Komposisi Karkas dan Non Karkas serta Efisiensi Ekonomi Itik Mandalung pada Umur Berbeda

Teks penuh

(1)

KOMPOSISI KARKAS DAN NON KARKAS SERTA

EFISIENSI EKONOMI ITIK MANDALUNG

PADA UMUR BERBEDA

ANITA RAHMAN

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Komposisi Karkas dan Non Karkas serta Efisiensi Ekonomi Itik Mandalung pada Umur Berbeda adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari skripsi saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, September 2014

Anita Rahman

(4)
(5)

ABSTRAK

ANITA RAHMAN.

Komposisi Karkas dan Non Karkas serta Efisiensi Ekonomi Itik Mandalung pada Umur Berbeda. Dibimbing oleh RUKMIASIH dan SUMIATI.

Suatu penelitian telah dilakukan untuk memperoleh informasi itik mandalung (EA) hasil persilangan entok (Cairina moschata) jantan (E) dengan itik alabio (Anas plathyrinchos borneo) betina (A). Penelitian ini menggunakan 80 ekor itik mandalung EA yang dikelompokkan berdasarkan periode penetasan dan terdiri dari 3 perlakuan umur potong (8, 10, dan 12 minggu). Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok (RAK) dan dianalisis dengan sidik ragam dan uji Duncan. Hasil penelitian ini menunjukkan bobot potong, bobot karkas, dan bobot dada pada umur 8 minggu sangat nyata (P<0.01) lebih kecil daripada umur 10 dan 12 minggu, sedangkan umur tidak berpengaruh terhadap bobot paha. Umur potong juga mempengaruhi rasio daging dan tulang dada, namun tidak berpengaruh terhadap rasio daging dan tulang paha. Umur berpengaruh sangat nyata (P<0.01) pada persentase jeroan, tetapi umur tidak memberikan pengaruh terhadap bobot dan persentase bagian non karkas lainnya (darah, bulu, dan lemak abdomen). Umur 8 minggu sudah bisa dijadikan umur potong yang tepat untuk itik mandalung EA karena telah memenuhi bobot dan penampilan karkas sesuai keinginan konsumen serta mampu memberikan keuntungan bagi peternak.

Kata kunci: itik mandalung entok-alabio (EA), persentase karkas, persentase non karkas, umur pemotongan.

ABSTRACT

ANITA RAHMAN. Carcass and Non Carcass Composition and Economic Aspect of Mule Duck at Different Age. Supervised by RUKMIASIH and SUMIATI.

(6)

the best weight and carcass appearance appropiate to consumer preference and it had better profit for farmer.

(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan

pada

Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

KOMPOSISI KARKAS DAN NON KARKAS SERTA

EFISIENSI EKONOMI ITIK MANDALUNG

PADA UMUR BERBEDA

ANITA RAHMAN

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(8)
(9)

Judul Skripsi: Komposisi Karkas dan Non Karkas serta Efisiensi Ekonomi Itik Mandalung pada Umur Berbeda

Nama : Anita Rahman NIM : D14100080

Disetujui oleh

Dr Ir Rukmiasih, MS Pembimbing I

Dr Ir Sumiati, MSc Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof Dr Ir Muladno, MSA Ketua Departemen

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan November 2013 ini ialah Itik Mandalung, dengan judul Komposisi Karkas dan Non Karkas serta Efisiensi Ekonomi Itik Mandalung pada Umur Berbeda.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Rukmiasih, MS dan Dr Ir Sumiati MSc selaku pembimbing yang telah memberikan ilmu, pengalaman, bimbingan, serta saran yang sangat membangun. Ucapan terima kasih pula penulis sampaikan kepada Dr Tuti Suryati SPt MSi selaku dosen penguji sidang skripsi yang telah memberikan banyak masukan untuk perbaikan skripsi ini. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada teman satu tim penelitian (Isnaini P Astuti, Dwi Andaruwati, Leonardus KDB, Danang Priyambodo, Fitriani EPL) yang telah banyak membantu selama penelitian ini berlangsung. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayahanda Abdul Rahman, ibunda Sana, adinda M Fadlika dan Reggy Ar Rassyiid, seluruh keluarga beastudi Etos Bogor, sahabat (Ria Putri, Laras Shafa, Ishfi A, Annisa K, Fredy F, M Jafar) serta teman-teman IPTP angkatan 47 atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga skripsi ini bermanfaat.

Bogor, September 2014

(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR LAMPIRAN ix

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 1

Ruang Lingkup Penelitian 1

METODE 2

Waktu dan Tempat Penelitian 2

Materi 2

Prosedur 3

Rancangan 3

HASIL DAN PEMBAHASAN 5

Persentase Bagian-Bagian Karkas Itik Mandalung 5 Meat Bone Ratio Bagian Dada dan Paha Itik Mandalung 6 Persentase Bagian-Bagian Non Karkas Itik Mandalung 8

Penampilan Karkas 9

Efisiensi Ekonomi Pemeliharaan Itik Mandalung 10

SIMPULAN DAN SARAN 11

DAFTAR PUSTAKA 11

LAMPIRAN 13

(12)

DAFTAR TABEL

1 Kandungan nutrisi pakan ayam pedaging 511-Bravo 2

2 Takaran pemberian pakan itik alabio jantan 2

3 Bobot potong, bobot karkas, persentase karkas dan persentase bagian

karkas itik mandalung EA 5 4 Meat bone ratio pada bagian dada dan paha itik mandalung EA 7

5 Bobot dan persentase bagian non karkas itik mandalung EA 8

6 Efisiensi ekonomi pemeliharaan itik mandalung EA 10

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil analisis ragam bobot potong 13

2 Hasil uji Duncan bobot potong 13

3 Hasil analisis ragam bobot karkas 13

4 Hasil analisis ragam persentase bobot karkas 13

5 Hasil analisis ragam bobot dada 13

6 Hasil uji Duncan bobot dada 13

7 Hasil analisis ragam bobot paha 14

8 Hasil uji Duncan bobot paha 14

9 Hasil analisis ragam bobot punggung 14

10 Hasil analisis ragam bobot sayap 14

11 Hasil analisis ragam bobot darah 14

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sumber daya lokal Indonesia beranekaragam jenisnya salah satunya adalah ternak itik. Permintaan produk itik berupa daging semakin meningkat tiap tahunnya, namun tidak diikuti dengan penyediaan itik potong yang berkualitas dan kontinyu sehingga seringkali mengalami kekurangan stok. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) populasi itik tahun 2010 sebanyak 44 302 juta ekor dengan tingkat penyebaran tertinggi berada di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Aceh Darusalam. Populasi itik yang cukup besar ini, belum mampu berperan sebagai sumber daging andalan karena itik yang tersebar di Indonesia didominasi oleh tipe petelur, sehingga produksi daging itik secara nasional masih rendah.

Ternak itik yang dapat dikembangkan sebagai sumber daging yaitu itik mandalung. Itik mandalung merupakan persilangan antara entok (Cairina moschata) dengan itik (Anas platyrynchos) baik dengan cara alami maupun inseminasi buatan. Itik mandalung yang diteliti pada penelitian ini berasal dari persilangan entok jantan dengan itik alabio betina. Alasan menyilangkan kedua ternak ini karena entok jantan produksi dagingnya tinggi, sedangkan itik alabio merupakan itik petelur lokal Indonesia yang memiliki produksi telur tinggi serta bobot badan yang cukup besar, sehingga dari hasil persilangan ini diharapkan dalam setiap periode penetasan akan diperoleh day old duck dalam jumlah banyak dan memiliki pertumbuhan daging yang cepat. Itik mandalung diteliti pada umur potong 8, 10, dan 12 minggu untuk mencari bobot dan penampilan karkas yang sesuai dengan permintaan konsumen. Selain itu keberhasilan usaha ternak itik mandalung harus dinilai dari efisiensi ekonomi berdasarkan besar biaya pakan yang dikeluarkan dengan pendapatan yang diperoleh.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan menentukan umur pemotongan yang tepat dilihat dari bobot dan penampilan karkas serta efisiensi ekonomi pada umur pemotongan 8, 10 dan 12 minggu.

Ruang Lingkup Penelitian

(14)

2

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan, yaitu pada bulan November 2013 hingga Februari 2014. Penelitian dilakukan di Laboratorium Lapangan Ternak Unggas Blok B, Ilmu Produksi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Dramaga.

Materi Ternak dan Pakan

Materi yang digunakan adalah day old duck (DOD) hasil inseminasi buatan dari 5 ekor entok jantan (E) dan 30 itik alabio betina (A). Itik mandalung yang diteliti sebanyak 80 ekor itik mandalung (EA). DOD dipelihara sejak menetas hingga umur 8, 10, dan 12 minggu sesuai perlakuan.

Itik diberi pakan ayam pedaging komersil 511-Bravo dengan komposisi pakan berdasarkan label seperti pada Tabel 1 dan takaran pemberian pakan berdasarkan penelitian Mirfat (2011) yang disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1 Kandungan nutrisi pakan ayam pedaging 511-Bravo

Zat Makanan Jumlah

Sumber : PT. Charoen Phokphand Indonesia

Tabel 2 Takaran pemberian pakan itik alabio jantan

Umur (minggu) Takaran pemberian pakan harian (g ekor-1 hari-1)

(15)

3 Kandang dan Peralatan

Kandang yang digunakan berbentuk kotak dengan ukuran panjang 1 m, lebar 1 m dan tinggi pagar penyekat 0.6 m sebanyak 10 buah. Peralatan kandang lain yang digunakan yaitu tempat pakan berdiameter 38 cm dan tempat air minum dengan kapasitas 5 L.

Itik mandalung dipelihara secara intensif mulai minggu pertama hingga berumur 8, 10 dan 12 minggu. Pakan diberikan dengan cara meletakan pakan dan tempat air minum di dalam kandang.

Itik diberi makan dengan takaran pakan mengikuti hasil penelitian Mirfat (2011) dan air minum ad libitum. Itik mandalung ditimbang dan difoto setiap pemotongan.

Pemotongan Itik Mandalung

Itik mandalung yang telah berumur 8, 10, dan 12 minggu dipotong setelah dipuasakan terlebih dahulu selama 6-12 jam, tetapi air minum diberikan ad libitum. Sesaat sebelum dipotong, itik ditimbang untuk diukur bobot potongnya, lalu itik dipotong menggunakan tempat pemotongan yang menggantung dengan posisi kepala di bawah dengan tujuan agar darah keluar dengan sempurna.

Proses selanjutnya itik dicelupkan ke dalam air panas pada suhu kurang lebih 80 oC agar bulu mudah dicabut. Pencabutan bulu dilakukan secara manual. Setelah itu dipotong kaki, leher+kepala dan dikeluarkan jeroannya kemudian ditimbang bobot karkas. Bagian non karkas meliputi jeroan (usus+pankreas,

giblet, lemak abdomen), leher+kepala, dan kaki, masing-masing ditimbang bobotnya secara terpisah. Khusus bagian rempela dan usus, penimbangan dilakukan setelah dikeluarkan isi kotorannya.

Rancangan Rancangan Percobaan

Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok (RAK) terdiri atas 3 taraf perlakuan dan 10 kelompok. Perlakuan yang diberikan yaitu umur potong (8, 10, dan 12 minggu) dan kelompok berdasarkan periode penetasan. Model rancangan percobaan adalah sebagai berikut :

Yi j k = μ + Pi + Kj + εi j Keterangan:

Yi j k = Persentase karkas dan non karkas itik mandalung pada umur potong taraf ke- i (8,

(16)

4

Pi = Pengaruh umur potong pada taraf ke- i (8, 10 dan 12 minggu)

Kj = Pengaruh kelompok ke- j (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10)

εi j k = Pengaruh galat percobaan pada taraf umur potong ke- i (8, 10 dan 12 minggu) dan

kelompok ke- j (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10)

Analisis Data

Data yang diperoleh diuji dengan menggunakan analisis sidik ragam (analysis of variance) dan uji perbandingan berganda (Duncan multiple range test) (Steel dan Torrie 1995).

Peubah yang diamati

Peubah yang diamati dalam penelitian ini, yaitu: 1. Bobot potong (g/ekor)

2. Bobot karkas (g/ekor)

3. Persentase karkas diperoleh dengan membagi bobot karkas dengan bobot potong dikali 100%.

4. Persentase bagian-bagian karkas (paha, dada, punggung dan sayap) terhadap bobot karkas (%)

5. Meat bone ratio dada merupakan perbandingan banyaknya daging dada yang dihasilkan pada setiap satu satuan tulang dada.

6. Meat bone ratio paha merupakan perbandingan banyaknya daging paha yang dihasilkan pada setiap satu satuan tulang paha.

7. Persentase bagian-bagian non karkas meliputi darah, bulu, leher+kepala, kaki, jeroan (usus+pankreas, giblet, lemak abdomen) terhadap bobot potong (%)

(17)

5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persentase Bagian-Bagian Karkas Itik Mandalung

Pengaruh umur pemotongan itik mandalung yang berbeda terhadap peubah yang diamati disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, dan persentase bagian

Keterangan : angka yang disertai huruf berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01). 1) Nilai persentase dihitung berdasarkan bobot potong.

2)

Nilai persentase dihitung berdasarkan bobot karkas.

Itik mandalung dipelihara dengan tujuan mendapatkan produksi daging yang tinggi dibandingkan dengan itik lokal. Hasil penelitian menunjukkan umur sangat nyata (P<0.01) berpengaruh terhadap bobot potong, artinya bobot potong umur 12 minggu lebih besar daripada umur 8 dan 10 minggu. Hal ini sesuai dengan penelitian Sunari (2001) yang menyatakan bahwa umur berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap bobot potong. Penelitian sebelumnya oleh Matitaputty (2011) menyebutkan bobot potong itik alabio umur 8 minggu sebesar 1 328.83 g/ekor sedangkan pada umur yang sama bobot potong bobot itik mandalung EA lebih besar yakni 1 659.5 g (Tabel 3). Peternak itik lokal biasa menjual itiknya kepada konsumen dengan bobot potong sebesar 1.3-1.5 kg, sehingga jika dilihat dari bobot potong, itik mandalung EA umur 8 minggu sudah bisa memenuhi permintaan konsumen.

(18)

6

berada di antara bobot karkas kedua tetuanya. Umur yang berbeda tidak berpengaruh terhadap persentase karkas (Tabel 3). Hal ini karena peningkatan bobot karkas tidak sebesar peningkatan bobot potong sehingga persentasenya tetap. Hal ini menunjukkan bahwa persentase karkas itik mandalung EA sudah optimal pada umur 8 minggu. Berdasarkan permintaan pasar, bobot karkas yang diinginkan konsumen atau resto yang menyajikan olahan daging itik yaitu berkisar 0.9-1 kg, sehingga bobot karkas itik mandalung EA umur 8 minggu sudah bisa dijual ke pasaran.

Umur sangat nyata (P<0.01) berpengaruh terhadap bobot dan persentase dada. Bobot dan persentase dada itik umur 12 minggu lebih besar dari pada umur 8 dan 10 minggu. Bobot dan persentase dada terus meningkat karena dada merupakan tempat deposit otot terbanyak pada karkas. Otot memiliki pertumbuhan yang masak lambat sehingga jumlahnya terus bertambah seiring dengan bertambahnya umur ternak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Adiwinarto (2005) bahwa pada pola pertumbuhan komponen karkas diawali oleh pertumbuhan tulang yang cepat kemudian pertumbuhan otot.

Umur pemotongan 8, 10, dan 12 minggu tidak berpengaruh nyata terhadap bobot paha artinya walaupun umur pemotongannya berbeda tetapi bobot pahanya tetap sama. Hal ini karena paha merupakan alat gerak dan berfungsi sebagai penopang tubuh sehingga pertumbuhannya optimal pada awal pertumbuhan. Persentase bobot paha itik mandalung pada umur 8 minggu sangat nyata (P<0.01) lebih besar dari umur 10 dan 12 minggu. Erisir et al. (2009) menyatakan bahwa semakin tua umur itik akan menurunkan persentase bagian paha terhadap bobot karkas.

Bobot punggung pada umur 8 minggu nyata (P<0.01) lebih kecil daripada bobot punggung umur 10 dan 12 minggu. Bobot punggung mulai konstan pada umur 10 minggu sehingga bobotnya setelah mencapai umur 12 minggu tetap sama. Persentase bobot punggung pada umur 8 dan 10 minggu lebih besar dari umur 12 minggu. Hal ini karena bobot punggung yang mulai konstan pada umur 10 minggu, tetapi bobot kakas terus meningkat. Sesuai dengan hasil penelitian Randa et al. (2002) yang menyatakan bahwa laju pertumbuhan punggung relatif lebih stabil terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan.

Bobot sayap pada umur 8 minggu nyata (P<0.01) lebih kecil dari umur 10 dan 12 minggu. Bobot sayap mulai konstan pada umur 10 minggu sehingga bobotnya setelah mencapai umur 12 minggu tetap sama. Persentase bobot sayap umur 8, 10, dan 12 minggu tidak berbeda nyata, artinya umur tidak memberikan pengaruh terhadap persentase bobot sayap. Hal ini karena sayap bukan merupakan bagian atau tempat deposisi otot daging yang utama sehingga umur tidak memberikan pengaruh nyata terhadap berat sayap. Bagian dada dan bagian paha berkembang lebih dominan selama pertumbuhan apabila dibandingkan pada bagian sayap (Abubakar dan Nataamijaya 1999).

Meat Bone Ratio Bagian Dada dan Paha Itik Mandalung

(19)

7 Tabel 4 Meat bone ratio pada bagian dada dan paha itik mandalung EA

Peubah Umur potong (minggu)

Keterangan : angka yang disertai huruf berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0.05) untuk huruf kecil dan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) untuk huruf besar.

Meat bone ratio atau rasio antara daging dan tulang itik mandalung dihitung pada bagian dada dan paha, karena kedua bagian ini merupakan potongan komersial dari itik yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Bobot dada meningkat seiring bertambahnya umur. Dada termasuk organ yang masak lambat artinya pertumbuhan dan bobotnya terus meningkat seiring bertambahnya umur (Muryanto 2002). Bobot daging dada mempengaruhi bobot dada secara keseluruhan sehingga selain bobot, nilai persentase daging dada juga ikut meningkat (Tabel 4). Berbeda dengan daging, tulang dada termasuk organ yang masak dini dan pertumbuhannya lambat. Hasil penelitian menunjukkan bobot tulang dada pada umur 8 minggu nyata (P<0.05) lebih kecil dari umur 10 dan 12 minggu. Bobot tulang dada meningkat pada umur 10 minggu dan mulai konstan pada umur 12 minggu. Persentase tulang dada pada umur 8 minggu justru nyata (P<0.05) lebih besar daripada umur 10 dan 12 minggu. Hal ini karena peningkatan bobot tulang dada tidak sebesar peningkatan bobot dada. Selain itu selama pertumbuhan, tulang tumbuh secara terus-menerus dengan kadar laju pertumbuhan relatif lambat dan cenderung menurun (Soeparno 2005). Rasio daging dan tulang dada terkecil pada umur 8 minggu dan rasio terbesar pada umur 12 minggu, artinya umur mempengaruhi rasio daging dan tulang dada itik mandalung EA (Tabel 4).

(20)

8

10, dan 12 minggu relatif sama artinya umur tidak mempengaruhi rasio daging dan tulang paha itik mandalung EA (Tabel 4).

Persentase Bagian-Bagian Non Karkas Itik Mandalung

Hasil dari pemotongan dihitung bobot dan persentase bagian non karkas pada umur potong 8, 10 dan 12 minggu disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Bobot dan persentase bagian non karkas itik mandalung EA terhadap

Keterangan : angka yang disertai huruf berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0.05) untuk huruf kecil dan pengaruh yang sangat nyata (P<0.01) untuk huruf besar.

Umur 8, 10 dan 12 minggu memberikan pengaruh berbeda-beda pada setiap bagian non karkas itik mandalung. Tabel 5 menunjukkan umur tidak berpengaruh terhadap bobot dan persentase darah. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Pitrie (2002) yang menyebutkan bahwa umur tidak berpengaruh terhadap hilangnya darah. Demikian pula pada bobot dan persentase bulu juga menunjukkan hasil tidak berbeda nyata dari setiap umur pemotongan. Pitrie (2002) menyatakan bahwa persentase bulu itik mandalung terhadap bobot potong tidak berbeda nyata. Bulu itik mandalung EA berkisar antara 10.19% – 11.65% (Tabel 5).

(21)

9 (2002) yang menyatakan kaki termasuk komponen yang masak dini dan persentasenya turun seiring dengan bertambahnya bobot tubuh dan umur ternak.

Umur memberikan pengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap bobot maupun persentase usus+pankreas dan giblet. Bobot dan persentase usus+pankreas umur 8 minggu nyata (P<0.01) lebih besar dari umur 10 dan 12 minggu. Hal ini karena organ pencernaan itik merupakan organ penting yang berkembang sejak fase embrional, sehingga perkembangannya optimal sejak awal pertumbuhan. Bobot

giblet pada umur 10 dan 12 minggu lebih besar dari umur 8 minggu, sedangkan persentase giblet umur 8 minggu sangat nyata (P<0.01) lebih besar dari umur 10 dan 12 minggu. Hal ini disebabkan pertambahan bobot giblet tidak sebanding dengan pertambahan bobot tubuh yang cepat sehingga persentase gibet menurun.

Giblet merupakan organ masak dini yang pertumbuhannya pada saat mencapai dewasa adalah konstan (Soeparno 2005). Bobot dan persentase lemak abdomen dihitung dengan tidak membedakan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan umur potong yang berbeda tidak memberikan pengaruh terhadap bobot dan persentase lemak abdomen. Menurut Anggorodi (1995) pertumbuhan jaringan lemak ditentukan oleh ada atau tidaknya energi hasil metabolisme yang berlebih di dalam tubuh.

Penampilan Karkas

Penampilan karkas sangat mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen saat membeli daging itik. Karkas itik relatif kurang disukai karena terlihat kotor akibat sisa-sisa proses scalding atau masih banyaknya bulu-bulu jarum yang tertinggal, sedangkan konsumen menginginkan karkas itik yang memiliki penampilan seperti karkas ayam broiler yang bersih tidak ada bulu-bulu jarum yang tersisa. Sesuai dengan USDA (1998) dalam Poultry-Grading Manual, karkas atau bagian-bagian karkas harus memiliki penampilan yang bersih, terlebih pada bagian dada dan paha, dan bebas dari bulu-bulu yang menonjol atau tertinggal pada karkas. Penampilan karkas hasil penelitian ini disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Penampilan karkas itik mandalung EA (a) 8 minggu (b) 10 minggu (c) 12 minggu

(22)

10

tetap sudah optimal. Sesuai dengan hasil penelitian Marlinah (2013) yang menyatakan bahwa itik alabio sudah banyak mengalami pergantian dari bulu jarum menjadi bulu tetap di semua bagian tubuh pada umur 6 minggu. Semakin tua umur itik, maka bulu jarum semakin berkurang karena sudah tumbuh menjadi bulu tetap.

Efisiensi Ekonomi Pemeliharaan Itik Mandalung

Pengembangan itik mandalung dilihat dari aspek ekonominya harus memberikan keuntungan bagi peternak. Efisiensi ekonomi meliputi biaya pakan yang dikeluarkan dan pendapatan yang dihasilkan selama pemeliharaan sampai umur 8, 10, dan 12 minggu. Hasil perhitungan efisiensi ekonomi disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Efisiensi ekonomi pemeliharaan itik mandalung EA

Peubah Umur potong (minggu)

Keterangan : a) Berdasarkan harga pakan komersil 511-Bravo Rp 7 000 kg-1. b) Berdasarkan harga pasar Rp 35 000 kg-1 bobot hidup.

Konsumsi pakan itik mandalung meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Pakan yang digunakan sejak awal pemeliharaan hingga itik dipotong sama yaitu pakan komersil 511-Bravo dengan harapan bisa menghasilkan karkas yang lebih optimal. Tingginya konsumsi pakan tentu akan meningkatkan biaya pakan yang dikeluarkan. Mengingat hal tersebut sebaiknya pemberian pakan pada itik mandalung betul-betul disesuaikan dengan kebutuhan. Pakan starter mempunyai kandungan protein lebih tinggi dari pada pakan finisher dan pakan starter

mempunyai harga lebih mahal dari pada pakan finisher, karena itu penggantian pakan starter ke finisher yang tepat waktu diperlukan agar dapat menekan biaya pakan dan tetap memberikan hasil produksi sesuai dengan yang diharapkan. Penggantian pakan itik mandalung disesuaikan menurut umur dan kebutuhan, yaitu saat periode starter protein yang diberikan 18.7 % dengan energi metabolisnya 2 900 kkal kg-1 dan saat periode finisher proteinnya 15.4 % dan energi metabolisnya 2 900 kkal kg -1 (Chen 1996).

(23)

11

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Umur potong itik mandaung EA yang tepat dipilih berdasarkan nilai persentase karkas, penampilan karkas dan efisiensi ekonomi adalah umur 8 minggu. Pada umur 8 minggu bobot karkas dan penampilan karkas sudah memenuhi permintaan dan selera konsumen. Dilihat dari aspek ekonomi, biaya pakan juga lebih rendah dan keuntungan dari penjualan itik mandalung lebih besar dibandingkan dengan umur potong 10 dan 12 minggu.

Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu ransum yang diberikan dalam pemeliharaan itik mandalung EA harus disubstitusi dengan bahan pakan yang memiliki harga lebih murah namun tetap memiliki kandungan nutrisi sesuai kebutuhan tiap umur itik mandalung agar bisa menghasilkan produksi daging yang optimal dan keuntungan yang lebih besar.

DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, Nataamijaya AG. 1999. Persentase karkas dan bagian-bagiannya dua galur ayam broiler dengan penambahan tepung kunyit (Curcuma domestica

Val) dalam ransum. Bul Peter. Yogyakarta (ID): Universitas Gadjah Mada. Adiwinarto G. 2005. Penampilan dan laju pertumbuhan relatif karkas dan Course for Duck Production and Management. Taiwan Livestock Research Institute, Monograph No. 46, Taiwan. Taipei (TW): Committee of International Technical Cooperation.

Daud M, Piliang WG, Kompiang IP. 2007. Persentase dan kualitas karkas ayam pedaging yang diberi probiotik dan prebiotik dalam ransum. JITV 12(3): 167-174.

[Ditjen PKH] Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2012. Buku Statistik Peternakan. Jakarta (ID): Departemen Pertanian RI.

Erisir Z, Poyraz O, Onbasilar EE, Erdem E, Oksuztepe GA. 2009. Effects of housing system, swimming pool and slaughter age on duck performance, carcass and meat characteristics. J Anim Vet Adv 8(9): 1864-1869.

(24)

12

Matitaputty PR, Noor RR, Hardjosworo PS, Wijaya CH. 2011. Performa, persentase karkas dan nilai heterosis itik alabio, cihateup dan hasil persilangannya pada umur delapan minggu. JITV 16(2): 90-98.

Mirfat F. 2011. Performa itik alabio jantan umur 1-10 minggu yang diberi daun beluntas vitamin C dan E dalam pakan. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Muryanto. 2002. Pertumbuhan alometri dan tinjauan histologi otot dada pada ayam kampung dan hasil persilangannya dengan ayam ras petelur betina. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Pitrie DWL. 2002. Persentase bagian – bagian tubuh mandalung pada umur yang berbeda. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Randa SY, Wahtuni I, Joseph G, Uhi TH, Rukmiasih, Hafid H, Parakkasi A. 2002. Efek pemberian serat tinggi dan vitamin E terhadap produksi karkas dan nonkarkas itik mandalung. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Roesdiyanto, Mulyowati S. 2004. Pengaruh potong paruh dan serat kasar.

Animal Production 6(1): 9-16.

Sari ML. 2003. Pertumbuhan alometri mandalung serta tinjauan histologis serabut otot paha. JITV 8(4): 227-232.

Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Yogyakarta (ID): Universitas Gadjah mada Pr.

Steel RGD, Torrie JH. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistik. Edisi ke-2. Jakarta (ID) : Gramedia Pustaka Utama.

Sunari. 2001. Persentase bagian pangan dan non pangan itik mandalung pada berbagai umur. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Swatland JH. 1984. Structure and Development of Meat Animals. New Jersey (US) : Prentice Hall, Inc.

(25)

13

LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil analisis ragam bobot potong pada umur berbeda Sumber

Duncan Perlakuan (minggu) N Rataan

A 12 30 2 047.77

B 10 25 1 891.48

C 8 26 1 659.50

Lampiran 3 Hasil analisis ragam bobot karkas pada umur berbeda Sumber

Lampiran 4 Hasil analisis ragam persentase karkas pada umur berbeda Sumber

Lampiran 5 Hasil analisis ragam bobot dada pada umur berbeda Sumber

Duncan Perlakuan (minggu) N Rataan

A 12 30 365.97

B 10 25 285.16

(26)

14

Lampiran 7 Hasil analisis ragam bobot paha pada umur berbeda Sumber

Duncan Perlakuan (minggu) N Rataan

A 8 26 311.89

A 10 25 307.20

A 12 30 305.13

Lampiran 9 Hasil analisis ragam bobot punggung pada umur berbeda Sumber

Lampiran 10 Hasil analisis ragam sayap pada umur berbeda Sumber

Lampiran 11 Hasil analisis ragam bobot darah pada umur berbeda Sumber

Duncan Perlakuan (minggu) N Rataan

A 12 30 153.37

A 10 25 144.68

(27)

15

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Anita Rahman dilahirkan di Bogor pada tanggal 27 Januari 1993 dari pasangan sah Bapak Abdul Rahman dan Ibu Sana. Penulis merupakan anak pertama dari 3 bersaudara dengan adik M Fadlika dan Reggy Ar Rassyiid. Penulis menyelesaikan pendidikan di MA Negeri 1 Bogor pada tahun 2010 dan pada tahun yang sama diterima di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Figur

Tabel 1  Kandungan nutrisi pakan ayam pedaging 511-Bravo

Tabel 1

Kandungan nutrisi pakan ayam pedaging 511-Bravo p.14
Tabel 3  Bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, dan persentase bagian

Tabel 3

Bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, dan persentase bagian p.17
Tabel 4  Meat bone ratio pada bagian dada dan paha itik mandalung EA

Tabel 4

Meat bone ratio pada bagian dada dan paha itik mandalung EA p.19
Tabel 5 Bobot dan persentase bagian non karkas itik mandalung EA terhadap

Tabel 5

Bobot dan persentase bagian non karkas itik mandalung EA terhadap p.20
Gambar 1 Penampilan  karkas itik mandalung EA (a) 8 minggu (b) 10 minggu

Gambar 1

Penampilan karkas itik mandalung EA (a) 8 minggu (b) 10 minggu p.21

Referensi

Memperbarui...