• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan keterlibatan kerja dengan organizational citizenshlp behavior

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan keterlibatan kerja dengan organizational citizenshlp behavior"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KETERLIBATAN

keャセja@

DENGAN

ORGANIZATIONAL CITIZENSHll'' BEHAVIOR

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian persyarntan da/am mempero/eh ge/ar Sarjana Psikologi

Oleh:

FARAH FAJARWATI

103070029045

FAKULTAS PSIKOLOGil

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF IHIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat-syarat memperoleh gelar

Sarjana Psikologi

Pembimbing I

Oleh:

FARAH FAJARWATI

NIM: 103070029045

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing II

Drs. Sofiandy Zakaria M.Psi.T Liany Luzvinda, S.Psi, M.Si

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGl:RI

SYARIF HIDAYATUlLAHI

JAKARTA

(3)

ORGANIZA T/ONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR telah diujikan dalam sidang

munaqasyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta pada tanggal 22 Januari 2008. Skripsi ini telah diterima sebagai salah

satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi.

Jakarta, 22 Januari 2008

Sidang Munaqasyah

M.Si

Pembimbing I

Drs. Sofiancly Zakaria, M.Psi.T

Penguji I

Yunita Faela Nisa M. Psi

NIP. 150 368 748

Sekretaris Merangkap Anggota

M.Psi

NIP. 150 2.38 773

Pembimbing II

N|」セ@

セュャ@

Luzvincla , M.Si

Penguji II

(4)
(5)

ーセ」カカカN@

'Det¥V bertakworlaJv

セcエQaャャ。ャカセ「・イ\xエB@ セキNLᄋnケcエャ@

(A

ャイセ」uゥャ。ィMZ@

2)

s・ィ」ujカMセcエャ@ セ。、。ャ。スカ「・イQセP。ァカ@

セセ@

HQSオォィ。ᆬGカセj@

U・j\L。LuNNNセセゥ、」エjカ@

。ォ。MカカエM・yセ@

U・スゥセcエウ@

tセGヲ」オL@ セ」カMセ@

kclalvVia-akowt1

セカ@

pebNvtf

ulv ke:pcuiaKw. (

AK--5

yuJcwcu6 2)

...

セcエQセセcエᆬvャエBQQQQッオゥッカ@

セ@

YJ!laka,cq:)(:ibacv

kam«tt-el<ifv

セ@

(

dcwv

ウMオ。ゥZエカuyセIL@

ォN・Nイケセセ@

セᆳ

セ@

HuyセI@

ケセ@

lai¥v,

dANvv

mセcエャ@

ke:pouiov

tセセcエャォ。ュᆱエ「・イィッキ」エー@

...

(6)

(C) Farah Fajarwati

(B) Desember 2007

(D) Hubungan Keterlibatan Kerja Dengan Organizational Citizenship Behavior

(E) xvii + 83 halaman

(F) Sumber daya manusia merupakan investasi yang berpengaruh terhadap efektivitas organisasi, dimana peran dan tugas dalam organisasi tersebut diisi oleh manusia, bukan alat-alat mekanik. Manusia ikut menyumbang ilmu pengetahuan dan sejumlah energi sehingga tujuan dan sasaran organisasi dapat tercapai. Keterlibatan kerja adalah sikap karyawan untuk mengidentifikasikan dirinya terhadap pekerjaan, dimana karyawan dengan tingkat keterlibatan kerja yang tinggi sangat perhatian terhadap tugas yang dilakukannya. Organizational citizenship behavior adalah perilaku sukarela yang dilakukan karyawan tanpa diminta atau imbalan tertentu serta perilaku tersebut tidak tertulis dalam aturan formal organisasi. Organizational

citizenship behavior merupakan hal penting dalam cirganisasi, karena mendukung proses terjalinnya hubungan yang baik antar karyawan, menunjang kelangsungan dan efektivitas organisasi.

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan adanya hubungan yang signifikan antara keterlibatan kerja dengan organizational citizenship behavior.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif korelasional yang bertujuan unt1uk mengetahui

hubungan antara keterlibatan kerja dengan organizational citizenship behavior. Subyek penelitian ini adalah karyawan BKKBN (Badan

Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Pusat Halim Perdanakusuma. Penelitian ini mengikutsertakan 38 subyek, yang diambil dengan

(7)

Sedangkan jumlah item valid untuk skala organizational citizenship

behaviorsebanyak 48 item dan 12 item yang tidak valid. Reliabilitas skala organizational citizenship behavior adalah 0,9430.

Berdasarkan analisis korelasi Product Moment dari Pearson terhadap hipotesis yang diajukan, diperoleh hasil r hitung (0.43:5). Setelah

dibandingkan dengan r tabel (0.320) pada taraf signifikansi 5 %, maka r hitung

(0.435) > r tabel (0.320), sehingga kesimpulan statistiknya menolak Hodan

menerima Ha yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara

keterlibatan kerja dengan organizational citizenship behavior. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa terdapat korelasi antara keterlibatan kerja dengan organizational citizenship behavior, yang dapat dinterpretasikan semakin tinggi keterlibatan kerja karyawan, maka semakin tinggi pula tingkat organizational citizenship behaviorbegitu pula

sebaliknya.

(8)

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya

setiap saat, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul "Hubungan

Keterlibatan Kerja dengan Organizational Citizenship Behavior'. Shalawat serta salam

semoga tetap terlimpah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah menjadi suri

tauladan terbaik bagi umat manusia, kepada keluarganya, para sahabatnya dan para

pengikutnya hingga akhir zaman.

Dengan segala kerendahan hati penulis rnenyadari bahwa terselesaikannya

skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu,

perkenankanlah penulis untuk rnengucapkan terirna kasih yang tak terhingga

kepada:

1. lbu Ora. Hj. Netty Hartati, M. Si, Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif

Hidayatullah yang telah banyak rnernberikan pengamhan dan perhatiannya

selarna rnenjalani proses perkuliahan dan penyusunan skripsi ini.

2. Bapak Ors. Sofiandy Zakaria, M.Psi.T, Pernbirnbing I, lbu Liany Luzvinda,

M.Si, Pernbirnbing II yang selalu dapat rneluangkan waktunya untuk

rnernberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis, sehingga penulis

dapat menyelesaikan tugas skripsi ini.

3. Para Dasen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah yang dengan penuh

kesabaran dan keikhlasan memberikan ilrnu kepada kami.

4. Kedua orang tua penulis, Papa dan Mama tercinta yang tak kenal lelah

berjuang dan berkorban untuk memberikan yang terbaik kepada penulis.

Setiap untaian doa yang beliau panjatkan merupakan sumber kekuatan bagi

ananda untuk menjalani hidup dan mencapai masa depan. Untuk adikku

(9)

mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian di BKKBN. Seluruh

karyawan BKKBN Pusat Halim Perdakusuma yang tiidak bisa saya sebutkan

namanya satu persatu atas bantuan serta kesediaannya mengisi angket

tryout dan angket penelitian yang cukup banyak juml!ahnya di sela-sela

kesibukan melaksanakan rutinitas pekerjaannya.

6. Teman-teman Psikologi angkatan 2003, khususnya teman-teman kelas B,

yang selalu memberikan kebersamaan, tawa canda yang selalu berbekas

dihatiku dan akan selalu kurindukan. Keluarga besar PMll cabang Komfapsi

UIN terimakasih atas segala kebaikan, persaudaraan, semoga segala

kebaikan diridhoi oleh Allah SWT.

7. Teruntuk Yorgi Sendy Kusuma, ST yang selalu memberikan perhatian, kasih

sayang, selalu berbagi dalam suka dan duka, terus memberikan motivasi

serta.mendengarkan semua keluh kesah penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

8. Teruntuk sahabat terbaik : Rini, Fitkam, Roro, Bella, Unik, Lisa, Novi, Yeti

dan Puspa yang selalu berbagi dalam suka dan duka, yang setia

mendengarkan keluh-kesah penulis, dan yang selalu siap membantu ketika

penulis mengalami kesulitan serta kawan dan teman-teman People Power

Counsalting dan kelompok KKL Departemen Perdagangan yang selalu

memberikan kasih sayang, motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini serta

do'a dan semangat yang diberikan kepada penulis.

9. Perpustakaan Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, perpustakaan utama UIN

(10)

Penulis berharap skripsi ini bisa memberikan manfaat bagi diri penulis dan para

pembaca.

.Jakarta, Desember 2007

(11)

HALAMAN PERSETUJUAN ... ... ... ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO... iv

ABSTRAKSI . ... . ... . . . .. ... . .. . . .. . . . .. . ... . ... ... .. . . .. . .. . . .. . . .. .. . .. . .. .. .. .. . .. . .. . . ... .. . vi

KATA PENGANTAR .. ... viii

DAFT AR ISi ... xi

DAFT AR TABEL .. ... ... ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB 1 : PENDAHULUAN 1 -12 1. 1. Latar Belakang Masalah . . . . .. . . .. . . . .. . . .. . . .. . . .. .. . . 1

1.2. ldentifikasi Masalah ... ... ... .. ... 8

1.3. Pembatasan dan Perumusan Masalah Penelitian ... 9

1.5. Sistematika Penulisan ... ... ... ... 11

(12)

2.1.3. Faktor-faktor Organizational Citizenship Behavior... 18

2.1.4. Manfaat Organizational Citizenship Behavior... 20

2.2. Keterlibatan Kerja ... ... 24

2.2.1. Pengertian Keterlibatan Kerja ... ... ... 24

2.2.2. Aspek-aspek Keterlibatan Kerja... .. .. . . .. . . .. . 28

2.2.3. Komponen -komponen Keterlibatan Kerja... 29

2.2.4. Faktor - faktor Keterlibatan Kerja.. ... ... 30

2.2.5. Ciri-ciri individu yang memiliki Keterlibatan Kerja ... 33

2.3. Kerangka Berpikir ... ... ... ... ... ... ... 36

2.5. Hipotesis ... ... 36

BAB 3 : METODOLOGI PENELITIAN 39-61 3.1. Jen is Penelitian . . .. . . .. . .. . .. . . .. . . .. . . .. . .. . . . 39

3.1.1. Pendekatan dan metode Penelitian . . . . .. . .. . .. .. . . 39

3.1.2 Definisi konseptual dan Operasional variabel . . . .. . . 40

(13)

3.3. Pengumpulan Data... 44

3.3.1. Metode Pengumpulan Data ... ... 44

3.3.2. lnstrumen Penelitian .. ... .... .. .... ... ... 44

3.3.3 Teknik Uji lnstrumen ... 49

3.3.4. Uji instrumen penelitian ... 52

3.4. Teknik Uji Persyaratan Statistik ... 55

3.4.1. Uji Normalitas ... .... ... 55

3.4.2. Uji Homogenitas ... ... ... ... .... 57

3.5. Teknik Analisa Data... 57

3.6. Kriteria Penilaian Hasil Skor Penelitian ... ... 58

3.7. Prosedur Penelitian ... 59

BAB 4 : PRESENTASI DAN ANALISIS DATA 4.1. Gambaran Umum Subyek Penelitian 62-76 62 4.2. Presentasi data . ... 66

(14)

4.2.3.1 Uji Normalitas... .. 72

4.2.3.2 Uji Homogenitas... 73

4.2.4. Uji Hipotesis ... ... .... ... .... 73

4.3. Pembahasan ... ... .... ... 75

BAB 5 : KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 77-84 5.1. Kesimpulan .. ... .... ... ... 77

5.2. Diskusi ... ... ... ... .... .... 77

5.3. Saran . ... ... ... ... .... 81

DAFTAR PUSTAKA

(15)

Tabel 3.1 Blue Print Skala organizational citizenship behavior (Try Out)... 46

Tabel 3.2 Blue Print Skala Keterlibatan Kerja (try out)... 47

Tabel 3.3 Bobo! skor penilaian skala organizational citizenship behavior dan Keterlibatan Kerja . . . .. . . .. . . ... .. . . .. . . .. ... . .. . . .. . .. . .. . . .. . . .. . . 48

Tabel 3.4 Klasifikasi koefisien reliabilitas .. . . .. . . .. . . .. . . 51

Tabel 3.5 Blue Print Revisi Skala organizational citizenship behavior... 53

Tabel 3.6 Blue Print Revisi Skala Keterlibatan Kerja. .. . . .. . .. . .. . .. . . .. . .. .. . . .. . . 54

Tabel 3.7 Koefisien reliabilitas instrumen penelitian.. .. . . ... ... . ... .. . ... ... ... ... ... 55

Tabel 3.8 Tabel kriteria penilaian hasil skor penelitian .. . . .. . . ... .. . ... ... . . ... . ... . . 59

Tabel 4.1 Gambaran subjek berdasarkan jenis kelamin .. . .. .. .. ... . ... .. . .. . . 63

Tabel 4.2 Gambaran subjek berdasarkan usia... 64

Tabel 4.3 Gambaran subjek berdasarkan lama kerja ... ... 65

Tabel 4.4 Deskripsi statistik skor skala keterlibatan kerja dain skala organizational citizenship behavior... 66

[image:15.595.34.449.175.613.2]
(16)

Tabel 4.8 Uji Normalitas ... 73

Tabel 4.9 Uji Homogenitas ... 74

[image:16.595.48.452.107.494.2]
(17)

Lampiran 1 : Angket skala keterlibatan kerja dan OCB

Lampiran 2 Data mentah sampel hasil pengukuran skala keterlibatan kerja dan

OCB (Try Out)

Lampiran 3

Lampiran 4

Lampiran 5

Lampiran 6

Lampiran 7

Lampiran 8

Data mentah sampel hasil pengukuran skala keterlibatan kerja dan

OCB (Penelitian )

Uji validitas dan reliabilitas skala keterlibatan kerja dan OCB (Try Out)

Uji normalitas keterlibatan kerja dan OCB

Uji homogenitas keterlibatan kerja dan OCB

Uji korelasi

(18)

BABI

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan bagian dari organisasi karena sebagian besar hidup

manusia akan membutuhkan satu sama yang lainnya. Manusia menjadi

anggota satu atau beberapa organisasi baik dalam perguruan tinggi, tim

olahraga, organisasi agama atau masyarakat, angkatan bersenjata,

perusahaan atau lembaga pemerintahan. Beberapa organisasi seperti

angkatan bersenjata, perusahaan, lembaga pemerintahan memiliki struktur

yang formal. Sedangkan organisasi lain seperti tim sepak bola di masyarakat

mempunyai struktur yang lebih informal. Tetapi semua 01rganisasi formal

maupun informal disatukan dan dipertahankan kesatuarnnya oleh kelompok

organisasi yang ingin berkerja sama ke arah sasaran yang sama.

Suatu organisasi tidak lepas dari struktur-struktur di mana dalam

masing-masing struktur-struktur tersebut memiliki fungsi dan tugas karyawan yang

berbeda-beda sesuai dengan job description yang telah ditetapkan. Hal itu

tentunya tidak akan terlepas dari peran manusia sebagai penggeraknya.

Manusia yang dalam konteks organisasi disebut juga sebagai karyawan

(19)

kelangsungan hidup dan keberhasilannya tergantung pada manusia yang

berperan. Walaupun dalam setiap organisasi tersedia mesin yang serba

canggih, biaya cukup, dan ruang kerja yang memadai, te•tapi tanpa adanya

peran manusia yang mau bekerja dengan baik maka tidak akan tercapai misi

dan tujuan suatu organisasi.

Selain itu, seperti yang disebutkan oleh Katz dan Kahn (dalam Diefendorff,

2002) bahwa organisasi yang efektif membutuhkan karyawan yang tidak

hanya menjalankan peranan tertentu saja, namun juga rnembutuhkan

karyawan yang mau menjalankan tingkah laku yang berada di luar kewajiban

formalnya atau melakukan perilaku extra role. Perilaku extra role di dalam

organisasi atau konteks psikologi dikenal dengan istilah organizational

citizenship behavior.

Organizational citizenship behavioryang tinggi dapat membuat organisasi

lebih efektif serta para anggotanya dapat bekerja dengan baik dan dapat

menjalankan perannya secara bergantian. Organizational citizenship

behavior merupakan suatu konsep yang populer pada pE!rilaku organisasi,

meskipun tidak ditentukan secara resmi dalam pekerjaan, akan tetapi

menjadi sebuah komponen dari fungsi organisasi yang efektif (dalam

(20)

Robbins (2003) menjelaskan bahwa organizational citizenship behavior

adalah perilaku pilihan yang bukan merupakan bagian dari

persyaratan-persyaratan jabatan formal seorang karyawan. Meskipun demikian, hal itu

mendorong organisasi berfungsi secara efektif alas orga11isasi. Perilaku

organizational citizenship behavior dalam organisasi antara lain seperti

membantu sekelompok kerja, sukarela melakukan kegiatan ekstra di tempat

kerja, menghindari konflik dengan rekan kerja, ュ・ャゥョ、オョセjゥ@ properti organisasi,

menghargai peraturan yang berlaku di dalam organisasi dan toleransi pada

situasi yang kurang ideal atau tidak menyenangkan di tempat kerja, datang

ke tempat kerja tepat waktu, memberi saran-saran yang membangun di

tempat kerja serta tidak membuang-buang waktu di tempat kerja.

Penelitian organizational citizenship behavior akhir-akhir ini banyak dibahas

dalam perilaku organisasi. Menurut Robbins (2003) or.ganizational citizenship

behavior merupakan salah satu variabel dependen dalam penelitian perilaku

organisasi. Padsakoff dkk (2000) juga dalam sebuah tinjauan kritis terhadap

literatur organizational citizenship behavior mengemukakan empat kategori

yang mempengaruhi organizational citizenship behavior, salah satunya

adalah karakteristik individu yang terkait dengan sikap ke•rja yaitu kepuasaan

kerja, komitmen organisasi, persepsi terhadap keadilan dan persepsi

(21)

Dari banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi organizational citizenship

behavior, penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang

karakteristik individu yang terkait dengan sikap kerja yaitu keterlibatan kerja.

Dengan asumsi bahwa karakteristik individu lebih kuat hubungannya dengan

organizational citizenship behavior dikarenakan sifatnya yang inheren

sehingga dapat lebih dipertahankan dari satu situasi ke situasi yang lain.

Keterlibatan kerja merupakan bentuk dari sikap kerja. Keterlibatan kerja yaitu

sampai sejauh mana seseorang memihak pada pekerjaa1nnya dan

berpartisipasi aktif di dalamnya dan menganggap kinerjanya sangat penting

sebagai harga dirinya (Robbins, 2003). Hal ini serupa yang dikemuka oleh

Davis dan Newstorm ( 1997) bahwa terdapat tiga bentuk sikap kerja,

diantaranya keterlibatan kerja. Keterlibatan kerja mempunyai pengertian lebih

terbatas terhadap tugas atau pekerjaan yang ditekuni. Dalam organisasi,

selain harus memiliki karyawan yang potensial juga memerlukan

karyawan-karyawan yang memiliki kemauan dan kesediaan untuk bekerja.

Tuntutan di atas dapat dipenuhi oleh orang-orang yang merasa terlibat

secara penuh pada pekerjaannya serta mampu menunjukkan keterlibatan

yang tinggi dalam upaya mencapai tujuan dan kelangsungan organisasi.

Karyawan yang memiliki keterlibatan kerja yang tinggi pada pekerjaannya,

(22)

dirinya. Pada dasarnya keterlibatan kerja merupakan kesediaan individu

untuk bekerja keras dan menggunakan usaha yang lebih besar dari yang

diharapkan.

Penelitian mengenai keterlibatan kerja dengan organizational citizenship

behavior dikemukakan oleh Diefendorff dkk (2002) yang menunjukkan

adanya hubungan yang signifikan. Diefendorff dl<k (2002) menyebutkan

keterlibatan kerja merupakan salah satu prediktor pentin9 organizational

citizenship behavior. Keterlibatan kerja memiliki hubungan yang positif

dengan dimensi-dimensi organizational citizenship behavior yaitu dimensi

civic virtue dan conscientiousness. Hal inilah yang membuktikan bahwa

terdapat hubungan antara keterlibatan kerja dengan orga1nizational

citizenship behavior.

BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) merupakan salah

satu lembaga pemerintahan non departemen yang bergerak di bidang

keluarga berencana yang hingga kini masih eksis. Peranan sumber daya

manusia sangat panting bagi BKKBN untuk meningkatkain kesejahteraan

keluarga Indonesia. Sebagai salah satu lembaga pemerintahan non

departemen, lembaga ini selalu bersinggungan dengan keluarga Indonesia.

(23)

menggerakkan masyarakat untuk membangun keluarga kecil bahagia

sejahtera, menggalang kemitraan dalam peningkatan kesejahteraan,

kemandirian dan ketahanan keluarga, meningkatkan kualitas pelayanan KB

dan kesehatan reproduksi, meningkatkan upaya-upaya promosi,

perlindungan dan upaya mewujudkan hak reproduksi, serta meningkatkan

upaya pemberdayaan perempuan dalam mewujudkan kesetaraan dan

keadilan gender dalam pelaksanaan program KB Nasional.

Misi suatu organisasi pada hakekatnya merupakan tujuan mengapa

organisasi itu dibentuk. Sejak awal BKKBN dibangun untuk mengemban

tugas membangun keluarga Indonesia sebagai keluarga kecil yang bahagia

dan sejahtera. Oleh karena itu, BKKBN memerlukan sumber daya manusia

yang berkualitas dan merasa terlibat dengan pekerjaannya. PNS di negara ini

dapat dikatakan sangat minim kinerjanya, dapat kita lihat di kantor-kantor

pemerintah banyak pegawai yang hanya ongkang-ongka1ng kaki sementara

pegawai lain sibuk sekali dan yang kedua ini persentasinya hanya sedikit.

Padahal PNS kita ini adalah orang-orang terbaik dari beribu orang yang

mendaftar sebagai PNS (Soelaeman, 2007). Namun hal ini berbeda yang

terjadi di BKKBN, di sini terlihat pegawai terlibat dengan pekerjaannya,

adanya saling membantu dan koordinasi antar pegawai dalam

(24)

ketika ada rekan kerja yang mengalami permasalahan baik dalam hal

pekerjaan maupun pribadi mereka akan berusaha memberikan perhatian dan

membantu menyelesaikan permasalahan tersebut.

Indonesia saat ini adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat

di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat (Sugiri, 2007). Penduduk

yang besar, dengan pertumbuhan yang tinggi, serta kualitas yang rendah

sangat tidak kondusif bagi pembangunan berkelanjutan di tanah air dan

berpotensi bagi semakin terpuruknya status sosial dan ekonomi masyarakat.

Oleh sebab itu, sejalan dengan upaya peningkatan kualitas penduduk

BKKBN harus memperkuat sumber daya manusia. Hal ini harus dilakukan

agar pertambahan dan pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dapat

dihindari dan setiap keluarga dapat merencanakan kehidupan keluarganya

secara cerdas dan bertanggung jawab. BKKBN dengan lingkungan

pemerintah, LSM, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama dan masyarakat,

serta lembaga profesi bahu membahu berupaya meningkatkan

keterjangkauan dan kualitas pelaksanaan program.

Untuk mencapai hasil yang diinginkan, maka organisasi memerlukan

karyawan yang mampu memberikan hasil kerja yang berkualitas, memiliki

(25)

yang besar pada organisasi dan memiliki loyalitas pada organisasi. Tuntutan

di atas dapat dipenuhi oleh orang-orang yang merasa terlibat dengan

pekerjaannya. Keterlibatan kerja karyawan sebagai kondisi yang hendak

dicapai oleh setiap organisasi merupakan kunci ke arah peningkatan

produktivitas dan perbaikan kualitas kerja yang hanya akan terlaksana

apabila semua lapisan anggota organisasi berperan aktif dalam menciptakan

proses ini.

Ketika karyawan telah memiliki keterlibatan kerja yang tinggi, maka individu

akan bekerja lebih kreatif, lebih keras serta mengemban(Jkan diri dalam

pekerjaan untuk mendapatkan hasil maksimal yang diinginkan. Karyawan

yang memiliki keterlibatan kerja akan mempunyai keterkaitan dan kedekatan

emosi antar karyawan sehingga dapat menimbulkan dampak positif pada

organisasi. Perilaku atas dasar kedekatan emosional, lebih didasarkan pada

kesukarelaan, bukan aturan formal dalam istilah psikologi disebut

organizational citizenship behavior (OCB).

Maka dari uraian yang telah dikemukan di atas dapat dia:sumsikan bahwa

seorang karyawan yang mempunyai keterlibatan kerja yang tinggi akan diikuti

(26)

uraian di atas, maka permasalahan mengenai organizational citizenship

behavior dengan keterlibatan kerja perlu untuk diteliti lebih lanjut.

1.2. ldentifikasi Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, maka dimungkinkan akan muncul

beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana keterlibatan kerja karyawan terhadap organisasi ?

2. Apakah terdapat aspek Organizational Citizenship Behavior (OCB)

pada diri karyawan dalam organisasi ?

3. Apakah keterlibatan kerja dapat memunculkan Organizational

Citizenship Behavior (OCB) ?

4. Apakah ada hubungan antara Keterlibatan kerja dengan Organizational

Citizenship Behavior (OCB) ?

1.3. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Untuk menghindari meluasnya dan lebih terarahnya pemilitian, obyek

penelitian ini dibatasi pada Hubungan antara Keterlibatan Kerja dengan

Organizational Citizenship Behavior. Adapun yang dimaksud dengan

(27)

1.

Keterlibatan kerja adalah identifikasi psikologis karyawan terhadap

pekerjaaan, yang rnenunjukkan sejauh rnana pekerjaan tersebut

rnerniliki arti dan rnakna dalarn kehidupannya.

2. Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah suatu bentuk

perilaku rnernbantu, patuh, antusias, toleransi ケ。ョAセ@ ditujukan kepada

individu lain rnaupun organisasi yang rnerupakan pribadi dan tidak

rnendapatkan irnbalan jika ditarnpilkan karena tidak terrnasuk dalarn

persyaratan kerjanya narnun dapat rnernperbaiki dan rneningkatkan

kinerja, konteks sosial serta psikologis organisasi.

Berdasarkan pernbatasan rnasalah tersebut diatas, ー・ョ・セゥエゥ@ rnerurnuskan

perrnasalahan penelitian sebagai berikut : "Apakah ada hubungan yang

signifikan antara keterlibatan kerja dengan Organizational Citizenship

Behavior (OCB) ? "

1.4.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dalarn penelitian ini, tujuan yang ingin dicapai adalah untuk rnengetahui

apakah ada hubungan yang signifikan antara keterlibatar1 kerja dengan

(28)

Manfaat penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat menjadi implementasi

dari teori yang ada dan dapat menjadi pengembangan teori tentang

keterlibatan kerja dan Organizational Citizenship Behavior (OCB). Hal ini

agar dapat menambah khazanah keilmuan dan perkembangan ilmu psikologi

khususnya.

Sedangkan manfaat praktisnya, bagi organisasi atau perusahaan diharapkan

berguna untuk pengembangan organisasi dalam hal pengelolaan sumber

daya manusia di masa yang akan datang, khususnya1 menyangkut upaya

menggalang keterlibatan kerja karyawan dan mengembangkan organizational

citizenship behavior (OCB).

1.5 Sistematika Penulisan

Pada penulisan skripsi ini, penulis menggunakan kaidah buku pedoman

penulisan Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Jakarta, dengan sistematika sebagai berikut :

Bab

1

Pendahuluan

Pada bab ini, penulis membaginya dalam beberapa bagian, yaitu latar

belakang penelitian, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan

(29)

Bab 2 Kajian Pustaka

Pada bab ini akan diuraikan tentang deskripsi teoritis mengenai :

Pengertian Organizational Citizenship Behavior (OCB), Hal-hal yang

mendukung OCB, faktor-faktor OCB, manfaat OCB dalarn organisasi.

Pengertian keterlibatan kerja, aspek-aspek keterlibatan kerja,

komponen-komponen keterlibatan kerja, faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan

kerja, dan proses pembentukan keterlibatan kerja.

Bab 3 Metodologi Penelitian

Pada bagian ini, penulis membagi ke dalam beberapa bagian. Di

antaranya adalah jenis penelitian, definisi konseptual dan operasional

variabel, populasi dan teknik sampling, instrumen penelitian, prosedur

penelitian serta teknik analisis data.

Bab 4 Presentasi dan Analisis Data

Pada bab ini, penulis akan mendeskripsikan hasil penelitian mengenai

gambaran umum subyek penelitian serta interpretasi dan hasil penelitian.

Bab 5 Kesimpulan, Diskusi dan Saran

Pada bagian ini penulis membuat kesimpulan dan saran, juga

(30)

Pada bab ini, akan diuraikan kajian tentang organizational citizenship

behavior (OCB) dan Keterlibatan Kerja. Pada OCB akan dipaparkan tentang

pengertian OCB, dimensi-dimensi OCB, faktor-faktor OCB, manfaat OCB

dalam organisasi. Sedangkan Keterlibatan Kerja meliputi pengertian

keterlibatan kerja, aspek-aspek keterlibatan kerja, komponen keterlibatan

kerja, faktor-faktor keterlibatan kerja, dan ciri-ciri individu yang memiliki

keterlibatan kerja. Di akhir bab ini dipaparkan kerangka berpikir penelitian

yang clilanjutkan dengan hipotesis penelitian.

2.1.

Organizational Citizenship Behavior

(OCB)

2.1.1 Pengertian Organizational Citizenship Behavior (OCB)

Menurut Schnake dalam Frances, Maria dkk (2001), organizational

citizenship behavior adalah perilaku yang berada di luar persyaratan formal

pekerjaan dan perilaku tersebut menguntungkan organisasi. Sedangkan

menurut Tepper (2004) mengatakan organizational citizenship behavior

adalah suatu perilaku dengan pilihan atau kebebasan unltuk menentukan,

(31)

organizational citizenship behavior (OCB) adalah perilaku pilihan yang bukan

merupakan bagian dari persyaratan-persyaratan jabatan formal seorang

karyawan, meskipun demikian hal itu mendorong individu berfungsi secara

efektif atas organisasi.

Menurut Johns dalam Frances, Maria dkk, (2001 ), kondisi yang mendul<Ung

terjadinya OCB adalah keadilan, terutama keadilan dalam hal pemberian

imbalan. Sedangkan Organ dalam Frances, Maria (2001) mengemukakan

bahwa pekerja yang memiliki kepuasaan kerja akan menunjukkan OCB

karena pekerja tersebut mencari suatu cara untuk membalas organisasi yang

telah memperlakukannya dengan baik.

Sedangkan Davis dan Newstorm (1997), menyebutkan karyawan yang

mempunyai organizational citizenship behavior (OCB) akan berperilaku

sosial yang positif untuk membantu orang lain, seperti sukarela bekerja pada

pekerjaan khusus, berbagi pengetahuan serta kooperatif dengan orang lain.

Dapat dikatakan bahwa karyawan yang memiliki organizational citizenship

behavior (OCB) yang tinggi akan menampilkan kinerja yang lebih

dibandingkan karyawan yang tidak menampilkan organizational citizenship

(32)

Organizational citizenship behavior (OCB) merupakan faktor penting dalam

kehidupan organisasi. Seperti yang disebutkan oleh Morisson dalam Frances,

Maria dkk, (2001 ), karyawan yang memiliki organizational citizenship

behavior (OCB) yang tinggi akan dapat menciptakan suasana yang positif

bagi lingkungan kerja yang akan berpengaruh terhadap l<inerja karyawan

secara keseluruhan. Schnake dalam Kwantes (2001), jU!Ja menyebutkan

organizational citizenship behavior (OCB) sebagai suatu perilaku yang

menguntungkan bagi organisasi, namun tidak digambarl<an maupun

dijalanl<an oleh organisasi, !<arena perilaku itu bukan untuk dijalankan dan

juga tidak mendapatkan imbalan jika menjalankannya.

Organisasi yang sukses menu rut Robbins (2001) akan membutuhkan

karyawan yang bersedia untuk melakukan pekerjaan lebih di luar pekerjaan

yang telah menjadi kewajiban mereka dan menunjukkan performance kerja

lebih dari apa yang diharapkan.

Dari beberapa definisi para tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa

organizational citizenship behavior (OCB) merupakan suatu perilaku yang

dilakukan oleh karyawan yang tidak tertulis pada job description yang dibuat

oleh perusahaan I organisasi, namun organizational citizenship behavior

(33)

dilakukan karyawan tanpa diminta dan perilaku tersebut dilakukan untuk

menunjang kelangsungan dan efektivitas organisasi.

2.1.2 Dimensi-Dimensi Organizational Citizenship Behavior (OCB)

Dalam Organ, Padsakoff, Mackenzie, Moorman, dan Fetter dalam LePine dkk

(2002), mengidentifikasikan lima dimensi organizational citizenship behavior

(OCB) sebagai berikut :

1. Altruism, penamaan yang mirip dengan faktor altruism menurut Smith

dkk dalam LePine, (2002) bahwa altruism merupakan perilaku yang

secara sadar langsung dimaksudkan untuk menoiong orang lain atau

rekan. Namun pengertian yang lebih khusus yaitu perilaku membantu

atau menolong orang lain kepada individu tertentu di dalam organisasi

baik yang berhubungan dengan tugas dalam organisasi ataupun

masalah pribadi.

Dimensi ini mengarah kepada memberikan pertolongan yang bukan

merupakan kewajiban yang ditanggungnya. Misalnya membantu

karyawan baru menggunakan peralatan bekerja, rnembantu rekan

kerja mengerjakan pekerjaan organisasi yang belum dikerjakan,

membantu atasan, dan membantu rekan kerja dalam masalah pribadi.

2. Courtesy, yaitu membantu rekan kerja mencegah timbulnya masalah

(34)

rnasalah pekerjaan yang akan tirnbul terhadap pihak luar ataupun

rekan kerja. Seseorang yang rnerniliki dirnensi ini pada tingkat tinggi

adalah orang yang rnenghargai dan rnernperhatikan orang lain.

Misalnya rnernbantu rekan sekerja rnencegah tirnloulnya rnasalah

sehubungan dengan pekerjaan dengan cara rnernberikan konsultasi

dan inforrnasi yang dibutuhkan rekan kerja, rnernpertirnbangkan

keputusan yang dapat rnernpengaruhi rekan kerja dan rnenghargai

hak-hak orang lain serta kebutuhan rekan kerja.

Courtesy rneliputi perilaku yang ditujukan untuk mencegah terjadinya

rnasalah di kernudian hari, rnenyelesaikan atau rnengurangi konflik

interpersonal di antara rekan kerja, rnernberi sernangat dan penguatan

kepada rekan kerja untuk rnencapai tujuan bekerja yang rnaksirnal.

Seseorang yang rnerniliki dirnensi ini adalah oran9 yang rnenghargai

dan rnernperhatikan orang lain.

3. Conscientiousnes, yaitu rnelakukan hal-hal yang rnenguntungkan

organisasi rnelebihi yang dipersyaratkan dalarn kewajiban dan tugas

karyawan. Dirnensi ini rnenjangkau jauh di atas dan jauh ke depan dari

panggilan tugas. Menurut Robbins (2001 ), conscilmtiousness

rnerupakan dirnensi kepribadian yang rnenggarnbarkan tanggung

(35)

Misalnya melakukan hal-hal yang menguntungkan organisasi,

mematuhi peraturan organisasi meskipun dirasakan kurang nyaman,

selalu tepat waktu dalam bekerja, menjaga kebersihan tern pat kerja,

berinisiatif melakukan perbaikan-perbaikan untuk meningkatkan

kinerja diri dan kelompoknya, antusias dan sungguh-sungguh dalam

melakukan pekerjaannya.

4. Civic virtue, adalah perilaku yang menunjukkan keinginan untuk

terlibat dalam kegiatan-kegiatan organisasi dan bertanggung jawab

atas kelangsungan organisasi. Dimensi ini mengarah pada tanggung

jawab yang diberikan organisasi kepada seseorang untuk

meningkatkan kualitas pekerjaan yang dijalaninya. Misalnya terlibat

dalam kegiatan organisasi dan peduli terhadap kelangsungan hidup

organisasi, selalu hadir dalam rapat kerja maupun rapat yang tidak

berhubungan dengan pekerjaan, saling berbagi ide baru dengan rekan

kerja, terlibat dalam diskusi tentang kebijakan organisasi.

5. Sportsmanship, merupakan suatu perilaku yang rnenunjukkan

toleransi terhadap situasi yang kurang ideal dalam organisasi tanpa

mengeluh. Orang yang tinggi pada dimensi ini bukan hanya tidak

mengeluh karena situasi ideal di tempat kerja, tetapi akan bersikap

positif sekalipun segala sesuatu tidak berjalan sebagaimana

(36)

saran-saran mereka, bersedia mengorbankan kepentingan pribadi

demi kepentingan kelompoknya, dan menerima penolakan terhadap

ide-idenya dengan lapang dada.

William dan Anderson dalam Afif (2006) membagi perilaku extra-role ke

dalam dua dimensi besar OCB, yaitu :

1.

OCB-1 (Organizational Citizenship Behavior-lndividu), yaitu perilaku

yang secara langsung menguntungkan karyawan dan secara tidak

langsung menguntungkan organisasi. Misalnya menolong rekan kerja

yang tidak hadir dangan cara membantu menyelesaikan pekerjaan

rekan kerja yang belum selesai. Jika dibandingkan dengan lima

dimensi yang dikemuka oleh Organ dkk maka yang termasuk dalam

dimensi OCB-1 adalah altruism, courtesy, dan conscientiousness.

2. OCB-0 (Organizational Citizenship Behavior-Organisasi), yaitu :

perilaku yang menguntungkan bagi organisasi sec:ara umum, misalnya

: memberi tahu atasan atau rekan kerja jika berhalangan hadir dan

patuh pada peraturan tidak tertulis. Pada dimensi ini, jika dibandingkan

dengan lima dimensi Organ maka yang termasuk dimensi OCB-0

(37)

2.1.3. Faktor-Faktor Organizational Citizenship Behavior (OCB)

Smith dalam LePine dkk,( 2002) tertarik untuk meneliti ーQセイゥャ。ォオ@ yang

menguntungkan organisasi tetapi secara formal tidak diberi reward oleh

organisasi. Untuk itu dilakukan wawancara terstruktur yang ditujukan pada

manajer di mana para manajer diminta untuk menidentifikasi contoh-contoh

perilaku kerja yang sifatnya menolong tetapi tidak harus ditunjukkan oleh

karyawannya. Kemudian para supervisor diminta untuk memberi peringkat

setiap karakteristik perilaku karyawannya. Dari hasil analisis faktor terdapat

dua faktor:

1.

Altruism, mencakup perilaku yang secara sadar langsung

dimaksudkan untuk menolong orang lain (rekan kerja) yang

membutuhkan bantuan dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Misalnya menolong rekan kerja yang tidak hadir di tempat kerja

dengan cara menangani pekerjaan yang エ・イエゥョァセQ。ャL@ sukarela

melakukan hal-hal yang tidak harus dilakukan, rnenolong karyawan

baru melakukan orientasi dalam pekerjaannya walaupun tidak

dibutuhkan, atau menolong rekan kerja yang memiliki beban kerja

yang berat.

2. Generalized complience, mencakup perilaku impersonal (perilaku

yang tidak ditujukan kepada individu tertentu) misalnya kepatuhan

(38)

tidak mengambil waktu istirahat berlebihan di tempat kerja, tidak

melakukan percakapan yang tidak perlu ketika bekerja.

2.1.4 Manfaat Organizational Citizenship Behaviordalam Organisasi

Menurut Podsakoff dan MacKenzie dkk (2000), organizational citizenship

behavior dapat mernpengaruhi efektivitas organisasi seperti :

1. Meningkatkan produktivitas rekan kerja

a. Karyawan yang rnenolong rekan kerja lain akan rnernpercepat

penyelesaian tugas rekan kerjanya, dan pada ·gilirannya

rneningkatkan produktivitas rekan tersebut.

b. Seiring dengan berjalannya waktu, perilaku rnE!rnbantu yang

ditunjukan karyawan akan rnembantu rnenyebarkan riset praktis ke

seluruh unit kerja atau kelornpok.

2. Meningkatkan produktivitas rnanajer

a. Karyawan yang rnenapilkan perilaku civic virtu19 akan rnernbantu

rnanajer rnendapatkan saran atau urnpan balik yang berharga dari

karyawan tersebut untuk rneningkatkan efektivitas unit kerja.

b. Karyawan yang sopan, yang rnenghindari terjadinya konflik dengan

rekan kerja akan rnenolong rnenolong rnanajer terhindar dari krisis

(39)

3. Menghemat sumber daya yang dimiliki manajemen dan organisasi secara

keseluruhan

a. Jika karyawan saling tolong menolong dalam rnenyelesaikan

masalah dalam suatu pekerjaan sehingga tidal< perlu melibatkan

manajer, konsekuensinya manajer dapat memakai waktunya untuk

melakukan tugas lain, seperti membuat perenc:anaan.

b. Karyawan yang menampilkan conscientiouness yang tinggi hanya

membutuhkan pengawasan minimal dari manajer sehingga

manajer dapat mendelegasikan tanggung jawa1b yang lebih besar

kepada mereka, ini berarti lebih banyak waktu yang diperoleh

manajer untuk melaksanakan tugas yang lebih penting.

c. Karyawan lama yang membantu karyawan baru dalam pelatihan

dan melakukan orientasi kerja akan membantu organisasi

mengurangi biaya untuk keperluan tersebut.

d. Karyawan yang menampilkan perilaku sportmanship akan sangat

menolong manajer tidak menghabiskan waktu terlalu banyak untuk

berurusan dengan keluhan-keluhan kecil ka1yawan.

4. Membantu menghemat energi sumber daya yang langka untuk

memelihara fungsi kelompok

a. Keuntungan dari perikau menolong adalah meningkatkan

(40)

kelompok atau manajer tidak perlu menghabiskan energi dan

waktu untuk pemeliharaan fungsi kelompok.

b. Karyawan yang menampilkan perilaku courtesy terhadap rekan

kerja akan mengurangi konflik dalam kelompok, sehingga waktu

yang dihabiskan untuk menyelesaikan konflik rnanajemen

berkurang.

5. Dapat menjadi sarana efektif untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan

kelompok kerja

a. Menampilkan perilaku civic virtue (seperti menghindari dan

berpartisipasi aktif dalam pertemuan di unit ke1janya) akan

membantu koordinasi diantara anggota kelompok uang akhirnya

secara potensial meningkatkan efektivitas dan efisiensi kelompok

b. Menampilkan perilaku courtesy misalnya salinu memberi informasi

tentang pekerjaan dengan anggota dari tim lain akan menghindari

munculnya masalah yang membutuhkan waktu dan tenaga untuk

diselesaikan.

6. Meningkatkan kemampuan organisasi untuk menarik dan

mempertahankan karyawan terbaik

a. Perilaku menolong dapat meningkatkan moril dan kelekatan serta

(41)

akan meningkatkan kinerja organisasi dan membantu organisasi

menarik dan mempertahankan karyawan ケ。ョセQ@ baik.

b. Memberi contoh pada karyawan lain dengan rnenampilkan perilaku

sportmanship (misalnya tidak mengeluh karena

permasalahan-permasalahan kecil) akan menumbuhkan loyalitas dan komitmen

pada organisasi.

7. Meningkatkan stabilitas kinerja organisasi

a. Membantu tugas karyawan yang tidak hadir di tempat kerja atau

yang mempunyai beban kerja berat akan meningkatkan stabilitas

dari kinerja unit kerja.

b. Karyawan yang conscientiuous cenderung mempertahankan

tingkat kinerja yang tinggi secara konsisten, sehingga mengurangi

variabilitas pada kinerja unit kerja.

8. Meningkatkan kemampuan organisasi untuk beradaptasi dengan

perubahan lingkungan

a. Karyawan yang mempunyai hubungan yang dekat dengan pasar

dengan sukarela memberi informasi tentang p•erubahan yang

terjadi di lingkungan dan memberi saran tentang bagaimana

merespon perubahan tersebut, sehingga organisasi dapat

(42)

b. Karyawan yang secara aktif hadir dan berpartisipasi pada

pertemuan-pertemuan di organisasi akan membantu menyebarkan

informasi yang penting dan harus diketahui ッャeセィ@ organisasi.

c. Karyawan yang menampilkan perilaku conscfontiousness

(misalnya kesediaaan untuk memikul tanggung jawab baru dan

mempelajari keahlian baru) akan meningkatkan kemampuan

organisasi beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di

lingkungannya.

2.2 Keterlibatan Kerja

2.2.1 Pengertian Keterlibatan Kerja

Keterlibatan kerja merupakan istilah terjemahan dari job involvement. lstilah

job involvement mengandung makna sebagai keterlibatan individu terhadap

pekerjaan yang dipandang sebagai bagian penting bagi セZ・ィゥ、オー。ョ@ psikologik

individu tersebut, sehingga individu akan mengimplementasikan waktu,

bakat, dan tenaganya ke dalam pekerjaan. Dengan demikian, implikasinya

bagi individu yang mempunyai tingkat keterlibatan yang tinggi terhadap

pekerjaan, selalu akan lebih banyak mengarahkan waktu, pikiran, dan

(43)

Menurut Steers dalam Tan Djin Hwie dkk, (2000), keterlibatan kerja

menunjukkan seberapa besar seseorang tertarik dan be1tanggung jawab

terhadap tugas-tugasnya. Hal ini untuk melihat bahwa individu tersebut

merasa bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dibebankan padanya

dan menjamin pekerjaan itu sendiri dikerjakan dengan benar dan standar

kompetensi yang tinggi. lndividu yang memiliki keterlibatan kerja memberikan

keuntungan baik pada perusahaan maupun individu itu sendiri. Adanya rasa

keterlibatan kerja bukan saja sekedar rasa "senang" dan "puas" terhadap

pekerjaan melainkan menciptakan "rasa turut memiliki" (sense of belonging)

dan "rasa turut bertanggung jawab" (sense of responsibility) terhadap

pekerjaan. Selain itu, menimbulkan rasa untuk mawas diri, untuk bekerja

lebih baik, menghasilkan produk yang lebih bermutu.

Vroom dalam Sosilo (1996) mengatakan bahwa individu yang terlibat dalam

pekerjaannya adalah individu yang selalu memikirkan pekerjaannya,

membuka kesempatan untuk mengekspresikan diri yang berhubungan

dengan kepuasaan kerja dan memiliki keterlibatan kerja yang tinggi.

Keterlibatan kerja menurut Paulley dalam Diefendorff dkk,( 2002) sebagai

suatu tingkatan secara sadar dalam pemenuhan, hubung1an dan mengenai

(44)

dalam keaktifan suatu organisasi. Sedangkan menurut Mitchell dalam Sahlan

Asnawi ( 2002), keterlibatan kerja sebagai suatu orientasi nilai terhadap kerja

yang menentukan bahwa individu sangat memikirkan pekerjaannya,

pekerjaan memberikan kepuasaan hidup dan pekerjaan memberikan status

bagi individu.

Davis dan Newstorm dalam Sahlan Asnawi (2002), mendefinisikan

keterlibatan kerja sebagai suatu tingkatan sampai sebeberapa besar

seseorang menekuni serta menggunakan waktu dan tenaga untuk

pekerjaanya dan memandang pekerjaan sebagai salah satu hal penting bagi

hidupnya.

Munandar (2001) mengatakan individu yang terlibat dalam pekerjaan adalah

individu yang selalu memikirkan pekerjaannya, membuka kesempatan untuk

mengekspresikan diri yang berhubungan dengan kepuasan kerja dan

memiliki keterlibatan kerja yang tinggi. Vroom (seperti dikutip Munandar,

2001) membedakan 3 tingkatan keterlibatan kerja, yaitu l<eterlibatan kerja

yang tinggi dimiliki individu yang selalu memikirkan pekerjaannya,

keterlibatan kerja menengah jika individu hanya bila ada kesempatan saja

memil<irkan pekerjaannya, dan keterlibatan kerja rendah bila individu tidak

(45)

Lodahl dan Kejner dalam Sahlan Asnawi ( 2002) menyatakan bahwa

karyawan yang memiliki keterlibatan kerja yang tinggi dalam melakukan

pekerjaannya tidak hanya sekedar melakukan kerja saja, akan tetapi dia juga

akan bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya. Orang tersebut

merasa bahwa pekerjaannya merupakan hal yang sangat penting bagi

dirinya. Oleh karena itu, ia akan mencurahkan segala tenaga, bakat,

pengetahuan dan waktu yang dimiliki untuk melakukan tugasnya.

Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa keterlibatan kerja

merupakan peran aktif atau orientasi nilai individu terhadap kerja yang

menunjukkan perhatian penuh (harapan), tanggung jawa.b dan usaha

(mobilitas ke atas) yang lebih besar secara kualitatif maupun kuantitatif dalam

melakukan kerja atau tugas. Bila suatu pekerjaan atau tugas dapat

memenuhi kebutuhan individu, maka keterlibatan kerja yang tinggi akan

tampak.

2.2.2 Aspek-Aspek Keterlibatan Kerja

Dalam keterlibatan kerja banyak aspek-aspek yang menjadi ukuran seberapa

besar keterlibatan kerja karyawan terhadap organisasi. Untuk

meningkatkannya karyawan perlu memperhatikan aspek-aspek yang harus

dikembangkan dan ditingkatkan. Dalam keterlibatan kerja terdapat lima aspek

(46)

menurut Lodahl & Kejner (dalam Sahlan Asnawi, 2002). Aspek-aspek

tersebut adalah:

a. Adanya harapan yang besar terhadap pekerjaan.

Setiap individu mempunyai keinginan untuk dapat mencapai hasil yang

maksimal sesuai harapan individu. Harapan inilah yang nantinya akan

mempengaruhi tinggi rendahnya keterlibatan kerja individu dalam

melakukan kerja atau tugas.

b. Adanya keterlibatan emosional terhadap pekerjaan.

Selain kemampuan dalam bidang pengetahuan individu pun dalam

bekerja perlu melibatkan emosionalnya. Tidak mungkin dipungkiri

bahwa tidak jarang banyak individu yang melibatkan emosi dan

peranannya dalam mengambil sebuah keputusan.

c. Adanya rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan.

Rasa tanggung jawab di sini adalah sejauhmana individu menilai dan

memahami tugas dan pekerjaan yang dilakukannya. Terlibatnya

individu pada pekerjaan menuntut adanya rasa tanggung jawab yang

besar yang akan mempengaruhi kinerja kerja individu.

d. Adanya rasa bangga terhadap pekerjaan.

Rasa bangga yang dirasakan oleh seorang karyawan terbentuk karena

organisasi tempat dirinya bekerja mampu membe1rikan penghargaan,

(47)

juga dihargai dan hal ini yang dapat mendorong karyawan untuk

mencapai target yang telah ditentukan organisasi.

e. Adanya keinginan untuk mobilitas ke atas.

Yang dimaksud disini adalah sejauhmana individu mempunyai

keinginan dan usaha yang besar untuk meningkatkan kualitas dan

kuantitas individu.

2.2.3 Komponen-Komponen Keterlibatam Kerja

Paullay, Alliyor dan Stone dalam Diefendorff dkk,(2002) mengungkapkan

keterlibatan kerja terdiri dari dua komponen, yaitu :

a. Peran keterlibatan kerja (job involvement role) yaitu tingkat

sejauhmana individu terikat pada tugas tertentu untuk memperbaiki

pekerjaan orang lain.

b. Pembentukan keterlibatan kerja (job involvement setting) yaitu tingkat

seberapa jauh individu melaksanakan pekerjaan orang lain yang pada

saat itu sudah terikat pada lingkungan kerjanya.

Kedua komponen tersebut menunjukkan terjadinya pembagian peran kerja

(job role) dan tanggung jawab dalam kelompok kerja dengan kurangnya

(48)

tugas pada kelompok tersebut, namun atasan lebih banyak menggunakan

peran dukungan (supportive role) terhadap karyawan.

2.2.4

Faktor Keterlibatan kerja

Banyak faktor-faktor yang dijadikan tolok ukur untuk mengetahui seberapa

besar keterlibatan kerja karyawan. Yuki (1994) menyebutkan 3 faktor yang

dapat dijadikan tolok ukur keterlibatan kerja karyawan, yaitu sebagai berikut :

a. Komunikasi

Komunikasi dalam organisasi berperan sangat penting. Pandangan

karyawan mengenai komunikasi seperti kepastian (accuracy)

terjadinya komunikasi pada saat yang tepat (timeliness) dan layak

tidaknya sebuah informasi dikomunikasikan kepacla karyawan

(appropriate). Misalnya semua karyawan selalu tahu semua aktivitas

organisasi atau organisasi merasa segala informasi yang berhubungan

dengan organisasi sangat diperlukan. Bila antara atasan dengan

karyawan ataupun antara karyawan dengan karyawan tidak terjalin

komunikasi dengan baik, maka karyawan merasa tidak dilibatkan

dalam perusahaan dan biasanya keterlibatan kerja karyawan pun

(49)

b. Partisipasi dalam membuat keputusan

Partisipasi akan menciptakan keterlibatan kerja karyawan. Dalam hal

ini karyawan mendapat kesempatan untuk terlibat dalam pembuatan

keputusan operasional. Partisipasi dimengerti sebagai salah satu

aktivitas yang tidak kalah pentingnya dalam kehidupan organisasi.

Partisipasi adalah jumlah keseluruhan pengaruh yang dirasakan oleh

para bawahan tentang penggunaan umum prosedur-prosedur

pengambilan keputusan yang partisipatif oleh pernimpin.

c. Kerja tim (team work)

Seberapa jauh karyawan mampu memecahkan masalah, merupakan

bagian dari kerja sama karyawan dalam suatu tim untuk memecahkan

masalah dan menjaga efektivitas tim dan seringnya bekerja sama

dalam tim untuk melancarkan pelaksanaan tugas.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fal<tor keterlibatan

kerja adalah : komunikasi, yang memegang peranan sangat penting dalam

suatu organisasi. Partisipasi dalam membuat keputusan, yang memberikan

karyawan kesempatan untuk terlibat dalam pembutan keputusan operasional.

Kerja tim (team work), yang merupakan bagian dari kerjasama dalam suatu

(50)

utarna dalarn hidup, rnerupakan salah satu dirnensi keterlibatan kerja yang

rnengukur orientasi kerja individu. Seberapa jauh individu berpartisipasi aktif

dalam pekerjaan, yang mengindikasikan keterlibatan sec:ara pribadi pada

pekerjaan dengan tujuan untuk rnencurahkan ekpresi diri dan aktualisasi

pada pekerjaan.

Menurut Schultz dan schultz (1998) rnengemukakan ada beberapa faktor

yang mempengaruhi keterlibatan kerja, antara lain :

a. Usia. Karyawan yang berusia lebih tua biasanya akan lebih terlibat dalam

kerjanya daripada karyawan yang lebih rnuda. Hal ini rnungkin

disebabkan para karyawan yang lebih tua lebih bertanggung jawab dalam

menyelesaikan tugas-tugasnya dan lebih berpengalaman dalam bekerja.

Sedangkan karyawan yang lebih rnuda seringkali mernpunyai lebih sedikit

pengalaman dibanding yang lebih tua.

b. Masa kerja. Semakin lama individu bekerja akan sernakin baik

penyesuaian dirinya terhadap unsur-unsur pekerjaan, sehingga akan

sernakin mudah kemungkinannya bagi individu mempunyai keterlibatan

terhadap pekerjaannya daripada yang mempunyai masa kerja yang lebih

singkat.

c. Tingkat pendidikan. Dalarn hal ini dapat disirnpulkan bahwa individu yang

(51)

lebih menantang, sehingga akan lebih semakin terlibat dalam

pekerjaannya.

d. Jenis kelamin. Pekerja wanita akan lebih mempunyaii keterlibatan kerja

yang lebih tinggi daripada pria.

e. Kebutuhan untuk berkembang (higher order need strength). Setiap

manusia mempunyai kebutuhan untuk berkembang yang berbeda-beda.

Tapi kebutuhan tersebut terbagi menjadi dua, kebutuhan pertama yaitu

intrinsik yang merupakan daya dorong yang timbul dari dalam diri individu

itu sendiri. lndividu yang terdorong secara intrinsik akan menyenangi

pekerjaannya dan membuat lebih terlibat dalam pekerjaannya serta

memungkinkan untuk lebih kreatif, inovatif, serta bekerja dengan tingkat

kompetensi yang tinggi. Sedangkan kebutuhan kedu;3 adalah kebutuhan

ekstrinsik (pendorong dari luar). lndividu yang seperti ini lebih cenderung

melihat apa yang akan diberikan organisasi kepadanya dan kinerjanya

pada hal-hal yang diinginkan dari organisasi.

2.2.5 Ciri-ciri lndividu yang Memiliki Keterlibatan Kerja

Ciri-ciri individu yang terlibat pada pekerjaan, dikemukan oleh Kanungo (dalam

Ernawaty & Musa Tanaja, 1996) sebagai berikut:

1. lndividu menempatkan kerja sebagai perhatian utama dalam

kehidupannya.

(52)

2. lndividu berpartisipasi aktif dalam pekerjaannya.

3. lndividu menganggap kinerja sebagai pusat harga diri.

4. lndividu menganggap ada konsistensi antara kinerja dengan harga diri .

Sedangkan menurut Davis F. Elloy et.al (dalam Dulhadi, 1995) menyatakan

seorang individu merasakan keterlibatan kerja bila terdapat hal-hal sebagai

berikut:

1. Secara aktif berpartisipasi terhadap pekerjaannya. Partisipasi berarti

keterlibatan mental dan emosional dan bukan hanya aktivitas fisik. Dari

individulah yang terlibat, bukan hanya ketrampilannya saja. Keterlibatan

ini lebih bersifat psikologis, ketimbang fisik.

2. Memandang pekerjaan sebagai pusat dari kehidupannya. Hal ini bukan

berarti bahwa individu tidak bekerja, dia tidak dapat memenuhi

kebutuhannya karena tidak ada yang memberi upahi, namun individu

melihat bahwa apa yang dikerjakannya adalah memang sebagai jalan dan

pusat hidup yang dijalaninya.

3. Melihat kinerja sebagai pusat harga diri. lndividu akan berusaha

memberikan yang terbaik dari apa yang dikerjakannya karena hasil kerja

inilah yang meningkatkan harga dirinya. Bagi individu kinerja akan

(53)

Harapan dan kebutuhan diusahakan untuk dipenuhi rnelalui pekerjaan sangat

dipengaruhi oleh proses sosialisasi, yang akan rnernbentuk nilai-nilai dalarn diri

individu. Nilai-nilai yang berorientasi pada kerja akan 」ャゥ「エセョエオォ@ pacla tahap ini.

lndividu yang dibesarkan dalarn lingkungan kerja keras dan pencapaian

prestasi, akan rnengekspresikan nilai itu pada harapannya terhadap pekerjaan.

Tindakan dan sikap kerja yang ditunjukkan oleh rnasing-masing individu,

rnerupakan alat untuk rnencapai tujuan dan harapannya i:tu. Sejauh rnana

tindakan tersebut dapat mernenuhi kebutuhannya inilah yang akan

rnernperkuat keyakinan individu rnengenai potensi pekerjaan untuk pernenuhan

kebutuhan. Dengan adanya keyakinan yang demikian maka dapat

rnenimbulkan keterlibatan kerja (Dulhadi, 1995).

Adapun peran penting dari keterlibatan kerja individu adalah sebagairnana

yang djelaskan Dulhadi (dalarn Sahlan Asnawi, 2002) sebagai berikut:

a. Meningkatkan performance kerja.

b. Meningkatkan semangat dan gairah kerja.

c. Memperkuat munculnya kepuasaan kerja.

d. Meningkatkan prestasi dan produktivitas kerja.

e. Menumbuhkan dan rnengernbangkan rasa untuk bertanggung jawab

terhadap pekerjaannya.

(54)

2.3

Kerangka Berpikir

Perilaku yang ditimbulkan karyawan dalam organisasi sangatlah beragam,

salah satunya adalah perilaku citizenship atau yang lebih dikenal dengan

Organizational Citizenship Behavior (OCB) yaitu perilaku sukarela yang tidak

tertulis dalam aturan formal dan dapat mendukung ォ・ャ。ョゥセウオョァ。ョ@ organisasi.

Organizational citizenship behavior (OCB) adalah sesuatu yang tidak tertulis

pada job description karyawan yang dibuat oleh organisasi, namun

organizational citizenship behavior (OCB) merupakan suatu perilaku

kebebasan tanpa diminta untuk menunjang kelangsungan organisasi.

Sedangkan keterlibatan kerja merupakan tingkat ketertarikan karyawan pada

pekerjaannya, pekerjaan merupakan bagian penting dari kehidupannya, dan

membuat kebanggaan bagi dirinya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya perilaku organizational

citizenship behavior (OCB) adalah keterlibatan kerja. Hal ini diasumsikan

karena ketika karyawan dalam organisasi telah memiliki l<eterlibatan kerja yang

tinggi maka dapat diprediksi bahwa karyawan akan bekerja lebih kreatif, lebih

keras serta mengembangkan diri dalam pekerjaan untuk mendapatkan hasil

maksimal yang diinginkan. Bahkan karyawan juga akan rnencurahkan seluruh

kemampuannya melebihi dari yang dituntut organisasi, termasuk menjalankan

(55)

Karyawan yang memiliki keterlibatan kerja akan mempunyai keterkaitan dan

kedekatan emosi antar karyawan sehingga dapat menimbulkan dampak

positif pada organisasi. Semua perilaku tersebut didasarkan pada

kesukarelaan, bukan aturan formal. Keterlibatan kerja secara teoritik

berhubungan positif dengan organizational citizenship bt1havior (OCB), maka

peneliti ingin mengetahui apakah keterlibatan kerja berhubungan dengan

organizational citizenship behavior(OCB). Dengan demiikian, jika karyawan

memiliki keterlibatan kerja akan memunculkan organizational citizenship

behavior (OCB) karena karyawan bersedia melakukan apa saja tanpa

menerima imbalan tertentu demi kelangsungan organisasi.

2.4

Hipotesis

Berdasarkan deskripsi teoritis di atas, maka hipotesis yang diajukan adalah :

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara keterlibatan kerja dengan

Organizational Citizenship Behavior (OCB).

Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara keterlibatan kerja dengan

(56)

3.1. Jenis Penelitian

3.1.1 Pendekatan dan Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, pendekatan penelitian yang digunakan adalah

pendekatan kuantitatif. Pada umumnya penelitian kuantitatif menggunakan

angka-angka mulai dari pengumpulan data, penafsiran data serta penampilan

dari hasil penelitian.

Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif korelasional untuk

mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara Keterlibatan kerja

dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB). Pern3litian deskriptif

menurut Sevilla (1993) bertujuan untuk menggambarkan sifat suatu keadaan

yang ditemukan pada saat penelitian dilaksanakan, memeriksa sebab-sebab

dari suatu gejala tertentu. Namun penelitian deskriptif ini tidak merniliki

kekuatan kontrol terhadap hal-hal yang terjadi tersebut, clan hanya dapat

(57)

Penelitian korelasional merupakan penelitian yang dirancang untuk

menentukan tingkat hubungan antara variabel-variabel yang berbeda dalam

suatu populasi. Menurut Sevilla (1993), pengukuran 、・ョAセ。ョ@ korelasi

digunakan untuk menentukan besarnya arah hubungan antara satu variabel

dengan variabel lain.

3.1.2 Definisi Konseptual dan Operasional Variabel

1. Definisi Konseptual Variabel

Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah suatu bentuk

perilaku membantu, patuh, antusias, toleransi yang ditujukan kepada

individu lain maupun organisasi yang merupakan pribadi dan tidak

mendapatkan imbalan jika ditampilkan karena tidak termasuk dalam

persyaratan kerjanya namun dapat memperbaiki clan meningkatkan

kinerja, konteks sosial serta psikologis organisasi.

Keterlibatan kerja adalah identifikasi psikologis karyawan terhadap

pekerjaaan, yang menunjukkan sejauh mana pekerjaan tersebut

(58)

2. Definisi Operasional Variabel

Dalam penelitian ini dapat ditentukan variabel bebas (independent

variabel) adalah keterlibatan kerja, sedangkan variabel terikatnya

(dependent variabel) adalah organizational citizenship behavior

(OCB).

Definisi operasional dalam variabel penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Organizational Citizenship Behavior (OCB), skor yang didapat dari

pengukuran organizational citizenship behavior (OCB). lndikator yang

dipakai pada skala ini berdasarkan lima dimensi OCB oleh Organ,

Padsakoff, Mackenzie, Moorman, dan Fetter (dalam LePine, 2002).

Dimensi tersebut mencakup altruism (menolong), conscentiousness

(sukarela), civic Virtue (tanggung jawab), courtesy (mencegah

masalah) dan sportsmanship (toleransi).

Keterlibatan kerja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah skor

yang didapat dari pengukuran skala keterlibatan kerja. lndikator yang

digunakan dalam skala keterlibatan kerja dalam penelitian ini

'

didasarkan pada aspek-aspek yang terdapat pada keterlibatan kerja

(59)

terhadap pekerjaan, adanya keterlibatan emosional terhadap

pekerjaan, adanya rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan, adanya

rasa bangga terhadap pekerjaan, adanya keinginan untuk mobilitas ke

atas.

3.2

Subyek Penelitian

3.2.1

Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek

yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Menurut Arikunto

(2002), populasi adalah semua individu untuk siapa kenyataan yang

diperoleh dari sampel penelitian akan digeneralisasikan dan minimal memiliki

sifat yang sama. Populasi dalam penelitian ini adalah kaiyawan BKKBN

(Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Pusat di Direktorat

Advokasi, Komunikasi, lnformasi, Edukasi (DITKOM), Direktorat Remaja dan

Perlindungan Hak-hak Reprodukasi (DITREM), Direktorat lnstitusi Peran

Serta (DITRAN), Direktorat Pemberdayaan Ekonomi Keluarga (DITKON),

Diektorat Pengembangan dan Pertahanan Keluarga (DITHAN) dan Direktorat

Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga (DITLIN) yang berjumlah 150

(60)

Subyek yang digunakan dalam penelitian ini tidaklah semua dari jumlah

populasi yang ada melainkan hanya sebagian kecil dari populasi. Hal ini

senada dengan definisi yang diungkapkan Arikunto (200:2) sampel adalah

sebagian dari anggota populasi tersebut dan harus mempunyai karakteristik

yang sama dengan populasi. Dalam membahas ukuran sample, Arikunto

(2002) menyatakan bila populasi berjumlah lebih dari 100 orang maka dapat

diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih. Jumlah keselurahan sampel dalam

penelitian ini sebanyak 38 orang dan jumlah sampel ini sudah memenuhi

syarat suatu distribusi kurva normal.

Sedangkan metode perolehan sampel menggunakan probability sampling,

artinya setiap subyek dalam suatu populasi memiliki karakteristik yang sama

dengan tujuan penelitian ini yakni pegawai BKKBN yaitu staff bagian

Direktorat Advokasi, Komunikasi, lnformasi, Edukasi (DITKOM), Direktorat

Remaja dan Perlindungan Hak-hak Reprodukasi (DITREM), Direktorat

lnstitusi Peran Serta (DITRAN), Direktorat Pemberdayaan Ekonomi Keluarga

(DITKON), Diektorat Pengembangan dan Pertahanan Keluarga (DITHAN)

dan Direktorat Peningkatan Kualitas Lingkungan Keluarga (DITLIN) akan

mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi 。ョセQァッエ。@ sampel jika

(61)

3.2.2 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

simple random sampling atau sampel acak sederhana yaitu dalam

pengambilan sampel peneliti mencampur semua subyek-subyek di dalam

populasi sehingga semua subyek dianggap sama. Dengan demikian maka

peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subyek untuk memperoleh

kesempatan dipilih menjadi subyek (Arikunto, 2002).

3.3 Pengumpulan Data

3.3.1 Metode Pengumpulan data

Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode

pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menyebarkan skala

keterlibatan kerja dan skala organizational citizenship behavior (OCB) yang

telah peneliti buat. Skala dalam penelitian ini mengacu pada skala model

Likert, namun peneliti menghilangkan jawaban netral. Hal tersebut

dikarenakan menghindari kecenderungan orang untuk melakukan central

(62)

3.3.2

lnstrumen Penelitian

Adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Skala Keterlibatan Kerja dan Skala Organizational Citizenship Behavior

(OCB). Peneliti akan membuat pernyataan-pernyataan yang berkaitan

dengan keterlibatan kerja dan OCB, di dalam pernyataan-pernyataan

tersebut terdapat dua jenis pernyataan yaitu pernyataan favourable dan

unfavourable. Di dalam dua jenis pernyataan tersebut diberi skala model Likert. Dimana subjek ditanya apakah mereka sangat setuju, setuju, tidak

setuju, sampai dengan sangat tidak setuju.

1. Skala Organizational Citizenship Behavior

Skala Organizational Citizenship Behavior yaitu, skala yang disusun

berdasarkan dimensi-dimensi OCB. lndikator ケ。ョセQ@ dipakai pada skala

ini berdasarkan lima dimensi OCB oleh Organ, Padsakoff, Mackenzie,

Moorman, dan Fetter (dalam LePine, 2002). Dimensi tersebut adalah

altruism (menolong), conscentiousness (sukarela), civic virtue

(tanggung jawab), courtesy (mencegah masalah) dan sportsmanship

(toleransi). Skala yang digunakan yaitu model skal!a Likert. Skala ini

terdiri dari 60 item yang terbagi atas 29 favorable dan 31 item

unfavorable. Untuk lebih jelasnya akan digambarkan dalam tabel blue

(63)

No

1

2

3

4

[image:63.595.29.484.149.504.2]

5

Tabel 3.1

Blue Print Skala Organizational Citizenship Behavior (OCB) (Try out)

Item

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

Altruism (membantu) 1, 11,21,23,29, 6,16,22,30,37,

38,44,52 40,42,50,55

Courtesy (mencegah masalah) 7, 15,27,49,54 2,20,24,32,39,45

Conscientiousness (sukarela) 3, 19,25,31,43, 8, 14,34,36,48,

58 53

Sportsmanship (toleransi) 9, 13,33,41,56 4, 18,26,47,51

Civic virtue (bertanggung jawab) 5, 17,35,46,59 10, 12,28,57,60

Jumlah 29 31

2. Skala Keterlibatan kerja

Dalam skala keterlibatan kerja, peneliti akan membuat

pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterlibatan

Gambar

Tabel 4.6 Kategori skor skala keterlibatan kerja ............................................
Tabel 3.1
Blue Print Skala Keterlibatan Kerja Tabel 3.2 (Try out)
Bobot Skor Penilaian Skala Tabel 3.3 Organizational Citizenship Behavior (OCB)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja dengan Organizational Citizenship Behavior ( OCB ) pada Karyawan RS PKU Muhammadiyah

Hubungan Antara Kepuasan Kerja Dan Resiliensi Dengan Organizational Citizenship Behavior ( Ocb ) Pada Karyawan Kantor Pusat Pt.Bpd Bali. Jurnal Psikologi

Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu: (1) Ada hubungan positif antara kepemimpinan transformasional dengan Organizational Citizenship Behavior (OCB) di UMS. (2)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara rendahnya kualitas interaksi atasan-bawahan dengan rendahnya perilaku Organizational Citizenship Behavior

sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Hubungan Kualitas Kehidupan Kerja dengan Organizational Citizenship Behavior Karyawan PT..

Pengaruh Organizational citizenship behavior dengan Kinerja melalui kepuasan kerja Berdasarkan analisis jalur bahwa jalur diketahui pengaruh organizational citizenship behavior

Berdasarkan hasil- hasil penelitian di atas maka: H1 Organizational Citizenship Behaviour OCB berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja Organizational Citizenship Behavior OCB

Penutup Kesimpulan Hasil riset hal akibat keikutsertaan karyawan serta sokongan badan kepada organizational citizenship behavior dengan kepuasan kerja selaku elastis perantaraan