Bahan Rujukan Umum dalam Media Elektronik
Nama : Nora Junita Azmar
NIM : 6113003
Prodi : Ilmu Perpustakaan/ IV
A. Bahan Rujukan Umum
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, perpustakaan kini juga tak ketinggalan juga ikut berkembang. Sama halnya dengan perpustakaan, semua koleksi di
perpustakaan juga terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi. Yaitu didalam perpustakaan terdapat berbagai jenis koleksi, baik itu dalam bentuk yang tercetak sampai yang elektronik.
Perpustakaan memiliki beberapa koleksi, yaitu koleksi umum yang dapat dipinjam oleh semua pengunjung perpustakaan dan koleksi referensi atau rujukan yang koleksinya
hanya bisa digunakan ditempat dan tidak bisa dipinjam. Kali ini pembahasan mengenai bahan rujukan umum dalam bentuk media elektronik. Sebelumnya, saya akan mendeskripsikan pengertian bahan rujukan umum terlebih dahulu.
American Library Association Glossary of Library Terms mengemukakan dua definisi untuk buku rujukan, yaitu:
1. Sebuah buku yang disusun dan diolah sedemikan rupa untuk digunakan sebagai sumber menemukan informasi tertentu dan tidak untuk dibaca secara keseluruhan.
Shores dan Krzys dalam Encyclopedia of Library and Information Science berkesimpulan bahwa buku rujukan adalah buku yang diterbitkan terutama untuk dibaca untuk mendapatkan
keterangan ketimbang untuk dibaca secara menyeluruh atau secara berkesinambungan.
Dari kedua definisi tersebut bahwa dapat disimpulkan bahwa bahan rujukan adalah koleksi yang diterbitkan untuk melengkapi kebutuhan informasi pengguna tanpa harus
membaca koleksi tersebut secara keseluruhan dan tidak bisa dipinjam.
Manfaat bahan rujukan umum itu sendiri kurang lebih hampir sama dengan bahan koleksi
umum, namun tetap saja memiliki perbedaan, antara lain:
1. Memberikan keterangan atau penjelasan langsung dan mendasar tentang suatu hal yang ingin diketahui.
2. Perbendaharaan kata yang kita miliki bertambah.
3. Dapat mengetahui seluk-beluk serta keadaan suatu Negara atau tempat-tempat lain di
dunia dengan melihat koleksi ensiklopedia, geografis dan lainnya.
4. Dapat mengetahui riwayat hidup tokoh-tokoh terkemuka dan terkenal di dunia. 5. Koleksi rujukan dapat dipakai untuk menunjang penelitian
Untuk jenis-jenis bahan rujukan umum itu sendiri lebih banyak dibanding koleksi umum
biasanya. Karena di koleksi rujukan atau referensi memenuhi kebutuhan informasi pelengkap yang mungkin saja tidak terdapat di koleksi umum biasa. Cara membedakan bahan rujukan umum dengan koleksi umum biasa yaitu:
a. Jenis bahan rujukan yang memuat informasi mengenai kata dan istilah. Jadi, didalam bahan rujukan umum biasanya mengandung banyak istilah-istilah tertentu.
c. Jenis bahan rujukan lainnya termasuk dalam buku petunjuk/buku pegangan, sumber biografi, sumber geografi.
Jenis-jenis bahan rujukan umum, yaitu: a. Kamus
b. Ensiklopedi
c. Katalog d. Bibliografi
e. Indeks f. Abstrak g. Geografi
h. Majalah/jurnal i. Buku tahunan
j. Buku pegangan k. Direktori
l. Terbitan pemerintah
m. Peraturan perundang-undangan
B. Bahan Rujukan Umum Dalam Media Elektronik
Sebelumnya sudah dijabarkan mengenai bahan rujukan umum. Karena perpustakaan sudah mulai berkembangan menuju digital, maka koleksi perpustakaan juga harus di
digitalkan ke media elektronik. Media elektronik sendiri memiliki dua macam bentuk yaitu analog dan digital. Makanya setiap perpustakaan diharuskan memiliki media online sendiri
Untuk bahan rujukan umum dalam bentuk media elektronik yaitu salah satu contohnya adalah e-journal. E-journal merupakan jurnal yang tersedia melalui media elektronik atau web yang telah diformat sedemikian mudah untuk pengguna yang membutuhkan informasi ilmiah. Karena kemudahan akses internet dan ketersediaan perangkat teknologi informasi, kini lebih mudah membaca jurnal dalam format elektronik
karena bisa diakses dimanapun dengan koneksi internet sehingga mudah mendapatkannya. Jurnal berbentuk paperbase, membutuhkan waktu lama dalam pencetakan, publikasi, maupun distribusi. Tentu saja dengan adanya bahan rujukan seperti jurnal yang sudah online, dapat memudahkan pengunjung yang mungkin memiliki kesibukan dan tak sempat datang ke perpustakaan untuk mencari suatu informasi. E-journal juga bisa digunakan oleh seluruh pengguna perpustakaan dengan mengunggah karya sendiri ke e-journal, tapi dari kasus ini para pengguna harus melaporkan karyanya ke bagian perpustakaan untuk diperiksa keaslian
karyanya, barulah perpustakaan akan mengunggah karyanya jika sudah lulus periksa.
Namun, dari yang saya lihat di e-journal perpustakaan, koleksi jurnalnya tidak banyak dan terkesan tidak terlalu up to date. Apakah perpustakaan kekurangan jurnal untuk diterbitkan atau lainnya, itulah yang jadi permasalahan.
Dari sinilah muncul ketidakpuasan pengguna perpustakaan, walaupun sudah
dimudahkan dengan terbitan online, tapi tetap saja masih kekurangan bahan. Bahan rujukan umum itu sendiri merupakan pelengkap dari koleksi umum, seharusnya lebih ditingkatkan koleksi-koleksinya.
Dan bahkan tidak semua bahan rujukan umum yang ada diperpustakaan sudah di-online-kan. Mungkin memang ada beberapa koleksi yang tidak bisa online¸setidaknya dengan memperbaharui OPAC itu sendiri agar bisa membantu pengguna.
1. Akses mencari informasi lebih mudah dan cepat.
2. Bahan rujukan umum bisa diakses dimana saja dan kapan saja, yang awalnya bahan
rujukan umum hanya bisa dibaca ditempat. 3. Dapat digunakan seluruh masyarakat online. 4. Dapat diakses secara bersamaan.
Karena, pengguna perpustakaan sekarang lebih menginginkan akses yang cepat untuk menemukan informasi yang diinginkan. Makanya, perpustakaan juga dituntut untuk
memberikan informasi dalam bentuk digital atau elektronik. Karena nilai sebuah perpustakaan di era TIK/IT saat ini adalah seberapa luas perpustakaan dalam memberikan akses kepada penggunanya. Untuk dapat diakses oleh pengguna secara luas, maka koleksi
digital perlu dikenalkan ke luar.
Tidak hanya dalam bentuk e-journal dan lainnya, media elektronik juga bisa dalam bentuk rekaman video, rekaman audio, presentase multimedia dan konten daring. Dan biasanya bentuk-bentuk seperti ini juga ditemukan di koleksi bahan rujukan umum atau referensi.
Namun, di lapangan menunjukkan bahwa media elektronik dalam format seperti itu belum memenuhi kebutuhan pengguna, karena koleksinya yang terbatas dan terkesan tidak di
publikasi. Seharusnya perpustakaan membuka diri mengenai koleksi-koleksi mereka yang sudah dalam bentuk media elektronik agar pengguna dapat mengetahui dan bisa langsung mengakses informasi tersebut.
Salah satu kelebihan yang membuat media elektronik lebih diminati daripada bentuk tercetak yaitu bahan koleksinya lebih banyak. Seperti bahan rujukan umum tercetak yang ada