• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH JENIS BAHAN LITTER TERHADAP GAMBARAN DARAH BROILER YANG DIPELIHARA DI CLOSED HOUSE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH JENIS BAHAN LITTER TERHADAP GAMBARAN DARAH BROILER YANG DIPELIHARA DI CLOSED HOUSE"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENGARUH JENIS BAHAN LITTERTERHADAP GAMBARAN DARAH BROILERYANG DIPELIHARA DI CLOSED HOUSE

Oleh Miranti Olivia

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui gambaran darah (jumlah sel darah merah, jumlah sel darah putih, dan kadar hemoglobin) broilerpada closed house

dengan jenis bahan litteryang berbeda (2) mengetahui jenis bahan litterterbaik

untuk broileryang dipelihara di closed houseberdasarkan gambaran darah.

Penelitian dilaksanakan selama 26 hari dari 15 April—10 Mei 2014, di kandang ayam milik PT. Rama Jaya Lampung, Dusun Sidorejo, Desa Krawang Sari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, dan analisis sampel darah di Balai Veteriner Regional III, Bandar Lampung. Ternak yang digunakan adalah

broiler strain CobbCP 707 produki PT. Charoen Pokphand Indonesia sebayak

270 ekor. Broilermulai ditangani antara umur 14 sampai 26 hari.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Langkap (RAL), terdiri atas tiga perlakuan, dengan enam ulangan, yaitu P1: Sekam Padi, P2: Serutan Kayu dan P3: Jerami Padi. Data yang diperoleh dianalisis ragam secara statistik pada taraf nyata 5%.

Hasil penelitian menunjukkanlittersekam padi, serutan kayu dan jerami padi

berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap total sel darah merah, total sel darah putih dan kadar hemoglobin broiler.Littersekam padi, serutan kayu dan jerami

padi baik digunakan dalam pemeliharaan broilerdi closed house.

(2)

PENGARUH JENIS BAHAN LITTERTERHADAP GAMBARAN DARAH BROILERYANG DIPELIHARA DI CLOSED HOUSE

THE EFFECT OF LITTER MATERIAL TO BROILER BLOOD DESCRIPTIONS THAT CULTIVATED AT CLOSED HOUSE

Miranti Olivia1), Madi Hartono2), Veronica Wanniatie2).

Department of Animal Husbandry Faculty of Agriculture Lampung University Soemantri Bojonegoro No. 1 Gedung Meneng Bandar Lampung 35145

ABSTRACT

The aim of the research was to : (1) knowing blood descriptions (red blood cell, white blood cell, and haemoglobin) of broiler at closed house with kind of litter material, and (2) finding the best litter for broiler blood descriptions at closed house.

The research was conducted during 26 days since April 16, 2014 to May 10, 2014 at the PT Ramajaya farm’s on Krawangsari village, sub District Natar, South Lampung District. The chicken used was broiler strain cobb with trademark CP 707 product by PT. Charoen pokphand Indonesia tbk for 270 chicken. Broiler start to get handling between age of 14 and 26 days.

The research method was experimentally with Completely Randomized Design (CRD) were divided into 3 treatments and repeated for 6 times, that is p1: rice hull; p2 : wood shavings; p3 : straw. The data were analysis with Analysis of Variance and it shows 5%.

The result indicated that the treatmentis : (1) litter from rice hull, wood shavings, straw did not have significant effect (P>0,05) on red blood cell, white blood cell and haemoglobin of broiler. Litter rice hull, wood shavings and straw are good for broiler maintained at closed house.

Key words : broiler, litter,blood descriptions, closed house

(3)
(4)

PENGARUH JENIS BAHAN LITTER TERHADAP GAMBARAN DARAH BROILER YANG DIPELIHARA DI CLOSED HOUSE

(Skripsi)

Oleh

MIRANTI OLIVIA

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(5)
(6)
(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... . viii

DAFTAR TABEL ... . xii

I. PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang dan Masalah ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 4

C. Kegunaan Penelitian ... 4

D. Kerangka Pemikiran ... 4

E. Hipotesis... 8

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A. Broiler………...…... 9

B. Closed House ... 10

C. Bahan Litter ... ... 12

1. Sekam padi ... 13

2. Serutan kayu ... 14

3. Jerami padi ... 14

D. Gambaran Darah ... 15

1. Sel darah merah ... 16

2. Sel darah putih ... 17

(9)

III. BAHAN DAN METODE ... 20

A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 20

B. Alat dan Bahan Penelitian ... 20

1. Ternak ... 20

2. Kandang dan peralatan ... 20

3. Ransum ... 22

4. Air minum ... 23

5. Antibiotik, vaksin dan vitamin ... 23

C. Metode Penelitian ... 23

D. Pelaksanaan Penelitian... 24

E. Peubah yang diamati... 25

1. Sel darah merah... 25

2. Sel darah putih... 26

3. Kadar hemoglobin... 27

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28

A. Sel Darah Merah... 28

B. Sel Darah Putih... 31

C. Kadar Hemoglobin... 32

V. SIMPULAN DAN SARAN... 35

A. Simpulan... 35

B. Saran... 35

DAFTAR PUSTAKA... 36

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Kandungan nutrisi ransum BBR1 (Bestfeed) dan HI-PRO 611.. ... 22

2. Rata-rata jumlah sel darah merah broiler umur 26 hari... 28

3. Rata-rata jumlah sel darah putih broiler umur 26 hari... 31

4. Rata-rata kadar hemoglobin broiler umur 26 hari... 32

5. Perhitungan analisis ragam total sel darah merah broiler... 41

6. Analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap total sel darah merah broiler umur 26 hari ... 42

7. Perhitungan analisis ragam total sel darah putih broiler... 42

8. Analisis ragam pengaruh perlakuan terhadap total sel darah putih broiler umur 26 hari ………... 44

9. Perhitungan analisis ragam kadar hemoglobin (g%) broiler... 44

10. Analisis ragam kadar hemoglobin (g%) broiler umur 26 hari ….... 45

11. Rata-rata suhu (°C) pada litter... 46

12. Rata-rata pH litter... 46

13. Rata-rata kadar amonia (ppm) dalam litter... 47

14. Rata-rata kadar air (%) dalam litter... 47

15. Suhu dan kelembaban kandang selama pemeliharaan... 48

[image:10.595.116.506.196.701.2]
(11)

MOTO

How sad to see you with money and no joy. The man studied economics, but never studied happiness.

(12)

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat, rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penelitian dan penyusunan

skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus

kepada:

1. Bapak drh. Madi Hartono, M.P.--selaku Pembimbing Utama --atas petunjuk,

bimbingan, dan arahannya;

2. Ibu Veronica Wanniatie, S.Pt., M.Si.--selaku Pembimbing Anggota--atas

bimbingan, petunjuk, dan sarannya;

3. Ibu Sri Suharyati, S.Pt., M.P.--selaku Penguji Utama dan Sekretaris Jurusan

Peternakan--atas bimbingan, saran, dan bantuannya;

4. Bapak Dr. Ir. Rudy Sutrisna, M.S. –selaku Pembimbing Akademik—atas

bimbingan, petunjuk dan arahannya;

5. Bapak Prof. Dr. Ir. Muhtarudin, M.S.--selaku Ketua Jurusan Peternakan--atas

izin dan bimbingannya;

6. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S.--selaku Dekan Fakultas

Pertanian Universitas Lampung--atas izin yang telah diberikan;

7. Seluruh Bapak/Ibu dosen Jurusan Peternakan atas ilmu, motivasi, bimbingan,

(13)

8. Papa Drs. Joni Syarif, M.M., mama Dra. Helmiyati M.M. dan kakak Jimmy

Pratama serta seluruh keluarga di rumah atas segala doa, dorongan, nasehat,

cinta, dan kasih sayangnya, yang selalu tercurah tiada henti bagi penulis;

9. Teman seperjuangan selama penelitian (Tiwi, Anung, Tri, Rohmat), teman –

teman angkatan’10, dan seluruh mahasiswa Jurusan Peternakan, Universitas

Lampung atas motivasi, bantuan, kebersamaan, dan kasih sayang yang telah

diberikan.

10.Sahabat-sahabat saya Dewiq, Nindi, Fitria, Deliar, Denis, Manda, Jerry, Anto

dan seluruh GenH yang telah memberi semangat, keceriaan, dan rasa

kekeluargaannya;

11.Seluruh staf Rama Jaya Farm yang telah memberikan izinnya, bantuan dan

semangat kepada penulis selama melakukan penelitian;

12.Seluruh Mahasiswa Jurusan Peternakan, Universitas Lampung atas bantuan

dan kebersamaannya selama ini.

Semoga semua yang diberikan kepada penulis mendapatkan balasan dan rahmat

dari Allah SWT dan penulis berharap karya ini dapat bermanfaat. Amin.

Bandar Lampung, September 2014

Penulis

(14)
(15)

PERSEMBAHAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT, dengan segala kerendahan hati dan ketulusan hatiku,

kupersembahkan karya kecilku untuk:

Kedua orang tuaku tercinta, Ayahanda Joni Syarif dan Ibunda Helmiyati yang dengan sabar

telah membesarkan, mendidik, menyayangi dengan sepenuh hati, dan selalu berdoa untuk

keberhasilanku.

Kakakku tersayang Jimmy Pratama yang selalu dihati

Para Guru dan Dosen yang telah berjasa memberikan bimbingan dan ilmu yang sangat

berharga

(16)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada 26 November 1992, merupakan anak

kedua dari dua bersaudara, putri pasangan Bapak Drs. Joni Syarif, M.M. dan Ibu

Dra. Helmiyati, M.M.

Penulis menyelesaikan jenjang pendidikan sekolah dasar pada 2004 di Sekolah

Dasar Kartika II-5, Bandar Lampung dan Sekolah Menengah Pertama Negeri 4

Bandar Lampung yang diselesaikan pada 2007. Pada 2010 penulis menyelesaikan

pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Bandar Lampung.

Penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian,

Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi

Negeri (SNMPTN) pada 2010. Penulis telah melaksanakan Praktik Umum di

Nurhayati Farm, Desa Serdang 2, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten

Lampung Selatan pada Juni sampai Juli 2013. Penulis juga telah melaksanakan

Kuliah Kerja Nyata di Desa Suka Jawa, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Kabupaten

(17)

1

I.PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah

Broiler adalah ayam yang memiliki karakteristik ekonomis, memiliki

pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan sangat irit, siap

dipotong pada umur muda, serta mampu menghasilkan kualitas daging yang

bersih, berserat lunak dengan kandungan protein tinggi (Irawan, 1996).

Dalam pemeliharaan broiler banyak faktor lingkungan yang memengaruhi salah

satunya kandang. Kandang merupakan tempat ayam tinggal dan beraktivitas

sehingga kandang yang nyaman sangat berpengaruh terhadap pencapaian

produktivitas yang baik. Ayam merupakan ternak yang bersifat homeotermis,

artinya ayam akan selalu berusaha menjaga suhu tubuhnya tetap konstan, tidak

mengikuti suhu lingkungan. Cara yang dipakai oleh ayam untuk mengurangi

panas tubuh yaitu dengan radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi (North dan

Bell, 1990).

Kandang merupakan salah satu bagian dari manajemen ternak unggas yang sangat

penting untuk diperhatikan. Bagi peternak dengan sistem intensif, kandang

merupakan salah satu penentu keberhasilan beternak. Fungsi utama dari

(18)

2

panasnya sinar matahari pada siang hari, hujan, angin, udara dingin dan untuk

mencegah gangguan seperti predator. Selain itu, kandang juga berfungsi untuk

memudahkan tata laksana yang meliputi pemeliharaan dalam pemberian pakan

dan minum, pengawasan terhadap ayam yang sehat dan ayam yang sakit.

Pemeliharaan broiler pada umumnya menggunakan kandang alas litter, termasuk

pada kandang tipe closed house. Ada berbagai jenis bahan litter yang biasa

digunakan yaitu sekam padi, jerami padi, serutan kayu, ampas tebu, pasir serta

kulit kacang. Penggunaan bahan tersebut ditujukan untuk penyerapan air yang

baik sehingga lantai tidak becek. Dalam membuat alas kandang harus dilakukan

pengeringan terlebih dahulu. Tujuannya untuk membasmi kuman penyakit yang

mungkin terdapat di sela-sela bahan tersebut. Kelebihan dari sistem litter ini

adalah kepraktisannya sehingga lebih efisien. Selain itu, kondisi di dalam kandang

pun terasa lebih hangat karena kemampuan jerami padi, sekam padi dan serutan

kayu tersebut dalam menahan panas. Dari segi biaya, sistem litter ini pun lebih

murah dan hemat tempat karena tidak membutuhkan tempat yang terpisah.

Dibandingkan dengan kandang panggung yang konstruksi bangunan yang rumit

sehingga menyulitkan peternak saat panen.

Kekurangan dari kandang sistem litter adalah potensi penyebaran penyakit lebih

cepat karena adanya kontak langsung antar ayam. Resiko tersebut lebih tinggi jika

kandang kotor dan lembab. Kondisi basah dan lembab akan membuat bahanbahan

litter menjadi busuk sehingga rentan parasit dan penyakit. Tingkat kelembaban

pada litter akan memengaruhi suhu pada kandang, sehingga suhu yang tinggi

(19)

3

darah. Tingginya suhu dapat menurunkan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk

kelangsungan hidup ayam. Oksigen yang tersedia di dalam kandang akan

memengaruhi sistem peredaran dan gambaran darah unggas.

Penggunaan kandang dengan sistem tertutup memang membutuhkan biaya yang

cukup besar dan peralatan yang cukup rumit. Akan tetapi menurut Ahmadi (2012),

pembangunan kandang sistem tertutup dapat menciptakan lingkungan ideal dalam

kandang, meningkatkan produktivitas ayam, efisiensi lahan dan tenaga kerja serta

menciptakan usaha peternakan yang ramah lingkungan.

Kelebihan lain dari kandang tipe closed house adalah kapasitas atau populasi jauh

lebih banyak, ayam lebih terjaga dari gangguan luar baik fisik, cuaca, maupun

serangan penyakit, terhindar dari polusi, keseragaman ayam lebih bagus, dan

pakan lebih efisien. Kandang tipe ini juga memberikan kemudahan karena kondisi

angin akan lebih terkontrol dibandingkan dengan kandang tipe terbuka.

Menurut Harper (1992), darah ialah jaringan yang beredar dalam sistem pembuluh

darah yang tertutup. Guyton dan Hall (1997) menyatakan darah terdiri dari sel-sel

yang terdapat dalam plasma. Sel darah terdiri dari tiga macam, yaitu sel darah

merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping darah (trombosit). Jika

tubuh ternak mengalami perubahan fisiologis maka gambaran darah juga akan

mengalami perubahan. Perubahan fisiologis ini dapat disebabkan secara internal,

seperti pertambahan umur, status gizi, stres dan suhu tubuh. Secara eksternal

misalnya akibat infeksi kuman, perubahan suhu lingkungan dan fraktura. Melalui

(20)

4

bahan litter yang banyak tersedia seperti sekam padi, jerami padi dan serutan kayu

terhadap gambaran darah broiler pada pemeliharaan di closed house.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. mengetahui gambaran darah (jumlah sel darah merah, jumlah sel darah

putih, dan kadar hemoglobin) broiler pada closed house (kandang

tertutup) dengan jenis bahan litter yang berbeda;

2. mengetahui jenis bahan litter terbaik untuk broiler yang dipelihara di

closed house berdasarkan gambaran darah.

C. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penggunaan

jenis bahan litter yang terbaik pada pemeliharaan broiler di closed house

(kandang tertutup) berdasarkan gambaran darahnya (jumlah sel darah merah,

jumlah sel darah putih dan kadar hemoglobin).

D. Kerangka pemikiran

Berdasarkan sistem ventilasi atau dinding kandang, ada kandang tertutup (closed

house) dan kandang terbuka (open house). Kandang tertutup adalah kandang

yang semua dinding kandangnya tertutup. Sistem ventilasi atau pergerakan

(21)

5

adalah semua dinding kandangnya terbuka serta kondisi dalam kandang sangat

dipengaruhi oleh kondisi luar kandang (Sudaryani dan Santoso, 1999).

Kelebihan lain dari kandang tipe closed house adalah kapasitas atau populasi jauh

lebih banyak, ayam lebih terjaga dari gangguan luar baik fisik, cuaca, maupun

serangan penyakit, terhindar dari polusi, keseragaman ayam lebih bagus, dan

pakan lebih efisien.

Kandang tipe closed house merupakan kandang dengan dinding tertutup dan

biasanya terbuat dari bahan-bahan permanen dan dengan sentuhan teknologi

tinggi. Kandang ini menggunakan alat exhaust fan yang berfungsi untuk menarik

atau menyedot oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, dan menggunakan alat

cooling pad system (Priyo, 2009). Tujuannya untuk vakum udara yang dikenal

dengan tunnel system. Kipas dipasang di kedua ujung kandang, satu ujung kipas

berfungsi mendorong angin masuk (inlet) dan ujung lain menarik angin dalam

kandang dan mendorong keluar (outlet). Kandang ini merupakan kandang yang

nyaman, bermutu baik untuk ternak unggas.

Berdasarkan bentuk lantainya konstruksi kandang dapat dibedakan menjadi

kandang batere, kandang postal (litter), kandang panggung serta gabungan litter

dan panggung. Kandang batere berbentuk sangkar segi empat yang disusun secara

berderat memanjang dan bertingkat dua atau lebih. Kandang ini menggunakan

sistem alas berlubang atau kawat. Kandang tipe ini lebih cocok digunakan untuk

ayam tipe petelur. Kandang litter adalah suatu tipe pemeliharaan unggas dengan

lantai kandangnya ditutup oleh bahan penutup lantai seperti sekam padi, serutan

(22)

6

Broiler pada umumnya dipelihara dalam kandang litter. Bahan litter yang dipakai

dapat dipilih dari berbagai macam bahan litter misalnya sekam padi, jerami padi

dan serutan kayu. Penggunaan jenis bahan litter dapat memengaruhi suhu dan

kelembaban di dalam kandang, litter yang basah dan suasana lembab di dalam

kandang mengakibatkan tingginya kadar amonia dalam kandang, dan juga

merupakan media tumbuhnya bibit penyakit (Rasyaf, 2007).Syarat sebagai litter

yang baik diantaranya mampu kontinyu keberadaanya. Penggunaan litter

setidaknya akan memberikan manfaat yaitu membatasi kontak langsung kaki

broiler dengan tanah yang suhunya relatif dingin, membantu penyerapan air dari

feses maupun tumpahan air minum sehingga lantai kandang tidak lembab dan

pada saat brooding, dapat membantu menjaga panas dari brooder.

Sekam padi merupakan salah satu produk samping dari proses penggilingan padi.

Dari beberapa penelitian di Indonesia, terbukti bahwa penggunaan sekam padi

masih lebih baik daripada bahan-bahan lain. Selain harganya relatif murah,

ketersediaannya melimpah dan mampu menahan suhu dingin dari lantai. Bagi

peternak sekam padi digunakan sebagai alas litter karena kelebihannya yang tidak

menimbulkan bau karena sakam padi mempunyai partikel besar dan sedikit berat,

sehingga amonia yang terbentuk di dalam kandang yang diakibatkan dari feses

broiler dapat diminimalisir sehingga frekuensi pernafasan broiler tidak terlalu

tinggi (Rasyaf, 2004). Namun daya serap air dari sekam padi lebih sedikit karena

mempunyai kandungan air yang tinggi yaitu sekitar 16,30 % (Mugiono, et al.,

2003).

(23)

7

Penggunaan litter menggunakan serutan kayu dapat menyerap atau melepas air

dari lingkungan (Skar, 1989). Jenis bahan litter ini mempunyai kelebihan yaitu

mudah menyerap air sehingga dapat meminimalisir timbulnya bibit penyakit yang

diakibatkan karena lantai yang basah dan lembab (Rasyaf, 2004). Namun,

penggunaan bahan litter serutan kayu dapat menimbulkan sedikit luka pada bagian

dada karena serutan kayu berpartikel besar dan sedikit kasar.

Jerami padi dapat digunakan sebagai bahan litter dengan kelebihan relatif tahan pada

suhu panas dan mudah dalam pengelolaannya, mengurangi kemungkinan lepuh dada

(Rasyaf, 2004). Namun, jerami padi ini bersifat musiman sehingga pada saat musim

panen selesai maka jerami masih sulit untuk diperoleh (Mugiono, et al., 2003).

Produksi jerami padi yang dihasilkan sekitar 50% dari produksi gabah kering

panen (Hanafi, 2008).

Litter yang basah dan jika tidak diganti akan menimbulkan beberapa masalah pada

ayam, salah satunya menghasilkan gas amonia. Selain bau yang menyengat,

amonia akan mengiritasi permukaan saluran penapasan ayam. Kadar amoniak

sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ayam. Daya ikat NH3 terhadap

hemoglobin 12 kali lipat lebih kuat dari O2, karena berat jenis NH3 lebih besar

dari oksigen. Hemoglobin berfungsi mengikat oksigen. Jika hemoglobin terlalu

banyak mengikat NH3, kemampuan mengikat oksigen akan berkurang.

Suprijatna, et al. (2005) menyatakan bahwa jumlah sel darah merah berkaitan

dengan pengikatan oksigen oleh hemoglobin. Semakin banyak total sel darah

merah maka frekuensi pernafasan akan semakin baik pula karena oksigen yang

(24)

8

Leukosit memiliki jumlah lebih sedikit daripada eritrosit (Swenson, 1984).

Peningkatan nilai leukosit dari jumlah normal menandakan terjadinya infeksi,

sedangkan penurunan leukosit menandakan depresi sumsum tulang, yang

diakibatkan oleh infeksi viral atau reaksi toksik terhadap agen kimia.

E.Hipotesis

Hipotesis pada penelitian adalah adanya pengaruh jenis bahan litter terhadap

gambaran darah (jumlah sel darah merah, jumlah sel darah putih, dan kadar

hemoglobin) broiler pada closed house (kandang tertutup); terdapat litter terbaik

(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Broiler

Broiler adalah ternak yang paling ekonomis dibandingkan dengan ternak lain.

Daging broiler diperoleh, dipasarkan atau dikonsumsi dalam waktu yang relatif

singkat (Murtidjo, 1987). Menurut Kartasudjana dan Suprijatna (2005), broiler

adalah ayam-ayam muda jantan atau betina yang umumnya dipanen umur 5–6

minggu dengan tujuan sebagai penghasil daging. Broiler mempunyai peranan

yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak. Broiler mempunyai

kelebihan bila dibandingan dengan ayam kampung yakni keempukan daging,

ujung tulang dada lunak, serta dada lebar dengan timbunan daging yang baik.

Menurut Rasyaf (2001), broiler adalah ayam jantan atau betina muda yang

berumur kurang dari 8 minggu ketika dijual, dengan berat tertentu, mempunyai

pertumbuhan yang cepat dan dada yang lebar, serta dengan timbunan daging yang

banyak. Menurut Fuad (1986), broiler merupakan ternak yang dipelihara baik

jantan maupun betina untuk diambil produk dagingnya dengan ciri berdaging

banyak, dada montok dan perawakan lamban. Menurut Aksi Agraris Kanisius

(2003), broiler mempunyai karakteristik pertumbuhan yang cepat, efisien dalam

mengkonversi ransum menjadi daging, ukuran tubuh besar dengan dada yang

(26)

10

Broiler dibedakan menjadi dua bagian, yaitu broiler klasik dan broiler modern.

Broiler klasik menggunakan bahan nutrisi pakan untuk mempertahankan hidup

(live ability rate), sedangkan broiler modern disamping untuk mempertahankan

hidup, nutrisi pakan juga digunakan untuk penampilan akhir (performance).

Broiler modern mempunyai pertumbuhan yang cepat dan bobot tubuh pada 28

hari sudah mencapai 1,2 kg (Unandar, 2003).

B. Closed House

Menurut Charles (1997), kandang sistem closed house adalah memanjang, ada

yang terbagi atas beberapa bagian atau pen, ada pula yang terbentuk ruangan luas

tanpa disekat-sekat. Antar bagian kandang situasi dan kondisinya dibuat sama.

Kandang sistem closed house adalah kandang tertutup yang menjamin keamanan

secara biologi (kontak dengan organisme lain) dengan pengaturan ventilasi yang

baik sehingga lebih sedikit stres yang terjadi pada ternak.

Secara konstruksi, kandang sistem tertutup dibedakan atas dua sistem yakni

pertama sistem tunnel dengan beberapa kelebihan yang dimiliki seperti

mengendalikan aliran angin untuk mengeluarkan gas sisa, panas, uap air dan

menyediakan oksigen untuk kebutuhan ayam. Sistem tunnel lebih cocok untuk

area dengan temperatur maksimal tidak lebih dari 30°C. Untuk sistem kedua

adalah evaporative cooling sistem (ECS). Sistem ini memberikan benefit bagi

peternak karena mengandalkan aliran angin dan proses evaporasi dengan bantuan

angin. Sistem ini hanya cocok untuk daerah panas dengan suhu udara diatas 35°C.

(27)

11

matahari yang ditransfer secara radiasi, panas dari brooder pada masa brooding

dan panas dari fermentasi dalam litter. Sementara itu sumber uap air dapat berasal

dari kelembaban lingkungan, proses evaporasi, sisa air yang dikeluarkan bersama

dengan feses dan air minum yang tumpah.

Beberapa manfaat dari closed house yaitu 1) dapat menyediakan udara yang sehat

bagi ternak (sistem ventilasi yang baik) yaitu udara yang menghadirkan

sebanyak-banyaknya oksigen dan mengeluarkan sesegera mungkin gas-gas berbahaya

seperti karbondioksida dan amonia; 2) menyediakan keadaan hawa yang nyaman

bagi ternak. Untuk menyediakan keadaan hawa yang kondusif bagi ternak dapat

dilakukan dengan cara mengeluarkan panas dari kandang yang dihasilkan dari

tubuh ayam dan lingkungan luar, menurunkan suhu udara yang masuk serta

mengatur kelembaban yang sesuai. Untuk menciptakan hawa yang sejuk dan

nyaman maka bagi ayam harus dikondisikan chilling effect (angin berhembus),

alat yang digunakan seperti kipas angin (blower). Bila chilling effect tidak mampu

mencapai hawa yang diinginkan terutama pada daerah yang terlampau panas

maka dapat digunakan cooling system. Cooling system yaitu sistem pendingin

dengan mengalirkan air pada alat-alat berupa cooling pad; 3) berkurangnya

tingkat stres pada ternak. Agar tingkat stres pada ternak berkurang maka dapat

dilakukan dengan cara mengurangi stimulasi yang dapat menyebabkan stres

dengan cara mengurangi kontak dengan manusia (misalnya dengan feeder dang

drinker otomatis, vaksinasi dengan spray, dll), dan mengurangi cahaya.

Kelebihan lain dari kandang tipe closed house adalah kapasitas atau populasi jauh

(28)

12

serangan penyakit, terhindar dari polusi, keseragaman ayam lebih bagus, dan

pakan lebih efisien. Kandang tipe ini juga memberikan kemudahan karena kondisi

angin akan lebih terkontrol dibandingkan dengan kandang tipe terbuka.

Menurut Sunanto (1997), teknologi closed house memang bisa menekan

kematian ayam karena teknologi ini mampu menjaga kondisi lingkungan kandang

sesuai dengan kondisi optimum yang dibutuhkan ayam. Dengan keadaan seperti

ini kematian akibat stres karena panas bisa ditekan. Penularan dan masuknya bibit

penyakit ke kandang juga bisa dikurangi. Jadi kandang ini mampu meningkatkan

daya tahan ayam terhadap serangan penyakit.

C. Bahan Litter

Pengelolaan kandang harus baik dan memenuhi syarat baik sistem, bentuk serta

kapasitasnya, sehingga dapat menyediakan iklim mikro yang sesuai yang dapat

memungkinkan ayam dapat berprestasi secara maksimal (Mugiyono, 1998).

Dilaporkan oleh Nesheim et al. (1979) bahwa kelebihan kandang litter adalah

lebih murah dari pada kandang lainnya, mengurangi tenaga kerja dan ayam dapat

memanfaatkan zat-zat yang ada di dalam litter.

Di Indonesia banyak bahan yang dapat digunakan sebagai litter dan biasanya yang

digunakan adalah hasil limbah pertanian atau industri yang banyak tersedia dan

murah harganya. Bahan litter yang baik adalah efektif sebagai absorban, bebas

kotoran/debu, tidak mudah habis, bebas racun, murah, mudah dibersihkan dan

banyak tersedia (Mugiyono, 2001). North dan Bell (1990) menyatakan bahan

(29)

13

kering, halus dan padat, daya konduksi termal rendah, daya serap kelembaban

udara rendah, murah dan disenangi bila dijual sebagai pupuk. Bahan alas kandang

yang digunakan pada penelitian ini adalah sekam padi, jerami padi dan serutan

kayu.

1. Sekam padi

Daya dukung tanaman padi sebagai sumber litter cukup besar. Beberapa limbah

yang dikeluarkan dari usaha tanaman padi diantaranya sekam dan jerami padi.

Produksi sekam di Indonesia dapat mencapai 13,2 juta ton per tahun (Deptan,

2011). Sekam paling banyak digunakan untuk alas kandang karena mempunyai

sifat-sifat sebagai berikut : dapat menyerap air baik, bebas debu, kering,

mempunyai kepadatan (density) yang baik, dan memberi kesehatan kandang

(Reed dan McCartney, 1970). Sifat lain dari sekam selain dapat menyerap air

dijelaskan oleh Luh (1991), bahwa sekam padi bersifat tidak mudah lapuk,

sumber kalium, cepat menggumpal dan memadat.

Dari beberapa penelitian di Indonesia, terbukti bahwa penggunaan sekam padi

masih lebih baik daripada bahan-bahan lain. Selain harganya relatif murah,

ketersediaannya melimpah dan mampu menahan suhu dingin dari lantai. Sesuai

pendapat Rasyaf (2004), bahwa sekam merupakan bahan litter yang dapat

menyerap air sehingga dapat mengatasi masalah kelembapan. Namun sekam juga

mempunyai kekurangan yaitu sebagai bahan yang ringan dan mudah menggumpal

(Reed dan Mc Cartney, 1970). Daya serap bahan ini terhadap air relatif rendah

sehingga perlu penambahan berulangkali untuk menghindari litter basah. Sekam

(30)

14

kandungan air yang tinggi sekitar 16,30% dibandingkan dengan jerami padi yaitu

sekitar 16,91% (Mugiyono, 2001).

2. Serutan kayu

Selama ini limbah pengolahan kayu masih banyak menimbulkan masalah dalam

penanganannya yaitu dibiarkan membusuk, ditumpuk, dan dibakar yang

semuanya berdampak negatif terhadap lingkungan sehingga penanggulangannya

perlu dipikirkan. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan

memanfaatkannya sebagai bahan litter. Kelebihan bahan litter menggunakan

serutan kayu yaitu mudah dalam menyerap air sehingga akan meminimalisir

timbulnya bibit penyakit yang diakibatkan karena lantai yang basah dan lembab

(Rasyaf, 2004). Serutan kayu yang akan digunakan sebagai litter sebaiknya

dipotong-potong sepanjang 2--3 cm dengan tujuan agar serutan kayu mudah

dalam penanganan serta jika potongan serutan kayu terlalu kecil akan melukai

broiler, dengan ketebalan 5 cm sesuai dengan suhu tempat melakukan penelitian

relatif panas (Cahyono, 2004).

3. Jerami padi

Jerami padi adalah tanaman padi yang telah diambil buahnya (gabahnya),

sehingga tinggal batang dan daunnya yang merupakan limbah pertanian serta

belum sepenuhnya dimanfaatkan karena adanya faktor teknis dan ekonomis.

Jerami padi selama ini hanya dikenal sebagai hasil ikutan dalam proses produksi

padi di sawah. Produksi jerami padi yang dihasilkan sekitar 50% dari produksi

(31)

15

Berdasarkan syarat alas kandang yang baik, jerami padi dapat digunakan sebagai

litter. Jerami padi memiliki kelebihan yaitu mengurangi kemungkinan lepuh dada

sehingga broiler relatif lebih tahan dan pengelolaannya lebih mudah dilakukan

(Rasyaf, 2004). Namun kekurangan menggunakan jenis litter jerami padi adalah

jerami padi yang akan digunakan sebagai litter harus dipotong kecil-kecil agar

menyerap air lebih banyak, dan harus bebas dari residu peptisida dan jamur.

Selain itu, jerami padi juga bersifat musiman.

D. Gambaran Darah

Darah didefinisikan sebagai komponen penting yang berperan dalam proses

fisiologis dalam tubuh yang mengalir melalui pembuluh darah dan sistem

kardiovaskuler. Darah merupakan media transportasi yang membawa nutrisi dari

saluran pencernaan ke jaringan tubuh, membawa kembali produk sisa

metabolisme sel ke organ eksternal, mengalirkan oksigen ke dalam sel tubuh dan

mengeluarkan karbondioksida dari sel tubuh, dan membantu membawa hormon

yang dihasilkan kelenjar endokrin ke seluruh bagian tubuh (Hartono et al., 2002).

Sekitar 55% dari volume darah yang beredar merupakan cairan dan sisanya 45%

adalah benda-benda darah (Ganong, 2008). Darah dengan jumlah hemoglobin

berkurang jauh dari standar karena pembentukan yang kurang memadai disebut

anemia (Frandson, 1993).

Menurut Harper (1992), darah ialah jaringan yang beredar dalam sistem pembuluh

darah yang tertutup. Menurut Frandson (1992) fungsi darah adalah 1) pembawa

(32)

16

2) membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida dari jaringan

ke paru-paru, 3) pembawa produk buangan dari berbagai jaringan menuju ginjal

untuk disekresikan, 4) pembawa hormon dan kelenjar endokrin ke organ lain

dalam tubuh, 5) alat mempertahankan keseimbangan air dan sistem buffer, dan 6)

penggumpalan atau pembekuan darah sehingga mencegah terjadinya kehilangan

darah yang berlebihan pada waktu luka.

Ternak yang sehat akan memiliki profil darah yang normal. Salah satu profil

darah adalah eritrosit, leukosit dan hemoglobin. Ada dua faktor yang dapat

menyebabkan terjadinya perubahan profil darah yaitu faktor internal dan

eksternal. Faktor internal antara lain kesehatan, stres, suhu tubuh dan pertambahan

umur sedangkan faktor eksternal seperti perubahan suhu lingkungan dan infeksi

kuman (Guyton dan Hall, 1997).

1. Sel darah merah

Eritrosit pada unggas memiliki inti dan ukuran yang besar, berbeda dengan

mamalia. Eritrosit yang dewasa berbentuk elips, intinya bergerak di tengah dan

berbentuk oval (Hodges, 1977; Mitruka et al, 1977). Jumlah sel darah merah

dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengetahui kesehatan probandus pada

suatu saat. Sel darah merah adalah sel yang fungsinya mengangkut oksigen.

Pembentukan sel darah merah pada hewan maupun manusia dewasa normalnya

terjadi pada sumsum tulang merah, sedangkan pada janin atau fetus dihasilkan

dalam hati, limpa, dan nodus limpatikus. Sel darah merah mamalia tidak berinti,

(33)

17

Sel darah merah pada unggas mempunyai nukleus dan berbentuk elips. Sel darah

merah terdiri dari air (65%), Hb (33%), dan sisanya terdiri dari sel stroma, lemak,

mineral, vitamin, dan bahan organik lainnya dan ion K (Kusumawati, 2004).

Dibandingkan dengan sel-sel lain, dalam jaringan sel darah merah kurang

mengandung air. Lipid yang terdapat pada sel darah merah ialah stromatin,

lipoprotein, dan eliminin. Beberapa enzim yang terdapat dalam eritrosit antara

lain anhidrase karbohidrat, peptidase, kolinesterase dan enzim pada sistem

glikolisis (Poedjiadi, 1994).

Kebanyakan sel darah merah mengalami disentegrasi dan ditarik dari aliran darah

oleh sistem retikuloendotelial. Pada proses ini dihasilkan pigmen empedu yang

dinamakan bilirubin dan biliverdin. Apabila di dalam aliran darah banyak

mengandung kedua bentuk pigmen itu maka membran mukosa mata dan mulut

akan berwarna kuning, keadaan ini disebut ikterus (Hartono, et al., 2002).

Menurut Mangkoewidjojo dan Smith (1988), nilai normal sel darah merah broiler

sekitar 2,0 --3,2 x106 per mm3, sedangkan menurut Sturkie (1976), rata-rata sel

darah merah dalam kondisi normal pada ayam umur 26 hari adalah 2,77 x 106 per

mm3.Menurut Swenson (1984) nilai eritrosit pada broiler adalah 2,5-3,2 x

106/mm3. Menurut Anonim (1988) nilai normal sel darah merah broiler sekitar

2,8—4,5 x 106 /mm3.

2. Sel darah putih

Leukosit atau sel darah putih berasal dari bahasa Yunani leuco artinya putih dan

cyte artinya sel (Dharmawan, 2002). Sel-sel darah putih di dalam aliran darah

(34)

18

dimana dibutuhkan saja (Frandson, 1992). Jumlah sel darah putih yang normal

adalah berkisar antara 20—30 x 103/mm3 (Swenson, 1984). Menurut Sugito

(2007) jumlah sel darah putih yang normal berkisar antara 8,2—21,8 x 103 /mm3.

Sedangkan menurut Mangkoewidjojo dan Smith (1988) jumlah leukosit normal

pada broiler adalah 16,0—40,0 x 103 /mm3.

Peningkatan jumlah leukosit dapat digunakan sebagai indikasi adanya atau

terjadinya suatu infeksi dalam tubuh (Soeharsono, et al., 2010). Menurut Anonim

(1988) nilai normal sel darah putih broiler sekitar 20--40 x 103 /mm3.

Jumlah leukosit dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, pakan, lingkungan,

hormon, obat dan penyakit. Leukosit ini dibentuk sebagian di sumsum tulang dan

sebagian lagi di jaringan limfe yang kemudian diangkut dalam darah menuju

berbagai bagian tubuh untuk digunakan (Guyton dan Hall, 1997).

Eritrosit bersifat pasif dan melaksanakan fungsinya dalam pembuluh darah,

berbeda dengan leukosit yang mampu keluar dari pembuluh darah menuju

jaringan dalam melakukan fungsinya (Dharmawan, 2002). Leukosit mempunyai

peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asing.

Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis

leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan

menembus kedalam jaringan penyambung (Effendi, 2003).

3. Hemoglobin

Hemoglobin merupakan zat padat dalam sel darah merah yang menyebabkan

warna merah. Hemoglobin merupakan molekul protein pada sel darah merah.

(35)

19

kemampuan untuk mengangkut oksigen, serta menjadi timbulnya warna merah

pada darah (Frandson, 1992). Fungsi dari hemoglobin adalah mengangkut CO2

dari jaringan, mengambil O2 dari paru-paru, memelihara keseimbangan

asam-basa, dan merupakan sumber bilirubin. Jumlah hemoglobin di dalam darah

dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, keadaan fisik, cuaca, tekanan udara,

penyakit, dan jumlah sel darah merah. Kadar hemoglobin berbanding lurus

dengan jumlah sel darah merah, semakin tinggi jumlah sel darah merah maka

akan semakin tinggi pula kadar hemoglobin dalam sel darah merah tersebut

(Haryono, 1978).

Pengaruh hemoglobin di dalam sel darah merah menyebabkan timbulnya warna

merah pada darah karena mempunyai kemampuan untuk mengangkut oksigen.

Haemoglobin adalah senyawa organik yang komplek dan terdiri dari empat

pigmen forpirin merah (heme) yang masing-masing mengandung iron dan globin

yang merupakan protein globural dan terdiri dari empat asam amino. Hemoglobin

bergabung dengan oksigen didalam paru-paru yang kemudian terbentuk

oksihemoglobin yang selanjutnya melepaskan oksigen ke sel-sel jaringan didalam

tubuh (Frandson, 1992). Schalms, et al. (1986) menyatakan bahwa kadar

hemoglobin normal pada ayam yaitu 7,0--13 g/dl. Menurut Swenson (1984), nilai

hemoglobin pada darah ayam broiler adalah 6,5—9 g/100ml. Menurut Anonim

(1988) nilai normal kadar hemoglobin broiler sekitar 8—13 g/100ml.

Sedangkan menurut Mangkoewidjojo dan Smith (1988), nilai hemoglobin pada

(36)

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 26 hari mulai 15 April--10 Mei 2014, di

kandang closed house milik PT. Rama Jaya Lampung, Dusun Sidorejo, Desa

Krawang Sari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Sampel darah

penelitian dianalisis di Balai Veteriner Regional III Provinsi Lampung dengan

alamat Jalan Untung Suropati No. 2 Labuhan Ratu, Kedaton, Bandar Lampung.

B. Alat dan Bahan Penelitian

1. Ternak

Ternak yang digunakan pada penelitian ini adalah day old chicken (DOC) broiler

strain CP 707 produksi PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk sebanyak 270 ekor

dengan bobot badan awal 44,10 ±3,58 g/ekor (koefisien keragaman 8,11%) dan

bobot rata-rata umur 14 hari 404,03±39,01 g/ekor (koefisien keragaman 9,65%).

2. Kandang dan peralatan

Kandang yang digunakan pada penelitian ini adalah closed house berukuran 107 x

12 m dengan alas litter milik PT. Rama Jaya Lampung yang di dalamnya dibagi

(37)

21

petak berukuran 1 x 1 x 0,4 m dan diisi 15 broiler dengan litter sesuai perlakuan,

masing-masing petak diberi satu tempat air minum dan tempat pakan.

Peralatan yang digunakan selama penelitian adalah

(1) petak yang terbuat dari bambu berukuran 1 x 1 x 0,4 m, sebanyak 18 buah;

(2) brooder sebagai pemanas ayam selama masa brooding 1--14 hari;

(3) baby chick fedder tempat makan anak ayam umur 1--12 hari;

(4) timbangan 10 kg dengan ketelitian 50 g sebanyak 1 buah untuk menimbang

pakan dan bobot ayam;

(5) timbangan 20 kg dengan ketelitian 100 g sebanyak 1 buah untuk

menimbang pakan;

(6) tempat pakan gantung 5 kg sebanyak 18 buah sebagai wadah pakan ayam

umur 14 sampai panen;

(7) tempat minum 2 liter sebanyak 18 buah sebagai wadah air minum;

(8) ember sebanyak 3 buah;

(9) kertas label;

(10) thermohigrometer sebanyak 3 buah;

(11) kantung plastik;

(12) hand sprayer 1 buah;

(13) palu, paku, dan gergaji untuk pembuatan petak kandang;

(14) alat kebersihan;

(15) alat tulis untuk pencatatan data;

(16) tabung darah yang mengandung Ethylen-Diamine-Tetraacetic-Acid

(EDTA);

(38)

22

(18) spuit 3 cc;

(19) kapas;

(20) cold box untuk menyimpan darah sementara;

(21) cooling pad sebagai alat pemberi udara segar ke dalam kandang;

(22) exhaust fan sebagai alat pengeluaran udara busuk dari dalam kandang;

3. Ransum

Ransum yang digunakan dalam penelitian ini adalah ransum broiler BBR-1

(Bestfeed) ® produksi PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk untuk ayam umur 1--10

hari dan HI-PRO 611® produksi PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk untuk

ayam umur 11--26 hari. Kedua jenis ransum tersebut berbentuk crumble.

Kandungan nutrisi ransum BBR-1 (Bestfeed) ® dan HI-PRO 611® yang diberikan

[image:38.595.111.517.498.632.2]

dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan nutrisi ransum BBR-1 (Bestfeed)® dan HI-PRO 611® berdasarkan analisis proksimat

Kandungan nutrisi BBR-1 (Bestfeed) ® HI-PRO 611® ---(%)---

Air 9,10 8,78

Protein 21,33 21,08

Lemak 10,58 9,69

Serat kasar 7,20 10,15

Abu 5,51 5,97

BETN 55,38 53,11

Energi Metabolis (kkal/kg) 2.775,76* 2.830,00** Sumber : Hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak,

Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (2014). * Hasil analisis balai riset dan standarisasi industri Bandar Lampung (2012).

(39)

23

4. Air minum

Air minum yang diberikan selama penelitian ini berasal dari air sumur yang

diberikan secara ad libitum.

5. Anti biotik, vaksin dan vitamin

Antibiotik yang diberikan selama penelitian berlangsung adalah Enteritic-C dan

Bio-Genta®. Vaksin yang diberikan ND-V4HR®, Vaksimun AI®, Ceva IBD-L®,

dan vaksin ND Clone Vaksimun Clone®. Vitamin yang diberikan Vitacart®,

B-Comp®, Amino Plus®, dan Catalist®.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak

Lengkap (RAL) . Perlakuan yang diuji adalah tiga jenis bahan litter yang berasal

dari limbah pertanian dan pengolahan kayu, yaitu :

P1 = Litter Sekam Padi

P2 = Litter Serutan Kayu

P3 = Litter Jerami Padi

Rancangan percobaan dalam penelitian ini menggunakan metode Rancangan

Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 6 ulangan sehingga jumlah petak

sebanyak 18 petak. Setiap petak berisi 15 ekor broiler, sehingga jumlah broiler

yang digunakan sebanyak 270 ekor. Data yang diperoleh dianalisis ragam secara

statistik pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Apabila hasil analisis sidik ragam ada

(40)

24

(Steel and Torrie, 1993), kemudian diuji lanjut dengan menggunakan uji Duncan

pada taraf 5% dan atau 1%. Tataletak perlakuan dalam penelitian ini dapat dilihat

pada Gambar 1.

D. Pelaksanaan Penelitian

Kandang dan semua peralatan yang akan digunakan disucihamakan terlebih

dahulu dengan desinfektan dan dilakukan pengapuran pada kandang sebelum

chick in. Lantai kandang diberikan litter sekam padi setebal 10 cm dan dilapisi

kertas koran dibagian atasnya. Setelah semua peralatan siap DOC dipelihara di

area brooding sampai umur 14 hari. Saat ayam berumur 14 hari ditimbang secara

acak 270 broiler untuk mengetahui bobot awal sebelum perlakuan. Kemudian,

ayam dimasukkan ke dalam petak berukuran 1 x 1 x 0,4 m yang telah diberi alas

litter sekam padi, serutan kayu, dan jerami padi sesuai dengan perlakuan.

Masing-masing petak perlakuan berisi 15 broiler.

Pemberian ransum dan air minum dilakukan secara ad libitum. Pemberian dan

sisa ransum ditimbang untuk mengetahui konsumsi ransum per hari. Pemberian

ransum dilakukan setiap pukul 07.00 dan 17.00 WIB. Pemberian dan sisa air

minum juga diukur untuk mengetahui konsumsi air minum per hari. Air minum

diberikan setiap pukul 07.00 sebanyak 2 liter dan pukul 17.00 sebanyak 3 liter.

Ayam ditimbang bobotnya setiap 6 hari sekali pada pukul 07.00 WIB. Pencatatan

suhu dan kelembaban kandang dilakukan setiap pukul 06.00, 12.00, 18.00 dan,

24.00 WIB (Tabel 6). Alat yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembaban

(41)

25

Program vaksinasi yang dilakukan selama penelitian adalah (1) umur 1 hari vaksin

ND-V4HR® secara spray ; (2) umur 7 hari dilakukan vaksinasi AI dengan

Vaksimun AI® dengan cara injeksi subcutan dosis 0,2 cc/ekor ; (3) melakukan

vaksinasi gumboro pada umur 12 hari dengan vaksin gumboro CEVA IBD-L®

secara cekok dengan dosis 0,2 cc/ekor ; (4) umur 18 hari dilakukan vaksinasi ND

Clone dengan vaksin Vaksimun Clone® melalui air minum yang dicampur susu

skim ; (5) re-vaksinasi gumboro CEVA IBD-L® melalui air minum yang

dicampur susu skim saat ayam berumur 24 hari.

Pada jenis bahan litter yang berbeda untuk pengukuran jumlah sel darah merah,

sel darah putih dan kadar hemoglobin diambil sampel sebanyak 2 ekor dari jumlah

ayam per petak pada umur 26 hari. Pengambilan darah dilakukan melalui vena

brachialis sekitar 1 cc. Darah dimasukkan ke dalam tabung darah yang

mengandung Ethylen Diamine Tetraacetic Acid (EDTA) dan dihomogenkan

dengan gerakan angka 8, setelah itu tabung darah diletakkan dalam termos yang

telah diisi es. Hasil sampel darah yang diambil langsung dibawa ke Balai

Veteriner Provinsi Lampung untuk dianalisis jumlah sel darah merah, jumlah sel

darah putih dan kadar hemoglobin.

E. Peubah yang Diamati

1. Sel darah merah

Sampel darah dihisap menggunakan pipet eritrosit hingga tetra 0,5 dengan

aspirator. Ujung pipet dibersihkan dengan menggunakan tissue, lalu dihisap

(42)

26

8, setelah homogen cairan yang tidak terkocok pada ujung pipet dibuang dengan

menempelkan ujung pipet ke kertas tissue. Setelah itu meneteskan satu tetes darah

ke dalam hemositometer dan jangan sampai ada udara yang masuk. Diamkan

beberapa saat hingga cairan mengendap, lalu perhitungan dapat dimulai

menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 kali. Perhitungan erisrosit dalam

hemositometer, menggunakan kotak eritrosit yang berjumlah 25 buah dengan

mengambil bagian sebagai berikut: satu kotak pojok kanan atas, satu kotak pojok

kiri atas, satu kotak ditengah, satu kotak pojok kanan bawah dan satu kotak pojok

kiri bawah. Untuk membedakan kotak eritrosit dengan kotak leukosit dapat

berpatokan pada tiga baris pemisah pada kotak eritrosit serta luas kotak eritrosit

yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan kotak leukosit. Setelah jumlah

eritrosit diperoleh maka jumlah darah dikalikan dengan 104 untuk mengetahui

jumlah eritrosit dalam 1 mm3 darah (Sastradipradja, et al., 1989). Sampel darah

diambil secara duplo atau 2 ekor broiler per petak kandang.

2. Sel darah putih

Sampel darah dihisap menggunakan pipet leukosit hinggal pada tetra 0,5 dengan

aspirator. Ujung pipet dibersihkan dengan menggunakan tissue, lalu dihisap

larutan Turk hingga tanda 11, kemudian memutar pipet dengan bentuk angka 8,

setelah homogen cairan yang tidak terkocok pada ujung pipet dibuang dengan

menempelkan ujung pipet ke kertas tissue. Setelah itu meneteskan satu tetes darah

kedalam hemositometer dan jangan sampai ada udara yang masuk. Diamkan

beberapa saat hingga cairan mengendap, lalu perhitungan dapat dimulai

menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 kali. Untuk menhitung leukosit

(43)

27

hasil perhitungan dikalikan 50 untuk mengetahui jumlah leukosit setiap 1 mm3

darah (Sastradipradja et al., 1989). Sampel darah diambil secara duplo atau 2 ekor

broiler per petak kandang.

3. Hemoglobin

Metode yang digunakan adalah metode sahli. Larutan HCl 0,1 N diteteskan pada

tabung sahli sampai pada tetra 10 atau garis batas bawah kemudian sampel darah

dihisap menggunakan pipet sahli hingga mencapai tanda tetra 20 cm (0,2 ml).

Sampel darah segera dimasukkan ke dalam tabung dan ditunggu selama 3 menit

atau hingga berubah warna menjadi coklat kehitaman akibat reaksi antara HCl

dengan hemoglobin membentuk asam hematin. Setelah itu larutan ditambah

aquades dan meneteskannya sedikit demi sedikit sambil diaduk. Larutan aquades

ditambah hingga warna larutan sama dengan warna standar hemoglobinometer.

Nilai hemoglobin dilihat dengan membaca tinggi permukaan cairan pada tabung

sahli, dengan melihat skala jalur g%, yang berarti banyaknya hemoglobin dalam

gram per 100 ml darah (Sastradipradja et al., 1989). Sampel darah diambil secara

(44)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa litter sekam padi,

serutan kayu dan jerami padi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap jumlah

sel darah merah, jumlah sel darah putih dan kadar hemoglobin broiler. Litter

sekam padi, serutan kayu dan jerami padi baik digunakan dalam pemeliharaan

broiler pada closed house.

B. Saran

Secara fisiologis, litter sekam padi, serutan kayu dan jerami padidalam

(45)

DAFTAR PUSTAKA

`

Abidin, Z. 2003. Meningkatkan Produktivitas Ayam Pedaging. Agromedia Pustaka. Jakarta

Ahmadi. 2012. Sarjana Membangun Desa Turut Memberdayakan Usaha

Peternakan Rakyat. Fakultas Peternakan. Universitas Diponogoro. Semarang

Aksi Agraris Kanisius. 2003. Berternak Ayam Pedaging. Kanasius. Jakarta

Anonim. 1988. Buku Spesimen Veteriner. Kerjasama Direktorat Jenderal Peternakan dan Balai Penelitian Veteriner, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Departemen Peternakan. Jakarta

Anwar, R. 2014. Pengaruh Penggunaan Litter Sekam Padi, Serutan Kayu dan Jerami Padi Terhadap Performa Broiler di Closed House. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung

Cahyono, B. 2004. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging. Cetakan ke-1. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta

Charles. 1997. Inilah Teknologi Closed House. Majalah Infovet

Deptan RI Basis Data Statistik Pertanian 2011. [Tersedia Berkala]. http:// www.bps.go.id/ tnmn_pgn.php [11 Agustus 2011]. 1 hlm

Dewanti, A. 2014. Pengaruh Berbagai Jenis Bahan Litter terhadap Respon Fisiologis Broiler Fase Finisher di Closed House. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung

Dharmawan, N. S. 2002. Pengantar Patologi Klinik Veteriner (Hematologi Klinik). Cetakan ke-2. Pelawa Sari. Denpasar

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Penerbit Kanisius. Jakarta

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Alih Bahasa oleh B. Srigandono dan Koen Praseno. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

(46)

37

Ganong, W. F. 2008. Fisiologi Kedokteran. Buku Ajar. EGC. Jakarta

Guyton, A. C. dan J.E, Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Buku Ajar. Alih Bahasa Setiawan, I., K. A. Tengadi, A. Santoso. Penerbitan Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Hanafi, N. D. 2008. Teknologi Pengawetan Pakan Ternak. Depertemen Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatra Utara. Medan

Harper. 1992. Biokimia (Harper’s Review of Biochemistry). (Terjemahan: I. Darmawan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Hartono, M., S. Suharyati, dan P. E. Santosa. 2002. Dasar Fisiologi Ternak. Penuntun Praktikum. Universitas Lampung. Bandar Lampung

Haryono, B. 1978. Hematologi Klinik. Bagian Kimia Medik Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Hodges, R. D. 1977. Normal Avian (Poultry) Haematology, Comparative Clinical Haematology. Oxford: Blackwell Scientific. United Kingdom

Irawan, A. 1996. Ayam Ayam Pedaging Unggul. CV. Aneka. Solo

Kartasujana, R. dan E. Suprijatna. 2005. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta

Kusumawati, D. 2004. Bersahabat dengan Hewan Coba. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta

Luh, B. S. 1991. Rice Utilization. 2nd Edition. Van Nostrad Reinhold. New York

Mangkoewidjojo S, dan Smith, J. B. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Universitas Indonesia. Jakarta.

Metasari, T. 2014. Pengaruh Berbagai Jenis Bahan Litter terhadap Kualitas Litter Broiler Fase Finisher Di Closed House. Skripsi. Fakultas Pertanian.

Universitas Lampung. Bandar Lampung

Miku, Y. F. dan Sumiati. 2010. Manajemen Perkandangan Ayam Bibit Pedaging Strain Ross dan Strain Lohman di PT. Silga Perkasa Sukabumi-Jawa Barat. Makalah Seminar PKL. Fakultas Peternakan. IPB. Bogor

(47)

38

Mugiyono, S. 1998. Meningkatkan Kinerja Ayam Broiler dengan Cara Mengatur Waktu Pemberian Pakan Starter Finisher. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Soedirman. Purwokerto

________. 2001. Pengaruh Serasah terhadap Penampilan Produksi dan Kualitas Ayam Broiler. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Universitas

Soedirman. Purwokerto

Mugiono, L., Harsanti dan Hambali. 2003. Analisis Daya Adaptasi 10 Galur Mutan Padi Sawah di 20 Lokasi Uji Daya Hasil pada Dua Musim. Zuriat 144(1):1-7

Murtidjo, B. A. 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Cetakan ke-1. Kanisius. Jakarta

Nesheim, M.C., R.E. Austic and L.E. Card. 1979. Poultry Production. Lea and Febiger. Philadelphia

North, M. O. and D. D. Bell. 1990. Commercial Chicken Product Manual. 4th Ed. Van Nostrand Reinhold. New York

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Indonesia University Press. Jakarta

Priyo. 2009. Menyiasati (Angin Mati). Artikel. Blogspot(http://ilmupeternakan-priyo.blogspot.com/2009_05_01_archive.html). Diakses pada 18 Desember 2011

Rasyaf, M. 2001. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta

______. 2004. Beternak Ayam Pedaging. Cetakan ke-25. Penebar Swadaya. Jakarta

______. 2007. Beternak Ayam Broiler. Penebar Swadaya. Jakarta

Reed, M. J. and M. G. McCartney. 1970. Alternative Litter Materials For Poultry. www.agtie.nsw.gov.au

Sastradipradja, D., S. H. S. Sikar, R.Widjayakusuma, A. Maad, T. Unandar, H. Nasution, R. Suriawinata, dan K. Hamzah. 1989. Penuntun Praktikum Fisiologi Veteriner. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Bogor

Schalms, O. W., N. C. Jain, and E. J. Corel. 1986. Veterinary Haematology. 4th Ed. Lea and Febiger. Philadelphia

(48)

39

Soeharsono, A. Mushawwir, E. Hernawan, L. Andriani, K. A. Kamil. 2010. Fisiologi Ternak: Fenomena dan Nomena Dasar, Fungsi, Interaksi Organ pada Hewan. Widya Padjajaran. Bandung

Spector, W. G. 1993. Pengantar Patologi Umum. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta

Steel, R. G. D. dan Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Sturkie, P.D. 1976. Avian Phisiology. 3rd Edition. Spinger Verlag. New York

Sudaryani, T. dan Santoso. 1999. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta

Sugito. 2007. Kajian Penggunaan Kulit Jaloh Sebagai Anti Stress pada Ayam Broiler yang Diberi Cekaman Panas. Disertasi. Program Pasca Sarjana Institut PertanianBogor. Bogor.

Sunanto, S. 1997. Teknologi Closed House dan Tantangan Globalisasi. Majalah Infovet

Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan K. Ruhyat. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penerbit Swadaya. Jakarta

Swenson, M. J. 1984. Dukes Phisiology of Domestic Animals. Publishing Associates a Division of Conall University. Ithaca and London

Unandar, T. 2003. Ada Apa dengan Broiler. Makalah disampaikan dalam Temu Plasma Pintar. Bandar Lampung

Widjayakusuma, R. dan S. H. S. Sikar. 1986. Fisiologi Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Gambar

Tabel Halaman
Tabel 1.  Kandungan nutrisi ransum BBR-1 (Bestfeed)® dan HI-PRO 611®                 berdasarkan analisis proksimat

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : (1) penggunaan berbagai jenis bahan litter terhadap respon fisiologis broiler tidak berpengaruh nyata terhadap

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh cara pemberian vaksin ND live pada broiler terhadap titer antibodi, jumlah sel darah merah dan jumlah sel darah putih,

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh cara pemberian vaksin ND live pada broiler terhadap titer antibodi, jumlah sel darah merah dan jumlah sel darah putih,

Broiler akan berproduksi secara maksimal apabila dipelihara pada lingkungan dengan suhu yang berkisar antara 15--28 o C. Seiring dengan perubahan iklim dan cuaca yang

Broiler akan berproduksi secara maksimal apabila dipelihara pada lingkungan dengan suhu yang berkisar antara 15--28 o C. Seiring dengan perubahan iklim dan cuaca yang

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul Gambaran Jumlah Sel Darah Merah, Nilai Hematokrit, dan Kadar Hemoglobin Induk Domba yang Disuperovulasi sebelum Kawin

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi gambaran darah ayam broiler, meliputi jumlah eritrosit, nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah leukosit, dan persentase diferensiasi

Hasil penelitiannya adalah, ayam broiler yang dipelihara dengan sistem closed house dan dipotong di hari ke dua dan hari ke tiga terjadi penyusutan bobot internal offals pada hati