BAB III KONSTRUKSI DINDING BATU BATA 3.1 Pendahuluan

20  64  Download (1)

Teks penuh

(1)

Menggambar Rekayasa_Novitasari,ST.,MT.

BAB I I I

KONSTRUKSI DI NDI NG BATU BATA

3.1 Pendahuluan

Batu bata adalah salah satu jenis bahan bangunan yang dibuat dari tanah liat (lempung) dengan atau tanpa bahan lain, yang dibakar pada temperatur yang tinggi, sehingga tidak akan hancur bila direndam dalam air.

3.1.1 Pengujian Batu bata

Pengujian dan pemeriksaan kualitas batu bata dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pemeriksaan langsung dilakukan dengan cara :

1. warna bata harus merah tua, yang berarti batanya matang,

2. apabila diketok suaranya harus nyaring, berarti bata matang yang padat dan utuh, 3. bidang permukaan tidak menunjukkan retak-retak, sedangkan rusuk-rusuknya harus

siku dan tajam,

4. menggoreskan sudut bata ke permukaan bata yang lain, kemudian dilihat tumpulnya sudut bata dan lebar goresan, ini akan menunjukkan kekerasan dari bata, dan

5. mematahkan bata untuk melihat warna bagian dalamnya, apabila sama dengan warna bagian luarnya, berarti bata matang sempurna, sebaliknya bila bagian dalam masih berwarna merah muda, berarti bata belum matang dan kekerasannya belum merata luar dalam.

Pemeriksaan tidak langsung adalah dengan menggunakan uji laboratorium, untuk pengujian tidak langsung bagian yang diuji adalah kuat desak bata. Mutu bata ditentukan oleh besarnya kuat desak.

1. bata mutu tingkat I : kuat desak rata-rata lebih besar dari 100 kg/ cm2. yang sifatnya larut dan dapat merusak bagian-bagian dari kostruksi lainnya.

3.1.2 Sifat Batu Bata

Beberapa sifat batu bata yang merupakan ciri khas sebagai bahan bangunan, yaitu :

1. mudah menyerap air dan dapat menyimpan dalam waktu yang lama,

2. mempunyai warna yang alami, sehingga sering dipakai sebagai hiasan atau diexpose warna aslinya,

3. mudah korosi, terutama oleh pengaruh garam dapur, dan

(2)

3.1.3 Penggunaan Batu Bata

Batu bata yang dipakai pada bangunan-bangunan sipil, terutama pada bangunan gedung, yaitu untuk :

1. dinding penyekat ruangan,

2. tembok halaman (pagar – bumi), dan

3. bak air, saluran air, bak sampah dan lain sebagainya.

Keuntungan penggunaan batu bata dibandingkan dengan penggunaan batako adalah : 1. bila digunakan sebagai bahan bangunan tidak menyerap udara luar (tidak

terpengaruh udara), sedangkan batako bila digunakan sebagai bahan bangunan menyerap udara luar, terpengaruh.

2. Bata pembuatan relatif lama, sedangkan batako proses pembuatannya lebih mudah dan lecih cepat.

3. Bata lebih mudah ditembus paku pada saat proses kanstruksi, sedangkan batako sulit ditembus paku pada saat proses konstruksi.

3.2 Ukuran Batu Bata

Pada umumnua setiap daerah mempunyai ukuran bata yang tidak sama dengan ukuran bata di tempat lain, ukursn ini tergantung kebiasaan di daerah tersebut. Namun demikian, dari berbagai macam ukuran yang ada, dikenal juga adanya ukuran yang standar, yaitu :

1. ukuran I (mm) : panjang 240, lebar 115 dan tebal 52. 2. ukuran I I (mm) : panjang 230, lebar 110 dan tebal 50.

Satuan ukuran batu bata adalah 1 batu = streek

½ batu = kop

simbol-simbol batu bata adalah sebagai berikut :

1. Satu Batu

Gambar 3.1 Gambar Bata 1 Batu Tampak Depan dan Proyeksi Miring 5

11

23

(3)

2. ¾ (tiga perempat) Batu

Gambar 3.2 Gambar Bata ¾ Batu Tampak Depan dan Proyeksi Miring

3. ½ (setengah) Batu

Gambar 3.3 Gambar Bata ½ Batu Tampak Depan dan Proyeksi Miring

4. ½ (setengah) Batu memanjang

Gambar 3.4 Gambar Proyeksi Miring Bata ½ Batu Memanjang 5

5

23

11

5 17

17

5

11

11

(4)

3.3 Pasangan bata

Pasangan bata atau ikatan bata adalah susunan beberapa buah bata yang diikat menjadi satu kesatuan dengan menggunakan bahan perekat yang di sebut spasi. Tebal perekat pasangan bata umumnya tipis, yaitu antara 1 –1,5 cm.

Perekat untuk pasangan bata dapat dibuat dari campuran bahan-bahan sebagai berikut:

a. untuk pasangan bata biasa

1 kapur : 1 semen merah : 2 pasir b. untuk pasangan bata keras

1 semen (PC) : 5 pasir

c. untuk pasangan bata kedap air 1 semen (PC) : 2 pasir

Plesteran adalah lapisan penutup pada pasangan bata yang telah selesai dipasang. Plesteran berguna untuk melindungi bata-bata dari kerusakan oleh alam maupun benturan-benturan dan juga untuk keindahan. Bahan untuk plesteran adalah sama dengan bahan untuk perekat, dengan ketebalan 1 – 1,5 cm.

Sponneng adalah plesteran di sekitar gagang pintu atau jendela dan pada ujung-ujung tembok. Sedangkan Nat atau tali air adalah bila pada bidang plesteran tersebut ada cekungan kecil.

Beberapa syarat yang harus diperhatikan untuk pekerjaan pasangan bata adalah sebagai berikut :

a. bata yang akan dipasang dibasahi dulu dengan air sampai kenyang atau sampai gelembung udara dalam bata keluar semua,

b. pecahan bata yang kurang dari separo tidak boleh digunakan,

c. pemasangan bata harus dimulai dari sudut-sudut pertemuan, persilangan atau kolom-kolom beton, supaya ikatan dan susunannya dapat tepat menurut peraturan, d. tidak boleh ada perekat-tegak yang merupakan satu garis lurus menerus dari bawah

sampai atas,

e. pekerjaan pasangan bata dalam 1 hari sebaiknya tidak lebih dari 1 meter tinggi, hal ini untuk mencegah agar perekat datar yang berada di bawah yang belum mengeras, tidak melorot keluar, dan

f. pasangan bata yang masih baru harus selalu dibasahi dengan air selama 1 minggu setelah bata dipasang, hal ini untuk mencegah susut pengerasan dari bahan perekat secara cepat.

Gambar 3.5 Gambar Perekat tegak yang benar dan salah

Dst

Lap. 2 Lap. 1

(5)

Transraam adalah pasangan bata paling bawah yang kedap air untuk mencegah naiknya air dari bawah secara kapiler ke atas. Transraam dipasang setinggi 40 cm, yaitu 20 cm di bawah lantai dan 20 cm di atas lantai.

Gambar 3.6 Transraam ½ batu dan 1 batu

Di atas fondasi batu kali sering dijumpai adanya pasangan bata yang bata-batanya disusun berdiri. Susunan pasangan bata berdiri ini disebut Rollag, gunanya sebagai dasar pasangan bata untuk menjamin ikatan yang lurus dan rata. Dewasa ini rollag sudah jarang dipakai, sebagai gantinya dipakai Balok Sloof dari konstruksi beton bertulang.

3.4 Dinding Tembok

Kadang-kadang pekerjaan pasangan bata tidak dapat diselesaikan dalam satu waktu, maka menghentikan pekerjaan pasangan bata harus memenuhi beberapa cara. Gambar di bawah ini adalah gambar tampak muka pasangan bata pada dinding tembok.

1. ½ (setengah) Batu

Gambar 3.7 Pandangan Muka Pasangan Bata ½ batu

a

b

Siar Tegak

Siar Datar ½ batu

Lantai Lantai

1 batu 20 cm

(6)

3. 1 (satu) Batu dan lebih

Gambar 3.8 Pandangan Muka Pasangan Bata 1 batu

Catatan :

a = Gigi Berdiri, digunakan untuk pertemuan dengan pilar atau kolom, atau perhentian pekerjaan dinding tembok

b = Miring Bertangga, digunakan untuk penghentian pekerjaan dinding tembok

Perhatian Khusus : Untuk dinding Tembok tebal setengah batu seluas 12 m2, harus dibatasi dengan kolom beton bertulang/ kolom praktis atau pilar batu bata .

3. Potongan Dinding Tembok A – A (satu batu)

Gambar 3.9 Potongan A – Aposisi spesi dan plesteran pada pasangan bata

Siar diisi dengan spesi setebal 1 – 1 ½ cm

x x

x = spesi plesteran dinding tembok = 1 – 1 ½ cm

Siar Tegak

a

b

Siar Datar

A

(7)

3.5 Bentuk Susunan Batu Bata

Pandangan Muka

Pandangan Atas

Gambar 3.10 Bentuk Susunan Bata Pandangan Muka dan Atas

1. Susunan ½ (setengah) Batu

Yang perlu diperhatikan dalam membuat susunan batu bata dengan tebal setengah batu adalah selisih siar tegak antara lapisan 1, lapisan 2, lapisan 3 dst. adalah ½ (setengah) batu ke arah memanjang batu bata.

a. Memanjang

Lapisan 1 Lapisan 2

Gambar 3.11 Bentuk Susunan ½ (setengah) Batu Memanjang

b. Satu Sudut

Lapisan 1 Lapisan 2

dst

(8)

Gambar 3.12 Bentuk Susunan ½ (setengah) Batu Satu Sudut c. 2 (dua) Sudut

Lapisan 1 Lapisan 2

Lapisan 1 Lapisan 2

Lapisan 1 Lapisan 2

Gambar 3.13 Bentuk Susunan ½ (setengah) Batu Dua Sudut

d. Sudut Silang

Lapisan 1 Lapisan 2

1

3

2

(9)

Lapisan 1 Lapisan 2

Gambar 3.14 Bentuk Susunan ½ (setengah) Batu Sudut Silang

2. Susunan Satu Batu

Yang perlu diperhatikan dalam membuat susunan batu bata dengan tebal 1 (satu) batu adalah selisih siar tegak antara Lapisan 1, Lapisan 2, Lapisan 3 dst. adalah boleh ¼ (sepermpat) batu ke arah memanjang.

Gambar 3.15 Pandangan Muka Susunan I katan Berdiri

Gambar 3.16 Pandangan Muka Susunan I katan Silang

2

Dst

Lap. 2

Lap. 1

Dst

(10)

a. Memanjang.

Lapisan 1 Lapisan 2 & Lapisan 4

Lapisan 3

Gambar 3.17 Bentuk Susunan Satu Batu Memanjang

b. 1 (satu) Sudut

Lapisan 1 Lapisan 2

Lapisan 3 Lapisan 4

(11)

c. 2 (dua) Sudut

Lapisan 1 Lapisan 2

Lapisan 3 Lapisan 4

Gambar 3.19 Bentuk Susunan Satu Batu Dua Sudut

d. Sudut Silang

(12)

Lapisan 3 Lapisan 4

Gambar 3.20 Bentuk Susunan Satu Batu Sudut Silang 3. Susunan 1 ½ (satu setengah) Batu

a. Memanjang.

Lapisan 1 Lapisan 2 & Lapisan 4

Lapisan 3

Gambar 3.21 Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Memanjang

b. 1 (satu) Sudut

(13)

Lapisan 3 Lapisan 4

Gambar 3.22 Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Satu Sudut

b. 2 (dua) Sudut

Lapisan 1 Lapisan 2

Lapisan 3 Lapisan 4

(14)

c. Sudut Silang

Lapisan 1 Lapisan 2

Lapisan 3 Lapisan 4

Gambar 3.24 Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Sudut Silang

3. Susunan ½ + 1 Batu

a. 1 (satu) Sudut

Lapisan 1 & Lapisan 3 Lapisan 2 Lapisan 4

(15)

b. 2 (dua) Sudut

Lapisan 1 & Lapisan 3 Lapisan 2 Lapisan 4

Gambar 3.26 Bentuk Susunan ½ + 1 Batu Dua Sudut

c. Sudut Silang

Lapisan 1 & Lapisan 3 Lapisan 2 Lapisan 4

Gambar 3.27 Bentuk Susunan ½ + 1 Batu Sudut Silang

4. Susunan ½ + 1 1/ 2 Batu

d. 1 (satu) Sudut

Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Lapisan 4

(16)

e. 2 (dua) Sudut

Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3

Lapisan 4

Gambar 3.29 Bentuk Susunan ½ + 1 ½ Batu Dua Sudut

f. Sudut Silang

(17)

Lapisan 4

Gambar 3.30 Bentuk Susunan ½ + 1 ½ Batu Sudut Silang

5. Susunan 1 + 1 ½ Batu

a. 1 (satu) Sudut

Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3 Lapisan 4

Gambar 3.31 Bentuk Susunan 1 + 1 ½ Batu Satu Sudut

b. 2 (dua) Sudut

(18)

Lapisan 4

Gambar 3.32 Bentuk Susunan 1 + 1 ½ Batu Dua Sudut

c. Sudut Silang

Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 3

Lapisan 4

(19)

6. Tiang-Tiang Tembok (Pilar) 1 (satu) Batu

Lapisan 1 Lapisan 2

Lapisan 1 Lapisan 2

Gambar 3.34 Bentuk Susunan Tiang Tembok (Pilar) Satu Batu

7. Susunan VLAAM

Gambar 3.35 Bentuk Susunan Vlaar

1

2

A

Dst.

Lap. 2

Lap. 1

B

Dst

(20)

a. 1 (satu) Batu

Lapisan 1 Lapisan 2 Lapisan 1 Lapisan 2

Gambar 3.36 Bentuk Susunan Vlaar Satu Batu

b. 1 ½ Batu

Lapisan 1 Lapisan 2

Lapisan 1 Lapisan 2

Gambar 3.38 Bentuk Susunan Vlaar Satu Setengah Batu

1

2

1

Figur

Gambar 3.1 Gambar Bata 1 Batu Tampak Depan dan Proyeksi Miring

Gambar 3.1

Gambar Bata 1 Batu Tampak Depan dan Proyeksi Miring p.2
Gambar 3.2 Gambar Bata ¾  Batu Tampak Depan dan Proyeksi Miring

Gambar 3.2

Gambar Bata ¾ Batu Tampak Depan dan Proyeksi Miring p.3
Gambar 3.9 Potongan A – A posisi spesi dan plesteran pada pasangan bata

Gambar 3.9

Potongan A – A posisi spesi dan plesteran pada pasangan bata p.6
Gambar 3.8 Pandangan Muka Pasangan Bata 1 batu

Gambar 3.8

Pandangan Muka Pasangan Bata 1 batu p.6
Gambar 3.10 Bentuk Susunan Bata Pandangan Muka dan Atas

Gambar 3.10

Bentuk Susunan Bata Pandangan Muka dan Atas p.7
Gambar 3.13 Bentuk Susunan ½  (setengah) Batu Dua Sudut

Gambar 3.13

Bentuk Susunan ½ (setengah) Batu Dua Sudut p.8
Gambar 3.12 Bentuk Susunan ½  (setengah) Batu Satu Sudut

Gambar 3.12

Bentuk Susunan ½ (setengah) Batu Satu Sudut p.8
Gambar 3.14 Bentuk Susunan ½  (setengah) Batu Sudut Silang

Gambar 3.14

Bentuk Susunan ½ (setengah) Batu Sudut Silang p.9
Gambar 3.15  Pandangan Muka Susunan Ikatan Berdiri

Gambar 3.15

Pandangan Muka Susunan Ikatan Berdiri p.9
Gambar 3.16  Pandangan Muka Susunan Ikatan Silang

Gambar 3.16

Pandangan Muka Susunan Ikatan Silang p.9
Gambar 3.17 Bentuk Susunan Satu Batu Memanjang

Gambar 3.17

Bentuk Susunan Satu Batu Memanjang p.10
Gambar 3.18 Bentuk Susunan Satu Batu Satu Sudut

Gambar 3.18

Bentuk Susunan Satu Batu Satu Sudut p.10
Gambar 3.19 Bentuk Susunan Satu Batu Dua Sudut

Gambar 3.19

Bentuk Susunan Satu Batu Dua Sudut p.11
Gambar 3.21  Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Memanjang

Gambar 3.21

Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Memanjang p.12
Gambar 3.20  Bentuk Susunan Satu Batu Sudut Silang

Gambar 3.20

Bentuk Susunan Satu Batu Sudut Silang p.12
Gambar 3.22  Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Satu Sudut

Gambar 3.22

Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Satu Sudut p.13
Gambar 3.23  Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Dua Sudut

Gambar 3.23

Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Dua Sudut p.13
Gambar 3.25  Bentuk Susunan ½  +  1 Batu Satu Sudut

Gambar 3.25

Bentuk Susunan ½ + 1 Batu Satu Sudut p.14
Gambar 3.24  Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Sudut Silang

Gambar 3.24

Bentuk Susunan Satu Setengah Batu Sudut Silang p.14
Gambar 3.28  Bentuk Susunan ½  +  1 ½   Batu Satu Sudut

Gambar 3.28

Bentuk Susunan ½ + 1 ½ Batu Satu Sudut p.15
Gambar 3.27  Bentuk Susunan ½  +  1 Batu Sudut Silang

Gambar 3.27

Bentuk Susunan ½ + 1 Batu Sudut Silang p.15
Gambar 3.26  Bentuk Susunan ½  +  1 Batu Dua Sudut

Gambar 3.26

Bentuk Susunan ½ + 1 Batu Dua Sudut p.15
Gambar 3.29  Bentuk Susunan ½  +  1 ½   Batu Dua Sudut

Gambar 3.29

Bentuk Susunan ½ + 1 ½ Batu Dua Sudut p.16
Gambar 3.30  Bentuk Susunan ½  +  1 ½   Batu Sudut Silang

Gambar 3.30

Bentuk Susunan ½ + 1 ½ Batu Sudut Silang p.17
Gambar 3.31  Bentuk Susunan 1 +  1 ½   Batu Satu Sudut

Gambar 3.31

Bentuk Susunan 1 + 1 ½ Batu Satu Sudut p.17
Gambar 3.32  Bentuk Susunan 1 +  1 ½   Batu Dua Sudut

Gambar 3.32

Bentuk Susunan 1 + 1 ½ Batu Dua Sudut p.18
Gambar 3.33  Bentuk Susunan 1 +  1 ½   Batu Sudut Silang

Gambar 3.33

Bentuk Susunan 1 + 1 ½ Batu Sudut Silang p.18
Gambar 3.35  Bentuk Susunan Vlaar

Gambar 3.35

Bentuk Susunan Vlaar p.19
Gambar 3.34  Bentuk Susunan Tiang Tembok (Pilar) Satu Batu

Gambar 3.34

Bentuk Susunan Tiang Tembok (Pilar) Satu Batu p.19
Gambar 3.36  Bentuk Susunan Vlaar Satu Batu

Gambar 3.36

Bentuk Susunan Vlaar Satu Batu p.20

Referensi

Memperbarui...