PENGARUH SEX RATIO AYAM ARAB TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS

51  29  Download (1)

Teks penuh

(1)

ABSTRACT

THE EFFECT OF SEX RATIO ARABIC CHICKEN ON FERTILITY, HATCHABILITY, AND DOC WEIGHT

by Widi Astomo

This study aimed to determine (1) the effect of sex ratio of arabic chicken on fertility, hatchibility , and doc weight and (2) to determine the best sex ratio of arabic chicken on fertility, hatchability, and doc weight. This study was conducted in August 2015 at Tegalrejo village, Gadingrejo districk, Pringsewu regency. This research use 144 arabic chicken consisted of 18 males and 126 females. This research use the

complete randomized design with 3 treatments and 6 times replications. Every treatments use 8 of the arabic chiken eggs. The average of hatching egg weight is 42,96 ±3,5 g. The result shown that sex ratio effect is not significant (P>0,05) to fertility, hatchability, and doc weight arabic chicken.

(2)

ABSTRAK

PENGARUH SEX RATIO AYAM ARAB TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS

Oleh Widi Astomo

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh sex ratio ayam arab terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas dan (2) mengetahui pengaruh sex ratio terbaik dari ayam arab terhadap fertilitas, daya tetas,dan bobot tetas. Penelitian ini

dilaksanakan pada Agustus 2015 di Desa Tegalrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Penelitian ini menggunakan ayam arab sebanyak 144 ekor terdiri dari 18 jantan dan 126 betina. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 3 perlakuan sex ratio dengan 6 ulangan yaitu P1 ( 1:5), P2 (1:7),dan P3 (1:9). Setiap satuan percobaan terdiri dari 8 butir telur ayam arab. Rata- rata bobot awal berkisar antara 42,96 ± 3,5 g/butir dengan koefisien keragaman ± 8, 14 %. Data yang diperoleh dari percobaan ini dianalisis sesuai dengan asumsi sidik ragam pada taraf nyata 5 %. Hasil Penelitian menunjukan bahwa sex ratio jantan dan betina 1:5, 1:7, dan 1:9 memberikan pengaruh tidak berbeda nyata ( P>0,05)terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas ayam arab.

(3)

PENGARUH SEX RATIO AYAM ARAB TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS

Oleh WIDI ASTOMO

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Peternakan

Pada

Jurusan Peternakan

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(4)

PENGARUH SEX RATIO AYAM ARAB TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS

(Skripsi)

Oleh WIDI ASTOMO

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)

DAFTAR GAMBAR

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR GAMBAR ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

I. PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang dan Masalah ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 2

C. Kegunaan Penelitian... 2

D. Kerangka Pemikiran ... 3

E. Hipotesis ... 6

II.Tinjauan Pustaka ... A. Deskripsi Ayam Arab ... 7

B. Manajemen Pemeliharaan Ayam Arab ... 9

C. Sex ratio ... 10

D. Fertilitas ... 11

E. Daya Tetas ... 14

F. Bobot Tetas ... 17

G. Manajemen Penetasan ... 18

(7)

2. Kelembapan... 20

3. Sirkulasi udara ... 21

4. Pemutaran telur (turning) ... 22

5. Peneropongan telur ( candling ) ... 22

III. BAHAN DAN MATERI ... 23

A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 23

B. Bahan Penelitian... 23

1. Bahan penelitian ... 23

2. Alat penelitian ... 24

C. Rancangan Penelitian ... 24

D. Pelaksanaan Penelitian ... 25

E. Parameter Penelitian ... 26

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... A. Gambaran Umum Peternakan Ayam Arab ... 28

B. Pengaruh Sex Ratio Terhadap Fertilitas ... 30

C. Pengaruh Sex Ratio Terhadap Daya Tetas ... 33

D. Pengaruh Sex Ratio Terhadap Bobot Tetas ... 36

V. SIMPULAN DAN SARAN ... A. Simpulan ... 39

B. Saran ... 39

DAFTAR PUSTAKA ... 46

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kandungan zat nutrisi bahan pakan ... 29

2. Rata-rata fertilitas telur ayam arab ... 30

3. Rata-rata daya tetas telur ayam arab ... 33

4. Rata-rata bobot tetas telur ayam arab ... 37

5. Data transformasi archin pengaruh sex rasio terhadap fertilitas ... 48

6. Analisis ragam sex ratio terhadap fertilitas ... 48

7. Data transformasi archin pengaruh sex ratio terhadap daya tetas ... 49

8. Analisis ragam pengaruh sex ratio terhadap daya tetas ... 49

9. Analisis ragam pengaruh sex ratio terhadap bobot tetas ... 50

10.Data fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas (P1) ... 50

11.Data fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas (P2) ... 51

12.Data fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas (P3) ... 51

13.Suhu dan kelembapan mesin tetas... 52

14. Bobot induk dan bobot telur ... 52

(9)

Allhamdulillahirobbil’alamin...

Kuhaturkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya serta suri

tauladanku Nabi Muhammad SAW yang menjadi pedoman hidup dalam berikhtiar

Ayahanda, Ibunda yang tercinta terimakasih atas segala doa, air mata dan keringat

perjuanganmu yang telah membawaku memasuki gerbang kesuksesan dari rasa tidak mampu hingga

rasa yakin untuk aku mencoba bertahan atas nama perjuanganmu. Aku selalu ingin menceritakan

semua tapi aku selalu kehabisan kata-kata. Mungkin hanya inilah yang mampu kubuktikan

kepadamu bahwaaku tak pernah lupa pengorbananmu, bahwa aku tak pernah lupa nasihat dan

dukunganmu, bahwa aku tak pernah lupa segalanya dan selamanya.

Dengan kerendahan hati karya kecil dan sederhana ini kupersembahkan

Seiklasnya kepada : Ayahanda dan Ibunda, Kakak, Dosen, serta teman seperjuangan atas

waktu dan pengorbanan kalian dalam membantuku menyelesaikan skripsi ini, perhatian kalian selalu

menjadi motivasi bagiku

Kalian yang terbaik diantara yang terbaik

Serta

Almamater hijau (UNILA) yang turut mendampingiku, membangun diriku,

(10)
(11)

Jika anda tidak melakukan kesalahan, anda tidak bisa

membuat keputusan.

(Warren Buffett)

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang

dan sabar.

(Khalifah ‘Umar)

Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang

tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan

saat mereka menyerah

(Thomas Alva Edison)

Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah

penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah

keberanian dan keyakinan yang teguh

(12)
(13)

RIWAYAT HIDUP

(14)

SANWACANA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

Pengaruh sex ratio ayam arab terhadap fertilitas, daya tetas dan bobot tetas” Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Dian Septinova, SPt., M.T.A.--selaku Pembimbing Utama--atas saran, motivasi, arahan, ilmu, dan bimbingannya serta segala bantuan selama penulisan skripsi ini;

2. Ibu Ir. Tintin Kurtini, M.S.--selaku Pembimbing Kedua dan Pembimbing Akademik atas saran, motivasi, arahan, ilmu, dan bimbingannya serta segala bantuan selama penulisan skripsi ini;

3. Dr. Ir. Rr. Riyanti, M.P.--selaku Pembahas--atas bimbingan, motivasi, kritik, saran, dan masukan yang positif kepada penulis serta segala bentuk bantuan selama masa studi dan penyusunan skripsi;

4. Bapak drh. Madi Hartono, M.P.--selaku Dosen Pembimbing Akademik--atas motivasi, nasihat, bimbingan dan sarannya

(15)

6. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, MSi.--selaku Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung--atas izin yang diberikan

6. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Unila--atas bimbingan, nasehat, dan ilmu yang diberikan selama masa studi;

7. Ayah dan Ibuku tercinta atas segala do’a, dorongan, semangat, pengorbanan, dan kasih sayang yang tulus ikhlas dan senantiasa berjuang untuk keberhasilan penulis, kakak dan adik tercinta atas nasihat dan dukungannya dalam bentuk moril maupun materil;

8. Novi Susanti--atas dukungan dan doa selama penelitian sampai selesai;

9. Semua teman-teman peternakan 2010 yang telah memberikan semangat, saran, dan motivasi kepada penulis;

10. Seluruh kakak-kakak (Angkatan 2009 ) serta adik-adik (Angkatan

2012, 2013 dan 2014) jurusan peternakan--atas persahabatan dan motivasinya;. Semoga semua bantuan dan jasa baik yang telah diberikan kepada penulis

mendapat pahala dari Allah SWT, dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin...

Bandar Lampung, januari 2016 Penulis

(16)

1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah

Sejalan dengan pertambahan penduduk dan tingkat kesadaran masyarakat akan gizi, diperlukan peningkatan ketersediaan sumber gizi terutama protein hewani. Salah satu produk peternakan yang memberikan sumbangan besar bagi

tercapainya kecukupan gizi masyarakat yaitu telur. Salah satu ayam yang mampu menghasilkan telur sepanjang tahun yaitu ayam arab.

Ayam arab merupakan ayam pendatang berasal dari ayam lokal Belgia. Ayam ini bersifat gesit, aktif, dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat (Darmana dan Sitanggang, 2002). Ayam arab mulanya kurang mendapat perhatian dari para peternak. Kini ayam arab mulai dikembangkan karena termasuk salah satu jenis ayam penghasil telur yang tinggi.

(17)

2

Salah satu keberhasilan usaha penetasan dipengaruhi oleh kualitas telur tetas. Telur tetas yang berkualitas diperoleh dari program pemeliharaan ayam pembibit yang baik. Selain manajemen pemeliharaan, sex ratio harus tepat karena

menyangkut efisiensi dan efektifitas penggunaan pejantan dan betina.

Berkaitan dengan hal di atas agar mendapatkan bibit unggul dari hasil penetasan, maka sex ratio harus diperhatikan karena dapat menjadi salah satu penyebab kegagalan penetasan. Saat ini sex ratio jantan dan betina yang digunakan di peternak masih beragam yaitu 1:5,1:6, 1:7, 1:8,1:9. Selain itu, informasi tentang sex ratio optimal pada peternakan pembibitan ayam arab saat ini masih terbatas. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai sex ratio ayam arab dan pengaruhnya terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas, sehingga diharapkan akan meningkatkan jumlah telur yang menetas saat pengeraman menggunakan mesin tetas.

B.Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. mengetahui pengaruh sex ratio ayam arab terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas;

(18)

3

C. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi kepada peternak khususnya peternak ayam arab mengenai pengaruh sex ratio ayam arab yang terbaik terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas ayam arab.

D. Kerangka Pemikiran

Sex ratio merupakan perbandingan jantan dan betina dengan tujuan untuk mendapatkan telur yang fertil dari perkawinan antara induk dan pejantanya. Sex ratio penting diperhatikan berkaitan dengan kesempatan jantan untuk mengawini betina. Bila jantan kurang dari yang dibutuhkan maka ada betina yang tidak sempat dikawini. Sehingga menyebabkan terjadinya telur kosong ( infertil).

Sex rasio merupakan salah satu faktor yang serius pada pemeliharaan ayam pembibit. Penggunaan jantan dan betina yang terlalu padat, yaitu terlalu banyak ayam pejantan, berakibat pada meningkatnya stress pada ayam karena

meningkatnya kegaduhan akibat persaingan antara pejantan dalam memperoleh pasangan. Hai ini akan berdampak buruk terhadap produksi telur, tetapi fertilitas telur dapat meningkat. Peranan jantan diketahui dengan pasti, namun harus ada rasio yang tepat. Semua itu ada kaitannya dengan kesempatan jantan untuk mengawini betina. Bila jantan kurang dari yang dibutuhkan ada betina yang tidak sempat dikawini hal ini diduga akan menghasilkan telur tetas yang tidak dibuahi, yang berdampak telur tersebut tidak akan menetas.

(19)

4

rekomendasi pada spesies ayam yang lain. Pada ayam ras petelur putih perbandingan sex ratio jantan dan betina yang digunakan yaitu 1:6, ayam ras petelur coklar 1:5, dan ayam pembibit pedaging 1:5. Pada ayam kampung kedu sex ratio jantan dan betina 1:5 merupakan perbandingan yang terbaik

dibandingkan dengan yang lain karena memiliki waktu selang produksi yang paling pendek (Waluyo, 1998).

Keberhasilan usaha penetasan dapat dilihat dari besarnya fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas yang baik. Sex ratio yang optimal diharapkan dapat meningkatkan fertilitas, daya tetas dan bobot tetas.

Fertilitas diartikan sebagai persentase telur-telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio dari sejumlah telur yang ditetaskan tanpa memperhatikan telur tersebut menetas atau tidak (Sinabutar, 2009). Rasio jantan dan betina yang digunakan sangat berpengaruh terhadap fertilitas. Fertilitas yang tinggi dapat dicapai pada kondisi perbandingan yang tepat. Fertilitas akan semakin baik bila kondisi sex ratio tepat. Semakin besar imbangan jantan dan betina, semakin menurun persentase fertilitas. Sudaryani (1990) melaporkan pada penelitian ayam kampung yang dipelihara secara intensif dengan imbangan jantan dan betina 1:5 rata-rata fertilitas dapat mencapai 85,5%. Menurut Septiawan (2007), pada

imbangan jantan dan betina 1:10 pada ayam kampung fertilitas mencapai 77,59%. Selanjutnya Setiadi dkk. (1995) melaporkan fertilitas ayam yang dipelihara

(20)

5

Daya tetas adalah persentase jumlah telur yang menetas dari jumlah telur yang fertil. Daya tetas telur merupakan salah satu indikator di dalam menentukan keberhasilan suatu penetasan (Wibowo dan Jafendi, 1994). Semakin tinggi fertilitas akan semakin tinggi pula daya tetasnya. Rasyaf (1983) menyatakan bahwa angka daya tetas sangat terkait erat dengan fertilitas. Jika fertilitas tinggi maka daya tetasnya juga tinggi dan sebaliknya. Menurut Kaharudin dan

Kususiyah (2006), daya tetas dengan imbangan jantan dan betina 1:4 mampu mencapai 60--70%. Penelitian Wicaksono (2013) menyatakan daya tetas dengan imbangan jantan dan betina 1:10 pada penetasan kombinasi menghasilkan daya tetas sebesar 83,75%.

Salah satu faktor yang harus diperhatikan guna mendapatkan DOC yang

berkualitas adalah umur induk. Rasyaf (1991) menyatakan bahwa awal bertelur erat kaitanya dengan umur kedewasaaan. Umur induk merupakan satu faktor penting dalam menghasilkan telur tetas yang berkualitas. Menurut Kurtini dan Riyanti (2003), dengan umur yang tidak terlalu muda dan terlalu tua akan

menghasilkan telur tetas dengan fertilitas dan daya tetas yang tinggi. Semakin tua umur induk, fertilitas akan menurun. Fertilitas yang baik diperoleh dari pejantan berumur 6 bulan dan tidak lebih dari 2 tahun.

(21)

6

hubungan yang sangat nyata antara bobot telur dengan bobot tetas, semakin tinggi bobot telur yang ditetaskan akan menghasilkan bobot tetas yang lebih besar.

Bobot tetas merupakan bobot yang diperoleh dari hasil penimbangan setelah menetas. North dan Bell (1990) mengemukakan bahwa antara telur tetas dan bobot tetas yang dihasilkan terdapat korelasi yang tinggi. Semakin besar telur tetas maka anak yang dihasilkan mempunyai bobot yang besar. Menurut Nuryati dkk. (2002), suhu yang terlalu tinggi dan kelembapan ruang penetasan terlalu rendah bisa menyebabkan bobot tetas yang dihasilkan menurun karena mengalami dehidrasi selama proses penetasan. Hasil penelitian Suryana (2006) menunjukkan bahwa perbandingan jantan dan betina 1:5 bobot tetasnya adalah 41,22g,

sedangkan perbandingan jantan dan betina 1:10 bobot tetasnya adalah 42,10g. Dalam kaitan ini Applegate dkk. (1998) menyatakan bahwa bobot telur tetas mempunyai pengaruh signifikan terhadap bobot tetas yang dihasilkan.

E. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini:

1. adanya pengaruh sex ratio terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas 2. sex ratio ayam arab yang akan menghasilkan fertilitas, daya tetas, dan bobot

(22)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi Ayam Arab

Ayam arab (Gallus turcicus) adalah ayam kelas mediteran, hasil persilangan ayam arab dengan ayam buras. Ayam arab mulai dikenal oleh masyarakat kira-kira tujuh tahun yang lalu. Menurut beberapa ilmuan ayam arab sudah mulai

dikembangkan di Jawa Timur sejak 1990. Ayam ini mulai digemari masyarakat karena mampu bertelur lebih banyak daripada ayam ras (Kholis dan Sitanggang, 2003). Sifat-sifat kualitatif dari ayam ini adalah memiliki warna bulu putih keperakan dari kepala hingga leher dan warna bulu total hitam putih pada badan, shank berwarna hijau pohon atau biru (Permana, 2007).

Ayam arab mulai memproduksi telur pada umur 4,5--5,5 bulan, sedangkan ayam kampung pada umur 6 bulan. Pada umur 8 bulan, produksi telurnya mencapai puncak (Kholis dan Sitanggang, 2003). Produksi ayam arab yang tinggi yaitu 190--250 butir per tahun dengan bobot telur 30--35 g per butir dan hampir tidak memiliki sifat mengeram sehingga waktu betelur menjadi lebih panjang (Natalia dkk., 2005; Sulandari dkk., 2007)

(23)

8

mencapai 25 cm dengan bobot 1,0--1,5kg (Erlankgha, 2010). Penampilan ayam arab dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Ayam arab (Gallus turcicus) betina (A) dan jantan (B) Sumber :Erlankga, 2010

Klasifikasi Ayam arab menurut Erlankgha (2010) adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia

Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Aves

Famili : Phasianidae Sub Famili : Phasianinae Genus : Gallus

Spesies : Gallus turcicus

(24)

9

yang harus berhenti bertelur ketika masa mengeramnya timbul yaitu setelah bertelur antara 12--20 butir (Kholis dan Sitanggang, 2003).

Jenis ayam arab ada dua yaitu ayam arab silver (braekel kreel silver) dan gold (braekel kreel gold) ayam ini dibedakan berdasarkan pada warna bulunya. Ayam arab silver memiliki badan tebal dengan variasi warna bulu putih sedikit bertotol-totol hitam dari leher sampai kepala. Badan sampai ekor berbertotol-totol-bertotol-totol hitam dengan garis-garis agak hitam. Warna lingkar mata, kulit kaki, dan paru kuning kehitaman. Ayam arab gold memiliki cirri-ciri bulu badan tebal dari leher sampai kepala. Badan sampai ekor coklat dengan garis-garis hitam. Lingkar mata, kulit kaki, dan paruh coklat kemerahan (Iskandar dan Sartika, 2008 ; Bambang, 2000).

Ayam arab gold terbilang memiliki performans produksi tinggi yaitu mampu menghasilkan rata-rata sebesar 300 butir per tahun dibandingkan ayam arab silver maksimal 250 butir per tahun (Darmana dan Sitanggang, 2002).

B. Manajemen Pemeliharaan Ayam Arab

Memelihara ayam arab lebih menguntungkan dibandingkan dengan ayam

kampung, terlebih jika dinilai dari segi kemampuan produksi telurnya yang lebih tinggi. Ayam arab tidak memiliki naluri mengerami telurnya, apalagi jika

dibudidayakan dengan sistim peternakan intensif, yaitu dikandangkan dengan cara baterai. Setiap periode bertelur, ayam arab hanya berhenti paling lama lima hari, kemudian bertelur kembali sampai mencapai 50 butir setiap periodenya

(25)

10

Pemberian ransum merupakan bagian yang sangat penting dalam budidaya ayam arab. Meskipun ayam arab relatif toleran terhadap ransum dengan kualiitas rendah, seperti pakan yang berupa sisa-sisa makanan rumah tangga, namun dalam usaha pemeliharaan secara intensif, peternak harus memperhatikan kualitas pakan yang diberikan. Kesalahan dalam pengaturan komposisi, jenis dan cara

pemberian pakan, akan berdampak negatif pada seluruh proses budidaya ayam arab tersebut. Oleh karena itu, peternak harus benar- benar memahami berbagai hal yang berkaitan dengan pakan ayam arab, sehingga usaha ternaknya dilakukan secara lebih efisien dengan tingkat produksi yang tinggi (Triharyanto, 2001).

Ayam mengkonsumsi ransumnya sesuai dengan kebutuhan energi dalam

kehidupan sehari-hari. Apabila diberikan ransum yang mengandung energi tinggi maka konsumsi akan menurun, sebaliknya bila diberi pakan yang mengandung energi rendah maka konsumsi ransum harianya akan meningkat. Tinggi rendahnya konsumsi ransum akan menimbulkan tingkat konsumsi zat-zat makanan yang meliputi protein, vitamin, dan mineral (Marhiyanto, 2000).

C. Sex Ratio

Fertilitas yang tinggi dapat dicapai pada kondisi perbandingan jantan dan betina yang tepat. Dalam menghasilkan fertilitas yang optimal, The Origon Station merekomondasikan sex ratio 5--6 ekor leghorn jantan per 100 ekor betina, atau 6--7 ekor jantan New Hampshire per 100 ekor betina.( Kurtini dan Riyanti 2003 )

(26)

11

pada fertilitas telur dan jumlah biaya yang dikeluarkan. Sex ratio antara ayam jantan dan betina dengan perkawinan alami berkisar 1 jantan dan 10 betina

(Iskandar, 2007). Waluyo (1988) mengemukakan bahwa perbandingan jantan dan betina 1:5 merupakan perbandingan terbaik dibandingkan dengan sex ratio yang lain karena memiliki selang produksi yang paling pendek.

Satu ekor ayam ras petelur putih jantan sebaiknya digunakan untuk mengawini 6 ekor betina dan begitu pula untuk unggas lain (Rasyaf, 1984).

Peranan jantan telah diketahui dengan pasti namun, dalam hal ini rasio yang digunakan harus tepat. Hal ini berkaitan dengan kesempatan jantan untuk mengawini betina. Bila pejantan yang digunakan kurang maka ada betina yang tidak sempat terkawin karena pejantan yang hanya senang pada beberapa betina. Hal ini menyebabkan telur tetas yang tidak dibuahi, yang tidak akan menetas (Rasyaf, 1984)

Perbandingan yang baik antara jantan dan betina untuk perkawinan alami adalah 1: 6,7,8. Dalam hal ini induk jantan dapat melayani 6--8 ekor induk betina. Perbandingan yang kurang baik akan menghasilkan banyak telur yang infertil Fertilitas dapat mencapai 80 % bila dalam kondisi sex ratio tepat, umur yang tepat untuk pejantan dan betina, kualitas ransum yang baik, jantan dan betina dalam kondisi yang baik (Kurtini dan Riyanti, 2003).

D. Fertilitas

(27)

12

tergantung dari umur ayam, ransum, temperatur, genetik, dan cara pemeliharaan (Yuwanta, 2010).

Menurut Mulyantini (2010), telur tetas merupakan telur fertil, yaitu telur yang telah dibuahi oleh sel kelamin jantan atau telur yang telah mengalami proses fertilisasi. Telur yang layak ditetaskan yaitu telur yang berasal dari induk yang berumur lebih dari 9 bulan dan pejantan yang berumur sekurang-kurangnya 2 bulan lebih tua dibandingkan dengan induk betina (Murtidjo, 1988). Menurut Pattisan (1993), telur yang kotor tidak layak untuk ditetaskan.

Fertilitas adalah persentase telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio dari sejumlah telur yang dieramkan apakah telur itu dapat menetas atau tidak (Card dan Neshiem, 1997 ; Sinabutar, 2009). Fertilitas yang tinggi diperlukan untuk menghasilkan dan meningkatkan daya tetas ( North dan Bell, 1990). Greenberg (1981) menyatakan bahwa cara yang paling akurat dalam penentuan fertilitas adalah dengan membuka telur untuk melihat germinal disc baik dengan mata telanjang atau mikroskop.

(28)

13

Neshiem,1972). Fertilitas yang tinggi diperlukan untuk menghasilkan dan

meningkatkan daya tetas. Persentase telur fertil dihitung dengan cara jumlah telur fertil (butir) dibagi dengan jumlah telur yang ditetaskan (butir) kemudian

dikalikan seratus persen (Jull,1982).

Perbandingan jantan dan betina perlu diperhatikan untuk mendapatkan fertilitas yang tinggi (Suprijatna dkk., 2008). Kusmarahmat (1998) menyatakan bahwa untuk mendapatkan fertilitas yang tinggi pada ayam kampung maka perbandingan jantan dan betina 1:10. Perbandingan antara jantan dan betina perkawinan alami berkisar 1:10 (Iskandar, 2007).

Waluyo (1988) mengemukan bahwa perbandingan sex ratio 1:5 pada ayam kampung kedu merupakan perbandingan yang terbaik dibandingkan dengan yang lain karena memiliki waktu selang produksi yang paling pendek. Selain itu, umur induk juga berpengaruh terhadap fertilitas. Ayam pada umur 43--46 minggu memiliki fertilitas sebesar 91,23%, pada umur 47--50 minggu memiliki fertilitas 85,99%, dan pada umur 51--54 minggu memiliki fertilitas 83,22 ( Fasenco dkk., 1992).

(29)

14

E. Daya Tetas

Menurut Sudaryani dan Santoso (2001), yang dimaksud dengan daya tetas adalah banyaknya telur yang menetas dari sekian banyak telur yang fertil. Daya tetas telur merupakan salah satu indikator di dalam menentukan keberhasilan suatu penetasan (Wibowo dan Jafendi, 1994). Daya tetas dapat dihitung dengan dua cara, yaitu pertama membandingkan jumlah telur yang menetas dengan jumlah telur yang dieramkan. Kedua dengan membandingkan jumlah telur yang menetas dengan jumlah telur yang fertil. Cara pertama banyak digunakan pada perusahaan penetasan yang besar, sedangkan cara yang kedua dilakukan terutama pada bidang penelitian ( Suprijatna dkk., 2008).

Kegagalan penetasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rasio jantan dan betina yang tidak tepat, ransum kurang memenuhi syarat, pejantan terlalu tua, perkawinan refrensial (perkawinan yang dianjurkan yaitu jika organ reproduksi induk telah berkembang secara sempurna), pejantan yang steril (mandul), dan embrio mati terlalu awal karena penyimpanan terlalu lama (Harianto, 2010).

(30)

15

Menurut North dan Bell (1990), daya tetas dipengaruhi oleh penyimpanan telur, faktor genetik, suhu dan kelembapan mesin, umur induk, kebersihan telur, ukuran telur, dan nutrisi. Pattison (1993) menyatakan bahwa nutrisi induk sangat

memengaruhi daya tetas telur yang dihasilkan. Ransum induk yang tidak

sempurna menyebabkan kematian embrio yang cukup tinggi (Nuryati dkk., 2000).

Daya tetas dan kualitas telur tetas dipengaruhi oleh penyimpanan, lama penyimpanan, tempat penyimpanan, suhu lingkungan, suhu mesin tetas, pembalikan selama penetasan. Penyimpanan yang terlalu lama menyebabkan kualitas dan daya tetas menurun sehingga telur sebaiknya disimpan tidak lebih dari 7 hari (Raharjo, 2004).

Menurut Rukmana (2003), faktor-faktor yang menurunkan daya tetas telur adalah a. kesalahan-kesalahan teknis pada waktu memilih telur tetas;

b. kerusakan mesin tetas pada saat telur dalam mesin tetas;

c. heritability atau sifat turun temurun dari induk ayam yang daya produksi telurnya tinggi dengan sendirinya akan menghasilkan telur dengan daya tetas yang tinggi, dan sebaliknya;

d. kekurangan vitamin A, B2, B12, D, E dan asam pentothenat dapat menyebabkan daya tetas telur berkurang.

(31)

16

yang baru bertelur (umur 6 bulan) akan menghasilkan telur yang daya tetasnya rendah dan tidak menetas sempurna. Telur yang kotor tidak layak untuk

ditetaskan (Pattison,1993). Menurut Srigandono (1997), telur yang kotor banyak mengandung mikroorganisme sehingga akan mengurangi daya tetas.

Gunawan (2001) menyatakan bahwa ukuran telur ada hubungannya dengan daya tetas. Telur yang terlalu besar atau terlalu kecil tidak baik untuk ditetaskan karena daya tetasnya rendah (Sainsbury, 1984). Telur yang terlalu kecil mempunyai luas permukaan telur per unit lebih besar dibandingkan dengan telur yang besar akibatnya penguapan air di dalam telur akan lebih cepat sehingga telur cepat kering (North dan Bell, 1990). Menurut Nuryati dkk. (2000), telur yang terlalu besar mempunyai rongga udara yang terlalu kecil untuk ukuran embrio yang dihasilkan sehingga kekurangan oksigen.

Penurunan daya tetas dapat disebabkan oleh tingginya kematian embrio dini. Kematian embrio tidak terjadi secara merata selama masa pengeraman telur. Sekitar 65% kematian embrio terjadi pada dua fase masa pengeraman yaitu fase awal yang puncaknya terjadi pada hari ke-4 dan fase akhir yang puncaknya terjadi pada hari ke-19 ( Jassim dkk., 1996). Christensen (2001) melaporkan bahwa kematian embrio dini meningkat antara hari ke-2 dan ke-4 masa pengeraman.

(32)

17

Berdasarkan Hasil penelitian Suyasa (2006) pembibitan ayam kampung dengan perbandingan 1: 5 menghasilkan telur dengan tingkat fertilitas mencapai 92,65% dan daya tetas 71,43%. Pemeliharaan juga berpengaruh pada daya tetas. Manjoer dkk. (1993) melaporkan bahwa daya tetas yang dipelihara intensif sebesar 84,6% melalui mesin tetas. Setiadi dkk.(1993) melaporkan bahwa dengan pemeliharaan intensif pada ayam buras daya tetasnya berkisar antara 65--70% dengan

menggunakan mesin tetas.

F. Bobot Tetas

Menurut Septiwan (2007), bobot tetas merupakan berat DOC sesaat setelah menetas. Penimbangan bobot DOC dilakukan setelah bulu ayam kering. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kesalahan akibat ayam yang masih basa bulunya akan memengaruhi bobotnya (Jayasamudra dan Cahyono, 2005).

Bobot tetas merupakan salah satu penentu keberhasilan usaha penetasan. Dalam mendapatkan bobot tetas yang baik, perlu dilakukan seleksi telur dengan baik seperti memilih telur dari induk yang sehat (Wibowo dan Jefendi, 1994).

(33)

18

dikemukakan oleh Hasan dkk. (2005). Hal ini terjadi karena telur mengandung nutrisi seperti vitamin, mineral dan air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan selama pengeraman. Nutrisi ini juga berfungsi sebagai cadangan makanan untuk beberapa waktu setelah anak ayam menetas.

Menurut Nuryati dkk. (2002), suhu yang terlalu tinggi dan kelembapan ruang yang terlalu rendah bisa menyebabkan bobot tetas yang dihasilkan menurun karena mengalami dehidrasi selama proses penetasan.

Bobot tetas dipengaruhi oleh bobot telur tetas karena bobot tetas rata--rata adalah 62 % dari bobot telur tetas (Leeson, 2000). Bobot tetas yang normal adalah 2/3 dari berat telur dan apabila bobot tetas kurang dari hasil perhitungan tersebut maka proses penetasan bisa dikatakan belum berhasil (Sudaryani dan Santoso 1999). Menurut Srigandono (1997), bobot telur antara unggas yang satu dengan lainnya berbeda karena bobot telur dipengaruhi oleh jenis ternak, semakin besar ukuran ternak tersebut biasanya akan menghasilkan telur yang besar, demikian pula sebaliknya.

G. Manajemen Penetasan

(34)

19

kelembapan, dan ventilasi dari inkubator seperti pemutaran telur dalam inkubator (Rasyaf,1991). Penetasan yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan. Menurut Suprijatna dkk. (2008), syarat telur tetas yang baik untuk ditetaskan adalah

1. telur harus berasal dari induk yang sehat dan produktivitasnya tinggi serta sex ratio yang baik;

2. umur telur tidak boleh lebih dari 1 minggu karena daya tetasnya akan menurun sejalan dengan bertambahnya umur telur;

3. bentuk telur harus normal, tidak lonjong dan terlalu bulat; 4. bobot atau besar telur dan warna kulit telur harus seragam;

5. telur yang terlalu tipis atau terlalu tebal mengakibatkan penguapan isi telur terlalu tinggi sehingga akan menurunkan daya tetas. Akan tetapi, telur yang terlalu tebal juga akan mengakibatkan daya tetas menurun karena anak unggas kesulitan memecah kulit telur;

6. telur tetas yang baik permukaan kulitnya halus, tidak kotor, dan tidak retak.

Menurut Rasyaf dan Amrullah (1983), ada 4 faktor utama yang perlu diperhatikan selama melakukan proses penetasan yaitu kelembaban, ventilasi, pemutaran, dan pemeriksaan telur. Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama proses

penetasan:

(35)

20

b. ventilasi harus diatur makin mendekati menetas ventilasi dibuka semakin besar;

c. selama dalam mesin tetas dilakukan pemutaran sebanyak 3 kali dalam interval waktu yang sama (sebaiknya 8 jam sekali) dan dihentikan pada hari ke 25;

d. sebaiknya dilakukan pemeriksaan telur untuk mengeliminasi telur-telur yang tidak ada bibitnya (infertil) atau mati pada hari ke-4, 14, dan 21. Hal ini dapat mempertinggi daya tetas karena suhu akan lebih stabil dan menghindari pencemaran penyakit (Prayitno dan Murad 2009).

1. Suhu

Suhu yang baik untuk pertumbuhan embrio ayam berkisar antara 35--37ºC (Jasa, 2006). Paimin (2003) menyatakan bahwa suhu penetasan harus dipertahankan selama proses penetasan, mulai hari pertama sampai hari terakhir sesuai suhu yang ditentukan yaitu 100--105ºF (38,33--40,55ºC). Suhu penetasan yang terlalu tinggi menyebabkan telur menetas lebih awal sedangkan suhu yang terlalu rendah menyebabkan keterlambatan menetas (Sudaryani dan Santoso, 2001).

2. Kelembapan

Dalam penetasan kelembapan yang dibutuhkan untuk penetasan ayam yaitu 55--60% pada mesin tetas (Rasyaf, 1984). Nuryati dkk. (2000) menyatakan kelembapan ideal dalam penetasan telur ayam hari ke-1 hingga ke-18 adalah 55--60%. Kelembapan yang terlalu tinggi menyebabkan telur yang ditetaskan

(36)

21

yang rendah menyebabkan laju penguapan terlalu cepat sehinggga embrio kekurangan air dan terlambat untuk menetas (Nuryati dkk., 2002). Kelembapan mesin tetas yang terlalu tinggi mengakibatkan terhambatnya penguapan air dalam telur (Paimin, 2003). Usaha untuk menjaga kelembapan ruang mesin tetas dapat dilakukan dengan penyemprotan air. Kelembapan dapat diukur dengan

hygrometer atau dengan menggunakan thermometer basah (wet-bulb temperatur) (Jasa, 2006).

3. Sirkulasi udara

Menurur Srigandono (1997), ventilasi pada mesin tetas berfungsi sebagai penyuplai oksigen dan mengeluarkan karbondioksida yang terbentuk selama penetasa. Hal ini karena selama proses penetasan embrio membutuhkan oksigen untuk perkembangan dan mengeluarkan karbondioksida melalui pori-pori kerabang telur.

Kebutuhan ventilasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu dan

(37)

22

4. Pemutaran telur (turning)

Pemutaran posisi telur dilakukan untuk menghinghindari terjadinya penempelan germinal disk pada salah satu membrane telur yang terjadinya malposition embrio di dalam telur. Posisi normal badan embrio terletak mengikuti sumbu panjang sebutir telur dengan paruh berada di bawah sayap kanan. Ujung paruh menghadap ke rongga udara di ujung tumpul telur (Srigandono, 1997). Setioko (1998)

menyatakan bahwa pemutaran telur dilakukan 3 atau 5 kali sehari dengan interval waktu yang sama. Bogenfurst (1995) melaporkan bahwa besarnya sudut dan frekuensi pemutaran telur dapat memengaruhi perkembangan embrio telur tetas. Pengaruh prekuensi pemutaran telur meningkatkan daya tetas sebesar 9,72% ( Daulay dkk., 2008).

Harianto (2010) menyatakan bahwa jangan membalik telur pada 3 hari terahir menjelang telur menetas. Pada saat itu telur tidak boleh dibalik atau diusik karena embrio telur yang akan menetas tersebut sedang bergerak pada posisi penetasanya.

5. Peneropongan telur (candling)

Selama proses penetasan telur perlu diamati perkembangan dan keadaan dalamnya telur dengan cara meneropong. Menurut Setioko (1998) peneropongan dilakukan pada hari ke-7 dan hari ke-14 untuk melihat telur yang infertil dan embrionya mati. Muktiani (2009) menyatakan bahwa peneropongan dapat dilakukan

(38)

23

(39)

III. BAHAN DAN MATERI

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 4 minggu pada Agustus 2015, bertempat di peternakan ayam arab milik Bapak Ilham di Desa Tegalrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.

B. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

(1) ayam arab sebanyak 144 ekor terdiri dari 18 jantan dan 126 betina yang

dipelihara secara intensif di setiap petak perlakuan di kandang panggung 2,5x2m. Bobot jantan rata- rata 2,0 ± 0,03 dan betina 1,9 ± 0,09. Induk betina berumur 11 bulan dan jantan 13 bulan.

(2) Ransum yang diberikan terdiri dari dedak 30%, konsentrat 30%, dan jagung 40%;

(3) telur sebanyak 144 butir, rata-rata bobot awal telur sebesar 42,96 ± 3,5g dengan KK (8,14%) berumur 4 hari;

(40)

25

2. Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini :

(1) satu buah mesin tetas semi otomatis dengan kapasitas tampung maksimal 300 butir telur;

(2) enam buah eggtray kapasitas 30 butir untuk meletakan telur tetas;

(3) satu buah thermohygrometer untuk mengukur suhu dan kelembapan di dalam mesin tetas;

(4) satu buah timbangan digital dengan ketelitian 0,01g untuk menimbang telur dan DOC yang baru menetas;

(5) satu buah candler untuk meneropong telur tetas; (6) tray hathcer (rak telur) untuk tempat menetaskan telur; (7) dua buah spons untuk membersihkan telur;

(8) nampan sebagai wadah air; (9) kawat kasa untuk penyekat telur; (10) alat tulis untuk mencatat data.

C. Rancangan Penelitian

(41)

26

Seluruh data yang diperoleh dari percobaan ini dianalisis sesuai dengan asumsi sidik ragam pada taraf nyata 5%. Jika suatu perlakuan berpengaruh nyata pada suatu peubah tertentu (P< 0,05), maka analisis dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf nyata 5% (Steel dan Torrie, 1991).

D. Pelaksanaan Penelitian

a. Ayam arab dipelihara secara intensif selama 2 minggu pemeliharaan dengan sex ratio jantan dan betina 1:5,1:7, dan 1:9 pada kandang panggung ukuran pxl 2,5x2m. Satu minggu untuk masa prelium dan satu minggu untuk mendapatkan telur perlakuan.

b. Ayam arab diberi ransum yang terdiri dari dedak 30%, konsentrat 30%, dan jagung 40%, dan air minum secara ad libitum.

c. Pengumpulan telur dilakukan setelah 1 minggu masa prelium selesai.

d. Seleksi telur tetas. Seleksi dilakukan terhadap bobot telur, keutuhan kerabang, kebersihan dan bentuk telur (oval).

e. Membersihkan telur. Telur dilap dengan busa yang telah dibasahi air hangat dan yang dicampur desinfektan.

f. Menimbang dan menandai telur. Penimbangan dilakukan untuk mendapatkan bobot awal telur dan penandaan bertujuan untuk memperjelas masing-masing perlakuan.

(42)

27

h. Menyiapkan mesin tetas. Mesin tetas yang digunakan terlebih dahulu dicek kebersihan, suhu, dan kelembapan. Selain itu mesin tetas juga distrerilkan

menggunakan desinfektan 3 hari sebelum digunakan. Mesin tetas dinyalakan dan diatur suhu dan kelembapannya 24 jam sebelum telur masuk ke dalam mesin tetas dengan mmenggunakan thermohygrometer.

i. Memasukkan telur ke mesin tetas dengan posisi horizontal.

j. Candling. Candling pertama dilakukan pada saat telur berumur 7 hari dan candling kedua dilakukan pada saat telur berumur 14 hari, untuk mendapatkan data fertilitas.

k. Pengontrolan harian. Pengontrolan harian dilakukan terhadap suhu, kelembapan, dan pemutaran telur. Pemutaran telur dilakukan 3 kali sehari pada pukul 06.00 WIB, 12.00 WIB, dan 18.00 WIB. Pemutaran telur di mulai pada hari kelima dan diakhiri pada 3 hari menjelang menetas.

l. Menimbang DOC. Setelah telur-telur menetas dilakukan penimbangan DOC untuk mendapatkan data bobot tetas. Penimbangan dilakukan ketika bulu-bulu DOC sudah mengering.

E. Parameter Penelitian

1. Fertilitas

(43)

28

hari ke-14. Rumus fertilitas sebagai berikut Fertilitas =

J a ya

a ya a a x %

2. Daya tetas

Daya tetas diartikan sebagai persentase telur yang menetas dari telur yang fertil (Suprijatna dkk., 2008)

Daya tetas = J a a ya ya a x %

3. Bobot tetas

(44)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

1. Perlakuan sex ratio jantan dan betina ayam arab 1:5, 1:7, dan 1:9 memberikan hasil yang tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas

2. Perlakuan sex ratio jantan dan betina ayam arab yaitu 1:7, mengasilkan daya tetas terbaik

B. Saran

(45)

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2008. Penetasan Telur Unggas. http:/Sentralternak. com. Penetasan telur unggas. (7 Maret 2012).

Amrin, A. 2008. Faktor yang menpengaruhi daya tetas. Abdulamrin. Com (13 Februari 2012).

Applegate, T.J, D, Haifer andl Lilburn, 1998. Effects of hen age on egg composition and embryo development in commercial pekin ducks. Poult science 77 : 1608-1612.

Bell, D. dan Weaver. 2002. Comersial Chiken Meat and Egg. Klutser Academic Publisher. United States Of America.

Blakely, J. dan H.B. David. 1998. Ilmu Peternakan. Cetakan ke-4 . Terjemahan : Srigandono. Universitas Gajah Mada Press, Yogyakarta.

Bogenfurst, F. 1995. The current state of incubation in waterfowl. Procending 10th European Symposium on Waterfowl. World’s Poultry Scince Asociation, Halle (Seale) Germany, pp. 241--256.

Campbell, J.R., K.M. Douglas., and K.L. Campbell., 2003. The Biology, Card and Production of Domestic Animal. Mc Graw- Hill Companies. Inc.

Publication. J. Anim Sci Pg 292.

Card dan Nashiem, 1979. Poultry Production. 12th Edition. Lea and Febriger, Philadelphia.

Christensen, V. L. 2001. Factors Associated with Early Embryonic Mortality.

World’s Poultry. Sci.57:359--372.

Djanah, D. 1984. Beternak Ayam dan Itik. Cetakan kesebelas. C.V Yasuga. Jakarta.

Daulay,A.H., S. Aris, dan A. Salim. 2008. Pengaruh Umur dan Prekuensi

(46)

41

Darmana, W. dan Sitanggang, M. 2002. Meningkatkan Produktivitas Ayam Arab Petelur. Agromedia. Pustaka Jakarta.

Erlankgha, M. 2010. Ayam Arab. http:/ Infoternak .Com (13 Februari 2012). Fasennco, G.M., R.T. Hardin and F.E. Robinson. 1992. Relationship of hen age

and egg squence position with fertility, hatchbility, viability, and pre uncubation embryonic development in broiler breeders. Poultry Science. 71:1374--1384.

Gunawan, H. 2001. Pengaruh Bobot Telur Terhadap Daya Tetas Serta Hubungan Antara Bobot Telur dan Bobot Tetas Itik Mojosari. Skripsi Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Greenberg, D.V. 1981. Rising Game Bird in Capitivity. 4th Ed. D. Van Nostrad Company, New York.

Harianto. A. 2010. Manajemen Penetasan Telur Itik. http:// Itik mojosari. Cara mudah menetaskan telur-itik. Html .(22 Juli 2010)

Hasan, S.M.A.A. Siam, M.E. Mady and A.L.Carwright. 2005. Physiology, endrocrinology, dan reproduction: egg storage period and weight effects on hatchbility. J. poultry Sci. 84: 1908--1912.

Hasnelly, Z., Rinaldi, dan Suwardhi. 2013. Penangkaran dan Pembibitan Ayam Merawang di Bangka Belitung. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Hetzel, D.J.S. 1986. Duck breeding strategis- The Indonesia Example. In : Duck prosiding sienceand world practice. Farrel, D.J. stapleton, P.(ed). University of England, pp 204-133

Iriyanti, N., Zuprizal, Tri- Yuwanta, dan S. Keman. 2007. Penggunaan Vitamin E dalam Pakan Terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Bobot Tetas Telur Ayam Kampung. J. Anim. Prod. 9(1) :36—39

Iskandar, S. 2007. Tatalaksana Pemeliharaan Ayam Lokal. Balai Penelitian Ternak Cianjur. Bogor.

Iskandar, S. dan Sartika .T. 2008. Profile Ayam Arab. http:/sentralternak. com (12 Februari 2012)

(47)

42

Jassim, E. W., M. Grossman, W.J.Koops, and R.Luykx. 1996. Multiphasic Analysis off Embrionic Mortality in Chikens. Poultry Sci. 75:464--471. Jull, M.A. 1982. Poultry Husbandry. 2nd Edition. Tata Mc Graw Hill Book

Company Ltd. New Delhi

Jayasamudra D.J. dan B. Cahyono. 2005. Pembibitan Itik. Penerbit Swadaya, Jakarta

Kharudin, D. 1989. Pengaruh Bobot Telur Bobot Tetas, Daya Tetas,

Pertambhan Bobot Badan dan Angka Kematian Sampai Umur 4 Minggu pada Puyuh Telur ( Coturnix- coturnix Japonica ) Laporan Penelitian. Universitas Bengkulu

Kharudin, D. dan Kususiyah. 2006. Fertilitas dan Daya Tetas Telur Hasil Persilangan Antara Puyuh Asal Bengkulu, Padang dan Yogua karta. Fakultas Universitas Bengkulu. Jurnal Peternakan Indonesia Vol 8, No 1 th 2006

Kholis, W. dan M. Sitanggang. 2003. Ayam Arab dan Ponci Petelur Unggul. Agromedia, Yogyakarta.

Kurtini, T dan Riyanti. 2003. Teknologi Penetasan. Buku Ajar. Universitas Lampung. Lampung

Kusmarahmat, I. 1998. Pengaruh Berbagai Perbandingan Jantan dan Betina Dalam Kawin Alam Terhadap Produksi, Bobot, Fertilitas dan Daya Tetas Telur Pada Ayam Kampung. Karya Ilmia. Fakultas Pertanian, Institut Pertanaian Bogor.

Lasmini, A., R. Abdelsamie, dan N.M. Parwati. 1992. Pengaruh Cara Penetasan Terhadap Telur Itik Tegal dan Alabio. Pengolahan dan Komunikasi Hasil Penelitian Balai Penelitian Ternak. Ciawi, Bogor. Listiyowati, E. dan Roospitasari, K. 2009. Beternak Puyuh Secara Komersial.

Penebar Swadaya, Jakarta.

Leeson, S. 2000. Egg Numbers and Size Boot Influence Broiler Yeilds. Service Bull, University Georgia.

Lyons, J.J. 1998. Small Flock Series. Introduction of Poultry. Agricultural publications. G*353- New January 15th University of Missouri. Missouri.

(48)

43

Manjoer, S.S., S.H.S. Sekar, B. Juminan, R.H. Mulyono, A.G. Murwanto dan S. Darwati, 1993.Studi Genetik Respon Kekebalan Terhadap Penyakit Tetelo Pada Ayam Lokal Indonesia. Proc. Seminar Nasional. Pengembangan Ternak Ayam Buras Melalui Wadah Koperasi Menyongsong PJPT II

Muktiani. 2009. Mendulang Rupiah dengan Budidaya Itik Pedaging. Cetakan Pertama. Pustaka paru Press. Jakarta

Mulyantini, MGA. 2010. Ilmu Manajemen Ternak Unggas. Yogyakarta: Gajah Mada, University Press

Murtidjo, B.A. 1988. Mengelolah Itik. Cetakan ke-17. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Natalia, H., D. Nista, Sunarto dan D. S. Yuni. 2005. Pengembangan Ayam Arab. Balai Pembibitan Ternak Unggul Sumbawa.Palembang.

North, M.O. dam D.D Bell. 1990. Commercial Chiken Production Manual. 4th Edition . By Van Nestrod Rainhoul. Newyork.

Nurcahyono, E. M. dan Y.E. Widyastuti. 2001. Usaha Pembesaran Ayam Kampung pedaging. Cetakan ke-5. Penebar Swadaya, Jakarta. Nuryati , T., Sutarto, M. Khamim, dan P.S. Hardjosworo. 2002. Sukses

Menetaskan Telur. Cetakan keempat. Penebar Swadaya, Jakarta. Paimin, F.B. 2003. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya,

Jakarta

Pambudhi, W. 2003. Beternak Ayam Arab Merah Situkang Bertelur. PT. Agromedia Pustaka

Pattison, M. 1993. The Health of Poultry. Longman Scientific and Technical. Peebles, E.D. and J. Brake. 1985. Relalitionship of egg shell porosity of stage of

embryonic development in broiler breed’s. Poult Sci. 64 (12):2388

Permana, E. A. 2007. Karakteristik Telur Tetas Ayam Arab Betina Hasil Inseminasi Buatan Dengan Pejantan Ayam Arab, Pelung dan Wareng Tangerang. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor

Prayitno, D.S., dan B.C. Murad. 2009. Manajemen Kalkun Berwawasan Welfare. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

(49)

44

Rahayu,H.S. 2005. Kualitas Telur Tetas Ayam Kampung dengan Waktu Pengulangan Inseminasi Buatan yang Berbeda. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ramanoff, A. L. and A. J. Ramanoff. 1963. The Avian egg. 2th Ed. John Wiley and Sons, Inc. Newyork

Rasyaf, M. 1991. Pengelolaan Penetasan. Cetakan ke-2. Kanisius, Yogyakarta.

Rasyaf, M., dan I. L. Amrullah. 1983. Peternak Kalkun. Penebar Swadaya, Jakarta

Riyanto, A. 2002. Sukses Menetaskan Telur Ayam. Cetakan ketiga. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Rukmana, R.2003. Ayam Buras. Kanisus.Yogyakarta

Saefuddin, 2000.Aberasi Kromosom dan Penurunan Daya Tetas Telur pada Dua Populasi Ayam Petelur. UPI, Bandung.

Sainsbury, D. 1984. Poultry Health of Management. 2th Edition, Granada Publishing.

Samosir , D.J. 1997. Ilmu Ternak Itik. Cetakan ke-1. Gramedia. Jakarta

Sarwono, B. 1994. Ayam Arab Petelur Unggul. Cetakan ke-1. Penebar Swadaya, Jakarta

Septiawan, 2007. Respon Produktivitas dan Reproduktivitas Ayam Kampung dengan Umur Induk yang Berbeda. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor

Septiawan, R. 2009. Seleksi Telur Ayam Bangkok.http://www. Central-bangkok-farm.com/2012/02/seleksi telurayambangkok.html(29 September 2012)

Setioko, A.R. 1998. Penetasan Telur Itik di Indonesia. Jurnal Peternakan. Balai Penelitian Ternak. Bogor

(50)

45

Sinabutar, M. 2009. Pengaruh frekuensi inseminasi buatan terhadap daya tetas telur itik lokal yang di inseminasi buatan dengan semen entok.[Skripsi]. Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan.

Sitman, K., H. Abplanalp., and R. A Frazer. 1996. Inbreeding In Depression Japanese Quil. Genetic. 54: 371—379

Srigandono, B. 1997. Produksi Unggas Air. Cetakan Ke-3. Gajah Mada Universitas Press, YogyakartT.

Steel, R. G. D and. J. H. Torrie. 1991. Prinsip and Prosedur Statistik. Biometri PT. Gramedia Pustaka Indonesia. Jakarta

Sudaryanti, 1990. Pentingnya Memperhatikan Berat Telur tetas Pada

Pemeliharaan Semi Intensif. Proc. Seminar dan Forum Peternak Unggas dan Aneka Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan , Ciawi-Bogor.

Sudaryani, T dan H. Santoso. 2001. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sudaryani, T. dan H. Santoso. 2001. Pembibitan Ayam Ras. Cetakan kelima. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suharno, B. dan Amri. 2002. Beternak Itik Secara Intensif. Cetakan ke-10. Penebar Swadaya, Jakarta

Sukardi dan M.Mufti, 1989. Penampilan Prestasi Ayam Buras di Kabupaten Banyumas dan Pengembanganya, Procendings, Seminar Nasional Tentang Unggas Lokal , Semarang.

Sulandari, S.,M.S.A. Zein., S. Paryanti, T. Sartika,M. Astuti,T. Widjastuti, E, Sudjana,S. Darana,. I. Setiawan dan D. Garnida .2007. Sumber Daya Genetik Ayam Lokal Indonesia. Keanekaragaman Sumber Daya Hayati Ayam Lokal Indonesia:Manfaat dan Potensi. Pusat Penelitian Bioligi Lembaga Pengetahuaan Indonesia , Jakarta. Hal: 45--67.

Suprijatna, E.,U. Atmomarsono, dan R. Kartasudjana. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Cetakan ke-2. Penebar Swadaya, Jakarta

Suyasa, N. 2006. Peningkatan Produktivitas Ayam Bali Dengan Pola Seleksi Produksi. Seminar Nasional Tehknologi Peternakan dan Veteriner. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. Denpasar

(51)

46

Hatchability, and Chick Body Weight From Broiler Breeders. J. Poultry Sci. 81:327--332.

Triharyanto, B. 2001. Beternak Ayam Arab. Kanisius, Yogyakarta.

Waluyo, S.P. 1988. Pengaruh Sex Rasio Pada Produktivitas dan Sifat Mengeram Ayam Kedu. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan Forum Peternakan Unggas dan Aneka Ternak II. Balai Penelitian Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Ciawi-Bogor

Warwick, E. J., J. Astuti dan W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak, Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Wibowo, Y.T dan Jafendi. 1994. Penentuan daya tetas dengan menggunakan metode gravitasi spesifik pada tingkat berat inisial ayam kampung yang berbeda. Buletin Peternakan, Vol. 18.

Wicaksono, D. 2013. Perbandingan Fertilitas Serta Susut Daya dan Bobot Tetas Ayam Kampung pada Penetasan Kombinasi. Skripsi. Jurusan Peternakan, fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

Wirawan, D dan Sitanggang, M. 2003. Meningkatkan Produktivitas Ayam Arab Petelur, Agromedia Pustaka.

Woodark, A.E, H. Ablanalp., W.O. Wilson and Vohra. 1973. Japanese Quail Husbandry In Laboratory (Coturnik- coturnik japonica). Departement of

Afian Scis University of California. Davis CA 95616

Figur

Tabel                                                                                                          Halaman

Tabel Halaman

p.8
Gambar 1. Ayam arab (Gallus turcicus) betina (A) dan jantan (B)                                 Sumber :Erlankga, 2010

Gambar 1.

Ayam arab (Gallus turcicus) betina (A) dan jantan (B) Sumber :Erlankga, 2010 p.23

Referensi

Memperbarui...