Hotel Wisata Sumatera Utara

106  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. 2012. Jumlah Tamu pada Hotel Bintang di Provinsi Sumatera Utara 2012, (Online),

(http://sumut.bps.go.id/?opt=1&qw=tstasek&kd=2401, diakses 12 April 2016).

De Chiara, John, Joseph & Callender. 1973. Times Saver Standard For Building Type. New York: Mc Graw Hill Book Company.

D.K.Ching, Francis.1999. Arsitektur: Bentuk, Ruang dan Susunannya. Cetakan ke-7. Jakarta: Erlangga.

http://www.pemkomedan.go.id. Diakses tanggal 25 April 2016

Jimmy S. Juwana. 2004. Sistem Bangunan Tinggi. Jakarta: Pernerbit Erlangga Kasarda, John D. 2008. Shopping in the Airport City and Aerotropolis, Research Review 15 (2): 50-56.

Kasarda, John D., dan Lindsay, Greg. 2011. Aerotropolis: The Way We’ll Live Next. New York: Farrar, Straus, and Giroux.

Kecamatan Tanjung Morawa Dalam Angka. 2010.

Neufert, Ernst. 1997. Data Arsitek Jilid I Edisi 33, Terjemahan Sunarto Tjahjadi. Jakarta: PT. Erlangga.

RDTR Kecamatan Tanjung Morawa, Bappeda Kabupaten Deli Serdang, 2012.

Schodek, Daniel L. 1999. Struktur, edisi kedua, terj. Ir. Bambang Suryoatmono, M.Sc., Ph.D. Jakarta : Erlangga.

Setyawarman, Adityo. 2009. Pola Sebaran dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Retail Modern (Studi Kasus Kota Surakarta). Tesis. Tidak dipublikasikan. Semarang: Universitas Diponegoro.

(2)

www.wikipedia.org/pariwisata diakses pada tanggal 25 Juni 2016

(3)

BAB III

DESKRIPSI PROYEK 3.1 Terminologi Judul

Judul kasus yang diambil pada proyek Tugas Akhir ini adalah “Hotel Wisata Sumatera Utara” untuk memahami judul yang diambil, maka akan dibahas masing – masing kata yang membentuk judul tersebut.

Hotel. Menurut AHMA (American Hotel and Motel Association) hotel adalah sebuah bangunan yang dikelola secara komersial, dengan memberikan fasilitas penginapan untuk umum dengan fasilitas pelayanan pelayanan makan dan minum, pelayanan kamar, pelayanan barang bawaan, pelayanan penyucian pakaian, dan dapat menggunakan fasilitas perabotan, serta menikmati hiasan – hiasan yang ada di dalamnya.

Pengertian Hotel menurut SK Menparpostel No KM 34/HK103/MPPT87 menyebutkan hotel adalah “suatu jenis Akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa pelayanan penginapan, makan dan minuman, serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial serta memenuhi persyaratan yang ditetapkan didalam keputusan pemerintah”.

Wisata. Menurut Soetomo (1994:25) yang di dasarkan pada ketentuan WATA (World Association of Travel Agent = Perhimpunan Agen Perjalanan Sedunia), wisata adalah perjalanan keliling selama lebih dari tiga hari, yang diselenggarakan oleh suatu kantor perjalanan di dalam kota dan acaranya antara lain melihat – lihat di berbagai tempat atau kota baik di dalam maupun di luar negeri.

Menurut undang – undang pemerintah nomor 10 tahun 2009 tentang

kepariwisataan “Wisata adalah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau

kelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari daya tarik wisata yang dikunjunginya

(4)

Sumatera Utara. Provinsi Sumatera Utara terletak pada 1°-4° Lintang Utara dan 98°-100° Bujur Timur, Luas daratan Provinsi Sumatera Utara 71.680 km². Sumatera Utara pada dasarnya dapat dibagi atas Pesisir Timur, Pegunungan Bukit Barisan, Pesisir Barat, dan Kepulauan Nias. Sumatera Utara merupakan provinsi multi etnis dengan suku Melayu, Batak,Dan Nias sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir Timur Sumatera Utara pada umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai Barat dari Barus hingga Natal banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah sekitar Danau Toba bayak dihuni suku Batak yang sebagian besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada di Kepulauan sebelah barat.

Berdasarkan pengertian di atas, maka Hotel Wisata Sumatera Utara adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian bangunan untuk menyediakan jasa pelayanan penginapan, makan dan minuman dan sebagian lain untuk mendapatkan informasi tentang kebudayaan Sumatera Utara yang berupa galeri budaya dan pusat oleh-oleh.

3.2. Lokasi

3.2.1. Kriteria Pemilihan Lokasi

Tabel 3.1 Pemilihan Lokasi Site

Kriteria Pemilihan Lokasi Kriteria Penilaian

1 2 3 4

Pencapaian  Mudah dicapai dari

(5)

kualanamu

 Akses dari luar kota menuju kualanamu melewati site Site mudah dicapai

melalui jalan primer

 Kemacetan (macet – lancar)

Lingkungan

 Kepadatan penduduk (tinggi - rendah)  Kebisingan sekitar (bising – sepi)  Fasilitas umum

1. Mesjid 2. Minimart 3. Rumah makan 4. Terminal

(jauh – dekat)

Utilitas

 Jaringan listrik masuk ke dalam site

(sulit – mudah) Jaringan air masuk ke

dalam site Drainase

(6)

LOKASI 1

Gambar 3.1 Lokasi 1

Lokasi lahan : Pesimpangan Jalan Batang Kuis dan Jalan Medan Raya Luas lahan : 1,5 ha

Batas site : Utara = komplek perumahan ptpn 2 Timur = tamora golf club

Selatan = kantor ptpn 2

(7)

LOKASI 2

Gambar 3.2 Lokasi 2

Lokasi lahan : Jalan Raya Medan Luas lahan : 1,5 ha

Batas site : Utara = tamora golf club Timur = sungai

(8)

LOKASI 3

Gambar 3.3 Lokasi 3

Lokasi lahan : Jalan Raya Medan Luas lahan : 1,5 ha

(9)

3.2.2 Deskripsi Kondisi Eksisting Lokasi

(10)

Utilitas

Jalur utilitas mudah dijangkau

(4)

Jalur utilitas mudah dijangkau

(4)

Jalur utilitas mudah dijangkau

(4)

Total nilai 24 31 29

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa lokasi site yang berpotensi untuk dibangunnya proyek adalah lokasi site nomor 2.

3.2.3 Deskripsi Kondisi Lokasi Terpilih

Gambar 3.4 Lokasi 4 Lokasi lahan : Jalan Raya Medan

Batas site : Utara = tamora golf club Timur = sungai

Selatan = Jalan Medan Raya Barat = tamora golf club Fungsi Lahan : Ruang Terbuka Hijau

GSB : 15 m

KDB : 80%

(11)

3.3 Tinjauan Fungsi

Berikut ini akan diuraikan beberapa tinjauan fungsi seperti studi banding, pengguna, kegiatan, kebutuhan ruang, dan persyaratan ruang.

3.3.1 Studi Banding Proyek Sejenis

3.3.1.1 Golden Palace Hotel, Mataram, Lombok

Gambar 3.5 Golden Palace Hotel Lombok Sumber: www.google.com

(12)

Berikut adalah beberapa fasilitas yang terdapat di Hotel Golden Palace Lombok :

Tabel Fasilitas Kamar Hotel Golden Palace Lombok

No. Jenis Kamar Fasilitas Ukuran Gambar

1. Superior

-Kamar Tidur -Kamar Mandi -Teras

32

2. Deluxe

-Kamar Tidur -Kamar Mandi -Teras

50

3 Suite

-Kamar Tidur -Kamar Mandi -Teras

68

4 President Suite

-Kamar Tidur -Kamar Mandi -Ruang Tamu -Teras

-Dapur

(13)

Tabel Fasilitas Pendukung Hotel Golden Palace Lombok

No. Fasilitas Keterangan Gambar

1 Meeting Room -Conference & Meeting

- Ballroom

2 Sky Lounge

3 Rooftop Grden

4 SPA - Massage

(14)

5 Fitness Center

6 Karoke Room - Standar Room

- VIP Room

7 2 Restaurant  Cendrawasih Restaurant

 Merak Restaurant

(15)

3.3.1.2 UPTD Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta

Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Selainkeramik pada zaman Neolitik dan patung perunggu dari abad ke-8, museum ini juga menyimpan beberapa macam bentuk wayang kulit, berbagai senjata kuno (termasuk keris), dantopeng Jawa.

(16)

Fasilitas UPTD Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta a. Pendopo

Bila pengunjung ingin memasuki Museum Sonobudoyo, terlebih dahulu akan melewati sebuah Pintu Gerbang yangg berbentuk Semar Tinandu, dan beratapkan model joglo. Di dinding bagian dalam gapura sisi Timur terdapat

Prasasti dengan Candra Sengkala “Kayu Winayang Ing Brahmana Budha”, yang

berarti Tahun 1886 (Tahun Jawa), atau 1935 Masehi, dimana Museum Sonobudoyo didirikan.

Gerbang dan Pendopo UPTD Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta

Interior Pendopo

UPTD Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta

(17)

Gamelan Kyai dan Nyai Ririrs Manis, Gaya Yogyakarta yang bernada Slendro dan Pelog.

b. Auditorium

Masyarakat pada umumnya telah mengenal adanya Museum Negeri Sonobudoyo dengan Benda Koleksi yang dipamerkan, akan tetapi belum kenal betul tentang aktifitas dan fasilitas yang ada dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, adapun nama ruang tersebut adalah Ruang Auditorium dan Ruang Serbaguna.Ruang Auditorium, terletak didalam kompleks Gedung Museum Sonobudoyo Unit I, Jl. Trikora No 6 Yogyakarta, dibagian sisi sebelah Barat. Gedung terdiri dua lantai, adapun pengunaannya adalah untuk menyelenggarakan kegiatan seperti Seminar, Sarasehan, Ceramah, Workshop, Rapat Kerja, dan lain sebagainya.

Kapasitas ruang : Lantai pertama 75 orang Lantai dua 100 orang

Sarana yang tersedia dalam ruang : AC, Sound System, Kursi kuliah, dan Meja Seminar.Ruang Serbaguna, terletak Di Museum Negeri Sonobudoyo Unit II, Jl. Mijilan No I , Dalem Condrokiranan Yogyakarta (Sebelah Tenggara Museum Negeri Sonobudoyo Unit I). Pengunaan ruang tersebut adalah untuk acara Upacara Pernikahan Gaya Yogyakarta, Seminar, Ceramah, Sarasehan, Rapat - Rapat dan lain sebagainya.Kapasitas Gedung : 500 OrangSarana yang tersedia : AC, Sound system, kursi lipat , meja seminar dan ruang untuk transit dengan kapasitas 15 Orang.

c. Laboratorium Konservasi

(18)

koleksi, sehingga keselematan benda koleksi tersebut akan lebih terjamin keamanannya dari kerusakan yang diakibatkan karena faktor iklim maupun usia. Beberapa peralatan telah dimiliki oleh laboratorium baik untuk analisa maupun melakukan treatment terhadap koleksi.

3.3.2 Deskripsi Penggunaan Dan Kegiatan

Berdasarkan deskripsi pengguna dan kegiatannya, pengguna bangunan galeri ini terdiri dari tiga kelompok besar, yaitu:

Pengunjung galeri

a. Pengunjung adalah warga yang berdomisili di kota Medan serta turis dalam dan luar negri

b. Kegiatan yang dilakukan pengunjung:

 Menonton pertunjukan atau melihat pameran  Rekreasi

Diagram 3.1 Kegiatan Pengunjung  Pengelola galeri

(19)

Diagram 3.2 Kegiatan Pengelola

Pelayanan servis

Pelayanan servis adalah kelompok pengguna bangunan yang kegiatannya berhubungan dengan kebersihan bangunan, merawat fasilitas dan utilitas bangunan.

(20)

3.3.3 Deskripsi Kebutuhan Ruang Dan Besaran Ruang

Tabel 3.3 Deskripsi Kebutuhan Ruang dan Zona Kelompok

tiket Ruang loket Menitip

penunjang Galeri Pengunjung

(21)
(22)

R. pengatur kebudayaan Sumater Utara ini adalah tema arsitektur Neo-Vernakular.

3.4.1 Studi Banding Proyek dengan Tema Sejenis 3.4.1.1 Mesjid Kudus

Sejarah Singkat Masjid Kudus Jawa Tengah

Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrab masjid yang ditulis dalam bahasa Arab.

Bagian-bagian masjid kudus

(23)

Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempatkhatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang Kembar".

Gambar 3.13 Penyanggah kubah masjid kudus

Di komplek Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan buah. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.

(24)

Gambar 3.14 makam sunan kudus jawa tengah

Gambar 3.15para peziarah di makam sunan kudus

(25)

3.4.2 Pengertian Arsitektur Neo Vernakular

Arsitektur neo-vernakular, tidak hanya menerapkan elemen-elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern tapi juga elemen non fisik seperti budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak, religi dan lain-lain.

Bangunan adalah sebuah kebudayaan seni yang terdiri dalam pengulangan dari jumlah tipe-tipe yang terbatas dan dalam penyesuaiannya terhadap iklim lokal, material dan adat istiadat. (Leon Krier).

Neo berasal dari bahasa yunani dan digunakan sebagai fonim yang berarti baru. Jadi neo-vernacular berarti bahasa setempat yang di ucapkan dengan cara baru, arsitektur neo-vernacular adalah suatu penerapan elemen arsitektur yang telah ada, baik fisik (bentuk, konstruksi) maupun non fisik (konsep, filosopi, tata ruang) dengan tujuan melestarikan unsur-unsur lokal yang telah terbentuk secara empiris oleh sebuah tradisi yang kemudian sedikit atau banyaknya mangalami pembaruan menuju suatu karya yang lebih modern atau maju tanpa mengesampingkan nilai-nilai tradisi setempat.

Arsitektur Neo-Vernacular merupakan suatu paham dari aliran Arsitektur Post-Modern yang lahir sebagai respon dan kritik atas modernisme yang mengutamakan nilai rasionalisme dan fungsionalisme yang dipengaruhi perkembangan teknologi industri. Arsitektur Neo-Vernacular merupakan arsitektur yang konsepnya pada prinsipnya mempertimbangkan kaidah-kaidah normative, kosmologis, peran serta budaya lokal dalam kehidupan masyarakat serta keselarasan antara bangunan, alam, dan lingkungan.

“Pada intinya arsitektur Neo-Vernacular merupakan perpaduan antara

bangunan modern dengan bangunan bata pada abad 19”

Batu-bata dalam kutipan diatas ditujukan pada pengertian elemen-elemen arsitektur lokal, baik budaya masyarakat maupun bahan-bahan material lokal.

(26)

Arsitektur neo-vernakular, banyak ditemukan bentuk-bentuk yang sangat modern namun dalam penerapannya masih menggunakan konsep lama daerah setempat yang dikemas dalam bentuk yang modern. Arsitektur neo-vernakular ini menunjukkan suatu bentuk yang modern tapi masih memiliki image daerah setempat walaupun material yang digunakan adalah bahan modern seperti kaca dan logam. Dalam arsitektur neo-vernakular, ide bentuk-bentuk diambil dari vernakular aslinya yang dikembangkan dalam bentuk modern.

3.4.3 Ciri-Ciri Gaya Arsitektur Neo Vernakular

Dari pernyataan Charles Jencks dalam bukunya “Language of Post-Modern Architecture” maka dapat dipaparkan ciri-ciri Arsitektur Neo-Vernacular sebagai berikut :

Selalu menggunakan atap bumbungan

Atap bumbungan menutupi tingkat bagian tembok sampai hampir ke tanah sehingga lebih banyak atap yang di ibaratkan sebagai elemen pelidung dan penyambut dari pada tembok yang digambarkan sebagai elemen pertahanan yang menyimbolkan permusuhan.

Batu bata (dalam hal ini merupakan elemen konstruksi lokal)

Bangunan didominasi penggunaan batu bata abad 19 gaya Victorian yang merupakan budaya dari arsitektur barat.

Mengembalikan bentuk-bentuk tradisional yang ramah lingkungan dengan proporsi yang lebih vertikal.

Kesatuan antara interior yang terbuka melalui elemen yang modern dengan ruang terbuka di luar bangunan.

Warna-warna yang kuat dan kontras.

(27)

Hubungan antara kedua bentuk arsitektur diatas ditunjukkan dengan jelas dan tepat oleh Neo-Vernacular melalui trend akan rehabilitasi dan pemakaian kembali.

 Pemakaian atap miring

 Batu bata sebagai elemen local  Susunan masa yang indah.

Mendapatkan unsur-unsur baru dapat dicapai dengan pencampuran antara unsur setempat dengan teknologi modern, tapi masih mempertimbangkan unsur setempat.

c) Produk pada bangunan ini tidak murni menerapkan prinsip-prinsip bangunan vernakular melainkan karya baru (mangutamakan penampilan visualnya). 3.4.4 Tinjauan Arsitektur Neo Vernakular

(28)

Di dunia global, kata tradisional sering digunakan untuk membedakan

dengan modern. Di indonesia, sebutan yang berasal dari kata belanda “traditionell

Architecture”, pada waktu itu istilah ini diberikan untuk karya-karya arsitektur asli daerah di indonesia, salah satu alasannya adalah untuk membedakan jenis arsitektur yang timbul dan berkembang dan merupakan karakteristik suku-suku bangsa di indonesia dari jenis arsitektur yang tumbuh dan berkembang atas dasar pemikiran dan perkembangan arsitektur di Eropa, khususnya arsitektur kolonial Belanda. Kata tradisional berasal dari kata tradisi yang di indonesia sama artinya dengan adat, kata adat ini di adopsi dari bahasa Arab. Sehingga seringkali

bangunan tradisional disebut dengan “rumah adat”. Pada prinsipnya, baik di dunia

global dan indonesia, kata tradisional diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Selain itu istilah-istilah lain sering bersentuhan arti dan maknanya dengan vernakular arsitektur yaitu arsitektur rakyat (folk architecture), arsitektur lokal atau kontekstual (indigenous architecture) bahkan ada juga yang kemiripan dengan arsitektur alamiah (spontanous architecture). Secara garis arsitektur rakyat diartikan sebagai arsitektur yang menyimbolkan budaya suatu suku bangsa dengan beberapa atribut yang melekat dengannya. Sementara itu, arsitektur lokal atau kontekstual, adalah arsitektural yang beradaptasi dengan kondisi budaya, geografi, iklim dan lingkungan, dan arsitektur alamiah adalah arsitektur yang dibangun oleh satu masyarakat berdasarkan proses alamiah seperti kebutuhan dasar manusia.

(29)

3.4.5 Interpretasi Tema

Beberapa prinsip-prinsip desain yang terdapat dalam arsitektur Neo-Vernakular secara terperinci, yaitu :

a) Hubungan Langsung, merupakan pembangunan yang kreatif dan adaptif terhadap arsitektur setempat disesuaikan dengan nilai-nilai/fungsi dari bangunan sekarang.

b) Hubungan Abstrak, meliputi interprestasi ke dalam bentuk bangunan yang dapat dipakai melalui analisa tradisi budaya dan peninggalan arsitektur.

c) Hubungan Lansekap, mencerminkan dan menginterprestasikan lingkungan seperti kondisi fisik termasuk topografi dan iklim

d) Hubungan Kontemporer, meliputi pemilihan penggunaan teknologi, bentuk ide yang relevan dengan program konsep arsitektur

e) Hubungan Masa Depan, merupakan pertimbangan mengantisipasi kondisi yang akan datang.

(30)

BAB IV METODOLOGI

Dalam perancangan Taman Wisata Budaya Sumatera Utara ini terdapat kerangka kajian yang diuraikan dalam beberapa tahap antara lain :

4.1. Pencarian Ide / Gagasan

Tahapan kajian yang digunakan dalam pencarian ide Perancangan Taman Wisata Budaya Sumatera Utara adalah sebagai berikut :

1. Pencarian ide / gagasan dari sebuah pemikiran tentang sebuah tempat penginapan yang memiliki fasilitas penunjang rekreatif maupun wisata dengan mengembangkan potensi alam daerah perancangan atau site berada

2. Pemantapan ide perancangan melalui penulusuran informasi dan data – data arsitektural maupun non – arsitektural dari berbagai pustaka dan media sebagai bahan perbandingan dalam pemecahan masalah.

3. Dari pengembangan ide rancangan yang diperoleh, kemudian akan dituangkan ke dalam analisa dan konsep.

4.2. Metode Pengumpulan Data

Metode pembahasan yang dipakai dalam penyusunan laporan penelitian ini adalah metode deskriptif ,yaitu memaparkan data – data, menguraikan , menjelaskan, baik itu data primer maupun data sekunder berdasarkan fakta yang ada (aktual), lalu kemudian dianalisa unntuk menghasilkan suatu kesimpulan. Oleh karena itu untuk dapat melakukan perencanaan dan perancangan sebuah Taman Wisata Budaya Sumatera Utara ini, maka diperlukan data – data :

4.2.1. Data Primer

(31)

1. Survey Lapangan dengan cara melakukan penganmatan langsung mengenai objek yang akan dituju seperti lokasi tapak perencanaan.

2. Dokumentasi adalah metode yang bertujuan untuk memperkuat dari metodedi atas yang merupakan data bersifat nyata dan memperjelas data – data yang akan digunakan dalama analisa.

4.2.2. Data Sekunder

Data yang didapat dari studi literature yang berhubungan dengan pembuatan konsep bangunan taman budaya. Studi Literatur, didapat dari buku – buku dan situs resmi yang berkaitan dengan taman wisata budaya dan literature lainnya yang mendukung.

4.2.3. Analisa dan Kesimpulan

Analisa data dilakukan secara kualitatif yaitu menganalisa terhadap aspek pelaku kegiatan, kebutuhan ruang, penataan ruang dan sirkulasi, kemudian dianalisa secara kuantitatif yaitu menganalisa terhadap kapasitas ruang dan besaran ruang serta pendekatan mengenai lokasi dan tapak. Adapun analisis yang dapat mempengaruhi perancangan Taman Wisata Budaya Sumatera Utara ini antara lain :

1. Analisa Tapak

Untuk tapak taman wisata budaya di kualanamu kabupaten Deli Serdang penentuan lokasi tapak disesuaikan dengan tata guna lahan yaitu kawasan ruang terbuka hijau.

2. Analisa Fungsi

(32)

memberikan kemudahan bagi wisatawan untuk membawa buah tangan ke tempat asalnya.

3. Analisa Aktivas Penguna

Pelaku aktivitas pada Hotel Wisata Sumatera Utara dapat dibagi atas beberapa kelompok, yaitu :

 Kelompok Pengelola  Kelompok Penyewa  Kelompok Pengunjung

4. Analisa Ruang

Dalam menyusun program ruang hotel digunakan data statistic perhotelan dan wisatawan untuk menentukan jumlah pengunjung dan kebutuhan kamar. Selain itu juga dilakukan studi banding terhadap bangunan hotel wisata yang mempunyai kesamaan tema dan fungsi untuk membantu dalam penentuan fasilitas dan ruang yang dibutuhkan pada hotel.Sama halnya dengan taman budaya dan pusat oleh – oleh.

5. Analisa Struktur

Persyaratan struktur meliputi struktur pondasi, struktur badan bangunan dan struktur atap dengan pertimbangan fungsi ruang, keamanan, keawetan, kekokohan, dan estetika bangunan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

(33)
(34)

BAB V ANALISA 5.1 Analisa Kondisi Tapak dan Lingkungan 5.1.1 Lokasi

Lokasi site terletak di Kabupaten Deli Sedang, tepatnya di simpang Jl. Batangkuis dan Jl. Medan – Lubuk Pakam, Kelurahan Buntu Bedimbar, Kecamatan Tanjung Morawa, Provinsi Sumatera Utara.

(35)

Lokasi berada di Kabupaten Deli Serdang. Kabupaten Deli Serdang adalah sebuah kabupaten di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Ibukota kabupaten ini berada di LubukPakam.

Kabupaten Deli Serdang dikenal sebagai salah satu daerah dari 33 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki keanekaragaman sumber daya alamnya yang besar sehingga merupakan daerah yang memiliki peluang investasi cukup menjanjikan.

Bandar udara baru untuk kota Medan yang menggantikan Polonia, Bandara Kuala Namu, terletak di kabupaten ini.

5.1.2. Kondisi dan Potensi Lahan  DESKRIPSI PROYEK

(36)

Gambar 5.3 Deskripsi Site (2)

 ANALISA SIRKULASI

(37)

Gambar 5.5 Analisa Sirkulasi (2)

 ANALISA VIEW

(38)

 ANALISA KEBISINGAN

Gambar 5.7 Analisa Kebisingan

 ANALISA IKLIM

(39)

 ANALISA UTILITAS DAN VEGETASI

Gambar 5.9 Analisa Utilitas dan Vegetasi

 ANALISA PENCAPAIAN

(40)

 KEISTIMEWAAN SITE / POTENSI

Gambar 5.11 Analisa Potensi Site 5.2 Analisa Fungsional

5.2.1 Analisa Pengunjung

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, jumlah tamu pada hotel bintang di Sumatera Utara pada tahun 2009 – 2014 adalah sebagai berikut :

Tabel 5.1 Jumlah Tamu pada Hotel Bintang di Provinsi Sumatera Utara, 2013 -2014

Deli Serdang

Tamu pada Hotel Bintang (Jiwa)

2009 2010 2011 2012 2013 2014

(41)

Sedangkan Tingkat Penghunian Kamar Hotel dan Akomodasi Lainnya di Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat di tabel yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara ini.

Tabel 5.2 Tingkat Penghunian Kamar Hotel dan Akomodasi Lainnya Tingkat Penghunian Kamar Hotel dan Akomodasi Lainnya Deli

Serdang

2009 2010 2011 2012 2013

45,31% 53,06% 52,06% 43,59% 37,80% Sumber : BPS Sumatera Utara

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa perkiraan jumlah tamu hotel yang datang ke Sumatera Utara dan menginap di hotel di Kabupaten Deli Serdang (pada tahun 2013) adalah sebesar 37,80% dari 2.643.400 jiwa adalah sebanyak 999.205 jiwa.

Serta lamanya waktu menginap tamu hotel di Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat di tabel yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara ini.

Tabel 5.3 Rata – rata Lama Inap Tamu Hotel dan Akomodasi Lainnya (hari) Rata – rata Lama Inap Tamu Hotel dan Akomodasi Lainnya (Hari) Deli

Serdang

2009 2010 2011 2012 2013

1,37 1,24 1,38 1,23 1,01

Sumber : BPS Sumatera Utara

(42)

5.2.2 Analisa Kebutuhan Ruang, Program dan Besaran Ruang

Berdasarkan jumlah wisatawan yang diprediksi, maka jumlah kamar yang diperlukan dapat dihitung dengan rumus :

Jumlah Kamar = Keterangan :

P : Proyeksi jumlah wisatawan

l : Lama menginap (diprediksi 1 hari) 60% : Room occupancy rates

1,75 : Indeks jumlah orang per kamar 365 : Jumlah hari dalam 1 tahun Jumlah Kamar =

= 521 kamar

Dari data Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang, dapat diperoleh unit kamar hotel berbintang yang sudah tersedia di Kabupaten Deli Serdang dari tahun 2011-2013 adalah :

Tabel 5.4 Banyaknya Unit Akomodasi Tahun 2011 – 2013 Banyaknya Unit Akomodasi Kamar Hotel Deli

Serdang

Bintang 1 Bintang 2 Bintang 3 Bintang 4 Bintang 5

- 221 - - -

Banyaknya Unit Akomodasi Kamar dan Tempat Tidur Hotel Berbintang dan Akomodasi Lainnya, 2011 – 2013

Sumber : BPS Sumatera Utara

(43)

Berdasarkan hasil analisa aktivitas, perhitungan yang mengacu pada data Badan Pusat Statistik tentang jumlah pengunjung, maka diperoleh kebutuhan ruang dan besaran ruang sebagai berikut.

Tabel 5.5 Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang

Kebutuhan

Ruang

Sub. Kebutuhan

Ruang

Standart Sumber Kapasitas Luas

HOTEL

Kamar Hotel Standart Room Deluxe Room

Total luas kamar + sirkulasi (30%) = 1.435,2

Public

Total luas restoran buffet + sirkulasi (30%) = 317,2

 Coffee

Total luas coffee shop + sirkulasi (30%) = 202,8

 Lounge &

(44)

R. Makan

Total luas lounge & bar + sirkulasi (30%) = 240,5

Lobby  Entrance

Total luas lobby + sirkulasi (30%) = 254,8

Galeri Kantor

Total luas area rekreasi + sirkulasi (30%) = 3228,68

(45)

Oleh- R.

Total luas Pusat Oleh-oleh + sirkulasi (30%) = 548,8

Fasilitas

Total luas fitness center + sirkulasi (30%) = 120,25

 Sauna & Spa

Total luas sauna & spa + sirkulasi (30%) = 122,2

(46)

 Room Dept.

Total luas kantor pengelola + sirkulasi (30%) = 223,6

R.

Total luas ruang housekeeping/laundry + sirkulasi (30%) = 150,8

Ruang ME R. Genset

Total luas ruang me (termasuk sirkulasi + 30%) = 140

(47)

5.2.3 Analisa Fasilitas Parkir

 Parkir Pengunjung

Berdasarkan prediksi diatas, jumlah pengunjung Hotel Wisata Sumatera Utara adalah 199.841 wisatawan. Dengan perhitungan jumlah kamar hotel yang

ada di “Hotel Wisata Sumatera Utara”, maka jumlah pengunjung adalah sebanyak

±500 wisatawan/hari.

Asumsi pembagian pengendara kendaraan adalah sebagai berikut : -Mengendarai sepeda motor : 50% (250 orang)

-Mengendarai mobil : 30% (150 orang) -Kendaraan umum/bus : 20% (100 orang) -Berjalan kaki : 10% (50 orang)

Dengan asumsi 1 mobil dapat memuat 4 orang, 1 sepeda motor dapat memuat 2 orang, dan 1 bus dapat memuat 20 orang, maka diperoleh :

-Jumlah sepeda motor yang parkir : 125 sepeda motor -Jumlah mobil yang parkir : 38 mobil

-Jumlah bus yang parkir : 5 bus

Berdasarkan standar yang diperoleh dari Neufert Data Arsitek, maka dapat diperoleh luasan parkir kendaraan pengunjung sebagai berikut :

-Parkir sepeda motor : 125 x 2 = 250 -Parkir mobil : 38 x 12,5 = 475 -Parkir bus : 5 x 20 = 100

(48)

 Parkir Pengelola

Jumlah seluruh pengelola “Hotel Wisata Sumatera Utara” adalah 75 orang. Dengan asumsi pembagian persentase pengendara kendaraan, maka :

- Pengelola dengan mobil : 25 orang - Pengelola dengan sepeda motor : 50 orang

Dengan asumsi 1 mobil memuat 1 orang dan 1 sepeda motor memuat 1 orang, berdasarkan Neufert Data Arsitek, maka diperoleh :

- Pengelola dengan mobil : 25 x 12,5 = 312,5 - Pengelola dengan sepeda motor : 50 x 2 = 100

Jadi luas lahan parkir untuk pengelola adalah : 412,5 .

Luas lahan parkir yang dibutuhkan secara keseluruhan adalah 1.237,5 .

5.2.4 Analisa Bentuk

Pemilihan bentuk dasar bangunan dipertimbangkan terhadap faktor-faktor : 1. Kesesuaian bentuk site

2. Orientasi bangunan 3. Konstruksi bangunan 4. Efisiensi ruang 5. Ekonomi bangunan

(49)

Tabel 5.4 Analisa Bentuk Dasar Bangunan

ke segala arah Tidak jelas Efisiensi struktur

dan konstruksi bangunan

Lebih mudah Cukup sulit Mudah

Efisiensi ruang Efisien Kurang efisien Tidak efisien Ekonomi

bangunan Lebih hemat Hemat Tidak ekonomis Kesan yang ingin

dicapai Baik Baik Kurang baik

Tanggapan : Berdasarkan faktor-faktor di atas dan bentuk lahan, maka

bentuk pola dasar bangunan “Wisata Budaya Sumatera Utara" didominasi oleh kotak.

5.3 Analisa Teknologi 5.3.1 Struktur

Struktur bangunan terdiri dari:

a. Pondasi Bangunan (Sub Structure)

b. Badan dan atap bangunan (Upper Structure) a. Pondasi Bangunan (Sub Structure)

(50)

1. Keadaan tanah pondasi

 Bila tanah pendukung pondasi terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter di bawah permukaan tanah, maka pondasinya yaitu pondasi telapak (spread foundation)

 Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman sekitar 10 meter dibawah permukaan tanah, maka dipakai pondasi tiang atau pondasi tiang apung (floating pile foundation) untuk memperbaiki kondisi tanah

 Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman sekitar 20 meter dibawah permukaan tanah, maka dipakai pondasi tiang pancang (pile driven foundation) bila tidak terjadi penurunan

 Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman sekitar 30 meter di bawah permukaan tanah, maka dipakai tiang baja atau tiang yang dicor ditempat

2. Batasan-batasan akibat konstruksi diatasnya, harus memperhatikan:  Kondisi beban

 Sifat dinamis bangunan

 Kegunaan dan kepentingan bangunan

3. Batasan-batasan dari sekelilingnya

(51)

Tabel 5.5 Jenis Pondasi tanah atas labil / lunak Pondasi tiang

strauss

>15m Beton bertulang cor ditempat

Tanah mudah dibor

Pondasi tiang Franky

10m-40m Beton bertulang cor ditempat

Lubang dibuat dengan alat penumbuk

Pondasi tiang bor 10m-40m Beton bertulang cor ditempat

Besar lubang seluas penampang dasar Pondasi sumuran <4m Batu pecah / beton Sumur seluas pondasi

setempat

Pondasi terapung +/-15m Beton bertulang Berfungsi sebagai dinding basement

b. Badan dan Atap Bangunan (Upper Structure) 1. Struktur badan

Pemilihan struktur badan berdasarkan pertimbangan:  Dapat memenuhi kebutuhan fungsi bangunan

 Keuntungan struktur yang ekonomis, tahan gempa dan mudah dalam pelaksanaannya.

Berdasarkan criteria diatas, maka pada bangunan galeri ini menggunakan system struktur truss / space frame dengan konstruksi baja.

Keuntungan struktur ini:  Mudah pelaksanaan  Tahan gempa  Ekonomis

(52)

5.3.2 Utilitas 5.3.2.1 Elektrikal

 Sumber arus dari PLN dan dari generator sebagai energi cadangan. Jika arus dari PLN padam, sebelum generator bekerja, digunakan satu daya bebas gangguan Uninterupted Power Supply (UPS)

 Penempatan generator di basemen  Penempatan Shaft Elektrikal pada Core

Diagram 5.4 Elektrikal 5.3.2.2Plumbing

 Air Kotor

Sebelum dibuang ke saluran pembuangan kota, air kotor harus melewati proses treatment terlebih dahulu

(53)

 Air Bersih

Sumber air bersih yang berasal dari PDAM, bila mengalami kerusakan, maka sumur bor akan digunakan sebagai sumber air cadangan

Diagram 5.6 Plumbing Air Bersih  Air Buangan

Sebelum dibuang ke saluran pembuangan kota, air buangan harus terlebih dahulu melalui proses treatment.

(54)

5.3.3 Sistem Pencahayaan  Pencahayaan alami

Dengan pemanfaatan sinar matahari sebagai pencahayaan alami pada ruang-ruang yang memungkinkan diberi bukaan jendela

 Pencahayaan buatan

Untuk ruang-ruang yang tertutup dan juga pada ruang-ruang tertentu yang bertujuan untuk menimbulkan suasana ruangan seperti lampu sorot (spot light)

Tabel 5.6 Perbandingan Cahaya Alami dan Buatan

Pencahayaan alami Pencahayaan buatan

- Biaya murah

- Pengaturan intensitas cahaya sulit

- Bergantung terhadap iklim dan cuaca

- Baik digunakan untuk ruangan dengan dimensi yang besar (hall atau area public)

- Biaya lebih mahal

- Intensitas cahaya dapat diatur - Sudut pencahayaan dapat dikontrol

- Baik digunakan untuk ruang-ruang khusus dan ruang-ruang dengan dimensi kecil

5.3.4 Sistem Pengkondisian Udara

Diagram 5.8 Sistem Udara Keterangan: Udara dingin

(55)

Tabel 5.7 Perbandingan Penghawaan Alami dan Buatan

Penghawaan Alami Penghawaan Buatan Keuntungan - Biaya lebih murah

- Dapat dimodifikasi untuk membentuk estetis

- Udara yang dialirkan dapat dibersihkan Kerugian - Kenyamanan yang

tercipta tidak dapat dikontrol

- Tidak dapat merata disetiap ruang - Bergantung terhadap

iklim terhadap

- Biaya lebih mahal - Dibutuhkan ruang

Kenyamanan thermal secara alami dapat diperoleh dengan cara: - Penggunaan sun screen dan shading

- Penggunaan kaca reflektif - Penggunaan system kaca ganda - Penggunaan air pendingin

- Penggunaan blower (roof fan) untuk mempercepat aliran udara Kenyamanan thermal secara buatan dapat diperoleh dengan cara:

- Penghawaan system AC Central

(56)

BAB VI

KONSEP PERANCANGAN

Pada bab ini diuraikan mengenai hasil analisis komprehensif yang digunakan sebagai alternatif pemecahan masalah, serta membahas konsep dasar, perancangan tapak, struktur dan utilitas bangunan.

6.1 Konsep Dasar

Konsep dasar perancangan “Hotel Wisata Sumatera Utara” ini menginterpretasikan penerapan arsitektur neo – vernakular yang memadukan arsitektur tradisional Batak Karo dan Batak Simalungun yang dikemas dengan nuansa modern, di mana diterapkan/ditransformasikan elemen-elemen fisik tetapi juga elemen non fisik seperti nilai-nilai budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak, religi, dan lain-lain ke dalam bentuk bangunan dan rancangan tapak. Sehingga tetap dapat melestarikan unsur-unsur budaya lokal dengan lapisan modernisasi. Dari segi tampak hotel, dapat terlihat jelas penerapan arsitektur neo – vernakular, yaitu perpaduan gaya arsitektur tradisional dan modern. Jendela pada hotel menggunakan gaya arsitektur modern dengan struktur modern namun dengan tambahan ornamen tradisional rumah adat Suku Karo.

(57)

6.2 Konsep Perancangan Tapak 6.2.1 Sirkulasi Kenderaan

Jalur sirkulasi pengunjung dan penglola masuk melalui pintu masuk utama dan keluar melalui pintu keluar di sebelah barat site. Jalur loading dock dirancang mengitari site, masuk melalui pintu sebelah timur dan keluar melalui pintu sebelah barat.

Gambar 6.2 Konsep Sirkulasi Kenderaan 6.2.2 Parkir

(58)

Gambar 6.3 Konsep Zona Parkir 6.3 Konsep Perancangan Bangunan

Konsep pembagian daerah fungsi pada denah adalah sebagai berikut.

(59)

Gambar 6.5 Penzoningan Lantai 2

(60)

Gambar 6.7 Penzoningan Lantai 4 dan 5

(61)

Gambar 6.9 Penzoningan Lantai 8 6.4 Konsep Struktur Bangunan

Pada bangunan hotel, struktur yang digunakan adalah struktur rigid frame, yang memiliki kemampuan untuk menahan gaya pada arah vertikal dan horizontal dengan stabil. Dengan struktur ini, maka dapat disusun layout ruang-ruang dalam yang lebih efisien. Untuk pondasi, bangunan hotel menggunakan pondasi tiang pancang dengan bahan beton bertulang, sehingga dapat menahan beban bangunan dengan baik.

(62)

Gambar 6.11 Detail Pondasi Tiang Pancang Pada Core Bangunan 6.5 Konsep Utilitas Bangunan

6.5.1 Konsep Penyediaan Air Bersih

Sumber air bersih berasal dari PDAM, bila mengalami kerusakan maka sumur bor akan digunakan sebagai sumber air cadangan.

Diagram 6.1 Sistem Skematik Air Bersih 6.5.2 Konsep Pembuangan Air Kotor

(63)

Diagram 6.2 Sistem Skematik Air Kotor 6.5.3 Konsep Penanggulangan Kebakaran

Pencegahan kebakaran berarti segala usaha yang dilakukan agar tidak terjadi penyalaan api yang tidak terkendali, salah satunya adalah melalui sistem deteksi awal untuk mengaktifkan alarm peringatan. Sedangkan penanggulangannya adalah untuk memadamkan penyalaan api yang tidak terkendali tersebut, yaitu sistem pemadaman yang diaktifkan alarm. Sistem deteksi awal kebakaran, yaitu :

1. Alat deteksi asap (Smoke Detector)

Mempunyai kepekaan tinggi dan akan memberikan alarm bila terjadi asap di dalam ruang tempat alat itu dipasang.

2. Alat deteksi nyala api (Flame Detector)

Dapat mendeteksi adanya nyala api yang tidak terkendali dengan cara menangkap sinar ultra violet yang dipancarkan nyala api tersebut.

Sistem pemadaman kebakaran terbagi atas tiga bagian, yaitu : 1. Pencegahan

a. Deteksi asap b. Deteksi panas 2. Penanggulangan

a. Fire Hydrant : Melayani area seluas 500-800 2. b. Fire Extinguser : Melayani area selauas 200-250 2. c. Pilar Hydrant : Diletakkar diluar bangunan.

(64)

Diagram 6.3 Sistem Skematik Kebakaran 6.5.4 Konsep Sistem Elektrikal

1. Sumber arus dari PLN. 2. Generator Set (Genset)

Untuk kebutuhan listrik pada saat terjadi pemadaman listrik PLN seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Minimal genset ini dapat menyuplai listrik 50% dari listrik yang dibutuhkan yaitu mencakup tenaga listrik utama, seperti penerangan umum, AC, pompa dan lift.

3. UPS (Uninterupted Power Supply)

(65)

BAB VII

PERANCANGAN ARSITEKTUR 7.1 Sketsa Suasana

Dibawah ini merupakan suasana kawasan Tongging Lakeside Leisure Resort yang terdiri dari Perspektif Suasana (Gambar 7.1), Perspektif Suasana Parkir Bus (Gambar 7.2), Perspektif Suasana Bangunan Hotel (Gambar 7.3), Perspektif Suasana Entrance Bangunan (Gambar 7.4), Interior Galeri (Gambar 7.5), Perspektif Suasana Outdoor Foodcourt (Gambar 7.6).

Gambar 7.1 Perspektif Suasana

(66)

Gambar 7.3 Perspektif Suasana Bangunan Hotel

(67)

Gambar 7.5 Interior Galeri

(68)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pariwisata

2.1.1 Definisi Pariwisata

Pariwisata adalah “suatu kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih yang diselenggarakan dalam jangka waktu yang pendek dari suatu

tempat ke tempat yang lain, dengan maksud untuk bertamasya atau rekreasi”.

Selain itu, dapat dikatakan bahwa orang yang melakukan perjalanan dalam berwisata akan memerlukan berbagai barang dan jasa sejak mereka pergi dari tempat asalnya sampai di tempat tujuan dan kembali lagi ke tempat asalnya. (sumber : www.wikipedia.com/pengertianpariwisata).

Munculnya produk barang dan jasa ini disebabkan adanya aktivitas rekreasi yang dilakukan oleh wisatawan yang jauh dari tempat tinggalnya. Dalam hal ini mereka membutuhkan pelayanan transportasi, akomodasi, catering, hiburan, dan pelayanan lainnya. Produk industri pariwisata adalah keseluruhan pelayananyang diterima oleh wisatawan, mulai meningggalkan tempat tinggalnya (asal wisatawan) sampai pada tujuan (daerah tujuan wisata) dan kembali lagi ke daerah asalnya. Pariwisata dikatakan sebagai industri, karena di dalamnya terdapat berbagai aktivitas yang bisa menghasilkan produk berupa barang dan jasa. Akan tetapi, industri pariwisata tidak seperti pengertian industri pada umumnya, sehingga industri pariwisata disebut industri tanpa asap.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapatlah dikatakan bahwa industri pariwista adalah kumpulan dari bermacam-macam perusahaan yang secara bersama-sama menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang dibutuhkan oleh wisatawan maupun traveller selama dalam perjalanannya.

2.1.2 Definisi Potensi Pariwisata

(69)

Daya tarik tersebut dapat berupa keadaan alam sekitar tempat wisata maupun sarana prasarana yang ada yang dapat memberikan kenyamanan pada para pengunjung sehingga merasa betah berlama-lama di tempat wisata tersebut. Berdasarkan Undang-Undang No.10 tahun 2009 pengertian daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.

Menurut Undang-Undang tentang Kepariwisataan, daya tarik wisata merupakan salah satu usaha dalam kepariwisataan. Usaha pariwisata yang lain meliputi kawasan wisata; jasa transportasi; jasa perjalanan; jasa makanan dan minuman; penyediaan akomodasi penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi; penyelenggaraan pertemuan, perjalanan intensity, konferensi, dan pameran; jasa informasi pariwisata; jasa konsultan pariwisata; jasa pramuwisata; wisata tirta; dan spa. Hal-hal tersebut merupakan komponen-komponen yang ada dalam usaha kepariwisataan. Setiap wisatawan berhak memperoleh informasi yang akurat mengenai daya tarik wisata agar wisatawan lebih mengenali tempat wisata yang dikunjungi dan supaya tidak merasa kecewa karena sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya. Selain itu wisatawan juga berhak mendapat pelayanan kepariwisataan sesuai standar seperti perlindungan hukum, perlindungan hak pribadi, pelayanan kesehatan, serta perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisata yang beresiko tinggi.

Suatu pariwisata mempunyai faktor-faktor yang dapat membentuk daya tarik yang dapat membuat para pengunjung terarik untuk mengunjungi suatu tempat wisata. Faktor-faktor yang dapat membentuk daya tarik dalam suatu tempat wisata antara lain :

 Atraksi wisata, yaitu daya tarik wisata utama suatu obyek wisata yang mempengaruhi minat pengunjung untuk menikmatinya.

 Transportasi, yaitu sarana pencapaian ke tempat daerah tujuan wisata, hal ini berkaitan dengan kemudahan pencapaian dan tingkat aksesibilitas.

(70)

 Fasilitas penunjang, meliputi fasilitas umum seperti telepon umum, mushola/masjid, toilet, dan fasilitas lain.

 Prasarana, seperti penerangan, air bersih, dan lain-lain.

Dari uraian di atas diketahui bahwa terdapat faktor – faktor yang membuat suatu tempat wisata itu menjadi menarik. Faktor – faktor tersebut merupakan suatu potensi yang dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk datang berkunjung ke tempat wisata. Salah satu faktor pembentuk daya tarik wisata adalah transportasi yang merupakan faktor utama dalam suatu pariwisata karena transportasi merupakan sarana untuk menuju tempat wisata tersebut. Bila sistem transportasinya bagus maka wisatawan akan merasa nyaman bila berwisata disana begitu pula dengan system akomodasi maupun sarana penunjang lain.

2.2 Tinjauan Budaya 2.2.1 Pengertian Budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. (sumber : www.wikipedia.com/definisibudaya).

Pengertian kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya polapola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalan melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

2.2.2 Hubungan Antara Unsur-Unsur Komponen

(71)

a. Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)

Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:

- alat-alat produktif - senjata

- wadah

- alat-alat menyalakan api - makanan

- pakaian

- tempat berlindung dan perumahan - alat-alat transportasi

b. Sistem mata pencaharian

Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:

- Berburu dan meramu - Beternak

- Bercocok tanam di ladang - Menangkap ikan

c. Sistem kekerabatan dan organisasi sosial

(72)

dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.

Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya.

Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.

Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

d. Bahasa

(73)

e. Kesenian

Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.

f. Sistem Kepercayaan

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.

g. Pernikahan

Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen memberikan pemberkatan kepada pasangan yang menikah; gereja biasanya memasukkan acara pengucapan janji pernikahan di hadapan tamu, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut menerima pernikahan mereka. Umat Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan gerejanya.

Gereja Katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah salah, dan orang yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja. Sementara Agama Islam memandang pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian, namun memperbolehkannya. h. Sistem ilmu dan pengetahuan

(74)

dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).

Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi: - pengetahuan tentang alam

- pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya

- pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah - laku sesama manusia

- pengetahuan tentang ruang dan waktu

2.2.3 Tinjauan seni dan budaya yang ada di Sumatera Utara

Sumatera Utara memiliki3 suku yang merupakan penduduk asli, antara lain :

Diagram 2.1 Suku di Sumatra Utara

Berdasarkan jenis budaya yang telah dipaparkan sebelumnya, maka berikut macam-macam kesenian dan kebudayaan berdasarkan bentuk perwujudannya :

Tabel 2.1 Macam seni dan budaya

Suku Rumah Adat Makanan Khas Kerajinan Busana Adat

Batak

Karo

Siwaluh Jabu

(75)

Cimpa

Jong Labar

Cipera Manuk

Gule Kuta

Uis Teba

Batak

Toba

Rumah Bolon

Arsik

Mie Gomak

Ulos Bittang Maratur

Ulos Napinunsaan

Ulos Parompa

(76)

Kue Lampet

Kue Goreng

Gadong Ulos Ragi Idup

Ulos Sadum

Ulos Sadum Parompa

Ulos Tumtum

(77)

Batak

Mandaili

ng

Bagas Godang

Itak Pohul

Rondang Joring

Ulos Sadum Ulos

Batak

Simalung

un

Pinar Horbou

Dayok Nabinatur

Hinasumba

Ulos Bittang Maratur

Ulos Napinunsaan

Ulos

Batak

Angkola

Bagas Godang

Holat Kain Tenun

(78)

Batak

Pakpak

Sapo Mbelgah

Pelleng

Membayu Tikar

Kain Oles

Melayu

Rumah Kayu

Asidah

Roti Jala

Bolu Kemojo

Kerajinan Tekat

Siak Riau

Indragiri

(79)

Nias

Omo Sebua

Lehedalo Nifange

Gowi Nifufu

Gantungan

Etis Nehe

Oholu

2.3 Tinjauan Galeri 2.3.1 Pengertian Galeri Galeri adalah:

- Ruangan/ gedung tempat untuk memamerkan benda/ karya seni (Pusat Bahasa Departemen Nasional).

- Sebuah ruang kosong yang digunakan untuk pameran kesenian (www.wikipedia.com).

- Sebuah ruang yang digunakan untuk menyajikan hasil karya seni, sebuah area yang memajang aktifitas publik yang kadangkala digunakan untuk keperluan khusus (Dictionary of Architecture and Construction).

2.3.2 Bentuk Galeri

Bentuk galeri seni dapat di bagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

1. Galeri yang merupakan bagian dari studio seorang pelukis/pematung atau seniman lainnya.Di dalam galeri ini hanya dipajang karya seniman itu sendiri. Galeri terletak dalam suatu ruangan atau terpisah dengan studionya. 2. Galeri yang merupakan bagian dari studio seniman di dalamnya juga

(80)

seperti ini banyak dilakukan oleh seniman-seniman Bali dan kegiatan ini sudah bersifat bisnis.

3. Galeri yang merupakan kegiatan dagang murni karena dikelola seorang yang bukan seniman aktif. Adakalanya pengelolaan itu bersifat pribadi, bahkan sering pula disertai kegiatan menyewa karya seni kepada orang-orang tertentu. Ada sementara pemilik galeri yang setelah kuat finansialnya, memilih karya seni tersebut untuk menjadi koleksi pribadinya, dengan harapan semoga di kemudian hari bisa menjadi museum khusus atau diserahkan pada pemerintah.

2.3.3 Jenis Galeri

Jenis galeri dalam hal ini adalah, sifat dari galeri yang lebih mengkhususkan diri dalam mengoleksi hasil kerajinan yang bersangkutan untuk dijual atau dipamerkan. Pada umumnya dilakukan oleh galeri yang sudah mengalami perkembangan /kemajuan dalam hal penyajian karya kerajinan. Seperti galeri yang mengkhususkan diri untuk mengoleksi karya kerajinan khas etnis dari daerah Sumatera Utara, dll.

2.3.4 Fungsi dan Peranan Galeri

Galeri memegang peranan besar di dalam menentukan perkembangan karya seni, khususnya seni kerajinan perunggu di masa yang akan datang untuk dipromosikan, dijual, dan diabadikan serta menyimpan karya seni tersebut.

Adapun fungsi dan peranan galeri adalah sebagai berikut:

1. Sebagai tempat untuk pembelajaran kegiatan seni dan penelitian. 2. Sebagai tempat untuk melakukan pameran

3. Sebagai tempat rujukan orang ramai atau tempat untuk berekreasi.

(81)

2.3.5 Penyajian Koleksi Galeri

Penyajian benda-benda koleksi dalam galeri memegang peranan penting, karena dengan cara ini koleksi dapat diinformasikan dan berkomunikasi dengan pengunjung, Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal penyajian koleksi, antara lain :

a. Teknik Penataan Pameran

Teknik ini dilaksanakan bila sudah memenuhi beberapa prinsip umum untuk penataan dan membuat suatu desain. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sistematika atau jalan cerita yang akan dipamerkan (story-line)

2. Tersedianya benda galeri atau koleksi yang akan menunjang jalannya cerita dalam pameran.

3. Teknik dan metode pameran yang akan dipakai dalam pameran. 4. Sarana dan prasarana yang akan dipakai, dana yang perlu disediakan.

b. Metode Pameran

Dalam penyajian pameran dipergunakan tiga macam metode, yaitu (Rapini, Ni Nyoman, Tata Pameran Museum Negeri Propinsi Bali, 1995/1996, Bab III :17):

1. Metode penyajian Estetis, yaitu : cara penyajian benda-benda koleksi dengan memperhatikan segi keindahan dari benda-benda yang dipamerkan. Metode ini berlaku bagi benda-benda kebudayaan material atau benda-benda kesenian. 2. Metode penyajian Romantika, yaitu : cara penyajian benda-benda koleksi

disusun sehingga dapat mengungkapkan suasana tertentu yang berhubungan dengan benda-benda yang dipamerkan.

(82)

Ada beberapa contoh tata ruang pameran: 1. Tata Ruang Acak

Ruang Pajangan merupakan hal yang penting pada suatu museum, dan dapat dirancang di dalam berbagai jalan. Di dalam suatu museum tradisional, pajangan sering dalam deretan ruang galeri , diatur secara acak.

2. Tata Ruang dengan Galeri Pengantar

Suatu alterntif pengaturan yang akan mengarahkan pengunjung dari pintu masuk suatu galeri pengantar, jalan/alur yang dibuat berisi suatu pajangan yang meringkas pokok dan tema dari museum. Sampai pada bagian terdalam museum yang memajang koleksi pokok dari museum. prinsip yang sama dapat diperluas lebih lanjut di dalam museum besar.

3. Pengelompokan Koleksi Khusus

(83)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dalam era globalisasi saat ini, sektor pariwisata merupakan industri penting dan terbesar di dunia, banyak negara mulai menyadari pentingnya sektor pariwisata ini. Pada awal abad XXI, Joseph Pine II dan James H. Gilmore menyebutkan bahwa negara – negara industri telah mereposisi dari brand – based economy (ekonomi manufaktur berbasiskan produk – produk bermerek) menjadi experience economy (ekonomi berbasiskan pengalaman atau kesan). Data

perekonomian Amerika Serikat menunjukkan bahwa pariwisata memberikan pengaruh kenaikan lapangan kerja sebesar 5,3%. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata mempunyai peran besar dalam perekonomian. Kegiatan dalam sektor pariwisata mempunyai efek pengganda yang besar karena terkait dengan berbagai sektor dan kegiatan ekonomi lain, misalnya perhotelan, restoran, maupun sektor transportasi.

Pada 10 tahun terakhir ini, pertumbuhan pariwisata tertinggi di dunia berada di Asia Tenggara. Menurut Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Sapta Nirwandar, kunjungan wisatawan ke ASEAN meningkat 12% menjadi 92,7 juta orang pada 2013 dan pertumbuhan sektor pariwisata ASEAN adalah 8,3% per tahun sementara pertumbuhan global hanya 3,6% (sumber : id.wikipedia.org /Pariwisata di Indonesia).

(84)

Sumatera Utara terdiri atas beberapa kabupaten/kota yang memiliki destinasi wisata dengan daya tarik yang mampu menarik wisatawan lokal maupun internasional bila dikelola dengan baik. Beberapa hal yang menjadi kendala baik bagi industri pariwisata dan wisatawan untuk melakukan perjalanan ke Sumatera Utara salah satunya adalah sarana dan prasarana. Potensi jumlah wisatawan Sumatera Utara naik per tahunnya, tetapi akibat sarana dan prasarana yang tidak memadai menjadi kendala bagi wisatawan dan akan berkurang jumlahnya dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan. Padahal Sumatera Utara mempunyai jumlah kedatangan wisatawan yang cukup besar dibandingkan dengan provinsi lainnya, yaitu sebanyak 197.818 kedatangan pada tahun 2015 melalui pintu masuk Bandar Udara Internasional Kualanamu.

Bandara Kualanamu merupakan bandara internasional terbesar kedua di indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Bandara merupakan pendorong dan penunjang kegiatan industri, perdagangan dan pariwisata dalam menggerakan dinamika pembangunan nasional. Konsep pengembangan wilayah sekitar Bandara Kualanamu adalah menjadi kawasan aerotropolis. Adapun di dalam konsep aerotropolis, suatu bandara akan menjadi pusat kegiatan yang dikelilingi oleh berbagai fasilitas pendukung yang terletak di dalam pagar atau di luar pagar bandara seperti perkantoran, penginapan, area komersial, hiburan, pendidikan, layanan kesehatan berkelas, dan berbagai kawasan industri.

Berdasarkan latar belakang di atas diperlukan suatu sarana “one stop

turism” yang berisikan fasilitas dan informasi tentang daya tarik wisata dan

(85)

1.2 Maksud Dan Tujuan

Maksud dari dibangunnya area “one stop turism” adalah memudahkan wisatawan yang tidak memiliki waktu cukup banyak untuk mengunjungi berbagai tempat wisata di Sumatera Utara. Sehingga disediakan memungkinkan wisatawan memperoleh informasi wisata budaya Sumatera Utara dalam satu area dan dengan pencapaian dari gerbang masuk Bandara Kualanamu. Pada area itu akan dirancang hotel wisata yang memfasilitasi wisatawan yang berkunjung ke taman wisata budaya Sumatera Utara dan pusat oleh – oleh yang menyajikan buah tangan dan kerajinan khas budaya daerah di Sumatera Utara.

Tujuan dari proyek ini adalah merancang arsitektur yang memberikan kemudahan dalam mendapatkan informasi tentang kebudayaan setempat melalui hasil perancangan yang menarik untuk dikupas dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Rencana desain perancangan ini memunculkan konsep one stop tourism yang mempunyai arti para pengunjung lokasi perancangan akan dapat merasakan dan melihat serta mendapatkan informasi tentang kebudayaan dan pariwisata daerah Sumatera Utara serta dapat memperoleh hasil buah tangan berupa kerajinan atau ciri khas dari setiap daerah Sumatera Utara di dalam gedung arsitektur. Bagi pengunjung yang ingin mendapatkan kenyamanan dalam tempat menginap juga telah disediakan hotel wisata. Potensi yang mendukung perancangan adalah Bandar Udara Internasional Kualanamu yang memudahkan akses wisatawan dalam mencapai fasilitas hotel ini. Manfaat yang diharapkan adalah memunculkan rasa kecintaan terhadap budaya lokal agar dapat terpeliharanya kebudayaan itu sendiri.

1.3 Masalah Perancangan

 Mengangkat potensi lokal untuk memaksimalkan hasil perancangan.  Manfaat tema yang dipilih pada hasil perancangan.

(86)

1.4 Pendekatan Perancangan

Untuk pemecahan masalah dalam perencanaan dilakukan pendekatan sebagai berikut :

 Studi pustaka yang bersifat langsung dengan judul dan tema yang diangkat dalam tugas akhir ini untuk mendapatkan informasi dan bahan pendukung yang berguna untuk memperkuat desain perancangan.

 Studi banding proyek dan tema sejenis untuk mencari informasi dan menelaah tipologi bangunan yang sudah ada guna dijadikan sumber data untuk perencanaan rancangan.

Untuk pemecahan masalah dalam perancangan dilakukan pendekatan sebagai berikut :

 Survey lokasi yang dilakukan untuk mendapatkan data – data yang akurat dan informatif untuk mengetahui lingkungan sekitar lokasi sehingga memudahkan perancangan melalui penambahan data yang didapat di lokasi tersebut.

 Studi lapangan mengenai kondisi sekitar lahan sekitar site perancangan dan lingkungan fisik yang berhubungan dengan kasus proyek.

1.5 Lingkup / Batasan

Lingkup perencanaan perancangan proyek ini adalah :

 Perancangan hotel wisata bintang 3 dengan keunggulan suasana yang mencerminkan budaya Sumatera Utara.

 Perancangan galeri Sumatera Utara berupa wadah dari pameran dan pertunjukan yang mengandung unsur informasi mengenai wisata dan kebudayaan di Sumatera Utara.

 Perancangan gedung bagi penjualan pusat oleh – oleh hasil pengenalan berbagai daerah di Sumatera Utara.

(87)

 Perancangan galeri Sumatera Utara tidak menampilkan semua daerah wisata dan kebudayaan seluruh daerah Sumatera Utara, hanya dibatasi sampai dengan beberapa etnis, yaitu Melayu, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Batak Angkola, Batak Toba, Pakpak dan Nias.

1.6 Kerangka Berpikir

(88)

1.7 Sistematika Penulisan Laporan

Secara garis besar, urutan pembahasan dalam penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :

Bab I. Pendahuluan

Menjelaskan secara garis besar apa yang menjadi dasar perumusan perancangan yang meliputi latar belakang, maksud dan tujuan pembahasan, pendekatan, batasan masalah, kerangka berpikir dan sistematika pembahaasan.

Bab II. Tinjauan Pustaka

Berisi tentang seluruh tinjauan umum tentang semua yang berhubungan dengan ketentuan pemilihan proyek.

Bab III. Deskripsi Proyek

Berisi tentang pembahasan mengenai terminologi judul, pemilihan lokasi, tinjauan fungsi, elaborasi tema, dan studi banding arsitektur yang mempuyai tema sejenis.

Bab IV. Metodologi

Bab ini merupakan uraian tentang langkah – langkah kegiatan penilitian yang akan ditempuh. Berisikan mengenai penjelasan kerangka pendekatan, metode, dan teknik diagnosis/analisis yang akan digunakan untuk menghasilkan desain/perancangan bangunan.

Bab V. Analisa Perancangan

Berisi analisa kondisi tapak dan lingkungan, analisa fungsional, analisa teknologi, analisa dan penerapan tema, serta kesimpulan.

Bab VI. Konsep Perancangan

Berisi konsep penerapan hasil analisis komprehensif yang digunakan sebagai alternative pemecahan masalah.

Bab VII. Perancangan Arsitektur

Figur

Gambar 5.1 Peta Lokasi Site

Gambar 5.1

Peta Lokasi Site p.34
Gambar 5.2 Deskripsi Site (1)

Gambar 5.2

Deskripsi Site (1) p.35
Gambar 5.3 Deskripsi Site (2)

Gambar 5.3

Deskripsi Site (2) p.36
Gambar 5.5 Analisa Sirkulasi (2)

Gambar 5.5

Analisa Sirkulasi (2) p.37
Gambar 5.6 Analisa View

Gambar 5.6

Analisa View p.37
Gambar 5.8 Analisa Iklim

Gambar 5.8

Analisa Iklim p.38
Gambar 5.7 Analisa Kebisingan

Gambar 5.7

Analisa Kebisingan p.38
Gambar 5.9 Analisa Utilitas dan Vegetasi

Gambar 5.9

Analisa Utilitas dan Vegetasi p.39
Gambar 5.10 Analisa Pencapaian

Gambar 5.10

Analisa Pencapaian p.39
Tabel 5.1 Jumlah Tamu pada Hotel Bintang di Provinsi Sumatera

Tabel 5.1

Jumlah Tamu pada Hotel Bintang di Provinsi Sumatera p.40
Tabel 5.5 Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang

Tabel 5.5

Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang p.43
Tabel 5.4 Analisa Bentuk Dasar Bangunan

Tabel 5.4

Analisa Bentuk Dasar Bangunan p.49
Tabel 5.5 Jenis Pondasi

Tabel 5.5

Jenis Pondasi p.51
Tabel 5.6 Perbandingan Cahaya Alami dan Buatan

Tabel 5.6

Perbandingan Cahaya Alami dan Buatan p.54
Tabel 5.7 Perbandingan Penghawaan Alami dan Buatan

Tabel 5.7

Perbandingan Penghawaan Alami dan Buatan p.55
Gambar 6.1 Hotel Wisata Sumatera Utara

Gambar 6.1

Hotel Wisata Sumatera Utara p.56
Gambar 6.2 Konsep Sirkulasi Kenderaan

Gambar 6.2

Konsep Sirkulasi Kenderaan p.57
Gambar 6.4 Penzoningan Lantai 1

Gambar 6.4

Penzoningan Lantai 1 p.58
Gambar 6.3 Konsep Zona Parkir

Gambar 6.3

Konsep Zona Parkir p.58
Gambar 6.8 Penzoningan Lantai 6 dan 7

Gambar 6.8

Penzoningan Lantai 6 dan 7 p.60
Gambar 6.10 Detail Pondasi Tiang Pancang

Gambar 6.10

Detail Pondasi Tiang Pancang p.61
Gambar 6.9 Penzoningan Lantai 8

Gambar 6.9

Penzoningan Lantai 8 p.61
Gambar 6.11 Detail Pondasi Tiang Pancang Pada Core Bangunan

Gambar 6.11

Detail Pondasi Tiang Pancang Pada Core Bangunan p.62
Gambar 7.1 Perspektif Suasana

Gambar 7.1

Perspektif Suasana p.65
Gambar 7.2 Perspektif Suasana Parkir Bus

Gambar 7.2

Perspektif Suasana Parkir Bus p.65
Gambar 7.3 Perspektif Suasana Bangunan Hotel

Gambar 7.3

Perspektif Suasana Bangunan Hotel p.66
Gambar 7.4 Perspektif Suasana Entrance Bangunan

Gambar 7.4

Perspektif Suasana Entrance Bangunan p.66
Gambar 7.5 Perspektif Suasana Outdoor Foodcourt

Gambar 7.5

Perspektif Suasana Outdoor Foodcourt p.67
Gambar 7.5 Interior Galeri

Gambar 7.5

Interior Galeri p.67
Tabel 2.1 Macam seni dan budaya

Tabel 2.1

Macam seni dan budaya p.74

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Hotel Wisata Sumatera Utara
Outline : Interpretasi Tema