Pertanggungjawaban Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Pada Penyelenggara Sistem Elektronik Dalam Hal Penjaminan Keamanan

137  Download (0)

Teks penuh

(1)

PERTANGGUNGJAWABAN PENYELENGGARA SERTIFIKASI ELEKTRONIK PADA PENYELENGGARA SISTEM ELEKTRONIK

DALAM HAL PENJAMINAN KEAMANAN

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH: FREDY CAHYADI

110200258

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PERTANGGUNGJAWABAN PENYELENGGARA SERTIFIKASI ELEKTRONIK PADA PENYELENGGARA SISTEM ELEKTRONIK

DALAM HAL PENJAMINAN KEAMANAN

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH: FREDY CAHYADI

110200258 Disetujui Oleh:

Ketua Departemen Hukum Ekonomi

Windha S.H.,M.Hum NIP.197501122005012002

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. T. Keizeirina Devi Azwar, S.H.,C.N,M.Hum

2015

Windha S.H., M.Hum

NIP.197002012002122001 NIP.197501122005012002

FAKULTAS HUKUM

(3)

iii

KATA PENGANTAR

Puji Syukur atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, penulis akhirnya

dapat menyelesaikan skripsi dengan tepat waktunya. Skripsi ini dilakukan bertujuan

untuk memenuhi salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi pada Program

Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Skripsi ini diberi judul

“PERTANGGUNGJAWABAN PENYELENGGARA SERTIFIKASI

ELEKTRONIK PADA PENYELENGGARA SISTEM ELEKTRONIK DALAM

HAL PENJAMINAN KEAMANAN”. Dengan adanya penulisan skripsi ini penulis

berharap agar para pembaca dapat memaklumi kekurangan dari penulis karena

keterbatasan pengetahuan dan kemampuan. Semoga dari skripsi ini, pembaca dapat

mengerti, memahami serta memberikan manfaat kepada pembaca.

Demi kelancaran penyelesaian skripsi ini penulis telah banyak menerima

bantuan dari berbagai pihak baik dukungan moril dan materil. Untuk itu penulis

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof.Dr.Runtung Sitepu, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara Medan;

2. Bapak Prof.Dr.Budiman Ginting,S.H., M.Hum selaku PembantuDekan I; Bapak

Syafruddin Hasibuan,S.H., M.Hum selaku Pembantu Dekan II; Bapak Dr.O.K

Saidin,S.H., M.H selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara Medan;

3. Ibu Windha,S.H.,M.Hum selaku Ketua Bagian Departemen Hukum Ekonomi

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan serta selaku Dosen

Pembimbing II yang telah sangat peduli dan perhatian serta memberikan pedoman

(4)

4. Bapak Ramli Siregar,S.H., M.Hum selaku Sekretaris bagian Departem Hukum

Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan;

5. Bapak Prof.Dr.Budiman Ginting ,S.H., M.Hum. selaku Dosen Pembimbing I

yang juga telah peduli dan memberikan pedoman terhadap penulisan skripsi ini;

6. Teristimewa kepada orangtuaku, Steffen Tjoa dan Go Mie Kim yang telah

memberikan banyak materi, semangat, kekuatan, doa, serta motivasi kepada

penulis sehingga dapat menyelesaikan studi dengan tepat pada waktunya di

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan;

7. Ibu Dra. Zakiah, M.Pd. selaku Dosen Penasehat Akademik penulis di Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara;

8. Segala Bapak/Ibu Staf Pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera

Utara yang telah mendidik selama proses perkuliahan di Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara;

9. Keluarga besar penulis yang sudah memberikan motivasi kepada penulis.

10.Sahabat penulis, Chief yang telah memberikan motivasi dan semangat dalam

penyelesaian skripsi..

11.Teman-teman terdekat penulis di Fakultas Hukum,William AB, Kevin Tankas,

Dian Ekawati, Stella Guntur, Yohana Rosendra, yang selalu mendukung dan

menyemangati penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

12.Teman-teman rangers di Fakultas Hukum yang telah memberikan semangat

(5)

v

13.Teman-teman dekat penulis, Darwin, Margaret, Yuli, Steven yang selalu

mendukung dan memberikan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

14.Teman-teman klub medanese yang telah memberikan dukungan dan semangat

kepada penulis.

15.Adik angkat penulis, Cecylia Vilicia yang memberikan dukungan dan semangat

dalam penyelesaian skripsi.

16.Teman-teman komunitas fotografi di medan yang memberikan motivasi dan

semangat kepada penulis.

Demikianlah penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak

yang mendukung penulisan skripsi ini.

Medan, Penulis

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR………... i

DAFTAR ISI………... iv

ABSTRAK……….…………...……... vii

BAB I PENDAHULUAN………... 1

A. Latar Belakang………... 1

B. Perumusan Permasalahan……….... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan……… 8

D. Keaslian Penulisan……….. 9

E. Tinjauan Kepustakaan……… 10

F. Metode Penulisan………...…… 13

G. Sistematika Penulisan……….... 16

BAB II PENYELENGGARAAN SISTEM ELEKTRONIK MENURUT PERATURAN PERUNDANG–UNDANGAN ………. 18

A. Transaksi Elektronik Menurut Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ………. 18

(7)

vii

C. Hambatan dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik ……….. 49

BAB III PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI ELEKTRONIK BERDASARKAN

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA ... 63

A. Sertifikasi Elektronik dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik…….. 63

B. Penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik ……….………. 75

C. Pembatasan lingkup Sertifikasi Elektronik dengan Sertifikasi Keandalan

……….. 83

BAB IV PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM PENYELENGGARA

SERTIFIKASI ELEKTRONIK ……… 89

A. Bentuk pertanggungjawaban Penyelenggara Sertifikasi Elektronik terhadap

Konsumen ditinjau dari UU Nomor 8 tahun 1999

………. 89

B. Pertanggungjawaban Penyelenggara Sertifikasi Elektronik terhadap

penyelenggaraan Sistem Elektonik terhadap jaminan keamanan ditinjau UU

No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

……… 94

C. Upaya Hukum Pemegang Sertifikasi Elektronik terkait dengan Jaiminan

(8)

BAB V PENUTUP………..……… 114

A. Kesimpulan………...………...…….……… 114

B. Saran………..……..……….………… 116

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

(10)

ABSTRAK

PERTANGGUNGJAWABAN PENYELENGGARA SERTIFIKASI ELEKTRONIK PADA PENYELENGGARA SISTEM ELEKTRONIK DALAM

HAL PENJAMINAN KEAMANAN

FredyCahyadi* T.KeizeirinaDeviAzwar**

Windha***

Perkembangan transaksi elektronik sekarang ini berkembang pesat dan tidak terlepas dari masalah keamanan. Penyelenggara Sertifikasi Elektronik merupakanlembaga yang mengaturberbagairegulasikepercayaan di dalamtransaksielektronik.Sertifikat Elektronik merupakan kebutuhan yang wajib bagi konsumen agar keamanan transaksi elektronik melalui sistemel ektronik terjamin.Permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimana penyelenggaraan sistem elektronik berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia, bagaimana penyelenggaraan sertifikasi elektronik berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia, bagaimana pertanggungjawaban penyelenggara sertifikasi elektronik terhadap penyelenggara sistem elektronik pada hal penjaminan keamanan.

Metode penelitian yang dipakai untuk menyusun skripsi ini adalah penelitian hukum normatif atau penelitian kepustakaan yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan dari buku, makalah, internet, jurnal, hasil tulisan ilmiah dan peraturan perundang-undangan yang erat kaitannya dengan maksud dan tujuan penyusunan karya ilmiah ini.

Penyelenggaraan sistem dilaksanakan oleh Penyelenggara Sertifikasi Elektronik. Penyelenggara Sertifikasi Elektronikmemiliki tugas untuk menjamin bahwa setiap komponen dan keterpaduan seluruh sistem elektronik beroperasi sebagaimana mestinya.Penyelenggaraan sertifikasi elektronik dilaksanakan oleh penyelenggara sertifikasi elektronik. Pelaksanakan tersebut mencakup fungsi administratif yaitu registrasi, otentikasi fisik terhadap pemohon, pembuatan dan pengelolaan kunci publik maupun kunci privat, pengelolaan sertifikat elektronik dan daftar sertifikat yang dibekukan. Pertanggungjawaban penyelenggara sertifikasi elektronik terhadap penyelenggaraan sistem elektronik pada hal penjaminan keamananmeliputi pertanggungjawaban secara pidana, pertanggungjawaban administratif, pertanggungjawaban perdata.

Kata Kunci:SertifikatElektronik, SistemElektronik, JaminanKeamanan, Pelaku Usaha, Konsumen,

*) Mahasiswa Fakultas Hukum USU **) Dosen Pembimbing I

(11)

xi BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada awal mulanya, hubungan manusia dilaksanakan dalam pola-pola yang

sederhana dan dengan luas wilayah yang sangat terbatas.Namun, seiring

berkembangnya peradaban manusia, perkembangan hubungan itu mulai berkembang

hingga mencapai kepada wilayah yang sangat luas.Bahkan dalam kehidupan modern

ini hubungan manusia tidak lagi dilakukan dalam suatu wilayah, tetapi juga sudah

dapat dilakukan antar wilayah negara.Hal ini semakin luas lagi ketika diimbangi

dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dengan

pesat.

Alvin Toffler membagi era di dunia ini dalam tiga gelombang, gelombang

pertama manusia cenderung mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologinya

pada bidang pertanian, kemudian pada gelombang kedua manusia pada era ini sudah

dapat memisahkan antara kegiatan produksi dan konsumsi, dan gelombang ketiga

ditandai dengan lahirnya revolusi digital. Revolusi ini adalah hasil

penemuan-penemuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi.Awal dari globalisasi itu

bermula pada abad ke-20, yakni pada saat revolusi transportasi dan elektronika yang

menyebar dan mempercepat informasi antar negara dan memudahkan berbagai

(12)

informatika atau disingkat dengan telematika serta meluasnya perkembangan

infrastruktur informasi global dan dunia internet telah merubah pola pikir kegiatan

bisnis dilaksanakan di industri perdagangan.Perkembangan Internet sekarang ini

merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi orang masa sekarang.Internet ini telah

membuat dunia menjadi tanpa batas.Sekalipun demikian banyak orang yang belum

benar memahami apa dan bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan Internet.

Tidak ada satupun orangpun atau kelompok maupun organisasi yang

bertanggungjawab untuk menjalankan internet.Mekanisme kerja internet tidak

didasarkan pada manusia tetapi merupakan mekanisme kerja elektronik.

Masing-masing jaringan yang terhubung satu sama lainnya berkomunikasi dengan protocol

protocol tertentu, seperti Transmission Control Protocool (TCP) dan Internet

Protocool (IP). Kemampuan ini bisa menjangkau seluruh dunia yang terhubung

melalui sebuah jaringan online yang saling terhubung satu sama lain.1

Perkembangan teknologi informasi2

1

Wira Sakti,Nufransa, Buku Pinter Pajak E-Commerce dari mendaftar sampai membayar

(Jakarta: Penerbit VisiMedia, 2014), hlm. 2. 2

Teknologi Informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/atau menyebarkan informasi.

yang juga melanda dunia dewasa ini,

tidak dapat dihindarkan.Perkembangan tersebut juga mempengaruhi tatanan tersebut.

Menurut Didik J. Rachibini, teknologi informasi dan media elektronika dinilai

sebagai pelopor, yang mengintergrasikan seluruh sistem dunia, baik dalam aspek

sosial, budaya, ekonomi dan keuangan. Dari sistem sistem kecil lokal dan nasional,

(13)

xiii

menuju suatu sistem global. Dunia akan menjadi “global village” yang menyatu,

saling tahu dan terbuka serta saling bergantung satu sama lain.3

Perkembangan teknologi informasi ini juga secara signifikan telah

mempengaruhi dan mengubah cara bisnis yang sedang dikelola dan dipantau saat ini. Tetapi teknologi

informasi ini masih kurang dipahami oleh banyak orang dan tidak diimbangi dengan

pemahaman yang baik dan memadai mengenai teknologi khususnya dalam perspektif

hukum. Hal ini dikarenakan penekenan pemahaman dewasa ini sangat “technology

minded” padahal idealnya kita harus melihat dari berbagai sudut pandang baik sudut

pandang hukum, sosial, dan bisnis.

Pemerintah melalui perkembangan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan

masyarakat informasi telah menjadi paradigma global yang dominan. Ini terlihat dari

pemanfaatan teknologi dan informasi yang dilaksanakan dengan tujuan antara lain

untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi

dunia, mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka

meningkatkan kesejahteraan masyarakat; meningkatkan efektifitas dan efesiensi

pelayanan publik; membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang untuk

memajukan dan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan

teknologi informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab dan memberikan rasa

aman, keadilan dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggaraan teknologi

informasi.

3

Didik J. Rachibini, Mitos dan Implikasi Globalisasi: Catatan Untuk Bidang Ekonomi dan

(14)

Dulu cara berbisnis hanya sebatas dengan tatap muka, melakukan perdagangan

tradisional dengan cara menukar barang dengan uang tetapi kini menjadi perdagangan

elektronik (e-commerce) yang melibatkan teknologi internet seperti online shopping

antar Business to business (B2B), Business to Consumer (B2C), Consumer to

Consumer (C2C).

E-commerce merupakan penemuan baru dalam bentuk perdagangan yang

dinilai lebih dari perdagangan pada umumnya.Prinsip perdagangan dengan sistem

pembayaran tradisional kini berubah menjadi suatu konsep telemarketing yakni

perdagangan jarak jauh dengan menggunakan media internet di mana suatu

perdagangan tidak lagi membutuhkan pertemuan antar para pelaku bisnis.

Di Indonesia, perdagangan elektronik (E-commerce) ini termasuk dalam

ruang lingkup transaksi elektronik. Transaksi elektronik ini semakin berkembang

pesat. Perkembangan yang pesat ini membuat kehidupan semakin serba instan dan

efisien dalam melakukan berbagai aktivitas seperti pembayaran listrik, telepon, dan

bahkan pajak dapat dilakukan melalui internet banking dan moda elektronik lain

sebagai bentuk pemanfaatan teknologi informasi yang ada saat ini.

Adapun berbagai implikasi dari pengembangan ini dirasa memiliki sisi positif

dan negatif.Aspek positifnya bahwa dengan perdagangan di internet melalui jaringan

online, telah meningkatkan peranan dan fungsi perdagangan serta memberikan

kemudahan dan efisiensi.Aspek negatif dari pengembangan ini adalah berkaitan

(15)

xv

media e-commerce secara yuridis terkait pula dengan jaminan kepastian hukum (legal

certainty).4

Saat sekarang ini bertransaksi secara elektronik banyak ditemui masalah

masalah yang terjadi dalam e-commerce.Masalah keamanan masih menjadi masalah

dalam internet. Aspek-aspek yang dipermasalahkan itu antara lain 5

Perdagangan ini juga melahirkan resiko negatif yang sering kali muncul

dalam bentuk penyelewengan-penyelewengan yang cenderung merugikan konsumen

dalam melakukan e-commerce atau perdagangan elektronik.Diantaranya adalah

ketidaksesuaian produk yang ditampilkan dan produk yang dikirimkan pada

konsumen, kesalahan pembayaran, ketidaktepatan waktu pengiriman, dan hal-hal lain

yang tidak sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Keberadaan konsumen yang

melakukan bisnis e-commerce ini tidak tervisualisasi secara jelas mengingat transaksi

yang dilakukan itu adalah transaksi di dunia maya, sehingga terdapat banyak

kemungkinan seperti pihak-pihak yang melakukan transaksi berusia dibawah

ketentuan yang tercantum dalam syarat syarat dalam melakukan transaksi, atau

apabila ingin ditelusuri transaksi tersebut ternyata pihak konsumen tersebut fiktif. adalah

kerahasiaan (confidentality) pesan, masalah bagaimana cara agar pesan yang

dikirim-kan itu keutuhannya (intergrity) sampai ke tangan penerima, masalah keabsahan

(authenticity) pelaku transaksi, masalah keaslian pesan agar dijadikan barang bukti.

6

4

Abdul Halim dan Teguh Prasetyo, Bisnis E-commerce: Studi Sistem Keamanan dan Hukum

di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 1. 5

Ibid.,hlm. 3. 6

(16)

Bagaimana para pihak melakukan transaksi lewat internet dapat merasa yakin

akan keaslian dan kesempurnaan suatu pesan yang diterima atau dikirimnya lewat

internet, dan bagaimana caranya suatu pihak dapat menandatangani dokumen yang

dikirim lewat internet sepertikontrak jual-beli lewat internet.Bila mengirim pesan

lewat internet, baik melalui e-mail maupun File Transfer Protocol (FTP7

Semuanya dapat terjadi di dalam internet, media memang sangat cepat dan

murah tetapi bila ada orang bertanya mengenai keamanannya maka tiada orang

seorangpun yang dapat menjamin.Dengan demikian, para penyelenggara internet

selalu mencantumkan disclaimer setiap anda mengirimkan pesan yang anda kirim

lewat media yang disediakannya.Disclaimer ini biasanya menyatakan bahwa pesan

yang anda kirim akan melewati media yang rawan dan bahwa provider tidak

bertanggungjawab akan keaslian pesan tersebut sampai ke tujuan.

) atau cara

lainnya, apakah yakin bahwa tidak ada orang lain yang akan membaca pesan anda

tersebut atau apakah yakin bahwa pesan tersebut sampai ketujuan sesuai dengan

orang yang dituju?

8

Awaldiperkenalkannya internet, ada semacam perjanjian tidak tertulis antara

para penyedia jasa internet, yaitu bahwa mereka akan meneruskan setiap lalu lintas

data dan informasi yang diterimanya. Jadi, waktu itu tidak dikenal adanya

pengecekan data, tidak dikenal sensor dan penyaringan informasi.Namun sekarang

7

Yusran Inanini, Hak Cipta dan Tantangannya di Era Cyber Space (Jakarta: Ghalia

Indonesia, 2009), FTP adalah standar bahasa komputer yang memungkinkan komputer satu dengan yang lain saling tukar-menukar dokumen secara mudah dan cepat, termasuk melakukan uploading dan downloading program software.

8

(17)

xvii

penggunaan internet ini telah berkembang pesat sehingga informasi dan data yang

ditransfer itu harus melalui berbagai tahapan penyaringan, sensor dan pengecekan.Ini

tidak bermaksud untuk menghambat perkembangan informasi tetapi ini untuk

melindungi informasi dan atau pemilik informasi itu sendiri.

Terkait masalah keamanan ini berbagai upaya telah dilakukan.Di Amerika

Serikat misalnya, diperkenalkan Digital Signature (tanda tangan digital) dan Public

Key Cryptography (kunci pengacakan umum), dan Certification

Authority(CA).9Bagaimanapun masalah keamanan ini merupakan masalah penting

dalam pemanfaatan media internet untuk kepentingan pribadi, pendidikan maupun

untuk kepentingan bisnisyang sedang digalakkan di seluruh dunia, yaitu melalui

Electronic Commerce (e-commerce) atau perdagangan elektronik. Tanpa adanya

jaminan keamanan, bagaimanapun canggihnya media yang disediakan tidak akan

berarti bagi para pelaku usaha, karena tanpa jaminan keamanan mereka tidak akan

berani untuk memasuki media tersebut.10

Suatu tatanan sistem elektronik yang memadai dan bisa diandalkan serta

aman dari berbagai kerusakan sistem baik kerusakan yang berasal dari internal

maupun eksternal dalam sistem elektronik. Untuk itu diperlukan berbagai pihak untuk

turut membantu untuk melaksanakan sistem elektronik yang aman tersebut dan salah

satunya adalah diperlukannya pihak ketiga seperti Penyelenggara Sertifikasi

9

Ibid..hlm. 21. 10

(18)

Elektronik untuk mendukung keamanan dalam penyelenggaraan sistem elektronik

tersebut dan memberikan kenyamanan dalam bertransaksi elektronik.

Fungsi penyelenggaraan sertifikasi elektronik menurut Undang-Undang

Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (selanjutnya

disebut UUITE) adalah badan hukum yang berfungsi sebagai pihak yang layak

dipercaya, yang memberikan dan mengaudit Sertifikat Elektronik. Dengan adanya

penyelenggaraan sertifikasi elektronik ini diharapkan dapat menunjang

penyelenggaraan sistem elektronik untuk melaksanakan kegiatan - kegiatan yang

bersifat elektronik yang memiliki nilai ekonomis. Tetapi ada masalah lain muncul

dari uraian latar sebelumnya diatas dimana penulis tertarik untuk membahas lebih

lanjut tentang bagaimana pertanggungjawaban penyelenggara sertifikasi elektronik

terhadap penyelenggara sistem elektronik dalam hal jaminan keamanannya.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka pokok permasalahan yang akan dibahas

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakahpenyelenggaraan sistem elektronik berdasarkan

perundang-undangan di Indonesia?

2. Bagaimanakah penyelenggaraan sertifikasi elektronik berdasarkan

(19)

xix

3. Bagaimanakah pertanggungjawaban penyelenggara sertifikasi elektronik terhadap

penyelenggaraan sistem elektronik pada hal penjaminan keamanan?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui penyelenggaraan sistem elektronik berdasarkan

perundang-undangan di Indonesia.

2. Untuk mengetahui penyelenggaraan sertifikasi elektronik berdasarkan

perundang-undangan di Indonesia.

3. Untuk mengetahui pertanggungjawaban penyelenggaraan sertifikasi elektronik

terhadap penyelenggaraan sistem elektronik pada hal penjaminan keamanan.

Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

1. Untuk menambah bahan penelitian bagi literatur yang berkenaan dengan masalah

pertanggungjawaban penyelenggarasertifikasi elektronik terhadap keamanan

sertifikasi elektronikpada penyelenggaraan sistem elektronik

2. Sebagai dasar penelitian selanjutnya pada bidang yang sama.

3. Untuk menambah pengetahuan tentang sertifikasi elektronik bagi masyarakat

terutama pemegang sertifikat elektronik.

(20)

Untuk mengetahui keaslian penelitian, sebelumnyamelakukan

penelusuranterhadapberbagaijudulskripsi yang tercatatpada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara.

Pusatdokumentasidaninformasihukum/perpustakaanUniversitascabangfakultashukum

USU melaluisurattertanggal 21 Oktober 2014 yang menyatakanbahwa “tidakadajudul

yang sama” dantidakterlihatadanyaketerkaitan.

SurattersebutdijadikandasarbagiBapakRamliSiregar

(sekretaris)DepartemenHukumEkonomiFakultasHukumUneversitas Sumatera

Utarauntukmenerimajudul yang diajukan, karenasubstansi yang

terdapatdalamskripsiinidinilaiberbedadenganjudul-judul skripsi lain yang terdapat di

lingkunganperpustakaanFakultasHukumUniversitas Sumatera

Utara.Apabiladikemudianhariterdapatjudul yang samaatautelahtertulis orang lain

dalamberbagaitingkatkesarjanaansebelumskripsiinidibuat,

makahaltersebutdapatdimintapertanggungjawaban.

E. Tinjauan Kepustakaan

Penelitian ini memperoleh bahan tulisannya dari buku-buku, laporan-laporan,

dan informasi dari internet.Untuk itu, diberikan penegasan dan pengertian dari judul

penelitian, yang diambil dari sumber-sumber buku yang memberikan pengertian

(21)

pengertian-xxi

pengertian lainnya dari sudut ilmu hukum maupun pendapat dari para sarjana

sehingga mempunyai arti yang lebih tegas.

Definisi Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (Selanjutnya disebut PSE)

menurut UU ITE Pasal 1 angka 10 adalah badan hukum yang berfungsi sebagai pihak

yang layak dipercaya, yang memberikan dan mengaudit Sertifikat

Elektronik.Sertifikasi Elektronik menurut UU ITE Pasal 1 angka 9 adalah sertifikat

yang bersifat elektronik yang memuat tanda tangan elektronik dan identitas yang

menunjukkan status subjek hukum para pihak dalam transaksi elektronik yang

dikeluarkan oleh PSE. Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas

informasi elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan informasi

elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi.

Definisi Penyelenggara Sistem Elektronik menurut UU ITE Pasal 1 angka 6

adalah setiap orang, penyelenggara negara, badan usaha, dan masyarakat yang

menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan sistem elektronik secara

sendiri-sendiri maupun bersama-sama kepada pengguna sistem elektronik untuk keperluan

dirinya dan/atau keperluan pihak lain. Definisi Sistem Elektronik menurut Pasal 1

angka 5 UU ITE adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang

berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan,

menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan informasi

(22)

Sistem Elektronik disebut sebagai sistem elektronik jika telah memenuhi

beberapa persyaratan minimal yaitu:11

1. Dapat menampilkan kembali informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik

secara utuh sesuai dengan masa retensi yang ditetapkan dengan peraturan

perundang-undangan.

2. Dapat melindungi ketersediaan, keutuhan, keotentikan, kerahasiaan, dan

keteraksesan informasi elektronik dalam penyelenggaraan sistem elektronik

tersebut.

3. Dapat beroperasi sesuai dengan prosedur atau petunjuk dalam penyelenggaraan

sistem elektronik.

4. Dilengkapi dengan prosedur atau petunjuk yang diumumkan dengan bahasan,

informasi, atau simbol yang dapat dipahami oleh pihak yang bersangkutan

dengan penyelenggaraan sistem elektronik.

5. Memiliki mekanisme yang berkelanjutan untuk menjaga kebaruan, kejelasan, dan

ke-bertanggungjawab-an prosedur atau petunjuk.

Dokumen Elektronik 12

11

Pasal 16 Undang – Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Nomor 11 Tahun 2008.

12

Pasal 1 angka (4) Undang-Undang tentang Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik Nomor 11 Tahun 2008.

adalah setiap informasi elektronik yang dibuat,

diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital,

elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau

(23)

xxiii

tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka,

kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami

oleh orang yang mampu memahaminya. Informasi Elektronik13

Definisi transaksi elektronik menurut Pasal 1 angka 2 UU ITE adalah

perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan

komputer, dan/atau media elektronik lainnya. Pada dasarnya, perdagangan atau

transaksi e-commerce dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu :

transaksi Business to Business (B2B), dan Business to Consumer (B2C).

adalah satu atau

sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara,

gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik

(electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode

akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami

oleh orang yang mampu memahaminya.

Penyelenggara sistem elektornik untuk pelayanan publik wajib memiliki

sertifikasi elektronik, Penyelenggara sistem elektronik untuk non pelayanan publik

harus memiliki Sertifikat Elektronik.Penyelenggara sistem elektronik dapat memiliki

sertifikat elektronik dengan mengajukannya kepada penyelenggara sertifikasi

elektronik.

14

13

Pasal 1 angka (1) Undang-Undang tentang Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik Nomor 11 Tahun 2008.

14

Dikdik M.Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Cyber Law : Aspek Hukum Teknologi

Informasi (Bandung: Refika Aditama, 2005), hlm.12.

Namun ada

(24)

perdagangan elektronik yang dilakukan antara dua buah perusahaan, B2C adalah

antara perusahaan kepada perseorangan, sementara C2C adalah perdagangan

elektronik yang dilakukan antara dua orang melalui sarana internet.15

F. Metode Penelitian

Untuk melengkapi penelitian ini agar tujuan dapat lebih terarah dan

dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka metode penelitian yang digunakan

sebagai berikut :

1. Spesifikasi penelitian

Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian hukum normatif, yaitu

penelitian yang dilakukan berdasarkan perundang-undangan.Perundang-undangan

yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini antara lain Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata Republik Indonesia (selanjutnya disebut KUH Perdata),

Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Teknologi Informasi,

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Peraturan

Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi

Elektronik serta peraturan terkait lainnya yang dikeluarkan oleh lembaga berwenang

misalnya Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi.

Penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat penulisan

deskriptif yaitu penelitian yang memberikan sebuah gambaran pada objek penelitian

15

Nufransa Wira Sakti, Buku Pintar Pajak E-Commerce dari mendaftar sampai membayar

(25)

xxv

yaitu upaya untuk mengetahui pertanggungjawaban apa saja yang dikenakan pada

PSE dalam hal jaminan keamanan pada penyelenggara sistem elektronik. Penulisan

skripsi ini juga menggunakan pendekatan yuridis yaitu penelitian hukum yang

dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka dan data sekunder.16

2. Data penelitian

Penelitianyuridis

digunakan dalam penelitian ini untuk meneliti norma hukum Indonesia yang berlaku

seperti peraturan perundang-undangan dan literatur hukum yang mengatur mengenai

pertanggungjawaban penyelenggaraan sertifikasi elektronik pada penyelenggaraan

sistem elektronik dalam hal jaminan keamanannya.

Data dalam penelitian ini mempergunakan data sekunder yang terdiri dari :

a. Bahan hukum primer17

b. Bahan hukum sekunder

, yaitu bahan hukum yang mengikat secara umum,

termasuk di dalamnya Konvensi-Konvensi Internasional dan Perjanjian

Internasional yang berkaitan dengan Sertifikasi Elektronik, Sistem Elektronik

dan Transaksi Elektronik.

18

16

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat

(Jakarta: P.T. Rajagrafindo Persada, 2001), hlm. 13. 17

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI-Press, 2005), hlm. 52.

Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, dan terdiri dari (untuk Indonesia): a. Norma atau kaedah dasar; b. Peraturan dasar; c. Peraturan perundang-undangan; d. Bahan hukum yang tidak dikodifikasi; e. Yurisprudensi; f. Traktat; g. Bahan hukum dari zaman penjajahan yang hingga kini masih berlaku.

18

Ibid., Bahan hukum sekunder ialah bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan

hukum primer.

, yaitu tulisan-tulisan atau karya-karya para ahli

hukum dalam buku-buku teks, surat kabar, internet, dan lain-lain yang relevan

(26)

c. Bahan hukum tersier19

3. Teknik pengumpulan data

, yaitu bahan-bahan hukum yang memberikan petunjuk

maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, diantaranya

kamus-kamus bahasa.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan

(Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan meneliti bahan pustaka

atau dapat disebut dengan data sekunder. Adapun data sekunder yang digunakan

dalam penulisan skripsi ini antara lain berasal dari buku-buku koleksi pribadi maupun

pinjaman dari perpustakaan dan dosen pembimbing, artikel-artikel yang berasal dari

media elektronik, dokumen-dokumen internasional yang resmi dikeluarkan oleh

instansi yang berwenang.

Tahap-tahap pengumpulan data melalui studi pustaka adalah sebagai berikut :

a. Melakukan inventarisasi hukum internasional dan bahan-bahan hukum

lainnya yang relevan dengan objek penelitian.

b. Melakukan penelusuran kepustakaan melalui artikel-artikel media elektronik,

dokumen-dokumen internasional yang resmi dikeluarkan oleh instansi yang

berwenang.

c. Mengelompokkan data-data yang relevan dengan permasalahan.

d. Menganalisa data-data yang relevan tersebut untuk menyelesaikan masalah

yang menjadi objek penelitian.

19

Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Suatu Pengantar (Jakarta:

(27)

xxvii 4. Analisa data

Data sekunder yang telah disusun secara sistematis kemudian dianalisa secara

kualitatif20

G. Sistematika Penulisan

.Analisis secara kualitatif berarti analisis yang memfokuskan perhatiannya

pada makna-makna yang terkandung di dalam suatu pernyataan, bukan analisis yang

memfokuskan perhatiannya pada figur-figur kuantitatif semata.Analisa data

dilakukan sedemikian rupa dengan memperhatikan aspek kualitatif lebih daripada

aspek kuantitatif dengan maksud agar diperoleh kesimpulan yang sesuai dengan

tujuan penelitian yang telah dirumuskan.

Sebagai gambaran umum untuk memudahkan pemahamanan materi penelitian

ini, maka dibagi dalam 5 (lima) Bab yang berhubungan erat satu sama lain yakni :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri atas latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan

manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode

penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II TRANSAKSI ELEKTRONIK DAN PENYELENGGARAAN

SISTEM ELEKTRONIK

20

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi Cetakan ke-22(Bandung:

(28)

Bab ini mendeskripsikan mengenai pengaturan transaksi elektronik

menurut UU ITE, penyelenggaraan sistem elektronik secara umum

berdasarkan UU ITE dan hambatan dalam penyelenggaraan sistem

elektronik.

BAB III PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI ELEKTRONIK

BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN DI

INDONESIA

Bab ini mengurai tentang sertifikasi elektronik dalam penyelenggaraan

sistem elektronik, penyelenggaraan sertifikasi elektronik secara umum,

serta pengaturan pembatasan lingkup sertifikasi elektronik dengan

sertifikasi keandalan.

BAB IV TANGGUNG JAWAB HUKUM PENYELEGGARAAN

SERTIFIKASI ELEKTRONIK

Bab ini membahas mengenaibentuk pertanggungjawaban PSE

terhadap konsumen ditinjau dari UU PK, pertanggungjawaban PSE

ditinjau dari UU ITE, serta upaya hukum pemegang sertifikat

elektronik dalam hal upaya penjaminan keamanan.

BAB V PENUTUP

Bab ini merupakan bab penutup dari penelitian yang berisi kesimpulan

dari keseluruhan uraian materi pembahasan dan disertai dengan saran

(29)

xxix BAB II

TRANSAKSI ELEKTRONIK DAN PENYELENGGARAAN SISTEM ELEKTRONIK

A. Transaksi Elektronik Menurut Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Berbicara mengenai “transaksi”, umumnya orang akan mengatakan bahwa n

hal tersebut adalah perjanjian ataupun kontrak jual beli antara para pihak yang

bersepakat untuk itu. Dalam lingkup hukum, sebenarnya istilah transaksi adalah

keberadaan suatu perikatan atau hubungan hukum yang terjadi antara para pihak. Jika

kita berbicara mengenai aspek materiil dari hubungan hukum yang disetujui para

pihak (Lihat Pasal 133821joPasal 132022

21

Pasal 1338 KUHPerdata berbunyi “Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang-undang-undang bagi mereka yang membuatnya.Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang

ditentukan oleh undang-undang.Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik

22

Syarat sahnya suatu perjanjian yakni mereka sepakat untuk mengikatkan diri;Cakap untuk membuat suatu perikatan;Suatu hal tertentu;Suatu sebab yang halal.

KUHPerdt) sehingga sepatutnya bukan

berbicara mengenai perbuatan hukum secara formil, kecuali untuk melakukan

(30)

tidak bergerak, hukum akan mengatur perbuatan hukumnya itu sendiri, yakni harus

dilakukan secara “tunai” dan “terang”. Oleh karena itu, keberadaan mengenai

ketentuan hukum mengenai perikatan sebenarnya tetap valid karena ia akan

mencakup semua media yang digunakan untuk melakukan transaksi itu sendiri, baik

itu melalui media kertas ataupun media sistem elektronik.23

Undang-Undang ITE dijelaskan bahwa transaksi elektronik itu sendiri adalah

perbuatan hukum24 yang dilakukan dengan menggunakan komputer25, jaringan

komputer, dan/atau media elektronik lainnya.26

Lingkup keperdataan khususnya aspek perikatan akan merujuk pada semua

jenis dan mekanisme dalam melakukan hubungan hukum secara elektronik itu

sendiri, yang mencakup jual beli, lisensi, asuransi, lelang dan perikatan – perikatan

lainnya yang berkembang sesuai dengan perkembangan mekanisme perdagangan di

masyarakat.

Dengan kata lain tranksaksi elektronik

ini tidak hanya mencakup sebatas pada transaksi jual beli saja tetapi pengertian ini

lebih luas daripada sekedar jual beli yakni sebuah perbuatan yang melibatkan kedua

belah pihak atau lebih yang mengikat satu sama lain untuk melakukan hubungan

perikatan melalui suatu media yakni media elektronik.

27

23

Edmon Makarim, PengantarHukum Telematika, Suatu Kompilasi Kajian (Jakarta: PT. RajaGrafindo

Persada, 2005) (selanjutnya disebut Edmon Makarim I), hlm.254. 24

Perbuatan hukum adalah segala perbuatan manusia yang secara sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menimbulkan hak-hak dan kewajiban.

25

Komputer adalah alat untuk memproses data elektronik, magnetik, optic atau sistem yang melaksanakan fungsi logika, aritmatika dan pemograman.

26

Pasal 1 butir 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

27

Edmon Makarim I, Op.Cit., hlm. 256.

(31)

xxxi

penyelenggaraan transaksi elektronik dapat dilakukan dalam lingkup publik maupun

privat.Lebih lanjut di dalam Pasal 17 ayat (2) UU ITE, para pihak yang melakukan

transaksi elektronik wajib beriktikad baik dalam melakukan interaksi dan/atau

pertukaran informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik selama transaksi

berlangsung.

Penyelenggaraan transaksi elektronik di wilayah Negara Republik Indonesia

harus memperhatikan aspek keamanan, keandalan, dan efisiensi; melakukan

penyimpanan data transaksi di dalam negeri; memanfaatkan gerbang nasional, jika

dalam penyelenggaraannya melibatkan lebih dari satu penyelenggara sistem

elektronik; dan memanfaatkan jaringan sistem elektronik dalam negeri. Dalam hal

gerbang nasional dan jaringan sistem elektronik apabila belum dapat dilaksanakan,

penyelenggaraan transaksi elektronik dapat menggunakan sarana lain atau fasilitas

dari luar negeri setelah memperoleh persetujuan dari instansi pengawas dan pengatur

sektor terkait.

Penyelenggaraan transaksi elektronik ada dua yaitu dalam ruang lungkup

publik dan privat.Penyelenggaraan transaksi elektronik dalam lingkup publik

meliputi:28

1. Penyelenggaraan transaksi elektronik oleh instansi atau oleh pihak lain yang

menyelenggarakan layanan publik sepanjang tidak dikecualikan oleh UU ITE.

28

(32)

2. Penyelenggaraan transaksi elektronik dalam lingkup publik lainnya sebagaimana

diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penyelenggaraan transaksi elektronik dalam lingkup privat meliputi:29

1. antar pelaku usaha;

2. antar pelaku usaha dengan konsumen;

3. antar pribadi;

4. antar instansi;

5. antara instansi dengan pelaku usaha sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Jenis-jenis hubungan hukum dalam transaksi elektronik dalam dunia

e-commerce secara umum dan yang paling banyak dikenal adalah jenis Businessto

Business (B2B) dan Business to Consumer (B2C).Kedua jenis E-Commerce ini

memiliki karakteristik yang berbeda.Business to Business (B2B) memiliki

karakteristik:30

1. Trading partners yang sudah diketahui dan umumnya memiliki hubungan

(relationship) yang cukup lama. Informasi hanya dipertukarkan dengan partner

tersebut. Dikarenakan sudah mengenal lawan komunikasi, maka jenis informasi

yang dikirimkan dapat disusun sesuai dengan kebutuhan dan kepercayaan (trust).

2. Pertukaran data (data exchange) berlangsung berulang-ulang dan secara berkala,

misalnya setiap hari, dengan format data yang sudah disepakati bersama. Dengan

29

Pasal 40 ayat (3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

30

(33)

xxxiii

kata lain, servis yang digunakan sudah tertentu. Hal ini memudahkan pertukaran

data untuk dua entiti yang menggunakan standar yang sama.

3. Salah satu pelaku dapat melakukan inisiatif untuk mengirimkan data, tidak harus

menunggu parternya.

4. Model yang umum digunakan adalah peer-to peer, dimana processing

intelligence dapat didistribusikan di kedua pelaku bisnis.

Business to Consumer (B2C) dalam e-commerce merupakan suatu transaksi

bisnis secara elektronik yang dilakukan pelaku usaha dan pihak konsumen untuk

memenuhi suatu kebutuhan tertentu dan pada saat tertentu.Sebagai contoh Internet

Mall.31

Perkembangan dari segmentasi ini sanagat besar dimana keuntungan bukan

saja hanya pada pihak pelaku usaha tetapi juga dari pihak konsumen walaupun

penyimpangan penyimpangan tetap saja masih terjadi.B2C memiliki karakteristik

sebagai berikut :32

1. Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan ke umum.

2. Servis yang diberikan bersifat umum (generic) dengan mekanisme yang dapat

digunakan oleh khalayak ramai. Sebagai contoh, karena sistem web sudah umum

digunakan maka servis diberikan dengan menggunakan basis web.

3. Servis diberikan berdasarkan permohonan (on demand). Konsumer melakuka

inisiatif dan produser harus siap memberikan respon sesuai dengan permohonan.

31

Jay MS, “Peranan E-Commerce Dalam Sektor Ekonomi & Industri,” Makalah seminar hari

Aplikasi Internet di Era Milenium Ketiga, hlm. 7. 32

(34)

4. Pendekatan client/server sering digunakan dimana diambil asumsi client

(consumer) menggunakan sistem yang minimal (berbasis web) dan processing

(business procedure) diletakkan di sisi server.

Adapun perbandingan diantara B2C dan B2B dalam berbagai segi dimana

penjualan B2B biasanya lebih besar dan lebih banyak mendapatkan profit daripada

penjualan individual dari B2C. Seperti perusahaan telepon dan maskapai penerbangan

mendapatkan lebih banyak untung dari konsumen bisnis daripada konsumen individu,

jadi hubungan B2B juga lebih menguntungkan daripada oportunitas B2C.33

Akan tetapi selain dari kedua jenis tersebut, juga terdapat beberapa jenis

lainnya, yaitu :34

1. Customer to Customer (C2C)

Customer to Customer (C2C) ini adalah transaksi dimana individu saling

menjual barang pada satu sama lain. Contohnya adalah e-Bay. Consumer to

Consumer (C2C)merupakan transaksi bisnis secara elektronik antar konsumen untuk

memenuhi suatu kebutuhan tertentu dan pada saat tertemtu pula, segmentasi

konsumen ke konsumen ini lebih khusus karena transaksi dilakukan oleh konsumen

dan konsumen yang memerlukan transaksi. Internet dijadikan tempat bagi mereka

untuk melakukan pertukaran informasi mengenai produk, selain itu antar konsumen

juga bisa membuat suatu komunitas pengguna/penggemar produk

tersebut.Ketidakpuasan konsumen dalam mengonsumsi suatu produk dapat segera

33

Terjemahan dari Glover, Liddle, Prawitt, E-business, principles & strategies for

accountants (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 2001), hlm. 42. 34

(35)

xxxv

tersebar luas melalui komunitas tersebut Internet menjadikan konsumen memiliki

posisi tawar yang lebih tinggi terhadap perusahaan dengan demikian menuntut

pelayanan perusahaan menjadi lebih baik.35

2. Customer to Government (C2G)

C2G ini adalah transaksi dimana individu dapat melakukan transaksi dengan

pihak pemerintah, seperti membayar pajak.

3. Customer to Business (C2B)

C2B ini adalah transaksi yang memungkinkan individu menjual barang pada

perusahaan, contohnya adalah priceline.com.

Penyelenggaraan Transaksi Elektronik itu sendiri harus beritikad baik dalam

melakukan interaksi dan/atau pertukaran Informasi Elektronik dan/atau Dokumen

Elektronik selama transaksi berlangsung.Informasi Elektronik dan/atau Dokumen

Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan sistem elektronik sesuai dengan

ketentuan yang diatur dalam UU ITE Nomor 11 Tahun 2008. Informasi Elektronik

juga merupakan alat bukti hukum yang sah jika sepanjang informasi yang tercantum

di dalamnya dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat

dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan serta hasil cetak

tersebut merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara

yang berlaku di Indonesia.36

35

Glover, Liddle, and Prawitt, E-business, Principles and Strategies for accountants (New

Jersey: Prentice-Hall,Inc., 2001),hlm. 23. 36

(36)

Pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik dilaksanakan

berdasarkan asas kepastian hukum, manfaat, kehati-hatian, itikad baik, dan kebebasan

memilih teknologi atau netral teknologi.37

Transaksi elektronik yang dilakukan para pihak memberikan akibat hukum

kepada para pihak.Dalam penyelenggaraan transaksi elektronik para pihak wajib

menjamin pemberian data dan informasi yang benar; dan ketersediaan sarana dan Asas manfaat menurut UU ITE adalah asas

bagi pemanfaatan tekhnologi informasi dan transaksi elektronik diupayakan untuk

mendukung proses berinformasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan

masyarakat. Adapun asas kehati-hatian mengandung maksud memberikan landasan

bagi pihak yang bersangkutan harus memperhatikan segenap aspek yang berpotensi

mendatangkan kerugian, baik bagi dirinya maupun bagi pihak lain, dalam

pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik.Asas itikad baik menurut

UU ITE, berarti asas yang digunakan para pihak dalam melakukan transkasi

elektronik, tidak bertujuan untuk secara sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum

mengakibatkan kerugian bagi pihak lain, tanpa sepengetahuan bagi pihak lain

tersebut. Adapun asas kebebasan memilih tekhnologi atau netral teknologi adalah

asas pemanfaatan tekhnologi informasi dan transaksi elektronik tidak terfokus pada

penggunaan tekhnologi tertentu, sehingga dapat mengikuti perkembangan pada masa

yang akan datang.

37

(37)

xxxvii

layanan serta penyelesaian pengaduan. 38 Transaksi elektronik wajib untuk

memperhatikan itikad baik; prinsip kehati-hatian; transparansi; akuntabilitas; dan

kewajaran.39

Pasal 18 UU ITE mengatakan bahwa transaksi elektronik dituangkan ke

dalam bentuk kontrak elektronik atau bentuk kontraktual lainnya sebagai bentuk

kesepakatan yang dilakukan oleh para pihak.Maksud dari kontrak elektronik adalah

perjanjian para pihak yang dibuat melalui sistem elektronik.40

1. kesepakatan tidak dilakukan secara elektronik namun pelaksanaan hubungan

kontraktual diselesaikan secara elektronik;

Maksud dari bentuk

kontraktual lainnya adalah:

2. kesepakatan dilakukan secara elektronik dan pelaksanaan hubungan kontraktual

diselesaikan secara elektronik; dan

3. kesepakatan dilakukan secara elektronik dan pelaksanaan hubungan kontraktual

diselesaikan tidak secara elektronik.

Kontrak elektronik dianggap sah apabila :41

1. terdapat kesepakatan para pihak;

2. dilakukan oleh subjek hukum yang cakap atau yang berwenang mewakili sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

38

Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

39

Pasal 46 Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

40

Pasal 1 butir 17 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

41

(38)

3. terdapat hal tertentu; dan

4. objek transaksi tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,

kesusilaan, dan ketertiban umum.

Kontrak elektronik jika dibuat tertuju kepada orang Indonesia maka kontrak

tersebut isinya haruslah berbahasa Indonesia dan harus dibuat dengan klausula baku

yang sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam perundang-undangan .Kontrak

elektronik paling sedikit memuat data identitas para pihak; objek dan spesifikasi;

persyaratan transaksi elektronik; harga dan biaya; prosedur dalam hal terdapat

pembatalan oleh para pihak; ketentuan yang memberikan hak kepada pihak yang

dirugikan untuk dapat mengembalikan barang dan/atau meminta penggantian produk

jika terdapat cacat tersembunyi; dan pilihan hukum penyelesaian transaksi elektronik.

Para pihak dalam melakukan suatu transaksi antar pihak diberi suatu

kewenangan untuk memilih dan menentukan pilihan hukum yang berlaku bagi

transaksi elektronik internasional yang dibuatnya. Adapun pilihan hukum tersebut

adalah :42

1. Pilihan hukum (choice of law), dalam hal ini para pihak menentukan sendiri

dalam kontrak tentang hukum mana yang berlaku terhadap interpretasi kontrak

tersebut.

42

Syafran Sofyan, “Pihan Hukum, Forum, Domisili suatu Kontrak dalam Transaksi

Bsinis

(39)

xxxix

2. Pilihan forum (choice of jurisdiction), yakni para pihak menentukan sendiri dalam

kontrak tentang pengadilan atau forum mana yang berlaku jika terjadi sengketa di

antara para pihak dalam kontrak tersebut.

3. Pilihan domisili (choice of domicile), dalam hal ini masing-masing pihak

melakukan penunjukkan di manakah domisili hukum dari para pihak tersebut.

Jika para pihak tidak menentukan pilihan hukumnya dalam transaksi

elektronik internasional maka hukum yang berlaku adalah berdasarkan pada asas

Hukum Perdata Internasional.43Adapun asas Hukum Perdata Internasional yang

mengatur mengenai pilihan hukum tersebut yakni :44

1. Lex Loci Contractus

DoktrinLex Loci Contractus mengajarkan bahwa jika para pihak tidak

menentukan sendiri hukum mana yang berlaku dalam kontrak, maka hukum yang

berlaku adalah hukum di mana kontrak tersebut ditanda-tangani. Doktrin lex loci

contractus merupakan cara yang paling tua (pendekatan tradisional) untuk

menentukan hukum yang berlaku. Kelebihan dari Lex Loci Contractusadalah :

a. Penerapannya mudah dan sederhana (simplicity).

b. Dapat diprediksi (predictibility).

c. Cara terbaik untuk menentukan hukum yang berlaku terhadap masalah

keabsahan kontrak atau keabsahan formalitas kontrak.

43

Pasal 18 angka (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

44

SudargoGautama, Kontrak Dagang Internasional. Himpunan Ceramah dan Prasarana

(40)

Jika ternyata tidak ada pilihan hukum dalam kontrak, sementara tempat

penandatanganan kontrak ada di beberapa tempat, atau tempat tersebut tidak dapat

dipastikan, maka penerapan lex loci contractus dilakukan dengan cara sebagai berikut

:

a. Berlaku hukum di mana penawaran kontrak dibuat atau dikirim.

b. Jika tidak diketahui di mana dibuatnya penawaran, berlaku hukum dari tempat

domisili pihak yang melakukan penawaran.

2. Lex Fori

Doktrin Lex fori mengajarkan bahwa manakala para pihak tidak melakukan

pilihan hukum dalam kontrak yang dibuatnya, maka hukum yang berlaku adalah

hukum di mana hakim memutuskan perkara.:Lex fori ini juga merupakan pendekatan

tradisional untuk menentukan hukum mana yang berlaku tersebut.

Penerapan Doktrin Lex Fori ini memberikan beberapa keuntungan yaitu :

a. Penerapannya mudah dan sederhana (simplicity)..

b. Dapat diprediksi (predictability).

c. Lebih efisien.

d. Lebih akurat penerapannya, karena hakim lebih mengenal hukum yang akan

diterapkan itu.

3. Lex Rae Sitae

Lex rae sitae atau disebut juga dengan lex situs mengajarkan bahwa hukum

(41)

xli

berada. Adalah sudah menjadi hukum yang universal 'bahwa jika kontrak berobjekan

benda tidak bergerak (tanah), maka hukum yang berlaku adalah hukum di mana tanah

tersebut terletak.

Penerapan doktrin lex rae sitae ini memberikan beberapa keuntungan sebagai

berikut:

a. Penerapannya mudah dan sederhana (simplicity). Dapat diprediksi

(predictibility).

b. Kesulitan bagi hakim untuk menerapkan hukum dari daerah/negara lain, tetapi

hukum tersebut lebih memuaskan terhadap kasus yang bersangkutan.

4. The Most Characteristic Connection

Doktrin themost characteristic connection mengajarkan bahwa manakala para

pihak tidak melakukan pilihan hukum dalam kontrak yang dibuatnya, maka hukum

yang berlaku adalah hukum yang paling mempunyai karakteristik dalam hubungan

kontrak tersebut.Doktrin ini sering juga disebut dengan istilah the most significant

relationship, atau the most closely cennected.Doktrin the most characteristic

connection ini sudah diterima dengan sangat meluas dewasa ini, dan dianggap paling

memuaskan untuk kebanyakan kasus.

Berikut ini diberikan beberapa contoh dari the most characteristic connection

untuk menentukan hukum mana yang berlaku terhadap suatu kontrak. Contoh-contoh

(42)

a. Dalam kontrak jual beli, pihak penjualah yang melakukan prestasi paling

karakteristik.

b. Dalam kontrak pemborongan adalah pihak pemborong. Dalam kontrak antara

advokat dengan klien adalah pihak advokat.

c. Dalam loan agreement adalah pihak bank/pemberi pinjaman.

5. The Proper Law

Doktrin the proper law mengajarkan bahwa manakala para pihak tidak

melakukan pilihan hukum dalam kontrak yang dibuatnya, maka hukum yang berlaku

adalah hukum yang paling pantas dengan pertimbangan yang objektif dan logis

dengan mengasumsikan bahwa kontrak telah dibuat dengan sah. Namun demikian,

doktrin the proper law ini sangat membingungkan dan tidak prediktif.

Para pihak memiliki kewenangan untuk menetapkan forum pengadilan,

arbitrase, atau lembaga penyelesaian sengketa alternatif lainnya yang berwenang

menangani sengketa yang mungkin timbul dari Transaksi Elektronik internasional

yang dibuatnya. Jika para pihak tidak menetepkan pilihan forum mana yang akan

digunakan maka penetapan kewenangan pengadilan, arbitrase atau penyelesaian

senketa lainnya yang mungkin timbul dari transaksi tersebut, didasarkan pada asas

hukum perdata internasional.45

Berdasarkan asas kebebasan berkontrak, maka para pihak dalam suatu kontrak

dapat juga memilih pengadilan mana yang akan mengadili seandainya timbul

45

(43)

xliii

sengketa terhadap kontrak yang bersangkutan. Kebebasan memilih pengadilan ini

disebut dengan choice of forum atau choice of jurisdiction. Di antara keuntungan dari

pemilihan pengadilan ini adalah: 46

1. Bahwa pengadilan tersebut lebih mengetahui hukum yang berlaku jika dipilih

pengadilan yang terletak di tempat/di negara yang juga dipilih hukumnya.

2. Bahwa pengadilan tersebut lebih mengetahui kasus yang bersangkutan jika yang

dipilih adalah pengadilan tempat terjadinya kasus atau tempat dilaksanakannya

kontrak tersebut.

3. Bahwa pengadilan tersebut dan para pihak lebih banyak akses ke alat bukti,

termasuk alat bukti saksi jika yang dipilih adalah peng¬adilan tempat terjadinya

kasus atau tempat dilaksanakannya kontrak tersebut.

Pilihan forum ini menyimpan masalah yang serius jika pengadilan yang

dipilih bukan pengadilan di negara tempat dieksekusinya putusan pengadilan,

misalnya jika yang dipilih bukan pengadilan di negara tempat di mana aset tergugat

terletak. Sebab, banyak negara termasuk Indonesia tidak mempunyai kewajiban untuk

mengeksekusi putusan pengadilan asing, sehingga putusan yang sudah dimenangkan

oleh salah satu pihak tidak akan dapat dieksekusi. Kecuali jika yang dipilih adalah

badan arbitrase, di mana dengan beberapa batasan yang tidak terlalu ketat, umumnya

negara-negara dapat mengeksekusi putusan arbitrase asing.47

46

Syafran Sofyan, Loc.cit.

47

(44)

Hampir sama dengan perjanjian pada umumnya, perjanjian transaksi

elektronik juga terdiri dari penawaran dan penerimaan sebab suatu kesepakatan selalu

diawali dengan adanya penawaran oleh salah satu pihak dan penerimaan oleh pihak

lain.48Transaksi elektronik terjadi pada saat penawaran transaksi yang dikirim

pengirim telah diterima dan disetujui oleh penerima.49Penawaran merupakan suatu

invitation to enter into a binding agreement”.50 Tawaran merupakan tawaran jika

pihak lain memandang sebagai tawaran. Suatu perbuatan itu sendiri sebagai ajakan

untuk masuk ke dalam suatu perikatan itu dapat dianggap juga sebagai

tawaran.Dalam transaksi e-commerce, khususnya B2C yang melakukan penawaran

adalah merchant atau penjual.Para merchant memanfaatkan website untuk

menjajakan produk dan layanan mereka dengan menyediakan semacam storefront

yang berisikatalogproduk dan pelayanan yang diberikan.Para pembeli seperti berjalan

di toko-toko dan melihat barang dalam etalase.51Dalam website juga biasanya

ditampilkan barang-barang yang ditawarkan, harganya, nilai rating atau poll otomatis

tentang barang itu yang diisi oleh pembeli sebelumnya, spesifikasi barang, dan menu

produk lain yang berhubungan. Penawaran ini terbuka bagi semua orang dan jika ada

yang tertarik maka dapat dilakukan transaksi online antar pembeli dan merchant.52

48

Edmon Makarim I, Op.Cit.,hlm. 260.

49

Pasal 20 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

50

Mariam Darus Badrulzaman,“E-commerce: Tinjauan dari Hukum Kontrak Indonesia,”

Makalah Hukum Bisnis XII, 2003, hlm. 33. 51

Edmon Makarim I, Op.Cit.,hlm. 261.

52

(45)

xlv

Penerimaan dan penawaran saling terkait untuk menghasilkan kesepakatan

(deal).Dalam penentuan menentukan penawaran dan penerimaan dalam cybersystem

ini tergantung pada keadaan dari cybersystem tersebut.Penerimaan dapat dinyatakan

melalui website, e-mail, atau melalui Electronic Data Interchange (EDI).53 Penjual

biasanya bebas menentukan suatu cara penerimaan. Contohnya penawaran melalui

website yang dianggap untuk khalayak ramai.Jika pembeli tertarik maka dapatt

melakukan kesepakatan dengan penjual yang menawarkan. Jika tertarik akan barang

tersebut, pembeli dapat melakukan pembayaran kepada penjual. Dengan

menyelesaikan tahapan ini, pembeli telah melakukan penerimaan (acceptance)

sehingga terciptalah kontrak online (online contract)..54

1. tindakan penerimaan yang menyatakan persetujuan; atau

Kesepakatan kontrak online

dapat dilakukan dengan cara:

2. tindakan penerimaan dan/atau pemakaian objek oleh Pengguna Sistem Elektronik.

Pengirim atau penerima dapat melakukan transaksi elektronik sendiri, melalui

pihak yang dikuasakan olehnya, atau melalui agen elektronik.55

53

Loc.cit.

54

Ibid.,hlm.262. 55

Pasal 21 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Agen elektronik

adalah perangkat dari suatu sistem elektronik yang dibuat untuk melakukan suatu

(46)

diselenggarakan oleh orang.56Agen elektronik dapat berbentuk visual; audio; data

elektronik; dan bentuk lainnya.57

Pihak yang bertanggung jawab atas segala akibat hukum dalam pelaksanaan

transaksi elektronik diatur sebagai berikut :58

1. jika dilakukan sendiri, segala akibat hukum dalam pelaksanaan transaksi

elektronik menjadi tanggung jawab para pihak yang bertransaksi;

2. jika dilakukan melalui pemberian kuasa, segala akibat hukum dalam pelaksanaan

transaksi elektronik menjadi tanggung jawab pemberi kuasa; atau

3. jika dilakukan melalui agen elektronik, segala akibat hukum dalam pelaksanaan

transaksi elektronik menjadi tanggung jawab penyelenggara agen elektronik.

Ketentuan diatas tidak berlaku jika hal tersebut dapat terbukti karena

terjadinya keadaan memaksa, kesalahan, dan/atau kelalaian pihak pengguna sistem

elektronik.Jika kerugian transaksi elektronik disebabkan gagal beroperasinya agen

elektronik akibat tindakan pihak ketiga secara langsung terhadap sistem elektronik,

segala akibat hukum menjadi tanggung jawab penyelenggara agen elektronik. Jika

kerugian transaksi elektronik disebabkan gagal beroperasinya agen elektronik akibat

kelalaian pihak pengguna jasa layanan, segala akibat hukum menjadi tanggung jawab

pengguna jasa layanan.

56

Pasal 1 butir 8 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

57

Pasal 34 angka (2) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

58

(47)

xlvii

Agen elektronik wajib memuat atau menyampaikan informasi untuk

melindungi hak pengguna yang paling sedikit meliputi informasi mengenai:

1. identitas penyelenggara agen elektronik;

2. objek yang ditransaksikan;

3. kelayakan atau keamanan agen elektronik;

4. tata cara penggunaan perangkat; dan

5. nomor telepon pusat pengaduan.

Agen elektronik wajib memuat atau menyediakan fitur dalam rangka

melindungi hak pengguna sesuai dengan karakteristik agen elektronik yang

digunakannya. Fitur sebagaimana dimaksud dapat berupa fasilitas untuk:

1. melakukan koreksi;

2. membatalkan perintah;

3. memberikan konfirmasi atau rekonfirmasi;

4. memilih meneruskan atau berhenti melaksanakan aktivitas berikutnya;

5. melihat informasi yang disampaikan berupa tawaran kontrak atau iklan; dan/atau

6. mengecek status berhasil atau gagalnya transaksi.

Agen elektronik dapat diselenggarakan untuk lebih dari satu kepentingan

penyelenggara sistem elektronik yang didasarkan pada perjanjian antara para pihak.

Perjanjian sebagaimana dimaksud harus memuat paling sedikit mengenai hak dan

kewajiban; tanggung jawab; mekanisme pengaduan dan penyelesaian sengketa;

(48)

Agen elektronik yang diselenggarakan untuk lebih dari satu kepentingan

penyelenggara sistem elektronik, maka penyelenggara agen elektronik wajib

memberikan perlakuan yang sama terhadap penyelenggara sistem elektronik yang

menggunakan agen elektronik tersebut. Dalam hal agen elektronik diselenggarakan

untuk kepentingan lebih dari 1 (satu) penyelenggara sistem elektronik, penyelenggara

agen elektronik tersebut dianggap sebagai penyelenggara sistem elektronik tersendiri.

Banyak kemungkinan permasalahan hukum dalam transaksi elektronik yang

dapat terjadi. Adapun beberapa kemungkinan tersebut yakni:59

1. Penggunaan nama domain

a. Prinsip firstcome first serve (ketika kita mendaftarkan nama domain misalnya nama domain yang terkenal, maka nama domain tersebut tidak bisa dibatalkan).

b. Itikad baik, persaingan usaha yang sehat, tidak melanggar hak orang lain. c. Pengelola pemerintah/masyarakat.

d. Pengambilalihan sementara.

e. Pengakuan nama domain dari pengelola asing.

f. Peraturan Pelaksana yaitu Peraturan Pemerintah mengenai UU No 11 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ini belum ada.

2. Alat bukti

a. Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetakannya merupakan alat bukti hukum yang sah.

b. Pengecualian untuk surat-surat yang menurut undang-undang harus tertulis. c. Dokumen elektronik sah sepanjang informasinya dapat diakses, ditampilkan,

dijamin keutuhannya, dapat dipertanggungjawabkan.

d. PP, pengawasan, sertifikasi belum ada pengakuan “Pemberitahuan E-mail sebagai “Pemberitahuan tertulis”(written notice).

3. Pembajakan internet berkaitan dengan HAKI (pembajakan lewat internet sangat sulit untuk di deteksi karena pada dasarnya pemerintah belum menyediakan fasilitas atau suatu lembaga yang khusus menangani masalah atau pendeteksian pelanggaran internet, seperti dalam kejahatan money laundring ada suatu lembaga yang mengawasi yaitu PPATK).

4. Perlindungan bagi konsumen dalam transaksi elektronik (perlindungan bagi konsumen itu pengaturannya diatur dalam UU No 8 Tahun 1999 tentang

59

(49)

xlix

perlindungan konsumen sehingga kurang efektif dalam penerapannya). Dalam hal penyelesaian sengketa konsumen tahap-tahap nya sama dengan UU No 8 Tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen, untuk itu terdapat kelemahan-kelemahan seperti : ketidakjelasan kompetensi mengadili dan lembaga yang berwenang menyelesaiankan sengketa.

5. Pilihan hukum dalam hal transaksi elektronik merupakan transaksi antar negara (dalam UU ITE ini pilihan hukum itu berdasarkan asas-asas hukum perdata Internasional).

Transaksi jual beli secara elektronik merupakan suatu perjanjian jual beli yang

sama dengan jual beli secara konvensional yang biasa dilakukan oleh masyarakat.

Perbedaannya hanya pada media yang digunakan.Pada transaksi elektronik yang

dipergunakan adalah media elektronik yaitu internet sehingga kesepakatan tersebut

adalah melalui online60. Oleh karena itu syarat sahnya perjanjian juga akan

tergantung kepada esensi dari sistem elektronik itu sendiri sehingga ia hanya dapat

dikatakan sah bila dapat dijamin bahwa semua komponen dalam sistem elektronik itu

dapat dipercaya dan/atau berjalan sebagaimana mestinya.61

B. Pengaturan Penyelenggaraan Sistem Elektronik menurut UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Berdasarkan Pasal 1 butir 6 UU ITE, penyelenggaraan sistem elektronik

adalah pemanfaatan sistem elektronik oleh penyelenggara sistem elektronik adalah

penyelenggara negara,62 orang,63 badan usaha,64 dan/atau masyarakat.65

60

Edmon Makarim I, Op.Cit.,hlm. 260.

61

Ibid.,hlm. 255.

62

Penyelenggara Negara yang selanjutnya disebut Instansi adalah institusi legislatif, eksekutif, dan yudikatif di tingkat pusat dan daerah dan instansi lain yang dibentuk dengan peraturan perundang-undangan.

Figur

Gambar 1. Logo sertifikasi trustmark

Gambar 1.

Logo sertifikasi trustmark p.99

Referensi

Memperbarui...

Outline : Saran