• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Beberapa Serbuk Rimpang Terhadap Mortalitas Hama Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera; Bruchidae) Pada Kacang Hijau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Penggunaan Beberapa Serbuk Rimpang Terhadap Mortalitas Hama Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera; Bruchidae) Pada Kacang Hijau"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

PENGGUNAAN BEBERAPA SERBUK RIMPANG TERHADAP MORTALITAS

HAMA Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera: Bruchidae ) PADA KACANG HIJAU

SKRIPSI

Oleh :

ANNI HAYATI 070302003

HPT

DEPARTEMEN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

PENGGUNAAN BEBERAPA SERBUK RIMPANG TERHADAP MORTALITAS

HAMA Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera: Bruchidae ) PADA KACANG HIJAU

SKRIPSI

Oleh :

ANNI HAYATI 070302003

HPT

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui Oleh :

(Ir. Yuswani Pangesti Ningsih, MS) (Ir.Fatimah Zahara) Ketua Pembimbing Anggota Pembimbing

DEPARTEMEN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

ABSTRACT

Anni Hayati, "Use of Some Powdered Rhizome Mortality Against Pests Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera: Bruchidae) On the Green Bean ". It was

under supervised by Yuswani Pangestiningsih and Fatimah Zahara. C.chinensis L. are pests on green beans in storage which causes considerable yield loss, one of effective control is the use of botanical insecticides. Use of some powdered rhizome on mortality C.chinensis L. in a green bean plant pests carried in the laboratory of the Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan. Research using completely randomized design with 7 treatments namely C0

(control / untreated), C1 (ginger rhizome powder 5 gr/250 gr green beans), C2 (ginger rhizome powder 10 gr/250 gr green beans), C3 (powdered galangal rhizome 5 gr/250 gr green beans), C4 (galangal rhizome powder 10 gr/250 gr green beans), C5 (powdered Kaempferia galanga rhizome 5

gr/250 grams of green beans) and C6 (powdered Kaempferia galanga rhizome 10 gr/250 grams of green beans) with three replications.

Results showed that mortality in the treatment of pests C0 = 0%, C1 = 68.9%, C2 = 72.23%, C3 = 77.80%, C4 = 82.20%, C5 = 91.10% and C6 = 98.90%. This indicates that treatment significantly different C0 with other treatments, the C1 is not significantly different from C2, C3 are not

significantly different with C4 and C5 significantly different from C6. The highest mortality percentage in the treatment of C6 (powdered Kaempferia galanga rhizome 10gr/250gr green beans) is 98.90% and lowest in control treatment is 0%. The percentage of shrinkage weights C0 = 5.43%, C1 = 4.76%, C2 = 4.39%, C3 = 3.72%, C4 = 2.72%, 1.79%

and the C5 = 1.79 % and C6 = 1.24%. The percentage of shrinkage is the highest weight in the treatment of C0 (control) of 5.43% and the lowest at C6 of 1.24%.

(4)

ABSTRAK

Anni Hayati, ”Penggunaan Beberapa Serbuk Rimpang Terhadap Mortalitas Hama Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera; Bruchidae) Pada Kacang Hijau”. Dibimbing oleh Yuswani Pangestiningsih dan Fatimah Zahara. C.chinensis L. merupakan hama pada kacang hijau dalam penyimpanan yang menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar, salah satu pengendalian yang efektif adalah penggunaan insektisida nabati. Penggunaan beberapa serbuk rimpang terhadap mortalitas C.chinensis L. pada kacang hijau dilaksanakan di laboratorium hama tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan yaitu C0 (Kontrol/tanpa perlakuan), C1 (serbuk rimpang jahe 5 gr/250 gr kacang hijau), C2 (serbuk rimpang jahe 10 gr/250 gr kacang hijau), C3 (serbuk rimpang lengkuas 5 gr/250 gr kacang hijau), C4 (serbuk rimpang lengkuas 10 gr/250 gr

kacang hijau), C5 (serbuk rimpang kencur 5 gr/250 gr kacang hijau) dan C6 (serbuk rimpang kencur 10 gr/250 gr kacang hijau) dengan tiga ulangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas hama pada perlakuan C0 = 0 %, C1 = 68.9%, C2 = 72.23%, C3 = 77.80%, C4 = 82.20%, C5 =91.10%

dan C6 =98.90%. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan C0 berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, C1 tidak berbeda nyata dengan C2, C3 tidak berbeda nyata dengan C4 dan C5 berbeda nyata dengan C6. Persentase mortalitas tertinggi yaitu pada perlakuan C6 (Serbuk rimpang kencur (10gr/250gr kacang hijau) sebesar 98.90 % dan terendah pada perlakuan control yaitu 0%. Persentase susut

bobot C0 = 5.43%, C1 = 4.76%, C2 = 4.39%, C3 = 3.72%, C4 = 2.72%, C5 = 1.79% dan C6 = 1.24%.Persentase susut bobot tertinggi adalah pada

perlakuan C0 (control) sebesar 5.43% dan terendah pada C6 sebesar 1.24%.

(5)

RIWAYAT HIDUP

Anni Hayati lahir pada tanggal 15 Januari 1989 di Hutapungkut Tonga, sebaga anak ke dua dari tiga bersaudara, puteri dari Ayahanda Syaifullah Lubis

dan Ibunda Nurlena Batubara

Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis yaitu :

- Tahun 2001 lulus dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 146956 Hutapungkut

Tonga.

- Tahun 2004 lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4

Kotanopan.

- Tahun 2007 lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Kotanopan.

- Tahun 2007 lulus dan diterima di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan

Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur PMP.

Pengalaman Kegiatan Akademis

1. Tahun 2007 - 2011 menjadi anggota Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman

(IMAPTAN).

2. Tahun 2007 – 2011 menjadi anggota Komunikasi Muslim (Komus) HPT

3. Tahun 2011 melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada bulan Juni

sampai Juli di PT. Perkebunan Sumatera Utara Kebun Tanjung Kasau

Batubara.

4. Tahun 2010 - 2011 melaksanakan penelitian skripsi di Laboratorium Ilmu

Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa

karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaika skripsi ini.

Adapun judul skripsi ini adalah “Penggunaan Beberapa Serbuk Rimpang Terhadap Mortalitas Hama Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera: Bruchidae) pada Kacang Hijau” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas

Sumatera Utara, Medan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada komisi pembimbing Ir. Yuswani Pangestiningsih, MS selaku ketua dan Ir. Fatimah Zahara,

selaku anggota yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih yang tidak terhingga

penulis ucapkan kepada kedua Orang Tua dan keluarga..

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh

karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun

demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, Agustus 2011

(7)

DAFTAR ISI

Kerusakan Yang Disebabkan Sitophilus zeamais Motsch. ... 8

Insektisida Nabati ... 9 Penyediaan Tempat Serangga Uji ... 14

Penyediaan Serangga Uji ... 14

Penyediaan Serbuk Rimpang ... 14

Aplikasi Serbuk Rimpang ... 14

Peubah Amatan Persentase Mortalitas Imago ... 15

(8)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persentase Mortalitas (%) Imago C. chinensis L. ... 16 Susut Bobot Kacang Hijau ... 19

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 22 Saran ... 22

(9)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

1. Telur C. chinensis L. ... 6

2. Larva C. chinensis L... 7

3. Pupa C. chinensis L ... 7

4. Imago C. chinensis L ... 8

5. Gejala Serangan C. chinensis L ... 9

6. Rimpang Lengkuas... 10

8. Rimpang Jahe ... 11

9. Rimpang Kencur ... 11

10. Histogram pengaruh aplikasi serbuk rimpang lengkuas, jahe dan kencur terhadap mortalitas (%) imago C. chinensis L. pengamatan I-VII ... 19

(10)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman 1. Rataan pengaruh aplikasi serbuk rimpang lengkuas, jahe dan

kencur terhadap mortalitas (%) imago C. chinensis L.

pengamatan I-VII... 16

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

1. Bagan Penelitian ... 25

2. Deskripsi Kacang Hijau Perkutut ... 27

3. Insektisida Nabati ... 29

4. Serbuk rimpang yang digunakan sebagai insektisida nabati ... 30

5. Imago S. Zeamias yang Mati ... 31

6. Foto Penelitian ... 31

7. Persentase Mortalitas C. chinensis L pada Pengamatan 3 Hari Setelah Aplikasi (has) ... 32

8. Persentase Mortalitas C. chinensis L pada Pengamatan 6 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ... 34

9. Persentase Mortalitas C. chinensis L pada Pengamatan 9 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ... 36

10.Persentase Mortalitas C. chinensis L pada Pengamatan 12 Hari Setelah Aplikasi (has) ... 38

11.Persentase Mortalitas C. chinensis L pada Pengamatan 15 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ... 40

12.Persentase Mortalitas C. chinensis L pada Pengamatan 18 Hari Setelah Aplikasi (has) ... 42

13.Persentase Mortalitas C. chinensis L pada Pengamatan 21 Hari Setelah Aplikasi (has) ... 44

(12)

ABSTRACT

Anni Hayati, "Use of Some Powdered Rhizome Mortality Against Pests Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera: Bruchidae) On the Green Bean ". It was

under supervised by Yuswani Pangestiningsih and Fatimah Zahara. C.chinensis L. are pests on green beans in storage which causes considerable yield loss, one of effective control is the use of botanical insecticides. Use of some powdered rhizome on mortality C.chinensis L. in a green bean plant pests carried in the laboratory of the Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan. Research using completely randomized design with 7 treatments namely C0

(control / untreated), C1 (ginger rhizome powder 5 gr/250 gr green beans), C2 (ginger rhizome powder 10 gr/250 gr green beans), C3 (powdered galangal rhizome 5 gr/250 gr green beans), C4 (galangal rhizome powder 10 gr/250 gr green beans), C5 (powdered Kaempferia galanga rhizome 5

gr/250 grams of green beans) and C6 (powdered Kaempferia galanga rhizome 10 gr/250 grams of green beans) with three replications.

Results showed that mortality in the treatment of pests C0 = 0%, C1 = 68.9%, C2 = 72.23%, C3 = 77.80%, C4 = 82.20%, C5 = 91.10% and C6 = 98.90%. This indicates that treatment significantly different C0 with other treatments, the C1 is not significantly different from C2, C3 are not

significantly different with C4 and C5 significantly different from C6. The highest mortality percentage in the treatment of C6 (powdered Kaempferia galanga rhizome 10gr/250gr green beans) is 98.90% and lowest in control treatment is 0%. The percentage of shrinkage weights C0 = 5.43%, C1 = 4.76%, C2 = 4.39%, C3 = 3.72%, C4 = 2.72%, 1.79%

and the C5 = 1.79 % and C6 = 1.24%. The percentage of shrinkage is the highest weight in the treatment of C0 (control) of 5.43% and the lowest at C6 of 1.24%.

(13)

ABSTRAK

Anni Hayati, ”Penggunaan Beberapa Serbuk Rimpang Terhadap Mortalitas Hama Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera; Bruchidae) Pada Kacang Hijau”. Dibimbing oleh Yuswani Pangestiningsih dan Fatimah Zahara. C.chinensis L. merupakan hama pada kacang hijau dalam penyimpanan yang menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar, salah satu pengendalian yang efektif adalah penggunaan insektisida nabati. Penggunaan beberapa serbuk rimpang terhadap mortalitas C.chinensis L. pada kacang hijau dilaksanakan di laboratorium hama tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan yaitu C0 (Kontrol/tanpa perlakuan), C1 (serbuk rimpang jahe 5 gr/250 gr kacang hijau), C2 (serbuk rimpang jahe 10 gr/250 gr kacang hijau), C3 (serbuk rimpang lengkuas 5 gr/250 gr kacang hijau), C4 (serbuk rimpang lengkuas 10 gr/250 gr

kacang hijau), C5 (serbuk rimpang kencur 5 gr/250 gr kacang hijau) dan C6 (serbuk rimpang kencur 10 gr/250 gr kacang hijau) dengan tiga ulangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas hama pada perlakuan C0 = 0 %, C1 = 68.9%, C2 = 72.23%, C3 = 77.80%, C4 = 82.20%, C5 =91.10%

dan C6 =98.90%. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan C0 berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, C1 tidak berbeda nyata dengan C2, C3 tidak berbeda nyata dengan C4 dan C5 berbeda nyata dengan C6. Persentase mortalitas tertinggi yaitu pada perlakuan C6 (Serbuk rimpang kencur (10gr/250gr kacang hijau) sebesar 98.90 % dan terendah pada perlakuan control yaitu 0%. Persentase susut

bobot C0 = 5.43%, C1 = 4.76%, C2 = 4.39%, C3 = 3.72%, C4 = 2.72%, C5 = 1.79% dan C6 = 1.24%.Persentase susut bobot tertinggi adalah pada

perlakuan C0 (control) sebesar 5.43% dan terendah pada C6 sebesar 1.24%.

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kacang hijau (Phaseolus radiata L.) merupakan salah satu tanaman

kacangan yang penting dalam peningkatan gizi masyarakat. Di Indonesia kacang

hijau menempati urutan ketiga setelah kedelai dan kacang tanah, baik mengenai

luas areal penanaman dan produksinya maupun peranannya sebagai bahan

makanan. Kacang hijau mengandung nilai gizi yang cukup tinggi. Dalam 100 g

biji kering mengandung 22,2 g protein, 6,29 g karbohidrat, 0,64 g vitamin B1, dan

6 IU vitamin C. Produksi kacang hijau di Indonesia belum dapat memenuhi

kebutuhan dalam negeri, selain dikonsumsi sebagai makanan tambahan, sayuran,

juga sebagai bahan baku industri makanan ringan, disamping itu juga bisa sebagai

bahan pakan ternak. Hasil rata-rata kacang hijau di Indonesia 0,71 ton per hektar,

sedangkan potensi hasil kacang hijau unggul rata-rata 1,20-1,75 ton per hektar

(BPTP – Sumbar, 2009).

Penyimpanan kacang hijau di gudang sangat menentukan kualitas dan

kuantitas produk yang disimpan sehingga perlu mendapat perhatian yang serius.

Salah satu penyebab merosotnya benih kacang hijau di gudang penyimpanan

adalah infestasi hama gudang (Pusat Data dan Informasi Pertanian, 2004).

Hama gudang yang sering menyerang biji kacang hijau adalah

Callosobruchus chinensis L. Kerugian yang ditimbulkannya mencapai 96%.

(15)

biji dan memakannya hingga tinggal bubuknya saja. Tersebar diseluruh dunia

terutama daerah tropis dan subtropis (Kartasapoetra,1991).

Banyak insektisida sintetik telah ditemukan efektif terhadap hama

simpanan tapi terbukti berbahaya bagi manusia dan hewan. Ketergantungan pada

penggunaan pestisida sintetis yang tidak bijaksana terutama insektisida sejak

empat dekade terakhir menyebabkan spektrum yang luas dari masalah hama

seperti resistensi hama dengan bahan kimia, kebangkitan hama,

residu dalam makanan dan tanah dan risiko terhadap manusia dan hewan

kesehatan, selain pencemaran lingkungan (Govindan and Jeyarajan, 2009).

Menurut Schmutterer (1990), untuk mengurangi dampak negatif yang

ditimbulkan oleh insektisida sintesis, maka perlu suatu usaha guna mendapatkan

insektisida alternatif yang lebih efektif dalam daya rusaknya, cepat dan mudah

terdegradasi dan mempunyai dampak yang kecil terhadap lingkungan. Salah satu

insektisida alternatif yang berpotensi dalam mengendalikan populasi serangga

adalah insektisida botani yang berasal dari senyawa kimia yang terkandung dalam

tumbuhan (Siregar, 2006).

Penelitian tentang pestisida botani terus dikembangkan, baik pada akar,

daun maupun bunganya. Kurniawan (1999) mengemukakan bahwa ekstrak

rimpang kencur pada konsentrasi 1% telah efektif untuk menghambat

pertumbuhan serangga Tribolium castaneum dan mempunyai dampak yang kecil

terhadap lingkungan (Yousmillah, 2003).

Perkiraan komposisi kimia jahe basah air sebanyak 80,8% , protein 2,3%,

(16)

keringnya mengandung 10% air, 1-3% minyak, yaitu sesquiterpentene, zingibere,

dan menyebabkan rasa pedas adalah zingeron (C11H14O3) (Ashari, 1995).

Bahan-bahan tanaman yang telah dilaporkan berkhasiat

terhadap hama serangga termasuk bubuk dari benih nimba (Azadirachta indica A.

Juss) (Ivbijaro, 1983) dan ekstrak daun nimba (Epidi et al 2005.), serbuk daun

Pohon naga (Dracaena arborea) dan grandifolia Vitex (Epidi et al 2008.), Dan

ekstrak metanol daun Vitex negundo, V. trifolia, V. peduncularis dan altissima V.

(Kannathasan et. Al, 2007.). Lainnya adalah minyak nabati dari kacang tanah, inti

sawit, kelapa (Hall dan Harman, 1991; Lale, 1995), rimpang jahe (Vijayalakshmi

et al., 1997), ekstrak daun Teprosia vogelii (Mallaya, 1985), minyak dari bawang

putih segar (Ho et al, 1997.), Daun dan biji basilium Ocimum (Grainge dan

Ahmed, 1988) dan daun arborea Dracaena (Boeke et al, 2004.).

(Epidi and Esther, 2008).

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas serbuk rimpang

lengkuas, jahe dan kencur terhadap hama kacang hijau

(Callosobruchus chinensis L.)

Hipotesa Penelitian

Pemberian serbuk rimpang jahe 10 gr lebih efektif untuk mengendalikan

hama Callosobruchus chinensis L. dibandingkan dengan serbuk rimpang jahe 5

(17)

Kegunaan Penelitian

1. Sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan penelitian di Departemen Hama

dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara,

Medan.

(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi Hidup Callosobruchus chinensis L.

Menurut Kalshoven (1987), Callosobruchus chinensis L. diklasifikasikan

sebagai berkut :

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Insekta

Ordo : Coleoptera

Family : Bruchidae

Genus : Callosobruchus

Species : Callosobruchus chinensis L.

Kumbang ini menyerang kacang-kacangan dapat ditemukan pada berbagai

tempat. Kacang-kacangan tersebut sudah terserang sejak masih di lapangan pada

saat telah siap panen (Kalshoven, 1987).

Pada umumnya kumbang – kumbang yang merupakan anggota Bruchidae

bertubuh oval, terdapat bagian yang lebar di sebelah posteriornya. Antenanya

clubbed, kadang – kadang ada pectinatus. Umumnya berwarna hitam atau coklat,

kerap kali ada bintik – bintiknya. Elytranya pendek tidak sampai ujung abdomen.

Ukuran tubuhnya antara 1 mm sampai 10 mm. Sebagian besar anggotanya

merupakan hama produk kacang – kacangan yang ada dalam simpanan

(19)

Telur

Telur diletakkan pada permukaan biji, biasanya pada satu biji hanya

diletakkan satu telur. Telur berwarna keputih-putihan. Jumlah telur yang

diletakkan seekor kumbang betina berkisar antara 50-150 butir (Sudarmo, 1991).

Telur berbentuk jorong dengan panjang rata-rata 0,57 mm, berbentuk

cembung pada bagian dorsal serta rata pada bagian yang melekat dengan biji.

Telur menetas antara 4-8 hari. Telur dapat dilihat pada Gambar 1

(Sudarmo, 1991).

Telur

Gambar 1. Telur C. chinensis

Diakses dar

Larva

Larva yang baru menetas akan terus menggerek dengan cara memakan

kulit telur yang menempel pada biji dan kulit biji dan masuk ke dalam kotiledon.

Larva hidup dengan cara memakan dan menggerek kulit biji

(Bato dan Sanches, 1998).

Larva berkembang sepenuhnya di dalam satu butir biji, membentuk satu

lubang keluar persis di bawah kulit biji, berupa semacam jendela bulat yang

terlihat dari luar, tetap tinggal di dalam biji sampai menjadi imago. Stadia larva

berlangsung selama 10-13 hari. Larva dapat dilihat pada Gambar 2

(20)

Larva

s

Gambar 2. Larva C. chinensis

Diakses dar

Pupa

Larva instar keempat telah memakan isi biji dekat di bawah kulit biji,

maka akhirnya larva menjadi pupa dan tetap berada pada tempat tersebut sampai

menjadi dewasa (Mangoendihardjo, 1997).

Pupa berwarna putih kekuningan. Stadia pupa berkisar antara 4-6 hari.

Pupa dapat dilihat pada Gambar 3 (Mangoendihardjo, 1997)

Pupa

Gambar 3. Pupa C. Chinensis

Diakses dar

Imago

C. chinensis yang baru dewasa, beberapa hari tetap berada dalam biji

kacang hijau, 2-3 hari keluar dari biji dengan cara mendorong kulit biji yang

digores dengan mandibelnya sehingga terlepas dan terbentuklah lubang

(21)

Imago berukuran 5 mm panjangnya dan berbentuk bulat telur, cembung

pada bagian dorsal. Panjang tubuh kumbang jantan antara 2,40 -3 mm, sedangkan

betina 2,76-3,48 mm. Antena kumbang jantan bertipe sisir (pectinate) dan betina

bertipe gergaji (serrate). Stadia imago antara 25-34 hari. Imago dapat dilihat pada

Gambar 4 (Greaves et al, 1998).

Gambar 4. Imago C. Chinensis

Diakses dar

Kerusakan Yang Disebabkan C. chinensis

C. Chinensis merupakan salah satu hama yang menyerang kacang hijau

sejak dari lapangan sampai ketempat penyimpanan. Gejala serangan pertama pada

kacang hijau tampak bintik-bintik putih, setelah itu kacang hijau menjadi

berlubang-lubang akibat gerekan larva dan imago dan dari lubang itu keluar

tepung (Slamet, 1997).

Kerugian yang ditimbulkan hama ini mencapai 96%. Hama ini memakan

kacang-kacangan khususnya kacang hijau mulai dari merusak biji, memakannya

hingga tinggal bubuknya saja, akibatnya kacang hijau tidak dapat lagi digunakan

untuk benih maupun untuk dikonsumsi. Gejala kerusakan hama dapat dilihat pada

(22)

Gambar 5. Gejala Serangan C. Chinensis L. Sumber: Foto Langsung

Insektisida Tumbuhan

Insektisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal

dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme

pengganggu tumbuhan (OPT). Insektisida nabati dapat berfungsi sebagai penolak,

penarik, antifertilitas (pemandul) (Dinas Pertanian Dan Kehutanan, 2007).

Bagian dari tumbuhan yang digunakan misalnya daun, biji, buah, akar dan

lainnya. Bahan-bahan tersebut diolah menjadi berbagai macam bentuk,

antara lain cairan berupa ekstrak dan minyak, serta bentuk padat berupa serbuk

(Samsudin, 2008).

Lengkuas (Alpinia galanga L.)

Lengkuas selain mengandung minyak atsiri juga mengandung golongan

senyawa flvonoid, fenol, dan terpenoi. Berdasarkan penelitian yang

sudahdilakukan minyak atsiri pada rimpanglengkuas mengandung senyawa

eugenol,sineol, dan metil sinamat (Buchbaufr,2003). Penelitian yang lebih intensif

menemukan bahwa rimpang lengkuas mengandung zat-zat yang dapat

(23)

Lengkuas mengandung asetoksi kavikolasetat dan asetoksi eugenol asetat yang

bersifat antiradang dan antitumor (Oka dan Dewi, 2008).

Gambar 6. Rimpang lengkuas (Alpinia galanga L.) Sumber : Foto Langsung

Jahe (Zingiber officinale Roxb.)

Jahe kering mengandung 1-3% minyak atsiri dan senyawa ini menyebabkan

jahe berbau khas. Komponen utama dalam minyak jahe adalah zi-ngiberon dan

zingiberol, yang menyebabkan bau harum. Sedangkan senyawa penyusunnya

adalah n-desilaldehide yang bersifat optis dan inaktif, n-nonil aldehide

d-camphene, d-α-phellandrene, metal heptenon, sineol, borneol dan geraniol, lineol,

asetat dan kaprilat, sitral, chaviol, limo-nene, fenol zingiberen adalah senyawa

yang paling utama dalam minyak. Selama penyimpa-nan, persenya-waan akan

mengalami resinifikasi.

Jahe mengandung “fixed oil” sebanyak 3-4%, yang terdiri dari gingerol,

shogaol dan resin. Senyawa-senyawa tersebut menyebabkan rasa pedas pada jahe.

Selain itu jahe juga mengan-dung oleoresin yang menyebabkan rasa pedas.

Oleoresin dapat diperoleh dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut yang

menguap, misalnya aseton, alkohol atau eter. Jumlah komponen dalam oleoresin

(24)

per-dagangan dikenal dengan nama “gingerin” yang mengandung komponen kimia

Zingerol, zingerone dan Shogaol (Budi, 2009).

Gambar 7 .Rimpang Jahe (Zingiber officinale Roxb.) Sumber : Foto Langsung

Kencur (Kaempferia galanga L.)

Berdasarkan analisis laboratorium, minyak atsiri dalam rimpang kencur

mengandung lebih dari 23 jenis senyawa. Tujuh di antaranya mengandung

senyawa aromatik, monoterpena, dan seskuiterpena. Kandungan kimia yang

terdapat di dalam rimpang kencur adalah: pati (4,14%), mineral (13,73%),

minyak astiri (0,02%), berupa sineol, asam metal kanil, penta dekaan, asam

cinnamic, ethyl aster, asam sinamic, borneol, kamphene, paraeumarin, asam

anisic, alkaloid, dan gom (Fauzi, 2008).

(25)

BAHAN DAN METODA

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan,

Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas

Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. Penelitian ini

dilaksanakan mulai bulan Maret – Mei 2011.

2. Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan adalah biji kacang hijau, serbuk rimpang

jahe, lengkuas, kencur, air, dan hama gudang kumbang kacang hijau

(C. chinensis L.).

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah stoples, kain kasa,

ayakan, karet gelang, blender, dan timbangan digital.

3. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non

Faktorial yaitu :

Konsentrasi serbuk rimpang

C0 : Kontrol

C1 : Serbuk rimpang jahe 5 gr/ 250 gr kacang hijau

C2 : Serbuk rimpang jahe 10 gr/250 gr kacang hijau

C3 : Serbuk rimpang lengkuas 5 gr/250 gr kacang hijau

(26)

C5 : Serbuk rimpang kencur 5 gr/250 gr kacang hijau

C6 : Serbuk rimpang kencur 10 gr/250 gr kacang hijau

Masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan, dengan rumus :

(t-1) r ≥ 15

(7-1) r ≥ 15

6r ≥ 15

r = 2.5

r = 3

Model linear yang digunakan adalah :

Yij = μ + τi + ξij

Keterangan :

Yij = nilai pengamatan pada taraf ke-i dan ulangan ke-j

μ = nilai tengah umum

τi

= pengaruh perlakuan ke-i

ξij = pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

Bila dalam pengujian sidik ragam diperoleh pengaruh perlakuan berbeda nyata

atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji perbandingan nilai tengah Duncan

(27)

4. Pelaksanaan Penelitian

4. a. Penyediaan Tempat Serangga Uji

Untuk tempat C. chinensis L. yang akan diaplikasikan adalah berupa

stoples dengan ukuran tinggi 13 cm dengan diameter 14 cm. Mulut stoples ditutup

dengan kain kasa dan diikat dengan karet gelang. Stoples yang diperlukan dalam

percobaan ini adalah sebanyak 21 buah dan kain muslin yang diperlukan dalam

percobaan ini adalah sebanyak 21 buah.

4. b. Penyediaan Serangga Uji

Kumbang C. chinensis L. diambil dari tempat penjualan kacang hijau di

pasar. Kumbang direaring terlebih dahulu untuk menghomogenkan umur imago

yang akan diaplikasikan. Kumbang yang dimasukkan sebanyak 30 ekor pada

setiap stoples.

4. c. Penyediaan Serbuk Rimpang

Rimpang jahe, lengkuas dan kencur dibersihkan, dipotong – potong,

kemudian dikeringkan selama tiga hari untuk mengurangi kadar airnya. Setelah

rimpang kering kemudian dihaluskan hingga menjadi serbuk, kemudian diayak

lalu ditimbang masing – masing serbuk sebanyak 5 dan 10 gr.

4. d. Aplikasi Serbuk Rimpang

Kacang hijau varietas perkutut dimasukkan ke dalam stoples, kemudian

dicampur dengan serbuk jahe, lengkuas, dan kencur. Kemudian dimasukkan

C. chinensis L. sebanyak 30 ekor dari hasil rearing yang umurnya telah homogen.

(28)

5. Peubah Amatan

1. Persentase Mortalitas Imago

Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah imago

C. chinensis L. yang mati. Pengamatan dilakukan sebanyak 1 kali dalam tiga hari

selama 7 kali pengamatan. Persentase mortalitas imago dihitung dengan

menggunakan rumus :

Dimana :

P = Persentase kematian imago

a = Jumlah imago yang mati

b = Jumlah imago yang hidup

2. Pengamatan Susut Bobot Biji

Susut bobot bahan dihitung pada akhir penelitian. Besarnya kerusakan

yang ditimbulkan oleh imago diperoleh dengan cara menghitung susut bobot

bahan dengan rumus :

Keterangan : a = berat awal

b = berat akhir

Pengamatan dilakukan selama 1 bulan, yaitu menghabiskan satu siklus

(29)

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Persentase mortalitas (%) imago C. chinensis L.

Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian serbuk rimpang

jahe, lengkuas dan kencur berpengaruh nyata terhadap mortalitas imago C.

Chinensis L.(Tabel 1 : lampiran 7-13).

Tabel 1. Pengaruh serbuk rimpang lengkuas, jahe dan kencur terhadap mortalitas (%) C. chinensis L. pada pengamatan 3 – 21 hsa

Perlakuan % Fase Mortalitas

3hsa 6hsa 9hsa 12hsa 15hsa 18hsa 21hsa

C0 0.00c 0.00d 0.00d 0.00e 0.00e 0.00e 0.00e

C1 0.00c 4.43c 16.68c 23.33d 34.43d 50.00d 68.90d

C2 1.11c 5.57c 18.90c 24.47c 36.67d 52.23d 72.23d

C3 2.22b 8.90b 20.00b 26.67c 41.13c 60.00c 77.80c

C4 4.45b 11.13b 22.23b 27.80c 44.90c 63.33c 82.20c

C5 6.70a 13.33b 24.43b 35.53b 54.47b 70.03b 91.10b

C6 7.80a 18.90a 35.53a 47.77a 62.30a 83.30a 98.90a Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama

tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5 %.

Table 1 menunjukkan bahwa pada pengamatan 3 - 21 hari setelah aplikasi

perlakuan C0 (kontrol) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, perlakuan C1

(serbuk rimpang jahe 5 gr/250 gr kacang hijau) tidak berbeda nyata dengan C2

(serbuk rimpang jahe 10 gr/250 gr kacang hijau), perlakuan C3 (serbuk rimpang

lengkuas 5 gr/ 250 gr kacang hijau) tidak berbeda nyata dengan perlakuan C4

(serbuk rimpang lengkuas 10 gr/250 gr kacang hijau) dan perlakuan C5 (serbuk

rimpang kencur 5 gr/250 gr kacang hijau) berbeda nyata dengan perlakuan C6

(serbuk rimpang kencur 10 gr/250 gr kacang hijau).

Dari Tabel 1 dapat kita lihat bahwa perlakuan dengan serbuk rimpang

(30)

dimana pada perlakuan C6 (Kencur 10gr/250gr kacang hijau) merupakan

mortalitas imago tertinggi bila dibandingakn dengan perlakuan lain yaitu

mencapai 98.90 %. Hal ini disebabkan oleh kandungan minyat atsiri pada rimpang

kencur yang cukup tinggi dan bersifat insektisidal terhadap serangga hama

sehingga menyebabkan kematian pada hama,.

Rimpang kencur mempunyai aroma yang lembut dan khas. Minyak atsiri

yang cukup tinggi pada rimpangnya mengandung sineol (0,0021 %) ; asam metal

kanil ; pentadekan ; asam sinamik etil ester (25 %) ; asam sinamik ; bromeol ;

kamphene ; paraneumarin ; asam anisik ; alkaloid ; gum dan mineral (13,73 %) ;

serta pati (4,14 %). Dari laporan ilimiah lain berhasil mendeteksi 11 senyawa

kimia dari rimpang kencur yaitu terdiri : carena (0,63 %) ; sineol (0,88 %) ;

bromeol (1,04 %) ; terpineol (0,10 %) ; m-anisaldehid (0,74 %) ; a-metio (2,61 %)

; etil sinamat (13,24 %) ; pentadekane (21,61 %) ; kandinene (0,22 %) ; ethyl cis

p-metoksinamat (3,61%) dan etil trans p-metoksil sinamat (49,52 %).

Kencur dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati, metode dan

aplikasinya: bagian rimpang ditumbuk, atau dibuat tepung dan diaplikasikan

dengan konsentrasi 3-5 % (Direktorat Jenderal Perkebunan, 1994).

Menurut Kusnaedi (1999), penggunaan fungisida nabati dengan

empon-empon yang mengandung minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan

cendawan dan bakteri. Kencur memiliki kandungan minyak atsiri, terdiri dari

borneol, kaemferin dan sineol, p-metoksi sinamat. dan senyawa metabolit skunder

lainnya.

Dari table 1. Dapat kita lihat bahwa perlakuan dengan serbuk rimpang

(31)

yaitu 82,20%, hal ini disebabkan oleh kandungan terpenoid yang terdapat pada

rimpang lengkuas yang bersifat toksik terhadap system pernapasan serangga.

Sesuai dengan literature Smith (1989) dalam Siregar 2005 yang menyatakan

bahwa senyawa alkaloid dan terpenoid merupakan senyawa kimia pertahanan

tumbuhan yang bersifat toksik. Aksi toksik senyawa alkaloid terjadi pada system

saraf, sedangkan toksik senyawa terpenoid terjadi pada system pernafasan

serangga.

Perlakuan dengan serbuk jahe menyebabkan mortalitas hama

C. chinensis L. lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan serbuk rimpang

lengkuas dan kencur. Jahe memiliki aroma yang khas yang disebabkan oleh

senyawa keton yang bernaman zingeron yang berasa pedas dan dapat membunuh

serangga dari aromanya. Sesuai dengan literature Anonimus (2011) yang

menyatakan bahwa rasa dominan pedas dari rimpang disebabkan

senyawa keton bernama Zingeron. Tak hanya rasa pedas,

kandungan dari senyawa keton yang bernama Zingeron tersebut

juga memiliki kemampuan lain. Zingeron pada rimpang jahe

dapat membunuh hama serangga dari rasanya. Zingeron membuat tubuh serangga

menjadi lebih panas. Hal itu disebabkan rasa pedas bagi serangga dari Zingeron.

Oleh karena tubuh serangga menjadi panas, dan berakhir dengan kematian.

Penambahan dosis pada setiap perlakuan akan mempengaruhi tingkat

mortalitas hama C.chinensis L. Semakin tinggi dosis yang digunakan pada setiap

perlakuan akan menyebabkan tingkat mortalitas juga tinggi. Sesuai dengan

pernyataan Massanger (1981) dalam Zahara 2002 mengatakan bahwa mortalitas

(32)

Kematian imago yang disebabkan aplikasi dari serbuk rimpang lengkuas,

jahe dan kencur secara visual terlihat yaitu hama tidak bergerak, mengalami

kelumpuhan, tidak mau makan, tubuhnya menjadi berwarna coklat gelap, dan

akhirnya mati.

Beda rataan mortalitas imago C. chinensis pada aplikasi serbuk rimpang lengkuas, jahe dan kencur pengamatan I-VII.dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Histogram pengaruh aplikasi serbuk rimpang lengkuas, jahe dan kencur terhadap mortalitas (%) imago C. chinensis pengamatan I-VII.

2. Pengamatan Susut Bobot Kacang Hijau

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengaplikasian serbuk

rimpang lengkuas, jahe dan kencur memberi pengaruh nyata terhadap susut bobot

kacang hijau (Lampiran 14).

3hsa 6hsa 9hsa 12hsa 15hsa 18hsa 21hsa

(33)

Tabel 2. Rataan pengaruh serbuk rimpang lengkuas, jahe dan kencur terhadap

Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan C0 (kontrol) berbeda nyata dengan

perlakuan lainnya, perlakuan C1 (serbuk rimpang jahe 5 gr/ 250 gr kacang hijau)

tidak berbeda nyata dengan perlakuan C2 (serbuk rimpang jahe 10 gr/ 250 gr

kacang hijau), perlakuan C3 (serbuk rimpang lengkuas 5 gr/ 250 gr kacang hijau)

berbeda nyata dengan perlakuan C4 (serbuk rimpang lengkuas 10 gr/ 250 gr

kacang hijau), perlakuan C5 (serbuk rimpang kencur 5 gr/ 250 gr kacang hijau)

berbeda nyata dengan perlakuan C6 (serbuk rimpang kencur 10 gr/ 250 gr

kacang hijau).

Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil pengamatan persentase susut bobot

kacang hijau tertinggi terdapat pada perlakuan C0 (Kontrol) sebesar 5,43 %.

Sedangkan yang terendah pada perlakuanC6 (Kencur 10 gr/ 250gr Kacang Hijau),

sebesar 1,24 % dan persentase susut bobot berbanding terbalik dengan persentase

mortalitas imago C. chinensis. Hal ini disebabkan karena kacang hijau yang

digunakan pada perlakuan kontrol tidak diberikan serbuk biji tanaman sehingga

susut bobot kacang hijau tinggi karena hama memakan kacang hijau tanpa ada

perlakuan yang mampu mengendaliakan hama. Tingginya susut bobot pada

perlakuan kontrol dikarenakan oleh padatnya populasi hama yang menyebabkan

(34)

Gambar 10. Histogram penurunan susut bobot kacang hijau terhadap aplikasi serbuk rimpang lengkuas, jahe dan kencur pada pengamatan I-VII.

.

0 1 2 3 4 5 6

C0 C1 C2 C3 C4 C5 C6

Rataan

(35)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pemberian serbuk rimpang jahe, lengkuas dan kencur dengan dosis

yang berbeda memberi pengaruh yang nyata terhadap mortalitas imago

C. Chinensis L.

2. Mortalitas imago C. Chinensis L. tertinggi pada perlakuan C6 (serbuk

rimpang kencur 10gr/250 gr kacang hijau) sebesar 98.90 %, dan

terendah C1 (serbuk rimpang jahe 5gr./250gr kacang hijau) sebesar

69,90 %.

3. Penambahan dosis dari masing-masing serbuk biji meningkatkan

mortalitas imago C. Chinensis L.

4. Pengaplikasian insektisida nabati mengurangi susut bobot biji jagung

dalam penyimpanan sebesar 1.24% pada perlakuan C6 (serbuk

rimpang kencur 10gr/250 gr kacang hijau), dan tertinggi sebesar

5.43 % pada perlakuan kontrol.

5. Aplikasi serbuk rimpang lengkuas, jahe dan kencur tidak berpengaruh

terhadap kualitas kacang hijau untuk dikonsumsi.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lanjutan di lapangan untuk memastikan

efektivitas serbuk rimpang lengkuas, jahe dan kencur terhadap mortalitas hama

(36)

DAFTAR PUSTAKA

Ashari, S., 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia. Jakarta. Bangun, M.K. 1994. Perancangan Percobaan Untuk Pertanian. Fakultas

Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bato, S. M., and F. F. Sanches, 1998. The Biology and Chemical Control of Callosobruchus Chinensis L., Phillipina.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat, 2009. Pengaruh Pemberian Pupuk TSP Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Kacang Hijau (PhaseolusRadiataL.)

.http://sumbar.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/hasil-litkaji-mainmenu- 46/40-tanaman-pangan/133-pengaruh-pemberian-pupuk-tsp-terhadap-pertumbuhan-dan-hasil-kacang-hijau-phaseolus-radiata-l. Diakses Tanggal 23 November 2010

Budi, F. S., 2009. Pengambilan Oleoresin dari Ampas Jahe (Hasil Samping Penyulingan Minyak Jahe) dengan Proses Ekstraksi.

UniversiDiponegoro. Semarang. Tanggal 25 Oktober 2010.

Dinas Pertanian Dan Kehutanan, 2007. Pestisida Nabati. Diakses dari 30 Oktober 2010.

Epidi, T. T and E. O. Odili. 2008. Biocidal Activity of Selected Plant Powders Againts Tribolium castaneum Herbst. In Stored Groundnut (Arachis hypogaea L.). Academic journals. Nigeria.

Govindan, K and S.J. Nelson. 2009. Insecticidal Activity of Twenty Plant Powders on Mortality Adult Emergence of Sitophilus oryzae L and Grain Weight Loss in Paddy. Journal of Biopesticides. India.

Greaves, J. H. P. Dobie and J. Bridge, 1998. Strocage in Pest Control in Tropical Grain Legumes. College House, Wrights Lane, London.

Kalshoven, L. G. E., 1987. Pest of Crops In Indonesia. PT. Ichtiar Baru. Van Hoeve, Jakarta.

Kartasapoetra, 1991. Hama-Hama Tanaman Dalam Gudang. Bumi Aksara

(37)

Kartasapoetra, A.G., 1991. Hama Hasil Tanaman Gudang. Rineka Cipta. Jakarta.

Oka, I. M., dan Dewi, P. F.S., 2008. Isolasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri dari Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga L.)Universitas Udayana. Bukit Jimbaran.

Samsudin, H., 2008. Pengendalian Hama Dengan Insektisida Botani. Diakses dar

Siregar, N. E. S., 2005. Kandungan Senyawa Kimia Ekstrak Daun Lengkuas (Lactuca indica L.) Toksisitas dan Pengaruh Subletalnya Terhadap

Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti L. USU. Medan.

Diakses Tanggal 22 Oktober 2010.

Slamet, M.S., 1997. Beberapa Aspek Biologi C. chinensis L. (Coleoptera: Bruchidae) Pada Lima Varietas kacang Hijau dan Pengaruh Yang Ditimbulkan Kumbang Tersebut Pada Mutu Benih, Bogor.

Sudarmo, M., 1991. Pengendalian Serangga Hama Sayuran dan Palawija. Kanisius, Yogyakarta

Yousmillah, Y., 2003. Identifikasi Golongan Senyawa Aktif dari Rimpang Kencur Sebagai Larvasida dan Insektisida

Terhadap Nyamuk Aedes aegypti. IPB. Bogor

http://iirc.pb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/19375/1/G03yo_abstract.pdf Diakses tanggal 22 November 2010

(38)

Lampiran 1

BAGAN PENELITIAN

Konsentrasi serbuk rimpang

C0U1 : Kontrol/ tanpa serbuk rimpang ulangan satu

C0U2 : Kontrol/ tanpa serbuk rimpang ulangan dua

C0U3 : Kontrol/ tanpa serbuk rimpang ulangan tiga

(39)

C2U2 : Serbuk rimpang jahe 10 gr/250 gr kacang hijau ulangan dua

C2U3 : Serbuk rimpang jahe 10 gr/250 gr kacang hijau ulangan tiga

C3U1 : Serbuk rimpang lengkuas 5 gr/250 gr kacang hijau ulangan satu

C3U2 Serbuk rimpang lengkuas 5 gr/250 gr kacang hijau ulangan dua

C3U3 : Serbuk rimpang lengkuas 5 gr/250 gr kacang hijau ulangan tiga

C4U1 : Serbuk rimpang lengkuas 10 gr/250 gr kacang hijau ulangan satu

C4U2 : Serbuk rimpang lengkuas 10 gr/250 gr kacang hijau ulangan dua

C4U3 : Serbuk rimpang lengkuas 10 gr/250 gr kacang hijau ulangan tiga

C5U1 : Serbuk rimpang kencur 5 gr/250 gr kacang hijau ulangan satu

C5U2 : Serbuk rimpang kencur 5 gr/250 gr kacang hijau ulangan dua

C5U3 : Serbuk rimpang kencur 5 gr/250 gr kacang hijau ulangan tiga

C6U1 : Serbuk rimpang kencur 10 gr/250 gr kacang hijau ulangan satu

C6U2 : Serbuk rimpang kencur 10 gr/250 gr kacang hijau ulangan dua

(40)

Lampiran 2.

VARIETAS KACANG HIJAU PERKUTUT

Nama Varietas : Perkutut

Kategori : Varietas unggul nasional (released variety)

SK : 125/Kpts/TP.240/2/2001 tanggal 8 Pebuari tahun 2001

Tahun : 2001

Tetua : Introduksi dari AVRDC, Taiwan, Tahun 1984, diseleksi di

Balitkabi Rataan Hasil : 0.7-2.2 ton/ha Potensi Hasil : 1.5 ton/ha

Pemulia : M.Anwari, Rudy Soehendi, Hadi Purnomo, Agus Supeno,

Rudi Iswanto, Peneliti Fitopatologi : Sumartini

Nomor induk : MLG 1025

Warna tangkai daun : Hijau polos Warna kelopak

bunga

: Hijau

Rambut daun : Berambut agak lebat

Warna mahkota bunga

: Kuning

Periode berbunga : Serempak Jumlah polong per

Bentuk polong : Bulat, ujung runcing Warna polong muda : Hijau

warna polong tua : Hitam Posisi polong : Terkulai

(41)

Ketahanan terhadap penyakit

: Agak tahan penyakit bercak daun dan tahan penyakit embun tepung

(42)

Lampiran 3.

INSEKTISIDA NABATI

Gambar. Rimpang Kencur Sumber: Foto Langsung

Gambar. Rimpang Jahe Sumber: Foto Langsung

(43)

Lampiran 4.

SERBUK RIMPANG

Gambar . Serbuk Rimpang Jahe Sumber : Foto Langsung

(44)

Lampiran 5.

IMAGO C. chinensis L. YANG MATI

Gambar. Callosobruchus chinensis L. yang mati Sumber: Foto Langsung

Lampiran 6.

FOTO PENELITIAN

(45)

Lampiran 7.

PENGAMATAN SETELAH 3 HARI APLIKASI

Pengamatan I

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(46)

Uji Jarak Duncan

Sy= 0.98

-3.0 -2.0 (2.77) 1.20 3.41 4.49

P 2 3 4 5 6 7

SSR 0,05 3.03 3.18 3.27 3.33 3.37 3.39 LSR 0,05 2.96 3.11 4.99 3.25 3.29 3.31

Perlakuan C0 C2 C3 C4 C5 C6

C1

Rataan 0.00 1.11 2.22 4.45 6.70 7.80

a b

(47)

Lampiran 8.

PENGAMATAN SETELAH 6 HARI APLIKASI

Pengamatan II

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(48)

Uji Jarak Duncan

Sy= 1.53

-4.6 -0.4 0.58 3.82 5.99 8.16 13.69

P 2 3 4 5 6 7 8

SSR 0,05 3.03 3.18 3.27 3.33 3.37 3.39 3.41 LSR 0,05 4.63 4.85 4.99 5.08 5.14 5.17 5.21

Perlakuan C0 C1 C2 C3 C4 C5 C6

Rataan 0.00 4.43 5.57 8.90 11.13 13.33 18.90

a•

b

c

(49)

Lampiran 9.

PENGAMATAN SETELAH 9 HARI APLIKASI

Pengamatan III

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(50)

Uji Jarak Duncan

Sy= 1.34

-4.1 12.4

13.91 15.53 17.71 19.88 30.95

P 2 3 4 5 6 7 8

SSR 0,05 3.03 3.18 3.27 3.33 3.37 3.39 3.41 LSR 0,05 4.07 4.27 4.99 4.47 4.52 4.55 4.58

Perlakuan C0 C1 C2 C3 C4 C5 C6

Rataan 0.00 16.68 18.90 20.00 22.23 24.43 35.53

a•

b

c

(51)

Lampiran 10.

PENGAMATAN SETELAH 12 HARI APLIKASI

Pengamatan IV

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(52)

Uji Jarak Duncan

Sy= 1.24

-3.7 19.4 19.48 22.55 23.63 31.34 43.56

P 2 3 4 5 6 7 8

SSR 0,05 3.03 3.18 3.27 3.33 3.37 3.39 3.41 LSR 0,05 3.75 3.93 4.99 4.12 4.17 4.19 4.21

Perlakuan C0 C1 C2 C3 C4 C5 C6

Rataan 0.00 23.33 24.47 26.67 27.80 35.53 47.77

a•

b• c d•

(53)

Lampiran 11.

PENGAMATAN SETELAH 15 HARI APLIKASI

Pengamatan V

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(54)

Uji Jarak Duncan

Sy= 1.35

-4.1 30.2

31.68 36.65 40.36 49.91 57.71

P 2 3 4 5 6 7 8

SSR 0,05 3.03 3.18 3.27 3.33 3.37 3.39 3.41 LSR 0,05 4.08 4.28 4.99 4.48 4.54 4.56 4.59

Perlakuan C0 C1 C2 C3 C4 C5 C6

Rataan 0.00 34.43 36.67 41.13 44.90 54.47 62.30

a•

b• c

d

(55)

Lampiran 12.

PENGAMATAN SETELAH 18 HARI APLIKASI

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(56)

Uji Jarak Duncan

Sy= 1.32

-4.0 45.8

47.24 55.61 58.89 65.56 78.80

P 2 3 4 5 6 7 8

SSR 0,05 3.03 3.18 3.27 3.33 3.37 3.39 3.41 LSR 0,05 4.00 4.19 4.99 4.39 4.44 4.47 4.50

Perlakuan C0 C1 C2 C3 C4 C5 C6

Rataan 0.00 50.00 52.23 60.00 63.33 70.03 83.30

a•

b• c

d

(57)

Lampiran 13.

PENGAMATAN SETELAH 21 HARI APLIKASI

Pengamatan VII

Perlakuan Ulangan Total Rataan

I II III

Perlakuan Ulangan Total Rataan

(58)

Uji Jarak Duncan

Sy= 1.71

-5.2 63.5 67.24 72.10 76.43 85.30 93.06

P 2 3 4 5 6 7 8

SSR 0,05 3.03 3.18 3.27 3.33 3.37 3.39 3.41 LSR 0,05 5.19 5.44 4.99 5.70 5.77 5.80 5.84

Perlakuan C0 C1 C2 C3 C4 C5 C6

Rataan 0.00 68.90 72.23 77.80 82.20 91.10 98.90

a•

b• c

d

(59)

Lampiran 14.

PENGAMATAN SUSUT BOBOT

Pengamatan Susut Bobot

Perlakuan Ulangan Total Rataan

Gambar

Gambar 1. Telur C. chinensis
Gambar 3. Pupa C. Chinensis
Gambar 4 (Greaves et al, 1998).
Gambar 5. Gejala Serangan C. Chinensis L. Sumber: Foto Langsung
+7

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Varian Bobot Kering Daun (gr/tan) Data Akibat Pengaruh Naungan Dengan Galur Kacang Hijau. Pada Umur 4

Perbedaan penambahan konsentrasi maltodekstrin dan tween 80 pada proses pembuatan minuman serbuk kacang hijau (Phaseolus radiatus L) diduga berpengaruh nyata

Analisis sidik ragam pengaruh kadar air biji kacang hijau yang berbeda dengan jenis abu terhadap jumlah telur, jumlah imago, persentase biji rusak dan persentase