ANALISIS PENGARUH CAR, BOPO, NPL, NIM DAN LDR TERHADAP ROA PT. BANK MANDIRI (PERSERO) TBK PADA TAHUN 2012

62  20  Download (2)

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH CAR, BOPO, NPL, NIM DAN LDR TERHADAP ROA PT. BANK MANDIRI (PERSERO) TBK

PADA TAHUN 2012 ABSTRAK

Oleh : DESNATARI

0741011112

Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan sumber dana jangka panjang bagi perusahaan. Termasuk didalamanya adalah perusahaan – perusahaan pada sektor perbankan. Industri perbankan memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi sebagai Financial Intermediary atau perantara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana. Bank Manditi Tbk sebagai salah satu bank BUMN yang menjual sahamnya di pasar modal perlu dilihat kinerja keuangannya agar dapat dinilai oleh Investor.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah CAR, BOPO, NPM, NIM dan LDR berpengaruh terhadap kinerja keuangna Bank Mandiri tahun 2012. Sehingga hipotesis yang diajukan adalah CAR, BOPO, NPM, NIM dan LDR berpengaruh terhadap kinerja keuangan bank mandiri tahun 2012.

Setelah dilakukan penelitian dengan membandingkan rasio-rasio CAR, BOPO, NPM, NIM, dan LDR Bank Mandiri dengan bangk swasta yang juga menjual

(2)

ANALISIS PENGARUH CAR, BOPO, NPL, NIM DAN LDR TERHADAP ROA PT. BANK MANDIRI ( PERSERO ) TBK

PADA TAHUN 2012

Oleh

DESNATARI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA EKONOMI

Pada

Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

(3)
(4)
(5)
(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis di lahirkan di Bandar Lampung tanggal 15 Desember 1985 anak kedua

dari tiga bersaudara Fajar Noviandi, SE. Dan Muhammad Riski Kurniawan, SE.

Anak Kandung dari Muhammad Kohar, SE dan Juwita Pastiana.

Jenjang pendidikan yang pernah di tempuh oleh penulis adalah Sekolah Dasar di

Sekolah Dasar Negeri 1 Tanjung Raya Bandar Lampung yang di selesaikan pada

tahun 1997, Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Bandar Lampung yang

diselesaikan pada tahun 2000, Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bandar

Lampung yang di selesaikan pada tahun 2003. Penulis Melanjutkan kejenjang

perguruan tinggi pada program Diploma Tiga dijurusan Manajemen Program

Studi Diploma Tiga Keuangan dan Perbankan Fakultas Ekonomi Universitas

Lampung yang diselesaikan pada tahun 2006. Pada tahun 2010 penulis diterima

sebagai Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Manajemen ( Non

(7)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan

Ayah dan Ibu Tercinta

Terima kasih Ayah atas perjuanganmu untukku dapat

melanjutkan pendidikan sampai jenjang ini. Dan terima kasih ibu yang tak

henti-hentinya memberikan semangat dan dukungan moril maupun materil serta

do’a kepada anakmu ini.

Kakak dan adikku tersayang, yang senantiasa memberikan doa dan semangat

untuk mencapai keberhasilanku.

(8)

MOTO

Sungguh bersama kesukaran dan keringanan, karena itu bila kau telah selesai (mengerjakan yang lain ). Dan kepada Tuhan, berharaplah.

(Q.S AL- Insyirah 6-8 )

(9)

SANWACANA

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya serta sholawat dan salam kepada nabi Muhammad SAW

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ‘‘Analisis Likuiditas

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Bursa Efek Indonesia ( BEI) Tahun 2012’’.

Banyak pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini baik secara moril maupun spiritual maka dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. DR. Satria Bangsawan,SE., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung

2. .Bapak Moneyzar Usman,SE., M.Si. selaku pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

3. Bapak Habibullah Dzimat, SE., M.Si selaku Pembantu Dekan II Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

4. Bapak Muhidin Sirat, SE., M.Si selaku Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung.

5. Bapak M Syatibi, Ch, SE selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dan perhatiannya dalam proses menyusun skripsi ini. 6. Bapak Renaldi Bursan, SE. M.M selaku Dosen Pembimbing, terima kasih

atas waktu dan bimbingannya.

7. Seluruh staff/TU Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang banyak memberikan bantuan .

8. Kedua orang tuaku tersayang, untuk ibuku Juwita pastiana terima kasih atas segala doa dan ridhonya, dan untuk ayahku M Khohar, SE. Terimakasin atas dukungan dan motinasinya.

(10)

10.Anak- anakku tercinta Aqila Khairunnisa Ruskandi dan Alliqa Khairanni Ruskandi karena telah menjadi penyemangat dalam hidup bunda.

11.Saudara- saudaraku Fajar Noviandi,SE dan M Riski Kurniawan,SE yang banyak memberikan dukungannya.

12.Ayah mertuaku Alm. Suwarto B,Sc atas tuntutannya, dan ibu mertuaku Rosdiana untuk segala doa dan dukungannya.

13.Saudara iparku Tri Joko Sasongko dan Kartika Dewi,SE atas dukungannya dalam proses penyelesaian studi ini .

14.Pimpinan sekolah Pelita Bangsa, kepada Bu Yanti Sutanto,M.Pd. ibu Sinta Damayanti,S.Sos atas segala dorongannya.

15.Andriana Susmayanti,M.Pd , Shinta Widia,M.Pd dan Lili Lidiasari yang selalu setia membantu.

16.Rekan- rekan mahasiswa / mahasiswi manajemen non reguler, teruntuk Dian Purnamasari sahabatku terimakasih atas kerja sama dan motivasinya, Reny Herawati, Abdul Maji, dan rekan – rekan yang tidak dapat disebut satu persatu terima kasih atas segala kerja keras dan kerja sama yang telah kita bangun selama ini. Keep up the work guys.

17.Terimakasih untuk diri sendiri selalu mampu menjaga kekuatan fikiran dan jasmani dalam proses penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang sifatnya membangun akan menyempurnakan penulisan skripsi ini serta bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan bagi peneliti selanjutnya.

Bandar Lampung, September 2014 Penulis

(11)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 6

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8

1.3.1. Tujuan Penelitian ... 8

1.3.2. Kegunaan Penelitian ... 9

1.4. Kerangka Pemikiran ... 10

1.4.1. Capital Adequacy Ratio (CAR) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA) ... 10

1.4.2. Efisiensi Operasi (BOPO) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA) ... 12

1.4.3. Non Performing Loan (NPL) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA)... 13

1.4.4. Net Interest Margin (NIM) terhadap kinerja perbankan yang diukur dengan Return on Asset (ROA)... 15

(12)

1.5. Hipotesis ... 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Return On Asset... 20

2.1.1. Capital Adequacy Ratio (CAR) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA) ... 23

2.1.2. Efisiensi Operasi (BOPO) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA)... 25

2.1.3. Non Performing Loan (NPL) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA)... 26

2.1.4. Net Interest Margin (NIM) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA) ... 28

2.1.5. Loan to Deposit Ratio (LDR) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA) ... 30

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data ... 32

3.1.1 Jenis Data ... 32

3.1.2 Sumber Data ... 32

3.2. Populasi dan Sampel ... 33

3.2.1 Populasi ... 33

3.2.2 Sampel ... 33

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 33

(13)

3.4.1 Return On Asset (ROA)... 34

3.4.2 Capital Adequacy Ratio (CAR) ... 34

3.4.3 Beban Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO)... 35

3.4.4 Non Performing Loan (NPL) ... 35

3.4.5 Net Interest Margin (NIM) ... 36

35.6 Loan to Deposit Ratio (LDR) ... 36

3.5 Teknik Analisis Data ... 37

3.5.1 Analisis Kinerja Perbankan ... 37

3.5.2 Analisis Regresi Berganda ... 37

3.5.3 Pengujian Hipotesis ... 38

3.5.3.1 Uji t ... 38

3.5.3.2 Uji F ... 39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Perbandingan Nilai CAR ...43

4.2 Analisis Perbandingan Non Performing Loan (NPL)...46

4.3 Analisis Likuiditas ...49

4.3.1 Analisis Perbandingan Biaya Operasional dengan Pendapatan Operasional...40

4.3.2 Analisis Perbandingan Return on Asset (ROA)...43

4.4 Analisis Perbandingan Loan to Deposit Ratio (LDR)...46

(14)

5.2 Saran ... 54

DAFTAR PUSTAKA

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

4.1 Rata-Rata Nilai CAR Bank Mandiri dengan BCA ... 41

4.2 Hasil Uji CAR BankMandiri dengan Bank Swasta ... 42

4.3 Rata-Rata Nilai NPL BankMandiri dengan BCA ... 44

4.4 Hasil Uji NPL Bank Mandiri dengan BCA ... 45

4.5 Perbandingan Rasio BOPO... 46

4.6 Hasil Uji BOPO BankMandiri dengan BCA ... 47

4.7 Perbandingan Rasio ROA ... 48

4.8 Hasil Uji ROA BankMandiri dengan Bank Swasta ... 49

4.9 Data Loan to Deposit Ratio ... 50

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Lampiran Data Rasio Keuangan

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(18)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan sumber dana jangka panjang

bagi perusahaan. Termasuk didalamnya adalah perusahaan-perusahaan pada

sektor perbankan. Industri Perbankan memegang peranan penting bagi

pembangunan ekonomi sebagai Financial Intermediary atau perantara pihak yang

kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana. Menurut Ali (2006), bank

didefinisikan sebagai lembaga keuangan yang memiliki izin usaha untuk

beroperasi sebagai bank, yaitu menerima penempatan dana-dana yang

dipercayakan masyarakat kepada bank tersebut, memberikan pinjaman kepada

masyarakat dan dunia usaha pada umumnya, memberi akseptasi atas berbagai

bentuk surat utang yang disampaikan pada bank tersebut serta menerbitkan cek.

Usaha perbankan sendiri lahir karena pada kenyataannya tidak semua orang yang

menabung menggunakan tabungannya untuk keperluannya seharihari, sedangkan

banyak kegiatan usaha lain yang membutuhkan modal lebih banyak dari

kemampuan para pemilik usaha tersebut (Jaya, 1998).

Terjadinya krisis moneter di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 membawa

(19)

2

yang mengalami kredit macet. Hal tersebut mempengaruhi iklim investasi pasar

modal dibidang perbankan baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut

Pohan (2002), krisis moneter di Indonesia secara umum dapat dikatakan

merupakan imbas dari lemahnya kualitas system perbankan. Liberalisasi sektor

perbankan sejak tahun 1988 lebih banyakberimplikasi pada peningkatan kuantitas

daripada kualitas lembaga perbankan, sehingga efisiensi dan stabilitas perbankan

masih jauh dari yang diharapkan.

Rendahnya kualitas perbankan antara lain tercermin dari lemahnya kondisi

internal sektor perbankan, lemahnya manajemen bank, moral hazard yang timbul

akibat mekanisme exit yang belum tegas serta belum efektifnya pengawasan yang

dilakukan Bank Indonesia. Sedangkan menurut Ali, (2006), penyebab terjadinya

krisis ekonomi di Indonesia bukan lemahnya fundamental ekonomi, tetapi karena

merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.

Kondisi perbankan ini mendorong pihak-pihak yang terlibat didalamnya untuk

melakukan penilaian atas kesehatan bank. Salah satu pihak yang perlu mengetahui

kinerja dari sebuah bank adalah investor sebab semakin baik kinerja bank tersebut

maka jaminan keamanan atas dana yang diinvestasikan juga semakin besar.

Dengan menggunakan rasio keuangan, investor dapat mengetahui kinerja suatu

bank. Hal ini sesuai dengan pernyataan Muljono (1999) bahwa perbandingan

dalam bentuk rasio menghasilkan angka yang lebih obyektif, karena pengukuran

kinerja tersebut lebih dapat dibandingkan dengan bank-bank yang lain ataupun

(20)

3

Kinerja perusahaan dapat dilihat melalui berbagai macam variable atau indikator.

Variabel atau indikator yang dijadikan dasar penilaian adalahlaporan keuangan

perusahaan yang bersangkutan. Apabila kinerja sebuahperusahaan publik

meningkat, nilai keusahaannya akan semakin tinggi.Menurut Ikatan Akuntansi

Indonesia (IAI, 1995), kinerja perusahaan dapatdiukur dengan menganalisa dan

mengevaluasi laporan keuangan. Informasiposisi dan kinerja keuangan dimasa

lalu seringkali digunakan sebagai dasaruntuk memprediksi posisi keuangan dan

kinerja dimasa depan dan hal-hal lainyang langsung menarik perhatian pemakai

seperti pembayaran deviden, upah,pergerakan harga sekuritas dan kemampuan

perusahaan untuk memenuhikomitmennya ketika jatuh tempo. Kinerja merupakan

hal penting yang harusdicapai oleh setiap perusahaan dimanapun, karena kinerja

merupakan cerminandari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan

mengalokasikan sumberdayanya.

Menurut Sofyan (2003), kinerja perbankan dapat diukur denganmenggunakan

rata-rata tingkat bunga pinjaman, rata-rata tingkat bungasimpanan, dan

profitabilitas perbankan. Lebih lanjut lagi dalam penelitiannyamenyatakan bahwa

tingkat bunga simpanan merupakan ukuran kinerja yanglemah dan menimbulkan

masalah, sehingga dalam penelitiannya diisimpulkanbahwa profitabilitas

merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukurkinerja suatu bank.

Ukuran profitabilitas yang digunakan adalah rate of returnequity (ROE) untuk

perusahaan pada umumnya dan return on asset (ROA)pada industri perbankan.

Return on Asset (ROA) memfokuskan kemampuanperusahaan untuk memperoleh

(21)

4

mengukur return yang diperoleh dari investasipemilik perusahaan dalam bisnis

tersebut (Mawardi, 2005). Sehingga dalampenelitian ini ROA digunakan sebagai

ukuran kinerja perbankan.

Alasan dipilihnya Return on Asset (ROA) sebagai ukuran kinerja adalahkarena

ROA digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan didalammenghasilkan

keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya.ROA merupakan rasio

antara laba sebelum pajak terhadap total asset. Semakinbesar ROA menunjukkan

kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkatkembalian (return) semakin

besar. Apabila ROA meningkat, berartiprofitabilitas perusahaan meningkat,

sehingga dampak akhirnya adalahpeningkatan profitabilitas yang dinikmati oleh

pemegang saham (Husnan,1998).

Beberapa faktor yang bepengaruh terhadap kinerja bank adalah CAR,BOPO,

NPL, NIM, dan LDR. Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasiokeuangan yang

berkaitan dengan permodalan perbankan dimana besarnyamodal suatu bank akan

berpengaruh pada mampu atau tidaknya suatu banksecara efisien menjalankan

kegiatannya. Jika modal yang dimiliki oleh banktersebut mampu menyerap

kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan,maka bank dapat mengelola

seluruh kegiatannya secara efisien, sehinggakekayaan bank (kekayaan pemegang

saham) diharapkan akan semakinmeningkat demikian juga sebaliknya (Muljono,

1999). Dengan demikianCapital Adequacy Ratio (CAR) mempunyai pengaruh

(22)

5

Menurut ketentuan Bank Indonesia, BOPO merupakan perbandingan antaratotal

biaya operasi dengan total pendapatan operasi. Efisiensi operasi dilakukanoleh

bank dalam rangka untuk mengetahui apakah bank dalam operasinya

yangberhubungan dengan usaha pokok bank, dilakukan dengan benar

(sesuaidengan harapan pihak manajemen dan pemegang saham) serta

digunakanuntuk menunjukkan apakah bank telah menggunakan semua factor

produksinya dengan tepat guna dan berhasil guna (Mawardi, 2005).

Dengandemikian efisiensi operasi suatu bank yang diproksikan dengan rasio

BOPOakan mempengaruhi kinerja bank tersebut.

Bank dalam menjalankan operasinya tentunya tak lepas dari berbagaimacam

risiko. Risiko usaha bank merupakan tingkat ketidak pastian mengenaisuatu hasil

yang diperkirakan atau diharapkan akan diterima (Permono, 2000).Non

Performing Loan (NPL) merupakan rasio keuangan yang bekaitan denganrisiko

kredit. Menurut Ali (2006), risiko kredit adalah risiko dari kemungkinanterjadinya

kerugian bank sebagai akibat dari tidak dilunasinya kembali kredityang diberikan

bank kepada debitur. Non Performing Loan adalahperbandingan antara total kredit

bermasalah dengan total kredit yang di berikankepada debitur. Bank dikatakan

mempunyai NPL yang tinggi jika banyaknyakredit yang bermasalah lebih besar

daripada jumlah kredit yang diberikankepada debitur. Apabila suatu bank

mempunyai NPL yang tinggi, maka akanmemperbesar biaya, baik biaya

pencadangan aktiva produktif maupun biayalainnya, dengan kata lain semakin

(23)

6

Kemudian Net Interest Margin (NIM)mencerminkan resiko pasar yang timbul

karena adanya pergerakan variabelpasar, dimana hal tersebut dapat merugikan

bank. Berdasarkan peraturan BankIndonesia salah satu proksi dari risiko pasar

adalah suku bunga, yang diukurdari selisih antar suku bunga pendanaan (funding)

dengan suku bunga pinjamanyang diberikan (lending) atau dalam bentuk absolut

adalah selisih antara totalbiaya bunga pendanaan dengan total biaya bunga

pinjaman dimana dalamistilah perbankan disebut Net Interest Margin (NIM)

(Mawardi, 2005). Dengandemikian besarnya NIM akan mempengaruhi laba-rugi

Bank yang padaakhirnya mempengaruhi kinerja bank tersebut. Sementara Loan to

DepositRatio (LDR) merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank

untukmemenihi kewajiban yang harus dipenuhi. Sehingga semakin tinggi LDR

makalaba bank semakin meningkat (dengan asumsi bank tersebut

mampumenyalurkan kreditnya dengan efektif), dengan meningkatnya laba bank,

makakinerja bank juga meningkat. Dengan demikian besar-kecilnya rasio LDR

suatubank akan mempengaruhi kinerja bank tersebut.

1.2 Perumusan Masalah

Atas dasar latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapatdisimpulkan

terjadinya suatu kesenjangan (gap) antara teori yang selama inidianggap benar dan

selalu diterapkan pada industri perbankan dengan kondisiempiris bisnis

perbankan.Hal tersebut diperkuat dengan adanya beberapa riset gap antarapeneliti

satu dengan peneliti yang lain, perbedaan pendapat antar penelitisecara garis besar

(24)

7

Menurut Mawardi (2005), dalam penelitiannya tentang analisis factor-faktoryang

mempengaruhi kinerja bank umum di Indonesia dimana CAR danNIM

berpengaruh positif terhadap ROA, sementara BOPO dan NPLberpengaruh

negatif terhadap ROA. Penelitian yang dilakukan olehWerdaningtyas (2002),

tentang faktor yang mempengaruhi profitabilitas BankTake Over pramerger di

Indonesia menunjukkan bahwa CAR berpengaruhpositif terhadap ROA, LDR

berpengaruh negatif terhadap ROA, dan PangsaPasar tidak memiliki pengaruh

terhadap ROA. Sementara Usman (2003),dalam penelitiannya menunjukkan

bahwa NIM berpengaruh positif terhadapROA dikarenakan ROA dipengaruhi

oleh laba, kemudian LDR berpengaruhsignifikan terhadap laba bank sehingga

diprediksikan LDR juga mempunyaipengaruh yang signifikan terhadap ROA,

serta NPL tidak berpengaruhsignifikan terhadap perubahan laba. Sarifudin (2005),

dalam penelitiannyamenyatakan bahwa diantara variable CAR, BOPO, NPM,

NIM, DER danLDR, hanya variable BOPO yang berpengaruh signifikan terhadap

Laba.Sample yang digunakan adalah perbankan yang tercatat di BEJ periode

2000-2002 sebanyak 19 bank. Sementara penelitian yang dilakukan oleh

Suyono(2005), diketahui bahwa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap

ROAadalah CAR, BOPO, dan LDR. Untuk variable NIM, NPL, pertumbuhan

labadan pertumbuhan kredit tidak menunjukkan hasil yang signifikan

terhadapROA.

Paparan diatas memperkuat alasan perlunya diadakan penelitian ini,yaitu analisis

(25)

8

perbankan yang tercatat di BEJ. Sehubungan dengan haltersebut diatas, maka

permasalahan yang ingin dijawab dalam penelitian iniadalah sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh dari Capital Adequacy Ratio (CAR)terhadap

kinerja perbankan yang diukur dengan Return on Asset(ROA)?

2. Apakah terdapat pengaruh dari BOPO terhadap kinerja perbankanyang

diukur dengan Return on Asset (ROA)?

3. Apakah terdapat pengaruh dari Non Performing Loan (NPL)terhadap

kinerja perbankan yang diukur dengan Return on Asset(ROA)?

4. Apakah terdapat pengaruh dari Net Interest Margin (NIM) terhadapkinerja

perbankan yang diukur dengan Return on Asset (ROA)?

5. Apakah terdapat pengaruh dari Loan Deposit Ratio (LDR) terhadapkinerja

perbankan yang diukur dengan Return on Asset (ROA)?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadapkinerja

perbankan yang diukur dengan Return on Asset (ROA).

2. Menganalisis pengaruh (BOPO) terhadap kinerja perbankan yangdiukur

dengan Return on Asset (ROA).

3. Menganalisis pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadapkinerja

(26)

9

4. Menganalisis pengaruh Net Interest Margin (NIM) terhadap

kinerjaperbankan yang diukur dengan Return on Asset (ROA).

5. Menganalisis pengaruh Loan Deposit Ratio (LDR) terhadap

kinerjaperbankan yang diukur dengan Return on Asset (ROA).

1.3.2 Kegunaan Penelitian

Sejalan dengan tujuan dari penelitian ini, maka kegunaan yangdiperoleh dari

penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Bagi Emiten

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satudasar

pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam bidangkeuangan

terutama dalam rangka memaksimumkan kinerjaperusahaan dan

pemegang saham, sehingga saham perusahaannyadapat terus bertahan dan

mempunyai return yang besar.

1. Bagi Investor

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumberinformasi

untuk bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusaninvestasi saham

perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Bagi Akademisi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan atau referensiuntuk

(27)

10

1.4 Kerangka Pemikiran

1.4.1 Capital Adequacy Ratio (CAR) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA).

Peranan modal sangat penting karena selain digunakan untuk kepentingan

ekspansi, juga digunakan sebagai “buffer” untuk menyerap kerugian kegiatan

usaha. Dalam hal ini Bank wajib memenuhi ketentuan Kewajiban Penyediaan

Modal Minimum (KPMM) yang berlaku untuk peningkatan modal (SE. Intern BI,

2004). Secara teknis, analisis tentang permodalan disebut juga sebagai analisis

solvabilitas, atau juga disebut capital adequacy analysis, yang mempunyai tujuan

untuk mengetahui apakah permodalan bank yang ada telah mencukupi untuk

mendukung kegiatan bank yang dilakukan secara efisien, apakah permodalan

bank tersebut akan mampu untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat

dihindarkan, dan apakah kekayaan bank (kekayaan pemegang saham) akan

semakin besar atau semakin kecil (Muljono, 1999).

Lebih lanjut lagi menurut Muljono, untuk mengukur kemampuan permodalan

tersebut digunakan : primary ratio, capital ratio dan Capital Adequacy Ratio

(CAR). Kemudian Hempel, (1986) menyatakan bahwa ada tiga bentuk dasar dari

modal bank, yaitu pinjaman subordinasi, saham preferen, dan common equity.

Yang termasuk pinjaman subordinasi adalah segala bentuk kewajiban yang

mengandung bunga, untuk dibayar dalam jumlah yang tetap diwaktu yang akan

datang. Saham preferen adalah saham yangdeviden dan asset klaimnya dapat di

subordinasikan kepada deposan dan seluruh kreditur bank umum. Sementara

(28)

11

Jumlah kebutuhan modal suatu bank meningkat dari waktu kewaktu tergantung

dari tiga pertimbangan, yaitu tingkat pertumbuhan asset dan simpanan,

persyaratan kecukupan modal dari pihak yang berwenang, dan ketersediaan serta

biaya modal bank (Hempel, 1986). Menurut Muljono (1999), Capital Adequacy

Ratio adalah suatu rasio yang menunjukkan sampai sejauh mana kemampuan

permodalan suatu bank untuk mampu menyerap risiko kegagalan kredit yang

mungkin terjadi sehingga semakin tinggi angka rasio ini, maka menunjukkan bank

tersebut semakin sehat begitu juga dengan sebaliknya.

Sementara menurut Peraturan Bank Indonesia, CAR (Capital Adequancy Ratio)

adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank

yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank

lain) ikut dibiayai dari modal sendiri disamping memperoleh dana-dana dari

sumber-sumber diluar bank. Angka rasio CAR yang ditetapkan oleh Bank

Indonesia adalah minimal 8%, jika rasio CAR sebuah bank berada dibawah 8%

berarti bank tersebut tidak mampu menyerap kerugian yang mungkin timbul dari

kegiatan usaha bank, kemudian jika rasio CAR diatas 8% menunjukkan bahwa

bank tersebut semakin solvable. Dengan semakin meningkatnya tingkat

solvabilitas bank, maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada

meningkatnya kinerja bank, karena kerugian-kerugian yang ditanggung bank

(29)

12

1.4.2 Efisiensi Operasi (BOPO) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA).

Peter Drucker, dalam Hanafi (1999), menyatakan bahwa efisiensi adalah

kemampuan menggunakan sumber daya yang tidak perlu. Efisiensi akan lebih

jelas jika dikaitkan dengan konsep perbandingan output-input. Output merupakan

hasil suatu organisasi, dan input merupakan sumber daya yang digunakan untuk

menghasilkan output tersebut. Dalam kasus perusahaan yang bergerak dibidang

perbankan, efisiensi operasi dilakukan untuk mengetahui apakah bank dalam

operasinya yang berhubungan usaha pokok bank, dilakukan dengan benar dalam

arti sesuai yang diharapkan manajemen dan pemegang saham. Efisiensi operasi

juga berpengaruh terhadap kinerja bank, yaitu untuk menunjukkan apakah bank

telah menggunakan semua faktor produksinya dengan tepat guna (Mawardi,

2005).

Menurut Bank Indonesia, efisiensi operasi diukur dengan membandingkan total

biaya operasi dengan total pendapatan operasi atau yang sering disebut BOPO.

Rasio BOPO ini bertujuan untuk mengukur kemampuan pendapatan operasional

dalam menutup biaya operasional.

Rasio yang semakin meningkat mencerminkan kurangnya kemampuan bank

dalam menekan biaya operasional dan meningkatkan pendapatan operasionalnya

yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurang efisien dalam mengelola

(30)

13

rasio BOPO adalah dibawah 90%, karena jika rasio BOPO melebihi 90% hingga

mendekati angka 100% maka banktersebut dapat dikategorikan tidak efisien

dalam menjalankan operasinya. Pada penelitian ini variabel BOPO diambil

sebagai salah satu variabel atau faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan

bank, karena bagaimanapun juga jika kita berbicara mengenai kinerja suatu

perusahaan pastilah juga berhubungan dengan efisiensi operasi perusahaan

tersebut.

1.4.3 Non Performing Loan (NPL) dan pengaruhnya terhadap Return OnAsset (ROA)

Risiko, menurut Peraturan Bank Indonesia nomor 5 tahun 2003 adalah potensi

terjadinya suatu peristiwa (events) yang dapat menimbulkan kerugian bank. Risiko

akan selalu melekat pada dunia perbankan, hal ini disebabkan karena faktor situasi

lingkungan eksternal dan internal perkembangan kegiatan usaha perbankan yang

semakin pesat. Salah satu risiko usaha bank menurut Peraturan Bank Indonesia adalah

risiko kredit, yang didefinisikan : risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan

counterparty memenuhi kewajiban. Sementara menurut Susilo, et al. (1999), risiko

kredit merupakan risiko yang dihadapi bank karena menyalurkan dananya dalam

bentuk pinjaman kepada masyarakat. Karena berbagai hal, debitur mungkin saja

menjadi tidak memenuhi kewajibannya kepada bank seperti pembayaran pokok

pinjaman, pembayaran bunga dan lain-lain.

Tidak terpenuhinya kewajiban nasabah kepada bank menyebabkan bank menderita

(31)

14

Manajemen piutang merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan yang

operasinya memberikan kredit, karena makin besar piutang akan semakin besar

resikonya (Riyanto, 1997). Oleh karena itu perlu diantisipasi kemungkinan risiko

yang mungkin timbul dalam rangka menjalankan usaha. Sehingga manajemen perlu

meminimalisir risiko yang mungkin terjadi alam pengelolaan faktor produksi, sumber

dana dan sumber daya yang lain. Pengukuran risiko sangat berhubungan dengan

pengukuran return, hal ini disebabkan karena bank menghadapi risiko yang mungkin

timbul dalam rangka mendapatkan suatu return tertentu.

Pada penelitian ini rasio keuangan yang digunakan sebagai proksi terhadap nilai suatu

resiko kredit adalah rasio Non Performing Loan (NPL). Rasio ini menunjukan bahwa

kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan

oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin semakin buruk

kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar

maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar.

Kredit dalam hal ini adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk

kredit kepada bank lain. Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang

lancar, diragukan dan macet. Standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah

kurang dari 5%, dengan rasio dibawah 5% maka Penyisihan Penghapusan Aktiva

Produktif (PPAP) yang harus disediakan bank guna menutup kerugian yang

ditimbulkan oleh aktiva produktif non lancar (dalam hal ini kredit bermasalah)

menjadi kecil.aktiva bank kebanyakan bersifat tidak liquid dengansumber dana

dengan jangka waktu lebih pendek. Indikator likuiditas antaralain dari besarnya

(32)

15

konsentrasi ketergantungan dari danabesar yang relatif kurang stabil, dan

penyebaran sumber dana pihak ketigayang sehat, baik dari segi biaya maupun dari

sisi kestabilan.

1.4.4 Net Interest Margin (NIM) dan pengaruhnya terhadap Return OnAsset (ROA).

Risiko pasar menurut Peraturan Bank Indonesia No.5 tahun 2003merupakan risiko

yang timbul karena adanya pergerakan variable pasardari portofolio yang dimiliki

oleh bank, dimana pergerakan tersebut bias mengakibatkan kerugian, dalam hal

ini adalah pergerakan suku bunga dannilai tukar. Secara umum kinerja bank

diukur dengan menggunakanvariable pertumbuhan pangsa pasar, variable

profitabilitas dan variablerate on return (Tainio, 2000). Kinerja bank menurun

atau meningkatditentukan oleh kombinasi faktor lingkungan, strategi dan struktur.

Menurut Tainio, (2000), Lenz mengidentifikasikan ada enam faktor

yangmenentukan kinerja organisasi, yaitu : 1). Properties of the environment(yang

meliputi struktur pasar, dan posisi persaingan dari unit bisnis); 2).Environment,

organization, structure; 3). Organization structure;4)Strategy; 5). Market

conditions; 6). Quality of management.

Berdasarkan ketentuan pada peraturan BI No.5/2003, salah satuproksi dari resiko

pasar adalah suku bunga, dengan demikian rasio pasardapat diukur dengan selisih

antara suku bunga pendanaan (funding)dengan suku bunga pinjaman diberikan

(33)

16

bunga pendanaandengan total biaya bunga pinjaman. Didalam dunia perbankan

dinamakanNet Interest Margin (NIM).

Rasio ini digunakan untuk mengukurkemampuan manajemen bank dalam

mengelola aktiva produktifnya untukmenghasilkan pendapatan bunga bersih.

Pendapatan bunga bersihdiperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga.

Rasio inimenunjukkan kemampuan bank dalam memperolah

pendapatanoperasionalnya dari dana yang ditempatkan dalam bentuk

pinjaman(kredit). Semakin tinggi NIM menunjukkan semakin efektif bank

dalampenempatan aktiva produktif dalam bentuk kredit.

Standar yang ditetapkanBank Indonesia untuk rasio NIM adalah 6% keatas.

Semakin besar rasioini maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva

produktif yangdikelola bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam

kondisibermasalah semakin kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

semakinbesar net interest margin (NIM) suatu perusahaan, maka semakin

besarpula return on asset (ROA) perusahaan tersebut, yang berarti

kinerjakeuangan tersebut semakin membaik atau meningkat. Begitu juga

dengansebaliknya, jika net interest margin (NIM) semakin kecil, return on

assetjuga akan semakin kecil, dengan kata lain kinerja perusahaan tersebut

(34)

17

1.4.5Loan to Deposit Ratio (LDR) dan pengaruhnya terhadap Return OnAsset (ROA).

Ketersediaan dana dan sumber dana bank pada saat ini dan di masayang akan

datang, merupakan pemahaman konsep likuiditas dalamindikator ini. Menurut

Ali, (2006), pengaturan likuiditas terutamadimaksudkan agar bank setiap saat

dapat memenuhi kewajiban-kewajibannyayang harus segera dibayar. Likuiditas

dinilai denganmengingat bahwa aktiva bank kebanyakan bersifat tidak liquid

dengansumber dana dengan jangka waktu lebih pendek. Indikator likuiditas

antaralain dari besarnya cadangan sekunder (secondary reserve) untukkebutuhan

likuiditas harian, rasio konsentrasi ketergantungan dari danabesar yang relatif

kurang stabil, dan penyebaran sumber dana pihak ketigayang sehat, baik dari segi

biaya maupun dari sisi kestabilan.

Menurut BankIndonesia, penilaian aspek likuiditas mencerminkan kemampuan

bank untuk mengelola tingkat likuiditas yang memadai guna memenuhi

kewajibannya secara tepat waktu dan untuk memenuhi kebutuhan yanglain.

Disamping itu bank juga harus dapat menjamin kegiatan dikelolasecara efisien

dalam arti bahwa bank dapat menekan biaya pengelolaanlikuiditas yang tinggi

serta setiap saat bank dapat melikuidasi assetnyasecara cepat dengan kerugian

yang minimal (SE. Intern BI, 2004).

Standar yang digunakanBank Indonesia untuk rasio LDR adalah 80% hingga

(35)

18

(misalkan 60%), maka dapat disimpulkan bahwa bank tersebut hanya dapat

menyalurkansebesar 60% dari seluruh dana yang berhasil dihimpun. Karena

fungsiutama dari bank adalah sebagai intermediasi (perantara) antara pihak

yangkelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana, maka dengan rasioLDR

60% berarti 40% dari seluruh dana yang dihimpun tidak tersalurkankepada pihak

yang membutuhkan, sehingga dapat dikatakan bahwa banktersebut tidak

menjalankan fungsinya dengan baik. Kemudian jika rasioLDR bank mencapai

lebih dari 110%, berarti total kredit yang diberikanbank tersebut melebihi dana

yang dihimpun.

Semakin tinggi LDR menunjukkan semakinriskan kondisi likuiditas bank,

sebaliknya semakin rendah LDRmenunjukkan kurangnya efektifitas bank dalam

menyalurkan kredit. Jikarasio LDR bank berada pada standar yang ditetapkan

oleh Bank Indonesia,maka laba yang diperoleh oleh bank tersebut akan meningkat

(denganasumsi bank tersebut mampu menyalurkan kreditnya dengan

efektif).Dengan meningkatnya laba, maka return on asset (ROA) juga

akanmeningkat, karena laba merupakan komponen yang membentuk return

(36)

19

Berdasarkan kerangka pemikiran maka model penelitian sebagai berikut:

1.5 Hipotesis

Berdasarkan pada latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuanpenelitian

serta telaah pustaka seperti yang telah diuraikan tersebut di atas,maka hipotesis

yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. H1 : CAR berpengaruh positif terhadap ROA.

2. H2 : BOPO berpengaruh negatif terhadap ROA.

3. H3 : NPL berpengaruh negatif terhadap ROA.

4. H4 : NIM berpengaruh positif terhadap ROA.

5. H5 : LDR berpengaruh positif terhadap ROA. CAR

ROA BOPO

NIM NPL

(37)

20

BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Return On Asset

Tujuan dasar dari manajemen suatu unit usaha bisnis adalah

untukmemaksimalkan nilai dari investasi yang ditanamkan oleh pemilik

modalterhadap unit usaha bisnis tersebut dalam hal ini adalah perusahaan

yangdibangun oleh pemilik modal. Kemudian saat perusahaan

tersebutberkembang semakin besar dan lebih jauh lagi perusahaan tersebut

sudah“go public” di pasar modal yang efisien, tujuan perusahaan tersebutberubah

menjadi bagaimana perusahaan tersebut memaksimalkan “earningper share”-nya.

Untuk mengukur keberhasilan suatu manajemen dalammeraih tujuan perusahaan,

return dan risk dapat digunakan sebagai ukurankeberhasilan suatu perusahaan,

yaitu dengan menganalisis laporankeuangan perusahaan tersebut. Hal diatas juga

berlaku untuk perusahaanyang bergerak dibidang perbankan (Mawardi, 2005).

Menurut Hempel (1986), return diukur dengan menggunakanprofitability

analysis, sedangkan risk diukur dengan menggunakanvariabilitas sales, cost, dan

difersifikasi portofolio. Pengukuran return danrisk tersebut dapat digunakan untuk

membandingkan perusahaan yangsejenis. Secara garis besar, dapat disimpulkan

(38)

21

pula. Sehinggadalam rangka memaksimalkan nilai investasi dari pemilik,

keseimbangantrade off antara return dan risk perlu selalu dijaga. Dengan

manajemenyang efektif dan efisien, kita bisa mengetahui risiko-risiko yang

dihadapisaat kita menginginkan tingkat return tertentu. Dalam perbankan,

besarkecilnya return dan risk yang melekat dalam perusahaan tersebut,tercermin

dalam laporan keuangannya. Dengan membaca laporankeuangan suatu

perusahaan kita dapat mengetahui bagaimana kinerjakeuangan perusahaan

tersebut (dalam hal ini perusahaan perbankan),sehingga keputusan-keputusan

manajemen yang diambil tidak akanmembawa perusahaan kepada kebangkrutan.

Untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja suatu perusahaan,analis

keuangan membutuhkan suatu ukuran. Ukuran yang seringdipergunakan dalam

hal ini adalah rasio atau index yang menghubungkanantara dua data keuangan.

Salah satu bentuk penggunaan rasio keuanganadalah analysis trend. Menurut

Horne (1995), analisis trend dari rasiokeuangan mempunyai dua tipe

perbandingan salah satunya adalah rasiokeuangan dituangkan dalam spreadsheet

untuk periode beberapa tahun,sehingga dapat mempelajari komposisi dan

faktor-faktor yangmenyebabkan perusahaan tersebut berkembang atau bahkan menurun.

Informasi tentang kinerja keuangan pada lembaga keuangan (dalamhal ini

perbankan) dalam periode tertentu, dapat diketahui denganmenganalisis

rasio-rasio keuangan. Menurut Seiford (1999), menyatakanbahwa profitabilitas

merupakan kemampuan bank untuk mendapatkanrevenue atau profit pada jangka

(39)

22

Muljono (1999) berpendapatbahwa profitabilitas atau rentabilitas dapat dukur

dengan gross profitmargin, net profit margin, return on equity capital, return on

asset, danreturn on specific asset. Profitabilitas juga dapat diukur

denganmenggunakan interest margin, net margin, asset utilization, return onasset

, leverage multiplier, dan return on capital (Hempel, 1986). Rasioprofitabilitas

dimaksudkan untuk mengukur profitabilitas pengguna aktivaperusahaan (Husnan,

1998).

Analisis profitabilitas dapat digunakan untuk mengukur kinerja suatuperusahaan

yang dalam hal ini pasti berorientasi pada profit motif ataukeuntungan yang diraih

oleh perusahaan tersebut. Menurut Shapiro (1992),Profitability analysis yang

diimplementasikan dengan profitability ratio,disebut juga operating ratio. Dalam

operating ratio tersebut, terdapat duatipe rasio yaitu margin on sale dan return on

asset. Profit margin,digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk

mengendalikanpengeluaran yang berhubungan dengan penjualan, yaitu meliputi

grossprofit margin, operating profit margin, dan net profit margin.

Hubunganantara return on asset dan share holder equity ada dua ukuran,

yakniReturn On Asset (ROA) yang biasanya juga disebut Return On

Investment(ROI) dan Return On Equity (ROE). Return On Asset (ROA) dalam hal

inilebih memfokuskan kemampuan perusahaan dalam memperoleh earningdalam

operasi perusahaan, sementara Return On Equity (ROE) hanyamengukur return

yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalambisnis tersebut (Mawardi,

(40)

23

2.1.1Capital Adequacy Ratio (CAR) dan pengaruhnya terhadap Return OnAsset (ROA).

Peranan modal sangat penting karena selain digunakan untukkepentingan

ekspansi, juga digunakan sebagai “buffer” untuk menyerapkerugian kegiatan

usaha. Dalam hal ini Bank wajib memenuhi ketentuanKewajiban Penyediaan

Modal Minimum (KPMM) yang berlaku untukpeningkatan modal (SE. Intern BI,

2004). Secara teknis, analisis tentangpermodalan disebut juga sebagai analisis

solvabilitas, atau juga disebutcapital adequacy analysis, yang mempunyai tujuan

untuk mengetahuiapakah permodalan bank yang ada telah mencukupi untuk

mendukungkegiatan bank yang dilakukan secara efisien, apakah permodalan

banktersebut akan mampu untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak

dapatdihindarkan, dan apakah kekayaan bank (kekayaan pemegang saham)

akansemakin besar atau semakin kecil (Muljono, 1999).

Lebih lanjut lagimenurut Muljono, untuk mengukur kemampuan permodalan

tersebutdigunakan : primary ratio, capital ratio dan Capital Adequacy

Ratio(CAR). Kemudian Hempel, (1986) menyatakan bahwa ada tiga bentukdasar

dari modal bank, yaitu pinjaman subordinasi, saham preferen, dancommon equity.

Yang termasuk pinjaman subordinasi adalah segala bentukkewajiban yang

mengandung bunga, untuk dibayar dalam jumlah yangtetap diwaktu yang akan

datang. Saham preferen adalah saham yangdeviden dan asset klaimnya dapat di

subordinasikan kepada deposan danseluruh kreditur bank umum. Sementara

common equity adalah total dari

(41)

24

Jumlah kebutuhan modal suatu bank meningkat dari waktu kewaktutergantung

dari tiga pertimbangan, yaitu tingkat pertumbuhan asset dansimpanan, persyaratan

kecukupan modal dari pihak yang berwenang, danketersediaan serta biaya modal

bank (Hempel, 1986). Menurut Muljono(1999), Capital Adequacy Ratio adalah

suatu rasio yang menunjukkansampai sejauh mana kemampuan permodalan suatu

bank untuk mampumenyerap risiko kegagalan kredit yang mungkin terjadi

sehingga semakintinggi angka rasio ini, maka menunjukkan bank tersebut

semakin sehatbegitu juga dengan sebaliknya. Sementara menurut Peraturan

BankIndonesia, CAR (Capital Adequancy Ratio) adalah rasio

yangmemperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yangmengandung

resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada banklain) ikut dibiayai

dari modal sendiri disamping memperoleh dana-danadari sumber-sumber diluar

bank.

Angka rasio CAR yang ditetapkan olehBank Indonesia adalah minimal 8%, jika

rasio CAR sebuah bank beradadibawah 8% berarti bank tersebut tidak mampu

menyerap kerugian yangmungkin timbul dari kegiatan usaha bank, kemudian jika

rasio CAR diatas8% menunjukkan bahwa bank tersebut semakin solvable.

Dengan semakinmeningkatnya tingkat solvabilitas bank, maka secara tidak

langsung akanberpengaruh pada meningkatnya kinerja bank, karena

kerugian-kerugiann yang ditanggung bank dapat diserap oleh modal yang dimiliki

(42)

25

2.1.2 Efisiensi Operasi (BOPO) dan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA).

Peter Drucker, dalam Hanafi (1999), menyatakan bahwa efisiensi adalah

kemampuan menggunakan sumber daya yang tidak perlu. Efisiensi akan lebih

jelas jika dikaitkan dengan konsep perbandingan output-input. Output merupakan

hasil suatu organisasi, dan input merupakan sumber daya yang digunakan untuk

menghasilkan output tersebut. Dalam kasus perusahaan yang bergerak dibidang

perbankan, efisiensi operasi dilakukan untuk mengetahui apakah bank dalam

operasinya yang berhubungan usaha pokok bank, dilakukan dengan benar dalam

arti sesuai yang diharapkan manajemen dan pemegang saham. Efisiensi operasi

juga berpengaruh terhadap kinerja bank, yaitu untuk menunjukkan apakah bank

telah menggunakan semua faktor produksinya dengan tepat guna (Mawardi,

2005).

Menurut Bank Indonesia, efisiensi operasi diukur dengan membandingkan total

biaya operasi dengan total pendapatan operasi atau yang sering disebut BOPO.

Rasio BOPO ini bertujuan untuk mengukur kemampuan pendapatan operasional

dalam menutup biaya operasional.

Rasio yang semakin meningkat mencerminkan kurangnya kemampuan bank

dalam menekan biaya operasional dan meningkatkan pendapatan operasionalnya

yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurang efisien dalam mengelola

usahanya(SE. Intern BI, 2004). Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk

(43)

26

mendekati angka 100% maka banktersebut dapat dikategorikan tidak efisien

dalam menjalankan operasinya. Pada penelitian ini variabel BOPO diambil

sebagai salah satu variabel atau faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan

bank, karena bagaimanapun juga jika kita berbicara mengenai kinerja suatu

perusahaan pastilah juga berhubungan dengan efisiensi operasi perusahaan

tersebut.

2.1.3 Non Performing Loan (NPL) dan pengaruhnya terhadap Return OnAsset (ROA)

Risiko, menurut Peraturan Bank Indonesia nomor 5 tahun 2003 adalah potensi

terjadinya suatu peristiwa (events) yang dapat menimbulkan kerugian bank. Risiko

akan selalu melekat pada dunia perbankan, hal ini disebabkan karena faktor situasi

lingkungan eksternal dan internal perkembangan kegiatan usaha perbankan yang

semakin pesat. Salah satu risiko usaha bank menurut Peraturan Bank Indonesia adalah

risiko kredit, yang didefinisikan : risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan

counterparty memenuhi kewajiban. Sementara menurut Susilo, et al. (1999), risiko

kredit merupakan risiko yang dihadapi bank karena menyalurkan dananya dalam

bentuk pinjaman kepada masyarakat. Karena berbagai hal, debitur mungkin saja

menjadi tidak memenuhi kewajibannya kepada bank seperti pembayaran pokok

pinjaman, pembayaran bunga dan lain-lain.

Tidak terpenuhinya kewajiban nasabah kepada bank menyebabkan bank menderita

(44)

27

Manajemen piutang merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan yang

operasinya

memberikan kredit, karena makin besar piutang akan semakin besar resikonya

(Riyanto, 1997). Oleh karena itu perlu diantisipasi kemungkinan risiko yang

mungkin timbul dalam rangka menjalankan usaha. Sehingga manajemen perlu

meminimalisir risiko yang mungkin terjadi alam pengelolaan faktor produksi, sumber

dana dan sumber daya yang lain. Pengukuran risiko sangat berhubungan dengan

pengukuran return, hal ini disebabkan karena bank menghadapi risiko yang mungkin

timbul dalam rangka mendapatkan suatu return tertentu.

Pada penelitian ini rasio keuangan yang digunakan sebagai proksi terhadap nilai suatu

resiko kredit adalah rasio Non Performing Loan (NPL). Rasio ini menunjukan bahwa

kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan

oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin semakin buruk

kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar

maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Kredit

dalam hal ini adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk kredit

kepada bank lain. Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar,

diragukan dan macet. Standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah kurang

dari 5%, dengan rasio dibawah 5% maka Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif

(PPAP) yang harus disediakan bank guna menutup kerugian yang ditimbulkan oleh

aktiva produktif non

lancar (dalam hal ini kredit bermasalah) menjadi kecil.aktiva bank kebanyakan

bersifat tidak liquid dengansumber dana dengan jangka waktu lebih pendek.

(45)

28

reserve) untukkebutuhan likuiditas harian, rasio konsentrasi ketergantungan dari

danabesar yang relatif kurang stabil, dan penyebaran sumber dana pihak

ketigayang sehat, baik dari segi biaya maupun dari sisi kestabilan.

2.1.4 Net Interest Margin (NIM) dan pengaruhnya terhadap Return OnAsset

(ROA).

Risiko pasar menurut Peraturan Bank Indonesia No.5 tahun 2003merupakan risiko

yang timbul karena adanya pergerakan variable pasardari portofolio yang dimiliki

oleh bank, dimana pergerakan tersebut bias mengakibatkan kerugian, dalam hal

ini adalah pergerakan suku bunga dannilai tukar. Secara umum kinerja bank

diukur dengan menggunakanvariable pertumbuhan pangsa pasar, variable

profitabilitas dan variablerate on return (Tainio, 2000). Kinerja bank menurun

atau meningkatditentukan oleh kombinasi faktor lingkungan, strategi dan struktur.

Menurut Tainio, (2000), Lenz mengidentifikasikan ada enam faktor

yangmenentukan kinerja organisasi, yaitu : 1). Properties of the environment(yang

meliputi struktur pasar, dan posisi persaingan dari unit bisnis); 2).Environment,

organization, structure; 3). Organization structure;4)Strategy; 5). Market

conditions; 6). Quality of management.

Berdasarkan ketentuan pada peraturan BI No.5/2003, salah satuproksi dari resiko

pasar adalah suku bunga, dengan demikian rasio pasardapat diukur dengan selisih

antara suku bunga pendanaan (funding)dengan suku bunga pinjaman diberikan

(46)

29

bunga pendanaandengan total biaya bunga pinjaman. Didalam dunia perbankan

dinamakanNet Interest Margin (NIM).

Rasio ini digunakan untuk mengukurkemampuan manajemen bank dalam

mengelola aktiva produktifnya untukmenghasilkan pendapatan bunga bersih.

Pendapatan bunga bersihdiperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga.

Rasio inimenunjukkan kemampuan bank dalam memperolah

pendapatanoperasionalnya dari dana yang ditempatkan dalam bentuk

pinjaman(kredit). Semakin tinggi NIM menunjukkan semakin efektif bank

dalampenempatan aktiva produktif dalam bentuk kredit.

Standar yang ditetapkanBank Indonesia untuk rasio NIM adalah 6% keatas.

Semakin besar rasioini maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva

produktif yangdikelola bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam

kondisibermasalah semakin kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

semakinbesar net interest margin (NIM) suatu perusahaan, maka semakin

besarpula return on asset (ROA) perusahaan tersebut, yang berarti

kinerjakeuangan tersebut semakin membaik atau meningkat. Begitu juga

dengansebaliknya, jika net interest margin (NIM) semakin kecil, return on

assetjuga akan semakin kecil, dengan kata lain kinerja perusahaan tersebut

(47)

30

2.1.5Loan to Deposit Ratio (LDR) dan pengaruhnya terhadap Return OnAsset (ROA).

Ketersediaan dana dan sumber dana bank pada saat ini dan di masayang akan

datang, merupakan pemahaman konsep likuiditas dalamindikator ini. Menurut

Ali, (2006), pengaturan likuiditas terutamadimaksudkan agar bank setiap saat

dapat memenuhi kewajiban-kewajibannyayang harus segera dibayar. Likuiditas

dinilai denganmengingat bahwa aktiva bank kebanyakan bersifat tidak liquid

dengansumber dana dengan jangka waktu lebih pendek. Indikator likuiditas

antaralain dari besarnya cadangan sekunder (secondary reserve) untukkebutuhan

likuiditas harian, rasio konsentrasi ketergantungan dari danabesar yang relatif

kurang stabil, dan penyebaran sumber dana pihak ketigayang sehat, baik dari segi

biaya maupun dari sisi kestabilan.

Menurut BankIndonesia, penilaian aspek likuiditas mencerminkan kemampuan

bank untuk mengelola tingkat likuiditas yang memadai guna memenuhi

kewajibannya secara tepat waktu dan untuk memenuhi kebutuhan yanglain.

Disamping itu bank juga harus dapat menjamin kegiatan dikelolasecara efisien

dalam arti bahwa bank dapat menekan biaya pengelolaanlikuiditas yang tinggi

serta setiap saat bank dapat melikuidasi assetnyasecara cepat dengan kerugian

yang minimal (SE. Intern BI, 2004).

Standar yang digunakanBank Indonesia untuk rasio LDR adalah 80% hingga

110%. Jika angkarasio LDR suatu bank berada pada angka dibawah 80%

(48)

31

menyalurkansebesar 60% dari seluruh dana yang berhasil dihimpun. Karena

fungsiutama dari bank adalah sebagai intermediasi (perantara) antara pihak

yangkelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana, maka dengan rasioLDR

60% berarti 40% dari seluruh dana yang dihimpun tidak tersalurkankepada pihak

yang membutuhkan, sehingga dapat dikatakan bahwa banktersebut tidak

menjalankan fungsinya dengan baik. Kemudian jika rasioLDR bank mencapai

lebih dari 110%, berarti total kredit yang diberikanbank tersebut melebihi dana

yang dihimpun.

Semakin tinggi LDR menunjukkan semakinriskan kondisi likuiditas bank,

sebaliknya semakin rendah LDRmenunjukkan kurangnya efektifitas bank dalam

menyalurkan kredit. Jikarasio LDR bank berada pada standar yang ditetapkan

oleh Bank Indonesia,maka laba yang diperoleh oleh bank tersebut akan meningkat

(denganasumsi bank tersebut mampu menyalurkan kreditnya dengan

efektif).Dengan meningkatnya laba, maka return on asset (ROA) juga

akanmeningkat, karena laba merupakan komponen yang membentuk return

(49)

32

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data

3.1.1 Jenis Data

Dalam melaksanakan penelitian ini, data yang dipergunakan adalahdata sekunder

yang berupa laporan historis rasio-rasio keuangan masingmasingperusahaan

perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI)serta laporan keuangan

yang berupa laporan keuangan triwulananperusahaan perbankan yang telah

tercatat di BEI yang telah dipublikasikanpada periode penelitian.

3.1.2 Sumber Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini merupakan data sekunderhistoris,

dimana diperoleh dari Laporan Keuangan Publikasi yangditerbitkan oleh Bank

Indonesia dalam Direktori Perbankan Indonesia.Periodesasi data menggunakan

data Laporan Keuangan PublikasiTriwulanan periode Juni 2007 hingga Juni 2012.

Jangka waktu tersebutdipandang cukup untuk mengikuti perkembangan Kinerja

Bank karenadigunakan data time series serta mencakup periode terbaru

(50)

33

3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaanperbankan yang

tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam kurun waktupenelitian. Jumlah

bank yang go public sampai dengan tahun 2013 sebanyak 25 bank.

3.2.2 Sampel

Sampel penelitian diambil secara purposive sampling, dimanasampel digunakan

apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Perusahaan perbankan yang telah go public di Bursa Efek Jakarta(BEJ) pada

kurun waktu penelitian 2007-2012.

b. Tersedia data laporan keuangan selama kurun waktu penelitian

c. Bank yang diteliti masih beroperasi pada periode waktu penelitian

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekundersehingga

metode pengumpulan data menggunakan cara non participantobservation.

Dengan demikian langkah yang dilakukan adalah denganmencatat seluruh data

yang diperlukan dalam penelitian ini sebagai mana yangtercantum di Laporan

Keuangan Publikasi Triwulanan dalam DirektoriPerbankan Indonesia dari Bank

(51)

34

3.4 Definisi Operasional Variabel 3.4.1 Return On Asset (ROA)

Dalam penelitian ini Return on Asset (ROA) digunakan sebagaiproksi dari kinerja

perbankan yang tercatat di BEJ. Return on Assetmerupakan salah satu rasio

profitabilitas yang digunakan untuk mengukurefektifitas perusahaan didalam

menghasilkan keuntungan denganmemanfaatkan total asset yang dimilikinya.

ROA merupakan rasio antaralaba sebelum pajak terhadap total asset bank

tersebut. Semakin besar nilaiROA, maka semakin besar pula kinerja perusahaan,

karena return yangdidapat perusahaan semakin besar.

Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (SE BI No 6/73/INTERNDPNP tgl 24

Desember 2004):

Laba sebelum Pajak

ROA = --- Total Aser

3.4.2 Capital Adequacy Ratio (CAR)

CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlahseluruh aktiva bank

yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, suratberharga, tagihan pada bank

lain) ikut dibiayai dari modal sendiridisamping memperoleh dana-dana dari

sumber-sumber diluar bank.Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut (SE BI No

6/73/INTERNm DPNP tgl 24 Desember 2004):

Modal Bank

(52)

35

3.4.3 Beban Operasi terhadap Pendapatan Operasi (BOPO)

Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untukmengukur

kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biayaoperasional terhadap

pendapatan operasional. Semakin kecil rasio iniberarti semakin efisien biaya

operasional yang dikeluarkan bank yangbersangkutan sehingga kemungkinan

suatu bank dalam kondisibermasalah semakin kecil. Biaya operasional dihitung

berdasarkanpenjumlahan dari total beban bunga dan total beban operasional

lainnya.Pendapatan operasional adalah penjumlahan dari total pendapatan

bungadan total pendapatan operasional lainnya.

Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (SE BI No 6/73/INTERNDPNP tgl 24

Desember 2004):

Total Beban Operasional BOPO = ---

Total Pendapatan Operasional

3.4.4 Non Performing Loan (NPL)

Rasio Kredit diproksikan dengan Non Performing Loan (NPL), yangmerupakan

perbandingan antara total kredit bermasalah terhadap totalkredit yang diberikan.

Credit Risk adalah risiko yang dihadapi bank karenamenyalurkan dananya dalam

bentuk pinjaman kepada masyarakat(Masyud Ali, 2006). Karena berbagai sebab,

debitur mungkin saja menjaditidak memenuhi kewajibannya kepada bank seperti

pembayaran pokokpinjaman, pembayaran bunga dll.

Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (SE BI No 6/73/INTERNDPNP tgl 24

(53)

36

Total Kredit Bermasalah

NPL = --- Total Kredit

3.4.5 Net Interest Margin (NIM)

Net Interest Margin (NIM) digunakan sebagai proksi dari RasioPasar. Net Interest

Margin (NIM) merupakan perbandingan antarapendapatan bunga bersih terhadap

rata-rata aktiva produktifnya.

Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (SE BI No 6/73/INTERNDPNP tgl 24

Desember 2004):

Pendapatan Bunga Bersih

NIM = --- Rata-Rata Aktiva Produktif

3.4.6 Loan to Deposit Ratio (LDR)

Rasio likuiditas diproksikan dengan LDR, yang merupakan rasiokredit yang

diberikan terhadap dana pihak ketiga (Giro,Tabungan,Sertifikat Deposito, dan

Deposito). LDR ini dimaksudkan untukmengukur kemampuan bank dalam

memenuhi pembayaran kembalideposito yang telah jatuh tempo kepada

deposannya serta dapat memenuhipermohonan kredit yang diajukan tanpa terjadi

(54)

37

Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (SE BI No 3/30DPNP tgl 14Desember

2001):

Total Kredit

LDR = --- Total Dana Pihak Ketiga

3.5 Teknik Analisis Data

3.5.1 Analisis Kinerja Perbankan

Analisis kinerja perbankan dilakukan dengan menghitung rasio-rasiokeuangan,

yaitu CAR (Capital Adequacy Ratio), Biaya Operasionalterhadap Pendapatan

Operasional (BOPO), NPL (Non Performing Loan),NIM (Net Interest Margin),

dan LDR (Loan to Deposit Ratio), yangkemudian masing-masing rasio tersebut

diuji pengaruhnya terhadap rasioROA (Return on Asset).

3.5.2 Analisis Regresi Berganda

Metode analisis yang digunakan adalah model regresi linier bergandayang

persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3+ b4X4 +b5X5 + e…...….... (8) dimana:

Y = Return on Asset (ROA) perbankan di BEJ

a = konstanta

X1 = Capital AdequacyRatio (CAR)

X2 = Biaya Operasi/Pendapatan Operasi (BOPO)

X3 = Non Performing Loan (NPL)

(55)

38

X5 = Loan to Deposit Ratio (LDR)

b1, …, bn = Koefisien regresi

e = error term

Nilai koefisien regresi disini sangat menentukan sebagai dasaranalisis, mengingat

penelitian ini bersifat fundamental method. Hal iniberarti jika koefisien b bernilai

positif (+) maka dapat dikatakan terjadipengaruh searah antara variabel

independen dengan variabel dependen,setiap kenaikan nilai variabel independen

akan mengakibatkan kenaikanvariabel dependen. Demikian pula sebaliknya, bila

koefisien nilai bbernilai negatif (-), hal ini menunjukkan adanya pengaruh negatif

dimanakenaikan nilai variabel independen akan mengakibatkan penurunan

nilaivariabel dependen.

3.5.3 Pengujian Hipotesis

Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapatdiukur dari

goodness of fit nya. Secara statistik, setidaknya ini dapatdiukur dari nilai statistik

t, nilai statistik F, dan nilai koefisiendeterminansi (R2). Perhitungan statistik

disebut signifikan secara statistik,apabila uji nilai statistiknya berada dalam daerah

kritis (daerah dimana Hoditolak). Sebaliknya, disebut tidak signifikan bila uji nilai

statistiknyaberada dalam daerah dimana Ho diterima.

3.5.3.1 Uji t

Uji t digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh rasiokeuangan perbankan

(56)

39

digunakan untuk menguji hipotesis Ha1, Ha2,Ha3, Ha4, Ha5. Langkah–langkah

pengujian yang dilakukan adalahsebagai berikut (Gujarati, 1995):

a. Merumuskan hipotesis (Ha)

Ha diterima: berarti terdapat pengaruh yang signifikan

antaravariabel independen terhadap variabel dependen

(kinerjaperbankan) secara parsial.

b. Menentukan tingkat signifikansi (α) sebesar 0,05

c. Membandingkan thitung dengan ttabel,. Jika thitung lebih besar

dari t table maka Ha diterima.

3.5.3.2 Uji F

Uji F digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh CAR(Capital Adequacy

Ratio), Biaya Operasi/Pendapatan Operasi(BOPO), NPL (Non Performing

Loan), NIM (Net Interest Margin),dan LDR (Loan to Deposit Ratio) terhadap

Return on Asset (ROA)secara simultan. Langkah–langkah yang dilakukan adalah

(Gujarati,1995):

a. Merumuskan Hipotesis (Ha)Ha diterima: berarti terdapat pengaruh yang

signifikan antaravariabel independen terhadap variabel dependen secara

simultan.

b. Menentukan tingkat signifikansi yaitu sebesar 0.05 (α=0,05)

(57)

53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Perkembangan kinerja keuangan BankMandiri dan Bank Swasta selama periode

2010 – 2012 sebagai berikut:

a. Captal Adequacy Ratio

Rata-rata rasio CAR BankMandiri periode 2010 – 2012 yaitu

18.84% dan rata-rata CAR BCA yaitu 13,60%. Kinerja keuangan

BankMandiri dari segi CAR lebih baik jika dibandingkan dengan

BCA .

b. Non Performing Loan

Rata-rata rasio NPL BankMandiri periode 2010 – 2012 yaitu

4.99% dan rata-rata NPL BCA yaitu 3.22%. Kinerja keuangan

keuangan BCA dari segi NPL lebih baik jika dibandingkan dengan

BankMandiri .

c. BOPO

Rata-rata rasio BOPO BankMandiri periode 2010 – 2012 yaitu

65.28% dan rata-rata BOPO BCA yaitu 82.98%. Kinerja keuangan

keuangan BankMandiri dari segi BOPO lebih baik jika

(58)

54

d. Return on Assets

Rata-rata rasio ROA BankMandiri periode 2010 – 2012 yaitu

1.56% dan rata-rata ROA BCA yaitu 1.23%. Kinerja keuangan

keuangan BankMandiri dari segi ROA lebih baik jika

dibandingkan dengan BCA .

e. Loan to Deposit Ratio

Rata-rata rasio LDR BankMandiri periode 2010 – 2012 yaitu

91.72% dan rata-rata LDR BCA yaitu 97.63%. Kinerja keuangan

keuangan BankMandiri dari segi LDR lebih baik jika

dibandingkan dengan BCA .

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, disampaikan saran sebagai berikut :

1. Bagi BankMandiri dihaharapkan bank mampu mempertahankan

meningkatkan kinerja keuangannya agar dapat menambah nilai bank itu

sendiri. Bagi BankMandiri diharapkan mampu mempertahankan atau

meningkatkan profitabilitas bank agar dapat menarik minat investor untuk

menanamkan modalnya.

2. Bagi BCA harus mampu meningkatkan kinerjanya sebaik kinerja yang

telah dicapai oleh bankMandiri , sehingga bank swastapun dapat dijaldikan

pilihan investasi bagi para investor.

3. Bagi penelitian yang akan datang sebaiknya menambah periode penelitian,

atau mengganti periode penelitian dengan periode triwulan atau

(59)

55

periode per-tahun, sehingga bisa dijadikan perbandingan antara penelitian

(60)

DAFTAR PUSTAKA

Adeyemi-Bello, Tope, ”The Performance Implications for retail banks ofmatching

Organization Strategies with Structure and Competition”,International

Journal of Management, 2000, vol.17, pp.443.

Achmad, Tarmizi & Willyanto K. Kusumo, 2003, “Analisis Rasio -RasioKeuangan sebaai Indikator dalam Memprediksi Potensi

KebangkrutanPerbankan di Indonesia”, Media Ekonomi dan Bisnis,

Vol.XV, No.1,Juni, pp.54-75.

Ali, Masyhud, 2004, Asset Liability Management : Menyiasati Risiko Pasardan Risiko Operasional, PT.Gramedia Jakarta.

___________, 2006, Manajemen Risiko : Strategi Perbankan dan Duniam Usaha Menghadapi Tantangan Globalisasi Bisnis, Rajawali Pers,Jakarta.

Bank Indonesia, 2012, Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan, www.bi.go.id

Ghozali, Imam, 2005, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS,Edisi 3, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Gujarati, Damodar N., 1995, Basic Econometrics, Edisi 3, Mc-Grawhill, NewYork.

Hanafi, Mamduh M., Manajemen, 1999, YKPN, Yogyakarta

Haryati, Sri, 2001, ”Analisis Kebangkrutan Bank”, Jurnal Ekonomi dan

BisnisIndonesia, Vol.16, No.4, pp.336-345.

__________, & Djoko Budi Santoso, 2001, ”Kinerja Keuangan Bank-Bank

BekuOperasi, Rekapitalisasi, dan Sehat Tahun 1992-1998”, Ventura, Vol.4,No.2, September, pp.97-107.

Hempel, George H., Alan B. Coleman, Donald G. Simonson, 1986, BankManagement Text And Cases, John Wilry and Sons.

Figur

Tabel    Halaman

Tabel Halaman

p.15

Referensi

Memperbarui...