• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Cahaya Matahari Terhadap Kadar Vitamin C Pada Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor) Dengan Naungan Dan Tanpa Naungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Cahaya Matahari Terhadap Kadar Vitamin C Pada Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor) Dengan Naungan Dan Tanpa Naungan"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH CAHAYA MATAHARI TERHADAP KADAR

VITAMIN C PADA TANAMAN BAYAM (Amaranthus tricolor)

DENGAN NAUNGAN DAN TANPA NAUNGAN

SKRIPSI

KHAIRUNNISYAH NASUTION

080822015

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGARUH CAHAYA MATAHARI TERHADAP KADAR

VITAMIN C PADA TANAMAN BAYAM (Amaranthus tricolor)

DENGAN NAUNGAN DAN TANPA NAUNGAN

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar sarjana sains

KHAIRUNNISYAH NASUTION

080822015

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PERSETUJUAN

Judul : PENGARUH CAHAYA MATAHARI

TERHADAP KADAR VITAMIN C PADA TANAMAN BAYAM (Amaranthus tricolor) DENGAN NAUNGAN DAN TANPA NAUNGAN.

Kategori : SKRIPSI

Nama : KHAIRUNNISYAH NASUTION

Nomor Induk Mahasiswa : 080822015

Program Studi : SARJANA (S1) KIMIA EKSTENSI

Departemen : KIMIA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM (FMIPA)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Disetujui di Medan, Juli 2010

Komisi Pembimbing :

Pembimbing 2 Pembimbing 1

Drs.Firman Sebayang, MS Dr. Ribu Surbakti, MS

NIP.195607261985031001 NIP.194507061980031001

Diketahui / Disetujui oleh

Departemen Kimia FMIPA USU Ketua,

(4)

ABSTRAK

(5)

SUN LIGHT INFLUENCE ON VITAMIN C CONTENT IN PLANT SPINACH (Amaranthus tricolor)

ABSTRACT

(6)

DAFTAR ISI 2.1.1 Jenis-jenis Bayam 5 2.1.2 Sistematika Tanaman Bayam 6

2.1.3 Kandungan Bayam 6 2.1.4 Khasiat Bayam 8

2.2. Vitamin 9

2.2.1 Analisa Vitamin 10 2.3. Vitamin C 11 2.3.1. Struktur Vitamin C 11 2.3.2. Sifat-sifat umum Vitamin C 11 2.3.3. Sumber Vitamin C 12 2.3.4. Fungsi Vitamin C 12 2.3.5. Metabolisme Vitamin C 13 2.3.6. Biosintesis Vitamin C 13

2.3.7. Akibat Kekurangan Vitamin C 14 2.3.8. Akibat Kelebihan Vitamin C 14

2.3.9. Analisis Vitamin C 14

2.4. Fotosintesis 15

2.5. Pengaruh Intensitas Cahaya 16

2.6. Analisa Titrimetri 17

2.6.1. Titrasi yang Melibatkan Iodium 17

2.7. Indikator Amilum 18

2.5.1 Reaksi antara vitamin C dan Iodin dengan menggunakan

Indikator Amilum 19

(7)

3.1. Alat 21

3.2. Bahan 21

3.3. Prosedur Penelitian 22

3.3.1. Pembuatan Larutan Pereaksi 22

3.3.1.1 Pembuatan Larutan Iodium 0,01N 22

3.3.1.2 Pembuatan Larutan Amilum 22

3.3.1.3 Prosedur Penanaman Tanaman Bayam Hijau (Amaranthus

tricolor) 22

3.3.1.4 Pengukuran Kadar Vitamin C dalam Tanaman Bayam

Hijau (Amaranthus tricolor) 22

(8)

ABSTRAK

(9)

SUN LIGHT INFLUENCE ON VITAMIN C CONTENT IN PLANT SPINACH (Amaranthus tricolor)

ABSTRACT

(10)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sosok tanaman bayam sangat mudah dikenali, yaitu berupa perdu yang tumbuh tegak,

batangnya tebal berserat dan sukulen pada beberapa jenis mempunyai duri. Daunnya bisa

tebal atau tipis, besar atau kecil, berwarna hijau atau ungu kemerahan (pada jenis bayam

merah). Bunganya berbentuk pecut, muncul di pucuk tanaman atau pada ketiak daunnya.

Bijinya berukuran sangat kecil berwarna hitam atau cokelat dan mengkilap (Bandini,Y.,

2001).

Vitamin C merupakan senyawa yang sangat mudah larut dalam air, mempunyai sifat

asam dan sifat pereduksi yang kuat. Vitamin C yang mempunyai rumus empiris C6H8O6

dalam bentuk murni merupakan kristal putih, tidak berwarna, tidak berbau dan mencair pada

suhu 190-1920C. Senyawa ini bersifat reduktor kuat dan mempunyai rasa asam

(Andarwulan,N., 1992).

Japan Food Standarization Ingredients List menyatakan bahwa dewasa ini

makanan-makanan alami kehilangan banyak zat gizi karena faktor lingkungan, kerusakan tanah dan

pengolahan dengan zat tambahan seperti pupuk anorganik, zat perangsang tanah dan lain

sebagainya. Pengurangan nilai gizi yang drastis khususnya vitamin C pada bayam telah

diamati dari tahun ke tahun dan dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar vitamin C cukup

signifikan sebab pada tahun 1950 : 150 mg, tahun 1963 : 100 mg, tahun 1982 : 63 mg dan

pada tahun 1994 menjadi 13 mg, masing-masing per 100 gram bahan, hal ini diduga akibat

perubahan global dimana suhu udara semakin naik sehingga penguapan pada daun bayam

yang bentuknya tipis semakin tinggi, sedangkan air merupakan bahan baku untuk proses

fotosintesa serta merupakan media reaksi yang paling bagus (Packer,L., 2006).

Cahaya mempengaruhi susunan asam askorbat pada sayuran dan buah. Sayuran

seperti bayam, pada sore hari mengandung asam askorbat lebih besar daripada waktu pagi,

namun perubahan itu disebabkan adanya perubahan kadar air. Dalam tanaman terdapat suatu

(11)

Cahaya, suhu, karbondioksida dan air sangat mempengaruhi akumulasi asam askorbat dalam

tanaman. Cahaya nampaknya merupakan satu-satunya faktor lingkungan yang mempengaruhi

kadar asam askorbat dalam sayuran dan buah (Harris,R.1989).

Berdasarkan hal di atas, penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian tentang

menghitung kadar vitamin C pada tanaman bayam (Amaranthus tricolor) dengan pengaruh

cahaya matahari yaitu dengan membandingkan tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang

diberikan naungan dan dengan tanaman bayam (Amaranthus tricolor) tanpa naungan. Metode

penelitian yang digunakan adalah dengan metode titrasi iodometri.

1.2 Permasalahan

• Bagaimana pengaruh cahaya matahari terhadap kadar vitamin C hasil biosintesis pada tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang diberikan naungan dengan tanaman

bayam (Amaranthus tricolor) tanpa naungan.

• Seberapa besar pengaruh sinar matahari terhadap kandungan vitamin C pada bayam yang dinaungi dibandingkan daya control.

1.3 Pembatasan Masalah

Penulis membatasi masalah yang berhubungan dengan penelitian ini, yaitu :

Jenis tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang digunakan adalah bayam hijau.

• Metode yang digunakan adalah metode titrasi iodimetri.

• Jumlah sinar matahari yang digunakan diatur sedemikian rupa dengan diberi naungan sehingga hanya terkena sinar antara jam 8-10 pagi dan jam 3-5 sore untuk tanaman

bayam yang diberi naungan.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar vitamin C yang

terdapat pada tanaman bayam (Amaranthus tricolor) dengan pengaruh cahaya matahari yaitu

dengan membandingkan antara tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang diberikan

(12)

1.5 Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan para petani dan masyarakat dapat mengetahui

tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang layak diproduksi dan dikonsumsi untuk

memenuhi sumber vitamin C pada tubuh kita.

1.6 Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara eksperimen di lahan pertanian dan laboratorium yaitu :

tanaman bayam (Amaranthus tricolor), sebagian ditanam dengan menggunakan naungan

pada tanaman bayam (Amaranthus tricolor) dari jam 8-10 pagi dan dari jam 3-5 sore dan

sebagian lagi ditanam dengan tanpa naungan atau langsung terkena cahaya matahari.

Kemudian ditentukan kadar vitamin C nya dengan metode titrasi dengan larutan Iodin 0,01N.

1.7 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Lahan Rumah Kaca Fakultas Pertanian dan Laboratorium

(13)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mengenal Tanaman Bayam

Tanaman bayam merupakan salah satu jenis sayuran komersial yang mudah diperoleh

di setiap pasar, baik pasar tradisional maupun pasar swalayan. Ciri-ciri jenis bayam yang

enak untuk dimakan adalah daunnya besar, bulat, dan empuk. Bayam ini dapat diolah sebagai

sayur, pecel, atau gado-gado. Sedangkan bayam yang berdaunbesar, tipis, dan alot lebih enak

digoreng campur tepung untuk rempeyek.

Berdasarkan cara penanamannya jenis bayam dibedakan menjadi bayam cabut dan

bayam petik. Bayam cabut adalah bayam yang dipanen dengan cara dicabut seluruh bagian

tanaman beserta akar-akarnya. Bayam petik adalah bayam yang pemanenannya dilakukan

dengan cara dipetik daun atau pucuk daunnya saja sehingga dapat dilakukan berulang kali

sepanjang tanaman masih produktif.

2.1.1. Jenis-jenis Bayam

Jenis-jenis bayam yang ada sebenarnya sangatlah banyak, dari yang tumbuh liar

maupun yang telah dibudidayakan. Secara ringkas jenis bayam dapat dikelompokkan menjadi

dua, yaitu:

a. Bayam Liar

Bayam ini tumbuh secara liar, dapat dijumpai di lahan-lahan kosong tak terurus,

sebagai gulma di lahan pertanian, atau di tempat-tempat yang lembap, seperti di tepi selokan.

Tanaman ini tumbuh cepat dan semakin subur jika musim hujan tiba. Bayam ini dapat

dikonsumsi, tetapi rasanya agak getir sehingga lebih banyak digunakan sebagai obat atau

bahan untuk kecantikan.

b. Bayam Budi Daya

Jenis ini memang sengaja dibudidayakan untuk dikonsumsi karena rasa daunnya enak,

(14)

mempunyai nilai komersial yang tinggi. Jenis bayam yang telah banyak dibudidayakan di

antaranya adalah bayam cabut (A. tricolor L) dan bayam petik/bayam tahunan (A. hybridus

L) (Bandini,Y., 2001).

2.1.2. Sistematika Tanaman Bayam

Kingdom : Plantae

Divisio : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Ordo : Caryophyllales

Family : Amaranthaceae

Upfamily : Amaranthoidoae

Genus : Amaranthus L

(Bandini,Y., 2001).

2.1.3. Kandungan Bayam

Kandungan zat nutrisi pada tanaman bayam dalam per 100 gram porsi bayam adalah :

No Kandungan Bayam Berat

1 Air 91,58 g

2 Energi 22 kcal

3 Protein 2,86 g

4 Total lemak 0,35g

5 Karbohidrat 3,5 g

6 Serat 2,7 g

(15)

Mineral

3 Riboflavin Riboflavin 0.189 mg

4 Niacin 0.724 mg

Japan Food Standarization Ingredients List menyatakan bahwa dewasa ini

makanan-makanan alami kehilangan banyak zat gizi karena faktor lingkungan, kerusakan tanah dan

pengolahan dengan zat tambahan seperti pupuk anorganik, zat perangsang tanah dan lain

(16)

diamati dari tahun ke tahun dan dapat disimpulkan bahwa penurunan kadar vitamin C cukup

signifikan sebab pada tahun 1950 : 150 mg, tahun 1963 : 100 mg, tahun 1982 : 63 mg dan

pada tahun 1994 menjadi 13 mg, masing-masing per 100 gram bahan, hal ini diduga akibat

perubahan global dimana suhu udara semakin naik sehingga penguapan pada daun bayam

yang bentuknya tipis semakin tinggi, sedangkan air merupakan bahan baku untuk proses

fotosintesa serta merupakan media reaksi yang paling bagus (Journal of Enviromental &

Occupational Medicine, 2006).

2.1.4. Khasiat Bayam

Bayam selain bermanfaat sebagai sayur juga berkhasiat obat. Adapun khasiat dari bayam

adalah :

1. Mampu memperbaiki sistem pencernaan.

2. Menurunkan resiko terserang kanker.

3. Mengurangi kolesterol (masih sebatas pada hewan), dan bersifat antidiabetes. Cara

kerjanya dalam menurunkan kolesterol pada hewan adalah dengan mengonversi

kolesterol dalam tubuh menjadi koprostanol yang kemudian dibuang ke luar tubuh.

Sedangkan yang membuatnya berkhasiat antidiabetes adalah kandungan mangan

(Mn).

4. Untuk mengobati asma, bisa memakai bayam duri Amaranthus spinosus. Caranya

yaitu dengan memotong lima batang bayam duri muda, termasuk daun dan

kembangnya. Rebus potongan itu dengan menggunakan lima gelas air selama 7 - 10

menit. Air hasil rebusan tadi diminum tiga kali sehari. Untuk anak-anak cukup

diminum setengah gelas, sedangkan untuk orang dewasa satu gelas, dan bayi dua

sendok makan saja (http://www.khasiatku.com).

Kegunaan bayam mentah yang lainnya ialah pengaruhnya pada gigi dan gusi

(mencegah penyakit gusi). Penyakit gusi adalah sejenis scorbutus akibat kurangnya

unsur-unsur yang ada pada bayam dan wortel. Sari bayam juga merupakan obat

penawar bagus, karena mengandung banyak garam oksalat. Oleh karena itu, sari

(17)

2.2. Vitamin

Vitamin adalah senyawa-senyawa organik tertentu yang diperlukan dalam jumlah

kecil dalam diet seseorang tetapi esensial untuk reaksi metabolisme dalam sel dan penting

untuk melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara kesehatan.

Kebanyakan vitamin-vitamin ini tidak dapat disintesis oleh tubuh. Beberapa di

antaranya masih dapat dibentuk oleh tubuh, namun kecepatan pembentukannya sangat kecil

sehingga jumlah yang terbentuk tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Oleh karenanya

tubuh harus memperoleh vitamin dari makanan sehari-hari. Jadi vitamin mengatur

metbolisme, mengubah lemak dan karohidrat menjadi energi, dan ikut mengatur

pembentukan tulang dan jaringan.

Vitamin dibagi ke dalam dua golongan. Golongan pertama oleh Kodicek (1971)

disebut prakoenzim, dan bersifat larut dalam air, tidak disimpan oleh tubuh, tidak beracun,

diekskresi dalam urine. Yang termasuk golongan ini adalah : tiamin, riboflavin, asam

nikotinat, piridoksin, asam kolat, biotin, asam pantotenat, vitamin B12 dan vitamin C.

Golongan kedua yang larut dalam lemak disebutnya alosterin, dan dapat disimpan dalam

tubuh. Kekurangan vitamin mengakibat terjadinya penyakit defisiensi, tetapi biasanya gejala

penyakit akan hilang kembali apabila kecukupan vitamin tersebut terpenuhi (Poedjiadi,A,

1994).

Vitamin yang larut dalam lemak banyak terdapat dalam daging ikan, minyak ikan dan

biji-bijian sumber minyak seperti kacang tanah, kacang kedelai, dan sebagainya. Sekali

diserap dalam tubuh, vitamin-vitamin tersebut disimpan dalam hati atau jaringan-jaringan

lemak. Seperti halnya lemak, vitamin memerlukan protein pengangkut untuk

memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air,

maka vitamin-vitamin tersebut tidak dikeluarkan atau diereksikan, akibatnya vitamin ini

dapat ditimbun dalam tubuh bila dikonsumsi dalam jumlah banyak. Kekurangan vitamin yang

larut dalam lemak terjadi terutama bila daya serap tubuh terhadap lemak tidak baik atau bila

(18)

Vitamin-vitamin yang larut dalam air bergerak bebas dalam badan, darah, dan limpa.

Karena sifatnya yang larut dalam air, vitamin mudah rusak dalam pengolahan dan mudah

hilang karena tercuci atau terlarut oleh air, keluar dari bahan (Winarno, F.G., 2004).

2.2.1 Analisa Vitamin

Vitamin mempunyai sifat fisis maupun kimiawi yang spesifik maka cara analisanya

juga spesifik. Ada beberapa cara analisa vitamin yaitu cara kimiawi, cara biologis maupun

cara mikrobiologis.

Analisa vitamin secara kimiawi atau fisiko kimia didasarkan pada sifat vitamin baik

sifat fisis maupun kimiawi. Analisa cara biologis mempunyai kelebihan yaitu dapat langsung

diketahui peranan vitamin tersebut dalam zat hidup, serta secara kuantitatif dapat diketahui

jumlahnya. Sedangkan cara kimiawi hanya sekedar menentukan jumlah (kuantitas) saja. Oleh

karenanya sering kedua cara ini dilakukan secara bersama agar diperoleh data yang lebih

lengkap.

Analisa vitamin secara mikrobiologis menggunakan bakteri atau yeast ataupun jamur.

Akan tetapi harus diketemukan jenis mikroba yang spesifik untuk pengujian satu jenis bahan

makanan tertentu. Bahan makanan yang dianalisa harus dimurnikan dahulu dari bahan yang

lain yang besar kemungkinannya mempengaruhi aktivitas biologis mikrobia yang digunakan

untuk percobaan

(Sudarmadji, S., 1989).

2.3. Vitamin C

2.3.1. Struktur Vitamin C

Vitamin C merupakan senyawa yang sangat mudah larut dalam air, mempunyai sifat

asam dan sifat pereduksi yang kuat. Sifat-sifat tersebut terutama disebabkan adanya struktur

enediol yang berkonyugasi dengan gugus karbonil dalam cincin lakton. Bentuk vitamin C

(19)

dan hanya memiliki 10 persen aktivitas vitamin C. Biasanya D-asam askorbat ditambah ke

dalam bahan pangan sebagai antioksidan, bukan sebagai sumber vitamin C.

O O

L-asam askorbat L-dehidro asam askorbat

(Andarwulan, N, 1992).

2.3.2. Sifat-sifat Umum Vitamin C

Vitamin C yang mempunyai rumus empiris C6H8O6 dalam bentuk murni merupakan

kristal putih, tidak berwarna, tidak berbau dan mencair pada suhu 190-1920C. Senyawa ini

bersifat reduktor kuat dan mempunyai rasa asam.

Vitamin C sangat mudah larut dalam air (1 gram dapat larut sempurna dalam 3 ml

air), sedikit larut dalam alcohol (1 gram dalam 50 ml alcohol absolute atau 100 ml gliserin)

dan tidak larut dalam benzene, eter, kloroform, minyak dan sejenisnya. Walaupun vitamin C

stabil dalam bentuk kristal tetapi mudah rusak atau terdegradasi jika berada dalam bentuk

larutan, terutama jika terdapat udara, logam-logam seperti Cu dan Fe dan cahaya ( terutama

jika vitamin C terdapat bersama-sama dengan riboflavin). Sifat yang paling utama dari

vitamin C adalah kemampuan mereduksinya yang kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalis

oleh beberapa logam, terutama Cu dan Ag (Andarwulan, N., 1992).

Vitamin berperan dalam reaksi-reaksi metabolism dalam tubuh, bertindak sebagai

katalisator atau sebagai koenzim. Kebanyakan vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh. Oleh

karena itu, bersifat esensial sehingga harus disediakan dalam pangan atau pakan. Hanya ada

beberapa vitamin yang dapat disintesis oleh hewan yaitu vitamin D (oleh semua ternak)

(20)

2.3.3. Sumber Vitamin C

Vitamin C tidak terdistribusi secara luas dalam bahan makanan seperti kebanyakan

vitamin yang lain. Vitamin C hamper sepenuhnya dalam makanan nabati, yaitu sayuran dan

buah-buahan segar, tetapi tidak ditemukan dalam serealia atau sayuran kacang-kacangan

yang kering. Jumlah yang sangat sedikit dalam terdapat dalam makanan hewani seperti hati

da ginjal mentah. Susu segar mengandung sedikit vitamin C dan beberapa dari vitamin C ini

tidak rusak setelah pasteurisasi (Gaman, P.M., 1992).

2.3.4. Fungsi Vitamin C

Salah satu fungsi utama dari vitamin C adalah berperan dalam pembentukan kolagen.

Kolagen adalah sejenis protein yang merupakan salah satu komponen utama dari jaringan

ikat, tulang-tulang rawan, matriks tulang, lapisan endothelium pembuluh darah dan lain-lain.

Vitamin ini bertindak sebagai koenzim atau kofaktor pada proses hidroksilasi, baik secara

aktif sebagai zat reduktor. Vitamin C sangat esensial dalam proses penyembuhan luka dan

kemampuan tubuh untuk menghadapi stress dari injeksi (Tjokronegoro,1985).

2.3.5. Metabolisme Vitamin C

Bila jaringan tubuh ada dalam kondisi jenuh oleh vitamin C maka dari dosis yang

diberikan parenteral, sebagian besar akan dieksresikan di dalam urine, sebaliknya bila suplai

vitamin ini di dalam jaringan tidak mencukupi, maka sebagaian besar dari dosis vitamin C

yang diberikan akan diretensi di dalam tubuh dan sedikit sekali yang dieksresikan di dalam

urine (Sediaoetama,A.D.,2004).

2.3.6. Biosintesis Vitamin C

(21)

O

Asam D-glukuronat lakton L-gulonolakton oksidasi

O O

2-keto L-gulonolakton Asam L-askorbat (Goodman,S.,1994).

2.3.7. Akibat Kekurangan Vitamin C

Skorbut dalam bentuk berat sekarang jarang terjadi, karena sudah diketahui cara

mencegah dan mengobatinya. Tanda-tanda awal antara lain lelah, lemah, nafas pendek,

kejang otot, tulang, otot dan persendian sakit serta kurang nafsu makan, kulit menjadi kering,

kasar dan gatal, perdarahan gusi. Di samping itu, luka sukar sembuh, terjadi anemia,

kadang-kadang jumlah sel darah putih menurun, serta depresi dan timbul gangguan saraf. Gejala

Skorbut akan terlihat bila taraf asam askorbat dalam serum turun dibawah 0,20 mg/dl

(Almatsier,1998).

2.3.8. Kelebihan Vitamin C

Kelebihan vitamin C berasal dari makanan tidak menimbulkan gejala. Tetapi

konsumsi vitamin C berupa suplemen secara berlebihan tiap hari dapat menimbulkan

hiperoksaluria dan resiko lebih tinggi terhadap batu ginjal. Dengan konsumsi 5-10 gram

vitamin C baru sedikit asam askorbat yang dikeluarkan melalui urin. Resiko batu oksalat

dengan suplemen vitamin C dosis tinggi dengan demikian rendah, akan tetapi hal ini dapat

menjadi berarti pada seseorang mempunyai kecendrungan untuk pembentukan batu ginjal

(22)

2.3.9. Analisis Vitamin C

Metode analisis vitamin C dalam bahan pangan dapat dikelompokkan menjadi metode

fisik, metode kimia, metode biokimia dan metode biologis.

Adapun pembagian dari metode-metode diatas adalah :

1. Metode fisik terdiri atas metode spektroskopis dan metode polarografik.

2. Metode kimia terdiri atas titrasi dengan iodin, titrasi dengan 2,6-dikhlorofenol

indofenol, titrasi dengan biru metilen, pengukuran kuantitatif dengan pereaksi Folin,

pengukuran dengan asam phosfotungstat-Molibdat, metode giri (test ferrisianida dan

ammonium molybdat), test asam fosfomolibdat, metode Bachstez-Carallini, test

vanadium, test azo, test sulfatilamida, test asam selinida, test Emas-triklorida, test

mercury chlorida, metode pita kelli, metode szent-gyorgy, metode tauber, test

furfural, test cocathelin, pengukuran vitamin C dengan cara dioksidasi menjadi asam

oksalat, metode biru-prusia.

3. Metode biokimia terdiri atas metode asam askorbat oksidase, metode ini berdasarkan

kemampuan enzim asam oksidase untuk mengoksidasi asam askorbat.

4. Metode biologi terdiri atas metode preventif, metode kuratif, metode histologi

(Andarwulan, N., 1992).

2.4. Fotosintesis

Fotosintesis pada hakekatnya merupakan satu-satunya mekanisme masuknya energi

ke dalam dunia kehidupan. Dalam proses fotosintesis, organisme hidup mengubah energi

cahaya menjadi energi kimia dari molekul organik. Proses ini memanfaatkan sinar matahari

untuk menghasilkan energi bagi reaksi kimia fisika yang kompleks (Lawlor, D.W, 1993).

Energi matahari yang ditangkap oleh fotosintesis merupakan lebih dari 90% sumber

energi yang dipakai oleh manusia untuk pemanasan, cahaya dan tenaga. Keseluruhan proses

fotosintesis dituliskan dengan persamaan reaksi :

6 CO2 + 6H2O CAHAYA MATAHARI C6H12O6 + 6O2

(23)

Secara umum, reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi 2 tahap yaitu tahap utama

disebut reaksi terang dan tahap kedua disebut reaksi gelap.

1. Reaksi terang

Reaksi terang pada fotosintesis ini mengikuti cara yang sama seperti mekanisme

penangkapan elektron oleh mitokondria. Mekanisme reaksi terang meliputi :

• Produksi elektron pada tingkat energi yang lebih tinggi.

• Sistem perpindahan elektron yang menangkap energi dari elektron dan digunakan

untuk membentuk H+.

• Penggunaan H+ sebagai sumber energi untuk sintesis ATP.

Karena mekanisme pada tahap ini tergantung pada cahaya, dan berhenti jika sumber cahaya

terhambat, maka reaksi ini disebut reaksi terang.

2. Reaksi gelap

Dalam tahap ini, CO2 direduksi dan diubah menjadi senyawa organik kompleks.

Reaksi pada tahap ini sangat tergantung pada produksi ATP, NADPH dan O2 dan tidak

memerlukan cahaya secara langsung, sehingga reaksi ini disebut reaksi gelap.

ATP dan NADPH yang dihasilkan pada reaksi terang, dengan hadirnya CO2 akan

berperan sebagai pereaksi untuk reaksi gelap. Selanjutnya ADP, Pi dan NADP+ yang

dihasilkan oleh reaksi gelap, dengan hadirnya H2O akan bertindak sebagai pereaksi untuk

reaksi terang. Dalam reaksi terang dan reaksi gelap akan membentuk siklus dimana H2O dan

CO2 berfungsi sebagai sumber utama untuk menghasilkan molekul organik (karbohidrat) dan

O2 (Wolfe,S.L, 1993).

2.5. Pengaruh Intensitas Cahaya

Cahaya bukan merupakan faktor esensial untuk sintesis asam askorbat dalam

tanaman. Dalam tanaman terdapat suatu mekanisme yang mengubah sukrosa, heksosa, dan

prazat lain menjadi asam askorbat. Cahaya, suhu, dan karbondioksida mempengaruhi

akumulasi asam askorbat dalam tanaman. Suatu prazat asam askorbat dihasilkan oleh proses

(24)

pengurangan asam askorbat lebih cepat pada daun yang dipetik dibandingkan yang masih

tinggal pada tanaman, kemungkinan penururnan ini lebih diakibatkan oleh aktivitas

metabolisme, bukan oksidasi.

Keragaman intensitas cahaya dapat mengubah laju pembentukkan prazat dan hal ini

tidak mempengaruhi pengubahan prazat menjadi asam askorbat atau jumlah yang terbentuk

dalam proses metabolism tanaman. Keragaman suhu dapat mengubah aktivitas metabolisme

atau laju pembentukan prazat, tetapi nampaknya tidak berpengaruh penting pada jumlah asam

askorbat yang disintesis dari prazat ini. Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa sering

terjadi dalam pertentangan dalam pustaka tentang pengaruh cahaya terhadap asam askorbat.

Cahaya nampaknya merupakan satu-satunya faktor lingkungan yang mempengaruhi kadar

asam askorbat dalam sayuran daun dan buah (Harris, R., 1989).

2.6. Analisis Titrimetri

Proses penambahan larutan standar sampai reaksi tepat lengkap disebut titrasi, dan zat

yang akan ditetapkan, dititrasi. Titik (saat) pada mana reaksi itu tepat lengkap disebut titik

ekuivalen (setara) atau titik-akhir teoretis. Lengkapnya titrasi, lazimnya harus terdeteksi oleh

larutan standart itu sendiri (misalnya kalium permanganate), atau lebih lazimnya lagi, oleh

penambahan suatu reagensia pembantu yang dikenal sebagai indkator. Setelah reaksi antara

zat dan larutan standar praktis lengkap, indikator harus memberi perubahan visual yang jelas,

dalam cairan yang sedang dititrasi. Titik (saat) pada mana ini terjadi, disebut titik akhir titrasi

(Vogel, 1994).

2.6.1. Titrasi yang Melibatkan Iodium

Titrasi yang melibatkan iodium dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu titrasi langsung

(iodimetri) dan titrasi tidak langsung (iodometri).

a) Titrasi Langsung

Iodium akan mengoksidasi senyawa-senyawa yang merupakan potensial reduksi yang

lebih kecil dibandingkan iodium. Vitamin C mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil

daripada iodium sehingga dapat dilakukan titrasi langsung dengan iodium.

Larutan baku iodium yang telah dibakukan dapat digunakan untuk membakukan

(25)

menggunakan indikator amilum yang akan memberikan warna biru pada saat tercapainya titik

akhir. Dalam farmakope Indonesia, titrasi iodimetri digunakan untuk menetapkan kadar :

asam askorbat; natrium askorbat; metampiron (antalgin); serta natrium tiosulfat dan sediaan

injeksinya.

b) Titrasi Tidak Langsung

Iodometri merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk menetapkan

senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi yang lebih besar daripada sistem

iodium-iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat oksidator seperti CuSO4.5H2O. Pada

iodometri, sampel yang bersifat oksidator direduksi dengan kalium iodide berlebihan dan

akan menghasilkan iodium yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat.

Banyaknya volume natrium tiosulfat yang digunakan sebagai titran setara dengan iodium

yang dihasilkan dan setara dengan banyaknya sampel (Gandjar, G.,2007).

I2 adalah oksidator lemah sedangkan iodida secara relatif merupakan reduktor lemah.

Kelarutannya cukup baik dalam air dengan pembentukan triodida (KI3). Iodium dapat

dimurnikan dengan sublimasi. Ia larut dalam KI dan harus disimpan dalam tempat yang

dingin dan gelap. Berkurangnya iodium akibat penguapan dan oksidasi udara menyebabkan

banyak kesalahan analisis. Biasanya indikator yang digunakan adalah amilum. Iodida pada

konsentrasi <10-5 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum. Sensitivitas warnanya

tergantung pada pelarut yang digunakan. Komplek iodium-amilum mempunyai kelarutan

yang kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir titrasi (Khopkar, S.M.,

2003).

2.7. Indikator Amilum

Warna larutan 0,1N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai

indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat

kepada pelarut-pelarut seperti karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini

digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu

larutan amilum, karena biru tua dari kompleks amilum-iodium dipakai untuk suatu uji sangat

peka terhadap iodium. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada dalam

larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida.

Larutan amilum mudah terurai oleh bakteri, suatu proses yang dapat diperlambat

dengan jalan sterilisasi atau penambahan zat pengawet. Hasil-hasil peruraian memakai

(26)

furoat dapat digunakan sebagai bahan pengawet. Keadaan-keadaan yang menyebabkan

hidrolisa atau koagulasi dari amilum harus dihindarkan. Kepekaan indikator berkurang

dengan kenaikan suhu dan oleh beberapa zat organik, seperti metal dan etil alkohol

(Underwood, A.L, 1986).

L-asam askorbat L-dehidro asam askorbat

 Amilum + I2

2.7.1 Reaksi antara vitamin C dan Iodin dengan menggunakan indikator amilum

(27)

BAB 3

BAHAN DAN METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Bahan-bahan

1. Bayam Hijau (Amaranthus tricolor)

2. Akuades

3. Iodin 0,01N

4. Amilum 1%

5. Kertas saring Whatman

3.2.Alat-alat

1. Gelas Erlenmeyer Pyrex

2. Labu takar Pyrex

3. Gelas Ukur Pyrex

4. Beaker Gelas Pyrex

5. Buret Pyrex

6. Neraca Analitis Mettler Toledo

7. Pipet tetes -

8. Pipet Volume Pyrex

9. Magnetik stirer -

10. Hot plate -

11. Corong Pyrex

12. Alu dan lumpang -

(28)

3.3. Prosedur Penelitian

3.3.1. Pembuatan larutan pereaksi

3.3.1.1. Pembuatan larutan Iodium 0,01N

Sebanyak 1,66 g KI dan 1,26 g Iodida dimasukkan ke dalam labu ukur 1L dilarutkan dengan

akuades, lalu dijadikan menjadi 1 L.

3.3.1.2 Pembuatan larutan pati (amilum)

Sebanyak 10 g pati dicampur dengan 10 mg HgI dan 30 ml akuades, ditambahkan pada 1 L

akuades lalu dipanaskan sambil diaduk perlahan-lahan sampai semua pati larut.

3.3.1.3 Prosedur Penanaman Tanaman Bayam Hijau (Amaranthus tricolor)

Ditanam bibit bayam hijau pada kedalaman 2-3cm yang berisi campuran tanah dan pupuk

kompos pada 12 buah polybag, kemudian disiram dengan air.

Kemudian, 6 polybag dengan naungan dan 6 polybag lagi tanpa naungan.

Dibuat naungan, dengan bambu sebagai tiangnya dan plastik hitam sebagai atapnya, untuk

tanaman bayam yang memakai naungan.

Disiram dengan air tanaman bayam tersebut setiap pagi dan sore hari sampai waktu panen

yaitu selama 3 minggu.

3.3.1.4 Penentuan kadar vitamin C dalam tanaman Bayam Hijau (Amaranthus tricolor)

Dihaluskan tanaman bayam hijau utuh yang telah dicuci kemudian ditimbang sebanyak 100

gram.

Dilarutkan dengan 200 ml akuades, diaduk dengan magnetik strirer selama 20 menit

kemudian disaring.

Diambil 10 ml filtrat kemudian dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer.

Ditambahkan 2 ml amilum 1 %.

Dititrasi dengan larutan Iodin 0,01 N, titrasi dilakukan sebanyak 3 kali.

Dihentikan titrasi sesuda h terbentuk warna biru selama 15 detik.

(29)

3.4. Bagan Penelitian

3.4.1. Pembuatan Larutan Iodium 0,01N

Ditambahkan 1,26 g Iodida

Dimasukkan ke dalam labu ukur 1L

Dilarutkan dengan akuades

3.4.2. Pembuatan Larutan Pati (Amilum)

Ditambahkan 10 mg HgI dan

30 ml akuades

Ditambahkan 1L akuades

Dipanaskan sambil diaduk

perlahan-lahan sampai semua

pati larut 1,66 g KI

Hasil

10 g Pati

(30)

3.4.3. Prosedur Penanaman Tanaman Bayam Hijau (Amaranthus tricolor)

Ditanam dalam 12 polybag yang berisi

campuran tanah dan pupuk kompos

dengan kedalaman 2-3 cm

Dibagi ke dalam 2 bagian

Diletakkan 6 polybag Diletakkan 6 polybag

dibawah naungan dibawah sinar mata-

hari/tanpa naungan

Disiram dengan air setiap Disiram dengan air

pagi dan sore hari sampai setiap pagi dan sore

masa panen selama 3 minggu hari sampai masa

panen selama

3 minggu

Bibit Bayam Hijau

Bagian I Bagian II

(31)

3.4.2 Penentuan Kadar Vitamin C dalam tanaman Bayam Hijau (Amaranthus tricolor)

Dihaluskan

Ditimbang sebanyak 100 g

Ditambahkan akuades

Diaduk menggunakan

magnetik stirer selama 20

menit

Disaring

Dipipet sebanyak 10 ml lalu diencerkan

dalam labu takar 100ml

Dipipet sebanyak 10 ml

Dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer

Ditambahkan 2 ml amilum 1%

Dititrasi dengan larutan standart Iodin 0,01N sampai larutan

berwarna biru selama 15 detik menggunakan stopwatch

Dicatat volume titrasi larutan standart Iodin 0,01N

Dihitung kadar vitamin C

Bayam Hijau

Filtrat

Residu

Larutan yang telah diencerkan

(32)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian pengaruh cahaya matahari terhadap kadar vitamin C pada tanaman

bayam (Amaranthus tricolor) dengan naungan dan dengan tanpa naungan, diperoleh hasil

sebagai berikut :

Tabel 4.1 Data hasil titrasi tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang memakai naungan

(33)

Tabel 4.2 Data hasil titrasi tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang tidak memakai

naungan dengan larutan Iodin 0,01N

Perlakuan

4.1.1 Perhitungan kadar vitamin C

Penentuan kadar vitamin C pada tanaman bayam (Amaranthus tricolor) adalah sebagai

berikut :

Kadar vitamin C :

g sampel

ml I2 0,01N x Fp x 0,88 mg

Fp : Faktor pengenceran = 100 ml(labu takar)

10 ml

= 10 x

a. Kadar vitamin C pada tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang memakai naungan :

(34)

= 0,9768 mg

b. . Kadar vitamin C pada tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang tidak memakai

(35)

4.2Pembahasan

Gambar 4.1 Diagram Kadar Vitamin C Pada Bayam Hijau

Dari hasil penelitian ternyata bahwa tanaman bayam(Amaranthus tricolor) yang diberikan

naungan, memiliki kadar vitamin C yang lebih tinggi 28,6% daripada tanaman

bayam(Amarantuhs tricolor) yang tidak diberikan naungan yaitu dengan nilai rata-rata

0,9944 mg/100 g bayam untuk tanaman bayam yang memakai naungan dan 0,7729 mg/100 g

bayam untuk tanaman bayam yang tidak memakai naungan. Hal ini disebabkan karena

adanya pengaruh cahaya matahari terhadap tanaman bayam tersebut. Diketahui bahwa sinar

matahari merupakan energi yang sangat penting untuk proses fotosintesis pada tumbuhan

hijau daun, dimana kadar air pada tanaman bayam tersebut akan mengalami penguapan

sehingga kadar glukosa sebagai bahan baku sintesis akan mempengaruhi kadar vitamin C

(berkurang). Dimana air adalah sebagai bahan baku dan media reaksi pada tanaman bayam

tersebut.

Pernyataan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :

Fotosintesis Enzim+Cahaya 6CO2 + 6H20 C6H12O6 + 6O2 C6H8O6

(berkurang) Glukosa berkurang Vitamin C berkurang

Perlu diperhatikan bahwa keadaan lingkungan sangat mempengaruhi kadar zat gizi tanaman.

Peranan faktor lingkungan meliputi jumlah dan intensitas cahaya, suhu, musim, pengaruh

lokasi, dan lain-lain.

(36)

Beberapa sayuran seperti buncis, brokoli, kol bunga dan bayam pada sore hari

mengandung asam askorbat lebih besar daripada waktu pagi, namun perubahan itu

disebabkan adanya perubahan kadar air.

2. Suhu

Kadar asam askorbat pada semua daun menurun bila daun ditempatkan dalam terang,

namun penurunnya lebih lambat pada suhu 5oC dibandingkan pada suhu 15oC.

3. Musim

Peningkatan kadar asam askorbat terjadi selama musim pertumbuhan koro, kubis dan

bayam. Hal ini diakibatkan oleh perbedaan suhu, lamanya siang hari, intensitas dan spektrum

cahaya serta faktor kecil lain.

4. Pengaruh Lokasi

Lokasi tumbuh dapat mempengaruhi kadar asam askorbat pada tanaman tetapi pada

umumnya pengaruhnya kecil.

Kadar vitamin C pada tanaman bayam hijau (Amaranthus tricolor) berdasarkan

penelitian berbeda dengan sumber literatur yang diperoleh. Hal ini disebabkan oleh beberapa

faktor, yaitu :

1. Tidak menggunakan pupuk tambahan, seperti pupuk urea.

2. Musim

Jika musim hujan maka kadar air meningkat sehingga karbohidrat (glukosa) yang

terbentuk akan besar dan kadar vitamin C yang terbentuk akan besar juga. Sebaliknya, jika

musim kemarau maka kadar air menurun (menguap) sehingga karbohidrat (glukosa) yang

(37)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

Kadar vitamin C pada tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang ditanam dengan

menggunakan naungan yang berat rata-ratanya adalah : 0,9944 mg per 100 g bayam

hijau. Sedangkan kadar vitamin C pada tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang

ditanam tanpa menggunakan naungan dengan berat rata-ratanya adalah 0,7729 mg per

100 g bayam hijau.

5.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada bayam yang menggunakan pengaruh cahaya dari

lampu.

Bagi para petani agar menanam tanaman bayam (Amaranthus tricolor) dengan menggunakan

naungan sehingga nilai kadar vitamin C pada bayam tersebut terjaga.

Bagi masyarakat agar dapat membedakan tanaman bayam hijau (Amaranthus tricolor) mana

yang memakai naungan mana yang tidak memakai naungan, yaitu dengan cara melihat warna

dari daunnya. Daun bayam hijau yang memakai naungan, berwarna lebih hijau pekat daripada

daun bayam hijau yang tidak memakai naungan. Sedangkan daun bayam hijau yang tidak

(38)

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 1998.Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Andarwulan, N. 1992.Kimia Vitamin.Jakarta: CV Rajawali.

Bandini, Y. 2001.Bayam. Cetakan kelima. Jakarta: Penebar Swadaya.

Gaman,P.M. 1992. Ilmu Pangan. Edisi kedua. Yogyakarta: UGM-Press.

Gandjar, G.I. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Cetakan II. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Goodman,S. 1994. Ester C. Jakarta : Erlangga.

Harris, R. S. 1989. Evaluasi Gizi Pada Pengolahan Bahan Pangan. Bandung: Penerbit ITB.

Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press.

http://www.asiamaya.com/nutrients/bayam1/2005.

Lawlor, D.W. 1993. Photosynthesis : Molecular, Physiological and Environment Process. Second Edition. Hongkong : Longman Scientific & Technical.

Packer,L,. Journal of Enviromental & Occupational Medicine. 2006. Packer,L,. Journal of

Enviromental & Occupational Medicine. 2006.

Poedjiadi, A. 1994.Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press.

Sediaoetama,A.D. 2004 Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi di Indonesia. Jilid I. Cetakan Kelima. Jakarta : Penerbit Dian Rakyat.

Sudarmadji, S. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian.

Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Yogyakarta : Liberty Yogyakarta.

Underwood, A. L. 1986. Analisa Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga.

Vogel. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Winarno ,F.G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Wirahadikusumah. 1985. Metabolisme Energi, Karbohidrat & Lipid. Bandung: ITB Press.

(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)

Gambar

Tabel 4.1 Data hasil titrasi tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang memakai naungan
Tabel 4.2 Data hasil titrasi tanaman bayam (Amaranthus tricolor) yang tidak memakai naungan dengan larutan Iodin 0,01N
Gambar 4.1 Diagram Kadar Vitamin C Pada Bayam Hijau

Referensi

Dokumen terkait

Al-Baqarah ayat 30-31 dan Al-Qur‟an surat Al-Ahzab ayat 21 menjelaskan tentang ciri-ciri pemimpin yang baik yang harus bisa diterapkan oleh seorang pemimpin didalam

Dengan penerapan software CAD batik berbasis karakter, dapat memudahkan konsumen dan desainer dalam mendesain jenis dan ragam batik berdasarkan sifat dan

Menedzseri nézőpontból különösen érdekes kérdés, hogy a jelentősen átalakuló munka- erő-piaci helyzetben vajon képes-e a vállalat a szervezetén belül a

tanpa disadari adalah Kakrasana tersebut hanyalah seorang wasi. Penghinaan dari Prabu Salya tidak digubris o leh Kakrasana. Hingga akhirnya Narayana datang dan memberi

Tradisi rokat pandhaba juga mengandung konsepsi bahwa masyarakat Madura sangat menerima hal-hal yang metafisis, bahwa kekuatan metafisis yang tidak tampak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan mahasiswa terhadap kesesuaian antara persepsi dan harapan dari pengguna jasa pelayanan

Hasil penghitungan populasi dan rata-rata koloni aktinomiset pada masing-masing medium uji menunjukkan bahwa aktinomiset mampu beradaptasi dengan baik terhadap medium yang

Tujuan penelitian ialah : (1) jenis bakteri antagonis yang digunakan sebagai bahan aktif biobakterisida, (2) formula biopestisida yang efektif mengendalikan penyakit busuk