Penggunaan Blackberry Messenger Dan Intensitas Komunikasi (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan )

115  Download (0)

Teks penuh

(1)

PENGGUNAAN BLACKBERRY MESSENGER DAN INTENSITAS KOMUNIKASI (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Penggunaan Blackberry Messenger Terhadap

Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan )

Disusun Oleh

IKHSAN PERDANA PINEM 090922021

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI EKSTENSION

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ABSATRAKSI

Skripsi ini berjudul Penggunaan Blackberry Messenger, Studi Korelasional Pengaruh Penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk memperoleh kejelasan mengenai hubungan penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan.

Metode Penelitian yang digunakan adalah korelasional. Metode koresional bertujuan untuk meneliti sejauh mana variasi pada salah satu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor lain. Metode ini bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan tersebut.

Populasi penelitian ini adalah pelajar SMA Sriwijaya Medan yang menggunakan Blackberry Messenger. Sebanyak 259 siswa yang terdiri dari siswa kelas X (sepuluh) , XI (sebelas) IPA dan IPS. Sedangkan yang menjadi sampel adalah perwakilan dari masing-masing kelas, baik kelas X (sepuluh) maupun XI (sebelas) IPA dan IPS yang menggunakan Blackberry Messenger untuk mempermudah komunikasinya.

Teknik penarikan Sampel yang digunakan adalah Statifikasi Purposional yang bertujuan untuk mengelompokkan populasi ke dalam kelompok atau kategori yang sama. Puposive Sampling bertujuan untuk pengambilan subjek berdasarkan tujuan tertentu dan diikutii dengan aksidental sampling.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah library research dan field research dengan menggunakan kusioner dan wawancara seadanya.

Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa tabel tunggal, analisa tabel silang dan uji hipotesis yang menggunakan rumus Spearman yang menggunakan skala berdasarkan Guilford.

Terdapat hubungan antara Penggunaan Blackberry Messenger dengan Peningkatan Intensitas Komunikasi di SMA Swasta Sriwijaya Medan. Hubungan ini dapat dilihat berdasarkan skala Guilford dengan hasil rs = 0,453 bahwa hubungan Penggunaan Blackberry

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Sejak permulaan mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan hingga saat ini, berkat dan karunia-Nya terus mengalir dalam hidup penulis. Terlebih lagi, penulis masih diberi kesempatan dan kemampuan untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S-1) Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis mendapat banyak dukungan dan doa dari kedua orangtua tercinta. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abdullah Pinem dan Ibu Sri Mambar br. Sembiring atas segala hal yang telah diberi kepada penulis. Selanjutnya, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Humaizi, M.A selaku dosen pembimbing skripsi penulis. 5. Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku dosen penasehat akademik penulis.

6. Seluruh staf pengajar Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

7. Seluruh staf/pegawai Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

8. Bapak Sumoring Panjaitan selaku Kepala Sekolah SMA Swasta Sriwijaya Medan yang telah bersedia memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian di SMA Negeri 5 Medan .

9. Seluruh Bapak dan Ibu Guru SMA Swasta Sriwijaya Medan yang telah banyak membantu peneliti dalam melakukan penelitian.

(4)

11. Terima Kasih Kepada Riska Fera Hasibuan atas kuliah singkat mengenai penggunaan Blackberry Messenger yang memudahkan peneliti dalam penyelesaian skripsi ini dan Maria Monica yang dengan serius mengajarkan penggunaan SPSS kepada peneliti.

12. Terima Kasih kepada teman-teman seperjuangan peneliti, Desnien, Andre, Eva Friska, Sahmaida Lubis, Ester, Franky dan Fauzar yang telah memberikan banyak masukan dan dukungan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

13. Terima Kasih kepada keluarga besar peneliti, terutama Yakhdi Perari yang meluangkan banyak waktu untuk membantu peneliti menyelesaikan skripsi ini.

14. Terima kasih kepada semua pihak lainnya yang telah membantu penulis.

Medan, juni 2011 Penulis,

IKHSAN PERDANA PINEM

(5)

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I: PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah ... 1

I.2 Perumusan Masalah ... 6

I.3 Pembatasan Masalah ... 6

I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

I.5 Kerangka Teori ... 7

I.6 Kerangka Konsep ... 11

I.7 Model Teoritis ... 12

I.8 Variabel Operasional ... 13

I.9 Definisi Variabel Operasional ... 13

I.10 Hipotesa ... 16

BAB II: URAIAN TEORITIS II.1 Komunikasi ... 17

II.2 Komunikasi Kelompok ... 20

II.3 Teori Perubahan Sosial (Sosial Excange) ... 24

II.4 Teknologi komunikasi ... 28

II.5 Komunikasi Bermedia ... 29

(6)

II.7 Blackberry Messenger ... 33

II.8 Komunikasi Virtual ... 35

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN III.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 37

III.1.1 Sejarah Singkat Berdirinya SMA Swasta Sriwijaya Medan ... ...37

III.1.2 Potensi Fisik Sekolah... ... ...38

III.2 Metodologi Penelitian ... ...39

III.2.1 Metode Penelitian ... 39

III.2.2 Lokasi Penelitian ... 40

III.2.3 Populasi Dan Sampel ... 40

III.2.4 Teknik Penarikan Sampel ... 41

III.2.5 Teknik Pengumpulan Data... 43

III.2.6 Teknik Analisis Data ... 44

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Proses Pengumpulan Data ... 47

IV.2 Teknik Pengolahan Data ... 47

IV.3 Analisa Tabel Tunggal ... 49

IV.2.1 Karakteristik Respon... ... 49

IV.2.2 Penggunaan Blackberry Messenger ...53

IV.2.3 Peningkatan Intensitas Komunikasi...70

IV.4 Analisa Tabel Silang ... 79

(7)

IV.6 Pembahasan...88

BAB V: PENUTUP

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Variabel Operasional………... 13

Tabel 2 Populasi Siswa SMA Swasta Sriwijaya Medan………....…….. 40

Tabel 3 Teknik Penarikan Sampel…...………... 42

Tabel 4 Jenis Kelamin………... 49

Tabel 5 Usia………..………... 50

Tabel 6 Uang Saku………... 51

Tabel 7 Hobi………...52

Tabel 8 Lama Waktu Pengguaan Blackberry Messenger………...53

Tabel 9 Topik Yang Sering Dibicarakan………...………... 54

Tabel 10 Tingkat Keseringan Fitur Chatting………...………... 55

Tabel 11 Lama Waktu Penggunaan Fitur Chatting………....………...56

Tabel 12 Kepuasan Dengan Kemudahaan Fitur Chatting………....……. 57

Tabel 13 Tingkat Keseringan Fitur Send Picture……...………... 58

Tabel 14 Lama Waktu Penggunaan Fitur Send Picture …………....……… ….. 59

Tabel 15 Kepuasan Dengan Kemudahaan Fitur Send Picture ……....…………. 60

Tabel 16 Tingkat Keseringan Fitur Send File...………... 61

Tabel 17 Lama Waktu Penggunaan Fitur Send File ………....……… 62

Tabel 18 Kepuasan Dengan Kemudahaan Fitur Send File ………....………….. 63

Tabel 19 Tingkat Keseringan Fitur Send Location……...……….... 64

Tabel 20 Lama Waktu Penggunaan Fitur Send Location …....……….... 65

Tabel 21 Kepuasan Dengan Kemudahaan Fitur Send Location....………... 66

Tabel 22 Tingkat Keseringan Fitur Smiley……...………...………. 67

(9)

Tabel 24 Kepuasan Dengan Kemudahaan Fitur Smiley ……....……….. 69 Tabel 25 Intensitas Komunikasi Dalam Meningkatkan Kejujuran………... 70 Tabel 26 Kejujuran Menciptakan Untuk Tetap Melanjutkan Komunikasi……... 71 Tabel 27 Kejujuran Menciptakan Keinginan Untuk Kembali Berkomunikasi Di Lain Waktu...……… ……… 72 Tabel 28 Intensitas Komunikasi Dalam Meningkatkan Keterbukaan…………... 73 Tabel 29 Keterbukaan Menciptakan Untuk Tetap Melanjutkan Komunikasi……74 Tabel 30 Keterbukaan Menciptakan Keinginan Untuk Kembali Berkomunikasi Di Lain Waktu.………... 75 Tabel 31 Intensitas Komunikasi Dalam Meningkatkan Kepercayaan………….. 76 Tabel 32 Sikap Saling Percaya Menciptakan Untuk Tetap Melanjutkan

Komunikasi……….……77 Tabel 33 Sikap Saling Percaya Menciptakan Keinginan Untuk Kembali

Berkomunikasi Di Lain Waktu……….………. 78 Tabel 34 Tingkat Keseringan Fitur Chatting dengan Peningkatan Keterbukaan Komunikasi Satu dengan yang Lain……….……….. ...80 Tabel 35 Hubungan Antara Lama Waktu Penggunaan Fitur Chatting dengan Keterbukaan akan menciptakan keinginan untuk melanjutkan

Komunikasi……….…… 82 Tabel 36 Hubungan Antara Kepuasan Kemudahan Fitur Chatting dengan

(10)

ABSATRAKSI

Skripsi ini berjudul Penggunaan Blackberry Messenger, Studi Korelasional Pengaruh Penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk memperoleh kejelasan mengenai hubungan penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan.

Metode Penelitian yang digunakan adalah korelasional. Metode koresional bertujuan untuk meneliti sejauh mana variasi pada salah satu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor lain. Metode ini bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan tersebut.

Populasi penelitian ini adalah pelajar SMA Sriwijaya Medan yang menggunakan Blackberry Messenger. Sebanyak 259 siswa yang terdiri dari siswa kelas X (sepuluh) , XI (sebelas) IPA dan IPS. Sedangkan yang menjadi sampel adalah perwakilan dari masing-masing kelas, baik kelas X (sepuluh) maupun XI (sebelas) IPA dan IPS yang menggunakan Blackberry Messenger untuk mempermudah komunikasinya.

Teknik penarikan Sampel yang digunakan adalah Statifikasi Purposional yang bertujuan untuk mengelompokkan populasi ke dalam kelompok atau kategori yang sama. Puposive Sampling bertujuan untuk pengambilan subjek berdasarkan tujuan tertentu dan diikutii dengan aksidental sampling.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah library research dan field research dengan menggunakan kusioner dan wawancara seadanya.

Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa tabel tunggal, analisa tabel silang dan uji hipotesis yang menggunakan rumus Spearman yang menggunakan skala berdasarkan Guilford.

Terdapat hubungan antara Penggunaan Blackberry Messenger dengan Peningkatan Intensitas Komunikasi di SMA Swasta Sriwijaya Medan. Hubungan ini dapat dilihat berdasarkan skala Guilford dengan hasil rs = 0,453 bahwa hubungan Penggunaan Blackberry

(11)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan teknologi yang semakin maju dan sangat pesat memaksa secara tidak langsung masyarakat untuk tetap sadar akan keberadaan teknologi-teknologi baru yang ada di sekitarnya dan setidaknya tertarik secara tidak langsung terhadap teknologi tersebut. Perkembangan teknologi mencangkup banyak hal, tak terkecuali pada bidang komunikasi. Perkembangan teknologi pada bidang komunikasi semakin mempermudah interaksi antara seseorang dengan yang lainnya. Hal ini berkaitan tujuan diciptakan suatu teknologi untuk mempermudah serta meningkatan efektivitas kerja manusia.

Kemajuan teknologi yang pesat termasuk pada bidang komunikasi telah melahirkan banyak inovasi ataupun gagasan, ide yang bertujuan untuk memudahkkan proses komunikasi masusia menjadi lebih efektif. Kemudahan tersebut membuktikan betapa mudahnya seseorang bertukar informasi satu dengan yang lain melalui inovasi yang telah diciptakan. Salah satu inovasi yang mempermudah proses komunikasi adalah telepon selular atau yang biasa disingkat dengan kata ponsel. Media ponsel memberikan kemudahan berkomunikasi melalui layanan telepon dan pesan (SMS) yang telah menjadi fitur dasar sebuah ponsel. Hanya dengan menekan beberapa digit angka seseorang bisa saja berinteraksi secara tidak langsung melalui panggilan suara dengan lawan bicaranya yang mungkin saja berada jauh darinya.

(12)

Kecanggihan Blackberry ini cukup banyak dilirik oleh masyarakat Indonesia, mulai dari berbagai kalangan menengah hingga atas. Mengingat harga sebuah handset Blackberry yang semakin terjangkau, menggeser sedikit posisi Blackberry yang semula hanya menjadi sasaran kalangan pebisnis professional dan kalangan atas yang diakibat tingginya harga dari sebuah handset blackberry menjadi konsumsi semua kalangan, termasuk pelajar.

Beberapa tahun belakangan, Blackberry mulai marak dipakai kalangan pelajar. Sudah banyak sekali pelajar yang paham akan keberadaan Blackberry dan tidak sedikit dari mereka yang sudah memutuskan untuk menikmati kelebihan-kelebihan Blackberry. Seiring dengan bertambahnya waktu pemakaian membuat pengguna Blackberry seperti pelajar semakin paham dengan penggunaan inovasi pada Blackberry dan mulai menerapkannya sebagai kemajuan teknologi yang mempermudah komunikasi mereka dengan teman lainnya. Dari keseluran Fitur Blackberry yang menjadi dominan pemakaian pelajar adalah fasilitas IM (instant Message) atau yang biasa dikenal dengan sebutan Blackberry Messenger (BBM). Blackberry Messenger memudahkan pelajar dalam berinteraksi dengan teman-temannya

seperti layaknya berada di daerah yang sama, saling berhadapan dan bercerita satu dengan yang lain. Kenyataannya mereka tidak saling tatap muka satu dengan yang lain. Kemudahan inovasi tersebut membuat pelajar tidak harus melakukan tatap muka untuk saling bertukar cerita dan berinterkasi, cukup dengan memberikan pesan dan mengirimnya melalui layanan Blackberry Messenger dengan komunikannya. Pesan tersebut akan sampai dalam hitungan

(13)

kelompok kecil ataupun kelompok besar tergantung pada jumlah orang yang terlibat dan sejauh mana hubungan psikologisnya. Mulyana (2005) mendefinisikan kelompok sebagai sebagai sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.

Seorang komunikator akan menyampaikan pesan yang ingin disampaikan kepada komunikan/anggota lainnya melalui media Blackberry Messenger. Komunikasi menggunakan Blackberry Messenger cukup dinilai efektif, dimana penggunaannya dirasakan dapat menyampaikan pesan yang di sampaikan oleh komunkator kepada komunikannya secara instan tanpa harus menunggu lama feedback yang akan di dapat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi tersebut.

Komunikasi dalam kelompok terjadi secara berganti-gantian dan bergilir terus menerus selama anggota-anggota kelompok tersebut belum mendapatkan kepuasan dari interaksi yang terjadi sehingga akan meningkatkan intensitas komunikasi yang terjadi sampain mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal ini terjadi secara bertahap, dimulai dari komunikasi secara basa-basi yang terasa canggung dan tidak akrab dan terus berlangsung secara rutin hingga menyangkut topik pembicaraan yang lebih pribadi dan akrab, seiring dengan berkembangnya hubungan.

Menurut Gunarsa (2004), bahwa intensitas komunikasi dapat diukur dari apa-apa saja, siapa yang saling dibicarakan, pikiran, perasaan, objek tertentu, orang lain atau dirinya sendiri. Lebih lanjut ditambahkan bahwa intensitas komunikasi yang mendalam ditandai oleh kejujuran, keterbukaan, dan saling percaya, sehingga menimbulkan respon dalam bentuk perilaku atau tindakan.

(14)

media Blackberry Messenger. Penggunaan Blackberry Messenger yang secara total terhubung setiap saat dengan perangkat Blackberry dan fitur Blackberry Messenger tidak dapat di non-aktifkan sehingga kapan saja dan dimana saja penggunanya dapat berkomunikasi dengan teman-temannya.

Seperti penjelasan diatas, tidak menutup kemungkinan melalui kemudahan tersebut pelajar selaku objek pengguna mengalami peningkatan intensitas berkomunikasi dengan teman-temannya. Selain kemudahan tersebut Blackberry Messenger juga memiliki beberapa kelebihan yang signifikan bila dibandingkan dengan Instant Messanger lainnya. Blackberry Messenger mampu menampilkan avatar dari penggunanya sehingga melalui avatar pengguna

bisa menginterpretasikan bagaimana karakteristik pengguna lain melalui avatar yang dimilikinya. Selain itu, pengguna juga bisa mengunggah photo melalui bidikan kameranya untuk mendeskripsikan suatu lokasi atau objek untuk berbagi cerita dengan teman-temannya mengenai photo tersebut. Komunikasi akan semakin mendalam dan tidak terputus apabila intensitas yang tercipta menumbuhkan rasa keterbukaan, saling percaya dan mengerti serta tidak ada yang ditutupi.

Dalam penelitian ini, objek yang diteliti adalah pelajar SMA yang menggunakan Blackberry Messenger sebagai media untuk berkomunikasi dengan teman sesama pengguna

Blackberry Messenger. Penggunaan Blackberry Messenger yang familiar di kalangan pelajar SMA dan masih berlangsung hingga saat ini, menjadi alasan peneliti meneliti permasalahan tersebut.

(15)

dengan yang lain hingga sampai percakapan intens membutuhkan keseriusan, memakan waktu yang cukup lama dan dengan frekuensi yang tidak cukup sekali berkomunikasi.

(16)

I.2 Perumusan Masalah

Perumusan masalah sebagai upaya membatasi penelitian agar lebih terarah dan tetap pada fokus permasalahan. Penulis membatasi permasalahan berdasarkan latar belakang yang paparkan diatas menjadi :

“Bagimanakah Hubungan Antara Penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan?”

I.3 Pembatasan Masalah

Untuk lebih memperjelas ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti agak mejadi tidak terlalu luas, maka penulis membatasi permasalahn sebagai berikut :

1. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta

Sriwijaya Medan

2. Penelitian terbatas pada respon pelajar mengenai penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan

3. Objek penelitian adalah pelajar yang menggunakan Blackberry Messenger dengan pemakaian harian minimal 30 menit.

4. Penelitian dilakukan pada April 2011 hingga selesai.

I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitia I.4.1 Tujuan Penelitian

(17)

2. Untuk mengetahui bagaimana pola penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan.

3. Untuk mengetahui hubungan antara penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan.

I.4.2 Manfaat Penelitian

1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mahasiswa FISIP USU jurusan Ilmu Komunikasi khususnya mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan komunikasi pembangunan sosial. 2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi penulis

untuk menerapkan ilmu yang telah di dapatkan selama masa kuliah serta untuk memperluas pengetahuan khususnya mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan komunikasi pembangunan sosial.

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan masukan bagi pengguna Blackberry Messenger khususnya pelajar SMA.

I.5 Kerangka Teori

Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berfikir dalam memecahkan masalah atau menyoroti maslahnya. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana penelitian akan disoroti (Nawawi, 2001:40).

(18)

I.5.1 Teori Perubahan Sosial (Social exchange)

Teori ini menelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan mempengaruhi kontribusi orang lain. Pencetus teori ini adalah Thibaut dan Kelley, yang mengemukakan bahwa orang mengevaluasi hubungan dengan orang lain. Model ini memandang suatu hubungan sebagai suatu transaksi dagang, maksudnya adalah seseorang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Dalam konteks permasalahan, seseorang akan tetap beriterkasi dengan seseorang yang menguntungkannya sampai seseorang tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan yang diinginkan sehingga secara tidak sadar interkasi tersebut menimbulkan peningkatan intensitas berkomunikasi kearah yang lebih mendalam.

Intensitas komunikasi merupakan tingkat kedalaman penyampaian pesan dari individu sebagai anggota kepada yang lainnya (Djamarah, 2004). Intensitas komunikasi mencakup aspek-aspek seperti : kejujuran, keterbukaan, pengertian, percaya, yang mutlak diantara kedua belah pihak dan dukungan

Thibaut dan Kelley (dalam rakhmat; 2002), pemuka utama dari teori Social Exchange menyimpulkan teori ini sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.

Ganjaran, biaya, laba dan tingkat perbandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini yang akan dijabarkan sebagai berikut :

(19)

2. Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menimbulkan efek-efek yang tidak menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan waktu dan orang yang terlibat di dalamnya.

3. Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan komunikasi, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba. Misalnya, Anda mempunyai kawan yang pelit dan bodoh. Anda banyak membantunya, tetapi hanya sekedar supaya persahabatan dengan dia tidak putus. Bantuan Anda (biaya) ternyata lebih besar daripada nilai persahabatan (ganjaran) yang Anda terima. Anda rugi. Menurut teori pertukaran sosial, hubungan anda dengan sahabat pelit itu mudah sekali retak dan digantikan dengan hubungan baru dengan orang lain.

4. Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan komunikasi yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun. Bila seorang gadis pernah berhubungan dengan kawan pria dalam hubungan yang bahagia, ia akan mengukur hubungan komunikasi dengan kawan pria lain berdasarkan pengalamannya dengan kawan pria terdahulu. Makin bahagia ia pada hubungan sebelumnya, makin tinggi tingkat perbandingannya, berarti makin sukar ia memperoleh hubungan yang memuaskan.

(20)

seseorang, makin sering satu bentuk tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cendrung orang tersebut menampilkan tindakan tertentu tadi “.

Proposisi ini secara eksplisit menjelaskan bahwa satu tindakan tertentu akan berulang dilakukan jika ada imbalannya. Proposisi lain yang juga memperkuat proposisi tersebut berbunyi : “Semakin tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang, semakin besar pula kemungkinan perbuatan tersebut diulanginya kembali”.

Knap (1978) membagi tahapan-tahapan hubungan yang lebih akrab dengan orang lain dalam sebuah kelompok menurut, yaitu :

a. Inisiasi, mencakup percakapan singkat dan saling memberi salam antar anggota kelompok. Hal ini sangat lazim terjadi dalam komunikasi sehari-hari, seseorang yang baru saja bertemu dan mengenal mungkin akan sungkan untuk saling berbaur dengan yang lainnya disebabkan adanya rasa canggung untuk

berkomunikasi lebih lanjut kearah yang lebih intens sehingga akan merangsang untuk tetap melakukan komunikasi berikutnya..

b. Eksperimen, masing-masing akan mulai mengungkap informasi mengenai pribadinya, percakapan pada tahap ini berfungsi menjajaki terjadinya hubungan lebih lanjut, dan membantu dalam mengungkapkan persamaan atau perbedaan kepentingan.

(21)

d. Integrasi, menciptakan rasa ”bersama”, rasa ”kami/kita”, di mana anggota-anggota kelompok bertindak sebagai suatu unit dan bukan sebagai individu yang terpisah. e. Ikatan, terjadi ketika anggota kelompok masuk pada suatu ritual yang secara

formal mengakui hubungan jangka panjangnya.

I.6 Kerangka Konsep

Kerangka secara singkat dapat di definisikan sebagai hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesis, yang merupakan jawaban sementara dari maslaah yang diuji kebenaranya. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara epidermis makab harus dioerasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel.

Kerangka konsep adalah hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang akan dicapai serta perumusan kerangka konsep merupakan bahan yang menuntun dalam merumuskan dalam merumuskan hipotesis penelitian (Nawawi, 1995:40).

Di dalam kerangka konsep dirumuskan variabel-variabel dan indicator yang akan diteliti, yaitu :

1. Variabel bebas ( Independen Variabel )

Variabel bebas adalah sejumlah gejala atau faktor yang menentukan dan mempengaruhi ada atau munculnya gejala atau faktor atau unsur lain (Nawawi, 1995 : 56 ) dalam penelitian ini, variabel bebasnya adalah Penggunaan Blackberry Messenger.

2. Variabel terikat (Dependen Variabel )

(22)

3. Variabel Antara ( Intervening Variabel )

Variabel antara adalah sejumlah gejala yang tidak dapat dikontrol, akan tetapi dapat diperhitungkan pengaruhnya terhadap variabel bebas ( Nawawi, 1995 : 58). Variabel antara dalam penelitian ini adalah karakteristik responden.

I.7 Model Teoritis

Berdasarkan kerangka konsep yang dikembangkan dari kerangka teori sebelumnya, maka peneliti membuat model teoritis. Model ini berguna untuk menggambarkan rencana atau strategi penelitian yang akan dilakukan. Sehingga variabel-variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep, dibentuk menjadi model teoritis sebagai berikut :

Variabel Terikat (Y)

Intensitas Komunikasi

Variabel Bebas (X)

Penggunaan Blackberry

Messenger

Karakteristik

(23)

I.8 Variabel Operasional

Tabel 1

Variabel Teoritis Variabel Operasional

Variabel Bebas (X)

Defenisi operasional merupakan penjabaran lebih lanjut tentang konsep yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep. Defenisi operasional adalah suatu petunuk pelaksanaan mengenai cara-cara untuk mengukur variabel-variabel. Defenisi operasional juga merupakan informasi ilmiah yang amat membenatu peneliti lain yang akan menggunakan variabel sama (Singarimbun, 1995:46)

(24)

1. Variabel Bebas (X)

1.1 Chatting atau obrolan, mencangkup penggunaan Blackberry secara mendasar dimana pengguna saling berinteraksi secara bebas tentang apa saja ataupun mengomentari status dari pengguna Blackberry Messenger lainnya, boardcast message maupun conference message. Melalui perubahan obrolan, memungkinkan pengguna dapat memantau perubahan status dari setiap kontaknya. Pengguna bisa meng-klik panel keadaan terbaru di atas panel info tampilan Blackberry Messenger untuk menampilkan daftar kontak yang baru saja memperbaharui status. Notifikasi akan selalu muncul di panel keadaan terbaru setiap kontak lain memperbaharui status mereka.

1.2 Send Picture, meliputi penggunaan dengan menggungah sebuah gambar, sehingga pengguna-pengguna lain dapat melihat gambar tersebut ataupun saling mengomentari gambar tersebut satu dengan yang lainnya.

1.3 Send File, meliputi penggunaan yang lebih luas, tidak hanya gambar, tetapi bisa saja daftar contact, calendar, rekaman suara, video dan lain-lain. Pengguna BlackBerry Messenger juga dapat membagi berkas yang berupa data selain foto dan suara, kontak telepon dan kontak BlackBerry Messenger antar sesama pengguna. Berkas yang dikirimkan melalui aplikasi ini dapat tersampaikan ke pengguna yang dituju secara cepat dan mudah.

(25)

kontak bisa juga dilakukan atau mengatur notifikasi kedekatan dengan pengguna lain.

1.5 Smiley mencangkup representasi perasaan penguna seperti muka tersenyum, tertawa ataupun menangis sehingga pengguna yang sedang berkomunikasi bisa saling memahami perasaan masing-masing.

2. Variabel Terikat (Y)

2.1 Kejujuran meliputi perasaan dimana seseorang akan mengatakan dan menceritakan sesuatu apa adanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Kejujuran tidak muncul begitu aja perlunya kedekatan secara intens dan intesitas komunikasi yang rutin untuk menimbulkan kejujuran satu dengan yang lain.

2.2 Keterbukaan adalah proses lanjutan dari kejujuran. Dimana seseorang yang mulai menunjukan bagaimana dirinya sesungguhnya kepada orang tersebut dan mulai menumbuhkan kepercayaan kepada orang tersebut.

(26)

3. Karakteristik Reponden

3.1Jenis Kelamin mencangkup jenis kelamin dari responden tersebut. 3.2Usia mencangkup usia dari responden tersebut.

3.3Uang Saku mencangkup kepada berapa jumlah uang saku dari responden tersebut.

3.4Hobi mencangkup atas hal-hal apa yang menjadi minat yang disukai responden tersebut.

I.10 Hipotesa

Secara etimologis hipotesis dibentuk dari dua kata, yaitu hypo dan thesis. Hypo berarti kurang dan thesis berarti pendapat. Jadi hipotesis merupakan kesimpulan yang belum sempurna, sehingga disempurnakan dengan membuktikan kebenaran hipotesis yaitu dengan menguji hipotesis dengan data dilapangan (Bungin, 2001:90)

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ho : Tidak terdapat hubungan antara penggunaan Blackberry Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan

(27)

BAB II

URAIAN TEORITIS

Teori merupakan proposisi yang menggambarkan satu gejala terjadi. Proposisi proposisi yang dikandung dan yang membentuk teori terdiri atas beberapa konsep yang terjalin dalam bentuk hubungan sebab-akibat. Teori menyajikan kerangka sehingga konsep dan variabel mendapatkan arti penting, dalam teori juga terkandung konsep teoritis yang berfungsi menggambarkan realitas dunia yang dapat diobservasi (Suyanto dkk, 2005 : 34). Sebelum menguraikan teori-teori tersebut, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dahulu uaraian dari teori-teori yang relevan dari penelitian ini.

II.1. Komunikasi

Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan hidup secara berkelompok, dimana manusia menjalin hubungan dengan sesamanya. Manusia mutlak membutuhkan sesamanya dan untuk menjalin hubungan dengan manusia lainnya dibutuhkan suatu komunikasi. Komunikasi pada hakekatnya adalah proses pernyataan antar manusia dan dinyatakan sebagai pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam “bahasa” komunikasi pernyataan dinamakan pesan (message), orang yang menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator), sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi nama (communicate). Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan (dalam Effendy,2004:10).

(28)

Jika tidak terjadi kesamaan makna antara kedua aktor komunikasi yaitu antara komunikator dan komunikan, dengan kata lain komunikan tidak mengerti pesan yang diterimanya, maka komunikasi tidak terjadi (Effendy, 2000: 9).

Menurut Sir Gerald Barry (Purba, 2006: 35), berkomunikasi adalah berunding, bahwa dengan berkomunikasi orang memperoleh pengetahuan, informasi dan pengalaman, karena itu maka orang saling mengerti percakapan, keyakinan, kepercayaan dan kontrol sangat diperlukan.

Komunikasi menurut Everet M. Rogers (Cangara, 2000:19) adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Komunikasi terdiri dari beberapa unsur, yaitu :

1. Komunikator : atau sering disebut sumber, pengirim, pembicara atau originator. Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber boleh jadi seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau bahkan suatu negara.

(29)

(acungan jempol, anggukan kepala, senyuman, tatapam mata, dan sebagainya), juga melalui musik, lukisan, patung , tarian, dan sebagainya.

3. Komunikan : orang yang menerima atau menterjemahkan pesan. Sering juga disebut sasaran/tujuan, penyandi balik, khalayak, pendengar, penafsir.

4. Media : atau saluran, yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. Saluran boleh jadi merujuk pada bentuk pesan yang disampaikan kepada penerima, apakah saluran verbal atau saluran nonverbal. Pada dasarnya saluran komunikasi manusia adalah dua saluran, yakni cahaya dan suara, meskipun kita bias juga mengggunakan kelima indra kita untuk menerima pesan dari orang lain. Saluran juga merujuk pada cara penyajian pesan, apakah langsung atau lewat media cetak atau media elektronik.

5. Efek : apa yang terjadi pada penerima pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu), terhibur, perubahan sikap (dari tidak setuju menjadi setuju), perubahan keyakinan, perubahan perilaku (dari tidak bersedia membeli barang yang ditawarkan menjadi sedia membelinya, atau dari tidak bersedia memilih partai politik tertentu menjadi bersedia memilihnya dalam pemilu, dan sebagainya.

Proses dari sebuah komunikasi terbagi dalam dua tahapan yaitu: 1. Proses komunikasi secara primer

(30)

2. Proses komunikasi secara sekunder

Proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat relatif jauh atau jumlahnya relatif banyak. Surat, telephone, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Hal ini disebabkan karena sebagai lambang (symbol) beserta isi (content) yakni pikiran dan atau perasaan yang dibawanya menjadi totalitas pesan (message) yang tampak tidak dapat dipisahkan, seolah-olah tanpa bahasa manusia tidak dapat berkomunikasi (Effendy, 2000: 16).

Pada akhirnya, sejalan dengan berkembangnya masyarakat beserta peradaban dan kebudayaannya, komunikasi bermedia (mediated communication) mengalami kemajuan pula dengan memadukan komunikasi berlambang bahasa dengan komunikasi berlambang gambar dan warna. Maka film, televisi, dan video pun sebagai media yang mengandung bahasa, gambar, dan warna melanda masyarakat di negara manapun.

II.2 Komunikasi Kelompok

Kelompok merupakan sekumpulan orang-orang yang terdiri atas tiga orang atau lebih yang memiliki keterkaitan psikologis terhadap sesuatu hal yang saling berinteraksi satu sama lain. Suatu kelompok memiliki suatu tujuan dan organisasi serta cenderung melibatkan interaksi antara anggota-anggotanya.

(31)

kelompok terbagi atas kelompok kecil ataupun kelompok besar tergantung pada jumlah orang yang terlibat dan sejauh mana hubungan psikologisnya.

Johnson & Johnson ( dalam Sarwono ,2005 :4) menidentifikasikan sedikitnya tujuh jenis defenisi kelompok yang penekanannya berbeda-beda sebagai berikut :

1. Kumpulan individu yang saling berinteraksi

2. Satuan (unit) yang terdiri dari dua orang atau lebih yang melihat diri mereka sendiri sebagi bagian dari kelompok itu.

3. Kumpulan individu yang saling tergantung.

4. Kumpulan individu yang besama-sama bergabung untuk mencapai satu tujuan.

5. Kumpulan individu yang mencoba memenuhi beberapa kebutuhan melalui penggabungan diri mereka.

6. Kumpulan individu yang interaksinya diatur. 7. Kumpulan individu yang saling mempengaruhi.

Mulyana (2005 : 31) mendefinisikan kelompok sebagai sebagai sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.

Secara garis besar kelompok dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu: 1. Kelompok Primer dan Sekunder

(32)

Jalaludin Rakhmat (1994 ; 420) membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasi, sebagai berikut :

1. Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian yang paling tersembunyi sedangkan meluas artinya sedikt sekali kendala yang menentukan rintangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.

2. Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.

3. Komunikasi pada kelompok primer lebih menekankan pada aspek hubungan dari pada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder sebaliknya. 4. Komunikasi kelompok primer cendrung ekspresif, sedangkan kelompok

sekunder bersifat instrumental.

5. Komuniksi kelompok primer cendrung informal sedangkan komunikasi kelompok sekunder formal

2. Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan

(33)

3. Kelompok deskriptif dan kelompok prespiktif

John F. Cragan dan David W. Wright (dalam Sarwono, 2002 :8) membagi kelompok menjadi dua, dekskriptif dan preskriptif. Deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentuknya secara alamiah, berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi. Sedangkan kelompok sedangkan preskriptif mengacu kepada langkah-langkah yang ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok.

Menurut Walgito (2007 ; 11) Selain jenis kelompok diatas, kelompok juga dapat dibedakan berdasarkan beberapa katagori-katagori umum, seperti :

1. Ukuran kelompok; meliputi besar kecilnya kelompok tersebut, seperti kelompok besar dan kecil. Menurut Shaw ( dalam Walgito 2007 : 7), kelompok kecil adalah kelompok yang terdiri atas 20 orang atau kurang walaupun dalam banyak hal perhatian atau penelitian lebih dipusatkan pada kelompok yang beranggotakan lima orang atau kurang. Kelompok yang terdiri atas lebih dari 20orang disebut kelompok besar.

2. Tujuan; orang-orang yang mempunyai tujuan sama akan membentuk suatu kelompok tersendiri, misalnya kelompok belajar atau berdiskusi mengenai suatu masalah untuk mencarai pernyelesainnya dari anggota lainnya.

3. Value (nilai); orang-orang yang mempunyai nilai sama akan membentuk suatu kelompok, misalnya kelompok pelajar kelas XI IPA.

(34)

5. Scope of activities; misalnya keluarga merupakan kelompok yang mengandung bayak aktivitas. Sehingga kelompok akan tercipta karena adanya aktivitas yang cendrung selalu bersama.

6. Minat; mencangkup minat seorang individu sehingga akan mendorong individu tersebut untuk membentuk kelompoknya sendiri.

7. Daerah Asal; individu yang memiliki kesamaan daerah asalnya akan memiliki keakraban tersendiri sehingga akan menciptakan kelompok sendiri.

8. Formalitas; dibagi menjadi formal dan informal.

II.3 Teori Perubahan Sosial (Social exchange)

Teori ini menelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan mempengaruhi kontribusi orang lain. Pencetus teori ini adalah Thibaut dan Kelley, yang mengemukakan bahwa orang mengevaluasi hubungan dengan orang lain. Model ini memandang suatu hubungan sebagai suatu transaksi dagang, maksudnya adalah seseorang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Dalam konteks permasalahan, seseorang akan tetap beriterkasi dengan seseorang yang menguntungkannya sampai seseorang tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan yang diinginkan sehingga secara tidak sadar interkasi tersebut menimbulkan peningkatan intensitas berkomunikasi kearah yang lebih mendalam.

(35)

88), Intensitas yaitu kedalaman atau reaksi emosional dan kekuatan yang mendukung suatu pendapat atau sikap. Menurut Gunarsa (2004 ; 58 ), bahwa intensitas komunikasi dapat diukur dari apa-apa dan siapa yang saling dibicarakan, pikiran, perasaan, objek tertentu, orang lain atau dirinya sendiri. Intensitas komunikasi yang mendalam ditandai oleh kejujuran, keterbukaan, dan saling percaya, sehingga menimbulkan respon dalam bentuk perilaku atau tindakan.

Thibaut dan Kelley (dalam Rakhmat, 2002 : 425 ), pemuka utama dari teori Social Exchange menyimpulkan teori ini sebagai berikut: “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam

hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.

Menurut Thibaut dan Kelley (dalam Rakhmat, 2002 : 425 ), ganjaran, biaya, laba dan tingkat perbandingan merupakan empat konsep pokok dalam teori ini yang akan dijabarkan sebagai berikut :

5. Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran bisa saja berupa penerimaan sosial, penghargaan diri atau dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain.

(36)

7. Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan komunikasi, bahwa ia tidak memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba. Misalnya, Anda mempunyai kawan yang pelit dan bodoh. Anda banyak membantunya, tetapi hanya sekedar supaya persahabatan dengan dia tidak putus. Bantuan Anda (biaya) ternyata lebih besar daripada nilai persahabatan (ganjaran) yang Anda terima. Anda rugi. Menurut teori pertukaran sosial, hubungan anda dengan sahabat pelit itu mudah sekali retak dan digantikan dengan hubungan baru dengan orang lain.

8. Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu, seorang individu mengalami hubungan komunikasi yang memuaskan, tingkat perbandingannya turun. Bila seorang gadis pernah berhubungan dengan kawan pria dalam hubungan yang bahagia, ia akan mengukur hubungan komunikasi dengan kawan pria lain berdasarkan pengalamannya dengan kawan pria terdahulu. Makin bahagia ia pada hubungan sebelumnya, makin tinggi tingkat perbandingannya, berarti makin sukar ia memperoleh hubungan yang memuaskan.

Homans dalam bukunya “Elementary Forms of Social Behavior, 1974 mengeluarkan beberapa proposisi dan salah satunya berbunyi :”Semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan tindakan tertentu tadi “.

(37)

berbunyi : “Makin tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang, makin besar pula kemungkinan perbuatan tersebut diulanginya kembali”.

Bagi Homans, prinsip dasar pertukaran sosial adalah “distributive justice” – aturan yang mengatakan bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi ” seseorang dalam hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya – makin tinggi pengorbanan, makin tinggi imbalannya – dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak harus sebanding dengan investasinya – makin tinggi investasi, makin tinggi keuntungan”.

Roloff (1981) mengemukakan bahwa asumsi tentang perhitungan antara ganjaran dan upaya (untung-rugi atau reward dan cost) tidak berarti bahwa setiap anggota dalam kelompok selalu berusaha untuk saling mengeksploitasi, tetapi bahwa orang lebih memilih lingkungan dan hubungan yang dapat memberikan hasil yang diinginkannya. Hubungan yang ideal akan terjadi bilamana anggota kelompok dapat saling memberikan cukup keuntungan sehingga hubungan tersebut menjadi sumber yang dapat diandalkan bagi kepuasan anggota kelompok ataupun kelompoknya.

Knap (1978) membagi tahapan-tahapan hubungan yang lebih akrab dengan orang lain dalam sebuah kelompok menurut, yaitu :

1. Inisiasi, mencakup percakapan singkat dan saling memberi salam antar anggota kelompok. Hal ini sangat lazim terjadi dalam komunikasi sehari-hari, seseorang yang baru saja bertemu dan mengenal mungkin akan sungkan untuk saling berbaur dengan yang lainnya disebabkan adanya rasa canggung untuk berkomunikasi lebih lanjut kearah yang lebih intens.

(38)

lebih lanjut, dan membantu dalam mengungkapkan persamaan atau perbedaan kepentingan.

3. Intensifikasi, melibatkan penyelidikan yang lebih pada kepribadian masing-masing anggota kelompok. Seiring dengan frekuensi komunikasi yang terus berlanjut, perasaan saling mengenal juga akan meningkat. Dimana apabila individu tersebut merasa keinginannya terpenuhi dan puas sehingga akan meningkatkan tingkat intensitas komunikasi individu tersebut kearah yang lebih akrab.

4. Integrasi, menciptakan rasa ”bersama”, rasa ”kami/kita”, di mana anggota-anggota kelompok bertindak sebagai suatu unit dan bukan sebagai individu yang terpisah. 5. Ikatan, terjadi ketika anggota kelompok masuk pada suatu ritual yang secara

formal mengakui hubungan jangka panjangnya.

II.4 Teknologi Komunikasi

Rogers (dalam Lubis 1997:42) mendefenisikan teknologi komunikasi sebagai “alat perangkat keras, struktur organisasi dan nilai-nilai sosial yang digunakan, untuk memproses, dan mempertukarkan informasi dengan orang lain”.

(39)

II.5 Komunikasi Bermedia II.5.1 Pengertian Media

Media umum adalah media yang dapat dipergunakan oleh segala bentuk komunikasi, baik komunikasi persona maupun komunikasi kelompok dan komunikasi massa. (Palapah dan Syamsudin, 1983: 101). Menurut pengertian tersebut, media umum merupakan media dalam arti luas dimana media ditinjau dari segala bentuk komunikasi, padahal setiap bentuk komunikasi memiliki keefektifan tertentu apabila menggunakan media yang sesuai dengan bentuk komunikasinya.

Sedangkan menurut H.A.W. Widjaja (2000: 35) mengemukakan, media merupakan channel, channel yaitu saluran penyampaian pesan, biasa juga disebut dengan media komunikasi, dapat dikategorikan kedalam dua bagian, media umum dan media massa.

Hal serupa dikemukakan oleh Riyono Pratikto (1987: 24) tentang segi media,

sarana atau saluran. Media yang bersifat jamak dapat dibagi dalam jenis-jenis sebagai berikut:

a. media umum, sebagai telepon dan telepon selular, telex, telegram, dan lain-lainnya,

b. media khusus, misalnya surat melalui surat tertutup, warkat pos, kartu pos, dan sebagainya,

c. media massa seperti surat kabar, radio, telvisi, dan film.

Menurut pengertian tersebut, pada dasarnya sama dengan yang dikemukakan oleh Widjaja bahwa media adalah channel atau saluran untuk penyampaian pesan namun dikategorikan kedalam tiga kategori yaitu media umum, media khusus dan media massa.

(40)

menyampaikan pesan kepada komunikan, contoh media komunikasi yang akan dibahas adalah Blackberry khususnya penggunaan Blackberry Messenger sebagai media komunikasi.

Berdasarkan pengertian media menurut para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian media pada dasarnya sama, yaitu alat atau saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan. Sedangkan sifat dari media sendiri dibagi dua yaitu media umum dan media massa.

II.5.2 Pengertian Komunikasi Bermedia

Menurut Onong Uchjana Effendy (1986: 12-13) komunikasi bermedia adalah komunikasi yang menggunakan saluran atau sarana untuk meneruskan suatu pesan kepada komunikan yang jauh tempatnya dan atau banyak jumlahnya. Menurut pengertian tersebut, komunikasi menggunakan media atau sarana apabila komunikannya berada ditempat yang jauh atau banyak.

Komunikasi bermedia ini diklasifikasikan menjadi media massa dan media nirmassa, yaitu sebagai berikut:

1. Komunikasi bermedia massa

Media massa digunakan dalam komunikasi apabila komunikan berjumlah banyak dan bertempat tinggal jauh. Media massa yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari umumnya adalah surat kabar, radio, televisi, dan film bioskop, yang beroperasi dalam bidang informasi, edukasi dan rekreasi atau dalam istilah lain: penerangan, pendidikan dan hiburan.

2. Komunikasi bermedia nirmassa

(41)

telegram, telex, papan pengumumman, poster, spanduk, pamflet, brosur, folder, radio CB atau radio amatir, CCTV, film documenter, kaset video, kaset audio dan lain-lain adalah media nirmassa karena tidak memiliki daya keserempakan dan komunikannya tidak bersifat massal.

II.6 Blackberry

Blackberry adalah perangkat selular yang memiliki kemampuan layanan push e-mail, telepon, sms, menjelajah internet, chatting dan berbagai kemampuan nirkabel lainnya. Penggunaan gadget canggih ini begitu fenomenal belakangan ini, sampai menjadi suatu kebutuhan untuk gaya hidup. Blackberry pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997 oleh perusahaan Kanada, Research In Motion (RIM).

Perusahaan ini didirikan oeh seorang imigran Yunani kelahiran Turki bernama Mike Lazaridis di kota Waterloo, Canada. Pada tahun 1979 dia memulai aktifitas sebagai mahasiswa di University Of Waterloo jurusan elektronik mengenai ilmu komputer. Tapi pada tahun 1984 Mike memilih untuk berhenti kuliah setelah memenangkan kontrak senilai $ 560.000 dan mulai membangun Research in Motion (RIM).

Blackberry pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada pertengahan Desember 2004

oleh operator Indosat . Produk yang menjadi andalan utama dan membuat Blackberry digemari di pasar adalah surat gegas (push e-mail). Produk ini mendapat sebutan surat-e gegas karena seluruh surat baru, daftar kontak, dan informasi jadwal (calendar) “didorong” masuk ke dalam Blackberry secara otomatis (http://www.wikipedia.co.id/Blackberry).

(42)

sampai ketika berada di luar layanan jangkauan nirkabel. Begitu pengguna terhubung lagi, Blackberry Enterprise Server akan menyampaikan data terbaru yang masuk (http://www.wikipedia.co.id/Blackberry).

Blackberry juga bisa digunakan untuk chatting. Mirip dengan Yahoo Messenger,

namun dilakukan melalui jaringan Blackberry dengan memasukan nomor identitas, layanan cukup familiar dikalangan masyarakat dengan istilah BBM (Blackberry Messenger). Dalam beberapa tahun terakhir layanan ini begitu diminati oleh penggunanya. Pada dasarnya Blackberry Messenger tidak berbeda dengan aplikasi chatting lain yang digunakan oleh ponsel sejenisnya. Sedikitnya bisa dijabarkarkan kelebihan dari Blackberry Messenger dibanding dengan aplikasi chatting lainnya, Blackberry Messenger dapat mengirim pesan ke kontak penggunanya, mengubah status dan gambar tampilan (avatar) pengguna, serta mengorganisir kontak ke dalam kategori kontak. Selama obrolan, pengguna dapat mengirim file seperti catatan suara dan lampiran kontak. Pengguna juga dapat mengirim foto yang diambil dengan kamera tersebut hingga file musik yang diinginkan. Pengguna dapat menggunakan fitur Blackberry Groups dari Blackberry Messenger untuk membuat grup yang berisi anggota keluarga, teman, rekan kerja, dan seterusnya. Dalam grup, Anda dapat berbagi gambar, daftar, dan janji temu dengan anggota grup. Anda juga dapat mengobrol dengan anggota grup Anda dan mengomentari item bersama. Pengguna tidak perlu sign-in ke atau sign-out dari Blackberry Messenger. Selama Anda terhubung ke jaringan nirkabel, BlackBerry Messenger dapat menjaga agar Anda tetap terhubung ke kontak BlackBerry Messenger

Apabila ditelusuri lebih lanjut, cukup masuk akal mengapa Blackberry cukup digemari sebagai media berkomunikasi. Tidak sedikit yang memilih untuk menggunakan media, seperti Blackberry messenger untuk mempermudah proses komunikasi yang mereka inginkan. Selain menghemat biaya dan waktu, komunikasi dengan menggunakan media ini

(43)

dapat dengan mudah dimengerti satu dengan yang lainnya. Penggunaannya juga tidak menyulitkan pengguna yang dominannya sudah familiar dengan messenger lainnya seperti yahoo messenger ataupun facebook. Pengguna hanya perlu mengetik pesan yang ingin disampaikan layaknya mengetik pesan singkat.

II.6.1 Blackberry Messenger

BlackBerry Messenger adalah program pengirim pesan instan yang disediakan untuk

para pengguna perangkat Blackberry. Aplikasi ini mengadopsi kemampuan fitur atau aktivitas yang populer di kalangan pengguna perangkat telepon genggam. Contohnya fitur di aplikasi Google Maps atau Yahoo Messenger hingga aktivitas dengan Facebook atau Twitter. Semuanya bisa didapatkan oleh pengguna perangkat Blackberry pada aplikasi ini. BlackBerry Messenger merupakan salah satu keunggulan dari penggunaan perangkat Blackberry selain

layanan Push Mail. Layanan messenger ini dibuat khusus bagi pemilik Blackberry dan dirancang khusus untuk berkomunikasi di antara pengguna. Cara menggunakan Blackberry Messenger adalah dengan penghubung nomor PIN yang juga eksklusif dimiliki masing-masing perangkat Blackberry.

(44)

Blackberry Messenger (BBM) memiliki beberapa fitur, beberapa dari fitur yang sering digunakan adalah :

1.6 Chatting atau Obrolan, ini merupakan fitur Blackberry secara mendasar dimana pengguna saling berinteraksi secara bebas tentang apa saja ataupun mengomentari status dari pengguna Blackberry Messenger lainnya. Melalui perubahan obrolan, memungkinkan pengguna dapat memantau perubahan status dari setiap kontaknya. Pengguna bisa meng-klik panel keadaan terbaru di atas panel info tampilan Blackberry Messenger untuk menampilkan daftar kontak yang baru saja memperbaharui status. Notifikasi akan selalu muncul di panel keadaan terbaru setiap kontak lain memperbaharui status mereka.

1.7 Send Picture, meliputi penggunaan dengan menggungah sebuah gambar, sehingga pengguna-pengguna lain dapat melihat gambar tersebut ataupun saling mengomentari gambar tersebut satu dengan yang lainnya.

1.8 Send File, meliputi penggunaan yang lebih luas, tidak hanya gambar, tetapi bisa saja daftar contact, calendar, rekaman suara, video dan lain-lain. Pengguna BlackBerry Messenger juga dapat membagi berkas yang berupa data selain foto dan suara, kontak telepon dan kontak BlackBerry Messenger antar sesama pengguna. Berkas yang dikirimkan melalui aplikasi ini dapat tersampaikan ke pengguna yang dituju secara cepat dan mudah.

(45)

kontak bisa juga dilakukan atau mengatur notifikasi kedekatan dengan pengguna lain.

1.10Smiley mencangkup representasi perasaan penguna seperti muka tersenyum, tertawa ataupun menangis sehingga pengguna yang sedang berkomunikasi bisa saling memahami perasaan masing-masing.

II.7 Komunikasi Virtual

Komunikasi virtual adalah proses penyampaian pesan yang dikirimkan melalui internet atau cyberspace (Werner, 2001 ; 447). Komunikasi virtual bisa dikatakan berkomunikasi melalui dunia maya. Dalam model komunikasi virtual contohnya adalah seperti chating, browsing, dan email melalui internet. Komunikasi virtual (virtual communications) sering disalahpahami sebagai “alam maya” namun sebenarnya keberadaan system elektronik itu sendiri adalah konkrit di mana komunikasi virtual sebenarnya dilakukan dengan representasi informasi digital yang bersifat diskrit. Internet merupakan media komunikasi yang sangat efektif bagi umat manusia di dunia. Hal ini menjadi nyata sejak penggunaan Blackberry Messenger menjadi popular dan semakin mendongkrak kebutuhan internet sebagai salah satu media berkomunikasi.

Menurut Bungin (2006 ; 293) Manfaat berkomunikasi yang dilakukan secara virtual, di antaranya yaitu:

(46)

2. Mudah, apabila sudah mengusai tata cara penggunaan dan fasilitas pendukung yang dibutuhkan, proses komunikasi bisa dilakukan dengan mudah.

3. Komunikasi virtual bisa dilakukan secara real time juga unreal time. Secara real time artinya komunikasi dilakukan secara langsung, komunikator dan komunikan

berinteraksi pada waktu yang sama, tanpa penundaan waktu untuk memberi respon atas pesan yang diterima (synchronous system). Sedangkan yang unreal time yaitu kebalikan dari yang real time, ada penundaan waktu respon atas

pesan-pesan yang disampaikan oleh para pihak yang berkomunikasi (asychronous system).

4. Bisa individual atau grup. Komunikasi virtual bisa dilakukan baik secara one to one, satu orang dengan satu orang, maupun secara kelompok (group). Bisa dipilih sesuai dengan keperluan.

(47)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

III.1.1 Sejarah Singkat Berdirinya SMA Swasta Sriwijaya Medan

SMA Swasta Sriwijaya Medan pada awalnya berlokasi di Jalan Starban Polonia Medan yang didirikan pada tahun 1986. Seiring berlanjutnya masa tahun pengajaran dan demi meningkatakan mutu sekolah melakukan relokasi bangunaan ke lokasi yang lebih luas sehingga dapat meningkatkan proses belajar mengajar yang lebih efesien dan didukung dengan sarana dan prasarana yang lebih memadai. Gedung baru tersebut berlokasi di Jalan Brigjend Katamso Gg. Pembangunan No. 25 dan mulai ditempati pada tahun 1996.

Pada periode pertama SMA Swasta Sriwijaya berada dipimpin oleh Bapak Salim SE. selaku kepala sekolah pada tahun 1986 hingga 1996. Sedangkan pada periode berikutnya, posisi kepala sekolah dipegang oleh Bapak DJ Hutapea yang sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Beliau menjabat sebagai kepala sekolah dalam kurun waktu 13 tahun yaitu pada tahun 1996 sampai 2009. Kemudian, Bapak DJ Hutapea digantikan oleh Bapak Drs. S Panjaitan dari tahun 2009 hingga pada saat sekarang.

SMA Swasta Sriwijaya memeliki Visi dan Misi sebagai sekolah swasta yang bepengalaman di kota Medan. Berikut adalah visi dan misi tersebut :

VISI

(48)

2. Menjadi SMA berstandar nasional yang akan menghasilkan anak didik yang beprestasi.

MISI

1. Menyiapkan infrastruktur yang memadai dan mendukung kompetensi.

2. Menyiapkan mutu tenaga pendidikan sehingga memiliki kompetensi secara nasional.

3. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara aktif demi menghasilakan anak didik yang memiliki sesuai dengan standar yang memadai.

4. Meningktkan peran serta masyarakat dan unit produksi dalam pengembangan sekolah.

5. Meningkatkan proses integrasi dan asumsi bangsa Indonesia sehingga tercipta kesatuan Bangsa Indonesia yang sesuai dengan Ikhrar Sumpah Pemuda.

III.1.2 Potensi Fisik Sekolah

SMA Swasta Sriwijaya mempunyai sarana dan prasarana penunjang yang cukup lengkap. Adapun sarana penunjang yang dimiliki sekolah ini adalah :

1. 9 ruang teori

2. 1 ruang perpustakaan sekolah 3. 2 ruang laboratorium komputer 4. 1 ruang laboratorium bahasa

5. 1 ruang laboratorium praktek IPA/ biologi 6. 1 ruang laboratorium praktik kimia

(49)

8. 2 kantin sekolah

9. Lapangan upacara dengan kapasitas daya tamping ± 1000 peserta upacara 10.2 ruang guru

11.1 ruang kepala sekolah 12.1 ruang wakil kepala sekolah 13.1 ruang penyuluhan siswa atau BP 14.1 ruang administrasi atau tata usaha 15.1 aula

16.3 gudang

17.6 kamar mandi siswa 18.2 kamar mandi guru 19.Lapangan futsal 20.Lapangan Basket 21.Lapangan Volly

22.Lapangan Bulu Tangkis

III.2 Metodologi Penelitian III.2.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode korelasional yaitu metode yang bertujuan untuk meneliti sejauh mana variasi pada satu faktor berkaitan dengan variasi faktor lain (Rakhmat, 2004:27)

(50)

Messenger Terhadap Peningkatan Intensitas Komunikasi Pelajar di SMA Swasta Sriwijaya Medan.

III.2.2 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di SMA Sriwijaya medan yang beralamat di Jalan Brigjend Katamso Gg. Pembangunan no. 25 Medan.

III.2.4 Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi Populasi menurut Nawawi sebagai keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda, hewan dan tumbuh-tumbuhan,gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian (Nawawi, 1995:141). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas X (sepuluh) dan kelas XI (sebelas) yang menggunakan Blackberry Messenger. Peneliti mencata jumlah keseluruhan siswa kelas X (sepuluh) dan XI (sebelas) adalah 259 jiwa.

Tabel 2

Populasi Siswa SMA Swasta Sriwijaya Medan

No. Kelas Jumlah

1 X (Sepuluh) 82 Jiwa

2 XI (Sebelas) IPA 91 Jiwa

3 XI (Sebelas) IPS 86 Jiwa

(51)

2. Sampel

Sampel merupakan sub bagian dari seperangkat elemen yang dipilih untuk dipelajari (Sarwono, 2006:111). Berdasarkan data yang diperoleh, maka peneliti menggunakan rumus Taro Yamane dengan presisi 10% dengan tingkat kepercayaan 90 % yakni sebagai berikut :

Keterangan : N : Populasi

n : Sampel

d : Presisi (digunakan 10% atau 0,1)

Berdasarkan data yang ada, maka penelitian ini memerlukan sampel sebanyak:

Jadi, sampel yang dibutuhkan untuk penelitian ini berjumlah 72 orang.

III.2.5 Tehnik penarikan sampel

(52)

1. Sampel Stratifikasi Proporsioanal.

Tehnik Sampel Stratifikasi Purporsional mengelompokkan populasi ke dalam kelompok atau kategori yang disebut strata dengan tujuan untuk membuat sifat homogeny dari populasi yang heterogen (Kriyanto, 2006:151). Dalam sampel ini, jumlah dari setiap sampel yang diambil harus secara proporsional sehingga memungkinkan untuk member peluang kepada populasi yang lebih kecil untuk tetap dipilih menjadi sampel. Rumus penarikan sampelnya adalah :

Keterangan : n1 : Jumlah jiwa n : jumlah sampel N : populasi

Berdasarkan rumus diatas maka dapat dihitung sampel yang terpilih disetiap kelas, yaitu :

Tabel 3

Tabel Penarikan Sampel

No Kelas Populasi Penarikan Sampel Jumlah Sampel

1 X (Sepuluh) 82 23

2 XI (Sebelas) IPA 91 25

3 XI (Sebelas) IPS 86 24

(53)

2. Purposive Sampling

Purposive Sampling adalah teknik penarikan sampel yang disesuaikan dengan tujuan penelitian, dimana sampel yang digunakan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian ( Kriyanto, 2006:154). Kriteria sampel adalah responden kelas X (sepuluh), XI (Sebelas) IPA dan IPS dan menggunakan Blackberry Messenger dalam frekensi harian minimal 30 menit. Hal ini dikarenakan dengan durasi 30 menit perhari akan semakin mudah menemukan ada tau tidaknya peningkatan durasi penggunakan serta intensitas menggunakan Blackberry Messenger tersebut sehingga mampu meningkatkan intensitas komunikasi diantara para siswanya.

3. Aksidental Sampling

Aksidental Sampling adalah cara penarikan sampel yang termasuk dalam multistep sampling. Dimana sampel yang dipilih atau diambil berdasarkan kemudahan mendapatkan data yang diperlukan atau dilakukan seadanya, seperti mudah ditemui atau dijangkau atau kebetulan ditemukan. Sehingga melalui aksidental sampling akan memudahkan peneliti untuk memilih sampel sesuai dengan kriteria yang dianggap cocok oleh peneliti.

III.2.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. penelitian kepustakaan (Library Research)

(54)

b. penelitian lapangan (Field Research)

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data di lapangan. Meliputi kegiatan survey di lokasi penelitian melalui kuisioner. Kuisioner merupakan daftar pertanyaan dengan alternative (option) jawaban yang telah tersedia sehingga responden tinggal memilih jawaban yang sesuai dengan aspirasi, persepsi, sikap, keadaan atau pendapat pribadinya (Suyanto dan Sutinah, 2005:60).

III.2.6 Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipresentasikan (Singarimbun, 1955:263) data yang diperoleh dari hasil penelitian akan di analisis dan dianalisa dalam bebarapa tahap analisis, yaitu :

1. Analisis Tabel tunggal

Analisis tabel tunggal merupakan suatu analisa yang dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian ke dalam katagori-katagori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Table tunggal merupakan langkah awal dalam penganalisa kolom-kolom yang merupakan sejumlah frekuansi dan presentasi untuk setiap katagori (Singarimbun,1995:226)

2. Analisis tabel Silang

(55)

3. Uji hipotesis

Menurut Kriyantono (2006;174), pengujian Hipotesis adalah pengujian dan statistik untuk mengatahui adat hipotesis yang diajukan dapat diterima atau ditolak. Untuk menguji hubungan diantara kedua variabel yang dikolerasikan maka penleiti menggunakan rumus kolerasi Spearman. Rumus Koefisien Kolerasinya adalah:

Keterangan: Rs (Rh) : Koefisien kolerasi rank order Angka 1 : Bilangan konstan

Angka 6 : Bilangan onstan

D : Perbedaan antara pasangan jenjang : Sigma atau jumlah

N : Jumlah individu atau sampel

Spearman Rho Koefifisien adalah metode untuk menganalisis data untuk melihat hubungan antara variabel yang sebenarnya dengan skala ordinal.

Jika rho < 0, maka hipotesis ditolak

(56)

Selanjutnya untuk mengukur kekuatan hubungan, digunakan nilai koefisisien korelasi sebagai berikut (Kriyantono, 2006 : 168-169), yaitu :

≤ 0,20 : Hubungan rendah sekali; lemah sekali

0,20 – 0,39 : Hubungan rendah tapi pasti

0,40 – 0,70 : Hubungan yang cukup berarti

0,71 – 0,90 : Hubungan yang tinggi; kuat

(57)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Proses Pengumpulan Data

Dalam Pelaksanaan Pengumpulan data, peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti bahan bacaan berupa buku maupun sumber terpercaya dari berbagai situs maupun blog dari internet. Kemudian peneliti mempelajari dengan seksama berbagai bahan bacaan tersebut sehingga memperoleh data-data yang relevan sehingga dapat mendukung penelitian ini.

Untuk memperoleh data siswa yang aktif dan terdaftar sebagai siswa syah di SMA Swasta Sriwijaya Medan, peneliti mengajukan surat izin penelitian yang diperoleh dari bagian pendidikan fakultas asal peneliti yaitu Fakultas Ilmu Politik dan Sosial USU sehingga mendapat izin dari pihak sekolah selaku lokasi objek penelitain ini. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti, jumlah siswa yang aktif dan terdaftar sah oleh sekolah adalah 256 siswa yang terdiri dari kelas X dan XI SMA dan melalui pemilihan sampel peneliti menetapkan jumlah siswa yang akan diteliti menjadi 72 siswa saja.

IV.2 Tekhnik Pengolahan Data

Setelah Peneliti mengumpulkan data yang telah diperoleh dari 72 siswa yang menjadi sampel penelitian, sehingga tahap selajutnya yang akan dikerjakan adalah pengolahan data dan dapat dijabarkan sebagai berikut :

(58)

2. Editing, adalah proses pengeditan jawaban responden untuk memperjelas setiap jawaban yang meragukan dan menghindari terjadinya kesalahan pengisian data kedalam kotak penilaian yang disediakan.

3. Coding, adalah proses pemindahan jawaban responden kedalam kotak-kotak kode yang telah disediakan pada kuesioner dalam bentuk nilai atau skore.

4. Intentaisasi Variabel, adalah data yang diperoleh dimasukkan ke dalam foltron Cobolt (FC) sehingga memuat seluruh data dalam satu kemasan.

5. Tabulasi data, proses memindahan data data mentah yang ada pada FC kedalam tabel tunggal dan silang. Perician data dalam tabel melingkup kepada fkekuensi dan persentase yang dianalisis melalui SPSS.

(59)

IV.3 Tabel Tunggal

Analisis Tabel Tunggal adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang mudah dibaca dan diinterpretasikan. Dalam pembahasan ini, penneliti akan merujuk pada system penyajian atau data yang diperoleh dari hasil jawaban responden, dimana metode pengumpulan data dengan melalui kuesioner yang disebarkan kepada responden yang berjumlah 72 siswa.

1. Karakteristik Responden

Karakteristik Responden merupakan salah satu variabel yang sangat berpengaruh dalan suatu penelitian. Terutama dalam menjelaskan jawaban-jawaban yang ada pada kuesioner yang diberikan kepada responden. Adapun karakteristik responden dalam hal ini meliputi, jenis kelamin, usia, uang saku dan hobi. Data dari karakteristik responden yang diperoleh peneliti adalah sebagai berikut:

Tabel 4 Jenis kelamin

Jenis Kelamin Frequency Percent

Laki-laki 32 44.4

Perempuan 40 55.6

Total 72 100.0

N = 72 (100%)

(60)

digunakan oleh perempuan dibandingkan dengan jumlah laki-laki. Ketika melakukan survey untuk pembagian kuesioner setiap kelas, peneliti menemukan bahwa pengguna Blackberry Messenger untuk setiap kelas lebih banyak digunakan oleh perempuan, seperti pada kelas X (sepuluh) jumlah pengguna Blackberry Messenger laki-laki hanya 8 sisa dan 15 siswa pengguna Blackberry Messenger perempuan.

Tabel 5 Usia

Usia Frequency Percent

15 tahun 13 18.1

16 tahun 12 16.7

17 tahun 39 54.2

18 tahun 8 11.1

Total 72 100.0

N = 72 (100%)

Figur

Tabel Penarikan Sampel

Tabel Penarikan

Sampel p.52
Tabel 5 Usia

Tabel 5

Usia p.60
Tabel 7 Hobi

Tabel 7

Hobi p.62
Tabel 8

Tabel 8

p.63
Tabel 10 Tingkat keseringan penggunaan fitur chatting

Tabel 10

Tingkat keseringan penggunaan fitur chatting p.65
Tabel 11

Tabel 11

p.66
Tabel 12

Tabel 12

p.67
Tabel 13

Tabel 13

p.68
Tabel 14

Tabel 14

p.69
Tabel 15

Tabel 15

p.70
Tabel 16

Tabel 16

p.71
Tabel 17

Tabel 17

p.72
Tabel 19

Tabel 19

p.74
Tabel 20

Tabel 20

p.75
Tabel 21

Tabel 21

p.76
Tabel 22

Tabel 22

p.77
Tabel 23

Tabel 23

p.78
Tabel 24

Tabel 24

p.79
Tabel 25

Tabel 25

p.80
Tabel 26

Tabel 26

p.81
Tabel 28 Intensitas meningkatkan keterbukaan satu dengan yang lain

Tabel 28

Intensitas meningkatkan keterbukaan satu dengan yang lain p.83
Tabel 29

Tabel 29

p.84
Tabel 30

Tabel 30

p.85
Tabel 32

Tabel 32

p.86
Tabel 33

Tabel 33

p.87
Tabel 34

Tabel 34

p.88
Tabel 35

Tabel 35

p.90
Tabel 36 menjelaskan mengenai hubungan antara lama waktu penggunaan fitur

Tabel 36

menjelaskan mengenai hubungan antara lama waktu penggunaan fitur p.92
Tabel 37 menunjukkan hubungan antara kepuasan penggunaan fitur chatting ketika

Tabel 37

menunjukkan hubungan antara kepuasan penggunaan fitur chatting ketika p.94
TABEL  DATA  MENTAH

TABEL DATA

MENTAH p.114

Referensi

Memperbarui...

Outline : Uji Hipotesis