertahun sebesar 2 juta atau 43 aborsi per 100 kehamilan atau 11% kematian ibu akibat aborsi yang tidak aman (WHO). Karena perempuan yang mengalami masalah KTD melakukan tindakan yang beresiko yang menyebabkan perempuan berada daam unsafe abortion tract.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penanganan masalah aborsi yang tidak aman dari perspektif perempuan yang mengalami KTD serta bentuk-bentuk dukungan terhadap pemenuhan hak reproduksi perempuan terhadap keputusan untuk menghentikan kehamilan yang tidak diinginkan. Penelitian ini dilakukan di Kota Medan, menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam (Indepth Interview) kepada delapan perempuan sebagai informan, serta diskusi kelompok (Focus Group Discusion) dengan lima orang perempuan yang pernah melakukan aborsi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan yang mengalami KTD memiliki keinginan yang kuat untuk menghentikan kehamilannya, ini terlihat dari upaya yang dilakukan tanpa memperhitungkan resiko yang dapat dialami karena melakukan tindakan yang tidak aman. Pengetahuan dan pemahaman yang terkait dengan kesehatan reproduksi termasuk tentang kehamilan terlihat masih rendah, sehingga baru mengetahui hamil setelah usia kehamilan dua bulan. Meskipun tidak terlalu peduli dengan pandangan masyarakat yang buruk karena melakukan aborsi, informan tetap membutuhkan adanya dukungan, sikap empati dan pengertian serta tidak menyalahkan karena pada dasarnya informan memiliki alasan yang kuat. Kebutuhan informan agar pemerintah meninjau Undang-Undang Kesehatan yang terkait dengan masalah aborsi agar lebih berpihak pada hak-hak reproduksi perempuan. Menyediakan layanan atau klinik khusus dengan tenaga-tenaga medis yang terlatih dan memahami masalah KTD, sehingga perempuan mendapatkan pelayanan yang aman dalam mengatasi masalah tersebut.

(8)

ABSTRACT

The high maternal mortality rate (MMR) in Indonesia indicates that the health status of women has not been as expected. Maternal health is one manifestation of women's human rights and social status and welfare of indicators in all countries in the achievement of Millennium Development Goals (MDGs) to reduce maternal mortality by 2015. Unwanted pregnancy (KTD), which ended with the unsafe abortion is one of the contributors to maternal mortality in Indonesia. Indonesia Family Planning Association (IPPA), said the issue is The Hidden Epidemic, an estimated incidence of 2 million abortions per year or 43 abortions per 100 pregnancies, or 11% of maternal deaths caused by unsafe abortion (WHO). Because women who are having problems KTD doing actions at risk, that make women in the tract unsafe abortion.

This study was conducted to determine the handling of the problem of unsafe abortion from the perspective of women who had KTD The research was conducted to determine the handling of the problem of unsafe abortion from the perspective of women who had KTD, and other forms of support to the fulfillment of reproductive rights of women to the decision to terminate the unwanted pregnancy. The study was conducted in the city of Medan, using a qualitative method and in-depth interviews to the eight women as informants, and focus group discussions of six women who had an abortion.

The output of study showed that the informant who had KTD insist in terminating the pregnancy , it is found by the efforts of conducting it without predicting the risk

Knowledge and understanding related to reproductive health, including pregnancy still low, Although not too concerned with the views of poor communities because of abortion, the informants still need support, empathy and understanding and not to blame because it is basically the informant have strong reason. The needs of informant is that the government will review the health constitution related to abortion and support the woman reproduction rights, to provide services or special clinic with trained medical staffs and understanding KTD where woman get a safe service in handling the matter accordingly.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Alah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, penulisan tesis ini dapat diselesaikan dengan judul “Penanganan Aborsi Tidak Aman (Unsafe Abortion) dari Perspektif Perempuan yang Mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD)” di Kota Medan. Penyusunan tesis ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakutas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan.

Karya ini penulis persembahkan kepada Ayah dan Ibunda, kakak abang dan adik-adik tersayang, serta kedua buah hati tercinta M. Fadhil Al-Rasyid dan Akifah Salsabila, semoga menjadi motivasi bagi keduanya untuk menjadi insan yang selalu belajar dalam hidupnya.

Penulis menyadari bagitu banyak dukungan, bimbingan, bantuan dan semangat serta kemudahan yang diberikan oleh berbagai pihak, sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

Banyak pihak yang juga memiliki perhatian dan dukungan kepada penulis, untuk itu ucapan terima kasih yang tiada terhingga kami sampaikan kepada :

1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H (CTM), M.Sc, Sp. A(K).

(10)

3. Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si dan Sekretaris Program Studi Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si, dengan kearifannya, tesis ini dimungkinkan untuk diuji dan disempurnakan, serta seluruh staf yang banyak membantu.

4. Dengan ketulusan hati, penulis menyampaikan ucapan terimakasih, semoga sehat, bahagia dan selalu dalam lindungan Allah SWT kepada Prof. Dr. Delfi Lutan, M.Sc, Sp.OG dan Dra. Syarifah, M.S, selaku pembimbing dengan sabar dan tulus serta banyak memberi perhatian, dukungan, pengertian dan pengarahan sejak awal hingga selesai tesis ini.

5. Kepada para penguji Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M yang dengan sabar selalu mengingatkan penulis untuk menyelesaikan tesis ini. dr. Muhammad Rusda, Sp.OG(K), yang senantiasa memberi semangat dan motivasi hingga tesis ini bisa selesai.

6. Sahabat-sahabat tersayang dari PKBI SU, HIMPSI SU, HRte Konsultan, mohon maaf penulis sampaikan karena selama proses belajar ini konsentrasi menjadi terpecah, buat tim @t Panca Budi, adik-adik di CMR, klinik WKBT serta kader-kader PITA PKBI yang banyak memberikan bantuan serta dukungan moril kepada penulis untuk tetap semangat hingga akhir penyelesaian tesis ini.

(11)

8. Seluruh teman-teman seangkatan di Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, yang banyak mewarnai penulis selama proses belajar bersama.

Sesungguhnya penulis sudah berusaha secara maksimal dalam menyelesaikan tesis ini dan menyadari bahwa tesis ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, karenanya saran untuk perbaikan sangat diharapkan. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, April 2012 Penulis

(12)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Rahmadani Hidayatin, merupakan anak ke tiga dari Sembilan bersaudara, beragama Islam, lahir dan besar di Medan pada tanggal 11 November 1969. Bertempat tinggal di Jl. Bunga Pancur IX Gg. Tarigan No. 9 Simpang Selayang Medan.

Penulis menyelesaikan Pendidikan Dasar di SD Negeri 01 pada tahun 1976-1982, SMPS Taman Pendidikan Mardi Lestari Medan tahun 1982-1986, selanjutnya sekolah di Madrasah Aliyah Negeri Medan tahun 1986-1988 serta menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Psikologi Universitas Medan Area tahun 1995 dan mengambil profesi Psikolog di Yogyakarta pada tahun 1996, terakhir menyelesaikan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Penulis memiliki pengalaman bekerja sebagai Senior Koordinator di CMR-PKBI SU dari tahun 1997-2002, menjadi Manager Operasional di Psiko Utama Konsultan dari tahun 2002-2004, menjadi konsultan di PHPB-PHP II Sumatera Utara pada tahun 2003-2006, saat ini sebagai Direktur Pelaksana PKBI SU sejak tahun 2004 sampai sekarang, Direktur HRte Indonesia Konsultan sejak tahun 2005 sampai sekarang, Dosen di UNPAB Medan sejak tahun 2009 sampai sekarang.

(13)

DAFTAR ISI

Pengertian Kesehatan Reproduksi ... Hak-Hak Kesehatan Reproduksi ...

11 13 2.2. Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD) ... 15

2.2.1. 2.2.2.

Pengertian Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Penyebab Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD)...

15 Aborsi Tidak Aman ...

19 21 21 2.4. Penanganan Aborsi Tidak Aman (Unsafe Abortion) ... 24

. 2.4.1.

2.4.2. 2.4.3.

Aspek Layanan dan Kebijakan ... Aspek Dukungan Sosial ... Aspek Informasi dan Pengetahuan ...

24 Lokasi dan Waktu Penelitian ... Pemilihan Informan ... Metode Pengumpulan Data ... Variabel dan Defenisi Operasional ... Metode Analisis data ...

(14)

BAB 4. HASIL PENELITIAN 48

Gambaran Informan (Indepth Interview) ... Profile Informan ... Gambaran Focus Group Discussion ... Profile Peserta Focus Group Discussion ... Matriks Hasil Penelitian ...

48

Perasaan, Sikap, Tindakan Ketika Mengalami KTD. Pengetahuan dan Informasi yang dimiliki ... Kebutuhan akan Dukungan Sosial ... Pandangan dan Kebutuhan akan Kebijakan dan Layanan ...

5.1. Perasaan, Sikap, Tindakan ketika Mengalami KTD ... 88 5.1.1.

5.1.2. 5.1.3.

Alasan untuk Menghentikan Kehamilan ... Upaya-upaya Unsafe Abortion yang sudah dilakukan.. Sebab Informan Mencari Bantuan yang Aman ...

90 92 96 5.2. Pengetahuan dan Informasi ... 97

5.2.1. 5.2.2. 5.2.3. 5.2.4. 5.2.5.

Cara Informan Mengetahui Kehamilan ... Pemahaman tentang Resiko dari Upaya Unsafe Abortion ... Pengetahuan Tentang Hak-Hak Reproduksi ... Pengetahuan dan Informasi yang Harus Dimiliki... Pengetahuan dan Informasi tentang Klinik atau Tenaga Medis ... 5.3. Pandangan dan Kebutuhan akan Dukungan Sosial ... 104

5.3.1. 5.3.2. 5.3.3.

Teman atau Tempat Diskusi dalam Mengatasi Kehamilan yang Tidak Diinginkan ... Pendangan tentang Penilaian Masyarakat yang Buruk terhadap Aborsi ... Kebutuhan Dukungan dari Masyarakat terhadap Perempuan yang Mengalami KTD ...

104 106 108 5.4. Tanggapan dan Kebutuhan akan Kebijakan dan Layanan 109

5.4.1. 5.4.2. 5.4.3.

(15)

DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN ...

(16)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

1 Definisi Operasional ………... 44

2 Karakteristik Informan ………. 48

3 Emosi atau Perasaan Informan ………... 88

4 Alasan Ingin Menghentikan Kehamilan ……….. 90

5 Upaya-Upaya untuk Menghentikan Kehamilan ………. 93

6 Kebutuhan Informasi ………... 103

(17)

DAFTAR MATRIKS

No Judul Halaman

4.2.1.1 Perasaan Ketika Mengetahui Hamil dan Kehamilan yang

tidak Diinginkan ……… 65

4.2.1.2 Alasan untuk Menghentikan Kehamilan ……… 66 4.2.1.3 Upaya Unsafe Abortion yang Sudah Dilakukan ……… 67 4.2.1.4 Hal yang Mendorong untuk Mencari Bantuan Aman ……… 70 4.2.2.1 Cara Mengetahui Kehamilan ………... 71 4.2.2.2 Pemahaman tentang Upaya yang Dilakukan adalah Aborsi

yang Tidak Aman dan Memiliki Resiko ……… 73 4.2.2.3 Pengetahuan tentang Hak-Hak Reproduksi ………... 74 4.2.2.4 Kebutuhan akan Informasi dan Pengetahuan Perempuan dan

Mengatasi Kehamilan yang tidak Diinginkan ……… 76 4.2.3.1 Teman Diskusi Rencana untuk Menghentikan Kehamilan

………. 78

4.2.3.2 Tanggapan terhadap Penilaian Buruk Masyarakat kepada

Perempuan yang Melakukan Aborsi ……….. 80 4.2.3.3 Kebutuhan akan Dukungan Masyarakat pada Perempuan

yang Mengalami KTD ………... 81

4.2.4.1 Pendapat tentang Undang-Undang dan Kebijakan yang

Mearang Aborsi ………... 83 4.2.4.2 Kebutuhan akan Dukungan Kebijakan dan Layanan dari

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1 Pedoman Wawancara ……… 125

2 Pedoman Focus Group Discusion ……….. 127

3 Rekaman hasil Focus Group Discusion ……… 129

(19)

ABSTRAK

Masih tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menandakan bahwa derajat kesehatan perempuan belum seperti yang diharapkan. Padahal kesehatan ibu merupakan salah satu wujud hak asasi perempuan dan indikator status sosial dan kesejahteraan diseluruh negara dalam rangka pencapaian Millinium Development Goals (MDGs), untuk menurunkan AKI pada tahun 2015. Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) yang berakhir dengan tindakan unsafe abortion adalah salah satu penyumbang AKI di Indonesia. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengatakan masalah ini merupakan The Hidden Epidemic, diperkirakan insiden aborsi pertahun sebesar 2 juta atau 43 aborsi per 100 kehamilan atau 11% kematian ibu akibat aborsi yang tidak aman (WHO). Karena perempuan yang mengalami masalah KTD melakukan tindakan yang beresiko yang menyebabkan perempuan berada daam unsafe abortion tract.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penanganan masalah aborsi yang tidak aman dari perspektif perempuan yang mengalami KTD serta bentuk-bentuk dukungan terhadap pemenuhan hak reproduksi perempuan terhadap keputusan untuk menghentikan kehamilan yang tidak diinginkan. Penelitian ini dilakukan di Kota Medan, menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam (Indepth Interview) kepada delapan perempuan sebagai informan, serta diskusi kelompok (Focus Group Discusion) dengan lima orang perempuan yang pernah melakukan aborsi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan yang mengalami KTD memiliki keinginan yang kuat untuk menghentikan kehamilannya, ini terlihat dari upaya yang dilakukan tanpa memperhitungkan resiko yang dapat dialami karena melakukan tindakan yang tidak aman. Pengetahuan dan pemahaman yang terkait dengan kesehatan reproduksi termasuk tentang kehamilan terlihat masih rendah, sehingga baru mengetahui hamil setelah usia kehamilan dua bulan. Meskipun tidak terlalu peduli dengan pandangan masyarakat yang buruk karena melakukan aborsi, informan tetap membutuhkan adanya dukungan, sikap empati dan pengertian serta tidak menyalahkan karena pada dasarnya informan memiliki alasan yang kuat. Kebutuhan informan agar pemerintah meninjau Undang-Undang Kesehatan yang terkait dengan masalah aborsi agar lebih berpihak pada hak-hak reproduksi perempuan. Menyediakan layanan atau klinik khusus dengan tenaga-tenaga medis yang terlatih dan memahami masalah KTD, sehingga perempuan mendapatkan pelayanan yang aman dalam mengatasi masalah tersebut.

(20)

ABSTRACT

The high maternal mortality rate (MMR) in Indonesia indicates that the health status of women has not been as expected. Maternal health is one manifestation of women's human rights and social status and welfare of indicators in all countries in the achievement of Millennium Development Goals (MDGs) to reduce maternal mortality by 2015. Unwanted pregnancy (KTD), which ended with the unsafe abortion is one of the contributors to maternal mortality in Indonesia. Indonesia Family Planning Association (IPPA), said the issue is The Hidden Epidemic, an estimated incidence of 2 million abortions per year or 43 abortions per 100 pregnancies, or 11% of maternal deaths caused by unsafe abortion (WHO). Because women who are having problems KTD doing actions at risk, that make women in the tract unsafe abortion.

This study was conducted to determine the handling of the problem of unsafe abortion from the perspective of women who had KTD The research was conducted to determine the handling of the problem of unsafe abortion from the perspective of women who had KTD, and other forms of support to the fulfillment of reproductive rights of women to the decision to terminate the unwanted pregnancy. The study was conducted in the city of Medan, using a qualitative method and in-depth interviews to the eight women as informants, and focus group discussions of six women who had an abortion.

The output of study showed that the informant who had KTD insist in terminating the pregnancy , it is found by the efforts of conducting it without predicting the risk

Knowledge and understanding related to reproductive health, including pregnancy still low, Although not too concerned with the views of poor communities because of abortion, the informants still need support, empathy and understanding and not to blame because it is basically the informant have strong reason. The needs of informant is that the government will review the health constitution related to abortion and support the woman reproduction rights, to provide services or special clinic with trained medical staffs and understanding KTD where woman get a safe service in handling the matter accordingly.

(21)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Kesehatan merupakan hal yang penting dalam kehidupan perempuan, kesehatan perempuan terkait pada semua aspek kehidupan sehari-hari. Organ reproduksi perempuan mempunyai konsekuensi yang siginifikan dalam kesehatan perempuan. Zarfiel (1998), menegaskan dalam tulisannya bahwa kesehatan reproduksi merupakan bagian yang sangat penting dari “kesehatan pada umumnya”, serta bagian inti dari pembangunan sumberdaya manusia untuk mencapai kualitas kehidupan yang tinggi. Kesehatan reproduksi merupakan cerminan dari kesehatan sejak konsepsi dan kehamilan, kesehatan masa kanak-kanak, remaja dan dewasa, peletakan landasan kesehatan pasca masa reproduksi, serta pengaruhnya pada kesehatan generasi mendatang.

Masih tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menandakan bahwa derajat kesehatan reproduksi perempuan belum seperti yang diharapkan. Padahal kesehatan ibu merupakan salah satu wujud hak asasi perempuan. Berdasarkan data WHO (World Health Organization), di dunia setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilannya.

(22)

merupakan suatu indikator status sosial dan kesejahteraan anak perempuan dan perempuan di seluruh negara Indonesia. Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan target penurunan AKI pada tahun 2015 menjadi setengah dari angka saat ini yaitu 307/100.000 kelahiran hidup (Survey Demografi Kesehatan Indonesia 2002-2003).

Untung (2007), mengungkapkan kehamilan dan persalinan merupakan salah satu penyebab utama kematian perempuan usia produktif. Berdasarkan data, penyebabnya adalah akibat komplikasi selama kehamilan dan persalinan, termasuk perdarahan, infeksi, dan aborsi tidak aman. Selanjutnya dijelaskan keadaan tersebut terjadi umumnya karena keterlambatan mengetahui adanya komplikasi dan terlambat memperoleh penanganan.

Berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi perempuan, beberapa pendapat ahli memperkuat bahwa kehamilan yang tidak diinginkan berdampak pada adanya permintaan untuk mengakhiri kehamilan. Pelayanan yang tidak tersedia membuat perempuan melakukan aborsi yang tidak aman dan ini memberi andil atas tingginya angka kematian ibu.

(23)

aborsi merupakan “The hidden epidemic. Lebih ditegaskan oleh Zarfiel, dkk (1998), suka tidak suka kita harus berani mengakui bahwa masalah ini nyata ada di depan mata. Upaya pencegahan yang dilakukan oleh perempuan merupakan perilaku yang berbahaya, karena mereka pada umumnya sudah melakukan inisiatif sendiri untuk mengatasinya seperti minum jamu terlambat bulan/jamu peluntur, minum ramuan yang diyakini mampu membuat haid, minum obat-obatan dan sebagainya, jika tidak berhasil mereka pergi ke dukun atau tenaga medis.

Tahun 2000, WHO menguraikan dua pertiga dari 75 juta perempuan yang mengalami KTD akan berakhir dengan aborsi disengaja, 20 juta diantaranya dilakukan secara tidak aman dan sebagian besar aborsi tidak aman (95%) terjadi di negara berkembang dimana akses pelayanan KB terbatas.

(24)

Hal ini juga di sampaikan oleh Zarfiel, dkk (1998) bahwa angka kematian akibat aborsi yang tidak aman memang sulit sekali dikumpulkan secara akurat. Data aborsi di Indonesia umumnya dilaporkan sebagai kasus kehamilan, flu, gastritis, tumor. Permasalahan aborsi tidak aman dilaporkan oleh rumah sakit sebagai kasus abortus spontan, atau komplikasi aborsi yang ditangani pihak lain dan kemudian ditangani Rumah Sakit. Sementara di negara-negara yang melegalisir aborsi, angka aborsi diperoleh dari rumah sakit atau klinik yang ditunjuk untuk menangani masalah kehamilan yang tidak diinginkan. Sebagai perbandingan, di Singapura 6, Malaysia 39, Thailand 44, Filipina 170 /100.000 kelahiran hidup.

Studi berdasarkan SKRT 1998-2001 menemukan rasio aborsi 10.4 per 100 kehamilan yang paling banyak terjadi dan ikut berperan pada 36.3% aborsi. Komplikasi kehamilan, jumlah kehamilan, pemeriksaan dan antenatal berkaitan dengan kejadian aborsi (Setyowati, Balitbangkes, 2004).

Demikian juga menurut Hul dan Ninuk (1993), diperkirakan jumlah aborsi setiap tahun berkisar antara 750.000 – 100.000 atau 18 aborsi per 100 kehamilan. Sedangkan Utomo, dkk (2001) memperkirakan insiden aborsi pertahun sebesar 2.000.000 atau 43 aborsi per 100 kehamilan. Data yang dikumpulkan dari sembilan daerah di Indonesia sejak tahun 2000-2003, menunjukkan adanya 37.685 permintaan pelayanan pemulihan haid, terdapat 73% klien meminta pelayanan pemulihan haid karena kegagalan KB 31%, selain telah memiliki cukup anak 21% (PKBI, 2004).

(25)

sehingga merupakan pengalaman yang menyangkut diri seorang perempuan secara menyeluruh. Pada kenyataannya tidak semua kehamilan yang terjadi merupakan sesuatu yang direncanakan atau diinginkan. Perempuan pada kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dihadapkan pada pilihan yang sulit dan tidak jarang berakhir dengan menghentikan kehamilan atau aborsi. Dua pertiga (50 juta) dari 75 juta kehamilan yang tidak diinginkan di dunia akan berakhir dengan aborsi disengaja; 20 juta dilakukan secara tidak aman (PKBI, 2004)

Ada beberapa alasan perempuan untuk melakukan penghentian kehamilan antara lain; alasan kesehatan, telah memiliki jumlah anak cukup, kurang pengetahuan tentang kontrasepsi, akibat perkosaan, takut janin cacat, usia muda, pasangan tidak bertanggungjawab atau alasan ekonomi.

Penelitian PKBI (2000-2003), menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami kehamilan, 51,4% perempuan yang mendatangi klinik sudah melakukan tindakan sendiri untuk menghentikan kehamilannya. Berbagai cara dilakukan untuk mengakhiri kehamilannya yang menunjukkan bahwa klien telah menempuh cara aborsi tidak aman (unsafe aborsion Track). Antara lain mendapat pelayanan dokter/bidan yang memberikan obat atau tindakan yang dianggap bisa menghentikan kehamilan (8,9%), minum obat (21%), minum jamu tradisional/minum ramuan/obat-obatan (13.3%) dan sisanya menggunakan cara lain (7.3%), sedangkan klien yang datang ke dukun (0.4%).

(26)

kebutuhan namun tidak mendapatkan pelayanan yang aman, disamping itu dipengaruhi juga oleh pengetahuan dan pemahaman yang rendah. Seperti yang dituliskan oleh Saparinah (1988), bahwa KTD dapat terjadi karena sikap tidak mengerti atau tidak memahami (ignorance) bagaimana kehamilan bisa terjadi sampai secara sadar perempuan menikah tidak menggunakan kontrasepsi, padahal mereka tidak menginginkan kehamilan, sedangkan menggunakan kontrasepsi-pun kehamilan bisa terjadi apalagi tidak menggunakan alat kontrasepsi. Selanjutnya Saparinah menjelaskan ada kaitan dengan data sebelumnya bahwa orang yang sudah berhasil sekali ketika melakukan aborsi cenderung akan mengulang kembali perilaku tersebut.

Perempuan yang mengalami masalah kehamilan yang tidak diinginkan melakukan tindakan-tindakan yang beresiko dan berada dalam unsafe abortion tract” aborsi yang tidak aman karena beberapa hal.

Pengetahuan dan pemahaman perempuan tentang kehamilan tergolong rendah, diantaranya; bagaimana proses kehamilan terjadi, tanda-tanda kehamilan dan terlambat menyadari kalau dirinya sudah hamil, padahal ia tidak merencanakan untuk hamil. Hasil penelitian PKBI 2000-2003, menguraikan pendidikan bagi perempuan perlu diberikan agar mereka dapat segera mengambil keputusan yang tepat bila mengalami KTD, dan tidak mengambil tindakan sendiri yang justru membahayakan diri.

(27)

dukungan baik dari keluarga maupun dari masyarakat untuk membantunya mengatasi masalah tersebut. Namun perempuan yang ingin menghentikan kehamilannya justru dijauhkan dari dukungan sosial. Sehingga pada akhirnya perempuan yang sudah pada tahap putus asa atau “desperate” akan mencari jalan keluar sendiri dengan cara yang tidak aman.

Undang-Undang kesehatan di Indonesia pasal 15 (ayat) UU No. 23/1992 melarang aborsi tanpa alasan medis. Hal ini membuat masalah aborsi menjadi lebih sensitif, karenanya banyak perempuan yang mengalaminya tidak mau mendiskusikannya pada orang lain secara terbuka, sehingga aborsi dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Faktanya pada penelitian PKBI (2004) permintaan perempuan terhadap pelayanan aborsi aman cukup tinggi. Karena tidak jelasnya perlindungan hukum dan akses pelayanan yang aman untuk mengatasi masalah KTD membuat perempuan menderita komplikasi aborsi yang tidak aman dan takut mencari pertolongan medis. Akibatnya tidak pernah diperhitungkan penderitaan, morbiditas dan kematian perempuan karena aborsi tidak aman. Sementara perempuan yang sudah memutuskan untuk menghentikan kehamilan akan melakukan upaya apa saja walaupun harus mempertaruhkan nyawanya.

(28)

untuk memberikan pelayanan kesehatan reproduksi bukan hanya ditujukan untuk meningkatkan semangat hidup perempuan yang mengalami persoalan dengan kesehatan reproduksinya.

Kesepakatan International Congres Population Development (ICPD) di Kairo pada tahun 1994 “... Dan untuk memiliki informasi dan cara-cara untuk melakukannya, dan hak untuk meraih standar tertinggi atas kesehatan seksual dan

reproduksi, termasuk segala hak untuk memutuskan hal-hal yang bersangkut paut

dengan reproduksi, bebas dari diskriminasi dan kekerasan.”

WHO (2007), menguraikan bahwa upaya menurunkan kematian maternal tidak akan berhasil jika masalah aborsi tidak aman yang dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih terus diabaikan. Angka 11% kematian ibu akibat aborsi yang tidak aman tidak akan turun bahwan bisa semakin tinggi

1.2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang penelitian, maka diperoleh kesimpulan bahwa

tingginya angka kematian perempuan disebabkan oleh aborsi yang tidak aman, akibat

kehamilan yang tidak diinginkan. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor yang

diangkat dalam penelitian ini yaitu ; pengetahuan dan pemahaman yang rendah tentang

kehamilan menyebabkan perempuan lambat menyadari kehamilannya, rendahnya

dukungan sosial terhadap perempuan yang ingin menghentikan kehamilan, terkait juga

(29)

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

Mengetahui penanganan masalah aborsi yang tidak aman dari perspektif

perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD).

Bentuk-bentuk dukungan yang diinginkan baik dukungan sosial maupun terhadap

pemenuhan hak reproduksi perempuan terhadap keputusan untuk

menghentikan kehamilan yang tidak diinginkansecara aman

1.4.Manfaat Penelitian

1.4.1. Bagi Pemerintah

Sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk

membuat kebijakan dan peraturan terkait dengan kesehatan reproduksi

perempuan dengan melihat fenomena aborsi yang tidak aman, dengan

pertimbangan adanya kebutuhan perempuan untuk mendapatkan pelayanan

yang aman dalam penanganan masalah kehamilan yang tidak diinginkan.

1.4.2. Bagi Dinas Kesehatan

(30)

1.4.3. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan masukan bagi institusi pendidikan dan mahasiswa untuk

melakukan kajian lebih lanjut mengenai permasalahan aborsi tidak aman pada

perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Sebagai masukan

untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai program-program promosi

kesehatan yang strategis untuk mengurangi perilaku bersiko akibat kehamilan

(31)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kesehatan Reproduksi Perempuan 2.1.1. Pengertian Kesehatan Reproduksi

Kesehatan reproduksi menurut WHO (World Health Organization) 2007, adalah keadaan kesehatan fisik, mental, sosial yang lengkap, bukan hanya ketiadaan penyakit atau cacat dalam semua hal yang berkaitan dengan sistim reproduksi serta fungsi dan prosesnya.

(32)

Masalah kesehatan reproduksi dapat digolongkan sesuai dengan tahap siklus kehidupan yaitu : 1). Perkembangan seksual selama masa kanak-kanak dan remaja, 2) Kehamilan remaja dan kehamilan yang tidak dikehendaki, 3). Aborsi, 4) Komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas, 5) Penggunaan kontrasepsi, 6). Pemberian ASI, 7). Infeksi saluran reproduksi, 8) Infertilitas, 9) pra dan pasca menopause, 10). Kanker organ reproduksi dan 11). Gaya hidup perorangan, termasuk perilaku seksual yang menyimpang (Kartono, 2007).

Berdasarkan defenisi WHO (2003), lingkup kesehatan reproduksi mencakup : a. Safe motherhood dan perawatan neonatal.

b. Keluarga Berencana

c. Pencegahan dan manajemen PMS (Penyakit MEnular Seksual), HIV/AIDS d. Kesehatan reproduksi remaja

e. Pencegahan dan manajemen abortus f. Pencegahan dan manajemen infertilitas

g. Penanganan AKB (Angka Kematian bayi) dan AKAB (Angka Kematian Anak Balita) dan perawatan kesehatan anak.

h. Kesehatan wanita dalam pembangunan

i. Program-program pendukung kesehatan reproduksi.

(33)

anggotanya melakukan program kesehatan reproduksi dalam konteks Primary Health Care dengan menerapkan hal ini diharapkan akan tercapai hak kesehatan reproduksi untuk semua orang.

2.1.2. Hak-Hak Kesehatan Reproduksi

Undang-Undang Kesehatan menjelaskan bahwa Kesehatan adalah bagian dari hak asasi manusia, hal ini sudah dinyatakan dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia khususnya pasal 25 yang berbunyi :

Setiap orang berhak atas tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya, termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan, dan hak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat atau keadaan lainnya yang mengakibatkannya kekurangan nafkah, yang berada di luar kekuasaannya.

Hal ini diperkuat lagi dalam konstitusi WHO :

Setiap negara di dunia saat ini adalah anggota yang terlibat dengan paling tidak satu perjanjian mengenai masalah hak-hak yang berhubungan dengan kesehatan, dan juga termasuk hak-hak lain yang berhubungan dengan kondisi-kondisi yang penting bagi kesehatan.

(34)

persoalan tersebut menjadi bagian dari agenda masyarakat internasional dalam rangka memperjuangkan hak-hak dan martabat manusia.

Nasaruddin (dalam Maria, 2006) menguraikan secara detil sejarah berkembangnya isu hak reproduksi yang sudah menjadi etika global yang dibicarakan masyarakat dunia dan menjadi salah satu agenda yang diperjuangkan, ini dapat dilihat dari Konferensi Perempuan Sedunia I di Meksiko City pada tahun 1970, yang melahirkan poin penting mengajak perempuan berpartisipasi dalam dunia pembangunan. Berikutnya Konferensi Perempuan III di Nairobi tahun 1995, begitu pula dalan Konferensi Kependudukan di Kairo 1994 yang disepakati suatu “plan of action” yang mencakup masalah hak-hak reproduksi dan keluarga berencana.

Selanjutnya Kartono (2007), menguraikan bahwa kesehatan reproduksi tidak hanya membahas defenisinya saja tetapi sekaligus juga menyinggung hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, efektif, terjangkau. Selanjutnya di jelaskan bahwa hak reproduksi mengikut sertakan hak-hak berdasarkan pada kesadaran terhadap hak dasar semua pasangan dan individu untuk memutuskan hal-hal yang terkait dengan reproduksinya.

(35)

a. Hak untuk menentukan jumlah anak

b. Hak atas kesehatan seksual – hak untuk mendapatkan standar tertinggi untuk kesehatan seksual dan reproduksi.

c. Hak untuk memperoleh informasi dan layanan kesehatan reproduksi

d. Aborsi – seluruh pemerintahan dan organisasi lintas departemen dan LSM didorong untuk memperkuat komitmen pada kesehatan perempuan, untuk menyikapi dampak kesehatan atas aborsi yang tidak aman sebagai masalah kesehatan publik.

2.2. Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD)

2.2.1 Pengertian Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD)

Kehamilan biasanya didambakan oleh pasangan suami istri, karena dengan kehamilan akan hadir anggota keluarga baru yang sangat dicintai. Tetapi kadangkala kehamilan bisa mendatangkan kecemasan bagi perempuan. Jumlah perempuan yang mengalami KTD di Indonesia diperkirakan sebanyak 1 juta orang setiap tahun dan KTD dapat menimpa pasangan yang sudah menikah atau belum (Adrianus, 2004)

(36)

PKBI (2004), menjelaskan kehamilan tidak diinginkan (KTD) dialami banyak perempuan, misalnya saja satu alasannya adalah kegagalan KB, tapi juga ada alasan lain seperti masih adanya kelompok unmet need, yaitu mereka yang tidak pernah memakai kontrasepsi atau sedang menggunakan kontrasepsi padahal mereka termasuk aktif secara seksual.

2.2.2. Penyebab Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD)

Adrianus (2004), menguraikan banyak faktor yang menyebabkan KTD antara lain :

1. Hamil sebelum menikah.

2. Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat menyebabkan kehamilan. Misalnya masih banyak perempuan yang beranggapan selesai melakukan hubungan seksual kemudian loncat-loncat agar tidak hamil. 3. Kehamilan akibat pemerkosaan.

4. Kondisi kesehatan ibu yang tidak mengijinkan.

5. Kehamilan pada saat yang belum diharapkan, keadaan ini sering terjadi pada perempuan yang masih dalam proses pendidikan/sekolah, bekerja dan karena alasan ekonomi.

6. Bayi dalam kandungan cacat berat.

7. Gagal dalam menggunakan alat kontrasepsi.

(37)

2.3 Aborsi Aman dan Aborsi Tidak Aman (Unsafe Abortion)

Aborsi merupakan bagian yang paling kontroversial dari masalah kesehatan reproduksi. Banyak orang yang melihat aborsi hanya dari segi moralitas dan politik dan hanya sedikit yang melihat bahwa aborsi merupakan masalah kesehatan. Khususnya kesehatan perempuan karena dalam praktek aborsi ada masalah kesakitan dan kematian perempuan yang menyumbang 11,3% angka kematian ibu (AKI) di Indonesia.

Kartono (2007), menjelaskan di banyak negara yang tidak mengakui bahwa aborsi adalah masalah kesehatan, kejadian aborsi yang tidak aman sangat tinggi dengan masalah komplikasinya baik fisik maupun mental. Secara fisik aborsi yang dilakukan secara tidak aman mengakibatkan rahim bisa cacat, robek sehingga harus diangkat, infeksi, perdarahan serta kematian. Ketika komplikasi ini terjadi barulah orang melihat sebagai sektor kesehatan, namun seringkali pada saat itu pertolongan medis yang diberikan sudah terlambat.

(38)

Hasil penelitian PKBI (2004), dan data hasil survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003 menunjukan bahwa perempuan yang melakukan aborsi lebih banyak berstatus kawin. Mereka melakukan aborsi karena tidak ingin mempunyai anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi. Pada tahun 2001 tercatat ada 14,6% perempuan yang kebutuhan KB nya tidak terpenuhi. Penyebab masih tingginya angka ini karena kualitas informasi dan pelayanan KB masih rendah serta masih kurangnya pelayanan KB pasca persalinan. Tingginya unmet need dapat berakibat pada tingginya angka KTD dan berimplikasi pada aborsi tidak aman.

Selanjutnya PKBI menjelaskan ada beberapa alasan perempuan menghentikan kehamilan antara lain : alasan kesehatan, telah memiliki jumlah anak cukup, akibat pemerkosaan, takut janin cacat, usia muda, belum siap menikah, pasangan tidak tanggung jawab atau alasan ekonomi. Dua pertiga dari 75 juta perempuan yang mengalami KTD akan berakhir dengan aborsi disengaja, 20 juta diantaranya dilakukan secara tidak aman dan sebagian besar aborsi tidak aman (95%) terjadi di negara berkembang dimana akses pelayanan KB terbatas.

2.3.1. Pengertian Aborsi

(39)

perkembangan kurang dari 20 minggu, fetus dengan berat badan 500 gram panjangnya CRL kurang dari 25 cm. Mengingat usia embrio maksimal hanyalah 8 minggu, maka tahap perkembangan embrio manapun tidak akan mungkin bagi embrio untuk bisa hidup diluar kandungan (Jurnalis 2007).

Untung (2007), memberikan pengertian bahwa aborsi adalah terminasi (berakhirnya) proses kehamilan sebelum umur kehamilan 20 minggu (di hitung dari hari pertama menstruasi berakhir) atau berat janin kurang dari 500 gram, dilakukan oleh oarang yang tidak terlatih/kompeten sehingga menimbulkan banyak komplikasi bahkan kematian. Pengertian aborsi menurut Sudraji (1985), adalah suatu tindakan untuk mencegah terjadinya implantasi (kalau dilakukan sebelum inplantansi), atau mencegah pertumbuhan hasil konsepsi yang sudah berimplantansi. Bekti (2005) memberikan definisi aborsi adalah cara mencegah kelahiran, yaitu mengugurkan embrio yang tidak dikehendaki. Sedangkan menurut Kusmaryanto (2002), aborsi adalah penghentian dan pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum janin bisa hidup diluar kandungan (viability).

Selanjutnya untung (2007) menguraikan ada beberapa macam abortus : A. Berdasarkan kejadiannya :

(40)

2. Abortus buatan/provokatus ; adalah abortus yang terjadi akibat intervensi yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan. Aborsi atau abortus provocatus ada dua macam, yaitu : a). Abortus Provocatus Medisinalis (berdasarkan indikasi medis), b) Abortus Provokatus Kriminalis (tanpa indikasi medis/kriminal)

B. Berdasarkan Komplikasinya

1. Abortus dengan perdarahan banyak karena tidak bersih atau robekan rahim akibat tindakan intervensi

2. Abortus infeksiosa, adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman atau toksin ke dalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan septicemia, sepsis atau peritionitis.

C. Berdasarkan Pelaksanaannya

l. Abortus aman (safe abortion), upaya untuk terminasi kehamilan muda. Pelaksanaan tindakan tersebut dilakukan oleh petugas medis yang mempunyai cukup keahlian, dilakukan dengan peralatan dan prosedur standar yang aman sehingga tidak membahayakan keselamatan jiwa pasien. 2. Abortus tidak aman (unsafe abortion), upaya terminasi kehamilan muda.

(41)

2.3.2. Aborsi Aman

Aborsi adalah fakta yang menjadi problem serius di masyarakat, isu yang kontroversial khususnya dikaitkan dengan nilai-nilai moral, demikian juga dengan sikap Undang-Undang yang memandang aborsi sebagai suatu tindak pidana. Hal ini di sebabkan karena aborsi sering diasumsikan hanya pada kasus-kasus kehamilan di luar nikah, padahal faktanya tidak selalu demikian.

Nasruddin (dalam Maria, 2006) mengatakan, besarnya angka dan jumlah angka kematian ibu (AKI) pada setiap tahunnya bisa jadi disebabkan karena tidak adanya aturan mengenai palayanan aborsi yang aman, sehingga angka tersebut bukannya berkurang, tetapi justru memberikan peluang yang besar terjadinya praktik aborsi diam-diam tanpa pedoman, prosedur dan standar kesehatan. Kondisi ini sungguh memprihatinkan bagi kita, padahal Indonesia sendiri sudah menandatangani kesepakatan Kairo 1994 tentang hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi yang salah satunya adalah mengeliminir aborsi ilegal dan tidak aman.

(42)

Pelayanan aborsi yang aman dapat diberikan persyaratan antara lain; 1) Dilakukan secara profesional oleh para ahli yang tergabung dalam tim, 2) Dengan persejuan perempuan yang bersangkutan, 3) Dilakukan konseling pra dan pasca tindakan, 4) Dilakukan secara komersil. Indikasi yang menjadi dasar dibolehkannya pelayanan aborsi tidak hanya disebabkan alasan medis (sebagaimana diatur dalam UU No.23/1992), tetapi juga alasan psiko-sosial perempuan yang mengalami KTD, (PKBI, 2004).

George seorang ahli Antropolog (dalam PKBI 2004), menyatakan permintaan pelayanan aborsi yang aman oleh perempuan sudah menjadi fenomena yang universal, alasan permintaan tersebut karena perempuan membutuhkan pelayanan kesehatan yang memadai yang dapat mencari jalan keluar kesehatan yang aman. Kemungkinan perempuan akan dihadapkan pada masalah kehamilan yang tidak diinginkan dalam hidupnya, oleh karena itu sewajarnya jika perempuan mengajukan permintaan pelayanan aborsi yang aman.

2.3.3. Aborsi tidak aman (Unsafe Abortion)

(43)

bukan dokter atau oleh tenaga terlatih untuk itu, dilakukan ditempat yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dilakukan dengan cara yang tidak dikenal di dunia kedokteran.

Penelitian PKBI (2004), mendapatkan gambaran karena aborsi yang tidak aman perempuan dapat mengalami komplikasi (dalam bentuk infeksi, rahim robek, perdarahan), kesakitan dan kecacatan. Sesungguhnya disetiap wilayah, masyarakat mengembangkan cara-cara pengguguran kandungan sesuai nilai budaya lokal masing-masing yang ada pada dasarnya jauh dari aman dan memadai.

Karena tidak ada pelayanan aborsi yang aman, perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan melakukan aborsi secara tidak aman (unsafe abortion). Dari aspek medis, praktek aborsi tidak aman beresiko sangat tinggi terhadap kematian ibu karena tidak dilakukan oleh ahli yang kompeten serta tidak dikerjakan dengan peralatan medis yang layak (Untung, 2007). Dijelaskan lebih lanjut praktik aborsi tidak aman sebenarnya juga melanggar tiga hal, yaitu : Pertama, melanggar kode etik profesi medik; Kedua, tidak sesuai dengan prosedur medik; Ketiga, melanggar peraturan perundang-undangan yang ada.

2.4. Penanganan Aborsi Tidak Aman (Unsafe Abortion) 2.4.1. Aspek Layanan dan Kebijakan

(44)

sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Selanjutnya ia mengatakan bahwa pemenuhan hak reproduksi merupakan bagian integral dari hak dasar manusia, dan kebijakan serta undang-undang akan mengurangi angka kematian akibat aborsi (Colin,2007)

Tulisan Saparinah dalam jurnal perempuan (2007), menguraikan belum terpenuhinya hak kesehatan reproduksi di Indonesia dapat dilihat dari tingginya angka kematian ibu (AKI) dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Lebih dari 30 tahun yang lalu terdapat kesepakatan nasional untuk menurunkan AKI secara komprehensif dimulai dari kebijakan tentang KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), sampai dengan MPS (Make Pregnancy Safer). Namun sampai sekarang AKI masih tetap tinggi di atas 307/100.000 kelahiran hidup. Padahal dalam memenuhi kesepakatan MDGs Indonesia diharapkan dapat menurunkan AKI menjadi 102/100.000 kelahiran hidup di tahun 2015.

Selanjutnya Saparinah menuliskan bahwa memenuhi hak kesehatan reproduksi perempuan adalah mutlak, namun kenyataannya hingga sekarang undang-undang kesehatan tidak memuat pasal–pasal yang dirumuskan khusus untuk melindungi hak-hak kesehatan reproduksi perempuan serta tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah mengenai pelayanan kesehatan yang berkualitas.

(45)

yang dihasilkan pada ICPD Kairo 1994 adalah bahwa negara bersangkutan menyetujui prinsip-prinsip yang dimuat dalam POA dan bertanggung jawab untuk melaksanakan apa yang disepakati dalam POA tersebut. Salah satu prinsip yang telah disetujui bersama adalah untuk melindungi hak reproduksi perempuan.

Menurut Adrina (1998), pandangan pro dan kontra, senantiasa mewarnai perbincangan tentang aborsi. Disatu sisi, ada anggapan janin memiliki hak untuk hidup dan harus dilindungi, sementara disisi lain, muncul pandangan yang menekankan hak perempuan hamil untuk meneruskan atau menghentikan kandungannya. Karenanya tidaklah berlebihan jika aborsi dikatakan sebagai suatu masalah yang cukup serius. Sayangnya data tentang masalah ini sangat terbatas di Indonesia.

Adrina (1998), menjelaskan lebih lanjut berdasarkan penjelasan pasal 15 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Kesehatan No. 23/1992, yang menyatakan bahwa peluang untuk melakukan aborsi tetap terbuka. Tapi itu hanya dapat dilakukan dalam keadaan darurat sebagai upaya penyelamatan ibu hamil. Untuk menjawab kebutuhan ini disediakan pelayanan aborsi yang aman dengan karakteristik hanya dapat dilakukan oleh tenaga ahli (dokter kandungan) dan berdasarkan pada pertimbangan tim ahli lainnya yang terdiri dari medis, agama, hukum, psikologi dan harus tersedia sarana kesehatan serta peralatan yang diperlukan dan ditunjuk oleh pemerintah.

(46)

menyusun dan mengusulkan amandemen Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992 yang diajukan ke DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) :

Pasal...

(1). Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang terkait dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan. (2). Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) meliputi :

a. Saat sebelum hamil, semasa hamil, melahirkan dan sesudah melahirkan. b. Pengaturan kehamilan dan

c. Kesehatan sistem organ reproduksi.

(3). Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui pendekatan upaya kesehatan ibu, kesehatan anak, keluarga berencana, kesehatan reproduksi remaja, pencegahan dan penanggulangan infeksi menular seksual termasuk HIV-AIDS serta kesehatan reproduksi lanjut usia.

Pasal...

Setiap orang berhak :

a. Menjalankan kehidupan reproduksi dan kehidupan seksual yang sehat, aman, bebas dari paksaan dari luar yang dan/atau kekerasan dari siapapun.

(47)

c. Menentukan sendiri kapan dan berapa sering ingin bereproduksi sehat dan bertanggung jawab dengan memperhatikan keadilan serta kesetaraan antar pasangan.

d. Memperoleh informasi, edukasi, konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi. Pasal...

Pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual.

Pasal...

(1). Setiap pelayan kesehatan reproduksi yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan/ atau rehabilitative, termasuk reproduksi dengan bantuan dilakukan secara aman dan sehat dengan memperhatikan aspek-aspek yang khas pada fungsi reproduksi perempuan dan laki-laki.

(2). Ketentuan mengenai reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) diatur dengan peraturan pemerintah.

Berkaitan dengan aborsi pasal yang di amandemen adalah; Pasal...

Setiap orang dilarang melakukan aborsi,

(1). Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan a. Indikasi medis yang terbukti secara klinis mengancam nyawa ibu dan/ atau

(48)

dan harus mendapatkan izin dari ibu dan ayah janin setelah diberikan penjelasan lengkap.

b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan yang direkomendasikan oleh ahli psikologi penilai. (2). Tindakan aborsi yang akan dilakukan sebagaimana dimaksud pada ayat(2),

hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/ atau penasehat pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang serta ditetapkan oleh panel ahli/tokoh agama penilai setempat yang diangkat oleh menteri.

(3). Ketentuan lebih lanjut tentang indikasi medis dan/ psikososial, sarana dan prasarana kompetensi dan kebebasan memilih sumber daya ahli penilai, keterjangkauan pembiayaan dan pemerataan sebagaimana dimaksud pada ayat(2) dan ayat(3) diatur dengan peraturan menteri.

Pasal ....

(1) Pemerintah wajib melindungi perempuan dan mencegah dari praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman dan tidak bertanggungjawab.

(2) Praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman dan tidak bertanggungjawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tindakan :

a. Dengan paksaan dan tanpa persetujuan perempuan yang bersangkutan atau diskriminatif

(49)

c. Tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan yang berlaku; d. Di fasilitas kesehatan yang tidak berijin/memenuhi syarat; atau

e. Menerapkan imbalan materi yang di luar jangkauan perempuan yang melakukannya.

Pada saat pembahasan perubahan di atas dengan pemerintah, Presiden telah menunjuk Menteri Kesehatan RI sebagai wakil pemerintah untuk mensahkan masuknya pasal-pasal yang diajukan mengisyaratkan paling sedikit dua hal yaitu : • Pemenuhan hak kesehatan reproduksi perempuan secara legal

menjadi tanggungjawab pemerintah;

• Memenuhi kesehatan reproduksi perempuan bukan pilihan tetapi keharusan dalam meningkatkan mutu kesehatan masyarakat dan derajat bangsa.

(50)

Maria (2006), mengatakan gagasan untuk mengamandemen Undang-Undang Kesehatan No. 23/1992, dengan memasukkan pasal tentang layanan kesehatan yang dapat memenuhi hak reproduksi perempuan, sebagai kajian untuk dibahas bersama anggota Legislatif adalah upaya mencari solusi dalam menghadapi dilema aborsi yang dihadapi perempuan dengan pertimbangan :

• Hingga sekarang, perempuan dalam menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan akan selalu mencari cara untuk menggugurkannya. Seringkali berakhir dengan menjadi korban dari prosedur aborsi yang tidak aman dengan akibat fatal; yaitu kematian atau cacat seumur hidup;

• Kemajuan teknologi kedokteran bisa memberi pelayanan yang mencegah aborsi tidak aman;

• Diperlukan UU kesehatan yang memberi perlindungan yang jelas bagi para pemberi pelayanan (dokter, bidan, petugas kesehatan tertentu) maupun perempuan yang mencari layanan aborsi;

• Aturan legal, medis dan psikologis, harus menentukan persyaratan-persyaratan ketat tentang aborsi.

(51)

sebagai masalah kesehatan perempuan usia reproduksi hingga kini belum ada program dan kebijakan untuk membuat kehamilan setiap perempuan aman (Maria, 2006).

WHO (2007) menegaskan bahwa resiko kesakitan dan kematian akibat aborsi tidak aman tergantung pada layanan dan kehalian petugas yang melaksanakan.

2.4.2. Aspek Dukungan Sosial

Ninuk dalam Jurnal Perempuan (2007), menuliskan saat membicarakan perihal hak dan layanan kesehatan reproduksi tidak ada kata yang begitu membangkitkan emosi, selain ABORSI, baik untuk kelompok yang ekstrem membela kepentingan embrio atau fetus dalam rahim perempuan sehingga kepentingan dan hak hidup perempuan itu sendiri terabaikan, maupun untuk kelompok yang lebih membela kepentingan perempuan daripada kepentingan calon anak.

(52)

Pengertian bebas dari rasa takut mencakup juga bebas dari ketakutan akan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak direncanakan, disinilah keterkaitan antara kehidupan seks yang sehat dengan hak reproduksi. Kehamilan yang tidak diinginkan akan selalu menimbulkan problem kesehatan bagi perempuan, terutama kesehatan mentalnya. Pada saat seperti ini seorang perempuan membutuhkan dukungan baik dari keluarganya maupun dari masyarakat sekitarnya, (Kartono, 2007)

Selanjutnya Kartono menguraikan bahwa di masyarakat yang makin urban, kedekatan sosial itu semakin merenggang, termasuk keluarga sendiri. hingga seorang perempuan yang sedang mengalami kecemasan akibat kehamilan yang tidak diinginkan ataupun kekerasan seksual itu justru semakin di jauhkan dari dukungan sosial yang ia perlukan. Bagi perempuan yang mengalami "desperate" akan mencari jalan keluar sendiri yang mungkin dianggap tidak sejalan dengan pandangan masyarakat sekitarnya, dan pada saat itu kesehatan reproduksi perempuan sudah terganggu.

(53)

membuktikan bahwa bila prosedur aborsi dilakukan dengan cara-cara yang aman, maka resiko terhadap kesehatan fisik, mental dan sosial perempuan menjadi lebih rendah atau kecil.

Dalam menghadapi dilema aborsi ternyata sulit sekali bagi perempuan, apapun latar belakang pendidikan dan status sosial ekonominya, meskipun kondisi kehidupan berkeluarga cukup harmonis, untuk menuntut hak reproduksinya dan mendapat dukungan yang ia butuhkan, seperti bantuan dan dukungan dari komunitas medis yang sudah mengenal keadaan dirinya ataupun dukungan emosional dari orang yang paling dekat.

Uraian-uraian di atas menyimpulkan bahwa dukungan sosial sangat dibutuhkan oleh perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Dukungan sosial untuk mengupayakan solusi yang tepat dan komprehensif dalam menangani masalah kesehatan reproduksi perempuan.

2.4.3. Aspek Informasi dan Pengetahuan

(54)

bagaimana ia dapat memperoleh pelayanan kesehatan reproduksinya, (Kartono 2007). Selanjutnya Kartono dalam tulisannya menguraikan dokumen Konferensi di Kairo tentang kewajiban setiap Negara untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi :

" Seluruh Negara dipanggil untuk mengusahakan agar kesehatan reproduksi dapat diakses melalui sistim pelayanan kesehatan primer (menjadi standar), oleh semua individu yang berusia cukup, sesegera mungkin dan tidak lebih dari tahun 2015, (MDGs). Pelayanan tersebut harus mengikut sertakan inter-alia (institusi terkait); konseling perencanaan keluarga, pendidikan, komunikasi dan pelayanan: pendidikan dan pelayanan untuk perawatan kehamilan, persalinan dan pasca persalinan, pemeliharaan kesehatan ibu dan anak, aborsi, dan segala kondisi kesehatan reproduksi dan informasinya, pendidikan dan konseling atas seksualitas manusia, kesehatan reproduksi dan tanggungjawab setelah menjadi orang tua ".

Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan PKBI tahun 2005 tentang kehamilan yang tidak diinginkan dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, dan tingkat pengetahuan berhubungan dengan perilaku. Karenanya PKBI melakukan penelitian dengan tujuan untuk mendefenisikan pengetahuan KTD, pengetahuan tentang cara pencegahan, dan pengetahuan tentang sejauh mana individu mampu memahami KTD dan hal-hal yang dapat dilakukan untuk dapat melindungi diri dari KTD.

(55)

yang dapat mempengaruhi individu dan komunitas masyarakat agar membuat keputusan yang tepat demi memelihara kesehatan mereka sendiri, (liliweri, 2006).

Penelitian PKBI (2008) mengatakan kebanyakan perilaku yang menyebabkan seseorang menderita penyakit pada umumnnya bersumber dari ketidaktahuan dan kesalahpahaman atas berbagai informasi kesehatan yang mereka akses. Hal yang juga terlihat dari perilaku perempuan yang mengalami KTD untuk menghentikan kehamilannya adalah mengkonsumsi berbagai obat ataupun jamu-jamuan yang diyakini dapat menggugurkan kandungannya. Label "dilarang minum bagi wanita hamil" adalah informasi yang salah yang membuat persepsi yang salah juga.

Berangkat dari uraian di atas perlu mengembangkan strategi komunikasi yang efektif yang dapat memberikan pemahaman bagi perempuan yang mengalami KTD untuk mencari informasi yang lebih akurat sebelum mengambil tindakan untuk mengkonsumsi atau menggunakan sesuatu.

(56)

• Menghindari semua bentuk tindakan yang dapat mengancam kesehatan orang lain.

• Membatasi produk barang atau jasa yang mengancam kesehatan manusia, seperti jamu-jamuan peluntur haid.

(57)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dilakukan dengan mendeskripsikan atau menggambarkan serta menjelaskan berbagai keadaan yang terjadi di lapangan. Penelitian ini juga memungkinkan peneliti menyatukan sekelompok perilaku yang menjadi dasar bagi pengambilan keputusan atau tindakan yang dilakukan oleh perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Menggali informasi dari informan apa yang mendorong mereka melakukan upaya-upaya yang tergolong tidak aman, serta menggali secara mendalam tentang kebutuhan yang diinginkan dalam menangani masalah yang di hadapinya.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian di laksanakan di Kota Medan. Adapun alasannya adalah tingginya angka permintaan pelayanan aborsi yang aman dan banyaknya kasus-kasus aborsi tidak aman di kota Medan (berdasarkan pemberitaan media dan penelitian sebelumnya).

(58)

dengan penelitian ini sedang menjalankan program penjangkauan dan pendampingan masyarakat atau outreach yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi perempuan. Fokus penjangkauan adalah meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap masalah aborsi yang tidak aman dalam menyelesaikan masalah kehamilan yang tidak diinginkan. Program ini sudah berjalan selama dua tahun sejak tahun 2007 dan akan berakhir tahun 2010. Hal inilah yang menjadi alasan peneliti untuk melaksanakan diskusi kelompok di lokasi ini, akan lebih memudahkan bagi peneliti untuk diskusi tentang aborsi.

Alasan lain adalah karena selama program yang sedang dijalankan peneliti mendapatkan temuan dan informasi dari masyarakat bahwa kasus kehamilan yang tidak diinginkan banyak terjadi di lokasi ini dan pada umumnya perempuan yang mengalami masalah tersebut menyelesaikannya dengan penanganan yang tradisional. Kesamaan masalah dengan perempuan yang menjadi informan dalam wawancara mendalam dengan kebanyakan perempuan di lokasi diskusi kelompok juga menjadi alasan bagi peneliti.

Informan untuk Indepth Interview peneliti dapatkan dari perempuan yang pernah mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan dan pernah meminta bantuan tenaga medis untuk menghentikan kehamilannya.

3.2. Waktu Penelitian

(59)

3.3. Pemilihan Informan

Informan adalah perempuan menikah yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan dan sudah melakukan upaya untuk sendiri untuk menghentikan kehamilan sebelum meminta pertolongan untuk mendapatkan pelayanan aborsi yang aman.

Alasan untuk mengambil perempuan yang sudah menikah dalam penelitian ini adalah; pertama karena tingkat kemudahan dalam mencari informan, karena bisanya perempuan yang sudah menikah lebih terbuka dibandingkan dengan perempuan yang belum menikah; Kedua, dengan situasi sosial dan legalitas pelayanan yang tidak ada menyebabkan sulit untuk menemukan kasus ini di rumah sakit maupun klinik, karena pelayanan ini menjadi tidak terbuka untuk mendapatkan data yang dibutuhkan.

Adapun prosedur pemilihan sample yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan terlebih dahulu menentukan kriteria yang akan menjadi informan dalam penelitian ini yaitu :

• Sudah menikah

• Sudah melakukan upaya-upaya yang tidak aman

• Berdomisili di Medan

(60)

yang dipilih menjadi informan berdasarkan azas kesesuaian yang memenuhi persyaratan sudah menikah, berdomisili di Medan dan sudah melakukan upaya-upaya untuk menghentikan kehamilannya sebelum meminta bantuan tenaga medis.

Sementara 12 perempuan yang tidak bisa menjadi informan dalam penelitian ini karena tidak memenuhi kesesuaian kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini. Ke 12 perempuan tersebut tidak berdomisili di Medan, belum melakukan upaya untuk menghentikan kehamilannya dengan cara yang tidak aman.

3.4. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data sekunder dengan mengumpulkan informasi untuk lokasi dan telaah dokumen peneliti mendapatkan dari lembaga Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang sebelumnya juga seudah pernah melakukan penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian.

Sedangkan pengumpulan data primer peneliti menghubungi informan untuk meminta kesediaan waktu dan membuat kesepakatan tempat untuk melakukan wawancara mendalam tentang topik penelitian berdasarkan pedoman wawancara yang sudah disusun peneliti.

(61)

Wawancara medalam dengan informan membutuhkan waktu lebih kurang dua jam.

Selanjutnya peneliti melakukan Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok yang merupakan triangulasi metode Indept Interview dengan mencari pandangan sumber lain di luar delapan perempuan yang menjadi informan dalam penelitian ini. Peneliti mendapatkan peserta FGD melalui bantuan seorang kader kesehatan yang merupakan program dampingan PKBI Sumatera Utara.

Berdasarkan informasi yang diperoleh peneliti dari lembaga PKBI dalam penentuan lokasi pelaksanaan wawancara mendalam diperoleh Lokasi Kelurahan Bahari Kecamatan Medan Belawan. Langkah awal yang dilakukan oleh peneliti adalah menghubungi key person yang ada dilokasi tersebut yaitu seorang kader yang sangat memahami kondisi kesehatan dan permasalahan perempuan terkait dengan topik penelitian. Peneliti meminta bantuan key person tersebut untuk mengumpulkan ibu-ibu untuk menjadi peserta diskusi kelompok yang berjumlah lima orang.

(62)

ada juga yang tidak berhasil dan akhirnya terpaksa meneruskan kehamilan. Peneliti tetap meneruskan diskusi dan menjadi hasil diskusi sebagai data dalam penelitian karena ternyata kelompok diskusi ini justru menguatkan data dari informan kunci.

Peneliti menjalani seluruh peristiwa dalam penelitian ini mulai dari mencari informan, melakukan wawancara mendalam dan melakukan diskusi kelompok, yang merupakan rangkaian kegiatan dalam melakukan penelitian kualitatif, hal ini dilakukan agar informasi yang didapat lebih lengkap dan mendalam sehingga dapat menggambarkan fenomena yang ada sesuai dengan topik penelitian.

3.4.1. Hambatan-Hambatan yang Dialami Selama Penelitian

Proses penelitian secara keseluruhan berjalan lancar walaupun sedikit mundur tidak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Ada banyak perubahan-perubahan jadwal untuk melakukan wawancara yang datangnya dari informan. Peneliti harus bersabar untuk menunggu kesiapan para informan dan meyakinkan informan akan kerahasiaan jati diri mereka. Karena keraguan para informan untuk diwawancarai. Namun hal ini tidak menurunkan semangat peneliti untuk terus melakukan pendekatan dan meyakinkan informan. Karenanya peneliti harus selalu mengatur ulang jadwal pertemuan dengan informan.

(63)

menggunakan telepon untuk mendapatkan informasi tambahan. Peneliti hanya bisa menggunakan kamera untuk mendokumentasikan kegiatan pada saat pelaksanaan diskusi kelompok.

Peserta diskusi kelompok terlihat sangat bersemangat dalam merespon pertanyaan yang berkaitan dengan topik, bahkan situasi diskusi menjadi sangat ramai karena hampir semua peserta ingin menceritakan pengalaman dan mengemukakan pendapatnya. Peneliti harus membuat catatan-catatan kecil karena khawatir tidak dapat menangkap dengan baik pada saat harus membuat notulensi dengan mendengarkan rekaman diskusi.

Wawancara mendalam dan diskusi kelompok dilakukan peneliti berdasarkan pedoman wawancara dan pedoman diskusi. Selain menggunakan alat bantu perekam, alat tulis untuk membuat catatan-catatan, peneliti juga melakukan wawacara ulang pada hari yang lain untuk mendapatkan informasi yang belum jelas dan belum lengkap, sampai peneliti merasa sudah mendapatkan informasi yang cukup dan memadai dari masing-masing informan berdasarkan azas kesesuaian dan kecukupan.

3.5. Variabel dan Definisi Operasional

Penelitian ini menetap tiga variabel yang ingin digali dari permasalahan perempuan yang mengalami KTD dan melakukan tindakan aborsi yang tidak aman (unsafe abortion). Tiga variabel tersebut adalah :

(64)

2. Dukungan Masyarakat 3. Kebijakan dan Layanan

Kerangka berfikir penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Gambar 1 : Kerangka Berfikir

Defenisi operasional dari variabel yang diteliti pada penelitian perspektif perempuan dan kebutuhan terhadap penanganan kehamilan yang tidak diinginkan adalah sebagai berikut :

Tabel 1 : Definisi Operasional

No Variabel Materi

1 Pengetahuan dan Informasi

Bagaimana informan mengetahui dan menyadari akan kehamilannya, apa yang dilakukannya untuk mengetahui kondisinya tersebut.

Aborsi Tidak Aman Tidak ada Layanan

Stigma Masyarakat Pengetahuan yang

rendah

Perspektif perempuan dan kebutuhan terhadap penanganan

KTD Perempuan

(65)

Apakah informan mengetahui dan memahami bahwa cara-cara yang dilakukannya termasuk tidak aman dan darimana informasi untuk upaya-upaya menghentikan kehamilan.

Pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh informan terkait dengan masalah dan hak-hak kesehatan reproduksi perempuan khususnya kehamilan yang tidak diinginkan.

2 Dukungan Masyarakat Hal-hal yang diharapkan oleh informan yang berhubungan dengan adanya sikap positif dan dukungan terhadap perempuan dalam menyelesaikan masalah kehamilan yang tidak diinginkan.

3 Kebijakan dan layanan Segala sesuatu yang diketahui dan diinginkan informan akan adanya kebijakan pemerintah dalam penanganan masalah kehamilan yang tidak diinginkan, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan adanya layanan yang dibutuhkan oleh informan dalam menyelesaikan masalah kehamilan yang tidak diinginkan agar tidak melakukan tindakan yang unsafe abortion

3.6. Metode Analisis Data

Pengukuran dan pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program EZ-TEXT versi 3.06, terlebih dahulu peneliti membuat transkrip wawancara yang diperoleh dari mendengarkan secara berulang-ulang hasil rekaman waancara serta melihat catatan lapangan (field notes) yang dibuat peneliti.

(66)

informasi informan dan coding jika diperlukan). Langkah selanjutnya adalah memasukkan data (entering data) sampai seluruh data selesai dimasukkan.

Selanjutnya peneliti meminta EZ-TEXT versi 3.06 untuk membuat laporan menurut informan maupun pertanyaan, untuk mempermudah analisis data peneliti dan mencetak seluruh laporan yang dibutuhkan.

Analisis data dilakukan berdasarkan hasil cetakan laporan setiap informan sesuai dengan variabel yang ada dalam penelitian, lalu dianalisa dan dikaji dengan membandingkan hasil wawancara sebelumnya.

3.6.1. Menjelaskan Informan dari Populasi

Informan yang telah ditetapkan harus diambil dari populasi yang telah ditetapkan mengacu pada azas kesesuai dan kecukupan, kemudian mengurutkan dan mengkoding data, berdasarkan :

1. Deskripsi informan, adalah sebuah catatan yang teratur dan lengkap dari hasil diskusi dan di tambah dengan hasil observasi dan komentar peneliti. Pada bagian ini dilakukan analisis dengan mengatur dan mengurangi catatan sesuai dengan tujuan atau topik diskusi.

2. Menyajikan ringkasan data :

Figur

Gambar 1 : Kerangka Berfikir
Gambar 1 Kerangka Berfikir . View in document p.64
Tabel 2. Karakteristik Informan
Tabel 2 Karakteristik Informan . View in document p.68
Tabel 3. Emosi atau perasaan Informan
Tabel 3 Emosi atau perasaan Informan . View in document p.111
Tabel 4 (Lanjutan)
Tabel 4 Lanjutan . View in document p.114
Tabel 5. Upaya untuk Menghentikan Kehamilan
Tabel 5 Upaya untuk Menghentikan Kehamilan . View in document p.116
Tabel 6. Kebutuhan Informasi
Tabel 6 Kebutuhan Informasi . View in document p.126
Tabel 7. Dukungan akan Kebijakan dan Layanan.
Tabel 7 Dukungan akan Kebijakan dan Layanan . View in document p.133

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Penanganan Aborsi Tidak Aman (Unsafe Abortion) dari Perspektif Perempuan yang Mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD) PENDAHULUAN Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M 3. dr. Muhammad Rusda, Sp. OG Hak-Hak Kesehatan Reproduksi Kesehatan Reproduksi Perempuan 1. Pengertian Kesehatan Reproduksi Pengertian Kehamilan yang Tidak Diinginkan KTD Penyebab Kehamilan yang Tidak Diinginkan KTD Aborsi Aman Aborsi Aman dan Aborsi Tidak Aman Unsafe Abortion Aspek Layanan dan Kebijakan Jenis Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian Waktu Penelitian Pemilihan Informan Hambatan-Hambatan yang Dialami Selama Penelitian Menjelaskan Informan dari Populasi Gambaran Informan Indepth Interview Profil Informan Informan 1 Gambaran Focus Group Diskusion Profil Peserta Focus Group Diskusion Perasaan, Sikap dan Tindakan ketika mengalami KTD Pengetahuan dan Informasi yang Dimiliki Kebutuhan akan Dukungan Sosial Alasan untuk Menghentikan Kehamilan Upaya-upaya U nsafe Abortion yang Sudah Dilakukan Sebab Informan Mencari Bantuan yang Aman Pemahaman tentang Resiko dari Upaya Unsafe Abortion Pengetahuan tentang Hak-Hak Reproduksi Perempuan Pengetahuan dan Informasi yang Harus Dimiliki Pengetahuan dan Informasi Klinik atau Tenaga Medis Pandangan tentang Penilaian Masyarakat yang Buruk Terhadap Aborsi Kebutuhan Dukungan dari Masyarakat terhadap Perempuan yang Mengalami KTD SARAN Penanganan Aborsi Tidak Aman (Unsafe Abortion) dari Perspektif Perempuan yang Mengalami Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD) Pengantar Diskusi : Pertanyaan untuk Diskusi Kelompok :