• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Blueprint Knowledge Management System di Office Of International Affair Universitas Komputer Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perancangan Blueprint Knowledge Management System di Office Of International Affair Universitas Komputer Indonesia"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN BLUEPRINT KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM DI OFFICE OF INTERNATIONAL AFFAIR UNIVERSITAS

KOMPUTER INDONESIA

TESIS

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat ujian guna memperoleh gelar Magister Komputer

Oleh :

RICHI DWI AGUSTIA 5710111060

JURUSAN MAGISTER SISTEM INFORMASI

FAKULTAS PASCA SARJANA

(2)

Page 1 of 4 Richi Dwi Agustia

Richi Dwi Agustia S.Kom., M.Kom., M.Eng.

Last Update: August 28, 2014

Contact Info

Origin address : Komplek Lebak Indah blok C no 143 RT 02 RW 04 Serang Banten

Telephone No. : (0254) 222742

Current address : Kp. Rancalongong RT 002 RW 011 No. 4 Desa Solokan Jeruk Kecamatan Solokan Jeruk Bandung 40382

Mobile No. : +6285780084003

Email : [email protected]

Personal Information Date of Birth : August, 10th 1988

Place of Birth : Serang, Banten

Nationality : Indonesia

Marital Status : Single

Permanent Residence : Indonesia

Gender : Male

Indonesia ID : 36.0401.100888.0916

Korea ID : 880810-5120012

Personality : Sociable, Energic, Organized, Responsive, Supportive, Trustworthy, Enthusiastic, Imaginative

Strength : Responsible, Eager to Learn , Honest, Hardworking

Educational Background Formal Education

Level : Elementary School

School’s name : SDN 5 Ciputat

Located In : Serang - Banten

Graduation Date : June 2001

Level : Junior High School

School’s name : SLTPN 5 Serang

Located In : Serang - Banten

Graduation Date : June 2004

Level : Senior High School

School’s name : SMAN Cipocok Jaya Serang

Located In : Serang - Banten

Graduation Date : June 2007

Level : Bachelor Degree

GPA : 3.55

Field of Study : Engineering and Computer Science

Major : Informatic Engineering

Institute / University : Indonesia Computer University

Located In : Bandung – West Java

Graduation Date : August 2011

Level : Master Degree

GPA : (On Progress)

Field of Study : Magister Management

Major : Magister System Information

Institute / University : Indonesia Computer University

Located In : Bandung – West Java

(3)

Page 2 of 4 Richi Dwi Agustia

Level : Master Degree

GPA : 4.5

Field of Study : Information Technology & Business Management

Major : Management Information System

Institute / University : Youngsan University

Located In : Busan – South Korea

Graduation Date : February 2014

Additional Education

Level : Training Education

Sertification : be:logix , CompTIA Security+

GPA : A

Field of Study : Security Networking

Major : Networking

Institute / University : Indonesia Computer University

Located In : Bandung – West Java

Period : July 2011

Level : Training Education

Field of Study : Korean Class

Institute / University : Indonesia Computer University

Located In : Bandung – West Java

Period : July - December 2012

Level : Training Education

Field of Study : Korean Class

Institute / University : Youngsan University

Located In : Busan – South Korea

Period : March - June 2013

Level : Training Education

Field of Study : TOEFL

Sertification : TOEFL

Number : 37.02.689

Score : 497

Institute / University : Indonesia Computer University

Located In : Bandung – West Java

Date : June, 18 2011

Sertification : TOEFL

Number : 492/aecs/toefl prep./07/2014

Score : 510

Institute / University : Adventist English Conversation School (AECS)

Located In : Bandung – West Java

Date : January, 28 2013

Computer Skills

1 Programming Language : Mobile Programming (Android & IOS), PHP, HTML 2 Web Application : Adobe Dreamweaver

3 Office Application : Microsoft Office Family (Word, Excel, Power Point)

4 Database : MySQL

5 Multimedia Application : Adobe Photoshop

(4)

Page 3 of 4 Richi Dwi Agustia

Project History

1 Project Title : Sistem Informasi Rental Video (Desktop Application)

Tools : Java

Realization : 2009

2 Project Title : Design Web Sistem Informasi Praktikum Lab di UNTIRTA (Web

Application)

Tools :  PHP MySQL

 Javascript

Realization : 2010

3 Project Title : Aplikasi Multimedia : Pengenalan Tarian Tradisional (Desktop

Application)

Tools : Macromedia Flash

Realization : 2010

4 Project Title : Desain 3D (Desktop Application)

Tools : Dev C++ Open Gl

Realization : 2011

5 Project Title : Resepku (Android Phone)

Tools :  ADT (android Development tool) Eclipse Java  Ms Visio

Realization : 2013

6 Project Title : Personality Test (Desktop Application)

Tools :  NetBeans & Eclipse Java Swing

2 Name : Indonesia Computer University

Role : AM HMIF

(5)

Page 4 of 4 Richi Dwi Agustia

Seminar and Training

1 Name : Cloud Computing : Today and Tomorrow

Year : 2010

Place : Indonesia Computer University

2 Name : Linux Desktop, Virtualization & VoIP

Year : 2011

Place : Indonesia Computer University

Job Experience

1 Company : (주)일성냉동

Periode : July 2013

Position : Technical Worker

Job description : Stocking Ice cream

2 Company : ()이래

Periode : August 2013 – September 2013

Position : Technical Worker

Job desciption : -- Making LM & VF car using robot. Check if the product have defective in the process and repair it.

3 Company : (주)성우하이텍

Periode : January 2014 – February 2014

Position : Technical Worker

(6)

x

DAFTAR ISI

Judul ... i

Lembar Pengesahan ... ii

Lembar Pernyataan ... iii

Abstract ... iv

Abstrak ... v

Kata Pengantar ... vi

Daftar Isi ... x

Daftar Tabel ... xiv

Daftar Gambar ... xv

BAB I Pendahuluan ... 1

1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 4

1.3 Tujuan ... 5

1.4 Manfaat ... 5

1.5 Batasan Masalah dan Asumsi ... 6

1.6 Sistematika Penulisan ... 6

BAB II Landasan Teori ... 8

2.1 Data, Informasi dan Knowledge ... 8

(7)

xi

2.2.1 Definisi Knowledge ... 10

2.2.2 Explicit dan Tacit Knowledge ... 13

2.2.3 Knowledge Creation ... 15

2.2.4 Epistemology Of Possession dan Epistemology Of Practice ... 17

2.3 Knowledge Management ... 18

2.3.1 Definisi Knowledge Management ... 18

2.3.2 Knowledge Management Infrastructure... 19

2.4 Analisis SWOT... 21

2.5 Zack Framework ... 23

2.6 Knowledge Management Roadmap ... 25

BAB III Objek dan Metodologi Penelitian... 35

3.1 Objek Penelitian ... 35

3.1.1 Profil Organisasi ... 35

3.1.2 Visi ... 38

3.1.1 Misi ... 38

3.1.2 Goal ... 38

3.1.1 Struktur Organisasi ... 38

3.1.2 Kerjasama Internasional ... 41

3.2 Metodologi Penelitian ... 41

(8)

xii

3.2.1.1 Tahapan Observasi ... 43

3.2.1.2 Tahapan Wawancara ... 43

3.2.1.3 Tahapan Studi Literatur ... 43

3.2.2 Analisis Infrastruktur ... 44

3.2.2.1 Analisis Infrastruktur yang Berjalan ... 44

3.2.2.2 Menghubungkan Knowledge Management dan Strategi Organisasi ... 44

3.2.3 Analisis dan Perancangan Sistem ... 46

3.2.3.1 Merancang Knowledge Management Platform ... 46

3.2.3.2 Identifikasi Knowledge Office of International Affair UNIKOM ... 47

3.2.3.3 Merancang Tim Knowledge Management ... 47

3.2.3.4 Membuat Blueprint Knowledge Management System... 48

BAB IV Analisis dan Pembahasan ... 49

4.1 Analisis Infrastruktur ... 49

4.1.1 Analisis Infrastruktur yang Berjalan ... 49

4.1.2 Menghubungkan Knowledge Management dan Strategi Organisasi ... 55

4.1.2.1 Identifikasi Tujuan Office of International Affair UNIKOM ... 56

(9)

xiii

4.1.2.3 Analisis Knowledge Gap ... 60

4.1.2.4 Analisis SWOT ... 63

4.2 Analisis dan Perancangan Sistem ... 66

4.2.1 Merancang Knowledge Management System Platform... 66

4.2.2 Identifikasi Knowledge Office of International Affair UNIKOM ... 67

4.2.3 Merancang Tim Knowledge Management ... 73

4.2.3 Membuat Blueprint Knowledge Management System ... 75

BAB V Kesimpulan dan Saran ... 88

5.1 Kesimpulan ... 88

5.2 Saran ... 90

Daftar Pustaka

(10)

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga tesis yang berjudul “Perancangan Blueprint Knowledge Management System Di Office Of Internasional Affair Universitas Komputer Indonesia” dapat diselesaikan dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang penulis miliki. Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menempuh pendidikan double degree di Universitas Komputer Indonesia dan Universitas Youngsan Korea Selatan dalam memperoleh gelar Magister Komputer dan Master of Engineering. Tesis ini dapat penulis selesaikan dengan baik dan tepat waktu adalah berkat bantuan dari segala pihak yang selalu mendukung penulis baik secara materil dan moril sehingga penulis dapat selalu bersemangat dalam menghadapi segala permasalahan yang muncul dalam penyusunan tesis ini.

(11)

vii

1. Ibunda Euis Tin Martini dan ayahanda R. Abdul Roni tercinta yang tiada henti-hentinya selalu memberikan nasehat-nasehat serta dukungan baik moril maupun materil yang menjadikan kekuatan serta rasa optimis yang tinggi untuk penulis dalam menghadapi dan mencari solusi dari masalah yang ada. Tak lupa penulis sampaikan rasa hormat dan terimakasih kepada Yayan Haryanto selaku kakak penulis yang selalu memberikan semangat serta arahan agar penulis dapat selalu tegar dalam menyelesaikan tesis ini.

2. Bapak Dr. Eng. Ana Hadiana selaku pembimbing penulis yang selalu memberikan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik.

3. Bapak Dr. Yeffry Handoko Putra, ST.,MT, selaku Ketua Jurusan Pasca Sarjana Jurusan Sistem Informasi UNIKOM dan selaku penguji I penulis yang dengan sabar telah banyak memberikan masukan kepada penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan lebih terarah.

4. Bapak Irawan Afrianto, S.T., M.T. selaku penguji II yang telah memberikan saran dan kritikannya sehingga penulis dapat menyempurnakan tesis ini dengan lebih sistematis.

5. Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., SE., M.Si dan Bapak Budi selaku Direktur dan Wakil Direktur Office Of Internasional Affair UNIKOM.

6. Dr. Ir. Herman S. Soegoto, MBA selaku Dekan Pasca Sarjana UNIKOM

7. Dosen dan staf program Pasca Sarjana Jurusan Sistem Informasi UNIKOM.

(12)

viii

9. Prof. Kim Sanghyun, Prof. Kim Byoungwook, Prof. Kim Jinwhan, Prof. Cho Hyundal dan Prof. Sukkyu Song selaku dosen penulis di Universitas Youngsan yang telah memberikan pengalaman, ilmu, arahan, saran dan berbagai bantuan sehingga penulis dapat menjalani kehidupan di Korea Selatan dengan sangat nyaman dan penuh dengan kenangan.

10. Hanhan Maulana, Kirap Panji Harmoko, Leonardi Paris Hasugian dan Rangga Sidik, terimakasih sudah menjadi teman terbaik dan telah memberikan nuansa kekeluargaan didalam hati penulis selama menempuh studi di Universitas Youngsan. Kenangan suka maupun duka yang selama ini kita alami akan selalu membekas di hati penulis.

11. Rekan - rekan terbaikku di MSI BU-1 angkatan 2012 yang telah memberikan kenangan indah selama satu tahun penuh dan semoga persahabatan kita akan selalu abadi selamanya.

12. Rani Puspita Dhaniawaty, seseorang yang akan selalu menjadi wanita yang spesial dalam hati penulis, terimakasih atas segala canda tawa dan kenangan indah yang telah kita lalui bersama.

13. Rekan - rekan terbaikku di Universitas Youngsan, Kang Tae Hyok dan Kim Ming Kyu terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya.

14. Rekan-rekan dan adik-adik mahasiswa UNIKOM yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Youngsan terimakasih atas dukungan dan kerjasamanya.

(13)

ix

Penulis menyadari sepenuhnya akan keterbatasan pengetahuan maupun kemampuan yang dimiliki, untuk itu demi kesempurnaan laporan tesis ini penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak.

Bandung, 10 Agustus 2014

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Austin, Charles J. 1983. Information System for Hospital Administration. Ann Arbor, Michigan: Health Administration Press.

Beccera-Fernandez, Irma, Rajiv Sabherwal. 2010. Knowledge Management System and Processes. USA: M.E. Sharpe, Inc.

Bergeron, Bryan. 2003. Essentials of Knowledge Management. New Jersey: John Willey & Sons, Inc.

Bhatt, Dilip. 2000. “EFQM Excellence Model and Knowledge management Implication”. http://www.eknowledgecenter.com/articles/1010/1010.htm. Diakses pada 20 Mei 2014.

Boone, Louis E., David L. Kurtz. 2008. Principles of Contemporary Marketing. Tennessee: South-Western Publishing.

Botha A, Kourie D, Snyman R. 2008. Coping with Continuous Change in the Business Environment, Knowledge Management and Knowledge Management Technology. London: Chandice Publishing Ltd.

Bradford, Robert W., J. Peter Duncan, Brian Tarcy. 2000. Simplified Strategic Planning: A No-Nonsense Guide for Busy People Who Want Results Fast!. Worcester: Chandler House Press.

Burr, Vivien. 1995. An Introduction to Social Constructionism. London: Routledge.

Davenport, Thomas H., Laurence Prusak. 1998. Working Knowledge: How organizations manage what they know. Boston: Harvard Business School Press.

(15)

De Brún, Caroline. 2005. “ABC of knowledge management”. NHS National Library for Health: Knowledge Management Specialist Library.

Gema, Celline Liawan, Gerardus Polla. 2010. “Perancangan Prototype Aplikasi Knowledge Management Pada Divisi Management Automation Information Untuk Mendukung Oracle Financial pada Orang tua Group”. commIT Volume 4, No 2, pp 90-97.

Gold, A. H., Malhotra, A., and Segars, A. H. 2001. “Knowledge Management: An Organizational Capabilities Perspective”. Journal of Management Information Systems Volume 18, No 1, pp. 185-214.

Ho, Lim Bui, Bawa Wuryaningtyas, Ronald. 2008. “Penerapan Knowledge Management System Pada Perusahaan Bisnis Konsultasi PT Piramedia Sejahtera Abadi (Red Piramid)”. Program Studi Magister Manajemen Sistem Informasi Universitas Bina Nusantara. Jakarta.

Lai, Chang-Yen, Wen-Ching Liou. 2007. “A Study on the SWOT Analysis from Knowledge Point of View the Case of the Sijhih Community University”. Asian Journal of Information Technology, Volume 6, pp 538-543.

Lam, Natalie le Chi Lan. 2013. “Knowledge Management 2.0 - The new paradigm of knowledge management: Assesseing knowledge management in the global student organisation AIESEC from a KM 2.0 perspective”. Ba in Marketing and Management Communication, Aarhus University, School of Business and Social sciences. Denmark.

Martin, J., Oxman, S. 1998. Building Expert System : A Tutorial. New York: Prentice Hall.

Munir, 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta.

(16)

Nonaka, Ikujiro, Hirotaka Takaeuchi. 1995. The Knowledge-Creating Company: How Japanese Companies Create the Dynamics of Innovation. New York: Oxford University Press.

Nonaka, Ikujiro. 1998. The Knowledge-Creating Company. in Harvard Business Review on Knowledge Management. pp.21-45. Boston: Harvard Business Scholl Press.

Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan Masyaraka: Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.

Pearce, John A., Richard Braden Robinson. 2003. Strategic Management: Formulation, Implementation, and Control. New York: McGraw-Hill/Irwin.

Polanyi, Michael. 1966. The Tacit Dimension. Chicago: University of Chicago Press.

Priti, Jain. 2009. “Knowledge Management For 21st Century Information Professionals”. Journal of Knowledge Management Practice, No. 2, Volume 10.

Probst, G., S. Raub, K. Romhardt. 2000. Managing Knowledge: Building Blocks for Success. England: John Wiley & Sons Ltd.

Rangkuti, Freddy. 1997. Analisis SWOT : Teknik membedah kasus bisnis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Rumizen, Melissie C. 1998. “Report on the Second Comparative Study of Knowledge Creation Conference”. Journal of Knowledge Management, Volume 2 Issue: 1, pp.77-82.

Tiwana, Amrit. 2002. The Knowledge Management Toolkit : Orchestrating IT, Strategy and Knowledge Platform 2nd edition. Upper Saddle River: Prentice Hall.

(17)
(18)

1

BAB

I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Lingkungan yang komplek menuntut organisasi untuk dapat bersaing

dengan kompetitiornya dengan cara yang cerdas, melalui cara yang dimana

organisasi mampu membaca dan merespon tanda-tanda perubahan pada

lingkungan tersebut. Ini artinya organisasi harus segera bertindak dengan cepat

untuk menghadapi situasi tersebut dengan cara efektif dan efisien. Saat ini

organisasi sedang berkompetesi pada lingkungan yang berbeda yang menuntut

organisasi harus berubah dari organisasi yang berbasis industrial dimana aset fisik

dan modal adalah sumber kekayaan utama, menuju organisasi yang berbasis

knowledge yang menjadikan knowledge sebagai aset kekayaan organisasi, oleh

karena itu organisasi harus dapat menangkap, menerapkan, membangun dan

memperdayakan knowledge tersebut untuk melakukan perubahan dan

inovasi-inovasi guna merespon perubahan yang terjadi dalam lingkungan kompleks

tersebut. Dari hal itulah maka organisasi perlu menerapkan knowledge

management (KM) sehingga dapat membaca, merespon dan memanfatkan

perubahan pada lingkungan kompleks tersebut untuk mencapai keunggulan

kompetitif dari kompetitornya. KM pun berperan penting menciptakan suatu

budaya pembelajaran dalam organisasi, ketika knowledge worker dalam organisasi

mempelajari sesuatu maka ia akan memperoleh knowledge yang bisa digunakan

(19)

2 transfer dan digunakan kembali oleh knowledge worker lain yang ada dalam

organisasi.

Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) adalah salah satu universitas

yang sedang menjalin hubungan kerjasama akademik dengan universitas

Youngsan di Busan Korea Selatan. Melalui subunit Office of Internasional Affair

(OIA), UNIKOM telah mengirimkan beberapa mahasiswa pilihan untuk

melakukan studi di universitas Youngsan dan begitupun sebaliknya UNIKOM

telah berhasil mendatangkan beberapa mahasiswa Youngsan untuk belajar di

UNIKOM. Dengan adanya hal tersebut, UNIKOM memiliki potensi untuk

mendapatkan posisi yang baik dalam peta persaingan dengan universitas lain

terutama dengan universitas yang juga melakukan kerjasama dengan pihak

Youngsan. Hanya saja muncul beberapa masalah yang menghalangi UNIKOM

dalam mempertahankan dan meningkatkan potensinya tersebut. UNIKOM saat ini

hanya memiliki beberapa informasi mengenai MOA dan peraturan kerjasama saja

dan informasi tersebut tersimpan dalam bentuk hardcopy saja. Minimnya

informasi - informasi penting mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan

kerjasama antar universitas tersebut memunculkan permasalahan - permasalahan

bagi para knowledge worker-nya baik itu dari sisi mahasiswa ataupun dari sisi staf

- staf yang bekerja di organisasi. Dari sisi mahasiswa sendiri permasalahan

muncul ketika mahasiswa kesulitan memperoleh informasi untuk menemukan

solusi atas masalah yang sedang dihadapinya baik itu mengenai permasalahan

kegiatan akademik ataupun non-akademik, pemagangan ataupun situasi politik

(20)

3 sisi organisasi sendiri permasalahan yang muncul adalah organisasi tidak

memiliki informasi terkini mengenai kegiatan akademik dan non-akademik

mahasiswa yang dikirim bahkan sering muncul permasalahan yang mana

organisasi tidak ketahui tetapi muncul menjadi permasalahan yang melibatkan

pihak lain. Lemahnya pengawasan dan kontrol dari organisasi membuat

mahasiswa pun kurang antusias dalam melakukan kontribusi membagi tacit

knowledge yang dimilikinya baik itu kepada organisasi ataupun kepada sesama

mahasiswa. Tidak adanya suatu sistem yang disediakan oleh organisasi

mengakibatkan munculnya pola pikir knowledge as possession object dari sisi

mahasiswa yang beranggapan bahwa knowledge yang didapatnya di negara tujuan

adalah keunggulan kompetitif milik pribadinya yang dapat digunakan untuk

bersaing dengan mahasiswa lain dan bukan sesuatu hal yang harus dibagikan

karena dapat mengancam keunggulan kompetitif yang dimilikinya. Oleh karena

itu organisasi membutuhkan knowledge management yang tepat agar

permasalahan yang muncul dari sisi mahasiswa dapat diatasi dan mahasiswa pun

dapat terpicu untuk mengubah pola pikir knowledge as possession object menjadi

knowledge as practice object yang mana mahasiswa aktif dan antusias untuk

membagi knowledge yang dimilikinya untuk menciptakan knowledge baru agar

knowledge itu dapat berkembang. Dari sisi organisasipun ada suatu sistem yang

dapat membantu organisasi dalam menemukan solusi terbaik atas suatu masalah

yang sedang dihadapi baik itu masalah yang berkaitan dengan mahasiswa ataupun

(21)

4 Berdasarkan permasalahan itulah maka disini peneliti akan mencoba untuk

mengindentifikasi model knowledge management ada di UNIKOM saat ini,

tepatnya knowledge management yang sedang berjalan pada Office of

International Affair. Proses identifikasi dilakukan pada infrastruktur organisasi

dan aset-aset knowledge yang ada dalam organisasi. Selain itu dilakukan analisis

pula menggunakan knowledge gap analysis berdasarkan Zack framework untuk

mengetahui knowledge apa yang sudah dimiliki organisasi, apa yang seharusnya

dimiliki organisasi, apa yang organisasi lakukan dan apa yang organisasi harus

lakukan. Dari hasil identifikasi dan analisis tersebut peneliti mencoba untuk

mengusulkan suatu rancangan model blueprint knowledge management system

yang cocok diimplementasikan pada Office of International Affair UNIKOM.

Dalam melakukan analisis dan perancangan knowledge management system

peneliti menggunakan metode “The 10-Step Knowledge Management Roadmap”

yang dikemukakan oleh Amrit Tiwana. Alasan peneliti menggunakan metode

tersebut adalah karena langkah demi langkah dalam perencanaan, perancangan

dan evaluasi dipaparkan dengan jelas. Dari hal tersebut maka peneliti melakukan

penelitian dengan judul “Perancangan Blueprint Knowledge Management System di Office Of International Affair Universitas Komputer Indonesia”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat di identifikasi

masalah sebagai berikut :

1. Apakah OIA sudah memiliki knowledge management yang baik dan

(22)

5 2. Apakah pemanfaatan teknologi yang ada tepat sasaran untuk

mendukung proses penerapan knowledge management?

3. Teknologi apa yang digunakan OIA untuk melakukan penciptaan,

penyimpanan dan pendistribusian knowledge saat ini?

4. Apakah OIA sudah memiliki suatu tim yang melakukan pengawasan

dan evaluasi terhadap knowledge yang ada dalam organisasi?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui knowledge - knowledge yang ada saat ini di UNIKOM

tepatnya di Office of International Affair.

2. Mengetahui nilai posisi knowledge yang dimiliki oleh Office of

International Affair UNIKOM dan posisi UNIKOM dalam peta

persaingan.

3. Merancang blueprint knowledge management system untuk

mengoptimalkan dan menutup kekurang-kekurangan pada

knowledge management yang ada pada saat ini.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah :

1. Menyimpan dan menghasilkan knowledge baru hasil kerjasama antar

universitas yang mana nantinya organisasi dan mahasiswa dapat

mempergunakannya kembali sebagai acuan untuk memecahkan

(23)

6 2. Mempertahankan dan meningkatkan potensi UNIKOM dalam peta

persaingan.

3. Mengubah cara pandang knowledge worker terhadap esensi dari

knowledge itu adalah bukan sebagai possession object melainkan

sebagai practice object.

1.5 Batasan Masalah dan Asumsi

Beberapa batasan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :

1. Ruang lingkup penelitian hanya berfokus pada Office of International Affair.

2. Kerjasama internasional dalam penelitian ini hanya berfokus pada kerjasama dengan Universitas Youngsan di Korea Selatan.

3. Riset pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara terhadap narasumber.

4. Perancangan knowledge management menggunakan acuan “The 10-Step Knowledge Management Roadmap” oleh Amrit Tiwana.

5. Tidak semua tahapan dalam knowledge management roadmap itu dilakukan, peneliti hanya menggunakan langkah 1 – 6 saja yaitu

sampai pembuatan blueprint knowledge management. Prosedur

dalam tiap langkah disesuaikan oleh kebutuhan Office of

International Affair (OIA) UNIKOM.

1.6 Sistematika Penulisan

(24)

7 BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang Latar Belakang Penelitian, Identifikasi Masalah,

Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Batasan Masalah dan Asumsi, dan

Sistematika Penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini berisi teori-teori yang digunakan untuk menganalisis dan merancang

knowledge management system.

BAB III OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi profil, visi dan misi, tujuan dan struktur organisasi. Selain itu

metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian dijelaskan pada bab ini.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang hasil identifikasi dan analisis terhadap infrastruktur

organisasi, penyelarasan strategi bisnis dengan knowledge management,

knowledge gap, SWOT analysis, perancangan platform yang digunakan,

identifikasi aset-aset knowledge yang ada dalam organisasi, perancangan tim dan

blueprint knowledge management system.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan dan saran yang merupakan hasil dari pembuatan

(25)

8

BAB

II

LANDASAN TEORI

2.1. Data, Informasi dan Knowledge

Data, informasi dan knowledge pada dasarnya saling terhubung satu sama

lainnya, dalam knowledge pyramid, data adalah fakta-fakta dari suatu kejadian

yang tidak memiliki arti, data menjadi informasi ketika data tersebut diolah dan

disaring kedalam suatu bentuk yang memiliki makna dan berguna bagi

penerimanya dan ketika informasi berubah menjadi knowledge setelah tertanam

dalam pikiran manusia dan digunakan untuk membantu dalam pencapaian tujuan

tertentu seperti pengambilan keputusan. Davenport & Prusak (1998) membedakan

pengertian antara data, informasi dan knowledge yaitu: “knowledge is neither data

nor information, though it related to both, and the differences between these terms

are often a matter of degree”. Davenport & Prusak mendefinisikan data, informasi

dan knowledge sebagai berikut :

1. Data adalah sekumpulan diskrit atau fakta-fakta obyektif tentang suatu

kejadian. Pendapat lain mengatakan data adalah angka-angka atau

atribut-atribut yang bersifat kuantitas, yang berasal dari hasil observasi,

eksperimen atau kalkulasi (Bergeron, 2003).

2. Informasi adalah data yang mengalami perubahan. Menurut Austin

(1983), informasi adalah data yang telah di olah dan dianalisa secara

formal, dengan cara yang benar dan secara efektif, dan dapat memberikan

(26)

9 to give shape atau untuk memberi bentuk, dan informasi ditujukan untuk

membentuk orang yang mendapatkannya, yaitu untuk membuat agar

pandangan atau wawasan orang tersebut berbeda (dibandingkan sebelum

memperoleh informasi).

3. Knowledge adalah perpaduan berbagai macam pengalaman, pemikiran, nilai-nilai, informasi kontekstual, dan wawasan para ahli yang

memberikan kerangka untuk mengevaluasi dan menggabungkan berbagai

pengalaman baru dengan informasi. Menurut Munir (2008) knowledge

adalah informasi yang mengalami pengayaan (enrichment) atau

transformasi melalui beberapa cara yaitu : (a) perbandingan (comparison),

(b) konsekuensi / akibat (consequences), (c) hubungan / relasi

(connections) dan (d) percakapan (conversation).

Davidson & Voss (2002) memberikan gambaran tentang hubungan data,

informasi dan knowledge. Data diberi makna sehingga berubah menjadi

informasi, dan untuk berubah menjadi knowledge, tujuan ditambahkan

kedalam suatu informasi. Perumusan dari pernyataan tersebut dapat dilihat

(27)

10

Gambar 2.1 Hirarki Data, Informasi dan Knowledge (Davidson & Voss, 2000)

2.2. Landasan Teoritis Knowledge

2.2.1 Definisi Knowledge

Dalam buku yang ditulis oleh Von Krogh, Ichiyo, dan Nonaka (2000),

disampaikan ringkasan gagasan yang mendasari pengertian mengenai knowledge:

1. Knowledge merupakan justified true believe.

Seorang individu membenarkan (justifies) kebenaran atas kepercayaannya

berdasarkan observasinya mengenai dunia. Jadi bila seseorang

menciptakan knowledge, ia menciptakan pemahaman atas suatu suatu

situasi baru dengan cara berpegang pada kepercayaan yang telah

(28)

11 kenyataan, dibandingkan sesuatu yang benar secara abstrak. Knowledge

creation tidak hanya merupakan kompilasi dari fakta-fakta, namun suatu

proses yang unik pada manusia yang sulit disederhanakan atau ditiru.

Knowledge creation melibatkan perasaan dan sistem kepercayaan (belief

systems) dimana perasaan atau sistem kepercayaan itu bisa tidak disadari.

2. Knowledge merupakan sesuatu yang eksplisit sekaligus implisit (tacit).

Beberapa knowledge dapat dituliskan di kertas, diformulasikan dalam

bentuk kalimat-kalimat, atau diekspresikan dalam bentuk gambar. Namun

ada pula knowledge yang terkait erat dengan perasaan, keterampilan dan

bentuk bahasa utuh, persepsi pribadi, pengalaman fisik, petunjuk praktis

(rule of thumb) dan institusi. Tacit knowledge seperti itu sulit sekali

digambarkan kepada orang lain. Mengenali nilai dari tacit knowledge dan

memahami bagaimana menggunakannya merupakan tantangan utama

organisasi yang ingin terus menciptakan knowledge.

3. Knowledge creation secara efektif bergantung pada konteks yang

memungkinkan terjadinya penciptaan tersebut.

Apa yang dimaksud dengan konteks yang memungkinkan terjadinya

knowledge creation adalah ruang bersama yang dapat memicu

hubungan-hubungan yang muncul. Dalam konteks organisional, bisa berupa fisik,

maya, mental atau ketiganya. Knowledge bersifat dinamis, relasional dan

berdasarkan tindakan manusia, jadi knowledge berbeda dengan data dan

(29)

12 4. Knowledge creation melibatkan lima langkah utama.

Von Krogh, Ichiyo dan Nonaka (2000) menyatakan bahwa knowledge

creation terdiri dari lima langkah utama yaitu:

1. Sharing tacit knowledge.

2. Creating concepts

Knowledge shared diubah kedalam bentuk explicit knowledge dengan

membangun konsep-konsep baru.

3. Proof of concept

Pembenaran atas konsep-konsep baru memungkinkan organisasi

memutuskan apakah akan dilanjutkan atau tidak.

4. Building a model

Merubah konsep kedalam bentuk model, prototipe ataupun mekanisme

operasional

5. Dissemination of knowledge

Pada tahap ini, knowledge didistribusikan kedalam organisasi.

Beberapa pendapat lain mengenai definisi knowledge adalah sebagai

berikut :

1. Knowledge adalah keseluruhan keahlian dan konsep yang digunakan

seseorang untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Knowledge

menggambarkan hubungan sebab akibat (Probst, 2000).

2. Knowledge adalah perpaduan berbagai macam pengalaman, pemikiran,

(30)

13 memberikan kerangka untuk mengevaluasi dan menggabungkan berbagai

pengalaman baru dengan informasi (Davenport & Prusak, 1998).

3. Knowledge adalah kemampuan untuk membentuk model mental yang

menggambarkan obyek dengan tepat dan merepresentasikannya dalam aksi

yang dilakukan terhadap suatu obyek (Martin & Oxman, 1998).

4. Knowledge adalah hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan

penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa

dan raba. Sebagian besar knowledge diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2007).

2.2.2 Explicit dan Tacit Knowledge

Michael Polanyi (1966) membagi knowledge kedalam 2 kategori yaitu

explicit dan tacit knowledge. Perbedaan dari kedua knowledge tersebut adalah :

1. Explicit knowledge adalah knowledge yang diungkapkan melalui bahasa

formal dan sistematis yang didistribusikan dalam bentuk data,

rumus-rumus ilmiah, spesifikasi, manual, dan sebagainya. Knowledge tipe ini

dapat diproses, disimpan dan didistribusikan dengan relatif mudah.

Pendapat lain muncul dari Nonaka dan Takaeuchi (1995) yang

menyatakan bahwa explicit knowledge adalah knowledge yang siap diakses,

telah didokumentasikan dalam sumber knowledge formal yang telah

diorganir dengan baik.

2. Tacit Knowledge adalah knowledge yang bersifat personal dan sulit untuk

(31)

14 Knowledge yang tidak terlihat karena keberadaanya yang tersebar dan

embedded dalam berbagai bentuk seperti pengalaman seseorang, diskusi

formal maupun informal, percakapan antar individu, dialog, intelejensi

individu, mekanisme pengambilan keputusan dan pemikiran-pemikiran.

Adapun karakteristik dari tacit knowledge menurut Polanyi (1966) adalah:

1. Tidak dapat dibagi.

2. Merupakan hal yang lebih banyak diketahui daripada disampaikan.

3. Seringkali terdiri dari kebiasaan-kebiasaan dan budaya yang tidak

dapat ditentukan sendiri.

4. Tidak dapat dikodefikasikan, tapi hanya dapat dipindahkan atau

diperoleh dari pengalaman.

5. Menggambarkan know what (fakta) dan know why (sains).

6. Melibatkan pembelajaran dan skill.

Tabel 2.1 menunjukan perbedaan antara tacit knowledge dan explicit

knowledge menurut Nonaka dan Takaeuchi (1995).

Tabel 2.1 Perbedaan Tacit Knowledge dan Explicit Knowledge (Nonaka & Takeuchi, 1995)

Tacit Knowledge Explicit Knowledge

Knowledge experience (body

skill) Knowledge of rationality (mind)

Simultaneous knowledge (here

and now) Sequential Knowledge (there and then)

(32)

15 Perbedaan dari kedua tipe tersebut menjadi konsep lahirnya knowledge

management (De Brun, 2005).

2.2.3 Knowledge Creation

Menurut Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi (1995), terdapat 4 model

knowledge creation yang sudah diidentifikasi yaitu Socialization, Externalization,

Internalization dan Combination (SECI).

a. Socialization adalah proses konversi tacit knowledge ke tacit knowledge.

dilakukan dengan interaksi social atau berbagi pengalaman antara knowledge

worker organisasi.

b. Eksternalization adalah proses konversi tacit knowledge menjadi explicit

knowledge. Setelah menjadi explicit, knowledge mengkristal dan menjadi

dasar terbentuknya knowledge baru. Contoh proses ini adalah pembuatan

produk baru, siklus kontrol kualitas. Kunci sukses externalization adalah

urutan penggunaan metafora, analogi, dan model.

c. Combination merupakan proses konversi explicit knowledge menjadi explicit

knowledge yang lebih komplek dan sistematis. explicit knowledge dari dalam

dan luar organisasi dikumpulkan dan dikombinasikan untuk membentuk

knowledge baru yang kemudian didistribusikan kepada knowledge worker

organisasi. Hal ini bisa difasilitasi dengan jaringan komunikasi

terkomputerisasi dan basis data yang besar. Combination bisa juga dilakukan

dengan konsep rincian, merinci visi organisasi ke dalam konsep bisnis atau

(33)

16 d. Internalization adalah proses konversi explicit knowledge menjadi tacit

knowledge. Melalui internalization explicit knowledge yang terbentuk

didistribusikan ke seluruh organisasi dan diubah menjadi tacit knowledge oleh

tiap-tiap individu. Hal ini mirip dengan ‘belajar dari pengalaman’ (learning

by doing). Explicit knowledge seperti konsep produk atau prosedur

manufaktur harus diwujudkan melalui tindakan dan latihan.

Knowledge yang sudah ter-internalization dan menjadi tacit knowledge

tiap-tiap individu merupakan aset yang berharga. Tacit knowledge yang terkumpul

dalam tiap-tiap individu kemudian dapat membentuk lingkaran baru knowledge

creation ketika didistribusikan melalui socialization. Proses knowledge creation

dapat dilihat pada gambar 2.2.

(34)

17 2.2.4 Epistemology Of Possession dan Epistemology Of Practice.

Menurut Newell (2009), organisasi memandang knowledge melalui 2 cara

pandang, yang pertama adalah epistemology of possession yaitu cara pandang

organisasi yang memperlakukan knowledge sebagai sesuatu yang dimiliki oleh

seseorang, yang kedua adalah epistemology of practice yaitu cara pandang

organisasi yang memperlakukan knowledge sebagai sesuatu yang orang harus

lakukan.

Epistemology of possession pada dasarnya mengadopsi cara pandang

tradisional terhadap knowledge, hal itu didasarkan atas keyakinan bahwa

knowledge secara esensi adalah sesuatu hal yang nyata (Newell, 2009). Namun

tidak seperti pendekatan manajemen ilmiah, setiap individu dikenal sebagai

mahluk yang kognitif yang menafsirkan knowledge secara subyektif. Dengan cara

yang tepat knowledge yang ditafsirkan secara subyektif ini dianggap suatu “truth”

dan dapat ditransfer kepada individu lain (Nonaka, 1998).

Cara pandang knowledge sebagai sesuatu yang dimiliki oleh seseorang

banyak dikritik oleh para pendukung epistemology of practice (Wenger, 1998).

Melalui perspektif kontruksi sosial, mereka berpendapat knowledge tidak boleh

diperlakukan sebagai “truth” karena knowledge akan selalu dibentuk menjadi

knowledge baru melalui interaksi sosial antar individu (Burr, 2001). Dari cara

pandang inilah knowledge diperlakukan sebagai sesuatu yang ditanamkan dalam

praktek yang dilakukan oleh individu (apa yang kita katakan dan apa yang kita

lakukan). Jadi untuk praktek melakukan/mengatakan terlebih dahulu seseorang

(35)

18 belajar berenang,praktek untuk melakukan renang tersebut (tacit knowledge) tidak

bisa dipisahkan dari knowledge tentang bagaimana cara melakukan renang

(explicit knowledge).

Paradigma tradisional yang memandang knowledge sebagai epistemology of

possession melahirkan konsep knowledge management 1.0 dan paradigma baru

yang memandang knowledge sebagai epistemology of practice melahirkan konsep

knowledge management 2.0. Bougzhala & Limayen (2010) membangun

framework yang membedakan knowledge management 1.0 dan knowledge

management 2.0, yang mana analisis dilakukan dari 4 kunci dimensi yaitu

knowledge, people, processes dan technology.

2.3. Knowledge Management

2.3.1. Definisi Knowledge Management

Menurut Melissie C. Rumizen (1998), knowledge management adalah

proses yang sistematis untuk membentuk, menangkap, membagi, dan

meningkatkan knowledge yang dibutuhkan organisasi untuk sukses. Knowledge

management akan membentuk nilai dengan cara meningkatkan aset tak tampak.

Knowledge management didefinisikan juga sebagai proses yang dibutuhkan untuk

menciptakan, menangkap, mengkodifikasi, dan menyebarkan knowledge ke

organisasi untuk mencapai keunggulan kompetitif (Beccera Fernandez, 2010).

Dari sisi organisasi profit, Davidson dan Voss (2002) mendefinisikan knowledge

management sebagai suatu sistem yang memungkinkan organisasi menyerap

knowledge, pengalaman, kreativitas para stafnya untuk perbaikan kinerja

(36)

19 merupakan suatu proses yang menyediakan cara sehingga organisasi dapat

mengenali dimana aset intelektual kunci berada, menangkap ukuran aset

intelektual yang relevan untuk dikembangkan. Berdasarkan definisi-definisi

tersebut maka terdapat empat hal penting dalam knowledge management yaitu :

1. Knowledge management merupakan suatu sistem, alat untuk mengorganisir

sumber daya tidak berwujud untuk mencapai tujuan organisasi.

2. Input knowledge management adalah aset organisasi yang tidak berwujud

(intangible) yaitu knowledge.

3. Proses knowledge management terdiri dari upaya penciptaan knowledge,

pembagian atau pengkomunikasian dalam penerapan knowledge.

4. Output knowledge management adalah kapabilitas baru, kinerja yang superior,

inovasi dan meningkatkan nilai pelanggan.

2.3.2. Knowledge Management Infrastructure

Hal yang perlu diperhatikan ketika akan menerapkan suatu knowledge

management dalam suatu organisasi adalah dengan mengidentifikasi elemen inti

penyusunnya yang mana beberapa pakar menyatakan pendapat yang berbeda

tentang elemen-elemen tersebut tergantung dari sudut pandangnya masing-masing

terhadap esensi knowledge management dalam suatu organisasi. Gold et al (2001)

berpendapat bahwa culture, structure dan technology organisasi sebagai core

componen dari knowledge management. Botha et al (2008) berpendapat culture,

infrastructure, measure dan technology adalah komponen-komponen penting

yang menunjang terlaksananya penerapan knowledge management. Gambar 2.3

(37)

20 Bhatt (2000) terdiri atas people, process dan technology. Konsep knowledge

management 2.0 lahir dari pengembangan dan perubahan cara pandang ketiga

elemen tersebut terhadap knowledge.

1. People

Knowledge berada didalam people dan akan ditransfer ke people juga, jadi

people adalah faktor utama dalam penerapan keberhasilan knowledge

management.

2. Process

Process membantu untuk mengeksternalisasi (tacit menjadi explicit) yang

berhubungan dengan perubahan proses kerja, organisasi dan lain sebagainya.

3. Technology

Technology berperan sebagai enabler dalam knowledge management, dimana

technology mempunyai fungsi dalam capture, store, update, search dan

re-use knowledge.

(38)

21 2.4. Analisis SWOT

Ada beberapa pendapat ahli mengenai konsep dari analisis SWOT

diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Menurut Kurtz (2008), analisis SWOT adalah suatu alat perencanaan stratejik

yang penting untuk membantu perencana untuk membandingkan kekuatan

dan kelemahan internal organisasi dengan kesempatan dan ancaman dari

external.

2. Menurut Pearce and Robinson (2003), analisis SWOT perlu dilakukan karena

analisis SWOT mencocokkan “fit” antara sumber daya internal dan situasi

eksternal organisasi. Pencocokkan yang baik akan memaksimalkan kekuatan

dan peluang organisasi dan meminimumkan kelemahan dan ancamannya.

Asumsi sederhana ini mempunyai implikasi yang kuat untuk design strategi

yang sukses.

3. Menurut Robert, Duncan & Brian (2007) menganalisa lingkungan internal

dan eksternal merupakan hal penting dalam proses perencanaan strategi.

Faktor-faktor lingkungan internal di dalam organisasi biasanya dapat

digolongkan sebagai Strength(S) atau Weakness(W), dan lingkungan eksternal

organisasi dapat diklasifikasikan sebagai Opportunities(O) atau Threat(T).

Analisis lingkungan strategi ini disebut sebagai analisis SWOT.

Dalam bukunya Rangkuti (1997) berpendapat analisis SWOT digunakan

untuk menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari sumber daya

yang dimiliki oleh organisasi/perusahaan dan kesempatan-kesempatan eksternal

(39)

22 1. Kekuatan / Strength

Mengidentifikasi kekuatan-kekuatan organisasi dan kemampuan sumber

dayanya. Suatu kekuatan adalah sesuatu yang baik yang dilakukan oleh

organisasi atau suatu karakteristik organisasi/ untuk meningkatkan daya saing.

Contoh dari kekuatan tersebut meliputi: hak paten, nama merek yang kuat,

reputasi yang baik dimata para pelanggan, keuntungan biaya operasional,

akses eksklusif dalam sumber daya alam kelas tinggi dan akses yang

menguntungkan di jaringan distribusi

2. Kelemahan / Weakness

Mengidentifikasikan kelemahan organisasi dan kecacatan sumber dayanya.

Suatu kelemahan adalah sesuatu yang organisasi tidak memilikinya atau yang

dilakukan dengan jelek atau kondisi yang meletakkan organisasi ke posisi

tidak menguntungkan. Kelemahan-kelemahan internal di dalam organisasi

dapat berupa: kurangnya perlindungan hak paten, nama merek yang lemah,

reputasi buruk di antara para pelanggan, struktur biaya tinggi, kurangnya

akses sumber daya alam yang baik dan kurangnya akses untuk saluran

distribusi utama.

3. Peluang / Opportunities

Mengidentifikasi kesempatan pasar. Strategi yang baik adalah dapat

mengarahkan kekuatan dan kelemahan sumber daya organisasi untuk meraih

kesempatan yang ada. Beberapa contoh peluang tersebut adalah kebutuhan

pelanggan yang tidak dipenuhi dipasar, kedatangan teknologi baru,

(40)

23 4. Ancaman / Threat

Mengidentifikasi ancaman-ancaman yang dihadapi oleh organisasi dimasa

yang akan datang. Beberapa faktor lingkungan luar organisasi/perusahaan

yang dapat menyebabkan ancaman terhadap keuntungan dan posisi organisasi.

Beberapa contoh ancaman tersebut adalah perubahan selera konsumen dari

produk-produk yang ditawarkan, munculnya produk-produk pengganti,

peraturan baru dan peningkatan hambatan perdagangan. Chang-Yen &

Wen-Ching menggambarkan analisis SWOT dari knowledge point of view pada

gambar 2.4.

Gambar 2.4 Analis SWOT Knowledge Point of View (Chang-Yen & Wen-Ching, 2007)

2.5. Zack Framework

Dalam buku Tiwana (2002), Zack mengatakan bahwa setiap strategi akan

terhubung dengan sekumpulan sumber dan kapasitas Knowledge. Zack meyakini

(41)

24 adalah strategi bisnis, zack menggambarkan hubungan antara strategi Knowledge

dan strategi organisasi. Gambar 2.5 merupakan gambar Gap Analysis menurut

Zack Framework.

Gambar 2.5 Gap Analysis Zack Framework (Amrit Tiwana, 2002)

Gap Analysis dilakukan dengan menggunakan Zack Framework dari

Michael H. Zack dalam buku Tiwana (2002), yang membandingkan poin-poin

tentang knowledge yang dimiliki organisasi terhadap poin-poin tentang apa yang

dikerjakan oleh organisasi. Baik knowledge maupun apa yang dikerjakan,

masing-masing dibagi lagi ke dalam dua kutub, yaitu apa yang telah diketahui atau telah

dikerjakan dan apa yang harus diketahui dan dikerjakan. Dari poin-poin yang

telah terpisahkan tadi, dapat dianalisa gap yang terjadi baik pada knowledge dan

(42)

25

2.6. Knowledge Management Roadmap

Untuk merancang dan menerapkan knowledge management system, menurut

Tiwana (2002) ada sepuluh langkah stratejik yang bisa dilakukan oleh organisasi.

Sepuluh langkah stratejik itu dikenal dengan istilah “The 10-step knowledge

management roadmap”.

1. Analisis Infrastruktur yang Ada

Langkah ini dimaksudkan untuk mengaudit infrastruktur teknologi yang

ada di dalam organisasi. Tujuannya adalah untuk menentukan teknologi

apa yang saat ini telah dimiliki dan teknologi apa yang seharusnya

ditambahkan untuk meningkatkan dukungan penerapan knowledge

management di dalam organisasi. Dengan menganalisa dan menilai

infrastruktur yang telah ada, manajemen dapat mengenali kekurangan

infrastruktur yang dimiliki organisasi saat itu. Konsekuensi kondisi

tersebut adalah manajemen harus mengembangkan apa yang sudah ada.

2. Mengaitkan Knowledge Management dengan Strategi Bisnis

Bila knowledge creation ingin sukses diarahkan, perlu disusun langkah

langkah yang mengaitkan antara strategi bisnis yang dibangun oleh

organisasi dengan strategi knowledge management. Efektifitas strategi

knowledge management tidak sesederhana dengan hanya menyediakan

teknologi informasi saja, tetapi mesti ada satu keseimbangan antara

teknologi, dan fokus bisnis dengan strategi bisnis organisasi.

(43)

26 Pada tahap ini, pihak manajemen sudah harus menentukan sejak awal jenis

teknologi dan alat-alat apa saja yang dibutuhkan untuk knowledge

management system yang akan diterapkan. Agar lebih relevan dengan

kebutuhan knowledge management system, pertanyaan berikut dapat

dijadikan sebagai pedoman dalam membangun kebutuhan infrastruktur

knowledge management. Pertanyaan tersebut antara lain:

1. Teknologi apa yang harus dimiliki?

2. Apakah karyawan Anda dalam berbagi knowledge menggunakan basis

website? Apakah knowledge management system memerlukan saran

dan teknologi yang lebih luas untuk membantu karyawan menemukan,

menjumlahkan, memaknai, dan menganalisa data yang sangat banyak?

3. Seberapa rinci tingkatan sistem knowledge management untuk

menangkap knowledge? Seberapa padunya sistem pencarian,

penyusunan, dan penemuan kembali yang akan Anda masukkan sebagai

komponen dari knowledge management system anda?

4. Perlengkapan knowledge apa yang anda akan gunakan untuk mengenali

objek-objek knowledge?

4. Mengaudit Aset dan sistem Knowledge yang Ada

Tujuan audit knowledge adalah untuk menilai apa saja knowledge yang

sudah ada di dalam organisasi saat itu, dan menentukan fokus aktivitas

knowledge management. Untuk mencapai tujuan audit, dianjurkan untuk

membentuk tim audit yang terdiri dari seorang ahli strategi, senior manajer,

(44)

27 pemasaran, ahli informasi teknologi, manajer knowledge atau Chief

Knowledge Officers. Selain itu, tim audit harus juga mengidentifikasikan

paling tidak lima sumber daya kunci knowledge yang seharusnya mereka

miliki. Tim harus kemudian menanyakan hal-hal berikut:

1. Bagaimanakah persediaan knowledge? Apakah meningkat atau

menurun?

2. Bagaimanakah kita dapat memastikan bahwa persediaan knowledge

terus-menerus meningkat?

3. Apakah kita sudah menggunakan dengan baik sumber daya knowledge

tersebut?

4. Bagaimana daya tahan aset knowledge yang kita miliki? Dapatkah

persaingan dengan mudah menyuburkan dan mengembangkan

knowledge ini tanpa ditiru?

5. Adakah aspek lain dari knowledge yang tengah dipersaingkan namun

kita belum miliki?

6. Dapatkah knowledge ini meninggalkan organisasi?

7. Pada tingkatan apa knowledge yang kita jamin saat ini memiliki

keterkaitan dengan produk, jasa atau proses?

5. Mendesain Tim Knowledge Management

Tim knowledge management didesain dengan komposisi sebagai berikut:

a. Local expert dan interdepartemental gurus, yaitu pengadopsi awal

teknologi, yang bekerja di berbagai macam bidang fungsional di

(45)

28 seperti pemasaran, keuangan, ditambah dengan knowledge tentang

teknologi.

b. Internal information technology expert, yaitu ahli teknologi informasi

yang berasal dari dalam organisasi yang diharapkan banyak

mengetahui kondisi internal organisasi.

c. Nonlocal expert dan extradepartemental gurus, yaitu orang yang

memiliki keahlian lintas organisasi dan lintas fungsional. Mereka

dapat berhubungan dengan orang-orang yang berbeda bidang atau

fungsi, dan berperan sebagai penerjemah antara karyawan dengan latar

belakang, keterampilan, dan spesialisasi yang berbeda.

d. Consultant, yaitu orang yang berasal dari luar organisasi dengan

keahlian tertentu

e. Senior manager, yaitu orang yang harus secara aktif berpartisipasi

karena dukungan diperlukan untuk mendapatkan legitimasi dan

memenangkan upaya knowledge management. Mereka inilah yang

membawa perspektif stratejik ke dalam usaha penerapan knowledge

management.

6. Menciptakan Blueprint Knowledge Management

Pada tahap kelima, tim knowledge management mendesain sistem

manajemen baru. Desain sistem harus berspesifikasi sebagai berikut:

a. Knowledge repositories, yaitu database di mana knowledge disimpan.

b. Collaborative platform, yaitu menyediakan akses kepada pengguna

(46)

29 seluruh organisasi. Collaborative platform memungkinkan kepada

pengguna mencari isi atau berlangganan dengan isi dari database.

c. Network, yaitu dukungan jaringan komunikasi dan percakapan.

Termasuk di sini adalah jaringan kerasnya seperti kontrak jaringan,

intranet, ekstranet, dan jaringan lunak seperti ruang bersama,

kolaborasi jaringan industri, jaringan perdagangan, forum industri,

pertukaran, baik langsung maupun melalui telekonferensi.

d. Culture, yaitu mengacu kepada metode untuk mendorong karyawan

menggunakan knowledge management system dan berbagi knowledge.

7. Pengembangan Knowledge Management system

Pada tahap ini tim harus bekerja sekaligus menggabungkan knowledge

management system yang sudah bangun pada tahap enam sebelumnya.

Konstruksi sistem mencakup tujuh lapis, yaitu sebagai berikut:

a. Interface layer

Ini merupakan penghubung lapisan tertinggi antara orang dengan

knowledge management system yang berfungsi menciptakan,

menggunakan, menemukan kembali, dan berbagi knowledge. Di beberapa

organisasi, interface layer ini berupa home page yang dapat diakses

pengguna lewat intranet organisasi.

b. Access and authentication layer

Ini merupakan lapisan yang membuktikan keaslian pengguna yang

(47)

30 pengakses yang tidak sah, dan menyediakan cadangan apabila ada pihak

yang akan merusak database tersebut.

c. Collaborative filtering and intelligence layer

Lapisan ini berisi sarana untuk meminta data sesuai permintaan, mencari,

mengindeks, dan sebagainya.

d. Application layer

Lapisan ini berisi tempat penyimpanan keterampilan, sarana berkolaborasi,

piranti keras dan lunak konferensi yang menggunakan video, whiteboard

digital, electronic forum, dan sebagainya.

e. Transport layer

Lapisan ini memuat teknologi seperti web server, e-mail server,

pendukung untuk alur video dan audio, dan sebagainya.

f. Middleware and legacy integration layer

Legacy system merupakan mainframe atau sistem komputer yang sudah

usang. Middleware dalam hal ini berfungsi menghubungkan format data

lama dengan yang baru.

g. Repositories

Lapisan ini berisi database operasional, database hasil-hasil diskusi, arsip

forum yang menggunakan web, data yang sudah lama, arsip dokumen,

dan databaselainnya yang menggambarkan pondasi knowledge

(48)

31 8. Prototipe dan Uji Coba

Langkah ini merupakan upaya untuk menguji prototipe yang telah dibuat

sebelumnya, dan memperbaiki sistem tersebut bila tidak berjalan sesuai

rencana. Prototipe yang dibuat mungkin saja di bawah standar sehingga

tidak dapat berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, tim dapat

menggunakan stratejik “result-driven incrementalism” (RDI) atau

perbaikan yang didorong oleh hasil. Tiwana mengusulkan tiga kunci untuk

membuat RDI dapat bekerja, yaitu sebagai berikut:

1. Objective-driven decision support, yaitu menggunakan hasil dari

target dan tujuan akhir bisnis untuk mendorong pembuatan keputusan

pada tiap-tiap titik ke seluruh proses penyebaran sistem. Misalnya

setiap tahap dari penerapan knowledge management system memiliki

hasil yang ingin dicapai (mengapa) dan hasil yang diproyeksikan

(untuk apa) dengan jelas harus terjawabsebelum sistem dilaksanakan.

2. Incremental but independent result, yaitu membagi implementasi ke

dalam rangkaian perbaikan yang tidak tumpang tindih. Masing-masing

kegiatan dapat diukur hasilnya dan diperbaiki, meskipun tidak ada

perbaikan lebih lanjut.

3. Software and organizational measure clearly laid out at each stage,

yaitu melakukan apa saja yang dibutuhkan untuk menghasilkan subset

hasil yang diinginkan. Ini berarti bahwa piranti lunak secara

fungsional mesti menyertai perubahan yang diperlukan dalam hal

(49)

32 sistem tersebut bekerja. Misalnya jika mengembangkan satu diskusi

database, mesti disertai dengan perubahan motif karyawan

menggunakan piranti lunak tersebut, apakah mencari informasi saja

atau untuk memberi kontribusi terhadap database tersebut.

Penyebaran rencana harus juga disertai penghargaan yang tepat, yang

dapat mendorong karyawan menyatu ke dalam proses tersebut.

9. Pengelola Perubahan, Kultur, dan Struktur Penghargaan

Satu hal yang harus dicatat dalam kaitannya dengan upaya menjalankan

tahap ini bahwa sukses tidaknya manajemen perubahan tidak hanya

tergantung kepada teknologi, tetapi di kebanyakan organisasi justru lebih

ditentukan pada perubahan kultur dan perubahan di dalam sistem

penghargaan. Oleh karena itu, penting bagi pihak tim pengembangan

untuk menyusun langkah-langkah stratejik supaya penerapan knowledge

management berlangsung dengan baik. Tim harus mendapatkan hati dan

jiwa karyawan. Mereka bukanlah pasukan, tetapi mereka lebih seorang

sukarelawan.

10. Evaluasi Kinerja, Mengukur ROI, dan Perbaikan Knowledge Management

System

Untuk tujuan pengukuran hasil knowledge management, Tiwani

menggunakan perspektif sebagai berikut:

a. Financial perspective (perspektif finansial) : apakah investasi

organisasi di dalam knowledge management memperoleh keuntungan

(50)

33 b. Human-capital perspective (perspektif modal manusia) : apakah

kinerja karyawan organisasi lebih baik dan lebih berbagi?

c. Customer-capital perspective (perspektif modal pelanggan) : sudah

baikkah hubungan organisasi dengan pelanggan, prospeknya semakin

meningkat, dan mendatangkan pelanggan baru sebagai akibat

pelaksanaan knowledge management?

d. Organizational-capital perspective (perspektif modal organisasi) :

apakah saat ini organisasi memiliki proses yang paling baik,

kapabilitas yang sangat berbeda, kemampuan yang sangat hebat

untuk melakukan inovasi dengan lebih cepat daripada pesaing

melalui knowledge management?

Gambar 2.6 merupakan gambar the 10-step knowledge management

(51)

34

(52)

35

BAB III

OBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Objek Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti memilih Universitas Komputer Indonesia yang berlokasi di Jalan Dipatiukur 112 Bandung, tepatnya pada Office of International Affair sebagai objek penelitian dengan pertimbangan karena melalui subunit ini organisasi memiliki potensi untuk menciptakan inovasi-inovasi melalui penerapan knowledge management.

3.1.1. Profil Organisasi

Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) secara resmi berdiri pada hari Selasa, tanggal 8 Agustus 2000 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 126/D/0/2000.

(53)

36 Pada tahun kedua, 1995, dibuka jenjang pendidikan 3 tahun untuk memenuhi animo siswa tahun pertama yang ingin memperdalam ilmunya, disamping pemikiran jangka panjang pengembangan institusi. Pada tahun ini juga dibuka program studi baru, meliputi : Ahli Komputer Teknik Informatika, Ahli Komputer Manajemen Informatika dan Sekretaris Eksekutif. Ruang kelas ditambah menjadi 2 buah dan laboratorium komputer menjadi 2 buah dengan jumlah siswa sebanyak 457 orang.

Pada tahun ketiga, 1996, dilakukan penambahan gedung kuliah baru bertempat di jalan Dipati Ukur 116 (gedung FISIP sekarang), sekaligus pemindahan pusat administrasi dan perkantoran. Digedung baru ini dilakukan penambahan 1(satu) Lab. Komputer, 5(lima) Ruang Kuliah, Ruang Dosen dan Ruang Kemahasiswaan. Jumlah siswa dari tahun 1996 hingga tahun 1998 bertambah dari 632 orang menjadi 1184 orang.

Pada tahun kelima, 1998, dimulai pembangunan Kampus baru (Gedung Rektorat /Kampus-1 sekarang) berlantai 6(enam) di jalan Dipati Ukur 114. Pembangunan Kampus baru ini dapat diselesaikan pada bulan Agustus 1999, sehingga pada awal perkuliahan bulan September 1999 telah dapat digunakan.

(54)

37 Pada bulan Juli 1999 STIE IGI diresmikan dengan keluarnya SK Mendiknas no. 119/D/O/1999 dengan 5 program studi : Akuntansi S1, Manajemen S1, Manajemen Pemasaran D3, Keuangan Perbankan D3 serta Akuntansi D3.

Pada bulan Agustus 1999 STIMIK IGI diresmikan dengan keluarnya SK Mendiknas no. 143/D/O/1999 dengan 5 program studi : Teknik Informatika S1, Manajemen Informatika D3, Teknik Komputer D3, Komputerisasi Akuntansi D3 serta Teknik Informatika D3.

Agar Sistem Pendidikan lebih Efisien, Efektif, Produktif dengan Struktur Organisasi yang lebih baik, enam bulan kemudian dilakukan usulan ke DIKTI untuk melakukan Merger kedua Sekolah Tinggi diatas menjadi Universitas.

Pada hari Selasa, tgl. 8 Agustus 2000 keluarlah SK MENDIKNAS no. 126/D/O/2000 atas Universitas Komputer Indonesia yang disingkat dengan nama UNIKOM.Pada SK tersebut sekaligus diijinkan dibukanya 11 program studi baru : Teknik Komputer S1, Manajemen Informatika S1, Teknik Industri S1, Teknik Arsitektur S1, Perencanaan Wilayah dan Kota S1, Ilmu Hukum S1, Ilmu Komunikasi S1, Ilmu Pemerintahan S1, Desain Interior D3, Desain Komunikasi Visual S1 dan Desain Komunikasi Visual D3.

(55)

38 yang berasal dari berbagai pelosok tanah air dan dari luar negeri yang sedang menempuh pendidikan di UNIKOM.

3.1.2. Visi

Menjadi Universitas terdepan dibidang Teknologi Informasi & Komputer, berwawasan Global dan menjadi pusat unggulan dibidang ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang mendukung pembangunan nasional serta berorientasi pada kepentingan masyarakat, bangsa dan Negara

3.1.3. Misi

Menyelenggarakan Pendidikan tinggi kearah masyarakat Industri maju dengan sistem pendidikan yang kondusif, tenaga pengajar berkualitas dan program-program studi berbasis pada teknologi informasi & komputer dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, kualitas dan manajemen mutu berdasarkan prinsip Quality Is Our Tradition.

3.1.4. Goal

Menghasilkan Ilmuwan dan berpikiran tinggi maju dibidangnya masing-masing, mahir menggunakan teknologi informasi & komputer dalam bekerja serta beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

3.1.5. Struktur Organisasi

(56)

39

(57)

40

Gambar 3.2 Struktur Organisasi Office of International Affair

Adapun job desk dari masing-masing jabatan antara lain sebagai berikut :

1. Direktur berkewajiban untuk mengkoordinasikan dan mengendalikan jalannya OIA UNIKOM dan bertanggung jawab langsung kepada Rektor. 2. Wakil Direktur bertugas menjalankan fungsi kepala OIA apabila sedang

melaksanakan perjalanan ke luar negeri.

(58)

41 4. Bendahara dan Wakil Bendahara berkewajiban untuk mengurus biaya

operasional dan pertanggungjawaban keuangan OIA UNIKOM.

5. Koordinator Urusan Internal dan anggota berkewajiban untuk mengkoordinasikan urusan beasiswa, paspor, visa, keuangan, dokumen ke Dikti, Diknas, Setneg, Deplu bagi mahasiswa dan dosen.

6. Koordinator Urusan Eksternal dan anggota berkewajiban mengkoordinasikan admisi mahasiswa internasional, ijin belajar, ijin penelitian, ijin tinggal, ijin kerja, bebas fiskal bagi mahasiswa dan tamu asing.

3.1.6. Kerjasama Internasional

Unikom telah melakukan kerjasama internasional dengan beberapa universitas diantaranya adalah :

1. Multimedia University Malaysia 2. University Utara Malaysia 3. University Kebangsaan Malaysia

4. Youngsan University, Busan, South Korea

3.2. Metodologi Penelitian

(59)

42 tercapai. Adapun alur metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.3.

(60)

43

3.2.1 Tahapan Pengumpulan Data

Tahapan pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai knowledge management yang sedang berjalan di UNIKOM, mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari sistem yang ada, dan untuk mendapatkan gambaran secara global mengenai kondisi organisasi saat ini. Adapun teknik dari pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi literatur.

3.2.1.1Tahap Observasi

Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi secara langsung yang mana peneliti bertindak sebagai partisipan dengan menjadi bagian dari kerjasama dengan universitas lain diluar negeri dalam hal ini adalah Youngsan university yang berlokasi di Busan, Korea Selatan. Dengan menjadi partisipan secara langsung maka peneliti dapat mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan dari program kerjasama tersebut.

3.2.1.2Tahap Wawancara

Pada tahapan ini peneliti melakukan tanya jawab secara langsung dengan pihak-pihak yang terkait secara langsung dengan program kerjasama ini. Adapun data dan informasi yang dikumpulkan meliputi keadaan infrastruktur saat ini, posisi penggunaan knowledge yang ada dalam organisasi serta posisi organisasi dalam peta persaingan dengan pesaing.

3.2.1.3Tahap Studi Literatur

Gambar

Gambar 2.2 Model Nonaka – SECI Model (Nonaka & Takeuchi, 1995)
Gambar 2.5 Gap Analysis Zack Framework (Amrit Tiwana, 2002)
Gambar 2.6 The 10-Step Knowledge Management Roadmap (Amrit Tiwana, 2002)
Gambar 3.1 Struktur Organisasi Universitas Komputer Indonesia
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Proses pada tahap ini sangat penting karena terkait dengan keputusan oleh siapa pun, baik peneliti maupun pihak-pihak tertentu di dalam organisasi, berkenaan

Dari penelitian yang dilakukan, maka kesimpulan yang didapatkan adalah model sistem manajemen pengetahuan yang sesuai bagi Helpdesk Support VP-ASP di Rocksalt adalah

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat. Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada Dosen serta teman-teman sekalian yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, baik bantuan berupa moril maupun materil, sehingga makalah ini dapar selesai tepat pada waktunya. Kami menyadari, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangnya, baik dari segi tata bahasa dan hal lainnya. Untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah kami di lain