Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Investor Dalam Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Terkait Tindakan Ultra Vires

101  Download (1)

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum (SH)

Oleh :

Imam Machdi NIM: 109048000073

K O N S E N T R A S I H U K U M B I S N I S PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A

(2)

i

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum (SH)

Oleh :

Imam Machdi NIM: 109048000073

K O N S E N T R A S I H U K U M B I S N I S P R O G R A M S T U D I I L M U H U K U M

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH J A K A R T A

(3)

ii

diujikan dalam Sidang Munaqosah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam

Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 23 Januari 2014. Skripsi ini

telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum (SH) pada

Program Studi Ilmu Hukum.

Jakarta, 23 Januari 2014

(4)

iii

Dengan ini saya menyatakan :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah

satu syarat memperoleh gelar strata 1 (S1) di Universitas Islam Negeri ( UIN )

Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

semua dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri ( UIN ) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti hasil karya ini bukan hasil karya asli saya atau

merupakan hasil jiplak orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang

(5)

iv

Program Studi Ilmu Hukum, Konsentrasi Hukum Bisnis, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1435 H / 2014 M. x + 84 halaman + halaman lampiran.

Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui, memahami dan menganalisis dasar atau landasan perlindungan hukum terhadap Pihak Ketiga dalam hal Direksi Perseroan Terbatas melakukan tindakan ultra vires. Penulis ingin mengetahui bagaimana upaya yang dapat dilakukan terhadap pemulihan hak Pihak Ketiga atas tindakan ultra vires Direksi Perseroan Terbatas.

Penulis dalam menyusun skripsi ini menggunakan metode dalam kategori jenis Penelitian Hukum Normatif, dimana pemilihan pada jenis Penelitian Hukum Normatif didasarkan pada alasan karena perlindungan hukum terhadap Pihak Ketiga dalam hal Direksi Perseroan Terbatas melakukan tindakan wanprestasi (ultra vires) merupakan permasalahan kesenjangan hukum.

Hasil ini menunjukan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengatur perlindungan hak-hak para pemegang saham secara lebih terperinci akan tetapi perlindungan hukum terhadap pihak investor yang sebenarnya sangat berperan penting demi kelangsungan hidup perseroan terbatas tidak ada pengaturannya atau walaupun ada maka sifatnya kurang jelas atau tidak adanya pengaturan yang rinci yang mengatur perlindungan pihak investor atau pemegang saham.

Kata kunci : Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Investor dan Ultra Vires

Pembimbing : Prof. Dr. H. A. Salman Maggalatung, S.H,M.H H.M.Yasir,S.H,M.H

(6)

v

Alhamdulillah penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan limpahan rahmat, berkah dan nikmat-Nya. Shalawat serta salam

dipanjatkan kepada Nabi Muhammad SAW serta pengikutnya, sehingga pada

akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul

“PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PIHAK INVESTOR DALAM

PERTANGGUNGJAWABAN DIREKSI PERSEROAN TERBATAS TERKAIT

TINDAKAN ULTRA VIRES“ ini merupakan salah satu syarat guna memperoleh gelar

Sarjana Hukum pada Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan, bantuan dan

dorongan dari berbagai pihak, oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H,M.H,M.M. Selaku

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Dr. Djawahir Hejazziey, S.H,M.H dan Drs. Abu Tamrin,

S.H,M.Hum. Selaku ketua dan sekretaris Prodi Ilmu Hukum yang sudah

memberikan luang waktu, saran dan masukan terhadap kelancaran proses

penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Prof. Dr. H. A. Salman Maggalatung, S.H,M.H. Selaku dosen

Pembimbing 1 dan Bapak H. M. Yasir, S.H,M.H. Selaku dosen

Pembimbing 2 yang dengan sabar telah memberikan arahan dan masukan

serta bimbingan terhadap proses penyusunan skripsi ini.

4. Orang tua ayahanda Sumardi dan ibunda Dahlia yang penulis sayangi dan

hormati, terima kasih tak terhingga atas kasih sayang, do’a, bimbingan,

(7)

vi

perhatiannya kepada penulis, memberikan dorongan, dukungan dan do’a

dalam proses penyusunan skripsi ini.

7. Sahabat-sahabat prodi Ilmu Hukum (Gagat Rahino, Ariawan Zaki, Maulana Ichsan Setiadi, Sadam As’ad, Zakaria Zakim, Samsul, Farhan

Bestiardi, Roma Rizky, Arif Prasetiyo, Nauval, dkk) dan kawan-kawan

karib (Agung Jago, Wildan Nurasalim, Syarifudin dkk) khususnya prodi

Ilmu Hukum angkatan 2009 terima kasih yang tak terhingga yang sudah

membantu, motivasi, dan yang selalu menghibur penulis dikala penulis

sedang ada masalah.

8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi

ini, yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu-persatu,semoga Allah

SWT memberikan berkah dan karunia-Nya serta membalas kebaikan

mereka (Amin).

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karna itu

kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan

skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Wassalamu’alaikum Wr,Wb.

Jakarta, 23 Januari 2014

Penulis,

(8)

vii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Identifikasi Masalah……… ………... .8

C.Pembatasan dan Rumusan Masalah ... 8

D.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9

E. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu ... 10

F. Kerangka Teoridan Konseptual ... 11

G.Metode Penelitian………..17

H.Sistematika Penulisan………21

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEWENANGAN BERTINDAK PERSEROAN TERBATAS DAN ULTRA VIRES ... A.Pengertian Perseroan Terbatas dan Unsur-unsurnya……….23

B.Eksistensi Organ-organ Perseroan Terbatas……… 34

(9)

viii

B.Prinsip Dasar Perlindungan Hukum………... .52

C.Urgensi Perlindungan Hukum……….……….….58

BAB IV UPAYA REMEDIAL TERHADAP PIHAK INVESTOR DALAM PERSPETIF SISTEM PERTANGGUNGJAWABAN

PERSEROANTERBATAS ...

A.Sistem Pertanggungjawaban Dalam Perseroan ………... 65

B.Pelaksanaan Upaya Remedial Terhadap Pihak Investor ..………... .76

BAB V PENUTUP ...

A.Kesimpulan……… 85

B.Saran……… 88

(10)

1 A. Latar Belakang Masalah

Perekonomian yang diselenggarakan bedasarkan demokrasi ekonomi dengan

prinsip kebersamaan, efesiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,

kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi

nasional, perlu didukung oleh kelembagaan perekonomian yang kokoh dalam rangka

mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, untuk lebih meningkatkan

pembangunan perekonomian nasioanal dan sekaligus memberikan landasan yang

kokoh bagi dunia usaha dalam menghadapi perkembangan perekonomian dunia dan

kemajuan ilmu pegatahuan dan teknologi pada era globalisasi sekarang dan akan terus

berlanjut pada masa mendatang, juga perlu dukungan lembaga perseroan terbatas

yang dapat menjamin terselenggaranya iklim dunia usaha yang kondusif yang

tentunya digerakan dalam kerangka yang kokoh dari undang-undang yang mengatur

tentang perseroan terbatas.1

Perseroan terbatas (selanjutnya disebut dengan perseroan) sebagai salah satu

pilar pembangunan perekonomian nasional perlu diberikan landasan hukum yang

kuat untuk lebih memacu pembangunan nasional yang disusun sebagai usaha bersama

bedasarkan asas kekeluargaan, dengan tetap memunculkan prinsip-prinsip keadilan

1

(11)

dalam berusaha. Perseroan terbatas merupakan badan hukum yang didirikan

bedasarkan perjanjian untuk melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang

seluruhnya terbagi dalam saham, serta memenuhi persyaratan yang ditetapkan dengan

undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. Kegiatan usaha dari perseroan harus

sesuai dengan maksud dan tujuan didirikannya perseroan, serta tidak bertentangan

dengan peraturan perundang-undangan,ketertiban umum , dan atau kesusilaan.

Perseroan terbatas merupakan subjek hukum yang berhak menjadi pemegang

hak dan kewajiban, termasuk menjadi pemilik dari suatu benda atau kekayaan

tertentu. Hanya subjek hukum yang merupakan individu orang perorangan yang

dinilai memiliki kecakapan melakukan perbuatan hukum serta mempertahankan

haknya di dalam hukum, juga badan hukum yang merupakan artificial person, yaitu

sesuatu yang diciptakan oleh hukum untuk memenuhi perkembangan kebutuhan

kehidupan masyarakat. Ketentuan yang diatur dalam pasal 519 Kitab Undang-undang

Hukum Perdata (KUHAPdt) yang berbunyi “Ada barang yang bukan milik siapa pun,

barang lainnya adalah milik Negara, milik perekutuan atau milik perorangan”.2

Hukum positif di Indonesia pada pokoknya mengenal bentuk-bentuk

perusahaan seperti Firma (Fa), Commanditair Vennootschap (CV), Perseroan

Terbatas (PT) dan Koperasi. Akan tetapi bentuk-bentuk seperti itu, selain koperasi

yang memang didorong perkembangannya, maka yang banyak didirikan adalah

Perseroan Terbatas (PT). Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini frekuensi

2

(12)

pendirian perseroan terbatas mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini`dapat

disimak dari pandangan bahwa dari berbagai bentuk perusahaan yang ada di

Indonesia, seperti firma, persekutuan komanditer, koperasi dan lain sebagainya, maka

bentuk perusahaan perseroan terbatas merupakan bentuk yang paling lazim, bahkan

sering dikatakan bahwa perseroan terbatas merupakan bentuk perusahaan yang

dominan.3

Ditinjau dari aspek hukum perjanjian perbuatan mendirikan, memiliki dan

mengelola Perseroan Terbatas (PT) tidaklah merupakan perbuatan tunggal, melainkan

sejak bentuk badan hukum perusahaan dikenal sudah menjadi perbuatan yang

melibatkan lebih dari satu orang bahkan banyak orang. Di dalam PT terdapat berbagai

hubungan hukum yaitu antara pemegang saham yang satu dengan yang lain, antara

perseroan dengan direksi, komisaris, pegawai, dan antara perseroan dengan pihak

investor.

Keberadaan berbagai hubungan tersebut merupakan suatu indikator atau suatu

pertanda yang menunjukan bahwa PT sejak mulai dari perancangan pendiriannya,

tahap operasional sampai dengan berakhirnya jangka waktu untuk PT itu didirikan

sebenarnya penuh dengan berbagai perjanjian. Oleh karena itu dikemukakan bahwa

PT merupakan perwujudan dari perjanjian-perjanjian. Bertumpu pada uraian singkat

tersebut semakin jelaslah di dalam suatu PT terdapat suatu proses yang didukung oleh

berbagai perjanjian. Keberadaan perjanjian-perjanjian itu bersifat menghidupkan,

3

http://mhugm.wikidot.com, Irna Nurhayati, Ulasan Tentang Status Badan Hukum PerseroanTerbatas Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.

(13)

memelihara kelangsungan hidup PT yang bersangkutan, bahkan dapat juga

mengantarkan menuju pada proses yang mengakhiri eksistensi PT itu sendiri.

Perjanjian diantara para pemegang saham pada pokoknya bersifat menghidupkan dan

sebaliknya mengakhiri, sedangkan perjanjian dengan direksi, stake holder terutama

karyawan serta pihak investor mengandung sifat yang bertujuan memelihara

kelangsungan hidup PT.

Berkaitan dengan pengelolaan dan pemeliharaan dalam rangka kelangsungan

hidup atau operasional PT, maka pertama terlihat pentingnya kedudukan pemegang

saham termasuk Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan direksi, komisaris

termasuk pula para staf serta pegawai yang dipekerjakan pada PT dan tidak

ketinggalan pihak investor, misalnya perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh Direksi

sebagai wakil PT dengan pihak lain seperti perjanjian dagang. Seluruh komponen

yang telah disebutkan itu pada pokoknya memberikan kontribusi yang tidak kecil

berupa kewajiban-kewajiban dan peranan sesuai porsinya masing-masing dalam

rangka memajukan dan meningkatkan perkembangan PT. Oleh karena itu agar

tercipta suatu keseimbangan, maka dipandang perlu untuk memberikan perhatian

mengenai aspek perlindungan hukumnya.

Sehubungan dengan pandangan bahwa PT merupakan suatu bentuk yang paling

dikenal, banyak digunakan sebagai bentuk dominan dari perusahaan, maka

perkembangan pemanfaatan PT yang pesat ini memperoleh perhatian secara yuridis.

(14)

Pengaturan yang pada awalnya dituangkan dalam Kitab Undang-undang Hukum

Dagang (pasal 26 s/d pasal 56 KUHD) diganti dengan Undang-undang No. 1 Tahun

1995 tentang Perseroan Terbatas yang kemudian diganti dengan Undang-undang No.

40 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106) atau

yang disingkat dengan UUPT. Hal ini dapat dilihat antara lain dalam Pasal 75 ayat (1)

UUPT yang menentukan : “RUPS mempunyai segala wewenang yang tidak diberikan

kepada Direksi atau Komisaris, dalam batas yang ditentukan dalam Undang-undang

ini dan Anggaran Dasar”. Disamping itu juga hak-hak lain seperti hak untuk

memperoleh segala keterangan yang berkaitan dengan kepentingan perseroan dari

Direksi dan Komisaris. Sedangkan yang berkaitan dengan pengurusan perseroan,

Pasal 92 ayat (1) UUPT.4

Mengacu pada ketentuan yang terdapat dalam Pasal 92 ayat 1 UUPT tersebut

sebenarnya Direksi sudah dibatasi wewenangnya dimana Direksi dalam menjalan

pengurusan Perseroan harus tetap berpedoman dan tidak bertentangan dengan maksud

sertatujuan Perseroan sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar.

Jika dirinci, maka Direksi dalam menjalankan pengurusan Perseroan tunduk

pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Direksi dalam pengurusan harus memegang prinsip kehati-hatian dalam

bertindak,

4

(15)

2. Direksi harus mengutamakan kepentingan-kepentingan Perseroan dari pada

kepentingan pribadinya,

3. Tindakan-tindakan Direksi haruslah tetap sesuai dengan maksud dan tujuan

Perseroan yang tertuang dalam Anggaran Dasar. Apabila Direksi menyimpang

dari prinsip ini terutama terhadap yang ketiga, maka Direksi secara tidak

langsung telah menempatkan Perseroan dalam posisi melakukan tindakan yang

melampaui kewenangan yang telah diberikan. Dalam berbagai kepustakaan

hukum, tindakan ini disebut dengan ultra vires. Tindakan ultra vires itu dapat

menimbulkan kerugian pada Perseroan yang berarti kerugian pula bagi para

pemegang saham.

Di samping itu ultra vires juga dapat merugikan pihak investor. Sebagai contoh

dapat dikemukakan disini misalnya Direksi sebuah Perseroan Terbatas Perbankan

yang justru lebih banyak mengalirkan dana kepada pemegang saham sehingga

mengakibatkan PT Perbankan itu bangkrut atau dilikuidasi serta merugikan nasabah

penyimpan. Dalam hal ini timbul tidak sesuaianya antara norma hukum (dassollen)

pada satu sisi dengan kenyataannya dalam praktek (dassein) pada sisi lain. Dalam hal

ultra vires yang dilakukan Direksi merugikan pemegang saham, maka UUPT telah

menyediakan norma-norma hukum yang dapat dimanfaatkan dalam rangka

memberikan perlindungan hukum kepada pemegang saham baik yang mayoritas

maupun minoritas.

Norma hukum yang dimaksud adalah ketentuan yang mengatur hak pemegang

(16)

hak pemegang saham minoritas untuk meminta dilakukannya pemeriksaan atas

jalannya Perseroan. Akan tetapi apabila ultra vires yang dilakukan Direksi merugikan

pihak ketiga, maka pertanggungjawaban Direksi tidaklah jelas dan UUPT tidak

mengaturnya secara tegas atau tidak jelas mengaturnya. Bab VII Bagian Kesatu

UUPT mulai dari Pasal 92 sampai dengan Pasal 107 tidak dijumpai ketentuan yang

secara tegas mengatur mengenai pertangungjawaban tersebut.

Akan tetapi apabila mengacu pada ketentuan di dalam Pasal 97 ayat (1) yang

menentukan Direksi bertanggungjawab atas pengurusan perseroan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 92 ayat (1) bahwa Direksi menjalankan pengurusan perseroan

untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan, maka

pada satu sisi dapat dikemukakan terdapat pengaturan tanggungjawab direksi tetapi

pada sisi lain pengaturan itu tidak jelas dan lebih menekankan tanggungjawab

terhadap Perseroan.

Tidak jelasanya pengaturan tersebut merupakan suatu permasalahan hukum

yang harus dicarikan kejelasannya. Di samping dalam rangka keperluan memperjelas

hukum perseroan juga berkaitan dengan upaya menciptakan kepastian hukum dan

rasa aman kepada pihak investor yang sangat berperan dalam kemajuan Perseroan.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut penulis berkeinginan untuk

meneliti dan hasilnya dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul Perlindungan

Hukum Terhadap Pihak investor Dalam Pertanggungjawaban Direksi Perseroan

(17)

B. Identifikasi Masalah

1) Bagaimana pendirian suatu Perseroan Terbatas.

2) Apakah tujuan dari Perseroan Terbatas.

3) Bagaimanakah kewenangan direksi Perseroan Terbatas.

4) Apa peran RUPS terkait tindakan wanprestasi (ultra vires).

5) Bagaimanakah tanggungjawab direksi apabila melakukan tindakan ultra vires

terhadap pihak investor.

C. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Batasan masalah ini penulis membatasi permasalahan yang ada di dalam

pendahuluan yang berkaitan dengan latar belakang permasalahan dan Sehubungan

dengan maksud memperoleh hasil analisis yang fokus, maka terhadap permasalahan

di atas perlu diberikan batas-batas atau ruang lingkupnya.

Permasalahan yang pertama yang akan dibahas berkisar pada pertanyaan

bagimana hak-hak pihak pemegang saham, apakah terhadap tindakan ultra vires

Direksi PT terdapat dasar hukum untuk memberikan perlindungan bagi Pihak

investor. Di samping itu relevan pula dibahas adalah mengenai kondisi dasar hukum

tersebut apakah memadai dan dapat diterapkan, serta bagaimana pula bentuk-bentuk

perlindungan hukumnya.

Sehubungan dengan permasalahan yang kedua yakni berkisar mengenai bentuk

dan proses pelaksanaan perlindungan hukumnya bagi Pihak investor, apakah

(18)

mengingat direksi itu diangkat oleh dan bertanggungjawab kepada pemegang saham

melalui Rapat Umum Pemagang Saham.

2. Rumusan Masalah

Mengingat dari uraian mengenai latar belakang masalah dan batasan masalah

diatas dapatlah dirumuskan masalah sebagai berikut:

a. Apa dasar perlindungan hukum terhadap Pihak investor dalam hal Direksi

Perseroan Terbatas melakukan tindakan ultra vires?

b. Bagaimanakah upaya pemulihan hak-hak Pihak investor atas tindakan ultra vires

Direksi Perseroan Terbatas?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui, memahami dan menganalisis dasar-dasar atau landasan

perlindungan hukum terhadap Pihak investor dalam hal Direksi Perseroan

Terbatas melakukan tindakan ultra vires

b. Untuk mengetahui dan menganalisis upaya yang dapat dilakukan terhadap

pemulihan hak Pihak investor atas tindakan ultra vires Direksi Perseroan

Terbatas.

2. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis bagi

pengembangan ilmu hukum khususnya mengenai Perseroan Terbatas dalam berbagai

(19)

Secara praktis hasil penelitian diharapkan dapat menjadi pedoman yang

komprehensif bagi semua pihak yang terkait pendirian, pemilikan, pengelolaan dan

pihak-pihak yang berhubungan atau mengadakan transaksi dengan Perseroan

Terbatas dalam pemecahan masalah tanggungjawab terhadap pihak investor berkaitan

dengan tindakan ultra vires.

E. Tinjauan (review) Kajian Terdahulu

Penelitian atau pembuatan skripsi, terkadang ada tema yang berkaitan dengan

peneltian yang kita kerjakan sekalipun arah dan tujuan yang diteliti berbeda. Dari

penelitian ini, penulis menemukan beberapa sumber kajian lain yang lebih dahulu

membahas terkait dengan tindakan Ultra Vires, diantaranya adalah:

1. Skripsi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung 2012, yang disusun

oleh David Yacob Maruli, dengan judul “Penerapan Doktrin Ultra Vires

Terhadap Direksi Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas Ditinjau Dari UUD No

40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dan UUD No 37 Tahun 2004

Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang”. Penulis

membahas terkait bagaimana direksi bertanggungjawab sepenuhnya dalam

kepailitan Perseroan Terbatas akibat tindakan ultra vires.

Penelitian ini ditinjau dalam berbagai aspek hukum Perdata terkait dengan

sistem dalam perjanjian dan pertanggungjawaban sebuah perseroan terbatas dengan

subtansi eksistensinya hukum yang mengkaji tentang adanya kejahatan dalam suatu

perjanjian yang dilakukan oleh para pihak yang melakukan perjanjian tersebut.

(20)

Perlindungan Hukum Terhadap Pihak investor Dalam Pertanggungjawaban

Direksi Perseroa Terbatas Terkait tindakan ultra vires.

F. Kerangka Teori dan Konseptual 1. Kerangka Teori

Peningkatan pendirian perseroan dapat ditandai terjadinya hampir bersamaan

dengan mulai meningkatnya aktivitas perkenomian Indonesia setelah pertengahan

dasawarsa 1960an. Disusul dengan mengalirnya investasi asing yang masuk

Indonesia dan juga bangkitnya gairah para pemilik modal nasional untuk

menanamkan modalnya baik secara mandiri maupun berpatungan dengan investor

asing. Peningkatan ini berdampak positif terhadap perkembangan pendirian PT.

Di samping itu turut pula memicu peningkatan pendirian PT di Indonesia adalah

semakin berkembangnya aspek yuridis berupa penyempurnaan pengaturan terhadap

bentuk perusahaan ini yang dimulai dengan dibuatnya Undang-undang No. 4 Tahun

1971 tentang Perubahan dan Penambahan atas Ketentuan pasal 54 KUHD.

Dilanjutkan dengan Undang-undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas

yang menggantikan pasal 21 sampai dengan Pasal 56 KUHD. Terakhir

undang-undang ini diganti dengan Undang-undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan

Terbatas. Perkembangan pengaturan tersebut secara tidak langsung menunjukan

perkembangan pemahaman mengenai PT sehingga mengakibatkan banyak yang

memilih bentuk perusahaan ini.

Elemen-elemen di atas maka yang sangat perlu dicermati khususnya karena

(21)

yaitu perjanjian yang menurut Prof. Subekti merupakan suatu peristiwa dimana

seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk

melaksanakan suatu hal.5

Apabila dicermati dalam kegiatan-kegiatan mendirikan, memiliki dan mengurus

Perseroan Terbatas ternyata terdapat perjanjian-perjanjian. Pada saat para pendiri

mengadakan kesepakatan mendirikan PT terdapat perjanjian yang kemudian

dituangkan dalam akte pendirian dan anggaran dasar. Sehubungan pemilikan saham

yang sebenarnya berarti pemilikan PT juga dijumpai adanya perjanjian, misalnya

perjanjian jual-beli saham.

Berdasarkan asas Pacta Sun Servanda yang berarti perjanjian harus ditaati para

pihak yang melakukan perjanjian seperti terkandung dalam Pasal 1338 Kitab

Undang-undang Hukum Perdata, sepanjang perjanjian itu tidak bertentangan dengan

undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum tercermin, maka perjanjian itu

berlaku seperti undang-undang atau mengikat para pihak sehingga karena itu harus

ditaati.6

Disamping asas itikad baik, asas kepastian hukum yang menunjuk kepada

berlakunya hukum yang jelas tetap konsisten dan konsekuen mengajarkan agar

5

R. Subekti, 1995, Aneka Perjanjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 7

6

(22)

memberikan perlindungan terhadap hak-hak pihak investor yang sangat berperan

dalam menunjang perkembangan perseroan.7

2. Kerangka Konseptual

Suatu kerangka konseptual merupakan kerangka yang menggambarkan

hubungan antara konsep-konsep yang ingin diteliti. Suatu konsep bukan merupakan

gejala yang akan diteliti tetapi merupakan abstraksi dari gejala tersebut. Gejala

biasanya dinamakan fakta, sedangkan konsep merupakan uraian merupakan

hubungan-hubungan dalam fakta tersebut.8

Penulisan skripsi ini menggunakan definisi-definisi sebagai berikut:

a. Perlindungan Hukum

Perlindungan Hukum adalah penyempitan arti dari perlindungan, dalam hal ini

hanya perlindungan oleh hukum saja. Perlindungan yang diberikan oleh hukum,

terkait pula dengan adanya hak dan kewajiban, dalam hal ini yang dimiliki oleh

manusia sebagai subyek hukum dalam interaksinya dengan sesama manusia serta

lingkungannya. Sebagai subyek hukum manusia memiliki hak dan kewajiban untuk

melakukan suatu tindakan hukum.9

7

Raimond Flora Lamandesa, 2008, Penegakan Hukum, WWW.Scribb.com ,20/07/2013,22:25 WIB, h.1

8

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta:UI Press,1986), h.132.

9

(23)

b. Pihak Investor

Berkaitan dengan pengertian perjanjian menurut Prof. Wirjono Projodjodikoro

perjanjian itu adalah suatu perhubungan hukum mengenai harta benda antara dua

pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan

sesuatu hal dan untuk tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak atas

pelaksanaan janji itu.10 Dapat disimpulkan dari pengertian tersebut dengan adanya

pihak lain yaitu pihak investor (pihak ketiga) yang berhak atas pelaksanaan

perjanjian.

c. Pertanggungjawaban

Terkait dengan pertanggungjawaban dalam judul skripsi ini yakni perlakuan

tindakan atas kesalahan yang dilakukan oleh direksi perseroan terbatas dalam

tindakan ultra vires.

d. Perseroan Terbatas

K.R.M.T Tirtodiningrat mengemukakan bahwa perseroan terbatas adalah suatu persekutuan dengan modal tertentu yang dibagi-bagikan dalam beberapa sero atau saham, dimana tiap-tiap anggota mengambil bagian secara memiliki satu atau beberapa sero, sedang pemegang-pemegang sero bertanggungjawab atas pinjaman-pinjaman dari perseroan terbatas hanya hingga jumlah yang tersebut pada sero yang dimiliki itu.11

Ditambahkan dengan pandangan bahwa Perseroan Terbatas atau yang disingkat dengan PT, terjadi dari dua kata yaitu perseroan dan terbatas. Perseroan ialah persekutuan yang modalnya terdiri dari sero-sero atau saham-saham, sedangkan

kata “terbatas” itu tertuju pada tanggungjawab pemegang saham atau persero yang

10

Syarif Basir, 2009, Aspek Hukum Suatu Perjanjian, dalam: Newsletter, Edisi XI, h. 1

11

K.R.M.T. Tirtodiningrat, 1963, Ihtisar Hukum Perdata dan Hukum Dagang,

(24)

bersifat “terbatas” pada jumlah nominal saham-saham yang dimilikinya istilah

“perseroan terbatas” lebih tepat dari pada istilah “Naamloze Vennootschap”, sebab

arti istilah “perseroan terbatas” lebih jelas dan tepat menggambarkan tentang keadaan

pada saat itu.12

e. Ultra Vires

Stephen H. Gifis mengemukakan seperti dikutip Munir Fuady pada pokoknya

menyatakan hukum disetiap negara tanpa melihat ke dalam sistem Perseroan tunduk

umumnya menghadapi masalah yuridis yang disebut dengan “pelampauan

kewenangan” (ultra vires) dari suatu perseroan.13

Terminologi ultra vires dipakai khususnya terhadap tindakan perseroan yang

melebihi kekuasaannya sebagaimana diberikan oleh Anggaran Dasarnya atau oleh

peraturan yang melandasi pembentukan perseroan tersebut. Pandangan tradisional

mengenai utra vires pada pokoknya memandang bahwa tindakan itu dapat

menimbulkan konsekuensi yuridis dimana tindakan tersebut batal demi hukum (null

and void) dan karena itu maka tindakan yang diklasifikan ultra vires itu tidak dapat

diratifikasi atau tidak dapat disahkan oleh perseroan melalui RUPS.

Pandangan secara tradisional juga menyediakan upaya-upaya hukum yang

merupakan konsekuensi yuridis antara lain sebagai berikut:14

12

H.M.N. Purwosutjipto, 1984, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia 2 (Bentuk Bentuk Perusahaan), Djambatan, Jakarta, h. 89.

13

Munir Fuady, 2002, Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corporate Law dan Eksistensinya DalamHukum Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,h. 110.

14

(25)

a. Pihak kreditur mempunyai hak untuk membawa gugatan untuk memaksa perseroan untuk tidak melaksanakan kontrak ultra vires tersebut jika kreditur dapat membuktikan bahwa dengan kontrak yang ultra vires tersebut dapat mengakibatkan tidak cukupnya aset perseroan untuk membayar utang-utangnya, b. Pihak perseroan dapat mengajukan gugatan terhadap direksi atau pejabat

perseroan yang melakukan perbuatan yang tergolong ultra vires tersebut,

c. Atas nama kepentingan umum, jaksa dapat melakukan gugatan yang disebut dengan action in quo warranto untuk membubarkan perseroan.

Pandangan mengenai konsekuensi yuridis dari tindakan perseroan yang ultra

vires itu ternyata juga mengalami perkembangan dan dalam perkembangan tersebut

pada pokoknya dikemukakan, sebagai akibat dari berbagai modifikasi terhadap

konsepsi ultra vires, telah berkembang beberapa akibat hukum yang mungkin timbul

dari adanya ultra vires antara lain tanggungjawab pribadi. Tidak selamanya ultra

vires mengakibatkan pembebanan tanggungjawab pribadi dari direksi atau petugas

yang melakukan tindakan ultra vires tersebut.

Terlepas dari persoalan mekanisme tersebut menurut Teori Keadilan Distributif

yaitu keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap orang jatah menurut jasanya,

dengan ini dapat dikemukakan bahwa pihak ketiga merupakan pihak yang berjasa

dalam hal ini sebesar nilai transaksi. Sehingga berdasarkan teori ini harus diberikan

keadilan, dalam pengertian hak-haknya dapat dipulihkan.15

Dari uraian-uraian yang telah disajikan mengenai konsep yang berkaitan dengan

judul skripsi ini pada intinya menjelaskan pada satu hal yang sangat penting bahwa

pihak Perseroan Terbatas tetap bertanggungjawab terhadap kerugian-kerugian yang

dialami oleh pihak investor, dan kendati pun masih mengandung beberapa kekaburan

15

(26)

pada berbagai aspeknya, akan tetapi uraian-uraian tersebut dapat digali lebih dalam

lagi untuk menemukan penjelasan atas permasalahan yang diangkat melalui skripsi

ini.

G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Buku Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Skripsi Program Studi Ilmu

Hukum dijelaskan Ilmu Hukum mengenal dua jenis penelitian yakni Penelitian

Hukum Normatif dan Penelitian Hukum Empiris. Usulan Skripsi ini termasuk dalam

kategori jenis Penelitian Hukum Normatif.16

Pemilihan pada jenis penelitian di atas didasarkan pada alasan karena

Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Investor Terhadap Diresksi Perseroan Terbatas

Melakukan Tindakan ultra vires merupakan permasalahan kesenjangan hukum.

Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengatur

perlindungan hak-hak para pemegang saham secara lebih terperinci. Sedangkan

perlindungan hukum terhadap pihak ketiga yang sebenarnya sangat berperan demi

kelangsungan hidup PT tidak ada pengaturannya atau walaupun ada maka sifatnya

kurang jelas. Jadi disinilah terjadi kesenjangan dalam norma hukum.

16

(27)

2. Pendekatan Masalah

Pembuatan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian hukum normatif

pada umumnya mengenal 7 jenis pendekatan,dalam hal ini penulis menggunakan

penelitian pendekatan-pendekatan masalah sebagai berikut:17

a. Pendekatan Kasus (The Case Approach)

b. Pendekatan Perundang-undangan (The Statue Approach)

c. Pendekatan Fakta (The Fact Approach)

d. Pendekatan Analisis dan Konsep Hukum (Analitical &Conseptual Approach)

e. Pendekatan Frasa (Words & Phrase Approach),

f. Pendekatan Sejarah (Historical Approach),

g. Pendekatan Perbandingan (Comparative Approach). Sejalan dengan tujuan dan

rumusan masalahnya, Usulan penelitian ini menggunakan 3 jenis pendekatan

yang terdiri dari:

1. Pendekatan Perundang-undangan (The Statute Approach)

2. Pendekatan Analisis Konsep Hukum (The Analitical & Conceptual Approach)

3. Pendekatan Perbandingan Hukum (comparatif Approach) Pendekatan

Perundang-undangan bertujuan mengalisis peraturan perundangan dalam hal ini

Undang-undang Perseroan Terbatas terutama yang berkaitan dengan kekosongan

atau kekaburan norma hukum yang mengatur tentang perlindungan hukum

terhadap pihak investor.

17

(28)

Sedangkan Pendekatan Analisis Konsep Hukum pada pokoknya mengedepankan

analisis-analisis terhadap konsep-konsep hukum. Direksi PT, pihak investor dan ultra

vires merupakan konsep-konsep hukum. Analisis terhadap konsep-konsep ini

ditekankan pengertian, hak dan kewajiban (Direksi, PT, dan Pihak investor), serta

tidak ketinggalan adalah mengenai ruang lingkup dan perkembangan ultra vires.

Akan tetapi karena bahan-bahan yang dianalisis juga berkaitan dengan bahan-bahan

yang diperoleh dari sistem hukum yang berlaku di negara lain, maka tidak tertutup

kemungkinannya, usulan penelitian ini juga menggunakan Pendekatan Perbandingan

(The Comparative Approach).

3. Bahan Hukum

Penelitian hukum normatif menggunakan Bahan Hukum Primer dan Bahan

Hukum Sekunder. Bahan Hukum Primer dalam hal ini terdiri dari Asas Itikad Baik,

Asas Pacta Sun Servanda dan norma-norma hukum yang tersusun terutama dalam

Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan peraturan

pelaksanaannya,antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1998 tentang

Nama Perseroan Terbatas. Sedangkan Bahan Hukum Sekunder meliputi buku teks

hukum (legal text book), Jurnal hukum,karya tulis hukum yang memuat pandangan

ahli hukum baik dalam bentuk buku maupun yang termuat dalam media masa,kamus

hukum, ensiklopedi hukum. Dalam penelitian ini digunakan juga bahan-bahan hukum

yang diperoleh dari media internet yang berkembang dengan pesat dewasa ini seperti

(29)

4. Bahan Hukum Penunjang Data

Di samping bahan-bahan hukum baik primer maupun sekunder maka dalam

penelitian ini digunakan pula bahan-bahan yang diperoleh dari praktisi hukum dalam

ini Notaris yang berpengalaman atau pihak lain yang memahami permasalahan

mengenai tatacara menyelesaikan tanggungjawab Perseroan Terbatas terhadap pihak

ketiga. Bahan Hukum Penunjang dapat diperoleh melalui penelusuran jaringan

internet yang menyediakan fasilitas informasi yang relevan dengan topik skripsi ini.

5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum atau Data

Penelitian ini tidak tertutup kemungkinan diperoleh bahan yang sudah tersusun

dengan rapi baik berupa buku, laporan maupun bentuk-bentuk lain yang bersifat

tertulis dan terhadap bahan-bahan seperti ini tetap diterapkan cardsystem yang

ditekankan pada pencatan mengenai informasi yang relevan dengan topik

permasalahan.

6. Teknik Analisis Bahan Hukum atau Data

Untuk menganalisis data-data yang telah diterapkan teknik-teknik sebagai

berikut:

a. Teknik Interpretasi diterapkan terhadap norma-norma hukum yang tidak jelas

rumusannya sehingga harus ditafsirkan untuk memperoleh pemahaman yang

jelas dan dapat diaplikasikan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.

b. Teknik evaluasi yang berupa penilaian mengenai tepat atau tidak tepatnya suatu

(30)

diterapkan dalam penelitian ini untuk memperoleh hasil yang benar-benar sesuai

dengan topik yang dibahas.

c. Teknik argumentasi atau alasan-alasan yang merupakan hasil penalaran setelah

dilakukannya teknik evaluasi. Dalam pembahasan masalah penelitian ini sedapat

mungkin akan dilakukan teknik argumentasi menurut kemampuan yang serba

terbatas.

d. Teknik Sistematisasi yang merupakan upaya mencari hubungan suatu norma

hukum antara peraturan perundang-undangan yang sederajat maupun antara yang

tidak sederajat.

e. Teknik Deskripsi merupakan teknik yang paling mendasar dan bersifat mutlak.

Hal ini mengandung pengertian, teknik ini harus dilaksanakan dalam

pembahasan hukum agar pembahasan dapat dipahami oleh orang lain. Dalam

penelitian ini berdasarkan Teknik Deskripsi, isu-isu hukum digambarkan atau

diuraikan secara lengkap dan jelas sehingga dapat diketahui duduk persoalannya

dan dapat ditentukan arahnya untuk mencapai suatu solusi.

H. Sistematika Penulisan

Penyajian skripsi ini akan disusun kedalam 5 (lima) bab. Dimana masing-masing

bab akan terdiri dari beberapa sub-bab agar pembahasan yang dibahas dapat

menjawab permasalahan-permasalahan yang diteliti secara jelas dan komprehensif.

Adapun urutan dan tata letak setiap bab dan pokok pembahasannya adalah

(31)

1. Bab pertama dari penelitian ini adalah Bab Pendahuluan. Bab ini membahas

tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian, metode penelitian, serta sistematika penelitian.

2. Bab kedua dari penelitian ini berkenaan dengan tinjauan umum tentang

perseroan terbatas serta kewenangan bertindak perseroan terbatas yang mengenai

isi dari eksistensi organ-organ perseroan terbatas dan kompetensinya.

3. Bab investor dari penelitian ini berisikan peran hukum untuk melindungi hak

pihak investor dari tindakan ultra vires yang dilakukan oleh direksi perseroan

terbatas.

4. Bab keempat dari penelitian ini berisikan tentang upaya perseroan terbatas

melekukan remedial terhadap pihak investor dalam sistem pertanggungjawaban

perseroan terbatas terkait tindakan ultra vires.

5. Bab kelima berisikan kesimpulan dan saran terkait dengan penelitian yang

(32)

23

A. Pengertian Perseroan Terbatas dan Unsur-unsurnya

Menurut Achmad Ichsan dalam pengertian perseroan “naamloos” merupakan

suatu sebutan pada zaman Hindia Belanda untuk perseroan yang diatur dalam Kitab

Undang-undang Hukum Dagang Pasal 36 s/d 56. Sebutan “naamloos” dalam arti

tanpa nama ini disebabkan karena N.V itu tidak mempunyai nama seperti firma dan

pada umumnya juga tidak menggunakan salah satu nama dari anggota perseroannya

identifikasinya terletak dalam obyek perusahaan yang menjadi tujuan usahanya

seperti Perusahaan Dagang Beras.1

Hal ini dapat ditelusuri dari banyaknya definisi yang diberikan oleh para sarjana yakni M.H. Tirta Amidjaja mengemukakan bahwa perseroan terbatas itu ialah perseroan yang didirikan untuk menjalankan suatu perusahaan dengan modal yang tertentu, yang terbagi atas saham-saham dan tiap-tiap persero pemegang saham turut serta didalamnya sebanyak satu saham atau lebih dengan tidak bertanggungjawab sendiri untuk persetujuan-persetujuan perseroan itu.2

K.R.M.T Tirtodiningrat mengemukakan bahwa perseroan terbatas adalah suatu persekutuan dengan modal tertentu yang dibagi-bagikan dalam beberapa sero atau saham, dimana tiap-tiap anggota mengambil bagian secara memiliki satu atau beberapa sero, sedang pemegang-pemegang sero bertanggungjawab atas

1

Achmad Ichsan, 1983, Hukum Dagang; Lembaga Perserikatan, Surat-Surat Berharga, Aturan-Aturan Angkutan, Pradnya Paramitha, Jakarta, h. 134.

2

(33)

pinjaman dari perseroan terbatas hanya hingga jumlah yang tersebut pada sero yang dimiliki itu.3

Pandangan-pandangan di atas secara tidak langsung menunjukkan perjalanan

sejarah dari istilah atau nama yang dipergunakan secara khusus dan resmi untuk

menggambarkan perseroan yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang

(KUHD) mulai dari Pasal 36 sampai dengan Pasal 56. Pada intinya istilah Perseroan

Terbatas tidaklah merupakan terjemahan dari istilah Naamloze Vennootschap, namun

demikian istilah Perseroan Terbatas disamping merupakan istilah yang dimaknai dari

perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia, istilah tersebut lebih relevan dan dapat

secara lebih tepat mendeskripsikan bentuk dan sifat perseroan yang diatur dalam

pasal-pasal KUHD itu.

Selain itu Prof. Soekardono mengemukakan bahwa pada dasarnya istilah

tersebut lebih sesuai dengan sifat-sifat bentuk perusahaan yang dijalankan.4

Ditambahkan dengan pandangan bahwa Perseroan Terbatas atau yang disingkat dengan PT, terjadi dari dua kata yaitu perseroan dan terbatas. Perseroan ialah persekutuan yang modalnya terdiri dari sero-sero atau saham-saham, sedangkan

kata “terbatas” itu tertuju pada tanggungjawab pemegang saham atau persero yang

bersifat “terbatas” pada jumlah nominal saham-saham yang dimilikinya istilah

“perseroan terbatas” lebih tepat dari pada istilah “Naamloze Vennootschap”, sebab

arti istilah “perseroan terbatas” lebih jelas dan tepat menggambarkan tentang keadaan

pada saat itu.5

(34)

Sehubungan dengan penjelasan di atas maka makna dari istilah Perseroan

Terbatas menjadi semakin jelas dan pada akhirnya istilah tersebut dipergunakan

sebagai istilah resmi dalam berbagai keperluan baik yang menyangkut dokumen

notaris maupun dokumen-dokumen negara seperti Berita Negara Republik Indonesia

(BNRI) dan Tambahan Berita Negara Republik Indonesia (TBNRI).

Kendati pun pengaturan mengenai Perseroan Terbatas yang dituangkan dalam

KUHD mulai dari Pasal 26 sampai dengan Pasal 56 secara berturut-turut sudah

digantikan dengan dikeluarkannya undang No. 1 Tahun 1995 dan

Undang-undang No. 47 Tahun 2007, penggunaan istilah Perseroan Terbatas masih tetap

dipertahankan. Disamping menggunakan Perseroan Terbatas sebagai nama atau titel,

kedua undang-undang tersebut secara khusus juga mencantumkan pengertian atau

definisi mengenai apa yang dimaksudkan dengan Perseroan Terbatas. Pengertian

tersebut diatur dalam Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 47 Tahun 2007 yang

menentukan Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan

hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian,

melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham

dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang ini serta peraturan

pelaksanaannya.

Dari pengertian yang ditentukan secara yuridis di atas dapatlah diuraikan adanya

5 (lima) unsur yang pada pokoknya saling berkaitan sebagai berikut:

1. Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal,

(35)

3. Melakukan kegiatan usaha,

4. Modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham,

5. Memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang ini serta

peraturan pelaksanaannya.

Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal

Pernyataan yang dituangkan dalam Undang-undang No. 47 Tahun 2007 tentang

Perseroan Terbatas (UUPT) bahwa Perseroan Terbatas (PT) adalah badan hukum

yang merupakan persekutuan modal mengandung dua hal yakni; pertama,

memberikan ketegasan dan kedua, UUPT tidak menentukan secara rinci penegasan

Perseroan Terbatas sebagai badan hukum persekutuan modal. Mengenai hal yang

pertama, hendaknya patut diberikan apresiasi yang tinggi karena dengan

ditegaskannya bahwa Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan

persekutuan modal, berarti UUPT telah memberikan suatu kepastian hukum

mengenai status hukum Perseroan Terbatas.

Di samping itu penegasan di atas merupakan langkah maju apabila

dibandingkan terutama dengan KUHD yang tidak menentukan secara tegas tentang

status Perseroan Terbatas sebagai badan hukum. Berkaitan dengan hal yang kedua,

perihal badan hukum dan persekutuan modal merupakan pilar-pilar penting bagi

Perseroan Terbatas yang menimbulkan keingintahuan untuk mendalaminya lebih jauh

lagi, akan tetapi UUPT justru UUPT tidak mengatur secara terperinci mengenai

pengertian istilah tersebut. Oleh karena itu pemahamannya dilakukan melalui

(36)

Menurut R. Subekti badan hukum adalah suatu perkumpulan/organisasi yang oleh hukum diperlakukan seperti seorang manusia, yaitu sebagai pengemban hak-hak dan kewajiban-kewajiban, dapat memiliki kekayaan, dapat menggugat dan digugat dimuka pengadilan.6 Selanjutnya ditambahkan perseroan terbatas atau NV sebagai badan hukum atau rechtspersoon berarti bahwa perseroan terbatas mempunyai suatu kekayaan tersendiri, terlepas dari kekayaan para pesero atau pengurusnya.7

Perseroan Terbatas didirikan bedasarkan sebuah perjanjian sebagaimana telah

dikutip pada halaman terdahulu pada pokoknya merupakan suatu akumulasi atau

kumpulan dari berbagai perjanjian yang dibuat diantara berbagai pihak terutama

dengan para pemegang saham, direksi, tenaga kerja, para suplier dan pelanggan. Jadi

sebenarnya PT itu penuh dengan berbagai perjanjian. Diantara tahap-tahap pendirian

(konstruksi), beroperasi (operasional) dan berakhirnya jangka waktu keberadaan

Perseroan Terbatas (terminasi), maka keberadaan berbagai perjanjian itu memang

sangat dominan ketika PT berada pada tahap operasional.

Akan tetapi hal tersebut tidak berarti bahwa perjanjian tidak terdapat pada

tahap-tahap yang lainnya. Keberadaan perjanjian dalam Perseroan Terbatas

sebenarnya sudah dimulai dan berperan ketika PT itu dirancang pendiriannya oleh

dua atau lebih calon pendiri. Kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan melalui

perjanjian tersebut kemudian dituangkan ke dalam anggaran dasar PT yang

bersangkutan.

6

R. Subekti, 1973, Kamus Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, h. 14.

7

(37)

Pasal 7 ayat (1) UUPT menentukan Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau

lebih dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan

penafsiran secara gramatikal, ketentuan tersebut mengandung pengertian bahwa

sebelum datang menghadap dihadapan notaris, para pendiri sebenarnya sudah

mempersiapkan kesepakatan-kesepakan yang dihasilkan dari perjanjian pendahuluan

diantara mereka sebelumnya. Adanya perjanjian pendahuluan yang sifatnya

konsensual atau suatu perjanjian yang didasarkan pada kata sepakat itu dan juga akta

notaris yang juga berisi anggran dasar sebagai tonggak awal berdirinya suatu

Perseroan Terbatas tersebut keduanya semakin memperlihatkan dengan pasti bahwa

Peseroan Terbatas didirikan berdasarkan perjanjian. Oleh karena itu dapat

dikemukakan pendirian dan eksistensinya PT sebenarnya merupakan implementasi

atau perwujudan dari perjanjian terutama yang terjadi diantara sesama pendiri.

Berkaitan dengan unsur di atas Pasal 2 UUPT menentukan Perseroan harus

mempunyai maksud dan tujuan serta kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum, dan kesusilaan. Pertama

yang patut dikemukakan pasal ini pada pokoknya merupakan suatu konsekuensi logis

dari pemikiran teoritis bahwa pendirian Perseroan Terbatas didasarkan pada

perjanjian dan sebagai hasil implementasi dari perjanjian. Oleh karena itu segala

sesuatunya dan dalam hal ini menyangkut maksud, tujuan serta kegiatan usaha

perseroan tidak boleh bertentangan dengan ketiga batasan sebagaimana diatur dalam

(38)

Perlu pula dikemukakan bahwa untuk melakukan kegiatan usaha merupakan

kewajiban bagi Perseroan Terbatas. Kewajiban melaksanakan kegiatan usaha yang

dibebankan oleh Pasal 2 UUPT disamping karena dirumuskan dengan kata “harus”

sebagai pernyataan perintah yang terdapat dalam pasal itu sendiri, keharusan

melaksanakannya juga dikaitkan kewajiban mengisi format isian untuk memperoleh

Keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum Perseroan (Pasal 9 ayat (1)

Apabila tidak melaksanakan pasal ini maka berlakulah Pasal 10 ayat (4) dimana

sebagai sanksinya Menteri langsung memberitahukan penolakan pengesahan. Secara

ringkas dapatlah diuraikan mengingat Perseroan Terbatas juga merupakan wahana

bisnis, maka melaksanakan kegiatan usaha merupakan aktivitas yang pokok dan

mutlak sifatnya.

Berkaitan uraian mengenai dengan modal perseroan di atas perlu dijelaskan

pengertian tersebut murni merupakan pengertian yuridis tidak ada hubungannya

dengan pengertian ekonomi dan perihal modal perseroan itu praktis selalu

dicantumkan dalam anggaran dasar.8 Pendapat ini semakin relevan karena dalam

UUPT memang telah ditentukan kewajiban untuk mencantum jumlah modal dasar,

modal ditempatkan, dan modal disetor (Pasal 9 ayat 1 huruf d). Apabila ketentuan ini

tidak dipenuhi, maka Menteri dapat melakukan penolakan (Pasal 10 ayat 4). Dari

ketentuan Pasal 31 ayat (1) dapat diketahui modal perseroan terdiri atas seluruh nilai

8

(39)

nominal saham. Ketentuan ini sejalan dengan pendapat bahwa modal Perseroan

Terbatas itu selalu dibagi ke dalam saham-saham.9 Modal perseroan yang kemudian

dibagi ke dalam saham-saham tersebut adalah modal dasar sesuai dengan klasifikasi

saham menurut UUPT.

Sehubungan hal diatas dengan klasifikasi saham, Pasal 48 ayat (1) UUPT

menentukan, saham Perseroan dikeluarkan atas nama pemiliknya. Dalam Penjelasan

pasal ini dinyatakan, yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah Perseroan hanya

diperkenankan mengeluarkan saham atas nama pemiliknya dan Perseroan tidak boleh

mengeluarkan saham atas tunjuk. Sedangkan Pasal 53 ayat (1) UUPT menentukan,

anggaran dasar menetapkan 1(satu) klasifikasi saham atau lebih. Pengertian yang

terkandung dalam ketentuan-ketentuan UUPT tersebut menunjukkan seluruh saham

yang dikeluarkan Perseroan merupakan saham atas nama, tidak ada jenis saham

lainya yang boleh dikeluarkan. Jadi setiap saham yang dikeluarkan Perseroan itu

menurut UUPT sebenarnya sama jenisnya dan hanya berbeda klasifikasinya seperti

yang ditentukan dalam Pasal 53 ayat (4) UUPT antara lain:

a. Selanjutnya berdasarkan Pasal 48 ayat (1), Pasal 53 ayat (1) dan ayat (4), Perseroan hanya diperkenankan mengeluarkan saham atas nama saham dengan hak suara atau tanpa hak suara

b. Saham dengan hak khusus untuk mencalonkan anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris

c. Saham yang setelah jangka waktu tertentu ditarik kembali atau ditukar dengan klasifikasi saham lain

d. Saham yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima dividen lebih dahulu dari pemegang saham klasifikasi lain atas pembagian dividen secara kumulatif atau nonkumulatif

9

(40)

e. Saham yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima lebih dahulu dari pemegang saham klasifikasi lain atas pembagian sisa kekayaan Perseroan dalam likuidasi.

Dengan satu klasifikasi atau lebih, dimana menurut Penjelasan Pasal 53 ayat

(4), klasifikasi saham tidak berdiri sendiri tetapi dapat merupakan gabungan dua atau

lebih klasifikasi. Uraian tersebut di atas memperlihatkan kedudukan modal dalam

perseroan dan sehubungan dengan pentingnya peranan modal disetor dalam

menunjang operasional Perseroan, maka permasalahan mengenai penyetoran atas

modal saham Perseroan perlu pula diuraikan secara garis besarnya. Mengenai

penyetoran atas modal saham Perseroan, Pasal 34 UUPT menentukan:

a. Penyetoran atas modal saham dapat dilakukan dalam bentuk uang atau dalam bentuk lainnya,

b. Dalam hal penyetoran modal saham dilakukan dalam bentuk lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penilaian setoran modal saham ditentukan berdasarkan nilai wajar yang ditetapkan sesuai dengan harga pasar atau oleh ahli yang tidak terafiliasi dengan Perseroan,

c. Penyetoran saham dalam bentuk benda tidak bergerak harus diumumkan dalam 1(satu) Surat Kabar atau lebih, dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari setelah akta pendirian ditandatangani atau setelah RUPS memutuskan penyetoran saham tersebut.

Pasal 34 tersebut sebenarnya mengandung makna yang sangat luas dan

memberikan kesempatan yang luas pula kepada semua pihak yang berkeinginan

menanamkan modal melalui pemilikan saham Perseroan. Dalam hal ini Pasal 34 itu

memperbolehkan penyetoran atas modal saham perseroan tidak hanya dalam bentuk

uang, tetapi juga dalam bentuk lainnya yang penilaiannya berdasarkan harga wajar

(41)

Uraian di atas mengenai unsur modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam

saham tersebut pada satu sisi memberikan makna bahwa dibaginya modal dasar

kedalam saham sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan kesempatan yang luas

kepada khalayak khususnya investor yang berminat menanamkan modal dengan jalan

memiliki saham baik melalui partisipasi langsung ketika Perseroan Terbatas didirikan

maupun bursa efek.

Pada sisi lainnya, pembagian kedalam saham juga dimaksudkan seperti diungkapkan oleh Mas Soebagio pada pokoknya adalah untuk mengetahui dan dapat mengukur besarnya tanggungjawab dalam arti hak dan kewajiban setiap pemegang saham dalam hubungannya dengan Perseroan Terbatas. Berdasarkan uraian tersebut diatas jelaslah bahwa Perseroan Terbatas merupakan perjanjian-perjanjian dan berarti tunduk pada Asas Kebebasan berkontrak.10

Di dalam asas tersebut yang dijelaskan di atas terkandung suatu pandangan

bahwa orang bebas melakukan atau tidak melakukan perjanjian, bebas dengan siapa

yang mengadakan perjanjian, bebas tentang apa yang diperjanjikan dan bebas untuk

menetapkan syarat-syarat perjanjian. Asas kebebasan berkontrak perlu didampingi

oleh asas yang lainnya yaitu asas yang menghendaki jaminan keseimbangan dan

kepantasan menurut hukum. Asas-asas ini dapat dijumpai di dalam undang-undang,

kepatutan dan ketertiban umum atau public policy dalam konsep Anglo-Amerikan.11

Pendapat di atas pada pokoknya mengemukakan setiap perjanjian haruslah

mengandung kepantasan dan kepantasan itu sendiri dapat dijumpai dalam

(42)

undang baik secara implisit maupun eksplisit. Oleh karena itu ditentukanlah bahwa

Perseroan Terbatas harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam

Undang-undang. Disamping itu pendapatan tersebut juga menyiratkan tentang pentingnya

kedudukan Undang-undang dalam hubungannya dengan perjanjian. Sehubungan

dengan sub bahasan ini sebenarnya terdapat dua istilah yaitu kewenangan dan

kompetensi.

Secara garis besar kedua istilah di atas memiliki pengertian yang hampir sama,

akan tetapi istilah kewenangan itu sendiri pada pokoknya merupakan suatu istilah

yang biasanya dipergunakan dalam Hukum Administrasi Negara. Hal ini dapat

disimak antara lain dari sebuah artikel yang disusun oleh Yosran yakni Pengertian

kewenangan adalah Sumber-sumber kewenangan terdiri atas :12

a. ATRIBUSI, yaitu Pemberian kewenangan pada badan atau lembaga/ pejabat negara tertentu baik oleh pembentuk Undang-Undang Dasar maupun pembentuk Undang-Undang. Sebagai contoh : Atribusi kekuasaan Presiden dan DPR untuk membentuk Undang-Undang.

b. DELEGASI, yaitu Penyerahan atau Pelimpahan kewenangan dari badan /lembaga pejabat tata usaha negara kepada Badan atau Lembaga pejabat tata usaha negara lain dengan konsekwensi tanggung jawab beralih pada penerima delegasi. Sebagai contoh : Pelaksanaan persetujuan DPRD tentang pengajuan calon wakil kepala daerah.

c. MANDAT, yaitu Pelimpahan kewenangan dengan tanggung jawab masih dipegang oleh sipemberi mandat. Sebagai contoh : tanggungjawab membuat keputusan-keputusan oleh menteri dimandatkan kepada bawahannya.

Istilah kewenangan dapat dikatakan sudah menjadi bagian dari dalam hukum

administrasi negara, tampak pula istilah itu tidak ada relevansinya dengan topik

12

(43)

bahasan tesis ini. Sementara itu istilah kompetensi dapat dijumpai penerapannya

dalam Hukum Acara Perdata meliputi absolute kompetentie dan relatief

kompetentie.13 Absolute kompetentie atau kekuasaan mutlak menyangkut pembagian

kekuasaan antar badan-badan peradilan dilihat dari macamnya pengadilan

menyangkut pemberian kekuasaan untuk mengadili sedangkan relatief kompetentie

atau kekuasaan relatif menyangkut batas wilayah dari satu macam pengadilan.14

Di samping itu istilah kompetensi atau competency dipergunakan baik dalam

hukum pembuktian yang menunjukkan kesempurnaan alat bukti dan dalam hukum

kontrak. Dalam bidang hukum ini, kompetensi pada pokoknya mengandung

pengertian bahwa suatu perjanjian dibuat oleh para pihak yang tidak memiliki cacat

mental atau tidak memiliki kapasitas.

B. Eksistensi Organ-Organ Perseroan Terbatas.

Mengingat Perseroan Terbatas itu merupakan suatu badan yang diwajibkan

melaksanakan kegiatan usaha, dimana sejak mulai tahap perancangan, pendirian,

operasional, bahkan sampai dengan tahap Perseroan Terbatas itu berakhir jangka

waktu pendiriannya atau mengalami kepailitan atau likuidasi, maka sudah tentu

banyak sekali orang atau pun pihak yang turut berpartisipasi baik langsung maupun

tidak langsung dalam mewujudkan tahap-tahap tersebut. Untuk mengetahui orang

atau pihak mana yang merupakan organ Perseroan Terbatas sangat perlu dilakukan

13

R. Wirjono Prodjodikoro, 1980, Hukum Acara Perdata Di Indonesia, Sumur Bandung,Bandung, h. 39.

14

(44)

identifikasi terlebih dahulu. Identifikasi pertama-tama dilakukan terhadap istilah

corporate constituent dilanjutkan dengan stakeholder dengan menggunakan kriteria

organ sebagai tolok ukur.

Organ menduduki peranan yang sangat penting dan berkaitan dengan kedudukan

organ dalam perseroan tersebut. Pentingnya kedudukan itu dapat diuarikan pertama

dari pendapat mengenai kedudukan mandiri Perseroan Terbatas dan yang

dimaksudkan itu adalah Bahwa Perseroan Terbatas dalam hukum dipandang berdiri

sendiri otonom terlepas dari orang perorangan yang berada dalam Perseroan Terbatas

tersebut.

Disatu pihak Perseroan Terbatas merupakan wadah yang menghimpun

orang-orang yang mengadakan kerjasama dalam Perseroan Terbatas, namun di lain pihak

segala perbuatan yang dilakukan dalam rangka kerja sama dalam Perseroan Terbatas

itu oleh hukum dipandang semata-mata sebagai perbuatan badan itu sendiri. Karena

itu konsekuensinya, keuntungan yang diperoleh, dipandang sebagai hak dan harta

kekayaan badan itu sendiri. Demikian pula sebaliknya bila terjadi suatu utang atau

kerugian dianggap sebagai beban Perseroan Terbatas sendiri yang dibayarkan dari

harta kekayaan Perseroan Terbatas. semata-mata. Sementara perorangan yang ada

dianggap lepas eksistensinya dari Perseroan Terbatas itu.15

Eksistensi organ-organ dalam suatu badan hukum merupakan sesuatu yang

sangat signifikan. Tanpa adanya organ-organ, suatu badan hukum itu tidak akan

15

(45)

fungsional dan operasional. Organ-organ itulah yang membuat badan hukum yang

bersangkutan menjadi dinamis sehingga dengan demikian dapat dikatakan organ

tersebut terutama Direksi dalam struktur korporasi merupakan wakil yang

melaksanakan kehendak yang ada dalam badan hukum.

Struktur korporasi pada pokoknya menekankan pada aspek struktur yang

merupakan satuan kerja yang secara artifisial termuat atau tersusun dalam

bagian-bagian yang dirancang untuk bekerjasama dalam korporasi itu sendiri. Satuan kerja

atau bagian-bagian yang bekerjasama dalam perseroan adalah organ-organ. Dengan

demikian struktur korporasi sebenarnya terdiri dari organ-organ, akan tetapi dalam

kaitan ini persoalannya, organ-organ apa saja yang dapat dimasukan ke dalam

struktur korporasi. Sistem common law dan civil law ternyata tidak secara seragam

mengatur mengenai struktur tersebut.

Cornelius dan Natalie Mulia yang mengutip Piarlie Koh dan Victor Yeo pada intinya mengemukakan hukum korporasi menurut sistem common law seperti yang dianut oleh Singapura menganut single-tier management structure dimana manajemen perseroan di bawah kontrol penuh dari Direksi. Dalam hal ini ditegaskan pula, Sistem common law tersebut tidak mengenal lembaga Dewan Komisaris.16

C. Kompetensi Perseroan Terbatas

1. Rapat Umum Pemegang Saham(RUPS)

Pasal 1 angka 4 UUPT menentukan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham yang

selanjutnya disebut RUPS adalah Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang

tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan

16

(46)

dalam Undang-undang ini dan/atau anggaran dasar. Pasal tersebut menentukan

pengertian RUPS itu sendiri dan apabila dibandingkan ternyata rumusan

pengertiannya berbeda dengan yang ditentukan dalam Pasal 1 angka 3 UU. No. 1

Tahun 1995 atau UUPT lama yang menentukan bahwa Rapat Umum Pemegang

Saham yang selanjutnya disebut RUPS adalah organ perseroan yang memegang

kekuasaan tertinggi dalam perseroan dan memegang segala wewenang yang tidak

diserahkan kepada Direksi atau Komisaris.

Dari rumusan pada UUPT lama tampak dengan jelas undang-undang

menempatkan RUPS sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan.

Sedangkan dalam rumusan UUPT yang baru hal tersebut tidak kelihatan. UUPT

tampak lebih menekankan perbedaan wewenang yang dimiliki RUPS dengan

wewenang organ-organ lainnya.

Penekanan di atas tidaklah mengurangi kedudukan RUPS sebagai pemegang

kekuasaan tertinggi. Kedudukan ini menjadi nyata karena UUPT juga menentukan

pada pokoknya kekuasaan RUPS hanya dapat dibatasi oleh undang-undang Perseroan

Terbatas dan anggaran dasar Perseroan Terbatas yang bersangkutan. Penelusuran

terhadap UUPT pun menunjukkan kompetensi RUPS memiliki ruang lingkup yang

luas. Dari hasil identifikasi terdapat sebanyak 34 pasal UUPT yang menentukan

(47)

2. Direksi

Seperti halnya RUPS, maka pengertian mengenai Direksi juga dituangkan dalam UUPT. Pengertian tersebut diatur dalam Pasal 1 angka 5 yang menentukan Direksi adalah organ Perseroan yang berwenang dan bertanggungjawab penuh atas

pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan

tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan, baikdidalam maupun di luar pengadilan

sesuai dengan ketentuan anggarandasar.

Dari pengertian di atas tercermin beberapa hal penting antara lain penegasan

yang mendasar seperti halnya terhadap RUPS maka Direksi pun juga dinyatakan

merupakan organ perseroan, Direksi memiliki tanggungjawab penuh atas pengurusan

perseroan, dan memiliki kewenangan mewakili perseroan.

Ketentuan bahwa direksi sebagai agen dari perseroan ini sejalan dengan yang

berlaku dalam sistem hukum common law. Selain direksi, karyawan (officer) atau

orang lain juga dapat mewakili perseroan. Sehubungan dengan itu, undang-undang

membatasi dengan ketentuan bahwa karyawan dapat mewakili perseroan dengan

dibuatkannya kuasa tertulis dari direksi kepada salah satu karyawan perseroan atau

lebih atau orang lain untuk dan atas nama perseroan melakukan perbuatan hukum

tertentu. Dalam hal ini, direksi bertindak selaku pimpinan dari karyawan atau orang

lain yang diberika kuasa.17

Sehubungan dengan ketentuan-ketentuan yang mengatur direksi sebagai agen

dari perseroan, undang-undang No. 40 Tahun 2007 tidak mengatur lebih lanjut.

Secara umum, kewenangan direksi untuk memberikan kuasa atau mewakilkan

17

Figur

Grafika,2009.
Grafika,2009. p.99

Referensi

Memperbarui...